Anda di halaman 1dari 90

LAPORAN PENDAHULUAN

PERILAKU KEKERASAN

A. Pengertian Perilaku kekerasan

a. Marah adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan atau
kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman.
b. Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun
lingkungan (fitria, 2009).
c. Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau
mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut
(Purba dkk, 2008).
d. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang
membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri, maupun orang lain (Yoseph, 2007).
Ancaman atau kebutuhan yang tidak terpenuhi mengakibatkan seseorang stress berat,
membuat orang marah bahkan kehilangan kontrol kesadaran diri, misalkan: memaki-maki
orang disekitarnya, membanting-banting barang, menciderai diri dan orang lain, bahkan
membakar rumah.
e. Kekerasan berarti penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan salah. Menurut WHO
(dalam Bagong. S, dkk, 2000), kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan
kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok
orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan
memar/trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan
hak
f. Menurut Townsend (2000), amuk (aggresion) adalah tingkah laku yang bertujuan untuk
mengancam atau melukai diri sendiri dan orang lain juga diartikan sebagai perang atau
menyerang
g. Menurut Stuart dan Sundeen (1995), perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana
seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri
sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan
perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif.
h. Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk
melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993).

Jadi berdasarkan definisi di atas kelompok dapat menarik kesimpulan bahwa perilaku
kekerasan adalah suatu perilaku yang menggambarkan keadaan marah, agresif verbal
maupun nonverbal, serta perasaan benci yang dapat menimbulkan bahaya pada diri
sendiri, orang lain, maupun lingkungan.

B. Proses terjadinya

a) Faktor-faktor yang mempengaruhi


1. Faktor Predisposisi
Faktor pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan factor predisposisi,
artinya mungkin terjadi/ mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika faktor berikut
dialami oleh individu:
1) Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang
kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak
menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau sanksi
penganiayaan.
2) Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan, sering
mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua aspek ini
menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan.
3) Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan
kontrol sosial yang tidak pasti terhadap pelaku kekerasan akan menciptakan
seolah-olah perilaku kekerasan yang diterima (permissive).
4) Bioneurologis, banyak bahwa kerusakan sistem limbik, lobus frontal, lobus
temporal dan ketidakseimbangan neurotransmitter turut berperan dalam
terjadinya perilaku kekerasan.
2. Faktor Prespitasi
Faktor prespitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan
orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik), keputusan,
ketidakberdayaan, percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan.
Demikian pula dengan situasi lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang mengarah pada
penghinaan, kehilangan orang yang dicintai/ pekerjaan dan kekerasan merupakan faktor
penyebab yang lain. Interaksi sosial yang provokatif dan konflik dapat pula memicu
perilaku kekerasan.

3. Rentang respon
Respons kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentang adaptif mal adaptif.
Rentang respon kemarahan dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Assertif adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan
orang lain, atau tanpa merendahkan harga diri orang lain.
b. Frustasi adalah respons yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau
keinginan. Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan.
Akibat dari ancaman tersebut dapat menimbulkan kemarahan.
c. Pasif adalah respons dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan
yang dialami.
d. Agresif merupakan perilaku yang menyertai marah namun masih dapat
dikontrol oleh individu. Orang agresif biasanya tidak mau mengetahui hak
orang lain. Dia berpendapat bahwa setiap orang harus bertarung untuk
mendapatkan kepentingan sendiri dan mengharapkan perlakuan yang sama
dari orang lain.
e. Mengamuk adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan
kontrol diri. Pada keadaan ini individu dapat merusak dirinya sendiri maupun
terhadap orang lain.
Respon adaptif- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Respon maladaptif
Asertif Frustasi Pasif Aresif Amuk
4. Mekanisme koping
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress,
termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang
digunakan untuk melindungi diri. Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang
timbul karena adanya ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien
marah untuk melindungi diri antara lain:
a. Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata
masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya
secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan
kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok dan
sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
b. Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya
yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia
mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa
temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya.
c. Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke
alam sadar. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang
tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak
kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh
Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat
melupakannya.
d. Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan, dengan
melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya
sebagai rintangan. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya, akan
memperlakukan orang tersebut dengan kasar.
e. Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada
obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang
membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru
saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya.
Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya.
5. Perilaku
Perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :
a. Menyerang atau menghindar (fight of flight).
Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf otonom
beraksi terhadap sekresi epinephrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat,
takikardi, wajah merah, pupil melebar, sekresi HCl meningkat, peristaltik gaster
menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan juga
meningkat diserta ketegangan otot, seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh
menjadi kaku dan disertai reflek yang cepat.
b. Menyatakan secara asertif (assertiveness).
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya
yaitu dengan perilaku pasif, agresif dan asertif. Perilaku asertif adalah cara yang
terbaik untuk mengekspresikan marah karena individu dapat mengekspresikan
rasa marahnya tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikolgis. Di
samping itu perilaku ini dapat juga untuk pengembangan diri klien.
c. Memberontak (acting out). Perilaku yang muncul biasanya disertai akibat konflik
perilaku acting out untuk menarik perhatian orang lain.
d. Perilaku kekerasan. Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri
sendiri, orang lain maupun lingkungan.
b) Patofisiologi

Ancaman terhadap kebutuhan

Stres

Cemas

Merasa kuat Mengungkapkan secara Merasa tidak adekuat


verbal

Menantang Menarik diri


Menjaga keutuhan orang
lain
Masalah tidak Mengingkari marah
selesai
Lega
Marah tidak terungkap
Marah
berkepanjangan Ketegangan menurun
Marah pada diri sendiri

Marah pada orang lain Rasa marah teratasi


Depresi
psikosomatik
Muncul rasa bermusuhan

Rasa bermusuhan menahun

Agresif / Amuk
c) Pohon masalah

Stuart dan Sundenn (1997) mengidentifikasi pohon masalah perilaku kekerasan


sebagai berikut :
Risiko tinggi
mencederai orang lain
Perubahan persepsi
sensori
Perilaku kekerasan halusinasi

Inefektif proses Gangguan harga diri Isolasi sosial


terapi rendah kronis

Kopingkeluargatida Berduka disfungsional


kefektif

C. Tanda dan gejala


Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan adalah sebagai
berikut:
1. Fisik
a. Muka merah dan tegang
b. Mata melotot/ pandangan tajam
c. Tangan mengepal
d. Rahang mengatup
e. Postur tubuh kaku
f. Jalan mondar-mandir

2. Verbal
a. Bicara kasar
b. Suara tinggi, membentak atau berteriak
c. Mengancam secara verbal atau fisik
d. Mengumpat dengan kata-kata kotor
e. Suara keras
f. Ketus

3. Perilaku

a. Melempar atau memukul benda/orang lain


b. Menyerang orang lain
c. Melukai diri sendiri/orang lain
d. Merusak lingkungan
e. Amuk/agresif

4. Emosi

Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan jengkel,
tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.

5. Intelektual

Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.

6. Spiritual

Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain,
menyinggung perasaan orang lain, tidak perduli dan kasar.

7. Sosial

Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.

8. Perhatian

Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.


D. Pengkajian
a. Pengumpulandata
Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual,
intelektual dan emosional.
1) Aspek biologis
Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap
sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka merah,
pupil melebar, pengeluaran urine meningkat. Ada gejala yang sama dengan
kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang
terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku, dan refleks cepat. Hal ini disebabkan oleh
energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.
2) Aspek emosional
Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel,
frustasi, dendam, ingin memukul orang lain, mengamuk, bermusuhan dan sakit
hati, menyalahkan dan menuntut.
3) Aspek intelektual
Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual,
peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang
selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Perawat
perlu mengkaji cara klien marah, mengidentifikasi penyebab kemarahan,
bagaimana informasi diproses, diklarifikasi, dan diintegrasikan.
4) Aspek sosial
Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi
marah sering merangsang kemarahan orang
lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku
yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata
kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses tersebut dapat mengasingkan
individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak mengikuti aturan.
5) Aspek spiritual
Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan
lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat
menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak
berdosa.
Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa perawat perlu mengkaji individu secara
komprehensif meliputi aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual yang
secara singkat dapat dilukiskan sebagai berikut :
Aspek fisik terdiri dari :muka merah, pandangan tajam, napas pendek dan cepat,
berkeringat, sakit fisik, penyalahgunaan zat, tekanan darah meningkat. Aspek
emosi : tidak adekuat, tidak aman, dendam, jengkel. aspek intelektual :
mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan. aspek sosial : menarik
diri, penolakan, kekerasan, ejekan, humor.
b. Klasifiaksidata
Data yang didapat pada pengumpulan data dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu
data subyektif dan data obyektif. Data subyektif adalah data yang disampaikan
secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini didapatkan melalui wawancara perawat
dengan klien dan keluarga. Sedangkan data obyektif yang ditemukan secara nyata.
Data ini didapatkan melalui obsevasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.

E. Masalah keperawatan
1. RPK diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Data subjektifnya :Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin
membunuh, ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya.
Data objektifnya :Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang,
melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya.

2. Perilaku kekerasan / amuk


Data subjektifnya :Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang. Klien suka
membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah.
Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data Objektifnya : Mata merah, wajah agak merah, Nada suara tinggi dan keras,
bicara menguasai, Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
Merusak dan melempar barang barang.

3. Gangguan konsep diri: HDR


Data subjekif : Klien merasa tidak mampu, malu, merendahkan dirinya, menyalahkan
dirinya dengan masalah yang terjadi padanya.
Data objektifnya : terlihat tidak menerima keadaannya.

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KESEHATAN

KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN

TGL DIAGNOSIS PERENCANAA INTERVENSI


KEPERAWAT N
AN
TUJUAN KRITERIA HASIL
1 2 3 4 5
Resiko TUM 1.1 klien mau 1. Beri salam atau panggil
perilaku Klien tidak membalas slam. nama.
mencederai mencederai diri 1.2 Klien mau Sebut nama
diri TUK menjabat perawat.
berhubungan 1. Klien tangan. Jelaskan maksut
dengan dapat 1.3 Klien mau hubungan
perilaku membina menyebutkan interaksi.
kekerasan hubunga nama. Jelaskan akan
n saling 1.4 Klien mau kontrak yang
percaya tersenyum. akan dibuat.
1.5 Klien mau Beri rasa aman
kontak mata. dan sikap
1.6 Klien mau empati.
mengetahui Lakukan kontak
nama perawat. singkat tapi
sering.
2. Klien 2.1 klien dapat 2.1.1 berikan kesempatan
dapat mengungkapkan untuk mengungkapkan
mengide perasaannya perasaannya.
ntifikasi 2.2 klien dapat 2.2.1 bantu klien untuk
penyeba mengungkapkan mengungkapkan penyebab
b penyebab perasaan jengkel atau kesal.
perilaku perasaan jengkel
kekerasa atau kesal (dari
n. diri sendiri,
lingkungan, atau
orang lain).

3. Klien 3.1 klien dapat 3.1.1 anjurkan klien


dapat mengungkapkan mengungkapkan apa yang
mengide perasaan saat dialami dan dirasakan saat
ntifikasi marah atau marah atau jengkel.
tanda jengkel 3.1.2 observasi tanda dan
dan 3.2 klien dapat gejala perilaku kekerasan pada
gejala menyimpulkan klien
perilaku tanda dan gejala 3.2.1 simpulkan bersama klien
kekerasa jengekel atau tanda dan gejala jengkel atau
n. marah yang kesal yang dialami.
dialaminya.
4. Klien 4.1 klien dapat 4.1.1 anjurkan klien untuk
dapat mengungkapkan mengungkapkan perilaku
mengide perilaku kekerasan yang biasa
ntifikasi kekerasan yang dilakukan klien (verbal, pada
perilaku biasa dilakukan. orang lain, pada lingkungan,
kekerasa 4.2 Klien dapat dan pada diri sendiri).
n yang bermain peran 4.1.2 bantu klien bermain
biasa sesuai perilaku peran sesuai dengan perilaku
dilakuka kekerasan kekerasan yang biasa
n. 4.3 Klien dapat dilakukan.
mengetahui cara 4.3.1 bicarakan dengan klien,
yang biasa apakah dengan cara yang klien
dilakukan untuk lakukan masalahnya selesai.
menyelesaikan
masalah.
5. Klien 5.1 klien dapat 5.1.1 bicarakan akibat
dapat menjelaskan atau kerugian dari
mengide akibat dari cara cara yang dilakukan
ntifikasi yang digunakan klien.
akibat klien : 5.1.2 Bersama klien
perilaku akibat menyimpulkan
kekerasa pada akibat dari cara
n. klien yang dilakukan oleh
sendiri. klien.
Akibat 5.1.3 Tanyakan pada
pada klien apakah ia
orang ingin mempelajari
lain. cara baru yang
Akibat sehat.
pada
lingkung
an.
6. Klien 6.1 klien dapat 6.1.1 diskusikan kegiatan
dapat menyebutkan fisik yang biasa
mendem contoh dilakukan klien.
ontrasika pencegahan 6.1.2 Beri pujian atas
n cara perilaku kegiatan fisik klien
fisik kekerasan yang biasa
untuk secara fisik : dilakukan.
mencega tarik 6.1.3 Diskusikan dua cara
h napas fisik yang paling
perilaku dalam. mudah dilakukan
kekerasa Pukul untuk encegah
n. kasur perilaku kekerasan,
dan yaitu : tarik napas
bantal. dalam dan pukul
Dll : kasur serta bantal.
kegiatan
fisik.
6.2 klien dapat 6.2.1 diskusikan cara
mendemontrasik melakukan napas
an cara fisik dalam dengan klien
untuk mencegah 6.2.2 beri contoh klien
perilaku tentang cara
kekerasan. menarik napas
dalam.
6.2.3 Minta klien
mengikuti contoh
yang diberikan
sebanyak 5 kali.
6.2.4 Beri pujian positif
atas kemampuan
klien
mendemonstrasikan
cara menarik napas
dalam
6.2.5 Tanyakan perasaan
klien setelah
selesai.
6.2.6 Anjurkan klien
menggunakan cara
yang telah dipelajari
saat marah atau
jengkel.
6.2.7 Lakukan hal yang
sama dengan 6.2.1
samapai 6.2.6 untuk
cara fisik yang lain
dipertemuan yang
lain.
6.3 klien 6.3.1 diskusikan dengan
mempunyai klien mengenai
jadwal untuk frekuensi latihan
melatih cara yang akan
pencegahan dilakukan sendiri
fisik yang telah oleh klien.
dipelajari 6.3.2 Susun jadwal
sebelumnya. kegiatan untuk
melatih cara yang
telah dipelajari.
6.4 klien 6.4.1 klien mengevaluasi
mengevaluasi pelaksanaan latihan,
kemampuan cara pencegahan,
dalam perilaku kekerasan
melakukan cara yang telah
fisik sesuai dilakukan dengan
jadwal yang mengisi jadwal
telah disusun. kegiatan harian
(self-evolution).
6.4.2 Validasi
kemampuan klien
dalam
melaksanakan
latihan.
7. Klien 7.1 klien dapat 7.1.1 diskusikan cara
dapat menyebutkan bicara yang baik
mendem cara bicara dengan klien.
ontrasika (verbal) yang 7.1.2 Beri contoh cara
n cara baik dalam bicara yang baik :
sosial mencegah Meminta
untuk perilaku dengan baik
mencega kekerasan. Menolak
h Memeint dengan baik
perilaku a dengan Mengungka
kekerasa baik pkan
n. Menolak persaan
dengan dengan baik.
baik
Mengun
gkapkan
persaan
dengan
baik.
7.2 klien dapat 7.2.1 meminta klien
mendemontrasik mengikuti contoh
an cara verbal cara bicara yang
yang baik. baik
Meminta
dengan baik
:
saya minta
uang untuk
beli makan
Menolak
dengan baik:
maaf, saya
tidak bisa
melakukan
karena ada
kegiatan.
Mengungka
pkan
persaan
dengan baik:
saya kesal
karena
permintaan
saya tidak
dikabulkan
disertai nada
suara
rendah.
7.2.2 minta klien
mengulang sendiri.
7.2.3 Beri pujian atas
keberhasilan klien.
7.3 klien 7.3.1 diskusikan dengan
mempunyai klien tentang waktu
jadwal untuk dan kondisi cara
melatih cara bicara yang dapat
bicara yang dilatih diruangan,
baik. misalnya : meminta
obat, baju, dll.;
menolak ajakan
merokok, tidur
tidak tepat pada
waktunya :
menceritakan
kekesalan pada
perawat.
7.3.2 susun jadwal
kegiatan untuk
melatih cara yang
telah dipelajari.
7.4 Klien 7.4.1 klien mengevaluasi
melakukan pelaksanaan latihan
evaluasi cara bicara yang
terhadap baik dengan
kemampuan mengisi jadwal
cara bicara yang kegiatan (self
sesuai dengan evaluation).
jadwal yang 7.4.2 Validasi
telah disusun. kemampuan klien
dalam melakukan
latihan.
7.4.3 Berikan pyujian
atas keberhasilan
klien.
7.4.4 Tanyakan kepada
klien bagaimana
perasaan budi
setelah latihan
bicara yang baik
Mengungkapkan
persaan dengan
baik? Apakah
keinginan marah
berkuarang?
8. Klien 8.1 klien dapat 8.1.1 diskusikan dengan
mendem menyebutkan klien kegiatan
ontrasika kegiatan ibadah ibadah yang pernah
n cara yang biasa dilakukan.
spiritual dilakukan 8.1.2 Bantu klien menilai
untuk kegiatan ibadah
mencega yang dapat
h dilakukan di ruang
perilaku perawat.
kekerasa 8.1.3 Bantu klien
n. memilih kegiatan
ibadah yang akan
dilakukan.
8.1.4 Minta klien
mendemontrasikan
kegiatan ibadah
yang dipilih
8.1.5 Beri pujian atas
keberhasilan klien
8.2 klien dapat 8.2.1 klien mengevaluasi
mendemontrasik pelaksanaan
an cara kegiatan ibadah
beribadah yang dengan mengisi
dipilih. jadwal kegiatan
(self evaluation)
8.2.2 susun jadwal
kegiatan untuk
melatih kegiatan
ibadah.
8.3 klien 8.3.1 klien mengevaluasi
mempunyai pelaksanaan
jadwal untuk kegiatan ibadah
melatih kegiatan dengan mengisi
ibadah, jadwal kegiatan
harian (self
evaluation)
8.3.2 validasi
kemampuan klien
dlam melakukan
validasi
8.3.3 beriak pujian atas
keberhasilan klien
8.3.4 tanyakan kepada
klien : bagaimana
perasaan budi
setelah teratur
melakukan ibdah
?apakah keinginan
marah
berkuarang?.
9. Klien 9.1 klien melakukan 9.1.1 diskusikan dengan
mendem evaluasi klien tentang jenis
ontrasika terhadap obat yang
n kemampuan diminumnya (nama,
kepatuha mlekaukan warna, besarnya);
n minum kegiatan ibadah. waktu minum obat
obat (jika 3 kali : pukul.
untuk 07.00, 13.00,
mencega 19.00); cara minum
h obat
perilaku 9.1.2 diskusikan dengan
kekerasa klien tentang
n. manfaat minum
obat secara teratur
beda
perasaan
sebelum
minum obat
dan sesudah
minum obat
jelaskan
bahwa dosis
obat hanya
boleh
diubah oleh
dokter
jelaskan
mengenai
akibat
minum obat
yang tidak
tratur,
misalnya
penyakitnya
kambuh.
10. Klien 10.1 klien 10.1.1 diskusikan tentang
dapat dapat proses minum obat :
mengikut menyebutkan klien
i TAK : jenis, dosis, dan memeinta
Stimulasi waktu minum obat kepada
persepsi obat serta perawat
pencegah manfaat dari (jika
an obat itu (prinsip dirumah
perilaku 5 benar : benar sakit),
kekerasa orang, obat, kepada
n. dosis, waktu, keluarga
dan cara (jiak
pemberian). dirumah)
klien
memeriksa
obat sesuai
dosisnya
klien
meminum
obat pada
waktu yang
tepat.
10.1.1 susun jadwal minum
obat bersama klien.
11. Klien 11.1 klin 11.1.1 klien mengevaluasi
mendapa mendemontrasik pelaksanaan minum
tkan an kepatuhan obat dengan
dukunga minum obat mangisi jadwal
n sesuai jadwal kegiatan harian (self
keluarga yang ditetapkan. evaluation).
dalam 11.1.2 validasi
melakuk pelaksanaan minum
an cara obat kluien
pencegah 11.1.3 beri pujin atas
an keberhasialan klien
perilaku 11.1.4 tanyakan pada klien
kekerasa :bagaimana
n. perasaan budi
dengan minum obat
secara teratur?
Apakah keinginan
untuk marah
berkurang?:
11.2 klien 11.2.1 stimulasi persepsi
mengevaluasi pencegahan
kemampuannny perilaku kekerasa
a dalam 11.2.2 Klien mengikuti
mematuhi TAK: stimulasi
minum obat persepsi
pencegahan
orerikalu kekerasa
(kegiatan mandiri)
11.2.3 Diskusikan dengan
klien tentang
kegiatan selama
TAK.
11.2.4 Fasilitasi klien
untuk
mempraktikkan
hasil kegiatan TAK
dan beri pujian atas
keberhasilannnya.
11.3 klien 11.3.1 identifikasi
mempunyai kemampuan
jadwal klien keluarga dalam
melakukan merawat klien
evaluasi sesuai dengan yang
terhadap telah dilakukan
pelaksanaan keluarga terhadap
TAK. selama ini
11.3.2 jelaskan
keuntungan peran
serta keluarga
dalam merawat
klien
11.3.3 jelaskan cara-cara
merawat klien :
terkait
dengan cara
mengontrol
perilaku
marah
secara
kontruktif
sikap dan
cara bicara.
Membantu
klien
mengenal
penybab
marah dan
pelaksanaan
cara
pencegahan
perilaku
kekerasan.
11.4 keluarga 11.4.1 bantu keluarga
dapat mendemontasikan
mendemontrasik cara merawat klien.
an cara merawat 11.4.2 Bantu keluarga
klien. mengungkapkan
perasaannya setelah
melakukan
demontrasi.
11.4.3 Anjurkan keluarga
mempraktikkannya
pada klien selama
dirumah sakit dan
melanjutkannnya
setelah pulang
kerumah.
STRATEGI KOMUNIKASI BERDASARKAN PERTEMUAN

Diagnosa Pasien Keluarga


keperawatan
Resiko Perilaku SP1 SP1
Kekerasan a. Identifikasi : c. Identifikasi masalah yang dirasakan keluarga
penyebab, tanda dan dalam merawat pasien
gejala PK, akibat. d. Penjelasan PK (Penyebab, tanda dan gejala,
b. Latihan cara fisik 1, jenis PK, akibat PK)
2 ( F 1, 2). e. Cara merawat PK
c. Masuk jadwal f. Latih (simulasi) 2 cara merawat
kegiatan pasien. g. RTL keluarga / jadwal keluarga untuk
merawat
SP2 SP2
a. Evaluasi kegiatan a. Evaluasi (Sp1)
lalu yi F1,2 b. Latih (simulasi) 2 cara lain untuk merawat
b. Latihan verbal (3 c. Latih (langsung ke pasien)
macam). d. RTL keluarga / jadwal keluarga untuk
c. Masuk jadwal merawat.
kegiatan pasien.
SP3 SP3
a. Eva;uasi kegiatan a. Evaluasi (SP 1 & 2)
lalu yi F1,2 dan b. Latih langsung ke pasien)
verbal (SP 1,2) c. RTL keluarga / jadwal keluarga untuk
b. Latihan spiritual merawat
(minimal 2 macam).
c. Masuk jadwal
kegiatan pasien.
SP4 SP4
a. Evaluasi kegiatan a. Evaluasi (Sp 1, 2 & 3)
lalu yi F 1,2 dan b. Latih (langsung ke pasien)
verbal ( SP 1,2) c. Rencana tindakan lanjut keluarga:
b. Latihan patuh obat. - Follow up.
c. Masuk jadwal - Rujukan.
kegiatan pasien.
Kasus

Tn. N umur 23 tahun di bawah masuk ke RSJ oleh ayahnya. Tn. M sebagai penanggung
jawab dari pasien selama di rawar di RSJ. Pasien di bawah ke RSJ karena di rumah pasien selalu
mengamuk, memukul orang dan berbica kasar.

Keluarga mengatakan bahwa sebelumnya tidak ada yang mengalami gangguan jiwa di
dalam keluarga. Sebelum sakit pasien aktif mengikuti kegiatan organisasi di kampungnya.
Hubungan dengan tetangganya juga baik, tetapi semenjak usaha dagangannya bangkrut 3 bulan
yang lalu pasien terlihat menjauh dari keluarga dan tetangganya. Pasien menjadi seorang yang
pendiam dan suka menyendiri. Pasien merasa tidak bisa membantu ekonomi keluarga tetapi
malah merasa menjadi beban bagi keluarga, karena tidak bisa melunasi hutangnya yang banyak.
Dan pada saat di tagih, keluaraga pasien juga tidak bisa membayar hutang hutangnya itu.

Keluarga pasien mengatakan pasien menjadi mudah tersinggung, marah dan mengamuk
bahkan memukul semua orang yang membicarakan tentang dirinya. Keluarga pasien juga
mengatakan 2 bulan yang lalu pasien mau menikah tetapi gagal, karena tidak di restui oleh
keluarga kekasihnya. Karena kekasihnya akan di jodohkan oleh pilihan orang tuanya sendiri.
Ketika pasien di tanyai masalahnya pasien langsung marah dan menjawab dengan suara tinggi,
pandangan tanjam, otot tegang dan muka merah.
Jawab

1. a). Faktor Predisposisi


Faktor predisposisi pada kasus di atas yaitu sebelum sakit pasien aktif mengikuti
kegiatan organisasi di kampungnya. Hubungan dengan tetangganya juga baik, tetapi
semenjak usaha dagangannya bangkrut 3 bulan yang lalu pasien terlihat menjauh dari
keluarga dan tetangganya. Keluarga pasien juga mengatakan 2 bulan yang lalu pasien
mau menikah tetapi gagal, karena tidak di restui oleh keluarga kekasihnya.

b). Faktor Precipitasi

Faktor precipitasi pada kasus di atas yaitu pasien merasa tidak bisa membantu
ekonomi keluarga tetapi malah merasa menjadi beban bagi keluarga, karena tidak bisa
melunasi hutangnya yang banyak. Dan pada saat di tagih, keluaraga pasien juga tidak
bisa membayar hutang hutangnya itu. Pasien juga menjadi mudah tersinggung, marah
dan mengamuk bahkan memukul semua orang yang membicarakan tentang dirinya.

c). Penilaian Sekunder

Penilaian sekunder pada kasus di atas yaitu kebutuhan ekonomi di keluarga pasien
memang minim, karena keluarga pasien mempunyai banyak hutang dan tidak bisa
melunasi hutang hutangnya tersebut.

d). Penilaian Primer

Penilaian primer pada kasus di atas yaitu pasien merasa banyak stressor yang
membuat dia menjadi seorang pendiam, suka menyendiri, mudah tersinggung, dan juga
kadang sering memukul orang. Dan itu menimbulkan stress yang bermakna bagi pasien.

e). Mekanisme Koping

Mekanisme koping pada kasus tersebut ialah pasien tidak bisa mengendalikan dirinya
sendiri akibatnya pasien merasa dirinya tidak dapat menjadi apa yang dia inginkan.
Seperti membantu ekonomi keluarganya dan masalah pribadinya yang akan menikah
tetapi gagal karena faktor orang tua dari kekasihnya yang akan menjodohkan anaknya
dengan orang lain.
2. a). Pencegahan Primer
- Membina hubungan saling percaya ( mengucapakan salam terapeutik, berjabat
tangan, menjelaskan tujuan interaksi, membuat kontrak topik, waktu dan tempat
setiap kali bertemu pasien )
- Mendiskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan yang lalu
- Mendiskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan ( fisik,
psikologis, sosial, spiritual, intelektual )
- Mendiskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada saat
marah secara verbal
- Mendiskusikan bersama pasien akibat perilakunya

b). Pencegahan Sekunder

- Mendiskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan secara ( fisik,


sosial, obat, spiritual )
- Melatih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik
- Melatih pasien mengotrol perilaku kekerasan secara sosial atau verbal
- Melatih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual

c). Pencegahan Tersier

- Melatih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat


- Ikut sertakan pasien dalam terapi aktifitas kelompok stimulasi persepsi mengontrol
perilaku kekerasan.
3. Peran Community Mental Health Nursing dalam kasus di atas yaitu adalah memberikan
tindakan keperawatan yang bisa membantu pasien untuk menjadi lebih baik seperti
biasanya atau sebelum pasien sakit. Dengan cara memberikan masukan masukan atau
memberitahu pasien bahwa yang pasien alami itu sebenarnya tidak usah dijadikan beban.
4. Model Keperawatn yang cocok untuk kasus di atas adalah model komunikasi, karena
dengan berkomunikasi pasien mengklarifikasi komunikasi sendiri dan memfalidasi pesan
orang lain dan berkomunikasi secara langsung tanpa sandiwara.
5. Terapi Modalitas yang cocok untuk perilakukekerasan adalah :
a. TerapiLingkungan
Begitu pentingnya bagi perawat untuk mempertimbangkan lingkungan bagi
semua klien ketika mencoba mengurangi atau menghilangkan agresif. Aktifitas atau
kelompok yang direncanakan seperti permainan kartu, mononton dan mendiskusikan
sebuah film, atau diskusi informal memberikan klien kesempatan untuk
memberbicarakan peristiwa atau isu ketika klien tenang. Aktifitas juga melibatkan
klien dalam proses terapeutik dan meminimalkan kebosanan.
Penjadwalaninteraksisatu-satudenganklienmenunjukkanperhatianperawat yang
tulusterhadapkliendankesiapanuntukmendengarkanmasalah, pikiran,
sertaperasaanklien.Mengetahuiapa yang diharapkandapatmeningkatkan rasa
amanklien( Videbek, 2001, hlm. 259 ).
b. TerapiKelompok
Pada terapi kelompok, klien berpatisipasi dalam sesi bersama kelompok individu.
Para anggota kelompok bertujuan sama dan diharapakan memberi konstribusi kepada
kelompok untuk membantu yang lain dan juga mendapat bantuan dari yang lain.
Peraturan kelompok ditetapakan dan harus dipatuhi oleh semua anggota kelompok.
Dengan menjadi anggota kelompok klien dapat, mempelajari cara baru memandang
masalah atau cara koping atau menyelesaikan masalah dan juga membantunya
mempelajari keterampilan interpersonal yang penting (Videbek, 2001, hlm. 70 ).
c. TerapiKeluarga
Terapi keuarga adalah bentuk terapi kelompok yang mengikutsertakan klien dan
anggota keluarganya. Tujuannya ialah memahami bagaimana dinamika keluarga
mempengaruhi psikopatologi klien, memobilisasi kekuatan dan sumber fungsional
keluarga, merestrukturisasi gaya perilaku keluarga yang maladaptive, dan
menguatkan perilaku penyelesaian masalah keluarga( Steinglass, 1995 danVidebek,
2001, hlm. 71 ).
d. Terapi Individual
Psiko terapi individu adalah metode yang menimbulakan perubahan pada individu
dengan cara mengkaji perasaan, sikap, cara pikir, dan perilakunya. Terapi ini
memiliki hubungan personal antara ahli terapi dan klien. Tujuan dari terapi individu
yaitu, memahami diri dan perilaku mereka sendiri, membuat hubungan personal,
memperbaiki hubungan interpersonal, atau berusaha lepas dari sakit hati atau ketidak
bahgiaan.
Hubungan antara klien danah literapi terbina melalui tahap yang sama dengan
tahap hubungan perawat-klien: introduksi, kerja, danterminasi. Upaya pengendalian
biaya yang ditetapkan oleh organisasi pemeliharaan kesehatan dan lembaga asuransi
lain mendorong upaya mempercepat klien maksimal yang mungkin dari terapi(
Videbek, 2001, hlm. 69 ).

6. Cinta tak direstui

Pernikahan gagal Usaha bangkrut

Hutang menumpuk

Gangguan konsep diri Malu atau Minder tidak bisa membayar atau
melunasi

Interaksi social

Stress

Harga diri rendah

Marah berkepanjangan atau


mal adaptif

Mudah tersinggung

Marah pada orang lain atau keluarga

Perilaku kekerasan
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

PADA Tn. N dengan Perilaku Kekerasan

PERTEMUAN PERTAMA

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan


Masalah : Perilaku Kekerasan
Pertemuan :1
Hari/tgl :
Jam : 09.00 WIB
PROSES KEPERAWATAN
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien telihat gelisah, wajah tegang, pandangan mata tajam, sering mondar-mandir.
2.) Diagnosa Keperawatan
Perilaku Kekerasan
3.) Tujuan Keperawatan
Tujuan Umum : Klien tidak menciderai diri.
Tujuan Khusus :
TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya.
TUK 2 : Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
TUK 3 : Klien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan.
TUK 4 : Klien dapat megidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
TUK 5 : Klien dapat mengidentifikasi akibat dari perilakukekerasan.
TUK 6 : Klien dapat mendemonstasikan latihan cara fisik ke 1 & 2.

4.) Rencana Tindakan Keperawatan: (SP 1 pasien)


Bina Hubungan saling Percaya
Identifikasi penyebab perilaku kekerasan, tanda dan gejala PK serta Akibat.
Latihan cara fisik 1,2.
Masukkan jadwal kegiatan pasien.
B. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Selamat pagi, pak ? perkenalkan nama saya , bapak bisa panggil saya
suster . Saya mahasiswa dari STIKES Bina Sehat PPNI Mojokerto. Kalau
boleh tahu, bapak namanya siapa? Dan senang dipanggil siapa??

b. Evaluasi / Validasi

Bagaimanakah perasaan bapak pagi ini?? Apakah saya boleh duduk di samping
bapak ? Masih ada perasaan kesal atau marah? Apa yang terjadi di rumah?

c. Kontrak
Topik : Bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol tentang perasaan yang
dialami mbak selama ini?
Tempat : Bapak mau ngobrol-ngobrol dengan saya dimana? Bagaimana
di depan saja sambil duduk-duduk?
Waktu : Bapak mau ngobrol dengan saya berapa lama ? Bagaimana
kalau 15 menit ?
2. Fase Kerja
Permisi bapak... bagaimanakah perasaan bapak pagi ini?

Apa yang menyebabkan Bapak N marah? Apakah sebelumnya Bapak pernah


marah? Terus, penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang? O...iya, jadi ada 2
penyebab marah pada Bapak N. Kira-kira ada penyebab lain? Misalnya punya masalah
dengan teman bapak!

Pada saat penyebab marah itu muncul, seperti saat teringat dengan ibu bapak,
apa yang mbak rasakan? Apakah bapak merasakan kesal kemudian dada bapak
berdebar-debar, mata melotot, rahang terkatup rapat, dan tangan mengepal, mudah
marah? Setelah itu apa yang dilakukan bapak?

Jadi Bapak N mengamuk, membanting barang-barang, marah-marah. Apakah


dengan cara ini masalah bapak akan terselesaikan? Iya, tentu tidak. Apa kerugian
dengan cara yang bapak lakukan ? Betul, keluarga bapak jadi ketakutan, barang-
barang dirumah jadi rusak. Menurut bapak adakah cara lain yang lebih baik? Maukah
bapak belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan dengan baik tanpa
menimbulkan kerugian?

Ada beberapa cara untuk mengendalikan kemarahan, salah satunya adalah


dengan cara fisik. Jadi, melalui kegiatan fisik, rasa marah disalurkan. Bagaimana kalau
kita belajar 2 cara dulu?

Begini bapak, kalau tanda-tanda marah sudah bapak rasakan, bapak berdiri, lalu
tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan atau tiup perlahan-lahan melalui
mulut seperti mengelurkan kemarahan. Ayo coba lagi, tarik dari hidung, bagus..,
tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali. Bagus sekali, Bapak N sudah bisa
melakukannya. Bagaimana perasannya?

Selainnya napas dalam bapak juga dapat memukul kasur dan bantal.
Sekarang, mari kita latihan memukul kasur dan bantal. Mana kamar Bapak? Jadi
kalau nanti bapak kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan lampiaskan
kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan bantal. Nah, coba lakukan, pukul
kasur dan bantal. Ya, bagus sekali bapak melakukannya!
Kekesalan yang bapak rasakan, lampiaskan ke kasur atau bantal.
Nah, cara ini pun dapat dilakukan secara rutin jika ada perasaan marah.
Kemudian jangan lupa rapikan tempat tidurnya.
Nah, sebaiknya latihan ini bapak lakukan secara rutin sehingga bila sewaktu-
waktu rasa marah itu muncul Bapak N sudah terbiasa melakukannya.
3. Terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif :
Bagaimana perasaan bapak sekarang, setelah menceritakan masalah bapak
kepada saya, dan berbincang-bincang dengan saya ?
Evaluasi Obyektif :
Setelah kita ngobrol-ngobrol apakah bapak masih ingat apa saja yang
membuat bapak sering marah dan kesal ? Iya, jadi ada dua penyebab bapak
marah.(sebutkan) dan yang bapak rasakan ..(sebutkan).
b. Rencana tindak lanjut
Setelah ini coba bapak ingat-ingat lagi penyebab bapak marah dan apa yang
bapak lakukan saat marah. Dan kalau ada keinginan marah sewaktu-waktu
gunakan cara fisik yang kita pelajari tadi.
c. Kontrak
Topik :
Bapak nanti kita akan ngobrol-ngobrol lagi mengenai mengenai latihan cara
mengendalikan marah dengan belajar bicara yang baik.
Waktu :
Nanti kita ketemu lagi jam 16.00 WIB , bagaimana?
Tempat :
Bapak nanti ingin ngobrol-ngobrol dengan saya dimana ? gimana kalau disini
lagi saja?
Baiklah kalau begitu perbincangan kita sekarang, kita sudahi dulu ya? Terima
kasih dan sampai jumpa lagi ya bapak..! wassalamualaikum....!!!
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

PADA Tn.N dengan Perilaku Kekerasan

PERTEMUAN KEDUA

Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan


Masalah : Perilaku Kekerasan
Pertemuan :2
Hari/tgl :
Jam : 16.00 WIB
Proses keperawatan
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien telihat lebih tenang, wajah tegang, pandangan mata tajam.
2.) Diagnosa keperawatan
Perilaku Kekerasan
3.) Tujuan keperawatan
Tujuan umum : Klien tidak menciderai diri.
Tujuan khusus :
TUK 7 : Klien dapat mendemonstrasikan cara social untuk mencegah perilaku
kekerasan.
4.) Rencana Tindakan Keperawatan : (SP 2)
Evaluasi kegiatan lalu (SP 1)
Latihan verbal (3 macam)
Masukkan jadwal kegiatan pasien.

B. Strategi komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum, selamat sore bapak? Sesuai janji saya kemarin, sekarang kita
ketemu lagi.
b. Evaluasi / Validasi data
Bagaimana perasaan bapak sore ini? Bagaimana bapak, sudah dilakukan latihan
tarik nafas dalam dan pukul kasur bantal?Apa yang dirasakan setelah melakukan
kegiatan latihan secara teratur?
Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya.
Bagus. Nah kalau tarik napas dalamnya dilakukan sendiri tulis M, artinya
mandiri; kalau diingatkan suster baru dilakukan tulis B, artinya dibantu atau
diingatkan. Nah kalau tidak dilakukan tulis T, artinya belum bisa dilakukan.
c. Kontrak
Topik : Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara untuk mencegah
marah??
Tempat :Dimana kita mau berbincang-bincang?? Bagaimana kalau di teras depan
kamar bapak saja ?
Waktu : Mau berapa lama bapak ?? Apakah 20 menit cukup ?
2. Fase kerja

Sekarang kita latihan cara bicara yang baik untuk mencegah marah. Jika marah
sudah disalurkan melalui tarik napas dalam atau pukul kasur dan bantal, dan sudah lega,
maka kita perlu bicara dengan orang yang membuat kita marah. Ada tiga caranya mbak:

(1) Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak
menggunakan kata-kata kasar. Misalnya bapak ingin meminta sesuatu pada orang
lain, harus dilakukan dengan perkataan yang baik tanpa nada suara tinggi. Coba
bapak minta makanan dengan cara baik:
Bu, bolehkah saya minta makanan?karna saya lapar. nanti bisa dicoba disini
untuk meminta baju, minta obat dan lain-lain. coba bapak praktekkan. Bagus pak.
(2) Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan bapak tidak ingin
melakukannya, katakan: Maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada
kerjaan. coba bapak praktikkan. Bagus.
(3) Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat
kesal bapak dapat mengatakan: saya jadi ingin marah karena perkataanmu itu.
Coba praktikkan. Bagus.
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara
mengontrol marah dengan bicara yang baik?
Evaluasi Objektif
Coba bapak sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita pelajari! Bagus
sekali, sekarang kita masukkan dalam jadwal. Berapa kali sehari bapak mau
latihan bicara yang baik? Bisa kita buat jadwal?
Coba masukkan dalam jadwal laihan sehari-hari, misalnya meminta obat, uang,
dan lain lain.
Bagus besok dicoba ya pak!
Mau dimana pak? Di sini lagi? Baik sampai ketemu besok?.
b. Rencana Tindak lanjut klien
Bagaimana kalau besok kita ketemu lagi?
Besok kita akan membicarakan cara lain untuk mengatasi rasa marah bapak
yaitu dengan cara ibadah, bapak setuju.
c. Kontrak
Topik : Bagaimana kalau besok kita membahas mengenai cara lain untuk
mengatasi rasa marah bapak yaitu dengan cara ibadah
Waktu : Besok kita ketemu lagi jam 09.00 WIB.
Tempat : Bapak ingin bercakap-cakap dengan saya dimana ? apakah tetap disini
atau bagaimana ?
Baiklah kalau begitu kita sudahi perbincangan kita saat ini, terima kasih sampai
jumpa dengan saya besok ya pak!! wassalamualaikum....!!
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

PADA Tn.N dengan Perilaku Kekerasan

PERTEMUAN KETIGA

Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan


Masalah : Perilaku Kekerasan
Pertemuan :3
Hari/tgl :
Jam : 09.00 WIB
Proses keperawatan
C. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien telihat lebih tenang, wajah tegang, pandangan mata tajam.
2.) Diagnosa keperawatan
Perilaku Kekerasan
3.) Tujuan keperawatan
Tujuan umum : klien tidak menciderai diri.
Tujuan khusus :
TUK 8 : Klien dapat mendemonstrasikan cara spiritual untuk mencegah perilaku
kekerasan.
4.) Rencana Tindakan Keperawatan : (SP 3)
Evaluasi SP 1,2
Latihan Spiritual (minimal 2 macam)
Masukkan jadwal kegiatan pasien.
D. Strategi komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum, selamat pagi bapak? Sesuai janji saya kemarin, sekarang kita
ketemu lagi
b. Evaluasi / Validasi data
Bagaimana pak,,latihan apa yang sudah dilakukan? Apa yang dirasakan setelah
melakukan latihan secara teratur? Bagus sekali,,bagaimana rasa marahnya?
c. Kontrak
Topik : Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk mencegah rasa
marah yaitu dengan ibadah?
Tempat :Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di tempat
tidur?
Waktu : Berapa lama mau bapak mau berbincang-bincang? Bagaimana kalau 30
menit?
2. Fase kerja
Sekarang kita akan melakukan kegiatan untuk latihan mencegah rasa marah
dengan melakukan ibadah.
Coba ceritakan kegiatan ibadah yang bisa bapak lakukan !! Bagus. Baik, yang
mana mau dicoba?
Nah,,kalau bapak sedang marah coba mbak langsung duduk dan tarik nafas
dalam. Jika marahnya belum reda juga rebahkan badan agar rileks. Jika masih belum
reda juga ambil air wudlu kemudian shalat
Bapak bisa melakukan shalat secara teratur untuk meredakan kemarahan
Coba bapak sebutkan shalat 5 waktu? Bagus. Mau coba yang mana? Coba
sebutkan (untuk yang muslim)?
Selain sholat bapak juga bias melakukan dzikir bila rasa marah bapak muncul.
Dengan berdzikir insyaallah rasa marah bapak akan redah bahkan hilang, serta jangan
lupa untuk selalu berdoa. Sekarang coba bapak sebutkan salah satu bacaan dzikir
yang bapak ketahui. Bagus...!
Lakukan hal-hal tadi ya pak bila rasa marah bapak muncul atau bahkan setiap
saat pak. Gimana bapak mau?

3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara
yang kita pelajari tadi?
Evaluasi Objektif
Jadi sudah berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari? Bagus.
Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan bapak. Mau
berapa kali bapak shalat? Baik kita masukkan shalat..dan..(sesuai kesepakatan
pasien)
Coba bapak sebutkan lagi cara ibadah yang dapat bapak lakukan bila
bapak merasa marah ! Sebutkan,?Bagus sekali, sekarang kita masukkan dalam
jadwal. Berapa kali sehari bapak mau lakukan jadwal shalat? Baik mari kita
masukkan shalat dan... (sesuai kesepakatan pasien).
b. Rencana Tindak lanjut klien
Setelah ini coba mbak lakukan jadwal shalat sesuai jadwal yang telah kita
buat
c. Kontrak
Topik : Baiklah kapan kita bisa bertemu lagi pak ? Baiklah besok kita akan
latihan minum obat secara teratur, bapak setuju?
Waktu : Besok kita ketemu lagi jam 10.00 WIB.
Tempat : Bagaimana kalau besok kita ketemu di ruangan ini saja?

Baiklah kalau begitu kita sudahi perbincangan kita saat ini, terima kasih sampai
jumpa besok ya pak !! wassalamualaikum....!!!(sambil berjabat tangan)
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

PADA Tn.N dengan Perilaku Kekerasan

PERTEMUAN KEEMPAT

Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan


Masalah : Perilaku Kekerasan
Pertemuan :4
Hari/tgl :
Jam : 10.00 WIB
Proses keperawatan
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien telihat lebih tenang, wajah tegang, pandangan mata tajam.
2.) Diagnosa keperawatan
Perilaku Kekerasan
3.) Tujuan keperawatan
Tujuan umum : klien tidak menciderai diri.
Tujuan khusus :
TUK 9 : Klien dapat mendemonstrasikan kepatuhan minum obat untuk mencegah
perilaku kekerasan.
4.) Rencana Tindakan Keperawatan : (SP 3 pasien)
Evaluasi SP 1,2, serta latihan spiritual yang telah dilakukan.
Klien menyebutkan jenis, dosis, dan waktu minum obat serta manfaat dari obat itu
(prinsip 5 benar).
Klien mendemonstrasikan kepatuhan minum obat sesuai jadwal yang ditetapkan.
Masukkan jadwal kegiatan pasien.

B. Strategi komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum, selamat pagi bapak? Sesuai janji saya kemarin, sekarang kita
ketemu lagi
b. Evaluasi / Validasi data
Bagaimana bapak,,sudah dilakukan latihan tarik nafas dalam, pukul kasur bantal,
bicara yang baik serta shalat? Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara
teratur? Coba kita lihat cek kegiatannya
c. Kontrak
Topik : Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang jenis
obat, dosis, waktu minum obat serta kepatuhan minum obat untuk mengontrol
kemarahan mbak.
Tempat : Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di
sini saja?
Waktu : Berapa lama mau mbak mau berbincang-bincang? Bagaimana
kalau 20 menit cukup?
2. Fase kerja
(Perawat membawa obat pasien)
Bapak sudah dapat obat dari dokter?
Berapa macam obat yang bapak minum? Warnanya apa saja? Bagus! Jam berapa
bapak minum? Bagus!
Obatnya ada 3 macam pak,,yang warnanya orange namanya CPZ kegunaanya
agar pikran tenang, yang putih ini namanya THP agar rileks dan tidak tegang, dan
yang merah jambu ini namanya HLP agar pikiran teratur dan rasa marah berkurang.
Semuanya ini harus bapak minum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7
malam
Bila nanti setelah minum obat mulut bapak terasa kering, untuk membantu
mengatasinya bapak bisa mengisap-isap es batu
Bila mata terasa berkunang-kunang, bapak sebaiknya istirahat dan jangan
beraktivitas dulu
Nanti sebelum minum obat ini bapak lihat dulu label di kotak obat apakah benar
nama bapak tertulis disitu, berapa dosis yang hari diminum, jam berapa saja harus
diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar? Disini minta obatnya pada
suster kemudian cek lagi apakah benar obatnya!
Jangan pernah menghentikan minum obat sebelum berkonsultasi dengan dokter
ya pak, karena dapat terjadi kekambuhan
Sekarang kita masukkan waktu minum obatnya ke dalam jadwal ya pak?
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara minum
obat yang benar?
Evaluasi Objektif
Coba bapak sebutkan lagi jenis obat yang bapak minum! Bagaimana cara
minum obat yang benar?
Nah, sudah berapa cara mengontrol perasaan marah yang kita pelajari?
Sekarang kita tambahkan jadwal kegiatannya dengan minum obat. Jangan lupa
laksanakan semua dengan teratur ya?
b. Rencana Tindak lanjut klien
Baik, besok kita bertemu kembali untuk melihat sejauh mana bapak melaksanakan
kegiatan dan sejauh mana dapat mencegah rasa marah.
c. Kontrak
Topik : Baiklah kapan kita bisa bertemu lagi bapak ? Baiklah besok kita akan
bertemu untuk melihat sejauh mana bapak melaksanakan kegiatan minum obat?
Waktu : Besok kita ketemu lagi jam 10.00 WIB.
Tempat : Bagaimana kalau besok kita ketemu di ruangan ini saja?

Baiklah kalau begitu kita sudahi perbincangan kita saat ini, terima kasih sampai
jumpa besok ya pak!! wassalamualaikum....!!!(sambil berjabat tangan).
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

PADA KELUARGA Tn.N dengan Perilaku Kekerasan

PERTEMUAN KELIMA

Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan


Masalah : Perilaku Kekerasan
Pertemuan :5
Hari/tgl :
Jam : 10.00 WIB
Proses keperawatan
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien telihat lebih tenang, wajah sedikit tegang, pandangan mata tajam.
2.) Diagnosa keperawatan
Perilaku Kekerasan
3.) Tujuan keperawatan
Tujuan umum : klien tidak menciderai diri.
Tujuan khusus :
TUK 11 :Klien mendapat dukungan keluarga dalam melakukan cara pencegahan
perilaku kekerasan.
4.) Rencana Tindakan Keperawatan : (SP 1 keluarga)
Identifikasi masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.
Penyuluhan tentang penjelasan PK (penyebab, tanda dan gejala, jenis PK, akibat
PK).
Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera dilaporkan
kepada perawat, seperti melempar atau memukul benda/orang lain.
Cara merawat pasien PK
Latih (simulasi) 2 cara merawat
Rencana tindak lanjut keluarga/ jadwal keluarga untuk merawat.
B. Strategi komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
assalamualaikum bu, perkenalkan nama saya , saya
mahasiswa dari STIKES BINA SEHAT PPNI yang sedang praktik di ruang ini,
saya yang merawat Bapak N. Nama ibu siapa, senangnya di panggil siapa? Boleh
saya tahu ibu siapanya bapak N?

b. Validasi data
Bagaimana perasaan ibu hari ini? Bagaimana kondisi bapak N hari ini?
c. Kontrak
Topik : Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang masalah yang
ibu hadapi selama ini dalam merawat pasien?.
Tempat :Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di sini
saja?
Waktu : Berapa lama mau mbak mau berbincang-bincang? Bagaimana kalau
20 menit cukup?
2. Fase kerja
Bu, apa masalah yang dihadapi dalam merawat Tn.N? Apa yang ibu lakukan?
Baik bu, saya akan coba jelaskan tentang marah Tn.N dan hal-hal yang perlu
diperhatikan.
Bu, marah adalah suatu perasaan yang wajar tetapi bila tidak disalurkan dengan
benar akan membahayakan dirinya sendiri. Orang lain dan lingkungan.
Yang menyebabkan suami ibu marah dan ngamuk adalah kalau dia teringat
dengan ibunya atau bila ia merasa rendah diri karena tidak memiliki ibu lagi,
keinginan tidak terpenuhi.
Kalau nanti wajah suami ibu tampak tegang dan merah, lalu kelihatan gelisah,
itu artinya ia sedang marah, dan biasanya setelah itu ia akan melampiaskannya dengan
membanting-banting perabot rumah tangga atau memukul atau bicara kasar?
Kalau ada perubahan terjadi? Lalu apa yang biasa dia lakukan?
Bila hal tersebut terjadi sebaiknya ibu tetap tenang, bicara lembut tapi tegas,
jangan lupa jaga jarak dan jauhkan benda-benda tajam dari sekitar pasien seperti gelas,
pisau. Jauhkan juga anak-anak kecil dari pasien.
Bila Tn.N masih marah dan ngamuk, segera bawa ke puskesmas atau RSJ dan
laporkan kepada perawat jaga setelah sebelumnya diikat dulu (ajarkan caranya pada
keluarga). Jangan lupa minta bantuan orang lain saat mengikat Tn.N ya bu, lakukan
dengan tidak menyakiti Tn.N dan dijelaskan alasan mengikat yaitu agar pasien tidak
mencederai diri sendiri,orangt lain, dan lingkungan

Nah bu, sudah lihat kenapa yang saya ajarkan kepada Tn.N bila tanda-tanda
kemarahan itu muncul. Ibu bisa bantu Tn.N dengan cara mengingatkan jadwal latihan
cara mengontrol marah yang sudah dibuat, yaitu secara fisik, verbal, spiritual, dan
minum obat teratur.

Kalau Tn.N bisa melakukan latihannya dengan baik jangan lupa dipuji ya bu.
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara merawat
Tn.N?
Evaluasi Objektif
Coba ibu sebutkan lagi cara merawat Tn.n!
b. Rencana Tindak lanjut klien
Baik, besok kita bertemu kembali untuk latihan cara-cara yang telah kita bicarakan
tadi langsung. KepadaTn.N
c. Kontrak
Topik : Baiklah kapan kita bisa bertemu lagi bu? Baiklah 2 hari lagi kita akan
bertemu untuk latihan cara-cara yang kita bicarakan tadi langsung kepada Tn.N?
Waktu : 2 hari lagi kita ketemu jam 10.00 WIB.
Tempat : Bagaimana kalau lusa kita ketemu di ruangan ini saja?
Baiklah kalau begitu kita sudahi perbincangan kita saat ini, terima kasih sampai
jumpa besok ya bu!! wassalamualaikum....!!!(sambil berjabat tangan)
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

PADA KELUARGA Tn.N dengan Perilaku Kekerasan

PERTEMUAN KEENAM

Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan


Masalah : Perilaku Kekerasan
Pertemuan :6
Hari/tgl :
Jam : 10.00 WIB
Proses keperawatan
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien telihat lebih tenang, wajah tegang, pandangan mata tajam.
2.) Diagnosa keperawatan
Perilaku Kekerasan
3.) Tujuan keperawatan
Tujuan umum : klien tidak menciderai diri.
Tujuan khusus : TUK 11 :Klien mendapat dukungan keluarga dalam melakukan cara
pencegahan perilaku kekerasan.
4.) Rencana Tindakan Keperawatan : (SP 2 keluarga)
Evaluasi (SP 1 keluarga).
Latih (simulasi) 2 cara lain untk merawat.
Latih ( langsung ke pasien)
RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat.
B. Strategi komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum ibu, sesuai dengan janji kita 2 hari yang lalu sekarang kita
bertemu lagi untuk latihan cara-cara mengontrol rasa marah Tn.N
b. Evaluasi / Validasi data
Bagaimana bu? Masih ingat diskusi kita yang lalu? Ada yang mau ibu tanyakan?
c. Kontrak
Topik : Bagaimana kalau sekarang kita latihan tentang cara mengontrol
marah Tn.N serta nanti kita bisa peragakan langsung kepada pasien
Tempat : Dimana enaknya kita melakukan latihan? Bagaimana kalau di
sini saja? Sebentar saya panggilkan Tn.N dulu supaya bisa berlatih bersama.
Waktu : Berapa lama ibu atau bapak mau untuk latihan? kalau 20 menit
cukup?
2. Fase kerja
Nah Pak, coba ceritakan kepadaistri bapak, latihan yang sudah bapak lakukan. Bagus
sekali, coba perlihatkan kepada istri bapak jadwal harian bapak ! bagus
Nanti dirumah, ibu bisa membantu Tn.N latihan mengontrol kemarahan.
Sekarang kita akan coba latihan bersama-sama ya bu?
Masih ingat pak, buk, kalau tanda-tanda marah? Sudah bapak rasakan maka yang
harus dilakukan bapak adalah?
Ya betul, bapak berdiri, lalu tarik nafas dari hidung, tahan sebentar lalu keluarkan.
Atau tiup perlahan-lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan.
Ayo coba lagi, tarik dari hidung, ya bagus.bagus., tahan, dan tiup melalui mulut.
Nah, lakukan 5 kali, coba ibu temani dan bapak menghitung latihan ini sampai 5 kali.
Bagus sekali, bapak dan ibu sudah melakukannya dengan baik.
Cara yang kedua masih ingat pak, ibu?
Ya. Benar, kalau ada yang menyebabkan bapak marah dan muncul perasaan kesal,
berdebar-debar, mata melotot, selain nafas dalam, bapakbisa pukul kasur dan bantal.
Sekarang kita coba latihan memukul kasur dan bantal. Mana kamar bapak? Jadi
nanti kalau bapak kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan langsung lampiaskan
kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan bantal.
Nah, coba bapak lakukan dengan didampingiistri bapak, berikan bapak semangat ya
buk. Ya, bagus sekali bapak melakukannya.
Cara yang ketiga adalah bicara yang baik, bila sedang marah. Ada tiga cara pak,
coba praktikkan langsung kepada istrinya cara bicara ini :
1) Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak
menggunakan kata-kata kasar, misalnya : buu, saya perlu uang untuk beli rokok !
coba bapak praktikkan. Bagus pak.
2) Menolak dengan baik, jika ada yang meyuruh dan bapak tidak ingin melakukannya,
katakan maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada pekerjaan. Coba
bapak praktikkan. Bagus pak.
3) Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal
bapak dapat mengatakan : saya jadi ingin marah karena perkatannmu itu. Coba
praktikkan. Bagus. Sekali pak.

Ibu selain 2 cara yang tadi sekarang saya mau kasih tahu cara lain untuk mengontrol
kemarahan dari Tn.N, yaitu dengan cara melakukan kegiatan spiritual (seperti sholat)
dan yang terakhir adalah dengan cara memberikan obat secara teratur kepadaTn.N.
ibu harus selalu mengingatkan Tn.N untuk melakukan kegiatan ibadah untuk
mengurangi rasa marah dan menambah ketenangan Tn.N selain itu harus juga selalu
mengingatkan untuk selalu minum obat secara tepat waktu. Ibu juga harus mengetahui
berapa jenis obat yang harus diminum oleh pasien dan jam berapa saja
Dua hari yang lalu sudah saya jelaskan terapi pengobatan yang mbak dapatkan, ibu
tolong selama dirumah ingatkan Tn.N untuk meminumnya secara teratur dan jangan di
hentikan tanpa sepengetahuan dokter
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif
Baiklah bu, latihan kita sudah selesai. Bagaimana perasaan ibu setelah kita
latihan cara-cara mengontrol marah langsung kepada Tn.N?
Evaluasi Objektif
Bisa ibu sebutkan lagi ada berapa cara mengontrol marah yang tadi sudah kita
latih pada pasien?.
b. Rencana Tindak lanjut klien
Baik, besok kita bertemu kembali untuk latihan cara-cara yang lain yang telah kita
bicarakan tadi langsung. Kepada Tn.N
c. Kontrak
Topik : Baiklah kapan kita bisa bertemu lagi bu? Baiklah besok kita akan
bertemu untuk latihan cara lain merawat Tn.N
Waktu : Besok kita ketemu lagi jam 10.00 WIB.
Tempat : Bagaimana kalau besok kita ketemu di ruangan ini saja?

Baiklah kalau begitu kita sudahi perbincangan kita saat ini, terima kasih sampai
jumpa besok ya bu!! wassalamualaikum....!!!(sambil berjabat tangan)
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

PADA KELUARGA Tn.N dengan Perilaku Kekerasan

PERTEMUAN KETUJUH

Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan


Masalah : Perilaku Kekerasan
Pertemuan :7
Hari/tgl :
Jam : 10.00 WIB
Proses keperawatan
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien telihat lebih tenang, wajah tidak tegang.
2.) Diagnosa keperawatan
Perilaku Kekerasan
3.) Tujuan keperawatan
Tujuan umum : klien tidak menciderai diri.
Tujuan khusus :
TUK 11 :Klien mendapat dukungan keluarga dalam melakukan cara pencegahan
perilaku kekerasan.
4.) Rencana Tindakan Keperawatan : (SP 3 keluarga)
Evaluasi (SP 1,2 keluarga).
Latihan (langsung ke pasien)
RTL keluarga/ jadwal keluarga untuk merawat.
B. Strategi komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum bu, karena Tn.N akan segera boleh pulang, maka sesuai janji
kita sekarang ketemu untuk latihan cara lain merawat langsung pada pasien
b. Evaluasi / Validasi data
Bagaimana bu? Masih ingat diskusi kita yang kemarin? ada yang mau ibu
tanyakan?
c. Kontrak
Topik : Bagaimana kalau sekarang kita latihan tentang cara lain
mengontrol marah Tn.N secara langsung kepada pasien
Tempat : Dimana enaknya kita latihan? Bagaimana kalau di kamar pasien
saja?
Waktu : Berapa lama mau ibu dan bapak mau latihan? Bagaimana kalau
30 menit cukup?
2. Fase kerja
nah bapak, coba ceritakan lagi kepada istri bapak, latihan yang sudah bapak
lakukan. Bagus sekali, coba perlihatkan lagi kepada istri bapak jadwal harian
bapak ! bagus
nanti dirumah, ibu bisa membantu Tn.N latihan mengontrol kemarahan
seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya. Ibu masih ingat?
selain 2 cara itu kan kemarin kita pelajari cara lain yaitu cara spiritual dan
minum obat
sekarang kita akan coba latihan bersama-sama ya bu?
Masih ingat Tn.N, buk, kalau tanda-tanda marah? sudah bapak rasakan
maka yang harus dilakukan bapak adalah?
ya betul, dengan napas dalam dan komunikasi verbal yang baik, selain itu
mbak masih ingat cara yang lain?
Bagus bapak masih ingat, sekarang tunjukkan caranya dengan didampingi
olehistri bapak ya?
bapak coba jelaskan berapa macam obatnya ! bagus. Jam berapa minum obat?
Bagus. Apa guna obat? Bagus, apakah boleh mengurangi atau menghentikan obat?
Wah bagus sekali
Dua hari yang lalu sudah saya jelaskan terapi pengobatan yang bapak dapatkan, ibu
tolong selama dirumah ingatkan Tn.N untuk meminumnya secara teratur dan jangan di
hentikan tanpa sepengetahuan dokter
bagus sekali, bapak dan ibu sudah melakukannya dengan baik.
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif
Baiklah bu, latihan kita sudah selesai. Bagaimana perasaan ibu setelah kita
latihan cara-cara mengontrol marah langsung kepada Tn.N?
Evaluasi Objektif
bisa ibu sebutkan lagi ada berapa cara mengontrol marah yang tadi sudah kita
latih pada pasien? selanjutnya tolong pantau dan motivasi Tn.N melaksanakan
jadwal latihan yang telah dibuat selama di rumah nanti. Jangan lupa berikan
pujian untuk dia bila dapat melakukan dengan benar ya bu.
b. Rencana Tindak lanjut klien
Karena Tn.n sebentar lagi sudah mau pulang bagaimana kalau 2 hari lagi ibu
bertemu saya untuk membicarakan jadwal aktivitas bapak selama di rumah nanti.
c. Kontrak
Topik : baiklah kapan kita bisa bertemu lagi bu? Baiklah lusa kita akan
bertemu untukmembicarakan jadwal aktivitas bapak selama di rumah nanti
Waktu : lusa kita ketemu lagi jam 10.00 WIB.
Tempat : Bagaimana kalau besok kita ketemu di ruangan ini saja?

Baiklah kalau begitu kita sudahi perbincangan kita saat ini, terima kasih sampai
jumpa besok ya bu!! wassalamualaikum....!!!(sambil berjabat tangan)
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

PADAKELUARGA Tn.N dengan Perilaku Kekerasan

PERTEMUAN KEDELAPAN

Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan


Masalah : Perilaku Kekerasan
Pertemuan :8
Hari/tgl :
Jam : 10.00 WIB
Proses keperawatan
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien telihat lebih tenang, wajah tidak tegang.
2.) Diagnosa keperawatan
Perilaku Kekerasan
3.) Tujuan keperawatan
Tujuan umum : klien tidak menciderai diri.
Tujuan khusus :
TUK 11 :Klien mendapat dukungan keluarga dalam melakukan cara pencegahan
perilaku kekerasan.
4.) Rencana Tindakan Keperawatan : (SP 4 keluarga)
Evaluasi (SP 1,2,3 keluarga).
Anjurkan kepada keluarga untuk mempraktikkan latihan simulasi pada klien
selama dirumah sakit dan melnajutkannya setelah pulang kerumah
RTL keluarga/ jadwal keluarga untuk merawat.
B. Strategi komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum bu, karena besok Tn.N sudah boleh pulang, maka sesuai janji
kita sekarang ketemu untuk membicarakan jadwal Tn.N selama di rumah
b. Evaluasi / Validasi data
bagaimana bu, selama ibu membesuk apakah sudah terus di latih cara merawat
Tn.N? Apakah sudah dipuji keberhasilannya?
c. Kontrak
Topik : Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang jadwal
kegiatan Tn.N selama dirumah
Tempat : Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di
sini saja?
Waktu : Berapa lama mau ibu dan bapakmau berbincang-bincang?
Bagaimana kalau 30 menit cukup?
3. Fase kerja

Ibu bagaimana setelah pertemuan dengan saya kemarin, apakah ibu masih ingat
dengan yang saya ajarkan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya? Jika masih ingat,
bisa di ulang sedikit pada saya?
Bu, jadwal yang telah dibuat selama Tn.N di rumah sakit tolong dilanjutkan di
rumah, baik jadwal aktivitas maupun jadwal minum obatnya, jangan lupa tetap
memberikan apresiasi berupa pujian terhadap Tn.N nantinya.. Mari kita lihat jadwal
Tn.N!
Menurut Ibu ada tidak perbaikan perilaku atau perkembangan yang terjadi pada
Tn.N setelah diberikan cara-cara mengontrol kemarahan? Ya tentu saja mengalami
perkembangan, oleh karena itu saya harapkan ibu selalu mengingatkan kegiatan atau
cara-cara yang sudah kita pelajari
Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan
oleh Tn.N selama di rumah. Kalau misalnya menolak minum obat atau
memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi
suster R di puskesmas cepat sembuh, Puskesmas terdekat dari rumah ibu, ini nomer
telepon puskesmasnya...
Jika tidak teratasi suster R akan merujuknya ke BPKJ.
selanjutnya suster R akan memantau perkembangan Tn.N selama di rumah
4. Fase terminasi
b. Evaluasi
Evaluasi Subjektif
Baiklah bu, latihan kita sudah selesai. Bagaimana perasaan ibu setelah kita
membicarakan jadwal di rumah?
Evaluasi Objektif
bisa ibu sebutkan lagi ada apa saja jadwal Tn.N dirumah?
c. Rencana Tindak lanjut klien
Rujukan pulang
TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK
STIMULASI PERSEPSI : PERILAKU KEKERASAN

A. TOPIK
Perilaku Kekerasan
Sesi 1: Mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

B. TUJUAN
1. Klien dapat menyebutkan stimulus penyebab kemarahan.

2. Klien dapat menyebutkan respon yang dirasakan saat marah (tanda dan gejala marah )

3. Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah (perilaku kekerasan )

4. Klien dapat menyebutkan akibat perilaku kekerasan.

5. Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara


fisik(dengan latihan nafas dalam)

C. LANDASAN TEORI
Umumnya klien dengan Perilaku Kekerasan dibawa dengan paksa ke Rumah Sakit
Jiwa. Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan pengawalan
oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi. Perilaku Kekerasan seperti memukul anggota
keluargaatauorang lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan alasan
utama yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga. Penanganan oleh keluarga belum
memadai, keluarga seharusnya mendapat pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien
(manajemen perilaku kekerasan).
Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah.
Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa
jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan
sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal
mencapai keinginan.
Keliat dkk. (2002) mengemukakan cara khusus yang dapat dilakukan keluarga dalam
mengatasi marah klien yaitu :
1. Tindakan Keperawatan
a. Berteriak, menjerit, dan memukul.
Terima marah klien, diam sebentar, arahkan klien untuk memukul barang yang tidak
mudah rusak seperti bantal, kasur
b. Cari gara-gara.
Bantu klien latihan relaksasi misalnya latihan fisik maupun olahraga, Latihan
pernafasan 2X/ hari, tiap kali 10 kali tarikan dan hembusan nafas.
c. Bantu melalui humor.
Jaga humor tidak menyakiti orang, observasi ekspresi muka orang yang menjadi
sasaran dan diskusi cara umum yang sesuai.
2. Terapi Medis
Psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan tujuan untuk mengurangi atau
menghilangkan gejala gangguan jiwa.
Dengan terapy stimulasi persepsi, klien dilatih mempersepsikan stimulus, yang
disediakan atau yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan
ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini diharapkan respon klien terhadap berbagai
stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif, sehingga mampu untuk membantu klien
dengan perilaku kekerasan dalam mengendalikan amarah.

D. KLIEN
1. Kriteria
Klien yang tidak terlalu gelisah.
klien yang bisa kooperatif dan tidak mengganggu berlangsungnya Terapi Aktifitas
Kelompok
Klien tindak kekerasan yang sudah sampai tahap mampu berinteraksi dalam kelompok
kecil
Klien tenang dan kooperatif
Kondisi fisik dalam keadaan baik
Mau mengikuti kegiatan terapi aktivitas
Klien yang dapat memegang alat tulis
Klien yang panca inderanya masih memungkinkan
2. Proses seleksi
Berdasarkan observasi klien sehari-hari
Berdasarkan informasi dan diskusi dengan perawat ruangan mengenai prilaku klien
sehari-hari
Hasil diskusi kelompok
Berdasarkan asuhan keperawatan
Adanya kesepakatan dengan klien

E. PENGORGANISASIAN
1. Waktu
a. Hari / tanggal :
b. Jam :
c. Acara : menit
- Pembukaan : menit
- Perkenalan pada klien : menit
- Perkenalan TAK : menit
- Persiapan : menit
- Pelaksanaan : menit
- Penutup : menit
d. Tempat : Aula
e. Jumlah pasien : 4-6 orang
2. Tim terapis
a. Leader :
Bertugas :
- Memimpin jalannya acara terapi aktivitas kelompok
- Memperkenalkan anggota terapi aktivitas kelompok
- Menetapkan jalannya tata tertib
- Menjelaskan tujuan diskusi
- Dapat mengambil keputusan dengan menyimpulkan hasil diskusi pada kelompok
terapi diskusi tersebut .
- Kontrak waktu
Menyimpulkan hasil kegiatan
Menutup acara
b. Co leader
Bertugas :
- Mendampingi leader jika terjadi bloking
- Mengoreksi dan mengingatkan leader jika terjadi kesalahan
- Bersama leader memecahkan penyelesaian masalah
c. Observer
Bertugas :
- Mengobservasi persiapan dan pelaksanaan TAK dari awal sampai akhir
- Mencatat semua aktifitas dalam terapi aktifitas kelompok
- Mengobservasi perilaku pasien
d. Fasilitator
Bertugas :
- Membantu klien meluruskan dan menjelaskan tugas yang harus dilakukan
- Mendampingi peserta TAK
- Memotivasi klien untuk aktif dalam kelompok
- Menjadi contoh bagi klien selama kegiatan
e. Anggota
Bertugas : Menjalankan dan mengikuti kegiatan terapi
3. Metode dan media
a. Metode
Dinamika kelompok
Diskusi dan tanya jawab
Permainan
b. Alat :
Kertas
Spidol
Buku catatan dan pulpen
Jadwal kegiatan klien
Bola
c. Setting
Terapis dan klien duduk bersama
Ruangan nyaman dan tenang.

CO
LEADER

OBSERVER

F. PEMBAGIAN TUGAS
Leader :
Co Leader :
Observer :
Fasilitator :

G. LANGKAH KEGIATAN
1. Persiapan
a) Memilih klien perilaku kekerasan yang sudah kooperatif
b) Membuat kontrak dengan klien
c) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a) Salam terapeutik

Salam dari terapis kepada klien.


Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama)
Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama)
b) Evaluasi validasi

Menanyakan perasaan klien saat ini


Menanyakan masalah yang dirasakan.
c). Kontrak

Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenalkan kelompok, harus minta izin


pada terapis.
Menjelaskan aturan main berikut.
- Jika klien ada yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin pada
terapis.
- Lama kegiatan 45 menit.
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.

3. Tahap kerja
a) Leader membacakan aturan permainan :
Salah satu peserta TAK memegang bola, sambil operator memainkan musik.
Bila musik berhenti, dan ada salah satu peserta TAK yang memegang bola
berarti, ia harus menyebutkan penyebab perilaku kekerasan, tanda gejala yang
dirasakan, perilaku kekerasan yang pernah dilakukan, akibat, serta
mempraktekkan cara mengontrol PK dengan latihan fisik (cara nafas dalam)
- Permainan dimulai. Sampai ditemukan peserta yang tetap berjoget saat
musik berhenti.
- Klien dan terapis mendiskusikan penyebab masalah perilaku kekerasan
Tanyakan pengalaman tiap klien
Tulis di kertas
b) Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien saat terpapar oleh penyebab
marah sebelum perilaku kekerasan terjadi.
Tanyakan perasaan tiap klien saat terpapar oleh penyebab (tanda dan gejala)
Tulis di kertas
c) Mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien (verbal, merusak
lingkungan, mencederai, memukul, orang lain, dan memukul diri sendiri)
Tanyakan perilaku yang dilakukan saat marah
Tulis di kertas
d) Mendiskusiksan dampak/akibat perilaku kekerasan.
Tanyakan akibat perilaku kekerasan.
Tulis di papan tulis di kertas
e) Meminta pasien mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara
fisik (latihan nafas dalam)
f) Menanyakan perasaan klien setelah selesai bermain paran/stimulasi.
g) Memberikan reinforcement pada peran serta klien.
h) Dalam menjalankan kegiatan TAK upayakan semua klien terlibat.
i) Observer memberi kesimpulan/evaluasi tentang jalannya TAK, mengenai jawaban
klien tentang penyebab, tanda dan gejala, perilaku kekerasan, dan akibat perilaku
kekerasan. Selanjutnya observer memberikan pujian atas peran serta klien dalam
pelaksanaan TAK serta memberi motivasi pada klien untuk meningkatkan
kemampuannya dalam berlatih cara mengontrol perilaku kemarahan.
j) Menanyakan kesediaan klien untuk mempelajari cara baru yang sehat menghadapi
kemarahan.
4. Tahap Terminasi
a) Evaluasi
Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
Memberikan reinformennt positif terhadap perilaku klien positif.
b) Tindak Lanjut
Menganjurkan klien menilai dan mengevaluasi jika terjadi penyebab marah,
yaitu tanda dan gejala, perilaku kekerasan yang terjadi, serta akibat perilaku
kekerasan.
Menganjurkan klien mengingat penyebab, tanda dan gejala, perilaku kekerasan
dan akibat yang belum diceritakan.
c) Kontrak yang akan datang
Menyepakati belajar cara baru yang sehat untuk mencegah perilaku kekerasan.
Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap kerja.Aspek yang
dievaluasi adalah kemempuan klien dengan tujuan TAK.Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku
kekerasan Sesi 1, kemampuan yang diharapkan adalah mengetahui perilaku, mengenal tanda dan
gejala, perilaku kekerasan yang dilakukan dan akibat perilaku kekerasan.Formulir evaluasi
sebagai berikut.
Sesi 1 TAK

Tujuan
1. Klien dapat menyebutkan stimulasi penyebab kemarahannya.
2. Klien dapat menyebutkan respons yang dirasakan saat marah (tanda dan gejala marah).
3. Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah (perilaku kekerasan).
4. Klien dapat menyebutkan akibat perilaku kekerasan.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Hari/Tanggal :
Waktu : Pukul. 11.00 s.d selesai
Alokasi waktu : Perkenalan dan Pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (25 menit)
Penutup (10 menit)
Tempat :

Tim Terapis
Leader : Robby Yanuar
Co-Leader : Ach. Rizal I
Fasilitator : Gilda Vania
Diah Ayu
Observer : Ach. Zunaidi Kahfi
Rizal Wahyu M

Alat
1. Papan tulis/flipchart/whiteboard
2. Kapur/spidol
3. Buku catatan dan pulpen
4. Jadwal kegiatan klien
Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran/simulasi

Langkah kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih klien perilaku kekerasan yang sudah kooperatif.
b. Membuat kontrak dengan klien.
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

2. Orientasi
a. Salam terapeutik
a) Salam dari terapis kepada klien.
b) Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama).
c) Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama).
b. Evaluasi/validasi
a) Menanyakan perasaan klien saat ini.
b) Menanyakan masalah yang dirasakan.
c. Kontrak
a) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan.
b) Menjelaskan aturan main berikut
1. Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
terapis.
2. Lama kegiatan 45 menit.
3. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.

3. Tahap kerja
a. Mendiskusikan penyebab marah.
1) Tanyakan pengalaman tiap klien.
2) Tulis di Papan tulis/flipchart/whiteboard
b. Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien saat terpapar oleh penyebab
marah sebelum perilaku kekerasan terjadi.
1) Tanyakan perasaan tiap klien saat terpapar oleh penyebab (tanda dan gejala).
2) Tulis di Papan tulis/flipchart/whiteboard
c. Mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien (verbal, merusak
lingkungan, mencederai/memukul orang lain, dan memukul diri sendiri.
1) Tanyakan perilaku yang dilakukan saat marah.
2) Tulis di Papan tulis/flipchart/whiteboard
d. Membantu klien memilih salah satu perilaku kekerasan yang paling sering dilakukan
untuk diperagakan.
e. Melakukan bermain peran/simulasi untuk perilaku kekerasan yang tidak berbahaya
(terapis sebagai sumber penyebab dan klien yang melakukan perilaku kekerasan).
f. Menanyakan perasaan klien setelah selesai bermain peran/simulasi.
g. Mendiskusikan dampak/akibat perilaku kekerasan.
1) Tanyakan akibat perilaku kekerasan.
2) Tuliskan di Papan tulis/flipchart/whiteboard
h. Memberikan reinforcement pada peran serta klien.
i. Dalam menjalankan a sampai h, upayakan klien terlibat.
j. Beri kesimpulan penyebab; tanda dan gejala; perilaku kekerasan; dan akibat perilaku
kekerasan.
k. Menanyakan kesediaan klien untuk mempelajari cara baru yang sehat menghadapi
kemarahan.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2) Memberikan reinforcement positif terhadap perilaku klien yang positif.
b. Tindak lanjut
1) Menganjurkan klien menilai dan mengevaluasi jika terjadi penyebab marah, yaitu
tanda dan gejala; perilaku kekerasan yang terjadi; serta akibat perilaku kekerasan.
2) Menganjurkan klien mengingat penyebab; tanda dan gejala; perilaku kekerasan
dan akibatnya yang belum diceritakan.
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati belajar cara baru yang sehat untuk mencegah perilaku kekerasan.
2) Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

Stimulasi perilaku Kekerasan

Kemampuan Psikologi

Memberi Tanggapan Tentang

Nama Penyebab Tanda & Perilaku Akibat Mempraktekkan cara


No.
klien PK gejala PK kekerasan PK mengontrol PK dengan
nafas dalam

1.

2.

3.

4.

Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mengetahui penyebab perilaku
kekerasan, tanda dan gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan dan
akibat perilaku kekerasan, serta mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan
dengan nafas dalam. Beri tanda + jika mampu dan beri tanda - jika tidak mampu.

Dokumentasi

Dokumentasikan kemempuyan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien.Contoh: Klien mengikuti Sesi 1, TAK stimulus persepsi perilaku
kekerasan.Klien mampu menyebutkan penyebab perilaku kekerasannya( disalahkan dan tidak
diberi uang), mengenal tanda dan gejala yang dirasakan (gregeten dan deg-degan), perilaku
kekerasan yang dilakukan (memukul meja), akibat yang dirasakan (tangan sakit dan dibawa ke
rumah sakit jiwa), dan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan latihan tarik nafas dalam.
Anjurkan klien mengingat dan menyampaikan jika semua dirasakan selama di rumah sakit.
SESI 2: MENCEGAH PERILAKU KEKERASAN FISIK

Tujuan

1. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dilakukan klien.


2. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku kekerasan
3. Klien dapat mendemontrasikan dua kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku kekerasan.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Hari/Tanggal :
Waktu : Pukul. 11.00 s.d selesai
Alokasi waktu : Perkenalan dan Pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (25 menit)
Penutup (10 menit)
Tempat :

Tim Terapis
Leader : Ach. Rizal I
Co-Leader : Robby Yanuar
Fasilitator : Gilda Vania
Diah Ayu
Observer : Ach. Zunaidi Kahfi
Rizal Wahyu M
Setting

1. Terapis dan klien duduk bersama membentuk segi empat


2. Ruangan nyaman dan tenang.

Alat

1. Bantal
2. Sound musik
3. Papan tulis
4. Buku catatan dan pulpen
5. Jadwal kegiatan klien
Metode

1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Permainan

Langkah kegiatan

1. Persiapan
Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut Sesi 1
Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi
a. Salam terapeutik

Salam dari terapis kepada klien.


Klien dan terapis pakai papan nama
b. Evaluasi validasi

Menanyakan perasaan klien saat ini


Menanyakan apakah ada kejadian perilaku kekerasan: penyebab; tanda dan gejala;
perilaku kekerasan serta akibatnya.
c. Kontrak

Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan
Menjelaskan aturan main berikut.
- Klien Bersedia mengikuti TAK
- Berpakaian rapi dan bersih
- Peserta tidak doperbolehkan makan,minum atau merokok selama pelaksanaan
TAK
- Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
terapi
- Lama kegiatan 45 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

3. Tahap kerja

Melakukan pemilihan peserta yang akan di lakukan tahap kerja dengan permainan
sederhana yaitu diputarkan musik,kemudian klien memutar bola yang di pegang,bila musik
di hentikan dan ada peserta TAK yang masih memegang bola berarti dia adalah peserta
yang terpilih untuk dilakukan tahap kerja selanjutnya.

a. Mendiskusikan kegiatan fisik yang biasanya dilakukan oleh klien.

Tanyakan kegiatan: rumah tangga, harian, dan olah raga yang biasa silakukan oleh
klien.
Tulis dipapan tulis/flipchart/whiteboard
b. Menjelaskan kegiatan fisik yang dapat digunakan untuk menyalurkan kemarahan
secara sehat: tarik napas dalam, menjemur/memukul kasur/bantal, menyikat kamar
mandi, main bola,senam, memukul gendang.

c. Membantu klien memilih dua kegiatan yang dapat dilakukan.

d. Bersama klien mempraktekan dua kegiatan yang dipilih.

Terapis mempratekkan
Klien melakukan redemontrasi.
e. Menanyakan perasaan klien setelah mempraktekan cara penyaluran kemarahan.

f. Upayakan semua klien berperan aktif.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
Terapi menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
Menanyakan ulang cara baru yang sehat mencegah perilaku kekerasan.
Beritahukan kemajuan masing masing klien dalam mencapai hasil tiap sesi
b. Tindak lanjut
Menganjurkan klien menggunakan cara yang telah dipelajari jika stimulus
penyebab perilaku kekerasan.
Menganjurkan klien melatih secara teratur cara yang telah dipelajari.
Memasukkan pada jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontak yang akan datang

Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu interaksi sosial yang asertif.
Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi
persepsi perilaku kekerasan sesi 2, kemampuan yang di harapakan adalah dua kemampuan
mencegah perilaku kekerasan secara fisik. Formulir evaluasi sebagai berikut:

Sesi 2: Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan

Kemampuan mencegah perilaku kekerasan fisik

No Nama klien Mempraktekkan cara fisik Mempraktekkan cara


yang pertama fisik yang kedua

1.

2.

3.

4.

5.

6.
Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mempraktekkan 2 cara fisik untuk
mencegah perilaku kekerasan. Beri tanda
Jika klien mampu dan tanda
Jika klien tidak mampu X

Dokumentasi

Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi 2 TAK stimulasi persepsi perilaku
kekerasan, klien mampu mempraktekkan tarik nafas dalam, tetapi belum mampu mempraktekkan
pukul kasur dan bantal. Anjurkan dan bantu klien mempraktekkan di ruang rawat( buat jadwal).
SESI 3 : MENCEGAH PERILAKU KEKERASAN SOSIAL

Tujuan:

1. Klien dapat mengungkapkan keinginan dan permintaan tanpa memaksa

2. Klien dapat mengungkapkan penolakan dan rasa sakit hati tanpa kemarahan

Seting:

1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran


2. Ruangan nyaman dan tenang

Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Hari/Tanggal :
Waktu : Pukul. 11.00 s.d selesai
Alokasi waktu : Perkenalan dan Pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (25 menit)
Penutup (10 menit)
Tempat :

Tim Terapis
Leader : Gilda Vania
Co-Leader : Ach. Rizal I
Fasilitator : Robby Yanuar
Diah Ayu
Observer : Ach. Zunaidi Kahfi
Rizal Wahyu M

Alat ;

1. Papan tulis/flipchart/whiteboard dan alat tulis


2. Buku catatan dan pulpen
3. Jadwal kegiatan klien
Metode :

1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran / simulasi
Langkah kegiatan :

1. Persiapan
a) Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 2
b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi
a) Salam terapiutik
Salam dari terapis kepada klien
Klien dan terapis pakai papan nama
b) Evaluasi /Validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini
Menanyakan apakah ada penyebab marah,tanda dan gejala marah,serta perilaku
kekerasan
Tanyakan apakah kegiatan fisik untuk mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan
c) Kontrak
Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku kekerasan
Menjelaskan aturan main berikut:
- Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis.
- Lama kegiatan 45 menit.
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja
a) Mendiskusikan dengan klien cara bicara jika ingin meminta sesuatu dari orang lain.
b) Menuliskan cara-cara yang disampaikan klien.
c) Terapis mendemonstrasikan cara meminta sesuatu tanpa paksaan yaitu, Saya
perlu/ingin/minta...., yang akan saya gunakan untuk.....
d) Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin c.
e) Ulangi d sampai semua klien mencoba.
f) Memberikan pujian pada peran serta klien.
g) Terapis mendemonstrasikan cara menolak dan menyampaikan rasa sakit hati pada
orang lain, yaitu,Saya tidak dapt melakukan...atauSaya tidak menerima dikatakan
.....atau Saya kesal dikatakan seperti....
h) Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin d.
i) Ulangi h sampai semua klien mencoba.
j) Memberikan pujian pada peran serta klien.

4. Tahap terminasi
a) Evaluasi
Terapis menanyakan perasaan klien setelah melakukan TAK.
Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.
b) Tindak lanjut
Menganjurkan klien menggunakn kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif,
jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi.
Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif secara
teratur.
Memasukkan interaksi sosial yang asertif pada jadwal kegiatan harian pasien.
c) Kontrak yang akan datang
Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu kegiatan ibadah.
Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses Tak berlangsung, khususnya pada tahap kerja.Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi
perilaku kekerasan sesi 3, kemampuan klien yang diharapkan adalah mencegah perilaku
kekerasan secara sosial. Formulir evaluasi sebagai berikut :

Sesi 3: TAKStimulasi persepsi perilaku kekerasan

Kemampuan mencegah perilaku kekerasan sosial

No Nama Klien Memperagakan cara Memperagakan Mamperagakan cara


meminta tanpa paksa cara menolak mengungkapkan
yang baik kekerasan yang baik

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan mempraktikkan pencegahan perilaku
kekerasan secara sosial: meminta tanpa paksa, menolak dengan baik, mengungkapkan
kekesalan dengan baik. Beri tanda jika klien mampu dan tanda jika klien tidak
mampu.
Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti Sesi 3 TAK stimulasi persepsi perilaku
kekerasan. Klien mampu memperagakan cara meminta tanpa paksa, menolak dengan baik dan
mengungkapkan kekerasan. Anjurkan klien mempraktikkan di ruang rawat (buat jadwal).
SESI 4 : MENCEGAH PERILAKU KEKERASAN SPIRITUAL

Tujuan

Klien dapat melakukan kegiatan ibadah secara teratur

Setting

1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.


2. Ruangan nyaman dan tenang.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/Tanggal :
Waktu : Pukul. 11.00 s.d selesai
Alokasi waktu : Perkenalan dan Pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (25 menit)
Penutup (10 menit)
Tempat :

Tim Terapis
Leader : Diah Ayu
Co-Leader : Ach. Rizal I
Fasilitator : Gilda Vania
Robby Yanuar
Observer : Ach. Zunaidi Kahfi
Rizal Wahyu M

Alat

1. Papan tulis/ flipchart/whiteboard dan alat tulis


2. Buku catatan dan pulpen
3. Jadwal kegiatan klien
Metode

1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran/ stimulasi

Langkah kegiatan

1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi.
b. Menyiapkan alat dan tempat

2. Orientasi
a) Salam terapiutik
Salam dari terapis kepada klien
Klien dan terapis pakai papan nama
b) Evaluasi/ validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini.
Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah, serta perilaku
kekerasan.
Tanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif untuk mencegah
perilaku kekerasan sudah dilakukan.
c) Kontrak
Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu kegiatan ibadah untuk mencegah perilaku
kekerasan
Menjelaskan aturan main berikut:
- Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis.
- Lama kegiatan 45 menit.
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja
a) Menanyakan agama dan kepercayaan masing-masing klien.
b) Mendiskusikan kegiatan ibadah yang biasa dilakukan masing-masing klien.
c) Menuliskan kegiatan ibadah masing-masing klien.
d) Meminta klien untuk memilih satu kegiatan ibadah.
e) Meminta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang dipilih.
f) Memberikan pujian pada penampilan klien.

4. Tahap terminasi
a) Evaluasi
Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.
b) Tindak lanjut
Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi sosial yang asertif, dan
kegiatan ibadah jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi.
Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik, interaksi sosial yang asertif, dan
kegiatan ibadah secara teratur.
Memasukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan harian klien.
c) Kontrak yang akan datang
Menyepakati untuk balajar cara baru yang lain, yaitu minum obat teratur.
Menyepakati waktu dan tempat pertemuan berikutnya.

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi
persepsi perilaku kekerasan Sesi 4, kemampuan klien yang diharapkan adalah perilaku 2
kegiatan ibadah untuk mencegah kekerasan. Formulir evaluasi sebagai berikut.

Sesi 4 : TAKStimulasi persepsi perilaku kekerasan

Kemampuan mencegah perilaku kekerasan spiritual


No Nama klien Mempraktikkan kegiatan Mempraktikkan kegiatan
ibadah pertama ibadah kedua

1.

2.

3.

4.

5.

Petunjuk:

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien
2. Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan mempraktikkan pencegahan perilaku
kekerasan secara sosial: meminta tanpa paksa, menolak dengan baik, mengungkapkan
kekesalan dengan baik. Beri tanda jika klien mampu dan tanda jika klien tidak
mampu.

Dokumentasi

Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan
tiap klien. Contoh: klien mengikuti Sesi 4, Tak stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Klien
mampu memperagakan dua cara ibadah. Anjurkan klien melakukannya secara teratur di ruangan
(buat jadwal).
Sesi 5: Mencegah Perilaku Kekerasan Dengan Patuh Mengonsumsi Obat

Tujuan

1. Klien dapat menyebutkan keuntungan patuh minum obat


2. Klien dapat menyebutkan akibat/ kerugian tidak patuh minum obat
3. Klien dapat menyebutkan lima benar cara minum obat
Setting

1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.


2. Ruangan nyaman dan tenang.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Hari/Tanggal :
Waktu : Pukul. 11.00 s.d selesai
Alokasi waktu : Perkenalan dan Pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (25 menit)
Penutup (10 menit)
Tempat :

Tim Terapis
Leader : Ach. Zunaidi Kahfi
Co-Leader : Ach. Rizal I
Fasilitator : Gilda Vania
Diah Ayu
Observer : Robby Yanuar
Rizal Wahyu M

Alat

1. Papan tulis/ flipchart/whiteboard dan alat tulis


2. Buku catatan dan pulpen
3. Jadwal kegiatan klien
4. Beberapa contoh obat
Metode

1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab

Langkah kegiatan

1. Persiapan
a) Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi.
b) Menyiapkan alat dan tempat

2. Orientasi
a) Salam terapiutik
Salam dari terapis kepada klien
Klien dan terapis pakai papan nama
b) Evaluasi/ validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini.
Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah, serta perilaku
kekerasan.
Tanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif untuk mencegah
perilaku kekerasan sudah dilakukan.
c) Kontrak
Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu petuh minum obat untuk mencegah perilaku
kekerasan
Menjelaskan aturan main berikut:
- Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis.
- Lama kegiatan 45 menit.
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja
a) Mendiskusikan macam obat yang dimakan klien: nama dan warna (upayakan tiap
klien menyampaikan).
b) Mendiskusikan waktu minum obat yang biasa dilakukan klien.
c) Tuliskan di whiteboard hasil a dan b.
d) Menjelaskan lima benar minum obat, yaitu benar obat, benar waktu minum obat,
benar orang yang minum obat, benar cara minum obat, benar dosis obat.
e) Minta klien menyebutkan lima benar cara minum obat secara bergiliran.
f) Berikan pujian pada klien yang benar.
g) Mendiskusikan perasaan klien sebelum minum obat(catat diwhiteboard).
h) Mendiskusikan perasaan klien setelah teratur minum obat (catat diwhiteboard).
i) Menjelaskan keuntungan patuh minum obat, yaitu salah satu cara mencegah perilaku
kekerasan/ kambuh.
j) Menjelaskan akibat/ kerugian jika tidak patuh minum obat, yaitu kejadian perilaku
kekerasan/ kambuh.
k) Minta klien menyebutkaa kembali keuntungan patuh minum obat dan kerugian tidak
patuh minum obat.
l) Memberikan pujian setiap kali klien benar.

4. Tahap terminasi
a) Evaluasi
Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.
b) Tindak lanjut
Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi sosial asertif kegiatan
ibadah, dan patuh minum obat untuk mencegah perilaku kekerasan.
Memasukkan minum obat pada jadwal kegiatan harian klien.
c) Kontrak yang akan datang
Mengakhiri pertemuan untuk TAK perilaku kekerasan dan disepakati jika klien perlu
TAK yang lain.

Evaluasi dan Dokumentasi


Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi
persepsi perilaku kekerasan sesi 5, kemampuan yang diharapkan adalah mengetahui lima benar
cara minum obat, keuntungan minum obat, dan akibat tidak patuh minum obat. Formulir evaluasi
sebagai berikut.

Sesi 5: TAKStimulasi persepsi perilaku kekerasan

Kemampuan mencegah perilaku kekerasandengan patuh minum obat

No Nama klien Menyebutkan Menyabutkan Menyebutkan


lima benar keuntungan akibat tidak
minum obat minum obat patuh minum
obat

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien
2. Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan mempraktikkan pencegahan perilaku
kekerasan secara sosial: meminta tanpa paksa, menolak dengan baik, mengungkapkan
kekesalan dengan baik. Beri tanda jika klien mampu dan tanda jika klien tidak mampu.
Dokumentasi

Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien pada catatan proses keperawatan tiap klien.
Contoh : klien mengikuti Sesi 5, TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Klien mampu
menyebutkan keuntungan minum obat, belum dapat menyebutkan keuntungan minum obat
dan akibat tidak minum obat. Anjurkan klien mempraktikkan lima benar cara minum obat,
bantu klien merasakan keuntungan minum obat, dan akibat tidak minum obat.