Anda di halaman 1dari 4

APA GUNA KODE ETIK ADVOKAT BILA KUALITAS DAN NILAI MORAL

TAK PERNAH DIWUJUDKAN?


Karya ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Pengantar Ilmu Hukum

Disusun oleh:
Fiona Meiliana Pangaribuan
NPM: 2016200122
Kelas: C

Dosen:
Dr. Niken Savitri, S.H., MCL.

Mata Kuliah:
Pengantar Ilmu Hukum

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
BANDUNG
2016
APA GUNA KODE ETIK ADVOKAT BILA KUALITAS DAN NILAI MORAL
TAK PERNAH DIWUJUDKAN?

Esai ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum yang
diberikan oleh ibu Dr. Niken Savitri, S.H., MCL. Penulis memberikan judul esai berupa
pertanyaan kritis Apa Guna Kode Etik Advokat Bila Kualitas Dan Nilai Moral Tak Pernah
Diwujudkan? , melihat buruknya mutu lulusan sarjana hukum yang berprofesi sebagai
advokat dan berpraktik tidak sesuai dengan nilai kode etik dan sumpah yang diucapkan
oleh seorang advokat. Penulis menghaturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam proses penyusunan esai ini. Penulis juga menyadari bahwa esai ini masih
jauh dari kesempurnaan. Dengan kerendahan hati, saran dan kritik yang konstruktif sangat
penulis harapkan guna peningkatan pembuatan esai pada waktu mendatang.

Bandung, September 2016

*******************

Profesi hukum sejatinya memerlukan orang yang berpengetahuan hukum yang berlaku,
memiliki kualitas intelektual yang tinggi, meliputi kemampuan berpikir secara tajam, cepat
dan lincah, kecermatan dan ketekunan, serta perasaan kesusilaan yang halus.1 Dapat
disimpulkan bahwa tidak sembarang orang dapat mengemban profesi hukum. Namun,
masyarakat Indonesia memiliki cara pandang yang berbeda. Menurut mereka fakultas hukum
itu cocok untuk orang bodoh. Mereka berpikir fakultas hukum hanya sekedar menghafal.2

Tentu pandangan ini tidak terbentuk dengan sendirinya. Pandangan ini merupakan
tanggapan berupa reaksi masyarakat terhadap kemorosotan wibawa hukum, dan lembaga-
lembaga hukum. Melihat dari kenyataan sehari-hari, seperti apa penyandang profesi hukum
di Indonesia, maka seperti itulah yang akan memasuki fakultas hukum. Menurut pengertian
saya, inilah yang dimaksud dengan lingkaran setan (vicious circle) dalam sistem pendidikan
hukum. Intelektualitas yang rendah membuat cetakan sarjana hukum yang rendah. garbage-
in, garbage-out itulah gambaran seorang pakar menanggapi situasi ini.

1
Tim Pengajar PIH Fakultas Hukum Unpar, Pengantar Ilmu Hukum, tanpa tahun, hal. 4
2
B. Arief Sidharta, S.H., Kompas, 8 Oktober 1979, di bawah judul artikel Studi dan Profesi Hukum Hanya Untuk
Orang Bodoh?, sebagai Lampiran 1 dalam Tim Pengajar PIH Fakultas Hukum UNPAR, Pengantar Ilmu Hukum,
tanpa tahun, hal. 119
Sarjana hukum yang merupakan produk dari situasi semacam inilah, yang nantinya
melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari hukum, sumpah jabatan, dan kode
etik.3 Beberapa penyimpangan yang sering terdengar, misalnya, acap terjadi praktik-praktik
penyuapan dan pemerasan atau yang lazim disebut mafia peradilan.4 Sering sekali mafia
peradilan ini ditujukan kepada hakim dan jaksa. Tetapi, sesungguhnya praktik mafia
peradilan juga melibatkan advokat (tidak semua advokat). Advokatlah yang berhadapan
langsung dengan klien. Bila menemui kebuntuan dalam memenangkan kliennya, tidak sedikit
advokat beralih ke jalan yang lebih praktis. Dan dengan adanya Hierarki-birokratis
peradilan, status advokat menjadi tidak jelas sehingga profesi ini sangat sulit diawasi.5
Keadaan ini membuat advokat dapat tetap bernafas lega ditengah tuntutan pembenahan
peradilan. Mereka kurang peduli dengan kode etik. Bila melanggar, toh mereka tidak bisa
dituntut sebagaimana halnya seorang hakim dan jaksa.

Inilah masalah yang perlu dibenahi dalam lingkungan advokat Indonesia. Nilai kode etik
seharusnya tetap dilaksanakan. Menurut analisis penulis, lemahnya pelaksanaan dan
penegakan kode etik profesi hukum tidak terletak pada substansi kode etik itu sendiri
ataupun ketidakmengertian penyandang profesi hukum tersebut akan kode etik, namun hal
tersebut disebabkan oleh ketidak-adaannya niat untuk melaksanakan dan mewujudkan nilai
nilai yang terkandung dalam kode etik. Dapat disimpulkan bahwa bagi sebagian advokat kode
etik dan sumpah jabatan hanya sekedar formalitas saja. Semakin lama situasi ini mau tidak
mau akan berimbas pada generasi advokat selanjutnya, yakni semakin sulitnya posisi advokat
untuk memilih: tetap berpihak pada masyarakat atau bergabung dengan sistem yang
bersebrangan lengkap dengan cap-cap yang terlanjur dilekatkan.6

Menurut Blacks Law Dictionary, advokat sendiri memiliki pengertian:

One who assits, defends, or plead for another. One who renders legal advice and aid and
pleads the cause of another before a court or a tribunal. A person learned in the law and duly

3
Kode etik adalah tanda (kata-kata, tulisan) yang disepakati untuk maksud tertentu (untuk menjamin
kerahasiaan berita, pemerintah, dan sebagainya) yang berupa kumpulan peraturan dan prinsip yang bersistem
norma dan asas yang diterima oleh kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku. Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI)
4
Dr. John Pieris, S.H., M.S., Etika Dan Penegakan Kode Etik Profesi Hukum (Advokat), Jakarta:Badan Pembinaan
Hukum Nasional Depertemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2008, hal. 2
5
Ibid, hal.9
6
Ibid, hal 11
admitted to practice, who assists his client with advice, and pleads for him in open court. An
assistant, adviser; plead for causes.7

Artinya, seseorang yang membantu, mempertahankan, membela orang lain. Seseorang


yang memberikan nasihat dan bantuan hukum dan berbicara untuk orang lain di hadapan
pengadilan. Seseorang yang mempelajari hukum dan telah diakui untuk berpraktik, yang
memberikan nasihat kepada klien dan berbicara untuk yang bersangkutan di hadapan
pengadilan. Seorang asisten, penasihat, atau pembicara untuk kasu-kasus.8

Melalui penjelasan di atas, maka sudah sepatutnyalah seorang advokat melakukan apa
yang seharusnya dilakukan, yaitu menolong para pencari keadilan yang tersudut akibat
tudahan-tuduhan yang menjebak mereka, dengan berani menegakkan keadilan tanpa
sedikitpun terpengaruh akan hal hal yang mencoreng nilai kemoralitasan. Peran sejati
advokat ini sudah terkandung dalam kode etik advokat, maka seharusnya mereka dapat
mengemban kode etik ini dan menjunjung sumpah mereka. Hal tersebut tentu akan
mengubah citra dari profesi hukum advokat. Praktik-pratik hukum yang baik dapat
mengubah intervensi masyarakat terhadap profesi hukum. Dan pada akhirnya masyarakat
Indonesia akan menyadari bahwa penyandang profesi hukum itu memang orang-orang yang
memiliki kualitas intelektual yang tinggi, bermoral sejati, dan bermartabat.

*********************
DAFTAR PUSTAKA
Black, Henry Campbel. dibawah judul Blacks Law Dictionary. St. Paul, MN: West
Publishing Co, 1990, sebagai bagian dari Bab 1 dalam V. Harlen Sinaga., S.H., M.M., Dasar-
Dasar Profesi Advokat, Jakarta: Erlangga, 2011.

Pieris, John. Etika Dan Penegakan Kode Etik Profesi Hukum (Advokat), Jakarta:Badan
Pembinaan Hukum Nasional Depertemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2008.

Sidharta, B. Arief. Kompas, 8 Oktober 1979, di bawah judul artikel Studi dan Profesi Hukum
Hanya Untuk Orang Bodoh?, sebagai Lampiran 1 dalam Tim Pengajar PIH Fakultas Hukum
UNPAR, Pengantar Ilmu Hukum, tanpa tahun.

Sinaga, V. Harlen. Dasar-Dasar Profesi Advokat. Jakarta: Erlangga, 2011

Tim Pengajar PIH Fakultas Hukum Unpar, Pengantar Ilmu Hukum, tanpa tahun.

7
Henry Campbel Black, dibawah judul Blacks Law Dictionary. St. Paul, MN: West Publishing Co, 1990, sebagai
bagian dari Bab 1 dalam V. Harlen Sinaga., S.H., M.M., Dasar-Dasar Profesi Advokat, Jakarta: Erlangga, 2011,
hal.2
8
V. Harlen Sinaga., S.H., M.M., Dasar-Dasar Profesi Advokat, Jakarta: Erlangga, 2011, hal. 2