Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS

TUBERKULOSIS GINJAL

Dosen Pembimbing : Ns. Ana Fitria Nusantara S.Kep.,M.Kep

Disusun Oleh :

Kelompok 11

1. Dewi Susyanti (14201.06.14007)


2. Hasanah (14201.06.14007)
3. Hayunda (14201.06.14017)
4. Mualfah wulandari (14201.06.14028)

PROGRAM STUDY S1 KEPERAWATAN

STIKES HAFSHAWATY ZAINUL HASAN GENGGONG

PROBOLINGGO

2017
HALAMAN PENGESAHAN

MAKALAH

TUBERKULOSIS GINJAL DAN TRAKTUS GENITORENALIS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar

SISTEM PERKEMIHAN

Mengetahui,

Dosen Mata Ajar

Ns. Ana Fitria Nusantara S.Kep.,M.Kep

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah kami panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT. atas segala
limpah rahmat dan hidayahnya. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah
ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada proklamator sedunia,
pejuang tangguh yang tak gentar menghadapi segala rintangan demi umat manusia, yakni
Nabi Muhammad SAW.

Tujuan penulisan makalah adalah untuk memenuhi tugas di STIKES Hafshawaty, kami
susun dalam bentuk kajian ilmiah dengan judul TUBERKULOSIS GINJAL dan dengan
selesainya penyusunan makalah ini, kami juga tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih
kepada:

1. KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH.MM sebagai pengasuh pondok pesantren
Zainul Hasan Genggong.
2. Ns. Iin Aini Isnawaty, S.Kep.,M.Kes. sekaju ketua STIKES Hafshawaty Zainul Hasan
Genggong.
3. Shinta Wahyusari, S.Kep.Ns.,M.Kep.,Sp.Kep.Mat. selaku Ketua Prodi S1
Keperawatan.
4. Ns. Ana Fitria Nusantara S.Kep.,M.Kep. selaku dosen Mata Ajar Sistem perkemihan.
5. Santi Damayanti, A.md. selaku panitia Perpustakaan.
6. Teman-teman kelompok sebagai anggota penyusun makalah ini

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah kami
belum sempurna. Oleh karena itu kami dengan rendah hati mengharap kritik dan saran dari
pihak dosen dan para audien untuk perbaikan dan penyempurnaan pada materi makalah ini.

Probolinggo, Februari 2017

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Sampul............................................................................................i

Halaman Pengesahan.....................................................................................ii

Kata Pengantar...............................................................................................iii

Daftar Isi..........................................................................................................iv

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.......................................................................................

1.2 Rumusan Masalah..................................................................................

1.3 Tujuan ....................................................................................................

1.4 Manfaat..................................................................................................

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Fisiologi................................................................................


2.2 Definisi................................................................................................
2.3 Etiologi................................................................................................
2.4 Patofisiologi.........................................................................................
2.5 Manifestasi Klinis................................................................................
2.6 Klasifikasi............................................................................................
2.7 Pemeriksaan Diagnostik......................................................................
2.8 Penatalaksanaan...................................................................................
2.9 Komplikasi...........................................................................................

BAB 3 ASUHAN KEPEPERAWATAN TEORI

3.1 Pengkajian...........................................................................................

3.2 Diagnosa Keperawatan........................................................................


3.3 Intervensi Keperawatan.......................................................................
BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan..........................................................................................

4.2 Saran....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Tuberkulosis Ini adalah suatu infeksi spesifik yang mencapai traktus
genitourinatus melalui penyebaran hematogen. Ginjal paling sering terkena; tuberkel
tuberkel di dalam parenkim mengalami perkejuan dan akhirnya berhubungan
dengan sistem pelvikaliseal. Traktus urinarius bagian bawah (uterus, vesika urinaria,
prostat, epididimis) terkena secara sekunder akibat infeksi desendens; fibrosis-sifat
khas penyembuhan tuberkulosis dapat menyumbat ureter atau uretra atau
menyebabkan kontraktur vesika urinaria. Refluks vesikoureteral terjadi bila vesika
urinaria terkena hebat. Epididimis bilateral dapat menyebabkan infertilitas, dan testis
dapat dirusak oleh penjalaran langsung (Schrock,Theodore R, 1995).
Penyakit tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi
masalah kesehatan Masyarakat. Di Indonesia maupun diberbagai belahan dunia.
Penyakit tuberculosis merupakan penyakit menular yang kejadiannya paling tinggi
dijumpai di India sebanyak 1.5 juta orang, urutan kedua dijumpai di Cina yang
mencapai 2 juta orang dan Indonesia menduduki urutan ketiga dengan penderita
583.000 orang.

Terjadinya peningkatan kasus ini disebabkan oleh daya tahan tubuh, status gizi
dan kebersihan diri individu dan kepadatan tempat tinggal. Penyakit tubercolosis ini
dijumpai disemua bagian penjuru dunia. Di beberapa Negara telah terjadi penurunan
angka kesakitan dan kematiannya. Angka kematian berkisar dari 5-100 kematian per
100.000 penduduk pertahun. Angka kesakitan dan kematian meningkat 100.000
penduduk.

Awal dari proses ini sering dimulai dengan lesi yang nekrotik serta berkejuan di
salah satu ginjal. Nekrosis ini akan terbuka kearah pielum dan membentuk kaverna
(suatu rongga). Kencing akan mengandung leukosit dan basil tuberkolosis, tetapi tidak
menimbulkan gejala-gejala pada penderita. Kemudian, peradangan ini akan turun
kearah ureter dan selaput mukosa kandung kencing akan terkena infeksi. Akibatnya,
akan timbul sistitis, di mana penderita akan sering kencing tapi sedikit- sedikit dan
terasa sakit pada saat kencing. Dengan pemeriksaan mikroskopik atau pemeriksaan
kultur yang rutin, pada kondisi seperti ini tidak ditemukan kuman. Dahulu hal ini
disebut piuria yang steril (sterile pyuria), paahal sebenarnya urine tidak steril. Dan
untuk mengetahui adanya basil tuberkolosis perlu dilakukan pemeriksaan kultur yang
khusus, sehingga akan ditemukan suatu tahan asam pada penderita.
1.1 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalahnya adalah Bagaimana Asuhan
keperawatan pada penyakit Tuberkulosis ginjal ?
1.3 Tujuan Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui tentang asuhan keperawatan pada kasus Tuberkulosis ginjal
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Agar pembaca lebih memahami tentang definisi pada kasus Tuberkulosis ginjal
2. Agar pembaca lebih memahami tentang etiologi pada kasus Tuberkulosis ginjal
3. Agar pembaca lebih memahami tentang patofisiologi pada kasus Tuberkulosis
ginjal
4. Agar pembaca lebih memahami tentang manifestasi klinis pada kasus
Tuberkulosis ginjal
5. Agar pembaca lebih memahami tentang pemeriksaan penunjang pada kasus
Tuberkulosis ginjal
6. Agar pembaca lebih memahami tentang penatalaksanaan pada kasus
Tuberkulosis ginjal
7. Agar pembaca lebih memahami tentang komplikasi pada kasus Tuberkulosis
ginjal
8. Agar pembaca lebih memahami tentang pemeriksaan fisik pada kasus
Tuberkulosis ginjal
9. Agar pembaca lebih memahami tentang diagnosa keperawatan pada kasus
Tuberkulosis ginjal
10. Agar pembaca lebih memahami tentang intervensi keperawatan pada kasus
Tuberkulosis ginjal

1.4 Manfaat
1.1.1 Bagi Mahasiswa
Manfaat makalah ini bagi mahasiswa baik menyusun maupun pembaca adalah
untuk menambah wawasan terhadap seluk beluk tentang penyakit Tuberkulosis ginjal.
Dan mengetahui tentang teori ataupun konsep terhadap gangguan perkemihan
diantaranya penyakit Tuberkulosis ginjal, agar mahasiswa juga mengenal berbagai
gangguan pada sistem perkemihan dan menambah wawasan terhadap pengetahuan
ilmu.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Fisiologi

Ginjal merupakan organ berbentuk seperti kacang yang terletak di kedua sisi
kolumna vertebralis. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan ginjal kiri karena
tertekan kebawah oleh hati. Kutub atasnya terletak setinggi iga keduabelas, sedangkan
kutub atas ginjal kiri terletak setinggi iga kesebelas. Ginjal terletak di bagian belakang
abdomen atas, di belakang peritoneum, didepan dua iga terakhir, dan tiga otot besar-
transversus abdominis, kuadratus lumborum, dan psoas mayor. Ginjal dipertahankan
dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Ginjal terlindung dengan baik
dari trauma langsung, disebelah posterior (atas) dilindungi oleh iga dan otot-otot yang
meliputi iga, sedangkan di anterior (bawah) dilindungi oleh bantalan usus yang tebal.
Ginjal kanan dikelilingi oleh hepar, kolon, dan duodenum, sedangkan ginjal
kiri dikelilingi oleh lien, lambung, pankreas, jejunum dan kolon.
Struktur Ginjal terdiri atas:
2.3.1. Struktur Makroskopik Ginjal
Pada orang dewasa , panjang ginjal adalah sekitar 12 sampai 13 cm (4,7
hingga 5,1 inci), lebarnya 6 cm (2,4 inci), tebalnya 2,5 cm (1 inci), dan beratnya
sekitar 150 gram. Secara anatomik ginjal terbagi dalam dua bagian, yaitu korteks dan
medula ginjal.
Ginjal terdiri dari bagian dalam (medula), dan bagian luar (korteks).
1. Bagian dalam (internal) medula. Substansia medularis terdiri dari piramid renalis
yang jumlahnya antara 18-16 buah yang mempunyai basis sepanjang ginjal,
sedangkan apeksnya mengahadap ke sinus renalis. Mengandung bagian tubulus yang
lurus, ansa henle, vasa rekta dan diktus koligens terminal.
2. Bagian luar (eksternal) korteks. Substansia kortekalis berwarna coklat merah,
konsistensi lunak dan bergranula. Substansia ini tepat dibawah tunika fibrosa,
melengkung sapanjang basis piramid yang berdekatan dengan garis sinus renalis, dan
bagian dalam diantara piramid dinamakan kolumna renalis. Mengandung glomerulus,
tubulus proksimal dan distal yang berkelok-kelok dan duktus koligens.
2.3.2. Struktur Mikroskopik Ginjal
A. Nefron
Tiap tubulus ginjal dan glomerolusnya membentuk satu kesatuan (nefron).
Ukuran ginjal terutama ditentukan oleh jumlah nefron yang membentuknya. Tiap
ginjal manusia memiliki kira-kira 1.3 juta nefron. Setiap nefron bisa membentuk urin
sendiri. Karena itu fungsi satu nefron dapat menerangkan fungsi ginjal.
B. Glomerulus
Setiap nefron pada ginjal berawal dari berkas kapiler yang disebut glomerulus,
yang terletak didalam korteks, bagian terluar dari ginjal. Tekanan darah mendorong
sekitar 120 ml plasma darah melalui dinding kapiler glomerular setiap menit. Plasma
yang tersaring masuk ke dalam tubulus. Sel-sel darah dan protein yang besar dalam
plasma terlalu besar untuk dapat melewati dinding dan tertinggal.
C. Tubulus kontortus proksimal
Berbentuk seperti koil longgar berfungsi menerima cairan yang telah disaring
oleh glomerulus melalui kapsula bowman. Sebagian besar dari filtrat glomerulus
diserap kembali ke dalam aliran darah melalui kapiler-kapiler sekitar tubulus kotortus
proksimal. Panjang 15 mm dan diameter 55 m.
D. Ansa henle20
Berbentuk seperti penjepit rambut yang merupakan bagian dari nefron ginjal
dimana, tubulus menurun kedalam medula, bagian dalam ginjal, dan kemudian naik
kembali kebagian korteks dan membentuk ansa. Total panjang ansa henle 2-14 mm.
E. Tubulus kontortus distalis
Merupakan tangkai yang naik dari ansa henle mengarah pada koil longgar
kedua. Penyesuaian yang sangat baik terhadap komposisi urin dibuat pada tubulus
kontortus. Hanya sekitar 15% dari filtrat glomerulus (sekitar 20 ml/menit) mencapai
tubulus distal, sisanya telah diserap kembali dalam tubulus proksimal.
F. Duktus koligen medula
Merupakan saluran yang secara metabolik tidak aktif. Pengaturan secara halus
dari ekskresi natrium urin terjadi disini. Duktus ini memiliki kemampuan
mereabsorbsi dan mensekresi kalsium.
2.4. Fungsi Ginjal
Fungsi utama ginjal terangkum dibawah ini, yang menekankan peranannya
sebagai organ pengatur dalam tubuh.
2.4.1. Fungsi Ekskresi
1) Mengeluarkan zat toksis/racun
2) Mengatur keseimbangan air, garam/elektrolit, asam /basa
3) Mempertahankan kadar cairan tubuh dan elektrolit (ion-ion lain)
4) Mengekskresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme protein (terutama urea,
asam urat dan kreatinin)
5) Bekerja sebagai jalur ekskretori untuk sebagian besar obat
2.4.2. Fungsi Non Ekskresi
Mensintesis dan mengaktifkan Hormon:
1) Renin, penting dalam pengaturan tekanan darah
2) Eritropoetin, merangsang produksi sel darah merah oleh sumsum tulang
3) 1,25-dihidroksivitamin D3 : hidroksilasi akhir vitamin D3 menjadi bentuk yang paling
kuat
4) Prostaglandin : sebagian besar adalah vasodilator, bekerja secara lokal, dan
melindungi dari kerusakan iskemik ginjal
5) Degradasi hormon polipeptida
6) Insulin, glukagon, parathormon, prolaktin, hormon pertumbuhan, ADH dan hormon
gastrointestinal (gastrin, polipeptida intestinal vasoaktif).
2.2 Definisi
Tuberkulosis Ini adalah suatu infeksi spesifik yang mencapai traktus
genitourinatus melalui penyebaran hematogen. Ginjal paling sering terkena; tuberkel
tuberkel di dalam parenkim mengalami perkejuan dan akhirnya berhubungan
dengan sistem pelvikaliseal. Traktus urinarius bagian bawah (uterus, vesika urinaria,
prostat, epididimis) terkena secara sekunder akibat infeksi desendens; fibrosis-sifat
khas penyembuhan tuberkulosis dapat menyumbat ureter atau uretra atau
menyebabkan kontraktur vesika urinaria. Refluks vesikoureteral terjadi bila vesika
urinaria terkena hebat. Epididimis bilateral dapat menyebabkan infertilitas, dan testis
dapat dirusak oleh penjalaran langsung (Schrock,Theodore R, 1995).
Mycobacterium tuberculosis merupakan organisme penyebab tuberculosis
ginjal. Tuberculosis ginjal adalah infeksi sekunder yang diakibatkan oleh tuberculosis
paru. Sekitar 15 % dari individu dengan tuberculosis paru aktif akan mengalami
tuberculosis ginjal.

Pada awalnya, bagian ginjal yang terinfeksi adalah korteks dan medulla
renalis. Kerusakan jaringannya bersifat progressif. Infeksi dapat menyebar melalui
mukosa kesaluran kemih. Infeksi pada ureter dapat menyebabkan striktur. Striktur
akan menyebabkan obstruksi. Suplai darah pada jaringan ginjal dapat terganggu
karena kerusakan jaringan oleh gumpalan tuberkel. Terganggunya suplai darah akan
menimbulkan iskemia.

2.3 Etiologi
Agens infeksius utama Mycobakterium tuberculosis Mycobacterium
tuberculosis, sejenis bakteri berbentuk batang tahan asam dengan ukuran panjang 1-
4m dan tebal 0.3-0.6m. Bakteri ini akan tumbuh optimal pada suhu sekitar 37oC
dengan tingkat PH optimal pada 6,4 sampai 7,0. Untuk membelah dari satu sampai
dua (generation time) bakteri membutuhkan waktu 14-20 jam. Kuman TB terdiri dari
lemak dan protein. Lemak merupakan komponen lebih dari 30% berat dinding bakteri
dan terdiri dari asam stearat, asam mikolik, mycosides, sulfolipid serta cord factor,
sementara komponen protein utamanya adalah tuberkuloprotein (tuberkulin).

Menurut Wilson dkk karakteristik dinding Mycobacterium tuberculosis meliputi:

1. Dinding lipid
2. Heterotrimetric antigen 85 complex (ag85)
3. jenis protein yaitu FbpA, FbpB, dan FbpC2
4. Protein berperan penting dalam patogenesis TB
5. Lipid dan protein mempertahankan cell-wall integrity
Bakteri ini juga dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin
karena bakteri berada dalam sifat dormant,dari sifat dormant ini bakteri dapat bangkit
kembali dan menjadikan TB aktif lagi

Kelompok kuman mycobakterium tuberkulosis dan mycobakterial othetan Tb


(mott, atipyeal) adalah :

Mycobacterium cansasli
Mycobacterium avium

Mycobacterium intra celulase

Mycobacterium scrofulaceum

Mycobacterium malma cerse

Mycobacterium xenopi

Tubercolosis disebabkan oleh mycobacterium tubercolosis,sejenis kuman yang berbentuk


batang dengan ukuran panjang 1- 4 um dan tebal 0,3-0,6 um dan digolongkan dalam basil
tahan asam (Suyono,2001).

2.4 Patofisiologi
Penjalaran kuman keginjal dari paru-paru, tulang, atau saluran pencernaan biasanya
hematogen. Setelah invasi, maka terbentuk suatu fokus ginjal yang biasanya merupakan
tuberkulum kecil di arterior kelenjar dan kortikal. Dengan berlalunya waktu,
perkembangan ini akan membentuk sel nikrotik. Penyakit ini menyebar ketubulus ginjal
dan medula ginjal, dimanan tuberkel berkembang lebih lanjut kelengkung
Henlemembentuk nekrotik dan membuat rongga tidak teratur. Akhirnya ginjal dapat
menjadi fibrotik dan atrofi.
Ginjal yang mengalami jaringan fibrotik dan atrofi akan menyebabkan penurunan
dan fungsi ginjal secara progresif. Lebih lanjut tuberkel akan melibatkan ureter dan
membentuk epitel transisi, menyebabkan granuloma mukosa kedalam lumen ureter
sehingga menyempitkan lumen dari ureter.
Infeksi kandung kemih TB hampir selalu sekunder untuk keterlibatan ginjal.
Awalnya sistitis interstisial terjadi, pada akhirnya menyebabkan ulserasi mukosa
kandung kemih dan penebalan dinding kandung kemih. Stadium akhir penyakit akan
menyebabkan jaringan parut dan fibrosis pada kandung kemih sehingga kapasitas
berkurang dari kandung kemih.

2.5 Manifestasi Klinis


Gejala tuberkulosis ginjal antara lain :
1. Anorexia
2. Berat badan menurun
3. Demam
4. Pasien juga dapat mengalami hematuria
5. Piuria
6. Disuria
7. Nyeri pinggang
8. Nyeri abdomen
9. Pemeriksaan uji kulit Mantoux adalah positif
10. Pemeriksaan nilai GFR kurang dari 40ml/menit (normal 85-135 ml/menit)
Yang termasuk tanda dan gejala tuberculosis ginjal adalah Anoreksia,Berat badan
menurun, Demam yang bersifat intermitten, pasien juga mengalami hematuria yang
termasuk dalam uji diagnostic adalah skrining untuk tuberculosis paru. Hasil uji kulit
Mantoux adalah positif adanya M. tuberculosis dalam urine dapat juga membantu
diagnosis.

2.6 Klasifikasi

Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain
paru, misalnya ginjal, pleura, kelenjar getah bening, selaput otak, perikard, tulang,
persendian, kulit, usus, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain. Diagnosis sebaiknya
didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi.
WHO 1991 berdasarkan terapi membagi TB dalam 4 kategori yakni.
1. Kategori I, ditujukan terhadap:
a. Kasus baru dengan sputum positif
b. Kasus baru dengan bentuk TB Berat
2. Kategori II, ditujukan terhadap:
a. Kasus kambuh
b. Kasus gagal dengan sputum BTA positif
3. Kategori III ditujukan terhadap:
a. Kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas
b. Kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut didalam kategori I
4. Kategori IV, ditujukan terhadap TB kronik
2.7 Pemeriksaan Diagnostik
2.7.1 Laboratorium

Hasil tes kulit tuberkulin pada sekitar 90% dari pasien. Pemeriksaan lainnya
seperti hitung sel darah lengkap, laju sedimentasi, kimia serum, dan C rektif protein
sangat membantu untuk menilai tingkat keparahan penyakit, fungsi ginjal, dan
respons terhadap pengobatan.
Serial kultur urine masih dianggap standar kriteria untuk bukti penyakit aktif, dengan
sensitivitas 65% dan spefisitas 100%.
2.7.2 Radiografi
Pada ginjal, ureter, dan kandung kemih, radiograf mengungkapkan kalsifikasi
di ginjal dan ureter sekitar 50% dari pasien.
2.7.2 CT Scan dengan Kontras
Tes pencintraan merupakan tambahan berguna untuk IVP dan membantu dalam
penyakit akhir atau lanjutan untuk menilai sejauh mana penyakit dan status fungsional
tidak langsung dari ginjal yang terkena dibandingkan dengan ginjal yang berlawanan
normal. Pemeriksaan ini sangat sensitif untuk mendeteksi kalsifikasi dan dinding
menebal dari ureter dan kandung kemih.
2.7.3 Ultrasonografi
Sonograf dapat mengungkapkan lesi klasik atau cavitary, jaringan parut korteks,
hidronefrosis, dan abses di dalam ginjal, ultrasonografi sangat sensitif di TB
testis.massa adnexal, omentum menebal peritoneum, tuberkel peritoneal, dan adhesi
adalah temuan ultrasonografi TB umum alat kelamin perempuan.
2.7.4 Penemuan rongenologis
Rongenologis foto thorax mungkin memperlihatkan tuberkulosis. Foto polos
abdomen mungkin memperlihatkan klasifikasi di dalam parenkim ginjal. Urografi
ekskresi mengungkapkan kaliks yang berulserasi, berobliterasi atau kontraktur
fibrotik dari ureter atau vesika urinaria; mungkin ada refluk vesikoureteral.
2.7.5 Tes-tes khusus
Sistoskopi mengungkapkan tuberkel jika vesika urinaria terkena; sebaiknya
dilakukan biopsi.
2.8 Penatalaksanaan
2.8.1 Pengkajian penatalaksanaan medis pengobatan
Tujuan utama dari pengobatan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal,
menurunkan resiko penularan, dan untuk mengelola kondisi komorbiditas.
Pengobatan standar adalah rifampisin, INH, pirazinamid, dan etambutol selama 2
bulan, kemudian rifampisin dan INH selama 4 bulan lagi kecuali ada respons
resistensi obat.
Pemilihan OAT seperti Isoniasid (H), Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) untuk
pasien dengan gagal ginjal dianjurkan, karena ketiga obat tersebut dapat di ekskresi
melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa- senyawa yang tidak toksik. OAT
jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan
ginjal. Sedangkan Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal, oleh karena
itu harus di hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Apabila
fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia, Etambutol dan Streptomisin tetap dapat
diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal.
Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah
2HRZ/4HR. 2HRZ artinya pada fase intensif digunakan INH, Rifampisin dan
Piransinamid, setiap hari selama 2 bulan. 4HR pada fase lanjutan : INH dan
Rifampisin diberikan masing-masing 3 kali seminggu selama 4 bulan

Dosis yang direkomendasikan Untuk Dewasa dengan Ginjal Normal (mg/kg) Nama
Obat Untuk Dewasa dengan Gagal Ginjal Harian Maksimum 3 x seminggu Harian 3 x
seminggu * Isoniazid (H) 5 mg 300 mg 10 mg 300 mg 900 mg Rifampisin (R) 10 mg
600 mg 10 mg - Pirazinamid (Z) 25 mg 2500 mg 35 mg - 25 mg/kg Streptomisin(S)
15 mg 750-1000 mg - - 1215 mg/kg Etambutol (E) 15 25 mg 1800 mg 30 mg - 15
25 mg/kg * Francis J. Curry National Tuberculosis Center and California Department
of Public Health, 2009: Tuberculosis Drug Information Guide.

Hemodialisis : Pengobatan yang paling sering digunakan untuk pasien gagal ginjal.
Pasien mengalami dialisis tiga kali seminggu. Dialisis menggantikan tiga fungsi ginjal
manusia yakni :1. Membersihkan darah dengan membuang produk - produk
berbahaya. 2. Membuang ekses cairan. 3. Menyeimbangkan elektrolit. Transplantasi
Ginjal (cangkok ginjal)

Tuberkulosis ginjal merupakan tuberkulosis ekstra paru kategori berat, maka


penatalaksanaan OAT termasuk dalam kategori I yaitu minimal 4 macam obat pada 2
bulan pertama(2HRZE), dilanjutkan dengan 2 macam obat sampai 12 bulan (4H3R3).
Jenis dan dosis OAT Kategori I
Jenis obat Dosis yang direkomendasikan (mg/kg)
Harian 3xseminggu
Isoniazid (H) 5 10
(4-6) (8-12)
Rifampicin (R) 10 10
(8-12) (8-12)
Pyrazinamide (Z) 25 35
(20-30) (30-40)
Ethambutol 15 30
(15-20) (20-35)

Isoniasid ( H )
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 %
populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Obat ini sanat
efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif yaitu kuman yang
sedang berkembang,
Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kk BB,sedangkan untuk
pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg BB.
Efek samping
Ringan dapat berupa tanda-tanda keracunan pada syaraf tepi,
kesemutan, rasa terbakar di kaki dan nyeri otot. Efek ini dapat
dikurangi dengan pemberian piridoksin dengan dosis 100 mg
perhari atau dengan vitamin B kompleks. Pada keadaan
tersebut pengobatan dapat diteruskan. Kelainan lain ialah
menyerupai defisiensi piridoksin (syndrom pellagra)
Efek samping berat dapat berupa hepatitis imbas obat yang
dapat timbul pada kurang lebih 0,5% pasien. Bila terjadi
hepatitis imbas obat atau ikterik, hentikan OAT dan pengobatan
sesuai dengan pedoman TB pada keadaan khusus
Rifampisin ( R )
Bersifat bakterisid dapat membunuh kuman semi dormant ( persis ter)
yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasid
Dosis 10 mg/kg BB diberikan sama untuk mengobatan harian maupun
intermiten 3 kal seminggu.
Efek samping
Ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan pengobatan
simtomatik ialah:Sindrom flu berupa demam, menggigil dan
nyeri tulang.Sindrom perut berupa sakit perut, mual, tidak
nafsu makan, muntah kadang-kadang diare.Sindrom kulit
seperti gatal-gatal kemerahan
Efek samping yang berat tetapi jarang terjadi ialah: Hepatitis
imbas obat atau ikterik, bila terjadi hal tersebut OAT harus
distop dulu dan penatalaksanaansesuai pedoman TB pada
keadaan khusus.Purpura, anemia hemolitik yang akut, syok dan
gagal ginjal. Bila salah satu dari gejala ini terjadi, rifampisin
harus segera dihentikan dan jangan diberikan lagi walaupun
gejalanya telah menghilang.Sindrom respirasi yang ditandai
dengan sesak napas.
Rifampisin dapat menyebabkan warna merah pada air seni,
keringat, air mata, air liur. Warna merah tersebut terjadi karena
proses metabolisme obat dan tidak berbahaya.
Pirasinamid ( Z )
Bersifat bakterisid dapat membunuh kuman yang berada dalam sel
dengan suasana asam.
Dosis harian yang dianjurkan 25mg/kg BB ,sedangkan untuk
pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB.
Efek samping utama ialah hepatitis imbas obat (penatalaksanaan sesuai
pedoman TB pada keadaan khusus). Nyeri sendi juga dapat terjadi (beri
aspirin) dan kadang-kadang dapat menyebabkan serangan arthritis Gout, hal
ini kemungkinan disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan asam
urat. Kadang-kadang terjadi reaksi demam,mual, kemerahan dan reaksi kulit
yang lain.
Streptomisin ( S )
Bersifat bakterisid . Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB
sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang
sama penderita berumur sampai 60 tahun dasisnya 0,75 gr/hari sedangkan
unuk berumur 60 tahun atau lebih diberikan 0,50 gr/hari.
Efek samping utama adalah kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan
dengan keseimbangan dan pendengaran. Risiko efek samping tersebut akan
meningkat seiring dengan peningkatan dosis yang digunakan dan umur
pasien.Risiko tersebut akan meningkat pada pasien dengan gangguan fungsi
ekskresi ginjal. Gejala efek samping yang terlihat ialah telinga mendenging
(tinitus), pusing dan kehilangan keseimbangan. Keadaan ini dapat dipulihkan
bila obat segera dihentikan atau dosisnya dikurangi 0,25gr. Jika pengobatan
diteruskan maka kerusakan alat keseimbangan makin parah dan menetap
(kehilangan keseimbangan dan tuli).Reaksi hipersensitiviti kadang terjadi
berupa demam yang timbul tiba-tiba disertai sakit kepala, muntah dan eritema
pada kulit.
Efek samping sementara dan ringan (jarang terjadi) seperti kesemutan
sekitar mulut dan telinga yang mendenging dapat terjadi segera setelah
suntikan. Bila reaksi ini mengganggu maka dosis dapat dikurangi 0,25gr
Streptomisin dapat menembus barrier plasenta sehingga tidak boleh diberikan
pada wanita hamil sebab dapat
merusak syaraf pendengaran janin.
Etambulol ( E)
Bersifat sebagai bakteriostatik . Dosis harian yang dianjurkan 15
mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan
dosis 30 mg/kg/BB.
Etambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa
berkurangnya ketajaman, buta warna untuk warna merah dan hijau. Meskipun
demikian keracunan okuler tersebut tergantung pada dosis yang dipakai,
jarang sekali terjadi bila dosisnya 15-25 mg/kg BB perhari atau 30 mg/kg BB
yang diberikan 3 kali seminggu. Gangguan penglihatan akan kembali normal
dalam beberapa minggu setelah obat dihentikan. Sebaiknya etambutol tidak
diberikan pada anak karena risiko kerusakan okuler sulit untuk dideteksi
2.8.2 Terapi bedah
Meskipun kemoterapi adalah andalan pengobatan; intervensi bedah, baik
sebagai ablasi atau rekontruksi, sering kali diperlukan untuk mengatasi masalah.
Umumnya, setidaknya 4 6 minggu kemoterapi dengan agen yang yang tepat adalah
pertama kali dicoba segera jika operasi tidak diperlukan.
2.8.3 Diet
Peningkatan asupan nutrisi tinggi kalori protein terutama pada pasien yang
mengalami malnutrisi.
2.8.4 Medis
Tuberkulosis genitourinarius harus diterapi sebagai penyakit sistemik
2.8.5 Pembedahan
Harus didahului oleh terapi medis selama paling sedikit 3 bulan.
Mungkin perlu dilakukan nefrektomi, perbaikan striktur, reimplantasi ureter yang
refluks, epididimektomi, atau sistoplasti tambahan.
2.8.6 Urin harus diperiksa dan dibiakan secara berkala selama bertahun tahun;
kambuh dapat terjadi

2.9 Komplikasi
1. Pemyebaran hematogen ke prostat, epididimis dan penyebaran keorgan yang
lain
2. Striktur uretra
3. Gagal ginjal
BAB 3
ASKEP TEORI

3.1 FOKUS PENGKAJIAN :

Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk
mengumpulkan informasi atau data tentang pasien agar dapat mengidentifikasi, mengenai
masalah-masalah kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien baik fisik, mental, sosial,
dan lingkungan

1. Identitas
Identitas yang mempunyai hubungan meliputi: nama, umur hubungan dengan
penyakit tidak terbatas pada semua umur tetapi anak-anak dan orang tua lebih rentan
terhadap penyakit ini, jenis kelamin lebih sering laki-laki terkena daripada perempuan
karena faktor kebiasaan seperti merokok, pendidikan hubungan dengan penyakit
pendidikan rendah biasanya kurang pengetahuan tentang penyakit ini, pekerjaan
hubungan dengan penyakit orang-orang yang bekerja di udara terbuka lebih sering
terkena seperti kuli bangunan, sopir, status marital berpengaruh pada proses
penularan, agama, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, no.medrec.,
diagnosa medis dan alamat hubungannya dengan penyakit TBC apakah klien tinggal
dilingkungan kumuh dan rumah ventilasi kurang.
2. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
Pada klien TB paru biasanya ditemukan keluhan utama berupa nyeri saat
berkemih, demam dan sakit pinggang.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Klien merasakan malas makan, berat badan menurun, nyeri saat berkemih,
nyeri pada pinggangnya, pada urinnya terdapat darah dan ada nanah,dan klien
merasakan demam.
b) Riwayat kesehatan dahulu
Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit serupa sebelumnya,
tanyakan juga penyakit infeksi yang pernah diderita klien seperti pneumonia,
bronkhritis dan lain-lain. Selain itu perlu juga dikaji pola kebiasaan sehari-
hari mencakup aktifitas, penggunaan obat-obat tertentu, kebiasaan hygiene
3. Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan di keluarga apakah ada yang menderita PPOM atau penyakit paru
seperti TB paru atau TB ekstra paru. Jika ada gambarkan dengan struktur
keluarga.Bagaimana kondisi rumah dan lingkungan sekitarnya.
4. Pola kesehatan
a) Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. demam, menggigil.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap,
lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410 C)
hilang timbul.
b) Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub
kutan.
c) Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent,
mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar
bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau
fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan
tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan
pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
d) Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri saat berkemih dan pada pinggang
Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah,
e) Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak
ada harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah
tersinggung.
f) Keamanan
Subyektif: adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker.
Obyektif: demam intermidiet
g) Interaksi Sosial
Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular, perubahan
pola biasa dalam tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk
melaksanakan peran.
5. Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan fisik head to toe
a. Kepala : ukuran kepala normal, kulit kepala bersih.
b. Rambut
i. Inspeksi : rambut tampak kusam, rambut agak tebal, warna rambut
hitam, rambut rontok.
ii. Palpasi : tidak terdapat benjolan atau nyeri tekan
iii. Mata
iv. Inspeksi : konjungtiva pucat, sclera ikterik, pupil isokor, tidak ada
raccoon eyes, reaksi pupil berubah.
v. Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan tidak ada benjolan
c. Telinga
i. Inspeksi : letak simetris, kebersihan telingan cukup bersih, tidak ada
battle sign dan tidak ada memar
d. Hidung
i. Inspeksi : bentuk normal, lubang hidung bersih, distribusi sillia normal
ii. Palpasi: nyeri tekan pada sinus
e. Mulut
i. Inspeksi : mukosa bibir kering, pucat, tidak terdapat sariawan,
kebersihan mulut cukup bersih, julam gigi berkurang, lidah cukup
bersih, perubahan pola bicara.
f. Leher
i. Inspeksi : tidak ada lesi, jejas, dan tidak ada luka.
ii. Palpasi : tidak ada nyeri tekan, peningkatan JVP, tidak ada deviasi
trachea.
g. Paru-paru
i. Inspeksi : penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, tidak ada cuping
hidung, adanya penggunaan otot dada, adanya retraksi dinding dada.
ii. Palpasi : ada nyeri tekan, tidak ada indikasi krepitasi, teraba
pembesaran jantung, vokal fremitus berkurang
iii. Perkusi : hipersonar
iv. Auskultasi : suara nafas berkurang pada sisi yang terkena,. Terdengar
ronchi basah atau kering.

h. Jantung
i. Inspeksi : tidak ada luka, jejas, dan tidak ada lesi
ii. Palpasi : terdapat ictus cordis pada ruang intercosta kiri Y, agak ke
medial (2 cm) dari linea midklavikularis kiri.
iii. Perkusi : melakukan perkusi dari arah lateral ke medial, Batas bawah
kanan jantung adalah di sekitar ruang interkostal III-IV kanan,di line
parasternalis kanan. Sedangkan batas atasnya di ruang interkostal II
kanan linea parasternalis kanan. Batas jantung sebelah kiri yang
terletak di sebelah cranial iktus, pada ruang interkostal II letaknya
lebih dekat ke sternum daripada letak iktus cordis ke sternum, kurang
lebih di linea parasternalis kiri.
iv. Auskultasi : Terjadi penurunan tekanan darah, tachikardi, bunyi
jantung S1 dan S2 redup

i. Abdomen
i. Inspeksi : tidak ada luka, tidak ada asites, bentuk datar, terdapat lesi
ii. Auskultasi : peristaltic usus meningkat.
iii. Palpasi : nyeri stomatitis, tidak ada benjolan, dan tidak ada asites.
iv. Perkusi : untuk mengetahui suara tympani.

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri akut b.d pelepasan mediator nyeri
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d gangguan fungsi ginjal
3. Hipertermi b.d peningkatan suhu tubuh
4. Ansietas b.d piuria
5. Gangguan pemenuhan ADL b.d kelemahan/ keletihan

5.3 INTERVENSI KEPERAWATAN


1. Nyeri akut b.d pelepasan mediator nyeri
o Tujuan :setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam nyeri
berkurang atau hilang
o Kreteria hasil
1) Skala nyeri 3-4
2) Grimice (-)
3) Gelisah (-0
4) Klien menyatakan nyeri berkurang
5) TD:110-130 sistol, 60-100 diastol
6) Nadi: 60-100 x/menit
7) Suhu :36,5-37 c

Intervensi Rasional

1.Tanyakan pasien tentang 1.Membantu dalam evaluasi gejala nyeri


nyeri. Tentukan karakteristik karena kanker. Penggunaan skala
nyeri. Buat rentang intensitas rentang membantu pasien dalam
pada skala 0 10. mengkaji tingkat nyeri dan memberikan
alat untuk evaluasi keefktifan analgesic,
meningkatkan control nyeri.

2.Ketidaklsesuaian antar petunjuk verbal/


2.Kaji pernyataan verbal dan non verbal dapat memberikan petunjuk
non-verbal nyeri pasien. derajat nyeri, kebutuhan/ keefketifan
intervensi

3.Takut/ masalah dapat meningkatkan


3.Dorong menyatakan perasaan
tegangan otot dan menurunkan ambang
tentangnyeri.
persepsi nyeri.
4.Berikan tindakan
4.Meningkatkan relaksasi dan pengalihan
kenyamanan. Dorong dan
perhatian.
ajarkan penggunaan teknik
relaksasi.

5.Kaji dan catat respon pasien/ 5.Berikan informasi tentang


efek dari pengobatan perkembangan penyakit. Bantuan dalam
mengevaluasi keefektifan dari intervensi
dan dapat menandakan kebutuhan akan
perubahan dalam cara/ aturan
pengobatan.

6.Memungkinkan terjadinya pertukaran


6.Tinggikan bagian kepala / atas
gas untuk menurunkan hipoksia dan
dari tempat tidur jika pasiaen
menghilangkan sesak napas.
bernapas pendek.

7.Kolaborasi
Berikan analgesic yang sesuai 7.Mengurangi atau menghilangkan nyeri
dengan indikasi. pasien.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d gangguan pada fungsiginjal


o Tujuan :setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam intek nutrisi
klien terpenuhi
o Kreteria hasil
8) Klien dapat mempertahankan status gizinya dari yang semula kurang
menjadi adekuat
9) Pernyataan motivasi kuat untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya

Intervensi Rasional
Kaji status nutrisi Memvalidasi dan menetapkan
klien,turgor kulit,berat derajat masalah untuk
badan,derajat penurun an menetapkan pilihan intervensi
berat badan,integritas yang tepat
Memperhitungkan keinginan
mukosa oral,kemampuan
individu dapat memperbaiki
menelan,riwayat
intake gizi
mual/muntah,dan diare
Berguna dalam mengukur
Fasilitas klien untuk
keefektivan intake gizi dan
memperoleh diet biasa yang
dukunagan cairan
disukai klien(sesuai
Menurunkan rasa tak enak
indikasi)
karena sisa makana,siasa
Pantau intek dan
spuntum atau obat pada
output,timbang berat badan
pengobatan sistem pernafasan
secara priodik(sekali
yang dapat merangsang pusat
seminggu
Lakukan dan ajarkan muntah
Memaksimalkan inteka nutrisi
perawatan mulut sebelu dan
tanpa kelelahan dan energy besar
sesudah inte
serta menurunkan iritasi saluran
rvensi/pemeriksaan per oral
Fasilitas pemberian diet cerna
Merencanakan diet dengan
TKTP, beriakan dalam porsi
kandungan gizi yang cukup
kecil tapi sering
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memenuhi peningkatan
untuk menetapkan kebutuhan energy dan kalori
komposisi dan jenis diet sehubungan dengan status hipe
yang tepat rmetabolik klien
Kolaborasi untuk Menilai kemajuan terapi diet dan
pemeriksaan lab khususnya membantu perencanaan
BUN,protein serum,dan intervensi se lanjutnya
Multivitamin bertujuan untuk
albumin
Kolaborasi untuk pemberian meme nuhi kebutuhan vitamin
multi vitamin yang tinggi sekunder dari
peningkatan laju me tabolisme
umum.

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN

TB dapat terjadi pada semua kelompok umur, baik di paru maupun diluar
paru.Sebagian orang yang telah terinfeksi (80-90%) belum tentu menjadi sakit tuberkulosis.
Untuk sementara waktu kuman yang ada dalam tubuh bisa berada dalam keadaan dormant
(tidur), dan keberadaan kuman dormant tersebut dapat diketahuihanya dengan tes tuberkulin
(Dep. Kes. R.I, 1999).

Mereka yang menjadi sakit disebut sebagai penyakit tuberkulosis, biasanya dalam
waktu paling cepat sekitar 3-6 bulan setelah infeksi. Mereka yang tidak menjadi sakittetap
mempunyai resiko untuk menderita tuberkulosis sepanjang sisa hidup mereka(Dep. Kes. R.I,
1999).

Gejala umum penderita TB adalah sebagai berikut: anoreksia, penurunan berat badan,
piuria, disuria, hematuria,menurun, Demam, Nyeri pinggang, Nyeri abdomen, Pemeriksaan
uji kulit Mantoux adalah positif

4.2 SARAN
Dari kesimpulan yang ada maka kita sebagai perawat atau calon perawat harus
memahami secara detail tentang seluk beluk penyakit TB ginjal sehingga kita dapat
melakukan asuhan keperawatan secara benar terhadap pasien dengan TB ginjal
Dan untuk masyarakat setelah membaca makalah ini dapat berhati-hati atau waspada
terhadap gaya hidup ataupun lingkungannya karena dengan itu TB ginjal dapat
menjangkit tubuh kita

DAFTAR PUSTAKA

Schrock,Theodore R .1995. Ilmu Bedah. Jakarta: EGC


Baradero, Mary. 2005. Klien gangguan ginjal. Buku kedokteran. Jakarta: EGC