Anda di halaman 1dari 12

Perubahan Perilaku Pada Lanjut Usia (Lansia)

Selasa, 25 Juni 2013


Share
Perubahan Perilaku Pada Lanjut Usia (Lansia)-Jangan menganggap sepele jika orang
tua,kakek atau nenek kita mulai tidak nafsu makan selama berhari-hari atau mungkin mereka
tidak bisa tidur dan berperilaku layaknya seperti anak-anak.
Banyak orang menganggap ini adalah sebagai kewajaran karena sudah tua,namun semestinya
gangguan ini harus ditangani, karena bukan hanya keluarga yang terganggu, namun orang tua
tersebut akan lebih menderita.

Setiap kita berfikir,berperasaan dan berperilaku semua itu merupakan kerja/fungsi otak kita,
termasuk karakter atau sifat kita. Namun semakin bertambahnya usia, maka otak manusia pun
akan mengalami proses penuaan sehingga otak akan menjadi mengerut atau mengecil (atrofi).
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/> Karakterdimasa muda akan
mencerminkan perilakunya di hari tua. Misalnya seseorang yang dimasa muda banyak berbicara
maka disaat tua akan menjadi bawel atau cerewet, seorang yang saat muda memiliki sifat hemat
maka disaat tua ia bias menjadi orang yang pelit,dan lain-lain.

Proses penuaan ini akan membuat gangguan penurunan daya ingat (demensia). Ada pun
perubahan yang dapat terjadi pada lanjut usia diantaranya jika perubahan terjadi disekitar
memori otak maka akan terjadi ganguan daya ingat,jika terjadi perubahan dipusat tidur maka
akan terjadi gangguan tidur,dan lain-lain.

sumber : (dr.N.Saelan Tadjudin,SpKJ)

http://polaberita.blogspot.co.id/2013/06/perubahan-perilaku-pada-lanjut-usia.html
Minggu, 09 Desember 2012
KONSEP PENDIDIKAN KESEHATAN

1 Definisi pendidikan kesehatan

Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya atau kegiatan untuk menciptakan perilaku masyarakat

yang kondusif untuk kesehatan. Artinya, pendidikan kesehatan berupaya agar masyarakat menyadari

atau mengetahui bagaimana cara memelihara kesehatan mereka, bagaimana menghindari atau

mencegah hal hal yang merugikan kesehatan mereka dan kesehatan orang lain, kemana

seharusnya mencari pengobatan jika sakit, dan sebagainya. (Notoatmodjo, 2007: 12)

2 Tujuan pendidikan kesehatan

Menurut Benyamin Bloom (1908) tujuan pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan 3

domain perilaku yaitu kognitif (cognitive domain), afektif (affective domain), dan psikomotor

(psychomotor domain). (Notoatmodjo, 2003: 127)

Menurut Notoatmodjo (2007: 139) dalam perkembangannya, teori Bloom ini dimodifikasi untuk

pengukuran hasil pendidikan kesehatan, yakni:

a. Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan

seseorang (overt behaviour). Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6

tingkatan:
1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek

yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3) Aplikasi (aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi

atau kondisi real (sebenarnya).

4) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen

komponen, tetapi masih didalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5) Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian

bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu

materi atau obyek.

b. Sikap (attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus

atau obyek.
Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:

1) Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan

(obyek).

2) Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah

suatu indikasi dari sikap.

3) Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi

sikap tingkat tiga.

4) Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap

yang paling tinggi.

c. Praktik atau tindakan (practice)

Praktik ini mempunyai beberapa tingkatan:

1) Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah

merupakan praktik tingkat pertama.

2) Respon terpimpin (guided response)

Dapat dilakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah

merupakan indikator praktik tingkat dua.


3) Mekanisme (mecanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu

sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga.

4) Adopsi (adoption)

Adopsi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu

sudah dimodifikasikannya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

3 Ruang lingkup pendidikan kesehatan

Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara lain dimensi sasaran

pendidikan kesehatan, tempat pelaksanaan pendidikan kesehatan, dan tingkat pelayanan

pendidikan kesehatan. (Herawani dkk, 2001: 4)

a. Sasaran pendidikan kesehatan

Dari dimensi sasaran, ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:

1) Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu

2) Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok

3) Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat

b. Tempat pelaksanaan pendidikan kesehatan

Menurut dimensi pelaksanaannya, pendidikan kesehatan dapat berlangsung diberbagai tempat

sehingga dengan sendirinya sasarannya juga berbeda. Misalnya:

1) Pendidikan kesehatan di sekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran murid, yang

pelaksanaannya diintegrasikan dalam upaya kesehatan sekolah (UKS)

2) Pendidikan kesehatan di pelayanan kesehatan, dilakukan di pusat kesehatan masyarakat, balai

kesehatan, rumah sakit umum maupun khusus dengan sasaran pasien dan keluarga pasien
3) Pendidikan kesehatan di tempat tempat kerja dengan sasaran buruh atau karyawan.

c. Tingkat pelayanan pendidikan kesehatan

Dalam dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan

lima tingkat pencegahan (five levels of prevention) dari Leavel dan Clark, yaitu:

1) Promosi kesehatan (health promotion)

Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan misalnya dalam kebersihan perorangan, perbaikan

sanitasi lingkungan, pemeriksaan kesehatan berkala, peningkatan gizi, dan kebiasaan hidup sehat.

2) Perlindungan khusus (specific protection)

Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Misalnya tentang pentingnya imunisasi sebagai cara perlindungan terhadap penyakit, pada anak,

maupun orang dewasa.

3) Diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)

Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan karena rendahnya tingkat pengetahuan dan

kesadaran masyarakat akan kesehatan dan penyakit yang terjadi dimasyarakat.

4) Pembatasan cacat (disability limitation)

Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan karena masyarakat sering didapat tidak mau

melanjutkan pengobatannya sampai tuntas atau tidak mau melakukan pemeriksaan dan pengobatan

penyakitnya secara tuntas. Pada tingkat ini kegiatan meliputi perawatan untuk menghentikan

penyakit, mencegah komplikasi lebih lanjut, serta fasilitas untuk mengatasi cacat dan mencegah

kematian.

5) Rehabilitasi (rehabilitation)

Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan karena setelah sembuh dari suatu penyakit

tertentu, seseorang mungkin menjadi cacat. Untuk memulihkan kecacatannya itu diperlukan latihan

latihan. Untuk melakukan suatu latihan yang baik dan benar sesuai program yang ditentukan,

diperlukan adanya pengertian dan kesadaran dari masyarakat yang bersangkutan.


4 Metode pendidikan kesehatan

Dibawah ini akan diuraikan beberapa metode pendidikan individual, kelompok, dan massa (public).

(Notoatmodjo, 2003: 104)

a. Metode pendidikan individual (perorangan)

Dalam pendidikan kesehatan, metode pendidikan yang bersifat individual ini digunakan untuk

membina perilaku baru, atau seseorang yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku

atau inovasi. Dasar digunakannya pendekatan individual ini disebabkan karena setiap orang

mempunyai masalah atau alasan yang berbeda beda sehubungan dengan penerimaan atau

perilaku baru tersebut. Bentuk dari pendekatan ini antara lain 1) bimbingan dan penyuluhan

(guidance and counseling), 2) wawancara (interview).

b. Metode pendidikan kelompok

Dalam memilih metode pendidikan kelompok harus mengingat besarnya kelompok sasaran serta

tingkat pendidikan formal pada sasaran. Untuk kelompok yang besar metodenya akan lain dengan

kelompok kecil. Efektifitas suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan.

1) Kelompok besar

Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang.

Metode yang baik untuk kelompok besar ini antara lain ceramah dan seminar.

2) Kelompok kecil

Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang disebut kelompok kecil. Metode metode yang

cocok untuk kelompok kecil ini antara lain diskusi kelompok, curah pendapat (brain storming), bola
salju (snow bolling), kelompok kecil kecil (bruzz group), memainkan peran (role play), permainan

simulasi (simulation game).

c. Metode pendidikan massa (public)

Metode pendidikan (pendekatan) massa untuk mengkomunikasikan pesan pesan kesehatan yang

ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau public, maka cara yang paling tepat adalah

pendekatan massa.

Pada umumnya bentuk pendekatan (cara) massa ini tidak langsung. Biasanya menggunakan atau

melalui media massa. Contoh metode ini antara lain: ceramah umum (public speaking).

http://sidedoang.blogspot.co.id/2012/12/konsep-pendidikan-kesehatan.html

DEDI
Home Kesehatan Manfaat Pendidikan Kesehatan Bagi Lingkungan Di Masyarakat

Manfaat Pendidikan Kesehatan Bagi Lingkungan Di Masyarakat

Manfaat Pendidikan Kesehatan Bagi Lingkungan Di Masyarakat Pendidikan kesehatan


adalah proses membuat orang mampu meningkatkan kontrol dan memperbaiki kesehatan
individu. Kesempatan yang direncanakan untuk individu, kelompok atau masyarakat agar
belajar tentang kesehatan dan melakukan perubahan-peubahan secara suka rela dalam tingkah
laku individu.

Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental dan social,
maka masyarakat harus mampu mengenal dan mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dam
mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial, budaya, dan
sebagainya).

Manfaat dan Tujuan Pendidikan Kesehatan Bagi


Lingkungan Masyarakat
Pendidikan kesehatan memiliki beberapa manfaat dan tujuan antara lain pertama, tercapainya
perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara
perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta peran aktif dalam upaya mewujudkan derajat
kesehatan yag optimal. Kedua, terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga dan
masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik, mental dan social sehingga
dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian. Ketiga, menurut WHO tujuan penyuluhan
kesehatan adalah untuk mengubah perilaku perseorangan dan atau masyarakat dalam bidang
kesehatan.

Jadi tujuan dan Manfaat pendidikan kesehatan adalah untuk memperoleh pengetahuan dan
pemahaman pentingnya kesehatan untuk tercapainya perilaku kesehatan sehingga dapat
meningkatkan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial, sehingga produktif secara ekonomi
maupun sosial.
Share on: Twitter Facebook Google +

Manfaat Pendidikan Kesehatan Bagi Lingkungan Di Masyarakat | ikapro ikapro | 4.5

Related Posts

http://www.totalserve.biz/2015/06/manfaat-pendidikan-kesehatan-bagi-lingkungan-di-
masyarakat.html

IKA