Anda di halaman 1dari 4

Dermatitis

No. Dokumen : C/VII(BPV)/


SOP/6/201
SOP
7/044
No. Revisi :
Tanggal Terbit : 24 JUNI
2017
Halaman : 1-3

UPT PUSKESMAS dr. Vita Purnama Sari


CIBUNTU NIP. 19820508201001 2 011
1. Pengertian Dermatitis adalah suatu respon kulit terhadap agen-agen,
atas dasar interaksi antara antigen dan antibody, dengan
gejala subjektif pruritus, tampak inflamasi eritema,
vesikula dan pembentukan sisik.
Penanganan dermatitis adalah langkah-langkah yang
dilakukan petugas dalam melakukan penatalaksanaan
kasus dermatitis.
2. Tujuan Sebagai acuan bagi petugas di dalam melakukan
penatalaksaan kasus dermatitis numularis UPT Puskemas
Cibuntu
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor Tahun tentang
Pelayanan Klinis.
4. Referensi PMK NOMOR 5 tahun 2014 tentang Panduan Praktik
Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer.
5. Prosedur / 1. Petugas melakukan anamnesis.
Langkah a. Keluhan yang dirasakan pasien adalah:
langkah Bercak merah yang basah pada predileksi tertentu
dan sangat gatal, perih. Awal terjadinya keluhan,
adanya riwayat alergi pribadi dan keluarga, pencetus
keluhan, keluhan hilang timbul dan sering kambuh.
b. Faktor Risiko:
- Faktor usia
- Riwayat trauma fisis dan kimiawi
- Riwayat dermatitis alergi atau dermatitis atopik
2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik.
a. Keluhan pasien seperti rasa gatal, perih dan
munculnya ruam berupa papula, nodula yang
berbatas tegas dan berwarna hiperemis (kemerahan)
serta meradang. Jumlah lesi dapat satu, dapat pula
banyak dan tersebar, bilateral, atau simetris, dengan
ukuran yang bervariasi.
b. Tempat predileksi terutama di tungkai bawah,
badan, lengan, termasuk punggung tangan

3. Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan, karena manifestasi klinis jelas dan
klasik.

4. Petugas menegakkan diagnosis.


a. Diagnosis Klinis
Penegakan diagnosis melalui hasil anamnesis, dan
pemeriksaan fisik.
b. Diagnosis Banding
Dermatitis kontak, Dermatitis atopi,
Neurodermatitis sirkumskripta, Dermatomikosis
c. Komplikasi:
Infeksi sekunder

5. Petugas memberikan terapi


a. Topikal (2 kali sehari)
- Berikan terapi kortikosteroid topikal seperti
Desonid krim 0,05% atau fluosinolon asetonid
krim 0,025%) selama maksimal 2 minggu.
- Pada manifestasi klinis likenifikasi dan
hiperpigmentasi, dapat diberikan golongan
Betametason valerat krim 0,1% atau
Mometason furoat krim 0,1%).
- Pada kasus infeksi sekunder, perlu
dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal
atau sistemik bila lesi meluas.
b. Oral sistemik
- Antihistamin sedatif: klorfeniramin maleat 3 x 4
mg per hari selama maksimal 2 minggu.
- Antihistamin non sedatif: loratadin 1x10 mg per
hari selama maksimal 2 minggu.
- Jika ada infeksi bakteri dapat diberikan
antibiotik topikal atau antibiotik sistemik bila
lesi luas.

6. Petugas memberikan edukasi dan konseling


a. Memberikan edukasi bahwa kelainan bersifat
kronis dan berulang sehingga penting untuk
pemberian obat topikal rumatan.
b. Mencegah terjadinya infeksi sebagai faktor risiko
terjadinya relaps.

7. Petugas menuliskan ke dalam status rekam medis


semua hasil pemeriksaan dan terapi.

8. Petugas menulis ke dalam buku register


6. Bagan Alir

Anamnesa Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan
Penunjang

Diagnosis

Penatalaksanaan

Pencatatan Edukasi

7. Hal-hal yang Kriteria Rujukan :


perlu a. Apabila kelainan tidak membaik dengan
diperhatikan pengobatan topikal standar.
b. Apabila diduga terdapat faktor penyulit lain,
misalnya fokus infeksi pada organ lain, maka
konsultasi dan atau disertai rujukan kepada
dokter spesialis terkait (contoh: gigi mulut, THT,
obgyn, dan lain-lain) untuk penatalaksanaan
fokus infeksi tersebut.

8. Unit terkait 1. Ruang Pemeriksaan Pemeriksaan Umum


2. Ruang Pemeriksaan Lansia
9. Dokumen 1. Rekam Medis
terkait
10. Rekaman
historis
perubahan

Tanggal
No Yang Diubah Isi Perubahan Mulai
Diberlakukan