Anda di halaman 1dari 9

Nama : Rizka Diva Pratiwi Dikumpulkan pada : Rabu, 13 September 2017

NPM : 1506675900 Paraf Asisten :


Kelompok :4
Topik Pemicu : Bioenergetika dan Kebutuhan Energi bagi Metabolisme Makhluk Hidup
Outline : 1 Proses Pembentukan ATP
2. Peran Penting ATP
Pembahasan :

PROSES PEMBENTUKAN ATP


Manusia memerlukan energi untuk setiap sel-selnya menjalani fungsi kehidupan. Untuk
memebuhi kebutuhan energi tersebut, sel akan senantiasa membentuk ATP (Adenosine Three
Phosphate). ATP memiliki tiga phosphat dimana ikatan antara dua phosphat terakhir memiliki energi
yang tinggi Untuk melepaskan energi dari ikatan phosphat pada molekulnya, maka ATP mengalami
hidrolisis.

Gambar 1. Struktur ATP.

Sumber : http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._KESEHATAN

Proses dari hidrolisis ATP sendiri jika dituliskan dalam reaksi, maka :

ATP + H2O ADP + Pi + energi

Enzim hidrolisis akan berikatan dengan ATP dan mengkatalisis reaksi ini. Selama reaksi, air akan
memecah ikatan berenergi tinggi antara grup fosfat, kemudian menghasilkan energi dan
meninggalkan Adenosine Diphosphate. Energi yang dilepaskan inilah yang akan dipakai untuk
aktivitas manusia. Dalam sintesis ATP, ATP dibentuk kembali dari ADP yang ada. Selama reaksi,
tentunya diperlukan energi untuk ATP dan molekul air. Enzim sintesis akan berikatan dengan ADP
dan mengkatalisis reaksi ini. Proses:

ADP + Pi + energi ATP + H2O


Sumber penghasil energi untuk membangun ATP yang cepat adalah dari molekul berenergi tinggi,
creatine phosphate. Creatine phosphate terdapat dalam sel (sel otot) dalam jumlah lebih dari
cadangan ATP namun tetap hanya sedikit. Fosfat pada creatine phosphate dapat ditransfer ke ADP
dan membentuk ATP.

Gambar 2. Persamaan Reaksi Pembentukan ATP dari ADP dan Creatine Phosphate.

Sumber : http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._KESEHATAN

Secara umum, ATP dihasilkan oleh mitokondria sel melalui proses respirasi. Dimana proses
respirasi ini dibagi menjadi dua, yaitu respirasi aerobik dan respirasi anaerobik.

RESPIRASI AEROBIK

Pada proses pembentukan ATP melalui proses aerobik terjadi pada organel sel yang disebut
mitokondria. Pada proses dalam mitokondria dihasilkan 36 ATP (Foss, 1998; Fox dan Bowers, 1993;
Armstrong, 1995; Harper, 1996; Guyton, 1999; Ganong, 1999) yang merupakan hasil dari pemecahan
glukosa atau asam lemak (glyserol) secara aerobik menjadi asam piruvat hingga proses akhir berupa
transport elektron.

Sebelum melangkah lebih jauh dalam pembahasan perlu diketahu tentang beberapa istilah
kimia berikut: Acetyl, Acetyl-CoA, NAD+, NADH, FAD+, dan FADH2. Acetyl merupakan
kumpulan dari dua molekul karbon. NAD+ ,(nicotinamide adenine dinucleotide) dan FAD+ (flavin
adenine dinucleotide) merupakan reseptor hydrogen dan mengangkutnya. Sedangkan NADH dan
FADH diturunkan dari NAD+ dan FAD+ yang berfungsi membawa elektron ke sistem transport
electron (Fox dan Bowers, 1993).

Pada dasarnya terdapat beberapa reaksi sistem aerobik yang terjadi di dalam mitokondria,
yaitu: (1) Glikolisis, (2) Siklus Krebs, dan (3) Sistem Tranport Elektron (STE) (Foss, 1998)

1. Glikolisis
Glikolisis merupakan proses pengubahan pemecahan molekul glukosa menjadi asam
piruvat dengan menghasilkan NADH dan ATP. Glikolisis terjadi di sitosol. Dalam glikolisis,
satu molekul glukosa akan dihasilkan 2 asam piruvat, 2 NADH, dan 2 ATP. Asam piruvat ini
selanjutnya akan memasuki tahap dekarboksilasi oksidatif di dalam mitokondria.
Gambar 3. Rangkaian Proses Glikolisis
Sumber : https://lingkarankata.blogspot.co.id

2. Dekarboksilasi Oksidatif
Pada tahap ini, asam piruvat diubah menjadi asetil Co-A dengan menghasilkan
NADH dan melepaskan CO2. Reaksi dekarboksilasi oksidatif sebagai berikut:

Gambar 4. Rangkaian Proses Dekaboksilasi Oksidatif


Sumber : http://biorhy.blogspot.co.id/
Pemecahan asam piruvat menjadi CO2 dan H2O di dalam mitokondria dengan
mempergunakan O2.Setiap molekul asam piruvat kehilangan atom karbon dan 2 atom oksigen
sebagai CO2. Pada bersamaan setiap molekul asam piruvat dioksidasi dengan adanya NAD+,
dan kehilangan 2 elektron dan 2 ion H. Elektron dan ion hidrogen dinamakan kelompok
asetil, dan kemudian bergabung dengan kelompok lain dinamakan Ko enzim A (Co-A) untuk
membentuk asetil Co-A.
3. Siklus Krebs
Siklus Krebs berfungsi menghasilkan energi dan berbagai senyawa antara yang akan
digunakan untuk mensintesis senyawa lain. Tahap ini berlangsung di dalam matriks
mitokondria.

Gambar 5. Siklus Krebs


Sumber : http://www.edubio.info/2015/08/proses-dan-tahapan-siklus-krebs.html

Pada gambar dapat dilihat bahwa Asetil Co-A bergabung dengan asam oksaloasetat
dan kehilangan molekul Co-A. Hasil reaksinya molekul asam sitrat yang kemudian dikonversi
menjadi asam sis-asonitat dan selanjutnya diubah menjadi asam isositrat. Asam isositrat
(dengan bantuan pengangkut elektron, NAD+) menjadi asam oksalosuksinat. Kemudian, asam
oksalosuksinat melepaskan molekul CO2 dan menjadi asam -ketoglutarat. Lalu, dilepaskan
kembali karbon yaitu pada waktu asam -ketoglutarat mengalami oksidasi dengan NAD+ dan
kehilangan CO2 ketika menghasilkan 1 ATP. Didalam reaksi nomor 6, pengangkut elektron
adalah FAD (Flavin Adenine Denukleotide) dan proses berlanjut hingga membentuk asam
oksaloasetat. Asam oksaloasetat mengalami regenerasi dan dapat dimulai dengan yang baru
lagi. Untuk menghasilkan sejumlah ATP yang lebih besar melalui pemecahan asam piruvat
secara aerobik, elektron dan ion hidrogen dikeluarkan ke perangkat elektron NAD dan FAD
dan harus diangkut ke oksigen melalui sistem transport electron (Armstrong, 1995; Guyton,
1999; Ganong, 1999).
4. Sistem Transpor Elektron
Setiap transpor elektron berfungsi mengokisdasi NADH dan FADH2 dari tahap
sebelumnya dan berlangsung di membran dalam mitokondria. Elektron dan hidrogen dari
senyawa yang tergabung dalam NADH dan FADH2 dialirkan melalui NAD, FAD, Koenzim
Q, dan sitokrom. Oksigen berfungsi sebagai penerima elektron terakhir. Selanjutnya, oksigen
bergabung dengan H+ membentuk H2O. Setiap perpindahan elektron yang terjadi, energi yang
terlepas digunakan untuk membentuk ATP.
Pembentukan ATP dalam STE terjadi melalui reaksi fosforilasi oksidatif. Oksidasi 1
NADH menghasilkan 3 ATP dan oksidasi 1 FADH menghasilkan 2 ATP. Ada perbedaan
antara jumlah ATP yang dihasilkan organisme eukariotik dan prokariotik. Pada organisme
eukariotik, oksidasi NADH dan FADH2 terjadi dalam membran mitokondria. Namun, NADH
hasil glikolisis dibentuk di dalam sitosol. Akibatnya, NADH tersebut harus dimasukkan ke
dalam mitokondria. Perpindahan 2 NADH hasil glikolisis tersebut memerlukan 2 ATP.
Dengan demikian, jumlah total ATP yang dihasilkan sebanyak 36 ATP.

Gambar 6. Jumlah energi yang dihasilkan dari setiap molekul glukosa pada
organisme eukariotik.
Sumber : http://www.nafiun.com/2012/11/siklus-krebs.html

RESPIRASI ANAEROBIK

Respirasi anaerob merupakan respirasi yang tidak memerlukan oksigen. Dalam respirasi
anaerobik, peran oksigen digantikan oleh zat lain, seperti NO3 dan SO4. Energi yang dihasilkan
jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan hasil dari respirasi aerobik. Respirasi anaerob hanya dapat
dilakukan oleh mikroorganisme tertentu. Respirasi anaerob merupakan reaksi fermentasi.

Fermentasi adalah proses penguraian karbohidrat menjadi senyawa lain tanpa bantuan
oksigen. Fermentasi terdiri dari dua tahap, yaitu glikolisis dan pembentukan NAD+. Pada proses ini,
asam piruvat hasil glikolisis tidak diubah menjadi asetil Co-A, tetapi direduksi menjadi senyawa lain
dengan bantuan NADH. Fermentasi dibedakan menjadi dua macam.
1. Fermentasi Asam Laktat 2. Fermentasi Alkohol

Gambar 7. Fermentasi Asam Laktat Gambar 8. Fermentasi Alkohol


Sumber : http://kliksma.com/2014/12/fermentasi-asam-laktat-dan-alkohol.html

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBENTUKAN ATP

Untuk menunjang keberhasilan dalam proses pembentukan ATP, kita perlu mengetahui faktor
faktor apa saja yang dapat mempengaruhi proses tersebut. Faktor tersebut dibagi menjadi dua, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal.

- Faktor Internal
1. Kandungan Protoplasma dan Aktivitasnya
Laju respirasi lebih tinggi pada sel-sel meristematik yang membutuhkan banyak energi.
2. Konsentrasi Substrat
Substrat yang dimaksud dalam bentuk karbohidrat (amilum atau glukosa). Penambahan
konsentrasi dapat meningkatkan laju respirasi.
3. Susunan Kimiawi Jaringan
Semakin tinggi tingkat perkembangan organisme, maka akan semakin banyak jumlah
CO2 yang dihasilkan. Susunan kimiawi jaringan mempengaruhi laju respirasi, pada buah-
buahan yang banyak mengandung karbohidrat, maka laju respirasi akan semakin cepat.
Produk yang lebih kecil ukurannya mengalami laju respirasi lebih cepat daripada buah
yang besar, karena mempunyai permukaan yang lebih luas yang bersentuhan dengan
udara sehingga lebih banyak O2 berdifusi ke dalam jaringan. Pada produk-produk yang
memiliki lapisan kulit yang tebal, laju respirasinya rendah, dan pada jaringan muda
proses metabolisme akan lebih aktif dari pada jaringan lebih tua (Pantastico,
1986).
4. Struktur Mitokondria
Pada dasarnya mitokondria itu merupakan struktur yang dapat memperbanyak dirinya
sendiri, yang berarti bahwa satu mitokondria dapat membentuk mitokondria kedua, ketiga
dan seterusnya, hal ini diperlukan oleh sel untuk meningkatkan jumlah ATP-nya (Guyton,
1996).
- Faktor Eksternal
1. Suhu
Suhu optimum untuk proses respirasi adalah 30 450C. Umumnya laju respirasi
meningkat 2-2,5 kali tiap kenaikan 10C
2. Konsentrasi Oksigen
Karena oksigen berfungsi sebagai terminal penerimaan elektron pada daur Krebs, maka
bila konsentrasinya rendah respirasi aerob dan anaerob dapat berlangsung bersamaan.
Apabila konsentrasi O2 ditingkatkan, maka laju respirasi aerob akan lebih cepat dan
respirasi anaerob akan terhenti (Efek Pasteur). Untuk buah-buahan dan sayuran,
konsentrasi O2 rendah disekitar bahan dapat berpengaruh pada sifat fisiologisnya
(Pantastisco, 1986), diantaranya yaitu laju respirasi, oksidasi substrat menurun, serta laju
degradasi senyawa pektin tidak secepat seperti dalam udara terbuka
3. Konsentrasi CO2
Konsentrasi CO2 yang sesuai dapat memperpanjang umur simpan buah-buahan
dan sayuran karena terjadi gangguan pada respirasinya
4. Cahaya
Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tumbuhan untuk proses
tersebut. Tanpa adanya cahaya matahari, tumbuhan tidak akan mampu melakukan proses
fotosintesis yang akan menghasilkan glukosa sebagai bahan dasar glikolisi.
5. Air dan Garam Organik
6. Luka
Terjadinya luka pada suatu tumbuhan menyebabkan respirasi di tempat tersebut naik.
Kenaikan ini disebabkan oleh semakin banyaknya osmosis dan difusi oksigen yang
masuk ke jaringan yang luka. Selain itu, luka yang memicu terjadinya respirasi
mempengaruhi umur simpan produk semakin pendek (Pantastico, 1986).

PERAN PENTING ATP


ATP memegang peranan penting dalam proses yang terjadi dalam tubuh kita karena ATP
berperan sebagai energi yang dapat mendukung aktivitas manusia. Secara umum, peranan ATP antara
lain :

1. Pembakaran Nutrisi
Bila Anda mengkonsumsi makanan, usus Anda menyerap molekul nutrisi ke dalam aliran
darah. Sel kemudian mengambil nutrisi dan membakar mereka secara kimia untuk
membebaskan energi.
2. Penghasil energi melalui hidrolisis ATP
Setelah sel telah membuat ATP, dapat menggunakan ATP untuk memenuhi salah satu
kebutuhan energinya. Sel membutuhkan energi untuk membuat molekul besar, seperti
hormon. Sel-sel otot menggunakan ATP untuk menghasilkan gerakan. Saat sel membuat
sebuah molekul hormon, itu memecah molekul ATP dan menggunakan energi untuk
membuat ikatan baru antara molekul yang lebih kecil untuk menghasilkan satu yang lebih
besar, penjelasan Drs. Garrett dan Grisham. Ketika sel otot berkontraksi, menggunakan
jumlah besar ATP untuk bahan bakar kontraksi.
3. Membuat hormon
4. Persinyalan Seluler
Salah satu peran penting akhir ATP dalam tubuh adalah untuk melayani sebagai sinyal
seluler. Misalnya, karena sel-sel dapat membakar nutrisi baik segera atau menyimpannya
untuk digunakan kemudian, sel-sel menggunakan ATP untuk membantu mereka menentukan
yang harus mereka lakukan. Jika sel memiliki banyak ATP, ATP memberi sinyal sel untuk
menyimpan nutrisi daripada membakar mereka. Namun jika sel dalam keadaan rendah ATP,
sinyal akan menunjukkan bahwa sel harus membakar nutrisi segera.
5. Transportasi energi intraseluler untuk berbagai proses metabolisme termasuk reaksi
biosintesis, motilitas, dan pembelahan sel.
6. Produksi AMP siklik
Digunakan sebagai substrat oleh kinase yang memfosforilasi protein dan lipid, dan dengan
adenilat siklase untuk memproduksi AMP siklik.

DAFTAR PUSTAKA

Amstrong, F.B. 1995. Buku Ajar Biokimia Edisi 3. Jakarta: EGC

Sheeler, Philip and Bianchi, Donald E. 1995. Cell and Molecular Biology,3th Ed. New York : John
Wiley & Sons, Inc.

Kusumawati, Rohana.,Hadi, Wigati. 2013. Biologi untuk SMA/MA Kelas XII. Yogyakarta: Intan
Pariwara

Hasyim. 2006. Proses Pembentukan ATP melalui Proses Aerobik. [ONLINE] Diakses pada 10
September 2017 melalui http://digilib.unm.ac.id/files/disk1/7/universitas%20negeri%20makassar-
digilib-unm-hasyim-320-1-3.hasyim.pdf

Anonim. 2009. Respirasi Seluler. [ONLINE] Diakses pada 10 September 2017 melalui
http://maretbio01cs.weebly.com/uploads/4/6/2/8/4628764/kuliah_3_respirasi_selular.pdf
Anonim. 2015. Respirasi dan Faktor yang Mempengaruhinya. [ONLINE] Diakses pada 10 September
2017 melalui http://digilib.unila.ac.id/6295/15/BAB%20II.pdf

Anonim. 2012. Metabolisme. [ONLINE] Diakses pada 10 September melalui


http://unpak.ac.id/plpg/Slide_IPA_Biologi_Fotosintesis_(PLPG-2012).pdf

Hisham. 2015. Pengertian dan fungsi ATP (Adenosin Trifosfat). [ONLINE] Diakses pada 10
September 2017 melalui http://hisham.id/2015/06/pengertian-dan-fungsi-atp-adenosin-
trifosfat.html

Anonim. 2015. Peran ATP dalam Metabolisme. [ONLINE] Diakses pada 10 September 2017 melalui
http://usaha321.net/peran-atp-dalam-metabolisme.html