Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Trauma spinal atau cedera pada tulang belakang adalah cedera yang mengenai
servikalis, vertebralis dan lumbalis akibat dari suatu trauma yang mengenai
tulang belakang. Trauma pada tulang belakang dapat mengenai jaringan lunak
pada tulang belakang yaitu ligamen dan diskus, tulang belakang sendiri dan
susmsum tulang belakang atau spinal kord (Arif Muttaqin, 2008).
Cedera medulla sinalis kebanyakan (80%) terjadi pada usia sekitar 15-30
tahun. Kebanyakan dialami oleh laki-laki daripada perempuan dengan
perbandingan 8:1, sebagian besar penyebabnya karena kecelakaan lalulintas dan
kecelakaan kerja. Sedangkan penyebab lainya adalah karena jatuh dari
ketinggian, cidera olah raga, RA (Reumatoid Artritis) atau osteoporosis bahkan
akibat penganiayaan. Dari data yang diperoleh di Amerika serikat tingkat insiden
ini mencapai 40 kasus per 1 juta penduduk setiap tahunnya, di perkirakan 12.000
kasus baru pertahun. Sekarang diperkirakan terdapat 183.000-230.000 pasien
dengan cidera medulla spinalis yang masih bertahan hidup di Amerka Serikat.
Sedangkan dari RSUD Dr.Soetomo Surabaya Jawa Timur ditemukan 111 kasus
pertahun utuk kejadian cidera medulla spinalis. Pasien dengan cedera medulla
spinalis memerlukan penyesuaian terhadap berbagai aspek, antara lain masalah
mobilitas yang terbatas, psikologis, urologis, pernafasan, kulit, disfungsi seksual,
dan ketidakmampuan untuk bekerja.
Menurut UU No. 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan, Keperawatan adalah
kegiatan pemberian asuhan kepada individu, keluarga, kelompok, atau
masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Perawat mempunyai
peranan yang sangat penting dalam setiap tindakan keperawatan. Intervensi
keperawatan yang tepat diperlukan untuk merawat klien baik secara fisik maupun
psikis. Dalam hal ini, peran perawat sangat dibutuhkan dalam membantu klien
yang mengalami cedera medulla spinalis agar mempu memaksimalkan

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 1


kemampuan yang dimiliki dalam melaksanakan aktivitas daily living untuk
memenuhi kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu, kami sempat tertarik untuk
membahas asuhan keperawatan pada klien dengan cedera medulla spinalis.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana definisi dari cedera medulla spinalis?
1.2.2 Bagaimana etiologi cedera medulla spinalis?
1.2.3 Bagimana patofisiologi cedera medulla spinalis?
1.2.4 Bagimana pathway cedera medulla spinalis?
1.2.5 Bagaimana manifestasi klinis cedera medulla spinalis?
1.2.6 Bagaimana penatalaksanaan cedera medulla spinalis?
1.2.7 Bagaimana pemeriksaan diagnostic cedera medulla spinalis?
1.2.8 Bagaimana komplikasi cedera medulla spinalis?
1.2.9 Bagaimana asuhan keperawatan pada cedera medulla spinalis?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui definisi dari cedera medulla spinalis.
1.3.2 Untuk mengetahui etiologi cedera medulla spinalis.
1.3.3 Untuk mengetahui patofisiologi cedera medulla spinalis.
1.3.4 Untuk mengetahui pathway cedera medulla spinalis.
1.3.5 Untuk mengetahui manifestasi klinis cedera medulla spinalis.
1.3.6 Untuk mengetahui penatalaksanaan cedera medulla spinalis.
1.3.7 Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic cedera medulla spinalis.
1.3.8 Untuk mengetahui komplikasi cedera medulla spinalis.
1.3.9 Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada cedera medulla spinalis.

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 2


BAB II

TINJAUAN MEDIS

1.1 Definisi Cedera Spinalis


Trauma medulla spinalis atau Spinal Cord Injury (SCI) didefinisikan sebagai
cidera atau kerusakan pada medulla spinalis yang menyebabkan perubahan
fungsional, baik secara mental maupun permanen, pada fungsi motorik, sensorik,
atau otonom. Trauma pada medulla spinalis dapat bervariasi dari trauma ekstensi
fiksasi ringan yang terjadi akibat benturan secara mendadak sampai yang
menyebabkan transeksi lengkap dari medulla spinalis dengan quadriplegia
(Fransiska B. Batticaca 2008).
Cedera medula spinalis (CMS) atau spinal cord injury (SCI ) ditandai dengan
adanya tetralegia atau paraplegia, parsial atau komplit, dan tingkatan atau level
tergantung area terjadinya lesi atau CMS. Tetraplegia atau quadriplegia adalah
kehilangan fungsi sensorik dan motorik di segmen servikal medulla spinalis.
Sedangkan paraplegia adalah gangguan fungsi sensorik dan motorik di segmen
thorakal, lumbal dan sakrum ( Kirshblum & Benevento, 2009).
Cedera Medula Spinalis adalah cedera yang mengenai Medula Spinalis baik itu
bagian servikalis, torakalis, lumbal maupun sakral akibat dari suatu trauma yang
mengenai tulang belakang. (Arif Muttaqin,2008).

2.2 Etiologi Cedera Spinalis

Menurut Arif Muttaqin (2008) penyebab dari cidera medulla spinalis adalah:

1. otomobil, industry
Kecelakaan yang hebat dapat menyebabkan suatu benturan dari organ
tubuh salah satu yang terjadi adalah cidera tulang belakang secara langsung
yang mengenai tulang belakang dan melampui batas kemampuan tulang
belakang dalam melindungi saraf saraf yang berada didalamnya.

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 3


2. Terjatuh, olahraga
Peristiwa jatuh karena suatu kegiatan merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi terjadinya cidera salah satunya karena kegiatan olahraga yang
berat contohnya adalah olahraga motor GP , lari, lompat.
3. Luka tusuk, tembak
Luka tusuk pada abdomen atau tulang belakang dapat dikatakan
menjadi faktor terjadinya cidera karena terjadi suatu perlukaan atau insisi luka
tusuk atau luka tembak.
4. Tumor
Tumor merupakan suatu bentuk peradangan. jika terjadi komplikasi
pada daerah tulang belakang spinal. Ini merupakan bentuk cidera tulang
belakang. Medulla Spinalis.

2.3 Patofisiologi
Menurut Arif Muttaqin 2008, kerusakan medulla spinalis berkisar dari komosis
sementara (dimana pasien sembuh sempurna) sampai kontusio, laserasi, dan
kompresi substansi medulla (baik salah satu atau dalam kombinasi), sampai
transeksi lengkap medulla (yang membuat pasien paralisis di bawah tingkat
cedera). Bila hemoragi terjadi pada daerah medulla spinalis darah dapat merembes
ke ekstradural, subdural atau daerah subarakhnoid pada kanal spinal. Segera setelah
terjadi kontusion atau robekan akibat cedera, serabut-serabut saraf mulai
membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke substansi grisea medulla spinalis
menjadi terganggu. Tidak hanya hal ini saja yang terjadi pada cedera pembuluh
darah medulla spinalis, tetapi proses patogenik dianggap menyebabkan kerusakan
yang terjadi pada cedera medulla spinalis akut. Suatu rantai sekunder kejadian-
kejadian yang menimbulkan iskemia, hipoksia, edema, dan lesi-lesi hemoragi, yang
pada gilirannya mengakibatkan mielin dan akson. Reaksi sekunder ini, diyakini
menjadi penyebab prinsip degenerasi medulla spinalis pada tingkat cedera,
sekarang dianggap reversibel 4 sampai 6 jam setelah cedera. Untuk itu jika
kerusakan medulla tidak dapat diperbaiki, maka beberapa metode mengawali

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 4


pengobatan dengan menggunakan kortikosteroid dan obat-obat antiinflamasi
lainnya yang dibutuhkan untuk mencegah kerusakan sebagian dari
perkembangannya, masuk kedalam kerusakan total dan menetap.
2.4 Pathway

2.5 Manifestasi Klinis


Menurut Diane C. Baughman (2000) tanda dan gejala Medula Spinalis Meliputi :
1. Nyeri akut pada belakang leher, yang menyebar sepanjang saraf yang
terkena
2. Paraplegia
3. Tingkat neurologic
4. Paralisis sensorik motorik total
5. Kehilangan kontrol kandung kemih (refensi urine, distensi kandung kemih)
6. Penurunan keringat dan tonus vasomotor
7. Penurunan fungsi pernafasan
8. Gagal nafas

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 5


9. Pernafasan dangkal

Menurut ENA, (2000 tanda dan gejala Medula Spinalis Meliputi :

1. Penggunaan otot-otot pernafasan


2. Pergerakan dinding dada
3. Hipotensi
4. Bradikardi
5. Kulit teraba hangat dan kering
6. Poikilotermi (ketidakmampuan mengatur suhu tubuh)
7. Kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan gerak
8. Kehilangan sensasi
9. Terjadi paralisis, paraparesis, paraplegi, guadriparalesis, guadriparaplegia
10. Adanya spasme otot dan kekakuan

Menurut Brunner dan Suddarth, (2001) tanda dan gejala Medula Spinalis Meliputi:

1. Nyeri akut pada belakang leher, yang menyebar sepanjang saraf yang
terkena
2. Paraplegia
3. Tingkat neurologic
4. Paralisis sensorik motorik total
5. Kehilangan kontrol kandung kemih (refensi urine, distensi kandung kemih)
6. Penurunan keringat dan tonus vasomotor
7. Penurunan fungsi pernafasan
8. Kelemahan motorik ekstermitas atas lebih besar dari ekstermitas bawah

Menurut campbell( 2004) tanda dan gejala Medula Spinalis Meliputi :

1. Kelemahan otot

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 6


2. Deformitas tulang belakang
3. Nyeri
4. Perubahan bentuk pada tulang servikal
5. Kehilangan kontrol eliminasi dan feses
6. Terjadi gangguan ereksi penis (priapism)

2.6 Penatalaksanaan
Menurut Francisca B. Batticaca,(2008) penatalaksanaan Medula Spinalis Meliputi:
1. Terapi dilakukan untuk mempertahankan fungsi neurologis yang masih ada,
memaksimalkan pemulihan neurologis, tindakan atas cidera lain, yang
menyertai, mencegah, serta mengobati komplikasi dan kerusakan neural lebih
lanjut. Reabduksi atas subluksasi (dislokasi sebagian pada sendi di salah satu
tulang-ed). Untuk mendekompresi koral spiral dan tindakan imobilisasi tulang
belakang untuk melidungi koral spiral.
2. Operasi lebih awal sebagai indikasi dekompresi neural, fiksasi internal, atau
debrideben luka terbuka.
3. Fikasi internal elekif dilakukan pada klien dengan ketidakstabilan tulang
belakang, cidera ligaemn tanpa tanpa fraktur, deformitas tulang belakang
progresif, cidera yang tak dapat direbduksi, dan fraktur non-union.
4. Terapi steroid, nomidipin, atau dopamine untuk perbaiki aliran darah koral
spiral. Dosis tertinggi metil prednisolon/bolus adalah 3mg/kgBB diikuti 5,4
mg/kgBB/jam untuk 23 jam berikutnya. Bila diberikan dalam 8 jam sejak
cedera akan memperbaiki pemulihan neurologis. Gangliosida mungkin juga
akan memperbaiki pemulihan setelah cedera koral spiral.
5. Penilaian keadaan neurologis setiap jam, termasuk pengamatan fungsi sensorik,
motorik, dan penting untuk melacak deficit yang progresif atau asenden.
6. Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat, fungsi ventilasi, dan melacak
keadaan dekompensasi.
7. Pengelolaan cedera stabil tanpa deficit neurologis seperti angulasi atau baji dari
bahan luas tulang belakang, fraktr psoses transverses, spinosus, dan lainnya,

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 7


tindakannya simptomatis (istirahat baring hingga nyeri berkurang), imobilisasi
dengan fisioterapi untuk pemulihan kekuatan otot secara bertahap.
8. Cedera tak stabil disertai deficit neurologis. Bila terjadi pergeseran, fraktur
memerlukan reabduksi dan posisi yang sudah baik harus dipertahankan.
a. Metode reabduksi antara lain : Transaksi memakai sepit (tang) metal yang
dipasang pada tengkorak. Beban 20kg tergantung dari tingkat ruas tulang
belakang, ulai sekitar 2,5 kg pada fraktur C1. Manipulasi dengan anestesi
umum Reabduksi terbuka melalui operasi
b. Metode imobilisasi antara lain : Ranjang khusus, rangka, atau selubung
plester. Transaksi tengkorak perlu beban sedang untuk memperahankan
cedera yang sudah direabduksi. Plester paris dan splin eksternal lain.
Operasi.
9. Cedera stabil disertai deficit neurologis. Bila fraktur stabil, kerusakan
neurologis disebabkan oleh:
a. Pergeseran yang cukup besar yang terjadi saat cedera menyebabkan trauma
langsung terhadap koral spiral atau kerusakan vascular.
b. Tulang belakang yang sebetulnya sudah rusak akibat penyakit sebelumnya
seperti spondiliosis servikal.
c. Fragmen tulang atau diskus terdorong ke kanal spiral.
10. Pengelolaan kelompok ini tergantung derajat kerusakan neurologis yang
tampak pada saat pertama kali diperiksa:
a. Transeksi neurologis lengkap terbaik dirawat konservatif
b. Cedera di daerah servikal, leher di mobilisasi dengan kolar atau sepit
(kapiler) dan di beri metal prednisolon.
c. Pemeriksaan penunjang MRI.
d. Cedera neurologis tak lengkap konservatif.
e. Bila terdapat atau didasari kerusakan adanya spondiliosis servikal, ttraksi
tengkorak, dan metal prednisolon.
f. Bedah bila spondiliosis sudah ada sebelumnya.

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 8


g. Bila tak ada perbaikan atau ada perbaikan tetapi keadaan memburuk maka
lakukan mielografi.
h. Cedera tulang tak stabil.
i. Bila lesinya total, dilakukan reabduksi yang diikuti imobilisasi. Melindungi
imobiisasi seperti penambahan perawatan paraplegia.
j. Bila deficit neurologis tak lengkap, dilakukan reabduksi, diikuti imobilisasi
untuk sesuai jenis cederanya.
k. Bila diperlukan operasi dekompresi kanal spiral dilakukan pada saat yang
sama.

Cedera yang menyertai dan komplikasi: cedera mayor berupa cedera kepala
atau otak, toraks, berhubungan dengan ominal, dan vascular. cedera berat yang
dapat menyebabkan kematian, aspirasi, dan syok. (Fransisca B. Batticaca 2008).

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien fraktur lumbal
menurut Mahadewa dan Maliawan, (2009) adalah :
1. Foto Polos
Pemeriksaan foto yang terpenting adalah AP Lateral dan Oblique view.
Posisi lateral dalam keadaan fleksi dan ekstensi mungkin berguna untuk
melihat instabilitas ligament. Penilaian foto polos, dimulai dengan melihat
kesegarisan pada AP dan lateral, dengan identifikasi tepi korpus vertebrae,
garis spinolamina, artikulasi sendi facet, jarak interspinosus. Posisi oblique
berguna untuk menilai fraktur interartikularis, dan subluksasi facet.
2. CT Scan
CT scan baik untuk melihat fraktur yang kompleks, dan terutama yang
mengenai elemen posterior dari medulla spinalis. Fraktur dengan garis
fraktur sesuai bidang horizontal, seperti Chane fraktur, dan fraktur
kompresif kurang baik dilihat dengan CT scan aksial. Rekonstruksi
tridimensi dapat digunakan untuk melihat pendesakan kanal oleh fragmen
tulang, dan melihat fraktur elemen posterior.

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 9


3. MRI
MRI memberikan visualisasi yang lebih baik terhadap kelainan medulla
spinalis dan struktur ligament. Identifikasi ligament yang robek seringkali
lebih mudah dibandingkan yang utuh. Kelemahan pemakaian MRI adalah
terhadap penderita yang menggunakan fiksasi metal, dimaka akan
memberikan artefact yang mengganggu penilaian fisik. Kombinasi antara
foto polos, CT Scan dan MRI, memungkinkan kita bias melihat kelainan
pada tulang dan struktur jaringan lunak (ligament, diskus dan medulla
spinalis).
4. Elektromiografi dan Pemeriksaan Hantaran Saraf
Kedua prosedur ini biasannya dikerjakan bersama-sama satu sampai
dua minggu setelah terjadinya trauma. Elektromiografi dapat menunjukan
adanya denerfasi pada ekstremitass bawah. Pemeriksaan pada otot
paraspinal dapat membedakan lesi pada medulla spinalis atau cauda equine,
dengan lesi pada pleksus lumbal atau sacral

Sedangkan menurut Arif Mutaqim, (2005) pemeriksaan radiologi yang dapat


dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Pemeriksaan Rontgen
Pada pemeriksaan Rontgen, rnanipulasi penderita harus dilakukan
secara hati-hati. Pada fraktur C-2, pemeriksaan posisi AP dilakukan secara
khusus dengan membuka mulut. Pemeriksaan posisi AP secara lateral dan
kadang-kadang oblik dilakukan untuk menilai hal-hal sebagai berikut.
a. Diameter anteroposterior kanal spinal.
b. Kontur, bentuk, dan kesejajaran vertebra.
c. Pergerakan fragmen tulang dalam kanal spinal.
d. Keadaan simetris dari pedikel dan prosesus spinosus. Ketinggian ruangan
diskus intervertebralis. Pembengkakan jaringan lunak.

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 10


2. Pemeriksaan CT-scan terutama untuk melihat fragmentasi dan pergeseran
fraktur dalam kanal spinal. Pemeriksaan CT-scan dengan mielografi.
3. Pemeriksaan MRI terutama untuk melihat jaringan lunak, yaitu
diskus intervertebralis dan ligamentum flavum serta lesi dalam
sumsum medulla spinalis.
2.8 Komplikasi
1. Neurogenik shock
Syok Neurogenik adalah kondisi medis yang ditandai dengan
ketidakcukupan aliran darah ke tubuh yang disebabkan karena gangguan sistem
saraf yang mengendalikan konstriksi dari pembuluh-pembuluh darah.
Gangguan ini menyebabkan kehilangan sinyal saraf tiba-tiba, yang
menyebabkan terjadinya relaksasi dan pelebaran pembuluh-pembuluh darah
2. Hipoksia.
Hipoksia merupakan kondisi di mana berkurangnya suplai oksigen ke
jaringan di bawah level normal yang tentunya tidak dapat memenuhi kebutuhan
tubuh.

3. Hipoventilasi
Hipoventilasi adalah kurangnya ventilasi dibandingkan dengan
kebutuhan metabolik, sehingga terjadi peningkatan PCO2 dan asidosis
respiratorik
4. Instabilitas spinal
Instabilitas spinal adalah hilangnya kemampuan jaringan lunak pada
spinal (contoh : ligamen, otot dan diskus) untuk mempertahankan
kontrolintersegmental saat terjadinya beban atau stress fisiologis.
5. Orthostatic Hipotensi
Hipotensi ortostatik adalah penurunan tekanan darah yang terjadi tiba-
tiba saat berubah posisi dari telentang ke posisi duduk atau tegak. Hal ini lebih
sering pada pasien yang mengambil obat antihipertensi. Gejala seperti lemah
tiba-tiba, pusing, terasa pingsan dan pingsan dapat terjadi.

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 11


6. Ileus Paralitik
Ileus paralitik adalah keadaan abdomen akut berupa kembung distensi
usus karena usus tidak dapat bergerak (mengalami dismolititas).
7. Infeksi saluran kemih
Infeksi Saluran Kemih adalah infeksi bakteri yang mengenai bagian dari
saluran kemih. Ketika mengenai saluran kemih bawah dinamai sistitis (infeksi
kandung kemih) sederhana, dan ketika mengenai saluran kemih atas dinamai
pielonefritis (infeksi ginjal).
8. Kontraktur
Kontraktur adalah hilangnya atau kurang penuhnya lingkup gerak sendi
secara pasif maupun aktif karena keterbatasan sendi, fibrosis jaringan
penyokong, otot dan kulit.
9. Dekubitus
Dekubitus adalah kerusakan/kematian kulit sampai jaringan dibawah
kulit, bahkan menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan
pada suatu area secara terus menerus sehingga mengakibatkan gangguan
sirkulasi darah setempat. Dekubitus atau luka tekan adalah kerusakan jaringan
yang terlokalisir yang disebabkan karena adanya kompresi jaringan yang lunak
diatas tulang yang menonjol (bony prominence) dan adanya tekanan dari luar
dalam jangka waktu yang lama.
10. Inkontinensia blader
Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih
yang tidak terkendali atau terjadi di luar keinginan. (Brunner&Suddarth, 2002).
11. Konstipasi (Fransisca B. Batticaca 2008)
Konstipasi adalah kondisi tidak bisa buang air besar secara teratur atau
tidak bisa sama sekali. Jika mengalaminya, Anda biasanya akan mengalami
gejala-gejala tertentu. Misalnya tinja Anda menjadi keras dan padat dengan
ukuran sangat besar atau sangat kecil.

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 12


Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 13
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA MEDULLA SPINALIS

3.1 Pengkajian
1. Pengkajian Primer
a. Airway.
Jika penderita dapat berbicara maka jalan napas kemungkinan besar
dalam keadaan adekuat. Obstruksi jalan napas sering terjadi pada penderita
yang tidak sadar, yang dapat disebabkan oleh benda asing, muntahan,
jatuhnya pangkal lidah, atau akibat fraktur tulang wajah. Usaha untuk
membebaskan jalan napas harus melindungi vertebra servikalis (cervical
spine control), yaitu tidak boleh melakukan ekstensi, fleksi, atau rotasi yang
berlebihan dari leher. Dalam hal ini, kita dapat melakukan chin lift atau jaw
thrust sambil merasakan hembusan napas yang keluar melalui hidung.
Bila ada sumbatan maka dapat dihilangkan dengan cara membersihkan
dengan jari atau suction jika tersedia. Untuk menjaga patensi jalan napas
selanjutnya dilakukan pemasangan pipa orofaring. Bila hembusan napas
tidak adekuat, perlu bantuan napas.
b. Breathing
Bantuan napas dari mulut ke mulut akan sangat bermanfaat. Apabila
tersedia, O2 dapat diberikan dalam jumlah yang memadai. Jika penguasaan
jalan napas belum dapat memberikan oksigenasi yang adekuat, bila
memungkinkan sebaiknya dilakukan intubasi endotrakheal.1,3,5,6,7,8.
c. Circulation
Status sirkulasi dapat dinilai secara cepat dengan memeriksa tingkat
kesadaran dan denyut nadi Tindakan lain yang dapat dilakukan adalah
mencari ada tidaknya perdarahan eksternal, menilai warna serta temperatur
kulit, dan mengukur tekanan darah. Denyut nadi perifer yang teratur, penuh,
dan lambat biasanya menunjukkan status sirkulasi yang relatif
normovolemik.

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 14


d. Disability
Melihat secara keseluruhan kemampuan pasien diantaranya kesadaran
pasien.
e. Exprosure
Melihat secara keseluruhan keadaan pasien. Pasien dalam keadaan sadar
(GCS 15) dengan :Simple head injury bila tanpa deficit neurology
1) Dilakukan rawat luka
2) Pemeriksaan radiology
3) Pasien dipulangkan dan keluarga diminta untuk observasi bila terjadi
penurunan kesadaran segera bawa ke rumah sakit

2. Pengkajian Sekunder
a) Pemeriksaan terdiri atas pemeriksaan B1 - B6
1. B 1 : Breathing (Pernafasan/Respirasi)
Inspeksi : - batuk
- Sesak nafas
- 28x/menit
- Sputum (+)
- Cuping hidung (-)
- Retraksi otot bantu nafas (-)
- Pernafasan dada (+)
- Suara nafas vesikuler (+)
-
Palpasi :-
Perkusi :-
Auskultasi : - suara nafas tambahan (-)

2. B 2 : Bleeding (Kardiovaskuler / Sirkulasi)


Inspeksi : - syok Hipovolemik

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 15


Palpasi : - bradikardi
Perkusi :-
Auskultasi : -Tekanan darah Hipotensi
- Kelainan bunyi jantung (-)
- jantung berdebar-debar
-

3. B 3 : Brain (Persyarafan/Neurologik)
Inspeksi umum didapatkan kelumpuhan pada ekstermitas bawah, baik
bersifat paralis, paraplegia, maupun quadriplegia Pengkajian sistem
sensori : ganguan sensibilitas pada klien cedera medula spinalis sesuai
dengan segmen yang mengalami gangguan.

4. B 4 : Bladder (Perkemihan Eliminasi Uri/Genitourinaria)


Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi cairan dapat terjadi
akibat menurunnya perfusi pada ginjal. Bila terjadi lesi pada kauida
ekuina kandung kemih dikontrol oleh pusat (S2-S4) atau dibawah pusat
spinal kandung kemih akan menyebabkan interupsi hubungan antara
kandung kemih dan pusat spinal.
5. B 5 : Bowel (Pencernaan Eliminasi Alvi/Gastrointestinal)
Pada keadaan syok spinal, neuropraksia sering didapatkan adanya ileus
paralitik, dimana klinis didapatkan hilangnya bising usus, kembung,dan
defekasi, tidak ada. Hal ini merupakan gejala awal dari tahap syok spinal
yang akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu.
6. B 6 : Bone (Tulang Otot Integumen)
kelemahan dan kelumpuhan.pada saluran ekstermitas bawah. Kaji
warna kulit, suhu, kelembapan, dan turgor kulit dst.

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 16


3.2 Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kehilangan inervasi otot
intercostal
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan HR menurun
3. Nyeri berhubungan dengan spasme otot pada vertebalis

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 17


3.3 Intervensi
No Diagnose Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Ketidakefektifan pola NOC NIC
nafas Respiratory status : ventiation Airway Management
Respiratory status : airway Buka jalan nafas,gunakan teknik
Definsi : inspirasi dan / atau patency chin lift atau jaw thrust bila
ekspirasi yang tidak Vital sign status perlu.
memberi ventilasi Kriteria hasil : Posisikan px untuk
Batasan karakteristik : Mendemostrasikan batuk efektif memaksimalkan ventilasi
Perubahan dan suara nafas yang bersih, tidak Identifikasi px perlunya
kedalaman ada sianosis dan dyspneu (mampu pemasangan alat jalan nafas
pernapasan mengeluarkan sputum, mampu buatan
Perubahan ekskrusi bernafas dengan mudah, tidak ada Pasang mayo bila perlu.
dada pursed lips) Lakukan fisioterapi dada jika
Bradipneu Menunjukkan jalan nafas yang perlu.
Penurunan tekanan paten (klien tidak merasa Keluarkan sekret dengan batuk
ekspirasi tercekik, irama nafas, frekuensi atau suction
penurunan ventilasi pernafasan dalam rentang normal,
Auskultasi suara nafas, catat
semenit tidak ada suara nafas abnormal) adanya suara tambahan.
penurunan kapasitas Tanda tanda vital dalam rentang
Lakukan suction pada mayo
normal (tekanan darah, nadi,
vital
pernafasan) Berikan bronkolidator bila perlu.
Dipneu Berikan pelembab udara kassa
Peningkatan diameter basah Nacl lembab.
anterior-posterior Atur intake untuk cairan
Pernapasan cuping mengoptimalkan keseimbangan.
hidung Monitor respirasi dan status O2.
Ortopneu Oxygen therapy

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 18


Fase ekspirasi bersihkan mulut, hidung dan
memenjang secret trakea
Pernafasan bibir pertahankan jalan nafas yang
Takipneu paten
Penggunaan otot
atur peralatan oksigenasi
aksesorius untuk
bernafas monitor aliran oksigen
Faktor yang berhubungan pertahankan posisi px
: observasi adanya tanda
Ansietas hipoventalis
Posisi tubuh monitor adanya kecemasan px
Deformitas tulang terhadap oksigenasi
Deformitas dinding Vital sign monitoring
dada monitor TD,nadi,suhu,dan RR
Keletihan catat adanya fluktuasi tekanan
Hiperventilasi darah
Sindrom auskultasi TD pada kedua
hipoventilasi lengan dan badingkan
Gangguan monitor
muskuloskeletal TD,nadi,RR,sebelum,selama,dan
Kerusakan serelah aktifitas.
neuorologis Monitor kualitas dari nadi
Imaturitas Monitor frekuensi dan irama
neuorologis pernapasan
Disfungsi Monitor suara paru
neuromuskular Monitor pola pernapasan
Obesitas abnormal
Nyeri

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 19


Keletihan otot Monitor suhu,warna,dan
pernapasan cedera kelembaban kulit
medula spinalis Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang
melebar,brakikardi,peningkatan
siastolik)
Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign

2 Nyeri Akut NOC NIC


Definisi : pengalaman Pain Level Pain Management
sensori dan emosional yang Pain control - Lakukan pengkajian nyeri secara
tidak menyenangkan yang Comfort Level komprehensif termasuk lokasi,
muncul akibat kerusakan Kriteria Hasil : karasteristik, durasi, frekuensi,
jaringan yang actual atau Mampu mengontrol nyeri (tahu kualitas, dan factor presipitasi
potensial atau digambarkan penyebab nyeri, mampu menggunakan - Observasi reaksi nonverbal dari
dalam hal kerusakan tehnik nonfarmakologi untuk ketidaknyamanan
sedemikian rupa mengurangi nyeri, mencari bantuan) - Gunakan teknik komunikasi
(international Association Melaporkan bahwa nyeri berkurang terapiutik untuk mengetahui
for the study of pain) : dengan menggunakan manajemen pengalaman nyeri pasien
awitan yang tiba-tiba atau nyeri Analgesic Administration

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 20


lambat dari intensitas ringan Mampu mengenali nyeri (skala, - Tentukan lokasi, karasteristik,
hingga berat dengan akhir intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri) kualitas, dan derajat nyeri, sebelum
yang dapat diantisipasi atau Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri pemberian obat
diprediksi dan berlangsung berkurang - Cek instruksi dokter tentang jenis
<6 bulan. obat, dosis, dan frekuensi
Batasan karakteristik : - Cek riwayat alergi
Perubahan selera makan - Pilih analgesic yang diperlukan atau
Perubahan tekanan darah kombinasi dari analgesic ketika
Perubahan frekwensi pemberian lebih dari satu
jantung
Perubahan frekwensi
pernapasan
Laporan isyarat
Diaphoresis
Perilaku distraksi
(mi.,berjalan mondar-
mandir mencari orang lain
dan atau aktivitas lain,
aktivitas yang berulang)

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 21


Mengekspresikan
perilaku (mis.,gelisah,
mengerak, menangis)
Masker wajah (mis., mata
kurang bercahaya, tampak
kacau, gerakan mata
berpencar atau tetap pada
satu focus meringi)
Sikap melindungi area
nyeri
Focus menyempit
(mis.,gangguan persepsi
nyeri, hambatan proses
berfikir, penurunan
interaksi dengan orang
dan lingkungan)
Indikasi nyeri yang dapat
diamati

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 22


Perubahan posisi untuk
menghindari nyeri
Sikap tubuh melindungi
Diatasi pupil
Melaporkan nyeri secara
verbal
Gangguan tidur
Factor yang berhubungan :

Agen cedera (mis., biologis,


zat kimia, fisik, psikologis)

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 23


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa cedera medulla
spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh
benturan pada daerah medulla spinalis. Penyebab dari cidera medulla
spinalis adalah otomobil, industri , terjatuh, olahraga, terluka tusuk, tembak
,tumor. Tanda dan gejala cedera spinalis Menurut campbell (2004), yaitu :
Kelemahan otot, Deformitas tulang belakang, Nyeri, Perubahan bentuk
pada tulang servikal, Kehilangan kontrol eliminasi dan feses,Terjadi
gangguan ereksi penis (priapism).
Pemeriksaan diagnostic cedera spinalis menurut Mahadewa dan
Maliawan (2009) adalah : Foto Polos, CT Scan, MRI, Elektromiografi dan
Pemeriksaan Hantaran Saraf. Komplikasi cedera spinalis diantaranya
Neurogenik shock , hipoksia, instabilitas spinal, infeksi saluran kemih,
kontraktur, dekubitus, inkontinensia blader, Dan konstipasi. Diagnosa
banding cedera spinalis yaitu Herniasi discus lumbalis dan kompresi
medulla spinalis.

4.2 Saran
Selayaknya seorang mahasiswa keperawatan dan seorang perawat
dalam setiap pemberian asuhan keperawatan termasuk dalam asuhan
keperawatan cedera medulla spinalis menggunakan konsep yang sesuai
dengan kebutuhan dasar manusia yang bersifat holistic yang meliputi aspek
biopsikospiritual dan semoga makalah ini dapat digunakan sebagai titik
acuh khalayak umum.

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 24


DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol. 3 .
Jakarta : EGC.

Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi 3 Jakarta : FKUI

Muttaqin, arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta. Salemba Medika. Batticaca, F. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta. Salemba Medika. Riyawan.com | Kumpulan
Artikel & Makalah Farmasi Keperawatan

Irapanussa, Frans. 2012. Diagnosis Dan Diagnosis Banding Cedera Spinalis. Maluku.
Diunduh dari : http://irapanussa.blogspot.co.id/2012/06/diagnosis-dan-diagnosis-
banding-cedera.html.

Setiawan, Iwan & Intan Mulida. 2010. Cedera Saraf Pusat Dan Asuhan
Keperawatannya. Yogyakarta. Nuha Medika

Snell RS. Neuroanatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC; 2007. h.
20, 190.

Setiadi (2012), Konsep & Penulisan Asuhan Keperawatan, Yogyakarta: Graha Ilmu

Kep. Gadar dan Manajemen Bencana: Cedera Medulla Spinalis 25