Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan kajian
pustaka dan teori yang digunakan sebelumya sebagai bahan acuan penelitian ini:

2.1 Penelitian Sebelumnya

Berdasarkan penelitian[1]:Perencanaa Sistem Penerengan Jalan Umum dan


Taman di Areal Kampus USU dengan menggunakan teknologi tenaga surya
(Aplikasi di Areal Pendopo dan Lapangan Parkir). Penerangan umum tenaga surya
merupakan sebuah alternatif yang murah dan hemat untuk digunakan sebagai
sumber listrik penerangan karena menggunakan sumber energi gratis dan tak
terbatas dari alam yaitu energi matahari. Lampu Penerangan Jalan (PJU) tenaga
matahari berbasis LED jenis hi-power yang sangat terang, hemat energi dan tahan
lama menggunakan panel surya / solar cell sebagai sumber yang berfungsi
menerima cahaya (sinar) matahari yang kemudian diubah menjadi listrik melalui
proses photovoltaic. Tulisan ini membahas tentang perancangan lampu
penerangan tenaga surya yang akan diaplikasikan di seluruh areal kampus USU.
Untuk perencanaannya memerlukan komponen panel surya yang diantaranya
adalah modul surya, baterai charger, baterai, controller, dan lampu LED.
Penggunaan PJU tenaga surya sangat lebih efisien bila dibandingkan dengan PJU
yang bersumber dari PLN. Penerangan Jalan Umum dengan menggunakan tenaga
surya (solar cell) dapat mengurangi konsumsi akan tenaga listrik dari PLN. Hasil
yang diperoleh dari perancangan ini adalah perbandingan daya yang dikeluarkan
PLN untuk penerangan umum adalah sebesar 76,66%, sedangkan dengan panel
surya yang menggunakan baterai accu 12 Ah adalah sebesar 23,3%.
Berdasarkan penelitian[2]: Analisi Teknis dan Ekonomis Penerapan
Penerangan Jalan Umum Solar Cell Untuk Kebutuhan Penerangan di Jalan Tol
Darmo Surabaya. Krisis energi adalah masalah yang sangat fundamental di
Indonesia khususnya masalah krisis energi listrik. Energi listrik merupakan energi
yang sangat diperlukan bagi manusia modern. Pada saat terjadi pemadaman listrik,

4
5

maka banyak kegiatan akan terhenti seketika. Sumber energi matahari merupakan
salah satu harapan utama sebagai sumber energi alam yang hampir dapat
dikatakan tidak akan habis. Solar cell merupakan suatu panel yang terdiri dari
beberapa sel dan beragam jenis. Penggunaan solar cell ini telah banyak digunakan
di negara-negara berkembang dan negara maju dimana pemanfaatnya tidak hanya
pada lingkup yang kecil, tetapi sudah banyak digunakan untuk keperluan industri
dan penerangan jalan umum sehingga energi matahari dapat dijadikan
sebagaisumber energi alternatif tertentu. Dalam skripsi ini akan di lakukan analisis
teknis dan ekonomis penerangan PJU solar cell untuk kebutuhan penerangan di
jalan tol darmo Surabaya.
Berdasarkan penelitian[3]: Algoritma Two-Model MPPT Control sebagai
Metode Tracker Daya Maksimum Panel Surya untuk Pengaturan Kerja Zeta
Converter. Daya listrik keluaran panel surya bergantung pada iradiasi cahaya
matahari yang mengenai permukaannya. Diakibatkan cuaca matahari yang bisa
berubah - ubah karena gerak semu harian. Perancangan sistem pembangkit tenaga
surya pasti membutuhkan MPPT (Maximum Power Point Tracker) untuk
memperoleh daya maksimum keluaran panel surya. Pada proyek akhir ini, daya
maksimum panel surya dicari menggunakan algoritma Two-Model MPPT
Control. Algoritma ini adalah hasil kombinasi Incremental Conductance dan
Constant Voltage, yang diklaim dapat bekerja pada iradiasi yang kerap berubah.
Metode Two-Model ini digunakan untuk mencari tegangan pada saat daya
maksimum dalam setiap waktu. Sebagai aktuator dari MPPT, adalah konverter DC
tipe Zeta yang dapat menaikkan dan menurunkan tegangan kerja panel surya
hingga daya masukan konverter berada di titik maksimum. Dari pengujian
integrasi sistem, daya yang dihasilkan antara lain pada pukul 11.00 WIB dengan
panel surya 120 WP, beban baterai 12 Volt 35 Ah, menghasilkan daya tanpa
MPPT sebesar 39,01 Watt, dan daya MPPT sebesar 39,68 Watt. Kenaikan daya
sebesar 1,7%.

2.2 Photovoltaic
Sel surya atau juga sering disebut Photovoltaic adalah divais yang mampu
mengkonversi langsung cahaya matahari menjadi listrik. Sel surya bisa disebut
6

sebagai pemeran utama untuk memaksimalkan potensi sangat besar energi cahaya
matahari yang sampai kebumi, walaupun selain dipergunakan untuk menghasilkan
listrik, energi dari matahari juga bisa dimaksimalkan energi panasnya melalui
sistem solar thermal. Sel surya dapat dianalogikan sebagai divais dengan dua
terminal atau sambungan, dimana saat kondisi gelap atau tidak cukup cahaya
berfungsi seperti dioda, dan saat disinari dengan cahaya matahari dapat
menghasilkan tegangan. Ketika disinari, umumnya satu sel surya komersial
menghasilkan tegangan dc sebesar 0,5 sampai 1 volt, dan arus short-circuit dalam
skala milliampere per cm2.
Besar tegangan dan arus ini tidak cukup untuk berbagai aplikasi, sehingga
umumnya sejumlah sel surya disusun secara seri membentuk modul surya. Satu
modul surya biasanya terdiri dari 28-36 sel surya, dan total menghasilkan
tegangan dc sebesar 12 V dalam kondisi penyinaran standar (Air Mass 1.5).
Modul surya tersebut bisa digabungkan secara paralel atau seri untuk
memperbesar total tegangan dan arus outputnya sesuai dengan daya yang
dibutuhkan untuk aplikasi tertentu. Gambar dibawah menunjukan ilustrasi dari
modul surya.

Gambar 2.1. Ilustrasi Modul surya1

Sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi, jenis-jenis teknologi sel


surya pun berkembang dengan berbagai inovasi. Ada yang disebut sel surya
generasi satu, dua, tiga dan empat, dengan struktur atau bagian-bagian penyusun
sel yang berbeda pula. Dalam tulisan ini akan dibahas struktur dan cara kerja dari

1
https://teknologisurya.wordpress.com/dasar-teknologi-sel-surya/prinsip-kerja-sel-surya/
7

sel surya yang umum berada dipasaran saat ini yaitu sel surya berbasis material
silikon yang juga secara umum mencakup struktur dan cara kerja sel surya
generasi pertama (sel surya silikon) dan kedua (thin film/lapisan tipis).

Gambar 2.2. Struktur dari sel surya komersial yang menggunakan material
silikon sebagai semikonduktor.2

Gambar diatas menunjukan ilustrasi sel surya dan juga bagian-bagiannya. Secara
umum terdiri dari :
1. Substrat/Metal Backing
Substrat adalah material yang menopang seluruh komponen sel surya.
Material substrat juga harus mempunyai konduktifitas listrik yang baik karena
juga berfungsi sebagai kontak terminal positif sel surya, sehingga umumnya
digunakan material metal atau logam seperti aluminium atau molybdenum. Untuk
sel surya dye-sensitized (DSSC) dan sel surya organik, substrat juga berfungsi
sebagai tempat masuknya cahaya sehingga material yang digunakan yaitu material
yang konduktif tapi juga transparan sepertindium tin oxide (ITO) dan flourine
doped tin oxide (FTO).
2. Material Semikonduktor
Material semikonduktor merupakan bagian inti dari sel surya yang
biasanya mempunyai tebal sampai beberapa ratus mikrometer untuk sel surya

2
https://teknologisurya.wordpress.com/dasar-teknologi-sel-surya/prinsip-kerja-sel-surya/
8

generasi pertama (silikon), dan 1-3 mikrometer untuk sel surya lapisan tipis.
Material semikonduktor inilah yang berfungsi menyerap cahaya dari sinar
matahari. Untuk kasus gambar diatas, semikonduktor yang digunakan adalah
material silikon, yang umum diaplikasikan di industri elektronik. Sedangkan untuk
sel surya lapisan tipis, material semikonduktor yang umum digunakan dan telah
masuk pasaran yaitu contohnya material Cu(In,Ga)(S,Se)2 (CIGS), CdTe
(kadmium telluride), dan amorphous silikon, disamping material-material
semikonduktor potensial lain yang dalam sedang dalam penelitian intensif
seperti Cu2ZnSn(S,Se)4 (CZTS) dan Cu2O (copper oxide).
Bagian semikonduktor tersebut terdiri dari junction atau gabungan dari dua
material semikonduktor yaitu semikonduktor tipe-p (material-material yang
disebutkan diatas) dan tipe-n (silikon tipe-n, CdS,dll) yang membentuk p-n
junction. P-n junction ini menjadi kunci dari prinsip kerja sel surya. Pengertian
semikonduktor tipe-p, tipe-n, dan juga prinsip p-n junction dan sel surya akan
dibahas dibagian cara kerja sel surya.
3. Kontak Metal / Contact Grid
Selain substrat sebagai kontak positif, diatas sebagian material
semikonduktor biasanya dilapiskan material metal atau material konduktif
transparan sebagai kontak negatif.
4. Lapisan Antireflektif
Refleksi cahaya harus diminimalisir agar mengoptimalkan cahaya yang
terserap oleh semikonduktor. Oleh karena itu biasanya sel surya dilapisi oleh
lapisan anti-refleksi. Material anti-refleksi ini adalah lapisan tipis material dengan
besar indeks refraktif optik antara semikonduktor dan udara yang menyebabkan
cahaya dibelokkan ke arah semikonduktor sehingga meminimumkan cahaya yang
dipantulkan kembali.
5. Enkapsulasi / Cover Glass
Bagian ini berfungsi sebagai enkapsulasi untuk melindungi modul surya
dari hujan atau kotoran.
Sel surya konvensional bekerja menggunakan prinsip p-n junction, yaitu
junction antara semikonduktor tipe-p dan tipe-n. Semikonduktor ini terdiri dari
ikatan-ikatan atom yang dimana terdapat elektron sebagai penyusun dasar.
9

Semikonduktor tipe-n mempunyai kelebihan elektron (muatan negatif) sedangkan


semikonduktor tipe-p mempunyai kelebihan hole (muatan positif) dalam struktur
atomnya. Kondisi kelebihan elektron dan hole tersebut bisa terjadi dengan
mendoping material dengan atom dopant. Sebagai contoh untuk mendapatkan
material silikon tipe-p, silikon didoping oleh atom boron, sedangkan untuk
mendapatkan material silikon tipe-n, silikon didoping oleh atom fosfor. Ilustrasi
dibawah menggambarkan junction semikonduktor tipe-p dan tipe-n.

Gambar 2.3. Junction antara semikonduktor tipe-p (kelebihan hole) dan tipe-n
(kelebihan elektron)3.

Model matematika yang banyak dikembangkan untuk menirukan


karakteristik elektrikal dari photovoltaic. Gambar 2.4 menunjukkan rangkaian
pengganti sel surya, dimana I dan V adalah arus dan tegangan sel surya,
kemudian, IL adalah cells photocurrent. Rsh dan Rs adalahtahanan shunt dan
tahanan seri dari sel surya[4].

3
eere.energy.gov
10

Gambar 2.4. Rangkaian pengganti Photovoltaic[4]

Persamaan dari rangkaian pengganti pada gambar 2.4 adalah :

(2.1)

Keterangan :

Il = Arus akibat surya


ID = Arus diode (ampere)
Q = Muatan elektron, 1602 x 10-19 C
V = Tegangan keluaran (volt)
I = Arus keluran (ampere)
Rsh = Hambatan paralel pada sel
T = Temperatur sel (kelvin)
IO = Arus output (ampere)
N = Faktor ideal diode ( antara 1 sampai 2)
K = Konstanta Boltzman, 13,38 x 10-23 J/K

Peran dari p-n junction ini adalah untuk membentuk medan listrik
sehingga elektron (dan hole) bisa diekstrak oleh material kontak untuk
menghasilkan listrik. Ketika semikonduktor tipe-p dan tipe-n terkontak, maka
kelebihan elektron akan bergerak dari semikonduktor tipe-n ke tipe-p sehingga
membentuk kutub positif pada semikonduktor tipe-n, dan sebaliknya kutub negatif
pada semikonduktor tipe-p. Akibat dari aliran elektron dan hole ini maka
terbentuk medan listrik yang mana ketika cahaya matahari mengenai susuna p-n
junction ini maka akan mendorong elektron bergerak dari semikonduktor menuju
kontak negatif, yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai listrik, dan sebaliknya hole
11

bergerak menuju kontak positif menunggu elektron datang, seperti diilustrasikan


pada gambar dibawah.

Gambar 2.5.Ilustrasi cara kerja sel surya dengan prinsip p-n junction.4

Daya listrik yang dihasilkan panel surya ketika mendapat cahaya diperoleh
dari kemampuan perangkat panel surya tersebut untuk memproduksi tegangan dan
mengeluarkan arus ketika diberi beban pada waktu yang sama. Kemampuan ini
direpresentasikan dalam kurva arus-tegangan (I-V) dan kurva daya tegangan (P-
V) sesuai pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6. Karakteristik Kurva I-V pada panel surya.5

Keterangan :
Isc = Arus hubung singkat.

4
https://teknologisurya.wordpress.com/dasar-teknologi-sel-surya/prinsip-kerja-sel-surya/
Kartika Novi Hardini, Optimalisasi PV Menggunakan Teknik MPPT dengan Fuzzy Logic
5

Control pada Beban Pompa Air Kolam, PENS-ITS, ,2011, hal 12


12

Vsc = Tegangan tanpa beban.


Vm = Tegangan maksimum.
Im = Arus maksimum.

Pada kurva I-V yang menggambarkan keadaan sebuah panel surya


beroperasi secara normal. Panel surya akan menghasilkan energi maximum jika
nilai Vm dan Im juga maximum, Kurva I-V terdiri dari 3 hal yang penting:
1. Maximum Power Point (Vmp dan Imp) adalah titik operasi, dimana maksimum
pengeluaran/output yang dihasilkan olehpanel surya saat kondisi operasional.
2. Open Circuit Voltage (Voc) adalah kapasitas tegangan maksimum yang dapat
dicapai pada saat tidak adanya arus (arus=0).
3. Short Circuit Current (Isc) adalah maksimum output arus dari panel surya yang
dapat dikeluarkan dengan kondisi short circuit(V=0).

Berikut adalah jenis jenis sel surya berdasarkan teknologi pembuatannya :


1. Monocrystalline
Monocrystalline adalah jenis panel tenaga surya pertama yang dibuat dari
batangan kristal silikon murni dan diiris secara tipis-tipis. Dari irisan-irisan tipis
kristal silikon ini akan dibuat kepingan sel surya kurang lebih yang mampu
menghasilkan tingkat efisiensi kerja yang sangat tinggi, kurang lebih 15% hingga
20%.
Proses pembuatan kristal silikon murni membutuhkan biaya yang sangat mahal
dibandingkan macam jenis panel surya lainnya. Selain itu, masih ada kelemahan
lain, yaitu ketika dibuatkan susunan dalam bentuk panel surya atau solar modul,
sering menyisakan ruang kosong dengan jumlah yang lumayan banyak. Hal ini
dikarenakan bentuknya berupa bulatan atau segi enam.
2. Polycrystalline
Jenis-jenis panel surya kedua adalah polycrystalline yang dibuat dari batang
kristal silikon, lalu dilebur atau dicairkan dan dicetak dalam berbagai macam
bentuk. Tingkat kemurniannya lebih rendah dibanding monocrystalline karena
hanya bisa menghasilkan sel surya yang tidak identik antara sel surya satu dengan
sel surya yang lain. Selain itu, cara kerja panel surya ini tingkat efisiensinya
13

rendah, yaitu antara 13% sampai 16%. Biaya pembuatan jenis panel surya
polycrystalline lebih rendah jika dibandingkan dengan jenis panel surya
monocrystalline sehingga harga sel surya polycrystalline masih di bawahnya.
Wujud dari polycrystalline mirip dengan motif kaca pecah. Ketika disusun untuk
membentuk panel surya, dapat menjadi lebih rapat sehingga tidak ada ruangan
yang kosong. Selain itu, pembuatannya tidak memerlukan proses yang rumit
sehingga ongkos produksinya jadi lebih murah.
Di pasaran Indonesia, harga panel surya polycrystalline mulai 200 ribu hingga 6,5
juta rupiahtergantung pada merk, kualitas hingga kapasitas panel surya itu sendiri.
Harga panel surya ini dapat berubah sewaktu-waktu. Ukuran kapasitasnya mulai
dari 10 WP, 20 WP, 50 WP, 80 WP, 100 WP dan hingga ratusan WP.
3. Thin Film Solar Cell atau TFSC
Jenis panel surya ketiga dinamakan thin film solar cell atau disingkat
TFSC. Komponen pembangkit listrik tenaga surya ini diproduksi melalui teknik
penambahan satu atau beberapa lapisan bahan sel surya yang bentuknya tipis
dalam lapisan paling bawah. Bentuknya sangat tipis dan ringan.
Adapun bahan atau material yang dipakai untuk membuat komponen yang
digunakan dalam pembangkit listrik energi surya ini ada 3 macam. Pertama ialah
amorphous sillicon solar cells yang pada zaman dulu sering dipakai sebagai
sumber energi pada mesin kalkulator atau jam tangan.
Material kedua adalah cadmium telluride solar cells. Bahan ini mempunyai
tingkat efisiensi 9% hingga 11%. Kemudian yang terakhir adalah copper indium
gallium selenide solar cells. Tingkat efisiensinya antara 10% sampai 12% dan
tidak mengandung material berbahaya. Jadi lebih aman digunakan.

2.3. Bidirectional DC-DC Converter


Bidirectional DC-DC converter merupakan konverter yang sering
digunakan dalam aplikasi di mana aliran listrik dua arah mungkin diperlukan.
Konverter ini dapat bekerja dua arah yaitu mode charging untuk menyimpan
energi ke dalam baterai apabila arus beban kurang dari nilai nominal (set
point) dan mode discharging untuk menyalurkan energi dari baterai ke beban bila
arus beban melebihi nilai set point. Kedua mode tersebut bekerja secara otomatis
14

sesuai dengan besarnya beban yang digunakan, pada pembuatan skripsi ini pada
saat charging menggunakan Sepic Converter dan pada saat Discharge
menggunakan Zeta Converter.

2.3.1 DC-DC Sepic Converter


DC Chopper merupakan rangkaian elektronika daya yang dapat mengubah
tegangan DC (direct current) dari satu nilai ke nilai yang lain atau dari satu
polaritas ke polaritas yang lain. Salah satu jenis dari DC Chopper yang umum
digunakan saat ini adalah DC Chopper tipe Sepic (Sepic Converter).

Konverter SEPIC (Single Ended Primary Induktor Converter) adalah salah


satu topologi rangkaian konverter DC-DC yang dapat menghasilkan tegangan
keluaran yang lebih kecil maupun yang lebih besar dari pada sumber tegangan,
konverter topologi ini memungkinkan untuk menghasilkan tegangan keluaran
yang berpolaritas sama dengan sumber tegangan masukan.
Berikut adalah rangkaian daya dari konverter Tipe Sepic :

Gambar 2.7. Rangkaian Daya DC Chopper Tipe Sepic


Rangkaian daya DC Chopper tipe Sepic terdiri dari induktor, kapasitor,
dioda, MOSFET sebagai komponen pensaklaran dan rangkaian kontrol untuk
menghidupkan dan mematikan MOSFET. DC Chopper Tipe Sepic mampu
menaikkan dan menurunkan tegangan masukannya dengan cara mengubah duty
cycle dari rangkaian kontrolnya. Topologi pensaklaran dari konverter SEPIC
ditunjukan pada Gambar 2.8 Pada kondisi operasi dalam keadaan stabil, besarnya
tegangan yang melewati induktor adalah nol, sehingga besarnya tegangan pada
kapasitor C1,Vc1 =VIN .
15

Ketika saklar S1 diaktifkan, arus IL1 meningkat dan arus IL2 berjalan lebih
negatif. Energi untuk meningkatkanIL1 saat ini berasal dari sumber input (VIN ).
Sejak S1 beberapa saat tertutup, dan tegangan VC1 sesaat adalah sama dengan VIN ,
danteganganVL2 adalah sama dengan VIN . Oleh karenaitu, kapasitor C1 memasok
energy untuk meningkatkan besarnya arus dalam IL2 dan dengan demikian
meningkatkan energi yang tersimpan di L2.

Gambar 2.8. Rangkaian Daya DC Chopper Tipe Sepic Switching Saat Close

Ketika saklar S1 tertutup arus di tingkatkan melalui L1 (hijau) dan C1


discharges meningkatkan arus di L2 (merah). karena potensi (tegangan) di
kapasitor C1 tidak akan berubah kecuali saklar ditutup cukup lama untuk siklus
setengah dari resonansi dengan induktor L2, dan dengan ini waktu saat ini dalam
induktor L1 bisa menjadi cukup besar.

Kapasitor CIN diperlukan untuk mengurangi efek dari induktansi parasit


dan resistansi internal dari pasokan listrik. Kemampuan meningkatkan / uang dari
SEPIC yang mungkin karena kapasitor C1dan induktor L2.Induktor L1dan beralih
S1 membuat converter meningkatkan standar, yang menghasilkan tegangan (VS1 )
yang lebih tinggi dari VIN , yang besarnya ditentukan oleh siklus tugas dari S1
switch. Karena rata-rata tegangan C1 adalah VIN , tegangan output (VO) adalah
VIN VS1 -. Jika VS1 kurang dari dua kali lipat VIN , maka tegangan output akan
kurang dari tegangan input. Jika VS1 lebih besar dari dua kali lipat VIN , maka
tegangan output akan lebih besar dari tegangan input.

Ketika saklar S1 dimatikan, arus IC1 menjadi sama dengan IL1 dan arus IL2
akan terus ke arah negatif. Hal ini dapat dilihat dari gambar 2.9. bahwa IL2 negatif
16

akan menambah IL1 untuk meningkatkan arus yang dikirim kebeban.


Menggunakan Hukum Kirchhoff, dapat ditunjukkan bahwa ID1 = IC1 - IL2 . Hal ini
kemudian dapat disimpulkan, bahwa sementara S1 dimatikan, daya yang dikirim
kebeban dari kedua L2 dan L1.selama siklus off, C1 sedang diisi oleh L1 dan pada
gilirannya akan mengisi ulang L2 selama siklus on.

Gambar 2.9. Rangkaian Daya DC Chopper Tipe Sepic Switching Saat Open

Arus yang melalui L1 (hijau) dan arus melalui L2 (merah) menghasilkan arus yang
melalui beban

Karena potensi (tegangan) di kapasitor C1 mungkin berbalik arah setiap


siklus, kapasitor non-terpolarisasi harus digunakan. Namun, kapasitor elektrolit
dapat digunakan dalam beberapa kasus, karena potensi (tegangan) di kapasitor C1
tidak akan berubah kecuali saklar ditutup cukup lama untuk siklus setengah dari
resonansi dengan induktor L2, dan waktu saat ini arus dalam induktor L1 bisa
menjadi cukup besar.

Kapasitor Cin diperlukan untuk mengurangi efek dari induktansi parasit dan
resistansi internal dari pasokan listrik.Kemampuan meningkatkan / menurunkan
dari SEPIC yang mungkin karena kapasitor C1 dan induktor L2. Induktor L1 dan
saklar S1 membuat converter menjadi topologi boost converter, yang
menghasilkan tegangan (VS1 ) yang lebih tinggi dari VIN ,. Karena rata-rata
tegangan C1 adalah VIN , tegangan output (VO) adalah VIN - VS1 Jika VS1 kurang
dari dua kali lipat VIN , maka tegangan output akan kurang dari tegangan input.
Jika VS1 lebih besar dari dua kali lipat VIN , maka tegangan output akan lebih besar
dari tegangan input.
17

2.3.2. DC-DC Zeta Converter


Dalam pembuatan tugas akhir ini konverter yang biasa digunakan untuk
discharging adalah jenis konverter buck converter dimana menurunkan tegangan
tidak membutuhkan arus yang besar akan tetapi pembuatan konverter biasanya
dipengaruhi dari panel surya yang akan digunakan, pada pembuatan tugas akhir
ini menggunakan zeta konverter. Konverter Zeta bekerja layaknya konverter buck
boost, dimana dapat menaikkan maupun menurunkan tegangan DC yang masuk,
berdasarkan besar duty cycle PWM yang disulutkan pada komponen pensaklaran.
Perbedaanya, pada zeta, tegangan luaran memiliki polaritas yang sama dengan
tegangan masuk. Rangkaian zeta konverter dapat dilihat seperti pada Gambar
2.10.
Cc L1b
Q

Vin L1a D Cout R Vout

Gambar 2.10. Rangkaian Zeta Converter.

Konverter ini bekerja berdasarkan sinyal pensaklaran, ton dan toff.


Perbandingan waktu hidup (ton) terhadap jumlah waktu keduanya disebut juga
dengan duty cycle (D), dengan rentang nilai 0 < D <1.Untuk mendapatkan
hubungan antara input dan output konverter melalui persamaan, dapat dicari
melalui 2 kondisi, yaitu pada saat Q atau saklar terbuka (ON) dan tertutup (OFF),
seperti pada Gambar 2.11.dan Gambar 2.12.

IL1b

Cc L1b
Q is On

D Cout R Vout
Vin L1a
IL1
a

Gambar 2.11. Rangkaian Zeta Converter Saat Q tertutup6.

6Ibid hal. 4
18

Saat Q dalam kondisi On atau tertutup, seperti pada Gambar 2.4, yaitu dari t
= 0 sampai t = D T, arus pada induktor dapat ditulis:


= (2.2)

Sehingga nilai perubahan arus pada induktor saat akhir dari kondisi on
adalah


= 0 = 0 = (2.3)

Kemudian kondisi selanjutnya adalah saat saklar terbuka (OFF), seperti


pada Gambar 2.11.

Cc L1b
Q is Off

IL1b

D Cout R Vout
Vin L1a
IL1a

Gambar 2.12. Rangkaian Zeta Converter Saat Q terbuka7.

Pada saat kondisi off atau saklar terbuka, seperti pada Gambar 2.12., arus
pada induktor dapat dirumuskan :
0
= (2.4)

Sehingga perubahan arus pada saat waktu saklar terbuka adalah

(1) (1) 0 0 (1)


= 0 = 0 = (2.5)

Energi yang di di simpan pada induktor harus sama pada saat awal dan akhir
pensaklaran. Rumus energi pada induktor adalah

7Ibid hal. 4
19

1
= 2 (2.6)
2

Karena total energi yang disimpan pada induktor harus sama dengan nol
pada setiap cycle, maka

+ = 0 (2.8)

Dengan mensubtitusi dan didapatkan :


0 (1)
+ = + =0 (2.9)


= 1 (2.10)


= (2.11)
+

Keterangan :
Vi = Tegangan
Il = Arus induktor
t = Waktu
D = Duty Cycle
T = Periode
L = Induktor
E = Energi

2.4. PWM (Pulse Width Modulation)


PWM atau Pulse Widht Modulation adalah salah satu teknik pemodulasian
sinyal dimana besar duty cycle pulsa dapat diubah-ubah.. Terdapat beberapa
teknik untuk membangkitkan sinyal PWM, namun secara garis besar terbagi
dalam 2 cara, yaitu pembangkitan sinyal dengan rangkaian analog dan dengan
kontrol digital atau dengan mikrokontroler. Secara analog, pembangkitan sinyal
20

PWM yang paling sederahana adalah dengan cara membandingkan sebuah sinyal
segitiga atau gigi gergaji dengan tegangan referensi seperti yang terlihat pada
Gambar 2.14. Gelombang segitiga atau gigi gergaji sebagai frekuensi pembawa
yang juga merupakan frekuensi sinyal luaran PWM. Sedangkan tegangan referensi
adalah tegangan yang menentukan besarnya duty cycle dari luaran sinyal PWM.

Gambar 2.14. Pembangkitan sinyal PWM dengan komparator8.

Cara kerja dari komparator analog ini adalah membandingkan gelombang


tegangan gigi gergaji dengan tegangan referensi seperti yang terlihat pada Gambar
2.14. saat nilai tegangan referensi lebih besar dari tegangan ramp (gigi gergaji)
maka pulsa luaran komparator akan bernilai high atau saturasi mendekati Vcc.
Namun saat tegangan referensi bernilai lebih kecil dari tegangan ramp, maka
luaran komparator akan bernilai low atau cut-off. Dengan memanfaatkan prinsip
kerja dari komparator inilah, untuk mengubah duty cycle dari sinyal output cukup
dengan mengubah-ubah besar tegangan referensi.
Teknik pembangkitan pulsa yang lain adalah dengan cara kontrol digital
yang salah satu contohnya adalah menggunakan mikrokontroler. Seperti halnya
pembangkitan PWM dengan rangkaian analog, pembangkitan pulsa dengan
menggunakan kontrol mikrokontroler juga menggunakan cara pembandingan dua
buah nilai. Jika pada rangkaian analog nilai yang dibandingkan adalah dua buah
sinyal tegangan (tegangan referensi dengan tegangan carrier), pembangkitan
PWM pada mikrokontroler adalah dengan membandingkan dua buah variable
yang tersimpan dalam memori mikrokontroler.Yaitu variable TCNTx dengan
OCRxx (salah satu contohnya).Apabila timer yang digunakan adalah timer 1,

8
https://insansainsprojects.wordpress.com/2008/06/06/pwm-pengatur-kecepatan-mobile-robot/
21

maka variabel yang dipakai adalah TCNT1 dan OCR1.TCNT1 adalah suatu
variabel yang nilainya terus bertambah setiap satu satuan waktu (bergantung pada
setting timer) yang jika dianalogikan ke rangkaian analog adalah sinyal ramp.
Sedangkan OCR1 adalah suatu variabel yang berfungsi sebagai nilai referensi
kapan output PWM berubah dari high ke low ataupun sebaliknya. Keadaan ini
dapat diilustrasikan seperti Gambar 2.15.

t
1023 1023 1023 1023
0 OCR1 OCR1 OCR1 OCR1
0 0 0

Gambar 2.15. Pembangkitan sinyal PWM dengan mikrokontroler.

Pulse Width Modulation pada simulasi psim, teknik pemodulasian sinyal


dengan besar duty cycle (D) yang dapat diubah-ubah. Pembangkitan sinyal PWM
yang paling sederhana adalah dengan cara membandingkan sinyal gigi gergaji
sebagai tegangan carrier dengan tegangan referensi menggunakan rangkaian op-
amp comparator.

Gambar 2.16. Rangakaian PWM pada PSIM.

Cara kerja dari komparator analog ini adalah membandingkan gelombang


tegangan gigi gergaji dengan tegangan referensi seperti yang terlihat pada
Gambar2.17. dibawah ini:
22

Gambar 2.17. Pembentukan sinyal PWM pada PSIM

Saat nilai tegangan referensi lebih besar dari tegangan carrier (gigi gergaji)
maka output comparator akan bernilai high. Namun saat tegangan referensi
bernilai lebih kecil dari tegangan carrier, maka output comparator akan bernilai
low. Dengan memanfaatkan prinsip kerja dari komparator inilah, untuk mengubah
duty cycle dari sinyal output cukup dengan mengubah-ubah besar tegangan
referensi. Besarnya duty-cycle rangkaian PWM ini

(2.12)

2.5. Relay
Di dalam operasi pengisian baterai, dibutuhkan komponen pemutus aliran
daya. Pemutusan aliran daya bertujuan untuk pemutushubungan pengisian baterai
pada saat baterai sudah terisipenuh,memutuskan hubungan ketika short circuit,
dan mengalirkan arus dari baterai ke beban. Komponen tersebut bisa berupa relay
mekanik yang digerakkan oleh elektromagnet. Tipe relay yang dipakai pada
proyek akhir ini adalah tipe SPDT dengan bentuk fisik seperti Gambar 2.16.

(a) (b)
23

Gambar 2.16. (a)Simbol relay SPDT (b) Relay 5 Volt DC tipe SPDT9.

Relay adalah suatu piranti yang bekerja berdasarkanelektromagnetik untuk


menggerakan sejumlah kontak (saklar). Kontaktor akan tertutup (On) atau terbuka
(Off) karena efek induksi magnet yang dihasilkan kumparan (induktor) ketika
dialiri arus listrik. Relay akan bekerja jika pada magnetic coil nya diberikan
tegangan sesuai nominal. Berbeda dengan saklar dimana pergerakan kontaktor
(On/Off) dilakukan secara manual.
Sebagai komponen elektronika, relay mempunyai peran penting dalam
sebuah sistem rangkaian elektronika dan rangkaian listrik untuk menggerakkan
sebuah perangkat yang memerlukan arus besar tanpa terhubung langsung dengan
perangkat pengendali yang mempunyai arus kecil. Dengan demikian relay dapat
berfungsi sebagai pengaman.
Ada beberapa jenis relay berdasarkan cara kerjanya yaitu:
1. Normally On : Kondisi awal kontaktor terturup (On) dan akan terbuka (Off)
jika relay diaktifkan dengan cara memberi arus yangsesuai pada kumparan
(coil) relay. Istilah lain kondisi ini adalah Normally Close (NC).
2. Normally Off : Kondisi awal kontaktor terbuka (Off) dan akan tertutup jika
relay diaktifkan dengan cara memberi arus yang sesuai pada kumparan (coil)
relay. Istilah lain kondisi ini adalah Normally Open (NO).
3. Change-Over (CO) atau Double-Throw (DT) : Relay jenis ini memiliki dua
pasang terminal dengan dua kondisi yaitu NormallyOpen (NO) dan Normally
Close (NC).

2.6. Baterai
Baterai adalah alat penyimpan tenaga listrik arus searah (DC). Ada
beberapa jenis baterai / aki di pasaran yaitu jenis aki basah/ konvensional, hybrid
dan MF (Maintenance Free). Aki basah/konvensional berarti masih menggunakan
asam sulfat (H2SO4) dalam bentuk cair. Sedangkan aki MF sering disebut juga

9
http://at-moproduction.blogspot.co.id/2016/02/cara-merangkai-relay-5v-dan-12v-buat.html
24

aki kering karena asam sulfatnya sudah dalam bentuk gel/selai. Dalam hal
mempertimbangkan posisi peletakannya maka aki kering tidak mempunyai
kendala, lain halnya dengan aki basah.
Aki konvensional juga kandungan timbalnya (Pb) masih tinggi sekitar
2,5%untuk masing-masing sel positif dan negatif. Sedangkan jenis hybrid
kandungan timbalnya sudah dikurangi menjadi masing-masing 1,7%, hanya saja
sel negatifnya sudah ditambahkan unsur Calsium. Sedangkan aki MF / aki kering
sel positifnya masih menggunakan timbal 1,7% tetapi sel negatifnya sudah tidak
menggunakan timbal melainkan Calsium sebesar 1,7%. Pada Calsium battery
Asam Sulfatnya (H2SO4) masih berbentuk cairan, hanya saja hampir tidak
memerlukan perawatan karena tingkat penguapannya kecil sekali dan
dikondensasi kembali. Teknologi sekarang bahkan sudah memakai bahan silver
untuk campuran sel negatifnya.

Ada beberapa pertimbangan dalam memilih aki :


A. Tata letak, apakah posisi tegak, miring atau terbalik. Bila pertimbangannya
untuk segala posisi maka aki kering adalah pilihan utama karena cairan air aki
tidak akan tumpah. Kendaraan off road biasanya menggunakan aki kering
mengingat medannya yang berat. Aki ikut terguncang-guncang dan
terbanting. Aki kering tahan goncangan sedangkan aki basah bahan elektodanya
mudah rapuh terkena goncangan.
B. Voltase / tegangan, di pasaran yang mudah ditemui adalah yang bertegangan
6V, 12V dan 24V. Ada juga yang multipole yang mempunyai beberapa titik
tegangan. Yang custom juga ada, biasanya dipakai untuk keperluan industri.
C. Kapasitas aki yang tertulis dalam satuan Ah (Ampere hour), yang
menyatakan kekuatan aki, seberapa lama aki tersebut dapat bertahan mensuplai
arus untuk beban / load.
D. Cranking Ampere yang menyatakan seberapa besar arus start yang dapat
disuplai untuk pertama kali pada saat beban dihidupkan. Aki kering biasanya
mempunyai cranking ampere yang lebih kecil dibandingkan aki basah, akan
tetapi suplai tegangan dan arusnya relatif stabil dan konsisten. Itu sebabnya
perangkat audio mobil banyak menggunakan aki kering.
25

E. Pemakaian dari aki itu sendiri apakah untuk kebutuhan rutin yang sering
dipakai ataukah cuma sebagai back-up saja. Aki basah, tegangan dan
kapasitasnya akan menurun bila disimpan lama tanpa recharge, sedangkan aki
kering relatif stabil bila di simpan untuk jangka waktu lama tanpa recharge.
F. Harga karena aki kering mempunyai banyak keunggulan maka harganya pun
jauh lebih mahal daripada aki basah. Untuk menjembatani rentang harga yang
jauh maka produsen aki juga memproduksi jenis aki kalsium (calcium battery)
yang harganya diantara keduanya.

Gambar 2.18.Gambar bateray10

Secara garis besar,batterydibedakan berdasarkan aplikasi dan


konstruksinya. Berdasarkan aplikasi maka battery dibedakan untuk
automotif,marine dan deep cycle. Deep cycle itu meliputi battery yang biasa
digunakan untuk PV (Photovoltaic) dan back up power. Sedangkan secara
konstruksi maka battery dibedakan menjadi type basah, gel dan AGM (Absorbed
Glass Mat). Battery jenis AGM biasanya juga dikenal dgn VRLA (Valve
Regulated Lead Acid).
Battery kering Deep Cycle juga dirancang untuk menghasilkan tegangan
yang stabil dan konsisten. Penurunan kemampuannya tidak lebih dari 1-2% per
bulan tanpa perlu dicharge. Bandingkan dengan battery konvensional yang bisa
mencapai 2% per minggu untuk self discharge. Konsekuensinya untuk charging
pengisian arus ke dalam battery Deep Cycle harus lebih kecil dibandingkan battery
konvensional sehingga butuh waktu yang lebih lama untuk mengisi muatannya.
Antara type gel dan AGM hampir mirip hanya saja battery AGM mempunyai

10
http://dayasurya.weebly.com/aki.html
26

semua kelebihan yang dimiliki type gel tanpa memiliki kekurangannya.


Kekurangan type Gel adalah pada waktu discharge maka tegangannya harus 20%
lebih rendah dari battery type AGM ataupun basah. Bila overcharged maka akan
timbul rongga di dalam gelnya yg sulit diperbaiki sehingga berkurang kapasitas
muatannya.
Karena tidak ada cairan yang dapat membeku maupun mengembang,
membuat battery Deep Cycle tahan terhadap cuaca ekstrim yang membekukan.
Itulah sebabnya mengapa pada cuaca dingin yang ekstrim, kendaraan yang
menggunakan baterai konvensional tidak dapat distart alias mogok.

Ada 2 rating untuk battery yaitu CCA dan RC.


* CCA (Cold Cranking Ampere) menunjukkan seberapa besar arus yang dapat
dikeluarkan serentak selama 30 detik pada titik beku air yaitu 0 derajat Celcius.
* RC (Reserve Capacity) menunjukkan berapa lama (dalam menit) battery
tersebut dapat menyalurkan arus sebesar 25A sambil tetap menjaga tegangannya
di atas 10,5 Volt.
Battery Deep Cycle mempunyai 2-3 kali lipat nilai RC dibandingkan battery
konvensional. Umur battery AGM rata-rata antara 5-8 tahun

JENIS-JENIS AKI (BATERAI)


a) Aki deep-cycle jenis Marine pada dasarnya digunakan untuk aplikasi yang
kecil dan sederhana di kapal layar dan perkemahan. Selain aki Marine ini, aki
Kendaraan Golf juga sering dipakai untuk aplikasi sederhana.
b) Aki deep-cycle jenis Lead Acid adalah aki yang berkepingan internal yang
tebal dan banyak digunakan oleh industri-industri berat. Yang paling diminati
termasuk Aki Trojan, Surrette dan Deka. Aki-aki ini bisa tahan lama sampai
bertahun-tahun. Aki Lead Acidmengeluarkan gas sewaktu pengisian arus DC
berlaku. Demi keselamatan, aki-aki ini harus ditempatkan diluar bangunan dan
dipasang oleh ahli yang berketrampilan.
c) Aki Sealed Gel adalah aki deep-cycle yang tidak menguapkan gas ketika
proses pengisian berlangsung. Aki ini cocok dipakai di dalam bangunan.
d) Aki Absorbed Glass Mat (AGM) adalah aki anti bocor dan mempunyai
kinerja yang sangat tinggi. Jenis aki ini boleh dikatakan adalah yang terbaik untuk
27

diterapkan pada sistem surya industri-industri berat. Misalnya, aki AGM terdapat
di dalam pesawat terbang, rumah sakit dsb. Kualitas aki AGM juga sangat bagus
dan bisa tahan lama. Aki Sun Xtender adalah contoh jenis AGM.

2.7. Lampu Penerangan Jalan


Lampu yang akan digunakan pada skripsi ini adalah Lampu Penerangan
Jalan Umum (PJU) dengan memakai lampu Chip LED memberikan cahaya super
terang dan hemat energy. Produk dalam Negeri (ONE LED Indonesia) salah satu
perusahaan yang merakit Lampu PJU LED high power super brigh. Tersedia
untuk aplikasi PLN 100-220VAc dan Tenaga Surya 12/24VDc dengan harga
bersaing dan bergaransi 2 Tahun. Lampu Penerangan Jalan 40 Watt digunakan
untuk penerangan area industri kecil-menengah-besar, area pabrikan, area
pergudangan, area pelabuhan, area terminal-stasiun, area dll.

Gambar 2.20.Gambar Lampu PJU(Penerangan Jalan Umum)11

Spesifikasi Lampu PJU LED 40 Watt (SL.SML-40W AC/DC) :


Model : SL.SML 40W (AC/DC)
LED Power : 40 Watt
Light source : 40 pcs high power LED
Voltage : 12/24 Volt
Power Efficiency : >0.9
LED Luminous Efficiency : 100-120Im/Watt
Efficiency of the Light : >90%
Light Color : Light Pure White / Warm

11
https://www.bursaenergi.com/product/lampu-pju-led-40-watt-multi-led/
28

Light Beam 140-65 Degree


Housing die cast alumunium
Life Span : >50000h
Weight : 5,00 Kg
Pole height recommended 5 meters (Min. 45Lux)
Warranty 2 Years

2.8. Sensor Tegangan


Kontrol untuk mendapatkan tegangan konstan pada saat charging dan
discharge membutuhkan sensor tegagan untuk dibaca mikrokontroler, dimana
mikrokontroler akan mengontrol besarnya PWM pada konverter. Dengan dua
resistor, yaitu R1 dan R2 yang bekerja secara paralel dengan panel surya yang
bertindak sebagai pembagi tegangan. Tegangan pada R2 dalam pembagi tegangan
dimasukkan ke ADC mikrokontroler, contoh rangkaian sensor tegangan
ditunjukkan pada gambar 2.21.

Gambar 2.21. Rangkaian pembagi tegangan

Menurut hukum ohm arus yang mengalir adalah :

Vin
.I= (2.13)
R1+R2

Tegangan pada R2menjadi :

= 2 (2.14)

Sehingga Vout menjadi :

Vin x R2
. Vout = (2.15)
R1+R2
29

Persamaan di atas adalah persamaan untuk menghitung tegangan output


yang dihasilkan oleh sebuah rangkaian pembagi tegangan