Anda di halaman 1dari 5

Autonomy

Pandangan Kant : otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan


bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan
kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri sesuai dengan kesadaran
terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur
tangan pihak luar (heteronomy), suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional
atau self-legislation dari manusia (Am, 2008).
Pandangan J.Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran = otonomi individu,
yakni kemampuan melakukan pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan
kemampuan melaksanakannya), hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi.
Prinsip autonomi dalam bioetik berarti penentuan diri sendiri atau self
determination, terutama penentuan keputusan bagi diri sendiri dalamhal prosedur
kesehatan. Prinsip moral ini berkaitan dengan informed consent (Mokhtar &
Nasrudin, 2015).
Autonomi adalah aturan pribadi (kebebasan) dari diri sendiri, bebas dari
pengendalian orang lain atau paksaan dan dari keterbatasan pribadi yang mencegah
pilihan yang berarti. Individu otonomi bertindak sengaja, dengan pemahaman, dan
tanpa dipengaruhi (Pantilat, 2008; Gillon, 2003). Jika hasil perilaku seseorang
sebagai paksaan dan kelemahan kehendak maka tidak autonom melainkan
heteronomous. Jika seseorang membuat pilihan, keputusan, keyakinan dan keinginan
karena pengaruh eksternal seperti sosialisasi, manipulasi, pemaksaan maka mereka
tidak autonom (Varelius, 2006).
Dalam hal ini, seorang dokter wajib menghormati martabat dan hak manusia.
Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki
otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri) dan kedua, setiap manusia yang
otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan ( Basbeth, F.,
Sampurna,B., 2009).
Autonomi pasien harus dihormati secara etik, dan di sebagian besar negara
dihormati secara legal. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa dibutuhkan pasien yang
dapat berkomunikasi dan pasien dewasa untuk dapat menyetujui atau menolak
tindakan medis ( Basbeth, F., Sampurna,B., 2009).
Pada umumnya, autonomi dikaitkan dengan permintaan persetujuan kepada
pasien atas apa yang akan dokter lakukan. Jika pasien menolak saran pengobatan dari
dokter, maka dokter harus menghormati keputusan pasien dan tidak boleh
memaksakan sarannya kepada pasien. Begitu pula dengan informasi mengenai
sesuatu hal, apabila pasien membuat keputusan untuk tidak mengetahui informasi
tersebut, maka sepenuhnya harus dihormati sebagai keputusan pasien (Andorno,
2004).
Sangat dipahami dalam hal etika, pilihan atau persetujuan merupakan proses.
Istilah pilihan informasi sering diubah menjadi informasi persetujuan atau informed
consent. Pilihan informasi yang benar dan persetujuan sangat penting dalam etika
kedokteran (Stirrat & Gill, 2005). Melalui informed consent , pasien menyetujui
suatu tindakan medis secara tertulis. Informed consent menyaratkan bahwa pasien
harus terlebih dahulu menerima dan memahami informasi yang akurat tentang
kondisi mereka, jenis tindakan medik yang diusulkan, risiko, dan juga manfaat dari
tindakan medis tersebut ( Basbeth, F., Sampurna,B., 2009; Pantilat, Informed
Consent, 2008). Menghormati otonomi pasien tidak hanya melibatkan kewajiban etis
untuk menghormati, tetapi juga kewajiban untuk mempromosikan baik otonomi
pasien dan pilihan otonom. Istilah kapasitas dan kompetensi digunakan untuk
menggambarkan sekelompok kemampuan yang diperlukan untuk pengambil
keputusan. Di Amerika Serikat kapasitas digunakan oleh para ahli medis untuk
menggambarkan kemampuan fungsional, sementara kompetensi adalah istilah hukum
(Norman, 2012).
Kapasitas adalah threshold elemen dalam informed consent. Tanpa
kemampuan untuk membuat keputusan, seseorang tidak otonom. Pasien mungkin
sepenuhnya mampu membuat keputusan medis bahkan jika mereka tidak mampu
merawat diri mereka sendiri dengan cara lain. Kapasitas bertambah dan berkurang
tergantung dari banyak faktor seperti kondisi medis pasien, keadaan psikologis,
tingkat stress, dan kemampuan untuk mengarahkan ke lingkungan lain. Secara umum,
kompetensi untuk membuat keputusan medis di vonis untuk hadir ketika pasien
memenuhi empat kriteria : ia dapat berkomunikasi dan membuat pilihan, memahami
informasi yang relevan, menghargai konsekuensi keputusan medis, dan alasan tentang
keputusan pengobatan (Norman, 2012; Singer & Viens, 2008). Harus mengandalkan
kompetensi untuk membuat keputusan tertentu mengenai perawatan medis seseorang,
kebebasan dari gangguan keputusan, perlindungan dari serangan fisik setelah
keputusan telah dibuat, dan hak untuk perawatan medis dalam keadaan yang tepat
(Walker, 2009).
Autonomi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai martabat pasien
2. Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi elektif)
3. Berterus terang
4. Menghargai privasi
5. Menjaga rahasia pasien
6. Menghargai rasionalitas pasien
7. Melaksanakan informed consent
8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri
9. Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien
10. Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan,
termasuk keluarga pasien sendiri
11. Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non
emergensi
12. Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikan pasien
13. Menjaga hubungan (kontrak)

Autonomi dapat diaplikasikan untuk pasien dan para pelayan kesehatan


untuk analisis etika dan kebebasan dalam membuat keputusan diri sendiri dan
menetapkan tujuan sendiri, terutama dalam hal memutuskan dalam bidang medis.
Namun seseorang pasien harus kompeten dan bebas dari unsur paksaan dalam
membuat keputusan medis untuk diri sendiri (Bernal, 2004; Singer & Viens, 2008).
Demikian pula bagi para pelayan kesehatan harus kompeten dan bebas dari paksaan
dari berbagai pihak seperti suatu institusi, kebijakan perusahaan farmasi, atau
organisasi pemeliharaan kesehatan untuk membuat keputusan medis yang
bertanggung jawab berdasarkan pengetahuan dan pelatihan medis (Bernal, 2004).
Menurut prinsip otonomi, orang harus diizinkan untuk membuat keputusan mereka
sendiri, asalkan keputusan mereka tidak mempengaruhi kebebasan orang lain untuk
bertindak (Easop, 2011).
Menghormati otonomi pasien adalah salah satu dari prinsip-prinsip etika
yang paling menonjol disahkan oleh profesi kesehatan untuk memandu para tenaga
kesehatan pada pengobatan medis. Otonomi pasien biasanya dipahami sebagai hak
individu untuk membuat pilihan bagi dirinya sendiri yang memandu hidupnya dengan
cara yang mencerminkan tujuan (preferensi atau nilai-nilai) bahwa dia menentukan
untuk menjadi berarti bagi dirinya sendiri. Dalam perawatan kesehatan, rasa hormat
otonomi menekankan khususnya kebebasan pilihan pasien, terutama apa yang terjadi
pada tubuhnya, informasi mengenai kesehatannya, dan integritas. Dalam berbagi
yurisdiksi hukum, pilihan seseorang dan kontrol terhadap hal tersebut dan akibatnya
dilindungi oleh hukum. Seperti hal lainnya nilai-nilai dan hak-hak penting , prinsip
menghormati otonomi ditentukan dan dipertimbangkan dengan pertimbangan etika
dan praktek lainnya, berkelanjutan dalam negosiasi yang dinamis pada hubungan
terapeutik dan tujuan perawatan (Ells, Hunt, & Chambers, 2011).
Membina autonomi melalui hubungan saling hormat memiliki lima unsur
(Lambert, Soskolne, Bergum, Howell, & Dossetor, 2002):
a. Mengembangkan dan mempertahankan pikiran terbuka
b. Mengembangkan perspektif sendiri
c. Mencari kesempatan untuk wawasan yang kreatif dan fakta-fakta baru unt uk
memodifikasi pespektif seseorang sebelumnya
d. Mencari kesempatan untuk mengekspesikan perspektif orang lain
e. Menghasilkan motivasi untuk merawat satu sama lain dan lingkungan
Am, K. T. (2008). In Defense of Autonomy : An Ethic of Care. NYU Journal of Law &
Liberty , 555.

Andorno, R. (2004). The Right Not to Know : An Autonomy Based Approach. Journal
Medical Ethics , 435-440.

Basbeth, F., & Sampurna,B. (2009). Analisis Etik Terkait Resusitasi Jantung
Paru. Vol 59

Bernal, S. K. (2004). Twin Autonomy, Bioethics and Law Forum. Journal of Andrology ,
3.

Easop, B. (2011). Princeton Bioethics Conference. Princeton Journal of Bioethics , 43.

Ells, C., Hunt, M. R., & Chambers, J. E. (2011). Relational Autonomy as an essential
component of patient-centered care. International Journal of Feminist Approaches
to Bioethics , 83.

Gillon, R. (2003). Ethics Needs Principles- four can encompass the rest- and Respect for
Autonomy should be first among equals. Journal Medical Ethics , 310.

Lambert, T. W., Soskolne, C. L., Bergum, V., Howell, J., & Dossetor, J. B. (2002). Ethical
Perspectives for Public and Environmental Health : Fostering Autonomy and The
Right to Know. Environmental Health Perspective , 134.

Mokhtar, S., & Nasrudin. (2015). Enhancing professional obstetric care with
competence. Eubios Journal of Asian and International Bioethics , 69.

Norman, G. V. (2012). Informed Consent : Respecting Patient Autonomy. 38.

Pantilat, S. (2008). Autonomy VS Beneficience. 1.

Pantilat, S. (2008). Informed Consent.

Singer, P. A., & Viens, A. M. (2008). The Cambridge Textbook of Bioethics. New York:
Cambridge University Press.

Stirrat, G. M., & Gill, R. (2005). Autonomy in Medical Ethics after O'Neil. Journal
Medical Ethics , 127.

Varelius, J. (2006). The Value of Autonomy in Medical Ethics. Medicine, Health Care
and Philosophy , 377.

Walker, R. L. (2009). Medical Ethics Needs a New View of Autonomy. Journal of


Medicine and Philosophy , 595.