Anda di halaman 1dari 19

TUGAS BERSTRUKTUR DOSEN PENGAMPU

Al-Lisaniyat Al-Haditsah Dr. Syaifuddin Ahmad Husin, MA


(Linguistik Modern) Dr. Muhbib Abdul Wahab, MA

FONOLOGI DALAM PEMBELAJARAN


BAHASA ARAB

Oleh
Laila
1602560180

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI


PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2017
KATA PENGANTAR

Tak lupa juga penulis ucapkan banyak terima kasih kepada para pihak
yang telah berkontribusi memberikan bantuan baik berupa materi maupun
pikirannya.

Dan harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam


menambah pengetahuan serta wawasan keilmuan bagi para pembaca sekalian
sehingga kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi dari
makalah ini agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman, penulis yakin


masih banyak kekurangan dan segala hal yang harus diperbaiki dalam makalah
ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari para pembaca sekalian demi kesempurnaan makalah ini.

Banjarmasin, 10 Februari 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Fonologi dan Pembagiannya .............................................. 3
1. Fonetik ........................................................................................... 4
2. Fonemik ......................................................................................... 5
B. Tujuan Mempelajari Ilmu Al-Ashwat (Fonologi) ................................ 13
C. Urgensi Fonologi Dalam Pembelajaran Bahasa Arab .......................... 14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 15
B. Saran ..................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai manusia, makhluk sosial yang bisa saling berkomunikasi


(makhluq al-mantiq), tentunya tidak pernah terlepas dari bahasa sebagai
medianya. Majunya era globalisasi ini, semakin menambah pengetahuan
masyarakat dan berkembang pula menjadi masyarakat tutur yang multilingual.
Namun, proses untuk menjadi masyarakat yang bilingual atau multilingual
tidaklah mulus, banyak masalah dan hambatan yang dialami oleh masyarakat
yang belajar bahasa tertentu yang disebabkan beberapa faktor. Diantaranya adalah
faktor budaya yang berbeda.

Dalah pembelajaran bahasa Arab yang sedang berkembang di Indonesia,


sebagian besar masih sekedar pemahaman memgenai nahwu, shorf, balaghoh dan
sering kali mengabaikan pembelajaran fonologinya. Bagaimana bunyinya?
Bagaimana cara mengucapkannya? Sehingga tidak heran walaupun banyak orang
atau santri yang telah lama belajar bahasa Arab, namun masih terdapat berbagai
jenis kesalahan bunyi atau kesalahan ucap yang dipengaruhi oleh dialek masing-
masing. Padahal bunyi adalah bagian utama dalam bahasa. Komunikasi lisan tidak
akan terjadi tanpa adanya bunyi.

Akibat tidak mengindahkan bunyi, banyak masyarakat Indonesia yang


telah belajar bahasa Arab namun ketika berkomunikasi dengan penutur aslinya,
dia tidak memahami apa yang dibicarakan. Ada pula kemungkinan negatif lain
yang dapat terjadi seperti terjadinya perubahan makna baik akibat perubahan kata
karena kesalahan ucap, tekanan, nada, jeda, waqaf, panjang-pendek dan lain
sebagainya. Salah satu contoh perubahan makna dari aspek fonologi misalnya
kata yang artinya dosa-dosa dengan kata yang berarti bulu ketiak.
Perbedaan makna kedua kata diatas jelas sangat jauh sekali. Padahal dari segi
penulisan hanya terdapat perbedaan antara huruf ( dzal) dan ( zai).

1
2

Oleh karena itu, makalah ini dibuat berdasarkan kendala-kendala yang


terjadi dalam bidang fonologi. Karena ulama linguistik modern pun mengatakan
perlunya diadakan pengkajian tentang ilmu bunyi mengingat sulitnya menuturkan
bunyi-bunyi dari berbagai bahasa, karena banyaknya ragam dan variasi bahasa itu
sendiri. Penjabaran ini pun dilakukan dengan tujuan agar bisa mempermudah atau
menambah wawasan baru tentang ilmu bunyi agar nantinya para masyarakat yang
belajar bahasa asing lainnya terhindar dari berbagai kesalahan tutur yang dapat
membuat penutur aslinya tidak paham atau perubahan makna.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan pada latar belakang diatas, maka rumusan masalah


dalam hal ini antara lain adalah :
1. Apakah yang dimaksud dengan fonologi, dan apa saja yang dibahas
didalamnya ?
2. Apa tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran fonologi ?
3. Apa urgensi fonologi bagi pelajar yang ingin mempelajari bahasa Arab ?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Fonologi dan Pembagiannya

Dalam bahasa Arab Ilmu bunyi diistilahkan dengan ilmu al ashwat (


), adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang penuturan bunyi bahasa,
perpindahan dan penerimaannya. Fonologi merupakan salah satu cabang dari ilmu
ashwat/ilmu bunyi. Fonologi adalah ilmu bunyi yang membahas tentang bunyi
bahasa tertentu dengan mempertimbangkan fungsi dan makna yang dikandung
oleh bunyi itu 1 . Dalam buku Linguistik Umum yang ditulis oleh Abdul Chaer
dinyatakan bahwa, fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari,
menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa. yang secara
etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi,dan logi yaitu ilmu2.

Secara Etimologi kata Fonologi berasal dari kata fon yang berarti bunyi
dan logi yang berarti ilmu. Sebagai sebuah ilmu, fonologi lazim di artikan
sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas,
membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang di produksi oleh alat-
alat ucap manusia. 3 Fonologi adalah kajian dan analisis tentang pemanfaatan
berbagai macam bunyi bahasa oleh bahasa-bahasa dan pemanfaatan sistem sistem
untuk mengkontraskan ciri-ciri bunyi yang terdapat dalam bahasa-bahasa tersebut.
Fonologi senantiasa memfokuskan sebuah bahasa sebagai sebuah sistem
komunikasi dalam teori dan prosedur analisisnya4.

Secara umum fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Fonetik


biasanya dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa
tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai
pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi

1
Ahmad Sayuti Anshari Nasution, 2010, Bunyi Bahasa, (Jakarta: Amzah), hlm. 5
2
Abdul Chaer, 2012, Linguistik Umum, (jakarta: Rineka Cipta), hlm. 102
3
Abdul Chaer, 2009, Fonologi Bahasa Indonesia, (Jakarta : PT Rineka Cipta) hlm. 1
4
Soenarjati Djajanegara, 1992, Linguistik Umum Sabuah Pengantar, terjemah dari R.H.
Robins, General Linguistics, (Yogyakarta : Kanisius) hlm. 148-149

3
4

yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut


sebagai pembeda makna.

Dalam sebagian besar literatur, fonetik itu berbeda atau diluar dari
pembahasan ilmu fonologi seperti halnya R.H. Robins yang menyatakan bahwa
fonetik dan fonologi mempunyai pendekatan dari sudut pandang yang berlainan,
fonetik umum, deskriptif dan dapat diklasifikasikan sedang fonologi itu khusus
dan fungsional. Namun beliau masih memasukkan sedikit pembahasan fonetik
kedalam fonologi yang beliau sebut sebagai fonologi fungsional5.

1. Fonetik

Fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari


bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai
fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Kemudian menurut urutan proses
terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan menjadi tiga jenis fonetik, yaitu fonetik
artikulasi, fonetik akustik, fonetik auditoris.

Finetik artikulasi disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis,


mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam
menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi itu di klasifikasikan. Fonetik
akustik memepelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam.
Bunyi-bunyi itu di selidiki frekuensi serta getarannya, amplitudonya,
intensitasnya, dan timbrenya. Sedangkan fonetik auditoris mempelajari bagaimana
mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dari ketiga jenis
fonetik ini yang paling berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik
artikulotaris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana
bunyi-bunyi itu di hasilkan atau di ucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik
lebih berkenaan dengan bidang fisika, dan fonetik auditoris lebih berkenaan
dengan kedokteran, yaitu neurologi, meskipun tidak tertutup kemungkingan
linguistik juga bekerja dalam kedua bidang fonetik itu6.

5
Ibid., hlm. 149
6
Ibid., hlm. 115
5

2. Fonemik

Objek kajian fonetik adalah bunyi atau fon, sedangkan objek kajian
fonemik adalah fonem. Fonemik disini adalah mengkaji bunyi bahasa dengan
memperhatikan statusnya sebagai pembeda makna. Sedangkan Fonem adalah
abstraksi dari satu atau sejumlah bunyi, baik bunyi huruf vokal maupun konsonan
.7 Dalam fonemik yang diperhatikan adalah perbedaan yang fungsional, yang
berguna untuk membedakan makna. Perbedaan ini berbeda-beda antara satu
bahasa dengan bahasa yang lain.

Dalam tiap bahasa, orang secara tidak sadar mengelompokkan


berbagai bunyi yang diucapkannya ke dalam satuan-satuan fungsional terkecil
yang disebut fonem. Pembahasan tentang fonem, penggolongan fonem, dan
distribusi fonem di antara pembahasan yang dipelajari dalam fonemik.
Singkatnya, fonem adalah abstraksi dari bunyi-bunyi bahasa. Meski berbeda
antara fonem dan bunyi bahasa, fonem diberi nama sesuai dengan nama
salah satu bunyi bahasa yang merealisasikannya.

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus
mencari sebuah satuan bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi
tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan
satuan bahasa yang pertama. Kalau ternyata kedua satuan bahasa itu berbeda
maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah fonem, karena dia bisa atau
berfungsi membedakan makna kedua satuan bahasa itu. Misalnya, kata laba dan
raba. Kedua kata itu hampir mirip. Masing-masing terdiri dari empat bunyi. Yang
pertama mempunyai bunyi [l], [a], [b], [a] dan yang kedua mempunyai bunyi [r],
[a], [b], [a].8

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi suatu fonem disebut alofon.


Alofon adalah variasi dari fonem yang merupakan cara dari penutur, dan ini
merupakan level atau tingkatan yang lebih konkrit.9. seperti bunyi [ph] dan [p]
untuk fonem bahasa inggris /p/ pada kata pace [pheis] dan space [speis]. Identitas

7
Abdul Chaer, 2009, OpCit., hlm. 62
8
Abdul Chaer, 2012, OpCit., hlm. 125
9
Molyadi, 2011, Introduction To Linguistic, Jurnal, (Pamekasan: STAIN Pamekasan
Press), hlm. 12
6

Alofon hanya berlaku pada bahasa tertentu, dengan cara membandingkan bunyi
yang disertai dengan distribusi komplementer. Yang dimaksud distribusi
komplementer atau distribusi saling melengkapi adalah tempatnya tidak bisa
ditukar dan bersifat tetap pada lingkungan tertentu. Misalnya, fonem /o/ yang
berada pada silabel terbuka diucapkan [o] seperti pada toko dan bodo dan berada
pada silabel yang tertutup diucapkan [] pada tokoh dan bodoh.

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam suatu


bahasa. Berapa jumlah fonem dalam suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan
yang dimiliki bahasa lain. Misalnya dalam bahasa penduduk asli di pulau Hawaii,
yaitu hanya 13 buah, sebuah bahasa di Kaukasus Utara adalah 75 buah, bahasa
Arab hanya mempunyai 3 buah fonem vokal, bahasa Inggris dan bahasa Perancis
mempunyai lebih dari 10 buah fonem vokal. 10

Klarifikasi fonem dapat digolongkan menjadi: fonem segmental dan


fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental. Fonem segemental adalah
fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap
arus ujaran. Fonem segmental terdiri atas vokal, konsonan, diftong dan gugus
konsonan. Ciri dan karakterisitik vokal maupun konsonan ini sama dengan
klasifikasi bunyi vokal maupun konsonan. Misalnya, /a/, /b, /c/, /d/. dan
sebagainya. Sedangkan fonem suprasegmental adalah fonem yang berupa unsur
suprasegmental. Misalnya, tekanan, durasi, nada.11

a) Fonem Segmental

Fonem segmental merupakan satuan unit bunyi terkecil dari sebuah


bentuk ucapan / ujaran yang mempunyai fungsi tersendiri. Fonem jenis ini
seperti yang telah disebutkan terdiri dari :

1) Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan


posisi lidah dan bentuk mulut. Seperti halnya bahasa Indonesia yang
memiliki bunyi vokal a-i-u-e-o, bahasa Arab juga memiliki 2 jenis bunyi

10
I. Soetikno, 1995, Pengantar Teori Linguistik,diterjemahkan dari John Lyons,
Introduction to Theoritical Linguistics (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama), hlm. 101
11
Ibid., hlm. 103
7

vokal yaitu yang disebut vokal pendek ( ) dan vokal panjang


() .

terdiri dari 3 bunyi vokal yaitu bunyi fathah (a) kasrah


(i) dan dhammah (u). Sedangkan juga terdiri dari 3 bunyi
vokal yaitu alif ( ) , ya' ( ) dan waw ( ) . Selain Vokal Pendek dan
Panjang di dalam Bahasa Arab juga terdapat Vokal Tebal dan Vokal Tipis.
Umtuk vokal tebal terdapat dalam bunyi pada huruf . Contoh:
, . Untuk vokal semi tebal terdapat pada bunyi huruf
. contoh; . Dan untul vokal tipis terdapat pada bunyi huruf-
huruf selain dari yang telah disebutkan diatas. Contohnya .

2) Konsonan

Abjad / hijaiyyah dalam bahasa Arab semuanya adalah konsonan


terkecuali alif ( ) . Berbeda dengan konsonan dalam bahasa Indonesia
yang mengecualikan abjad vokalnya yaitu a-i-u-e-o.

3) Diftong

Dalam bahasa Indonesia, terdapat 3 diftong, yakni [ai], [au] dan [oi]
yang masing-masing dapat dituliskan secara fonemis /ay/, /aw/, /oy/.
Contoh bunyi [ai] terjadi pada kata cukai, landai, ramai. Contoh bunyi [au]
terjadi pada kata kerbau, harimau, halau. Dan contoh bunyi [oi] terjadi
pada kata amboi. Sedangkan dalam bahasa Arab, terdapat 2 diftong, yakni
[au] dan [ai]. Kedua diftong ini dipakai bila huruf dan berada setelah
huruf berbaris fathah. Contoh bunyi , . Namun
terdapat perbedaan antara istilah vokal rangkap bahasa Indonesia dengan
bahasa Arab. Jika dalam bahasa Indonesia, diftong sama dengan vokal
rangkap, namun dalam bahasa Arab, vokal rangkap berarti tanwin. Dan
dalam bahasa Arab, bunyi vokal diwakili dengan tanda harakat, bukan dari
bentuk huruf Hijaiyahnya, karena semua huruf hijaiyah adalah huruf
konsonan terkecuali alif.
8

4) Gugus Konsonan

Sama halnya dengan bahasa Indonesia yang memiliki gugus konsonan


/ konsonan ganda, bahasa Arab juga memilikinya. Namun gugus konsonan
yang dimiliki oleh bahasa Arab hanya terbatas pada dua konsonan yang
sama. Hal ini jelas berbeda dengan bahasa Indonesia yang memiliki
berbagai macam gugus konsonan yang bisa terdiri dari 2 atau lebih
konsonan yang berbeda. Seperti konsonan d dan r pada kata drama atau
bahkan s, k dan r pada kata skripsi.

Seperti yang penulis sebutkan diatas, bahasa Arab hanya terbatas pada
dua konsonan yang sama. Disamping itu, gugus konsonan dalam bahasa
Arab juga hanya terdapat pada pertengahan dan akhir kata. Contohnya
(karrama), ( majallah), ( syakka) atau
seperti (marra).

b) Fonem Suprasegmental

Fonem bentuk suprasegmental ini adalah sifat bunyi yang mempunyai


fungsi dalam ungkapan ketika diucapkan bersambung dengan kata-kata
lainnya. Fonem jenis ini tidak termasuk bagian dari suatu kata , akan tetapi
dapat di identifikasi ketika suatu kata bergabung dengan kata lainnya.
Dalam bahasa Arab, suprasegmental teridentifikasi dengan adanya
penggalan kata, tekanan, intonasi, pemberhentian (waqaf) serta panjang
pendek.

1) Penggalan Kata

Penggalan kata mempunyai peranan sangat penting dalam penentuan


struktur suatu bahasa. Dengan analisis penggalan kata, akan diketahui
apakah suatu ucapan sudah sesuai dengan struktur suatu bahasa atau tidak.
Penganalisisan penggalan kata biasanya menggunakan simbo-simbol yang
merupakan lambang dari vokal dan konsonan. Pada umumnua, penggalan
kata umtuk vokal menggunakan simbol (V) dan untuk konsonan
menggunakan simbol (C).
9

Dalam bahasa Arab, tidak terdapat kata yang mempunyai lebih dari

empat penggalan, kecuali dalam wazan / timbangan
ketiga wazan ini dalam kondisi bersambung terdiri dari lima penggalan.
Sedangkan ketika berhenti / waqaf hanya terdiri atas empat penggalan saja.

Penggalan kata dalam bahasa Arab terbagi menjadi beberapa bagian


sesuai dengan dilua sudut pandang yaitu, ditinjau dari segi bunyi akhir kata
yang terdiri dari segi (1) Tertutup. Yakni penggalan yang berakhir dengan
konsonan seperti kata ( fath) ketika waqaf. Dan (2) Terbuka. Yaitu
penggalan kata yang diakhiri bunyi vokal seperti kata ( fataha) ketika
kondiai bersambung.

Kemudian ditinjau dari segi panjang pendeknya bunyi terakhir yang


terdiri dari (1) Pendek. Yaitu penggalan kata yang berakhir dengan vokal
( kataba) dan (2) Panjang. Yaitu penggalan kata
pendek seperti kata
yang berakhir dengan vokal panjang seperti kata ( katabna).

2) Tekanan

Adalah pengucapan yang terjadi pada penggalan kata tertentu sehingga


terdengar lebih jelas dari penggalan kata yang lain. Contohnya seperti
ketika kita mengucapkan kata lari yang terdiri dari dua penggalan kata (la
dan ri), kita merasakan bahwa penggalan kata pertama (la) mendapatkan
tekanan yang lebih dari penggalan kata kedua (ri). Sama halnya dengan
bahasa Arab, misalnya pada kata ( isyrab) yang terdiri dari 2
penggalan kata yaitu isy dan rab. Kita merasakan bahwa tekanan ada pada
penggalan pertama yaitu isy.

Dalam sebagian bahasa, tekanan mempunyai peranan pwnting dalam


perbedaan bentuk dan makna kata. Dalam bahasa Arab, tanpa adanya
keikutsertaan tekanan dalam penuturan kalimat, maksud dari kalimat
tersebut tidak akan bisa dipahami secara utuh. Suatu kalimat juga akan
berbeda artiannya jika diucapakan dengan tekanan yang juga berbeda.

Walaupun bahasa Arab bukan termasul bahasa tekanan, namun


didalamnya terdapat banyak contoh yang menunjukkan bahwa letak
10

tekanan menentukan bentuk kata atau kalimat atau minimal membedakan


arti dari suatu kalimat. Contohnya seperti kalimat dengan
. Dalam hal ini tekanan sangat berperan dalam membedakan bentuk
tunggal dan jamak. Contoh lainnya dalam sebuah kalimat utuh dalam
firman Allah :

Artinya : semua pemberian Allah, baik bagi orang-orang yang berbuat


baik.12 (QS. Ali Imran :198)

Dalam penggalan ayat ini, tekanan harus diberikan pada kata


bukan pada kata . Sebab jika demikian, maka arti dari ayat ini pun akan
berubah menjadi, tidak ada satupun pemberian Allah yang baik bagi
orang-orang yang berbuat baik.

3) Intonasi

Intonasi merupakan suatu unsur dalam sebuah ucapan atau ungkapan


yang dapat membantu seseorang dalam mengekspresikan apa yang
terdapat dalam hati dan perasaannya, yang terjadi dengan naik turunnya
nada suara. Dalam banyak hal, intonasi mempunyai fungsi kebahasaan
yang sangat penting. Dengan adanya intonasi, makna suatu kalimat akan
dapat berbeda.

Diantara fungsi kebahasaan dari intonasibantara lain, fungsi semantik.


Suatu kata atau kalimat jika diucapkan dengan intonasi yang berbeda dapat
mengakibatkan perbedaan arti dan makna. Seperti kalimat astaghfirullah
yang jika diucapkan dengandung intonasi menurun, mengandumg arti
minta ampun kepada Allah. Namun jika diucapkan denga intonasi naik
turun atau turun naik, bisa berarti omelan karena tidak memgikuti aturan
dan sejenisnya. Seperti juga kalimat yang apabila dituturkan dengan
intonasi naik maka artinya adalah seorang perempuan yang sedang
pergi. Akan tetapi jika diucapkan dengan intonasi turun maka artinya
menjadi seorang laki-laki yang menghibahkan hartanya.

12
QS. Ali Imran Ayat 198
11

Kemudian yang kedua adalah fungsi ketatabahasaan. Suatu kalimat


jika diucapkan denga intonasi yang berbeda juga dapat merubah bentuknya
dari kalimat berita menjadi kalimat seru, tanya atau sebaliknya. Contahnya
kalimat yang apabila dengan intonasi datar maka ia menjadi
sebuah kalimat berita. Jika dengan intonasi naik, ia akan menjadi kalimat
tanya. Sedang jika dengan intonasi naik turun, maka ia akan menjadi
kalimat seru.

Yang ketiga adalah fungsi ekspresi kejiwaan yang menunjukkan sikap



kejiwaan si penutur. Seperti kalimat

yang jika
dituturkan dengan intonasi biasa, kalimat tersebut bermakna aku tidak
mengerti apa yang kau bicaraan, mohon ulangi sekali lagi. Jika dengan
intonasi naik, maka kalimat tersebut bermakna persetujuan atau
menguatkan apa yang telah dibicarakan / dibahas. Namun jika dengan
intonasi naik turun, kalimat tersebut akan mengandung makna ketakjuban
terhadap apa yang telah dibicarakan.

4) Waqaf

Waqaf adalah tempat berhenti sejenak diantara kata-kata atau


penggalan kata dalam suatu proses bicara, dengan maksud untuk
menunjukkan tempat berakhirnya suatu lafal atau penggalan kata dan
memulai kata-kata atau penggalan kata yang baru.

Dalam bahasa Arab terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa waqaf


berfungsi sebagai fonem yang dapat membedakan arti kalimat. Contohnya
sering kita jumpai tanda-tanda waqaf yang terdapat dalam Al-Quran sepert
tanda waqaf lazim ( )yang wajib untuk berhenti misalnya pada ayat :


()

Artinya : sesungguhnya yang dapat mennjawab panggilan Allah


hanyalah orang-orang yang mendengar. ( )Sedang orang-orang yang
telah meninggal, kelak akan dibangkitkan oleh-Nya.13

13
QS. Al-Anam ayat 36
12

Tanpa berhenti pada kata mendengar, maka orang yang meninggal


pun akan termasuk dalam golongan orang yang dapat menjawab panggilan
Allah dalam konteks ayat tersebut.

Kemudian tanda larangan waqaf ( )seperti pada ayat :

() ()

Artinya : Orang-orang yang telah dicabut nyawanya oleh malaikat


dengan senang hati ( )mereka (para malaikat) memgatakan salam
sejahtera untuka kalian semua ( )masuklah kalian kedalam surga.14

Apabila pembaca berhenti pada kata maka kalimat sesudahnya


berarti adalah kalimat baru, sehingga arti ayat akan berubah. Padahal
dalam konteks ayat tersebut yang mengatakan adalah
bukan . Selanjutnya adalah tanda waqaf ( )yang berarti boleh
waqaf boleh juga terus, ( )yang berarti diteruskan lebih baik, ()
lebih baik waqaf serta tanda waqaf alternatif (:.) yang boleh saja berhenti
di salah satu tanda waqaf tersebut.

Namun sebagaimana diketahui, keenam tanda waqaf diatas tidak


digunakan dalam penulisan bahasa Arab biasa kecuali untuk Al-Quran.
Kitab-kitab kuning rata-rata ditulis bersambung tanpa adanya titik koma.
Walaupun akhir-akhir ini, buku-buku kontemporer berbahasa Arab sudah
mulai menggunakan titik koma dalam penulisannya, akan tetapi masih
bersifat opsional dan belum merupakan sebuah keharusan.

5) Panjang Pendek

Panjangnya waktu dalam menuturkan sebuah bunyi, penggalan kata,


kata dan kalimat dapat bervariasi. Variasi panjang pendek ini dalam
berbagai bahasa dapat difungsikan sebagai fonem yang dapat membedakan
arti. Panjangnya waktu dalam mengucapkan suatu kata atau penggalan
kata dapat dibagi menjadi 2 sifat yaitu panjang yang sifatnya natural, yaitu
panjang yang sudah merupakan sifat asli dari bunyi tersebut. Dan panjang

14
QS. An-Nahl ayat 32
13

yang sifatnya rekayasa yaitu panjang yang sengaja dibuat dengan maksud-
maksud tertentu.

Bahasa Arab merupakan bahasa yang mempunyai bunyi panjang yang


sifatnya natural. Diantaranya adalah 3 fonem yang disebut sebagai huruf
mad yaitu alif, waw dan ya'. Fonem ini dapat membedakan arti seperti
contohnya, kata ( hujan) dengan ( bandara).kemudian 2 kelompok
alofon seperti nun mati bertemu salah satu dari huruf-huruf ikhfa, idgham
atau iqlab serta mim mati bertemu huruf mim (idgham mimi) dan ba (ikhfa
syafawi).

Selain itu dalam bahasa Arab juga terdapat panjang yang direkayasa
dengan maksud untuk mengekspresikam ide yang terdapat dalam
benaknya. Panjang yang direkayasi dalam hal ini berfungsi sebagai
penanda adanya intonasi dan tekanan seperti halnya kalimat berita yang
dalam salah satu penekanan kata nya dituturkan dengan panjang.15

B. Tujuan Mempelajari Ilmua Al-Ashwat (Fonologi)

Tujuan mempelajari Ilmu Al-Ashwat adalah agar pembelajaran bahasa


Arab betul-betul menjadi perhatian serius, agar ucapan dan bunyi kata bahasa
Arab yang diucapkan sesuai dengan aslinya yang penekanannya berfokus pada
makhorij al-huruf dan tajwid.

Selain itu juga fonologi dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang


tingkat penguasaan lafal bunyi bahasa, kemampuan melafalkan bunyi bahasa itu
menyangkut aspek bunyi bahasa yang panjangnya bervariasi, mulai dari yang
paling kecil dalam bentuk masing-masing bunyi bahasa, sampai kata-kata lepas,
frasa, kalimat, dan wacana lengkap. Mengingat guru atau pembelajar bahasa asing
diharapkan mampu melafalkan secara baik dan benar, seperti yang dilakukan oleh
penutur asli bahasa yang dipelajari.

15
Disarikan dari Ahmad Sayuti Anshari Nasution, OpCit., hlm. 121-136
14

C. Urgensi Fonologi Dalam Pembelajaran Bahasa Arab

fonologi adalah cabang linguistik yang membicarakan perihal bunyi


ucapan yang dipakai dalam bercakap-cakap sekaligus mempelajari bagaimana
mengucapkan bunyi-bunyi ucapan itu dengan benar. Hal ini penting sekali dan
merupakan aspek awal bagi orang yang hendak belajar bahasa Arab terutama bagi
orang asing () .

Cara mengucapkan abjad bahasa Arab dengan fasih dan benar adalah
pekerjaan yang tidak sepele. Misalnya, Orang yang terbiasa mengucapkan ngain
membutuhkan waktu yang cukup untuk menggantinya dengan ucapan ain
secara lebih fasih dan benar. Oleh karena itu, fonologi bertanggung jawab
terhadap kebenaran dan keakurasian pengucapan bunyi, kata dan kalimat dalam
proses berbahasa.

Apabila unsur ini tidak diperhatikan maka bahasa yang dituturkan tidak
akan di pahami dengan baik, atau mungkin akan dipahami dengan makna yang
jauh berbeda dari maksud penutur, atau paling tidak bahasa yang diucapkan
dianggap sebagai bunyi-bunyian tanpa makna bagaikan bunyi-bunyi alami yang
terasa asing ditelinga.16

Banyak santri / pelajar yang telah mempelajari bahasa Arab sejak lama,
bahkan dari tingkat dasar sampai ke perguruan tinggi. Sebagian dari mereka ada
yang juga berkesempatan mengunjungi negara tempat bahasa tersebut dituturkan.
Baik untuk tujuan wisata atau melanjutkan studi. Namum sebab ia tidak
memperhatikan unsur bunyi bahasa tersebut, terkadang membuat bahasa yang
diucapkannya tidak bisa dipahami oleh penutur asli bahasa itu sendiri. Padahal
bahasa tersebut sudah memenuhi syarat sebagai bahasa yang baik secara struktur
dan sintaksis. Gambaran negatif seperti ini kerap terjadi akibat mempelajari suatu
bahasa tanpa belajar aturan bunyi dari bahasa itu sendiri.17

16
Ibid., hlm. 17
17
Ibid., hlm. 20
BAB III

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisi, membicarakan runtunan


bunyi-bunyi bahasa disebut fonologi. Fonologi dibedakan menjadi fonetik dan
fonemik. Secara umum fonetik bisa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang
mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut
berfungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang
studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi
bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

Disamping itu, tujuan dalam mempelajari fonologi adalah agar


pembelajaran bahasa Arab betul-betul menjadi perhatian serius, agar ucapan dan
bunyi kata bahasa Arab yang diucapkan sesuai dengan penutur aslinya yang
penekanannya berfokus pada makhorij al-huruf dan tajwid.

fonologi adalah cabang linguistik yang membicarakan perihal bunyi


ucapan yang dipakai dalam bercakap-cakap sekaligus mempelajari bagaimana
mengucapkan bunyi-bunyi ucapan itu dengan benar. Cara mengucapkan abjad
bahasa Arab dengan fasih dan benar adalah pekerjaan yang tidak sepele. Oleh
karena itu, fonologi bertanggung jawab terhadap kebenaran dan keakurasian
pengucapan bunyi, kata dan kalimat dalam proses berbahasa.

B. Saran

Menyadari bahwa penulis masih minim akan pengalaman serta masih jauh
dari kata sempurna, maka kedepannya penulis akan lebih fokus dan detail dalam
menjelaskan tentang pembahasan makalah dengan sumber-sumber yang lebih
banyak dan tentunya dapat dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu penulis
senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca
sekalian.

15
16

DAFTAR PUSTAKA

Chaer Abdul, 2012, Linguistik Umum, (jakarta: Rineka Cipta)


________, 2009, Fonologi Bahasa Indonesia, (Jakarta : PT Rineka Cipta)
Djajanegara Soenarjati, 1992, Linguistik Umum Sabuah Pengantar, terjemah dari
R.H. Robins, General Linguistics, (Yogyakarta : Kanisius)
Molyadi, 2011, Introduction To Linguistic, Jurnal, (Pamekasan: STAIN
Pamekasan Press)
Nasution Ahmad Sayuti Anshari, 2010, Bunyi Bahasa, (Jakarta: Amzah).
Soetikno I., 1995, Pengantar Teori Linguistik,diterjemahkan dari John Lyons,
Introduction to Theoritical Linguistics (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama)

Anda mungkin juga menyukai