Anda di halaman 1dari 70

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perilaku bunuh diri merupakan fenomena yang sangat menarik untuk diteliti
oleh banyak ahli baik itu psikiatri, psikologi, biologi, sosiologi, hukum, dan filsafat.
Secara umum, bunuh diri berasal dari bahasa Latin suicidium, dengan sui yang
berarti sendiri dan cidium yang berarti pembunuhan. Schneidman mendefinisikan
bunuh diri sebagai sebuah perilaku pemusnahan secara sadar yang ditujukan pada diri
sendiri oleh seorang individu yang memandang bunuh diri sebagai solusi terbaik dari
sebuah masalah. Dia mendeskripsikan bahwa keadaan mental individu yang cenderung
melakukan bunuh diri telah mengalami rasa sakit psikologis dan perasaan frustasi yang
bertahan lama sehingga individu melihat bunuh diri sebagai satu-satunya penyelesaian
untuk masalah yang dihadapi yang bisa menghentikan rasa sakit yang dirasakan (dalam
Maris dkk., 2000).
Laporan World Health Organization (2000) diperkirakan 1 juta orang
melakukan bunuh diri (commit suicide) pada tahun 2000. Bunuh diri menempati salah
satu dari sepuluh penyebab teratas kematian di setiap negara, dan merupakan satu dari
tiga penyebab utama kematian pada kelompok umur 15-35 tahun. Dan semakin
meningkat seiring berkembangnya era modernisasi.
Berdasarkan uraian diatas kami sebgai mahasiswa keperawatan perlu
mempelajari lebih lanjut mengenai klien resiko bunuh diri yang juga masuk dalam ranah
keperawatan jiwa.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan resiko bunuh diri ?
1.2.2 Bagaimana proses terjadinyab resiko bunuh diri ?
1.2.3 Apa saja tanda gejala klien dengan resiko bunuh diri ?
1.2.4 Bagaiman intervensi keperawatan utnuk klien denga resiko bunuh diri ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengerti Asuhan keperawatan klien dengan resiko bunuh diri
1.3.2 Menerapkan asuhan keperawatan klien halusinasi
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1.Definisi
Resiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat mengancam
kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku untuk
mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang tinggi dan
berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme koping yang digunakan
dalam mengatasi masalah. Beberapa alasan individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalan
untuk beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan terisolasi, dapat terjadi
karena kehilangan hubungan interpersonal/ gagal melakukan hubungan yang berarti, perasaan
marah/ bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri, cara untuk
mengakhiri keputusasaan (Stuart, 2006).

Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh pasien untuk
mengakhiri kehidupannya. Menurut Maris, Berman, Silverman, dan Bongar (2000), bunuh
diri memiliki 4 pengertian, antara lain:
1. Bunuh diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional
2. Bunuh diri dilakukan dengan intensi
3. Bunuh diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri
4. Bunuh diri bisa terjadi secara tidak langsung (aktif) atau tidak langsung (pasif),
misalnya dengan tidak meminum obat yang menentukan kelangsungan hidup atau
secara sengaja berada di rel kereta api.

Bunuh diri atau dalam bahasa inggris disebut Suicide (berasal dari kata Latin suicidium
, dari sui caedere membunuh diri sendiri ) adalah sebuah tindakan sengaja yang
menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri sering kali dilakukan akibat putus asa, yang
penyebabnya sering dikaitkan dengan gangguan jiwa misalnya depresi, schizophrenia,
ketergantungan alcohol/alkoholisme, dan penyalah gunaan obat. (Wikipedia bahasa
Indonesia).

Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko menyakiti diri
sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam nyawa. Dalam sumber lain
dikatakan bahwa bunuh diri sebagai pelaku destruktif terhadap diri sendiri yang jika tidak
dicegah dapat mengarah pada kematian. Perilaku destruktif diri yang mencakup setiap bentuk
aktivitas bunuh diri, niatnya adalah kematian dan individu menyadari hal ini sebagai sesuatu
yang diinginkan.
(Stuart dan Sudeen, 1995. Dikutip Fitria, Nita, 2009)

Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada
kematian. (Gail W. Stuart, 2007)

Bunuh diri adalah untuk menghilangkan nyawa sendiri. (Ann Isaacs, 2004)
2.2. Klasifikasi
2.2.1. Menurut Yosep (2010), mengklasifikasikan terdapat tiga jenis bunuh diri, meliputi:
1.1 Bunuh diri anomik
Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasari oleh faktor
lingkungan yang penuh tekanan (stressful) sehingga mendorong seseorang untuk
bunuh diri.
1.2 Bunuh diri altruistik
Bunuh diri altruistik adalah tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan kehormatan
seseorang ketika gagal dalam melaksanakan tugasnya.
1.3 Bunuh diri egoistik
Bunuh diri egoistik adalah tindakan bunuh diri yang diakibatkan faktor dalam diri
seseorang seperti putus cinta atau putus harapan.
2. Pernyataan yang salah tentang bunuh diri (MITOS)
Banyak pernyataan yang salah tentang bunuh diri yang harus diketahui perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan tingkah laku bunuh diri antara lain :
No Mitos Fakta
1. Orang yang bicara mengenai bunuh Kebanyakan orang yang bunuh diri telah
diri, tidak akan melakukannya member peringatan yang pasti dari
keinginannaya
2. Orang dengan kecenderungan bunuh Mayoritas dari mereka ambivalen(mendua,
diri berkeinginan mutlak untuk mati antara keinginan untuk bunuh diri tetapi
takut mati)
3. Bunuh diri terjadi tanpa peringatan Orang dengan kecenderungan bunuh diri
seringkali memberikan banyak indikasi
4. Perbaikan setelah suatu krisis berarti Banyak bunuh diri terjadi dalam periode
resiko bunuh diri telah berakhir perbaikan saat pasien telah mempunyai
energy dan kembali ke pikiran putus asa
untuk melakukan tindakan destruktif
5. Tidak semua bunuh diri dapat Sebagian besar bunuh diri dapat dicegah
dicegah
6. Sekali seseorang cenderung bunuh Pikiran bunuh diri tidak permanen dan
diri, maka dia selalu cenderung untuk beberapa orang tidak akan
bunuh diri melakukannya kembali
7. Hanya orang yang miskin bunuh diri Bunuh diri dapat terjadi pada semua orang
tergantung pada keadaan sosial,
lingkungan, ekonomi dan kesehatan jiwa
8. Bunuh diri selalu terjadi pada pasien Pasien gangguan jiwa mempunyai resiko
gangguan jiwa lebih tinggi untuk bunuh diri dapat juga
terjadi pada orang yang sehat fisik dan
jiwanya bertanya tentang bunuh diri , tidak
akan memacu bunuh diri
9. Menanyakan tentang pikiran bunuh Bila tidak menanyakan pikiran bunuh diri
diri dapat memicu orang untuk bunuh tidak akan dapat mengidentifikasi orang
diri yang beresiko tinggi bunuh diri

C. Proses Terjadinya

a) Faktor faktor yang mempengaruhi


1. Faktor Predisposisi
Diagnosis psikiatri
Tiga gangguan jiwa yang membuat pasien berisiko untuk bunuh diri yaitu
gangguan alam perasaan, penyalahgunaan obat, dan skizofrenia.
Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan peningkatan resiko
bunuh diri adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi.
Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian, kehilangan yang
dini, dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang
berhubungan dengan bunuh diri.
Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor
resiko untuk perilaku resiko bunuh diri
Faktor biokimia
Proses yang dimediasi serotonin, opiat, dan dopamine dapat menimbulkan
perilaku resiko bunuh diri.
2. Faktor Prespitasi
Faktor prespitasi dapat berupa kejadian yang memalukan, seperti masalah
interpersonal, dipermalukan di depan umum, kehilangan pekerjaan, atau ancaman
pengurungan. Selain itu, mengetahui seseorang yang mencoba atau melakukan
bunuh diri atau terpengaruh media untuk bunuh diri, juga membuat individu
semakin rentan untuk melakukan perilaku bunuh diri.

3. Rentang Respon
RENTANG RESPON RESIKO BUNUH DIRI

.
a. Peningkatan diri. Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara
wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seseorang
mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai loyalitas terhadap
pimpinan ditempat kerjanya.
b. Beresiko destruktif. Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami
perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat
mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika dirinya
dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara
optimal.
c. Destruktif diri tidak langsung. Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat
(maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri.
Misalnya, karena pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang
karyawan menjadi tidak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.
d. Pencederaan diri. Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri
akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
e. Bunuh diri. Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya
hilang.
4. Mekanisme koping
Mekanisme pertahanan ego yang berhubungan dengan perilaku destruktif-diri
tidak langsung adalah penyangkalan, rasionalisasi, intelektualisasi, dan regresi.
5. Perilaku Koping
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan dapat
melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini secara sadar memilih
untuk melakukan tindakan bunuh diri. Perilaku bunuh diri berhubungan dengan
banyak faktor, baik faktor social maupun budaya. Struktur social dan kehidupan
bersosial dapat menolong atau bahkan mendorong klien melakukan perilaku
bunuh diri. Isolasi social dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan
keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri. Seseorang yang aktif dalam
kegiatan masyarakat lebih mampu menoleransi stress dan menurunkan angka
bunuh diri. Aktif dalam kegiatan keagamaan juga dapat mencegah seseorang
melakukan tindakan bunuh diri.
b) Patosikologi
GAMBARAN PROSES TERJADINYA BUNUH DIRI
Isyarat Bunuh Diri
verbal/nonverbal

Pertimbangan
untuk melakukan
bunuh diri

Ancaman bunuh diri

Ambivalensi
Kurangnya respon
Kematian
positif

Upaya Bunuh Diri

Bunuh Diri

( Stuart & Sundeen , 2006 )


Tahapan rentang perkembangan bunuh diri juga dibedakan sebagai berikut :
1. Suicide Ideation
Pada tahapan ini merupakan proses kontemplasi dari suicide, atau sebuah metode
yang digunakan tanpa melakukan aksi atau tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak
akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perawat perlu
menyadari bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikiran tentang keinginan untuk mati.
2. Suicide Intent
Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang konkrit
untuk melakukan bunuh diri.

3. Suicide Threat
Pada tahap ini klien mengekpresikan adanya keinginan dan hasrat yang dalam, bahkan
ancaman untuk mengakhiri hidupnya.
4. Suicide Gesture
Pada tahap ini klien menunjukan perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri
yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada percobaan untuk
melakukan bunuh diri. Tindakan yang dilakukan umumnya tidak mematikan karena
mengalami ambivalensi kematian. Individu ini masih memiliki kemampuan untuk hidup,
ingin diselamatkan, dan individu ini sedang mengalami konflik mental. Tahap ini
dinamakan crying for help .
5. Suicide Attempt
Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu ingin mati
dan tidak mau diselamtkan mislanya minum obat yang mematikan, namun masih ada
yang mengalami ambivalensi.
6. Suicide
Tindakan bunuh diri ini sebelumnya telah didahului oleh beberapa percobaan bunuh
diri sebelumnya. 30 % orang berhasil melakukan bunuh diri adalah orang yang pernah
melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya. Suicide ini merupakan pilihan terakhir
utnuk mengatasi kesedihan yang mendalam
c) Pohon Masalah

Bunuh Diri
Efek

Core Resiko Bunuh diri (mencederai diri


sendiri untuk mengakhiri hidup)
Problem

Gangguan Harga Diri :


Causa
Harga Diri Rendah

Koping keluarga
tidak efektif

D. Tanda dan Gejala


a. Mempunyai ide untuk bunuh diri
b. Mengungkapkan keiinginan untuk mati
c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
d. Menunjukan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjado sangat patuh)
e. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
f. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tenteng obat dosis
kematian)
g. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah, dan
mengasing kan diri)
h. Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi, psikosis,
dan menyalagunakan alkohol).
i. Kesehatan fisik (biasanya dengan klien dengan penyakit kronis atau terminial)
j. Pengangguran
k. Umur 15-19 tahun atau di atas 45 tahun
l. Status perkawinan
m. Konflik Interpersonal
n. Latar belakang keluarga
o. Orientasi seksual
p. Sumber-sumber social
q. Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil

E. Masalah Keperawatan
Subjektif Objektif
memiliki riwayat penyakit mental mengalami depresi, cemas, dan
perasaan putus asa
menyatakan pikiran, harapan, dan respon kurang dan gelisah
perencanaan bunuh diri
menyatakan bahwa sering menunjukkan sikap agresif
mengalami kehilangan secara
bertubi-tubi dan bersamaan
menderita penyakit yang tidak koperatif dalam menjalani
prognosisnya kurang baik pengobatan
menyalahkan diri sendiri, perasaan berbicara lamban, keletihan,
gagal dan tidak berharga menarik diri dari lingkungan sosial
menyatakan perasaan tertekan penurunan berat badan

F. Gambaran Klinis dan Diagnosis


Penelitian menemukan bahwa laki-laki, ras kulit putih, usia yang lanjut, dan
isolasi sosial meningkatkan risiko bunuh diri yang sepenuhnya. Pasien dengan riwayat
usaha bunuh diri adalah berada dalam risiko, seperti pasien dengan riwayat penyakit
kronis, pembedahan yang baru dilakukan, atau penyakit fisik yang kronis serta pasien
yang tidak mempunyai pekerjaan, hidup sendirian, melakukan hubungan gelap dengan
terpaksa.
Harapan yang paling baik untuk mencegah bunuh diri adalah deteksi dini dan
pengobatan gangguan psikiatrik yang berperan.
Peran usaha bunuh diri sebelumnya dalam penentuan risiko bunuh diri adalah
kompleks.Sebagian besar korban bunuh diri yang sebenarnya tidak pernah melakukan
usaha bunuh diri sebelumnya, dan mereka berhasil melakuakn bunuh diri pada saat
pertama kali.Walaupun setiap orang pernah melakukan usaha bunuh diri sebelumnya
menunjukkan kapasitas perilaku yang merusak diri sendiri, hanya 10% orang yang
berusaha bunuh diri berhasil melakukannya dalam 10 tahun.
Sejumlah bermakna orang yang agresif terhadap diri sendiri memotong atau
membakar dirinya sendiri dalam cara yang jelas tidak mematikan tanpa maksud
membunuh dirinya sendiri. Ditemukan berbagai motivasi, termasuk manipulasi dan
penyerangan yang tidak disadari terhadap orang lain. Secara diagnostik, pasien
mungkin memenuhi kriteria untuk gangguan kepribadian antisosial atau ambang,

G. Pemeriksaan dan Penatalaksanaan


1. Klinis harus menilai risiko bunuh diri berdasarkan pemeriksaan klinis. Hal yang
paling prediktif yang berhubungan dengan risiko bunuh diri dituliskan dalam tabel di
bawah. Bunuh diri juga dikelompokkan ke dalam faktor yang berhubungan dengan
risiko tinggi dan risiko rendah.
2. Jika memeriksa pasien yang berusaha bunuh diri, jangan meninggalkan mereka
sendirian, keluarkan semua benda yang kemungkinan berbahaya dari ruangan.
3. Jika memeriksa pasien yang baru saja melakukan usaha bunuh diri, nilailah apakah
usaha tersebut telah direncanakan atau dilakukan secara impulsif dan tentukan
letalitasnya, kemungkinan pasien untuk ditemukan. (contohnya, apakah pasien
sendirian dan apakah pasien memberitahukan orang lain?), dan reaksi pasien karena
diselamatkan (apakah pasien kecewa atau merasa lega?), dan apakah faktor-faktor
yang menyebabkan usaha bunuh diri telah berubah.
4. Penatalaksanaan adalah sangat tergantung pada diagnosis. Pasien dengan gangguan
depresif berat mungkin diobati sebagai rawat jalan jika keluarganya dapat
mengawasi mereka secara ketat dan jika pengobatan dapat dimulai secara cepat.
Selain hal tersebut, perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan.
5. Ide bunuh diri pada pasien alkoholik biasanya menghilang dengan abstinensia dalam
beberapa hari. Jika depresi menetap setelah tanda psokologis dari putus alkohol
menghilang, diperlukan kecurigaan yang tinggi adanya gangguan depresif berat.
Semua pasien yang berusaha bunuh diri oleh alkohol atau obat harus dinilai kembali
jika mereka sadar.
6. Ide bunuh diri pada pasien skizofrenia harus ditanggapi secara serius, karena mereka
cenderung menggunakan kekerasan atau metoda yang kacau dengan letalitas yang
tinggi.
7. Pasien dengan gangguan kepribadian mendapatkan manfaat dari konfrontasi empatik
dan bantuan dengan mendapatkan pendekatan rasional dan bertanggung jawab
terhadap masalah yang mencetuskan krisis dan bagaimana mereka biasanya
berperan. Keterlibatan keluarga atau teman dan manipulasi lingkungan mungkin
membantu dalam menghilangkan krisis yang menyebabkan usaha bunuh diri.
8. Hospitalisasi jangka panjang diindikasikan pada keadaan yang menyebabkan
mutilasi diri, tetapi hospitalisasi singkat biasanya tidak mempengaruhi perilaku
tersebut. Parasuicide juga mendapatkan manfaat dari rehabilitasi jangka panjang,
dan periode singkat stabilisassi mungkin diperlukan, tetapi tidak ada pengobatan
jangka pendek yang dapat diharapkan mengubah perjalanannya secara bermakna.

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Risiko Bunuh Diri

URUTAN FAKTOR
RANKING
1 USIA (45 TAHUN DAN LEBIH)
2 KETERGANTUNGAN ALCOHOL
3 KEJENGKELAN, PENYERANGAN, KEKERASAN
4 PERILAKU BUNUH DIRI SEBELUMNYA
5 LAKI-LAKI
6 TIDAK MAU MENERIMA PERTOLONGAN
7 EPISODE DEPRESI SEKARANG YANG LEBIH DARI
BIASANYA
8 TERAPI PSIKIATRIK RAWAT INAP SEBELUMNYA
9 KEHILANGAN ATAU PERPISAHAN YANG BELUM
LAMA TERJADI
10 DEPRESI
11 HILANGNYA KESEHATAN FISIK
12 PENGANGGURAN ATAU DIPECAT
13 TIDAK MENIKAH, JANDA/DUDA. ATAU BERCERAI

Penilaian Risiko Bunuh Diri


VARIABEL RISIKO TINGGI RISIKO RENDAH
SIFAT DEMOGRAFIK
&SOCIAL > 45 TAHUN < 45 TAHUN
- USIA LAKI-LAKI WANITA
- JENIS KELAMIN CERAI ATAU JANDA MENIKAH
- STATUS MENTAL PENGANGGURAN BEKERJA
- PEKERJAAN KONFLIK STABIL
- HUBUNGAN KACAU ATAU KONFLIK STABIL
INTERPERSONAL
- LATAR BELAKANG
KELUARGA
KESEHATAN
- FISIK PENYAKIT KRONIS, KESEHATAN BAIK
PEMAKAIAN ZAT YANG MERASA SEHAT
BERLEBIHAN, PENGGUNAAN ZAT
HIPOKONDRIAK RENDAH
- MENTAL DEPRESI RINGAN
DEPRESI BERAT, PSIKOSIS NEUROSIS
GANGGUAN KEPRIBADIAN PEMINUM SOSIAL
BERAT OPTIMISME
PENYALAHGUNAAN ZAT
PUTUS ASA
AKTIVITAS BUNUH
DIRI SERING,BERKEPANJANGAN, JARANG, RENDAH
- IDE BUNUH DIRI KUAT - USAHA PERTAMA
- USAHA BUNUH DIRI - USAHA BERULANG KALI - IMPULSIF
- DIRENCANAKAN - PENYELAMATAN
- PENYELAMATAN TIDAK TAK TERHINDARKAN
MUNGKIN - KEINGINAN UTAMA
- KEINGINAN YG TAK RAGU UNTUK BERUBAH
UNTUK MATI - KOMUNIKASI DI
- KOMUNIKASI DI EKSTERNALISASIKA
INTERNALISASIKAN N (KEMARAHAN)
(MENYALAHKAN DIRI - METODA DG
SENDIRI) LETALITAS RENDAH
- METODA MEMATIKAN
DAN TERSEDIA
SARANA
- PRIBADI - PENCAPAIAN BURUK - PENCAPAIAN BAIK
- TILIKAN BURUK - PENUH TILIKAN
- SOSIAL - AFEK TAK ADA ATAU - AFEK TERSEDIA DAN
TERKENDALI BURUK TERKENDALI
- RAPPORT BURUK - RAPPORT BAIK
- TERISOLASI SOSIAL - TERINTEGRASI
SECARA SOSIAL
- KELUARGA TIDAK - KELUARGA YANG
RESPONSIF MEMPERHATIKAN
H. Terapi Modalitas yang cocok untuk resiko bunuh diri adalah

a. Terapi Biologi
Karena perilaku abnormal/ penyimpangan pasien adalah akibat dari faktor fisik/
penyakit jenis terapi yang bisa diberikan melalui terapi ini adalah terapi psikoaktif,
intervensi nutrisi (diet), fototerapi dll.
b. Terapi Lingkungan
Terapi ini bertujuan untuk mengembangkan rasa harga diri, kemampuan untuk
berhubungan dengan orang lain dan mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat
serta mencapai perubahan kesehatan yang positif.
Syarat lingkungan bagi klien bunuh diri harus memenuhi hal-hal sebagai berikut:
a) Secara psikologis
- Ruangan aman dan nyaman
- Terhindar dari alat0alat yang dapat digunakan untuk mencederai diri sendiri atau
orang lain
- Alat-alat medis, obat-obatan dan jenis cairan medis di almari (bila ada) harus
dalam keadaan terkunci
- Ruangan harus ditempatkan di lantai satu, dan keseluruhan ruangan mudah
dipantau oleh petugas kesehatan
- Tata ruangan menarik dengan cara menempelkan poster yang cerah dan
meningkatkan gairah hidup pasien
- Adanya bacaan ringan, lucu dan motivasi hidup

b) Lingkungan sosial
- Komunikasi terapeutik dengan cara semua petugas kesehatan menyapa pasien
sesering mungkin
- Memberikan penjelasan setiap akan melakukan kegiatan keperawatan atau
kegiatan medis lainnya
- Menerima pasien apa adanya, jangan mengejek atau merendahkan
- Meningkatkan harga diri pasien
- Sertakan keluarga dalam rencana asuhan keperawatan, jangan membiarkan pasien
sendiri terlalu lama di ruangan
c) Lingkungan spiritual
- Sarana: tempat ibadah, buku-buku suci dll, harus terpisah.
- Ruangan sepi dan tertutup dengan tujuan agar perhatian terpusat pada
pengobatan, serta agar pasien menemukan harapan baru bagi masa depannya.

I. Terapi Obat
Seorang pasien yang berada dalam krisis karena kematian atau peristiwa
lainnya dengan lama waktu yang terbatas dapat berfungsi dengan lebih baik setelah
mendapatkan sedasi ringan sesuai keperluan, khususnya jika tidur telah
terganggu.Benzodiazepine adalah obat yang terpilih, dan regimen yang tipikal adalah
lorazepam (Ativan) 1 mg satu sampai tiga kali sehari selama dua minggu.Iritabilitas
pasien dapat meningkat dengan pemakaian benzodiazepine secara teratur, dan
iritabilitas adalah faktor risiko untuk bunuh diri, sehingga benzodiazepine harus
digunakan dengan berhati-hati pada pasien yang menunjukkan sikap
bermusuhan.Hanya sejumlah kecil medikasi yang harus diberikan, dan pasien harus
diikuti dalam beberapa hari.

Antidepresan adalah pengobatan definitif untuk banyak pasien dengan ide bunuh diri,
tetapi tidak umum untuk memulai antidepresan di ruang gawat darurat.Tetapi jika
depresan, perjanjian follow-up yang pasti harus dilakukan, lebih baik pada hari
selanjutnya.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI
DENGAN BUNUH DIRI

3.1 Kasus
Seorang klien, Tn. B usia 22 tahun beragama Islam, sudah nikah, SMP (tidak
lulus), Alamat : Jabon, Mojokerto, datang ke emergensi RS Jiwa Cahaya Qolbu. Hasil
pengkajian perawat menunjukkan T=90/60 mmHg, N=110x/mnt, S= 36C, R= 40x/mnt,
sesak dan nyeri dada, tampak perdarahan dari pergelangan tangan, menurut istrinya ia
berupaya memotong urat nadinya dengan silet. Tiga bulan sebelumnya klien didiagnosa
dengan Carcinoma Pulmo Sinistra. Klien pernah memaksa dokter untuk mengakhiri
hidupnya dengan cara menyuntikkan zat mematikan ke dalam tubuhnya. Beberapa hari
sebelumnya, klien terlihat murung, sedih dan tidak mau bicara. Pagi-pagi ia masuk
kamar mandi dengan membawa silet. Kepada istrinya ia mengatakan ingin tetap hidup
tetapi di lain waktu, ia mengatakan lebih baik mati karena sudah tidak tahan merasakan
sakit di dadanya.
Menurut saudaranya, saat kecil Tn. B pernah dipukul oleh ibu tirinya, sehingga
sejak saat itu, emosinya menjadi labil, cepat marah, tidak bisa mengendalikan emosi dan
impulsive.Selain itu, klien juga sering menyalahkan dirinya sendiri saat dirinya tidak bisa
memenuhi keinginannya.

3.2 Pengkajian
3.2.1 Biodata Klien
Nama : Tn. B
Umur : 22 tahun
Agama :Islam
Status Perkawinan : sudah nikah
Pendidikan : SMP (tidak lulus)
Alamat : Jabon, Mojokerto

3.2.2 Proses Terjadinya Masalah


3.2.2.1 Faktor Predisposisi
Saat kecilklien pernah dipukul oleh ibu tirinya, sehingga sejak saat itu, emosinya
menjadi labil, cepat marah, tidak bisa mengendalikan emosi dan impulsive. Klien juga
sering menyalahkan dirinya sendiri saat dirinya tidak bisa memenuhi keinginannya
3.2.2.2 Faktor Presipitasi
Tiga bulan yang lalu, klien didiagnosa dengan Carcinoma Pulmo Sinistra dan sudah
tidak tahan merasakan sakit di dadanya.
3.2.2.3 Sumber Koping
Keluarga: Istrinya tetap mendampingi klien dalam apapun keadaan klien.
3.2.2.4 Mekanisme Koping
Murung, sedih dan tidak mau bicara, jika masuk kamar mandi membawa silet, serta
pernah memaksa dokter untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menyuntikkan zat
mematikan ke dalam tubuhnya.

3.2.3 Pemeriksaan Fisik


TTV: T=90/60 mmHg S= 36C
N=110x/mnt R= 40x/mnt
Keluhan Fisik: Sesak dan nyeri dada

3.3 Masalah yang Muncul


a. Ketidak-efektifan Koping Individu
DS: murung, sedih dan tidak mau bicara
b. Risiko Bunuh Diri
DS: - Menurut istrinya ia berupaya memotong urat nadinya dengan silet karena
menurut Tn. B lebih baik mati karena sudah tidak tahan merasakan sakit di
dadanya.
- Klien pernah memaksa dokter untuk mengakhiri hidupnya dengan cara
menyuntikkan zat mematikan ke dalam tubuhnya
DO:Masuk kamar mandi dengan membawa silet, tampak perdarahan dari pergelangan
tangan

3.4 Diagnosa Keperawatan dan Prioritas


Risiko tinggi bunuh diri b/d ketidakefektifan penatalaksanaaan program terapeutik.
3.5 Rencana Keperawatan
3.5.1 Tindakan Keperawatan Pasien dengan Risiko Bunuh Diri
1. Tindakan Keperawatan untuk Pasien dengan Percobaan Bunuh Diri
a. Menemani pasien terus- menerus hingga pasien dapat dipindahkan ke tempat
yang aman
b. Menjauhkan semua benda yang berbahaya (pisau, silet, gelas, ikat pinggang, tali
dsb)
c. Memeriksa apakah pasie benar-benar telah meminum obatnya (jika pasien
sudah mendapatkan pengobatan)
d. Menjelaskan pada pasien bahwa perawat akan melindungi pasien hingga tidak
ada keinginan untuk bunuh diri
2. Tindakan Keperawatan untuk Pasien dengan Isyarat Bunuh Diri
a. Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan
meminta bantuan dari keluarga atau teman
b. Meningkatkan harga diri pasien dengan cara:
1) Memberi kesempatan kepada pasien utuk mengungkapkan perasaannya
2) Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif
3) Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting
4) Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
5) Merencanakan aktifitas yang dapat pasien lakukan
c. Meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dengan cara:
1) Mendisukusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya
2) Mendiskusikan dengan pasien tentang efektifitas masing-masing dari cara
penyelesaian masalah
3) Mendiskusikan dengan pasien tentang cara menyelesaikan masalah yang
lebih baik

3.5.2 Tindakan Keperawatan Keluarga Pasien dengan Risiko Bunuh Diri


1. Tindakan Keperawatan untuk Keluarga Pasien Percobaan Bunuh Diri
a. Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien, serta jangan pernah
meninggalkan pasien sendirian
b. Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhkan barang-barang
bahaya di sekitar pasien
c. Mendiskusikan dengan keluarga untuk menjaga pasien agar tidak sering
melamun/ sendirian
d. Menjelaskan kepada keluarga tentang pentingnya pasien minum obat
2. Tindakan Keperawatan untuk Keluarga Pasien Isyarat Bunuh Diri
a. Mengajarkan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri
1) Menanyakan kepada keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri yang
pernah mucul dari pasien
2) Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang umumnya muncul pada pasien
berisiko bunuh diri
b. Mengajarkan keluarga tentang cara melindungi pasien dari perilaku bunuh diri
1) Mendiskusikan tentang cara yang dapat dilakukan keluarga bila pasien
memperlihatkan tanda dan gejala bunuh diri
2) Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien, antara lain:
a) Memberikan tempat yang aman. Menempatkan pasien di tempat yang
mudah diawasi, jangan biarkan pasien mengunci diri di kamarnya , dan
jangan meninggalkan pasien sendirian
b) Menjauhkan barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri (tali,
bahan bakar minyak, bensin, api, pisau atau benda tajam lainnya, zat
yang berbahaya seperti obat nyamuk atau racun serangga
c) Selalu mengadakan pengawasan dan meningkatkan pengawasan apabila
tanda dan gejala bunuh diri meningkat. Jangan pernah melonggarkan
pengawasan, walaupun paisen tidak menunjukkan tanda dan gejala untuk
bunuh diri
d) Menganjurkan keluarga untuk melaksanakan cara tersebut di atas
c. Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apabila pasien
melakukan percobaan bunuh diri, antara lain:
1) Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau pemuka masyarakat untuk
menghentikan upaya bunuh diri tersebut
2) Segera membawa pasien ke rumah sakit atau puskesmas untuk mendapatkan
bantuan
d. Membantu keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi
pasien
1) Memberikan informasi tentang nomor telepon darurat tenaga kesehatan
2) Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan pasien berobat/ kontrol secara
teratur guna mengatasi masalah bunuh dirinya
3) Menganjurkan keluarga untuk membantu pasien minum obat sesuai prinsip 5
benar, yaitu benar orang, benar obat, benar dosis, benar cara penggunaan dan
benar waktu penggunaannnya.
3.6 Rencana Tindakan Keperawatan
Tgl Masalah Perencanan Intervensi
keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi
Resiko Tujuan
Bunuh Diri umum:
Klien tidak
mencederai
diri sendiri

TUK 1 Kriteria Evaluasi : 1. Bina hubungan

Klien dapat 1. Ekspresi wajah bersahabat, saling percaya

membina 2. Menunjukkan rasa senang dengan

hubungan 3. Ada kontak mata, mau menggunakan

saling berjabat tangan prinsip

percaya. 4. Mau menyebutkan nama komunikasi

5. Mau menjawab salam terapeutik :

6. Mau duduk berdampingan


a.Sapa klien
dengan perawat
dengan nama baik
7. Mau mengutarakan masalah
verbal maupun
yang dihadapi
non verbal.

b. Perkenalkan
diri dengan
sopan.

c. Tanyakan nama
lengkap klien dan
nama panggilan
yang disukai
klien.

d. Jelaskan tujuan
pertemuan.

e. Jujur dan
menepati janji.

f. Tunjukkan
sikap empati dan
menerima klien
apa adanya.

g. Berikan
perhatian kepada
klien dan
perhatikan
kebutuhan dasar

TUK 2: Kriteria evaluasi : 1. Jauhkan klien

Klien dapat Klien dapat terlindung dari dari benda-benda

terlindung perilaku bunuh diri yang dapat

dari perlaku membahayakan.

bunuh diri 2. Tempatkan


klien diruangan
yang tenang dan
selalu terlihat
oleh perawat.

3. Awasi klien
secara ketat setiap
saat

TUK 3 : Kriteria evaluasi : 1. Bantu untuk

Klien dapat Klien dapat meningkatkan harga memahami bahwa

meningkatkan dirinya klien dapat

harga diri, mengatasi


keputusasaannya.

2. Kaji dan
kerahkan sumber-
sumber internal
individu.

3. Bantu
mengidentifikasi
sumber-sumber
harapan (misal :
hubungan antar
sesama,
keyakinan, hal-
hal untuk
diselesaikan).

TUK 4: Kriteria evaluasi : 1. Ajarkan

Klien dapat Klien dapat menggunakan koping mengidentifikasi

menggunakan yang adaptif pengalaman-

koping yang pengalaman yang

adaptif, menyenangkan.

2. Bantu untuk
mengenali hal-hal
yang ia cintai dan
yang ia sayangi
dan pentingnya
terhadap
kehidupan orang
lain.

3. Beri dorongan
untuk berbagi
keprihatinan pada
orang lain.
TUK 5: Kriteria evaluasi : 1. Kaji dan

Klien dapat Klien dapat menggunakan manfaatkan

menggunakan dukungan social sumber-sumber

dukungan eksternal

sosial individu.

2. Kaji sistem
pendukung
keyakinan yang
dimiliki klien.

3. Lakukan
rujukan sesuai
indikasi (pemuka
agama).
3.7 Strategi Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik

DIAGNOSA PASIEN KELUARGA


KEPERAWATAN
Resiko Bunuh Diri Sp I Pasien : TUK 1 2 SP 1 Keluaga
a. Membina hubungan saling percaya a. Mendiskusikan
dengan klien massalah yang
b. Mengidentifikasi benda-benda dirasakan keluarga
yang dapat membahayakan pasien. dalam merawat pasien
c. Mengamankan benda-benda yang b. Menjelaskan
dapat membahayakan pasien. pengertia, tanda dan
d. Melakukan kontrak treatment gejala resiko bunuh
e. Mengajarkan cara mengendalikan diri, dan jenis prilaku
dorongan bunuh diri yang di alami pasien
beserta proses
terjadinya
c. Menjelaskan cara-cara
merawat pasien resiko
bunuh diri yang
dialami pasien beserta
proses terjadinya.

Sp II Pasien TUK 3 SP II Keluarga


a. Evaluasi kegiatan yang lalu ( SP 1 ) a. Evaluasi kemampuan
b. Mengidentisifikasi aspek positif keluarga di SP 1
pasien b. Melatih keluarga
c. Mendorong pasien untuk berfikir mempraktekan cara
positif terhadap diri sendiri merawat pasien
d. Mendorong pasien untuk dengan resiko bunuh
menghargai diri sebagai individu diri
yang berharga c. Melatih keluarga
melakukan cara
merawat langsung
kepada pasien resiko
bunuh diri.

Sp III Pasien : TUK 3 , 4, 5 SP III Keluarga


a. Evaluasi kegiatan yang lalu (Sp 1 a. Evaluasi kemampuan
& 2) keluarga
b. Mengidentisifikasi pola koping b. Membantu keluarga
yang biasa diterapkan pasien membuat jadual
c. Menilai pola koping yng biasa aktivitas dirumah
dilakukan termasuk minum obat
d. Mengidentifikasi pola koping yang
konstruktif
e. Mendorong pasien memilih pola
koping yang konstruktif
f. Menganjurkan pasien menerapkan
pola koping konstruktif dalam
kegiatan harian

Sp IV Pasien Sp IV Keluarga
a. a. Evaluasi kegiatan yang lalu (Sp 1 & a. Evaluasi kemampuan
2) keluarga
b. b. Membuat rencana masa depan yang b. Mendiskusikan sumber
realistis bersama pasien rujukan yang biasa
c. c. Mengidentifikasi cara mencapai dijangkau oleh keluarga
rencana masa depan yang realistis
d. d. Memberi dorongan pasien
melakukan kehiatan dalam rangka
meraih masa depan yang realistis
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (INDIVIDU)
DENGAN RESIKO BUNUH DIRI
Masalah : Resiko bunuh diri
Pertemuan : ke-1
Tanggal : 15 Oktober 2014
Jam : 09.00 WIB
Perawat : Wina
Pasien : Aqib
1. FASE PRA ORIENTASI
A. Kondisi pasien
a) Klien bicara sendiri nampak bingung, mempermainkan jari-jari tangannya,
kontak mata kurang, tidak mau menatap lawan bicara, sulit berkomunikasi
dengan perawat, sering menunduk, pembicaraan kacau.
b) Memiliki ide untuk bunuh diri/ mengakhiri kehidupannya.
c) Berbicara tentang kematian dan menanyakan tentang obat/ dosis yang
mematikan, serta mengungkapkan keinginan untuk mati.
B. Diagnose keperawatan
Resiko bunuh diri
C. Tujuan Umum
Klien tidak melakukan percobaan bunuh diri
D. Tujuan Khusus 1 : SP 1 Klien
a. Membina hubungan saling percaya dengan klien
b. Mengidentifikasi benda-benda yang dapat membahayakan pasien.
c. Mengamankan benda-benda yang dapat membahayakan pasien.
d. Melakukan kontrak treatment
e. Mengajarkan cara mengendalikan dorongan bunuh diri
E. Rencana tindakan
1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutik :
a. Sapa klien dengan nama baik verbal maupun non verbal.
b. Perkenalkan diri dengan sopan.
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
d. Jelaskan tujuan pertemuan.
e. Jujur dan menepati janji.
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar
a. FASE ORIENTASI
a. Salam Terapeutik
Selamat siang Bapak! Bagaimana keadaan Bapak hari ini?
Kenalkan, nama saya winarti , biasa dipanggil Suster wina. Nama Bapak siapa?
Biasa dipanggil apa? Saya mahasiswa Stikes Bina Sehat PPNI yang bertugas hari
ini.
Boleh saya tahu usia Bapak berapa? Tinggal dimana? Di rumah tinggal dengan
siapa?
b. Validasi
Bagaimana perasaan Bapak hari ini?
c. Kontrak
Saya yang akan merawat Bapak di ruangan hari ini dan saya akan membantu
menyelesaikan masalah yang Bapak hadapi.
b. Topik
Bagaimana kalau pagi ini kita berbincang-bincang tentang perasaan yang
menyebabkan Bapak ingin mengakhiri kehidupan Bapak?
c. Waktu
Bapak mau berapa lama kita bercakap-cakap saat ini? Bagaimana kalau
15 menit.
d. Tempat
Bapak mau kita bercakap-cakap dimana? Bagaimana kalau di teras
depan?
2. FASE KERJA
1. Mengkaji tentang persepsi dan isi pikir klien:
Apa yang menyebabkan Bapak memiliki perasaan ingin mengakhiri kehidupan
Bapak?

Bagaimana perasaan Bapak setelah mengetahui penyakit yang Bapak derita?


Apakah dengan penyakit tersebut, Bapak merasa paling menderita di dunia ini?

Apakah Bapak merasa kehilangan kepercayaan diri? Apakah Bapak merasa tak
berharga atau bahkan lebih rendah dari pada orang lain?
2. Mengkaji tentang konsep diri klien:
Apakah ada bagian tubuh Bapak yang tidak disukai, bagian mana?apa
alasannya?

Apa yang menjadi cita-cita Bapak?Apa harapan Bapak terhadap tubuh, status,
tugas dan lingkungan?

Hal apa yang biasa Bapak lakukan saat keinginan bunuh diri itu muncul?
Bagaimana cara Bapak mewujudkannya?

Apakah Bapak tahu, apa akibat bagi diri Bapak dan keluarga Bapak jika Bapak
meninggal dengan cara yang Bapak lakukan?

3. FASE TERMINASI

a. Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaan Bapak setelah kita bercakap-cakap? Apakah Bapak merasa
ada manfaatnya dari perbincangan kita saat ini? Apakah keinginan bunuh diri itu
masih ada?
b. Evaluasi Obyektif
Bapak masih ingat cara mengatasi keinginan bunuh diri? Coba Bapak sebutkan
cara agar keinginan bunuh diri itu tidak muncul lagi!
c. Rencana tindak lanjut
Saya harap, bila nanti keinginan bunuh diri itu muncul lagi, Bapak bisa
mempraktikkan cara-cara yang telah kita pelajari tadi.
d. Kontrak yang akan datang
1. Topik: Baiklahkita sudah bercakap-cakap selama 15 menit. Sementara itu
dulu yang kita bicarakan hari ini. Bagaimana kalau besok kita bercakap-cakap
tentang cara mengatasi rasa bersalah dan rasa rendah diri yang Bapak alami?
2. Waktu: Mau jam berapa kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau jam 9
seperti hari ini?
3. Tempat: Dimana tempatnya nanti kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau
disini saja?
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (INDIVIDU)
DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

Masalah : Resiko bunuh diri


Pertemuan : ke-2
Tanggal : 16 Oktober 2014
Jam : 09.00 WIB
Perawat : Widia
Pasien : Aqib

1. FASE PRA-ORIENTASI
i. Kondisi Pasien
a) Klien nampak bingung, mempermainkan jari-jari tangannya, kontak mata
kurang, mau menatap lawan bicara walau sering menunduk, sulit
berkomunikasi dengan perawat, pembicaraan kadang terarah.
b) Memiliki ide untuk bunuh diri/ mengakhiri kehidupannya. dan sudah pernah
melakukan percobaan bunuh diri.
c) Kadang mengungkapkan keinginan untuk mati.
ii. Diagnose keperawatan
Resiko bunuh diri
iii. Tujuan Umum
Klien tidak melakukan percobaan bunuh diri.
iv. Tujuan Khusus 2 : SP 2 Klien
TUK 3 : Meningkatkan harga diri klien
D. Rencana tindakan
a) Evaluasi kegiatan yang lalu ( SP 1 )
b) Mengidentisifikasi aspek positif pasien
c) Mendorong pasien untuk berfikir positif terhadap diri sendiri
d) Mendorong pasien untuk menghargai diri sebagai individu yang berharga
1. FASE ORIENTASI
Assalamualaikum, Bapak. Masih ingat dengan saya kan?
Melihat kondisi Bapak yang membutuhkan pertolongan segera, maka saya perlu
menemani Bapak terus menerus disini samapai ada petugas kesehatan lain yang
akan menjaga Bapak.
2. FASE KERJA
Saya perlu memeriksa seluruh kamar Bapak untuk memaastikan tidak ada benda -
benda yang membahayakan.
Setelah hampir setengah jam saya menemani Bapak, apakah saat ini Bapak masih
memiliki keinginan bunuh diri.
Nah.., karena Bapak tampaknya masih memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup,
maka saya tidak akan membiarkan Bapak sendiri.
Kalau keinginan itu muncul, maka untuk mengatasinya, Bapak harus langsung minta
bantuan kepada perawat atau keluarga dan teman yang sedang besuk. Jadi usahakan,
jangaan pernah sendirian ya Bapak
Apakah hari ini Bapak sudah minum obat? Kalau belum, saya akan bantu Bapak
untuk minum obat.
3. FASE TERMINASI
Bagaiman perasaan Bapak setelah bercakap-cakap? Masih ada dorongan untuk bunuh
diri? Kalau masih ada, tolong segera panggil saya atau perawat lain ya..
Kalau sudah tidak ada, saya akan bertemu Bapak lagi untuk membicarakan cara
meningkatkan harga diri, esok hari.
Perawat yang lain sudah datang. Perawat itu yang akan menjaga Bapak seharian nanti,
mulai sekarang Bapak akan ditemani oleh perawat itu.
Walaupun Bapak akan dirawat oleh perawat lain, tetapi saya akan terus memantau
keadaan Bapak. Saya juga akan terus merawat Bapak ketika kembali lagi ke rumah,
sampai saya benar benar yakin Bapak aman dan tidak melukai diri Bapak sendiri.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (INDIVIDU)
DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

Masalah : Resiko bunuh diri


Pertemuan : ke-3
Tanggal : 17 Oktober 2014
Jam : 09.00 WIB
Perawat : Fifi
Pasien : Aqib

1. FASE PRA-ORIENTASI
i. Kondisi Pasien
a) Klien sering mempermainkan jari-jari tangannya, kontak mata kurang, mau
menatap lawan bicara, bisa diajak berkomunikasi dengan perawat,
pembicaraan kadang terarah.
b) Ide untuk bunuh diri/ mengakhiri kehidupannya berkurang.
c) Mulai mengungkapkan keinginan untuk bertahan hidup.
ii. Diagnose keperawatan
Resiko bunuh diri
iii. Tujuan Umum
Klien tidak melakukan percobaan bunuh diri.
iv. Tujuan Khusus 3
TUK 3 : Meningkatkan harga diri klien
v. Rencana tindakan
a) Evaluasi kegiatan yang lalu (Sp 1 & 2)
b) Mengidentisifikasi pola koping yang biasa diterapkan pasien
c) Menilai pola koping yng biasa dilakukan
d) Mengidentifikasi pola koping yang konstruktif
e) Mendorong pasien memilih pola koping yang konstruktif
f) Menganjurkan pasien menerapkan pola koping konstruktif dalam kegiatan
harian
1. FASE ORIENTASI
Assalamualaikum Bapak! Bagaimana perasaan Bapak hari ini?Masih adakah
dorongan untuk mengakhiri kehidupan?
Seperti janji kita kemarin, maka hari ini kita akan membahas tentang rasa syukur atas
pemberian Allah yang masih Bapak miliki.
Mau berapa lama?Dimana?
2. FASE KERJA
Apa saja dalam hidup Bapak yang perlu Bapak syukuri?Siapa saja kira-kira yang
sedih dan rugi kalau Bapak meninggal?
Keluarga masih membutuhkan Bapak. Coba Bapak ceritakan hal-hal yang Bapak
rasakan, baik itu yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dalam
kehidupan ini! Keadaan seperti apa yang membuat Bapak meraasa puas?
Bagus.Ternyata kehidupan Bapak masih banyak yang menyenangkan, dan itu patut
disyukuri.Coba Bapak sebutkan kegiatan apa yang masih bisa Bapak lakukan?
Bagaimana kalau Bapak mencoba melakukan kegiatan tersebut?Mari kita latih!
3. FASE TERMINASI
Bagaimana perasaan Bapak setelah kita bercakap-cakap? Bisa Bapak sebutkan
kembali apa saja yang Bapak patut syukuri dalam hidup ini? Bagus Bapak..
ingat dan ucapkan hal-hal yang baik dalam kehidupan Bapak jika dorongan
mengakhiri kehidupan muncul lagi
Seperti biasa besok kita akan bertemu lagi untuk membahas tentang cara mengatasi
masalah dengan baik.
Tempatnya dimana?Baiklah.Tapi kalau ada perasaan-perasaan yang tidak terkendali,
segera hubungi saya ya!
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (INDIVIDU)
DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

Masalah : Resiko bunuh diri


Pertemuan : ke-4
Tanggal : 18 Oktober 2014
Jam : 09.00 WIB
Perawat : Dika
Pasien : Aqib

1. FASE PRA-ORIENTASI
i. Kondisi Pasien
a) Klien sering mempermainkan jari-jari tangannya, kontak baik, mau menatap
lawan bicara, bisa diajak berkomunikasi dengan perawat, pembicaraan terarah.
b) Tidak memiliki ide untuk bunuh diri/ mengakhiri kehidupannya.
c) Mengungkapkan keinginan untuk bertahan hidup.
ii. Diagnose keperawatan
Resiko bunuh diri
iii. Tujuan Umum
Klien tidak melakukan percobaan bunuh diri.
iv. Tujuan Khusus 4
TUK 3 : Klien dapat,meningkatkan harga dirinya

TUK 4 : Klien dapat menggunakan mekanisme koping yang adpatif

TUK 5 : Klien dapat memobilisasi dukungan sosial

v. Rencana Tindakan
a. Evaluasi kegiatan yang lalu (Sp 1 & 2)
b. Membuat rencana masa depan yang realistis bersama pasien
c. Mengidentifikasi cara mencapai rencana masa depan yang realistis
d. Memberi dorongan pasien melakukan kehiatan dalam rangka meraih masa
depan yang realistis
1. FASE ORIENTASI
Assalamualaikum Bapak, Bagaimana perasaan Bapak hari ini?
Hari ini kita akan mendiskusikan tentang bagaimana cara mengatasi masalah yang
selama ini timbul.
Mau berapa lama? dimana?
2. FASE KERJA
Coba ceritakan situasi yang membuat Bapak ingin bunuh diri!
Apakah Bapak selalu memiliki keinginan bunuh diri? Apakah Bapak memiliki cara
lain untuk mengatai masalah?
Ohhhh..jadi sebenarnya ada beberapa cara lain untuk mengatasi masalah. Nah coba
kita diskusikan keuntungan dan kerugian masing-masing cara tersebut. Mari kita pilih
cara yang paling menguntungkan untuk mengatasi masalah Bapak. Menurut Bapak
cara yang mana? Ya.., saya setuju.Bapak bisa mencobanya!
Apakah Bapak merasakan adanya perbedaan setelah minum obat secara
teratur?Berapa macama obat yang Bapak minum?
Ada 3 macam obat yang harus Bapak minum dan ketiganya diminum 3 kali sehari
setelah makan.
Kalau keinginan mengakhiri hidup sudah berkurang, Bapak harus tetap minum
obatnya.Nanti akan saya konsultasikan dengan dokter, sebab kalau putus obat,
keinginan bunuh diri itu akan muncul lebih sering.
Kalau obatnya habis, Bapak bisa kontrol ke Klinik.Oleh karena itu, sehari sebelum
obat habis, diharapkan Bapak sudah kontrol.
Bapak harus teliti saat menggunakan obat-obatan ini.Pastikan bahwa obat itu benar-
benar milik Bapak. Jangan sampai keliru dengan milik orang lain. Baca
kemasannya1
Pastikan obat diminum pada waktunya dan dengan cara yang benar. Bapak juga
harus perhatikan berapa jumlah obat sekali minum, serta harus cukup minum, 10 gelas
per hari.
3. FASE TERMINASI
Bagaimana perasaan Bapak setelah bercakap cakap? Cara apa yang Bapak gunakan
untuk mengatasi masalah? Coba dalam satu minggu ini, Bapak menyelesaikan
masalah dengan cara Bapak pilih tadi.
Besok di jam yang sama, kita akan bertemu lagi di sini untuk membahas pengalaman
Bapak menggunakan cara yang Bapak pilih.
Bagaimana perasaan Bapak setelah diskusi tentang program pengobatan? Coba
sebutkan lagi obat apa yang harus Bapak minum? Berapa kali diminum?Bapak harus
teratur minum obat ini.
Jika ada gejala-gejala yang tidak biasa, misalnya kaku otot, tangan dan anggota
tubuh yang lain gemetar, Bapak jangan panic.Itu semua karena pengaruh obat.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (KELUARGA)
DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

Masalah : Resiko bunuh diri


Pertemuan : ke-1 dengan keluarga
Tanggal : 15 Oktober 2014
Jam : 10.00 WIB
Perawat : Wina
Keluarga : Sandra dan Tio

1. FASE PRA-ORIENTASI
A. Kondisi Pasien
a) Klien bicara sendiri nampak bingung, mempermainkan jari-jari tangannya,
kontak mata kurang, tidak mau menatap lawan bicara, sulit berkomunikasi
dengan perawat, sering menunduk, pembicaraan kacau.
b) Memiliki ide untuk bunuh diri/ mengakhiri kehidupannya. dan sudah pernah
melakukan percobaan bunuh diri.
c) Berbicara tentang kematian dan menanyakan tentang obat/ dosis yang
mematikan, serta mengungkapkan keinginan untuk mati.
B. Diagnose keperawatan
Resiko bunuh diri
C. Tujuan Umum
Klien tidak melakukan percobaan bunuh diri.
D. Tujuan khusus:
a. Keluarga mampu menjelaskan tentang masalah yang dirasakan saat merawat
pasien.
b. Keluarga mampu menjelaskan tentang bunuh diri pasien.
c. Keluarga mampu merawat pasien dengan baik dan benar
E. Rencana Tindakan : Sp1 keluarga
a. Mendiskusikan massalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
b. Menjelaskan pengertia, tanda dan gejala resiko bunuh diri, dan jenis prilaku
yang di alami pasien beserta proses terjadinya
c. Menjelaskan cara-cara merawat pasien resiko bunuh diri yang dialami pasien
beserta proses terjadinya.
1. FASE ORIENTASI
Selamat siang Ibu! Perkenalkan, nama saya winarti, biasa dipanggil Suster Wina.
Nama Ibu siapa? Biasa dipanggil apa? Saya mahasiswa Stikes Bina Sehat PPNI yang
bertugas hari ini.
Hari ini kita akan berbincang-bincang mengenai keluhan yang dirasakan Bapak, serta
menjaga agar Bapak selamat dan tidak melukai diri sendiri.
Bagaimana kalau kita bicara disini saja, sambil mengawasi Bapak?
2. FASE KERJA
Siapa nama Ibu?Apa hubungan dengan Bapak? Dimana alamat Ibu?Apakah Ibu
tinggal serumah dengan Bapak?Apa alasan Ibu membawa Bapak kesini?

Apa penyebab klien dibawa ke RSJ sehubungan dengan perilaku yang membahayakan
diri/ lingkungan/ orang lain atau yang aneh antara lain: perubahan tingkah laku,
mencoba bunuh diri, memukul orang, mengamuk dll.

Apa tanda-tanda yang diperlihatkan klien saat di rumah: bicara sendiri, melamun,
bicara kacau, marah-marah, menangis, berjalan ke sana kemari, tidak mau makan dan
minum dan kebingungan.

Apakah penyakit ini yang pertama kali diderita Bapak?Sudah berapa lama sakitnya,
berobat teratur atau tidak, apakah penyakit sekarang lebih berat/ringan dari pada yang
dulu?

Adakah kejadian-kejadian yang luar biasa sebelum timbulnya penyakit yang mungkin
menyebabkan gangguan jiwa?

Bagaimana sifat dan perilaku Bapak sebelum sakit?

Bapak/ Ibu.. Tn.A sedang menalami putus asa yang berat karena penyakit yang
dideritanya, sehingga sekarang Tn.A selalu ingin mengakhiri kehidupannya. Maka dari
itu, kita semua perlu mengawasi Tn.A terus menerus. Tn.A tidak boleh ditinggal
sendirian.

Bapak/ Ibu bisa bantu saya untuk mengamankan barang-barang yang dapat digunakan
Tn.A untuk bunuh diri, seperti tali tambang, pisau, silet, ikat pinggang dll. Semua
barang tersebut tidak boleh ada di sekitar Tn.A.
Selain itu, jika bicara dengan Tn.A focus pada hal-hal positif saja. Hindarkan
pernyataan negatif.Dan sebaiknya, Tn.A punya kegiatan positif, seperti melakukan hal-
hal yang disukainya, supaya tidak sempat melamun.

3. FASE TERMINASI

Sementara itu dulu yang kita bicarakan hari ini.


Baiklah Ibu sampai nanti, terima kasih.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (KELUARGA)
DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

Masalah : Resiko bunuh diri


Pertemuan : ke-2 dengan keluarga
Tanggal : 16 Oktober 2014
Jam : 10.00 WIB
Perawat : Widia
Keluarga : Sandra dan Tio

1. FASE PRA-ORIENTASI
A. Kondisi Pasien
a. Klien nampak bingung, mempermainkan jari-jari tangannya, kontak mata
kurang, mau menatap lawan bicara walau sering menunduk, sulit
berkomunikasi dengan perawat, pembicaraan kadang terarah.
b. Memiliki ide untuk bunuh diri/ mengakhiri kehidupannya. dan sudah pernah
melakukan percobaan bunuh diri.
c. Kadang mengungkapkan keinginan untuk mati.
B. Diagnose keperawatan
Resiko bunuh diri
C. Tujuan Umum
Keluarga mampu merawat pasien dengan baik dan benar.
D. Tujuan khusus
Klien dapat memobilisasi dukungan yang ada.
E. Rencana Tindakan : SP2 Keluarga
a. Evaluasi kemampuan keluarga di SP 1
b. Melatih keluarga
c. Mempraktekan cara merawat pasien dengan resiko bunuh diri
d. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien resiko
bunuh diri.
1. FASE ORIENTASI
Assalamualaikum Bapak/ Ibu..Bagaimana keadaan Bapak ?
Bapak/ Ibu sudah melihat keadaan Tn. B. Dari situ, saya berpendapat bahwa kita perlu
bekerja sama untuk menjaga agar Tn. B tetap selamat dan tidak melukai dirinya sendiri.
Bagaimana Bapak/ Ibu? Selama di RS, saya akan terus menjaga Tn. B.
Hari ini kita akan mendiskusikan tentang tanda dan gejala bunuh diri, serta cara
melindungi dari bunuh diri.
Dimana kita akan berdiskusi?Bagaimana kalau di ruang wawancara?
Berapa lama Bapak/ Ibu punya waktu?
2. FASE KERJA
Apa yang Bapak/ Ibu lihat dari perilaku Bapak B?
Bapak/ Ibu sebaiknya memperhatikan benar-benar munculnya tanda dan gejala bunuh
diri. Pada umumnya orang yang akan melakukan bunuh diri menunjukkan tanda
melalui percakapan, misalnya Saya tidak ingin hidup lagi, orang lain lebih baik tanpa
saya. Dan aapakah Bapak B pernah mengatakannya?
Kalau Bapak/ Ibu menemukan tanda dan gejala tersebut, maka sebaiknya Bapak/Ibu
mendengarkan ungkapan perasaan Bapak B secara serius.
Bapak/ Ibu, karena kondisi Tn. B sedang labil dan dapat melakukan tindakan
tindakan yang membahayakan hidupnya sewaktu-waktu seperti mencoba bunuh diri,
maka kita semua perlu mengawasi Tn. B terus-menerus.Saya harap Bapak dan Ibu juga
dapat mengawasi Tn. B.
Dalam kondisi serius seperti ini Tn. B tidak boleh ditinggal sendirian
sedikitpun.Bapak/ Ibu dapat membantu saya untuk mengamankan barang-barang yang
dapat digunakan Tn. B untuk bunuh diri, seperti tali tambang, pisau, silet, atau ikat
pinggang.Semua barang tersebut tidak boleh ada di sekitar Tn. B. Bapak/ Ibu,Tn. B itu
perlu perawatan yang lebih serius lagi.
Berkan dukungan untuk tidak melakukan percobaan bunuh diri.Katakan bahwa Bapak/
Ibu sayang pada Bapak B. Katakan juga kebaikan- kebaikan yang ada pada diri Bapak
B.
Usahakan sedikitnya 5 kali sehari memuji dengan tulus!
Tetapi kalau sudah terjadi percobaan bunuh diri, sebaiknya Bapak/ Ibu mencari
bantuan orang lain.
Setelah kembali ke rumah, Bapak/ Ibu perluu membantu agar Bapak B terus berobat
untuk mengatasi keinginan bunuh diri.
3. FASE TERMINASI
Bagaimana Bapak/ Ibu?Ada yang mau ditanyakan?
Bapak.Ibu dapat mengulangi kembali cara-cara merawat anggota eluarga yang ingin
bunuh diri?
Iya bagus.Jangan lupa pengawasannya ya!
Jika ada tanda-tanda bunuh diri, segera hubungi kami!
Kita dapat melanjutkan pembicaraan yang akan datang dan berlatih untuk merwat
anggota keluarga yang berisiko melakukan bunuh diri.Bagaimana Bapak/ Ibu setuju?
Bapak/ Ibu, karena ini sudah pergantian sift dan perawat yang lain sudah datang, maka
kita berpisah dulu sekarang, tetapi tolong apa yang kita bicarakan tadi, tentang
pentingnya melindungi Bapak B.
Kalau demikian sampai bertemu 2 hari lagi.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (KELUARGA)
DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

Masalah : Resiko bunuh diri


Pertemuan : ke-3 dengan keluarga
Tanggal : 17 Oktober 2014
Jam : 10.00 WIB
Perawat : Fifi
Keluarga : Sandra dan Tio

1. FASE PRA-ORIENTASI
1. Kondisi Pasien
a. Klien sering mempermainkan jari-jari tangannya, kontak mata kurang, mau
menatap lawan bicara, bisa diajak berkomunikasi dengan perawat,
pembicaraan kadang terarah.
b. Ide untuk bunuh diri/ mengakhiri kehidupannya berkurang.
c. Mulai mengungkapkan keinginan untuk bertahan hidup.
2. Diagnose keperawatan
Resiko bunuh diri
3. Tujuan Umum
Keluarga mampu merawat pasien dengan baik dan benar.
4. Tujuan khusus
Klien dapat Memobilisasi dukungan sosial
Rencana Tindakan: Sp3 keluarga
a. Evaluasi kemampuan keluarga di SP 1 & 2
b. Latih keluarga langsung ke pasien
c. Menyusun jadwal keluarga untuk merawat pasien
1. FASE ORIENTASI
Assalamualaikum Bapak/ Ibu.
Bagaimana Bapak/ Ibu, ada pertanyaan tentang cara merawat yang kita bicarakan 2
hari yang lalu?
Hari ini, kita akan berlatih cara-cara merawat tersebut ya Bapak, Ibu!
Dimana kita akan mencoba? Bagaimana kalau disini dulu? Setelah itu, baru kita coba
langsung kepada Tn.A ya!
Berapa lama Bapak/ Ibu punya waktu untuk berlatih?
2. FASE KERJA
Sekarang, anggap saya sebagai Tn.A yang sedang mengatakan Ingin mati saja..
Coba Bapak dan Ibu praktikkan cara bicara yang benar bila Tn.A sedang dalam
keadaan seperti ini!
Bagus.. Betul begitu caranya..
Sekarang coba praktikkan cara memberi pujian kepada Tn.A!
Bagus.. Bagaimana kalau cara memotivasi Tn.A minum obat dan melakukan
kegiatan positifnya sesuai jadwal?
Bagus sekali. Ternyata Bapak/ Ibu sudah mengerti cara merawat Tn.A
Bagaimana kalau sekarang kita mencobanya langsung kepada Tn.A?
3. FASE TERMINASI
Bagaimana perasaan Bapak dan Ibu setelah kita berlatih cara merawat Tn.A di
rumah?
Setelah ini, coba Bapak dan Ibu lakukan apa yang sudah kita latih tadi setiap kali
Bapak dan Ibu membesuk Tn.A.
Baiklah.. Bagaimana kalau 2 hari lagi Bapak dan Ibu datang kembali lagi kesini dan
kita akan mencoba lagi cara merawat Tn.A hingga Bapak dan Ibu lancar
melakukannya.
Jam berapa Bapak dan Ibu bisa kemari? Baiklah saya tunggu. Kita ketemu lagi di
tempat ini ya Bapak, Ibu!
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (KELUARGA)
DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

Masalah : Resiko bunuh diri


Pertemuan : ke-4 dengan keluarga
Tanggal : 18 Oktober 2014
Jam : 10.00 WIB
Perawat : Dika
Keluarga : Sandra dan Tio

1. FASE PRA-ORIENTASI
A. Kondisi Klien
a. Klien sering mempermainkan jari-jari tangannya, kontak baik, mau menatap
lawan bicara, bisa diajak berkomunikasi dengan perawat, pembicaraan terarah.
b. Tidak memiliki ide untuk bunuh diri/ mengakhiri kehidupannya.
c. Mengungkapkan keinginan untuk bertahan hidup.
B. Diagnose keperawatan
Resiko bunuh diri
C. Tujuan Umum
Keluarga mampu merawat pasien dengan baik dan benar.
D. Tujuan khusus:
Klien dapat Memobilisasi dukungan sosial
E. Rencana Tindakan : Sp4 keluarga
a. Mengevaluasi kemampuan keluarga.
b. Mengevaluasi kemampuan pasien.
c. Membuat RTL keluarga: follow up, rencana pulang
1. FASE ORIENTASI
Assalamualaikum Bapak/ Ibu..Hari ini Tn.A sudah boleh pulang, maka sebaiknya
kita membicarakan jadwal Tn.A selama di rumah.
Berapa lama kita bisa diskusi? Baik..mari kita diskusikan!
2. FASE KERJA
Bapak, Ibu..ini jadwal Tn.A selama di rumah sakit. Coba perhatikan , dapatkah
dilakukan di rumah. Tolong dilanjutkan di rumah, baik jadwal aktivitas maupun
jadwal minum obatnya!
Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh
Tn.A selama di rumah.Kalau misalnya Tn.A terus menerus mengatakan ingin bunuh
diri, tampak gelisah dan tidak terkendali serta tidak mempelihatkan pernaikan,
menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain, tolong
Bapak/ Ibu segera hubungi suster E di Klinik Bakti Persada, klinik terdekat dari
rumah Ibu dan Bapak, ini nomor telepon puskesmasnya.
Selanjutnya, suster E yang akan membantu memantau perkembangan Tn.A selama di
rumah.
3. FASE TERMINASI
Bagaimana Bapak, Ibu? Ada yang belum jelas?
Ini jadwal kegiatan harian Tn.A untuk dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk
perawat E di klinik. Jangan lupa kontrol kesana sebelum obat habis atau ada gejala
yang tampak.
Silahkan selesaikan administrasinya ya.! Terima kasih

PROPOSAL
TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK

PENINGKATAN HARGA DIRI

A. Topik
Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Sesi 1 : Identifikasi hal positif dari diri
Sesi 2 : Melatih hal positif pada diri
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Peserta TAK mampu meningkatkan hubungan interpersonal anggota kelompok,
berkomunikasi, mampu berinteraksi maupun berespon terhadap stimulasi yang
diberikan
2. Tujuan Khusus
Sesi 1
a. Klien dapat mengidentifikasi pengalaman yang tidak dapat menyenangkan
b. Klien dapat mengidentifikasi hal positif pada dirinya.
Sesi 2
a. Klien dapat menilai hal positif diri yang dapat digunakan
b. Klien dapat memilih hal positif yang akan dilatih
c. Klien dapat melatih hal positif diri yang telah dilatih
d. Klien dapat menjadwalkan penggunaan kemampuan yang telah dilatih.
C. Landasan Teori

Konsep diri termasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi
dengan orang lain dan lingkungan, nilai- nilai yang berkaitan dengan pengalaman objek,
tujuan serta keinginan (Stuart dan Sundeen dalam Keliat 1992)

Harga diri merupakan suatu nilai yang terhormat atau rasa hormat yang dimiliki
seseorang terhadap diri mereka sendiri. Hal ini menjadi suatu ukuran yang berharga
bahwa mereka memiliki sesuatu dalam bentuk kemampuan dan patut dipertimbangkan
(Townsend, 2005)

Harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak
dapat bertanggungjawab pada kehidupannya sendiri (Yoedhas,2010)
Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negative
terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal
mencapai keinginan (Budi Ana Keliat, 1999)

Harga diri rendah kronis adalah evaluasi diri atau perasaan tentang diri atau
kemampuan diri yang negative dan dipertahankan dalam waktu yang lama
(NANDA,2005)

Beberapa penelitian menunjukkan depresi yang diakibatkan karena harga diri


rendah, yang salah satunya mempunyai hasil 15.600 siswa sekolah di Amerika, tingkat na
6 sampai dengan 10 menunjukkan harga diri rendah yang diakibatkan karena sering
dilakukan pengintimidasian atau pengejekan berakibat menimbulkan resiko depresi pada
usia dewasa (Kandree,2001)

Penyebab lain dari masalah harga diri rendah diperkirakan juga sebagai akibat dari
masa lalur yang kurang menyenangkan, misalnya terlibat napza. Berdasarkan hasil
overview dinyatakan bahwa pecandu napza biasanya memiliki konsep diri yang negative
dan harga diri yang rendah.

Terapi keperawatan yang dapat diberikan pada klien sendiri bisa dalam bentuk
terapi kognitif. Terapi ini bertujuan untuk merubah pikiran negative yang dialami oleh
klien dengan harga diri rendah kronis ke arah berpikir yang positif. Pada keluarga terapi
yang diperlukan dapat berupa triangle terapi yang berujuan untuk membantu keluarga
dalam mengungkapkan perasaan mengenai permasalahan yang dialami oleh anggota
keluarga sehingga diharapkan keluarga dapat mempertahankan situasi yang mendukung
pada pengembalian fungsi hidup klien. Pada masyarakat juga perlu dilakukan terapi
psikoedukasi yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang
masalah hara diri rendah kronis yang merupakan salah satu bagian dari masalah gangguan
jiwa di masyarakat

D. Klien
1. Kriteria
- Klien yang sehat fisik
- Klien yang hara diri rendah
- Klien yang memiliki perasaan negative pada dirinya
2. Proses Seleksi
- Berdasarkan observasi klien sehari- hari
- Berdasarkan informasi dan diskusi dengan perawat ruangan mengenai perilaku
klien sehari- hari
- Hasil diskusi kelompok
- Berdasarkan asuhan keperawatan
- Adanya kesepakatan dengan klien
E. Pengorganisasian
1. Waktu
a. Hari/ tanggal :
b. Jam :
c. Acara :
- Pembukaan :
- Perkenalan pada klien :
- Perkenalan TAK :
- Penutup
d. Tempat :
e. Jumlah pasien :
2. Tim Terapis
a. Leader
Tugas Leader:
- Memimpin jalannya acara terapi aktivitas kelompok
- Memperkenalkan anggota terapi aktivitas kelompok
- Menetapkan jalannya tata tertib
- Menjelaskan tujuan diskusi
- Dapat mengambil keputusan dengan menyimpulkan hasil diskusi pada
kelompok terapi diskusi tersebut
- Kontyrak waktu
Menyimpulkan hasil kegiatan
Menutup acara
b. Co Leader
Tugas Co Leder
- Mendampingi leader jika terjadi bloking
- Mengoreksi dan mengingatkan leader jika terjadi kesalahan
- Bersama leader memcahkan penyelesaian masalah
c. Observer
Tugas Observer
- Mengobservasi persiapan dan pelaksanaan TAK dari awal sampai akhir
- Mencatat semua aktifitas dalam terapi aktifitas kelompok
- Mengobservasi perilaku klien
d. Fasilitator
Tugas Fasilitator
- Membantu klien meluruskan dan menjelaskan tugas yang harus dilakukan
- Mendampingi peserta TAK
- Memotivasi klien untuk aktif dalam kelompok
- Menjadi contoh bagi klien selama kegiatan
e. Anggota
Tugas Anggota
- Menjalankan dan mengikuti kegiatan terapi
3. Metode dan media
a. Metode
1. Diskusi
2. Permainan
b. Alat :
1. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK.
2. Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK.
c. Setting :
1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.
2. Ruangan nyaman dan tenang.
CO LEADER

F. Pembagian Tugas
Leader : Sandra
Co Leader : Aqib
Observer : Winarti
Fasilitator : Widia citra

Hikmatul mufidah

Tio gilang

Dika indra
G. Proses pelaksanaan
Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu klien dengan gangguan konsep diri :
harga diri rendah.
b. Membuat kontrak dengan klien.
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
1. Orientasi
a. Salam terapiutik
1. Salam dari terapis kepada klien.
2. Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama).
3. Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama).
b. Evaluasi/validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini.
c. Kontrak
1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu bercakap cakap tentang hal
positif diri sendiri.
2. Terapis menjelaskan aturan main berikut :
a. Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin
kepada terapis.
b. Lama kegiatan 45 menit.
c. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap kerja
a. Terapis memperkenalkan diri : nama lengkap dan nama panggilan serta
memakai papan nama.
b. Terapis membagikan kertas dan spidol kepada klien.
c. Terapis meminta tiap klien menulis pengalaman yang tidak
menyenangkan.
d. Terapis member pujian atas peran serta klien.
e. Terapis membagikan kertas yang kedua.
f. Terapis meminta tiap klien menulis hal positif tentang diri sendiri :
kemampuan yang dimiliki, kegiatan yang biasa dilakukan di rumah dan di
rumah sakit.
g. Terapis meminta klien membacakan hal positif yang sudah ditulis secara
bergiliran sampai semua klien mendapatkan giliran.
h. Terapis member pujian pada setiap peran serta klien.
4. Tahap terminasi.
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
b. Tindak lanjut.
Terapis meminta klien menulis hal positif lain yang belum tertulis.
c. Kontrak yang akan datang.
1. Menyepakati TAK yang akan datang, yaitu melatih hl positif diri yang
dapat diterapkan di rumah sakit dan di rumah.
2. Menyepakati waktu dan tempat.

Evaluasi dan dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk
TAK stimulasi persepsi : harga diri rendah sesi 1, kemampuan klien yang diharapkan
adalah menuliskan pengalaman yang tidak menyenangkan dan aspek positif
(kemampuan) yang dimiliki. Formulir evaluasi sebagai berikut :
Sesi 1

Stimulasi persepsi : harga diri rendah

Kemampuan menulis pengalaman yang tidak menyenangkan dan hal positif diri
sendiri.

No Nama klien Menulis pengalaman yang tidak Menulis hal


menyenangkan positif diri
sendiri
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan menulis pengalaman yang tidak
menyenangkan dan aspek positif diri sendiri. Beri tanda () jika klien mampu dan
tanda (X) jika klien tidak mampu. \

Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki oleh klien saat TAK pada catatan
proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi , TAK stimulasi persepsi
harga diri rendah. Klien mampu menuliskan tiga hal pengalaman yang tidak
menyenangkan, mengalami kesulitan menyebutkan hal positif diri. Anjurkan klien
menulis kemampuan dan hal positif dirinya dan tingkatkan reinforcement (pujian).
SESI 2 : Melatih Hal Positif Pada Diri.

Tujuan :

1. Klien dapat menilai hal positif diri yang dapat digunakan


2. Klien dapat memilih hal positif yang akan dilatih
3. Klien dapat melatih hal positif diri yang telah dilatih
4. Klien dapat menjadwalkan penggunaan kemampuan yang telah dilatih.

Setting

1. Terapis dank lien duduk bersama dalam lingkaran.


2. Sesuaikan dengan kemampuan yang akan dilatih.
3. Ruangan nyaman dan tenang.

Alat

1. Spidol dan papan tulis / whiteboard / flipchart.


2. Sesuaikan dengan kemampuan yang akan dilatih.
3. Kertas daftar kemampuan positif pada sesi 1
4. Jadwal kegiatan sehari hari dan pulpen.

Metode

1. Diskusi dan Tanya jawab


2. Bermain peran

Langkah kegiatan

1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah mengikuti sesi 1.
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
a. Salam terapiutik.
1. Salam dari terapis kepada klien.
2. Klien dan terapis pakai papan nama.
b. Evaluasi / validasi
1. Menanyakan perasaan klien saat ini.
2. Menanyakan apakah ada tambahan hal positif klien.
c. Kontrak
1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu melatih hal positif pada klien.
2. Terapis menjelaskan aturan main berikut :
a. Jika ada kien yang meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis.
b. Lama kegiatan 45 menit.
c. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap kerja
a. Terapis meminta semua klien membaca ulang daftar kemampuan positif
pada sesi 1 dan memilih satu untuk dilatih.
b. Terapis meminta klien menyebutkan pilihannya dan ditulis di whiteboard.
c. Terapis meminta semua klien untuk memilih satu dari daftar di
whiteboard. Kegiatan yang paling banyak dipilih diambil untuk dilatih.
d. Terapis melatih cara pelaksanaan kegiatan/kemampuan yang dipilih
dengan cara berikut :
1. Terapis memperagakan
2. Klien memperagakan ulang (semua klien mendapat giliran)
3. Berikan pujian sesuai dengan keberhasilan klien.
e. Kegiatan A sampai dengan D, dapat di ulang untuk kemampuan / kegiatan
yang berbeda.
4. Tahap terminasi.
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2. Terapis memberikan pujian kepada kelompok.
b. Tindak lanjut
Terapis meminta klien memasukkan kegiatan yang telah dilatih pada
jadwal kegiatan sehari hari.
c. Kontrak yang akan datang
1. Menyepakati TAK yang akan datang untuk hal positif lain.
2. Menyepakati waktu dan tempat sampai aspek positif selesai dilatih.
Evaluasi dan dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi
persepsi harga diri rendah sesi 2 , kemampuan klien yang diharapkan adalah memiliki satu
hal positif yang akan dilatih dan memperagakannya. Formulir evaluasi sebagai berikut :
Sesi 2

Stimulasi persepsi : harga diri

Kemampuan melatih kegiatan positif

No Nama klien Membaca daftar hal Memilih satu hal positif Memperagakan
positif yang akan dilatih kegiatan positif
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan membaca ulang daftar positif
dirinya, memilih satu hal positif untuk dilatih dan memperagakan kegiatan positif
tersebut. Beri tanda () jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.

Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatn
proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi 2, TAK stimulasi
persepsi : harga diri rendah. Klien telah melatih merapikan tempat tidur. Anjurkan dan
jadwalkan agar klien melakukannya serta berikan pujian.
H. Proses pelaksanaan
Sesi 1
Stimulasi persepsi : Pencegahan Bunuh Diri
Mencegah Keinginan untuk Bunuh Diri

Tujuan :

5. Klien dapat mengendalikan saat ada keinginan atau dorongan untuk bunuh diri
6. Klien dapat mengekspresikan perasaannya

Setting

4. Terapis dank lien duduk bersama secara melingkar


5. Tempat nyaman dan tenang.

Alat

1. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK.


2. Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK.

Metode

3. Diskusi dan Tanya jawab


4. Permainan

Langkah Kegiatan
2. Persiapan
d. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu klien dengan Resiko Bunuh Diri
e. Membuat kontrak dengan klien.
f. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
3. Orientasi
d. Salam terapeutik
4. Salam dari terapis kepada klien.
5. Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama).
6. Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama).
e. Evaluasi/validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini.
f. Kontrak
5. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mencegah keinginan untuk
bunuh diri
6. Terapis menjelaskan aturan main berikut :
d. Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin
kepada terapis.
e. Lama kegiatan 30 menit.
f. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
7. Tahap kerja
i. Terapis memperkenalkan diri : nama lengkap dan nama panggilan serta
memakai papan nama.
j. Terapis menanyakan perasaan klien saat ini
k. Terapis menanyakan apakah klien masih ada keinginan bunuh diri
l. Terapis menanyakan apa yang dilakukan klien saat keinginan tersebut
muncul
m. Terapis menjelaskan cara mengalihkan bila keinginan untuk bunuh diri
muncul dengan modifikasi lingkungan psikis.
n. Terapis memberi pujian pada setiap peran serta klien.
8. Tahap terminasi.
d. Evaluasi
3. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
4. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
e. Tindak lanjut.
Terapis meminta klien menceritakan kembali cara mengalihkan bila
keinginan bunuh diri muncul secara tertulis.

Kontrak yang akan datang.


3. Menyepakati TAK yang akan datang, yaitu mengidentifikasi hal positif
yang dimiliki untuk meningkatkan harga diri
4. Menyepakati waktu dan tempat.

Evaluasi dan dokumentasi

Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk
TAK sesi 1 stimulasi persepsi : pencegahan resiko bunuh diri , kemampuan klien yang
diharapkan adalah mampu menceritakan kembali cara mencegah bila keinginan
bunuh diri. Formulir evaluasi sebagai berikut :

Nama Peserta TAK

No Aspek yang Dinilai

1 Menyebutkan cara yang selama ini


digunakan untuk mengalihkan bila
muncul keinginan bunuh diri

2 Menyebutkan efektivitas cara

3 Memperagakan mengalihkan bila


keinginan bunuh diri muncul

Petunjuk :

3. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
4. Beri tanda () jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.

Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki oleh klien saat TAK pada catatan
proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi , TAK stimulasi persepsi
pencegahan resiko bunuh diri. Klien mampu menuliskan cara mengalihkan bila
keinginan bunuh diri muncul dan tingkatkan reinforcement (pujian).
Sesi II
Stimulasi persepsi : Pencegahan Bunuh Diri
Meningkatkan Harga Diri Klien

Tujuan :

1. Klien dapat mengidentifikasi hal positif yang dimiliki


2. Klien dapat berfikir positif terhadap diri sendiri
3. Klien dapat mengeksplorasikan perasaanya

Setting

1. Terapis dan klien duduk bersama secara melingkar


2. Tempat nyaman dan tenang.

Alat

1. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK.


2. Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK.

Metode

1. Diskusi dan Tanya jawab


2. Permainan

Langkah kegiatan

3. Persiapan
c. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah mengikuti sesi 1.
d. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
4. Orientasi
d. Salam terapiutik.
3. Salam dari terapis kepada klien.
4. Klien dan terapis pakai papan nama.
e. Evaluasi / validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini.
f. Kontrak
4. Terapis menjelaskan tujuan TAK
5. Terapis menjelaskan aturan main berikut :
d. Jika ada kien yang meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis.
e. Lama kegiatan 30 menit.
f. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
6. Tahap kerja
a. Terapis membagikan kertas dan spidol kepada klien.
b. Terapis meminta tiap klien menuliskan hal positif yang dimiliki :
kemampuan positif yang dimiliki, kegiatan yang biasa dilakukan dirumah
dan di rumah sakit
c. Terapis menjelaskan cara berfikir positif dan cara menghargai diri sendiri
d. Terapis meminta klien membacakan hal positif yang sudah ditulis secara
bergiliran sampai semua klien mendapatkan giliran.
e. Terapis meminta semua klien untuk memilih satu dari daftar yang sudah di
tulis. Kegiatan yang paling banyak dipilih diambil untuk dilatih.
f. Terapis melatih cara pelaksanaan kegiatan/kemampuan yang dipilih
dengan cara berikut :
5. Terapis memperagakan
6. Klien memperagakan ulang (semua klien mendapat giliran)
7. Berikan pujian sesuai dengan keberhasilan klien.
g. Terapis meminta klien untuk menyebutkan kembali cara berfikir positif
secara bergantian
h. Terapis meminta klien untuk mengeksplorasikan perasaannya setelah
membaca hal-hal positif diri
i. Terapis memberi pujian pada setiap peran serta klien.
8. Tahap terminasi.
d. Evaluasi
3. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
4. Terapis memberikan pujian kepada kelompok.
e. Tindak lanjut
Terapis meminta klien untuk menyimpan kertas tersebut dan membaca
ulang jika sedang muncul rendah dirinya dan meminta klien memasukkan
kegiatan yang telah dilatih pada jadwal kegiatan sehari-hari
f. Kontrak yang akan dating
1. Menyepakati kegiatan TAK yang akan datang,
2. Menyepakati waktu dan tempat untuk TAK

Evaluasi dan dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap


kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK.
Untuk TAK stimulasi persepsi : Meningkatkan harga diri pada sesi II , kemampuan
klien yang diharapkan adalah memiliki satu hal positif yang akan dilatih dan
memperagakannya. Formulir evaluasi sebagai berikut :

Nama Peserta TAK

No Aspek yang Dinilai

1 Mengidentifikasi hal positif yang


dimiliki

2 Membaca daftar hal positif yang


telah ditulis secara bergiliran

3 Memilih hal positif yang akan


dilatih

4 Memeragakan ulang kegiatan


positif yang telah dipilih untuk
dilatih secara bergiliran

5 Menyebutkan kembali cara berfikir


positif secara bergantian

6 Mengeksplorasikan perasaan
setelah membaca hal-hal positif

Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
2. Beri tanda () jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.
Dokumentasi

Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi II, TAK stimulasi persepsi :
Meningkatkan harga diri. Misalnya : Klien telah mampu merapikan tempat tidur. Anjurkan
dan jadwalkan agar klien melakukannya serta berikan pujian.

Sesi III
Stimulasi persepsi : Pencegahan Bunuh Diri
Menggunakan mekanisme koping yang adaptif

Tujuan :

4. Klien dapat mengenali hal-hal yang ia sayangi dan ia cintai


5. Klien dapat menggunakan mekanisme koping yang adaptif
6. Klien dapat merencanakan dan menetapkan masa depan yang realistis

Setting

3. Terapis dan klien duduk bersama secara melingkar


4. Tempat nyaman dan tenang.

Alat

3. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK.


4. Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK.

Metode

3. Diskusi dan Tanya jawab


4. Permainan

Langkah kegiatan

1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah mengikuti sesi II.
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
a. Salam terapiutik.
1. Salam dari terapis kepada klien.
2. Klien dan terapis pakai papan nama.
b. Evaluasi / validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini.
c. Kontrak
1. Terapis menjelaskan tujuan TAK
2. Terapis menjelaskan aturan main berikut :
a. Jika ada kien yang meninggalkan kelompok, harus meminta izin
kepada terapis.
b. Lama kegiatan 30 menit.
c. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap kerja
a. Terapis membagikan kertas HVS dan spidol, masing-masing satu buah untuk
setiap klien
b. Terapis meminta klien menuliskan siapa orang yang paling disayangi dan
dicintai
c. Terapis meminta klien memilih dari salah satu orang yang dicintai, siapa yang
paling dekat dan paling dipercaya oleh klien
d. Terapis menjelaskan pentingnya koping yang adaptif dan menganjurkan klien
untuk berbagi masalah kepada orang yang paling dekat dan dipercaya agar
klien tidak merasa tertekan dan terbebani
e. Terapis menjelaskan pentingnya memiliki tujuan hidup (masa depan) agar
bersemangat berusaha mewujudkan dan optimistis
f. Terapis meminta klien menuliskan masing-masing tujuan hidup (masa depan)
klien di kertas yang telah dibagikan.
g. Terapis meminta klien untuk membacakan tujuan hidup (masa depan) yang
telah ditulisnya secara bergantian
h. Terapis memberikan pujian dan mengajak tepuk tangan klien lain jika satu
orang klien telah selesai membacakan.
i. Terapis meminta klien melihat lagi tujuan hidupnya (masa depannya),
mencoret tujuan yang sulit (tidak mungkin) dicapai.
j. Terapis meminta klien membaca ulang tujuan hidup (masa depan) yang
benar-benar realistis ( seperti langkah d).
k. Terapis memberikan pujian kepada klien setiap selesai membacakan tujuan
hidupnya.
4. Tahap terminasi.
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2. Terapis memberikan pujian kepada kelompok.
b. Tindak lanjut
Terapis meminta klien untuk menyimpan kertas tersebut dan menuliskan lagi\
tujuan hidup yang mungkin masih ada dan pengalaman-pengalaman yang
menyenangkan bersama orang yang dicintai dan membacanya kembali agar bisa
menggunakan mekanisme koping yang adaptif
c. Kontrak yang akan dating
1. Menyepakati kegiatan TAK yang akan datang,
2. Menyepakati waktu dan tempat untuk TAK

Evaluasi dan dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap


kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK.
Untuk TAK stimulasi persepsi : Menggunakan mekanisme koping yang adaptif pada
sesi III, kemampuan klien yang diharapkan adalah mampu menggunakan mekanisme
koping yang adaptif dan mampu menentukan masa depan yang realistis. Formulir
evaluasi sebagai berikut :

Nama Peserta TAK

No Aspek yang Dinilai

1 Menyebutkan orang yang paling


dicintai dan disayangi

2 Memilih orang yang paling dekat


dan dipercaya
3 Menyebutkan cara menggunakan
koping yang adaptif

4 Menuliskan tujuan hidup (masa


depan)

5 Membaca tujuan hidup (masa


depan)

6 Memilih tujuan hidup (masa


depan) yang realistis

Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
2. Beri tanda () jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.

Dokumentasi

Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi III, TAK stimulasi persepsi :
Menggunakan Mekanisme Koping yang Adaptif. Misalnya : Klien mampu berbagi masalah
dengan keluarga. Anjurkan dan jadwalkan agar klien melakukannya serta berikan pujian.
DAFTAR PUSTAKA

Stuart, G. W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Yosep, I. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama

Fitria,Nita.2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan


Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan ( LP & SP ) untuk 7 Diagnosis
Keperawatan Jiwa Berat bagi Program S1 Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta

Anda mungkin juga menyukai