Anda di halaman 1dari 116

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA

TENTANG PHBS TATANAN RUMAH TANGGA


DI RW 11 KELURAHAN MENTENG ASRI
KOTA BOGOR

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program


Pendidikan Diploma III Keperawatan Program Studi Keperawatan Bogor
Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Disusun Oleh:
RIFQI BEN BANY
P17320313049

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN BANDUNG


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN BOGOR
2016
LEMBAR PERSETUJUAN

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA


TENTANG PHBS TATANAN RUMAH TANGGA
DI RW 11 KELURAHAN MENTENG ASRI
KOTA BOGOR

Disusun Oleh :
RIFQI BEN BANY
P17320313049

Karya Tulis Ilmiah ini telah disetujui untuk diujikan pada tanggal 29 Juni 2016

Pembimbing

Ns. Ati Nuraeni, M.Kep., Sp.Kom


NIP. 190905221982032001

i
LEMBAR PENGESAHAN

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA TENTANG


PHBS TATANAN RUMAH TANGGA DI RW 11 KELURAHAN
MENTENG ASRI, KOTA BOGOR

RIFQI BEN BANY


NIM. P17320312049

Karya Tulis Ilmiah ini telah diujikan dan disahkan pada tanggal 29 Juni 2016

Tim Penguji:

Ketua (Pembimbing) : Ns. Ati Nuraeni, M.Kep, Sp.Kom (................................)


NIP. 195905221982032001

Anggota : Drs, Nyoman Sudja, M.Kes (................................)


NIP. 195412311975091004

Anggota : Andreas Dwi Atmoko, S.Kep, M.Kes (................................)


NIP. 198010242002121005

Mengetahui
Program Studi Keperawatan Bogor
Ketua,

Susmadi, S.Kp., M.Kep


NIP. 196503131989011001

ii
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Program Studi Keperawatan Bogor

Rifqi Ben Bany


P17320313049

Gambaran Pengetahuan dan Sikap Keluarga Tentang PHBS Tatanan Rumah


Tangga di RW 11 Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor

i-vii + 63 Halaman, VI Bab, 5 Skema, 4 Tabel, 5 Diagram, 7 Lampiran

ABSTRAK

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang
dipraktikkan atas dasar kesadaran. PHBS ini termasuk dalam indikator RPJPN
2015-2019 yaitu pemberdayaan masyarakat yang memiliki target peningkatan 80%.
Angka PHBS Di Indonesia belum mecapai target sehingga perlu banyak usaha
untuk meningkatkannya. Keluarga sebagai sumber kritis yang memiliki tugas
perawatan kesehatan menjadi sasaran penting dalam peningkatan PHBS ini
khususnya ditatanan rumah tangga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui Gambaran Pengetahuan dan Sikap Keluarga Tentang PHBS Tatanan
Rumah Tangga di RW 11, Kelurahan Menteng Asri Kota Bogor Tahun 2016.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan sampel penelitian sebanyak
89 orang yang diambil dengan menggunakan teknik random sampling. Data
dianalisa menggunakan distribusi frekuensi dan presentase dari setiap variabel.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat
pengetahuan cukup (47,2%) dan didominasi oleh sikap negatif (59,6%) terhadap
perilaku hidup bersih dan sehat di tatanan rumah tangga. Kesimpulan dari penelitian
ini adalah sebagian besar responden telah mengetahui manfaat dari berperilaku
hidup bersih dan sehat yang ditunjang oleh pengetahuan, namun sebagian besar
responden masih kurang dalam mengaplikasikan pengetahuan tersebut dilihat dari
sikap yang sebagian besar masih negatif. Rekomendasi hasil penelitian ini adalah
agar dapat dilakukan penelitian selanjutnya mengenai gambaran pelaksanaan serta
hubungan pengetahuan dan sikap perilaku hidup bersih dan sehat di tatanan rumah
tangga.

Kata kunci : Pengetahuan, Sikap, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Daftar Pustaka : 29 (2006-2015)

iii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan

nikmat dan hidayah-Nya peneliti dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang

berjudul Gambaran Pengetahuan dan Sikap Keluarga Tentang PHBS Tatanan

Rumah Tangga di RW 11, Kelurahan Menteng Asri Kota Bogor karya tulis ilmiah

ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan program

pendidikan Diploma III Keperawatan pada Politeknik Kesehatan Kemenkes

Bandung Program Studi Keperawatan Bogor

Karya tulis ilmiah ini berisi tentang hasil penelitian peneliti tentang gambaran

pengetahuan dan sikap tentang PHBS di tatanan rumah tangga. Peneliti berharap

karya tulis ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu

pengetahuan terutama dalam bidang keperawatan dan semoga karya tulis ilmiah ini

juga dapat menjadi referensi buku-buku perpustakaan.

Pada kesempatan ini, peneliti ingin memberikan ucapan terimakasih dan

penghargaan kepada seluruh pihak yang mendukung dan membantu peneliti baik

secara moril maupun materil yang diberikan secara langsung maupun tidak

langsung dalam menyusun karya tulis ilmiah ini, karena dengan itu karya tulis

ilmiah ini dapat disusun dengan sebaik-baiknya. Terima kasih peneliti ucapkan

kepada Allah SWT yang telah memberikan keyakinan peneliti untuk terus mencoba

hingga akhirnya karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan. Ucapan terimakasih dan

penghargaan ini kepada :

1. Dr. Ir. H. Osman Syarief, MKM selaku Direktur Politeknik Kesehatan

Kementerian Kesehatan Bandung.

iv
2. Bapak Susmadi, M.Kep, selaku ketua program studi Keperawatan Bogor

3. Ibu Ati Nuraeni., M.Kep., Sp.Kom selaku pembimbing yang membimbing

dan mendidik peneliti, memberikan pengetahuan sehingga peneliti dapat

menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

4. Responden Warga RW 11 Kelurahan Menteng Asri Kota Bogor yang dapat

bekerjasama dengan sangat baik dalam penelitian ini.

5. Teristimewa untuk kedua orang tua tercinta yang selalu memberikan

dukungan moril, materil dan spiritual.

6. Serta teman-teman mahasiswa Program Studi Keperawatan Bogor yang

telah memberikan dukungan dan perhatiannya.

Peneliti menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini jauh dari sempurna oleh karena

itu saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak peneliti terima guna

penyempurnaan karya tulis ilmiah ini.

Bogor, Juni 2016

Peneliti

v
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN .................................................................................. i


LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. ii
ABSTRAK ............................................................................................................ iii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI......................................................................................................... vi
DAFTAR SKEMA ............................................................................................. viii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ ix
DAFTAR DIAGRAM ............................................................................................x
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xi
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1
A. Latar Belakang .............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 4
C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 4
D. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 5
BAB II TINJAUAN TEORI ..................................................................................6
A. Konsep PHBS ............................................................................................... 6
B. PHBS Di Rumah Tangga .............................................................................. 7
C. Konsep Keluarga ......................................................................................... 17
D. Konsep Pengetahuan ................................................................................... 21
E. Konsep Sikap .............................................................................................. 28
F. Kerangka Teori ........................................................................................... 31
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN ................................................................32
A. Kerangka Konsep ........................................................................................ 32
B. Variabel dan Definisi Operasional .............................................................. 34
BAB IV METODOLOGI ....................................................................................36
A. Desain Penelitian ........................................................................................ 36
B. Waktu dan Tempat ...................................................................................... 36
C. Populasi dan Sampel ................................................................................... 37
D. Kriteria ........................................................................................................ 39
E. Teknik Pengambilan Sampel ...................................................................... 40
F. Pengumpulan Data ...................................................................................... 41
G. Prosedur Pengelolahan Data ....................................................................... 43

vi
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .....................................47
A. Hasil Penelitian ........................................................................................... 48
B. Pembahasan ................................................................................................. 55
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ...................................................................61
A. Kesimpulan ................................................................................................. 61
B. Rekomendasi ............................................................................................... 62
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................63

vii
DAFTAR SKEMA

Skema 2.1 Kerangka Teori ......................................................................... 31

Skema 3.1 Kerangka Konsep ...................................................................... 32

Skema 4.1 Rumus Sampel .......................................................................... 38

Skema 4.2 Rumus Drop Out ........................................................................ 39

Skema 4.3 Rumus Perhitungan Jumlah Populasi Per RT .......................... 40

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional ............................................................................ 34

Tabel 4.1 Daftar Sampel Per RT .......................................................................... 41

Tabel 5.1 Nilai Rata-rata, Nilai Tertinggi, Nilai Terendah Responden Berdasarkan
Pengetahuan Keluarga Terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di
RW 11 Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89) .... 51

Tabel 5.2 Nilai Rata-rata, Nilai Tertinggi, Nilai Terendah, Nilai Tengah, Nilai
Modus Berdasarkan Pengetahuan Keluarga Terhadap Perilaku Hidup
Bersih Dan Sehat Di RW 11 Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei
2016 (N=89) ....................................................................................... 53

ix
DAFTAR DIAGRAM

Diagram 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Di RW 11


Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89) ............... 48

Diagram 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Di RW 11


Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89) ............... 49

Diagram 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendapatan Di RW 11


Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89) ............... 50

Diagram 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan


Keluarga Di RW 11 Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016
(N=89) .............................................................................................. 52

Diagram 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap keluarga Di RW


11 Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89) .......... 54

x
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Instrumen Penelitian

Lampiran 2 : Informed concent

Lampiran 3 : Master dan Tabulasi Data

Lampiran 4 : Analisa Data

Lampiran 5 : Surat Izin Penelitian

Lampiran 6 : Lembar Bimbingan

Lampiran 7 : Riwayat Hidup

xi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Program Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2015-2019 (RPJPN)

kementrian kesehatan membentuk matrik target kinerja rencana strategis kementerian

kesehatan 2015-2019, yang salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat dan peningkatan

promosi kesehatan dengan indikator peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat yang

disingkat PHBS. PHBS dibentuk dalam rangka mengubah paradigma masyarakat dari sakit

menjadi sehat, sehingga Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melalui divisi promosi

kesehatan membentuk pedoman pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang

tertuang dalam peraturan menteri kesehatan nomor 2269/MENKES/PER/XI/2011.

PHBS merupakan salah satu program prioritas pemerintah melalui Puskesmas. Puskesmas

sebagai sarana kesehatan masyarakat yang paling penting harus meningkatkan kinerjanya,

terutama dalam menjalankan program PHBS yang tertuang dalam basix six atau enam dasar

kinerja pokok.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menurut buku pedoman pembinaan PHBS adalah

sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang

menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri

(mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.

Jumlah PHBS yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pun sangat banyak, bahkan

bisa mencapai ratusan. Misalnya tentang mengkonsumsi multi vitamin, istirahat yang cukup,

membuang sampah pada tempatnya, hingga mampu mengendalikan emosi diri. Sedangkan

yang akan dibahas disini adalah PHBS dalam tatanan rumah tangga.

1
2

Keluarga adalah individu yang bergabung bersama oleh ikatan pernikahan, darah, atau

adopsi dan tinggal dalam suatu rumah tangga yang sama. Keluarga merupakan sumber daya

penting dalam pemberian layanan kesehatan, baik bagi individu maupun keluarga (Friedman

M, 2010). Keluarga memiliki tugas untuk mempertahankan suasana rumah yang sehat. Rumah

merupakan tempat berteduh, berlindung dan bersosialisasi bagi anggota keluarga. Oleh karena

itu kondisi rumah haruslah dapat menjadikan lambang ketenangan, keindahan, ketentraman

dan dapat menunjang derajat kesehatan bagi anggota keluarga (Mubarak, I. 2009)

Dalam upaya memandirikan keluarga salah satu peran perawat komunitas adalah sebagai

pendidik dan penyuluh kesehatan serta pelaksana konseling keperawatan kepada individu,

keluarga, kelompok dan masyarakat merupakan bagian dari ruang lingkup promosi

kesehatan (Mubarak, I. 2009). Berdasarkan peran tersebut, perawat diharapkan dapat

mendukung individu dan keluarga dalam mencapai tujuan perubahan PHBS terutama dalam

tatanan rumah tangga.

PHBS rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga, agar

tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam

gerakan kesehatan di masyarakat. Dengan tumbuhnya kesadaran dalam diri individu dari

masyarakat tersebut dalam rumah tangga pasti akan merubah pola hidup mereka, dari perilaku

yang tidak sehat berubah menjadi perilaku yang sehat dan akan terciptalah lingkungan yang

sehat di suatu rumah tangga. Jika seluruh individu dari masyarakat mempunyai kesadaran akan

pentingnya hidup bersih dan sehat di rumah tangga, maka status kesehatan akan sangat baik.

Upaya PBHS sendiri sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1996 sebagai upaya

pemberdayaan masyarakat. Namun kita menyadari bahwa upaya untuk mengubah perilaku

adalah hal yang sulit karena masalah ini bersifat kompleks. Upaya dalam meningkatkan PHBS

nampaknya belum optimal hal ini dapat dilihat dari data Riskesdas (2013) yang menunjukan

bahwa angka PHBS masyarakat Indonesia baru mencapai 32,3% angka ini menurun
3

dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 38,7%. Dengan proporsi persalinan nakes 87,6%,

sumber air bersih 82,2%, menggunakan jamban 81,9%, pemberantasan jentik 77,4%,

menimbang balita 68%, tidak merokok di dalam rumah 78,8%, cuci tangan dengan benar

47,2%, memberi ASI eksklusif 38,0%, konsumsi buah dan sayur setiap hari 10,7%, dan

Aktivitas fisik 52,8 % Hasil ini masih jauh dari target PHBS tahun 2015 sebesar 80%.

Sedangkan profil kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2012 menunjukan bahwa angka

PHBS di Provinsi Jawa Barat sebesar 47,4% sedangkan di Bogor pada tahun 2014 sebesar 62,1

% lebih besar dari standar nasional namun masih jauh dari target dengan proporsi persalinan

nakes 91,3%, sumber air bersih 90,9%, menggunakan jamban 84,5%, pemberantasan jentik

93,7%, menimbang balita 90,6%, tidak merokok di dalam rumah 62,9%, cuci tangan dengan

benar 93,7%, memberi ASI eksklusif 61,1%, konsumsi buah dan sayur setiap hari 92,4%, dan

aktivitas fisik 92,8%.

Penelitian yang dilakukan oleh Siti Nur Ramdaniati (2008) menunjukan responden yang

memiliki pengetahuan tinggi tentang PHBS sebesar 124 atau 71,3% dan sisanya 50 atau 28,7%

responden yang memiliki pengetahuan rendah. Responden yang memiliki sikap positif tentang

PHBS sebanyak 54,6% dan sisanya sebanyak 79 atau 45,4% responden memiliki sikap negatif

terhadap PHBS.

Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Taufiq, dkk (2013) hasil penelitian

menunjukkan bahwa Rumah Tangga (RT) yang melakukan persalinan oleh tenaga kesehatan

sebesar 71,4%, memberikan ASI Eksklusif sebesar 91,1%, menimbang bayi dan balita sebesar

94,1%, menggunakan air bersih sebesar 99,4%, mencuci tangan menggunakan air bersih dan

sabun sebesar 52,9%, menggunakan jamban sehat sebesar 90,6%, memberantas jentik nyamuk

sebesar 93,4%, mengonsumsi buah dan sayur setiap hari sebesar 66,6%, melakukan aktifitas

fisik setiap hari sebesar 98,6%, dan tidak merokok sebesar 28%.
4

Dari studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 12 Februari 2016 di RW

11, Kelurahan Menteng Asri Kota Bogor ditemukan bahwa dari 10 keluarga diantaranya 10

keluarga tidak mengetahui tentang PHBS, 6 keluarga tidak pernah memberikan ASI Ekslusif,

1 keluarga jarang menimbang bayi dan 1 tidak pernah, 9 keluarga jarang melakukan

pemberantasan jentik nyamuk, 10 keluarga merokok di dalam rumah, 4 keluarga jarang

mengkonsumsi sayuran, 10 keluarga jarang melakukan aktivitas fisik. Hasil wawancara, warga

sering membuang sampah ke sungai, dari hasil pengamatan peneliti melihat sepanjang RW 11

terdapat sungai, sungai tersebut dipenuhi oleh sampah, di sungai tersebut terdapat pemandian

umum atau MCK yang dipakai oleh sebagian warga untuk mandi, BAB maupun mencuci

pakaian.

Dari hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan, peneliti tertarik untuk membuat judul

Gambaran Pengetahuan dan Sikap Keluarga Tentang PHBS Tananan Rumah Tangga di RW

11, Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah dalam penelitian

ini sebagai berikut Bagaimana Gambaran Pengetahuan dan Sikap Keluarga Tentang PHBS

Tatanan Rumah Tangga di RW 11, Kelurahan Menteng Asri Kota Bogor 2016

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Bagaimana Gambaran Pengetahuan dan Sikap

Keluarga Tentang PHBS di RW 11, Kelurahan Menteng Asri Kota Bogor Tahun 2016.
5

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran karakteristik responden mengenai PHBS di RW 11, Kel.

Menteng Asri, Kota Bogor

b. Mengetahui Gambaran Pengetahuan dan Sikap Keluarga Tentang PHBS di RW 11,

Kelurahan Menteng Asri Kota Bogor

D. Manfaat Penelitian

1. Peneliti

a. Hasil penelitian ini memberikan wawasan, pengalaman penelitian dan informasi

mengenai pelaksanaan PHBS di tatanan rumah tangga

b. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu sumber informasi serta menjadi

kerangka acuan untuk penelitian selanjutnya

2. Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan bagi institusi pendidikan khususnya Prodi Keperawatan

Bogor bisa menjadi referensi untuk bahan pembelajaran serta pengembangan ilmu kesehatan

selanjutnya.

3. Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan informasi dan wawasan terhadap

masyarakat tentang program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep PHBS

1. Pengertian PHBS

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan

atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga,

kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan

berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.

Dari definisi tersebut Perilaku Hidup Bersih dan Sehat mencerminkan pola dan kualitas

hidup seseorang maupun kelompok. Masyarakat diberdayakan agar senantiasa menjaga dirinya

sendiri dibidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati prinsip kesehatan inilah yang menjadi landasan

pelaksanaan PHBS.

Perilaku hidup bersih dan sehat ini sangat banyak macam-macamnya dan berbeda pada

setiap tempat atau lingkungan. Dalam buku pedoman PHBS, PHBS terbagi dalam beberapa

tatanan, yaitu di Tatanan Rumah Tangga, di Sekolah, di Tempat Kerja (Kantor), di Tempat

Umum, dan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit).

2. Ruang Lingkup PHBS

Sekumpulan kegiatan perilaku seseorang dalam kegiatan Sehari-hari dengan pedoman

perilaku sehat meliputi lima ruang lingkup :

a. PHBS di Tatanan Rumah Tangga

b. PHBS di Sekolah

c. PHBS di Tempat Kerja (Kantor)

6
7

d. PHBS di Tnstansi Kesehatan

e. PHBS di Tempat Umum

3. Manfaat PHBS

Manfaat dari pelaksanaan PHBS sudah jelas yaitu meningkatnya derajat kesehatan, biaya

yang tadinya untuk pengobatan penyakit dapat dialihkan ke biaya investasi usaha, pendidikan

dan yang lainnya. Produktivitas kerjapun akan meningkat jika individu selalu dalam kondisi

sehat, produktivitas yang meningkat akan berpengaruh pada meningkatnya hasil kerja dan

pendapatan.

B. PHBS Di Rumah Tangga

1. Persalinan Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan

Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga

kesehatan (bidan, dokter dan tenaga paramedis lainnya. Persalinan yang ditolong oleh tenaga

kesehatan diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Angka Kematian Ibu

adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan

gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas

per 100.000 kelahiran hidup (Proverawati dan Eni, 2012).

Meningkatnya proporsi ibu bersalin dengan bantuan medis yang terlatih, adalah langkah

awal untuk mengurangi angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Persalinan yang ditolong

oleh tenaga kesehatan akan lebih menjamin keselamatan ibu maupun bayi, karena tenaga medis

yang ahli dan kompeten mengetahui jika terjadi kelainan pada ibu maupun bayi dan dapat

segera ditolong atau dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memadai. Persalinan yang ditolong

oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang bersih dan steril sehingga mencegah

terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya.


8

a. Alasan Mengapa Setiap Persalinan Harus Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan


Setiap persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan, karena:

1) Tenaga kesehatan merupakan orang yang sudah ahli dalam membantu persalinan,

sehingga keselamatan ibu dan bayi lebih terjamin.

2) Apabila terdapat kelainan dapat diketahui dan segera ditolong atau dirujuk ke

puskesmas atau rumah sakit.

3) Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang aman,

bersih, dan steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan

lainnya.

2. Memberi ASI Eksklusif

ASI eksklusif adalah memberikan ASI saja tanpa memberi makanan dan minuman lain

kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan (Depkes RI, 2003). Pada tahun 2002 WHO

menyatakan bahwa ASI eksklusif adalah yang terbaik.

ASI banyak mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Kandungan ASI lengkap

dan sesuai dengan kebutuhan bayi mudah dicerna dan diserap, perbandingan whey/casein

adalah 80/20 sedangkan susu sapi 40/60. Bayi yang diberikan ASI tidak sering sakit karena

ASI mengandung kekebalan seperti leukosit 4000/ml, mengandung IgA. ASI juga mengandung

enzim yang mempunyai efek anti bakteri misalnya lisozim, katalase, peroksida. Laktoferin

faktor bifidus dan anti bodi lainnya: Interferon, faktor antistafilokokus, HSV, B12 binding

protein dan komplemen C3 dan C4 juga ASI tidak menyebabkan alergi atau intoleran. Bayi

senang dan lincah, pemberian ASI mendekatkan ibu dan bayi, dan menimbulkan perasaan

aman bagi bayi

a. Keunggulan ASI:
1) Mengandung zat gizi sesuai kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan

fisik serta kecerdasan.


9

2) Mengandung zat kekebalan.

3) Melindungi bayi dari alergi.

4) Aman dan terjamin kebersihan, karena langsung disusukan kepada bayi dalam keadaan

segar.

5) Tidak akan pernah basi, mempunyai suhu yang tepat dan dapat diberikan kapan saja

dan dimana saja.

6) Membantu memperbaiki refleks menghisap, menelan dan pernafasan bayi.

b. Waktu dan cara pemberian ASI:


1) Ibu yakin mampu menyusui bayinya dan mendapat dukungan dari keluarga.

2) Bayi segera disusui sesegera mungkin paling lambat 30 menit setelah melahirkan untuk

merangsang agar ASI cepat keluar dan menghentikan pendarahan.

3) Susui bayi sesering mungkin, berikan ASI sesuai kebutuhan bayi, waktu dan lama

menyusui tidak perlu dibatasi, susui secara bergantian pada kedua payudara.

4) Berikan ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Setelah usia 6 bulan berikan Makanan

Pendamping ASI (MP-ASI) dalam bentuk lumat dan jumlah yang sesuai dengan

perkembangan bayi.

5) ASI tetap diberikan hingga usia 2 tahun.

c. Manfaat memberikan ASI


1) Manfaat ASI bagi Ibu

a) Mengurangi perdarahan setelah persalinan.

b) Menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi.

c) Menunda kehamilan berikutnya.

d) Mengurangi resiko terkena kanker payudara.

e) Lebih praktis karena ASI lebih mudah diberikan pada saat bayi membutuhkan.
10

2) Manfaat ASI bagi Bayi:

a) Bayi lebih sehat, lincah dan tidak cengeng.

b) Bayi tidak sering sakit.

3) Manfaat ASI bagi Keluarga:

a) Praktis tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli susu formula dan

perlengkapannya.

b) Tidak perlu waktu dan tenaga untuk menyediakan susu formula.

3. Menimbang Balita Setiap Bulan

Tujuannya adalah agar balita yang dimaksud dapat dipantau pertumbuhannya setip bulan

dari usia 1 tahun hingga 5 tahun diposyandu. Balita berhak untuk tumbuh dan berkembang,

dengan menimbang balita setiap bulan maka dapat diukur pertumbuhannya dengan satuan

panjang.

Menimbang berat badan juga merupakan skrining atau deteksi pemyimpangan tumbuh

kembang, sehingga pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan salah satu

perilaku hidup bersih dan sehat.

a. Manfaat penimbangan balita setiap bulan di Posyandu:


1) Untuk mengetahui apakah balita tumbuh sehat

2) Untuk mengetahui dan mencegah gangguan pertumbuhan balita

3) Untuk mengetahui balita yang sakit

4. Menggunakan Air Bersih

Air adalah kebutuhan dasar setiap mahluk hidup untuk melakukan aktivitasnya. Air bersih

secara fisik dapat dibedakan melalui indra manusia. Air tidak berwarna, harus bening/jernih.

Air tidak keruh, bebas dari debu/pasir/tanah dll. Air tidak berasa, tidak berasa asin/tidak berasa
11

asam/tidak payau, dan tidak pahit. Air tidak berbau, seperti bau amis, anyir busuk atau

belerang. Air bersih bermanfaat bagi tubuh untuk menghindari berbagai penyakit.

a. Syarat-syarat air bersih:


1) Air harus jernih tidak berwarna

2) Air tidak keruh

3) Air tidak berasa

4) Air tidak berbau

b. Manfaat menggunakan air bersih:


1) Terhindar dari gangguan penyakit seperti Diare, Kolera Disentri, Typus, Cacingan,

penyakit kulit dan keracunan.

2) Setiap anggota keluarga terpelihara kebersihan dirinya.

5. Mencuci Tangan Menggunakan Air Bersih Dan Sabun

Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) merupakan cara mudah dan tidak perlu biaya mahal.

Jika tangan kotor maka tubuh sangat beresiko terhadap masuknya mikroorganisme yang

menempel di tangan. Cuci tangan dengan sabun dapat membunuh bakteri yang ada di tangan,

karena jika tanpa sabun kotoran atau kuman masih tertinggal di dalam tangan.

a. Waktu harus mencuci tangan:


1) Setiap kali tangan kita kotor

2) Setelah buang air besar

3) Setelah menceboki bayi atau anak

4) Setelah makan dan menyuapi anak

5) Setelah memegang makanan

6) Setelah menyusui bayi.


12

b. Manfaat mencuci tangan:


1) Membunuh kuman penyakit yang ada di tangan

2) Mencegah penularan penyakit seperti Diare, Kolera Disentri, Typus, Cacingan,

penyakit kulit, ISPA, SARS

3) Tangan menjadi bersih dan bebas kuman.

c. Cara mencuci tangan yang benar:


1) Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan menggunakan sabun

2) Bersihkan telapak tangan, pergelangan tangan, sela-sela jari dan punggung tangan

3) Keringkan dengan lap bersih

6. Menggunakan Jamban Sehat

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia,

yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa (cemplung) yang

dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya. Jenis-jenis

jamban yang digunakan adalah jamban cemplung, jamban yang penampungannya berupa

lubang yang berfungsi menyimpan kotoran/tinja ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran

ke dasar lubang. Untuk jamban cemplung diharuskan ada penutup agar tidak berbau. Dan

jamban tangki septik/leher angsa adalah jamban berbentuk leher angsa yang penampungannya

berupa tangki septik kedap air yang befungsi sebagai wadah proses penguraian/dekomposisi

kotoran manusia yang dilengkapi resapan.

a. Alasan harus menggunakan jamban:


1) Menjaga lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau

2) Tidak mencemari sumber air yang ada di sekitarnya


13

3) Tidak mengundang lalat atau serangga yang dapat menjadi penular penyakit Diare,

Kolera Disentri, Typus, Cacingan, penyakit saluran pencernaan, penyakit kulit dan

keracunan.

b. Syarat jamban yang sehat:


1) Tidak mencemari sumber air minum (jarak sumber air minum dengan penampungan

minimal 10 meter)

2) Tidak berbau

3) Kotoran tidak terjamah serangga dan tikus

4) Tidak mencemari tanah sekitar

5) Mudah dibersihkan dan aman digunakan

6) Dilengkapi dinding dan atap pelindung

7) Penerangan dan ventilasi yang cukup

8) Lantai kedap air dan luas ruangan memadai

9) Tersedia air, sabun dan alat pembersih

c. Cara memilih jamban yang sehat:


1) Lantai jamban selalu bersih dan tidak ada genangan air

2) Bersihkan jamban secara teratur

3) Di dalam jamban tidak ada kotoran yang terlihat

4) Tidak ada serangga dan tikus yaang berkeliaran

5) Tersedia alat pembersih dan air bersih

6) Bila ada kerusakan, segera perbaiki

7. Memberantas Jentik

Rumah bebas jentik adalah rumah tangga yang setelah dilakukan pemeriksaan jentik secara

berkala tidak terdapat jentik nyamuk. Pemberantasan jentik bermaksud untuk membebaskan
14

rumah dari jentik- jentik yang dapat mengganggu kesehatan. Pemeriksaan jentik dilakukan

secara berkala (PJB). Pemeriksaan jentik berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat

perkembangbiakan nyamuk (tempat-tempat penampungan air) yang ada di dalam rumah

seperti bak mandi/WC, vas bunga, tatakan kulkas, dll dan di luar rumah seperti talang air,

alas pot kembang, ketiak daun, lubang pohon, pagar bambu, dll yang dilakukan secara teratur

sekali dalam seminggu.

a. Hal-hal yang perlu dilakukan agar rumah bebas jentik:


1) Lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M plus (Menguras,

Menutup, Mengubur, plus Menghindari gigitan nyamuk)

2) PSN merupakan kegiatan pemberantasan telur, jentik dan kepompong nyamuk penular

berbagai penyakit, seperti: DBD, Chikungunya, Malaria, Filiriasis, di tempat-tempat

perkembangbiakannya

3) 3M plus adalah cara saat dilakukan PSN.

8. Makan Buah dan Sayur

Semua sayur bagus dimakan, terutama sayuran yang berwarna hijau tua, kuning, dan

oranye) seperti bayam, kangkung, daun katuk, wortel, selada hijau atau daun singkong.

Semua buah bagus untuk dimakan, terutama yang berwarna (merah, kuning) seperti

mangga, papaya, jeruk, jambu biji atau apel lebih banyak kandungan vitamin dan mineral

serta seratnya.

Pilihan buah dan sayur yang bebas pestisida dan zat berbahaya lainnya. Biasanya ciri-

ciri sayur dan buah yang baik ada sedikit lubang bekas dimakan ulat dan tetap segar.

Pengolahan sayur dan buah yang tepat tidak merusak atau mengurangi kandungan gizinya.

Konsumsi sayur dan buah yang tidak merusak kandungan gizinya adalah dengan
15

memakannya dalam keadaan mentah atau dikukus. Direbus dengan air akan melarutkan

beberapa vitamin dan mineral yang terkandung dalam sayur dan buah tersebut.

a. Makan sayuran dan buah setiap hari sangat penting karena:


1) Mengandung vitamin dan mineral yang yang mengatur pertumbuhan dan pemeliharaan

tubuh

2) Mengandung serat yang tinggi

b. Manfaat dan vitamin yang ada di dalam sayur dan buah:


1) Vitamin A untuk memelihara kesehatan mata

2) Vitamin D untuk kesehatan tulang

3) Vitamin E untuk kesuburan dan awet muda

4) Vitamin K untuk pembekuan darah

5) Vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi

6) Vitamin B untuk mencegah penyakit beri-beri

7) Vitamin B12 untuk meningkatkan nafsu makan.

c. Manfaat serat yang ada di sayur dan buah:


Serat adalah makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang sangat berfungsi untuk

memelihara kesehatan usus. Serat tidak menghasilkan tenaga dan dibuang melalui tinja. Serat

ridak mengenyangkan tetapi dapat menunda pengosongan lambung sehingga menjadi tidak

cepat lapar

9. Melakukan Aktivitas Fisik

Semua anggota keluarga sebaiknya melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari.

Aktivitas fisik adalah melakukan pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran

tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental dan mempertahankan

kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari. Aktivitas fisik yang dapat dilakukan
16

bisa berupa kegiatan sehari-hari, yaitu: berjalan kaki, berkebun, kerja tana, mencuci pakaian,

mencuci mobil, mengepel lantai, naik turun tangga, membawa belanjaan, atau berupa olah

raga, yaitu: pushup, lari ringan, bermain bola, berenang, senam, bermain tenis, yoga,

fitness, angkat beban/berat.

Aktivitas fisik dilakukan secara teratur paling sedikit 30 menit dalam sehari, sehingga

dapat menyehatkan jantung, paru-paru serta alat tubuh lainnya. Jika lebih banyak waktu yang

digunakan untuk beraktivitas fisik maka manfaat yang diperoleh juga lebih banyak Jika

kegiatan ini dilakukan setiap hari secara teratur maka dalam waktu 3 bulan ke depan akan terasa

hasilnya.

10. Tidak Merokok Di Dalam Rumah

Setiap anggota keluarga tidak boleh merokok. Rokok ibarat pabrik bahan kimia. Dalam

satu batang rokok yang dihisap akan di keluarkan sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya,

diantaranya yang paling berbahaya adalah Nikotin, Tar, dan Carbon monoksida (CO). Nikotin

menyebabkan ketagihan dan merusak jantung dan aliran darah. Tar menyebabkan kerusakan

sel paru- paru dan kanker. Gas CO menyebabkan berkurangnya kemampuan darah membawa

oksigen, sehingga sel-sel tubuh akan mati. Perokok aktif adalah orang yang mengkonsumsi

rokok secara rutin dengan sekecil apapun, walau hanya 1 batang dalam sehari; atau orang yang

menghisap rokok walau tidak rutin sekalipun atau sekedar coba-coba dan cara menghisap

rokok hanya sekedar menghembuskan asap walau tidak diisap masuk ke dalam paru-paru.

Perokok pasif adalah orang yang bukan perokok tapi menghirup asap rokok orang lain.

Perilaku Hidup Bersih dan sehat, yang menjadi kebutuhan dasar derajat kesehatan

masyarakat satah satu aspeknya adalah "tidak ada anggota keluarga yang merokok".

Sedangkan PHBS harus menjadi kewajiban dan para kader kesehatan untuk mensosialisasikan

setiap kali menghirup asap rokok, baik sengaja maupun tidak, berarti juga mengisap lebih dari

4.000 macam racun. Karena itulah, merokok sama dengan memasukkan racun-racun tadi ke
17

dalam rongga mulut dan tentunya paru-paru. Merokok mengganggu kesehatan, kenyataan ini

tidak dapat kita mungkiri. Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk merokok, baik

secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan si

perokok, tetapi juga bagi orang disekitarnya. Saat ini jumlah perokok, terutama perokok

remaja terus bertambah, khususnya di negara-negara berkembang. Keadaan ini merupakan

tantangan berat bagi upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Bahkan organisasi

kesehatan sedunia (WHO) telah memberikan peringatan bahwa dalam dekade 2020-2030

tembakau akan membunuh 10 juta orang per tahun, 70% di antaranya terjadi di negara-negara

berkembang.

C. Konsep Keluarga

1. Pengertian

Pengertian keluarga akan berbeda. Hal ini bergantung pada orientasi yang digunakan dan

orang yang mendefinisikannya. Friedman (1998) mendefinisikan keluarga adalah kumpulan

dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan memiliki keterikatan aturan dan emosional

dan tiap individu memiliki peran masing-masing.

2. Fungsi Keluarga

Fungsi dasar keluarga memenuhi kebutuhan anggota keluarga itu sendiri dan kebutuhan

masyarakat luas. Tujuan terpenting yang dipenuhi keluarga adalah menghasilkan anggota

keluarga (fungsi reproduksi) dan melatih individu tersebut menjadi bagian dari anggota

masyarakat (fungsi sosialisasi). Secara umum fungsi keluarga (Friedman, 1998) adalah sebagai

berikut.
18

a. Fungsi Afektif
Fungsi afektif merupakan salah satu fungsi keluarga yang paling penting. Fungsi ini

berhubungan dengan persepsi keluarga dan kepedulian terhadap kebutuhan sosioemosional

semua anggota keluarganya. Hal tersebut termasuk mengurangi ketegangan dan

mempertahankan moral.

b. Fungsi Sosialisasi dan Status Sosial


Sosialisasi anggota keluarga adalah fungsi yang universal dan lintas budaya yang

dibutuhkan untuk kelangsungan hidup masyarakat. Keluarga memiliki tanggung jawab utama

mengubah seorang bayi dalam hitungan tahun menjadi makhluk sosial yang mampu

berpartisipasi penuh dalam masyarakat. Sosialisasi melibatkan pembelajaran budaya.

Status sosial adalah aspek lain dari fungsi sosialisasi. Pada saat lahir, seorang anak secara

otomatis mewarisi status keluarganya-etnik, ras, kebangsaan, agama, ekonomi, politik, dan

pendidikan. Keluarga memiliki tanggung jawab dalam fungsi sosialisasi yang diperlukan dan

pengalaman pendidikan yang memungkinkan anggota keluarga untuk memikul pekerjaan dan

peran dalam kelompok yang konsisten dengan harapan status.

Mengajari orangtua tentang pola perawatan anak dan cara mengatasi masalah keluarga

merupakan komponen utama pelayanan kesehatan keluarga, yang dimulai dari konseling

genetik dan reproduksi, dilanjutkan dengan perawatan pranatal dan perawatan anak, serta terus

berlanjut selama kehidupan keluarga.

c. Fungsi Perawatan Kesehatan


Fungsi fisik keluarga yang dipenuhi oleh orang tua yang menyediakan makanan, pakaian,

tempat tinggal, perawatan kesehatan, dan perlindungan terhadap bahaya. Pelayanan dan praktik

kesehatan adalah fungsi keluarga yang relevan bagi perawat keluarga.


19

d. Fungsi Reproduksi
Salah satu fungsi dasar keluarga adalah untuk menjamin kontinuitas anak generasi

keluarga dan masyarakat yaitu menyediakan anggota baru untuk masyarakat. Sampai saat ini,

reproduksi masih mendominasi fungsi primer keluarga, yang merupakan justifikasi keberadaan

keluarga.

e. Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi melibatkan penyediaan keluarga akan sumber daya yang cukup, finansial,

ruang, dan materi serta alokasinya yang sesuai melalui proses pengambilan keputusan. Dengan

memahami bagaimana sebuah keluarga mendistribusikan sumber-sumber yang memenuhi

kebutuhan keluarga, perawat yang berpusat pada keluarga juga dapat memperoleh perspektif

yang lebih jelas mengenai sistem nilai keluarga dan sumber apa yang dapat diakses guna

membantu keluarga memenuhi kebutuhannya. Perawat keluarga harus menerima tanggung

jawab untuk membantu keluarga memperoleh sumber-sumber komunitas yang sesuai yang

dapat memberikan mereka informasi, pekerjaan, konseling kejuruan, dan bantuan keuangan

yang dibutuhkan.

Namun dengan berubahnya pola hidup agraris menjadi industrialisasi, fungsi keluarga

dikembangkan menjadi sebagai berikut:

1) Fungsi ekonomi, yaitu keluarga diharapkan menjadi keluarga yang lebih produktif

dengan memanfaatkan sumber daya keluarga.

2) Fungsi mendapatkan status sosial, yaitu keluarga dilihat dan dikategorikan strata

sosialnya oleh keluarga lain yang berada di sekitarnya.

3) Fungsi pendidikan, yaitu keluarga yang mempunyai peran dan tanggung jawab yang

besar terhadap pendidikan anak-anaknya.

4) Fungsi sosialisasi bagi anaknya, yaitu orangtua atau keluarga diharapkan mampu

menciptakan kehidupan sosial yang mirip dengan rumah.


20

5) Fungsi pemenuhan kesehatan, yaitu keluarga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan

kesehatan yang primer.

6) Fungsi religius, yaitu keluarga merupakan tempat belajar tentang agama dan

mengamalkan ajaran keagamaan.

7) Fungsi rekreasi, yaitu keluarga merupakan tempat untuk melakukan kegiatan yang

mengurangi ketegangan akibat berada di luar rumah.

8) Fungsi reproduksi, bukan hanya mengembangkan keturunan tetapi juga

mengembangkan fungsi reproduksi secara menyeluruh.

9) Fungsi afeksi, yaitu keluarga merupakan tempat yang utama untuk pemenuhan

kebutuhan psikososial.

3. Tugas Keluarga di Bidang Kesehatan

Sesuai dengan fungsi keluarga yaitu pemelihaaan kesehatan. Keluarga memiliki tugas

dalam bidang kesehatan sebagai berikut:

1) Mengenal masalah kesehatan keluarga. Kesehatan adalah sesuatu yang sangat berharga

dalam menjalankan roda kehidupan tanpa kesehatan segalanya tidak berarti karena

kesehatan adalah sumber kekuatan. Keluarga perlu mengenal masalah kesehatan yang

terjadi pada setiap anggota keluarganya, perubahan sekecil apapun yang terjadi harus

menjadi perhatian keluarga. Ketika terjadi perubahan harus dicatat kapan terjadinya,

perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar perubahannya.

2) Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas ini adalah upaya yang

utama untuk mencari pertolongan yang tepat dan diharapkan mengurangi bahkan

mengatasi masalah kesehatan keluarga. Jika keluarga memiliki keterbatasan untuk

memutuskan tindakan kesehatan yang tepat keluarga dapat meminta bantuan terhadap

orang lain yang memiliki pengetahuan untuk memberikan saran terhadap keputusan

yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan.


21

3) Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Jika keluarga telah memilih

tindakan untuk memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga tugas

selanjutnya adalah merawat anggota keluarga yang sedang mengalami gangguan

kesehatan. Keluarga dapat memilih perawatan akan dilakukan di institusi kesehatan

atau di rumah jika keluarga memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan

pertama/perawatan dirumah.

4) Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.

5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga seperti

puskesmas, jaminan kesehatan dll.

D. Konsep Pengetahuan

1. Pengertian pengetahuan

Menurut Notoatmodjo, pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah

seseorang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terhadap

obyek terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa

dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya

tindakan seseorang (Notoadmodjo, 2012).

2. Tingkatan pengetahuan

a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu

yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Oleh sebab

itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.


22

b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek

yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Orang yang telah

paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan, menyimpulkan, dan

sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari

pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau

penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi

yang lain.

d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam

komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada

kaitannya satu sama lain.

e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan

bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu

kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian

terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang

ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. (Notoatmodjo, 2012).
23

3. Cara memperoleh pengetahuan

Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran

pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu cara tradisional

atau non ilmiah, yakni tanpa melalui penelitian ilmiah dan cara modern atau cara ilmiah

yakni proses penelitian (Notoatmodjo, 2012).

a. Cara Memperoleh Kebenaran Nonilmiah


Cara kuno atau tradisional ini dipakai untuk memperoleh kebenaran pengetahuan,

sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik dan logis

adalah dengan cara non ilmiah tanpa melalui penelitian. Cara-cara penemuan pengetahuan

pada periode ini antara lain meliputi :

1) Cara Coba Salah (trial anad error)

Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum

adanya peradaban. Pada waktu seseorang apabila menghadapi persoalan atau masalah,

upaya pemecahannya dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan

masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinana yang lain.

Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula, maka dicoba kembali dengan kemungkinan

ketiga dan seterusnya, sampai masalah tersebut dapat terpecahkan.

2) Secara Kebetulan

Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang

bersangkutan.

3) Cara Kekuasaan atau Otoritas

Dalam kehidupan manusia sehari-hari banyak sekali kebiasaan dan tradisi yang

dilakukan oleh orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau

tidak. Kebiasaan-kebiasaan ini seolah-oleh diterima dari sumbernya sebagai kebenaran

yang mutlak.
24

1) Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau merupakan suatu cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu, pengalaman pribadi pun merupakan

digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.

2) Cara Akal Sehat (Common Sense)

Akal sehat kadang-kadang dapat menemukan teori atau kebenaran. Sebelum ilmu

pendidikan ini berkembang, para orang tua zaman dahulu agar anaknya mau menuruti

nasihat orang tuanya atau agar anak disiplin menggunakan cara hukuman fisik bila anaknya

berbuat salah. Ternyata cara menghukum anak ini sampai sekarang. Berkembang menjadi

teori atau kebenaran bahwa hukuman adalah merupakan metode (meskipun bukan yang

paling baik) bagi pendidikan anak.

3) Kebenaran Melalui Wahyu

Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan

melalui para Nabi. Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut-pengikut

agama yang bersangkutan, terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional atau tidak.

4) Kebenaran secara Intuitif

Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara cepat sekali melalui proses di luar

kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berpikir.

5) Melalui Jalan Pikiran

Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berfikir manusia pun

berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam

memperoleh pengetahuannya, baik melalui induksi maupun deduksi.


25

b. Cara Ilmiah dalam Memperoleh Pengetahuan


Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih

sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular

disebut metodologi penelitian.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan

di dalam dan di luar sekolah (baik formal maupun nonformal), berlangsung seusia hidup.

Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok

dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Pendidikan memengaruhi proses belajar, makin tinggi pendididkan seseorang, makin

mudah orang tersebut untuk menerima informasi.

Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang

dengan dengan pendidikan tinggi, orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya.

Namun perlu ditekankan bahwa seseorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak

berpengetahuan rendah pula.

b. Informasi/media massa
Informasi adalah that of which one is apprised or told: intelligence, news (Oxford

English Dictionary). Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatau yang dapat

diketahui, namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan.

Selain itu, informasi juga dapat didefinisikan sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan,

menyiapkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisis dan menyebarkan

informasi dengan tujuan tertentu (Undang-Undang teknologi informasi). Informasi yang

diperoleh baik dari pendidikan formal maupun nonformal dapat memberikan pengaruh
26

jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan

pengetahuan.

c. Sosial, Budaya, dan Ekonomi


Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah

yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian, seseorang akan bertambah

pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan

menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu sehingga

status sosial ekonomi ini akan memengaruhi pengetahuan seseorang.

d. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik,

biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan

ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya

interaksi timbal balik ataupun tidak, yang akan direspons sebagai pengetahuan oleh setiap

individu.

e. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh

kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh

dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu.

f. Usia
Usia memengaruhi daya tangkap dan pola fikir seseorang. Semakin bertambah usia akan

semakin berkembang pula daya tangkap dan pola fikirnya sehingga pengetahuan yang

diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif dalam

masyarakat dan kehidupan sosial, serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya
27

upaya menyesuaikan diri menuju usia tua. Pembagian usia berdasarkan psikologi

perkembangan (Hurlock, 2002) dalam Wawan (2011) bahwa masa dewasa terbagi atas:

1) Masa Dewasa Dini, berlangsung antara usia 18 - 40 tahun

2) Masa Dewasa Madya, berlangsung antara usia 41 - 60 tahun

3) Masa Lanjut Usia, berlangsung antara usia > 61 tahun

Menurut Hurlock (1998) dalam Wawan (2011) semakin cukup usia, tingkat kematangan

dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan

masyarakat, seseorang yang lebih dewasa lebih dipercaya dari orang yang belum tinggi

kedewasaannya. Hal ini dilihat dari pengalaman dan kematangan jiwanya.

5. Kriteria tingkat pengetahuan

Menurut Arikunto (2006), pengetahuan seseorang dapat diukur dengan dilakukan

wawancara atau angket dengan menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dengan

objek penelitian atau responden. Data yang bersifat kualitatif digambarkan dengan kata-

kata, sedangkan data yang bersifat kuantitatif digambarkan dengan dengan angka-angka.

Hasil perhitungan/pengukuran dapat diproses dengan cara dijumlahkan dan dibandingkan

dengan jumlah yang diharapkan, setelah itu data dipresentasekan dan diinterpretasikan

dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :

1) Baik : Hasil presentase 76% - 100%

2) Cukup : Hasil presentase 56% - 75%

3) Kurang : Hasil presentase < 56%.


28

E. Konsep Sikap

1. Pengertian

Menurut Eagly & Chicken (1993) dalam Wawan & Dewi (2011) mengemukakan bahwa

sikap dapat diposisikan sebagai hasil evaluasi terhadap objek sikap, yang di ekspresikan ke

dalam proses-proses kognitif, afektif, dan perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi

terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Kesiapan yang dimaksud disini adalah

kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada

stimulus yang menghendaki adanya respons (Azwar, 2007). Sikap dapat bersikap positif dan

dapat pula bersikap negatif.

Thomas & Znaniecki (1920) Dalam Wawan & Dewi (2011) menegaskan bahwa sikap

adalah predisposisi untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu, sehingga

sikap bukan hanya kondisi internal psikologis yang murni dari individu (purely psychic inner

state), tetapi sikap lebih merupakan proses kesadaran yang sifatnya individual.

2. Komponen Sikap

Baron dan Byrne juga Myers dalam Wawan & Dewi (2011) menyatakan bahwa ada 3

komponen yang membentuk sikap yaitu :

a. Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang berkaitan dengan

pengetahuan, pandangan, keyakinan yaitu hal-hal yang berhubungan dengan

bagaimana individu memberikan persepsi terhadap sikap.

b. Komponen Afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang berhubungan dengan

perasaan individu terhadap sesuatu, perasaan ini bisa senang yang artinya positif atau

rasa tidak senang yang artinya negatif. Komponen ini menunjukan arah sikap.
29

c. Komponen Konatif (komponen perilaku atau action component) komponen ini

menunjukan kecenderungan individu bertindak atau berperilaku individu terhadap

sikap.

3. Faktor Yang Mempengaruhi Sikap

Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. Dalam

berinteraksi sosial, individu beraksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek

psikologis yang dihadapinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap (Azwar. 2007) terdiri

dari:

a. Pengalaman Pribadi
Pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba atau mengejutkan yang meninggalkan kesan

paling mendalam pada jiwa seseorang. Kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi

berulang-ulang dan terus menerus, lama-kelamaan secara bertahap diserap ke dalam individu

dan mempengaruhi terbentuknya sikap.

b. Pengaruh orang lain


Dalam pembentukan sikap pengaruh orang lain sangat berperan. Misal dalam kehidupan

masyarakat yang hidup di pedesaan, mereka akan mengikuti apa yang diberikan oleh tokoh

masyarakatnya.

c. Kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan

sikap. Dalam kehidupan di masyarakat, sikap masyarakat diwarnai dengan kebudayaan yang

ada di daerahnya.
30

d. Media masa
Media masa elektronik maupun media cetak sangat besar pengaruhnya terhadap

pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Dengan pemberian informasi melalui media

masa mengenai sesuatu hal akan memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap.

e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama


Dalam lembaga pendidikan dan lembaga agama berpengaruh dalam pembentukan sikap,

hal ini dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri

individual.

f. Faktor emosional
Sikap yang didasari oleh emosi yang fungsinya hanya sebagai penyaluran frustasi, atau

pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego, sikap yang demikian merupakan sikap

sementara, dan segera berlalu setelah frustasinya hilang, namun dapat juga menjadi sikap yang

lebih persisten dan bertahan lama

4. Cara Pengukuran Sikap

Pengukuran sikap dapat diukur dengan memberikan pernyataan yang positif maupun

negatif. Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang berisikan tentang objek yang hendak

diungkapkan. Penyataan yang bersifat positif disebut dengan pernyataan favourable sebaliknya

pernyataan yang negatif disebut tidak favorable.

a. Pendekatan Dengan Skala Likert


Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau

sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan Skala Likert, variabel yang akan diukur

dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai tolak

ukur untuk menyusun butir-butir pertanyaan. Jawaban setiap butir pertanyaan yang

menggunakan skala Likert dapat berupa kata- kata antara lain: Sangat Penting(SP),
31

Penting(P), Ragu-ragu(R), Tidak Penting (TP), Sangat Tidak Penting(STP). Dapat juga berupa

kata-kata: Sangat Baik(SB), Baik(B), Ragu-ragu(R), Tidak Baik (TB), Sangat Tidak Baik

(STB).

F. Kerangka Teori

Skema 3.1 Kerangka Teori

Sumber: Notoadmodjo (2012) & Wawan & Dewi (2011)

Faktor yang
mempengaruhi
pengetahuan:
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Informasi/media
Massa Pengetahuan
-Usia
-Pengalaman
- Soial, Budaya,
ekonomi
- Lingkungan
Perilaku
Faktor yang
mempengaruhi
Sikap:
- Pengalaman
pribadi
- Lembaga
pendidikan dan Sikap
lembaga agama
- pengaruh
kebudayaan
- media massa
- faktor emosional
BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN

A. Kerangka Konsep

Skema 3.1 Kerangka Konsep

Pengetahuan dan Sikap


Keluarga Tentang PHBS
Tatanan RumagTangga

Penelitian ini menggambarkan tentang Pengetahuan dan Sikap Keluarga

Tentang PHBS Di Tatanan Rumah Tangga. Dalam penelitian ini peneliti memilih

variable pengetahuan dan sikap karena kurangnya pengetahuan keluarga tentang

program PHBS. Hal ini dapat berpengaruh pada sikap keluarga terhadap PBHS jika

pengetahuan keluarga salah atau kurang terhadap PHBS keluarga dapat

memberikan sikap negatif terhadap PHBS, namun jika pengetahuan keluarga baik

keluarga dapat memberikan sikap positif terhadap PHBS.

Faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan keluarga terhadap PHBS

karena kurangnya terpapar oleh informasi meskipun pada dasarnya ada beberapa

masyarakat yang sudah melakukan beberapa indikator PHBS maka dari itu perlu

adanya upaya dari pemerintah untuk terus melakukan promosi kesehatan tentang

PHBS agar kegiatan 10 indikator PHBS dilakukan ditatanan rumah tangga.

32
33

Demi mencapai tujuan penelitian tersebut, peneliti mengacu pada teori

Menurut Notoatmodjo, pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi

setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indera manusia yaitu

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan

manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan

domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang

(Notoadmodjo,2011).

Sedangkan untuk variabel sikap peneliti menggunakan teori menurut Eagly &

Chicken (1993) dalam Wawan & Dewi (2011) mengemukakan bahwa sikap dapat

diposisikan sebagai hasil evaluasi terhadap objek sikap, yang diekspresikan ke

dalam proses-proses kognitif, afektif, dan perilaku. Sikap merupakan kesiapan

untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dan teori Thomas

& Znaniecki (1920) Dalam Wawan & Dewi (2011) menegaskan bahwa sikap

adalah predisposisi untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu.
34

B. Variabel dan Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional


Definisi
No Variabel Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur Skala
perasional
1 Karakteristik
Responden
Meliputi :

1. Usia Jawaban atas Kuesioner Wawancara Usia menurut Hurlock Interval


kurun waktu atau mengisi 18-40 (dewasa awal)
hidup dalam kuesioner 41-60 dewasa madya)
tahun yang >61 (lanjut usia)
dihitung dari
saat lahir
sampai
sekarang

2. Tingkat Pendidikan Kuesioner Wawancara - Tidak Tamat SD Ordinal


Pendidikan yang terakhir atau mengisi - SD
ditamatkan kuesioner - SMP
oleh - SMA
responden - Perguruan Tinggi

3. Pendapatan Jumlah Kuesioner Wawancara Pendapatan dibawah Interval


pendapatan atau mengisi atau diatas UMK Kota
yang kuesioner Bogor tahun 2016
diperoleh - <Rp. 3.022.765
oleh satu - >Rp. 3.022.765
keluarga
dalam satu
bulan

2. Pengetahuan Hal hal Kuesioner Wawancara 1) Baik : Hasil Ordinal


yang atau mengisi presentase 76% -
diketahui oleh kuesioner 100%
keluarga yang berisi 2) Cukup : Hasil
tentang PHBS 20 tentang presentase 56% -
di tatanan pertanyaan 75%
rumah tangga pengetahuan 3) Kurang : Hasil
PHBS, jika presentase < 55%.
responden
memilih
jawaban
35

benar skor 1
jika jawaban
salah skor 0
3. Sikap Respon/reaksi Kuesioner Wawancara Menggunakan nilai Ordinal
keluarga atau mengisi mean yaitu
terhadap kuesioner - Positif = skor sikap
PHBS tatanan berisikan
mean skor 27.67
rumah tangga tentang
pernyataan - Negatif = skor
negatif dan sikap < mean skor
positif, 27.67
diukur
dengan skala
likert.
Favorable:
Sangat
Setuju = 4
Setuju = 3
Tidak setuju
=2
Sangat Tidak
Setuju = 1

Unfavorable:
Sangat
Setuju = 1
Setuju = 2
Tidak setuju
=3
Sangat Tidak
Setuju = 4
BAB IV

METODOLOGI

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif adalah

metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil

penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas

(Sugiyono, 2014)

Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan

variabel-variabel yang ada dalam penelitian berdasarkan hasil dari penelitian yang

diambil dari populasi secara sistematis, dan akurat (Sujarweni, 2014). Penelitian ini

mengumpulkan data melalui pengisian kuesioner tentang pengetahuan dan sikap

PHBS di tatanan rumah tangga yang diolah sehingga menggambarkan pengetahuan

dan sikap terhadap PHBS pada tatanan rumah tangga.

B. Waktu dan Tempat

1. Waktu penelitian

Penelitian ini disusun dalam waktu yang telah ditentukan adapun tahapan-

tahapan yang peneliti lakukan sebagai berikut:

a. Tahapan persiapan

Pada tahan persiapan peneliti mulai menentukan judul, menentukan tempat,

menyusun proposal penelitian hingga membuat perizinan ke berbagai pihak sampai

36
37

proposal disetujui pada sidang proposal pada tahap persiapan ini peneliti melakukan

hingga bulan Maret 2015.

b. Tahapan penelitian

Pada tahap penelitian, peneliti mengimplementasikan rencana yang sudah

dibuat. Pada tahap ini peneliti mulai melakukan pengumpulan, menganalisa hasil

kuesioner yang telah diisi oleh responden, hingga menyusun laporan hasil

penelitian tentang pengetahuan dan sikap PHBS di tatanan rumah tangga. Tahap

penelitian ini telah dilakukan pada bulan Mei 2016.

2. Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan di RW 11 Kelurahan Menteng Asri Kecamatan Bogor

Barat, Kota Bogor

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

penelitian ini populasinya adalah seluruh KK yang tinggal di wilayah RW 11

Kelurahan Menteng Asri Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor Sebanyak 409

Kepala Keluarga

2. Sampel

penelitian ini sampelnya adalah sebagian yang dianggap mewakili populasi

dari seluruh KK yang tinggal di wilayah RW 11 Kelurahan Menteng Asri

Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor


38

3. Besaran Sampel Minimal

Besaran sampel minimal dihitung dengan menggunakan rumus slovin dengan

menggunakan tingkat kepercayaan (confidence level) 0.1. Perhitungan Besaran

sampel minimal sebagai beikut:

Skema 4.1 Rumus Sampel


Keterangan :
n = 1+(2 )
N = Besar populasi

n = Besar Sampel

d = Tingkat kepercayaan

(sumber: Setiadi, 2013)


berdasarkan hasil perhitungan jumlah populasi yang terdapat pada RW 11

didapatkan populasi sebesar 409 kepala keluarga. Maka besaran sampel pada

penelitian ini sebagai berikut :


409
n = 1+409(0.12 )

409
n = 5.09

n = 80,35

Jumlah sampel 81 kepala keluarga

pada keadaan tertentu peneliti kemungkinan mendapatkan kendala dan hasil

yang kurang dari besaran sampel yang telah di tetapkan atau subyek terpilih yang

drop out, loss of low-up, maka dari itu peneliti mengantisipasi dengan

menambahkan subyek agar jumlah sampel sesuai dengan besaran yang telah

ditetapkan. Penambahan sampel ini dengan rumus


39

Skema 4.2 Rumus Drop Out

n = n/1-f

Keterangan:

n = Besaran sampel drop out

n = Besaran sampel yang telah dihitung

f = Proporsi drop out

maka, jumlah sampel yang di butuhkan sebesar:

n = 81/1-f

n = 81/1-0,1

n = 81/0,9

n = 90 kepala keluarga

D. Kriteria

Kriteria dari responden terbagi menjadi 2 sebagai berikut :

1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi

target dan terjangkau yang akan diteliti. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:

a. Responden adalah Ibu rumah tangga

b. Responden bersedia menjadi responden


40

2. Kriteria Eksklusi

Kriteria Eksklusi adalah mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi

dari studi karena berbagai sebab. Pada penelitian ini kriteria eksklusi adalah :

a. Responden mengalami sakit sehingga tidak mampu mengisi kuesioner

b. Responden tidak hadir/pindah rumah pada saat pengisian kuesioner

E. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel atau sampling adalah suatu proses dalam

menyeleksi porsi untuk menjadi sampel dari populasi untuk dapat mewakili

populasi (Setiadi, 2013).

Metode pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan probability

sampling teknik ini mengambil sampel dengan memberikan peluang yang sama

pada setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih anggota sampel (Setiadi, 2013.

Dalam probability sampling Peneliti menggunakan teknik Proportionate Stratified

Random Sampling karena jumlah KK pada setiap RT berbeda dan peneliti akan

memberikan jumlah sesuai proporsi tiap RT. Peneliti menentukan pengambilan

sampel pada setiap RT dengan cara:

Skema 4.3 Rumus Perhitungan Jumlah Populasi Per RT (Putra, 2012)

Keterangan :
,
=

, : Jumlah Sampel Per RT

A : Jumlah Populasi Per RT

B : Jumlah Populasi Seluruh RW

C : Jumlah Sampel Yang Dinginkan


41

Tabel 4.1 Daftar Sampel Per RT

No. RW 11 Jumlah Populasi Jumlah Sampel


1 RT 1 76 16
2 RT 2 27 6
3 RT 3 120 27
4 RT 4 140 31
5 RT 5 46 10
Jumlah 409 90

Setelah jumlah populasi per RT diketahui maka peneliti mengambil sampel

dengan cara simple random sampling, caranya adalah dengan mengundi nama,

nama yang keluar adalah yang menjadi responden.

F. Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti

dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis

dan dipermudah olehnya (Arikunto, 2010). Instrumen dari penelitian ini

menggunakan kuesioner. Kuesioner diartikan sebagai cara pengumpulan data yang

dilakukan dengan cara mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir

(Setiadi, 2013).

Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner penelitian yang dilakukan oleh

Siti Nur Ramdaniati (2008) tentang pengetahuan dan sikap PHBS yang telah

dimodifikasi oleh peneliti dan telah diuji coba pada 5 KK pada tanggal 27 Maret

2016. Kuesioner yang akan digunakan terdapat tiga kuesioner yaitu kuesioner A,

kuesioner B dan Kuesioner C. Cara pengisian kuesioner dengan cara responden


42

mengisi langsung kuesioner yang diberikan oleh peneliti atau dengan cara

wawancara, peneliti akan memberikan pertanyaan yang ada dalam kuesioner.

Kuesioner A terdiri dari pertanyaan mengenai data demografi (usia,

pendidikan, pendapatan) usia diisi sesuai dengan jumlah angka usia responden,

pendidikan diisi dengan cara memberi tanda ceklis () sesuai dengan tingkat

pendidikan yang ditamatkan oleh responden, pendapatan diisi dengan cara memberi

tanda ceklis () sesuai dengan pendapatan yang diperoleh oleh KK dalam kurun

waktu satu bulan.

Kuesioner B terdiri dari 20 pertanyaan yang tentang pengetahuan perilaku

hidup bersih dan sehat sesuai dengan indikator 10 PHBS di tatanan rumah tangga.

Diisi dengan cara diberi tanda ceklis antara pilihan yang tersedia.

Kuesioner C terdiri dari 10 pernyataan tentang gambaran sikap perilaku hidup

bersih dan sehat sesuai dengan indikator 10 PHBS di tatanan rumah tangga. Pada

bagian ini peneliti membagi kuesioner dalam 2 bagian dengan 5 pernyataan Positif

dan 5 pernyataan negatif. Peneliti juga membagi kuesioner dalam 3 komponen

sikap, komponen afektif terdapat 5 pernyataan pada nomor 1,3,6,8,9 komponen

kognitif pada nomor 2,5,10 sedangkan komponen konatif pada nomor 4,7,11.

Kuesioner diisi dengan cara diberi tanda ceklis () diantara pilihan yang tersedia.

2. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah data primer. Data primer adalah data yang

diperoleh sendiri oleh peneliti dari hasil pengukuran, pengamatan, survey dan lain-

lain (Setiadi, 2013). Kuesioner dapat diisi langsung oleh responden, maupun

peneliti yang melakukan wawancara mengenai isi dari kuesioner tsb. Kuesioner
43

terdiri dari karakteristik responden, pertanyaan pertanyaan tentang pengetahuan

umum PHBS tatanan rumah tangga yang nantinya pertanyaan tersebut harus

dijawab oleh responden dengan cara memberikan tanda silang (x) pada jawaban

yang sesuai dengan jawaban responden, dan pernyataan-peryataan tentang sikap

responden terhadap PHBS tatanan rumah tangga dijawab dengan cara memberikan

tanda ceklist () pada kolom yang tersedia. Peneliti akan memberikan kuesioner

dengan cara door to door langsung di tempat responden mengisi kuesioner.

3. Prosedur penelitian

Prosedur penelitian ini terdiri dari beberapa tahap yang telah ditetapkan yaitu:

a. Setelah proposal penelitian ini disetujui

b. Mengajukan surat perizinan penelitian pada institusi untuk memohon

perizinan kepada pihak Kelurahan Menteng Asri dan Ketua RW 11

c. Melakukan pengumpulan data pada responden sesuai dengan yang diatur

dalam metodologi penelitian

d. Setelah semua data didapatkan peneliti melakukan pengelolaan data

e. Terakhir peneliti membuat laporan penelitian.

G. Prosedur Pengelolahan Data

1. Pengumpulan Data (data colecting)

Data adalah himpunan angka yang merupakan nilai dari unit sampel sebagai

hasil mengamati atau mengukur. Data yang diambil adalah data primer, data yang

diperoleh sendiri oleh peneliti dari hasil pengukuran, pengamatan, dan lainnya.
44

2. Pengolahan Data (data processing)

Pengolahan data adalah proses untuk memperoleh data atau data ringkasan

berdasarkan data mentah dengan menggunakan rumus tertentu sehingga

menghasilkan informasi yang diperlukan.

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dalam pengolahan data

dibagi menjadi 6 tahap, yaitu:

a) Editing/memeriksa

Memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para pengumpul data.

Pemeriksaan daftar pertanyaan yang telah selesai ini dilakukan terhadap:

1) Kelengkapan jawaban

2) Keterbacaan tulisan

3) Relevansi jawaban

Jika ada beberapa hal di atas yang tidak sesuai/ kurang makan data tidak dapat

diolah.

b) Memberi Tanda Kode/coding

Mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden ke dalam bentuk

angka/bilangan. Tanda kode ini bisa dibuat oleh peneliti sendiri, sehingga dapat

disesuaikan dengan pengertian peneliti. Coding ini untuk mempermudah pada saat

analisis data dan juga mempercepat entry data. Kode Responden akan dikodekan

dengan angka 1,2,3 dan seterusnya sesuai urutan. Pendidikan untuk jawaban tidak

taman SD kode 1, SD kode 2, SMP kode 3, SMA kode 4, Perguruan Tinggi

kode 5. Pendapatan akan dikode < Rp. 3.022.765,- kode 1, > Rp. 3.022.765,-
45

Kode 2. Pengetahuan Baik Kode 1, Pengetahuan cukup kode 2, Pengetahuan

kurang kode 3. Sikap dengan kode sikap positif 1, sikap negatif kode 2.

c) Processing

Pemrosesan data dilakukan dengan cara meng-entry data dari kuisioner ke

dalam program komputer.

d) Cleaning

Kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dientry apakah ada kesalahan

atau tidak. Kesalahan tersebut dimungkinkan terjadi pada saat kita meng-entry data

ke komputer.

3. Analisa Data

Setelah data diolah kemudian dianalisa, sehingga hasil analisa digunakan

sebagai bahan pengambilan keputusan dalam penanggulangan masalah. Analisa

data yang digunakan yaitu univariat yang dilakukan pada tiap variable dari hasil

penelitian data didapatan dalam bentuk distribusi frekuensi dan presentasi dalam

tiap variabel (Notoadmodjo, 2012). Analisa univariat pada penelitian ini digunakan

untuk menganalisa dua variable yaitu pengetahuan dan sikap tentang PHBS tatanan

rumah tangga di RW 11 Kel. Menteng asri, Kec. Bogor Barat Kota Bogor.

Setelah semua data dikumpulkan. Peneliti akan membuat sistem skor yang

telah dibuat. Untuk variable pengetahuan peneliti mengelompokan hasil menjadi

tiga kategori menurut Arikunto (2006) yaitu pengetahuan baik jika presentase skor

76-00 %, pengetahuan cukup dengan presentase skor 56-76% dan pengetahuan

kurang dengan presentase skor < 56 %.


46

Sedangkan untuk variabel sikap, peneliti menggunakan nilai mean karena

pemusatan data normal. Skor sikap positif jika nilai diatas mean dan sikap negatif

jika skor kurang dari nilai mean.

4. Interprestasi Data

Data yang telah dianalisis, diinterprestasikan dengan menggunakan skala

menurut menurut Arikunto (2006) sebagai berikut:

a. 0% : Tidak satupun

b. 1% - 25% : Sebagian kecil

c. 26% - 49% : Kurang dari setengahnya

d. 50% : Setengahnya

e. 51% - 75% : Lebih dari setengahnya

f. 76% - 99% : Sebagian besar

g. 100% :Seluruhnya
BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Bab ini menyajikan hasil penelitian dan pembahasan untuk mengetahui

gambaran pengetahuan dan sikap keluarga terhadap perilaku hidup bersih dan sehat

RW 11 Kecamatan Menteng Asri, Kota Bogor tahun 2016, yang terdiri dari

karakteristik responden (usia, pendidikan, penghasilan) dan variabel pengetahuan

dan sikap. Pengambilan data dilakukan melalui angket dengan menggunakan

kuesioner sehingga didapatkan 89 responden. Kuesioner pengetahuan terdiri dari

20 pertanyaan dan kuesioner sikap terdiri dari 10 pernyataan.

Pada penelitian ini dilakukan uji coba pada kedua instrumen dan dilakukan uji

normalitas pada kuesioner sikap terlebih dahulu kemudian melaksakan proses

pengolahan data. Berdasarkan hasil perhitungan pada uji koefisien variasi

didapatkan nilai 7,75% atau kurang dari 30%. Nilai tersebut memberikan makna

bahwa data sikap berdistribusi normal.

Dalam pembahasan ini, akan dijelaskan dalam bentuk diagram yang terstruktur

secara rinci, dimana terdiri dari variabel pengetahuan dan sikap. Hasil yang

diperoleh kemudian ditabulasi, dianalisis, di interprestasikan dan disajikan dengan

menggunakan skala menurut arikunto (2006).

47
48

A. Hasil Penelitian

Hasil analisa data yang akan dipaparkan pada penelitian ini adalah analisa

univariat, meliputi karakteristik responden, nilai pengetahuan responden beserta

indikatornya, dan nilai sikap responden beserta indikatornnya dengan tingkat

kepercayaan 90% (d=0,1).

1. Karakteristik Responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini diantaranya, usia, pendidikan, dan

penghasilan.

a. Usia Responden
Diagram 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Di RW 11
Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89)

60% 54%

50%
37%
40%
Axis Title

30%

20%
9%
10%

0%
18-40 41-60 >60
Series1 54% 37% 9%

Diagram 5.1 menunjukan usia responden lebih dari setengahnya (54%)

berusia 18-40 tahun dan sebagian kecil responden berusia > 60 tahun (9%).

Responden didominasi oleh usia 18-40 tahun.


49

b. Pendidikan Responden
Diagram 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Di RW 11
Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89)
50.0%
45.0%
40.0%
35.0%
30.0%
25.0%
47.2%
20.0%
15.0% 28.1%
10.0% 20.2%
5.0%
1.1% 3.4%
0.0%
TIDAK
SD SMP SMA PT
TAMAT
PENDIDIKAN 1.1% 47.2% 20.2% 28.1% 3.4%

Diagram 5.2 menunjukan responden kurang dari setengahnya (47,2%)

berpendidikan SD dan sebagian kecil (3,4%) memiliki pendidikan tingkat

tinggi atau sarjana. Pendidikan responden didominasi oleh tingkat pendidikan

Sekolah Dasar.
50

c. Pendapatan
Diagram 5.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendapatan Di RW 11
Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89)

21.3%

78.7%

< Rp. 3.022.765 > Rp. 3.022.765

Diagram 5.2 menunjukan responden terbesar memiliki pendapatan <

3.022.765 yaitu lebih dari setengahnya (78,7%) dan kurang dari setengahnya

(21,2%) responden memiliki pendapatan > Rp. 3.022.765. jumlah pendapatan

responden tiap bulannya didominasi oleh < Rp. 3.022.765


51

2. Pengetahuan Responden

a. Nilai Rata-Rata, Nilai Tertinggi dan Nilai Terendah

Tabel 5.1
Nilai Rata-Rata, Nilai Tertinggi, Dan Nilai Terendah Responden Berdasarkan
Pengetahuan Keluarga Terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di RW 11
Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89)

Nilai Nilai Max Nilai Min Nilai Rata-rata


Pengetahuan
90 30 75,5
Responden

Tabel 5.1 menunjukan nilai tertinggi responden adalah 90, nilai terendah

responden ada 30, nilai rata-rata responden adalah 75,5.

Tingkat Pengetahuan Responden


52

Diagram 5.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Keluarga
Di RW 11 Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89)
50.0%
45.0%
40.0%
35.0%
30.0%
25.0%
44.9% 47.2%
20.0%
15.0%
10.0%
5.0% 7.9%
0.0%
BAIK CUKUP KURANG
PENGETAHUAN 44.9% 47.2% 7.9%

Diagram 5.4 menunjukan responden terbesar memiliki tingkat pengetahuan

cukup yaitu kurang dari setengahnya (47,2%) dan sebagian kecil (6,7%)

responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Tingkat pengetahuan

didominasi oleh tingkat pengetahuan cukup.


53

3. Sikap Responden

b. Nilai Rata-Rata, Nilai Tengah, Nilai Tertinggi, Nilai Terendah, Nilai

modus

Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Nilai Rata-Rata, Nilai Tengah, Nilai Tertinggi, Nilai
Terendah, Nilai Paling Sering MunculResponden Berdasarkan Sikap Keluarga
Terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di Di RW 11 Kelurahan Menteng
Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89)

Nilai Sikap Max. Min. Mean. Median Modus


Responden 90 30 75,5 67,5 67,5

Tabel 5.2 menunjukan bahwa nilai tertinggi responden adalah 85, nilai

terendah responden adalah 50, nilai rata-rata responden adalah 69,3, nilai

tengah responden adalah 67,5 dan nilai modus adalah 67,5. Responden

memiliki nilai rata-rata 69,3.


54

Diagram 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap keluarga Di RW 11
Kelurahan Menteng Asri, Kota Bogor, Mei 2016 (N=89)

70.0%

58.4%
60.0%

50.0%
41.6%
Axis Title

40.0%

30.0%

20.0%

10.0%

0.0%
POSITIF NEGATIF
SIKAP 41.6% 58.4%

Diagram 5.5 menunjukan bahwa responden sebagian besar (59,6%)

memiliki sikap negatif dan sebagian kecil (41,6%) responden memiliki sikap

positif terhadap perilaku hidup besih dan sehat. Sikap responden didominasi

oleh sikap negatif.


55

B. Pembahasan

Pada bagian ini akan di uraikan kesenjangan dan keselarasan hasil penelitian

dengan konsep teoritik tentang gambaran pengetahuan dan sikap keluarga tentang

perilaku hidup bersih dan sehat tatanan rumah tangga Di RW 11, Kecamatan

Menteng Asri, Kota Bogor Tahun 2016

1. Pengetahuan

Berdasarkan hasil penelitian, responden memiliki tingkat pengetahuan dengan

nilai rata-rata 75,5 dengan nilai tertinggi 90, nilai terendah 30. kurang dari

setengahnya yaitu 44,9% (40 responden) memiliki tingkat pengetahuan baik

tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Kurang dari setengahnya yaitu 42

responden (47,2%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang perilaku

hidup bersih dan sehat. Dan sebagian kecil yaitu 7 responden (7,9%) memiliki

tingkat pengetahuan kurang. Responden didominasi oleh pengetahuan cukup.

Ramdaniati (2008) yang menyebutkan bahwa proses pembentukan perilaku

hidup bersih dan sehat memerlukan pengetahuan yang tinggi. Selain itu penelitian

lain mengemukakaan bahwa semakin tinggi nilai pengetahuan mengenai perilaku

hidup bersih dan sehat maka semakin tinggi persentase keluarga dalam menerapkan

perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari (Harahap, 2009).

Peneliti berpendapat, besar kemungkinan responden dapat menerapkan perilaku

bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari karena sebelum seseorang

mengadopsi perilaku, ia harus tahu terlebih dahulu manfaat dari perilaku hidup

bersih dan sehat tersebut bagi dirinya atau keluarga. Pemerintah harus terus
56

meningkatkan upaya promotif seperti melakukan pendidikan kesehatan,

menggunakan media cetak maupun media elektronik untuk meningkatkan

pengetahuan masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehat.

Menurut Notoadmodjo (2003) dalam Wawan (2011) pengetahuan di pengaruhi

oleh pendidikan, pekerjaan, usia, faktor lingkungan dan sosial budaya. Hasil

penelitian dari 89 responden di dapatkan menunjukan usia responden lebih dari

setengahnya yaitu 48 responden (54%) berusia 18-40 tahun, kurang dari

setengahnya yaitu 33 responden (37%) berusia 41-60 dan sebagian kecil yaitu 8

responden berusia > 60 tahun (9%). Responden didominasi oleh usia 18-40 tahun.

Presentase tingkat pengetahuan baik berada pada usia 40-60 tahun sebesar 66,7%

dan tingkat pengetahuan kurang berada pada usia 60 ke atas sebesar 25%. Menurut

Hurlock (1998) dalam Wawan (2011) semakin cukup usia, tingkat kematangan dan

kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.

Berdasarkan uraian diatas ada kesenjangan antara teori dan hasil penelitian.

Penelitian ini didukung oleh Hapsari (2014) yang menunjukan tidak ada hubungan

antara usia dengan praktik ibu rumah tangga tentang PHBS. Faktor usia yang

semakin tua menyebabkan lebih sulit dalam meningkatkan perilaku hidup bersih

dan sehat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Baser (2007) didapatkan

bahwa semakin usia bertambah tua peningkatan praktek perilaku kesehatan menjadi

lebih sulit dan lebih tidak mungkin.

Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang

menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Hasil penelitian

kurang dari setengahnya yaitu 42 responden (47,2%) berpendidikan SD, kurang


57

dari setengahnya yaitu 25 responden (28,1%) memiliki tingkat pendidikan SMA,

sebagian kecil yaitu 18 responden (20,2%) memiliki tingkat pendidikan SMP,

sebagian kecil yaitu 3 responden (3,4%) memiliki tingkat pendidikan Perguruan

Tinggi dan sebagian kecil yaitu 1 responden (1,1%). Responden di dominasi oleh

pendidikan SD.

Presentase tertinggi pengetahuan kurang berada pada tingkat pendidikan

rendah sebesar 16,3% . Sedangkan presentase tertinggi tingkat pengetahuan baik

berada pada tingkat pendidikan SMA dan perguruan tinggi sebesar 60,7%.

Menurut YB Mantra dalam Wawan (2011), pendidikan dapat mempengaruhi

seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup. Menurut Nursalam

(2003) dalam Wawan (2011) pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang

makin mudah menerima informasi. Mubarak (2007) juga menjelaskan bahwa

pendidikan sebagai suatu proses dalam rangkaian mempengaruhi dan dengan

demikian akan menimbulkan perubahan perilaku pada diri nya, karena tidak dapat

dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka

menerima informasi kesehatan. Sebaliknya jika seseorang yang tingkat

pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan seseorang terhadap

penerimaan, informasi kesehatan dan nilai nilai baru yang diperkenalkan.

Teori di atas sesuai dengan hasil penelitian. Maka peneliti berpendapat bahwa

semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula tingkat

pengetahuan seseorang. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Kusumawati, dik

(2008) menjelaskan bahwa ada hubungan antara pendidikan dengan perilaku hidup

bersih dan sehat. Penelitian ini sejalan dengan Ramadhanti (2008) yang menyatakan
58

bahwa ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dan pengetahuan perilaku

hidup bersih dan sehat.

Hasil penelitian lebih dari setengahnya yaitu 70 responden (78,7%) memiliki

penghasilan di bawah Rp. 3.022.765,- dan kurang dari setengahnya yaitu 19

responden (21,3%) memiliki penghasilan di atas Rp. 3.022.765,-. Status ekonomi

responden di dominasi oleh penghasilan di bawah Rp. 3.022.765,- dimana angka

Rp. 3.022.765 ini adalah UMK Kota Bogor Tahun 2016.

Presentase tertinggi pengetahuan kurang berada pada tingkat ekonomi kurang

dari Rp. 3.022.765 sebesar 8,6% . Sedangkan presentase tertinggi tingkat

pengetahuan baik berada pada tingkat ekonomi lebih dari Rp. 3.022.765 sebesar

52,6%.

Menurut Notoadmodjo (2010) status ekonomi seseorang juga akan

menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu,

sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.

Dari uraian diatas ada kesesuaian antara teori dan hasil penelitian. Penelitian

ini pun sejalan dengan penelitian Fitria & Joyanis (2014) yang menyatakan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku hidup bersih dan sehat salah satunya

yaitu tingkat pendapatan, semakin tinggi pendapatan semakin tinggi pula tingkat

PHBS. Penelitian ini di dukung oleh Hapsari (2014) yang menyatakan bahwa ada

hubungan antara jumlah pendapatan dengan praktik ibu rumah tangga tentang

PHBS. Dilihat dari hasil nilai koefisien kontingensi yang menunjukan bahwa

hubungan tersebut rendah.


59

2. Sikap

Berdasarkan hasil penelitian tentang sikap keluarga tentang perilaku hidup

bersih dan sehat di tatanan rumah tangga didapatkan hasil nilai tertinggi responden

adalah 85, nilai terendah responden adalah 50, nilai rata-rata responden adalah 69,3.

Sikap responden kurang dari setengahnya yaitu 37 responden (41,6%) memiliki

sikap positif dan lebih dari setengahnya yaitu 52 responden (58,4%) memiliki sikap

negatif terhadap perilaku hidup besih dan sehat ditatanan rumah tangga. Responden

didominasi oleh sikap negatif.

Responden dengan sikap positif terbesar pada tingkat pengetahuan baik sebesar

41,4% , dan responden dengan sikap negatif lebih besar pada tingkat pengetahuan

rendah sebesar 66,7%.

Menurut Eagly & Chicken (1993) dalam Wawan & Dewi (2011)

mengemukakan bahwa sikap dapat diposisikan sebagai hasil evaluasi terhadap

objek sikap, yang di ekspresikan ke dalam proses-proses kognitif, afektif, dan

perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan

cara-cara tertentu. Kesiapan yang dimaksud disini adalah kecenderungan potensial

untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus

yang menghendaki adanya respons (Azwar, 2007). Sikap dapat bersikap positif dan

dapat pula bersikap negatif.

Baron dan Byrne juga Myers dalam Wawan & Dewi (2011) menyatakan bahwa

ada 3 komponen yang membentuk sikap yaitu komponen kognitif, komponen

afektif, dan komponen konatif. komponen kognitif berkaitan dengan pengetahuan,

pandangan, dan keyakinan.. Menurut Oskup & Schult (2005) dalam Apip (2014)
60

mengemukakan bahwa dengan adanya pengetahuan maka dapat mengubah

keyakinan dan paradigma individu terhadap sesuatu yang akhirnya menumbulkan

sikap individu terhadap sesuatu tersebut.

Penelitian ini didukung oleh penelitian Kurnia (2013) bahwa pengetahuan dan

sikap mempunyai keterikatan dan saling mempengaruhi hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa masyarakat yang pengetahuan rendah berperilaku kurang

baik. Hasil penelitian ini menunjukan responden didominasi oleh pengetahuan baik

dan cukup sedangkan responden didominasi oleh sikap negatif hasil penelitian ini

disejalan dengan penelitian Ramadhanti (2013) mengatakan bahwa responden yang

memiliki pengetahuan baik belum tentu memiliki sikap yang positif. Maka dapat di

simpulkan bahwa ada kesesuaian teori dengan hasil penelitian. Pemerintah harus

terus meningkatkan upaya-upaya khususnya promotif untuk menggerakan

masyarakat agar berperilaku hidup bersih dan sehat sehingga RPJPN 2015-2019

dapat tercapai sesuai target terutama dalam indikator peningkatan perilaku hidup

bersih dan sehat.


61

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang Gambaran Pengetahuan dan Sikap

Keluarga Tentang PHBS Tatanan rumah tangga di RW 11 Kelurahan Menteng

Asri, Kota Bogor Tahun 2016 maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai

berikut:

1. Karakteristik usia resonden didominasi usia 18-40. Pendapatan

responden didominasi pendapatan < Rp. 3.022.765. Untuk tingkat

pendidikan responden didominasi oleh pendidikan SD.

2. Tingkat pengetahuan responden didominasi oleh tingkat pengetahuan

cukup dan sikap responden didominasi oleh responden dengan sikap

negatif.

3. Tingkat pengetahuan responden yang baik belum tentu memiliki sikap

positif terhadap perilaku hidup bersih dan sehat.

4. Hasil penelitian ini sebagian besar sesuai dengan teori-teori yang telah

diuraikan dan sebagian besar didukung dengan penelitian-penelitian

lainnya.
62

B. Rekomendasi

1. Penelitian selanjutnya

Bagi penelitian berikutnya diharapkan dapat memanfaatkan hasil penelitian

ini untuk pengembangan bagi penelitian. Adapun penelitian yang peneliti

rekomendasikan sebagai berikut:

a. Gambaran perilaku hidup bersih dan sehat ditatanan rumah tangga,

b. Gambaran pelaksanaan PHBS di tatanan rumah tangga.

c. Hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang PHBS.

2. Institusi Program Studi Keperawatan Bogor

Bagi Institusi Program Studi Keperawatan Bogor dapat menjadikan hasil

penelitian ini sebagai bahan referensi bagi pengembangan dalam bidang pendidikan

khususnya ilmu keperawatan.

3. Puskesmas

Bagi puskesmas dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat

tentang program perilaku hidup bersih dan sehat di berbagai tatanan.


63

DAFTAR PUSTAKA

Afrianti, L. (2014). Gambaran Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) pada
Anak Usia Sekolah. Program Studi Keperawatan Bogor. Bogor: KTI Tidak Di
Publikasikan.

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktikan


Edisi Revisi VI. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Azwar S. (2011). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Jakarta:


Pustaka Pelajar

Baser, Dkk (2007). Evaluating attitudes of a sample of Turkish primary school


teachers. J merg Nurs

Depkes (2012). Data dan Informasi Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun
2012. http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KES _P
ROVINSI_2012/12_Profil_Kes.Prov.JawaBarat_2012.pdf. Diunduh tanggal 1
Maret 2016

Dinkes Kota Bogor (2014). Kinerja Dinas Kesehatan Kota Bogor Tahun 2014
Menuju Bogor Kota Sehat. http://kotabogor.go.id/multisite/attachment/Ki
nerjaDinasKesehatanKotaBogorTahun2014.pdf. Di Unduh 1 Maret 2016

Erawati E. (2011). Gambaran Karakteristik Keluarga Tentang Perilaku Hidup


Bersih Dan Sehat (PHBS) Pada Tatanan Rumah Tangga Di Desa Karangasem
Wilayah Kerja Puskesmas Tanon Ii Sragen. Surakarta

Friedman, M, Dkk. (2010). Buku Ajar Keperawatan Keluarga.Jakarta:EGC

Hapsari, R. (2010). Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Praktik Ibu


Rumah Tangga Tentang Phbs Di Desa Tunggusari Kecamatan Brangsong
Kabupaten Kendal Tahun 2010. Skripsi Sarjana FKM UNS: Tidak Diterbitkan

Kemenkes, RI. (2011). Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS). Jakarta: Kemenkes RI.

Kemenkes, RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar Republik Indonesia Tahun


2013. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-
indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2013.pdf. Di Unduh tanggal 1 Maret 2016
64

Kusumawati, Y., Astuti, D., Ambarwati. 2008. Hubungan antara Pendidikan


dan Pengetahuan Kepala Keluarga tentang Kesehatan Lingkungan dengan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Kurnia A. (2014). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku Hidup


Bersih Sehat Di Kelurahan Setiajaya Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya
Tahun 2013. Tasik Malaya

Maryuni, A. (2013).Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).Jakarta:TIM

Mubarak, W. Dkk (2009).Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan


Aplikasi.Jakarta: Salemba Medika

Ningsih F. & Joyanis. (2014). Perilaku Hidup Besih Dan Sehat Dalam Rumah
Tangga (Phbs) Pada Masyarakat Desa Gunung Kesiangan, Kecamatan Benai
Kabupaten Kuantan Singingi. Pekan Baru

Notoatmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan Dan Perilaku Manusia. Jakarta:


Rineka Cipta.

______________(2010). Metodologi penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta.

______________(2012). Metodologi penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta.

Proverawati, A., & Rahmawati, E. (2012). Perilaku Hidup Bersih & Sehat
(PHBS). Yogyakarta: Nuha Media.

Putra, R.S.(20120.Panduan Riset Keperawatan dan Penulisan Ilmiah.


Yogyakarta: D-Medika

Setiadi. (2013). Konsep Dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan.


Yogyakarta: Graha Ilmu.

Siti Nur Ramdaniati. (2008). Pengetahuan dan Sikap Terhadap Perilaku Hidup
Bersih Dan Sehat Pada Ibu Rumah Tangga RW04 Kelurahan Manggarai Jakarta
Selatan Tahun 2008. Skirpsi Sarjana FKM UI: Tidak Diterbitkan
65

Sugiyono (2014). Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Dan


R&D.Bandung:Alfabeta

Sujarweni, W. (2014). Metodologi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta: Gava


Media.

Taufik, M, Dkk. (2013). Gambaran Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)
Masyarakat Di Kelurahan Parangloe Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.
Makasar

Pustaka Indonesia. (2015). Teknik Pembuatan Kisi-Kisi. (http://pustaka


library.c om/filemateri/teknik_pembuatan_kisi-kisi_soal.pdf. Diunduh 27 Maret
2016

Wawan A. & Dewi M.(2010). Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku Manusia. Yogyakarta:Nuha Medika

Wawasan Pendidikan. (2015). Makalah Instrumen Penelitian. http://www.wa


wasanpendidikan.com/2014/07/makalah-instrumen-penelitian.html. Di unduh 1
Maret 2016
Lampiran 1

INTRUMEN PENELITIAN
Lampiran 1

KUESIONER PENELITIAN
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG PHBS DI
TATANAN RUMAH TANGGA RW 11 KELURAHAN MENTENG ASRI
KOTA BOGOR

LEMBAR KUESIONER A

KARAKTERISTIK
1. Kode Responden = __________________(diisi oleh peneliti)

2. Usia = __________________

3. Pendidikan = ( Ceklis () Salah satu pilihan di bawah ini)

o Tidak Tamat SD

o SD

o SMP

o SMA

o Perguruan Tinggi

4. Pendapatan keluarga dalam 1 Bulan = ( Ceklis () Salah satu pilihan

dibawah ini)

o < Rp. 3.022.765

o > Rp. 3.022.765


Lampiran 1

LEMBAR KUESIONER B

PENGETAHUAN
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan cara memberikan tanda silang (X)

sesuai dengan pengetahuan Ibu

Berikut adalah aktivitas yang termasuk dalam a. Menyusui anak dengan ASI,
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di tatanan Tidak merokok,
rumah tangga sesuai dengan program Olahraga/aktifitas fisik rutin
pemerintah? b. Mandi 2 kali sehari,
1. menggunakan jamban, minum air
putih rutin
c. Memiliki tempat sampah,
menggosok gigi rutin,
memberantas jentik
Jika Ibu akan melahirkan sebaiknya ditolong a. Paraji
2. oleh? b. Bidan
c. Dukun Beranak
Mengapa persalinan harus dibantu oleh tenaga a. Peralatan yang digunakan
kesehatan? canggih
3. b. Agar dapat didata
c. Agar keselamatan ibu dan anak
terjamin
Waktu untuk menimbang balita adalah? a. 1 bulan sekali
4. b. 2 bulan sekali
c. 3 bulan sekali
Bagaimana cara mencuci tangan yang benar? a. menggunakan air sungai
b. menggunakan air kali
5.
c. menggunakan air bersih dan
sabun
Lampiran 1

Apa manfaat mencuci tangan dengan benar? a. Membunuh kuman penyakit

6. b. Tangan menjadi wangi


c. Tangan menjadi bersih

Zat berbahaya apa yang terkandung dalam a. Nikotin


7. rokok? b. Gula
c. Sianida
Penyakit apa yang diakibatkan oleh rokok? a. Kanker paru-paru
8. b. Diabetes
c. Maag
Apa manfaat aktifitas fisik / Olahraga secara a. Tidak ada manfaatnya
rutin? b. Pegal dan letih
9.
c. Terhindar dari penyakit jantung,
stroke,dll
Menurut ibu, berapa lama seseorang perlu a. < 30 menit
10. melakukan aktifitas fisik secara rutin? b. 60 menit
c. 2 jam
Pengertian ASI eksklusif adalah ? a. Pemberian Air Susu Ibu kepada
Bayi tanpa memberikan makanan
tambahan selama 6 bulan
b. Pemberian Air Susu Ibu kepada
11.
Bayi tanpa memberikan makanan
tambahan selama 2 Tahun
c. Pemberian Air Susu Ibu kepada
Bayi ditambah dengan MP-ASI
Menurut ibu, apa saja keunggulan/kelebihan a. Tidak pernah basi
ASI dibanding susu kaleng? b. Mengandung zat gizi dan zat
12. kekebalan sesuai dengan
kebutuhan bayi
c. Pemberiannya lebih mudah
Lampiran 1

Menurut ibu, bagaimanakah air bersih yang a. Tidak berwarna, Tidak berbau,
memenuhi syarat fisik kesehatan adalah Tidak berasa
13.
b. Tidak beracun
c. Tidak mengandung timbal
Dimana dapat diperoleh air bersih? a. Air hujan
14. b. Kolam
c. Kali
Setiap anggota rumah tangga sebaiknya a. Tidak perlu mengkonsumsi sayur
mengkonsumsi sayur & buah setiap hari & buah
15.
sebanyak? b. 1 porsi buah & 1 porsi sayur
c. 3 porsi buah & 2 porsi sayur
Manfaat vitamin C adalah? a. Kesehatan mata
16. b. Kekebalan tubuh
c. Meningkatkan nafsu makan
Salah satu cara memberantas nyamuk adalah a. Menguras tempat penampungan
dengan 3M plus, yang dimaksud dengan 3M air, menutup tempat
plus adalah penampungan air, mengubur
barang-barang bekas,
b. Menguras tempat penampungan
air, menutup tempat
penampungan air, membuang
17.
barang-barang bekas, &
membakar sampah
c. Menguras tempat penampungan
air, membuang barang-barang
bekas, menghindari gigitan
nyamuk, & memakai lotion ketika
tidur
Menurut ibu, apa manfaat rumah yang bebas a. Populasi nyamuk menjadi
18.
jentik nyamuk? terkendali
Lampiran 1

b. jumlah nyamuk meningkat


c. Terhindar dari penyakit kronis
Menurut ibu, jenis Jamban yang memenuhi a. Septic tank dengan leher angsa
19. persyaratan kesehatan? b. Leher angsa tanpa septic tank
c. Langsung ke empang/kali
Daerah yang cukup air sebaiknya menggunakan a. Cemplung
jamban jenis? b. Leher angsa dengan septic tank
20.
c. Langsung di MCK dekat
Dikali/empang

LEMBAR KUESIONER C

SIKAP
Isilah kolom dengan Ceklist () yang sesuai dengan pandangan Ibu. SS= Sangat
Setuju, S=Setuju, TS=Tidak Setuju, STS=Sangat Tidak Setuju

No Pernyataan SS S TS STS
Setiap rumah tangga harus melaksanakan Perilaku
1.
Hidup Bersih dan Sehat
Persalinan dibantu oleh paraji boleh boleh saja asal
2.
paraji nya berpengalaman
Tidak perlu menimbang balita secara rutin setiap
3.
bulan
4. Saya akan mencuci tangan sebelum makan
5. Seorang ayah boleh merokok di rumah
Aktifitas fisik sebaiknya dilakukan minimal 30
6.
menit setiap hari.
Saya Akan memberikan makanan tambahan (susu
7.
formula, bubur, pisang) ketika bayi berusia 4 bulan
Konsumsi Sayuran dan buah cukup seminggu
8.
sekali
Untuk mencuci pakaian cukup menggunakan air
9.
sungai
Saya akan Buang Air Besar/kecil di Sungai asal
10.
MCKnya bersih
11. Saya akan mengubur barang-barang bekas
Lampiran 1

KUNCI JAWABAN

KUESIONER B PENGETAHUAN
NO SOAL HAL KUNCI JAWABAN
1 PHBS A
2 Persalinan Tenaga Kesehatan B
3 Persalinan Tenaga Kesehatan C
4 Menimbang Balita A
5 Menimbang Balita C
6 Mencuci Tangan A
7 Merokok A
8 Merokok A
9 Aktivitas Fisik C
10 Aktivitas Fisik A
11 ASI Eksklusif A
12 ASI Eksklusif B
13 Air Bersih A
14 Air Bersih A
15 Konsumsi Sayuran C
16 Konsumsi Sayuran B
17 Memberantas Jentik C
18 Memberantas Jentik A
19 Jamban A
20 Jamban B
Lampiran 2

INFORMED CONCENT
Lampiran 2

POLITENIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN BOGOR

KUESIONER PENELITIAN

Assalamualaikum, Wr.Wb.

Saya Rifqi Ben Bany mahasiswa Diploma III Program Studi Keperawatan

Bogor Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung, bermaksud mengadakan

penelitian untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan dan Sikap Keluarga

Tentang PHBS di Tatanan Rumah Tangga RW 11, Kelurahan Menteng Asri Kota

Bogor. Saya mohon kesediaan Ibu untuk mengisi kuesioner di bawah ini dengan

sejujur-jujurnya dan apa adanya sesuai dengan pengetahuan dan pandangan Ibu.

Tidak ada jawaban yang salah ataupun benar. Jawaban Ibu dijamin kerahasiaannya.

Harap tidak ada pertanyaan yang terlewatkan.

Adapun penelitian ini akan dimanfaatkan sebagai informasi bagi instansi

kesehatan dan peneliti. Melalui penjelasan ini, peneliti sangat mengharapkan

partisipasi Ibu. Peneliti ucapkan terimakasih atas kesediaan Ibu berpartisipasi

dalam penelitian ini.

Bogor, Mei 2016

Peneliti
Lampiran 2

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Judul : Gambaran Pengetahuan dan Sikap Tentang PHBS di Tatanan

Rumah Tangga RW 11, Kelurahan Menteng Asri Kota Bogor

Peneliti : Rifqi Ben Bany


NIM : P17320312049

Saya yang bertandatangan dibawah ini, menyatakan bahwa saya telah diminta dan
bersedia untuk berperan serta dalam penelitian yang dilakukan oleh Rifqi Ben Bany.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan dan Sikap Tentang
PHBS di Tatanan Rumah Tangga. Saya mengerti bahwa penelitian ini dilakukan dalam
rangka memenuhi tugas akhir dan telah mendapat izin dari Poltekkes Kemenkes bandung
Program Studi Keperawatan Bogor.
Saya Mengerti bahwa resiko yang akan terjadi sangat kecil. Saya juga berhak untuk
menghentikan keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa adanya hukuman. Saya mengerti
bahwa catatan mengenai penelitian ini akan dirahasiakan dan kerahasiaan ini dijamin.
Semua berkas yang mencantumkan identitas subjek penelitian hanya digunakan untuk
keperluan pengolahan data dan bila sudah tidak digunakan akan dimusnahkan. Hanya
peneliti saja yang tahu kerahasiaan data ini.
Demikian secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari siapapun, saya bersedia
berpartisipasi dalam penelitian ini.

Bogor, Mei 2016


Responden

(...........................)
Lampiran 3

MASTER DAN TABULASI DATA


Lampiran 3

No Kode Usia Pendidikan Pendapatan Jawaban Nilai Interprestasi


1 1.1 35 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP
2 1.2 31 SMP < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 80% PENGETAHUAN BAIK
3 1.3 34 SMA > 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 90% PENGETAHUAN BAIK
4 1.4 34 SMA < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 85% PENGETAHUAN BAIK
5 1.5 24 SD > 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
6 1.6 37 SMA < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 80% PENGETAHUAN BAIK
7 1.7 59 SMA > 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 80% PENGETAHUAN BAIK
8 1.8 25 SMP < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 90% PENGETAHUAN BAIK
9 1.9 34 SMP < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 70% PENGETAHUAN CUKUP
10 1.1 71 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 85% PENGETAHUAN BAIK
11 1.11 66 PT > 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 65% PENGETAHUAN CUKUP
12 1.12 31 SMP < 3.022.765 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 65% PENGETAHUAN CUKUP
13 1.13 59 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 1 80% PENGETAHUAN BAIK
14 1.14 24 TDK TMT < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 55% PENGETAHUAN KURANG
15 1.15 53 SMA < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 65% PENGETAHUAN CUKUP
16 1.16 35 SMA < 3.022.765 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
17 2.1 28 PT < 3.022.765 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 80% PENGETAHUAN BAIK
18 2.2 48 SD > 3.022.765 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP
19 2.3 27 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
20 2.4 28 SMA < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 80% PENGETAHUAN BAIK
21 2.5 35 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 60% PENGETAHUAN CUKUP
Lampiran 3

22 2.6 45 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP


23 3.1 42 SMA > 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 80% PENGETAHUAN BAIK
24 3.2 36 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 55% PENGETAHUAN KURANG
25 3.3 35 SMA < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
26 3.4 40 SMA < 3.022.765 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 65% PENGETAHUAN CUKUP
27 3.5 39 SMP < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP
28 3.6 57 SD < 3.022.765 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 80% PENGETAHUAN BAIK
29 3.7 29 SMA > 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
30 3.8 40 SMP < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 90% PENGETAHUAN BAIK
31 3.9 52 SD < 3.022.765 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 70% PENGETAHUAN CUKUP
32 3.1 24 PT < 3.022.765 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
33 3.11 58 SD > 3.022.765 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 70% PENGETAHUAN CUKUP
34 3.12 36 SMP < 3.022.765 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 65% PENGETAHUAN CUKUP
35 3.13 39 SD > 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 85% PENGETAHUAN BAIK
36 3.14 34 SMP < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 90% PENGETAHUAN BAIK
37 3.15 40 SD < 3.022.765 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 60% PENGETAHUAN CUKUP
38 3.16 71 SD < 3.022.765 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 1 1 60% PENGETAHUAN CUKUP
39 3.17 42 SMA < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 80% PENGETAHUAN BAIK
40 3.18 45 SD < 3.022.765 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 65% PENGETAHUAN CUKUP
41 3.19 51 SD < 3.022.765 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 0 0 1 60% PENGETAHUAN CUKUP
42 3.2 52 SMA < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 80% PENGETAHUAN BAIK
43 3.21 41 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 80% PENGETAHUAN BAIK
44 3.22 57 SD < 3.022.765 0 0 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 0 0 45% PENGETAHUAN KURANG
45 3.23 43 SMA > 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 85% PENGETAHUAN BAIK
46 3.24 51 SD > 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 85% PENGETAHUAN BAIK
Lampiran 3

47 3.25 67 SD < 3.022.765 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 55% PENGETAHUAN KURANG


48 3.26 28 SMP < 3.022.765 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 70% PENGETAHUAN CUKUP
49 3.27 40 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
50 4.1 51 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 80% PENGETAHUAN BAIK
51 4.2 40 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP
52 4.3 59 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP
53 4.4 55 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 85% PENGETAHUAN BAIK
54 4.5 28 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 65% PENGETAHUAN CUKUP
55 4.6 21 SMA < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 80% PENGETAHUAN BAIK
56 4.7 37 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 80% PENGETAHUAN BAIK
57 4.8 20 SMA < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
58 4.9 55 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 65% PENGETAHUAN CUKUP
59 4.1 46 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
60 4.11 21 SMA < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
61 4.12 48 SMP < 3.022.765 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 80% PENGETAHUAN BAIK
62 4.13 30 SMP > 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 70% PENGETAHUAN CUKUP
63 4.14 27 SMA > 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 85% PENGETAHUAN BAIK
64 4.15 70 SMA > 3.022.765 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP
65 4.16 56 SD < 3.022.765 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 30% PENGETAHUAN KURANG
66 4.17 52 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP
67 4.18 72 SMP < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
68 4.19 52 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 55% PENGETAHUAN KURANG
69 4.2 29 SMA < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 90% PENGETAHUAN BAIK
70 4.21 69 SD < 3.022.765 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 50% PENGETAHUAN KURANG
71 4.22 55 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 90% PENGETAHUAN BAIK
Lampiran 3

72 4.23 28 SMA < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 90% PENGETAHUAN BAIK


73 4.24 49 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP
74 4.25 55 SD < 3.022.765 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 80% PENGETAHUAN BAIK
75 4.26 48 SMP > 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP
76 4.27 46 SMA > 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 85% PENGETAHUAN BAIK
77 4.28 56 SD > 3.022.765 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 70% PENGETAHUAN CUKUP
78 4.29 58 SMP > 3.022.765 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 85% PENGETAHUAN BAIK
79 5.1 34 SMA < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 85% PENGETAHUAN BAIK
80 5.2 46 SMP < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 90% PENGETAHUAN BAIK
81 5.3 34 SMP < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 90% PENGETAHUAN BAIK
82 5.4 54 SMP < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 90% PENGETAHUAN BAIK
83 5.5 49 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 85% PENGETAHUAN BAIK
84 5.6 37 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 80% PENGETAHUAN BAIK
85 5.7 34 SMA < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP
86 5.8 43 SMA < 3.022.765 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 85% PENGETAHUAN BAIK
87 5.9 64 SD < 3.022.765 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 75% PENGETAHUAN CUKUP
88 5.1 34 SMP < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 90% PENGETAHUAN BAIK
89 5.11 36 SD < 3.022.765 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 75% PENGETAHUAN CUKUP
MAX 90.0%
MIN 30.0%
AVERAGE 75.2%
MEDIAN 75.0%
MODUS 75.0%
SD 11.2%
NILAI KOV 14.8%
Lampiran 3

Jawaban
No Kode Skor Nilai Presentase
P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10
1 1.10 2 3 3 2 3 3 3 4 1 3 27 68% NEGATIF
2 1.20 2 3 3 4 3 3 2 3 1 4 28 70% POSITIF
3 1.30 2 3 4 3 3 3 3 3 1 3 28 70% POSITIF
4 1.40 2 4 4 3 4 3 3 4 1 3 31 78% POSITIF
5 1.50 2 4 3 3 2 3 3 3 3 3 29 73% POSITIF
6 1.60 3 3 3 3 1 4 3 3 1 4 28 70% POSITIF
7 1.70 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 26 65% NEGATIF
8 1.80 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 26 65% NEGATIF
9 1.90 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
10 1.1 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
11 1.11 2 3 3 3 3 2 3 4 1 4 28 70% POSITIF
12 1.12 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 25 63% NEGATIF
13 1.13 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 29 73% POSITIF
14 1.14 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 29 73% POSITIF
15 1.15 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
16 1.16 3 4 4 4 3 4 4 4 1 3 34 85% POSITIF
17 2.10 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 27 68% NEGATIF
18 2.20 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 27 68% NEGATIF
19 2.3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 29 73% POSITIF
20 2.4 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 28 70% POSITIF
21 2.5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 28 70% POSITIF
22 2.6 2 3 4 4 3 3 3 3 1 3 29 73% POSITIF
23 3.1 2 4 4 4 3 3 4 4 1 4 33 83% POSITIF
24 3.2 2 3 3 3 3 3 3 4 3 3 30 75% POSITIF
Lampiran 3

25 3.3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF


26 3.4 2 4 4 4 2 3 3 4 1 4 31 78% POSITIF
27 3.5 2 3 3 3 2 3 3 3 1 3 26 65% NEGATIF
28 3.6 2 3 3 3 3 2 2 3 1 3 25 63% NEGATIF
29 3.7 3 3 4 3 4 3 3 3 1 4 31 78% POSITIF
30 3.8 2 3 3 2 3 3 3 3 1 3 26 65% NEGATIF
31 3.9 2 3 3 3 3 2 2 3 1 3 25 63% NEGATIF
32 3.1 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 26 65% NEGATIF
33 3.11 2 3 3 3 3 2 2 3 1 3 25 63% NEGATIF
34 3.12 3 3 4 3 3 3 2 3 1 4 29 73% POSITIF
35 3.13 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
36 3.14 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
37 3.15 2 3 3 3 2 2 2 4 1 3 25 63% NEGATIF
38 3.16 1 3 3 3 3 2 2 4 1 3 25 63% NEGATIF
39 3.17 2 4 4 4 4 1 4 4 1 4 32 80% POSITIF
40 3.18 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
41 3.19 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 26 65% NEGATIF
42 3.2 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 26 65% NEGATIF
43 3.21 3 3 2 3 3 3 3 4 2 3 29 73% POSITIF
44 3.22 2 2 3 3 3 2 2 4 3 3 27 68% NEGATIF
45 3.23 2 4 4 3 3 3 4 3 1 1 28 70% POSITIF
46 3.24 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
47 3.25 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 26 65% NEGATIF
48 3.26 2 3 4 3 3 3 3 3 1 3 28 70% POSITIF
49 3.27 2 3 4 3 3 3 3 3 1 4 29 73% POSITIF
50 4.1 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
51 4.2 2 3 4 3 3 2 3 3 1 4 28 70% POSITIF
52 4.3 2 3 4 2 3 3 3 3 1 4 28 70% POSITIF
Lampiran 3

53 4.4 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF


54 4.5 2 3 4 3 3 2 3 3 1 4 28 70% POSITIF
55 4.6 2 4 4 3 3 2 3 3 1 3 28 70% POSITIF
56 4.7 3 3 3 3 3 2 2 4 1 3 27 68% NEGATIF
57 4.8 3 3 4 3 3 2 2 4 3 3 30 75% POSITIF
58 4.9 2 3 1 1 3 1 2 3 1 3 20 50% NEGATIF
59 4.1 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 30 75% POSITIF
60 4.11 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 30 75% POSITIF
61 4.12 2 3 4 4 2 4 2 4 3 3 31 78% POSITIF
62 4.13 2 3 3 3 3 2 2 4 3 2 27 68% NEGATIF
63 4.14 2 4 4 4 3 3 3 3 1 3 30 75% POSITIF
64 4.15 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 26 65% NEGATIF
65 4.16 2 3 3 3 3 2 2 3 1 3 25 63% NEGATIF
66 4.17 2 3 3 3 2 3 3 3 1 3 26 65% NEGATIF
67 4.18 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
68 4.19 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 26 65% NEGATIF
69 4.2 3 3 4 3 4 3 3 3 1 4 31 78% POSITIF
70 4.21 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
71 4.22 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
72 4.23 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
73 4.24 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
74 4.25 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
75 4.26 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
76 4.27 3 4 4 3 3 2 2 4 1 3 29 73% POSITIF
77 4.28 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
78 4.29 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
79 5.1 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
80 5.2 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
Lampiran 3

81 5.3 2 3 3 4 3 3 3 3 1 3 28 70% POSITIF


82 5.4 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
83 5.5 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
84 5.6 2 4 4 4 4 3 3 4 1 4 33 83% POSITIF
85 5.7 2 4 4 4 3 3 3 4 1 4 32 80% POSITIF
86 5.8 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
87 5.9 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
88 5.1 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 27 68% NEGATIF
89 5.11 2 3 3 3 1 2 3 3 1 3 24 60% NEGATIF
MAX 34.0 85.0%
MIN 20.0 50.0%
AVERAGE 27.7 69.2%
MEDIAN 27.0 67.5%
MODUS 27.0 67.5%
SD 2.12 5.3%
SD 2.14 5.3%
NILAI KOV 7.7% 7.7%
Lampiran 3

RT 1 RT 2 RT 3 RT 4 RT 5 RW 11 %
USIA
18-40 Tahun 12 5 15 10 6 48 53.9%
41-60 Tahun 2 1 10 16 4 33 37.1%
> 61 Tahun 2 0 2 3 1 8 9.0%
JUMLAH 16 6 27 29 11 89 100.0%
PENDIDIKAN
TIDAK TAMAT 1 0 0 0 0 1 1.1%
SD 4 4 14 16 4 42 47.2%
SMP 4 0 5 5 4 18 20.2%
SMA 6 1 7 8 3 25 28.1%
PT 1 1 1 0 0 3 3.4%
JUMLAH 16 6 27 29 11 89 100.0%
PENDAPATAN
< Rp. 3.022.765 12 4 21 22 11 70 78.7%
> Rp. 3.022.765 4 2 6 7 0 19 21.3%
JUMLAH 16 6 27 29 11 89 100.0%
PENGETAHUAN
BAIK 8 2 10 12 8 40 44.9%
CUKUP 7 4 14 14 3 42 47.2%
KURANG 1 0 3 3 0 7 7.9%
JUMLAH 16 6 27 29 11 89 100.0%
SIKAP
POSITIF 9 4 10 11 3 37 41.6%
NEGATIF 7 2 17 18 8 52 58.4%
JUMLAH 16 6 27 29 11 89 100.0%
Lampiran 4

ANALISA DATA
Lampiran 4

Usia * InterpretasiTotSkorB Crosstabulation

InterpretasiTotSkorB

baik cukup kurang Total


Usia 18-40 Count 22 24 2 48
% of Total 45.8% 50.0% 4.2% 100.0%
41-60 Count 18 13 2 33
% of Total 66.7% 39.4% 6.1% 100.0%
61> Count 1 5 2 8
% of Total 12.5% 62.5% 25.0% 100.0%
Total Count 41 42 6 89
% of Total 46.1% 47.2% 6.7% 100.0%

Usia * InterpretasiTotSkorC Crosstabulation

InterpretasiTotSkorC

negatif positif Total

Usia 18-40 Count 27 21 48

% of 56.3% 43.8% 100.0%


Total

41-60 Count 8 25 22

% of 24.2% 75.8% 100.0%


Total

>61 Count 1 7 19

% of 12.5% 87.5% 100.0%


Total

Total Count 36 53 89

% of 40.4% 59.6% 100.0%


Total
Lampiran 4

Pendidikan * InterpretasiTotSkorB Crosstabulation

InterpretasiTotSkorB

baik cukup kurang Total


Pendidikan Tidak Tamat Count 0 0 1 1
SD
% of Total .0% .0% .0% 100%
SD Count 13 23 6 42
% of Total 31.0% 54.8% 14.4% 100%
SMP Count 10 8 0 18
% of Total 55.6% 44.4% .0% 100%
SMA Count 16 9 0 25
% of Total 64.0% 36.0% .0% 100%
Perguruan Count 1 2 0 3
tinggi
% of Total 33.3% 66.7% .0% 100%
Total Count 40 42 7 89
% of Total 44.9% 47.2% 7.8% 100.0%

Pendidikan * InterpretasiTotSkorC Crosstabulation

InterpretasiTotSkorC

negatif positif Total


Pendidikan Tidak Tamat SD Count 1 0 1
% of Total 100% .0% 100%
SD Count 29 13 42
% of Total 69.0% 31.0% 100%
SMP Count 13 5 18
% of Total 72.2% 27.8% 100%
SMA Count 8 17 25
% of Total 32.0% 68.0% 100%
Perguruan tinggi Count 2 1 3
% of Total 66.7% 33.3% 100%
Total Count 53 36 89
% of Total 59.6% 40.4% 100.0%
Lampiran 4

Penghasilan * InterpretasiTotSkorB Crosstabulation

InterpretasiTotSkorB

baik cukup kurang Total


Penghasilan <3jt Count 31 33 6 70
% of Total 44.3% 47.1% 8.6% 100.0%
>3jt Count 10 9 0 19
% of Total 52.6% 47.4% .0% 100.0%
Total Count 41 42 6 89
% of Total 46.1% 47.2% 6.7% 100.0%

Penghasilan * InterpretasiTotSkorC Crosstabulation

InterpretasiTotSkorC

Negatif positif Total


Penghasilan <3jt Count 43 27 70
% of Total 61.4% 38.6% 100.0%
>3jt Count 10 9 19
% of Total 52.5% 47.4% 100.0%
Total Count 53 36 89
% of Total 59.6% 40.4% 100.0%

InterpretasiTotSkorB * InterpretasiTotSkorC Crosstabulation

InterpretasiTotSkorC

negatif positif Total

InterpretasiTotSkorB baik Count 24 17 41

% of Total 58.5% 41.5% 100.0%

cukup Count 25 17 42

% of Total 59.5% 40.5% 100.0%

kurang Count 4 2 6

% of Total 66.7% 33.3% 100.0%

Total Count 53 36 89

% of Total 59.6% 40.4% 100.0%


Lampiran 4
Lampiran 4
Lampiran 5

SURAT IZIN PENELITIAN


Lampiran 5
Lampiran 5
Lampiran 6

LEMBAR BIMBINGAN
Lampiran 6
Lampiran 6
Lampiran 6
Lampiran 6
Lampiran 6
Lampiran 6
Lampiran 6
Lampiran 7

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Lampiran 7

RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI

Nama : Rifqi Ben Bany

Tempat, Tanggal Lahir : Bandung, 03 Desember 1995

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Kp. Cibedug Tengah Ds. Nagrak Kec. Sukaraja Kab.


Bogor No. 1 RT/RW 04/05

No HP : 0885711209287

E-mail : rifqiben@live.com

PENDIDIKAN FORMAL

2001 2007 : SDN Nagrak 1

2007 2010 : SMPN 11 Bogor

2010 2013 : SMA 7 Bogor

2013 2016 : Tercatat sebagai mahasiswa Program Studi


Keperawatan Bogor, Poltekkes Kemenkes Bandung

Anda mungkin juga menyukai