Anda di halaman 1dari 18

Askep CKD Aplikasi Nanda NIC NOC

Ana Nurkhasanah Monday, December 26, 2016 Askep KMB

Askep CKD aplikasi Nanda NIC NOC merupakan konsep asuhan keperawatan secara
teoritis yang diberikan kepada pasien dengan masalah gagal ginjal kronis atau CKD.
Pada konsep askep CKD pada artikel ini menggunakan konsep Nanda NIC NOC mulai
dari pengkajian, diagnose keparawatan, intervensi keperawatan menggunakan ilmu
keperawatan Nanda NIC NOC.

DEFINISI CKD ATAU GAGAL GINJAL KRONIS

Gagal ginjal kronis atau biasa kita sebit dengan CKD (cronic kodney disease)
merupakan suatu keadaan dimana ginjal mengalami kegagalan fungsi ginjal untuk
mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit yang di
disebabkan oleh rusaknya struktur ginjal yang progresif dengan dengan gejala
penumpukan sisa metabolic didalam darah.
Gagal ginjal kronis juga disingkat dengan GGK adalah suatu sindrom klinis yang
disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif, dan
cukup lanjut. Hal ini terjadi apabila laju filtrasi glomerulus kurang dari 50 ml/menit.

PENYEBAB GAGAL GINJAL KRONIS

Gagal ginjal kronis dapat disebabkan oleh beberapa kondisi baik yang berasal dari
ginjal itu sendiri atau dapat dari luar tubuh. Akan tetapi apapun penyebab gagal ginjal
kronis, respon yang terjadi terhadap tubuh adalah penurunan fungsi ginjal secara
progresif.

Penyakit dari ginjal (intrinsik)

Beberapa kondisi dari ginjal sendiri yang dapat menyebabkan gagal ginjal kronis adalah
sebagai berikut:

Penyakit pada saringan yang ada di dalam ginjal yaitu glomerulus seperti
glomerulonephritis atau peradangan pada glomerulus ginjal.
Infeksi kuman seperti pyelonefritis, ureteritis yang berasal dari infeksi saluran
kemih dan lain-lain.
Batu ginjal seperti nefrolitiasis atau urolitiasis
Kista di ginjal seperti polcystis kidney
Trauma langsung yang terjadi pada ginjal pada kondisi kecelakaan
Keganasan pada ginjal seperti kanker ginjal
Sumbatan pada saluran di dalam ginjal seperti tumor, batu, penyempitan/striktur

Penyakit dari luar ginjal (ekstrinsik)

Beberapa penyakit dari luar ginjal yang dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal
adalah sebagai berikut:

Penyakit sistemik seperti penyakit diabetes mellitus, hipertensi dan juga


kolesterol tinggi serta dyslipidemia
Infeksi seperti penyakit tb paru, sifilis, malaria dan juga hepatitis, dan lain-lain.
Preeklamsi pada ibu hamil
Penggunaan obat-obatan dalam jangka panjang
Kehilangan banyak cairan yang mendadak seperti pada kondisi luka bakar.

PATHWAY GAGAL GINJAL KRONIS


TANDA DAN GEJALA GAGAL GINJAL KRONIS

Pada kondisi gagal ginjal kronis, setiap sistem tubuh biasanya akan dipengaruhi oleh
kondisi seperti uremia, maka pasien akan menunjukkan sejumlah tanda dan gejala.
Tingkat keparahan gejala yang muncul tergantung juga dari tingkat kerusakan ginjal,
kondisi lain yang mendasari gagal ginjal , dan juga usia dari pasien itu sendiri.

Gejala yang muncul pada sistem kardiovaskuler pada gagal ginjsl kronis biasanya
mencakup hipertensi atau darah tinggi yang di akibatkan oleh retensi cairan dan
natrium dari aktivasi system rennin-angiotenin-aldosteron, gagal jantung kongestif, dan
edema pulmoner atau edema paru-paru yang di akibatkan oleh penumpukan cairan
yang berlebihan di paru-paru dan perikarditis atau radang pada lapisan luar jantung
yang di akibatkan oleh iritasi pada lapisan pericardial oleh toksin uremia.

Sedangkan gejala yang sering muncul pada kulit pasien adalah mencakup rasa gatal
yang parah (pruritis). Butiran uremik, suatu penumpukan kristal urea di kulit, saat ini
jarang terjadi akibat penanganan dini dan agresif terhadap penyakit ginjal tahap akhir.

Gejala yang muncul pada sistem gastrointestinal biasanya anoreksia, mual, muantah
dan cegukan. Perubahan neuromuskuler mencakup perubahan tingkat kesadaran,
ketidak mampuan berkonsentrasi, kedutan otot dan kejang.
Menurut Long, 1996, gejala dini dari gagal ginjal kronik adalah seperti lethargi, sakit
kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang, mudah tersinggung, depresi.
Sedangkan gejala lebih lanjut dari gagal ginjal kronis adalah anoreksia, mual disertai
muntah, nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem
yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.

KOMPLIKASI GAGAL GINJAL KRONIS

Penyakit gagal ginjal kronis selain dapat mengganggu fungsi ginjal juga dapat
menyebabkan komplikasi pada tubuh, diantaranya adalah:

Hiperkalemia (tingginya kadar kalium didalam darah) yang diakibatkan


penurunan eksresi asidosis metabolic, katabolisme dan masukan diit berlebih
yang berlebihan.
Perikarditis, efusi perincardial dan juga temponade jantung
Hipertensi yang diakibatkan oleh retensi cairan dan natrium serta mal fungsi
sistem rennin angioaldosteron
Anemia yang di akibatkan oleh penurunan eritroprotein, rentang usia sel darah
merah, pendarahan gasstrointestinal akibat iritasi pada lapisan mukosa saluran
pencernaan.
Penyakit tulang seperti osteoporosis dan lain-lain yang diakibatkan oleh retensi
fosfat kadar kalium serum yang rendah metabolisme vitamin D, abnormal dan
peningkatan kadar aluminium

PEMERIKSAAN PENUNJANG PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS

Beberapa pemeriksaan penunjang berikut biasanya dapat dilakukan untuk membantu


melakukan diagnosis penyakit gagal ginjal kronis.

Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaan utama yang harus dilakukan untuk


melihat bagaimana fungsi ginjal apakah masih normal atau sudah abnormal.
Pemeriksaan laboratorium berikut dapat dilakukan untuk mendiagnosis gagal ginjla
kronis.

Laju Endap Darah biasanya tinggi yang diperberat oleh adanya anemia, dan
hipoalbuminemia. Anemia normositer normokrom, dan jumlah retikulosit yang
rendah.
Ureum dan kreatinin biasanya meningkat, biasanya perbandingan antara ureum
dan kreatinin kurang lebih 20 : 1. Perbandingan meninggi akibat pendarahan
saluran cerna, demam, luka bakar luas, pengobatan steroid, dan obstruksi
saluran kemih. Perbandingan ini berkurang ketika ureum lebih kecil dari
kreatinin, pada diet rendah protein, dan tes Klirens Kreatinin yang menurun.
Hiponatremi yang pada umumnya disebabkan karena kelebihan cairan.
Hiperkalemia yang biasanya terjadi pada gagal ginjal lanjut bersama dengan
menurunya dieresis
Hipokalemia dan hiperfosfatemia: terjadi karena berkurangnya sintesis vitamin
D3 pada GGK.
Phosphate alkaline meningkat akibat dari gangguan metabolisme tulang,
terutama isoenzim fosfatase lindi tulang.
Hipoalbuminemia dan hipokolesterolemia yang umunya disebabkan gangguan
metabolisme dan diet rendah protein.
Peningkatan kadar gula darah yang di akibatkan oleh gangguan metabolisme
karbohidrat pada gagal ginjal ( resistensi terhadap pengaruh insulin pada
jaringan perifer ).
Hipertrigliserida yang diakibatkan oleh gangguan metabolisme lemak,
disebabkan peningkatan hormone insulin dan menurunnya lipoprotein lipase.
Asidosis metabolic dengan kompensasi respirasi menunjukan Ph yang menurun,
BE yang menurun, HCO3 yang menurun, PCO2 yang menurun, semuanya
disebabkan retensi asam-asam organic pada gagal ginjal.

Radiology

Foto polos abdomen untuk dapat dilakukan untuk membantu menilai bentuk dan besar
ginjal (juga untuk melihat adanya batu atau obstruksi). Dehidrasi karena proses
diagnostic akan memperburuk keadaan ginjal, oleh sebab itu penderita diharapkan tidak
puasa dan harus minum.

Intra Vena Pielografi (IVP)

Pemeriksaan ini dilakukan Untuk menilai system pelviokalisis dan ureter.

USG (ultrasonografi)

Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal
parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter
proksimal, kandung kemih dan juga prostat.

EKG (elektrokardiogram)

Pemeriksaan EKG ini ntuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda
perikarditis, aritmia, gangguan elektrolit (hiperkalemia).
PENATALAKSANAAN MEDIS GAGAL GINJAL KRONIS

Tujuan dari penatalaksanaan medis pada gagal ginjal kronik adalah untuk
mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis tubuh selama mungkin. Semua faktor
yang berperan dalam terjadinya gagal ginjal kronik dicari dan kemudian diatasi.

Adapun penatalaksanaan gagal ginjal kronis yang dapat dilakukan adalah


penatalaksanaan konservatif yang meliputi pengaturan diet, cairan dan garam,
memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa, mengendalikan hiperensi,
penanggulangan asidosis, pengobatan neuropati, deteksi dan mengatasi komplikasi.

Penatalaksanaan pengganti dari penatalaksanaan diatas diantaranya adalah dialysis


(hemodialysis atau peritoneal dialysis) dan juga transplantasi ginjal.

Selain itu tujuan penatalaksanaan adalah untuk menjaga keseimbangan cairan dan
elektrolit dan mencegah komplikasi-komplikasi untuk tubuh sebagai berikut :

Dialisis

Dialysis atau biasa kita sebut dialisa (cuci darah) dapat dlakukan untuk mencegah
komplikasi gagal ginjal yang serius, seperti hiperkalemia, perikarditis, dan kejang.
Dialysis memperbaiki abnormalitas biokimia, menyebabkan cairan, protein, dan natrium
dapat dikonsumsi sevara bebas, menghilangkan kecenderungan pendarahan, dan
membantu menyembuhkan luka.

Koreksi hiperkalemi

Mengendalikan kalium darah sangat penting karena hiperkalemi dapat menimbulkan


kematian mendadak. Hal yang pertama harus diingat adalah jangan menimbulkan
hiperkalemia. Selain dengan pemeriksaan darah, hiperkalemia juga dapat didiagnosis
dengan EEG dan EKG. Bila terjadi hiperkalemia, maka pengobatannya adalah dengan
mengurangi intake kalium, pemberian Na Bikarbonat, dan pemberian infuse glukosa.

Koreksi anemia

Pengendalian gagal ginjal pada keseluruhan akan dapat meninggikan Hb. Transfusi
darah hanya dapat diberikan bila ada indikasi yang kuat, missal pada adanya
insufisiensi koroner.

Koreksi asidosis
Pemberian asam melalui makanan dan obat-obatan harus dihindari. Natrium bikarbonat
dapat diberikan peroral atau parenteral. Hemodialisis dan dialysis peritoneal dapat juga
mengatasi asidosis

Pengendalian hipertensi

Pemberian obat beta bloker, alpa metildopa, dan vasodilator dilakukan. Mengurangi
intake garam dalam mengendalikan hipertensi harus hati-hati karena tidak semua gagal
ginjal disertai retensi natrium.

Transplantasi ginjal

Dengan pencangkokan ginjal yang sehat ke pasien GGK, maka seluruh faal ginjal
diganti oleh ginjal yang baru.

ASKEP CKD APLIKASI NANDA NIC NOC

Untuk selanjutnya langsung saja saya paparkan bagaimana konsep Asuhan


Keperawatan CKD Menggunakan Aplikasi Nanda NIC NOC yang saya dapat dari
literature-literatur.

Identitas Klien

Silahkan masukkan identitas klien mulai dari nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan,
tempat tiinggal, dan lain-lain. Identitas klien disini dapat menjadi penunjang informasi
dalam memberikan asuhan keperawatan.

Keluhan Utama

Keluhan utama yang biasanya muncul pada kondisi gagal ginjal kronis atau CKD pada
umumnya bervariasi, mulai dari urine output sedikit bahkan hingga tidak ada urin
output, gelisah hingga terjadi penurunan kesadaran, anoreksia atau hilang nafsu
makan, mual, muntah, mulut terasa kering, rasa lelah berkepanjangan, napas berbau
khas (bau ureum), dan dapat terjadi gatal-gatal pada kulit.

Gejala paling khas pasien CKD biasanya terjadi penurunan urin output dan
penumpukan cairan atau edema pada ekstremitas atas maupun bawah.

Riwayat penyakit masa lalu


Kaji adanya penyakit gagal ginjal akut, infeksi saluran kemih, gagal jantung,
penggunaan obat-obat nefrotoksik, Benign prostatic hyperplasia (BPH), dan
prostektomi. Kaji adanya riwayat penyakit batu saluran kemih, infeksi system prkemihan
yang berulang, penyakit diabetes mellitus, dan penyakit hipertensi pada masa
sebelumnya yang menjadi predisposisi penyebab. Penting untuk dikaji mengenai
riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat
kemudian dokumentasikan.

DATA FOKUS PENGKAJIAN ASKEP CKD ATAU GAGAL GINJAL KRONIS


MENGGUNAKAN 13 DOMAIN NANDA

PROMOSI KESEHATAN
Data Subjektif:
Riwayat penyakit yang seperti DM, Hipertensi, batu ginjal, dan lain-lain
Pengetahuan tentang penyakit biasanya kurang

DO:
KU biasanya tergantung dari berat ringannya gagal ginjal kronis mulai dari KU sedang
hingga sakit parah
TTV : TD biasanya tinggi, takikardi, takipnea, suhu meningkat
Terkadang ada riwayat pengoabatan/obat yg digunakan klien pada masa lalu

NUTRISI
DS:
Mual dan muntah, anoreksia
BB dapat menurun
Riwayat DM

DO:
Diare sekunder dari bau mulut ammonia, peradangan mukosa mulut, dan ulkus saluran
cerna sehingga sering di dapatkan penurunan intake nutrisi dari kebutuhan.

ELIMINASI

Sistem Urinarius
DS:
Riwayat penyakit kandung kemih seperti batu ginjal, BPH dan lain-lain
BAK biasanya sedikit dan bahkan tidak BAK

DO:
BAK sedikit dan bahkan tidak ada

Sistem Integuman
DS:
Kulit kering dan kasar

DO:
Itegritas kulit buruk dan elastisitas kulit jelek

AKTIVITAS DAN ISTIRAHAT

Aktivitas
DS:
Kelelahan saat beraktivitas

DO:
Penampilan umum selama beraktivitas biasanya klien kelelahan
Risiko cidera saat berativitas

Kardiovaskular
DS:
Edema ekstremitas

DO:
Edema ekstremitas atas dan bawah
Turgor kulit jelek
Suhu biasanya normal
Auskultasi jantung, bunyi jantung normal

Respirasi
DS:
Napas cepat hingga sesak bau khas amoniak

DO:
RR biasanya lebih dari 20
Kualitas pernapasan cepat dangkal

PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG DAPAT DI LAKUKAN UNTUK MENUNJANG


DIAGNOSA KEPERAWATAN CKD ATAU GAGAL GINJAL KRONIS

Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaan utama yang harus dilakukan untuk


melihat bagaimana fungsi ginjal apakah masih normal atau sudah abnormal.
Pemeriksaan laboratorium berikut dapat dilakukan untuk mendiagnosis gagal ginjla
kronis.
Laju Endap Darah biasanya tinggi yang diperberat oleh adanya anemia, dan
hipoalbuminemia. Anemia normositer normokrom, dan jumlah retikulosit yang
rendah.
Ureum dan kreatinin biasanya meningkat, biasanya perbandingan antara ureum
dan kreatinin kurang lebih 20 : 1. Perbandingan meninggi akibat pendarahan
saluran cerna, demam, luka bakar luas, pengobatan steroid, dan obstruksi
saluran kemih. Perbandingan ini berkurang ketika ureum lebih kecil dari
kreatinin, pada diet rendah protein, dan tes Klirens Kreatinin yang menurun.
Hiponatremi yang pada umumnya disebabkan karena kelebihan cairan.
Hiperkalemia yang biasanya terjadi pada gagal ginjal lanjut bersama dengan
menurunya dieresis
Hipokalemia dan hiperfosfatemia: terjadi karena berkurangnya sintesis vitamin
D3 pada GGK.
Phosphate alkaline meningkat akibat dari gangguan metabolisme tulang,
terutama isoenzim fosfatase lindi tulang.
Hipoalbuminemia dan hipokolesterolemia yang umunya disebabkan gangguan
metabolisme dan diet rendah protein.
Peningkatan kadar gula darah yang di akibatkan oleh gangguan metabolisme
karbohidrat pada gagal ginjal ( resistensi terhadap pengaruh insulin pada
jaringan perifer ).
Hipertrigliserida yang diakibatkan oleh gangguan metabolisme lemak,
disebabkan peningkatan hormone insulin dan menurunnya lipoprotein lipase.
Asidosis metabolic dengan kompensasi respirasi menunjukan Ph yang menurun,
BE yang menurun, HCO3 yang menurun, PCO2 yang menurun, semuanya
disebabkan retensi asam-asam organic pada gagal ginjal.

Radiology

Foto polos abdomen untuk dapat dilakukan untuk membantu menilai bentuk dan besar
ginjal (juga untuk melihat adanya batu atau obstruksi). Dehidrasi karena proses
diagnostic akan memperburuk keadaan ginjal, oleh sebab itu penderita diharapkan tidak
puasa dan harus minum.

Intra Vena Pielografi (IVP)

Pemeriksaan ini dilakukan Untuk menilai system pelviokalisis dan ureter.

USG (ultrasonografi)

Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal
parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter
proksimal, kandung kemih dan juga prostat.
EKG (elektrokardiogram)

Pemeriksaan EKG ini ntuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda
perikarditis, aritmia, gangguan elektrolit (hiperkalemia).

DIAGNOSE KEPERAWATAN YANG MUNGKIN DAPAT MUNCUL PADA PASIEN


CKD ATAU GAGAL GINJAL KRONIS

1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan disfungsi ginjal dan retensi


natrium yang ditandai dengan penurunan keluaran urine dan retensi cairan
2. Mual berhubungan dengan iritasi lambung yang ditandai dengan anoreksia dan
muntah
3. Risiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

INTERVENSI KEPERAWATAN PADA PASIEN CKD ATAU GAGAL GINJAL KRONIS

Diagnose 1 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan disfungsi ginjal dan


retensi natrium yang ditandai dengan penurunan keluaran urine dan retensi
cairan

Tujuan dan kriteria hasil (NOC)

Setelah diberikan perawatan pasien akan menunjukkan:

Kelebihan volume cairan dapat dikurangi, yang dibuktikan oleh Keseimbangan


elektrolit dan asam basa, keseimbangan cairan, fungsi ginjal yang adekuat
Keseimbangan cairan tidak akan terganggu/kelebihan yang dibuktikan oleh
indicator sebagai berikut:

1 gangguan eksterm
2 berat
3 sedang
4 ringan
5 tidak ada gangguan
Indikator 1 2 3 4 5
Keseimbangan asupan dan
haluaran dalam 24 jam
Berat badan stabil
Berat jenis urin dalam batas norma
Suara napas tambahan
Stress, distensi vena leher, dan
edema perifer

Intervensi keperawatan (NIC)

Pengkajian

Tentukan lokasi dan derajat edema perifer, sacral, dan periorbital pada skala 1+
sampai 4+
Kaji komplikasi pulmonal atau kardiovaskuler yang diindikasikan dengan
peningkatan tanda gawat napas, nadi, TD, buni jantung yang abnormal, dan
suara napas tidak normal
Kaji ekstremitas atau bagian tubuh yang edema terhadap gangguan sirkulasi dan
integritas kulit
Kaji efek pengobatan
Pantau secara teratur lingkar abdomen atau ekstremitas

Manajemen cairan (NIC):

Timbang berat badan setiap hari dan pantau kecenderungannya


Pertahankan catatan asupan dan haluaran yang akurat
Pantau hasil laboratorium yang relevan terhadap retensi cairan
Pantau indikasi kelebihan atau retensi cairan, sesuai dengan keperluan

Penyuluhan untuk pasien/keluarga

Ajarkan pasien tentang penyebab dan cara mengatasi edema, pembatasan diet,
dan penggunaan dosis, dan efek samping obat yang diprogramkan
Manajemen cairan (NIC): anjurkan pasien untuk puasa, sesuai dengan
kebutuhan

Aktivitas kolaboratif

Lakukan dialysis jika diindikasikan


Konsultasikan dengan penedia laanan kesehatan primer mengenai penggunaan
stoking antiemboli atau bulatan Ace
Konsultasikan dengan ahli gizi untuk memberikan diet dengan kandungan
protein yang adekuat dan pembatasan natrium

Manajemen cairan (NIC):


Konsultasikan ke dokter jika tanda dan gejala kelebihan cairan menetap atau
memburuk
Berikan diuretic, jika perlu

Aktivitas lain

Ubah posisi setiap.. (sebutkan)


Tinggikan ekstremitas untuk meningkatkan aliran balik vena
Pertahankan dan alokasikan pembatasan cairan pasien
Manajemen cairan (NIC): distribusikan asupan cairan selama 24 jam jika perlu

Perawatan dirumah

Bantu klien dan keluarga untuk menerapkan pembatasan diet dan latihan fisik
kedalam gaya hidup mereka
Kaji tingkat kepatuhan terhadap program terapi medis dan pengobatan
Kaji keluarga apakah mengenali tanda dan gejala memburuknya tingkat
kelebihan volue cairan dan bilamana harus menghubungi layanan kesehatan
primer atau ambulan darurat
Instruksikan klien untuk menimbang berat badannya setiap hari dengan alat
timbangn yang sama, beritahu dokter jika terdapat perubahan lebih dari 1,5 kg
dalam 24 jam
Tentukan apakah ada factor yang dapat untuk mengganggu kemampuan klien
atau motivasi klien untuk mematuhi pembatasan cairan dan diet

Diagnose 2 : Mual berhubungan dengan iritasi lambung yang ditandai dengan


anoreksia dan muntah

Tujuan dan kriteria hasil (NOC)

Setelah diberikan perawatan pasien akan menunjukkan:

Mual akan berkurang yang dibuktikan oleh Selera makan, Tingkat


kenyamanan, Hidrasi, Pengendalian mual-muntah, Mual dan muntah: efek
gangguan, Keparahan mual dan muntah, Status nutrisi yang adekuat
Memperlihatkan efek gangguan mual dan muntah yang dapat diterima, yang
dibuktikan oleh indicator sebagai berikut:

1 sangat berat
2 berat

3 sedang

4 ringan

5 tidak mengalami

Indikator 1 2 3 4 5
Penurunan asupan cairan
Penurunan asupan makanan
Penurunan haluaran urin
Gangguan keseimbangan cairan
Gangguan elektrolit serum
Gangguan status nutrisi
Penurunan berat badan

Memperlihatkan hidrasi, yang dibuktikan oleh indicator sebagai berikut:


1 gangguan eksterm
2 berat
3 sedang
4 ringan
5 tidak ada gangguan
Indikator 1 2 3 4 5
Peningkatan hematokrit
Membrane mukosa lembab
Peningkatan hematokrit
Rasa haus
Bola mata cekung dan lembab
Penurunan tekanan darah
Nadi cepat dan lemah

Melaporkan terbebas dari mual


Mengidentifikasi dan melakukan tindakan yang dapat menurunkan mual

Intervensi keperawatan (NIC)

Pengkajian

Pantau gejala subjektif mual pada pasien


Pantau warna, berat jenis dan jumlah urin
Kaji penyebab mual
Pemantauan nutrisi (NIC):

Pantau kecenderungan peningkatan atau penurunan berat badan


Pantau adanya kulit kering dan pecah-pecah yang disertai depigmentasi
Pantau turgorkulit jika diperlukan
Pantau adanya pembengkakan atau pelunakan, penyusutan dan peningkatan
perdarahan pada gusi
Pantau tingkat energy, malaise, keletihan dan kelemahan
Pantau asupan kalori dan makanan

Manajemen cairan (NIC):

Pertahankan keakuratan pencatatan asupan dan haluaran urin


Pantau TTV jika perlu
Pantau makanan dan cairan yang dikonsumsi dan hitung asupan kalori setiap
hari, jika perlu
Pantau status hidrasi, jika perlu

Penyuluhan untuk pasien dan keluarga

Jelaskan penyebab mual


Apaila memungkinkan, beritahu pasien seberapa lama kemungkinan mua akan
terjadi
Ajarkan pasien menelan untuk secara sadar atau napas dalam untuk menekan
reflek muntah
Ajarkan untuk makan secara perlahan
Ajarkan untuk membatasi minum 1 jam sebelum, 1 jam setelah, dan selama
makan

Aktivitas kolaboratif

Berikan obat antiemetic sesuai anjuran


Konsultasikan dengan dokter untuk memberikan obat pengendali nyeri yang
adekuat dan tidak menyebabkan mua pada pasien
Manajemen cairan (NIC): berikan terapi IV, sesuai dengan anjuran

Aktivitas lain

Tinggikan bagian kepala tempat tidur atau ubah posisi pasien lateral untuk
mencegah aspirasi
Pertahankan kebersihan klien dan tempat tidur saat terjadi muntah
Pindahkan segera benda-benda yang menimbulkan bau
Jangan menjadwakan tindakan yang menyebabkan nyeri atau mual sebelum
atau sesudah makan
Berikan perawatan mulut setelah terjadi muntah
Berikan kain basah yang dingin dipergelangan tangan, leher dan dahi pasien
Tawarkan makanan dingin dan makanan lainnya dengan aroma minimal
Pemantauan nutrisi (NIC): perhatikan perubahan ststus nutrisi yang signifikan
dan sesegera lakukan penanganan, jika perlu

Perawatan dirumah

Instruksikan kepada klien untuk menghindari bau dari makanan yang disiapkan
dirumah
Semua intervensi diatas dapat dilakukan untuk perawatan dirumah

Diagnose 3 : Risiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Tujuan dan kriteria hasil (NOC)

Setelah diberikan perawatan pasien akan menunjukkan:


Memperlihatkan status gizi: asupan makanan dan cairan, yang dibuktikan oleh indicator
sebagai berikut:

1. Tidak adekuat
2. Sedikit adekuat
3. Cukup adekuat
4. Adekuat
5. Sangat adekuat

Indicator 1 2 3 4 5
Makanan oral,
pemberian makanan
lewat selang, atau
nutrisi parenteral total
Asupan cairan oral
atau IV

Mempertahankan berat badan. Kg ata bertambahkg pada..(tglnya)


Menjelaskan komponen gizi adekuat
Mengungkapkan tekad untuk mematuhi diet
Menoleransi diet yang dianjurkan
Mempertahankan masa tubuh dan berat badan dalam batas normal
Memiliki nilai laboratorium dalam batas normal
Melaporkan tingkat energy yang adekuat

Intervensi keperawatan (NIC)

Intervensi untuk semua ketidakseimbangan nutrisi:

Pengkajian

Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan


Pantau nilai laboratotium, khususnya transferin, albumin, dan elektrolit

Manajemen nutrisi:

Ketahui makanan kesukaan pasien


Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan
Timbang pasien pada interval yang tepat

Penyuluhan untuk pasien/keluarga

Ajarkan metode untuk perencanaan makan


Ajarkan pasien dan keluarga tentang makanan yang berizi dan tidak mahal
Manajemen nutrisi: berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan
bagaimana memenuhinya

Aktivitas kolaboratif

Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan protein pasien yang
mengalami ketidakadekuatak asupan protein
Diskusikan dengan dokter kebutuhan stimulasi nafsu makan, makanan lengkap,
pemberian makanan melaui selang, atau nutrisi parenteral total agar asupan
kalori yang adekuat dapat dipertahankan
Rujuk kedokter untuk menentukan penyebab gangguan nutrisi
Rujuk ke program gizi dikomunitas yang tepat jika pasien tidak dapat memenuhi
asupan nutrisiyang adekuat
Manajemen nutrisi; tentukan dengan melakukan kolaborasi dengan ahli gizi jika
diperlukan jumlah kalori, dan jenis zat gizi yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi.

Aktivitas lain

Buat perencanaan makan sesuai dengan selera pasien


Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien
Suapi pasien jika perlu
Manajemen nutrisi: berikan pasien minuman dan kudapan bergizi tinggi protein,
tinggi kaori yang siap dikonsumsi dan ajarkan pasien tentang cara membuat
jadwal makan jika perlu

Itulak tadi konsep Askep CKD Aplikasi Nanda NIC NOC. Mudah mudahan dapat
bermanfaat bagi anda.

Sumber:
Sumber: Judith M. Wilkinson dan Nancy R. Ahern. Buku Saku DIAGNOSIS
KEPERAWATAN Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria hasil NOC Edisi 9. Alih
Bahasa Ns. Esti Wahuningsih, S.Kep dan Ns. Dwi Widiarti, S,Kep. EGC. Jakarta.
Doenges, EM, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
https://banyumasperawat.wordpress.com/2009/07/22/form-pengkajian-13-domain-
nanda/ di edit oleh admin portalperawat.com.