Anda di halaman 1dari 56

TEORI AKUNTANSI

FINANCIAL REPORTING DISCLOSURE REQUIREMENT


AND ETHICAL RESPONSIBILITES

Disusun oleh:
1. Andrey Wicaksono (123161011)
2. Christo Hotman (123161026)
3. Felicia Faustina (123161043)
4. Helmi Juliansyah (123161050)
5. Megawati Chandra (123161067)

Magister Akuntansi Universitas Trisakti


2017
Pada bab sebelumnya telah dibahas secara ringkas dan komprehensif perihal prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum (GAAP : Generally Accepted Accounting Principles) dan juga
telah menjadi perhatian utama terhadap prinsip-prinsip yang diundangankan oleh FASB
(Financial Accounting Standard Board) dan pendahulunya dalam peran mereka sebagai badan
profesi akuntansi / regulator yang berwenang untuk menerbitkan standar akuntansi keuangan.

Oleh karena itu, banyak diskusi yang mengarahkan untuk mengidentifikasi transaksi yang akan
diperlakukan sebagai informasi akuntansi, pengukuran yang tepat atas transaksi tersebut,
kriteria untuk mengklasifikasikan data dalam laporan keuangan, dan persyaratan pelaporan dan
pengungkapan dari berbagai prinsip-prinsip akuntansi dan pernyataaan standar akuntansi
keuangan. Bab ini akan membahas pentingnya pengungkapan dalam pelaporan keuangan,
khususnya akan membahas persyaratan pengungkapan yang diterbitkan oleh FASB dan SEC
(Securities and Exchange Commission). Selain itu juga akan dibahas tanggung jawab etis
akuntan kepada masyarakat.

Pengakuan dan Kriteria Pengukuran


SFAC (Statement of Financial Accounting Concepts) No. 5, menjelaskan berbagai metode
pengungkapan yang harus digunakan perusahaan dalam menerbitkan laporan keuangan, yaitu
sebagai berikut:
Dari tabel di atas, dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Ruang lingkup pengakuan dan pengukuran / The scope of recognition and measurement
2. Laporan Keuangan dasar / Basic financial statements
3. Area yang terkena dampak langsung standar FASB saat ini / Areas directly affected by
existing FASB standards
4. Pelaporan keuangan / Financial reporting
5. Informasi lain yang berguna untuk investasi, kredit, dan keputusan serupa / All information
useful for investment, credit, and similar decisions

Pada bab ini akan dibahas perihal item nomor 2 sampai dengan nomor 5 di atas. Terdapat
catatan tambahan bahwa selain laporan tahunan perusahaan, pengungkapan dalam laporan
tahunan perusahaan mencakup catatan kaki atas laporan keuangan; informasi tambahan seperti
informasi segmental; metode pengungkapan keuangan lainnya seperti diskusi dan analisa oleh
manajemen; informasi perusahaan lainnya, seperti laporan analis dan berita. Namun, informasi
yang paling relevan harus selalu muncul di salah satu laporan keuangan, asalkan memenuhi
kriteria untuk pengukuran dan pengakuan sesuai SFAC No. 5.

Basic Financial Statements (Laporan Keuangan Dasar)


Selain 4 (empat) laporan dasar (neraca/laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan arus
kas, dan laporan perubahan ekuitas), dalam suatu laporan keuangan yang lengkap juga
terdapat catatan atas laporan keuangan, daftar-daftar tambahan, dan juga sisipan terkait
pengungkapan.
Catatan atas laporan keuangan perusahaan menyediakan tambahan informasi penting
mengenai item-item dalam laporan keuangan perusahaan. Secara umum, catatan atas laporan
keuangan memperlihatkan informasi yang menjelaskan, mengklarifikasikan atau merinci item
yang muncul pada laporan keuangan yang tidak mudah untuk dimasukkan ke dalam laporan
keuangan itu sendiri. Contoh umum dalam catatan atas laporan keuangan tersebut adalah:
1. Kebijakan Akuntansi / Accounting Policies
2. Daftar-daftar / Schedules and Exhibits
Contoh: Perusahaan biasanya memberikan daftar-daftar mengenai hutang jangka panjang
atau pajak penghasilan.
3. Penjelasan atas item-item laporan keuangan / Explanations of financial statement items.
Beberapa item dalam laporan keuangan membutuhkan penjelasan tambahan agar
pengguna laporan keuangan dapat memahami informasi yang dilaporkan dalam laporan
keuangan. Contoh: Penjelasan mengenai imbalan pasca kerja / pensiun.
4. Informasi umum mengenai perusahaan / General information about the company.
Terkadang perusahaan menghadapi peristiwa yang dapat mempengaruhi kinerja atau posisi
keuangan namun belum dapat diakui dalam laporan keuangan. Dalam hal ini, penanam
modal berkepentingan untuk segera mengetahui informasi tersebut. Contoh: Informasi
terkait peristiwa setelah tanggal neraca yang mempunyai akibat yang material terhadap
laporan keuangan (subsequent event) atau contigencies (kejadian di masa yang akan datang
namun tidak pasti).

Daftar-daftar tambahan dalam laporan keuangan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan


dalam memahami laporan keuangan. Dapat juga digunakan untuk menyoroti suatu
kecenderungan (seperti ringkasan lima tahun) atau juga karena diminta oleh pernyataan FASB
(seperti informasi mengenai biaya saat ini / current costs).
Pengungkapan yang terdapat di awal laporan keuangan (biasanya dalam neraca), biasanya
digunakan untuk menjelaskan dasar penilaian suatu elemen laporan keuangan tertentu tetapi
juga dapat memberikan informasi lain seperti nilai nominal dan jumlah saham yang diotorisasi
dan diterbitkan untuk berbagai kelas saham milik perusahaan.

Accounting Policies (Kebijakan Akuntansi)


Berdasarkan APB Opinion No. 22, Disclosure of Accounting Policies (lihat FASB ASC
235), mewajibkan semua perusahaan untuk mengungkapkan kebijakan akuntansi yang
digunakan perusahaan serta metode yang digunakan dalam kebijakan akuntansi tersebut.
Contoh: Kebijakan dalam perhitungan penyusutan serta metode penghitungannya; kebijakan
perhitungan persediaan serta metode penilaiannya. Secara khusus, perusahaan
mengungkapkan informasi tersebut pada bagian ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan
(a Summary of Significant Accounting Policies) sebelum catatan lainnya. APB Opinion No. 22
secara khusus mensyaratkan bahwa metode dan prosedur akuntansi yang mencakup hal-hal
berikut harus diungkapkan:
1. Pilihan dari alternatif yang dapat diterima / a selection from existing acceptable alternatives.
2. Prinsip-prinsip dan metode yang khusus bagi industri tempat entitas pelaporan beroperasi.
3. Penerapan GAAP yang tidak biasa / inovatif (unusual or innovative applications of GAAP).
Tujuan utama APB dalam menerbitkan Opinion No. 22 adalah untuk memberikan informasi
yang membantu penanam modal untuk membandingkan antar perusahaan and antar industri.
Karena kebijakan akuntansi memiliki dampak yang signifikan terhadap angka-angka yang
dilaporkan dalam laporan keuangan, penanam modal perlu mengetahui kebijakan tersebut
sehingga mereka dapat membuat perbandingan antara perusahaan dalam industri yang sejenis
maupun antar perusahaan dalam industri yang berbeda. Pada akhirnya, dengan mengetahui
kebijakan akuntansi yang digunakan memungkinkan penanam modal membuat keputusan
ekonomi dengan lebih percaya diri karena mereka dapat membuat perbandingan dengan lebih
baik.

Subsequent Events (Peristiwa Setelah Tanggal Neraca)


Karena kompleksitas proses penutupan buku, persyaratan audit, dan lamanya waktu yang
dibutuhkan untuk mencetak dan mendistribusikan laporan tahunan, perusahaan biasanya
menerbitkan laporan keuangan beberapa minggu setelah penutupan tahun fiskal. Selama
periode antara akhir tahun buku fiskal perusahaan dan tanggal penerbitan laporan keuangan,
kemungkinan terdapat peristiwa-peristiwa yang belum tercermin dalam catatan akuntansi yang
disebut sebagai peristiwa setelah tanggal neraca (subsequent events) yang mungkin juga (1)
merupakan peristiwa yang memberikan bukti lebih lanjut mengenai kondisi pada tanggal
neraca atau (2) merupakan peristiwa yang memberikan bukti lebih lanjut mengenai kondisi
yang tidak ada pada tanggal neraca.
GAAP mensyaratkan bahwa peristiwa pada kondisi (1) untuk dilaporkan dalam laporan
keuangan perusahaan. Dengan kata lain, ketika perusahaan mengalami peristiwa yang terjadi
setelah tanggal neraca namun sebelum tanggal diterbitkannya laporan keuangan dimana
peristiwa tersebut memberikan bukti lebih lanjut mengenai kondisi pada tanggal neraca,
diperlukan penyesuaian untuk mencerminkan dampak pada posisi keuangan perusahaan
akibat peristiwa tersebut. Contoh: Bila perusahaan menyelesaikan proses tuntutan hukum
dengan jumlah yang lebih besar dan berbeda secara signifikan dari jumlah yang telah dicatat,
maka perusahaan harus menyesuaikan jumlah yang semula telah dicatat dan melaporkan
penyesuaian tersebut dalam laporan keuangan. Pengungkapan atas penyesuaian tersebut
diperlukan karena peristiwa tersebut terjadi setelah tanggal neraca. Jika tidak dilakukan
pengungkapan maka laporan keuangan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi keuangan
yang sebenarnya pada tanggal neraca atau tidak sepenuhnya mencerminkan kinerja perusahaan
selama tahun buku.
Disamping itu, GAAP tidak mensyaratkan penyesuaian dalam laporan keuangan terkait dengan
peristiwa pada kondisi (2). Namun, perusahaan seringkali mengungkapkan peristiwa tersebut
dalam catatan atas laporan keuangan mereka. Pengungkapan ini memungkinkan perusahaan
mendiskusikan dampak informasi baru tersebut. Perusahaan mengungkapkan peristiwa setelah
tanggal neraca ini ketika mereka menerbitkan surat hutang, menimbulkan kerugian, menjual
aset penting, menyelesaikan proses pengadilan yang dimulai sebagai akibat dari kejadian yang
terjadi setelah tanggal neraca.

Area yang terkena dampak langsung standar FASB saat ini: Informasi Pelengkap
Kualitas akuntansi yang dapat dipa: hami, didefinisikan dalam SFAC No. 8 mewajibkan data
laporan keuangan diringkas sehingga dapat digunakan oleh pengguna informasi. Akibatnya,
informasi penting yang tidak memenuhi persyaratan pengukuran dan pelaporan untuk
disajikan dalam laporan keuangan disajikan sebagai informasi pelengkap. Informasi ini
mungkin termasuk dalam catatan atas laporan keuangan atau merupakan bagian terpisah yang
biasanya disebut dengan financial highlights. Informasi pelengkap ini juga dapat disyaratkan
oleh FASB atau SEC. Contoh informasi pelengkap mencakup informasi segmen, informasi
yang menjelaskan dampak dari perubahan tingkat harga, informasi tentang cadangan minyak
dan gas bumi bagi perusahaan ekstraktif, laporan auditor, laporan keuangan interim, dan dasar
akuntansi likuidasi.

Price Level Information (Informasi Tingkat Harga)


Tingginya tingkat inflasi yang dialami oleh Amerika Serikat pada tahun 1970-an menyebabkan
kekhawatiran bahwa laporan keuangan akan terdistorsi. Akibatnya, SEC dan FASB
mengeluarkan pengumuman yang meminta perusahaan agar memberikan pengungkapan
tambahan tentang dampak perubahan harga dalam laporannya. Pengungkapan ini dibuat dalam
daftar yang terpisah. Kemudian setelah inflasi mereda pada tahun 1980-an, persyaratan ini
ditangguhkan sehingga informasi tambahan ini tidak lagi diperlukan.

Auditors Report (Laporan Auditor)


SEC mensyaratkan bahwa bagi setiap perusahaan yang menjual sahamnya kepada publik untuk
mendapatkan opini auditor. Auditor merupakan akuntan independen yang memiliki tanggung
jawab untuk memeriksa laporan keuangan yang disiapkan oleh manajemen dan menentukan
apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar dan sesuai dengan GAAP. Dalam
melaksanakan tugasnya, auditor berperan sebagai agen perantara antara manajemen
perusahaan dan pemegang saham, yang tugasnya adalah untuk melakukan validasi atas asersi
manajemen yang tercantum dalam laporan keuangan. Proses ini dilakukan melalui komunikasi
dengan komite audit perusahaan.
Opini auditor bukan merupakan metode pengungkapan, namun opini wajar tanpa
pengecualian menyiratkan bahwa tingkat pengungkapan perusahaan sudah memadai. Berikut
adalah pedoman untuk menyiapkan laporan auditor yang dikembangkan oleh AICPA:
1. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan yang disajikan telah sesuai
dengan GAAP.
2. Laporan auditor harus mengidentifikasi keadaan dimana prinsip akuntansi belum diamati
secara konsisten pada periode berjalan sehubungan dengan periode sebelumnya.
3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan dianggap cukup memadai kecuali
dinyatakan lain dalam laporan.
Laporan auditor mengandung pendapat tentang laporan keuangan yang diambil secara
keseluruhan, atau pernyataan yang menyatakan bahwa pendapat tidak dapat diungkapkan. Bila
pendapat keseluruhan tidak dapat diungkapkan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam
kasus dimana nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, laporan harus berisi indikasi
yang jelas mengenai karakteristik pekerjaan auditor, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang
diambil auditor.
Pada umumnya, audit akan menghasilkan laporan audit standar yaitu opini wajar tanpa
pengecualian (unqualified opinion) yang berisi tiga bagian:
1. Paragraf Pembuka yang mengindikasikan bahwa audit telah dilakukan dan termasuk juga
dinyatakan bahwa laporan keuangan merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan.
2. Paragraf Ruang Lingkup yang mengindikasikan bahwa audit dilaksanakan sesuai dengan
prinsip-prinsip audit yang dapat diterima umum.
3. Paragraf Opini yang mengindikasikan bahwa laporan keuangan telah disajikan dengan
wajar dan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang dapat diterima umum.

Dalam hal auditor tidak yakin untuk memberikan opini wajar tanpa pengecualian, maka
auditor dapat memberikan opini sebagai berikut:
1. Opini wajar dengan pengecualian (qualified opinion).
Opini ini mengindikasikan bahwa kecuali untuk hal-hal tertentu, laporan keuangan telah
disajikan secara wajar. Opini ini diterbitkan ketika:
a. Terdapat suatu keadaan yang mencegah auditor untuk melakukan seluruh prosedur
audit yang diperlukan untuk memenuhi standar audit yang diterima umum.
b. Laporan keuangan mengandung penyimpangan material dari GAAP.
c. Belum semua pengungkapan informatif telah dibuat dalam laporan keuangan.
2. Opini tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion).
Auditor tidak memberikan pendapat karena:
a. Adanya konflik kepentingan dan kurangnya independensi antara auditor dan auditee.
b. Terdapat pembatasan ruang lingkup audit baik secara sengaja atau tidak yang
menghalangi pekerjaan auditor dalam memperoleh bukti dan menjalankan prosedur
audit.
c. Ada keraguan besar terkait dengan kemampuan keberlanjutan auditee untuk terus
beroperasi.
d. Ada ketidakpastian yang signifikan dalam auditee.
3. Opini tidak wajar (adverse opinion).
Opini ini diberikan ketika laporan keuangan disajikan tidak berdasarkan prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum.
4. Laporan auditor atas pengendalian internal (auditors report on internal control).
Setelah diundangkannya Sarbanes-Oxley Act tahun 2002, Dewan Pengawas Akuntansi
Perusahaan Publik (the Public Company Accounting Oversight Board / PCAOB) dibentuk
untuk memantau dan mengatur audit bagi perusahaan publik. PCAOB mewajibkan auditor
perusahaan publik untuk memasukkan pengungkapan tambahan dan membuat opini
mengenai pengendalian internal perusahaan dan untuk menentukan penilaian perusahaan
dan auditor atas pengendalian internal atas pelaporan keuangan. Persyaratan ini telah
mengubah opini audit untuk memasukkan semua pengungkapan yang diperlukan baik
dengan menyajikan laporan setelah laporan audit atau menggabungkan kedua laporan
tersebut ke dalam satu laporan auditor saja.
5. Opini Keberlangsungan Perusahaan (Going Concern Opinion).
Asumsi Keberlangsungan (going concern) adalah prinsip dasar akuntansi. Asumsi ini berarti
bahwa suatu entitas diharapkan dapat terus beroperasi untuk waktu yang akan datang.
Standar audit mengharuskan auditor untuk mengevaluasi kondisi atau kejadian yang
ditemukan selama audit yang menimbulkan pertanyaan tentang asumsi going-concern.
Seorang auditor yang menyimpulkan bahwa ada keraguan tentang kemampuan entitas untuk
melanjutkan operasionalnya perlu membuat laporan audit yang dimodifikasi (namun tetap
unqualified). Jika auditor menganggap perusahaan tidak going-concern untuk waktu yang
akan datang, dalam laporan auditnya auditor wajib menyertakan paragraf penjelasan
sebelum paragraf opini atau setelah paragraf opini untuk menjelaskan situasi tersebut.
Selain itu, pengguna laporan keuangan membuat penilaian sepanjang tahun tentang prospek
perusahaan. Dengan demikian, mereka akan mendapatkan keuntungan dari pengungkapan

yang dilakukan perusahaan dalam laporan keuangan interim dan laporan tahunan mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi asumsi going-concern.
Contoh kombinasi laporan audit dan pengendalian internal Hershey Company pada Exhibit
17.2.

Interim Financial Statements (Laporan Keuangan Interim)


SEC mewajibkan perusahaan untuk menerbitkan ringkasan laporan keuangan kuartalan
menggunakan formulir 10-Q. Informasi atas kinerja keuangan dan operasional untuk periode
kurang dari satu tahun dinamakan laporan keuangan interim (Interim Financial Statements).
Hampir seluruh perusahaan publik menerbitkan informasi terkait kinerja periodiknya melalui
berbagai media. Penanam modal perlu menyadari adanya perubahan posisi keuangan
perusahaan sesegara mungkin. Sebagian besar informasi yang diungkapkan dalam laporan
keuangan interim berupa data analisis dapat digunakan oleh Pemerintah untuk
mengembangkan informasi mengenai keadaan ekonomi, pengendalian moneter, kebutuhan
untuk melakukan perubahan peraturan perpajakan. Ada juga bukti bahwa pelaporan interim
berdampak pada harga saham, hal ini mengindikasikan bahwa penanam modal menggunakan
informasi keuangan interim. Oleh karena itu penting agar informasi interim dapat seoptimal
mungkin.
Pada tahun 1973, APB mempelajari perihal pelaporan interim ini dan memberikan
kesimpulannya dalam APB Opinion No. 28 tentang Interim Financial Reporting (lihat FASB
ASC 270). Dalam meninjau pertanyaan umum, APB mencatat bahwa terdapat dua pandangan
mengenai tujuan utama pelaporan keuangan interim.
1. Satu pandangan berpendapat bahwa setiap periode interim adalah periode akuntansi yang
terpisah dan pendapatan harus ditentukan dengan cara yang sama seperti untuk periode
tahunan sehingga pendapatan dan biaya harus dilaporkan pada saat terjadinya (discrete
view).
2. Pandangan lain berpendapat bahwa periode interim merupakan bagian dari periode
tahunan, sehingga pendapatan dan biaya dapat dialokasikan ke berbagai periode interim
meskipun hanya terjadi dalam satu periode (integral view).

Dalam APB Opinion No. 28, dinyatakan bahwa informasi keuangan interim sangat penting
untuk menyediakan data yang tepat waktu mengenai kemajuan perusahaan dan bahwa
kegunaan data didasarkan pada hubungannya dengan laporan tahunan. Oleh karena itu, APB
menetapkan bahwa periode interim harus dipandang sebagai bagian yang integral dari periode
tahunan dan bahwa prinsip serta praktik dalam periode tahunan harus diikuti dalam periode
interim. Namun, modifikasi tertentu dianggap perlu untuk memberikan hubungan yang lebih
baik dengan periode tahunan.
Selain itu, bagi perusahaan publik yang menyajikan ringkasan informasi untuk analisis
keuangan minimal harus menyediakan informasi tertentu untuk peride interim yang
bersangkutan serta periode interim yang sama pada tahun sebelumnya. Pedoman ini
dimaksudkan untuk meminimalkan pengurangan informasi dalam laporan interim. Item-item
yang harus diungkapkan antara lain adalah penjualan, laba bersih per lembar saham,
pendapatan musiman, pelepasan segmen usaha, kontijensi, dan perubahan dalam prinsip
akuntansi.

Liquidation Basis of Accounting (Dasar Akuntansi Likuidasi)


Pada Juli 2012, FASB menerbitkan amandemen yang diusulkan untuk FASB ASC Topic 205
tentang Presentation of Financial Statements yang memandang perlunya menyiapkan laporan
keuangan dengan menggunakan basis akuntansi likuidasi ketika likuidasi dianggap mungkin
akan segera terjadi.
Likuidasi didefinisikan sebagai proses dimana entitas mengubah asetnya menjadi uang kas
atau aset lainnya dan sebagian atau seluruhnya untuk menyelesaikan kewajibannya dengan
kreditor untuk mengantisipasi entitas yang menghentikan operasinya. Likuidasi dianggap akan
terjadi ketika salah satu situasi berikut muncul:
1. Rencana likuidasi telah disetujui oleh pihak yang berwenang untuk membuat rencana
tersebut efektif dan kemungkinannya kecil bahwa pelaksanaan rencana tersebut akan
dihambat oleh pihak lain.
2. Rencana likuidasi dipaksakan oleh pihak lain (misalnya, kebangkutan paksa) dan
kemungkinannya kecil bahwa entitas kemudian akan kembali dari likuidasi.

Selain itu, jika sebuah rencana untuk likuidasi ditetapkan dalam dokumen pendirian entitas
(misalnya, entitas dengan siklus hidup terbatas), likuidasi akan segera dipertimbangkan bila
keputusan manajemen yang signifikan mengenai kelanjutan operasi entitas yang sedang berjalan
telah berhenti atau secara substansial terbatas pada yang diperlukan untuk melaksanakan
rencana likuidasi selain rencana yang ditetapkan pada saat awal pendirian.
ASU juga mewajibkan laporan keuangan disusun dengan menggunakan dasar likuidasi untuk
mencerminkan informasi yang relevan mengenai sumber daya dan kewajiban entitas dalam
likuidasi dengan mengukur dan menyajikan aset serta liabilitas dalam laporan keuangan entitas
sebagai jumlah uang tunai atau pendapatan yang diharapkan diperoleh pada saat likuidasi,
termasuk biaya yang terkait dengan penyelesaian aset dan liabilitas tersebut.
Laporan keuangan ini harus mencakup:
1. Laporan perubahan aset bersih dalam likuidasi / Statement of Changes in Net Assets in
Liquidation.
Merupakan suatu laporan yang mencakup informasi tentang perubahan aset bersih atau
pertimbangan lain selama periode likuidasi yang diharapkan dibayar oleh entitas selama
proses likuidasi.
2. Laporan aset bersih dalam likuidasi / Statement of Net Assets in Liquidation.
Pernyataan yang mencakup informasi tentang aset bersih yang tersedia untuk
didistribusikan kepada penanam modal dan penggugat lainnya selama likuidasi pada akhir
periode pelaporan.

ASU juga mensyaratkan pengungkapan tentang rencana pembubaran entitas, metode dan
asumsi signifikan yang digunakan untuk mengukur aset dan liabilitas, jenis dan jumlah biaya
dan pendapatan yang diperoleh, serta perkiraan waktu likuidasi. ASU efektif untuk entitas yang
menentukan bahwa waktu likuidasi sudah dekat selama periode pelaporan tahunan yang
dimulai setelah tanggal 15 Desember 2013 dan periode pelaporan interim di dalamnya. Entitas
harus menerapkan persyaratan secara prospektif sejak saat likuidasi telah dekat, penerapan dini
diijinkan.

Sarana lain pelaporan keuangan


Laporan Keuangan, catatan atas laporan keuangan, dan daftar-daftar tambahan merupakan
laporan keuangan perusahaan. Semua informasi penting harus disertakan dalam laporan
keuangan, dan informasi relevan lainnya yang dapat membantu dalam memahami laporan
keuangan disajikan dalam bentuk naratif. Contoh jenis item ini adalah diskusi dan analisis
manajemen serta surat kepada pemegang saham.
Diskusi dan Analisis Manajemen
SEC mensyaratkan semua perusahaan publik untuk memasukkan MD&A dalam laporan
tahunan mereka. Alasan untuk memasukkan informasi ini dalam laporan tahunan awalnya
diuraikan dalam SFAC No. 1, yang menyatakan:
Manajemen tahu lebih banyak tentang perusahaan dan masalahnya daripada investor,
kreditur, atau pihak luar lainnya dan seringkali dapat meningkatkan kegunaan informasi
keuangan dengan mengidentifikasi transaksi tertentu, kejadian lain, dan keadaan yang
mempengaruhi perusahaan serta menjelaskan dampak keuangannya.

Pada dasarnya, bagian MD&A mengevaluasi penyebab dan menjelaskan alasan kinerja
perusahaan selama periode tahunan sebelumnya. Pengungkapan yang diperlukan mencakup
informasi tentang likuiditas, sumber daya modal, dan hasil operasi. SEC juga mewajibkan
manajemen untuk menyoroti tren yang menguntungkan atau tidak menguntungkan dan untuk
mengidentifikasi kejadian atau ketidakpastian signifikan yang mempengaruhi ketiga faktor
tersebut. Karena perusahaan harus mengungkapkan hal-hal yang dapat mempengaruhi laporan
keuangannya di masa depan, MD&A memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk
mengevaluasi kinerja masa lalu perusahaan dan kemungkinan dampaknya terhadap kinerja di
masa depan. Tentu saja, untuk membahas pengaruh kinerja masa lalu di masa yang akan
datang, manajemen harus menggunakan berbagai perkiraan atau penaksiran. Meskipun diskusi
khusus ini sering bergantung pada perkiraan subjektif, SEC mengindikasikan bahwa relevansi
informasi tersebut dengan pengguna melebihi potensi kurangnya keandalan. Kenyataannya,
dalam upaya mendorong presentasi ini, SEC telah menyediakan peraturan "safe harbor /
pelabuhan aman" yang melindungi perusahaan tersebut dari tuntutan kecurangan selama
manajemen menggunakan perkiraan yang dipersiapkan dengan wajar dan diungkapkan dengan
itikad baik.

Pada tahun 1997, SEC menerbitkan peraturan pengungkapan baru dalam amandemen
peraturan S-X berjudul "Pengungkapan Kebijakan Akuntansi untuk Instrumen Keuangan
Derivatif dan Instrumen Komoditi Derivatif serta Pengungkapan Informasi Kuantitatif dan
Kualitatif tentang Risiko Pasar yang melekat pada Instrumen Keuangan Derivatif, Instrumen
Keuangan Lainnya, dan Instrumen Komoditi Derivatif." Seperti yang ditunjukkan dalam
judulnya, rilis ini mewajibkan pengungkapan informasi kualitatif dan kuantitatif tentang risiko
pasar oleh semua perusahaan yang terdaftar di SEC. Risiko pasar didefinisikan sebagai risiko
kerugian yang timbul dari adanya perubahan kurs dan harga pasar yang merugikan dari item
tersebut seperti tingkat suku bunga, kurs mata uang, harga komoditas, dan harga ekuitas.

Pengungkapan perlu dirancang untuk memberikan informasi kepada investor tentang eksposur
perusahaan terhadap risiko pasar, seperti risiko yang terkait dengan perubahan tingkat suku
bunga, nilai tukar mata uang asing, harga komoditas, dan harga saham. Informasi harus
menunjukkan risiko pasar yang dihadapi perusahaan serta bagaimana manajemen perusahaan
memandang dan mengelola risiko pasarnya. Amandemen ini dikeluarkan sebagai tanggapan
atas kerugian derivatif yang ditimbulkan oleh perusahaan di awal tahun 1990an, seperti
kerugian derivatif dari Showa Shell Sekiya sebesar $1.5 miliar, kerugian Procter and Gamble
sebesar $157 juta terkait swap mata uang dan kerugian karyawan Arco sebesar $22 Juta pada
pasar uang derivatif.

Persyaratan pengungkapan yang diperluas mengamanatkan masuknya informasi kuantitatif dan


kualitatif tentang risiko pasar yang melekat pada instrumen yang sensitif terhadap risiko pasar.
Informasi ini diungkapkan baik di luar laporan keuangan maupun dalam catatan terkait.
Informasi kuantitatif tentang instrumen yang sensitif terhadap risiko pasar harus diungkapkan
dengan menggunakan satu atau beberapa alternatif berikut:
1. Penyajian berupa tabel mengenai informasi nilai wajar dan persyaratan kontrak yang
relevan untuk menentukan arus kas masa depan, yang dikategorikan berdasarkan
perkiraan tanggal jatuh tempo.
2. Analisis sensitivitas yang mengungkapkan potensi kerugian pada pendapatan, nilai
wajar, atau arus kas masa depan dari hipotetis yang dipilih dalam perubahan tingkat
harga dan harga pasar.
3. Pengungkapan nilai-risiko yang mengekspresikan potensi kerugian pada pendapatan,
nilai wajar, atau arus kas masa depan dari pergerakan pasar selama periode yang dipilih
dan kemungkinan terjadinya yang dipilih.

Ketiga metode alternatif di atas diperbolehkan karena SEC menghendaki persyaratan


pengungkapan tentang risiko pasar yang cukup fleksibel untuk mengakomodasi berbagai jenis
perusahaan terdaftar, tingkat eksposur risiko pasar yang berbeda, dan metode alternatif untuk
mengukur risiko pasar.

Tujuan utama dari pengungkapan kuantitatif adalah untuk memberi informasi kepada investor
informasi tentang potensi eksposur perusahaan terdaftar terhadap risiko pasar. Oleh karena itu,
dalam mempersiapkan informasi kuantitatif, peruahaan terdaftar diharuskan untuk
mengkategorikan instrumen yang sensitif terhadap risiko pasar ke dalam instrumen yang
digunakan untuk tujuan perdagangan, dan instrumen untuk tujuan selain perdagangan. Secara
khusus, perusahaan harus melakukan pengungkapan:
1. Paparan risiko pasar utama mereka pada akhir periode pelaporan saat ini
2. Bagaimana mereka mengelola eksposur risiko pasar tersebut (seperti deskripsi tujuan,
strategi umum, dan instrumen, jika ada, yang digunakan untuk mengelola eksposur
risiko pasar tersebut)
3. Perubahan dalam eksposur risiko pasar utama atau bagaimana eksposur tersebut
dikelola, dibandingkan dengan periode pelaporan terkini dan yang diketahui atau
diharapkan di masa mendatang.

Pengujian atas laporan keuangan Hershey dan Tootsie Roll mengungkapkan bahwa kedua
perusahaan menggunakan instrumen keuangan derivatif untuk mengelola risiko. Informasi
berikut tentang penggunaan instrumen keuangan derivatif oleh Hershey dalam laporan 10-K
tahun 2011:
Kami menggunakan instrumen derivatif tertentu, dari waktu ke waktu, untuk mengelola
risiko. Ini termasuk swap suku bunga untuk mengelola risiko tingkat suku bunga, kontrak
berjangka valuta asing dan opsi untuk mengelola risiko nilai tukar mata uang asing, dan
kontrak berjangka komoditas dan opsi untuk mengelola eksposur risiko harga pasar
komoditas.
Kami menandatangani perjanjian swap suku bunga dan kontrak berjangka valuta asing dan
opsi untuk periode yang konsisten dengan eksposur yang mendasarinya. Instrumen
derivatif ini bukan merupakan posisi yang independen dari eksposur tersebut.
Kami memasukkan kontrak berjangka komoditas dan opsi serta instrumen derivatif
lainnya untuk periode yang berbeda-beda. Instrumen derivatif komoditas ini dimaksudkan
agar efektif dan lindung nilai terhadap risiko harga pasar yang terkait dengan pembelian
bahan baku, kebutuhan energi dan biaya transportasi. Kami tidak memegang atau
menerbitkan instrumen derivatif untuk tujuan perdagangan dan bukan merupakan pihak
atas instrumen apapun dengan fitur prabayar.
Dalam memasuki kontrak ini, kami menanggung risiko yang mungkin timbul dari
kemungkinan ketidakmampuan pihak lawan transaksi untuk memenuhi persyaratan
kontrak mereka. Kami mengurangi risiko ini dengan melakukan penilaian keuangan
sebelum pelaksanaan kontrak, evaluasi berkala atas kinerja pihak lawan transaksi dan
mempertahankan beragam portofolio rekanan yang berkualitas. Kami tidak mengharapkan
adanya kerugian yang signifikan dari kelalaian pihak lawan transaksi.

Pada tahun 2003 SEC menerbitkan panduan interpretasi baru mengenai pengungkapan item
pada bagian MD&A dari laporan 10-K. Secara khusus, panduan tambahan diberikan untuk
area berikut:
1. Penyajian MD&A secara menyeluruh.
Dalam dunia informasi yang material, perusahaan harus menyajikan keterbukaan mereka
sehingga informasi yang paling penting akan menonjol, perusahaan harus menghindari
pengungkapan ganda yang tidak perlu yang dapat membanjiri pembaca dan bertindak
sebagai penghalang untuk mengidentifikasi dan memahami masalah yang material, dan
banyak perusahaan akan memberikan manfaat dari memulai MD&A mereka dengan
bagian yang memberikan gambaran tingkat eksekutif dan memberi konteks untuk diskusi
lebih lanjut.
2. Fokus dan isi MD&A (termasuk materialitas, analisis, ukuran kinerja utama, dan tren
material dan ketidakpastian).
Dalam menentukan isi MD&A, perusahaan harus fokus pada informasi yang bersifat
material dan menghilangkan informasi yang tidak material yang tidak memberikan
pemahaman tentang kondisi keuangan, likuiditas dan sumber daya keuangan perusahaan,
perubahan kondisi keuangan, dan hasil operasi (baik dalam konteks laba rugi dan arus
kas); Perusahaan harus mengidentifikasi dan mendiskusikan indikator kinerja utama,
termasuk indikator kinerja non-keuangan, yang digunakan untuk mengelola bisnis dan itu
akan menjadi tren, kejadian, tuntutan, komitmen, dan ketidakpastian yang secara wajar
cenderung memiliki dampak material terhadap kondisi keuangan atau kinerja operasi; dan
perusahaan seharusnya tidak hanya memberikan pengungkapan informasi yang responsif
terhadap persyaratan MD&A, namun juga analisis yang responsif terhadap persyaratan
yang menjelaskan pandangan manajemen mengenai implikasi dan pentingnya informasi
tersebut dan yang memenuhi tujuan MD&A.
3. Pengungkapan likuiditas dan sumber daya modal.
Perusahaan harus mempertimbangkan analisis dan penjelasan yang lebih baik mengenai
sumber dan penggunaan uang tunai dan perubahan yang material pada item tertentu yang
mendasari catatan utama yang dilaporkan dalam laporan keuangan mereka, serta bukan
pembacaan item dalam laporan arus kas; Perusahaan yang menggunakan metode tidak
langsung (indirect method) dalam menyiapkan laporan arus kas mereka harus
memberikan perhatian khusus pada pengungkapan dan analisis hal-hal yang tidak mudah
terlihat dari laporan arus kas mereka; dan perusahaan juga harus mempertimbangkan
apakah MD&A mereka harus menyertakan pengungkapan yang disempurnakan mengenai
instrumen hutang, jaminan, dan persyaratan terkait lainnya.
4. Pengungkapan estimasi akuntansi kritis.
Perusahaan harus mempertimbangkan penjelasan dan analisis yang lebih baik mengenai
perkiraan dan asumsi akuntansi penting yang saling melengkapi, deskripsi kebijakan
akuntansi dalam catatan atas laporan keuangan dan yang memberikan wawasan lebih besar
mengenai kualitas dan variabilitas informasi perihal kondisi keuangan dan kinerja operasi
perusahaan.
Surat Manajemen kepada Pemegang Saham
Surat manajemen kepada pemegang saham memiliki empat tujuan utama. Ini menunjukkan
bahwa manajemen:
1. Bertanggung jawab atas persiapan dan integritas laporan.
2. Telah menyiapkan laporan sesuai dengan GAAP.
3. Telah menggunakan estimasi dan pertimbangan terbaiknya.
4. Memelihara sistem pengendalian internal.

Informasi lain yang berguna untuk investasi, kredit, dan keputusan serupa
Informasi tentang perusahaan juga tersedia di luar laporan tahunan perusahaan dan 10-K.
Contoh jenis informasi ini mencakup laporan analis dan artikel berita tentang perusahaan.

Laporan Analisis
Penanam modal individual pada dasarnya membuat tiga keputusan investasi:
1. Beli / Buy
Penanam modal potensial memutuskan untuk membeli investasi tertentu berdasarkan
semua informasi yang ada dan telah diungkapkan.
2. Tahan / Hold
Penanam modal memutuskan untuk mempertahankan investasi tertentu berdasarkan semua
informasi yang ada dan telah diungkapkan.
3. Jual / Sell
Penanam modal memutuskan untuk menjual investasi tertentu berdasarkan semua
informasi yang ada dan telah diungkapkan.

Proses pengambilan keputusan yang digunakan oleh sebagian besar penanam modal disebut
analisis fundamental (fundamental analysis). Analisis fundamental mencoba mengidentifikasi
sekuritas dengan meninjau semua informasi yang ada. Penanam modal kemudian
menggabungkan tingkat risiko yang terkait untuk mencapai harga saham yang diharapkan.
Harga saham yang diharapkan kemudian dibandingkan dengan harga saat ini, yang
memungkinkan penanam modal untuk membuat keputusan buy-hold-sell.

Analis sekuritas profesional juga melakukan analisis investasi. Mereka seringkali


mengkhususkan diri pada industri tertentu, menggunakan pelatihan dan pengalaman mereka
untuk memproses dan menyebarkan informasi secara lebih akurat dan ekonomis daripada
penanam modal individual. Ada tiga kategori analis keuangan:
1. Sisi jual / Sell side
Analis ini bekerja penuh untuk para pialang dan membuat rekomendasi mengenai
sekuritas yang mereka cakup. Banyak yang bekerja untuk perusahaan pialang paling
terkemuka, yang juga menyediakan layanan investasi perbankan kepada perusahaan,
termasuk perusahaan yang sekuritasnya dicakup oleh analis.
2. Sisi beli / Buy side
Analis ini bekerja untuk institulsi pengelola uang, seperti reksadana, yang membeli
sekuritas untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka memberikan masukan kepada
perusahaan mereka untuk buy, hold, dan sale.
3. Independen / Independent
Analis ini tidak terkait dengan perusahaan yang menanggung sekuritas yang mereka cakup.
Seringkali mereka menjual rekomendasi mereka dengan cara berlangganan.

Banyak analis dunia yang bekerja dalam konflik kepentingan dan tekanan persaingan. Dari sisi
perusahaan sell-side ingin agar klien penanam modal mereka sukses dari waktu ke waktu
karena penanam modal jangka panjang yang puas adalah kunci dari reputasi dan kesuksesan
perusahaan. Di sisi lain, beberapa faktor dapat menciptakan tekanan pada independensi dan
objektivitas analis. Tekanan semacam itu bukan berarti analis menjadi bias, namun penanam
modal harus memahami poin-poin ini:
1. Perusahaan analis mungkin akan menjual penawaran efek perusahaan, dan perusahaan
klien lebih memilih laporan penelitian yang menguntungkan.
2. Laporan yang positif dapat menghasilkan tambahan klien dan pendapatan.
3. Perjanjian seringkali mengikat kompensasi untuk keberlanjutan dengan klien.
4. Analis mungkin memiliki sekuritas secara individual, atau sekuritas mungkin dimiliki oleh
perusahaan analis.

Akibatnya, penanam modal harus memastikan apakah perusahaan analis menanggung saham
perusahaan yang direkomendasikan dengan melihat prospektus, yang merupakan bagian dari
pernyataan pendaftaran untuk penawaran tersebut. Daftar pembawa atau pelaksana penjamin
emisi dapat ditemukan di sampul depan salinan awal dan akhir dari prospektus. Selain itu,
pernyataan pendaftaran perusahaan dan laporan tahunannya pada Formulir 10-K
mengungkapkan identitas pemilik yang memiliki lebih dari 5% dari sekuritas ekuitas dan
mencantumkan penjualan pribadi dari sekuritas perusahaan selama tiga tahun terakhir.

Jika seorang analis keuangan atau perusahaan memperoleh kepemilikan melalui investasi
modal ventura, saham tersebut umumnya tunduk pada kesepakatan lock-up selama dan setelah
penawaran umum perdana emiten tersebut. Perjanjian lock-up melarang orang dalam
perusahaan--termasuk karyawan, teman dan keluarga mereka, dan pemodal ventura --untuk
menjual saham mereka selama jangka waktu tertentu tanpa ijin dari penjamin emisi. Meskipun
penjamin emisi dapat memilih untuk mengakhiri periode lock-up lebih awal-- karena kondisi
pasar, kinerja penawaran, atau faktor lainnyalocks-up umumnya berlangsung selama 180 hari
efektif setelah pernyataan pendaftaran penawaran.

Setelah periode lock-up berakhir, perusahaan atau analis mungkin menjual saham. Siapa pun
yang mempertimbangkan untuk berinvestasi di perusahaan yang baru-baru ini melakukan
penawaran umum perdana harus memeriksa apakah sebuah perjanjian lock-up sedang berlaku
dan kapan akan habis masa berlakunya, atau apakah penjamin emisi menghapus batasan
pengaman. Ini adalah informasi penting, karena harga saham perusahaan mungkin akan
terpengaruh oleh prospek saham lock-up yang dijual ke pasar saat lock-up berakhir. Ini juga
merupakan titik data yang perlu dipertimbangkan saat menilai laporan penelitian yang
dikeluarkan sebelum masa lock-up berakhir; Laporan tersebut terkadang dikenal sebagai
booster shots.

Yang terpenting, harus diingat bahwa rekomendasi paling bagus dari analis yang paling dapat
dipercaya mungkin bukan menjadi pilihan yang tepat. Itulah alasan mengapa penanam modal
tidak boleh hanya mengandalkan rekomendasi analis saat membeli atau menjual saham.
Sebelum bertindak, penanam modal harus menentukan apakah keputusannya telah sesuai
dengan tujuan, horison waktu, dan toleransi terhadap risiko. Dengan kata lain, mereka harus
tahu apa yang mereka beli atau jual.

Securities and Exchange Commission


Banyak teknik pengungkapan dan konvensi akuntansi yang merupakan hasil dari GAAP dan
konsensus yang terus berlanjut. Namun, sejak pertengahan 1930an, pemerintah Amerika
Serikat terlibat dalam masalah penetapan standar dan pengungkapan. The Security and
Exchange Commission (SEC) adalah badan pengatur yang bertanggung jawab untuk mengelola
undang-undang sekuritas federal. Tujuan undang-undang ini adalah untuk melindungi investor
dan untuk memastikan bahwa investor memiliki semua informasi yang relevan mengenai
perusahaan yang menerbitkan surat berharga yang diperdagangkan secara publik. SEC juga
bertanggung jawab untuk menegakkan semua undang-undang yang disahkan oleh Kongres yang
mempengaruhi perdagangan efek publik. Di antara undang-undang ini adalah Undang-Undang
Keamanan tahun 1933 (The Security Act od 1933), Securities Exchange Act of 1934, Foreign
Corrupt Practices Act of 1977, dan Sarbanes-Oxley Act tahun 2002. Tindakan ini menekankan
perlunya memberi informasi yang bersifat prospektif dan terbuka kepada penanam modal
secara adil terkait dengan kegiatan perusahaan yang menawarkan dan menjual surat berharga
kepada publik.

The Securities Act of 1933


The Security Act tahun 1933 mengatur penjualan dan distribusi awal surat-surat berharga
perusahaan (go public) kepada publik. Tujuan undang-undang ini adalah untuk melindungi
masyarakat dari kecurangan ketika perusahaan awalnya menerbitkan surat berharga kepada
masyarakat umum. Ketentuan dalam Securities Act of 1933 mengharuskan perusahaan
melakukan pendaftaran dan memberikan prospektus pada saat akan menawarkan surat
berharga untuk dijual kepada publik. Pernyataan pendaftaran efektif berlaku pada hari ke-20
setelah diisi kecuali SEC memerlukan amandemen. Periode 20 hari ini disebut waiting
period/masa tunggu, dan selama periode ini perusahaan dilarang melakukan penjualan surat
berharganya. Pendaftaran surat berharga berdasarkan ketentuan Security Act 1933 dirancang
untuk memberikan pengungkapan fakta material yang memadai agar penanam modal dapat
menilai potensi risiko. Meskipun demikian, pendaftaran tidak sepenuhnya melindungi
penanam modal dari kemungkinan kerugian, dan ini melanggar hukum bagi perusahaan
manapun untuk menyarankan agar pendaftaran mencegah kemungkinan kerugian.

The Securities Exchange Act of 1934


Securities Exchange Act of 1934 (SEA) dibuat untuk mengatur transaksi efek di pasar
sekunder, setelah diterbitkan, memastikan transparansi dan akurasi keuangan yang lebih baik
dan sedikit kecurangan atau manipulasi. SEA mengotorisasi pembentukan Securities Exchange
Commission (SEC), badan pengatur SEA. SEC memiliki wewenang untuk mengawasi
sekuritas, seperti saham, obligasi dan sekuritas over-the-counter, pasar dan perilaku profesional
keuangan termasuk pialang, dealer dan penasihat investasi, dan memantau laporan keuangan
yang harus diungkapkan oleh perusahaan publik.
Formulir yang umum digunakan:
1. Form 10 Pernyataan pendaftaran untuk surat berharga yang akan dijual kepada publik
2. Form 10 K : Annual Report
3. Form 10 Q : Laporan Operasi triwulan
4. Proxy Statement : Informasi yang terkandung dalam pernyataan tersebut harus diajukan ke
SEC sebelum meminta suara pemegang saham mengenai pemilihan direktur dan
persetujuan tindakan korporasi lainnya. Permintaan, baik oleh manajemen atau pemegang
saham, harus mengungkapkan semua fakta penting tentang isu-isu di mana pemegang
saham diminta untuk memilih.

The Securities Act of 1934 mengidentifikasi kegiatan berikut sebagai tindak kriminal:
1. Menyalahgunakan kewenangan (Abusing discretionary authority)
2. Melaksanakan kebijaksanaan tanpa kewenangan
3. Trading secara berlebihan demi mendapatkan komisi atas perdagangan

Insider trading atau berdagang pada "informasi material dalam" - yaitu informasi yang saat ini
dijaga kerahasiaan namun akan mempengaruhi nilai surat berharga setelah dipublikasikan.

The Foreign Corrupt Practices Act of 1977


Foreign Corrupt Practices Act (FCPA) telah diundangkan pada tahun 1977 sebagai tanggapan
penyuapan pejabat luar negeri yang meluas oleh perusahaan Amerika untuk memenangkan
bisnis.
FCPA berisi dua komponen utama: ketentuan anti-penyuapan, yang melarang pembayaran
kepada pejabat asing untuk mendapatkan atau mempertahankan bisnis, dan ketentuan
akuntansi (Accounting Provision)yang mengharuskan emiten untuk membuat dan menyimpan
buku dan catatan yang akurat dan untuk mempertahankan sistem kontrol akuntansi internal
yang memadai. Ketentuan akuntansi juga melarang individu dan bisnis untuk secara sadar
memalsukan catatan atau secara sadar gagal menerapkan internal kontrol.

The Sarbanes-Oxley Act of 2002 (SOX)


Sarbanes-Oxley (Sarbanes-Oxley Act of 2002, Public Company Accounting Reform and
Investor Protection Act of 2002) atau kadang disingkat SOX adalah hukum federal Amerika
Serikat yang ditetapkan pada 30 Juli 2002 sebagai tanggapan terhadap sejumlah skandal
akuntansi perusahaan besar yang termasuk di antaranya melibatkan Enron, Tyco International,
Adelphia, Peregrine Systems dan WorldCom.

Skandal-skandal yang menyebabkan kerugian bilyunan dolar bagi investor karena runtuhnya
harga saham perusahaan-perusahaan yang terpengaruh ini mengguncang kepercayaan
masyarakat terhadap pasar saham nasional. Akta yang diberi nama berdasarkan dua
sponsornya, Senator Paul Sarbanes (D-MD) and Representatif Michael G. Oxley (R-OH), ini
disetujui oleh Dewan dengan suara 423-3 dan oleh Senat dengan suara 99-0 serta disahkan
menjadi hukum oleh Presiden George W. Bush.

Perundang-undangan ini menetapkan suatu standar baru dan lebih baik bagi semua dewan dan
manajemen perusahaan publik serta kantor akuntan publik walaupun tidak berlaku bagi
perusahaan tertutup. Akta ini terdiri dari 11 judul atau bagian yang menetapkan hal-hal mulai
dari tanggung jawab tambahan Dewan Perusahaan hingga hukuman pidana. Sarbox juga
menuntut Securities and Exchange Commission (SEC) untuk menerapkan aturan persyaratan
baru untuk menaati hukum ini.

Major Provisions of the Legislation


Creating of the Public Company Accounting Oversight Board (PACAOB)
PCAOB didirikan sebagai hasil dari Undang-Undang Sarbanes-Oxley tahun 2002. Tujuan
dewan ini adalah untuk melindungi investor dan pemangku kepentingan lainnya dari
perusahaan publik dengan memastikan bahwa auditor laporan keuangan perusahaan telah
mengikuti serangkaian pedoman yang ketat.

PCAOB adalah perusahaan nirlaba (non profit corporation) yang didirikan oleh Kongres
Amerika untuk mengawasi audit perusahaan publik guna melindungi investor dan kepentingan
publik dengan mempromosikan laporan audit yang informatif, akurat, dan independen.

PCAOB juga mengawasi audit atas pialang dan dealer, termasuk laporan kepatuhan yang
diajukan sesuai dengan undang-undang sekuritas federal, untuk mempromosikan perlindungan
investor. Tugas dari PCAOB adalah:
1. Mendaftarkan kantor akuntan publik;
2. Menetapkan audit, pengendalian mutu, etika, independensi, dan standar lainnya yang
berkaitan dengan audit perusahaan publik;
3. Melakukan pemeriksaan, investigasi, dan proses disipliner dari perusahaan akunting
(accounting firm) terdaftar;
4. Melaksanakan kepatuhan dengan Sarbanes-Oxley.
5. Melakukan investigasi dan proses studi lanjutan dan jika memungkinkan, menerapkan
sanksi yang sesuai bila dibenarkan pada perusahaan akuntan publik yang terdaftar dan CPA
di perusahaan tersebut.
6. Melakukan tugas atau fungsi lain yang diperlukan atau yang sesuai untuk mempromosikan
standar profesional yang tinggi dan untuk meningkatkan kualitas layanan audit yang
ditawarkan oleh perusahaan akuntan publik dan CPA di dalam perusahaan tersebut.

Establishment of Auditing, Quality Control, and Independence Standards


PCAOB dapat mengadopsi standar yang diusulkan oleh kalangan profesi; namun memiliki
kewenangan untuk melakukan amandemen, memodifikasi, mencabut, dan/atau menolak
standar yang diusulkan oleh kalangan profesi, selain itu perusahaan kantor akuntan publik
(CPA) wajib untuk mempersiapkan dan menyimpan untuk waktu yang tidak kurang dari tujuh
tahun, kertas kerja audit, dan informasi lainnya dengan rincian yang cukup untuk mendukung
kesimpulan yang dicapai dalam setiap laporan auditnya.

Perusahaan CPA juga harus menggunakan review dan persetujuan dari rekan kedua atas
laporan auditnya (second partner review). PCAOB membuat suatu standar audit untuk
menerapkan review terhadap pengendalian internal. Standar ini mewajibkan auditor untuk
mengevaluasi apakah pengendalian internal termasuk juga catatan yang wajar dan akurat
menggambarkan transaksi entitas pelaporan dan memberikan keyakinan yang cukup
(assurance) bahwa transaksi dicatat sesuai dengan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan
buku petunjuk teknis/standard yang berlaku umum; auditor juga harus mengungkapkan setiap
kelemahan yang material dalam pengendalian internal yang mereka temui selama audit.

Pemeriksaan Perusahaan Akuntan Publik


PCAOB akan melaksanakan review tahunan atas kualitas perusahaan akuntan publik yang
mengaudit laporan keuangan terhadap lebih dari 100 review, selain itu ada proses inspeksi
setiap 3 tahun sekali. SEC dan/atau PCAOB setiap waktu dapat meminta pemeriksaan/inspeksi
khusus terhadap setiap perusahaan akuntan publik setiap saat.
Pembuatan Standar Akuntansi
SEC diberikan otoritas untuk mengakui sebagai prinsip akuntansi yang diterima secara umum
standar yang dibuat oleh badan penyusunan standar yang sesuai dengan sema kriteria dalam
undang-undang Sarbanes-Oxley, yang termasuk persyaratan bahwa badan penyusunan standar
adalah :
1. Merupakan entitas swasta (private entity)
2. Dipimpin oleh dewan pengawas (board of trustees) atau badan serupa,yang tidak tergabung
dalam suatu perusahaan akuntan publik (CPA) selama periode dua tahun terakhir sebelum
bergabung dalam dewan pengawas ini.
3. Didanai dengan cara yang serupa dengan PCAOB, melalui iuran yang dikumpulkan dari
perusahaan CPA dan anggota lainnya.
4. Mengadopsi prosedur untuk menjamin ketepatan mengingat perubahan terhadap prinsip
akuntansi dengan suara mayoritas (majority vote).

Pada waktu mengadopsi standar harus mempertimbangkan kebutuhan untuk menjaga


kemutakhiran standar dan tingkat yang sesuai dimana konvergensi standar internasional
diperlukan.

Jasa yang dilarang


Jasa yang dilarang termasuk juga yang berikut:
1. Pembukuan atau jasa lainnya yang berhubungan dengan pencatatan akuntansi atau laporan
keuangan entitas pelaporan.
2. Membuat design/implementasi sistem informasi keuangan.
3. Jasa penilaian atau penaksiran, pendapat kewajaran, atau memberikan kontribusi yang
berkaitan dalam laporan.
4. Jasa aktuaria
5. Jasa outsourcing audit internal.
6. Fungsi manajemen atau sumber daya manusia.
7. Broker/dealer, penasihat investor, atau jasa bankir investasi
8. Jasa hukum dan jasa ahli yang tidak berhubungan dengan audit, atau jasa lainnya yang tidak
diizinkan oleh dewan.
Keharusan untuk pengungkapan yang spesifik
Setiap laporan keuangan harus menggambarkan semua koreksi penyesuaian yang bersifat
material yang dianggap penting oleh seorang akuntan publik(CPA). Setiap laporan keuangan
tahunan atau kwartalan harus mengungkapkan semua kesalahan yang material transaksi
dalam neraca dan hubungan lainnya dengan entitas yang tidak dikonsolidasikan yang mungkin
mempunyai efek material saat ini atau masa depan terhadap kondisi keuangan entitas.

SEC akan mengeluarkan peraturan yang mengatur bahwa informasi keuangan pro-forma
(estimasi atau perkiraan susunan laporan keuangan pada waktu yang akan dating berdasarkan
rasio-rasio pada tahun-tahunnya sebelumnya) harus disajikan dengan cara sepe/rti seolah-olah
tidak memuat suatu pernyataan tidak benar atau menghilangkan fakta material yang
dibutuhkan agar informasi tidak menyesatkan.

Keharusan pernyataan/pengesahan untuk CEO dan CFO


CEO dan CFO harus mengesahkan setiap laporan tahunan dan kwartalan sebagai tanda
mereka telah mereview laporan tersebut, bahwa sepanjang pengetahuan mereka laporan
tersebut tidak mengandung pernyataan yang tidak benar atas fakta yang material atau
menghilangkan fakta yang material, dan bahwa sepanjang pengetahuan mereka, laporan
keuangan dan informasi keuangan lainnya yang termasuk dalam laporan secara wajar
menyajikan kondisi keuangan dan hasil operasi si penerbit laporan.

Mereka juga harus memberi kesaksian bahwa mereka bertanggung jawab membuat dan
memelihara pengendalian internal, bahwa mereka telah merancang suatu pengendalian untuk
menjamin bahwa informasi yang material diketahui oleh mereka, bahwa mereka telah
menyajikan kesimpulan mereka tentang keefektifan pengendalian tersebut dalam laporan, dan
bahwa mereka telah mengungkapkan semuanya pada audit eksternal dan pada komite audit
1. Semua kekurangan (deficiencies) dalam rancangan atau pelaksanaan pengendalian internal
yang dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk mencatat, memproses,
meringkas (summarize), dan melaporkan data keuangan.
2. Setiap kecurangan yang material maupun tidak, yang melibatkan karyawan yang memegang
peranan penting dalam pengendalian internal.
Section 404
Section 404 adalah salah satu ketetapan SOX yang paling kontroversial, terdiri dari dua sub
Section 404(a) dan 404(b).

Section 404(a) menekankan tanggung jawab manajemen menurut undangundang, dan


mensyaratkan bahwa laporan tahunan termasuk laporan pengendalian internal oleh
manajemen itu
1. Menyadari bahwa tanggung jawabnya untuk membuat dan memelihara pengendalian
internal yang cukup terhadap pelaporan keuangan dan
2. Memuat penilaian keefektifan pengendalian internal terhadap pelaporan keuangan pada
akhir tahun fiskal terakhir. Juga diwajibkan unruk eksekutif dan pejabat keuangan untuk
membuat pengesahan/certified secara kwartalan dan tahunan keefektifan pengendalian
internal terhadap pelaporan keuangan.

Kelompok 404(b) menekankan tanggung jawab independensi auditor,


1. Mewajibkan auditor untuk melaporkan penilaian pengendalian internal yang dibuat oleh
manajemen
2. Membuat penilaian independen untuk pengendalian internal atas laporan keuangan, secara
terpisah.

Hasil dari ketentuan ini mewajibkan auditor mengeluaran dua opini terpisah, Opini pertama
menyatakan apakah penilaian manajemen dinyatakan dengan wajar, dalam semua hal yang
material, Opini yang kedua mengindikasikan apakah menurut pandangan auditor, perusahaan
mempertahankan, dalam semua hal yang material, efektivitas pengendalian internal atas
pelaporan keuangan pada tanggal tertentu, berdasarkan kriteria pengendalian yang digunakan
manajemen, auditor melaporkan :
1. Apakah penilaian manajemen atas keefektifan pengendalian internal sudah tepat, dan
2. Apakah auditor mempercayai bahwa perusahaan telah mempertahankan/maintain
pengendalian internal yang efektif atas pelaporan keuangan.

Biaya kepatuhan terhadap perundang-undangan ini dinilai terlalu besar oleh beberapa
kalangan. Menurut suatu studi, sejumlah $1,4 Trilyun bersih biaya. Jumlah ini diperoleh
dengan suatu perkiraan ekonometrik atas total hilangnya nilai pasar yang disebabkan oleh
SOX. Ketetapan baru yang menekankan pada pentingnya pengendalian internal mempunyai
manfaat yang jelas; bagaimanapun, aturan standar yang menonjolkan pengukuran pengendalian
internal adalah keuntungan yang diperoleh seharusnya melebihi dari biayanya.

Pada bulan Juni 20017, PCAOB mengeluarkan Standar Audit No 5, Standar Audit ini
mewajibkan auditor audit yang berintegrasi top-down, berbasis resiko dan berfokus pada
materialitas, pada saat auditor mengeluarkan opini-yang menilai apakah perusahaan telah
melakukan kontrol internal yang efektif atas laporan keuangan pada akhir tahun fiskal. Pada
bulan Juli 2017, SEC membentuk sebuah komite yang menguji Sistem Laporan Keuangan di
US untuk mengeluarkan rekomendasi untuk meningkatkan kegunaan informasi laporan
keuangan untuk investor, dan mengurangi kompleksitas sistem laporan keuangan bagi investor,
auditor dan pihak yang mempersiapkan laporan keuangan. Pada bulan Agustus 2008, komite
telah menghasilkan laporannya, rekomendasinya adalah:
1. Kegunaan informasi dalam laporan SEC harus meningkat. Salah satu tujuan utama dari
komite adalah membuat laporan keuangan lebih berguna untuk investor dengan
meminimalkan tambahan beban bagi pihak yang mempersiapkannya.
2. Proses pengaturan standar akuntansi harus ditingkatkan. Untuk mencapai tujuan ini,
representasi investor di FASB dan Financial Accounting Foundation harus ditingkatkan.
3. Desain substantif atas standar akuntansi baru harus ditingkatkan
4. Authoritative interpretive guidance should be delineated.
Bimbingan interpretive mengenai standard akuntansi berkembang dari banyak sumber
daya publik maupun privat. Hal tersebut meningkatkan volume dari U.S. GAAP. Komite
merekomendasikan bahwa SEC harus memformulasikan pedoman/arahan dalam format
yang konsisten dengan yang digunakan oleh FASB.
5. Panduan atas pernyataan kembali laporan keuangan dan pertimbangan akuntansi harus
diklarifikasi.

Ethical Responsibilities
Dari sudut pandang filosofi, studi penelitian etika berkembang dan analisa penilaian moral,
pilihan, dan standar, dan bertanya : Bagaimana seharusnya saya bertindak? Karenanya
penilaian nilai moral masyarakat dan dasar untuk pemilihan kepercayaan moral dan standar
membutuhkan analisis yang lebih komprehensif dari data yang didapat dari disiplin ilmu
lainnya, contohnya, perbedaan antara ilmu pengetahuan dan filosofi. Ketika bertindak dalam
kapasitas profesional, ilmuwan tidak merasa penting untuk melalui penilaian nilai untuk
pekerjaannya. Faktanya, ilmuwan dapat menolak bertanggung jawab atas penggunaan
penemuannya, seperti dalam kasus senjata biologi dan nuklir. Bagaimanapun juga filosof
melakukan evaluasi dan melewati penilaian moral pada pekerjaan ilmuwan, karena tujuan
filosofi adalah mengevaluasi semua aspek karakter manusia, tingkah laku, dan pengalaman.
Begitu juga ilmuwan (dan juga akuntan), sebagai seorang pemikir, diminta juga membuat
penilaian nilai sehubungan dengan pekerjaannya dan konsekuensinya.

Istilah etika dan moral tidak bisa ditukar, secara umum, etika (berasal dari bahasa Yunani
elhike ilmu yang mempelajari karakter) adalah studi tentang masalah moral, dimana moral
(berasal dari bahasa Yunani mores adat dan kebiasaan) adalah standar yang diamati
individual dalam tingkah laku harian mereka. Kalangan profesi, termasuk akuntansi,
menetapkan pengecualian untuk aturan umum ini. Hukum perilaku profesional
mencerminkan standar minimum bagi praktek profesi. Pelanggaran standar ini membuat
seorang profesional tidak etis. Bagi seorang awam, pelanggaran atas kode etiknya menjadikan
seseorang tidak bermoral.

Filosofi etika peradaban barat sebagian besar didasarkan pada konsep asas manfaat
(utilitarianism), Tanggung jawab khusus bagi akuntan kepada masyarakat dirangkum oleh Chief
Justice Warren Burger, untuk memenuhi tanggung jawab ini akuntan diminta untuk
mempertahankan standar etika perilaku profesional yang tinggi. Profesi harus menerima
tanggung jawab untuk memajukan perilaku etis diantara anggotanya. Perilaku etis akuntan,
berdasarkan konsep utilitarianisme, harus memasukkan pertimbangan atas semua akibat yang
mungkin dari keputusan profesional untuk semua individu atau kelompok yang dipengaruhi
oleh suatu keputusan. Diantara individu atau kelompok ini adalah pemegang saham potensial
dan yang sebenarnya, kreditor, pemasok, pelanggan, karyawan, dan masyarakat secara
keseluruhan.

Praktek profesional akuntansi dapat menciptakan dilema dalam etika. Loeb (dalam tulisannya
Ethical Committess and Consultants-Desember 1989) telah mengidentifikasikan beberapa
masalah etika penting atau dilema yang dapat mengkonfrontasikan individu akuntan dan
perusahaan akuntansi, yaitu :
1. Independensi Konsep independensi mensyaratkan pemisahan penuh kepentingan bisnis
dan keuangan akuntan publik dari klien perusahaan.
2. Ruang lingkup jasa Apakah jasa lainnya (misalnya, konsultasi, pengaturan pengembalian
pajak, nasihat perpajakan) cocok dengan audit keuangan? Pada saat apa auditor kehilangan
independensinya dengan memberikan jasa non audit kepada seorang klien?
3. Kerahasiaan Kapan fungsi watchdog publik auditor bentrok dengan kewajibannya untuk
menyimpan kerahasiaan kegiatan klien?
4. Pengembangan praktek pencabutan peraturan yang melarang periklanan, mengijinkan
kebebasan yang besar; bagaimanapun, suatu iklan tidak boleh menyesatkan atau tidak
benar.
5. Perbedaan dalam isu/masalah akuntansi Bagaimana perusahaan akuntan publik
mengembangkan kebijakan untuk mengatasi situasi dimana suatu perusahaan meminta
membukukan suatu transaksi dengan cara yang tidak dapat dipercaya dapat diterima oleh
perusahaan? (dalam situasi ini perusahaan mungkin mengancam untuk memecat auditor
dan mencari perusahaan akuntansi publik yang akan setuju dengan posisi manajemen
dalam masalah akuntansi. Ini dinamakan opinion shopping.

Keputusan atas dilema etika dapat dibantu melalui analisis kerangka kerja. Tujuan kerangka
kerja seperti itu adalah membantu mengidentifikasikan masalah etika dan memutuskan arah
tindakan yang tepat. Sebagai contoh, berikut enam langkah pendekatan yang dapat digunakan :
1. Kumpulkan fakta yang relevan.
2. Identifikasikan masalah etika.
3. Tentukan individu atau kelompok yang dipengaruhi oleh dilema.
4. Identifikasi kemungkinan solusi alternatif.
5. Tentukan bagaimana individu atau kelompok dipengaruhi oleh solusi alternatif tersebut.
6. Putuskan tindakan yang tepat.

Aspek lainnya dari masalah etika adalah pertanyaan etika legal. Yaitu jika suatu tindakan
tertentu adalah sah, apakah secara otomatis membuatnya menjadi etis? Jawaban jelas atas
pertanyaan ini adalah tidak, perbudakan dulu pernah sah di Amerika Serikat. Faktanya, ada
dugaan dalam masyarakat kita bahwa perilaku etis seharusnya berada di level yang lebih tinggi
dari perilaku legal. Karenanya, perbuatan yang konsisten dengan standar etika yang sekarang
tapi tidak konsisten dengan standar hukum sekarang dapat menunjukkan perlunya merubah
standar legal yang tidak beretika. Contohnya, ingat tentang masalah diskriminasi seksual dan
ras. Beberapa tahun yang lalu, perusahaan akuntansi publik tidak mempekerjakan wanita
maupun ras minoritas. Berbagai macam aksi melalui masyarakat, termasuk beberapa yang
melanggar hukum, membantu menghilangkan praktek ini sampai pada hari ini lebih dari 50%
karyawan baru perusahaan akuntansi publik besar adalah wanita; dan profesi dan perusahaan
akuntansi publik sekarang menarik berbagai kegiatan untuk mendorong ras minoritas untuk
memilih akuntansi sebagai karir.

Hukum Perilaku Profesional


Akuntan, sebagai profesional, diharapkan mempertahankan tingkat perilaku etis yang melebihi
hukum masyarakat. Alasannya adalah kebutuhan akan kepercayaan publik atas kualitas jasa
yang diberikan oleh profesi, tanpa menghiraukan jasa yang diberikan secara individual.
Kepercayaan publik akan kualitas jasa profesional bertambah ketika profesi tersebut
mendorong standar kinerja yang tinggi dan perilaku etis oleh anggotanya.

Akuntansi telah dilihat oleh masyarakat, dengan cara yang sama dengan profesi medis dan
hukum, yang lebih dipengaruhi oleh motif pelayanan daripada motif keuntungan. Sebagai seni,
sifat penilaian akuntansi mencegah seperangkat aturan yang seragam berlaku untuk semua
situasi; karenanya dasar dari profesi tidak bertumpu pada standarisasi dan peraturan namun
pada perilaku etis.

Sebagai usaha untuk memperkuat pandangan masyarakat ini, profesi akuntansi di Amerika
Serikat telah mempunyai beberapa bentuk hukum perilaku profesional sejak awal abad ke dua
puluh. Hukum awalnya, yang merupakan bagian anggaran rumah tangganya American
Association of Professional Accountants (AAPA), pendahulu AICPA, dipublikasikan tahun
1905 dan memuat hanya dua aturan. Pertama melarang anggotanya memberikan ijin kepada
yang bukan anggota untuk praktek atas namanya, dengan demikian mewajibkan seluruh
anggota perusahaan, bukan hanya partner saja, untuk bergabung dalam AAPA. Aturan kedua
melarang pembayaran atas penyerahan ongkos (fee), sekarang umumnya dikenal sebagai
kickbacks. Ruang lingkup yang terbatas pada hukum versi sebelumnya didasarkan pada
kepercayaan bahwa hukum tertulis tidak dapat dan seharusnya tidak dianggap sebagai
perwakilan penuh dari kewajiban moral tanggung jawab akuntansi pada masyarakat.

Kemudian tahun 1917 dan melalui aturan selanjutnya yang diadopsi, organisasi berubah nama
menjadi, American Institute of Accountants, merubah hukum perilaku profesional untuk
memasukkan aturan pelarangan berbagai tindakan seperti biaya kontijensi, penawaran
kompetitif, periklanan, formasi partnership, forecasts/perkiraan, dan kepentingan keuangan
substansial dalam suatu klien perusahaan publik. Sebagai tambahan, untuk merespon Securities
act 1933 dan 1934, aturan independensi diadopsi tahun 1934, kemudian 1941 aturan tersebut
disusun ulang untuk memasukkan kelompok standar teknis.

Setelah keruntuhan pasar saham tahun 1929, akuntan dipandang sangat baik oleh masyarakat.
Karenanya, tidak perlu bagi profesi untuk memikul ukuran drastis untuk memperoleh
kepercayaan publik. Setelah 1941, perhatian utama profesi adalah konsep kerahasiaan,
kompetensi, dan independensi. Penekanan utama dari tindakan disipliner profesi selama
periode ini, dan mungkin kemudian, diarahkan kepada pembatasan pada praktek persaingan
yang tidak profesional seperti persaingan harga, periklanan, pelanggaran batas atas praktek
CPA lainnya, dan pembajakan karyawan perusahaan lainnya. Aturan melarang tindakan seperti
itu didasarkan pada kepercayaan bahwa hal itu akan mengikis independensi dan
menghancurkan keharmonisan diantara praktisi.

Tahun 1962, Code of Professional Conduct/ hukum perilaku profesional, dirubah kembali.
Walaupun hukum yang telah dirubah mengandung aturan penting yang sama dengan hukum
1941, yang dikelompokkan dalam lima pasal. Pasal 1, Hubungan dengan klien dan publik,
memuat gambaran independensi yang lebih jelas. Pasal 2 mendefinisikan Standar Teknis.
Pasal 3, Praktek Promosi, mengatur periklanan, praktek promosional, dan penawaran
kompetitif. Pasal 4 membahas aturan keanggotaan dan dinamakan Praktek Operasional.
Akhirnya, Pasal 5, Hubungan dengan Sesama Anggota, mendefinisikan klien yang tidak
dapat diterima dan praktek perolehan karyawan.

Pergolakan dalam masyarakat tahun 1960 dan akibat investigasi kasus Watergate 1974,
mempengaruhi profesi akuntansi, contohnya, diketahui bahwa banyak perusahaan terkemuka
memberikan kontribusi yang ilegal pada Partai Republik, dan investigasi menemukan rekening
bank rahasia yang digunakan untuk menyembunyikan hasil suap dan pembayaran
kembali/kickbacks. Kalangan profesi berargumen bahwa hal itu sulit, jika tidak mustahil, untuk
menemukan transaksi seperti itu dalam audit biasa. Mereka juga mempertahankan bahwa,
bahkan jika dapat dideteksi, transaksi ilegal seperti itu tidak akan mempunyai akibat yang
material pada laporan keuangan perusahaan dan, karena itu, tidak diwajibkan untuk
diungkapkan. Walaupun demikian, kegagalan untuk menemukan aktivitas ilegal ini dengan
audit biasa menyebabkan pengikisan kepercayaan dalam perilaku etis kalangan profesional
akuntansi.
Akibat masalah ini, dan karena faktanya bahwa perusahaan akuntansi publik telah gagal
mendeteksi tanda-tanda kebangkrutan beberapa klien audit besar seperti National Student
Marketing, Penn Central, dan Equity Funding, tahun 1977 kongres mempublikasikan suatu
studi yang menyatakan bahwa perusahaan akuntansi terbesar memiliki dua kekurangan yang
mengejutkan yaitu kurangnya independensi dan kurang berdedikasi pada perlindungan publik.
Selama periode ini, House Subcommittee on Oversight and Investigation (badan kongres yang
mengawasi SEC) ditugaskan dalam suatu penyelidikan atas praktek akuntansi dalam industri
minyak dan gas yang mencapai puncaknya dalam investigasi yang lebih besar lagi. Dalam
sebuah laporan yang diterbitkan tahun 1978, ketua komite, John Moss, merangkumkan
perhatian kongres terhadap peristiwa yang telah terjadi. Terutama kejadian yang mencemaskan
seperti kebangkrutan dengan tanpa adanya peringatan dari auditor kepada investor bahwa ada
sesuatu yang tidak beres, tutupnya lebih dari 100 perusahaan dagang di akhir 1960 karena
metode yang tidak konsisten dalam menentukan rasio modal, kurangnya keseragaman
prosedur akuntansi dalam industri energi, dan peristiwa ini ditemukan berhubungan dengan
Watergate.

Pada pertengahan 1980an ketertarikan kongres dalam profesi akuntansi kembali muncul dalam
bentuk lebih banyak dengar pendapat dihadapan House of Subcommittee on Oversight and
Investigation, diketuai oleh Representative John Dingell. Perhatian utama komite adalah aturan
auditor dalam pendeteksian kecurangan. Dingell mempertanyakan apakah pengertian publik
dan kalangan profesi tentang tanggung jawab akuntan sama. Dia juga bertanya: Apakah aturan
tersebut kurang efisien? Apakah kualifikasi untuk mencadi seorang CPA telah cukup? Apakah
pembuatan kebijakan sendiri dalam profesi akuntansi telah cukup? Dengan kata lain, dia
mempertanyakan pemeliharaan standar etika oleh profesi dan menyarankan agar profesi tidak
mempunyai kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri.

Pembuat kebijakan publik bukanlah satu-satunya yang bersuara lantang. Sepanjang 1970an
beberapa akuntan ikut mengkritik profesi akuntansi. Contohnya, Abraham Briloff, seorang
profesor akuntansi di Baruch College, Kota Universitas New York, dalam serial bukunya,
artikel, dan kesaksian didepan kongres, mempertahankan bahwa banyak laporan keuangan
yang dipublikasikan tidak disajikan secara wajar sesuai dengan GAAP; FASB tidak
memenuhi tanggung jawabnya untuk mengembangkan standar akuntansi; dan perusahaan
akuntansi publik tidak dapat memecahkan masalah yang didiskusikan diatas dengan
memuaskan menghasilkan beberapa kasus pembelian opini yang sukses terjadi.
Kejadian tahun 1970an dan 1980an menghasilkan pertanyaan akan kemampuan akuntan
mendeteksi kecurangan, mengungkapkan kontribusi ilegal, dan memprediksi kebangkrutan;
akibatnya kompetensi mereka sebagai profesional menjadi dipertanyakan. Hasilnya profesi
menghadapi peraturan yang mengancam akan mengatur praktek akuntansi.

Sebagian respon terhadap masalah ini, AICPA terlibat dalam beberapa kegiatan dalam usaha
untuk menetralisir kritikan terhadap profesi akuntansi. Tahun 1973 hukum perilaku
profesional kembali dirubah. Fitur utama perubahan adalah kewajiban mematuhi standar
pelaksanaan audit dan pelarangan dari penyataan suatu opini bahwa laporan keuangan disusun
sesuai denga GAAP jika pernyataan seperti itu berasal dari suatu prinsip akuntansi. Seperti
yang telah dibahas sebelumnya, pemasukan aturan ini membuat ARB, opini APB, dan SFASs
dapat dilaksanakan dibawah hukum perilaku profesional. Tahun 1973 kedalam hukum ini juga
dimasukkan suatu pembahasan gaya filosofis dimana aturan mengalir dari konsep dan mengapa
konsep ini penting bagi profesi.

Kemudian tahun 1974 AICPA membentuk sebuah komisi perihal tanggung jawab auditor.
Laporan akhir komisi ini, dikenal sebagai Laporan Cohen, mengundang Auditing Standard
Executive Committee untuk memikirkan pengembangan laporan auditor yang lebih maju.
Komisi ini juga merekomendasikan pengembangan kriteria untuk penilaian pengendalian
akuntansi internal dan pendirian komisi audit yang indenpenden. AICPA mendirikan sebuah
divisi baru bagi perusahaan kantor akuntan publik (CPA) dengan dua kelompok, satu untuk
perusahaan dengan klien yang terdaftar di SEC dan satu untuk perusahaan yang mempunyai
klien yang praktik sendiri. Keanggotaan dalam Kelompok Praktek SEC mewajibkan peraturan
sendiri, termasuk review pihak eksternal atas prosedur praktiknya. Kegiatan Kelompok
Pelaksanaan Praktik dimonitor oleh PCAOB, sebagaimana yang dikemukakan Representative
Dingell, beberapa kritikan terhadap praktek profesional akuntansi dapat menghasilkan suatu
perbedaan ekspektasi, yaitu , ada perbedaan antara apa yang pengguna laporan keuangan dan
masyarakat secara keseluruhan mengerti sebagai tanggung jawab akuntan publik dibandingkan
apa akuntan dan dan profesi mengerti sebagai tanggung jawab mereka. Hasilnya, Dewan
Standar Audit AICPA mengeluarkan sembilan standar baru di tahun 1998 sebagai usaha untu
mempersempit perbedaan ekspektasi ini. Pengaruh dari standar baru ini adalah untuk,
1. Memperluas tanggung jawab auditor untuk memperhatikan keandalan sistem pengendalian
internal perusahaan ketika merencanakan suatu audit;
2. Mencerminkan tanggung jawab auditor atas kesalahan pelaporan, ketidakberesan, dan
tindakan ilegal oleh klien; dan
3. Mewajibkan auditor untuk mengevaluasi kemampuan suatu perusahaan untuk terus
beroperasi (going Cpncern)

Pada saat bersamaan, Code of Conduct/hukum perilaku profesional mengalami review, pada
tahun 1983, AICPA menunjuk sebuah komite untuk mempelajari relevansi dan efektifitas
hukum dalam lingkungan masa kini. Laporan komite yang dikenal sebagai Laporan Anderson,
mengindikasikan bahwa kinerja yang efektif harus memenuhi enam kriteria :
1. Menjaga kepentingan publik.
2. Mengakui aturan terpenting CPA dalam proses pelaporan keuangan.
3. Membantu menjamin kualitas pekerjaan dan menghilangkan pekerjaan substandar.
4. Membantu menjamin objektivitas dan integritas dalam pelayanan publik.
5. Meningkatkan reputasi dan kredibilitas CPA.
6. Menyediakan panduan pelaksanaan yang tepat.

Anggota AICPA menerima rekomendasi Laporan Anderson dan mengubah hukum perilaku
profesional di tahun 1998.
Saat ini, Code of Conduct terdiri dari 4 bagian :
1. Prinsip/Aturan Pokok Standar perilaku etis dinyatakan dalam bentuk filosofi
2. Aturan Perilaku Standar minimum perilaku etis
3. Interpretasi interpretasi aturan oleh Divisi Etika Profesional AICPA .
4. Putusan Etika menerbitkan penjelasan dan jawaban atas pertanyaan tentang aturan yang
diajukan pada AICPA oleh praktisi akuntan dan yang lainnya yang tertarik dengan
persyaratan etika.

Dua bagian pertama dari Code of Conduct/hukum perilaku profesional terdiri dari pernyataan
umum yang menekankan aktivitas positif yang mendorong tingkat kinerja yang tinggi (prinsip)
dan tingkat kinerja minimum yang harus dipertahankan (aturan), akibatnya, secara implisit,
code of conduct/hukum perilaku profesional mengharapkan CPA akan tetap tunduk kepada
peraturan karena harus memenuhi tingkat minimum dan berusaha mencapai maksimal.
Enam prinsip etika berikut yang termuat dalam Code of Conduct/hukum perilaku profesional :
1. Tanggung Jawab Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, anggota
harus melaksanakan penilaian profesional dan moral yang sensitif dalam setiap aktivitas
mereka.
2. Kepentingan Publik Anggota harus menerima kewajiban untuk bertindak dengan
melayani kepentingan publik, menghormati kepercayaan publik, dan mendemonstrasikan
komitmen terhadap profesionalisme.
3. Integritas Untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan publik, anggota harus
menjalankan semua tanggung jawab profesional dengan integritas tertinggi.
4. Objektivitas dan Independensi Anggota harus memelihara objektivitas dan bebas dari
konflik kepentingan dalam pelaksanaan tanggung jawab profesional. Seorang anggota dalam
praktik publik harus independen dalam kenyataan dan bentuk (independen in fact and
appearance) ketika menjalankan audit dan jasa atestasi lainnya.
5. Due Care Seorang anggota harus mempelajari teknis profesi dan standar etika, berusaha
terus untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas jasa, melaksanakan tanggung jawab
profesional dengan kemampuan terbaiknya.
6. Ruang lingkup dan sifat jasa Anggota dalam praktik publiknya harus mempelajari hukum
perilaku profesional dalam menentukan ruang lingkup dan sifat jasa yang akan diberikan.

Prinsip-prinsip/aturan pokok, yang berorientasi pada tujuan, juga menyediakan kerangka kerja
bagi peraturan, yang mewakili ketetapan hukum yang dapat dilaksanakan. Aturan ini mengatur
masalah seperti independensi, integritas, dan objektivitas; kepatuhan terhadap standar praktek;
kerahasiaan informasi klien; periklanan; dan biaya kontijensi dan komisi, kemudian, beberapa
aturan ini diminta untuk dilepaskan/liberalized karena persetujuan keputusan antara AICPA
dan Federal Trade Commissions, akibat dari perdagangan bebas, contohnya, perusahaan CPA
sekarang dapat menerima biaya kontijensi dari klien non atestasi, dan iklan/advertising oleh
CPA sekarang diperbolehkan.

Masalah prinsip etika muncul selama skandal akuntansi di awal 2000an, yang mengakibatkan
tutupnya Arthur Andersen. Sebelum penerapan SOX, SEC telah membuat daftar fungsi non
audit yang tidak boleh dilakukan perusahaan akuntan publik yang berhubungan dengan suatu
audit. Fungsi pelarangan ini sama dengan yang termuat dalam bagian 5 SOX (dibahas diatas),
selain itu perusahaan diwajibkan mengungkapkan jumlah yang diterima dari auditor dari jasa
non audit dalam catatan atas laporan keuangan. Walaupun tidak ada bukti legal yang
substansial yang diketemukan yang mengindikasikan Arthur Andersen terlibat dalam suatu
fungsi nonaudit yang dilarang, dalam setiap perusahaan yang bangkrut jumlah biaya nonaudit
biasanya melebihi biaya audit mereka. Hasilnya sekarang hukum melarang perusahaan CPA
memberian jasa non audit pada kliennya.

Kebutuhan interpretasi atas Code of Conduct/hukum perilaku profesional timbul ketika


individu atau perusahaan memiliki pertanyaan tentang fakta hukum. Putusan etis adalah
penjelasan yang berhubungan dengan situasi kenyataan spesifik. Interpretasi ini telah
dipublikasikan dalam bentuk pertanyaan dan jawaban. Rincian review interpretasi dan putusan
etis diluar ruang lingkup pembahasan buku ini.

Dua dekade terakhir telah membahas pertanyaan dan beberapa kritikan berhubungan dengan
perilaku etis profesional akuntan. Kalangan profesional telah merespon dengan lebih jauh
mencerminkan tanggung jawabnya dan berusaha mempersempit perbedaan ekspektasi.
Skandal akuntansi pada awal dekade menghasilkan pandangan yang kurang baik terhadap
kalangan profesi; namun, polling yang dilakukan Gallup (perusahaan riset di USA) tahun 2003
mendapatkan bahwa image/gambaran profesi telah dipulihkan. Menurut analisis polling,
profesi yang imagenya telah naik jika dibandingkan dengan tahun lalu adalah akuntansi.
Peringkatnya meningkat dari peringkat bersih 0% (misalnya banyaknya orang yang memberikan
peringkat negatif sama dengan yang positif) menjadi +31%, namun profesi tetap belum kembali
pada peringkat +39% seperti yang diperoleh tahun 2001, sebelum skandal Enron dan lainnya
membawa pengaruh negatif pada Perusahaan Akuntan Publik (CPA).

Profesi akuntansi harus berusaha untuk meningkatkan pandangan ini, dan Code of
Counduct/hukum perilaku profesional harus dipandang sebagai titik awal dalam menentukan
perilaku etis profesional akuntan, perlu untuk memeriksa kembali masalah ruang lingkup jasa,
karena ini sama dengan yang dideteksi polling Gallup banyak yang khawatir terhadap berbagai
jasa yang ditawarkan oleh perusahaan akuntan publik (CPA) pada klien yang sama.

International Accounting Standards


Standard IAS yang membahas mengenai persyaratan pengungkapan dan tanggung jawab etis
adalah IAS no 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan. Tujuan dari IAS no 1 ini adalah
untuk menentukan dasar untuk menyajikan tujuan umum dari laporan keuangan sehingga
dapat memastikan tingkat komparabilitas antara laporan keuangan entitas pada periode
sebelumnya dengan laporan keuangan dari entitas lainnya. IAS no 1 mengatur mengenai:
keseluruhan persyaratan untuk penyajian laporan keuangan, pedoman untuk struktur penyajian
laporan keuangan dan persyaratan minimum untuk konten laporan keuangan. Standard untuk
pengakuan, pengukuran dan pengungkapan transaksi yang spesifik dibahas melalui
pengungkapan standard yang spesifik termasuk juga interpretasinya. Pernyataan ini mengganti
IAS no 1, yang aslinya berjudul Pengungkapan Kebijakan Akuntansi. Standard IAS no 1 ini
mengharuskan perusahaan untuk menyajikan laporan yang mengungkapkan setiap item dari
pendapatan, beban, keuntungan, kerugian yang diharuskan oleh standard lain untuk disajikan
secara langsung di equity dan untuk menyediakan total dari setiap item-item ini. Standard IAS
no 1 ini juga mengharuskan bahwa catatan atas laporan keuangan mengungkapkan dasar yang
digunakan dalam membuat laporan keuangan dan mengungkapkan secara spesifik mengenai
kebijakan akuntansi yang dipilih serta mengungkapkan semua informasi lainnya yang
diwajibkan oleh standard IASB dan menyediakan informasi penting lainnya untuk disajikan
secara wajar.

Komite IAS membahas mengenai isu subsequent events di IAS no 10 Peristiwa yang Terjadi
setelah Periode Pelaporan. Persyaratan yang terdapat pada pernyataan ini agak sama isinya
dengan yang dinyatakan dalam US GAAP. Selain itu, garis besar akuntansi dan pengungkapan
yang digunakan ketika terdapat subsequent event harus di sesuaikan dengan laporan keuangan
entitas. Adjusting event didefinisikan sebagai penyediakan bukti untuk kondisi yang benar-
benar terjadi di akhir periode pelaporan, sedangkan unadjusting event didefinisikan sebagai
penyediaan bukti untuk kondisi yang timbul setelah periode pelaporan. Menurut IAS no 10,
laporan keuangan harus memperbaiki pengungkapan atas adjusting event yang meliputi
kejadian yang diindikasikan terkait dengan asumsi going concern baik secara keseluruhan atau
sebagian perusahaan bilamana asumsi ini tidak cocok digunakan. Laporan keuangan tidak
harus diperbaiki untuk unadjusting event, akan tetapi, unadjusting event ini harus diungkapkan
jika dampak dari tidak mengungkapkan kejadian ini akan mempengaruhi kemampuan
pengguna untuk membuat evaluasi dan keputusan yang tepat. Pengungkapan yang dikehendaki
ini adalah (a) sifat dari suatu kejadian dan (b) sebuah estimasi tentang efek keuangan atau
laporan yang tidak bisa dibuat efek estimasinya. IAS no 10 juga mengindentifikasikan bahwa
entitas tidak harus mempersiapkan laporan keuangan atas dasar going concern jika
management dapat memutuskan setelah akhir periode pelaporan asumsi apa yang akan
dipakainya dan juga jika management berniat untuk membubarkan entitasnya atau jika tidak
ada alternatif lainnya kecuali melakukan hal tersebut.
IASB juga membahas mengenai pelaporan keuangan interim pada IAS no 34, Laporan
Keuangan Interim. Pernyataan ini mendefinisikan tentang minimum konten dari pelaporan
keuangan interim, menyediakan pedoman untuk penyajian dan pengukuran item-item laporan
keuangan dan mendefinisikan mengenai pengakuan dan prinsip pengukuran yang diungkapkan
dalam penyajian laporan keuangan interim. IASB menyimpulkan bahwa keputusan untuk
mempublikasi laporan keuangan dan frekuensi pelaporan keuangan adalah masalah yang
sebaiknya diputuskan oleh peraturan nasional.

Minimum konten dari pelaporan keuangan interim dapat diartikan sebagai ringkasan balance
sheet, ringkasan income statement, ringkasan cash flow, ringkasan statement of changes in
stockholders equity, dan semua catatan kaki yang penting supaya dapat memahami laporan
keuangan. IAS no 34 mengharuskan perusahaan untuk menggunakan prinsip akuntansi
pelaporan keuangan interim yang sama dengan prinsip yang digunakan pada laporan keuangan
tahunan sehingga dengan demikian memungkinkan entitas untuk dapat mengadopsi pandangan
yang penting dari laporan keuangan interim.

Pengungkapan dan Sarana Interpretif


Pelaporan keuangan model FASB direkayasa untuk kepentingan investor, kreditor dan pihak
lain untuk pengambilan keputusan investasi dan kredit. Pihak pemakai memerlukan berbagai
informasi yang relevan dan bermanfaat untuk keputusan investasi, kredit dan semacamnya.

Informasi keuangan yang dapat dilayani oleh pelaporan keuangan hanya merupakan sebagian
jenis informasi yang diperlukan oleh investor dan kreditor. FASB mengindentifikasi lingkup
informasi yang dipandang bermanfaat untuk pengambilan keputusan investasi dan kredit
sebagai berikut:
1. Statemen keuangan
2. Catatan atas statemen keuangan
3. Informasi pelengkap
4. Sarana pelaporan keuangan lain
5. Informasi lain

Komponen (1) dan (2) merupakan satu kesatuan yang disebut statemen keuangan dasar yang
merupakan produk atau hasil dari apa yang oleh Paton dan Littleton (1970) disebut dengan
rerangka atau struktur akuntansi pokok. Pelaporan keuangan mencakupi semua informasi yang
dapat disediakan manajemen yaitu komponen (1) sampai dengan (4). Walaupun dapat
disediakan oleh manajemen, pengungkapannya tidak selalu dapat diwajibkan oleh penyusun
standar melalui standar akuntansi atau oleh badan pengawas seperti Security Exchange
Commission/SEC melalui peraturan-peraturannya. Penyusun standar (FASB atau Dewan
Standar Akuntansi/IAI) dapat mewajibkan pengungkapan untuk komponen (1) sampai (3) dan
untuk komponen (3) tingkat wajibnya hanya sampai pada batas sangat merekomendasi. Jadi,
secara praktis, pengungkapan wajib melalui standar akuntansi hanya diberlakukan untuk
komponen (1), (2), dan dalam kondisi tertentu komponen (3).

Lingkup informasi pelaporan keuangan dalam simposium Financial Reporting and Standard
Setting di Philadelphia tahun 1990 digambarkan sebagai apa yang disebut model inti. Model ini
merupakan usulan untuk mengembangkan model lingkup informasi yang digambarkan FASB
di atas dan menggambarkan luasnya pengungkapan dan pengukuran. Alasan perluasan model
inti adalah (1) permintaan informasi relevan oleh berbagai pemakai melebihi yang dapat
disediakan oleh model FASB dan (2) tidak selayaknya berbagai kepentingan hanya dilayani
dengan sistem pelaporan yang sama. Model inti ini akan menggeser tujuan dari menyediakan
informasi umum ke informasi multiguna.

Model inti memasukkan manajemen sebagai pihak pemakai yang harus dipertimbangkan. Inti
informasi dari model di atas adalah lapisan I dan II. Rerangka konseptual FASB memandang
lapisan II sebagai inti dan disebut dengan media utama atau ciri sentral pelaporan keuangan.
FASB membedakan antara statemen keuangan dan pelaporan keuangan. Pengukuran dan
pengakuan hanya bertalian dengan statemen keuangan sedangkan pengungkapan bertalian
dengan seluruh lingkup pelaporan keuangan.

Penyusun standar menghadapi masalah yaitu kapan pengungkapan harus dilakukan melalui
statemen keuangan dan kapan melalui catatan atas statemen keuangan atau komponen lainnya.
Masalah ini telah dipecahkan dengan ditentukannya kriteria pengakuan dan pengukuran dalam
rerangka konseptual. Suatu informasi akan dilaporkan melalui statemen keuangan kalau
memenuhi empat kriteria pengakuan yaitu definisi, keterukuran, keberpautan, dan
keterandalan.

Informasi yang dapat disediakan oleh manajemen tetapi tidak diwajibkan untuk diungkapkan
akan merupakan keluasan menajemen untuk mengungkapkannya. Pengungkapan semacam ini
disebut pengungkapan sukarela atau diskrisioner. Pengungkapan sukarela dapat bersifat
keuangan maupun non keuangan dan dapat dilakukan manajemen melalui berbagai cara
melalui sarana lain seperti jumpa pers oleh manajemen mengenai produk baru, rencana
merger, atau program bonus. Atas pertimbangan manajemen atau tradisi, statemen keuangan
dalam laporan tahunan umumnya disertai pula dengan berbagai informasi tambahan seperti
pos-pos keuangan penting selama beberapa tahun terakhir, statistik keuangan penting,
kebijakan strategi, analisis rasio, informasi deskriptif, atau promosional tentang produk dan
berbagai laporan pelengkap. Semua ini dimaksudkan untuk meningkatkan keberpautan dan
kebermanfaatan.

Laporan keuangan sebagai inti pelaporan keuangan dalam rerangka konseptual FASB secara
umum masih didasarkan pada kos historis yang berorientasikan pada keterandalan informasi.
Keberpautan (relevansi) dicapai dengan cakupan pelaporan keuangan yang lebih dari statemen
kakeuangan. Oleh karena itu pengungkapan perubahan harga untuk menambah keberpautan
dimasukkan dalam komponen informasi pelengkapan. Berbagai upaya untuk meningkatkan
keberpautan dan kebermanfaatan yang disajikan di luar statemen keuangan inti disebut oleh
Paton dan Littleton sebagai sarana alat interpretif (interpretive device). Berbagai upaya pada
tingkat teori akuntansi diarahkan untuk memasukkan sarana inteprektif sebagai bagian dari
seperangkat penuh statemen keuangan. Usulan yang cukup radikal msialnya adalah mengganti
akuntansi kos historis menjadi akuntansi kos sekarang atau bahkan akuntansi nilai sekarang.

Pengungkapan
Secara konseptual, pengungkapan merupakan bagian integral dalam pelaporan keuangan.
Secara teknis, pengungkapan merupakan langkah akhir dalam proses akuntansi yaitu penyajian
informasi dalam bentuk seperangkat penuh statemen keuangan. Evans (200) mengartikan
pengungkapan sebagai berikut:

Pengungkapan berarti menyediakan informasi dalam laporan keuangan, termasuk pernyataan


itu sendiri, catatan atas pernyataan, dan pengungkapan tambahan yang terkait dengan
pernyataan tersebut. Laporan ini tidak mencakup pernyataan publik atau pribadi yang dibuat
oleh manajemen atau informasi yang diberikan di luar laporan keuangan.
Secara lebih spesifik, Wolk, Tearney dan Dodd (2001) mengintepretasikan pengertian
pengungkapan sebagai berikut (hlm. 302):
Diinterpretasikan secara luas, pengungkapan berkaitan dengan informasi baik yang berasal dari
laporan keuangan maupun yang berasal dari komunikasi tambahan seperti catatan kaki,
peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca, diskusi manajemen, analisis operasi untuk tahun
yang akan datang, prakiraan keuangan, operasi dan laporan keuangan tambahan yang
mencakup pengungkapan dan perluasan segmental di luar biaya historis.

Evans membatasi pengertian pengungkapan hanya pada hal-hal yang menyangkut pelaporan
keuangan. Pernyataan manajemen dalam surat kabar atau media massa lain serta informasi di
luar lingkup pelaporan keuangan tidak masuk dalam pengertian pengungkapan. Sementara itu,
Wolk, Tearney, dan Dodd memasukkan pula statemen keuangan segmental dan statemen
yang merefleksi perubahan harga sebagai bagian dari pengungkapan.

Pengungkapan sering juga dimaknai sebagai penyediaan informasi lebih dari apa yang dapat
disampaikan dalam bentuk statemen keuangan formal. Hal ini nampaknya sejalan dengan
gagasan FASB dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut:

Meskipun pelaporan keuangan dan laporan keuangan pada dasarnya memiliki tujuan yang
sama, beberapa informasi bermanfaat lebih baik disediakan oleh laporan keuangan dan
beberapa lainnya lebih baik disediakan atau hanya dapat disediakan melalui pelaporan
keuangan bukan oleh laporan keuangan.

Masalah teorittis pengungkapan dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan berikut ini:
1. Untuk siapa informasi diungkapkan?
2. Mengapa pengungkapan harus dilakukan?
3. Sebarapa banyak dan informasi apa yang harus diungkapkan?
4. Bagaimana cara dan kapan mengungkapkan informasi?

Siapa Dituju
Rerangka konseptual telah menetapkan bahwa investor dan kreditor merupakan pihak yang
dituju oleh pelaporan keuangan sehingga pengungkapan ditujukan terutama untuk mereka.
FASB misalnya menetapkan tingkat kecanggihan para investor dan kreditor cukup tinggi
sehingga pengungkapan yang diwajibkan dapat dikatakan lebih sedikit dibandingkan yang
dituntut oleh SEC karena SEC mempertimbangkan pula kepentingan investor yan naif. SEC
menuntut lebih banyak pengungkapan karena pelaporan keuangan mempunyai aspek sosial
dan publik. Oleh karena itu, pengungkapan menuntut lebih dari sekadar pelaporan keuangan
tetapi meliputi pula penyampaian informasi kualitatif atau non kuantitatif. Karena pihak yang
dituju lebih luas dan model pengambilan keputusannya kurang dapat diidentifikasi,
pengungkapan cenderung untuk meluas dan jarang menjadi sempit (spesifik).

Fungsi atau Tujuan Pengungkapan


Secara umum, tujuan pengungkapan adalah menyajikan informasi yang dipandang perlu untuk
mencapai tujuan pelaporan keuangan dan untuk melayani berbagai pihak yang mempunyai
kepentingan berbeda-beda. Telah disinggung bahwa investor dan kreditor tidak homogen tetapi
bervariasi dalam hal kecanggihannya. Karena pasar modal merupakan sarana utama
pemenuhan dana dari masyarakat, pengungkapan dapat diwajibkan unuk tujuan melindungi,
informatif atau melayani kebutuhan khusus.

Tujuan Melindungi
Tujuan melindungi dilandasi oleh gagasan bahwa tidak semua pemakai cukup canggih sehingga
pemakai yang naif perlu dilindungi dengan mengungkapkan informasi yang mereka tidak
mungkin memperolehnya atau tidak mungkin mengolah informasi untuk menangkap subtansi
ekonomik yang melandasi suatu pos statemen keuangan. Dengan kata lain, pengungkapan
dimaksudkan untuk melindungi perlakuan manajemen yang mungkin kurang adil dan terbuka.
Dengan tujuan ini, tingkat atau volume pengungkapan akan menjadi tinggi.

Tujuan melindungi biasanya menjadi pertimbangan badan pengawas yang mandapat autoritas
untuk melakukan pengawasan terhadap pasar modal seperti SEC atau Badan Pengawas Pasar
Modal (BAPEPAM). Hal ini dapat dipahami karena mereka bertindak demi kepentingan
publik.

Tujuan Informatif
Tujuan informatif dilandasi oleh gagasan bahwa pemakai yang dituju sudah jelas dengan tingkat
kecanggihan tertentu. Dengan demikian, pengungkapan diarahkan untuk menyediakan
informasi yang dapat membantu keefektifan pengambilan keputusan pemakai tersebut. Tujuan
ini biasanya melandasi penyusunan standar akuntansi untuk menentukan tingkat
pengungkapan. Dalam kenyataannya, badan pengawas seperti BAPEPAM bekerja sama
dengan penyususun standar untuk menentukan keluasan pengungkapan. Untuk tujuan
pengawasan oleh badan kepemerintahan, terdapat pula pengungkapan yang khusus ditujukan
ke badan pengawas melalui formulir-formulir yang harus diisi oleh perusahaan pada waktu
menyerahkan laporan tahunan maupun kuartalan.

Tujuan Kebutuhan Khusus


Tujuan ini merupakan gabungan dari tujuan perlindungan publik dan tujuan informatif. Apa
yang harus diungkapkan kepada publik dibatasi dengan apa yang dipandang bermanfaat bagi
pemakai yang dituju sementara untuk tujuan pengawasan, informasi tertentu harus disampaikan
kepada badan pengawas berdasarkan peraturan melalui formulir-formulir yang menuntut
pengungkapan secara rinci.

Klasifikasi tujuan di atas lebih menggambarkan penekanan atau orientasi badan pengawas.
Tujuan perlindungan dan informatif keduanya harus dilayani. Pada mulanya memang SEC
sangat menekankan tujuan perlindungan sehingga informasi yang diklasifikasi sebagai soft
information dan data informatif ke depan banyak dihindari oleh SEC untuk diwajibkan
pengungkapannya. Diduga alasannya adalah data tersebut tidak terandalkan dan terverifikasi
serta kekhawatiran investor umum tidak memahami atau tersesat. Namun, sejak
dikeluarkannya exposure draft SFAS No 33 tentang perubahan harga, orientasi pengungkapan
SEC mulai bergeser ke tujuan informatif. Hal ini terbukti dengan dianjurkannya pengungkapan
seperti informasi projeksian serta informasi sosial dan lingkungan. Dalam ketentuannya, SEC
sangat menganjurkan untuk mengungkapkan informasi projeksian yang cukup beralasan dan
dibuat dengan itikad baik. Ketentuan ini menjadi dalih aman bagi perusahaan terhadap
penalitas atau hukuman atas informasi projeksian yang dianggap menyesatkan.

Keluasan dan Kerincian Pengungkapan


Hal ini berkaitan dengan masalah seberapa banyak informasi harus diungkapkan yang disebut
dengan tingkat pengungkapan. Evans (2003, hlm. 336) mengindentifikasi tiga tingkat
pengungkapan yaitu memadai (adequate disclosure), wajar atau etis (fair or ethical disclosure)
dan penuh (full disclosure). Tingkat ini mempunyai implikasi terhadap apa yang harus
diungkapkan.

Tingkat memadai adalah tingkat minimum yang harus dipenuhi agar statemen keunagan secara
keseluruhan tidak menyesatkan untuk kepentingan pengambilan keputusan yang diarah.
Tingkat wajar adalah tingkat yang harus dicapai agar semua pihak mendapat perlakuan atau
pelayanan informasional yang sama. Artinya, tidak ada satu pihak pun yan kurang mendapat
informasi sehingga mereka menjadi pihak yang kurang diuntungkan posisinya. Dengan kata
lain, tidak ada preferensi dalam pengungkapan informasi. Tingkat penuh menuntut penyajian
secara penuh semua informasi yang berpaut dengan pengambilan keputusan yang diarah.

Tingkat pengungkapan yang tepat memang harus ditentukan karena terlalu banyak informasi
sama tidak menguntungkannya dengan terlalu sedikit informasi. Oleh karena itu, diperlukan
kriteria atau pertimbangan untuk menentukan batas atas dan batas bawah. Batas atas
(kos>benefit) dan batas bawah (materialitas) dalam karakterisitik kualitatif informasi untuk
pengakuan suatu pos dapat dijadikan pertimbangan untuk menentukan banyaknya informasi.
Dalam hal pengungkapan, batas atas (tingkat penuh) lebih banyak menimbulkan kontroversi
dibandingkan dengan batas bawah. Artinya, bagi penentu kebijakan, menentukan seberapa luas
pengungkapan harus dilakukan lebih problematik dibandingkan menentukan informasi mana
yang tidak perlu diungkapkan.

Kendala Pengungkapan
Berbagai hal menjadi pertimbangan penyusun standar atau badan pengawas untuk menentukan
seberapa banyak informasi harus diungkapkan. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus
dipertimbangkan atau menjadi kendala dalam pengungkapan. Kendala pada umumnya timbul
dari kaca mata perusahaan.

Salah satu hal yang menentukan keluasan dan kerincian pengungkapan adalah tujuan
pengungkapan. Tujuan perlindungan atau protektif biasanya menuntut pengungkapan yang
lebih luas dan lebih rinci. Pengungkapan yang lebih luas biasanya tekendala oleh keengganan
perusahaan untuk menyediakan informasi.

Kos penyediaan informasi harus lebih kecil dari benefit informasi yang disediakan. Kendala
kriteria ini adalah kesulitan menentukan manfaat informasi meskipun sampai tingkat tertentu
kos dapat diukur dengan cukup teliti bahkan dalam hal tertentu kos tersebut sangat tidak
berarti (mendekati nol). Oleh karena itu, kriteria ini akhirnya tidak pernah menjadi
pertimbangan.

Bila kos penyediaan suatu informasi dapat diabaikan, persoalannya adalah perlukah informasi
tersebut diungkapkan. Dalam hal seperti ini, keberlebihan informasi harus menjadi
pertimbangan. Keberlebihan informasi adalah penyediaan informasi yang melebihi
kemampuan pemakai untuk mencernanya secara efektif. Hal ini berlawanan dengan konsep
yang mengatakan bahwa makin banyak informasi makin baik. Makin banyak informasi tidak
selalu lebih baik kalau pemakai tidak dapat mengolah dan memanfaatkan informasi sesuai
dengan kebutuhannya. Betapapun kos penyediaan informasi dapat diabaikan dari segi
administratif, informasi tertentu sangat beharga bagi perusahaan dalam kondisi persaingan.
Pengungkapan informasi dapat menempatkan perusahaan pada posisi yang kurang
menguntungkaan dibanding pesaing dan hal inilah yan menjadi kos pengungkapan bagi
perusahaan sehingga perusahaan enggan untuk mengungkapakan informasi privatnya.
Penyususun standar perlu mempertimbangkan hal ini dalam menetapkan tingkat
pengungkapan.

Bagi penyusun standar, pengungkapan wajib harus dipertimbangkan atas dasar apakah
informasi yang sama sebenarnya dapat diperoleh pemakai dari sumber selain yang disediakan
melalui pelaporan keuangan atau laporan tahunan. Sumber lain ini dalam hal tertentu justru
lebih efektif daripada informasi yang disediakan perusahaan.

Terdapat pihak yang menentang sama sekali gagasan tentang pengungkapan. Mereka
berpendapat bahwa pengungkapan sama saja mengakui bahwa penyusun standar tidak
mengetahui dengan pasti kebutuhan pemakai sehingga pengungkapan akan bersifat coba-coba
dan akan menjadi mahal bagi penyedia informasi. Oleh karena itu, pihak ini sangat mendesak
untuk dilakukannya penelitian untuk mengindentifikasi kebutuhan yang sesungguhnya dari
para pemakai. Dengan demikian, dapat diketahui apa saja yang perlu dan tidak perlu
diungkapkan. Survei yang dilakukan Epstein dan Pava sebagaimana dikutip Evans (2003, hlm.
351) menghasilkan temuan sebagai berikut:
1. Investor mendasarkan keputusan investasinya dalam perspektif jangka panjang
2. Pengaruh pialang terhadap keputusan makin berkurang
3. Pemegang saham berkeyakinan bahwa laporan tahunan makin bermanfaat dibanding
sebelumnya.
4. Statemen aliran kas lebih penting bagi para pemakai daripada statemen laba-rugi
5. Pendapat auditor makin bermanfaat dibanding sebelumnya
6. Diskusi dan analisis manajemen kurang bermanfaat.
Temuan di atas tentu saja dapat menjadi pertimbangan penyusun standar atau badan pengawas
untuk menentukan tingkat pengungkapan. Penelitian semacam itu juga dapat digunakan
sebagai basis untuk mengevaluasi adanya pengungkapan berlebihan.

Pengungkapan Wajib dan Sukarela


Pengungkapan sukarela adalah pengungkapan yang dilakukan perusahaan di luar apa yang
diwajibkan oleh standar akuntansi atau peraturan badan pengawas. Pembahasan sebelum ini
sebenarnya ditujukan untuk menentukan pengungkapan wajib. Batas pengukuran dan
pengakuan dalam rerangka konseptual FASB di awal bab ini sebenarnya juga menggambarkan
tingkat pengungkapan wajib dan sukrarela. Pengungkapan dalam lingkup (1) sampai (3) dapat
dipandang sebagai pengungkapan wajib dan sisanya sebagai sukarela.

Teori pensignalan melanadasi pengungkapan sukarela ini. Manajemen selalu berusaha untuk
mengungkapakkan informasi privat yang menurut pertimbangannya sangat dinikmati oleh
investor dan pemegang saham khususnya kalau informasi tersebut merupakan berita baik.
Manajemen juga berminat menyampaikan informasi yang dapat meningkatkan kredibilitasnya
dan kesuksesan perusahaan meskipun informasi tersebut tidak diwajibkan. Beberapa penelitian
akademik juga menunjukkan bahwa semakin besar perusahaan makin banyak pengungkapan
sukarela yang disampaikan. Pengungkapan sukarela ini merupakan solusi atas kendala
pengungkapan secara penuh yang dibahas di atas. Dengan kebersediaan manajemen dalam
pengungkapan sukarela ini, tingkat pengungkapan wajib yang dapat ditetapkan dapat diarahkan
ke tingkat wajar atau bahkan memadai tidak perlu penuh.

Regulasi Pengungkapan
Mempercayakan pengungkapan sepenuhnya kepada managemen sama saja dengan
menyerahkan penyediaan informasi kepada pasar. Beberapa argumen mendukung perlunya
regulasi dalam penyediaan informasi. Alasan tersebut adalah (a) penyalahgunaan, (b)
eksternalitas, (C) asimetri informasi dan (d) keengganan manajemen.

Semua regulasi diarahkan untuk mencegah adanya penyalahgunaan dan kecurangan oleh para
pelaku pasar modal terutama dalam masalah pengungkapan. Hal ini menjadi pemicu
dibentuknya SEC dan dikeluarkannya Securities Act 1933 dan Securities Exchange Act 1934.
Intervensi pemerintah semacam ini diperlukan untuk menjamin efisiensi dan pemerataan
dalam hal informasi melalui regulasi. Misalnya, Securities Acts dapat mempengaruhi informasi
dengan mengeluarkan undang-undang yang dapat menjerat pihak yang melakukan kecurangan
dan dapat mewajibkan pelaporan keuangan melaui penyerahan laporan ke SEC dan laporan
tahunan ke pemegang saham.

Eksternalitas merupakan salah satu alasan diperlukannya regulasi. Eksternalitas terjadi ketika
tindakan satu pihak (dalam hal ini pengungkapan informasi) mempengaruhi pihak lain yang
diuntungkan tanpa menanggung kos atau dirugikan tanpa dikompensasi. Hal ini akan
mengurangi insentif untuk mengungkapkan secara penuh informasi meskipun hal tersrebut
bermanfaat bagi banyak orang. Insentif menjadi kurang karena perusahaan yang
menyampaikan informasi tidak mendapat kompensasi untuk itu. Situasi ini disebut kegagalan
pasar. Kegagalan pasar dapat diatasi dengan regulasi untuk mendorong pengungkapan
informasi sebagai tindakan kolektif bukan tindakan individual atau sukarela.

Karena manajemen dan investor/kreditor merupakan pihak yang terpisah dan hubungan kedua
belah pihak tersebut dapat dipandang sebagai hubungan keagenan, dikhawatirkan akan terjadi
asimetri informasi antara kedua pihak tersebut dengan manajemen sebagai pihak yang lebih
menguasai informasi. Asimetri informasi mendorong para investor untuk melakukan pencarian
informasi nonpublik secara individual yang mengakibatkan para investor tidak mempunyai
informasi yang sama (lantaran kemampuan teknis dan ekonomik yang tidak sama). Akibatnya,
pasar menjadi tidak efisien. Regulasi yang mewajibkan informasi tertentu diungkapkan secara
publik akan mengurangi asimetri informasi baik antara manajemen dan investor maupun
antara para investor sendiri.

Karena kepentingan sendiri, manajemen cenderung enggan untuk mengungkapkan informasi


yang dapat meningkatkan kemampuannya untuk memenuhi kepentingan pribadinya dengan
mengorbankan kepentingan umum. Regulasi dapat menyeimbangkan kepentingan tersebut.
Atas dasar uraian di atas dapat disimpulkan bahwa regulasi mengenai apa yang harus
diungkapkan dapat dijustifikasi dari berbagai aspek. Bukti empiris juga memperkuat
diperlukannya regulasi dalam pengungkapan informasi.

Apa yang diungkap?


SEC mewajibkan perusahaan publik untuk menyusun dua laporan tahunan. Satu laporan
tahunan harus diserahkan ke SEC untuk memenuhi ketentuan dalam Securities Exchange Act
1934 dan satu laporan tahunan harus disusun untuk keperluan pemegang saham dan pihak
eksternal lainnya. Peraturan SEC yang berkaitan dengan pelaporan (filing) dan pengungkapan
antara lain adalah:
1. Securities Exchange Act 1934 yang harus dipenuhi dengan mengisi Form 10-K. Formulir
ini berisi jenis-jenis informasi apa yang harus diungkapkan dalam laporan tahunan dalam
rangka pelaporan ke SEC.
2. Regulation S-X yang berisi ketentuan tentang format, isi, dan persyaratan statement
keuangan. Peraturan ini juga merupakan aturan pelaksanaan Securities Act 1933 dalam
rangka registrasi.
3. Regulation S-X yang memuat ketentuan tentang pengungkapan statement non financial.

SEC lebih berkepentingan dengan tingkat pengungkapan dan apa yang harus diungkapkan
terutama untuk kepentingan pendaftaran publik dan penawaran publik perdana (initial public
offering). FASB lebih berfokus pada bagaimana mengungkapkan atau format pengungkapan
terutama dalam pelaporan keuangan. Adanya dua badan pengatur dengan hubungan seperti itu
disebut dengan struktur pengaturan ganda (dual regulatory structure). Struktur seperti ini
mempunyai beberapa keuntungan bagi SEC, yaitu:
1. Dimungkinkan bagi SEC dengan staf terbatas untuk memanfaatkan keahlian dari profesi
tanpa harus membayarnya. SEC dapat menggunakan dan mengacu (to endorse) standar
profesi sebagai ketentuannya atau tidak memberlakukan (to overrule) suatu standar.
2. Badan penyusun standar (FASB) menjadi perisai terhadap kritik yang akan dilayangkan ke
SEC seandainya SEC merupakan autoritas tunggal.
3. Acceptability suatu peraturan oleh manajemen dan auditor menjadi lebih besar.

Struktur pengaturan di Indonesia kurang lebih sama dengan yang diterapkan di Amerika yaitu
struktur pengaturan ganda (IAI dan BAPEPAM). Dalam hal ini, BAPEPAM lebih
berkepentingan dengan tingkat pengungkapan dan apa yang harus diungkapkan terutama untuk
kepentingan pendaftaran publik dan penawaran publik perdana. Sedangkan, IAI lebih
berfokus pada bagaimana mengungkapkan atau format pengungkapan terutama dalam
pelaporan keuangan eksternal. Ketentuan IAI (standar akuntansi keuangan) dapat
diberlakukan pula untuk perusahaan swasta (non publik).

Metode Pengungkapan
Metode pengungkapan berkaitan dengan masalah bagaimana secara teknis informasi disajikan
kepada pemakai dalam satu perangkat laporan keuangan beserta informasi lain yang terkait.
Metoda ini biasanya ditentukan secara spesifik dalam standar akuntansi atau peraturan lain.
Informasi dapat disajikan dalam pelaporan keuangan sebagai antara lain pos laporan keuangan,
catatan kaki (catatan atas laporan keuangan), penggunaan istilah teknis (terminologi), penjelasan
dalam kurung, lampiran, penjelasan auditor dalam laporan auditor dan komunikasi
manajemen dalam bentuk surat atau pernyataan resmi.

Pos Laporan Keuangan


Informasi keuangan dapat diungkapkan melaui laporan keuangan dalam bentuk pos atau
elemen laporan keuangan sesuai dengan standar tentang definisi, pengukuran, penilaian, dan
penyajian. Jenis laporan meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, dan
laporan aliran kas.

Catatan Kaki
Catatan kaki (footnotes) atau catatan atas laporan keuangan (notes to financial statements)
merupakan metoda pengungkapan untuk informasi yang tidak praktis atau tidak memenuhi
kriteria untuk disajikan dalam bentuk pos atau elemen laporan keuangan. Catatan atas laporan
keuangan menjadi bagian integral adari laporan keuangan secara keseluruhan. Yang dimaksud
sistematis dan berkaitan dengan pos adalah catatan kaki harus diberi indeks yang jelas dan
teratur sehingga memudahkan pengacuan. Catatan kaki tentunya tidak dimaksudkan untuk
mengganti pengungkapan yang memenuhi kriteria klasifikasi dan pengukuran yang tepat.
Catatan kaki harus digunakan dengan penuh kearian karena memang ada keunggulan dan
kelemahan.
Keunggulan Kelemahan
1. Mengungkapkan informasi non kuantitatif 1. Catatan kaki sering dilewatkan oleh
tanpa harus mengganggu penyajian utama pembaca karena memuat banyak kalimat
dalam laporan keuangan. daripada angka sehingga dianggap sulit
dibaca.
2. Mengungkapkan kualifikasi (pengecualian) 2. Catatan kaki kurang menjelaskan sendiri
dan pembatasan pos-pos tertentu dalam (self explanatory) dibandin penyajian pos
laporan keuangan. dalam laporan keuangan.
3. Mengungkapkan rincian pos-pos tertentu 3. Kompleksitas perusahaan cenderung
yang dianggap penting tanpa mendistraksi menempatkan catatan kaki menjadi
jumlah total suatu pos atau tanpa sasaran atau fokus pelaporan daripada
mengganggu susunan penyajian pos-pos laporan keuangan itu sendiri.
dalam laporan.
4. Mengungkapkan hal-hal yang bersifat 4. Catatan kaki sering dijadikan substitusi
kuantitatif atau deskriptif yang tidak untuk menyajikan suatu informasi sebagai
memenuhi kriteria pengakuan tetapi pos laporan keuangan.
penting untuk disampaikan atau yang
mempunyai arti penting sekunder.
5. Mempertahankan laporan keuangan 5. Catatan kaki dapat membingungkan
sebagai ciri central pelaporan keuangan pembaca kalau isinya menegasi (to negate)
dengan ringkas dan jelas meskipun catatan atau berlawanan (to contradict) dengan
kaki merupakan bagian integralnya. apa yang disajikan dalam laporan
keuangan.

Penjelasan dalam Kurung


Penjelasan singkat berbentuk tanda kurung mengikuti suatu pos dapat dijadikan cara untuk
mengungkapkan informasi.

Istilah Teknis
Penyusun standar banyak menciptakan istilah-istilah teknis untuk merepresentasi suatu realita
atau makna dalam akuntansi. Istilah teknis perlu diterjemahkan untuk keperluan pelaporan
dalam bahasa Indonesia dan pendidikan. Karena standar akuntansi akan digunakan sebagai
acuan baik bagi penyusun laporan maupun oleh pembelajar akuntansi, penyusun standar harus
menciptakan istilah dengan penuh kecermatan (preciseness) dan mendidik para anggota profesi
tentang istilah teknis tersebut.

Lampiran
Laporan keuangan sebenarnya merupakan salah satu bentuk ringkasan untuk pengambilan
keputusan investasi dan kredit yang dapat dipandang sebagai keputusan strategik. Dengan
demikian, laporan keuangan utama dapat dipandang seperti ringkasan eksekutif (executive
summary) dalam pelaporan manajemen (internal). Rincian, laporan tambahan (supplementary
statements), daftar rincian atau semacamnya dapat disajikan sebagai lampiran atau disajikan
dalam bagian lain yang terpisah dengan laporan utama.
Komunikasi Manajemen
Manajemen dapat menyampaikan informasi kualitatif atau non finansial yang dirasa penting
untuk diketahui pemakai laporan keuangan melalu berbagai cara. Wawancara manajer dengan
wartawan (jumpa pers atau press release) merupakan salah satu bentuk pengungkapan atau
komunikasi manajemen. Laporan keuangan merupakn representasi manajemen.
Komunikasi manajemen secara resmi dapat disampaikan bersamaan dengan penerbitan
laporan tahunan dalam bentuk surat ke pemegang saham (letter to shareholders), laporan
dewan komisaris (report of board commissioners), laporan direksi (report of board of
directors), dan diskusi dan analisis manajemen/DAM (managements discussion and
analysis/MDA).

Surat ke pemegang saham dari direksi yang dimuat dalam laporan tahunan biasanya memuat
tanggapan atau penjelasan umum direksi tentang apa yang telah dicapai dan upaya-upaya apa
saja yang telah dilakukan serta apa yang akan dilakukan dalam kaitannya dengan misi dan visi
perusahaan.

Laporan dewan komisaris berisi pandangan umum tentang kinerja manajemen secara
keseluruhan. Laporan ini berisi persetujuan dewan komisaris terhadap laporan keuangan yang
disajikan manajemen serta usulan yang berkaitan dengan dividen dan usulan lain sesuai dengan
anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perseroan.

Laporan direksi berisi penjabaran lebih lanjut dari surat ke pemegang saham yang menjelaskan
atau menguraikan perubahan-perubahan penting dalam posisi keuangan dan hasil operasi
tahun berjalan dibanding tahun selanjutnya.

Bila penjelasan manajemen di atas ditambah dengan analisis terhadap hasil operasi perusahaan
tahun berjalan dibanding tahun-tahun sebelumnya terbentuklah apa yang disebut DAM dan
merupakan informasi yang harus disertakan dalam laporan tahunan. DAM diharapkan berisi
antara lain hal-hal berikuti ini:
1. Analisis tentang perubahan hasil operasi terutama laba atau rugi, laba kotor penjualan, dan
biaya adminsitratif/pemasaran.
2. Analisis tentang likuiditas, sumber pendanaan, penggunaan pinjaman, serta analisis
investasi.
3. Harapan manajemen masa datang tentang kondisi politik, sosial, dan ekonomi dan hal-hal
yang mungkin terjadi akibat ketidakpastian kondisi sekarang.
4. Tanggapan dan harapan manajemen terhadap kejadian atau perubahan non finansial yang
mempengaruhi operasi manajemen.
5. Rencana-rencana perubahan kebijakan penting di masa datang.
6. Rencana pengeluaran kapital serta riset dan pengembangan.
7. Analisis laporan keuangan yang diwujudkan dalam bentuk rasio dan tren beserta
interpretasinya.

Catatan dalam Laporan Auditor


Pengungkapan auditor yang dianggap penting dan bermanfaat adalah pengungkapan informasi
yang berkaitan dengan hal-hal yang menghalangi auditor untuk menerbitkan laporan auditor
bentuk standar. Syarat-syarat penerbitan laporan auditor standar adalah
1. Semua laporan: neraca, laporan laba rugi, laporan laba ditahan dan laporan arus kas telah
masuk dalam seperangkat penuh laporan keuangan yang diaudit.
2. Ketiga standar umum standar pengauditan berterima umum (StaPBU) telah dilaksanakan
dalam segala kegiatan yang berkaitan dengan penugasan audit.
3. Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akutnansi berterima umum
(PABU).
4. Tidak terdapat keadaan-keadaan yang menuntut tambahan paragraf penjelas atau
modifikasi sususan kalimat laporan audit.

Auditor harus menjelaskan dalam laporan auditor keadaan-keadaan yang menyebabkan tidak
dipenuhinya syarat di atas dan menunjukkan pengaruhnya terhadap kewajaran laporan
keuangan secara keseluruhan. Penjelasan ini merupakan salah satu bentuk pengungkapan
dalam pelaporan keuangan. Pengungkapan oleh auditor pada umumnya berkaitan dengan
antara lain hal-hal berikut:
1. Perubahan akuntansi dan konsistensi.
2. Keraguan tentang kelangsungan perusahaan.
3. Persetujuan atas penyimpangan dari PABU.
4. Penekanan suatu hal dalam laporan atau kejadian.
5. Pengaitan nama auditor dengan laporan keuangan non audit.
6. Laporan keuangan komparatif yang salah satu diaudit auditor lain.
7. Pembatasan lingkup audit dan independensi auditor.
Sarana Interpretif
Pengungkapan seperti dibahas diatas dapat dikatakan sebagai sarana interpretif untuk
menambah kebermanfaatan dan keberpautan informasi akuntansi yang disajikan melalui
media statement keuangan. Hal-hal yang dibahas diatas adalah sarana interpretif pada tataran
praktis. Dalam tataran praktis, tentu saja harus terdapat kerangka atau struktur akuntansi
pokok (basic accounting structure) atau pelaporan keuangan pokok (financial reporting praper)
yang membatasi pengungkapan sesuai dengan tujuan laporan keuangan. Tanpa kerangka
pokok tersebut akan banyak hal yang akan dituntut untuk di ungkapkan, dilampirkan atau
dimasukkan dalam pelaporan keuangan karena pada tataran teoritis banyak sarana interpretif
yang mempunyai potensi untuk bermanfaat atau berpaut dengan keputusan investor dan
kreditor. Pelaporan keuangan pokok adalah pelaporan yang langsung ditentukan oleh standar
akuntansi atas dasar pertimbangan keterandalan (reliability) dan keberpautan (relevance).
Kerangka pokok tersebut juga diperlukan untuk membatasi tanggung jawab auditor dalam
menetapkan kewajaran statement keuangan.

Bila dikaitkan dengan pengukuran/penilaian dan penyajian, pelaporan keuangan pokok


mengacu pada dasar penilaian utama yang harus tersedia dan menjadi dasar penilaian. Secara
implisit, pelaporan keuangan pokok yang dianut FASB didasarkan pada kos historis. Oleh
karena itu, struktur akuntansi atau pelaporan keuangan pokok sering disebut dengan
pelaporan keuangan kos historis atau akuntansi kos historis (histrical cost accounting). Alasan
utama dianutnya struktur ini adalah keterandalan. Dengan struktur ini paling tidak data kos
historis harus dipelihara dan dipertahankan sepanjang umur perusahaan tanpa menutup
kemungkinan untuk disertakannya sarana interpretif (dasaar penilaian lain) yang dimaksudkan
untuk meningkatkan keberpautan informasi.

Sarana interpretif tidak hanya ditujukan dalam pelaporan keuangan eksternal tetapi juga dalam
pelaporan internal atau manajerial. Sarana interpretif dalam pelaporan internal misalnya adalah
penggunaan kos standr, pengkosan variabel (variable costing), departementalisasi pendapatan
(revenue imputation) dan pengkosan berbasis kegiatan (activity based costing). Paton dan
Littleton (1970) menyatakan bahwa semua sarana interpretif internal tidak bertentangan dan
bahkan didukung penggunaannya asalkan sarana tersebut tidak menjadi basis atau mengganti
kerangka akuntansi pokok dalam pelaporan keuangan eksternal.
Kos dan Nilai
Dalam kondisi yang normal kos yang terjadi dapat dianggap menyatakan nilai pasar (market
value) suatu sumber ekonomik pada saat ia dibeli atau diperoleh. Nilai adalah persepsi orang
terhadap manfaat atau utilitas suatu objek yang dinyatakan dalam satuan pengukur (biasanya
dalam unit moneter). Pada mulanya kos dan nilai adalah identik. Dengan berlalunya waktu,
nilai suatu sumber ekonomik dapat berubah sebagaimana ditunjukkan oleh kos yang berlaku
sekarang (current input cost) atau harga pasar sumber ekonomik yang sama. Apabila
perubahan terjadi, jelas bahwa kos tercatat (actual cost) yang melekat pada suatu sumber
ekonomik yang masih digunakan pada saat kemudian tidak berpaut (relevan) lagi sebagai
pengukur manfaat ekonomi pada saat itu.

Masalah penilaian menjadi semakin penting khususnya untuk sumber yang mempunyai umur
ekonomik relatif lama (misalnya aset tetap). Untuk barang atau jasa yang singgah dalam
perusahaan dalam waktu yang sangat singkat (lancar) dan dapat langsung dibebankan
seluruhnya ke pendapatan segera setelah diperoleh, tidak ada cukup waktu untuk
menimbulkan perbedaan yang berarti antara kos nilai. Oleh karena itu timbulah gagasan untuk
mengganti kos tercatat (recorded cost) dengan basos lain dalam sistem akuntansi. Artinya akun-
akun harus direvisi dengan perbedaan antara kos dan nilai. Ini berarti bahwa kerangka
akuntansi pokok tidak lagi berbasis kos tetapi berbasis nilai lain.

Argumen Pendukung
Argumen utama pendukung gagasan tersebut adalah keberpautan keputusan sebagai salah satu
kualitas informasi baik untuk kepentingan manajemen maupun pihak luar. Untuk kepentingan
manajemen, perhitungan laba tiap periode hendaknya mencerminkan dengan jelas perubahan
ekonomik penting termasuk rugi (loses) dan untung (gains) yang belum terealisasi yang terjadi
akibat penurunan dan kenaikan nilai faktor-faktor jasa yang masih belum digunakan. Misal nya
saja kalau harga barang-barang yang dimiliki perusahaan telah meningkat terus menerus selama
selama satu periode tertentu maka pengaruh kenaikan harga ini harus sepenuhnya dicatat
dalam akun dan dalam statement keuangan untuk periode bersangkutan. Dengan pengakuan
yang sepenuhnya perubahan semacam itu, data operasi yang dihasilkan akan menjadi lebih
realistik dan lebih dapat diperbandingkan secara nyata dengan keadaan sekarang sehingga
dapat diperoleh dasar yang lebih baik untuk pembuatan keputusan manajerial dan untuk
menilai kinerja manajemen itu sendiri. Untuk kepentingan pihak luar, gagasan tersebut akan
menghasilkan angka laba yang mendekati laba ekenomik dan neraca akan menunjukkan nilai
perusahaan sehingga sangat membantu pemakai untuk menilai harga saham perusahaan dan
mengevaluasi posisi keuangan jangka pendek.

Argumen Penyanggah
Paton dan Littleton (1970) berpendapat bahwa adanya perubahan nilai tidak berarti bahwa
kerangka akuntasi pokok berbasis kos tidak lagi bermanfaat sehingga harus diganti. Tujuan
utama akuntansi adalah pengukuran laba periodik denga menggunakan proses menandingkan
kos dan pendapatan secara sistematik. Penggantian jumlah rupiah tercatat (kos) faktor-faktor
jasa dengan taksiran nilai pasar yang berlaku sekarang tidak dapat didukung atas dasar
argumen-argumen berikut ini:
1. Keterandalan data
Kos tercatat adalah data yang ditentukan secara objektif sedangkan kos pengganti yang
ditakir pada umumnya adalah hasil suatu pendapat belaka dan bahkan untuk beberapa
jenis fakktor jasa, nilai tersebut dalam banyak hal tidak terandalkan (unreliable). Oleh
karena itu, penggantian kos dengan nilai taksiran biasanya kan menghasilkan penyajian
angka laba yang kurang dapat dipercaya. Lagipula pergeseran tersebut jelas akan
mengakibatkan statement laba rugi yang kurang memuaskan ditinjau dari sisi yuridis
dibandingkan dengan laporan yang disusun atas dasar kos historis. Maksudnya auditor
tidak mempunyai basis yang kuat untuk menunjukkan bahwa angka akuntansi merupakan
angka kesepakatan yang timbul dari berbagai kontrak sebagai bukti audit.
2. Saling Kompensasi Antarperiode
Kalau kos pengganti secara konsisten digunakan dalam menyusun statement keuangan
pada akhir periode, pengaruh bersih penggunaan kos pengganti untuk faktor jasa tertentu
terhadap laba akan menjadi netral. Artinya kenaikan atau penurunan kos operasi total
akibat penyesuaian kos faktor jasa tertentu (menjadi nilai pengganti) yang dibebankan ke
periode sekarang akan dikompensasi dengan jumlah yang sama pada periode berikutnya.
Nilai pengganti sediaan akhir akan menjadi nilai sediaan awal periode berikutnya sehingga
yang terjadi sesungguhnya adalah pergeseran laba dari periode yang satu ke periode
berikutnya. Karena kompensasi tersebut, penggunaan nilai pengganti akan tidak praktis
dan kurang manfaatnya. Penggantian angka kos ini sama sekali percuma ditinjau dari
sudut pandangan pengukuran laba bersih periodik, karena dalam jangka panjang pengaruh
penyesuaian ke pos pengganti akan netral.
Bila kos pengganti akan tetap diterapkan maka hal terbaik yang masih dapat diterima
adalah suatu revaluasi faktor-faktor jasa yang belum dikonsumsi (misalnya sediaan barang)
pada akhir periode saja, bukannya revisi terus menerus pada tiap terjadi perubahan nilai
dalam buku besar. Manfaat pengakuan perubahan harga dalam buku besar juga tidak
meyakinkan ditinjau dari sudut kepentingan manajemen, walaupun untuk tujuan tertentu
mungkin diperlukan. Jadi sistem keuangan kos historis tetap dipertahankan dan untuk
meningkatkan relevansinya, mereka dilengkapi dengan statement keuangan dengan basis
lain tanpa harus mengubah kerangka akuntansi pokok (merevisi angka kos dalam buku
besar)
3. Fluktuasi Nilai Merupakan Gejala umum
Patom dan Littleton lebih jauh mengemukakan bahwa kalau perubahan akibat fluktuasi
harga harus dimuat dalam statement keuangan, akan lebih baik kalau pengaruh tersebut
diperlakukan sebagai pos khusus atau terpisah (special item) dan bukannya disesuaikan
langsung ke data dasar (kos) dalam buku besar tanpa penjelesan apapun.
4. Nilai Pasar dan Posisi Keuangan
Selain arti penting dalam penentuan laba periodik, kos pengganti sering dianggap sangat
penting dalam mengevaluasi posisi keungan jangka pendek. Hal ini memang benar
khususnya untuk aset yang dapat disetarakan dengan kas misalnya surat berharga yang
diperoleh perusahaan sebagai penyanggah modal kerja. Pencatatan kos justu harus
dipertahankan untuk tujuan menentukan laba atau rugi dalam hal surat berharga tersebut
dijual atau ditukarkan.