Anda di halaman 1dari 11

Paper Zoonosis

CARA-CARA PENULARAN, POLA PENYAKIT, DAN


TINDAKAN PENGENDALIAN PENYAKIT ZOONOSIS YANG
DISEBABKAN OLEH BAKTERI (Brucellosis & Anthrax)

DI SUSUN OLEH :
Kelompok 4

Syafarina Hanum ( 1302101010074 )


Mardhiah Abdian ( 1302101010094 )
Harni Angraini. P ( 1302101010106 )

FAKULTAS KEDOKTERANHEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2016
PENYAKIT ZOONOSIS (ANTHRAX)

I.Pendauluan
Etiologi
Anthrax merupakan penyakit infeksi menular akut yang termasuk salah satu dari penyakit
penyakit zoonosis. Anthrax disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis, suatu bakteri yang
mempunyai kemampuan membentuk endospora yaitu suatu bentuk pertahanan diri suatu bakteri,
sehingga menyebabkan bakteri ini sulit dieradikasi.(Rahayu.2011).
Bakteri Bacillus anthracis merupakan bakteri berbentuk batang besar dengan ujung
persegi dan sudutnya tajam dengan ukuran panjang 3 5 m dan lebar 1 2 m. Bakteri ini
bersifat Gram positif yang akan tampak berwarna biru ungu di bawah mikroskop
bila diwarnai dengan Gram. B. Antrhracis juga merupakan bakteri yang non motil,
memilikispora dan tahan asam. (Rahayu(2011) dan Soedirto(2003))

Bacillus anthracis dapat membentuk endospora yang berbentuk oval dan terletak central ,
tidak lebih besar daripada diameter bentuk vegetatifnya. Endospora ini hanya terbentuk apabila
bakteri berada di luar tubuh hostnya atau pada tubuh host yang telah mati. Endospora juga dapat
ditemukan pada kultur / biakan, di tanah /lingkungan, pada jaringan atau darah hewan penderita
yang telah mati.(Rahayu,2011)

Ciri morfologis lain dari Bacillus anthracis adalah mempunyai capsul pada saat berada di
dalam tubuh host tetapi capsule ini tidak dapat terjadi pada Bacillus anthracis yang dibiakkan
secara in vitro kecuali bila dalam medianya diberikan natriumbicarbonate dengan konsentrasi
5% CO2. (Rahayu,2011).

Dilaporkan sebanyak 599 kasus dengan kematian sebanyak 10 orang. Selama periode
tahun 2002 hingga tahun 2007 kasus penyakit antraks pada manusia di Indonesia mencapai 348
orang dengan kematian mencapai 25 orang atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai sebesar
7.2%. Keseluruhan kasus tersebut terjadi di 5 provinsi yang termasuk sebagai daerah endemis
antraks di Indonesia yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara
Barat, dan Sulawesi Selatan.
II.Pembahasan
Epidemiologi
1. Agen
Pada penyakit antraks agent utamanya yaitu bakteri Bacillus anthracis. Bacillus anthracis
adalah organisme berbentuk batang yang sifatnya aerobik, gram positif, tidak bergerak, dan
mampu membentuk spora . Dalam kondisi tidak kondusif untuk tumbuh dan memperbanyak diri,
maka kuman akan mulai membentuk spora. Untuk pembentukan spora diperlukan keberadaan
oksigen bebas. Dalam situasi alamiah, siklus vegetatif terjadi dalam lingkungan rendah oksigen
dari induk semang terinfeksi, dan dalam tubuh induk semang organisme tersebut secara khas
berada dalam bentuk vegetatif. Begitu berada di luar tubuh induk semang, spora mulai terbentuk
dengan terdedahnya bentuk vegetatif terhadap udara. Bentuk spora esensialnya adalah fase
eksklusif di lingkungan. Meskipun belum pernah diteliti di Indonesia, lalat dianggap mempunyai
peran penting dalam menyebarkan antraks secara mekanis terutama pada situasi wabah hebat di
daerah endemis. Kebanyakan lalat pengigit (biting flies) dari spesies Hippobosca dan Tabanus
bertindak sebagai penular yang bertanggung jawab terhadap terjadinya perluasan wabah besar di
Zimbabwe pada 1978-1979, dimana lalat meloncat dari satu komunitas ternak ke komunitas
lainnya. Lalat makan cairan tubuh bangkai ternak terjangkit antraks dan kemudian
mendepositkan feses atau muntahan yang mengandung kontaminan kuman dalam jumlah besar
pada helai daun pepohonan dan semak-semak di sekitarnya.

2. Host
Dalam hal ini yang menjadi host pada penyakit antraks yaitu manusia dan hewan ternak
itu sendiri. Manusia yang terkena penyakit antraks ditularkan melaui Kontak langsung dengan
hewan sakit, Menghirup spora dari hewan yang sakit, spora antraks yang ada di tanah/rumput
dan lingkungan yang tercemar spora antraks maupun bahan-bahan yang berasal dari hewan yang
sakit, seperti kulit, daging, tulang, dan darah., Mengkonsumsi daging hewan yang sakit/mati dan
produknya karena antraks dan Pernah dilaporkan melalui gigitan serangga Afrika yang telah
memakan bangkai hewan yang tertular kuman Antraks, serta Penularan dari manusia ke manusia
jarang terjadi.
3. Lingkungan
Lingkungan yang kemungkinan penyebaran penyakita antraks lebih cepat yaitu pada
daerah peternakan dan pada iklim kering dan cuaca panas. Dalam hal ini, iklim kemungkinan
mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung cara bagaimana ternak kontak dengan
spora antraks. Sebagai contoh, selama periode kering ternak merumput lebih dekat dengan tanah
oleh karena kebanyakan tanaman atau vegetasi menjadi layu dan juga meranggas, sehingga
membuka lebih besar kemungkinan spora antraks tertelan oleh ternak. Begitu juga pola perilaku
musim meningkatkan kemungkinan pendedahan terhadap spora antraks. Terjadinya wabah
antraks dilaporkan seringkali didahului dengan perubahan ekologi atau iklim yang jelas, seperti
banjir atau hujan yang diikuti dengan kekeringan.
Transmisi Penyakit
Manusia tertular antraks baik secara langsung maupun tidak langsung. Tiga modus
penularan antraks ke manusia yang umum diketahui sejak lama yaitu melalui kulit, melalui
pencernaan, dan melalui pernafasan.
Antraks kulit (antraks kutaneus) biasanya menjangkiti orang yang melakukan penjagalan,
pengulitan atau pembedahan karkas terinfeksi atau juga penanganan kulit, wol atau bulu
hewan yang terkontaminasi spora antraks. Umumnya penyakit terjadi setelah kuman atau
spora masuk ke jaringan kulit melalui luka lecet/luka tergores. Dimulai dengan lepuh
kecil, kemudian secara cepat membentuk bisul bernanah dan setelah itu menjadi koreng
berwarna hitam (black scab).
Antraks pencernaan atau antraks lambung (antraks gatro-intestinal) biasanya ditularkan
akibat kuman atau spora yang tertelan lewat mulut. Biasanya akibat makan daging
terinfeksi yang tidak dimasak secara matang dari ternak lokal atau satwa liar. Penularan
dari ternak lokal umum terjadi di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia)
dimana tidak dilakukan pemeriksaan daging atau vaksinasi ternak sesuai dengan kaidah
kesehatan masyarakat veteriner dan kesehatan hewan yang benar.
Antraks pernafasan (antraks pulmonal) akibat terhirupnya spora antraks yang sangat kecil
sekali, dengan diameter 1-5 mikron. Biasanya kasus ditemukan pada para pekerja pabrik
wol, akan tetapi dari statistik antraks di dunia pernah juga tercatat menyerang seorang
pemain bola, seorang pekerja konstruksi yang menangani kain wol terkontaminasi,
seorang perempuan yang memainkan alat musik bongo terbuat dari kulit ternak terinfeksi,
dan seorang perempuan lain yang tinggal dekat dengan pabrik penyamakan kulit. Namun
demikian, tingkat kejadian antraks pernafasan di negara-negara industri tetap rendah dan
tidak dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat. Pada manusia, angka fatalitas
kasus (case fatality rate) dari antraks kulit biasanya hanya 20% apabila tidak diobati.
Sedangkan pada antraks pencernaan berkisar antara 25-75%, dan antraks pernafasan
biasanya sangat fatal (100%).
Gambar 1 Siklus penularan anthrax

Penularan anthrax pada manusia bisa melalui tiga rute diantaranya : melalui kulit, oral
(pencernaan) dan melalui pernafasan (Gambar 1). Penularan anthrax melalui kulit terjadi melalui
kontak langsung dengan spora B. anthracis yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari
hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Kemudian spora B. anthracis masuk melalui kulit
yang lecet, abrasi, luka atau melalui gigitan serangga. Penularan anthrax melalui oral terjadi
apabila memakan produk hewan yang terkena anthrax, sedangkan penularan anthrax melalui
pernafasan terjadi apabila menghirup udara yang mengandung spora B. anthracis misalnya pada
pekerja di pabrik wool atau kulit binatang (woolsorters disease). Oleh karena itu, anthrax pada
manusia dibagi menjadi empat tipe yaitu : anthrax kulit, anthrax pencernaan atau anthrax usus,
anthrax pernapasan atau anthrax paru-paru dan anthrax otak atau meningitis (terjadi jika bakteri
terbawa melalui aliran darah masuk ke otak).
Belum pernah ada laporan yang mengatakan adanya transmisi antraks dari manusia ke
manusia baik di komunitas maupun di rumah sakit. Oleh karena itu penderita antraks dapat
dirawat di ruang rawat biasa dengan tindakan pencegahan yang umum dilakukan. Menghindari
kontak terhadap penderita hanya diberlakukan pada penderita antraks kulit dengan lesi yang
berair. Pakaian yang terkena cairan lesi kulit atau alat-alat laboratorium yang terkontaminasi
sebaiknya dibakar atau dimasukkan ke dalam autoklaf.

Dekontaminasi dapat dilakukan dengan memberikan larutan sporosidal yang biasa


dipakai di rumah sakit pada tempat yang terkontaminasi. Bahan pemutih atau larutan hipoklorit
0,5% dapat dipergunakan untuk dekontaminasi.
Sumber infeksi anthrax terutama tanah yang tercemar endospora bakteri Bacillus
anthracis merupakan sumber infeksi dan bersifat bahaya laten karena dapat terserap oleh akar
tumbuh- tumbuhan hingga mencapai daun maupun buahnya sehingga berpotensi untuk
menginfeksi ternak maupun manusia yang mengkonsumsinya. Sumber infeksi lainnya
adalah bangkai ternak pengindap anthrax. Miliaran endospora bakteri ini terdapat dalam
darah dan organ organ dalam penderita pada keadaan septisemia. Pada dasarnya seluruh
tubuh bangkai penderita, termasuk benda yang keluar dari bangkai tersebut mengandung
endospora bakteri ini .

Dalam satu mililiter darah setidaknya mengandung 1 miliar endospora. Spora-spora


tersebut dapat diterbangkan angin, atau dihanyutkan aliran air kemudian dapat
mencemari air, pakan, rumput, peralatan dan sebagainya.(Rahayu,2011)

Pada hewan sumber infeksi utama penyakit anthrax adalah tanah.Selama masa akhir dari
penyakit ini pada hewan, bakteri vegetatif Bacillus anthracis akan keluar dalam jumlah banyak
bersama darah penderita melewati lubang lubang kumlah alami misalnya telinga, hidung,
anus. Bakteri ini dengan segera membentuk endospora dan berdiam diri di tanah bertahun
tahun bahkan hingga 60 -70 tahun. Hal inilah yang kemungkinan dapat menjadi sumber
infeksi dari anthrax yang terus menerus ada. (Rahayu,2011).

A. Penularan dari Hewan ke Hewan

Bentuk yang berspora disebarkan oleh hewan mati dari antraks umumnya
menjadi sumber infeksi hewan lain. Mengingat hubungan antara insiden anthrax yang lebih
tinggi dalam kondisi panas kering, teori muncul bahwa hewan dipaksa untuk merumput pada
padang rumput kering dekat dengan tanah. Rumput menghasilkan lesi orogastrointestinal dan,
jika tanah terkontaminasi dengan spora antraks, ini dapat memungkinkan terjadinya
infeksi. Hewan dapat juga menelan tanah juga dapat menjadi sumber infeksi pada binatang
pemakan rumput. (WHO,2008)

"Barn anthrax" merupakan istilah awal untuk hewan infeksi yang didapat dari
pakan ternak. Bangkai Anthrax menimbulkan bahaya bagi manusia dan hewan lainnya
baik di sekitar ataupun yang berjarak yaitu melalui daging, kulit, rambut, wol atau tulang.
Jangat, rambut, wol dan tulang dapat diangkut jarak jauh untuk digunakan dalam industri, bahan
pakan atau kerajinan tangan. Ternak dapat memperoleh penyakit dari lain benua melalui
kontaminasi pakan, atau dari spora yang telah mencapai bidang dalam limbah industri. Bonmeal
dan meatmeal merupakan contoh sumber kontaminasi terbanyak. (WHO,2008)

Spora dapat dihirup oleh hewan yang merumput pada daerah berdebu kering dimana
hewan lain meninggal karena anthrax pada masa lalu. Transmisi jarak terjadi karena
debu dapat berpindah, sehingga dapat membawa spora anthrax ke daerah lain yang
belum terjangkit, dan akan menginfeksi hewan baru pada daerah tersebut. (WHO,2008)

Serangga juga dapat menjadi salah satu transmisi anthrax. Lalat memakan cairan tubuh
dari anthrax bangkai dan kemudian deposit pada feses terkontaminasi kemudian meninggalkan
bakteri pada daun pohon dan semak- semak atau rumput di sekitar. Hewan kemudian dapat
kontrak anthrax ketika makan daun terkontaminasi. Anthrax juga ditransmisikan pada guniea pig
oleh S. calcitrans dan nyamuk spesies Aedes aegypti dan A. Taeniorhynchus.
(WHO,2008).

B. Penularan dari Hewan ke Manusia

Manusia dapat terinfeksi melalui salah satu dari ketiga kemungkinan yaitu melalui kulit,
melalui inhalasi atau melalui ingesti.(Rahayu,2011). Manusia terjangkit antraks
biasanya akibat kontak langsung atau tidak langsung dengan binatang atau bahan yang
berasal dari binatang terinfeksi. Manusia relatif kebal terhadap kuman antraks dibanding dengan
herbivora. Pada manusia, infeksi alami antraks secara epidemiologis tergolong atas dua jenis,
yaitu:
1. Antraks non industri
dalam keadaan ini antraks terjadi akibat kontak erat manusia dengan binatang atau
jaringan binatang terinfeksi. Anthrax non- industri, yang dihasilkan dari penanganan
bangkai yang terinfeksi, biasanya muncul sebagai anthrax bentuk kulit; kejadian
cenderung musiman dan parallel musiman. Anthrax kulit ditularkan oleh gigitan
serangga, dan antraks dari saluran pencernaan dari makan daging yang terinfeksi, juga
juga merupakan bentuk penyakit non industri. (WHO,2008)
2. Antraks di daerah industri,
pada umumnya mengenai pekerja yang menangani wool, tulang, kulit, dan
produk binatang lain. Antraks akibat kontak erat dengan binatang terinfeksi
umumnya berbentuk antraks kulit, jarang berbentuk antraks saluran cerna.
Antraks di daerah industri juga sebagian besar berbentuk antraks kulit, namun
mempunyai risiko lebih besar mendapat antraks pulmonal dibanding anthrax non
industri.(Tanzil,2013).

C. Penularan dari Manusia ke Manusia

Manusia hampir selalu kontak dengan anthrax secara langsung atau tidak langsung dari
hewan yang terinfeksi, dan epidemiologi insiden manusia dan wabah mencerminkan bahwa
manusia kontak dengan hewan yang berpenyakit. Penyakit ini umumnya dianggap
sebagai non-menular, tidak seperti pada hewan, catatan penularan orang-ke-orang ada tetapi
hal tersebut sangat jarang terjadi Juga jarang kasus yang dilaporkan bahwa manusia bertindak
sebagai perantara. (WHO,2008)
Cara Pencegahan dan Penanggulangnya
Pencegahan dan pengendalian antraks di daerah endemik dilakukan dengan cara
vaksinasi . Vaksin antraks yang digunakan di Indonesia sampai saat ini adalah vaksin aktif. Daya
proteksi vaksin antraks pada ternak ditentukan oleh respon imun terhadap protective antigen
(PA), sedangkan 2 komponen toksin lainnya yaitu LF dan EF hanya berperan kecil dalam
memberikan proteksi. Vaksin antraks masa mendatang harus dapat menstimulasi imun respon
seluler dan imun respon. Vaksinasi pada ternak di Indonesia pada umumnya masih menggunakan
vaksin spora hidup atau live spora vaccine, yang mengandung B. Anthracis galur 34F2, bersifat
toksigenik, dan tidak berkapsul (Setya dan Lily, 2006).

Dalam wabah memiliki sumber infeksi yang ditetapkan, jelas menghentikan sumber ini
adalah hal terpenting. Langkah untuk memutus siklus infeksi jika infeksi dapat ditelusuri terjadi
kontaminasi pada pakan misalnya, maka sumber pakan harus segera ditarik dari peternakan dan
dari peredaran.Transportasi perpindahan hewan lainyang jauh dari daerah yang mewabah
adalahtindakan awal yang penting. Jika lalat dicurigai sebagai vektor penting,maka segera di
basmi dan tindakan kontrol migrasi juga perlu di perhatikan.(WHO,2008)

Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mencegah penularan anthrax pada manusia
diantaranya dengan menghindari kontak langsung dengan bahan atau makanan yang
berasal dari hewan yang dicurigai terkena anthrax. Selain itu perlu dilakukan pemusnahan
bangkai hewan yang mati karena anthrax secara benar sehingga tidak memungkinkan
endospora dari bakteri ini untuk menjadi sumber infeksi. Vaksinasi pada hewan ternak perlu
dilakukan untuk mencegah infeksi pada ternak sapi, kerbau, kambing, domba maupun
kuda.(Rahayu,2011).

Peran Kesmavet dalam pengendalian antrak

1. Pemutusan mata rantai penularan Antrak dari hewan ke manusia.


2. Penjaminan kesejahteraan hewan terkait pengendalian Penyakit Antrak.
3. Komunikasi, informasi dan edukasi masyarakat tentang Penyakit Antrak.
DAFTAR PUSTAKA

9
Asih,Rahayu.2011. Anthrax di Indonesia. Jurnal Ilmiah Kesehatan dan Lingkungan Univesitas
Wijaya Kusuma. Vol.1 No 3.

Kunadi, Tanzil.2013. Aspek Bakteriologi Penyakit Anthrax. Jurnal Ilmiah WIDYA Kesehatan
dan Lingkungan. Vol.1 No.1.

Setya dan Lily.2006. Pengendalian Penyakit Anthrax : Diagnosis, Vaksinasi Dan Investigasi.
Jurnal Wartazoa Vol. 16 No.4

Soedarto.2003. Zoonosis Kedokteran. Airlangga University Press. Surabaya. Hal 32-34.


WHO.2008. Anthrax in Humans and Animals : Fourth Edition. WHO Press. Avenue Appia,
Geneva, Switzerlan