Anda di halaman 1dari 141

MATA KULIAH : KEBIJAKAN PUBLIK

TUGAS : REVIEW BUKU


DOSEN : Dr. GUNTUR KARNAENI, M.Si.,

Pengantar Analisis Kebijakan Publik


Oleh : William N. Dunn

KELOMPOK I

1. Kiki Indra Mentari NPM.2015.02.058


2. Fath Andi Pampang NPM. 2015.02.057
3. Eni Kalsum NPM.
4. Rezki Dwi Sari NPM.
5. Arnold Pata NPM.
6. Rahmatullah NPM.
7. Abdul Latif NPM.

SEKOLAH ILMU ADMINISTRASI NEGARA


LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR

Page | 1
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat Rahmat dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan review buku
sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Kebijakan Publik.

Review buku yang berjudul Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Penulis


William N. Dunn dimana dalam buku tersebut terdapat banyak pembelajaran
tentang kebijakan di antaranya terdapat elemen-elemen kebijakan publik, prosedur
analisis kebijakan dan lain sebagainya. Penulis mengakui masih banyak terdapat
kekurangan dalam menyusun review buku ini, untuk itu penulis meminta maaf atas
segala kekurangan dalam penyajian review buku ini. Koreksi, saran dan kritik sangat
diharapkan untuk penyempurnaan hasil review buku ini.

Dan akhir kata semoga hasil review buku ini dapat bermanfaat bagi segenap para
pembaca yang budiman, diharapkan dapat berguna untuk semua orang.

Makassar, September 2015


Penulis,

Pendahuluan dari Analisis Kebijakan dalam Proses Pembuatan Kebijakan.


Analisis kebijakan adalah aktifitas menciptakan pengetahuan tentang dan
dalam proses pembuatan kebijakan. Dalam menciptakan pengetahuan tentang
Page | 2
proses pembuatan kebijakan analisis kebijakan meneliti sebab,akibat, dan kinerja
kebijakan dan program publik. Hanya jika pengetahuan Itentang kebijakan dikaitkan
dengan pengetahuan dalam proses kebijakan, anggota-anggota badan eksekutif,
legislatif dan yudikatif bersama dengan warga-warga yang memiliki peranan dalam
keputusan-keputusan publik, dapat menggunakan hasil-hasil analisis kebijakan
untuk memperbaiki proses pembuatan kebijakan dan kinerjanya.

Metodologi Analisis Kebijakan


Metodologi analisis kebijakan diambil dari dan memadukan elemen-elemen
dari berbagai disiplin: ilmu politik, sosiologi, psikologi, ekonomi dan filsafat. Analisis
kebijakan bersifat deskriptif, diambil dari disiplin-disiplin tradisisonal (misalnya, ilmu
politik) yang mencari pengetahuan tentang sebab dan akibat dari kebijakan-
kebijakan publik. Namun analisis kebijakan juga bersifat normatif, tujuan lainnya
adalah menciptakan dan melakukan kritik terhadap klaim pengetahuan tentang nilai
kebijakan publik untuk generasi masa lalu,masa kini, dan masa mendatang. Aspek
normatif, atau nilai-nilai, dari analisis kebijakan publik ini terlihat ketika kita
menyadari bahwa pengetahuan yang relevan dengan kebijakan mencakup dinamika
antara variabel tergantung (tujuan) dan variabel bebas (cara) ang bersifat valuatif.
Variabel-variabel acapkali merupakan pemilihan terhadap nilai-nilai yang saling
bersaing, kesehatan, keamanan, kemakmuran, kedamaian, keadilan, perataan,
kebebasan.
Metodologi analisis kebijakan, seperti dikemukakan di atas,bertujuan
menciptakan, menilai secara kritis, dan mengkomunikasikan pengetahuan yang
relevan dengan kebijakan.

Analisis Kebijakan bersifat Deskriptif dan Normatif


Analisis Kebijakan Deskriptif adalah aspek analisis kebijakan yang ditujukan
ke arah pencipta,kritik, dan komunikasi klaim pengetahuan tentang sebab dan akibat
kebijakan.
Analisis Kebijakan Normatif adalah aspek analisis yang ditujukan ke arah
pencipta,krritik, dan komunikasi klaim pengetahuan nilai keijakan untuk generasi
masa lalu,sekarang dan masa mendatang.

Kedekatan prosedur analisis kebijakan dengan tipe-tioe pembuatan kebijakan.


Page | 3
PERUMUSAN
PENYUSUNAN AGENDA
MASALAH

PERAMALAN FORMULASI KEBIJAKAN

REKOMENDAS ADOPSI KEBIJAKAN


I

PERMANTAUA
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN
N

PENILAIAN PENILAIAN KEBIJAKAN

penjelasan gambar diatas:

Perumusan Masalah
Perumusan masalah dapat memasok pengetahuan yang relevan
dengan kebijakan yang mempersalkan asumsi-asumsi yang mendasari definisi
masalah dan memasuki proses pembuatan kebijakan melalui penyusunan agenda
(agenda setting). Perumusan masalah dapat membantu menemukan aumsi-asumsi
yang tersembunyi, mendiagnosis penyebab-penyebabnya,memetakan tujuan-tujuan
yang memungkinkan, memadukan pandangan-pandangan yang bertentangan, dan
merancang peluang-peluang kebijakan yang baru.

Peramalan
Peramalan dapat menyediakan pengetahuan yang relevan dengan
kebijakan tentang masalah yang akan terjadi dimasa mendatang sebagai akibat dari
diambilnya alternatif, termasuk tidak melakukan sesuatu.

Page | 4
Rekomendasi
Rekomendasi membuahkan pengetahuan yang relevan dengan
kebijakan tentang manfaat atau biaya dari berbagai alternatif yang akibatnya dimasa
mendatang telah diestimasikan melalui peramalan\ini memantu pengambilan
kebijakan pada tahap adopsi kebijakan.rekomedasi membantu mengestimasi tingkat
risiko dan ketidakpastia mengenali eksternalitas dan akibat ganda. Menetukan
kriteria dalam pembuatan pilihan, dan menetukan pertangungjawaban administratif
bagi implementasi kebijakan.
Pemantauan
Pemantauan(monitoring) menyediakan pengetahuan yang relevan
dengan kebijakan tentang akibat dari kebijakan yang diambil sebelumnya.
Pemantauan membantu menilai tingkat kepatuhan,menemukan akibat-akibat yang
tidak diinginkan dari kebijakan dan program, mengidentifikasi hambatan dan
rintangan implementasi, dan menemukan letak pihak-pihak yang bertanggug jawab
pada setiap tahap kebijakan.
Evaluasi
Evaluasi membuahkan pengetahuan yang relevan dengan kebijaka
tentang ketidaksesuaian antara kinerja kebijakan yang diharapkan dengan yang
benar-benar dihasilkan. Evaluasi tidak hanya menghasilkan kesimpulan mengenai
seberapa jauh masalah telah terselesaikan: tetapi juga menyumbang pada klarifikasi
dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari kebijakan, membantu dalam
penyesuaian dan perumusan kembali masalah.

Metodologi Analisis kebijakan.


Aturan metodologi dari multiplisme kritis lebih merupakan penuntun yang
bersifat umum bagi pengkaji kebijakan daripada preskripsi khusus untuk melakukan
riset dan analisis kebijakan. Penuntun dalam menciptakan, menilai secara kritis, dan
mengkomunikasikan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan ini meliputi
beberapa bidang analisis kebijakan penting seperti berikut:
Operasionisme berganda. Penggunaan berbagai ukuran secara bersama-sama
untuk konstrak dan variabel kebijakan atau, seperti diikatkan campbell, ukuran
berganda terhadap ketidaksempurnaan yang indenpenden, meningkatkan
plausabilitas klaim pengetahuan dengan mentriangulasikan obyek yang sama
dengan dua atau lebih metrik
Page | 5
Penelitian multimetode. Penggunaan berbagai metode secara bersama-sama
untuk mengamati proses dan hasil kebijakan, misalnya. Penggunaan secara
bersama-sama catatan-catatan organism. Meningkatkan plausibilitas klaim
pengetahuan dengan mentriangulasikan obyek yang sama dengan data yang
diproleh dari dua atau lebih instrument.
Sintesis analisis berganda. Sintesis dan penilaian kritis terhadap analisis-analisis
yang bersedia tentang program-program dan kebijakan-kebijakan yang sama.
Analisis Multivariat. Memasukkan bayak variabel dalam model kebijakan.
Analisis multivariat juga dapat digunakan untuk menguji plausibilitas teori-teori
tandingan dari proses pembuatan kebijakan.
Analisis pelaku berganda. Investigasi kerangka kerja interpretif dan perspektif
banyak pelaku kebijakan, dan Analisis pelaku kebijakan memisatkan perhatian-
perhatian individu atau kelompok yang berpartisipasi dalam formulasi dan
implementasi kebijakan sebagai sumber pengetahuan yang relevan dengan
kebijakan dan perhatian langsung pada kepentingan publik.
Analisis perspektif berganda. Disertakannya berbagi perspektif
etis,politis,organisasional,ekonomis,sosial,kulturalpsikologis,teknologis dalam
analisis kebijkan meningkatkan plausibilitas dengan triangulasi antar berbagai
representasi masalah dan solusi.
Komunikasi multimedia. Penggunaan banyak medi kounikasi oleh analisis
sangat penting untuk menyakinkan bahwa pengetahuan yang dikaji relevan
dengan kebijakan,sehingga digunakan oleh para pengambil kebijakan dan
penerima dampak yang diinginkan.

Konteks sejarah analisis kebijakan


Analisis kebijakan dapat dimengerti sebagai proses menghasilkan
pengetahuan tentang dan dalam proses kebijakan. Dalam definisi yang luas ini
analisis kebijakan serta peradaban itu sendiri, dan mencakup berbagai bentuk
pengajian, dari penggunaan mistik atau tenaga gaib sampai ke ilmu-ilmu moderat.

ASAL MULA
Dipahami dalam arti terluasnya, analisis kebijakan dapt dilacak ke satu
titik evolusi masyarakat di mana pengetahuan tentang dan dalamI proses kebijakan
secara sadar dibuat, sehingga dapat memungkinkan dilakukannya pengujian secara
eksplisit dan reflektif terhadap kaitan antara pengetahuan dan aksi. Analisis

Page | 6
kebijakan sebagai aktivitas yang terspesialisasi menyertai perubahan-perubahan di
dalam organisasi sosial yang diikuti dengan bentuk-bentu baru teknologi produksi
dan pola pemukiman menetap.
1. Kode Hammurabi
Kode Hammurabi, ditulis oleh penguasa Babilonia pada abad 18 sebelum
masehi, mengekspresikan keinginan untuk membentuk ketertiban publik yang
bersatu dan adil pada masa ketika Babilonia mengalami transisi dari negara kota
kebil menjadi negara wilayah yang luas.
2. Ahli Nujum
Ahli Nujum (atau spesialis simbol) untuk meminjam istilah seperti ini,
bertanggug jawab pada peramalan tentang akibat dari kebijakan-kebijakan, misalnya
pada musim panen atau waktu perang.
3. Pengetahuan yang terspesialiisasi pada masyarakat abad pertengahan
Ekspasi dan diferensiasi secara bertahap peradaban kota sepanjang abad
pertengahan berlangsung dengan diikuti oleh struktur okupasi yang memudahkan
pengembangan pengetahuan yang terspesialiskan.

Bimbingan Teknokratis vs. Konseling Teknokratis

Terdapat dua pandangan yang saling berlawanan pada pertanyaan-


pertanyaan berikut: pandangan pertama yang didominasi oleh pendukung PPBS dan
teknologi sistem lain menyatakan bahwa profesionalisme analisis kebijakan berarti
perpindahan kekuasaan dari pembuat kebijakan kepada analisis kebijakan.
Pandangan ini yaitu bimbingan teknoratis lebih dekat hubugannya dengan bias
analisentrik yang berpendapat bahwa cara yang paling menyakinkan untuk
mengembangkan kualitas pilihan publik adalah dengan memiliki banyak analis yang
menghasilkan banyak analisis. Sebaliknya perspektif lain yaitu konseling tekniratis
berpendapat bahwa profesionalisasi analisis kebijakan dan aktivitas lain yang terkait
merupakan cara yang lebih efektif untuk meningkatkan kekuasaan pembuat
kebijakan yang kelompok-kelompok dominan lain yang kedudukan sosialnya
tergantung pada kesejahteraan serta hak-hak istimewa.

ARTI ANALISIS KEBIJAKAN

Page | 7
Arti dari Analisi Kebijakan yaitu suatu bentuk yang mengahsilkan dan
menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberi landasan daari para
pembuat kebijakan dalam membuat keputusan. Analisis kebijakan diambil dari
berbagai macam disiplin dan profesi yang tujuannya bersifat dekskripsi. Analisis
deskripsi misalnya dapat mendeskripsikan, menjelaskan, atau meramalkan
pengeluaran publik untuk kesehatan,pendidikan,atau jalan-jalan raya. Sebaliknya
pendekatan valuastif terutama ditekankan pada penetuan bobot dengan
nilai.sebagai contoh memberikan informasi deskriptif mengenai berbagai macam
kebijakan perpajakan, analis dapat mengevaluasi berbagai cara yang berbeda
dalam mendistribusikan beban pajak menurut konsekuensi etis dan moral mereka.
Dan informasi yang bersifat preskriptif sebagai contoh, kebijakan jaminan
pendapatan minimum tahunan dapat direkomendasikan sebagai cara untuk
meyelesaikan masalah kemiskinan.
PENDEKATAN ANALISIS KEBIJAKAN
Menurut Dunn (1988), dalam upayanya untuk menghasilkan informasi dan
argumen, analis kebijakan dapat menggunakan beberapa pendekatan, yakni
pendekatan empiris, valuatif, dan normatif.
Pendekatan Empiris
Pendekatan ini memusatkan perhatian pada masalah pokok, yaitu apakah sesuatu
itu ada (menyangkut fakta). Pendekatan ini lebih menekankan penjelasan sebab
akibat dari kebijakan publik. Metode ini memandang pada fakta yang ada atau yang
akan datang. Sebagai hasilnya, analis akan mampu untuk menghasilkan informasi
deskriptif ataupun prediktif.
Contoh: Analisis dapat menjelaskan atau meramalkan pembelanjaan negara untuk
kesehatan, pendidikan, transportasi.
Pendekatan Valuatif
Pendekatan ini memusatkan perhatian pada masalah pokok, yaitu berkaitan
dengan penentuan harga atau nilai (beberapa nilai sesuatu) dari beberapa
kebijakan. Metode ini memandang fakta dan masa depan, serta mengkajinya
apakah fakta tersebut berharga serta memiliki nilai. Jenis informasi yang dihasilkan
bersifat valuatif.
Contoh: Setelah menerima informasi berbagai macam kebijakan KIA - KB, analis
dapat mengevaluasi bermacam cara untuk mendistribusikan biaya, alat, atau obat-
obatan menurut etika dan konsekuensinya.
Page | 8
Pendekatan Normatif
Pendekatan ini memusatkan perhatian pada masalah pokok, yaitu tentang tindakan
apa yang semestinya dilakukan. Pengusulan arah tindakan yang dapat
memecahkan masalah problem kebijakan, merupakan inti pendekatan normatif.
Metode ini melihat fakta masa lalu lalu memutuskan tindakan apa yang seharusnya
dilakukan. Hasilnya, analis menghasilkan informasi yang bersifat anjuran atau
rekomendasi di masa depan.
Contoh: Peningkatan pembayaran pasien puskesmas (dari Rp.300 menjadi
Rp.1000) merupakan jawaban untuk mengatasi rendahnya kualitas pelayanan di
puskesmas.
Selain ketiga pendekatan yang dikemukakan oleh Dunn di atas, ada beberapa
pendekatan lainnya.

Bentuk-bentuk Argumen Kebijakan


Bentuk-bentuk argumen kebijakan merupakan alat untuk mengubah informasi yang
relevan dengan kebijakan menjadi pernyataan kebijakan. Berikut argumen-argumen
kebijakan tersebut:
1. Cara otoritatif. Dalam cara yang otoritaritatif, pernyataan kebijakan didasarkan
pada argumen dari pihak yang berwenang. Informasi dirubah menjadi
pertanyaan atas dasar asumsi tentang status yang dicapai ataupun diperoleh
pembuat informasi.
2. Cara statistik. Dalam cara statistik, pertnyaan kebijakan didasarkan pada
argumen yang diperoleh dari sampel. Informasi diubah menjadi pernyataan
atas dasar asumsi bahwa apa yang benar bagi para anggota sampel juga
benar bagi seluruh anggota populasi yang tidak tercakup oleh sampel itu.
3. Cara klasifikasional. Dalam cara klasifikasional, pernyataan kebijakan
didasarkan pada argumen yang berasal dari suatu keanggitaan. Informasi
yang diubah menjadi pernyataan kebijakan atas dasar asumsi bahwa apa
yang benar bagi suatu kelas individu ataupun kelompok yang tercakup
dalam informasi itu juga benar bagi individu atau kelompok yang merupakan
(atau diyakini sebagai) anggota do kelas yang bersangkutan.
4. Cara intuitif. Dalam cara intuitif,pernyataan didasarkan pada argumen yang
berasal dari batin(insight). Informasi diubah menjadi pernyataan kebijakan
atas dasar asumsi tentang situasi mental-dalam dari pembuat informasi
tersebut.
Page | 9
5. Cara analisentrik. Dalam cara analisentrik, pernyataan didasarkan pada
arguemn yang berasal dari metode.informasi diubah nejadi pernyataan atas
asumsi tentang validitas metode atau aturan yang diterapkan oelh analis.
6. Cara eksplanatori. Dalam cara eksplanatori, pernyataan dibuat atas adsar
argumen yang dibuat dari suatu penyebab. Informasi diubah menjadi
pernyataan atas dasar asumsi tentang adanya kekuataan penyebab tertentu.
7. Cara pragmatis. Cara pragmatis, pernyataan kebijakan didasarkan pada
argumen yang berasal daro motivasi, kasus paralel, atau analogi.
8. Cara kritik-nilai. Dalam cara kritik-nilai, pernyataan didasarkan pada argumen
yang diangkat dari etika. Informasi diubah menjadi pernyataan atas dasar
asumsi tetang kebenaran atau kekeliruan, kebaikan atau kejelekan dari
kebijakan dan konsekuensinya.
Perumusan Masalah-masalah Kebijakan
Masalah-masalah kebijakan adalah kebutuhan,nilai-nilai,atau kesempatan-
kesempatan yang tidak terealisir tetapi yang dapat dicapai melalui tindakan publik.
Memahami masalah kenijakan adalah sangat penting, karena para analis kebijakan
kelihatannyalebih sering gagal karena mereka memecahkan masalah yang salah
daripada karena memproleh solusi nyang salah terhadap masalah yang tepat.
Ciri-ciri Masalah Kebijakan.
Uraian berikut ini menjelaskan beberapa ciri penting dari masalah kebijakan:
1. Saling ketergantungan dari masalah kebijakan. Masalah-masalah kebijakan di
dalam satu bidang( misalnya,energi). Kadang-kadang mempengaruhi
masalah-masalah kebijakan di dalam bidang lain(misalnya. pelayanan
kesehatan dan pengangguran)).
2. Subyektifitas dri masalah kebijakan. Kondisi ekternal yang menimbulkan
suatu permasalahan didefinisikan, diklasifikasikan dijelaskan dan dievaluasi
secara selektif. Dalam analisis kebijakan merupakan hal yang sangat penting
untuk tidak mengacaukan antara situasi masalah dengan masalah kebijakan,
karena masalah adalah barag abstrak yang timbul dengan
mentransformasikan pengalaman kedalam penilaian manusia.
3. Sifat buatan dari masalah. Masalah-masalah kebijakan hanya mungkin ketika
manusia membuat penilaian mengenai keinginan untuk mengubah beberapa
situasi masalah.
4. Dinamika masalah kebijakan. Terdapat banyak solusi untuk suatu masalah
sebagaimana terdapat banyak definisi terhadap masalah tersebut.

Page | 10
TIPE-TIPE MODEL KEBIJAKAN.
Model kebijakan (policy models) adalah representasi sederhana mengenai
aspek-aspek yang terpilih dari suatu kondisi masalah yang disusun untuk tujuan-
tujuan tertentu. Model-model kebijakan dapat membantu membedakan hal-hal yang
esensial dan yang tidak esensial dari situasi masalah, mempertegas hubungan di
antara faktor-faktor atau variabel-variabel penting, dan membantu menjelaskan dan
memprediksikan konsekuensi-konsekuensinya dari pilihan-pilihan kebijakan.
Model-model kebijakan khususnya yang diekspresikan dalam bentuk
matematika kadang-kadang sulit dikomunikasikn kepada para pembuat dan pelaku
kebijakan, yang untuk merekalah model diciptakan guna membantu membuat
keputusan yang lebih baik.
1. Model Deskriptif.
Tujuan Model Deskriptif adalah menjelaskan dan atau memprediksikan
sebab-sebab dan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan kebijakan. Sebagai
Contoh, dewan penasehat ekonomi mempersiapkan ramalan ekonomi tahunan
untuk dimasukkan dalam laporan ekonomi presiden.
2. Model Normatif
Tujuan mdel normatif bukan hanya untuk menjelaskan dan atau memprediksi
tetapi juga memberikan dalil dan rekomendasi untuk mengoptimalkan pencapaian
beberapa utilitas (nilai). Sedemikian rupa sehingga menunjukkan pada karakteristik
semua model normatif: model normatif itu tidak hanya memungkinkan kita
memperkirakan nilai-nilai masa lalu,masa kini, dan masa yang akan datang dari
variabel-variabel hasil melainkan juga memungkinkan kita mengoptimalkn
pencapaian suatu nilai.

3. Model Verbal
Dalam menggunakan model verbal, analisbersandar pada penilaian nalar
untuk membuat prediksi dan menawarkan rekomendasi.
4. Model Simbolis
Model simbolis menggunakan simbol-simbol matematis untuk menerangkan
hubungan di antara variabel-variabel kunci yang dipercaya menciri suatu masalah.
Meskipun kita telah membahas model sombolis yang sederhana yang diciptakan

Page | 11
untuk tujuan-tujuan normatif(melipatgandakan bunga), ada banyak model simbolis
yang tujuan utamanya adalah deskriptif.
5. Model Prosedural
Model Prosedural(prosedural models) menampilkan hubungan yang dinamis
diantara variabel-variabel yang diyakini menjadi ciri suatu masalah
kebijakan.sebagai contoh, petumbuhan ekonomi, konsumsi energi, dan suplai
makanan dalam tahun-tahun mendatang yang tidak dapat diterangkan secara baik
karena data-data yang diperlukan tidak tersedia.

METODE-METODE PERUMUSAN MASALAH


Metode-metode perumusan masalah yag baru saja didiskusikan, bersama
dengan metode-metode lain yang terkait yang mengandalkan bahw masalah telah
dirumuskan,tidak dengan sendirinya menyediakan suatu cara untuk mengetahui
apakah seperangkat formulasi masalah teah relatif lengkap. Kelengkaan relatif dari
seperangkat formulasi masalah dapat diperkirakan dengan roses tiga langkah, yaitu:
1. Pencarian sampel secara bola salju. Sampel secara bola salju diperoleh dari
para pelaku kebijakan dan dapat dicari dengan proses bertingkat,yang dimulai
dengan individu dan kelompok yang diketahui mengetahui suatu kebijakan.
2. Pencarian representasi. untuk memperoleh representasi masalah alternatif yag
diterangkan heclo sebagai ide-ide paradigma dasar, metafora dominan,stndar
operasi baku, atau apapun juga yang kita pilih untuk menyebut sistem
interpretasi dengannya kita memberikan makna pada suatu kejadian.
3. Estimasi batasan. memperkirakan batasan metaproblem. Disini analis menyusun
distribusi frekuensi kumulatif di mana para pelaku kebijakan diletakkan pada
suatu horisotal dan sejumlah elemen masalah yang baru ide-
ide,konsep,variabel,asumsi,tujuan jangka panjang,kebijakan-kebijakan.

MERAMAL MASA DEPAN KEBIJAKAN


Kapasitas untuk meramalkan masa depan kebijakan sangat penting bagi
perbaikan perbuatan kebijakan itu sendiri. Melalui peramalan kita dapat memperoleh
visi yang prospektif, atau tinjauan ke depan, sehingga melebarkan kapasitas kita
dalam memahami, mengontrol dan membimbing masyarakat.

Page | 12
PERAMALAN DALAM ANALISIS KEBIJAKAN
Peramalan (forecasting) adalah suatu prosedur untuk membuat informasi factual
tentang situasi social masa depan atas dasar informasi yang telah ada tentang
masalah kebijakan. Ramalan mempunyai tiga bentuk utama : proyeksi, prediksi dan
perkiraan.

Tujuan peramalan
Ramalan menyediakan informasi tentang perubahan kebijakan dimasa depan
dan konsekuensinya. Tujuan dari peramalan mirip dengan tujuan dari kebanyakan
riset eksakta maupun social, sejauh riset ini berusaha baik untuk memahami
maupun untuk mengendalikan lingkungan manusia dan material. Namun usaha
untuk meramal situasi social masa depan terutama dimaksudkan untuk mengontrol
yakni berusaha merencanakan dan menetapkan kebijakan sehingga segugus
tindakan yang terbaik dapat dipilih di antara berbagai kemungkinan yang ditawarkan
oleh masa depan
Keterbatasan peramalan
Pada tahun-tahun setelah 1985 ada sejumlah perubahan politik sosial dan
ekonomi yang takterduga, mengejutkan dan tak terbayangkan misalya
diberhentikannya secara formal sosialisme di Uni soviet, menyurutnya partai
komunis di Eropa timur. Perubahan-perubahan ini segera mengarahkan perhatian ke
penting dan sulitnya meramalkan masa depan kebijakan dibawah kondisi perubahan
terus menerus yang kompleks, cepat dan bahkan kacau.
1. Akrualisasi ramalan. Ketepatan dari ramalan yang relative sederhana yang
berdasarkan kepada ekstrapolasi atas kecenderungan sebuah variable maupun
ramalan yang kompleks berdasar model-model yang memasukkan ratusan
variable masihlah terbatas.
2. Kelebihan komparatif. Ketepatan prediksi yang berdasarkan pada model teoritik
yang kompleks atas ekonomi dan system sumber daya energy tidaklah lebih
tinggi disbanding ketepatan proyeksi dan konjektur yang dibuat atas dasar
model ekstrapolasi sederhana dan penilaian informative (oleh pakar).
3. Konteks. Asumsi yang dipegang oleh model dan akibat dari model itu sensitive
terhadap tiga jenis konteks : institusional ketepatan ramalan cenderung lebih
besar pada lembaga penelitian nirlaba ketimbang pada perusahaan atau badan
pemerintah.Temporal mempengaruhi ketepatan ramalannya, semakin lama

Page | 13
kerangka waktunya, semakn kurang akurat ramalannya dan historical konteks
sejarah dari ramalan mempengaruhi akuarsi, sejarah masa kini menurunkan
akurasi ramalan terbukti meningkatnya kesalahan raman sejak 1965.
Jenis-jenis masa depan
Masa depan potensial (seringkali disebut masa depan alternative adaah
situasi masadepan yang mungkinterjadi, yang berbeda dengan situasi social yang
memang terjadi. Masa depan yang masuk akal (plausible) adalah situasi masa
depan yang, atas dasar asumsi tentang hubungan antara lingkungan dan
masyarakat, diyakini akan berlansung jika pembuat kebijakan tidak
mengintervensinya guna merubah arah suatu peristiwa. Sebaliknya masa depan
normative adalah masa depan yang potensial maupun plausible yang konsisten
dengan konsep analisis tentang kehidupan, nilai dan kesempatan di masa depan.
Pendekatan-pendekatan peramalan
Setelah tujuan, sasaran dan alternative ditetapkan, dapat dipilih suatu
pendekatan peramalan. Dengan memilih pendekatan peramalan kita maksudkan
tiga hal. Analisis harus (1) memutuskan apa yang diramal yakni menentukan objek
ramalan; (2) menetukan bagaimana membuat ramalan, yakni memilih satu atau lebih
dasar untuk meramal; dan (3) memilih tehnik yang peling sesuai dengan obyek dan
dasar yang dipakai.

Obyek
Obyek ramalan adalah titik pijakan suatu proyeksi, prediksi atau perkiraan.
Basis
Basis ramalan adalah seperangkat asumsi atau data yang digunakan untuk
menetapkan kemungkinan (plausibility) dari ramalan atas konsekuensi dari kebijakan
baru maupun kebijakan yang telah ada, isi dari kebijakan baru, atau perilaku para
penetu kebijakan. Ada tiga basis ramalan yang utama yakni Ekstrapolasi
kecenderungan, Asumsi teoritik dan Penilaian informatif.
Metode dan tehnik
Cara yang terbaik intuk mengkaji metode dan tehnik tersebut adalah dengan
mengelompokkan mereka berdasar basis peramalan seperti dibahas di atas yaitu
meringkas ketiga pendekatan peramalan, basis mereka, metode yang sesuai dan
produknya.

Page | 14
RAMALAN EKSTRAPOLATIF
Metode dan tehnik peramalan ekstrapolatif memungkinkan analisis untuk
membuat proyeksi atas dasar data masa kini dan masa lalu. Peramalan ekstrapolatif
biasanya didasarkan pada beberapa bentuk analisis antara waktu (time seris
analysis), yakni analisis data nomerik yang dihimpun pada beberapa titik waktu dan
ditampilkan secara kronologis.

Analisis antar waktu klasik


Dalam membuat ramalan ekstrapolatifkita dapat menggunakan analisis antar
waktu klasik, yang memendang setiap data antar waktu mempunyai empat
komponen : tren sekuler, variasi musiman, fluktuasi yang bersiklus, dan pemindahan
yang tak terarut. Kecenderungan sekuler adalah pertumbuhan atau penurunan yang
lurus dalam jangka panjang dari suatu data antar waktu.
Estimasi tren linear
Sebuah tehnik standaruntuk mengekstrapolasi tren adalah estimasi tren linear
(linear trend estimation), suatu prosedur yang menggunakan analisis regresi untuk
memperoleh estimasi matematisyang cermat tentang situasi social masa depan.
Waktu berkala Non Linear
Waktu berkala yang tidak memenuhi kondisi linearitas, persistensi, dan
keteraturan dapat dipilah menjadi lima kelas yaitu Osilasi, Siklus, Kurva
pertumbuhan, Kurva penurunan, dan Katastropik.
Peramalan Teoretik
Metode peramalan teoretik membantu analisis membuat prediksi tentang
situasi masyarakat di masa depan atas dasar asumsi teoretik data masa lalu
maupun masa kini.

REKOMENDASI AKSI KEBIJAKAN


Rekomendasi aksi-aksi kebijakan (policy recommendation) adalah proses
membangun informasi dari aksi-aksi kebijakan yang telah diselenggarakan untuk
kebijakan masa depan. Prosedur analisis kebijakan dari rekomendasi
memungkinkan analis mengahasilkan informasi tentang kemungkinan serangkaian
aksi di masa mendatang untuk menghasilkan konsekuensi yang berharga bagi
Page | 15
individu, kelompok, atau masyarakat seluruhnya yang meliputi transformasi
informasi mengenai kebijakan di masa depan ke dalam informasi mengenai aksi-aksi
kebijakan yang akan menghasilkan keluaran yang bernilai. Oleh karenanya prosedur
analisis kebijakan dari rekomendasi terkait erat dengan persoalan etika dan moral.
Dalam membuat rekomendasi kebijakan analis harus mengarahkannya
berupa pertanyaan yang saling berhubungan yaitu : 1. Bagaimana kebutuhan, nilai,
dan peluang yang menjadi isu dan alternatif-alternatif apa yang tersedia dan
memuaskan mereka, 2. Apa tujuan dan sasaran yang harus dicapai dan bagaimana
itu semua harus diukur, 3. Berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk
mencapai tujuan dan jenis hambatan dari sisi keuangan, hukum, administrasi, politik,
yang mungkin menghambat pencapaian tujuan, 4. Apa efek samping, efek ganda
dan akibat-akibat lain yang dapat dan yang tidak dapat diantisipasi harus
dipertimbangkan sebagai biaya atau manfaat, 5. Bagaimana perubahan nilai dan
manfaat, 6. Sejauh mana keyakinan dan kepastian terhadap peramalan keluaran-
keluaran yang berubaha sepanjang waktu, 7. Apa yang harus dilakukan.
Serangkaian metode-metode dan teknik untuk pembuatan rekomendasi
kebijakan yaitu :
1. Pemetaan Sasaran, untuk mengetahui sasaran apa yang akan dianalisis dan
hubungannya dengan alternatif kebijakan.
2. Klarifikasi Nilai, untuk mengidentifikasi dan mengklarifikasi premis nilai atas
dasar seleksi terhadap sasaran kebijakan.
3. Kritik Nilai, merupakan prosedur untuk menguji mana yang lebih meyakinkan
antara argumen-argumen yang saling berlawanan dalam suatu debat mengenai
tujuan kebijakan.
4. Perumusan Elemen Biaya, konsep biaya adalah hal penting untuk proses
pembuatan rekomendasi kebijakan karena usaha untuk mencapai suatu tujuan
hampir selalu memerlukan pengorbanan tujuan yang lain.
5. Estimasi Biaya, prosedur untuk menyediakan informasi tentang nilai uang (dolar)
masing-masing komponen dari struktur elemen biaya yang memungkinkan
analis membandingkan secara konsisten dua atau lebih alternatif kebijakan
seperti hubungan antara jumlah fungsi, materi atau pegawai dengan biaya
mereka.
6. Harga Bayangan (shadow pricing), prosedur untuk membuat keputusan
subyektif tentang nilai uang dari manfaat dan biaya ketika harga pasar tidak
dapat dipercaya atau tidak tersedia.

Page | 16
7. Pemetaan Hambatan, prosedur untuk mengidentifikasi keterbatasan dan
hambatan yang menghadang jalan untuk mencapai sasaran kebijakan dan
program yang meliputi hambatan fisik, hukum, organisasional, politik, distributif,
dan anggaran
8. Internalisasi Biaya, prosedur untuk memasukkan semua biaya luar yang relevan
(eksternalitas) kedalam struktur elemen biaya internal.
9. Diskonting, prosedur untuk memperkirakan nilai saat ini dari biaya dan manfaat
yang akan diperoleh pada masa mendatang.
10. Analisis Sensitivitas, prosedur untuk mengetahui sensistivitas hasil dari analisis
biaya-manfaat atau biaya-efektifitas terhadap asumsi-asumsi alternatif tentang
kemungkinan tingkat biaya atau manfaat tertentu akan benar-benar terjadi.
11. Analisis Fortiori, prosedur yang digunakan untuk membandingkan dua atau lebih
alternatif dengan cara memecahkan ketidakpastian untuk menyetujui suatu
alternatif yang secara intuitif lebih disukai tetapi setelah dianalisis pendahuluan
diketahui lebih lemah dibanding alternatif lain.
12. Analisis Plausibilitas, suatu bentuk multiplisme kritis yang digunakan untuk
menguji rekomendasi yang menentang pernyataan kausalitas dan etis yang
berlawanan.

PEMANTAUAN HASIL-HASIL KEBIJAKAN


Konsekuensi dari tindakan kebijakan tidak pernah diketahui secara penuh,
dan oleh karena itu memantau tindakan kebijakan merupakan suatu keharusan.
Pemantauan (monitoring) merupakan prosedur analisis kebijakan yang digunakan
untuk memeberikan informasi tentanng sebab dan akibat dari kebijakan publik.
Pementauan setidaknya memainkan empat fungsi dalam analisis kebijakan:
ekspansi, akutansi, pemeriksaan (Auditing) dan kepatuhan (Compliance). Untuk
memantau kebijakan publik, dalam isu apapun, kita membutuhkan informasi yang
relevan, reliabel dan valid. Jenis informasi yang pertama dapatlah disebut
makrogenatif, sedangklan jenis informasi yang kedua paling tepat disebut sebagai
mikronegatif. Innformasi dihimpun haruslah reliabel, dalam artian observasinya
dilakukan secara cermat dan dapat diandalkan.
Dalam memantau hasil kebijakan kita harus membedakan dua jenis akibat:
keluaran (outputs) dan dampak (impacts). Keluaran kebijakan adalah brang, layanan
atau sumber daya yang diterima oleh kelompok sasaran atau kelompok penerima
(beneficiaries). Sebaliknya dampak kebijakan merupakan perubahan nyata pada

Page | 17
tinkah laku atau sikap yang dihasilkan oleh keluaran kebijakan tersebut. Untuk
menghitung secara baik keluaran dan dampak kebijakan perlu melihat kembali
tindakan yang dilakukan sebelumnya. Secara umum, tindakan kebijakan
memopunyai dua tujuan utama yaitu regulasi dan alokasi. Tindakan regulatif adalah
tindakan yang dirancang untuk menjamin kepatuhan terhadap standar atau prosedur
tertentu, misalnya tindakan yang diambil oleh badan pengendali lingkungan.
Sebaliknya tindakan alokatifadalah tindakan yang membutuhkan masukan yang
berupa uang, waktu, dan personil. Baik tindakan regulatif maupun alokatif dapat
memberikan akibat yang bersifat distributif maupun redistributif.
Keberhasilan kita dalam memperoleh, menganalisa dan menafsirkan data
tentang hasil kebijakan tergatung pada kapasitas kita dalam membangun ukuran-
ukuran yang reliabel dan valid. Salah satu hal yang sulit dalam analisis kebijakan
publik adalah bahwa kita kadang tidak memiliki definisi yang tepat bagi suatu
variabel. Untuk itulah sebaiknya kita membuat dua jenis definisi tentang suatu
variabel: definisi konsep dan definisi operasional. Definisi konsep memberikan
makna dari kata yang digunakan untuk menjelaskan variabel dengan menggunakan
persamaan katanya. Definisi operasional memberikan makna bagi suatu variabel
dengan merinci suatu operasi (tindakn) apa yang diisyaratkan untuk dilakukan agar
dapat mengalami atau untuk mengukurnya.
Pemantauan itu sangat penting dalam analisis kebijakan. Tapi ada banyak
untuk memantau keluaran dan dampak kebijakan, sehingga kadang-kadang sulit
bagi kita untuk membedakan pemantauan dengan riset sosial pada umumnya.
Untunglah pemantauan dapat dipilah menjadi beberapa beberapa pendekatan:
akutansi sistem sosial, eksperimentasi sosial, auditing sosial dan sintesis riset
praktek. Pendekatan-pendekatan ini dapat lebih mudah dimengerti dalam dua istilah
utama:
1. Jenis-jenis pengendalian. Pendekatan pemantauan dapat berbeda dalam
pengendaliannya (kontrol) atas tindakan kebijakan. Hanya satu pendekatan
(yakni eksperimentasi sosial) yang secara langsung mengontrol masukan dan
proses kebijakan.
2. Jenis-jenis informasi yang dibutuhkan. Pendekatan pemantauan dapat pula
berbeda menurut informasi yang mereka perlukan. Beberapa pendekatan (yakni
eksperimentasi sosial dan auditing sosial) mengharuskan dikumpulkannnya
informasi baru.

Page | 18
Namun demikian tiap-tiap pendekatan tersebut memiliki sifat yang sama.
Pertama semua berusaha memantau hasil kebijakan yang rekevan. Sehingga setiap
pendekatan mencermati variabel-variabel yang relevan bagi pembuat kebijakan
karena variabel-variabel tersebu merupakan indikator dari keluaran dan/atau
dampak kebijakan.
Sifat yang kedua dari setiap pendekatan pemantauan adalah terfokus pada
tujuan. Ini berarti bahwa hasil kebijakan dipantau karena mereka diyakini akan
meningkatkan kepuasan atas beberapa kebutuhan, nilai atau kesempatan.
Sifat yang ketiga adalah bahwa setiap pendekatan pemantauan berorientasi
pada perubahan (change-oriented).
Sifat yang keempat adalah setiap pendekatan pemantauan memungkinkan
klasifikasi silang atas keluaran dan dampak dengan variabel lain, termasuk variabel
yang dipakai untyuk memantau masukan serta proses kebijakan.
MENGEVALUASI KINERJA KEBIJAKAN
Seperti yang kita lihat dalam bab 8, pementauan digunakan untuk
menghasilkan informasi mengenai sebab dan konsekuensi kebijakan dan program.
Karena itu pemantauan terutama menekankan pada pembentukan premis premis
faktual mengenai kebijakan publik. Sebaliknya evaluasi menekankan pada
penciptaan premis premis nilai yang diperlukan untuk menghasilkan informasi
mengenai kinerja kebijakan.
Istilah evaluasi mempunyai aerti yang berhubungan, masing-masing
menunjuk pada aplikasi beberapa skala nilai terhadap hasil kebijakan dan program.
Secara umum istilah evaluasi dapat disamakan dengan penaksiran (appraisal),
pemberian angka (rating), dan penilaian kebijakan dalam arti satuan nilainya.
Gambaran utama evaluasi adalah bahwa evaluasi menghasilkan tuntutan-
tuntutan yang bersifat evaluatif. Disini pertanyaan utamanya bukan mengenai fakta
(Apakah sesuatu ada?) atau aksi (Apakah yang harus dilakukan?) tetapi nilai
(Berapa nilainya?) karena itu evaluasi memiliki beberapa karakteristik yang
membedakannya dari metode-metode analisis kebijakan lainnya:
1. Fokus nilai. Evaluasi berbeda dengan pemantauan, dipusatkan pada penilaian
menyangkut keperluan atau nilai dari sesuatu kebijakan dan program.
2. Interdepensi Fakta Nilai. Tuntutan evaluasi tergantung baik fakta ataupun
nilai. Untuk menyatakan bahwa kebijakan atau program tertentu telah
mencapai tingkat kinerja yang tertinggi atau terendah diperlukan tidak hanya

Page | 19
bahwa hasil-hasil kebijakan berharga bagi individu, kelompok, atau seluruh
masyarakat; untuk menyatakan demikian harus didukung oleh bukti bahwa hasil-
hasil kebijakan secara aktual merupakan konsekuensi dari aksi-aksi yang
dilakukan untuk memecahkan masalah tertentu.
3. Orientasi masa kini dan masa lampau. Tuntutan evaluatif berbeda dengan
tuntutan-tuntutan advokatif, diarahkan pada hasil sekarang dan masa lalu,
ketimbang hasil di masa depan.
4. Dualitas nilai. Nilai-nilai yang mendasari tuntutan evaluasi mempunyai kualitas
ganda, karena mereka dipandang sebagai tujuan dan sekaligus cara. Evaluasi
sama dengan rekomendasi sejauh berkenaan dengan nilai-nilai yang ada dapat
dianggap sebagai interinsik (diperlukan bagi dirinya) ataupun ekstrinsik
(diperlukan karena hal itu mempengaruhi pencapaian tujuan-tujuan lain).
Evaluasi memainkan beberapa fungsi utama dalam analisis kebijakan.
Pertama dan yang paling penting evaluasi memberi informasi yang valid dan dapat
dipercaya mengenai kinerja kebijakan, yaitu, seberapa jauh kebutuhan, nilai dan
kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan publik.
Kedua, evaluasi memberi sumbangan klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai
yang mendasari pemilihan tujuan dan target. Nilai diperjelas dengan mendefinisikan
dan mengoperasikan tujuan dan target. Nilai juga dikritik dengan menanyakan
secara sistematis kepantasan tujuan dan target dalam hubungan dengan masalah
yang dituju.
Ketiga, evaluasi memberi sumbangan pada aplikasi metode-metode analisis
kebijakan lainnya, termasuk perumusan masalah dan rekomendasi. Informasi
tentang tidak memadainya kinerja kebijakan dapat memberi sumbangan pada
perumusan ulang masalah ebijakan.
Evaluasi seperti yang kita lihat diatas mempunyai dua aspek yang saling
berhubungan, mengingat kurang jelasnya arti evaluasi di dalam analisis kebijakan,
menjadi sangat penting untuk membedakan beberapa pendekatan dalam evaluasi
kebijakan; evaluasi semu, evaluasi formal, dan evaluasi teoritis keputusan.
Evaluasi semu (Pseudo Evaluation) adlah pendekatan yang menggunakan
metode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan dapat
dipercaya mengenai hasil kebijakan tanpa berusaha untuk menanyakan tentang
manfaat atau nilai-nilai dari hasil-hasil tersebut terhadap individu, kelompok, atau
masyarakat secara keseluruhan.

Page | 20
Evaluasi Formal (Formal evaluation) merupakan pendekatan yang
menggunakan metode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid
dan cepat dipercaya mengenai hasil-hasil kebijakan tetapi mengevaluasi hasil
tersebut atas dasar tujuan program kebijakan yang telah diumumkan secara formal
oleh pembuat kebijakan atau administrator kebijakan .
Evaluasi keputusan teoritis (Decision-Theoretic Evaluation) adalah
pendekatan yang menggunakan metode-metode deskriptif untuk menghasilkan
informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan valid mengenai hasil-hasil
kebijakan yang secara eksplisit dinilai oleh berbagai macam pelaku kebijakan.
Hampir semua tekhnik untuk mengevaluasi kinerja kebijakan dapat juga
digunakan dalam hubungannya dengan metode-metode analitis kebijakan lainnya,
hal ini menegaskan ketergantungan diantara metode-metode analisis kebijakan
(perumusan masalah, peramalan, rekomendasi, pemantauan, dan evaluasi.
Perbedaan antara aspek-aspek kognitif dan politi dari proses kebijakan
adalah untuk memahami pemanfatan dan kurang atau tidak dimanfaatkannya kinerja
informasi dan pembuat kebijakan.
Pemanfaatan informasi ditentukan oleh faktor-faktor yang bersifat politis
organisational, dan sosial, dan bukan hanya bersifat metodologis atau tekhnis.
Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan ke dalam 5 macam; karakteristik
informasi; perbedaan dalam cara-cara penyelidikan yang digunakan untuk
menghasilkan informasi; struktur masalah kebijakan; struktur birokrasi dan politik;
dan sifat interaksi di antara analisis kebijakan, pembuat kebijakan dan pelaku
kebijakan lainnya.
Penutup

Analisis kebijakan publik adalah suatu disiplin ilmu sosial terapan yang
memanfaatkan berbagai metode dan teknik untuk menghasilkan informasi yang
relevan dngan kebijakan. Analisis seperti ini sangat diperlukan dalam praktik
pengambilan keputusan di sektor publik, dan karenanya dibutuhkan oleh para
politisi,konsultan, dan pengambilan keputusan di pemerintahan.

Seiring dengan bertambahnya kompleksnya masalah yang dihadapi masyarakat,


kebutuhan akan analisis kebijakan dalam proses pembuatan kebijakan publik pun

Page | 21
semakin meningkat. Analisis kebijakan sebagai studi dipelajari di berbagai
pendidikan tinggi,seperti ilmu politik,administrasi publik,manajemen,dan ekonomi.

TUGAS REVIEW

PUBLIC POLICY
PENGANTAR TEORI DAN PRAKTIK ANALISIS KEBIJAKAN
OLEH : WAYNE PARSONS (2005)

Page | 22
DisusunOleh :

KELOMPOK 2

IinIsmayanti
IrnaDjasliana
RadianaIdrus
RahmayaniSyamsuddin
Jamaluddin
Sapta Tri Yuwono
Suhardin
ZulFadli

PROGRAM STUDI S2
MANAJEMEN SUMBER DAYA APARATUR
STIA LAN MAKASSAR
2015

PUBLIC POLICY
Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan
Oleh : Wayne Parsons

Bagian I
META ANALISIS
Menganalisis Analisis

1.1 Pendahuluan
Meta analisis adalah pembahasan metode dan pendekatan yang dipakaidalam studi
kebijakan publik serta diskursusdan bahasa yang dipakainya. Dengan kata lain, meta analisis
adalah analisis terhadap aktivitas analisis. Sebuah metode yang berkaitan dengan upaya
memahami gagasan yang menyatakan bahwa analisis kebijakan publik dilakukan dengan

Page | 23
menggunakan metafora: kita melakukan analisis dengan mendeskripsikan sesuatu dengan
menggunakan istilah lain.

1.2 Publik dan Kebijakan sebagai Konsep


Ide kebijakan publik mengandung anggapan bahwa ada suatu ruang atau dominan
dalam kehidupan yang bukan privat atau murni milik individual, tetapi milik bersama atau
milik umum.Publik itu sendiri berisi aktivitas yang dipandang perlu untuk diatur atau
diinvestasikan oleh pemerintah atau aturan sosial atau setidaknya tindakan bersama.

Ide kebijakan
Makna modern dari gagasan kebijakan dalam bahasa inggris adalah seperangkat
aksi atau rencana yang mengandung tujuan politik yang berbeda dengan makna
administration (Wilson, 1887).

Kebijakan (Policy) sebagai Kecerdikan (Craftiness)


Policy di sini bisa berarti menciptakan atau merekayasa sebuah cerita yang masuk
akal dalam rangka mengamankan tujuan-tujuan si perekayasa, salah satu maknanya adalah
cara bertindak.
Kata Kebijakan (policy) umumnya dipakai untuk menunjukkan pilihan terpenting
yang diambil baik dalam kehidupan organisasi atau privat. Kebijakan bebas dari konotasi
yang dicakupdalam kata politis (political) yang sering kali diyakinimengandung makna
keberpihakan dan korupsi. (Laswell, 1951b: 5)

1.3 Perkembangan Pendekatan Kebijakan


Perkembangan analisis kebijakan harus diletakkan dalam konteks rasionalisasi negara
dan politik sebagai aktivitas pembuatan kebijakan. Ilmu kebijakan segera menggunakan
dua pendekatan utama yang menurut Lasswell dapat didefinisikan dalam term pengetahuan
dalam proses politik dan pengetahuan tentang proses politik (lasswell, 1987):
- Analisis Kebijakan: berkaitan dengan pengetahuan dalam, dan untuk, proses
politik.
- Analisis Proses Kebijakan: berkaitan dengan pengetahuan tentang formasi dan
implementasi kebijakan publik.

Page | 24
1.4 Macam-macam Analis Kebijakan dan Analisis Kebijakan
Analisis kebijakan adalah sub-bidang terapan yang isinya tidak bisa ditentukan
berdasarkan batas-batas disipliner, tetapi berdasarkan hal-hal yang tampaknya sesuai dengan
situasi masa dan sifat persoalan, (Wldavsky, 1979: 15).

Siapa Analis Kebijakan itu dan apa yang mereka lakukan ?


Ada bermacam-macam orang yang terlibat dalam analisis kebijakan, antara lain :
- Mereka yang mengkaji problem dan hubungan antara kebijakan publik dengan
problem tersebut.
- Mereka mengkaji isi dari kebijakan publik.
- Mereka mengkaji apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh pembuat
keputusan dan kebijakan.
- Mereka mengkaji konsekuensi kebijakan dari segi output dan hasilnya.

Konsep Harold Lasswell tentang analis/ilmuwan kebijakan meliputi sejumlah peran


dan tipe. Marelman (1981: 492) mengkarakteristikannya dalam term berikut :
- Dokter bagi personalitas politik (lihat Lasswell, 1948a: Bab 6)
- Insinyur sosial (lihat Lasswell, 1963, 1971)
- Pengumpul intelegensi (lihat Lasswell, 1848a: 134-5)
- Advokad kebijakan (lihat Lasswell, 1948a: 186-7)
- Mahasiswa administrasi publik (lihat Lasswell, 1930a)

Setting Institutionalitas: Di mana Anda bisa menjumpainya ?


- Universitas: para akademi yang tertarik dengan bidang kebijakan dan problem
dalam proses kebijakan.
- Institusi riset independen dan think-tanks: kelompok ini bisa jadi mempunyai
staf yang bekerja penuh melakukan riset khusus.
- Unit dalam lembaga kebijakan: para analis yang bertanggung jawab melakukan
riset dan penelitian di dalam pemerintah, agen pemerintah, dan lembaga politik.
- Kelompok penekan dan lobi: kelompok kepentingan yang berusaha
memengaruhi kebijakan dengan mengadakan monitoring kebijakan dan
mengembangkan ide dan proposal alternative.

Page | 25
- Partai politik: partai-partai mempunyai department/unit atau kelompok yang
melakukan riset kebijakan dan pembangunan untuk mendukung aktivitas dan
kepentingan partai.
- Konsultan lepas: orang-orang yang melakukan riset berdasarkan kontrak dan
imbalan.

1.5 Variasi Kerangka Analisis


Bobrow dan Dryzek (1987) mengemukakan bahwa analisis kebijakan bisa dilihat
sebagai bidang yang terdiri dari 5 (lima) kerangka analisis utama :
- Ekonomi kesejahteraan (welfare economics): salah satu komponen dari analisis
kebijakan terhadap proses kebijakan dan sekaligus merupakan salah satu unsur
dalam proses kebijakan itu sendiri.
- Pilihan publik (publik choice): dapat didefinisikan sebagai ilmu ekonomi yang
membahas pengambilan keputusan nonpasar, atau aplikasi ilmu ekonomi pada
ilmu politik. Pokok persoalannya sama dengan pokok persoalan ilmu politik
seperti teori negara, aturan voting, perilaku pemilih, politik partai, birokrasi, dan
sebagainya, tetapi metodologinya sama dengan metodologi ilmu ekonomi
(Mueller, 1979: 1)
- Struktur sosial (social structure): mencakup analisis kebijakan publik dari sudut
pandang teori sosiologi.
- Pengolahan informasi (information processing): kerangka ini berfokus pada
bagaimana individu atau organisasi agar dapat memberikan penilaian, membuat
pilihan, menangani informasi, dan memecahkan persoalan, yaitu dengan cara
mengolah informasi yang diteliti..
- Filsafat politik: terdiri dari berbagai pendekatan untuk menjelaskan konteks
politik dari pembuatan kebijakan. Berikut 6 (enam) pendekatan utamanya :
a. Stagist approaches: yang memandang proses pembuatan kebijakan sebagai
proses yang terdiri dari serangkaian tahapan atau urut-urutan.
b. Pluralist-elitist: yang berfokus pada kekuasaan dan distribusinya di antara
kelompok dan elite, serta cara mereka membentuk kebijakan.
c. Neo-Marxist approaches: yang mengkaji aplikasi ide-ide Marx dan Marxis
untuk menjelaskan pembuatan kebijakan dalam masyarakat kapiltalis.

Page | 26
d. Sub-system approaches: yang menganalisis pembuatan kebijakan dalam
term metafora baru, seperti network, communities, dam sub-systems.
e. Policy discourse approaches: yang mengkaji proses kebijakan dari sudut
pandang bahasa dan komunikasi.
f. Institutionalism: sebagai pendekatan baru yang penting untuk proses
kebijakan, walaupun kurang berkembang dibanding pendekatan lainnya.

1.6 Kerangka Filsafat


Beberapa filsuf yang turut menyumbangkan pemikirannya terhadap analisis
kebijakan, antara lain :
- Machiavelli dan Bacon: menurut Machiavelli, kebijakan adalah aktivitas untuk
mempertahankan kekuasaan. Sedangkan menurut Bacon, kebijakan adalah
aktivitas untuk menjaga keseimbangan otoritas.
- Bentham dan Mill (Kontribusi Utilitarian): Prinsip utilitas adalah keputusan
yang baik seharusnya menghasilkan konsekuensi yang baik.
- James Dan Dewey (Pragmatisme dan Perkembangan Ilmu Kebijakan:
menyerukan agar dilakukan tindakan sosial dan menganjurkan agar ilmuwan
sosial terlibat dalam perbaikan kondisi masyarakat dan pemerintah.
- Rawls dan Nozick (Dua Teori Keadilan): membahas tentang pandangan
utilitarian mengenai kesejahteraan dan mengajukan sebuah model keadilan yang
mengandung kejujuran.
- Karl Popper dan Model Rekayasa Sedikit Demi Sedikit: berpendapat bahwa
metode ilmiahtidak terdiri dari proses pembuktian logis, berdasakan akumulasi
fakta dan bukti, namun ia lebih berada dalam setting di mana teori dapat
difalsifikasi.
- Hayek (Tentang Pasar dan Pilihan Individual): pengetahuan manusia sangat
terbatas dan terfragmentasi, sehingga pendapat yang percaya bahwa negara,
pemerintah, atau birokrasi dapat menyatukan atau mengkoordinasikan semua
informasi yang tak terbatas dalam rangka mengambil keputusan sosial dan
mencampuri kebebasan pasar dan pilihan individu merupakan pendapat yang
keliru dan berbahaya.
- Etzioni dan Komunitarianisme (Communitarianism): sebuah kerangka
pemikiran untuk pembuatan kebijakan yang telah banyak mempengaruhi
pemikiran di Eropa dan Amerika. Daya tariknya terletak dalam caranya

Page | 27
menunjukkan jalan tengah antara penggunaan regulasi dan kontrol negara di satu
pihak, dengan penggunaan kekuatan pasar murni di pihak lain.
- Habermas dan Rasionalitas Komunikatif: menyarankan perlunya perhatian
yang lebih besar kepada bahasa, diskursus dan argument. Habermas mengajak
untuk mencari metode analisis baru dan proses institusional baru yang dapat
mempromosikan pendekatan interkomunikatif untuk merumuskan dan
menyampaikan kebijakan publik.

1.7 Analisis dan Proses Kebijakan Publik


Analisis kebijakan mencakup :
- Determinasi kebijakan: ini adalah analisis yang berkaitan dengan cara pembuatan
kebijakan, mengapa, kapan, dan untuk siapa kebijakan dibuat.
- Isi kebijakan: analisis ini mencakup deskripsi tentang kebijakan tertentu dan
bagaimana ia berkembang dalam hubungannya dengan kebijakan sebelumnya,
atau analisis ini bisa juga didasari oleh informasi yang disediakan oleh kerangka
nilai/teoritis yang mencoba memberikan kritik terhadap kebijakan.
Analisis untuk kebijakan mencakup :
- Advokasi kebijakan: berupa riset dan argument yang dimaksudkan untuk
mempegaruhi agenda kebijakan di dalam dan atau di luar pemerintahan.
- Informasi untuk kebijakan: sebentuk analisis yang dimaksudkan untuk memberi
informasi bagi aktivitas pembuatan kebijakan. Ini bisa berbentuk anjuran atau riset
eksternal/internal yang terperinci tentang aspek kualitatif dan judgemental dari
suatu kebijakan.

Bagian 2
ANALISIS MESO
Analisis Definisi Problem, Penentuan Agenda, dan Perumusan Kebijakan

2.1 Pendahuluan
Analisis Meso (dari kata Yunani, mesos, yang berarti menengah, atau intermediate)
adalah level analisis menengah atau analisis perantara yang berfokus pada kaitan antara
definisi problem, penentuan agenda, dan proses pengambilan keputusan serta
implementasinya.

Page | 28
Pada dasarnya kebijakan muncul dari isu-isu yang diangkat oleh masyarakatyang
kemudian dianggap menjadi problem atau masalah. Dalam prakteknya proses penentuan
agenda dilakukan di dalam parameter dan paradigma akademik. Dasar utama analisis
pembuatan agenda dan definisi problem adalah kontroversi yang meliputi ide tentang dunia
yang objektif dan dapat diketahui.

2.2 Pendekatan Problem Sosial


- Pendekatan positivis: pada pendekatan ini, para pembaru sosial dan
perkembangan analisis empiris atas problem sosial seperti kemiskinan, tenaga
kerja anak-anak, kesehatan, penjara, dan sebagainya, membentuk landasan
positivis dalam riset kebijakan sosial. Pada pendekatan ini fakta sering kali
mengikuti kebijakan, bukan mendahuluinya.
- Pendekatan fenomenologis: berasal dari aliran interaksionisme simbolik
memandang problem pada dasarnya adalah konstruksi sosial objektif. Di sini
peran ilmu sosial adalah mengklarifikasi definisi dan asumsi, menunjukkan
definisi mana yang berlaku, sudut pandang alternative apa yang ada, dan
mengidentifikasi poin-poin intervensi.
- Media dan konstruksi problem: peran media dalam pembuatan agenda sangat
penting, yang mesti dipertimbangkan dalam konstruksi problem. Dari perspektif
pendekatan konstruktivis, dampak media terhadap problem sosial adalah aspek
kunci dari proses labeling karena media bisa sensitive dan memperkuat
sesuatu yang dilabeli dengan masalah (Walkins, 1964)

2.3 Opini Publik dan Kebijakan Publik


- Opini publik dan agenda kebijakan: opini publik adalah sebuah konsep yang
perkembangannya terkait dengan perkembangan institusi politik dan mode
penyebarannya. Pengenalan teknik-teknik untuk melakukan pengukuran opini
publik secara empiris dan semi ilmiah telah menimbulkan upaya analisis terhadap
dampak opini dalam agenda politik. Teknik ini juga menimbulkan usaha untuk
menganalisis proses pembuatan opini publik baru yang bisa dikatakan
mempresentasikan proses perumusan isu yang membentuk kebijakan publik dan
mempengaruhi perhatian, prioritas dan sikap publik.
- Marketing kebijakan dan pembuatan kebijakan: hubungan antara studi opini
publik dan perdagangan (commerce) selalu sangat dekat. Dunia periklanan

Page | 29
(advertising) dan dunia riset opini publik saling tumpang tindih dalam teori
maupun praktik. Marketing kebijakan bukan hanya menyangkut identifikasi
kebutuhan dan keinginan para pemilih atau isu dan problem saja, tetapi juga
melibatkan pengguna teknik untuk mempengaruhi, menciptakan, dan
menstimulasi opini publik terhadap satu isu atau problem.

2.4 Teori Kontrol Agenda


Kekuatan untuk mempengaruhi pasang surutnya suatu isu atau keluar masuknya isu
pada agenda kebijakan dianggap lebih tersebar ketimbang terkonsentrasi, sehingga
pembuatan kebijakan dianggap sebagai sesuatu yang terbuka bagi kebebasan berbicara publik
dan debat publik.
- Schattsneider (menentukan apa arti politik itu): kebijakan publik pada
esensinya adalah aktivitas di mana isu dimasukkan dan dikeluarkan, serta bisa
dimobilisasi untuk memastikan agar konflik bisa dikelola dan dibatasi.
- Cob dan Elder (perluasan konflik): pembentukan agenda terjadi sebagai akibat
dari perluasan isu dari perhatian kelompok tertentu ke perhatian publik yang lebih
luas, yakni sekelompok publik yang mengetahui dan tertarik pada urusan publik
dan yang punya pemimpin opini, sehingga isu akan mendapat perhatian dari
publik secara umum.

2.5 Tipologi Isu Kebijakan


Sebuah isu akan diletakkan pada konteks setting kebijakan, dan jenis konteks itu
mendefinisikan leta isu tersebut dalam arena konflik politik dan strategi dari pihak-pihak
yang terlibat dalam mengola lingkup konfik.

2.6 Pluralisme, Non-Decision Making, dan Dimensi Ketiga dari Kekuasaan


Kaum pluralis mengasumsikan bahwa kebijakan publik pada dasarnya adalah hasil
dari persaingan bebas antara ide dan kepentingan. Non-Decision Making menunjukkan
bahwa pembuat keputusan memiliki kekuasaan untuk menyingkirkan isu dari agenda yang
mereka kontrol. Menurut Lasswell, studi dimensi psikologis dari politik ini adalah aspek
penting bagi pembuatan kebijakan. Hanya saja perkembangan analisis pembuatan kebijakan
cenderung lebih banyak menitikberatkan pada dimensi pertama dan jarang yang membahas

Page | 30
cara elite berusaha menggunakan symbol untuk manipulasi opini publik dan bawah sadar
manusia atau jarang mempelajari orang, kepribadian, kelompok, dan kultur (Lasswell, 1939).

2.7 Pendekatan Neo-Marxis dan Kritis


- Teori mendalam: membahas dua kelompok teoritis mendalam yang
gagasannya mempunyai arti penting bagi analisis problem dan agenda.
- Mengaitkan level analisis: teori ini berusaha untuk menganalisis proses yang
lebih dalam yang mempengaruhi level permukaan dari kebijakan publik dalam
fase agenda, keputusan, dan penyampaiannya.
- Pendekatan argumentative: fokusnya adalah studi tentang bagaimana bahasa
membentuk cara kita memahami dunia. Dari perspektif ini, analisis kebijakan
publik melibatkan eksplorasi cara diskursus kebijakan menyusun argument
yang membentuk kerangka yang di dalamnya problem dan agenda disusun.
Pendekatan ini membahas artikulatif dari kebijakan publik yang dalam black box
fungsionalis struktural dikarakteristikkan sebagai input, tetapi bukan input
melainkan kerangka tempat di mana politik dan kebijakan berlangsung.

2.8 Pengetahuan dan Agenda Kebijakan


- Pakar, professional, dan proses kebijakan: dalam term kebijakan publik,
kalangan professional jelas memiliki satu peran yang penting dalam menciptakan
dan menyebarkan pengetahuan, dan dalam menginterpretasikan dan
mengimplementasikan kebijakan. Kalangan professional mendapatkan kekuasaan
dan pengaruh sebagai pakar yang secara teknis politis berguna bagi pemerintah.
- Think-Tank (Lembaga Pemikiran): suatu lembaga kecil jika dibandingkan
dengan departemen pemerintah, perusahaan, lembaga professional, partai politik,
dan kelompok kepentingan. Menurut James Cornford, mereka performing fleas
(bekerja seperti kutu) yang terus menerus mencari kesempatan atau peluang untuk
menggigit politik. Think-Tank dalam memainkan perannya ini pada dasarnya
adalah lembaga perantara (intermediary) yang suatu saat hidup di lembaga lain
dan di saat lain bisa meninggalkannya.
- Ide dan proses politik: jaringan kebijakan dan komunitas kebijakan yang
meliputi politisi, pegawai sipil, analis kebijakan, pakar, kelompok kepentingan,
dan sebagainya mendukung ide tertentu dalam area kebijakan tertentu.

Page | 31
2.9 Kebijakan dan Problem sebagai Simbol
Bahasa, kekuasaan, dan kebijakan merupakan studi pembuatan kebijakan, dikaitkan
dengan konstruksi irasionalitas sejauh mana kata, bahasa, symbol, tanda, mitos, citra (image)
dipakai oleh elite.Oleh karenanya, studi kebijakan publik itu adalah dalam rangka
membentuk komposisi dan distribusi nilai dan untuk mengeksploitasi perasaan
ketidaksamaan personal di kalangan produk.Akan tetapi, studi kebijakan dalam sebagian
besar perjalanan sejarahnya telah mengabaikan aspek krusian dan kebijakan publik.

2.10 Jaringan, Streams, Koalisi Advokasi, dan Punctuated Equilibrium


- Jaringan dan komunitas: menitikberatkan pada pola kontak dan hubungan
formal dan informal yang membentuk agenda kebijakan dan pembuatan
keputusan.
- Policy stream: merupakan kerangka yang menarik untuk mengkaji proses
penetapan agenda di mana solusi mencari problem dan hasilnya adalah fungsi
dari campuran problem, partisipan, dan sumber daya. Terdiri dari tiga aliran
(stream) yang terpisah dan berbeda yaitu problem, kebijakan, dan politi.
- Koalisi advokasi: membantu memetakan proses kebijakan dengan cara yang
bisa mengilustrasikan bagaimana berbagai fase siklus kebijakan tersebut harus
dilihat sebagai lebih cair dan interaktif ketimbang yang diasumsikan oleh
pendekatan stragist.
- Punctuated equilibrium: proses kebijakan bisa dikarakteristikkan sebagai proses
dengan stabilitas panjang yang diselingi dengan periode instabilitas. Dari dunia
komputer dan dari teori H. A. Simon menyatakan bahwa manusia terbatas
kemampuannya untuk memproses informasi, dank arena itu isu mesti diproses
secara parallel, ketimbang secara serial (satu isu pada satu waku).

2.11 Menganalisis Batas-batas


- Konteks definisi problem dan penetapan agenda: membahas batas-batas yang
eksis di dalam konteks negara bangsa antara lain faktor ekonomi, sosial, dan
faktor lainnya yang membentuk batas-batas di mana agenda kebijakan ditetapkan
dan keputusan dibuat dan diimplementasikan.
- Parameter ekonomi untuk formulasi kebijakan: para teoritis overload
mengatakan bahwa proses pembuatan kebijakan pemerintah modern yang berada

Page | 32
dalam kondisi pertumbuhan rendah atau negative akan menempatkan demokrasi
dalam bahaya deficit politik karena adanya ekspektasi berlebihan.
- Tren dan agenda kebijakan: dalam hal ini, tren mungkin kurang menentukan
kebijakan publik ketimbang hasil proses politik atau kebijakan.
- Kebijakan sebagai epifenomena: kebijakan sebagaian besar ditentukan oleh
kondisi-kondisi yang mendasarinya ketimbang oleh proses politik.
- Nilai, partai, dan kebijakan: Dunleavy berpendapat ada bukti bahwa partai-
partai politik memang membentuk preferensi pemilih, tetapi kita tidak tahu
banyak tentang hubungan permintaan dan penawaran antara opini publik dan
kebijakan partai.

- Parameter institusional:
a. Ekonomi: terdiri dari teori-teori yang berasal dari teori biaya-transaksi dan
principal-agent.
b. Sosiolog: berkembang dari bidang sosiologis organisasi
c. Politik: berisi kontribusi-kontribusi yang memfokuskan pada otonomi
negara dalam pembuatan kebijakan dan relasi negara dengan masyarakat.

2.12 Globalisasi dan Pembuatan Kebijakan: Parameter Internasional


Isu pada agenda global :
- Lingkungan
- Aids
- Industri dan ekonomi
- Obat-obatan (drugs)
- Globalisasi dan Uniformitas: gaya hidup global dan nasionalisme kultural
- Batasan sistem perekonomian dunia
- Privatisasi
- Negara bangsa dan perubahan global

Bagian 3
ANALISIS KEPUTUSAN
Analisis Proses Pembuatan Keputusan dan Analisis Kebijakan untuk Pembuatan
Keputusan

Page | 33
3.1 Pendahuluan
Pembuatan keputusan (decision-making) berada di antara perumusan keijakan dan
implementasi kebijakan, akan tetapi kedua hal tersebut berkaitan satu sama lain. Keputusan
mempengaruhi implementasi dan implementasi tahap awal akan mempengaruhi tahap
pembuatan keputusan selanjutnya yang pada gilirannya akan mempengaruhi implementasi
berikutnya.
3.2 Pembuatan Keputusan: Kerangka dan Konteks Disipliner
Analisis keputusan menggunakan berbagai macam disiplin akademik dan kerangka
permikiran yaitu ilmu politik, sosiologi, teori organisasi, ilmu ekonomi, psikologi, dan
manajemen.

3.3 Pendekatan Kekuasaan untuk Pembuatan Keputusan


Enam pendekatan dan variannya :
- Elitisme: berfokus pada cara kekuasaan dikonsentrasikan;
- Pluralism: berfokus pada cara kekuasaan didistribusikan;
- Marxisme: berfokus pada konflik kelas dan kekuasaan ekonomi;
- Korporatisme: berfokus pada kekuasaan kepentingan yang terorganisir;
- Profesionalisme: berfokus pada kekuasaan kalangan professional;
- Teknokrasi: berfokus pada kekuasaan pakar teknis.
-

3.4 Rasionalitas dan Pembuatan Keputusan


Pendekatan rasionalitas untuk pembuatan keputusan punya dua konteks atau sumber :
- Ide rasionalitas ekonomi: seperti yang dikembangkan dalam teori ekonomi.
- Ide rasionalitas birokratis: seperti yang dirumuskan oleh teori sosiologis
tentang organisasi dan masyarakat industri.

3.5 Pendekatan Pilihan Publik untuk Pembuatan Keputusan


Pendekatan pilihan publik secara khusus cacat dalam konsepnya tentang pembuatan
keputusan manusia sebagai kegiatan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri.Dengan
adanya dampak dari ide-ide manajerialis terhadap analisis dan reformasi sektor publik (Van
Strien, 1982: 24), maka kita perlu lagi mengingat perdebatan dalam teori (dan praktik)
manajemen tentang motivasi manusia. Sebagaimana aliran pilihan publik, teori manajemen

Page | 34
klasik dan ilmiah diawali dengan postulat yang sama tentang perilaku manusia: individu
sebagai pemaksimal kepentingan diri.

3.6 Pendekatan Institusional


Pendekatan institusional dapat dispesifikasikan menjadi tiga kerangka analisis, antara
lain :
- Institusionalisme sosiologis: kerangka ini orientasinya empiris dan penyampaian
gagasannya melalui studi kasus, bukan dengan model teoretis seperti yang biasa
dipakai dalam teori ekonomi. Kerangka ini lebih memilih pendekatan historis
untuk studi kasus.
- Institusionalisme ekonomi: berkembang dari teori-teori perusahaan dan aplikasi
utamanya adalah dalam analisis ekonomi.
- Institusionalisme politik: agar memahami bagaimana institusi membatasi
pembuatan keputusan di pemerintahan di luar anransemen konstitusional formal
yang juga membentuk dan sering kali menentukan keputusan yang dibuat.

3.7 Personalitas, Kognisi, dan Pengolahan Informasi dalam Pembuatan


Keputusan
Lasswell mengatakan bahwa ada beberapa tipe manusia politik, yaitu :
- Agitator: meletakkan respon publik pada nilai tinggi;
- Administrator: meletakkan koordinasi dari efek dalam aktivitas yang terus
berkesinambungan pada nilai yang tinggi;
- Teoretisi: meltakkan abstraksi pada nilai yang tinggi.

Sebagai sebuah kerangka untuk menganalisis proses keputusan, Caroll dan Johnson
(1990: 21-4) menyarankan agar menggunakan kerangka kognitif untuk menganalisa apa yang
terjadi di tahap-tahap yang berbeda :
- Pengenalan: Siapa yang mengetahui problem ? Kapan problem itu dikenali ? Apa
yang harus dilakukan agar problem itu bisa dianggap sebagai problem
keputusan ?
- Formulasi: Siapa yang mendefinisikan problem ? Bagaimana problem bisa
dipisahkan atau dikombinasikan dengan problem lain ? Apakah orang yang
berbeda akan mendefinisikannya dengan cara yang berbeda pula ? Apa tujuan
yang muncul dari sini dan tujuan siapa ?

Page | 35
- Pembuatan alternative: Dari mana alternative berasal ? Bagaimana dan
mengapa diputuskan untuk menghentikan pembuatan alternative ?
- Pencarian informasi: Berapa banyak dan jenis informasi apa yang mesti
dikumpulkan ? Bagaimana cara menentukan pencarian informasi ?
- Penilaian dan pemilihan: Siapa yang membuat penilaian dan pemilihan ? Apa
basis informasional dari pilihan yang dibuat itu ? Asumsi apa yang dipakai ?
- Aksi: Bagaimana keputusan dilaksanakan ? Apa yang terjadi ?
- Umpan balik: Bagaimana informasi tentang efek keputusan dikomunikasikan
kepada para pembuat keputusan ?

3.8 Analisis Kebijakan dan Keputusan Publik


Asal mula analisis kebijakan bisa dikatakan sama tuanya dengan keberadaan negara.
Pada satu level analisis ini melibatkan peninjauan atas opsi-opsi yang tersedia dan strategi,
cara dan tujuan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Ketika raja duduk bersama para
penasihat untuk mendiskusikan kebijakan, mereka sesungguhnya sedang melakukan
semacam analisis yang pada intinya tidak terlalu jauh berbeda dengan analisis pembuatan
keputusan di masa modern.
Pembuatan keputusan dalam pemerintahan modern dapat dibedakan dari periode
sejarah lain dalam kaitannya dengan satu hal penting: perkembangan model dan teknik
analisis yang dimaksudkan untuk memberikan basis yang lebih rasional untuk keputusan.
Strategi yang mendasari analisis kebijakan rasional biasanya diekspresikan dalam
term lingkaran lima tahap. Quade mendefinisikan tahap-tahap ini sebagai berikut :
- Formulasi: pengklarifikasi dan pembatasan problem dan menentukan tujuan.
- Pencarian: pengidentifikasian, pendesainan, dan penyaringan alternatf-alternatif.
- Peramalan: memprediksi lingkungan masa depan atau konteks operasional di
masa mendatang.
- Modeling: menyusun dan menggunakan model untuk menentukan dampak.
- Evaluasi: membandingkan dan memperingkat alternative.

3.9 Pembuatan Keputusan Rasional dan Pencarian Tata Pemerintahan yang


Berpengetahuan Luas (Knowledgeable Governance)
Daya tarik komputer sebagai alat bantu untuk pembuatan keputusan masih sangat kuat
di mata pada analis berlatar belakang OR entah itu dari sudut pandang aliran klasik atau

Page | 36
alternative. Teknologi Informasi (TI) banyak dipakai dalam manajemen publik dan
perencanaan publik di bidang populasi, lapangan kerja, penggunaan lahan, dan transportasi.
Menurut Harold L. Wilensky, kegagalan inteligensi berakar pada :
- Atribut struktural yang memaksimalkan distorsi dan hambatan (blockage):
terlalu banyak hierarki, terlalu banyak spesialisasi dan terlalu banyak unit yang
terlibat; over-sentralisasi inteligensi.
- Doktrin yang memaksimalkan distorsi dan hambatan: fakta untuk mengisi
kesenjangan versus fakta yang dievaluasi atau diintepretasikan; konflik antara
pengumpulan intelegensi (riset) dan aktivitas gerakan klandestine; keyakinan
bahwa inteligensi rahasia adalah lebih unggul; perkiraan atau estimasi versus
analisis dan orientasi.

3.10 Kritik Terhadap Analisis Kebijakan


Tahap pembuatan meta-kebijakan :
- Pengolahan nilai
- Pengolahan realitas
- Pengolahan problem
- Survey, pemrosesan, dan pengembangan sumber daya
- Desain, evaluasi, dan redesain sistem pembuatan kebijakan
- Menentukan problem, nilai, dan sumber daya
- Menentukan strategi pembuatan kebijakan

Tahap pembuatan kebijakan :


- Sub-alokasi sumber daya
- Menentukan sasaran operasional, dengan urutan prioritas
- Menentukan seperangkat nilai signifikan, dengan urutan prioritas
- Menyiapkan alternative kebijakan utama, termasuk alternative yang bagus
- Menyiapkan prediksi yang andal terhadap manfaat dan biaya signifikan dari
berbagai alternative tersebut
- Membandingkan prediksi biaya dan manfaat dari berbagai alternative tersebut
dan mengidentifikasikan yang terbaik
- Mengevaluasi manfaat dan biaya dari alternative terbaik dan menentukan
apakah alternative itu baik atau tidak

Page | 37
Tahap pembuatan kebijakan :
- Memotivasi pelaksana kebijakan
- Melaksanakan kebijakan
- Mengevaluasi kebijakan setelah pelaksanaan kebijakan
- Komunikasi dan saluran umpan balik akan menghubungkan semua tahapan
tersebut.

Bagian 4
ANALISIS DELIVERY
Analisis Implmentasi, Evaluasi, Perubahan, dan Dampak

4.1 Pendahuluan
Fokus pada problem dalam pendekatan kebijakan berarti bahwa. Sampai era 1970-
an, analisis kebijakan terutama membahas ujung depan (front-end) dari proses kebijakan.
Yakni, analisis proses kebijakan cenderung disibukkan dengan isu seperti seberapa rasional,
terbuka, atau adilkah sebuah pembuatan keputusan; dan, dari sudut pandang analisis dalam
dan untuk proses kebijakan, bagaimana pengetahuan dapat memperbaiki pembuatan
keputusan (Van Meter dan Van Horn, 1975: 450-1).

4.2 Implementasi
Dalam buku Limits to Administration (1976) Christoper Hood mengemukakan lima
kondisi atau syarat untuk implementasi yang sempurna :
- Bahwa implementasi indeal itu adalah produk dari organisasi yang padu seperti
militer, dengan garis otoritas yang tegas.
- Bahwa norma-norma akan ditegakkan dan tujuan ditentukan.
- Bahwa orang akan melaksanakan apa yang diminta dan diperintahkan.
- Bahwa harus ada komunikasi yang sempurna di dalam dan di antara organisasi.
- Bahwa tidak ada tekanan waktu.

4.3 Delivery System


Mode penyampaian/pelaksanaan (delivery) atau sistem penyampaian kebijakan
telah menjadi perhatian utama dari analisis tentang dan analisis dalam sektor publik.Setelah
diabaikan pada 1970-an dan awal 1980-an (lihat Hogwood dan Peters, 1983: 165), studi

Page | 38
teknologi penyampaian (delivery) mulai menduduki tempat utama dalam literature
manajemen sektor publik. Ini terutama terjadi dalam konteks kondisi kompleks yang dihadapi
oleh pemerintahan modern (Kooiman (ed.), 1993) dan perubahan arsitektur negara di
masyarakat modern (Dunleavy, 1989).

4.4 Evaluasi
Evaluasi mengandung dua aspek yang saling terkait :
a. Evaluasi kebijakan & kandungan programnya
b. Evaluasi terhadap orang-orang yang bekerja di dalam organisasi yang
bertanggung jawab untuk mengimplementasikan kebijakan dan program.

Evaluasi Kebijakan adalah pemeriksaan yang objektif, sistematis, dan empiris


terhadap efek dari kebijakan dan program publik terhadap targetnya dari segi tujuan yang
ingin dicapai.Thomas Dye menawarkan definisi luas dari Evaluasi Kebijakan yaitu
pembelajaran tentang konsekuensi dari kebijakan publik, (Dye, 1987: 351).

Menurut Carol Weiss (1976: 6), mengatakan bahwa evaluasi dapat dibedakan dari
bentuk-bentuk analisis lainnya berdasarkan enam hal :
a. Evaluasi dimaksudkan untuk pembuatan keputusan, dan untuk menganalisis
problem seperti yang didefinisikan oleh pembuat keputusan, bukan oleh periset.
b. Evaluasi adalah penilaian karakter. Riset bertujuan untuk mengevaluasi tujuan
program.
c. Evaluasi adalah riset yang dilakukan dalam setting kebijakan, bukan dalam
setting akademik.
d. Evaluasi sering kali melibatkan konflik antara periset dan praktisi.
e. Evaluasi biayanya tidak dipublikasikan.
f. Evaluasi mungkin melibatkan periset dalam persoalan kesetiaan kepada agen
pemberi dana dan peningkatan perubahan sosial.

4.5 Perubahan dan Kontinuitas dalam Pembuatan Kebijakan


Difokuskan pada dua aspek perubahan analisis:
a. Perubahan dalam ruang kebijakan (policy space): bagaimana terjadinya
perubahan dalam tujuan, nilai, keyakinan, arah, dan prioritas kebijakan ?

Page | 39
b. Perubahan dalam ruang organisasional (organizational space): apa
hubungan antara perubahan nilai, keyakinan, tujuan dan sebagainya, dengan
konteks institusional atau organisasional dari kebijakan dan dapat diterima (vice
versa) ?
Brian Hogwood dan Guy Peter (1983) mengatakan bahwa kita dapat memahami
variasi perubahan dalam term tipe perubahan berikut ini:
a. Inovasi kebijakan: ketika pemerintah menjadi terlibat dalam problem atau area
yang baru. Dengan adanya fakta bahwa ruang kebijakan modern itu sangat
padat (crowded), kebijakan baru kemungkinan akan diletakkan dalam kerangka
yang ada di dalam konteks kebijakan terkait yang sudah ada.
b. Suksesi kebijakan: penggantian kebijakan yang sudah ada dengan kebijakan
lain. Perubahan ini tidak menimbulkan perubahan fundamental dalam
pendekatannya, tetapi melanjutkan kebijakan yang sudah ada.
c. Pemeliharaan kebijakan: adalah adaptasi kebijakan-kebijakan, atau penyesuaian
untuk menjaga agar kebijakan tetap berada dalam jalurnya.
d. Terminasi kebijakan: merupakan sisi lain dari inovasi. Dalam terminasi, sebuah
kebijakan atau program akan dihentikan, dikurangi, dan pengeluaran publik
pada kebijakan itu akan dipotong. Ini adalah (dengan permintaan maaf kepada
Monty Python) kebijakan mati (dead policy), sebuah kebijakan yang berhenti
mengada: sebuah bekas kebijakan.

4.6 Janji dan Kinerja: Mengevaluasi Dampak dan Hasil


Rossi dan Freeman (1993: 215) mendefinisikan: Penilaian atas dampak adalah untuk
memperkirakan apakah intervensi menghasilkan efek yang diharapkan atau tidak. Perkiraan
seperti ini tidak menghasilkan jawaban yang pasti tapi hanya beberapa jawaban yang
mungkin masuk akal. Metodenya antara lain:
a. Membandingkan problem/situasi/kondisi/ dengan apa yang terjadi sebelum
intervensi.
b. Melakukan eksperimen untuk menguji dampak suatu program terhadap suatu area
atau kelompok dengan membandingkan dengan apa yang terjadi di area atau
kelompok lain yang belum menjadi sasaran intervensi.
c. Membandingkan biaya dan manfaat yang dicapai sebagai hasil dari intervensi.

Page | 40
d. Menggunakan model untuk memahamidan menjelaskan apa yang terjadi sebagai
akibat dari kebijakan masa lalu.
e. Pendekatan kualitatif dan judgemental untuk mengevaluasi
keberhasilan/kegagalan kebijakan dan program.
f. Membandingkan apa yang sudah terjadi dengan tujuan atau sasaran tertentu dari
sebuah program atau kebijakan
g. Menggunakan pengukuran kinerja untuk menilai apakah tujuan atau targetnya
sudah terpenuhi.

4.8 Kesimpulan: Melampaui Delivery dan Menuju Demokratisasi

- Kebijakan bukan sekedar menghasilkan efek perubahan dalam kondisi


masyarakat, tetapi juga menyatukan orang dan mempertahankan ketertiban
negara. Misalnya, sebuah kebijakan pemerintah untuk memerangi kemiskinan
mungkin tidak akan berdampak signifikan bagi si miskin, tetapi ini membuat
orang bermoral, orang kaya, dan orang miskin berpandangan bahwa pemerintah
memerhatikan orang miskin (Dye, 1987: 355)
- Ilmu sosial dan bidang penelitian berorientasi kebijakan lainnya harus
membangun hubungan baru dengan masyarakat dan pemerintah agar kebijakan
publik tidak lagi dilihat dari segi output dan hasil tetapi sebagai partisipasi
dan komunikasi, dan warga negara tidak lagi dilihat sebagai konsumen, tetapi
sebagai pembentuk nilai dan institusi, warga dilihat sebagai produsen bersama
dan bukan hanya penerima dalam proses penyampaian kebijakan.
- Pemerintah adalah institusi masyarakat dengan satu kewajiban, yaitu
memfasilitasi pembuatan pilihan dan tindakan masyarakat. Kemampuannya untuk
membuat keputusan dan bertindak adalah dimensi dominan yang dengannya
kinerja pemerintah akan dinilai.
- Tujuan kebijakan publik yang lebih luas adalah pencerahan dan pengembangan
individu dalam masyarakat. Mengembangkan kesepakatan, consensus, kesadaran
sosial, dan legitimasi, bukan memberika layanan barang dan jasa.
- Kebijakan publik berhubungan dengan peningkatan kapasitas demokratis atau
politik dari warga, dan bukan hanya efisiensi dan efektivitas penyampaian
pelayanan publik.

Page | 41
- Tujuan analisis kebijakan haruslah memfasilitasi suatu proses pembuatan
kebijakan yang didasari oleh pengetahuan dan emansipasi dan yang dapat
menjaga pluralism otoritas dan kontrol yang mencegah absolutisasi kekuasaan
politik (Lasswell, 1980: 533).
- Lasswell mengatakan pada akhir 1940-an: Hari ini umat manusia punya tugas
bersama, meski masih samar, yakni menemukan cara dan sarana untuk
merealisasikan martabat manusia. Ada komunitas dunia yang maju yang
membahayakan dirinya sendiri tapi tidak cukup memadai untuk berbagai dan
menghasilkan pembentukan nilai dan potensi kemakmuran demokrasi. Dalam
klarifikasi ini, inti dan tugas vital dari teori dan praktik kebijakan publik adalah
membentuk dan menyebarkan nilai-nilai seta memperluas dan memperkaya
demokratisasi.

PUBLIC POLICY
Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan
Oleh : Wayne Parsons

Bagian I
META ANALISIS
Menganalisis Analisis

1.1 Pendahuluan

Page | 42
Meta analisis adalah pembahasan metode dan pendekatan yang dipakaidalam studi
kebijakan publik serta diskursusdan bahasa yang dipakainya. Dengan kata lain, meta analisis
adalah analisis terhadap aktivitas analisis. Sebuah metode yang berkaitan dengan upaya
memahami gagasan yang menyatakan bahwa analisis kebijakan publik dilakukan dengan
menggunakan metafora: kita melakukan analisis dengan mendeskripsikan sesuatu dengan
menggunakan istilah lain.

1.2 Publik dan Kebijakan sebagai Konsep


Ide kebijakan publik mengandung anggapan bahwa ada suatu ruang atau dominan
dalam kehidupan yang bukan privat atau murni milik individual, tetapi milik bersama atau
milik umum.Publik itu sendiri berisi aktivitas yang dipandang perlu untuk diatur atau
diinvestasikan oleh pemerintah atau aturan sosial atau setidaknya tindakan bersama.

Ide kebijakan
Makna modern dari gagasan kebijakan dalam bahasa inggris adalah seperangkat
aksi atau rencana yang mengandung tujuan politik yang berbeda dengan makna
administration (Wilson, 1887).

Kebijakan (Policy) sebagai Kecerdikan (Craftiness)


Policy di sini bisa berarti menciptakan atau merekayasa sebuah cerita yang masuk
akal dalam rangka mengamankan tujuan-tujuan si perekayasa, salah satu maknanya adalah
cara bertindak.
Kata Kebijakan (policy) umumnya dipakai untuk menunjukkan pilihan terpenting
yang diambil baik dalam kehidupan organisasi atau privat. Kebijakan bebas dari konotasi
yang dicakupdalam kata politis (political) yang sering kali diyakinimengandung makna
keberpihakan dan korupsi. (Laswell, 1951b: 5)

1.3 Perkembangan Pendekatan Kebijakan


Perkembangan analisis kebijakan harus diletakkan dalam konteks rasionalisasi negara
dan politik sebagai aktivitas pembuatan kebijakan. Ilmu kebijakan segera menggunakan
dua pendekatan utama yang menurut Lasswell dapat didefinisikan dalam term pengetahuan
dalam proses politik dan pengetahuan tentang proses politik (lasswell, 1987):

Page | 43
- Analisis Kebijakan: berkaitan dengan pengetahuan dalam, dan untuk, proses
politik.
- Analisis Proses Kebijakan: berkaitan dengan pengetahuan tentang formasi dan
implementasi kebijakan publik.

1.4 Macam-macam Analis Kebijakan dan Analisis Kebijakan


Analisis kebijakan adalah sub-bidang terapan yang isinya tidak bisa ditentukan
berdasarkan batas-batas disipliner, tetapi berdasarkan hal-hal yang tampaknya sesuai dengan
situasi masa dan sifat persoalan, (Wldavsky, 1979: 15).

Siapa Analis Kebijakan itu dan apa yang mereka lakukan ?


Ada bermacam-macam orang yang terlibat dalam analisis kebijakan, antara lain :
- Mereka yang mengkaji problem dan hubungan antara kebijakan publik dengan
problem tersebut.
- Mereka mengkaji isi dari kebijakan publik.
- Mereka mengkaji apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh pembuat
keputusan dan kebijakan.
- Mereka mengkaji konsekuensi kebijakan dari segi output dan hasilnya.

Konsep Harold Lasswell tentang analis/ilmuwan kebijakan meliputi sejumlah peran


dan tipe. Marelman (1981: 492) mengkarakteristikannya dalam term berikut :
- Dokter bagi personalitas politik (lihat Lasswell, 1948a: Bab 6)
- Insinyur sosial (lihat Lasswell, 1963, 1971)
- Pengumpul intelegensi (lihat Lasswell, 1848a: 134-5)
- Advokad kebijakan (lihat Lasswell, 1948a: 186-7)
- Mahasiswa administrasi publik (lihat Lasswell, 1930a)

Setting Institutionalitas: Di mana Anda bisa menjumpainya ?


- Universitas: para akademi yang tertarik dengan bidang kebijakan dan problem
dalam proses kebijakan.
- Institusi riset independen dan think-tanks: kelompok ini bisa jadi mempunyai
staf yang bekerja penuh melakukan riset khusus.
- Unit dalam lembaga kebijakan: para analis yang bertanggung jawab melakukan
riset dan penelitian di dalam pemerintah, agen pemerintah, dan lembaga politik.

Page | 44
- Kelompok penekan dan lobi: kelompok kepentingan yang berusaha
memengaruhi kebijakan dengan mengadakan monitoring kebijakan dan
mengembangkan ide dan proposal alternative.
- Partai politik: partai-partai mempunyai department/unit atau kelompok yang
melakukan riset kebijakan dan pembangunan untuk mendukung aktivitas dan
kepentingan partai.
- Konsultan lepas: orang-orang yang melakukan riset berdasarkan kontrak dan
imbalan.

1.5 Variasi Kerangka Analisis


Bobrow dan Dryzek (1987) mengemukakan bahwa analisis kebijakan bisa dilihat
sebagai bidang yang terdiri dari 5 (lima) kerangka analisis utama :
- Ekonomi kesejahteraan (welfare economics): salah satu komponen dari analisis
kebijakan terhadap proses kebijakan dan sekaligus merupakan salah satu unsur
dalam proses kebijakan itu sendiri.
- Pilihan publik (publik choice): dapat didefinisikan sebagai ilmu ekonomi yang
membahas pengambilan keputusan nonpasar, atau aplikasi ilmu ekonomi pada
ilmu politik. Pokok persoalannya sama dengan pokok persoalan ilmu politik
seperti teori negara, aturan voting, perilaku pemilih, politik partai, birokrasi, dan
sebagainya, tetapi metodologinya sama dengan metodologi ilmu ekonomi
(Mueller, 1979: 1)
- Struktur sosial (social structure): mencakup analisis kebijakan publik dari sudut
pandang teori sosiologi.
- Pengolahan informasi (information processing): kerangka ini berfokus pada
bagaimana individu atau organisasi agar dapat memberikan penilaian, membuat
pilihan, menangani informasi, dan memecahkan persoalan, yaitu dengan cara
mengolah informasi yang diteliti..
- Filsafat politik: terdiri dari berbagai pendekatan untuk menjelaskan konteks
politik dari pembuatan kebijakan. Berikut 6 (enam) pendekatan utamanya :
g. Stagist approaches: yang memandang proses pembuatan kebijakan sebagai
proses yang terdiri dari serangkaian tahapan atau urut-urutan.
h. Pluralist-elitist: yang berfokus pada kekuasaan dan distribusinya di antara
kelompok dan elite, serta cara mereka membentuk kebijakan.

Page | 45
i. Neo-Marxist approaches: yang mengkaji aplikasi ide-ide Marx dan Marxis
untuk menjelaskan pembuatan kebijakan dalam masyarakat kapiltalis.
j. Sub-system approaches: yang menganalisis pembuatan kebijakan dalam
term metafora baru, seperti network, communities, dam sub-systems.
k. Policy discourse approaches: yang mengkaji proses kebijakan dari sudut
pandang bahasa dan komunikasi.
l. Institutionalism: sebagai pendekatan baru yang penting untuk proses
kebijakan, walaupun kurang berkembang dibanding pendekatan lainnya.

1.6 Kerangka Filsafat


Beberapa filsuf yang turut menyumbangkan pemikirannya terhadap analisis
kebijakan, antara lain :
- Machiavelli dan Bacon: menurut Machiavelli, kebijakan adalah aktivitas untuk
mempertahankan kekuasaan. Sedangkan menurut Bacon, kebijakan adalah
aktivitas untuk menjaga keseimbangan otoritas.
- Bentham dan Mill (Kontribusi Utilitarian): Prinsip utilitas adalah keputusan
yang baik seharusnya menghasilkan konsekuensi yang baik.
- James Dan Dewey (Pragmatisme dan Perkembangan Ilmu Kebijakan:
menyerukan agar dilakukan tindakan sosial dan menganjurkan agar ilmuwan
sosial terlibat dalam perbaikan kondisi masyarakat dan pemerintah.
- Rawls dan Nozick (Dua Teori Keadilan): membahas tentang pandangan
utilitarian mengenai kesejahteraan dan mengajukan sebuah model keadilan yang
mengandung kejujuran.
- Karl Popper dan Model Rekayasa Sedikit Demi Sedikit: berpendapat bahwa
metode ilmiahtidak terdiri dari proses pembuktian logis, berdasakan akumulasi
fakta dan bukti, namun ia lebih berada dalam setting di mana teori dapat
difalsifikasi.
- Hayek (Tentang Pasar dan Pilihan Individual): pengetahuan manusia sangat
terbatas dan terfragmentasi, sehingga pendapat yang percaya bahwa negara,
pemerintah, atau birokrasi dapat menyatukan atau mengkoordinasikan semua
informasi yang tak terbatas dalam rangka mengambil keputusan sosial dan
mencampuri kebebasan pasar dan pilihan individu merupakan pendapat yang
keliru dan berbahaya.

Page | 46
- Etzioni dan Komunitarianisme (Communitarianism): sebuah kerangka
pemikiran untuk pembuatan kebijakan yang telah banyak mempengaruhi
pemikiran di Eropa dan Amerika. Daya tariknya terletak dalam caranya
menunjukkan jalan tengah antara penggunaan regulasi dan kontrol negara di satu
pihak, dengan penggunaan kekuatan pasar murni di pihak lain.
- Habermas dan Rasionalitas Komunikatif: menyarankan perlunya perhatian
yang lebih besar kepada bahasa, diskursus dan argument. Habermas mengajak
untuk mencari metode analisis baru dan proses institusional baru yang dapat
mempromosikan pendekatan interkomunikatif untuk merumuskan dan
menyampaikan kebijakan publik.

1.7 Analisis dan Proses Kebijakan Publik


Analisis kebijakan mencakup :
- Determinasi kebijakan: ini adalah analisis yang berkaitan dengan cara pembuatan
kebijakan, mengapa, kapan, dan untuk siapa kebijakan dibuat.
- Isi kebijakan: analisis ini mencakup deskripsi tentang kebijakan tertentu dan
bagaimana ia berkembang dalam hubungannya dengan kebijakan sebelumnya,
atau analisis ini bisa juga didasari oleh informasi yang disediakan oleh kerangka
nilai/teoritis yang mencoba memberikan kritik terhadap kebijakan.
Analisis untuk kebijakan mencakup :
- Advokasi kebijakan: berupa riset dan argument yang dimaksudkan untuk
mempegaruhi agenda kebijakan di dalam dan atau di luar pemerintahan.
- Informasi untuk kebijakan: sebentuk analisis yang dimaksudkan untuk memberi
informasi bagi aktivitas pembuatan kebijakan. Ini bisa berbentuk anjuran atau riset
eksternal/internal yang terperinci tentang aspek kualitatif dan judgemental dari
suatu kebijakan.

Bagian 2
ANALISIS MESO
Analisis Definisi Problem, Penentuan Agenda, dan Perumusan Kebijakan

2.1 Pendahuluan
Analisis Meso (dari kata Yunani, mesos, yang berarti menengah, atau intermediate)
adalah level analisis menengah atau analisis perantara yang berfokus pada kaitan antara

Page | 47
definisi problem, penentuan agenda, dan proses pengambilan keputusan serta
implementasinya.
Pada dasarnya kebijakan muncul dari isu-isu yang diangkat oleh masyarakatyang
kemudian dianggap menjadi problem atau masalah. Dalam prakteknya proses penentuan
agenda dilakukan di dalam parameter dan paradigma akademik. Dasar utama analisis
pembuatan agenda dan definisi problem adalah kontroversi yang meliputi ide tentang dunia
yang objektif dan dapat diketahui.

2.2 Pendekatan Problem Sosial


- Pendekatan positivis: pada pendekatan ini, para pembaru sosial dan
perkembangan analisis empiris atas problem sosial seperti kemiskinan, tenaga
kerja anak-anak, kesehatan, penjara, dan sebagainya, membentuk landasan
positivis dalam riset kebijakan sosial. Pada pendekatan ini fakta sering kali
mengikuti kebijakan, bukan mendahuluinya.
- Pendekatan fenomenologis: berasal dari aliran interaksionisme simbolik
memandang problem pada dasarnya adalah konstruksi sosial objektif. Di sini
peran ilmu sosial adalah mengklarifikasi definisi dan asumsi, menunjukkan
definisi mana yang berlaku, sudut pandang alternative apa yang ada, dan
mengidentifikasi poin-poin intervensi.
- Media dan konstruksi problem: peran media dalam pembuatan agenda sangat
penting, yang mesti dipertimbangkan dalam konstruksi problem. Dari perspektif
pendekatan konstruktivis, dampak media terhadap problem sosial adalah aspek
kunci dari proses labeling karena media bisa sensitive dan memperkuat
sesuatu yang dilabeli dengan masalah (Walkins, 1964)

2.3 Opini Publik dan Kebijakan Publik


- Opini publik dan agenda kebijakan: opini publik adalah sebuah konsep yang
perkembangannya terkait dengan perkembangan institusi politik dan mode
penyebarannya. Pengenalan teknik-teknik untuk melakukan pengukuran opini
publik secara empiris dan semi ilmiah telah menimbulkan upaya analisis terhadap
dampak opini dalam agenda politik. Teknik ini juga menimbulkan usaha untuk
menganalisis proses pembuatan opini publik baru yang bisa dikatakan
mempresentasikan proses perumusan isu yang membentuk kebijakan publik dan
mempengaruhi perhatian, prioritas dan sikap publik.

Page | 48
- Marketing kebijakan dan pembuatan kebijakan: hubungan antara studi opini
publik dan perdagangan (commerce) selalu sangat dekat. Dunia periklanan
(advertising) dan dunia riset opini publik saling tumpang tindih dalam teori
maupun praktik. Marketing kebijakan bukan hanya menyangkut identifikasi
kebutuhan dan keinginan para pemilih atau isu dan problem saja, tetapi juga
melibatkan pengguna teknik untuk mempengaruhi, menciptakan, dan
menstimulasi opini publik terhadap satu isu atau problem.

2.4 Teori Kontrol Agenda


Kekuatan untuk mempengaruhi pasang surutnya suatu isu atau keluar masuknya isu
pada agenda kebijakan dianggap lebih tersebar ketimbang terkonsentrasi, sehingga
pembuatan kebijakan dianggap sebagai sesuatu yang terbuka bagi kebebasan berbicara publik
dan debat publik.
- Schattsneider (menentukan apa arti politik itu): kebijakan publik pada
esensinya adalah aktivitas di mana isu dimasukkan dan dikeluarkan, serta bisa
dimobilisasi untuk memastikan agar konflik bisa dikelola dan dibatasi.
- Cob dan Elder (perluasan konflik): pembentukan agenda terjadi sebagai akibat
dari perluasan isu dari perhatian kelompok tertentu ke perhatian publik yang lebih
luas, yakni sekelompok publik yang mengetahui dan tertarik pada urusan publik
dan yang punya pemimpin opini, sehingga isu akan mendapat perhatian dari
publik secara umum.

2.5 Tipologi Isu Kebijakan


Sebuah isu akan diletakkan pada konteks setting kebijakan, dan jenis konteks itu
mendefinisikan leta isu tersebut dalam arena konflik politik dan strategi dari pihak-pihak
yang terlibat dalam mengola lingkup konfik.

2.6 Pluralisme, Non-Decision Making, dan Dimensi Ketiga dari Kekuasaan


Kaum pluralis mengasumsikan bahwa kebijakan publik pada dasarnya adalah hasil
dari persaingan bebas antara ide dan kepentingan. Non-Decision Making menunjukkan
bahwa pembuat keputusan memiliki kekuasaan untuk menyingkirkan isu dari agenda yang
mereka kontrol. Menurut Lasswell, studi dimensi psikologis dari politik ini adalah aspek
penting bagi pembuatan kebijakan. Hanya saja perkembangan analisis pembuatan kebijakan
cenderung lebih banyak menitikberatkan pada dimensi pertama dan jarang yang membahas

Page | 49
cara elite berusaha menggunakan symbol untuk manipulasi opini publik dan bawah sadar
manusia atau jarang mempelajari orang, kepribadian, kelompok, dan kultur (Lasswell, 1939).

2.7 Pendekatan Neo-Marxis dan Kritis


- Teori mendalam: membahas dua kelompok teoritis mendalam yang
gagasannya mempunyai arti penting bagi analisis problem dan agenda.
- Mengaitkan level analisis: teori ini berusaha untuk menganalisis proses yang
lebih dalam yang mempengaruhi level permukaan dari kebijakan publik dalam
fase agenda, keputusan, dan penyampaiannya.
- Pendekatan argumentative: fokusnya adalah studi tentang bagaimana bahasa
membentuk cara kita memahami dunia. Dari perspektif ini, analisis kebijakan
publik melibatkan eksplorasi cara diskursus kebijakan menyusun argument
yang membentuk kerangka yang di dalamnya problem dan agenda disusun.
Pendekatan ini membahas artikulatif dari kebijakan publik yang dalam black box
fungsionalis struktural dikarakteristikkan sebagai input, tetapi bukan input
melainkan kerangka tempat di mana politik dan kebijakan berlangsung.

2.8 Pengetahuan dan Agenda Kebijakan


- Pakar, professional, dan proses kebijakan: dalam term kebijakan publik,
kalangan professional jelas memiliki satu peran yang penting dalam menciptakan
dan menyebarkan pengetahuan, dan dalam menginterpretasikan dan
mengimplementasikan kebijakan. Kalangan professional mendapatkan kekuasaan
dan pengaruh sebagai pakar yang secara teknis politis berguna bagi pemerintah.
- Think-Tank (Lembaga Pemikiran): suatu lembaga kecil jika dibandingkan
dengan departemen pemerintah, perusahaan, lembaga professional, partai politik,
dan kelompok kepentingan. Menurut James Cornford, mereka performing fleas
(bekerja seperti kutu) yang terus menerus mencari kesempatan atau peluang untuk
menggigit politik. Think-Tank dalam memainkan perannya ini pada dasarnya
adalah lembaga perantara (intermediary) yang suatu saat hidup di lembaga lain
dan di saat lain bisa meninggalkannya.
- Ide dan proses politik: jaringan kebijakan dan komunitas kebijakan yang
meliputi politisi, pegawai sipil, analis kebijakan, pakar, kelompok kepentingan,
dan sebagainya mendukung ide tertentu dalam area kebijakan tertentu.

Page | 50
2.9 Kebijakan dan Problem sebagai Simbol
Bahasa, kekuasaan, dan kebijakan merupakan studi pembuatan kebijakan, dikaitkan
dengan konstruksi irasionalitas sejauh mana kata, bahasa, symbol, tanda, mitos, citra (image)
dipakai oleh elite.Oleh karenanya, studi kebijakan publik itu adalah dalam rangka
membentuk komposisi dan distribusi nilai dan untuk mengeksploitasi perasaan
ketidaksamaan personal di kalangan produk.Akan tetapi, studi kebijakan dalam sebagian
besar perjalanan sejarahnya telah mengabaikan aspek krusian dan kebijakan publik.

2.10 Jaringan, Streams, Koalisi Advokasi, dan Punctuated Equilibrium


- Jaringan dan komunitas: menitikberatkan pada pola kontak dan hubungan
formal dan informal yang membentuk agenda kebijakan dan pembuatan
keputusan.
- Policy stream: merupakan kerangka yang menarik untuk mengkaji proses
penetapan agenda di mana solusi mencari problem dan hasilnya adalah fungsi
dari campuran problem, partisipan, dan sumber daya. Terdiri dari tiga aliran
(stream) yang terpisah dan berbeda yaitu problem, kebijakan, dan politi.
- Koalisi advokasi: membantu memetakan proses kebijakan dengan cara yang
bisa mengilustrasikan bagaimana berbagai fase siklus kebijakan tersebut harus
dilihat sebagai lebih cair dan interaktif ketimbang yang diasumsikan oleh
pendekatan stragist.
- Punctuated equilibrium: proses kebijakan bisa dikarakteristikkan sebagai proses
dengan stabilitas panjang yang diselingi dengan periode instabilitas. Dari dunia
komputer dan dari teori H. A. Simon menyatakan bahwa manusia terbatas
kemampuannya untuk memproses informasi, dank arena itu isu mesti diproses
secara parallel, ketimbang secara serial (satu isu pada satu waku).

2.11 Menganalisis Batas-batas


- Konteks definisi problem dan penetapan agenda: membahas batas-batas yang
eksis di dalam konteks negara bangsa antara lain faktor ekonomi, sosial, dan
faktor lainnya yang membentuk batas-batas di mana agenda kebijakan ditetapkan
dan keputusan dibuat dan diimplementasikan.
- Parameter ekonomi untuk formulasi kebijakan: para teoritis overload
mengatakan bahwa proses pembuatan kebijakan pemerintah modern yang berada

Page | 51
dalam kondisi pertumbuhan rendah atau negative akan menempatkan demokrasi
dalam bahaya deficit politik karena adanya ekspektasi berlebihan.
- Tren dan agenda kebijakan: dalam hal ini, tren mungkin kurang menentukan
kebijakan publik ketimbang hasil proses politik atau kebijakan.
- Kebijakan sebagai epifenomena: kebijakan sebagaian besar ditentukan oleh
kondisi-kondisi yang mendasarinya ketimbang oleh proses politik.
- Nilai, partai, dan kebijakan: Dunleavy berpendapat ada bukti bahwa partai-
partai politik memang membentuk preferensi pemilih, tetapi kita tidak tahu
banyak tentang hubungan permintaan dan penawaran antara opini publik dan
kebijakan partai.

- Parameter institusional:
d. Ekonomi: terdiri dari teori-teori yang berasal dari teori biaya-transaksi dan
principal-agent.
e. Sosiolog: berkembang dari bidang sosiologis organisasi
f. Politik: berisi kontribusi-kontribusi yang memfokuskan pada otonomi
negara dalam pembuatan kebijakan dan relasi negara dengan masyarakat.

2.12 Globalisasi dan Pembuatan Kebijakan: Parameter Internasional


Isu pada agenda global :
- Lingkungan
- Aids
- Industri dan ekonomi
- Obat-obatan (drugs)
- Globalisasi dan Uniformitas: gaya hidup global dan nasionalisme kultural
- Batasan sistem perekonomian dunia
- Privatisasi
- Negara bangsa dan perubahan global

Bagian 3
ANALISIS KEPUTUSAN
Analisis Proses Pembuatan Keputusan dan Analisis Kebijakan untuk Pembuatan
Keputusan

Page | 52
3.1 Pendahuluan
Pembuatan keputusan (decision-making) berada di antara perumusan keijakan dan
implementasi kebijakan, akan tetapi kedua hal tersebut berkaitan satu sama lain. Keputusan
mempengaruhi implementasi dan implementasi tahap awal akan mempengaruhi tahap
pembuatan keputusan selanjutnya yang pada gilirannya akan mempengaruhi implementasi
berikutnya.
3.2 Pembuatan Keputusan: Kerangka dan Konteks Disipliner
Analisis keputusan menggunakan berbagai macam disiplin akademik dan kerangka
permikiran yaitu ilmu politik, sosiologi, teori organisasi, ilmu ekonomi, psikologi, dan
manajemen.

3.3 Pendekatan Kekuasaan untuk Pembuatan Keputusan


Enam pendekatan dan variannya :
- Elitisme: berfokus pada cara kekuasaan dikonsentrasikan;
- Pluralism: berfokus pada cara kekuasaan didistribusikan;
- Marxisme: berfokus pada konflik kelas dan kekuasaan ekonomi;
- Korporatisme: berfokus pada kekuasaan kepentingan yang terorganisir;
- Profesionalisme: berfokus pada kekuasaan kalangan professional;
- Teknokrasi: berfokus pada kekuasaan pakar teknis.

3.4 Rasionalitas dan Pembuatan Keputusan


Pendekatan rasionalitas untuk pembuatan keputusan punya dua konteks atau sumber :
- Ide rasionalitas ekonomi: seperti yang dikembangkan dalam teori ekonomi.
- Ide rasionalitas birokratis: seperti yang dirumuskan oleh teori sosiologis
tentang organisasi dan masyarakat industri.

3.5 Pendekatan Pilihan Publik untuk Pembuatan Keputusan


Pendekatan pilihan publik secara khusus cacat dalam konsepnya tentang pembuatan
keputusan manusia sebagai kegiatan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri.Dengan
adanya dampak dari ide-ide manajerialis terhadap analisis dan reformasi sektor publik (Van
Strien, 1982: 24), maka kita perlu lagi mengingat perdebatan dalam teori (dan praktik)
manajemen tentang motivasi manusia. Sebagaimana aliran pilihan publik, teori manajemen
klasik dan ilmiah diawali dengan postulat yang sama tentang perilaku manusia: individu
sebagai pemaksimal kepentingan diri.

Page | 53
3.6 Pendekatan Institusional
Pendekatan institusional dapat dispesifikasikan menjadi tiga kerangka analisis, antara
lain :
- Institusionalisme sosiologis: kerangka ini orientasinya empiris dan penyampaian
gagasannya melalui studi kasus, bukan dengan model teoretis seperti yang biasa
dipakai dalam teori ekonomi. Kerangka ini lebih memilih pendekatan historis
untuk studi kasus.
- Institusionalisme ekonomi: berkembang dari teori-teori perusahaan dan aplikasi
utamanya adalah dalam analisis ekonomi.
- Institusionalisme politik: agar memahami bagaimana institusi membatasi
pembuatan keputusan di pemerintahan di luar anransemen konstitusional formal
yang juga membentuk dan sering kali menentukan keputusan yang dibuat.

3.7 Personalitas, Kognisi, dan Pengolahan Informasi dalam Pembuatan


Keputusan
Lasswell mengatakan bahwa ada beberapa tipe manusia politik, yaitu :
- Agitator: meletakkan respon publik pada nilai tinggi;
- Administrator: meletakkan koordinasi dari efek dalam aktivitas yang terus
berkesinambungan pada nilai yang tinggi;
- Teoretisi: meltakkan abstraksi pada nilai yang tinggi.

Sebagai sebuah kerangka untuk menganalisis proses keputusan, Caroll dan Johnson
(1990: 21-4) menyarankan agar menggunakan kerangka kognitif untuk menganalisa apa yang
terjadi di tahap-tahap yang berbeda :
- Pengenalan: Siapa yang mengetahui problem ? Kapan problem itu dikenali ? Apa
yang harus dilakukan agar problem itu bisa dianggap sebagai problem
keputusan ?
- Formulasi: Siapa yang mendefinisikan problem ? Bagaimana problem bisa
dipisahkan atau dikombinasikan dengan problem lain ? Apakah orang yang
berbeda akan mendefinisikannya dengan cara yang berbeda pula ? Apa tujuan
yang muncul dari sini dan tujuan siapa ?
- Pembuatan alternative: Dari mana alternative berasal ? Bagaimana dan
mengapa diputuskan untuk menghentikan pembuatan alternative ?

Page | 54
- Pencarian informasi: Berapa banyak dan jenis informasi apa yang mesti
dikumpulkan ? Bagaimana cara menentukan pencarian informasi ?
- Penilaian dan pemilihan: Siapa yang membuat penilaian dan pemilihan ? Apa
basis informasional dari pilihan yang dibuat itu ? Asumsi apa yang dipakai ?
- Aksi: Bagaimana keputusan dilaksanakan ? Apa yang terjadi ?
- Umpan balik: Bagaimana informasi tentang efek keputusan dikomunikasikan
kepada para pembuat keputusan ?

3.8 Analisis Kebijakan dan Keputusan Publik


Asal mula analisis kebijakan bisa dikatakan sama tuanya dengan keberadaan negara.
Pada satu level analisis ini melibatkan peninjauan atas opsi-opsi yang tersedia dan strategi,
cara dan tujuan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Ketika raja duduk bersama para
penasihat untuk mendiskusikan kebijakan, mereka sesungguhnya sedang melakukan
semacam analisis yang pada intinya tidak terlalu jauh berbeda dengan analisis pembuatan
keputusan di masa modern.
Pembuatan keputusan dalam pemerintahan modern dapat dibedakan dari periode
sejarah lain dalam kaitannya dengan satu hal penting: perkembangan model dan teknik
analisis yang dimaksudkan untuk memberikan basis yang lebih rasional untuk keputusan.
Strategi yang mendasari analisis kebijakan rasional biasanya diekspresikan dalam
term lingkaran lima tahap. Quade mendefinisikan tahap-tahap ini sebagai berikut :
- Formulasi: pengklarifikasi dan pembatasan problem dan menentukan tujuan.
- Pencarian: pengidentifikasian, pendesainan, dan penyaringan alternatf-alternatif.
- Peramalan: memprediksi lingkungan masa depan atau konteks operasional di
masa mendatang.
- Modeling: menyusun dan menggunakan model untuk menentukan dampak.
- Evaluasi: membandingkan dan memperingkat alternative.

3.9 Pembuatan Keputusan Rasional dan Pencarian Tata Pemerintahan yang


Berpengetahuan Luas (Knowledgeable Governance)
Daya tarik komputer sebagai alat bantu untuk pembuatan keputusan masih sangat kuat
di mata pada analis berlatar belakang OR entah itu dari sudut pandang aliran klasik atau
alternative. Teknologi Informasi (TI) banyak dipakai dalam manajemen publik dan
perencanaan publik di bidang populasi, lapangan kerja, penggunaan lahan, dan transportasi.
Menurut Harold L. Wilensky, kegagalan inteligensi berakar pada :

Page | 55
- Atribut struktural yang memaksimalkan distorsi dan hambatan (blockage):
terlalu banyak hierarki, terlalu banyak spesialisasi dan terlalu banyak unit yang
terlibat; over-sentralisasi inteligensi.
- Doktrin yang memaksimalkan distorsi dan hambatan: fakta untuk mengisi
kesenjangan versus fakta yang dievaluasi atau diintepretasikan; konflik antara
pengumpulan intelegensi (riset) dan aktivitas gerakan klandestine; keyakinan
bahwa inteligensi rahasia adalah lebih unggul; perkiraan atau estimasi versus
analisis dan orientasi.

3.10 Kritik Terhadap Analisis Kebijakan


Tahap pembuatan meta-kebijakan :
- Pengolahan nilai
- Pengolahan realitas
- Pengolahan problem
- Survey, pemrosesan, dan pengembangan sumber daya
- Desain, evaluasi, dan redesain sistem pembuatan kebijakan
- Menentukan problem, nilai, dan sumber daya
- Menentukan strategi pembuatan kebijakan

Tahap pembuatan kebijakan :


- Sub-alokasi sumber daya
- Menentukan sasaran operasional, dengan urutan prioritas
- Menentukan seperangkat nilai signifikan, dengan urutan prioritas
- Menyiapkan alternative kebijakan utama, termasuk alternative yang bagus
- Menyiapkan prediksi yang andal terhadap manfaat dan biaya signifikan dari
berbagai alternative tersebut
- Membandingkan prediksi biaya dan manfaat dari berbagai alternative tersebut
dan mengidentifikasikan yang terbaik
- Mengevaluasi manfaat dan biaya dari alternative terbaik dan menentukan
apakah alternative itu baik atau tidak

Tahap pembuatan kebijakan :


- Memotivasi pelaksana kebijakan
- Melaksanakan kebijakan

Page | 56
- Mengevaluasi kebijakan setelah pelaksanaan kebijakan
- Komunikasi dan saluran umpan balik akan menghubungkan semua tahapan
tersebut.

Bagian 4
ANALISIS DELIVERY
Analisis Implmentasi, Evaluasi, Perubahan, dan Dampak

4.1 Pendahuluan
Fokus pada problem dalam pendekatan kebijakan berarti bahwa. Sampai era 1970-
an, analisis kebijakan terutama membahas ujung depan (front-end) dari proses kebijakan.
Yakni, analisis proses kebijakan cenderung disibukkan dengan isu seperti seberapa rasional,
terbuka, atau adilkah sebuah pembuatan keputusan; dan, dari sudut pandang analisis dalam
dan untuk proses kebijakan, bagaimana pengetahuan dapat memperbaiki pembuatan
keputusan (Van Meter dan Van Horn, 1975: 450-1).

4.2 Implementasi
Dalam buku Limits to Administration (1976) Christoper Hood mengemukakan lima
kondisi atau syarat untuk implementasi yang sempurna :
- Bahwa implementasi indeal itu adalah produk dari organisasi yang padu seperti
militer, dengan garis otoritas yang tegas.
- Bahwa norma-norma akan ditegakkan dan tujuan ditentukan.
- Bahwa orang akan melaksanakan apa yang diminta dan diperintahkan.
- Bahwa harus ada komunikasi yang sempurna di dalam dan di antara organisasi.
- Bahwa tidak ada tekanan waktu.

4.3 Delivery System


Mode penyampaian/pelaksanaan (delivery) atau sistem penyampaian kebijakan
telah menjadi perhatian utama dari analisis tentang dan analisis dalam sektor publik.Setelah
diabaikan pada 1970-an dan awal 1980-an (lihat Hogwood dan Peters, 1983: 165), studi
teknologi penyampaian (delivery) mulai menduduki tempat utama dalam literature
manajemen sektor publik. Ini terutama terjadi dalam konteks kondisi kompleks yang dihadapi

Page | 57
oleh pemerintahan modern (Kooiman (ed.), 1993) dan perubahan arsitektur negara di
masyarakat modern (Dunleavy, 1989).

4.4 Evaluasi
Evaluasi mengandung dua aspek yang saling terkait :
c. Evaluasi kebijakan & kandungan programnya
d. Evaluasi terhadap orang-orang yang bekerja di dalam organisasi yang
bertanggung jawab untuk mengimplementasikan kebijakan dan program.

Evaluasi Kebijakan adalah pemeriksaan yang objektif, sistematis, dan empiris


terhadap efek dari kebijakan dan program publik terhadap targetnya dari segi tujuan yang
ingin dicapai.Thomas Dye menawarkan definisi luas dari Evaluasi Kebijakan yaitu
pembelajaran tentang konsekuensi dari kebijakan publik, (Dye, 1987: 351).

Menurut Carol Weiss (1976: 6), mengatakan bahwa evaluasi dapat dibedakan dari
bentuk-bentuk analisis lainnya berdasarkan enam hal :
g. Evaluasi dimaksudkan untuk pembuatan keputusan, dan untuk menganalisis
problem seperti yang didefinisikan oleh pembuat keputusan, bukan oleh periset.
h. Evaluasi adalah penilaian karakter. Riset bertujuan untuk mengevaluasi tujuan
program.
i. Evaluasi adalah riset yang dilakukan dalam setting kebijakan, bukan dalam
setting akademik.
j. Evaluasi sering kali melibatkan konflik antara periset dan praktisi.
k. Evaluasi biayanya tidak dipublikasikan.
l. Evaluasi mungkin melibatkan periset dalam persoalan kesetiaan kepada agen
pemberi dana dan peningkatan perubahan sosial.

4.5 Perubahan dan Kontinuitas dalam Pembuatan Kebijakan


Difokuskan pada dua aspek perubahan analisis:
c. Perubahan dalam ruang kebijakan (policy space): bagaimana terjadinya
perubahan dalam tujuan, nilai, keyakinan, arah, dan prioritas kebijakan ?
d. Perubahan dalam ruang organisasional (organizational space): apa
hubungan antara perubahan nilai, keyakinan, tujuan dan sebagainya, dengan

Page | 58
konteks institusional atau organisasional dari kebijakan dan dapat diterima (vice
versa) ?
Brian Hogwood dan Guy Peter (1983) mengatakan bahwa kita dapat memahami
variasi perubahan dalam term tipe perubahan berikut ini:
e. Inovasi kebijakan: ketika pemerintah menjadi terlibat dalam problem atau area
yang baru. Dengan adanya fakta bahwa ruang kebijakan modern itu sangat
padat (crowded), kebijakan baru kemungkinan akan diletakkan dalam kerangka
yang ada di dalam konteks kebijakan terkait yang sudah ada.
f. Suksesi kebijakan: penggantian kebijakan yang sudah ada dengan kebijakan
lain. Perubahan ini tidak menimbulkan perubahan fundamental dalam
pendekatannya, tetapi melanjutkan kebijakan yang sudah ada.
g. Pemeliharaan kebijakan: adalah adaptasi kebijakan-kebijakan, atau penyesuaian
untuk menjaga agar kebijakan tetap berada dalam jalurnya.
h. Terminasi kebijakan: merupakan sisi lain dari inovasi. Dalam terminasi, sebuah
kebijakan atau program akan dihentikan, dikurangi, dan pengeluaran publik
pada kebijakan itu akan dipotong. Ini adalah (dengan permintaan maaf kepada
Monty Python) kebijakan mati (dead policy), sebuah kebijakan yang berhenti
mengada: sebuah bekas kebijakan.

4.6 Janji dan Kinerja: Mengevaluasi Dampak dan Hasil


Rossi dan Freeman (1993: 215) mendefinisikan: Penilaian atas dampak adalah untuk
memperkirakan apakah intervensi menghasilkan efek yang diharapkan atau tidak. Perkiraan
seperti ini tidak menghasilkan jawaban yang pasti tapi hanya beberapa jawaban yang
mungkin masuk akal. Metodenya antara lain:
h. Membandingkan problem/situasi/kondisi/ dengan apa yang terjadi sebelum
intervensi.
i. Melakukan eksperimen untuk menguji dampak suatu program terhadap suatu area
atau kelompok dengan membandingkan dengan apa yang terjadi di area atau
kelompok lain yang belum menjadi sasaran intervensi.
j. Membandingkan biaya dan manfaat yang dicapai sebagai hasil dari intervensi.
k. Menggunakan model untuk memahamidan menjelaskan apa yang terjadi sebagai
akibat dari kebijakan masa lalu.

Page | 59
l. Pendekatan kualitatif dan judgemental untuk mengevaluasi
keberhasilan/kegagalan kebijakan dan program.
m. Membandingkan apa yang sudah terjadi dengan tujuan atau sasaran tertentu dari
sebuah program atau kebijakan
n. Menggunakan pengukuran kinerja untuk menilai apakah tujuan atau targetnya
sudah terpenuhi.

4.8 Kesimpulan: Melampaui Delivery dan Menuju Demokratisasi

- Kebijakan bukan sekedar menghasilkan efek perubahan dalam kondisi


masyarakat, tetapi juga menyatukan orang dan mempertahankan ketertiban
negara. Misalnya, sebuah kebijakan pemerintah untuk memerangi kemiskinan
mungkin tidak akan berdampak signifikan bagi si miskin, tetapi ini membuat
orang bermoral, orang kaya, dan orang miskin berpandangan bahwa pemerintah
memerhatikan orang miskin (Dye, 1987: 355)
- Ilmu sosial dan bidang penelitian berorientasi kebijakan lainnya harus
membangun hubungan baru dengan masyarakat dan pemerintah agar kebijakan
publik tidak lagi dilihat dari segi output dan hasil tetapi sebagai partisipasi
dan komunikasi, dan warga negara tidak lagi dilihat sebagai konsumen, tetapi
sebagai pembentuk nilai dan institusi, warga dilihat sebagai produsen bersama
dan bukan hanya penerima dalam proses penyampaian kebijakan.
- Pemerintah adalah institusi masyarakat dengan satu kewajiban, yaitu
memfasilitasi pembuatan pilihan dan tindakan masyarakat. Kemampuannya untuk
membuat keputusan dan bertindak adalah dimensi dominan yang dengannya
kinerja pemerintah akan dinilai.
- Tujuan kebijakan publik yang lebih luas adalah pencerahan dan pengembangan
individu dalam masyarakat. Mengembangkan kesepakatan, consensus, kesadaran
sosial, dan legitimasi, bukan memberika layanan barang dan jasa.
- Kebijakan publik berhubungan dengan peningkatan kapasitas demokratis atau
politik dari warga, dan bukan hanya efisiensi dan efektivitas penyampaian
pelayanan publik.
- Tujuan analisis kebijakan haruslah memfasilitasi suatu proses pembuatan
kebijakan yang didasari oleh pengetahuan dan emansipasi dan yang dapat

Page | 60
menjaga pluralism otoritas dan kontrol yang mencegah absolutisasi kekuasaan
politik (Lasswell, 1980: 533).
- Lasswell mengatakan pada akhir
1940-an: Hari ini umat manusia punya
tugas bersama, meski masih samar, yakni
menemukan cara dan sarana untuk
merealisasikan martabat manusia. Ada
komunitas dunia yang maju yang
membahayakan dirinya sendiri tapi tidak
cukup memadai untuk berbagai dan
menghasilkan pembentukan nilai dan potensi kemakmuran demokrasi. Dalam
klarifikasi ini, inti dan tugas vital dari teori dan praktik kebijakan publik adalah
membentuk dan menyebarkan nilai-nilai seta memperluas dan memperkaya
demokratisasi.

Page | 61
Tugas resume dari buku

PUBLIC POLICY

Oleh : Dr. Riant Nugroho

Bagian Pertama : Dinamika Kebijakan Publik

Disusun oleh ;
2015.02.065 Andi Wahyuddin
2015.02.066 Akzan
2015.02.067 Rosmala
2015.02.071 Mochammad Bukti
2015.02.040 Amin Zuhri
2015.02.054 Nurningsih
2015.02.070 Tenri Angka
2015.02.059 Sri Wulandari
2015.02.044 Abdurrahman

Kelompok 3
SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI
Page | 62
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
STIA-LAN MAKASSAR

BAB I

KONTEKS MAKRO KEBIJAKAN PUBLIK

Jenderal Clausewitz dalam On War mengemukakan bahwa perang adalah kelanjutan


dari politik. Clausewitz adalalah orang Jerman dan diJerman tidak ada padanan kata bagi
policy,sehingga kemungkinan besar yang hendak dikatakan oleh Clausewitz adalah War is
the continuation of policy karena policy atau kebijakan publik adalah keputusan politik yang
melembaga dari Pemerintah. Keputusan politik yang tidak pernah dilembagakan artinya
menjadi milik lembaga dengan cara disahkan secara hukum adalah keputusan seorang
dictator atau pemimpin otoritarian yang menganggap bahwa dirinya adalah Hukum,Negara
atau bahkan Tuhan.Namun demikian sejak 2 dasawarsa terakhir kita menyaksikan sendiri
perang yang terjadi diantara Negara-Negara didunia adalah perang kebijakan. Mulai dari
kebijakan ekspor-inpor,proteksi industry dalam negeri, penguasaan atas kawasan hingga fakta
dimana Amerika Serikat mengembargo pemeliharaan dan suku cadang alat perang (atau
Alutsista/alat utama system pertahanan) yang dibeli Indonesia dari AS, khususnya F-16 dan
Hercules karena Indonesia dinilai melanggar HAM, jadi perang hari ini adalah perang
kebijakan. Negara-Negara yang lebih kuat memaksa Negara yang lebih lemah untuk
membuat kebijakan yang menguntungkan Negara maju.

Untuk itu tantangan terbesar bagi setiap Negara berkembang terutama yang masih
lemah adalah bagaimana membangun kebijakan publik yang kuat dan mewakili
kepentingan nasional dan bukan kepentingan asing maupun pada kompradornya. Oleh karena
itu kita akan memulai dengan fakta yang paling dekat untuk memahami Kebijakan Publik:
politik suatu Negara.

1.1. Deepening Democracy


Pada tahun 2012 UNDP menerbitkan laporan pembangunan manusia dengan tema
Deepening Democracy in a Fragmented World. Tesis utamanya adalah bahwa
politik menentukan pembangunan, kemiskinan dapat dihilangkan jika politik pro

Page | 63
kepada penanggulangan kemiskinan. Pembangunan berjalan dengan baik jika semua
orang punya hak untuk menentukan arah politik. Jadi pada intinya Premis itu berkata
Demokrasi diperlukan untuk membangun manusia diseluruh dunia. Namun
Demokrasi yang semakin mendalam diIndonesia berhenti dititik politik yaitu
kehidupan yang multipartai yang begitu riuh rendah, pemekaran wilayah yang
membuat APBN lebih banyak Berlubang untuk urusan membiayai para elit
politik daerah-daerah baru bupati baru, wali kota baru, jajaran pemda yang
baru,DPRD baru,dst daripada untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran,
yang paling hiruk-pikuk adalah pilkadal (pemilihan kepala Daerah Langsung).
Disebuah Kabupaten kecil disumut seorang calon membelanjakan Rp 15
Milyar untuk menang, padahal PAD dari daerah tersebut hanya Rp 5 Milyar.
Bagaimana membayangkan kepala daerah yang focus kepada pembangunan, jika ia
harus terlebih dahulu mengembalikan investasi semacam return on investment (ROI)
sebelum ia memikirkan Rakyatnya. Demokrasi menjadi begitu mahal namun hasilnya
masih belum pasti.
Salah satu pemikiran internasional yang tepat dan penting untuk diadopsi
adalah pemikiran Francis Fukuyama mengemukakan pada hari ini yang dibutuhkan
dunia adalah Pemerintah dan Negara-Negara yang kuat , Negara-Negara yang maju
dan sejahtera adalah Negara-Negara yang kuat dengan Pemerintah yang kuat.
Kita simak perkataan Fukuyama :

Weak incompetence or nonexistentgopernment is the source of severe problemsLach of


state capacity in poor countries has come to haunt the developed world muc more
directly. Memperkuat
I begin the analysis
Negaraofadalah
the rolekeharusan
of the states
agarin dapat
the development
merespon by posingyang
aspirasi this
question : Does US have a strong or weak state..?..
berakselerasi sebagai bagian penting dari penguatan Masyarakat.Memperkuat Negara
bukan berarti menambah BUMN dan meningkatkan intervensi kepasar, karena itu
berarti makna memperkuat Negara adalah melemahkan pasar. Memperkuat Negara
adalah membangun Negara yang bisa menjaga, melindungi dan mengembangkan
pasar beserta mekanismenya yang alami.
Dus memperkuat Negara sebagai agenda setiap Negara berkembang adalah
memperkuat kemampuan Negara dalam membangun kebijakan publik yang unggul.
Baik kebijakan yang menjadikan setiap actor didalam Negara bangda menjadi actor
yang berdaya saing namun juga kebijakan yang menjadikan Pemerintah menjadi
Pemerintah yang cakap dan Pemerintah yang cakep.

Page | 64
1.2. Kebijakan Publik,Politik dan Negara
Negara adalah sebuah entitas politik yang bersifat formal yang mempunyai minimal lima
(5) komponen utama.:
Pertama, komponen lembaga-lembaga Negara, yaitu lembaga Pemerintah atau
eksekutif, Lembaga perundangan atau Legislatif, dan lembaga peradilan atau
yudikatif. Dizaman modern ketiga lembaga ini mempunyai dua pola : terpisah satu
sama lain, terkait satu sama lain atau salah satu menjadi bagian dari yang lain baik
secara formal maupun dalam arti terkooptasi.
Kedua, Komponen Rakyat sebagai warga Negara (citizen). Rakyat sebagai warga
Negara berbeda dengan Rakyat bukan sebagai warga Negara.Rakyat sebagai Warga
Negara mempunyai hak-hak kewargaan yaitu hak politik, hak hokum, hak ekonomi,
hak sosial, hak kultural, hak komunitarian, hak individual, hak intelektual, dan hak
biologis.Bahasa universal dari hak-hak tersebut adalah Hak Asasi Manusia.

Ketiga, Wilayah yang diakui kedaulatannya. Hari ini kita masih memahami wilayah
sebagai sebuah kawasan fisikal yang kasat mata. Negara-Negara didunia kecuali
Negara Palestina adalah Negara yang mempunyai batasan fisik geografis yang diakui
olah Negara sekelilingnya dan persatuan Bangsa-Bangsa. Kedepan akan berkembang
vistual nations yang mempunyai wilayah yang maya.

Keempat , Komponen kebijakan publik, setiap Negara modern dipastikan mempunyai


konstitusi, peraturan perundangan, keputusan kebijakan sebagai aturan main hidup
bersama. Negara tanpa komponen keempat ini menjadi Negara gagal,karena
kehidupan bersama diatur oleh seseorang atau sekelompok orang saja, yang bekerja
seperti tiran dengan tujuan memuaskan kepentingan diri dan/kelompoknya saja.

Ketika Negara-Negara Eropa Timur tengah memilih menjadi demokratis,


meninggalkan sosialisme, maka bukan hanya kekuasaan yang berganti tetapi
semuanya secara total berubah. Ketika Indonesia Memasuki reformasi,memilih jalan
demokrasi yang cenderung liberal, maka kehidupan sudah teramat berbeda dengan era
Orde Baru dengan kehidupan yang serba ketat. Seperti ketika Kaisar Meiji
memutuskan untuk membangun Jepang, maka dalam waktu 15 tahun, jepang berubah
dari Negara yang primitif menjadi Negara dengan Bank,telegraf, dan senapan api.
Semua Negara menghadapi masalah yang relatif sama, yang berbeda adalah

Page | 65
bagaimana respon terhadap masalah tersebut. Respon ini yang disebut sebagai
kebijakan publik.

Kebijakan publik pada akhirnya adalah bentuk paling nyata dari ideologi suatu
Negara-bangsa, sebagaimana gambar berikut :
Ideologi

Political system

Publik POLICY

1.3. Tantangan Kebijakan Publik Terkini


Mengapa kebijakan publik penting.? Mari kita membayangkan Indonesia tahun 2015.
Pada tahun 2015 ASEAN akan semakin terintegrasi dalam bentuk ASEAN
COMMUNITY, sebuah bentuk baru yang mendekati bentuk European Community,pada
tahun 2015 bukan saja perdagangan dan investasi diantara Negara ASEAN akan benar-
benar terbuka juga dalam hal tenaga kerja paling rendah pun akan benar-benar terbuka.
Tantangan terbesar dari Jakarta adalah menjadi salah satu simpul (hub) perdagangan
ASEAN. Tantangan ini mengemuka karena hingga hari ini Jakarta dan seluruh kota
pelabuhan diIndonesia baru bersifat sebagai feeder dari singapura. Tanpa kesiapan
termasuk dengan memperbaiki pelabuhan laut,system kepabeanan bongkar muat dan
pemberantasan mafia pelabuhan maka Jakarta akan menjadi feeder abadi dari singapura
ketika ASEAN community terbentuk.
Bahkan Jakarta akan menjadi kota yang paling mengerikan pada musim penghujan karena
menjadi kolam renang raksasa.
Wakil Presiden RI Prof.Budiono bahkan mengeluhkan bahwa perekonomian
Indonesia semakin tidak digerakkan oleh sector yang jauh dari keunggulan sumber daya
manusia karena kemajuan ekonomi tidak disebabkan oleh inovasi.
Ditingkat daerah, masalah yang genting adalah:

Pemda cenderung tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan, namun

justru melakukan apa yang tidak perlu dilakukan karena Masyarakat bisa

melakukan sendiri atau karena bukan prioritas.

Page | 66
Berikut rancangan agenda pekerjaan yang seharusnya menjadi pekerjaan yang harus
dilakukan pemda, namun malah sebagian pemda tidak kunjung melakukan :
Pendukung Pelengkap Utama
Kewargaan-perijinan
Air dan Sanitasi Keindahan
Kesehatan
Sampah dan limbah Kenyamanan
Pendidikan
Transportasi massal
Ketertiban
Keseimbangan
lingkungan

Yang lebih mencemaskan adalah kebijakan desentralisasi tanpa kendali hanya


menyisakan pemerintahan yang boros. Penelitian Forum Indonesia untuk Transparansi
anggaran (FITRA), menemukan bahwa pada tahun 2007, 65% dana Alokasi Umum
(DAU) pada APBD dialokasikan untuk belanja pegawai. Pada tahun 2009, bahkan rata-
rata mencapai 95% dana DAU untuk belanja pegawai (kompas 27/5/2011)
Kebijakan publik adalah factor yang me-leverage kehidupan bersama. Didalam teori
pareto, maka kebijakan publik adalah factor 20% yang menyebabkan terjadinya 80%.
Dengan demikian kesepakatan awal dari buku ini adalah kebijakan publik adalah sebuah
factor kritikal bagi kemajuan atau kemunduran suatu Negara-bangsa. Karena itu premis
dari buku ini adalah bahwa keunggulan setiap Negara semakin ditentukan oleh
kemampuan Negara tersebut mengembangkan kebijakan-kebijakan publik yang unggul.
Kejatuhan Indonesia pada tahun 1998 dihantam krisis moneter yang berkembang
menjadi krisis ekonomi, krisis politik dan krisis total bukan karena merajalelanya korupsi
dan berkembang biaknya secara luar biasa konglomerat hitam. Korupsi dan konglomerat
hitam adalah akaibat dari kebijakan publik yang membuat korupsi mudah dan halal
dilakukan, dari kebijakan publik yang membiarkan kolusi antara kekuasaan dan kekayaan
yang membuat pengusaha dengan mudah membeli lisensi fasilitas dan monopoli karena
kita membuat kebijakan publik yang mentorfedo diri kita sendiri
Indonesia masa depan ditentukan kebijakan publik Indonesia hari ini. Kemajuan dan
kemunduran suatu Negara rupanya lebih ditentukan ada atau tidaknya populasi kebijakan
publik yang unggul di Negara tersebut. Pemahaman ini dijadikan kunci karena
pemahaman tentang kebijakan publik di Indonesia tidak memadai lagi hari ini. Salah satu
penyebabnya, karena Indonesia kebijakan publik disamakan dengan hokum publik atau
hokum tata Negara ataupun Hukum Administrasi Negara.

1.4. Dua Aliran Kebijakan Publik


Pada dasarnya, meski tidak tertulis, dalam memahami kebijakan publik, terdapat dua jenis
aliran atau pemahaman, yaitu

Page | 67
1. Kontinentalis, yang cenderung melihat bahwa kebijakan publik adalah turunan dari
hukum, bahkan kadang mempersamakan antara kebijakan publik dan hukum,
utamanya hukum publik, ataupun hikum tata Negara, sehingga melihatnya sebagai
proses interaksi di antara institusi-institusi Negara.
2. Anglo-saxonis, yang cenderung memahami bahwa kebijakan publik adalah turunan
dari politik demokrasi, sehingga melihatnya sebagai produk interaksi antara Negara
dan publik.
Kontinentalis Hukum adalah salah satu bentuk dari kebijakan publik, baik dari sisi
wujud atau produk, proses, maupun dari sisi muatan. Dari sisi produk atau wujud,
karena kebijakan publik dapat berupa sebuah hukum, dapat juga berupa konvensi atau
kesepakatan, bahkan pada tingkat tertentu berupa keputusan lisan atau perilaku dari
pejabat publik. Dari sisi proses, hokum merupankan produk dari Negara atau
pemerintah, sehingga posisi rakyat atau publik lebih sebagai penerima produk atau
penerima akibat dari perilaku Negara. Pembuatan hukum tidak mensyaratkan
pelibatan publik di dalam prosesnya.
Kebijakan publik, di sisi lain, adalah produk yang memperjuangkan kepentingan
publik, yang filosofinya adalah mensyaratkan pelibatan publik sejak awal hingga
akhir.
Dengan demikian, pemahaman kebijakan publik sebenarnya dapat di
kembangkan dengan model pemahaman sebagai berikut :

Klasik

Kontinentalis
Teknis : Administrasi
Negara

Kebijakan Publik
Klasik

Pendekatan kontinentalis memahami kebijakan publik pada gambar pertama (seblah


Politik : Demokrasi
kiri) dan akar bagian atas. Pendekatan bahwa kebijakan publik merupakan produk
Anglo saxonis Pluralis
Administrasi publik sebenarnya merupakan bagian dari pengaruh kontinentalis.
Pendekatan anglo saxsonis di kembangkan dalam model klasik, politik, dan
Manajemen : good
gopernance

Page | 68
manajemen, sebagaimana di lihat pada gambar kedua (seblah kanan) dan akar bagian
bawah.
Bagaimana dengan Indonesia? Yang pertama kita melihat dari sisi pemahaman dasar.
Hingga saat ini, jika terdapat amanat membuat kebijakan publik, maka dua keahlian
yang pasti dilibatkan, yaitu;
1. Ahli hukum, terutama hukum tata Negara
2. Ahli yang menguasai masalah berkaitan, misalnya kalau berkenaan dengan
pertanian, yang dilibatkan adalah ahli pertanian.
Sangat jarang pembuatan kebijakan publik melibatkan ahli kebijakan publik yang
murni, karena tidak sedikit mereka yang di anggap ahli kebijakan publik adalah
ahli hukum tata Negara atau ahli politik yang di anggap mengerti kebijakan
publik-dan lebih jarang lagi melibatkan ahli bahasa Indonesia.
Jadi, pada rasanya tidak menjadi masalah suatu Negara memilih pendekatan
kontinentalis sebagai model utamanya dalam mengembangkan kebujakan publik.
Hanya, yang harus di sadari adalah, terdapatnya sejumlah ceteris paribus yang
diperlikan. Tiga yang kita sebutkan di atas adalah: tidak banyak kebujakan publik
yang harus, di buat karena sudah ada dan memadai; tingginya kualitas aparatur
Negara dan pemerintah; dan proses artikulasi dan agregasi kepentingan dari publik
telah melembaga dalam system politik yang ada. Tanpa salah satu dari ketiganya,
penggunaan model kontinentalis berpotensi mengembangkan masalah yang lebih
besar dan mendasar dari suatu kebijakan publik yang di kembangkannya.

1.5. Kebijakan Publik Dan Hukum Publik

Setiap kebijakan publik yang di tetapkan sebagai sebuah dokumen formal dan berlaku
mengikat kehidupan bersama, maka pada saat itu pula kebijakan publik menjadi hukum.
Dengan demikian, hukum merupakan salah satu bentuk atau wujud dari kebijakan publik.
Atau, dengan istilah lain, hukum merupakan bagian dari kebijakan publik. Menyamakan
kebijakan publik, dengan demikian, adalah sebuah tindakan reduksionistik yang
berlebihan, karena kebijakan publik tidak identik dengan hukum.

Perbedaan hukum dari kebijakan publik adalah wujud eksistensialnya Hukum secara
eksistensial dalam kehidupan modern senantiasa terkodifikasi secara legal dan formal.
Kebijakan publik dapat berupa kodifikasi legal formal, pernyataan-pernyataan, dan
perilaku-perilaku. Perbedaan selanjutnya adalah perbedaan kontekstualitasnya. Hukum
dibuat untuk mengatasi masalah artinya sudah terjadi sehingga terdapat pernyataan bahwa

Page | 69
hukum senantiasa berjalan terlatih di belakang masalah. Kebijakan publik di buat untuk
mengatasi masalah dan mengantisipasi masalah. Hakikat kontekstual ini menjadi
kebijakan publik mengatasi hukum. Namun demikian, harus disadari, bahwa pada
kehidupan modern, kebijakan publik yang dikehendaki untuk dapat dilaksanakan dengan
baik memerlukan kodifikasi dalam bentuk hukum.

Jika salah satu bentuk kebijakan publik adalah hukum, maka yang perlu dipahami adalah
terdapat dua jenis hukum, sesuai dengan kepentingannya. Dasar pemilihan kepentingan
ini diambil karena hukum mengatur berbagai kepentingan di dalam kehidupan antar
manusia, termasuk di dalamnya kepentingan yang sama dan kepentingan yang berbeda
atau konflik.

Dengan pemahaman tersebut, dapat di terima bahwa pada dasarnya terdapat dua jenis
hukum, yaitu hukum publik dan hukum privat (Muchsan, 1982).

Hukum publik apabila kaidah hukum itu mengatur hubungan antara seseorang dengan
seseorang lainnya atau dengan Negara yang menyangkut kepentingan umum. Hukum
publik mencakup hukum tata Negaram, hukum tata usaha Negara, hukum pidana, hukum
acara pidana, hukum acara perdata dan hukum antar Negara.

Hukum privat adalah kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara seseorang
dengan seseorang lain dalam kepentingan indivudunya. Hukum privat mencakup hukum
privat barat, yang meliputi hukum sipil dan hukum dagang, hukum perdata adat, dan
hukum perdata perselisihan yang mencakup hukum antar golongan dan hukum antar
agama. Kebijakan publik mencakup seluruh hukum tersebut di atas.

Dari seluruh hukum tersebut, salah satu jenis hukum yang secara spesifik menjadi wujud
khusus dari kebijakan publik sebagai hukum Administrasi Negara. Hukum Administrasi
Negara adalah rangkaian aturan-aturan hukum yang mengatur cara bagaimana alat-alat
perlengkapan menjalankan tugasnya. Kaida-kaida hukum Administrasi Negara terdiri dari
:

a. Aturan-aturan hukum yang mengatur dengan cara bagaimana alat-alat Administrasi


Negara mengadakan kontak satu sama lain
b. Aturan-aturan hukum yang mengatur hubungan antara alat Administrasi Negara
(pemerintah) dengan para warga Negaranya. (Muchsan, 1982).

Page | 70
Hukum Administrasi Negara adalah hukum mengenai struktur dan kefungsian
Administrasi Negara. Hukum Administrasi Negara meliputi bidang-bidang :
1. Hukum tata pemerintahan, yakni hukum eksekutifatau hukum tata pelaksanaan
undang-undang dalam arti hukum mengenai tata penegakan dan penggunaan
kekuasaan berikut wewenang-wewenang keNegaraan.
2. Hukum Administrasi dalam arti sempit yakni hukum mengenai tata pengurusan
(organisasi dan manajemen) rumah tangga Negara.
3. Hukum tata usaha Negara, yang merupakan hukum tentang birokrasi Negara
tentang penyelenggaraan komunikasi,registrasi, statistic, dan lain-lain pekerjaan
kantor pemerintahan serta surat-surat keterangan lainnya.
4. Hukum tata pembangunan yaitu yang mengatur campur tangan pemerintah dalam
kehidupan dan penghidupan Masyarakat untuk mengarahkan kepasa perubahan
yang telah direncanakan. (Muchsan, 1982)

1.6. Kebijakan publik : Undang-Undang, Hukum dan Regulasi


Isu yang sering menjadi perdebatan yang tidak produktif adalah mempertentangkan antara
kebijakan publik dengan hukum publik. Untuk memahaminya ada 2 pemahaman :
pertama yang bersifat akademis kedua bersifat pragmatis.
Pertama pendekatan akademis Pendekatan ini mengedepankan apa yang seharusnya
dengan dengan mempergunakan pemahaman terkini secara umum aturan main dalam
kehidupan berNegara modern adalah politik. Untuk itulah system yang mengatur
kehidupan bersama disebut sebagai system politik. Produk dari system politik adalah
kebijakan publik mengingat kebijakan publik adalah keputusan politik yang melembaga.
Kebijakan publik mempunyai empat wujud, yaitu :
1. Kebijakan formal atau peraturan formal
2. Kebiasaan umum lembaga publik yang telah diterima bersama (kinvensi)
3. Pernyataan pejabat publik dalam forum publik
4. Perilaku pejabat publik
Kebijakan formal mempunyai tiga wujud, yaitu :
1) Perundang-undangan (Atc)
2) Hukum (law)
3) Regulasi (Regulation)
Pemahaman lengkapnya sebagai berikut Pertama Perundang-undangan adalah
kebijakan publik berkenaan dengan usaha-usaha pembangunan nasion, baik
berkenaan dengan Negara (state) maupun masyarakat atau rakyat (society)
Kedua Hukum berkenaan dengan ketertiban, kalau perlu ketertiban dengan
disiplin yang kaku . Ketertiban berkenaan dengan upaya membatasi dan melarang.
Ketiga regulasi berkenaan dengan alokasi aset dan kekuasaan Negara oleh
pemerintah sebagai wakil lembaga Negara kepada pohak non pemerintah,

Page | 71
termasuk didalamnya lembaga bisnis dan nirlama. Regulasi yang bersifat umum
adalah pemberian izin atau lisensi kepada suatu organisasi bisnis atau
kemasyarakatan/nirlaba untuk menyelenggarakan misi menjadi bagian untuk
membangun masyarakat.

Kedua Pendekatan Pragmatis, Pendekatan akademis diatas sedikit banyak akan


menciptakan ketidaksepakatan khususnya dari sahabat ilmuwan dan praktisi hukum yang
sejak lama memahamkan konsep semua Undang-Undang adalah hukum dan/atau Negara
Indonesia adalah Negara hukum artinya politik menjadi tidak utama. Untuk itu ada
pemahaman yang lebih akomoditif yaitu pendekatan pragmatis.

Kebijakan Publik diperadilankan ?


Pada novenber 2012, saya menghadiri sebuah persidangan. Pengadilan tinggi negeri
Jakarta pusat sedang memperkarakan tuntutan dari suatu perusahaan pengembang
dan layanan jasa sms premium kepada surat edaran dirjen perangkat pos dan
Informatika (PPI) Kominpo selaku ketua badan regulator telekomunikasi Indonesia
(BRTI) nomor 177/2011. Perusahaan tersebut menuntut Rp 688,4 milyar kepada
dirjen tersebut. Dalam proses peradilan posisi dirjen tersebut dapat dikatakan
terseok. Pertanyaannya adalah : Pertama, apakah SE dirjen tersebut merupakan
kebijakan publik ?, Kedua, apakah kebijakan publik dapat diperkarakan diperadilan ?
Ketiga, apakah jika sampai kalah apa yang sebenarnya terjadi ?
Pertama, SE Dirjen adalah kebijakan publik. Dikatakan demikian karena kebijakan
publik adalah sebuah keputusan politik yang melembaga yang bertujuan mengelolah
kehidupan bersama untuk tujuan kebaikan bersama
Kedua, kebijakan publik dapat dan harus dinilai atau dievaluasi, khususnya pada
prosesnya, didalam arti apakah prosesnya sudah good governance, khususnya pada
kriteria akuntabel atau dapat dipertanggungjawabkan kebersihannya, yaitu bersih
dari korupsi.
Namun demikian demikian kebijakan publik tidak dapat diperkarakan apalagi
diperkarakan dipengadilan, apalagi oleh individu atau korpora. Mengapa? karena
kebijakan publik bersifat umum untuk seluruh wargaNegara, baik warga Negara
individu maupun organisasi, termasuk yang berbentuk korporasi. Ada 2 penjelasan :
1. Jika kebijakan publik dapat serta merta dan senantiasa dapat diperkarakan oleh
setiap warga Negara maka Negara akan dapat lumpuh sewaktu-waktu. Dapat
diandaikan jika setiap keputusan pemerintah diperkarakan, maka pemerintahan
akan stagnan, para pejabat pemerintah pun tidak berani untuk bekerja.

Page | 72
Pemerkaraan kebijakan publik oleh wargaNegara secara serta merta dan diterima
untuk diperkarakan dipengadilan, adalah fenomena ketidak pahaman dari system
peradilan atas makna kebijakan publik, khususnya jika dipahami sebagai hukum
Administrasi Negara yaitu hukum pada saat mesin politik Negara bekerja. Jikapun
dapat diperkarakan maka ada dua syarat penting, 1). Harus diperkarakan secara
bersama-sama oleh para anggota publik yang dirugikan. Jika pengadilan memilih
untuk mengadilinya maka proses pengadilan mengarah keproses yang tidak adil
baik kepada Negara maupun warga Negara. 2). Selain itu terdapat sejumlah
praktek dimana terdapat sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang
mengatas-namakan rakyat, kemudian diperkarakan kebijakan pemerintah
dipengadilan.
2. Karena kejadian hukumnya adalah warga Negara melawan Negara maka institusi
peradilan yang paling berwenang adalah Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Dengan demikian nama kasus yang dicantumkan adalah kumpulan warga
Negara (misalnya masyarakat diwilayah tertentu, asosiasi industry, paguyuban
kegiatan sosial tertentu) melawan Negara (DPR,DPRD,Eksekutif,Menteri,dsb).

1.7. Kebijakan dan visi Indonesia 2030


Pada masa lalu penyebab utama visi Indonesia gagal dicapai adalah karena tidak cukup
terdapat kebijakan-kebijakan publik yang unggul. Premis ini juga berlaku untuk masa
depan kita. Jika Indonesia berhasil mengembangkan kebijakan-kebijakan yang unggul
maka visi tersebut lebih mungkin untuk dicapai. Yang terjadi adalah selama perjalanan
kebijakan publik Indonesia yang berkembang justru kebijakan publik yang mentorpedo
kemajuan bersama. Mulai dari kebijakan menjinakan politik demokrasi hingga pemberian
monopoli, lisensi dan fasilitas kepada beberapa pengusaha yang dekat dengan kekuasaan.
Alhasil Indonesia menjadi Negara yang politik ekonominya besar tetapi rapuh
didalamnya.
Apa artinya ? kita sdh bekerja amat keras tetapi kita terus tertinggal dibelakang.
Ibarat kita ngebut dengan kecepatan 80 km/jam, tetapi Negara lain lebih cepat lagi.
Kebijakan publik ibarat tinta atau warna yang ditaburkan dihulu sungai. Ditabur
warna merah jadi merah sungai itu. Ditabur biru, jadi biru sungai itu. Bahkan kalau
ditabur racun, maka menjadi beracunlah seluruh sungai, dan mereka yang meminumnya
akan tewas. Jadi kita konsisten dengan premis disini : Keunggulan Negara bangsa
ditentukan apakah ia mampu mengembangkan populasi kebijakan publik yang unggul
atau tidak.

1.8. Tidak diruang hampa

Page | 73
Sebelum memasuki konteks kebijakan unggul, hal awal yang perlu disadari adalah bahwa
kebijakan publik tidak hadir dalam ruang hampa. Pada awalnya adalah interaksi manusia
didalam komunitas dan dengan lingkungan dimana komunitas itu berada. Interaksi ini
melahirkan kepercayaan-kepercayaan sosial (sosial beliefs) tentang kebaikan-kebaikan
(goodness) yang harus diperjuangkan dengan cara-cara yang dianggap baik.
Dus, kembali kepremis kita : kebijakan publik menentukan keberhasilan dari setiap
Negara untuk mencapai kemajuannya,tanpa kecuali keberhasilan kebijakan publik
mendorong upaya memperkuat kepercayaan sosial yang selanjutnya akan menjadi nilai
dan norma budaya yang mengikat secara kuat komunitas bangsa tersebut.
Francis Fukuyama (1995) yang mengatakan bahwa kekuatan setiap masyarakat pada
akhirnya ditentukan oleh kepercayaan (tepatnya rasa saling percaya) yang hidup
didalamnya. Masyarakat dengan low trust akan kalah oleh masyarakat yang memiliki
high trust. Masyarakat dengan tingkat trust yang tinggi adalah masyarakat yang mampu
membangun dirinya menjadi sebuah sebuah teamwork yang efisien.
Seperti dalam fakta, hanya tim sepak bola yang bisa membangun teamwork yang bisa
memenangkan pertandingan. Saling percaya adalah modal sosial yang paling diperlukan
untuk membangun keunggulan dan memenangkan kompetisi global
1.9. Keunggulan Negara dan keunggulan kebijakan publik
Sebagaimana dikemukakan didepan, buku ini ditulis dengan premis dasar, keunggulan
setiap Negara bangsa diseluruh dunia hari ini dan dimasa depan ditentukan dari fakta
apakah ia mampu mengembangkan dan akhirnya memiliki kebijakan-kebijakan publik
yang unggul. Kebijakan publik adalah hulu dari setiap kehidupan suatu komunitas yang
disebut sebagai Negara dimana didalamnya berinteraksi baik organisasi publik, bisnis,
maupun sosial kemasyarakatan. Negara-Negara maju diasia seperti
Singapura,Taiwan,Malaysia, dan china maju karena membangun kebijakan publik yang
unggul. Singapura sejak awal menjadikan dirinya sebagai global hub dikawasan selatan
dunia dan kebijakan publik mengarah kesana. Hari ini sebagian besar ekspor komoditi
diasia tenggara termasuk Indonesia melalui lembaga-lembaga perdagangan di Singapura.

1.10. Dinamika Kebijakan Publik


Kebijakan publik senantiasa berinteraksi dengan dinamika dari kondisi politik, ekonomi,
sosial dan kultural dimana kebijakan itu eksis. Kebijakan publik dengan demikian juga
mencerminkan dinamika dari Negara dan bangsa yang bersangkutan.
Gambar. Dinamika kebijakan publik

Dinamika
sosial, Kebijakan
Page | 74
ekonomi, Publik
politik, budaya
Kebijakan publik sendiri merupakan bentuk dinamik dari tiga dimensi kehidupan setiap
Negara bangsa, yaitu :
1. Dimensi politik, karena kebijakan publik merupakan bentuk paling nyata dari system
politik yang dipilih. Politik demokratis memberikan hasil kebijakan publik yang
berproses secra demokratis dan dibangun untuk kepentingan kehidupan bersama,
bukan orang-seorang atau satu atau beberapa golongan saja.
2. Dimensi hukum, karena kebijakan publik merupakan fakta hukum dari Negara
sehingga kebijakan publik mengikat seluruh rakyat dan juga seluruh penyelenggara
Negara terutama penyelenggara Pemerintah.
3. Dimensi manajemen karena kebijakan publik perlu untuk dirancang atau
direncanakan, dilaksanakan melalui berbagai organisasi dan kelembagaan,dipimpin
oleh pemerintah beserta organisasi eksekutif yang dipimpinnya, yaitu birokrasi
bersama-sama dengan Rakyat dan untuk mencapai hasil yang optimal maka
implementasi kebijakan publik harus dikendalikan.

1.11. Mengapa Tidak Unggul ?


Ada banyak latar belakang mengapa organisasi publik tidak dapat menghasilkan
kebijakan yang unggul. Pertama karena organisasi publiknya sendiri tidak unggul . Kedua
karena tidak cukup pemahaman tentang kebijakan publik. Sementara itu dibanyak Negara
yang kurang berkembang dicirikan dari rendahnya kinerja organisasi publik sehingga
mereka gagal memberikan informasi, data ataupun alternatif yang baik dan memadai bagi
pormulasi kebijakan publik, dengan konsekuensi kebijakan publik yang dihasilkan juga
tidak kelas satu Disamping itu terdapat pula kecenderungan dimana organisasi publik
mengambil peran yang tidak tepat atau mengerjakan pekerjaan diluar visi dan misi yang
akhirnya organisasi itu sendiri menjadi tidak efisien dan korup.
1.12. Kebijakan Unggul, Negara kuat

Untuk membangun Negara bangsa yang kuat dan unggul memerlukan rakyat yang kuat
dan Negara yang kuat. Tidak ada trade of diantara keduanya. Itulah sebabnya disini tidak
pernah diyakini efektivitas dari konsep Reinventing government dari Osborne dan
Gaebler dan cenderung mendukung pemikiran reformasi birokrasi dari Gerald Cainden
(1996) dan Henry Mintzberg (1997) bahwa diperlukan modern an professional
bureaucracy untuk mengembang tugas membangun Negara bangsa.

Page | 75
Masalahnya adalah bagaimana membangun Negara yang kuat tanpa kemudian Negara itu
kemudian menjadi Negara yang totaliter seperti kasus Indonesia Orde Baru. Pada rana ini
dikenal istilah governance atau tata kelola. Negara boleh kuat, tetapi Negara harus :

1. Akuntabel
2. Transparan
3. Responsif
4. Adil

1.13. Kebijakan Unggul dan Negara Maju


Dinamika kebijakan publik memberikan arah bagi pemahaman kebijakan Negara maju
dan terbelakang. Pemahaman yang dikedepankan adalah bahwa Negara maju bukan
diukur dari banyaknya kebijakan publik yang dibuat atau dimilikinya, melainkan kepada
karakter kebijakan publik. Negara maju mempunyai kecenderungan bahwa kebijakan
publiknya mengarah kepada perlindungan dan kesinambungan sumber daya alam,
pemberdayaan, memanajemeni, menggerakkan manusia dan merespon masa depan.
Sementara Negara berkembang cenderung mengembangkan kebijakan yang
mengekstraksi kekayaan alam secara besar-besaran, lebih kepada kkebijakan yang serba
melarang dari pada memberdayakan, cenderung mengendalikan, menjaga manusia agar
tidak beranjak dari tempatnya dan mengutamakan tertib masa lalu dan status quo dari ada
masa depan.

BAB. II

Pemaknaan

Page | 76
Pada bab ini di awali dengan beberapa pertanyaan mendasar ; makhluk apakah
kebijakan publik itu?, uuntuk apa dibuat atau dirumuskan?, siapa yang bertanggung jawab
merumuskan?. Apa tujuannya? dan seterusnya. Pertanyaan tentang kebijakan publik adalam
pertanyaan sepanjang masa karena kebijakan publik tetap ada dan terus ada sepanjang masih
ada negara yang mengatur kehidupan bersama. Artinya kebijakan publik merupakan
kebutuhan yang mendasar dalam kehidupan bernegara. Sebuah kehidupan bersama harus
diatur. Tujun satu ; supaya satu dengan yang lainnya tidak saling merugikan.

2.1. Definisi Kebijakan Publik

Kita bisa menemukan lebih dari selusin definisi dari kebijakan publik, dan tidak ada dari satu
definisi tersebut yang keliru, semuanya saling melengkapi. Yang perlu dicatat adalah
beberapa ilmuan Indonesia menggunakan istilah Kebijaksanaan sebagai kata ganti dari
policy. Namun perlu ditekankan, kebijaksanaan bukanlah kebijakan, karena (ke)bijaksana(an)
adalah salah satu ciri dari kebijakan publik yang unggul.

Riant Nugroho, secara sederhana mengatakan bahwa kebijakan publik adalah :

setiap keputusan yang dibuat oleh negara, sebagai strategi untuk merealisasikan tujuan
dari negara. Kebijakan publik adalah strategi untuk mangantarkan masyarakat pada masa
awal, memasuki masyarakat pada masa transisi, untuk menuju kepada masyarakat yang
dicita-citakan.

Gambar kebijakan publik menurut Riant Nugroho

Untuk mengetahui bahwa itu adalah kebijakan publik, kita dapat melihatnya pada matriks
berikut ini :
Negara/publik Masyarakat
organisasi

Lingkup isu / masalah

Pribadai dan/atau golongan Masyarakat / bersama


Organisasi

Page | 77
Kuadran II
Kuadran I
Gotong royong
Perusahaan merekrut
Membersihkan saluran
pegawai
air
Kuadran IV
Kuadran III Kebijakan publik
Tindak kejahatan yang Air bersih, sanitasi
Memerlukan lembaga publik,
Peradilan negara limbah transportasi kota,
angkutan umum, dll

2.2. Bentuk Kebijakan Publik

Riant Nugroho mengatakan, secara generic terdapat empat jenis kebijakan publik, yaitu :

1. Kebijakan formal
2. Kebiasaan umum lembaga publik yang telah diterima bersama (konvensi)
3. Pernyataan pejabat publik dalam forum publik
4. Perilaku pejabat publik

Kebijakan formal adalah keputusan keputusan yang dikondifikasikan secara tertulis dan
disahkan atau diformalkan agar dapat berlaku. Kebijakan formal dikelompokan menjadi tiga
bentuk, yaitu :

1) Perundang-undangan
Kebijakan publik berkenaan dengan usaha usaha pembangunan nasion, baik
berkenaan dengan negara maupun masyarakat.

2) Hukum
Aturan yang bersifat membatasi dan melarang yang tujuaannya adalah untuk
menciptakan ketertiban publik.
3) Regulasi
Regulasi berkenaan dengan asset dan kekuasaan negara oleh pemerintah sebagai
wakil lembaga negara kepada fihak non-pemerintah, termasuk di dalamnya lembaga
bisnis dan nirlaba.

Bentuk kedua dari kebijakan publik adalah konvensi atau kebiasaan atau kesepakatan umum.
Kebiasaan ini biasa ditumbuhkan dari proses manajemen organisasi publik, upacara rutin,
SOP-SOP tidak tertulis atau tertulis tetapi tidak diformalkan.

Page | 78
Bentuk ketiga adalah pernyataan pejabat publik di depan publik pernyataan pejabat publik
harus dan selalu mewakili lembaga publik yang diwakili atau dipimpinnya.

Bentuk keempat adalah perilaku pejabat publik. Bentuk ini dimulai dari gaya kepemimpian
Gestur pimpinan ditirukan oleh seluruh bawahannya. Ketika seorang pejabat pemerintah
memberikan mimic yang masam kepada mahasiswa, maka pejabat-pejabat dibawahnya akan
mengimitasi gerak-mirik-gaya tersebut.

Dari bentuk-bentuk diaatas hendaklah kita berikan focus pada peraturan terkodefikasi, karena
pernyataan pejabat pulik dan gesture pejabat publik perlu dibahas secara khusus berkenaan
dengan isu kompetensi dan kapasitas individual dari pejabat publik.

2.3. Jenis Kebijakan

Anderson (2011) mempromosikan lima jenis kebijakan publik, yaitu :

1. Contistuent
2. Distributive
3. Regulatory
4. Self regulatory
5. Redistributive

Menurut Theodore Lowi/ kebijakan constituent difahami sebagai berikut :

constituent policies are policies formally and explicitly concern with the establishment of
government structure, with the establishment of rules (or procedures) for the conduct of
government, of rules that distribute or divide power and jurisdiction within which present
and future government policies might be made. kebijakan konstituen adalah kebijakan resmi
dan eksplisit keprihatinan dengan pembentukan struktur pemerintahan, dengan pembentukan
aturan (atau prosedur) untuk pelaksanaan pemerintahan, aturan yang mendistribusikan atau
membagi kekuasaan dan yurisdiksi di mana kebijakan pemerintah sekarang dan masa depan
mungkin dibuat.

Ini adalah jenis kebijakan yang membuktikan keberadaan negara, termasuk didalamnya
kebijakan tentang keamanan negara.

Kebijakan distributive adalah kebijakan yang berkenaan dengan alokasi layanan atau manfat
untuk segmen atau kelompok masyarakat tertentu dari suatu populasi.

Page | 79
Kebijakan regulatory adalah kebijakan yang memakskan batasan atau larangan perilaku
tertentu bagi individu maupun kelompok.

Kebijkan self regulatory hamper sama dengan regulatory, hanya kebijakan dirumuskan oleh
pelakunya. Misalnya kebijakan tentang praktek dokter bagi mereka yang menjadi anggota
dokter professional.

Kebijakan redistributive berkenaan dengan upaya pemerintah untuk memberikan pemindahan


alokasi kesejahteraan, kekayaan, atau hak-hak kelompok tertentu di masyarakat, yaitu
kelompok kaya atau sejahtera, ke kelompok lain, yaitu kelompok miskin atau berkekurangan.

2.4. tujuan Kebijakan Publik

Kebijaka publik adalah keputusan otoritas negara yang mempunyai tujuan untuk mengatur
kehidupan bersama.

Pemilahanan pertama dari tujuan kebijakan adalah absorbtif vs distributive

Kebijakan absorbtif adalah kebijakan yang menyerap sumberdaya, terutama sumberdaya


ekonomi dalam masyarakat untuk dijadikan modal atau biaya untuk mencapai tujuan bersama
(Kolb,1978:226).

Kebijakan distributive, yaitu kebijakan yang secara langsung atau tidak langsung alokasi
sumberdaya-sumberdaya material maupun non material ke seluruh masyarakat
(Kolb,1978:226).

Pemilahan kedua adalah regulative vs deregulatif

Kebijakan regulative bersifat mengatur dan membatasi, seperti kebijakan tariff, kebijakan
pengadaan barang dan jasa, kebijakan HAM, kebijakan proteksi industry, dan sebagainya.

Kebijakan deregulatif bersifat membebaskan, seperti kebijakan privatisasi, kebijakan


penghapusan tariff, dan kebijakan pencabutan daftar negative investasi.

Pemilahan ketiga adalah dinamisasi vs stabilisasi

Kebijakan dinamisasi adalah kebijakan yang bersifat menggerakan sumberdaya nasion untuk
mencapai kemajuan tertentu yang dikehendaki. Misalnya, kebijakan desentralisasi, kebijakan
zona industry ekslusif, dan lain-lain.

Page | 80
Kebijakan stabilisasi bersifat mengerem dinamika yang terlalu cepat agar tidak merusak
system yang ada, baik system politik, keamanan, ekonomi, dan social.

Dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik selalu mengandung multi fungsi, untuk
menjadikan kebijakan publik itu sendiri menjadi kebijakan yang adil dan seimbang guna
mendorong kemajuan dalam kehidupan bersama. Meskipun pemahaman ini adalah penting
namun hal yang lebih penting lagi bagi pemerintah atau lembaga publik adalah berkenaan
dengan perumusan, implementasi, dan evaluasi kebijakan itu sendiri.

2.5. Kebijakan Pembangunan

Hal yang pertama perlu disadari dalam pembahasan bahwa kebijakan memerlukan
sumberdaya atau risorsis. Keterbatasan sumberdaya memaksa kebijakan di setiap negara,
khususnya negara berkembang dibangun berdasarkan prioritas-priotas.

Apa yang dikerjakan oleh pemerintah Indonesia dalam membangun guna pulih dari krisis
adalah meninggalkan paradigm pembangunan sebagai politik kea rah pembangunan
sebagai manajemen dengan pertama kali meletakan prioritas. Untuk Indonesia, prioritasisasi
dapat disusun sebagai berikut :

Prioritasisasi untuk Indonesia

Penting Kurang penting

Kuadran I Kuadran II
Mendesak
Pemulihan ekonomi Penegakan hukum
Dan pemberdayaan dan ketertiban
Ekonomi rakyat Umum

Kurang
mendesak Kuadran III Kuadran IV
Rekonsiliasi Pembangunan
Kekuatan-kekuatan Social dan
Politik Kemasyarakatan

Page | 81
BAB III

Admnistrasi Publik

Dewasa ini tidaklah mudah mendefenisikan Administrasi Publik. Ada tiga alasan pokok.

1. Karena begitu banyak pengertian administrasi publik


2. Kalaupun administrasi publik hanya dianggap ilmu usaha negara maka urusan negara
di hari ini berkembang dibanding negara di masa lalu
3. Administrasi negara semakin menemui kenyataan akan kompleksitas sebagai akibat
keluasan dan kerumitan di dalam misinya dengan munculnya konsep
kepemerintahan yang baik.

Pengelolaan negara
Dengan globalisasi dan kondisi persaingan yang hampir dapat dikatakan tanpa kendali baik
dari sisi ruang, waktu dan sang pengendali sendiri maka tugas negara bukan lagi bersifat
rutin, reguler, atau tata usaha melainkan membangun keunggulan kompetitif nasional.

Page | 82
Output dari administrasi negara bukan saja sesuatu yang mengatur kehidupan bersama
warganya, namun untuk membangun kemampuan organisasi di dalam lingkup nasional untuk
menjadi organisasi-organisasi yang mampu bersaing dengan kapasitas global.

Reklasifikasi
Pada prinsipnya oemahaman berawal dari kegiatan pokok manusia yaitu kegiatan yang
bersifat sosial yaitu yang tidak semata-mata bertujuan mengumpulkan keuntungan ekonomi,
dan kegiatan yang b ersifat ekonomi yang bertujuan pokok mencari keuntungan ekonomi.
Kegiatan ini yang mendorong manusia untuk membangun kerjasama dan persaingan.

Tata Kelola yang baik atau Kepemerintahan yang baik


Administrasi publik dalam kontes kepemerintahan yang baik ini kemudian menyangkut
negara dan seluruh aktor atau lembaga-lembaga yang terkait di dalam sistem politik di
dalamnya. Secara sederhana pemahaman ini dapat digambarkan dalam empat tingkatan
pokok.
1. Kepemerintahan global (Global Governance)
2. Negara Bangsa (Governance)
3. Negara (Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif)
4. Pemerintahan (Goverment)

Birokrasi

Pemahaman administrasi publik dalam makna birokrasi menjadi pandangan tradisional


pemahaman tentang administrasi publik. Birokrasi dalam hal ini dimaksudkan sebagai
Pegawai Negeri Sipil. Kajian tentang birokrasi tidak saja memberikan fokus kepada
perilakunya, melainkan lebih kepada formal yang ada menginagt arah kajian adalah
memahami struktur formal birokrasi kepada pelakunya.

Pemerintah atau Eksekutif

Defenisi administrasi publik sebagai pemerintah atau eksekutif yang dikembangkan oleh
Michael P Barber yang menyatakan bahwa Administrasi publik adalah sebuah cara dimana
tujuan pemerintah dicapai.

Negara

Sektor negara atau negara dinilai sebagai lembaga yang mengelola urusan-urusan pelayanann
publik yaitu yang bersifat melayani masyarakat, apapun bentuk dan prosesnya. Pelayanan
tersebut dapat dilakukan dalam bentuk penyusunan kebijakan politik yang diselenggarakan

Page | 83
oleh legislatif, melaksanakan kebijakan yang diselenggarakan oelh eksekutif, serta pelayanan
pengendalian implementasi kebijakan yang diselenggarakan oleh legislatif.

Negara-Masyarakat : Kepemerintahan yang baik

Gagasan ini diperkuat dengan munculnya konsep pengelolaan negara atas dasar
kepemerintahan yang baik yang mendukung adanya kemitraan (partnership) antara negara
dan masyarakat yag menyebabkan makna administrasi publik berkembang menjadi kegiatan
kemitraan antara negara dan masyarakat.

Kepemerintahan Global

Di dalam era globalisasi lembaga-lembaga dunia mempunyai pengaruh yang lebih kuat
dibanding waktu-waktu sebelumnya dengan demikian sektor publik dalam era globalisasi
meluas tidak hanya ditingkat nasional, melainkan mencakup regional, dan global karena pada
hari ini kebijakan-kebijakan politik suatu negara semakin dipengaruhi oleh keputusan-
keputusan yang dibuat oleh lembaga-lembaga global tersebut

Makna pemerintahan

Bahwa kebijakan publik adalah segala sesuatu yang dikerjakan atau tidak dikerjakan
pemerintah, dan pemerintah disini adalah negara.

Page | 84
BAB IV

Arti Penting Kebijakan Publik

Donald F. Kattl (1996,9-15) mengemukakan bahwa memasuki millenium ketiga,


adminisyrasi publik menghadapi tiga isu kritikal yaitu : berkenaan dengan struktur
administrasi publik dengan tantangan menguatnya swasta dan menyusutnya pemerintahan
(Base government is Least Government) proses administrasi publik yang memperhadapkan
kenyataan bahwa sumber devisit terbesar disetiap negara adalah proses penyelengggaraan
administrasi publik : Nilai, yaitu yang berkenaan antara lain dengan munculnya ikon
enterpreneurial government dan kapasitas yang berkenaan dengan isu kecakapan dari
administratur publik memanejemeni urusan-urusan publik.

Konteks persaingan global, maka tugas sektor publik adalah membangun lingkungan
yang memungkinkan setiap aktor, baik binsis maupun nirlaba, untuk mampu
mengembangkan diri menjadi pelaku-pelaku yang kompettitif, bukan hnya sevara domestik,
melainkan global. Lingkunagn ini hanya dapat diciptakan oleh kebijakan publik, tidak lain.

Page | 85
Kebijakan Publik yang terbaik adalah yang mendorong setiap warga masyarakat untuk
membangun daya saingnya masing-masing, dan bukan semakin menjerumuskan ke dalam
pola ketergantungan.

Inilah makna strategis dari administrasi publik, dan kenapa administrasi publik
menjadi teramat strategsi dalam menghadapi mellenium ketiga. Jika kita telah memahami
administrasi publik, maka pada bagian ini kita akan mencoba memahami tentang arti penting
kebijakan publik itu sendiri. Pemahaman ini diperlukan sebelum memasuki tiga hal yang
penting di dalam kebijakan publik, yaitu : perumusan kebijakan, implementasi kebijakan, dan
evaluasi kebijakan.

Kebjiakan Publik untuk Indonesia

Setiap hal ada di dunia pasti ada tujuannya. Demikain pula kebijakan publik, hadir
dengan tujuan tertentu yaitu untuk mengatur kehidupan bersama seperti yang dikemukakan di
atas untuk mencapai visi dan misi yang telah disepakati bersama.

Dari gambar di atas jelas bahwa kebijakan publik adalah jalan mencapai tujuan bersama yang
dicita-citakan. Jika cita-cita bangsa Indonesia adalah mencapai masyarakat yang adil dan
makmur berdasarkan pancasila (Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan
Keadilan) dan UUD 1945 (negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan hukumdan
tidak semata-mata kekuasaan), maka kebijakan publik adalah seluruh prasarana (jalan,
jembatan, dsb) dan sarana (mobil, bahan bakar, dsb) untuk mencapai tempat tujuan
tersebut. Dari sini kita bisa meletakkan kebijakan Publik sebagai Manajemen pencapaian
tujuan nasional dapat kita simpulkan : 1. Kebijakan publik mudah untuk dipahami karena
maknanya adalah hal-hal yang dikerjakan untuk mencapai tujuan nasional 2. Kebijakan
publik mudah diukur karena ukurannya jelas yakni sejauh mana kemajuan pencapaian cita-
cita sudah ditempuh.

Jenis-Jenis

Pembagian pertama dari kebijakan publik dijabarkan dalam makna dari kebijakan publik,
yaitu :

Hal-hal yang diputuskan pemerintah untuk dikerjakan dan hal-hal yang diputuskan
pemerintah untuk tidak dikerjakan atau dibiarkan.Pemerintah memutuskan untuk
memasuki usaha-usaha ekonomi persenjataan, perpupukan, penerbangan, namun tidak

Page | 86
memili8h usaha ekonomi lain yang bersifat besar dan menghasilkan laba besar, seperti
consumer goods, industri pulp dan paper, minyak goreng. Kedua pilihan ini adalah
kebijakan publik yang diputuskan pemerintah. Mengapa ada BUMN yang mengelola
persenjataan, telekomunikasi, pelabuhan besar, bandar udara ? karena usaha-usaha
tersebut bersifat strategis secara politik keamanan. Pada waktu perang, usaha-usaha
tersebut tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Sementara, pabrik mie instant,
pembuatan bubur kayu, industri kayu lapis, garmen, elektronika, meskipun
menghasilkan keuntungan besar akan tetapi tidak bersifat strategis, maka pemerintah
tidak mengambilnya. Privatisasi BUMN pada dasarnya tidak ditunjukkan untuk
mengisi kas anggaran seperti yang dilakukan Inodesia saat ini, melainkan untuk
membuat kegiatan pemerintah hanya fokus kepada masalah-masalah yang paling
strategis atau yang tidak strategis, namun tidak bisa dikerjakan oleh masyarakat, baik
karena investasinya besar, resiko terlalu besar, atau karena memang labanya tidak
menarik.

Mekanisme kebijakan public


Kebijakan publik sebenarnya dapat disebut sebagai Hukum dalam arti luas jadi
sesuatu yang mengikat dan memaksa UUD 1945 Bab 1 tentang bentuk dan kedaulatan
pasal 1 ayat 3 menyebutkan bahwa negara indonesia adalah negara hukum. Kesepakatan
nasioanl tersebut diperkuat dalam penjelasan UUD 45 pada sistem pemerintahan negara
yang menyebutkan bahwa negara indonesia berdasarkan hukum (Richs Staate), tidak
berdasarkan atas kekuasaan belaka (mach staate).

Kebijakan Publik Paling Dasar


Sebuah contoh seperti diketahui dalam masyarakat, terdapat tiga jenis tugas pokok
(bahkan bisa disebut sebagai misi) yang diperlukan agar masyarakat hidup, tumbuh, dan
berkembang, yaitu tugas pelayanan, tugas pembangunan, tugas pemberdayaan. Ketiga tugas
ini dilaksanakan oleh organisasi-organisasi yang memang dilahirkan untuk tugas-tugas
tersebut. Setiap organisasi mengemban suatu tugas dan kemudian menjadi misi atau raison
detre atau alasan keberadaan. Pembagiannya sebagai berikut :
1. Tugas pelayanan (Publik) adalah tugas memberikan pelayanan kepada umum tanpa
membeda-bedakan dan diberikans secara Cuma-Cuma atau dengan biaya sedemikain
rupa sehingga kelompok paling tidak mampu pun mampu menjangkaunya. Tugas ini
diemban oleh negara yang dilaksanakan melalui salah satu lengannya, yaitu lengan
eksekutif (pelaksana, pemerintah).

Page | 87
2. Tugas pembangunan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dari
masyarakat. Tugas ini fokus kepada upaya membangun produktifitas dari msyarakat
dan mengkreasikan nilai ekonomi atas produktifitas ekonomi tersebut. Tugas
pembangunan menjadi mis dari organisasi ekonomi atau lembaga bisnis.
3. Tugas pemberdayaan adalah peran untuk membuat setiap warga masyarakat mampu
meningkatkan kualitas kemanusiaan dan kemasyarakatan. Tugas ini adalah tugas yang
non protif. Organisasi-organisasi nirlaba adalah organisasi yang memiliki kompetensi
pokok (core competence) dibidang pemberdayaan.

BAB V

Studi Perbandingan Kebijakan

Kebijakan publik berbeda dari negara ke negara diawali dari social beliefs on goodness,
menurut Barbara N. McLennan, sebagaimana tabel (model McLennan):
competitive state fragmented state non competitive state
Proses kebijakan yang Proses perumusan Kebijakan publik didikte oleh elit
terbuka di dalam institusi- kebijakan di dalam yang memonopoli kekuasaan
institusi dimana kebijakan institusi formal tidak Monopoli kekuasaan secara
dibuat selalu mencerminkan absolute
Budaya politik dewasa proses yang Negara otokratik
Kekuasaan tidak terdistribusi sesungguhnya
secara tradisional Kekuasaan
Negara demokratik dan maju terdistribusi secara
tradisional
Negara transisi
Perbandingan kebijakan publik menurut aras politik ekonomi yang bersifat domestik, dengan
pemilah kualitas demokrasi dan kemajuan di negara tersebut, dengan matriks sebagai berikut:

maju

Page | 88
Kuadran 3 Kuadran 1
otoritarian demokratik

Kuadran 4 Kuadran 2

terbelakang

Terdapat empat kuadran negara-negara dapat dikelompokkan; kuadran pertama demokratis


maju, kuadran kedua negara demokratis namun terbelakang, kuadran ketiga negara tidak
demokratis/otoritarian tetapi maju, dan kuadran keempat negara tidak demokratis dan dan
terbelakang. Detil dari masing-masing kuadran dirinci sebagai berikut:

maju

Kuadran 3b Kuadran 1b

1a
3a
otoritarian Kuadra demokratik
n
K
transisi
4b 2b

Kuadran 4a Kuadran 2a

terbelakang

Mengikuti Heidenheimer, studi perbandingan kebijakan berkenaan dengan how, why, and to
what effect different governments pursue particular course of action and inaction.
Studi perbandingan kebijakan publik menurut Paul Sabatier, kebijakan model agenda yaitu
pemerintah mengangkat kebijakan sesuai prioritas isu tanpa memandang partai yang
berkuasa. Kedua, kebijakan model mandat dan ideologi, kebijakan yang berkembang adalah
kebijakan yang sesuai dengan partai yang berkuasa dan/atau kelompok yang berkuasa, secara
komparatif sesuai tabel:
Kebijakan Model Agenda dan model Ideologi Sabatier:
Model Agenda Model Ideologi
Pragmatis, sesuai dengan isu publik terkini Sesuai dengan ideology partai

Masyarakat sekuler, demokratis maju sepert Masyarakat agamis, atau tradisional atau
AS, Jerman, Belgia, Inggris transisional, demokratis dalam transisi atau

Page | 89
simbolik, seperti Indonesia pada masa awal
kemerdekaan
Tidak ada beda antara buruh-konservatif Partai Islam membawa ideology syariah,
atau Republik-demokrat partai nasionalis membawa sentimen
nasional, partai komunis membawa
komunisme
Lebih kepada how daripada what Lebih kepada what daripada who

BAB VI
Konvergensi, Dominasi dan Konsolidasi dan Integrasi Kebijakan Publik

Konvergensi
Bentuk pertama dari fenomena kemenyatuan kebijakan publik antar negara adalah
penyamaan atau pemiripan yang bersifat sukarela disebut sebagai konfergensi kebijakan
publik.
Konvergensi kebijakan adalah sebuah gerakan pengembangan kebijakan dari dua tau lebih
negara yang terjadi secara sukarela, karena terjadi proses saling belajar, berbagi
pengetahuan, berbagi pengalaman, yang menghasilkan suatu penyamaan atau
penyerupaan kebijakan antar negara. Contoh 1. Pada tahun 1980an, Korea Selatan, Jepang,
Malaysia, dan Singapura membangun sistem kebijakan jaminan keamanan sosial yang
cenderung sama, karena mereka belajar satu sama lain. 2. Pada saat ini Indonesia, Jepang,
Korea Selatan, Taiwan, dan Cina cenderung mempunyai kebijakan kurikulum pendidikan
yang sama atau serupa, yaitu memberi materi pelajaran sebanyak-banyaknya kepada siswa,
dan mengembangkan kondisi persaingan antar siswa melalui sistem evaluasi belajar yang
bersifat ekstrim.

Dominasi
Dominasi yaitu dimana suatu kebijakan publik negara mempengaruhi kebijakan
publik di negara lain secara dominan. Contoh : bentuk dominasi kebijakan terjadi antar
daerah otonom pada suatu daerah. Kabupaten-kabupaten dan kota di Indonesia cenderung
yang mempunyai perda yang sama satu sama lain karena terdapat kebijakan di tingkat pusat
yang mengamanatkan kebijakan tertentu kepada daerah otonom di bawahnya.

Page | 90
Konsolidasi Kebijakan
Kondisi dimana kebijakan dari berbagai negara menjadi satu karena ada penyatuan
kawasan antar negara yang bersifat sukarela. Kebijakan konsolidasi terjadi pada kebijakan-
kebijakan tunggal dikawasan kawasan amerika utara dalam koloni NAFTAH (North America
Free Trade Area), kebijakan perekonomian kawasan negara negara Asia Tenggara yang
tergabung dalam ASEAN, hingga kebijakan tentang hak azasi manusia bernaung di dalam
piagam PBB tentang hak-hak azasi manusia.

Integrasi Kebijakan
Negara-negara tertentu sepakat untuk menyatukan kebijakannya menjadi satu
kebijakan tunggal lintas negara. Contoh : Fenomena tunggal yang ditemukan saat ini adalah
kebijakan uni eropa. Uni eropa menjadi sebuah sistem Supra Nasional dimana sejumlah
kebijakan ditetapkan melalui musyawarah dan mufakat diantara negara-negara anggota, dan
dibidang-bidang lainnya, lembaga-lembaga organ yang bersifat supra nasional menjalankan
tanggung jawabnya tanpa perlu persetujuan anggota-anggotanya.

Page | 91
BAB VII
Menuju Kebijakan Publik Ideal

Setiap kebijakan harus mengandung unsur pragmatisme dan untung rugi,


pemahamannya diletakkan di dalam konteks etikal yaitu tentang nilai kebaikan dan
keburukan. Pragmatisme lebih mengacu kepada keharusan dari setiap ide untuk merujuk
kepda konsekuensi implementasinya. Pragmatisme lebih dekat dengan goal setting theory,
yakni bahwa setiap tindakan harus mengacu kepada suatu tujuan (Molan, 2001:65).
Pragmatisme harus bersifat etis dan strategis. Etis artinya sifat pragmatis ditujukan
untuk kepentingan publik dan bukan elit. Bukan pula sekelompok atau segolongan orang
saja. Pragmatisme strategis mengacu kepada tiga ukuran :
1. Tujuan, menjadikan rakyat berdaya, yaitu rakyat mempunyai kemampuan untuk
membangun diri sendiri secara individual maupun berkelompok tanpa terlalu banyak
memerlukan uluran tangan pemerintah.
2. Tantangan saat ini dan hari depan, kemerosotan indonesia disebabkan masyarakat diberi
daya dan kemampuan tetapi daya dan kemampuan untuk hidup di zaman pra
globalisasi.
3. Sumber daya yang dimiliki, prinsip ini setara dengan prinsip manajemen yakni
optimalisasi risorsis atau sumber daya.
Dalam Reinventing Pembangunan (Dwidjowijoto, 2003) dikemukakan bahwa
paradigma pembangunan harus berubah dari paradigma politik ke paradigma manajemen.
Perbedaan pokok antara perspektif politik dan perspektif manajemen terletak pada ruh dari
masing-masing. Ruh dari politik adalah berkenaan dengan kekuasaan, dan kekuasaan selalu
tunggal, dan diperebutkan diantara kelompok-kelompok politik yang saling bersaing satu
sama lain. Dalam praktek pembangunan dalam paradigma politik bermakna ganti penguasa

Page | 92
ganti peraturan karena peraturan adalah bukti kekuasaan dan kekuasaan is the core of the
politics. Ruh dari manajemen adalah kontinuitas. Di negara-negara maju pembangunan yang
diselenggarakannya berlangsung dalam sebuah kontinuum, sekalipun terjadi pergantian
kekuasaan dan pergantian aliran politik penguasa. Dalam konteks ini dapat dilihat bahwa
politik masuk di dalam paradigma manajemen.
Ada beberapa prinsip pokok yang dapat dipergunakan sebagai acuan dalam manajemen
sebagai paradigma pembangunan yaitu :
1. Prinsip kerjasam tim antara tingkat administrasi publik dan perangkat pendukung di
daerah
2. Prinsip pengkreasian nilai, bahwa hasil akhir dari proses kerjasam tim adalah
kemanfaatan optimum bagi para pemegang saham yaitu rakyat di daerah.
3. Prinsip kesinambungan, bahwa siapapun kelak yang menjadi penguasa baru, tugas
pertamanya bukan membongkar kembali bangunan yang dibuat pendahulunya
melainkan melanjutkan atau minimal mengkapitalisasi aset produktif yang ditinggalkan
pendahulunya.
4. Konsistensi dalam penyelenggaraan pembangunan yang dimulai dari visi dan misi,
dilanjutkan strategi, implementasi dan ditutup dengan kontrol atau pengendalian.
5. Prinsip negara (pemerintah) kuat dan masyarakat kuat.

Kebijakan publik yang ideal adalah kebijakan publik yang membangun keunggulan bersaing
dari setiap pribadi rakyat Indonesia (laki-laki dan perempuan tanpa membedakan) setiap
keluarga Indonesia, setiap organisasi baik masyarakat maupun pemerintah (sendiri), baik
yang mencari laba atau yang nirlaba.. Kondisi setiap negara berada dalam tatanan persaingan
global yang berbeda dengan kondisi sebelumnya. Tugas negara berubah dari sekedar tugas
yang bersifat rutin, reguler ata tata usaha, melainkan membangun keunggulan kompetitif
nasional. Output dari kebijakan publik bukan saja sesuatu yang mengatur kehidupan bersama
warganya, namun untuk membangun kemampuan organisasi di dalam lingkup nasional untuk
menjadi organisasi-organisasi yang mampu bersaing dengan kapasitas global. Keunggulan
kompetitif tidak lain adalah produktifitas, tugas pemerintah adalah menciptakan suasana yang
mendukung produkivitas.

Page | 93
BAB 8

PERAN KEPEMIMPINAN DALAM KEBIJAKAN PUBLIK

Kepemimpinan atau leadership adalah isu pribadi manusia dan kemanusiaan. Louis
Allen mengemukakan secara jenial, katanya the great question question of our times is how
to reconcile and integrate human effort so people everywhere can good and not thei common
disaster. The answer largerly upon on the capabilities of leaders in all positions in all segment
of society (1964: 1). Pemimpin adalah pemimpin yang pada akhirnya menentukan apakah
sebuah bangsa menjadi besar atau kerdil. Jujur saja, hingga hari ini masala indonesia, dan
sebagian besar negara berkembang, adalah masalah pemimpin; tentang kegagalan untuk
memiliki pemimpin yang unggul di setiap sektor, mulai di pemerintahan, dunia usaha,
maupun lembaga nirlaba. Mulai pusat hingga daerah. Sejak jabatan pimpinan puncak hingga
pimpinan madya. Kejatuhan banyak negara berkembang sebagian besar dikarenakan oleh
krisis kepemimpinan dan dilanjutkan dengan munculnya kepemimpinan yang kurang cukup
tanggah untuk memimpin proses pemulihan.

Pergeseran peradaban

Masyarakat mengalami berbagai perubahan mendasar di dalam cara hidupnya. Daniel


Bell (1956) dan Alvin Toffler (1970) menggambarkan peradaban masyarakan bergeser dari
peradaban pertanian, ke peradaban industri, dan peradaban, yaitu peradaban individual yang
menjadi ciri dari masyarakat primitif/berburu dimana keindividualan ditunjukkandari
egoisme individu dan kelompok, sama seperti yang ditunjukkan oleh hewan-hewan jenis
pemburu. Pada era ini masyarakat belum dapat dikatakan hadir, yang ada hanya embrio-
embrionya dalam bentuk kelompok-kelompok. Kelompok-kelompok ini akan berkembangan
menjadi suku-suku. Pada era ini kehidupan sosial dapat diibaratkan mahluk satu sel atau
amoeba, mahluk hidup pimitif.

Page | 94
Peradaban kedua adalah peradaban penyuban di mana telah terbentuk masyarakat
adan dikelola dalam asosiasi-asosiasi sukarela, tidak ada ikatan baku, dan tidak ada struktur
yang melembada. Pada era ini masyarakat berada pada era pertanian dan industrialisasi awal.
Mengikuti Drukcer (1974, 1998) peradaban masyarakat disini adalah peradaban avertebrata
atau bintang tanpa tulang belakang. Jenis binatang ini misalnya moluska dengan salah satu
contohnya adalah bekicot.

Karakter kepemimpinan

Pada dasarnya, terdapat lima karakter kepemimpinan yang unggul, yaitu karakter,
kreadilitas, nilai keteladanan, dan kemampuan memberikan dan menjadi bagian dari harapan

1. Pertama adalah karakter. Pemimpin adalah produl: terunggul di lingkungannya.


2. Kedua adalah kredibilitas. Di barat syarat utama untuk menjadi seorang pemimpin,
seperti hasil penelitian James Kouzes dan Barry Z Posner (1997), kreadibilitas .
3. Ketiga adalah nilai. Tugas kepemimpinan adalah memberikan value atau nilai bagi
organisasi yang dipimpinnya.
4. Keempat adlah keteladanan. Ki Hajar Dewantara mengajarkan ing ngarso sung
tuladha, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani. Meski ketiganya
memberikan inspirasi, dan di belakang mendorong, pada prinsipnya kesemuanya
bermuara pada satu hal; keteladanan.
5. Kelima adalah harapan. Pemimpin harus memberikan harapan.

Peran pemimpin
Sedemokrasi apapun formulasi kebijakan publik, pada akhirnya yang memutuskan
adalah pemimpin. Manajer-manajer lebih berperan sebagai pelaksana atau lebih banyak
menjadi bagian dari implementasi kebijakan dan tidak pada keseluruhannya. Berbeda dengan
pemimpin yang berada pada setiap tahap. Peran pemimpin begitu vitalnya dalam kebijakan
publik sehingga dapat dikatakan bahwa tanpa pemimpin dengan kepemimpinan yang baik
maka kebijakan dapat di gambarkan sebagai berikut.

Formulasi Implementasi Kinerja


pemimpi pemimpi pemimpi
n Kebijakan n Kebijakan n Kebijakan

Publik Publik Publik

Evaluasi

pemimpi Kebijakan Page | 95


n
Publik
Dari gambar tersebut nampak bahwasystem
Supporting peran pemimpin
Sumber dayadalam kebijakan publik teramat
manusia
vital karena hanya pemimpinlah yang mempunyai tugas pokok memastikan perumusan
Organisasi infrastruktur
kebijakan dibuat sesuai seharusnya das budaya
dukungan sein mendekati
lingkungandas
dll sollen. Demikian pula dalam
dll
implementasi dan evaluasi. Pemimpin adalah the only figur that guarantee the success of the
system and organization. Untuk itulah memang pemimpin dipilih; untuk itulah seorang
pemimpin harus mempunyai berbagai karakter tidak asal manusia dan tidak asal populer.

Alchemy of policy

Akhirnya paran pemimpin dalam kebijakan publik sangat menentukan, karena


berkenaan dengan alchemy of policy. Jadi, sebuah kebijakan publik, jika dimulai dengan
proses kimia yang benar, maka reaksi berantainya (chain reaction) akan berjalan dengan
otonom.

Pikiran yang baik dan jernih

Masyarakat dimanapun berada, memerlukan pemimpin yang memiliki cortex yang


sehat dan berukuran cukup untuk melakukan proses-proses pikir yang rasional, untuk
membuat keputusan-keputusan yang kita sebut sebagai keputusan pikir yang baik dan
jernih, karena yang kita sebut sebagai pikiran yang jernih dan sehat adalah produk pikir
itu sendiri. untuk itu diperlukan pimpinan yang faham akan perlunya menjaga prefrontal
cortexnya dengan baik.

Tahu hendak kemana

Pemimpin-pemimpin yang berhasil bukanlah pemimpin-pemimpin kharismatik.


Mereka yang dipuja karena mereka sendiri, pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang
tahu hendak kemana ia akan pergi membawa para pengikutnya. Soekarno tahu bahwa ia
harus membawa bangsa indonesia untuk merdeka. Ia tahu bagaimananya dan kapannya. Lee
Kuan Yew membawa bangsa singapura dari bangsa yang kumuh, jorok, dan tidak disiplin
menjadi bangsa terkaya dan terhormat di asia tenggara.

Gagasan yang cerdas

Page | 96
Seorang pemimpin yang dapat menggerakkan alchemy of policy biasanya mempunyai
gagasan cerdas berkenaan dengan kebijakan. Soekarno punya gagasan cerdas untuk
mengakali jepang dan kemudian belanda. Bahkan pada saat-saat yang sulit sekalipun.

Menguasai sumberdaya kebijakan publik

Untuk mencapai kondisi yang mencukupin untuk mencapai alchemy of policy, maka
pemimpin perlu menguasai tiga sumberdaya kebijakan publik yang terpenting yaitu:

1. Pertama menguasai pengetahuan yang cukup tentang kebijakan publik


2. Kedua menguasai keterampilan yang cukup untuk menggerakkan aktor-aktor
kebijakan publik
3. Ketiga keberanian yang cukup untuk memanajemeni proses kebijakan publik.

Kesimpulan

Jadi seorang pemimpin organisasi publik (POP) yang mempunyai pikiran yang baik
dan jernih, ditambah ketahuan hendak pergi kemana karena pikiran yang baik dan jernih,
ditambah gagasan yang cerdas sebagai hasil dari hendak pergi kemana karena pikiran yang
baik dan jernih, ditambah penguasaan akan sumberdaya kebijakan publik, yaitu pertama
menguasai pengetahuan yang cukup tentang kebijakan publik, kedua menguasai keterampilan
yang cukup untuk menggerakkan aktor-aktor kebijakan publik, ketiga keberanian yang cukup
untuk memanajemeni proses kebijakan publik, akan mebentuk chai reaction kebijakan publik
yang unggul, dimulai dari keberhasilan membangun rumusan kebijakan, keberhasilan dalam
melaksanakan kebijakan, keberhasilan dalam mengendalikan kebijakan, berhasil membangun
lingkungan yang mendukung kebijakan, dan pada akhirnya mendapatakan kinerja kebijakan
yang unggul.

Page | 97
REVIEW BUKU : PUBLIC POLICY EDISI V
(RIANT NUGROHO) BAGIAN ii
ANALISIS KEBIJAKAN
SEBUAH SAFARI
OLEH :
KELOMPOK 4

1. ASWAN ANSAR

2. MUSTIKA

3. LINDA

4. SULTAN

5. ISMAIL

6. RAHMA

7. AHMAD

8. DEWI

Page | 98
BAB I

PENDAHULUAN

Analisis kebijakan adalah sebuah fakta yang muncul karena adanya perumusan
kebijakan yang tidak memuaskan, Quade(1982). Jadi pada dasarnya analisis kebijakan
merupakan teori yang berasal dari pengalaman terbaik, dan bukan diawali dari temuan,
kajian akademik, atau penelitian ilmiah. Sehingga pengembangan teori analisis kebijakan
kedepannya akan semakin ditentukan oleh keberhasilan dan kegagalan-kegagalan yang
terjadi di lingkungan adminsitrasi publik.

Kepentingan individu, kelompok, dan aliran membuat kebijakan publik lebih banyak
memperjuangkan publik yang terbatas, yaitu para konstituen kekuasaan politik dari pada
masyarakat luas. Suatu hal yang mudah ditemui, pembuatan kebijakan publik tidak banyak
melibatkan analisis kebijakan sehingga tentunya tidak mengherankan ketika kebijakan publik
yang telah dirumuskan acapkali menabrak kebijakan publik yang lain dan bertentangan
dengan kepentingan publik.

Sebagaimana yang telah diketahui, teknokrasi menajdikan proses politik


berkembangmenjadi lebih metodologis, canggih, dan akhirnya menjadi elitis. Hanya mereka
yang memiliki kemampuan luar biasa yang dapat bermain dalam ruang lingkup kebijakan
tersebut. Padahal politik adalah permainan popularisme. Elit politik yang terlalu
menggantungkan diri pada analisis kebijakan dalam membuat kebijakan menghadapi dilema
akan semakin jauh dari konstituennya, terutama yang menghendaki agar kebijakan publik
adalah kebijakan yang pro dan seseuai dengan apa yang mereka kehendaki.

Partai-partai berlatar belakang agama cenderung mengajukan konsep tujuan negara


atas model agama. Sedangkan partai nasionalis lebih cenderung mengajukan konsep
pengelolaan negara dengan cara-cara yang lebih cenderung sosialis. Partai tengah cenderung
memilih jalan kapitalis yang terbatas. Sementara model agenda paling banyak ditemukan

Page | 99
pada negara maju dan negara berkembang yang berada pada kondisi politik yang relatif tidak
demokratis.

B A B II

PEMBAHASAN

2.1. ANALISIS KEBIJAKAN VERSI DUNN

Menurut Dunn, analisis kebijakan adalah suatu aktifitas intlektual dan praktis yang
ditujukan untuk menciptakan, secara kritis menilai, dan mengkomunikasikan pengetahuan
tentang dan di dalam proses kebijakan. Analisis kebijakan merupakan disiplin ilmu sosial
terapan yang menggunakan berbagai metode pengkajian multiple dalam konteks
argumentasi dan debat politik untuk menciptakan, secara kritis menilai, mengkomunikasikan
pengetahuan yang relevan dengan kebijakan.

Terdapat lima prosedur Metode analisis kebijakan mengikuti metode Dunn yang
lazim dipakai dalam pemecahan masalah manusia, yaitu:

1. Definisi : menghasilkan informasi mengenai kondisi-kondisi yang dapat menimbulkan


masalah kebijakan.
2. Prediksi : menyediakan informasi mengenai konsekwensi dimasa mendatang dan
penerapan alternatif kebijakan, termasuk jika tidak melakukan sesuatu.
3. Preskripsi : menyediakan informasi mengenai nilai dan konsekwensi alternatif
kebijakan dimasa mendatang.
4. Deskripsi : menghasilkan informasi tentang konsekwensi sekarang dan masa lalu dari
diterapkannya alternatif kebijakan.
5. Evaluasi : keguanaan alternatif kebijakan dalam memecahkan masalah.

Dunn mengemukakan bahwa analisis kebijakan bermula ketika politik praktis harus
dilengkapi dengan pengetahuan agar dapat memecahkan masalah publik. Analisis kebijakan
mendapatkan tempat yang terhormat pada abad pertengahan ketika muncul profesi
spesialis kebijakan yang diangkat para raja dan bangsawan untuk memberikan nasihat teknis
kebijakan dimana para raja dan bangsawan tersebut tidak mampu.

Page | 100
Analisis kebijakan diambil dari berbagai macam disiplin ilmu dengan tujuan
memberikan informasi yang bersifat deskriptif, evaluatif, dan preskriptif. Sedangkan untuk
menjawab pertanyaan terkait analisis kebijakan, terdapat tiga indikator pertanyaan yang
dapat digunakan, yakni :

1. Nilai yang pencapaiannya merupakan tolak ukur utama untuk menilai apakah suatu

masalah sudah teratasi?


2. Fakta yang keberadaannya dapat membatasi atau meningkatkan pencapaian nilai-

nilai.
3. Tindakan yang penerapannya dapat menghasilkan pencapaian nilai-nilai.

Argumen kebijakan pada dasarnya sejajar dengan argumen ilmu pengetahuan,


argumen kebijakan, dan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu, yang desainatif yakni
argumen kebijakan yang fokus pada fakta-fakta empirik. Evaluatif yakni argumen kebijakan
yang mempersoalkan nilai-nilai, dan advokatif yakni argumen kebijakan yang
mempersolakan tindakan.

Selain metode-metode yang diguanakan dalam melakukan analisis suatu kebijakan,


juga terdapat proses-proses didalamnya. Adapun proses tersebut antara lain:

1. Merumuskan masalah
2. Peramalan masa depan kebijakan
3. Rekomendasi Kebijakan
4. Pemantauan hasil kebijakan
5. Evaluasi kinerja kebijakan

2.2. ANALISIS KEBIJAKAN VERSI WEIMER-VINNING


2.2.1. Perbedaan dan Persamaan

Perencanaan strategis, yang disebut Weimer dan Vining sebagai Classical Planning
adalah upaya untuk menemukan tujuan dan sasaran yang dikehendaki akan dicapai oleh
suatu masayarakat, kemudian menentukan cara yang paling efesien untuk mencapainya.

Jurnalistik sangat dekat sifatnya dengan analisis kebijakan;

1. Jurnalistik dan analisis kebijakan sangat dibatasi oleh waktu (deadline).

Page | 101
2. Jurnalistik dan analisis kebijakan menggunakan cara yang relative sama untuk
mengumpulkan informasi yang relevan dan kontekstual.
3. Jurnalistik dan analisis kebijakan sama-sama dituntut untuk menyajikan secara sangat
komunikatif.

Perbedaan yang mendasar adalah jurnalistik focus kepada isu dan bukan advis atas
isu serta jurnalistik terikat kepada agenda public daripada agenda administrasi public.

2.2.2. Profesi Analis Kebijakan

Sebagai profesionalis kebijakan harus:

1. Mempunyai kompetensi untuk mengumpulkan, mengorganisasikan, dan


mengkomunikasikan informasi di bawah tekanan tenggan tenggat waktu (deadline)
yang ketat dan akses informasi yang terbatas.
2. Meletakkan masalah social di dalam konteksnya
3. Memiliki ketrampilan tehnis yang memungkinkannya untuk membuat prediksi
dengan lebih akurat dan cepat
4. Mempunyai pemahaman yang kuat tentang prilaku politik dan organisasi untuk
memprediksi dan kalau perlu mempengaruhi, adopsi atau penerimaan kebijakan
yang di adviskannya
5. Mempunyai etika dalam bekerja melayani klien

2.2.3. Konsep-Konsep Dasar

Analisis kebijakan dilakukan dengan mengingat dua alas an (rationale) pokok setiap
analisis kebijakan public, yaitu bahwa terjadi (1) kegagalan pasar (market failures), (2)
kegagalan pemerintah (government failure) .Weimar dan vining melihat bahwa empat
kegagalan pasar yang banyak diidentifikasi adalah berkenaan dengan barang public,
ekstenalitas, monopoli natural, daninformasi yang asimetris.

Barang public (dan barang privat) difahami dalam ukuran persaingan dalam
komsumsi (rivalrous consumption) dan kepemilikan yang eksklusif(excludable
ownership).Barang public tidak memiliki kedua karakter tersebut. Eksternalitas adalah setiap
impak nilai (baik positif maupun negative) yang diakibatkan oleh setiap tindakan (baik yang
bersifat produksi atau komsumsi) yang mempengaruhi seseorang yang tidak teribat didalam
pertukaran yang dilakukan secara sukarela didalam proses tersebut.

Page | 102
2.2.4. Dasar-Dasar Analisis kebijakan

Analisis berasal dari kata yunani yang berarti memecah menjadi bagian-bagian. Dengan
menggunakan pendekatan Rasionalis dalam analisis kebijakan menpunyai bagian-bagian:

1. Mendefinisikan permasalahan
2. Menetapkan criteria evaluasi
3. Mengidentifikasi alternative kebijakan
4. Memaparkana lternative-alternatifdan memilih salah Satu
5. Memonitor dan mengevaluasi menfaat kebijakan

2.2.5. Adopsi dan Implementasi

Adopsi adalah ketika advis kebijakan diterima secara legal-formal atau biasa juga
disebut proses legal sedangkan implementasi adalah ibarat perkawinannya. Beberapa
strategi politik agar advisnya diadopsi adalah kooptasi, kompromi dan herestetik dan
retorika. Faktor factor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan impelementasi
adalah :

1. Mengidentifikasi factor factor yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau


kegagalan implementasi
2. Mangantisipasi masalah masalah yang mungkin muncul.

Salah satu metode yang dikembangkan adalah metode Scenario-writing, Weimar dan Vining
menyarankan tiga langkah yaitu :

1. Menulis scenario yang mengacu kepada policy outcome


2. Memberikan kritisi terhadap scenario dari berbagai perspektif kepentingan dan
karakter prilaku
3. Melakukan revisi scenario

2.2.6. Benar dan Baik

Weimar dan Vining menekankan bahwa analis kebijakan harus mampu


mengkontribusikan kebaikan bagi politik. Mengedepankan pertimbangan politik akan
menjadikan advis kebijakan didominasi oleh kepentingan-kepentingan pribadi.

2.3. ANALISIS KEBIJAKAN VERSI PATTON-SAVICKY

Page | 103
2.3.1. Isu Kebijakan dan Model Pemahaman Kebijakan

Isu kebijakan seringkali cenderung merupakan isu politis murni ataupun isu tehnis
murni. Patton-Sawicki memperkenalkan model pemahaman kebijakan sebagai the basic
method of policy analysis and planning. Konsep Basic Analysis atau Basic methods
diterjemahkan sebagai a subset of policy analysis methods, comparing quickly applied but
theoretically sound ways to aid in making good policy decisions.

2.3.2. Syarat dan Analis Kebijakan

Untuk menjadi analis yang unggul Patton-Sawicki mengembangkan 11 kriteria yaitu:

1. Belajar untuk fokus lebih cepat dalam mengambil keputusan inti dalam menghadapi
masalah
2. Memikirkan jenis-jenis kebijakan yang dapat diambil
3. Menggunakan pendekatan yang lebih simple dengan metode yang ada
4. Belajar untuk menghadapi ketidak pastian
5. Gunakan data base.
6. Buatkan analisis yang lebih sederhana dan transparan
7. Lakukan monitoring di lapangan
8. Belajar bagaimana mempengaruhi orang lain
9. Memberikan Client Analysis bukan Decission
10. Memberikan hasil analisa tidak semata seperti jawabanya atau tidak.
11. Menyadari bahwa tidak ada hal-hal yang pasti: "analisis lengkap", "rasional"dan
"mutlak benar"

2.3.3. Profesi Analis Kebijakan

Seorang analis kebijakan tidak hanya sekedar mampu mentransformasikan textbook


menjadi peraktek, namun juga memahami system politik dan proses politik dimana ia
bekerja. Karena itu, analis kebijakan lebih mempunyai karakter entrepreneur dari pada
birokrat.

2.3.4. Proses Analis Kebijakan

1. Mendefinisikan, Verifikasi dan Mendeteksi Permasalah Kebijakan;


2. Establishing Evaluation Criteria;
3. Mengedentifikasi Alternatif;
4. Evaluasi Alternatif Kebijakan;
5. Menyajikan Alternatif Kebijakan;

Page | 104
2.4. ANALISIS KEBIJAKAN DELIBERATIF

2.4.1. Good Governance

Good Governance berasal dari bahasa latin yang berarti tindakan (melaksanakan) tata
cara pengendalian. Governance sebenarnya merupakan konsep yang masih samar.
Pemahaman bahwa Governance adalah demokrasi yang diperluas, di kembangkan dari
konsep Mark Warren dalam jurnal American Political Sience Review yang berjudul
Democratic Theory and self Transformation (1992), yang menggunakan ekspansif
democracy yang menjelaskan bentuk lain dari partisipasi politik dalam demokrasi hari ini.

2.4.2. Analisis Argumentatif

Model deliberatik dikenal juga sebagai model kebijakan argumentatif, yang


merupakan model perumusan kebijakan dengan melibatkan argumentasi-argumentasi dari
para pihak, atau dengan mempelajari argumentasi-argumentasi tertulis dari berbagai pihak
sebagai dasar perumusan.

Model argumentatif atau deliberatik dikembangkan dari keyakinan kaum Sophia di


Yunani kuno yang meyakini, bahwa kebenaran dapat dicapai melalui diskusi dan perdebatan
yang intens diantara para pihak. Koreksi terbesar dari analisis kebijakan moel deliberatif
adalah bagaimana analisis yang dikenal dan dipergunakan secara luas pada saat ini
dikembangkan menjadi model hibrida yang mengadopsi partisipasi publik.

2.5. ANALISIS KEBIJAKAN PRAGMATIK

2.5.1. E.S. Quade

Tujuan dari analisis kebijakan adalah untuk memperbaiki pembuatan keputusan


kebijakan. Quade mengembangkan 5 (lima) elemen dari analisis kebijakan, yaitu tujuan,
alternatif, pengaruh atau impak, kriteria , dan model. Analisis kebijakan yanng berhasil
tergantung kepada keberhasilan siklus berkesinambungan dari formulasi kebijakan, memilih
tujuan, mendesain alternatif, membangun model yang lebih baik, dan seterusnya hingga
klien puas.

Didalam pemahaman analisis kebijakan, tahapan yang perlu diperhatikan adalah :


yang pertama, formulasi yaitu usaha untuk membatasi permasalahan. Kedua yaitu

Page | 105
pencarian, merupakan upaya untuk menemukan alternatif. Dan yang ketiga adalah
peramalan, yaitu melakukan pemetaandi massa depan dimana kebijakan dilaksanakan
dengan mengidentifiksi ketidak pastian yang mungkin terjadi di masa depan.

2.5.2. Meltsner

Meltsner mengembangkan klasifikasi hanya pada enterpreneur, tehnician, dan


politician, karena menurutnya seorang pretender sesungguhnya bukan seorang analisis
kebijakan. meskipun banyak dijumpai dalam bentuk pembisik, pencari muka, dan sejenisnya.

Meskipun isu yang sudah lama diangkat, analisis kebijakan di dalam birokrasi tidak
banyak diterima oleh lembaga administrasi publik. Bitokrasi hanya dianggap sebagai
pelaksana, atau paling banter hanya sebagai perencana, sementara tugas analisis kebijakan
tidak sepatutnya diberikan kepada pekerja birokrat.

2.5.3. Jenkins-Smith

Jenskins-smith memberikan fokus kepada analisis kebijakan dalam proses politik


demokratis. Mereka melihat dari sisi konflik dan koalisi di dalam tim analisis kebijakan, dan
aantara analisis kebijakan dan pengambilan keputusan.

2.5.4. Paul A. Sabatier

Paul A. Sabatier menemukan dua jenis kebijakan dalam politik modern, yakni
kebijakan model agenda, yang dimana Pemerintah mengangkat kebijakan-kebijakan sesuai
dengan prioritas isu tanpa memandang partai mana yang berkuasa. Kedua adalah kebijakan
model mandat (dan ideologi), dimana kebijakan-kebijkan yang berkembang adalah
kebijakan yang sesuai dengan prioritas partai yang berkuasa dan/atau kelompok
konstituennya.

2.6. ANALISIS KEBIJAKAN DALAM ARAS GLOBAL : DARI AKIRA IIDA HINGGA NEO-
INSTITUSIONAL

Kebijakan publik disetiap negara khususnya di Negara berkembang, harus diletakkan


dalam aras global. Akira Iida, dalam Paradigma Theory and Policy Making: Reconfiguring the

Page | 106
Future (2004), menggambarkan kebijakan publik di Negara berkembang sebagai sebuah
konflik antara kepentingan global dan kepentingan domestik.

Pemikiran bahwa dunia telah menjadi satu aliran, yaitu kapitalis, dikembangkan antara
lain oleh Robert Heilbroner, yaitu salah seorang filsuf modern yang paling senior dalam
Fision of The Future (1996) mengatakan bahwa pada abad ke 21 dan masa depan,
kapitalisme adalah satu-satunya sistem yang mengatur relasi ekonomi dunia. Apapun
ketidaksukaan pada sistem kapitalisme, faktanya bahwa kapitalisme adalah kenyataan
sejarah.

Lesther Thurow (1996, the Future of Capitalism) menegaskan bahwa persaingan


dimasa depan bukan lagi persaingan antara kapitalisme dengan sosialisme, melainkan
kapitalisme Amerika, vresus Kapitalisme Jepang, versus kapitalisme Jerman, versus
kapitalisme Singapura, bahkan versus kapitalisme China. Namun kenyataannya saat ini yang
menjadi pertarungan adalah antara Kapitalisme Amerika versus kapitalisme setiap Negara di
dunia.

Pemahaman dari Iida memberikan persepektif baru bahwa kebijakan publik di Negara
berkembang pada saat ini tidak hadir dalam vakum, melainkan dalam suatu persaingan.
Pemahaman ini dapat kita sandingkan dengan pemahaman tentang paradigma Neo-
Institualisme dalam kebijakan publik di Negara berkembang. Vedi R. Hadiz (2004a; 2004b;
200c), mengkritik bahwa kebijakan desentralisasi di Indonesia cenderung terjebak dalam
kebijakan Neo-Institualisme). Sebagaimana yang telah dikemukakan Hadiz, bahwa Neo-
Institualisme adalah sebuah pemikiran dimana Negara seharusnya mengembangkan
kebijakan-kebijakan publik yang pro atau memfsilitasi kekuatan pasar, dimana pasar yang
menjadi penentu perkembangan sosial ekonomi daripada pemerintahan. Pemikiran
dasarnya adalah kebangkitan kembali keyakinan bahwa kebebasan pasar akan menghasilkan
kesejahteraan.

2.7. KRAFT DAN FURLONG: ANALISIS DI ERA KELEBIHAN INFORMASI

Michael E. kraft adalah seorang professor politik dari Universitas Winconsin, dan Scot
R. Furlong adalah partnernya di universitas yang sama. Mereka mengedepankan fakta

Page | 107
bahwa analisis kebijakan dimasa kini diperhadapkan pada analisis yang berlebihan tetapi
kurang kebijaksanaan. Pekerjaan bukan lagi mencari informasi, tetapi membuang informasi.
Setelah itu bahwa analisis kebijakan bekerja pada kondisi information asymmetry, yaitu
pengambilan informasi tidak sebanyak dan sebaik publik.

Kraft dan Furlong mengidentifikasi sejumlah instrumen kebijakan publik berupa


regulasi, manajemen Pemerintahan, pajak dan belanja Negara, mekanisme pasar, serta
pendidikan-informasi-dan persuasi. Regulasi merupakan keputusan Pemerintah yang
mengarahkan perilaku warga Negara (melarang atau meminta melakukan sesuatu), dimana
regulasinya mengandung sanksi, denda, ataupun kurangan akibat dari ketidak patuhan.
Sedangkan manajemen pemerintahan baik secara langsung maupun tidak langsung yang
dikontrakkan kepada pihak ketiga melalui pola privatisasi. Selanjutnya adalah pajak dan
belanja Negara, dalam hal ini Pemerintah menarik pajak bukan saja untuk membiayai
operasionalnya, melainkan juga untuk membiayai kelompok msikin dan rentan, untuk
mempromosikan kegiatan-kegiatan masyarakat untuk melakukan atau tidak melakukan hal-
hal tertentu. Dan yang terakhir adalah mekanisme pasar, yaitu ketika dimana Pemerintah
memutuskan uuntuk melakukan intervensi pasar, atau justru menjauh dari pasar, merupakan
salah satu instrumen kebijakan.

Kraft dan Furlong mengelompokkan kebijakan publik menjadi dua jenis yaitu: kebijakan
kompetitif, yangdiarahkan pada sektor ekonomi-bisnis komersial-dan industri. Dan kedua
adalah kebijakan protektif, yang berkenaan dengan sektor sosial, yang melindungi
kepentingan publik dari aktivitas bisnis. Selain itu, Kraft dan Furlong juga menggambarkan
kondisi memburuknya citra politik dan politisi, sehingga peran analisis kebijakan dan produk
analisisnya hanya sebuah pelumas dalam proses pembuatan keputusan. Kesemuanya
bermuara kepada ketidak puasan publik terhadap kredibilitas Pemerintah untuk
memperjuangkan kepentingan publik daripada kepentingan pemegang kekuasaan.

2.8. PEMAHAMAN ANALISIS KEBIJAKAN DI INDONESIA

Selain pendapat para ilmuwan luar negeri, juga ada bebrapa pemikiran ahli kebijakan
public Indonesia antara lain :

Page | 108
1. AG Subarsono (2005),Merumuskan proses analisa kebijakan dalam sekuensi yaitu antara
lain : Perumusan masalah, Forecasting, Pengembangan alternative kebijakan,
Rekomendasi kebijakan
2. Solichin Abdul Wahab (2002), Menekankan perlunya memperhatikan criteria-kriteria
pokok dalam merumuskan kebijakan, yang merumuskan bagian penting dalam analisis
kebijakan yaitu Nilai-nilai politik, Nilai-nilai organisasi, Nilai-nilai pribadi, Nilai-nilai
kebijaksanaan, Nilai-nilai ideologi.
3. Mustopadidjaya AR (1988), Mengemukakan bahwa analisis kebijakan public adalah
penelitian untuk mendapatkan data dan informasi bertalian dengan persoalan yang di
hadapi, mencari dan menkaji berbagai alternative pemecahan persoalan atau
pencapaian tujuan, dan dilakukan secara multidisipliner.
4. Budi Winarno (2002), Mengemukakan bahwa analisis kebijakan perlu memperhatikan
tiga hal pokok :
a. Focus utamanya mengenai penjelasan kebijakan dan bukan mengenai anjuran
kebijakan yang pantas.
b. Sebab-sebab dan konsekuensi-konsekuensi dari kebijakan public diselidiki dan diteliti
dan dengan mengunakan metodogi ilmiah
c. Analisis dilakukan dalam rangka mengembangkan teori-teori umum yang dapat
diandalkan tentang kebijakan-kebijakan public dan pembentukannya, sehingga dapat
diterapkan terhadap lembaga-lembaga dan bidang-bidang kebijakan yang berbeda.
5. Edi Suharto (2005), Dalam mendefinisikan masalah bijakan Edi Suharto menyarankan
empat para meter masalah strategis yaitu :
a. Factor, yang mempertanyakan apakah masalah tersebut merupakan factor penentu
dalam mengatasi masalah lain yang lebih luas dan dapat diukur.
b. Dampak, apakah respon dalam bentuk kebijakan akan memberikan impak kepada
masyarakat.
c. Kecenderungan, apakah masalah seiring dengan kecenderungan terkini, yaitu
kecenderungan global.
d. Nilai, apakah masalah tersebut sesuai dengan nilai dan harapan masyarakat
setempat.
6. Moekidjat (1995), Mengembangkan pemikiran tentang unsur-unsur pokok dalam analisis
kebijakan yaitu : Tujuan, Alternatif, Pengaruh, Criteria, Model.

Dari safari pemikiran di atas, tidak dapat menemukan jawaban ataupun


pemahaman yang sangat memuaskan. Pertama, para ahli analis kebijakan tidak mempunyai
rujukan filsafat keilmuan tertentu, grand theory tertentu, apalagi paradigm. Ada , beberapa

Page | 109
teori, namun dikembangkan sebagai dedukasi praktek-praktek proses kebijakan yang
berlangsung pada banyak lembaga, pada banyak kasus, dan pada banyak waktu. Jika hanya
sekedar praktek yang di legitimasi sebagai teori, tidakkah analisis kebijakan menjadi sia-sia
dipelajari sebagai ilmu; lebih baik dipelajari sebagai keterampilan.

2.9. PERDEBATAN, KOMPROMI, DAN PEMETAAN

2.9.1. Analisis Kebijakan Sebagai Ilmu

Ada beberapa penjelasan yang dapat di pergunakan untuk memahami Analisis


Kebijakan sebagai ilmu.

a. Perubahan-perubahan yang cepat di dalam praktek, pada akhirnya tidak mampu


diadaptasi oleh ilmu itu sendiri.
b. Analisis kebijakan pada dasarnya adalah teknologi yang ditemukan oleh umat
manusia untuk menyelesaikan masalah tentang bagaimana pengambil keputusan
memastikan bahwa kebijakan yang dibuatnya benar-benar excellent atau unggul.
c. Analisis kebijakan sebenarnya adalah ilmu, yang mempunyai filosofi dan grand
theory-nya sendiri. Namun jarang sekali diungkap, paling tidak secara seminal atau
mempunyai kemungkinan berkembang di masa depan.
d. Pada akhirnya analisis kebijakan adalah sebuah praktek yang benar-benaqr praktek.
Sebagaimana praktek dokter dijaman sekarang.

Pertanyaan besarnya adalah : setiap ilmu mempunyai tingkat keajegan yang sangat
tinggi, namun kebijakan public justru mempunyai ketidak ajegan yang tinggi. Para pakar
analis kebijakan menegaskan dengan sangat tegas, tidak ada satu pendekatanpun yang baik
untuk dilaksanakan dan diterima secara umum.

2.9.2. Pemetaan pemikiran.

Dalam pemetaan pemikiran diperlukan sebuah pola mengambil keyakinan bahwa


analisis kebijakan dapat di laksanakan dengan lebih baik oleh professional analis kebijakan.
Pola ini pada saat ini banyak dilaksakan oleh Negara-negara maju, baik dikawasan Asia,
Eropa, maupun Amerika Utara.

Page | 110
Area yang dapat diberi nama sebagai Kuadran(seperempat lingkaran) politis, adalah area di
mana isu kebijakan berada pada rentang area yang sempit, namun mempunyai tingkat
komflit yang tinggi.

Area yang dapat diberi nama sebagai Kuadran(seperempat lingkaran) Deliberatif adalah
kuadran di mana terdapat isu kebijakan dalam ruang komflik yang kuat, dalam lingkup yang
luas. Komflik di Poso dan Ambon adalah contoh yang paling nyata.

2.9.3. Model lain pemetaan pemikiran tentang analisis kebijakan

Pemilahan model Melvin J. Dubnick dan Barbara A. Bardes (1983). Dubnick dan Baedes
memilah dari tipe analis kebijakannya. Artinya analisis kebijakan tergantung siapa analisnya.

- Jika analisnya adalah ilmuwan, maka motivasinya adalah mencari kebenaran suatu teori,
karenanya pendekatan yang digunakan adalah ilmiah dan mengedepankan obyektivitas.
- Jika analisnya adalah professional, maka motivasinya adalah memperbaiki suatu
kebijakan public, karenanya metode yang digunakan adalah maqnajemen strategis.
- Jika analisnya adalah politisi, maka motivasinya adalah advokasi posisi politiknya, karena
metode yang digunakan adalah metode retorik atau cara membuat pidato politiknya.
- Jika analisnya adalah birokrat, maka motivasinya adalah melaksanakan kebijakan public
secara efisien dan efektif, karenanya metode yang digunakan adalah manajemen.
- Jika analisnya adalah pribadi perorangan dalam masyarakat, maka motivasinya adalah
kepedulian kepada suatu kebijakan public, karenanya metode yang digunakan adalah
campuran atau sesuai kepentingan dan kemampuannya.
Keunggulan dari pemilihan model menurut Dubnik dan Bardes adalah bahwa ia
bersifat praktis, terutama untuk membedakan siapa analis kebijakan dan, karenanya, kita
dapat membaca apa kepentingan di balik hasil analisis tersebut.

2.10. ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK DALAM ARAS KONFLIK

Salah satu hakikat dari kebijakan publik adalah konflik, khususnya dalam rangka
memperebutkan sumber daya politik pada suatu kawasan baik sumberdaya politik yang
berasal dari ekonomi, sosial, budaya, dan lain lain. Kebijakan publik muncul di tengah
konflik, dan sebagian besar untuk mengatasi konflik yang telah, sedang, dan akan terjadi.

Page | 111
Konflik adalah sebuah perbenturan dua atau lebih kekuatan yang dikarenakan sejumlah
perbedaan kepentingan. Kuper & Kuper memilih untuk memahami konflik sebagai suatu
konflik sosial, dalam arti konteks konflik antar kelompok manusia dan bukan antar individu
manusia.

2.10.1. Konflik dan Teori Konflik

Secara umum, dapat dikatakan bahwa teori konflik memahami konflik sebagai sebuah
fakta yang terjadi di dalam sebuah kehidupan bersama yang difahami sebagai sebuah
persaingan memperebutkan sumberdaya dan kesemuanya disebabkan adanya kelangkaan.

2.10.2. Konflik di Negara Berkembang

Landes secara historis memperlihatkan perjalanan kegagalan negaranegara


berkembang untuk mempertahankan kemajuannya, baik dari sisi struktur ekonomi maupun
struktur nilai, dimana ia melihat sejumlah konflik. Namun demikian, dalam pemahaman
politik, maka sebenarnya, kegagalan negara negara berkembang untuk mengejar
ketertinggalannya karena begitu intens konflik di dalamnya. Bagi negara berkemban, paling
tdk terdapat lima jenis konflik yaitu :

Konflik Vertikal adalah Konflik antara rakyat dengan pemimpinnya.


Konflik Horisontal adalah Konflik yang terjadi antara etnis, pemeluk agama, budaya,
dan antar kelompok kelompok sosial.
Konflik Kombinasi Vertikal Horisontal atau biasa lebih dikenal di indonesia dengan
nama politik aliran yaitu Konflik yang terjadi di tingkat elit politik yang mana
mengalami trickle down sampai kepada massa pengikut di bawahnya.
Konflik Elit yaitu Konflik yang terjadi hampir di setiap negara berkembang dengan
magnitude yang berlainan. Sumber Konflik antar elit biasanya adalah tarik - menarik
antara sipil dan militer .
Konflik separatis merupakan gangguan berat bagi negara berkembang.

2.10.3. Konflik Global

Permasalahan yang dihadapi negara negara berkembang bukan sekedar konflik


konflik domestik, namun juga konflik regional dan global yang dijadikan dalam satu bahasan
yaitu Konflik Global yang terdiri dari : Konflik Militer, Terorisme Global, Konflik yang terjadi

Page | 112
antara benua benua baru, Konflik yang digerakkan oleh globalisasi dalam konteks paling
mikro, Konflik antara mainstream pembangunan.

2.10.4. Sisi Historis Konflik di Negara Berkembang

Sisi lama yang jarang diungkap adalah bahwa konflik di negara berkembang
merupakan sebuah masalah yang melembaga. Hal ini terjadi khususnya pada negara
berkembang yang eks jajahan misalnya indonesia. Konflik bagi negara berkembang akan
semakin rumit jika mereka terlalu meyakini teori teori konflik yang ada sebelum tahun
1990 an, karena teori teori tersebut menjadi usang dalam sebuah tatanan dunia yang
serba baru, yang dihela bukan saja oleh kepentingan kepentingan baru, melainkan juga
kelangkaan kelangkaan baru, dan nilai nilai baru dalam interaksi antar umat manusia.

2.10.5. Kebijakan Publik dalam Konflik

Pada dasarnya terdapat tiga pendekatan untuk memberikan arah kebijakan ketika
kebijakan publik hadir dalam konteks konflik yaitu :

Pendekatan yang mengakar kepada pendekatan demokratis yaitu kebaikan bagi


sebagian besar orang.
Pendekatan yang memberikan arah kebijakan dalam konteks konflik yaitu dengan
menetapkan tingkat ketercapaian yang tertinggi atau resiko atau kegagalan yang
paling rendah.
Pendekatan yang memberikan arah kebijakan dengan menetapkan kebijakan yang
paling mungkin diterima oleh pihak yang berkonflik.

2.11. ANALISIS KEBIJAKAN SEBAGAI PRAKTEK

Analis kebijakan adalah sebuah profesi, praktek, bahkan ada yang melakukan sebagai
sebuah hobi. Pada konteks ini, Fokus bahasannya adalah professional analis kebijakan, baik
yang bekerja di dalam organisasi public, maupun yang berada di luar organisasi publik.

2.11.1. Produk Analisis Kebijakan

Produk analisis kebijakan adalah advis kebijakan, nasihat kebijakan, atau lebih banyak
disebut sebagai rekomendasi kebijakan.

2.11.2. Informasi Kebijakan

Page | 113
Informasi kebijakan merupakan pengembangan dari teori komunikasi politik agenda
setting. Teori agenda setting mengedepankan fakta sosial bahwa media massa memberikan
peranan penting untuk membantu manusia menetapkan agenda agenda untuk dijalankan
dalam kehidupan bersamanya.

2.11.3. Deskripsi Kebijakan

Deskripsi kebijakan dalah sebuah analisa tentang suatu kebijakan yang sudah ada
untuk disampaikan kepada klien. Deskripsi kebijakan dapat ditujukan untuk merubah atau
menyempurnakan kebijakan tersebut, atau meningkatkan keyakinan akan kebenaran dari
kebijakan tersebut.

2.11.4. Pernyataan Kebijakan

Pernyataan kebijakan sebenarnya adalah pernyataan yang dibuat oleh pejabat di


depan publik. Konsep Publik difahami sebagai publik langsung dan bermedia.

2.11.5. Memo Kebijakan

Memo kebijakan adalah rekomendasi singkat akan satu isu kebijakan untuk landasan
pembuatan keputusan kebijakan yang bersifat terbatas.

2.11.6. Kertas Kebijakan

Kertas kebijakan atau disebut sebagai makalah kebijakan atau policy paper adalah
bentuk dari rekomendasi dari analisi kebijakan yang dibahas baik Dunn, Patton & Sawicki,
dan Weimar & Vining. Bentuknya adalah sebuah report analysis yang dibuat secara lengkap,
komprehensif, dan sangat detail.

2.11.7. Rumusan Kebijakan

Analisis kebijakan tidak hanya bekerja menyiapkan rekomendasi kebijakan untuk


disiapkan menjadi rumusan kebijakan, namun ia dapat juga dilibatkan lebih lanjut dalam
perumusan kebijakan.

Page | 114
2.11.8. White Paper

Produk analisi kebijakan yang disebut sebagai white paper adalah sebuah kertas
kebijakan atau naskah kebijakan yang bersifat khusus karena merupakan analisis yang
bersifat visioner atau menjangkau jauh dan sangat jauh ke depan.

2.11.9. Tugas Pasca Analisa

Dalam tugas sebagai perumus kebijakan, maka sebenarnya analis kebijakan sudah
masuk ke tahap selanjutnya dari analisis kebijakan. Karena analisis kebijakan berhenti
sebelum perumusan kebijakan.

2.11.10. Monitoring

Monitoring adalah pemindaian selama proses implementasi berjalan. Monitoring


memastikan bahwa implementasi kebijakan dilaksanakan dalam sekuensi manajemen
implementasi kebijakan.

2.11.11. Evaluasi

Evaluasi kebijakan publik memiliki empat fungsi yaitu eksplanasi, kepatuhan, audit,
dan akunting. Melalui evaluasi dapat dipotret realitas pelaksanaan program dan dapat
dibuat suatu generalisasi tentang pola pola hubungan antar berbagai dimensi realitas yang
diamatinya.

2.11.12. Pengganjaran

Kebijakan publik harus dinilai dan setiap keberhasilan harus diganjar dengan reward
yang sesuai, sementara itu, jika terdapat kegagalan, disarankan terdapat mekanisme dan
instrumen untuk pemberian hukuman atau disinsentif.

2.11.13. Prinsip Dasar Analis Kebijakan

Analis kebijakan adalah proses yang sarat nilai, karena mempunyai dimensi
pertimbangan yang ketat.

Page | 115
2.12. ANALISIS KEBIJAKAN DI INDONESIA

Hanya Negara bangsa yang mampu mengembangkan kebijakan publik yang unggul,
baik perumusan, implementasi, evaluasi, dan revisi yang akan menjadi negara yang unggul
dalam persaingan global. Sepeti itulah pemahaman sebagian dari teori Darwinisme Sosial.
Hal ini kemudian menjadi proposisi dasaruntuk memahami mengapa analisis kebijakan
menjadi penting.

Seperti halnya di Indonesia. Indonesia memang bekerja keras untuk mengejar


ketertinggalan, namun Negara lain juga bekerja lebih keras. Kecepatan Indonesia menjadi
lebih relatif dibanding negara lain. Dalam World Competitivenes Yearbook 2006, daya saing
iklim investasi Indonesia terpuruk di posisi 60 dari 61 Negara yang di survei. Penilaian daya
saing tersebut didasarkan pada faktor kinerja ekonomi, efisiensi Pemerintahan, efisiensi
bisnis dan kondisi infrastruktur.

Banyak hal yang kiranya memberikan ketegasan kepada kita bahwa analisis kebijakan
diperlukan, karena sebagian besar kebijakan yang dibuat oleh aktor administrasi publik tidak
memuaskan. Administrasi publik di Indonesia cenderung membawa setiap isu ke kuadran
teknis atau kuadran politis. Tidak heran jika kebanyakan kebijakan publik di Indonesia
berisikan hasil tawar menawar atau kesepakatan elit politik dan kepentingannya, daripada
benar-benar mencerminkan kebijakan yang pro kepentingan publik.

2.13. KEAMANAN NASIONAL SEBAGAI KEBIJAKAN PUBLIK, SEBUAH KASUS MODEL

PENGEMBANGAN KEBIJAKAN UNGGUL

Keamanan Nasional adalah konsep yang dikembangkan AS pada perang dunia II


dengan mempergunakan instrument ekonomi, diplomasi, kekuatan militer, dan non-militer.
Konsep keamanan nasional mempunyai batawsan-batasan yang terlalu luas, termasuk
dikalangan akademisi, praktisi, terlebih lagi politisi.

Keamanan Nasional mempertanyakan tentang sesuatu yang perlu dipertahankan,


dan hal ini berkenaan dengan kepentingan Nasional. Nuecthterlein mengemukakan empat
jenjang kepentingan Nasional yaitu :

Page | 116
1. kepentingan survival, yaitu kepentingan hidup mati suatu Negara;
2. kepentingan vital, yaitu berkenaan dengan ancaman yang menciptakan kerusakan
yang dapat mengganggu kesinambungan suatu Negara;
3. kepentingan major, yaitu kepentingan yang berkenaan dengan politik, ekonomi, dan
kesejahteraan yang dipengaruhi oleh interaksi dengan Negara lain; dan
4. kepentingan peripheral, yaitu kepentingan yang berkenaan dengan kesejahteraan
Negara yang tidak dipengaruhi oleh interaksi dengan Negara lain.

Kepentingan Nasional dalam paradigma terkini tidak lagi dapat dipilih secara kaku
sebagaimana model yang ada yang didominasi oleh disiplin hubungan internasional.

Pemahaman keamanan Nasional yang bersifat komprehensif diadopsi dari kebijakan


publik, sehingga dirumuskan premis bahwa kemanan Nasional merupakan kebijakan publik
inti, dan bukan hanya sebagai kebijakan publik, karena kebijakan ini menjadi penentu dari
setiap publik di Indonesia. Sehingga menjadi konsekwensi bahwa kebijakan keamanan
Nasional dikelilingi oleh Kebijakan-kebijakan yang lainnya.

BAB III

PENUTUP

Page | 117
Premis yang dikemukakan disini adalah apapun kebijakan publikmya, sebelum
ditetapkan harus dilakukan analisis kebijakan. pemahamannya adalah diskusi terbatas
diantara para pejabat tinggi Negara identik dengan analisis kebijakan. Good Governance
adalah tak kala pemerintah mempertanggung jawabkan apa yan dilakukannya kepada public
dan menanggung konsekwensi atasnya, baik konsekwensi positif, maupun konsekwensi
negatif.

Akuntabilitas yang utama bukan financial atau audit keuangan dan kegiatan, namun
audit kebijakan. ini yang tidak pernah dilakukan di Indonesia. Padahal suatu analisis
kebijakan dapat dilakukan beberapa jam saja oleh seorang ahli analisis kebijakan. analisis
kebijakan bias terdiri dari tumpukan kertas tebal, atau hanya beberapa lembar saja. Tetapi
semuanya harus dipertanggungjawabkan kepada publik.

Pers sebagai salah satu pilar pembangunan berasumsi bahwa kehidupan


bermasyarakat akan semakin baik jika disediakan informasi yang berlimpah kepada
kehidupan bersama masyarakat, Negara,dan Pemerintahan. Informasi yang berlimpah akan
memberikan kesempatan kepada publik untuk mempunyai pilihan-pilihan rasional, adan
mendorong pembentukan agenda-agenda bagi pemerintahan.

Namun masalahnya ternyata informasi yagn berlimpah tersebut tidak menyelesaikan


masalah sebagaimana memajukan kehidupan bersama. Pemerintah menghadapi masalah
yang semakin rumit, pelik, dan komplikatif, sehingga memerlukan informasi yang sesuai
dengan kebijakan yang hendak dibuat.

Suatu kebijakan yang unggul hanya dapat dibuat dan dikembangkan melalui analisis
kebijakan yang unggul pula. Artinya analisis kebijakan dan analisis kebijakan, terlepas apakah
ia akan menjadi ancaman atau mitra bagi demokrasi, ia akan menjadi faktor kesuksesan
utama kemajuan disetiap bangsa dimasa depan. Kini pilihan terpulang kepada demokrasi
dan politik, apakah mereka memilih kebijakan publik sebagai ancaman atau peluang untuk
memasuki kehidupan yang lebih baik.

Page | 118
KELOMPOK 5

KELOMPOK 5

BAB I

Page | 119
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini, kita dihadapkan pada sebuah dilema kebijakan yang nyata.Sebuah fakta
yang menarik, dimana produksi kebijakan, baik di tingkat nasional maupun daerah terus
bertambah.Namun, seiring dengan bertambahnya kebijakan tersebut, sejumlah masalah justru
terus terjadi.Sebut saja masalah bencana baik karena bencana alam maupun bencana akibat
ulah manusia, tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Gunung meletus, bencana banjir,
ancaman tsunami, masalah kemacetan, pesawat jatuh, tabrakan kereta api dan lain sebagainya
seolah tak pernah takut dengan kebijakan yang lahir, bahkan berani menantang, melawan dan
bahkan membunuh.
Padahal, secara teori kebijakan publik merupakan suatu keputusan yang diambil untuk
menghadapi situasi atau permasalahan, mengandung nilai-nilai tertentu, memuat ketentuan
tentang tujuan, cara dan sarana untuk mencapainya. Apa yang salah dengan kebijakan kita?
Bukankah kita telah memiliki aktor-aktor kebijakan baik dari pemerintah maupun dari
kalangan legislatif? Atau sebenarnya kita tidak memahami proses merumuskan kebijakan?
Atau jangan-jangan kita salah merumuskan agenda setting?Ataukah banyaknya kepentingan
yang harus kita akomodasi, sehingga kebijakan kita cenderung tidak fokus?
Saat ini, produk kebijakan publik di Indonesia masih memiliki wajah yang
memprihatinkan yang ditandai antara lain adanya tumpang tindih kebijakan, ketidakjelasan
urgensi keberadaan kebijakan publik, prosedur yang tidak tepat dalam pembuatan kebijakan
publik, serta minimnya naskah akademik sebagai dasar pembuatan kebijakan. Permasalahan
tersebut akan semakin mengemuka jika kita kaitkan dengan kewenangan. Idealnya kebijakan
publik dibuat dan dilaksanakan pada semua tingkatan pemerintahan, karenanya
tanggungjawab para pembuat kebijakan akan berbeda pada setiap tingkatan sesuai dengan
kewenangannya. Sering sekali kewenangan ini diterjemahkan secara berbeda di antara level
pemerintahan, sehingga yang terjadi kemudian adalah melegalisir kewenangan dengan
tindakan pengaturan melalui pembuatan kebijakan publik yang mengakibatkan munculnya
fenomena overregulation dan tumpang tindih kebijakan di berbagai level pemerintahan.
Catatan lain bagi perkembangan kebijakan publik di Indonesia adalah mengenai
akuntabilitas. Akuntabilitas kebijakan publik diartikan sebagai upaya sebuah kebijakan publik
dapat dipertanggungjawabkan secara memadai kepada masyarakat yang dilayaninya. Berkaca
dari berbagai permasalahan di atas, maka upaya menciptakan akuntabilitas kebijakan publik
masih membutuhkan berbagai pembenahan dalam proses pembuatan kebijakan publik di

Page | 120
Indonesia. Upaya pembenahan tersebut antara lain telah dilakukan oleh Kementerian Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dengan menerbitkan Peraturan
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : PER/04/M.PAN/4/2007 tentang
Pedoman Umum Formulasi, Implementasi, Evaluasi Kinerja dan Revisi Kebijakan Publik di
Lingkungan Lembaga Pemerintah Pusat dan Daerah.
Beranjak dari uraian inilah penulis mengangkat pokok masalah yang akan dibahas
dalam makalah, yaitu tentang proses kebijakan publik. Bagaimana sebuah kebijakan itu
dirumuskan samapai pada evaluasi dan mendapat respon dari masyarakat, apakah respon itu
bersifat pro ataupun kontra.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka penulis dapat merumuskan masalah yang akan dibahas,
yaitu sebagai berikut :

1. Bagaimana kebijakan itu dilihat sebagai proses?


2. Bagaimana dalam merumuskan kebijakan?
3. Bagamana pengimplementasian kebijakan?
4. Bagaimana pengendalian kebijakan?
5. Apa yang dimaksud dengan kebijakan uggul?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kebijakan Sebagai Proses
Suharto, (2014: 102) mengemukakan bahwa Dimensi paling inti dari kebijakan publik
adalah proses kebijakan. Di sini kebijakan publik dilihat sebagai sebuah proses kegiatan atau
sebagai satu kesatuan sistem yang bergerak dari satu bagian ke bagian lain secara sinambung,
saling menentukan dan saling membentuk.
Model proses kebijakan yang paling klasik dikembangkan oleh David Easton (1984)
dalam Nugroho (2014: 515). Easton melakukan analogi dengan sistem biologi. Pada dasarnya
sistem biologi merupakan proses interaksi antar mahluk hidup dengan lingkungannya, yang
akhirnya menciptakan kelangsungan perubahan hidup yang relatif stabil. Dalam terminologi
ini, Easton menganalogikannya dengan kehidupan sistem politik. Kebijakan publik dengan
sistem mengandaikan bahwa kebijakan merupakan hasil atau output dari sistem (politik).
Seperti dipelajari dalam ilmu politik, sistem politik terdiri atasinput, throughput dan output,
seperti digambarkan sebagai berikut:

Page | 121
Gambar 1.Proses Kebijakan Publik Easton

Dari gambar tersebut dapat dipahami bahwa proses formulasi kebijakan publik berada
dalam sistem politik dengan mengandalkan pada masukan (input) yang terdiri atas dua hal,
yaitu tuntutan dan dukungan. Model Easton inilah yang dikembangkan oleh para akademis di
bidang kebijakan publik, seperti: Anderson, Dunn, Patton dan Savicky, dan Effendy.
Sedangkan, James E. Anderson, David W. Brady, dan Charles Bullock III dalam
Nugroho, (2014: 517) membagi proses kebijakan menjadi:
1. Agenda kebijakan (policy agenda)
2. Perumusan kebijakan (policy formulation)
3. Penetapan kebijakan (policy adoption)
4. Pelaksanaan kebijakan (policy implementation)
5. Evaluasi kebijakan (policy evaluation)

Model ini selanjutnya dibandingkan dengan model proses kebijakan yang


dikembangkan oleh William N. Dunn, (2003: 21) sebagai berikut:

Gambar 2. Proses Kebijakan Publik Dunn

Page | 122
Patton dan Savicky membuat siklus proses kebijakan sebagai berikut:
1. Mendefinisikan masalah (define the problem)
2. Menentukan kriteria evaluasi (detrmine evaluation criteria)
3. Mengidentifikasi kebijakan-kebijakan alternatif (identify alternative policies)
4. Mengevaluasi kebijakan-kebijakan alternatif (evaluate alternative policies)
5. Menyeleksi kebijakan-kebijakan pilihan (select preferred policy)
6. Menerapkan kebijakan-kebijakan pilihan (implement the preferred policy)

Model proses kebijakan lainnya, dikenalkan oleh Thomas R. Dye dalam Nugroho,
(2014: 519) yang dibagi menjadi:
1. Identifikasi masalah kebijakan (identification of policy problem)
2. Pengaturan agenda (agenda setting)

3. Perumusan kebijakan (policy formulation)

4. Pengesahan kebijakan (policy legitimation)

5. Pelaksanaan kebijakan (policy implementation)

6. Evaluasi kebijakan (policy evaluation)

Konsep proses kebijakan yang dikembangkan Gerald Meier, yang disebut policy
formation juga bersifat linear, sebagaimana dapat disimak pada gambar berikut ini

Gambar 3. Proses Kebijakan Meier

Page | 123
Sementara itu, Merilee Grindle dan John Thomas dalam Nugroho, (2014, 520)
menyepakati bahwa pada dasarnya proses kebijakan tidak sepenuhnya linear, melainkan
bergerak seperti diagram pohon keputusan (decision tree model) sebagai berikut:

Gambar 4. Proses Kebijakan Grindle dan Thomas

David Scott dalam Nugroho, (2014: 520) mengemukakan tiga model proses kebijakan, yaitu:
1. Centralized
a. Policy Made
b. Policy Implemented
2. Pluralisme

a. Policy Made
b. Policy Contest and Remade
c. Policy Implemented
3. Fragmen & Multidirected

a. Policy Made
b. Policy Contested and Remade
c. Policy Remade During Its Implementation
d. Policy Rewritten

Page | 124
Model yang dikembangkan oleh para para ilmuwan kebijakan publik di atas
mempunyai satu kesamaan yaitu bahwa proses kebijakan berjalan dari formulasi menuju
implementasi, untuk mencapai kinerja kebijakan. Pola kesamaan tersebut menjelaskan bahwa
proses kebijakan adalah dari gagasan kebijakan, formalisasi dan legalisasi kebijakan,
implementasi, baru kemudian menuju kinerja atau mencapai prestasi yang diharapkan sebagai
hasil dari evaluasi kinerja kebijakan.

Gambar 5.Proses Kebijakan Lengkap

B. Perumusan Kebijakan
Perumusan kebijakan menjadi masalah kritikal yang pertama karena perumusan
kebijakan adalah salah satu alat penting dalam tahapan kebijakan yang berkaitan dengan
pengelolaan kebijakan, baik pemerintah maupun non-pemerintah.Hal ini penting bagi kita
untuk mengetahui dan melaksanakan penyusunan suatu kebijakan di tempat kerja. Banyak
faktor yang perlu dipertimbangkam dalam proses perumusan kebijakan. Selain itu, para ahli
harus menguasai makna kebijakan dan perumusan kebijakan, perumusan kebijakan dalam
siklus kebijakan, lingkungan kebijakan dan prosedur perumusan kebijakan, serta faktor-faktor
lainnya.

1. Model Model Perumusan Kebijakan

Page | 125
Sebelum kita memahami perumusan kebijakan, kita perlu memahami bahwa tidak ada
cara terbaik untuk merumuskan kebijakan, dan tidak ada cara tunggal untuk merumuskan
kebijakan. Nugroho, (2014: 533) terdapat empat belas macam model perumusan kebijakan,
yaitu :
a. Model Kelembagaan (Institutional)
Pada model ini secara sederhana bermakna bahwa tugas membuat kebijakan publik
adalah tugas pemerintah. Jadi semua yang dibuat oleh pemerintah dengan cara apa pun
merupakan kebijakan publik. Model ini pada dasarnya lebih mengutamakan fungsi-fungsi
setiap kelembagaan dari pemerintah, di setiap sektor dan tingkat dalam memformulasikan
kebijakan. Menurut Thomas R. Dye, ada tiga hal yang membenarkan tentang pendekatan
teori ini, yaitu ; pemerintah memang sah dalam membuat kebijakan publik, formulasi
kebijakan publik yang dibuat oleh pemeritah bersifat universal (umum), pemerintah
memonopoli/menguasai fungsi pemaksaan (koersi) dalam kehidupan bersama.
b. Model Proses (Process)
Politik adalah sebuah aktivitas sehingga mempunyai proses. proses yang diakui dalam
Model proses ini adalah sebagai berikut :
1) Identifikasi Permasalah
2) Menata Agenda Formulasi Kebijakan
3) Perumusan Proposal Kebijakan
4) Legitimasi Kebijakan
5) Implementasi Kebijakan
6) Evaluasi kebijakan

Model Ini Menunjukan tentang bagaimana kebijakan dibuat atau seharusnya dibuat,
akan tetapi kurang memberikan tekanan pada substansi seperti apa yang harus ada dalam
kebijakan tersebut. Jadi lebih mengutamakan step by step pembuatan kebijakan tetapi
kurang fokus terhadap isi/hal-hal penting yang harus ada dalam kebijakan itu.

c. Model Kelompok (Group)


Dalam pengambilan kebijakan penganut teori ini mengandaikan kebijakan sebagaititik
keseimbangan (equilibrium). Intinya adalah interaksi yang terjadi di dalam kelompok akan
menghasilkan keseimbangan dan keseimbangan tersebut adalah yang terbaik. Individu di
dalam kelompok kepentingan berinteraksi secara formal maupun informal, secara langsung
atau melalui media massa menyampaikan tuntutan/gagasan kepada pemerintah untuk
mengeluarkan kebijakan publik yang diperlukan. Sistem politik pada model ini berperan
untuk memanage konflik yang muncul akibat adanya perbedaan tuntutan, melalui :
1) Merumuskan aturan main antarkelompok kepentingan.

Page | 126
2) Menata kompromi dan menyeimbangkan kepentingan.
3) Memungkinkan terbentuknya kompromi di dalam kebijakan publik (yang akan
dibuat).
4) Memperkuat kompromi-kompromi tersebut.
Menurut model ini dalam melakukan formulasi kebijakan, beberapa kelompok
kepentingan berusaha mempengaruhi isi dan bentuk kebijakan secara interaktif.
d. Model Elit (Elite)
Berkembang dari teori elit masa dimana masayakat sesungguhnya hanya ada dua
kelompok yaitu kelompok pemegang kekuasaan (elit ) dan yang tidak memegang kekuasaan.
kesimpulannya kebijakan yg muncul adalah bias dari kepentingan kelompok elit dimana
mereka ingin mempertahankan status quo. Model ini tidak menjadikan masyarakat sebagai
partisipan pembuatan kebijakan.
e. Model Rasional (Rational)
Kebijakan publik sebagai maximum social gain, maksudnya pemerintah sebagai
pembuat kebijakan harus memilih kebijakan yang memberikan manfaat optimum bagi
masyarakat, dalam formulasinya harus berdasar keputusan yang sudah diperhitungkan
rasionalitasnya yaitu perbandingan antara pengorbanan dan hasil yang akan dicapai sehingga
model ini lebih menekankan pada aspek efisiensi atau ekonomis. Cara-cara formulasi
kebijakan disusun dalam urutan : (1) Mengetahui preferensi publik dan kecenderungannya,
(2) Menemukan pilihan-pilihan, (3) Menilai konsekuensi masing-masing pilihan, (4) Menilai
rasio nilai sosial yang dikorbankan, (5) Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien.
Model ini termasuk yang ideal dalam formulasi kebijakan dalam arti untuk mencapai tingkat
efisiensi dan efektivitas kebijakan. Beberapa kelemahan pokonya antara lain
konsep maximum social gain berbeda di antara kelompok kepentingan sehingga dikhawatikan
menimbulkan perbedaan/perselisihan, kebijakan maximum social gain sulit dicapai
mengingat birokrasi yang cenderung melayani diri sendiri daripada melayani publik. Namun
idealisme dari model ini perlu ditingkatkan dan diperkuat karena di setiap negara pasti ada
birokrat-birokrat yang cakap, cerdas dan handal demi memajukan bangsa dan negaranya.
Untuk itu model ini perlu menjadi kajian dalam proses formulasi kebijakan.
f. Model Inkremental (Incremental)
Pada dasarnya merupakan kritik terhadap model rasional, diamana para pembuat
kebijakan tidak pernah melakukan proses seperti yang diisyaratkan oleh pendekatan rasional
karena mereka tidak memiliki cukup waktu, intelektual, maupun biaya, ada kekhawatiran
muncul dampak yang tidak diinginkan akibat kebijakan yang belum pernah dibuat
sebelumnya, adanya hasil-hasil dari kebijakan sebelumnya yang harus dipertahankan dan
menghindari konflik. Jadi kebijakan publik merupakan variasi/kelanjutan dari kebijakan di

Page | 127
masa lalu.Karena pengambilan kebijakan dihadapkan kepada ketidakpastian yang muncul di
sekelilingnya maka pilihannya adalah melanjutkan kebijakan di masa lalu dengan melakukan
modifikasi seperlunya, pemerintah dengan kebijakan inkrementalis berusaha
mempertahankan komitmen kebijakan di masa lalu untuk mempertahankan kinerja yang telah
dicapai.
g. Model Teori Permainan (Game Theory)
Model ini di-cap sebagai model konspiratif, dimana mulai muncul sejak berbagai
pendekatan yang sangat rasional tidak mampu menyelesaikan pertanyaan yang muncul yang
sulit diterangkan dengan fakta-fakta yang tersedia. Gagasan pokok dari teori ini : (1)
formulasi kebijakan berada pada situasi kompetisi yang intensif, (2) para aktor berada dalam
situasi pilihan yang tidak independent ke dependent melainkan situasi pilihan yang sama-
sama bebas/independent. Konsep kunci teori ini adalah strategi, dimana kuncinya
bukanlah yang paling aman tetapi yang paling aman dari serangan lawan. Jadi teori ini
memiliki tingkat konservativitas yang tinggi karena pada intinya merupakan
strategidefensif, tetapi bisa juga dikembangkan menjadi strategi ofensif asal yang
bersangkutan memiliki posisi superior dan dukungan sumber daya yang memadai.
h. Model Pilihan Publik (Public Choice)
Dalam model ini kebijakan sebagai proses formulasi keputusan kolektif dari setiap
individu yang berkepentingan atas keputusan tersebut. Akar dari kebijakan ini adalah dari
teori ekonomi pilihan publik (economic of public choice) yang mengatakan bahwa manusia
itu homo economicus yang memiliki kepentingan yang harus dipuaskan dan pada prinsipnya
adalah buyer meet seller; supply meet demand. Intinya setiap kebijakan yang dibuat
pemerintah harus merupakan pilihan dari publik yang menjadi pengguna
(beneficiaries/customer).Dalam menyusun kebijakan, pemerintah melibatkan publik melalui
kelompok-kelompok kepentingan dan ini secara umum merupakan konsep formulasi
kebijakan yang paling demokratis karena memberi ruang yang luas kepada publik untuk
mengkontribusikan pilihan-pilihannya kepada pemerintah sebelum diambil keputusan.
Meskipun ideal dalam konteks demokrasi dan kontrak sosial, namun memiliki kelemahan
pokok dalam realitas interaksi itu sendiri karena interaksi akan terbatas padapublik yang
mempunyai akses dan di sisi lain terdapat kecenderungan dari pemerintah untuk memuaskan
pemilihnya daripada masyarakat luas.
i. Model Sistem (System)
Menurut David Easton dalam Nugroho, (2014: 556) pendekatan dalam model ini terdiri
dari 3 komponen : input, proses dan output. Salah satu kelemahan dari pendekatan ini adalah

Page | 128
terpusatnya perhatian pada tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah dan pada akhirnya
kita kehilangan perhatian pada apa yang tidak pernah dilakukan pemerintah.Jadi formulasi
kebijakan dengan model sistem mengibaratkan bahwa kebijakan merupakan hasil (output)
dari sistem politik. Seperti dalam ilmu politik, maka sistem politik terdiri dari input,
throughput dan output. Sehingga dapat dipahami, proses formulasi kebijakan publik dalam
sistem politik mengandalkan masukan (input) yang terdiri dari tuntutan dan dukungan.
j. Model Pengamatan Terpadu (Mixed scanning)
Model ini berupaya menggabungkan antara model rasional dengan model inkremental.
Tokohnya adalah Amitai Etzioni, pada 1967 yang memperkenalkan model ini sebagai suatu
pendekatan terhadap formulasi keputusan-keputusan pokok dan inkremental, menetapkan
proses-proses formulasi kebijakan pokok dan urusan tinggi yang menentukan petunjuk-
petunjuk dasar, proses-proses yang mempersiapkan keputusan-keputusan pokok dan
menjalankannya setelah keputusan itu terapai. Jika diibaratkan seperti dua kamera;
kamera wide angle untuk melihat keseluruhan, kamera dengan zoom untuk melihat detailnya.
k. Model Demokratis
Pengambilan keputusan harus sebanyak mungkin mengelaborasi suara dari
stakeholders. Pernyataan tersebut dapat dikatakan sebagai Model Demokrasi karena
menghendaki agar setiap pemilik hak demokrasi diikut sertakan sebanyak-
banyaknya. Model ini implementasinya pada good governance bagi pemerintahan yang
mengamanatkan agar dalam membuat kebijakan, para konstituten, dan pemanfaat
(beneficiaries) diakomodasi keberadaan. Model ini sebenarnya sudah baik akan tetapi kurang
efektif dalam mengatasi masalah-masalah yang bersifat kritis, darurat dan dalam kelangkaan
sumber daya. Namun apabila model ini mampu dijalankan maka sangat efektif karena setiap
pihak mempunyai kewajiban untuk ikut serta mencapai keberhasilan kebijakan karena
masing-masing pihak bertanggung jawab atas kebijakan yang dirumuskan.
l. Model Strategis
Inti dari teori ini adalah bahwa pendekatan menggunakan rumusan runtutan perumusan
strategi sebagai basis perumusan kebijakan.Tokohnya adalah John D. Bryson. Perencanaan
strategis yaitu upaya yang didisiplinkan untuk membuat keputusan dan tindakan penting yang
membentuk dan memandu bagaimana menjadi organisasi (atau etnis lainnya), apa yang
dikerjakan organisasi (atau etnis lainnya), dan mengapa organisasi (atau etnis lainnya)
mengerjakan hal seperti itu. Perencanaan strstegis mensyaratkan pengumpulan informasi
secara luas, eksploratif alternatif dan menekankan implikasi masa depan dengan keputusan
sekarang. Fokusnya lebih kepada pengidentifikasian dan pemecahan isu-isu, lebih

Page | 129
menekankan kepada penilaian terhadap lingkungan di luar dan di dalam organisasi dan
berorientasi kepada tindakan.Perencanaan strategis dapat membantu organisasi untuk;
berpikir secara strategis dan mengembangkan strategi-strategi yang efektif, memperjelas arah
masa depan, menciptakan prioritas, membuat keputusan sekarang dengan memperhatikan
konsekuensi masa depan, kontrol organisasi, memecahkan masalah utama organisasi,
menangani keadaan yang berubah dengan cepat secara efektif. Proses perumusannya adalah;
mengusulkan dan menyepakati perencanaan strategi (memahami manfaat perencanaan
strategi dan mengembangkannya), merumuskan panduan proses, memperjelas wewenang dan
misi organisasi, melakukan analisa SWOT ( menilai kekuatan dan kelemahan, peluang dan
ancaman). Mengidentifikasi isu strategi yang dihadapi, merumuskan strategi untuk mengelola
isu. Jadi dapat disimpulkan bahwa model ini fokusnya lebih kepada rincian-rincian langkah
manajemen strategis.
m. Model Deliberatif
Pada intinya, setiap kebijakan public yang dibuat oleh pemerintah harus merupakan
keputusan dari public yang menjadi pengguna. Proses formulasi kebijakan public dengan
demikian melibatkan public melalui kelompok-kelompok kepentingan. Secara umum ini
adalah konsep formulasi kebijakan public yang paling demokratis karena member ruang yang
luas kepada public untuk mengkonstribusikan pilihan-pilihannya kepada pemerintah sebelum
diambil keputusan.
n. Model Tong Sampah (Garbage Can)
Model ini dipopulerkan Jhon W. Kingdon (2003).Setelah melakukan wawancara
mendalam dengan 247 pengambil keputusan di AS. Kindom menemukan bahwa proses
pembuatan kebijakan berjalan pada tiga rel yang terpisah satu sama lain.

2. Proses Ideal Perumusan Kebijakan


Analisis kebijakan tidak hanya bekerja menyiapkanrekomendasi kebijakan untuk
disiapkan menjadi rumusan, namun ini dapat juga dilibatkan lebih lanjut dalam perumusan
kebijakan karena itu, analisis kebijakan dapat berperan untuk ikut dalam tim yang
merumuskan atau merancang Kebijakan Publik, baik dalam bentuk draf akademisi hingga
pasal-pasal perundangngan
Proses perumusan kebijakan secara umum dapat digambarkan secara sederhana dalam
urutan proses sebagai berikut.

Gambar 6. Model Perumusan Kebijakan Publik

Page | 130
C. Implementasi Kebijakan
Dimensi paling inti dari kebijakan publik adalah proses kebijakan. Di sini kebijakan
publik dilihat sebagai sebuah proses kegiatan atau sebagai satu kesatuan sistem yang bergerak
dari satu bagian ke bagian lain secara sinambung, saling menentukan dan saling membentuk.
Dalam bukunya Public Policy, Riant Nugroho (2014, 657) memberi makna
implementasi kebijakan sebagai cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya.Tidak
lebih dan tidak kurang. Ditambahakan pula, bahwa untuk mengimplementasikan kebijakan
publik, ada dua pilihan langkah yang ada, yaitu: langsung mengimplementasikan dalam
bentuk program atau melalui formulasi kebijakan derivat atau turunan dari kebijakan publik
tesebut. Secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 7. Sekuensi Implementasi Kebijakan

Page | 131
1. Model-Model Implementasi Kebijakan
Secara sederhana, implementasi merupakan tahapan yang menghubungkanantara
rencana dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, implementasi merupakan
proses penerjemahan pernyataan kebijakan (policy statement) ke dalam aksi kebijakan
(policy action). Pemahaman seperti in berangkat dari pembagian proses kebijakan publik ke
dalam beberapa tahap di mana implementasi berada di tengah-tengahnya.

a. Model Van Meter dan Van Horn


Menurut Meter dan Horn dalam Nugroho (2014), implementasi kebijakan berjalan
secara linear dari kebijakan publik, implementor dan kinerja kebijakan publik. Beberapa
variable yang mempengaruhi kebijakan public adalah sebagai berikut :

1) Aktivitas implementasi dan komunikasi antar organisasi


2) Karakteristik dari agen pelaksana/implementor
3) Kondisi ekonomi,social dan politik
4) Kecenderungan (disposition) dari pelaksana/implementor
b. Model Mazmanian dan Sabatier
Model yang kedua adalah model yang dikembangkan Daniel Mazmanian dan Paul A.
Sabatier dalam Nugroho, (2014: 666) yang mengemukakan bahwa implementasi adalah
upaya melaksanakan keputusan kebijakan.Model Mazmanian dan Sabatier disebut Model
Kerangka Analisis Implementasi (a framework for implementation analysis).
Mazmanian-Sabatier mengklasifikasikan proses implementasi kebijakan ke dalam tiga
variabel, yaitu:
1) Variabel Independen
Mudah-tidaknya masalah dikendalikan yang berkenaan dengan indikator masalah teori
dan teknis pelaksanaan, keragaman objek, dan perubahan seperti apa yang dikehendaki
2) Variabel Intervening
Diartikan sebagai kemampuan kebijakan untuk menstrukturkan proses implementasi
dengan indikator kejelasan dan konsistensi tujuan, dipergunakannya teori kausal,

Page | 132
ketepatan alokasi sumber dana, keterpaduan hirarkis di antara lembaga pelaksana,
aturan pelaksana dari lembaga pelaksana, dan perekrutan pejabat pelaksana yang
memiliki keterbukaan kepada pihak luar, variabel di luar kebijakan yang mempengaruhi
proses implementasi yang berkenaan dengan indikator kondisi sosio-ekonomi dan
teknologi, dukungan publi, sikap dan risorsis konstituen, dukungan pejabat yang lebih
tinggi, serta komitmen dan kualitas kepemimpinan dari pejabat pelaksana.
3) Variabel Dependen
Yaitu tahapan dalam proses implementasi kebijakan publik dengan lima tahapan, yang
terdiri dari: pertama, pemahaman dari lembaga/badan pelaksana dalam bentuk
disusunnya kebijakan pelaksana. Kedua, kepatuhan objek.Ketiga, hasil nyata.Ke-empat,
penerimaan atas hasil nyata.Terakhir, kelima, tahapan yang mengarah pada revisi atas
kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan, baik sebagian maupun keseluruhan kebijakan
yang bersifat mendasar.
c. Model Hoodwood dan Gun
Model ketiga adalah Model Brian W. Hogwood dan Lewis A. Gunn dalam Nugroho,
(2014: 668) untuk dapat mengimplementasikan kebijakan secara sempurna, maka diperlukan
beberapa persayaratan tertentu. Syarat-syarat itu adalah:
1) Kondisi eksternal yang dihadapi oleh badan/instansi pelaksana tidak akan
menimbulkan gangguan/kendala yang serius.
2) Untuk pelaksanaan program tersedia waktu dan sumberdaya yang cukup memadahi.

3) Perpaduan sumber-sumber yang diperlukan benar-benar memadahi. Persyaratan ini


mengikuti syarat item kedua artinya disatu pihak harus dijamin tidak ada kendala-
kendala pada semua sumber-sumber yang diperlukan, dan dilain pihak, setiap tahapan
proses implementasi perpaduan diantara sumber-sumber tersebut harus dapat
disediakan.

4) Kebijakan yang akan diimplementasikan didasari oleh suatu hubungan kausalitas


yang andal.

5) Hubungan kausalitas bersifat langsung dan hanya sedikit mata rantai penghubungnya.

6) Hubungan saling ketergantungan harus kecil. Implemetasi yang sempurna menuntut


adanya persyaratan bahwa hanya terdapat badan pelaksana tunggal dalam
melaksanakan misi tidak tergantung badan-badan lain/instansi lainnya.

Page | 133
7) Pemahaman yang mendalam dan kesepakatan terhadap tujuan. Persyaratan ini
mengharuskan adanya pemahaman yang menyeluruh mengenahi kesepakatan terhadap
tujuan yang akan dicapai dan dipertahankan selama proses implementasi.

8) Tugas-tugas diperinci dan ditempatkan dalam urutan yang tepat. Syarat ini
mengandung makna bahwa dalam menjalankan program menuju tercapainya tujuan-
tujuan yang telah disepakati, masih dimungkinkan untuk merinci dan menyusun dalam
urutan-uruan yang tepat seluruh tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap bagian yang
terlibat.

9) Komunikasi dan koordinasi yang sempurna. Syarat ini mengharuskan adanya


komunikasi dan ordinasi yang sempurna diantara berbagai unsur atau badan yang
terlibat dalam program.

10) Pihak-pihak yang memiliki wewenang kekuasaan dapat menuntut dan mendapatkan
kepatuhan yang sempurna. Hal ini menjelaskan bahwa harus ada ketundukan yang
penuh dan tidak ada penolakan sama sekali terhadap perintah dalam sistim
administrasinya.

d. Model Goggin Bowman dan Lester


Malcolm Goggin, Ann Bowman, dan James Lester mengembangkan apa yang
disebutnya sebagai communication model untuk implementasi kebijakan yang disebutnya
sebagai generasi ketiga model implementasi kebijakan. Goggin dan kawan-kawan bertujuan
mengembangkan sebuah model implementasi kebijakan yang lebih ilmiah dengan
mengedepankan pendekatan metode penelitian dengan adanya
variabel independen, intervening, dan dependen, dan meletakkan komunikasi sebagai
penggerak dalam implementasi kebijakan.
e. Model Grindle
Model ke-tiga adalah model Merilee S. Grindle dalam Nugroho, (2014: 671).Model
Implementasi Kebijakan Publik yang dikemukakan Grindle menuturkan bahwa Keberhasilan
proses implementasi kebijakan sampai kepada tercapainya hasil tergantung kepada kegiatan
program yang telah dirancang dan pembiayaan cukup, selain dipengaruhi oleh Content of
Policy (isi kebijakan) dan Contex of Implementation (konteks implementasinya).
Isi kebijakan yang dimaksud meliputi:
1) Kepentingan yang terpenuhi oleh kebijakan (interest affected).
2) Jenis manfaat yang dihasilkan (tipe of benefit).

Page | 134
3) Derajat perubahan yang diinginkan (extent of change envisioned).
4) Kedudukan pembuat kebijakan (site of decision making).
5) Para pelaksana program (program implementators).
6) Sumber daya yang dikerahkan (Resources commited).
Sedangkan konteks implementasi yang dimaksud:
1) Kekuasaan (power)Kepentingan strategi aktor yang terlibat (interest strategies of actors
involved).
2) Karakteristik lembaga dan penguasa (institution and regime characteristics).
3) Kepatuhan dan daya tanggap pelaksana (compliance and responsiveness)

f. Model Elmore dkk


Model keenam adalah model yang disusun Richard Elmore, Michael Lipsky, dan Benny
Hjern dan David OPorter dalam Nugroho, (2014: 672). Model ini dimulai dari
mengidentifikasikan jaringan aktor yang terlibat dalam proses pelayanan dan menanyakan
kepada mereka: tujuan, strategi, aktivitas, dan kontak-kontak yang mereka miliki. Model
implementasi ini didasarkan pada jenis kebijakan publik yang mendorong masyarakat untuk
mengerjakan sendiri implementasi kebijakannya atau tetap melibatkan pejabat pemerintah
namun hanya di tataran rendah.Oleh karena itu, kebijakan yang dibuat harus sesuai dengan
harapan, keinginan, publik yang menjadi target atau kliennya, dan sesuai pula dengan pejabat
eselon rendah yang menjadi pelaksananya.Kebijakan model ini biasanya diprakarsai oleh
masyarakat, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga nirlaba kemasyarakatan
(LSM).

g. Model Edward
George Edward III dalam Nugroho (2014: 673) menegaskan bahwa masalah utama
administrasi publik adalah lack of attention to implementation. Dikatakannya, without
effective implementation the decission of policymakers will not be carried out successfully.
Edward menyarankan untuk memperhatikan empat isu pokok agar implementasi kebijakan
menjadi efektif, yaitu communication, resource, disposition or attitudes, dan beureucratic
structures.
Komunikasi berkenaan dengan bagaimana kebijakan dikomunikasikan pada organisasi
dan/atau publik, ketersediaan sumber daya untuk melaksanakan kebijakan, sikap dan tanggap
dari pihak yang terlibat, dan bagaimana struktur organisasi pelaksana kebijakan.

Page | 135
Resources berkenaan dengan ketersediaan sumber daya pendukung, khususnya sumber
daya manusia.Hal ini berkenaan dengan kecakapan pelaksana kebijakan publik untukcarry
out kebijakan secara efektif.
Disposition berkenaan dengan kesediaan dari para implementor untuk carry
out kebijakan publik tersebut, kecakapaan saja tidak mencukupi, tanpa kesediaan dan
komitmen untuk melaksanakan kebijakan.
Struktur birokrasi berkenaan dengan kesesuaian organisasi birokrasi yang menjadi
penyelenggara implementasi kebijakan publik. Tantangan adalah bagaimana agar tidak
terjadibeureucratic fragmentation karena struktur ini menjadikan proses implementasi
menjadi jauh dari efektif. Di Indonesia sering terjadi inefektivitas implementasi kebijakan
karena kurangnya koordinasi dan kerja sama di antara lembaga-lembaga negara dan/ atau
pemerintahan.
h. Model Nakamura dan Smallwood
Model Nakamura dan Smallwood mengambarkan proses implementasi kebijakan
secara detail. Begitu detailnya, sehingga model ini relatif relevan diimplementasikan pada
semua kebijakan.Model ini menjelaskan keterkaitan antara pembentukan kebijakan dan
implementasi kebijakan secara praktikal.
Konsep ini menautkan pembentukan kebijakan dalam implementasi kebijakan secara
partikal.Menjadi magnet yang sangat besar terhadap praktisi kebijakan, yang justru
mendekatkan antara ilmuan kebijakan dan praktisi kebijakan.
i. Model Jaringan
Model ini memehami bahwa proses implementasi kebijakan adalah sebuah complex of
interaction processes di antara sejumlah besar aktor yang berada dalam suatu jaringan
(network) aktor-aktor yang independen. Interaksi di antara para aktor dalam jaringan
tersebutlah yang akan menentukan bagaimana implementasi harus dilaksanakan,
permasalahan-permasalahan yang harus dikedepankan, dan diskresi-diskresi yang diharapkan
menjadi bagian penting di dalamnya.
Pemahaman ini antara lain dikembangkan dalam sebuah buku yang ditulis oleh tiga
orang ilmuwan Belanda, yaitu Walter Kickert, Erik Hans Klijn, dan Joop
Koppenjan, Managing Complex Networks: Strategies for the Public Sector (1997). Pada
model ini, semua aktor dalam jaringan relatif otonom, artinya mempunyai tujuan masing-
masing yang berbeda.Tidak ada aktor sentral, tidak ada aktor yang menjadi koordinator.Pada
pendekatan ini, koalisi dan/ atau kesepakatan di antara aktor yang berada pada sentral
jaringan menjadi penentu implementasi kebijakan dan keberhasilannya.

Page | 136
2. Implementasi Kebijakan in action
Pertanyaan praktisbagaimana birokrasi melaksanakan implementasi kebijakan atau
implementasi kebijakan dalam praktek?Ada banyak model, Menurut Nugroho, (2014: 694)
salah satu yang ditawarkan adalah implementasi kebijakan enam tahapan.
1) Tim Implementasi
2) Pelatihan Pelaksana
3) Sosialisasi Publik
4) Implementasi Percobaan
5) Perbaikan Kebijakan
6) Implementasi Penuh

D. Pengendalian Kebijakan
Menurut Nugroho, (2014: 705) Pengendalian kebijakan terdiri atas tiga dimensi :
1) Pengawasan berupa pemantauan dengan penilaian untuk tujuan pengendalian
pelaksanaan agar pelaksanaan sesuai denganrencana yang telah ditetapkan. Pengawasan
sering kali dipahami sebgai on going evaluation atau formative evaluation.
2) Evaluasi merupakan penilaian penapaian kinerja dari implementasi. Evaluasi
dilaksanakan setelah kegiatan selesai dilaksanakan ( selesai dengan mencapai tenggat
waktu / melewati tenggat waktu) dan selesai denga pekerjaan tuntas.
3) Pengganjaran dimaknai pemberian insentif atau disinsentif yang ditetapkan dan
diberikan sebagai hasil dari pengawasandan penilaian yang telah dilakukan.

Gambar 8. Pengendalian Kebijakan

Lingkungan

Pelaksanaa
Pelaksanaa
Perencanaan
Perencanaan nn Hasil

Penga
Penga
--
wasan
wasan
Evalua
Evalua
si
si

Pengendalian Page | 137


1. Monitoring Kebijakan
Monitoring adalah to watch and check over a period of time. Menurut Kunarjo
dalam Glosari Pembiayaan Pembangunan Pembanguan (1991) monitoring atau pemantauan
adalah usaha secara terus menerus untuk memahami perkembangan bidang-bidang tertentu
dari pelaksnaan tugas atau proyek yang sedang dilaksanakan.
Ada dua jenis teknik monitoring, yaitu on desk dengan mencermati laporan-laporan
perkembangan dan on site dengan cara turun ke lapangan memeriksa secara langsung. Cara
ketiga adalah melakukan keduannya, yaitu on desk dan on site.
Tujuan monitoring adalah untuk :
a. Menghindarkan terjadinya penyimpangan/kesalahan/keterlambatan sehingga dapat
diluruskan.
b. Memastikan proses implementasi sesuai dengan model implementasi yang sesuai.
c. Memastikan bahwa implementasi kebijakan menuju arah kinerja kebijakan yang
dikehendaki.
Dapat disimpulkan tujuan monitoring hanya dua yaitu memastikan pelaksanaan tidak
menyimpang dari perencanaan, dan membangun early warning system sebagai bagian
penting untuk memastikan jika terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan.
2. Evaluasi Kebijakan
Evaluasi kebijakan ini berfokus pada pemahaman bahwa sebuah kebijakan public tidak
bias dilepas begitu saja. Kebijakan harus diawasi, dan salah satu mekanisme pengawasan
yang disebut dengan evaluasi kebijakan.
Evaluasi biasanya ditujukan untuk menilai sejauh mana keefektifan kebijakan public
guna dipertanggungjawabkan kepada konstituennya.Tujuan pokok evaluasi bukan untuk
menyalah-nyalahkan, melainkan untuk melihat seberapa besar kesenjangan antara pencapaian
dan harapan suatu kebijakan public.

Ciri-ciri dari evaluasi kebijakan adalah :


a. Tujuannya menemukan hal-hal yang strategis untuk meningkatkan kinerja kebijakan;
b. Evaluator mampu mengambil jarak dari pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan, dan
target kebijakan.

Page | 138
c. Prosedur dapat dipertanggungjawabkan secara metodologi;
d. Dilaksanakan tidak dalam suasana permusuhan dan kebencian
e. Mencakup rumusan, implementasi, lingkungan dan kinerja kebijakan.

3. Pengganjaraan Kebijakan
Kebijakan publik adalah tugas pokok dari setiap pemerintahan lenbaga public selain
pelayanan public.Untuk itu setiap kebijakan public harus dan wajib untuk dinilai.Penilaian
dilakukan melalui evaluasi kebijakan yang dilakukan oleh lembaga tersebut.Lebaga di
atasnya, lembaga pengawasan dan masyarakat atau public.Dengan demikian tidak pada
tempatnya jika ada pejabat pemerintah yang mengatakan bahwakebijakan pemerintah tidak
dapat dinilai.
Hal seanjutnya adalah, apa yang dilakukan setelh dinilai? Sederhana diganjar. Jika
berhasil diberikan insentif , jika gagal diberikan disinsentif atau hukuman.
Ganjaran tentu saja tidak sederhana hadiah dan hukuman karena maknanya bergerak
pada lima jenjang.

a. Etika- dengan hukuman terberat adalah social punishment berupa pengucilan dan
pendiskreditan secara social.
b. Politik- dengan hukuman terberat impeachment.
c. Hukum- dengan hukuman terberat adalah penjara dan/atau denda.
d. Manajemen- dengan hukuman terberat adalah pemberhentian dari jabatan manajemen.
e. Teknis/financial- dengan hukuman terberat mengganti kerugian

E. Menuju Kebijakan Unggul


Keberhasilan dan kegagalan suatu Negara yang terlanda krisis untuk bangkit sama
cepat dengan bangsa bangsa lain yang terlanda krisis, tergantung kepada ketersediaan
kebijakan public yang unggul dari Negara tersebut. Ross Garnaut, maupun Adam
Schwartzdalam Nugroho, (2014: 743) mengemukakanpremis secara umum, bahwa kejatuhan
Presiden Suharto pada dasarnya disebabkan kegagalannya membangun kebijakan public yang
unggul.
Hari ini Indonesia memasuki era yang dipenuhi oleh warna demokrasi yang hampir
dekat ke anarkhi.Sebagai pendamping dapat di lihat Malaysia.Malaysia dapat dikatakan
berhasil lepas dari krisis ekonomi, tetapi Indonesia sudah lebih maju dalam pembelajaran
Demokrasi demikian pula dengan Singapura. Beberapa tahun dalam sebuah Dialog informal,
ada seorang pemuda singapura berpendapat; kita genenerasi seusia saya, senang dengan
kondisi seperti ini, tetapi rasanya ini terlalu steril

Page | 139
Kebijakan Publik yang ideal mempunyai tiga cirri utama yang sekaligus dijadikan
sebagai kriteria, yaitu :

1. Cerdas, yaitu memecahkan masalah pada inti permasalahannya. Kecerdasan membuat


pengambil keputusan kebijakan public fokus kepada isu kebijakan yang hendak dikelola
dalam kebijakan publik daripada popularitasnya sebagai pengambil keputusan kebijakan.
2. Bijaksana, yaitu tidak menghasilkan masalah baru yang lebih besar dari pada masalah
yang dipecahkan. Kebijaksanaan membuat pengambil keputusan kebijakan public tidak
menghindarkan diri dari kesalahan yang tidak perlu.
3. Memberikan harapan, yaitu memberikan harapan kepada seluruh warga bahwa mereka
dapat memasuki hari esok lebih baik dari hari ini. Dengan memberikan harapan, maka
kebijakan public menjadi a seamless pipe of transfer of prosperity dalam suatu kehidupan
bersama. Sebuah sistem yang bisa make poverty a history

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Kebijakan publik dipahami sebagai serangkaian proses yang bergerak dari satu bagian
ke bagian ke bagian lainnya secara berkesinambungan dan memiliki ketergantungan satu
sama lain. Proses itu berada di dalam suatu sistem politik yang dimulai dari identifikasi,
agenda setting, formulasi, implementasi dan evaluasi kebijakan. Mengenai proses kebijakan
ini, Easton menganalogikan sistem politik sebagai sistem biologi yang di dalamnya
berlangsung interaksi antara organisme dengan lingkungannya. Kebijakan publik merupakan
output dari sistem politik, dimana sistem politik itu terdiri dari input, throughput, dan output.
Input dari sistem politik berasal dari lingkungan (masyarakat) dapat berupa tuntutan maupun
dukungan. Selanjutnya input tersebut mengalami penggodokan dalam proses formulasi
hingga siap diimplementasikan dalam bentuk output, yaitu kebijakan publik.

B. Saran

Page | 140
Sudah saatnya pemerintah mengubah mainset dalam memformulasikan kebijakan
publik. Jika sebelumnya mainset yang digunakan oleh pemerintah dalam merumuskan
kebijakan adalah bersifat problem oriented, sehingga cenderung berfokus pada prosedur dan
aturan untuk memecahkan masalah, yang berdampak pada birokrasi pita merah (red tape).
Maka untuk saat ini dan di masa mendatang, mainset yang digunakan dalam
memformulasikan kebijakan harus bersifat goal oriented. Sehingga kebijakan yang
dirumuskan tidak membuat masyarakat terjebak pada aturan dan prosedur yang rumit, namun
yang terpenting adalah bagaimana tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai, tanpa terlepas
dari nilai-nilai fundamental sebagai landasan untuk berfikir dan bertindak.

DAFTAR PUSTAKA

Dunn, William N, 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

Nugroho, Riant. 2014. Public Policy. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Suharto, Edi. 2014. Analisis Kebijakan Publik. Bandung: Penerbit Alfabeta

Page | 141