Anda di halaman 1dari 9

Prinsip-Prinsip Pengenalan Morfem

Prinsip-Prinsip Pengenalan Morfem

Untuk mengenal morfem secara jeli dalam bahasa Indonesia, diperlukan petunjuk sebagai pegangan. Ada enam prinsip yang saling
melengkapi untuk memudahkan pengenalan morfem (Lihat Ramlan, 1980), yakni sebagai berikut:

3.1 Prinsip pertama


Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis dan arti atau makna yang sama merupakan satu morfem.
membaca kemanusiaan
Contoh:
baca ke-an
pembaca kecepatan
bacaan kedutaan
membacakan kedengaran
Karena struktur fonologis dan Satuan tersebut walaupun
maknanya sama, maka satuan struktur fonologisnya sama,
tersebut merupakan morfem bukan merupak morfem
yang sama. yang sama karena makna gramatikalnya berbeda.

3.2 Prinsip Kedua


Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonolis yang berbeda, merupakan satu morfem apabila bentuk-bentuk itu mempunyai arti
atau makna yang sama, dan perbedaan struktur fonologisnya dapat dijelaskan secara fonologis. Perubahan setiap morf itu
bergantung kepada fonem awal morfem yang dilekatinya.
Contoh:
mem : membawa
meN-
men - : menulis
meny - : menyisir
meng - : menggambar
me- : melempar
Perubahan setiap morf itu bergantung kepada fonem awal morfem yang dilekatinya.

3.3 Prinsip Ketiga


Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur ontologis yang berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologis,
masih dapat dianggap sebagai satu morfem apabila mempunyai makna yang sama, dan mempunyai distribusi yang komplementer.
Perhatikan contoh berikut:
ber- : berkarya, bertani, bercabang
bel- : belajar, belunjur
be- : bekerja, berteriak, beserta
Kedudukan afiks ber- yang tidak dapat bertukar tempat itulah yang disebut distribusi komplementer.

3.4 Prinsip Keempat


Apabila dalam deretan struktur, suatu bentuk berpararel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu merupakan morfem, ialah
yang disebut morfem zero.
Misalnya:
Rina membeli sepatu
Rina menulis surat
Rina membaca novel
Rina menggulai ikan
Rina makan pecal
Rina minum susu
Semua kalimat itu berstruktur SPO. Predikatnya tergolong ke dalam verba aktif transitif. Lau pada kalimat a, b. c, dan d, verba aktif
transitif tersebut ditandai oleh meN-, sedangkan pada kalimat e dan f verba aktif transitif itu ditandai kekosongan (meN- tidak ada),
kekosongan itu merupakan morfem, yang disebut morfem zero.
3.5 Prinsip Kelima
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan
morfem yang berbeda. Apabila bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama itu berbeda maknanya, maka tentu saja
merupakan fonem yang berbeda.
Contoh:
a. Jubiar membeli buku
b. Buku itu sangat mahal
a. Juniar membaca buku
b. Juniar makan buku tebu
Satuan buku pada kalimat 1. a dan 1. b merupakan morfem yang sama karena maknanya sama. Satuan buku pada kalimat kalimat 2.
a dan 2. b bukanlah morfem yang sama karena maknanya berbeda.
3.6 Prinsip Keenam
Setiap bentuk yang tidak dapat dipisahkan merupakan morfem. Ini berarti bahwa setiap satuan gramatik yang tidak dapat
dipisahkan lagi atas satuan-satuan gramatik yang lebih kecil, adalah morfem. Misalnya, satuan ber- dan lari pada berlari, ter-
dan tinggi padatertinggi tidak dapat dipisahkan lagiatas satuan-satuan yang lebih kecil. oleh karena itu,ber-, lari, ter,
dan tinggi adalah morfem.
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Prinsip Pengenalan Morfem


Kata prinsip dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna asas (kebenaran)yang menjadi pokok dasar berpikir atau
bertindak. Berangkat dari pengertian tersebut, prinsip pengenalan morfem adalah asas atau dasar dalam cara kita mengenal
sebuah morfem dalam bahasa. Menurut Muslich (Tatabentuk Bahasa Indonesia, 2010: 6), prinsip pengenalan morfem bisa
dipakai dasar untuk mengidentifikasi morfem suatu bahasa.
Prof. Ramlan telah memberikan jawaban yang sangat baik dan terperinci mengenai pengenalan morfem. Beliau
mengemukakan prinsip-prinsip yang saling melengkapi untuk memudahkan pengenalan morfem itu (dalam buku Tarigan,
2009: 11-12).

B. Prinsip-Prinsip Pengenalan Morfem


Cara-cara untuk mengenal morfem dengan mudah menurut Ramlan dalam buku Tarigan (Pengajaran Morfologi, 2009:
13) mengemukakan enam prinsip pengenalan morfem. Adapun ke-enam prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
1. Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik dan arti leksikal atau arti gramatik yang sama merupakan satu
morfem.
2. Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda merupakan satu morfem, apabila satuan-satuan itu
mempunyai arti leksikal atau arti gramatik yang sama, asal perbedaan itu dapat dijelaskan secara fonologik.
3. Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara
fonologik, masih dapat dianggap sebagai satu morfem apabila mempunyai arti leksikal atau arti gramatik yang sama dan
mempunyai distribusi yang komplementer.
4. Apabila dalam deretan struktur, suatu satuan berparalel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu merupakan
morfem, atau lebih dikenal dengan morfem zero.
5. Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang sama, mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula
merupakan satu morfem yang berbeda.
6. Setiap satuan yang dapat dipisahkan merupakan morfem.

Berikut ini contoh-contoh dari setiap prinsip pengenalan morfem yang telah dikemukakan di atas.
Prinsip 1
Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik dan arti leksikal atau arti gramatik yang sama merupakan satu morfem.
Perhatikan contoh-contoh berikut ini.
a. membeli rumah
rumah baru
menjaga rumah
berumah
satu rumah
Satuan rumah dalam contoh-contoh di atas merupakan satu morfem, karena satuan itu memiliki struktur
fonologik dan arti leksikal yang sama. (Tarigan, 2009: 13)
b. menulis, ditulis, menuliskan, dituliskan, menulisi, ditulisi, tertulis, tertuliskan,tertulisi,
tulisan, penulis, penulisan, karya tulis.
Satuan tulis dalam contoh-contoh di atas merupakan satu morfemkarena satuan itu memiliki struktur
fonologik dan arti leksikal yang sama.
c. Tertulis, terbuat, terambil, termakan, terminum, terbawa, terbeli, teringat.
Satuan ter- dalam contoh-contoh di atas merupakan satu morfem, karena memiliki struktur fonologik dan arti
leksikal yang sama. (Tarigan, 2009: 14)

Prinsip 2
Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda merupakan satu morfem, apabila satuan-satuan itu mempunyai
arti leksikal atau arti gramatik yang sama, asal perbedaan itu dapat dijelaskan secara fonologik.

Perhatikan contoh-contoh berikut ini.


a. menjahit, membeli, menyalin, menggendong, mengecat, melamar
Satuan-satuan men-, mem- meny-, meng-, menge-, dan me- dalam contoh di atas mempunyai arti gramatik
yang sama, yaitu menyatakan tindakan aktif; tetapi struktur fonologiknya jelas berbeda.
Satuan men-, mem- meny-, meng-, menge-, dan me- adalah alomorf dari morfem meN-; oleh karena itu,
semua satuan tersebut merupakan satu morfem.
b. penjahit, pembeli, penyalin, penggendong, pengecat, pelamar
Satuan-satuan pen-, pem- peny-, peng-, penge-, dan pe- dalam contoh di atas mempunyai arti gramatik yang
sama, yaitu menyatakan yang melakukan perbuatan; tetapi struktur fonologiknya jelas berbeda.
Satuan pen-, pem- peny-, peng-, penge-, dan pe- adalah alomorf dari morfem peN-; oleh karena itu, semua
satuan tersebut merupakan satu morfem. (Tarigan, 2009: 15)

Prinsip 3
Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologik,
masih dapat dianggap sebagai satu morfem apabila mempunyai arti leksikal atau arti gramatik yang sama dan mempunyai
distribusi yang komplementer.

Perhatikan contoh-contoh berikut ini.


beralih berbaring
bersua belajar
berjumpa bersandar
terdapat satuan ber-, be-, dan bel- dari contoh-contoh di atas. Berdasarkn prinsip 2, jelas bahwa ber- dan be-
merupakan satu morfem, karena perbedaan struktur fonologiknya dapat dijelaskan secara fonologik. Lalu bagaimana
dengan bel-yang (hanya) terdapat pada belajar? Walaupun bel- mempunyai struktur fonologik yang berbeda, dan
perbedaannya itu tidak dapat dijelaskan secara fonologik, karena mempunyai arti gramatik yang sama dan mempunyai
distribusi yang komplementer dengan morfem ber-.
Dengan kata lain bel- merupakan alomorf dari morfem ber-, oleh karena itu satuan bel- dapat dianggap
sebagai satu morfem. Perlu dicatat bahwa bel- ini termasuk morfem yang improduktif dalam bahasa Indonesia. (Tarigan,
2009: 16)

Prinsip 4
Apabila dalam deretan struktur, suatu satuan berparalel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu merupakan morfem, atau
lebih dikenal dengan morfem zero.
Perhatikan contoh-contoh berikut ini.
a. Ibu menggoreng ikan
b. Ibu menyapu halaman
c. Ibu menjahit baju
d. Ibu membeli telur
e. Ibu minum teh
f. Ibu makan pecal
g. Ibu masak rendang
Ketujuh kalimat di atas berstruktur S, P, O. Predikatnya (P) berupa kata verbal yang transitif, pada kalimat
(a), (b), (c), (d) ditandai oleh adanya meN-,sedangkan pada kalimat (e), (f), (g), kata verbal transitif itu ditandai
dengan kekosongan atau tidak adanya meN-. Kekosongan itu merupakan morfem, yang disebut morfem
zero. (Tarigan, 2009: 16-17)
Prinsip 5
Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang sama, mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan satu
morfem yang berbeda.
Perhatikan contoh-contoh berikut ini.
a. 1. Ia menanam kembang.
2. Bunga itu telah kembang.
Pada (1) kembang bunga dan pada (2) kembang mekar; oleh karena itu kedua kata kembang merupakan
morfem yang berbeda, karena memiliki arti leksikal yang berbeda, walaupun struktur fonologiknya sama.
b. 1. Ayah sedang tidur. 2. Tidur ayah sangat nyenyak.
Kata tidur pada (1) dan (2) mempunyai arti leksikal yang berhubungan, dan mempunyai distribusi yang
berbeda. Kedua kata tidur itu merupakan satu morfem.
c. 1. Telinga orang itu lebar.
2. Telinga kuali itu lebar.
Kata telinga pada (1) dan (2) mempunyai distribusi yang sama, tetapi merupakan morfem yang berbeda.
(Tarigan, 2009: 17)

Setiap satuan yang dapat dipisahkan merupakan morfem


Prinsip 6

Perhatikan contoh-contoh berikut ini.


a. Berharap, harapan
Dari contoh di atas bahwa berharap terdiri dari ber- dan harap; serta harapan terdiri dari harap dan an. Dengan
demikian, maka ber-, harap, -an masing-masing merupakan morfem yang berdiri sendiri.

b. Mendatangkan, didatangkan, mendatangi, pendatang, kedatangan, datang


Penjelasan:
mendatangkan terdiri dari tiga morfem, yaitu
MeN-, datang, -kan
didatangkan terdiri dari tiga morfem, yaitu
di-, datang, -kan
mendatangi terdiri dari tiga morfem, yaitu
MeN-, datang, -i
mendatang terdiri dari dua morfem, yaitu
MeN-, datang
kedatangan terdiri dari dua morfem, yaitu
ke-, datang, -an
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa meN-, di-, peN-, datang, -kan, -i,dan ke-an merupakan morfem yang
berdiri sendiri.
c. Bersenang-senang, berlari-larian
bersenang-senang terdiri dari tiga morfem, yaitu
ber-, senang, senang
berlari-larian terdiri dari empat morfem, yaitu
ber-, lari, lari -,an
(Basuni Rachman, Kebahasan. dikutip darihttp://file.upi.edu).

d. Gelap gulita, simpang siur


Satuan gulita hanya terdapat pada gelap gulita; dan satuan siur hanya terdapat pada simpang siur.
Satuan gelap dan satuan simpang masing-masing merupakan morfem tersendiri. Satuan gulita (yang hanya
dapat berkombinasi dengan gelap) dan satuan siur (yang hanya dapat berkombinasi dengan simpang) pun merupakan
morfem tersendiri.
Satuan morfem yang hanya dapat berkombinasi dengan satu morfem saja kita sebut morfem unik, morfem
yang tidak ada duanya, hanya satu-satunya, yang tidak ada bandingannya. Demikianlah gulita dan siur masing-
masing merupakan morfem unik. (Tarigan, 2009: 18-19)

Sedangkan menurut Abdul Chaer (Morfologi Bahasa Indonesia PendekatanProses, 2008: 13-15) ada tujuh hal-hal
(prinsip) yang dapat dipedomani untuk menentukan morfem atau bukan. Sebenarnya kedua pendapat tersebut saling
melengkapi satu sama lain. Agar kita tidak bingung dengan kedua pendapat tersebut, maka perhatikan tabel berikut.
Menurut Abdul Chaer
(Morfologi Bahasa Menurut Ramlan dalam buku Tarigan
No No
Indonesia Pendekatan (Pengajaran Morfologi, 2009:12)
Proses, 2008: 14-15)

Dua bentuk yang sama


atau lebih, memiliki Satuan-satuan yang mempunyai struktur
1. makna yang sama, 1. fonologik dan arti leksikal atau arti gramatik
merupakan sebuah yang sama merupakan satu morfem.
morfem.

Satuan-satuan yang mempunyai struktur


Dua bentuk yang sama
fonologik yang berbeda merupakan satu
atau lebih, bila memiliki
morfem, apabila satuan-satuan itu
2. makna yang berbeda 2.
mempunyai arti leksikal atau arti gramatik
merupakan dua morfem
yang sama, asal perbedaan itu dapat
yang berbeda
dijelaskan secara fonologik..

Satuan-satuan yang mempunyai struktur


Dua buah bentuk yang fonologik yang berbeda, sekalipun
berbeda, tetapi memiliki perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara
3. makna yang sama, 3. fonologik, masih dapat dianggap sebagai satu
merupakan dua morfem morfem apabila mempunyai arti leksikal atau
yang berbeda. arti gramatik yang sama dan mempunyai
distribusi yang komplementer.

Bentuk-bentuk yang mirip


(berbeda sedikit) tetapi
Apabila dalam deretan struktur, suatu satuan
maknanya sama adalah
berparalel dengan suatu kekosongan, maka
4. sebuah morfem yang 4.
kekosongan itu merupakan morfem, atau
sama, asal perbedaan
lebih dikenal dengan morfem zero.
bentuk itu dapat dijelaskan
secara fonologis.

Bentuk yang hanya Satuan-satuan yang mempunyai struktur


muncul dengan pasangan fonologik yang sama, mungkin merupakan
5. 5.
satu-satunya adalah juga satu morfem, mungkin pula merupakan satu
sebuah morfem. morfem yang berbeda.

Bentuk yang muncul


berulang-ulang pada
satuan yang lebih besar
Setiap satuan yang dapat dipisahkan
6. apabila memiliki makna 6.
merupakan morfem.
yang sama adalah juga
merupakan morfem yang
sama.

Bentuk yang muncul


berulang-ulang pada
satuan bahasa yang lebih
besar (klausa, kalimat)
7. apabila maknanya
berbeda secara
polisemi adalah juga
merupakan morfem yang
sama.

Dua pendapat tokoh tersebut akan saling melengkapi pembahasan kita tentang prinsip pengenalan morfem saat ini.
Terlihat bahwa kedua pendapat di atas memiliki persamaan dan perbedaan.
Prinsip ke-1 dalam Chaer terdapat pada poin penjelasan prinsip ke-5 dalam Tarigan.
Prinsip ke-2 dalam Chaer terdapat pada poin penjelasan dengan prinsip ke-5 dalam Tarigan
Prinsip ke-3 dalam Chaer hampir sama dengan prinsip ke-2 dalam Tarigan. Ada sedikit perbedaan, yakni dalam
penentuan morfem, (merupakan morfem yang berbeda, atau morfem yang sama).
Prinsip ke-4 dalam Chaer memiliki inti sama dengan prinsip ke-2 dalam Tarigan.
Prinsip ke-5 dalam Chaer terdapat pada poin penjelasan prinsip ke-6 dalam Tarigan
Prinsip ke-6 dalam Chaer memiliki inti sama dengan prinsip ke-1 dalam Tarigan
Prinsip ke-7 dalam Chaer memiliki kesamaan dengan prinsip ke 5 dalam Tarigan.

Terlihat prinsip ketiga dan prinsip ketujuh dalam Abdul Chaer sedikit berbeda dengan pendapat Tarigan. Berikut
penjelasan dari kedua prinsip tersebut.

1. Prinsip ketiga (Chaer, 2008: 14)


Dua buah bentuk yang berbeda, tetapi memiliki makna yang sama merupakan
dua morfem yang berbeda.
Perhatikan contoh berikut.
- Ayah pergi ke Medan.
- Bapak baru pulang dari Medan.
- Papa membawa oleh-oleh dari Medan.
Kata ayah, bapak, dan papa pada ketiga kalimat di atas merupakan tiga morfem yang berbeda.

2. Prinsip ketujuh (Chaer, 2008: 15)


Bentuk yang muncul berulang-ulang pada satuan bahasa yang lebih besar (klausa, kalimat) apabila maknanya berbeda secara
polisemi adalah juga merupakan morfem yang sama.

Perhatikan contoh berikut.


- Ibunya menjadi kepala sekolah di sana.
- Nomor teleponnya tertera pada kepala surat itu.
- Kepala jarum itu terbuat dari plastik.
- Setiap kepala mendapat bantuan sepuluh ribu rupiah.
- Tubuhnya memang besar, tapi sayang kepalanya kosong.

Kata kepala pada kelima kalimat di atas memiliki makna yang berbeda secara polisemi, tetapi tetap merupakan
morfem yang sama.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Prinsip pengenalan morfem adalah dasar yang membantu kita untuk mengenali sebuah morfem. Dalam makalah ini ada
dua pendapat mengenai prinsip pengenalan morfem, yakni enam prinsip menurut Ramlan dalam buku Tarigan, dan tujuh
prinsip menurut Abdul Chaer. Kedua pendapat tersebut saling melengkapi untuk pengetahuan kita mengenai prinsip yang akan
kita gunakan dalam mengenali sebuah morfem, meskipun ada sedikit perbedaan di dalamnya.
Enam prinsip menurut Ramlan tersebut diantaranya, (1) satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik dan arti
leksikal atau arti gramatik yang sama merupakan satu morfem; (2) satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang
berbeda merupakan satu morfem, apabila satuan-satuan itu mempunyai arti leksikal atau arti gramatik yang sama, asal
perbedaan itu dapat dijelaskan secara fonologik; (3) satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda,
sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologik, masih dapat dianggap sebagai satu morfem apabila
mempunyai arti leksikal atau arti gramatik yang sama dan mempunyai distribusi yang komplementer; (4) apabila dalam
deretan struktur, suatu satuan berparalel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu merupakan morfem, atau lebih
dikenal dengan morfemzero; (5) satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang sama, mungkin merupakan satu
morfem, mungkin pula merupakan satu morfem yang berbeda; (6) setiap satuan yang dapat dipisahkan merupakan morfem.
Keenam prinsip tersebut sudah sangat jelas dipaparkan. Namun ketika kita menengok pada tujuh prinsip yang
dikemukakan oleh Chaer, maka kita akan menumukan dua prinsip yang sedikit berbeda dengan pendapat Ramlan dalam buku
Tarigan., yakni prinsip ketiga dan ketujuh. Prinsip ketiga dari Chaer adalah Dua buah bentuk yang berbeda, tetapi memiliki
makna yang sama merupakan dua morfem yang berbeda.Hampir sama dengan prinsip kedua dalam Tarigan, perbedaannya
terdapat dalam penentuan morfem, yakni merupakan morfem yang berbeda, atau merupakan morfem yang sama. Prinsip
ketujuh dari Chaer adalah Bentuk yang muncul berulang-ulang pada satuan bahasa yang lebih besar (klausa, kalimat)
apabila maknanya berbeda secara polisemi adalah juga merupakan morfem yang sama. Setelah kami cermati, prinsip
ketujuh ini tidak memiliki persamaan pada prinsip-prinsip yang dikemukakan dalam Tarigan.
Semua prinsip-prinsip di atas, baik menurut Ramlan, maupun Abdul Chaer, atau pendapat para ahli lain merupakan
prinsip yang sama-sama bisa kita gunakan sebagai pedoman untuk menentukan sebuah morfem. Pada dasarnya memang kita
harus memahami bahkan menguasai prinsip-prinsip pengenalan morfem. Hal tersebut sangat bermanfaat, agar kita memiliki
dasar pemikiran untuk menentukan sebuah morfem.
Prinsip-prinsip Pengenalan morfem

Prinsip-Prinsip Pengenalan Morfem

a. Prinsip ke-1
satuan-satuan mempunyai struktur fonologik dan arti yang sama merupakan satu morfem.
Perhatikan contoh berikut!
menari
tari tari
tarian
menarikan

kehujanan
ke-an kemanusian
keadilan
kedinginan
Bentuk tari pada menari, penari, tarian, menarikan. Struktur fonologiknya atau penulisannya sama, yaitu / tari/.
Karena struktur fonologik dan artinya sama, maka tari pada menari, penari, tarian, dan menarikan merupakan morfem yang
sama. Bentuk ke-an pada kehujanan, kemanusian, keadilan, dan kedingin. Walaupun struktur fonologiknya sama bukanlah
merupakan morfem yang sama karena arti secara dramatikal berbeda.

b. Prinsip ke-2
Satuan-satuan yang mempunyaistruktur fonologik yang berbeda merupakan satu morfem apabila satuan-satuan itu
mempunyai arti yang sama dan perbedaan struktur fonologik dapat dijelaskan secara fonologik.
Perhatikan contoh berikut ini :
Meng- mem - : memberi
men - : menulis
meny - : menyuci
me - : melerai
meng- : menghitung
menge- : mengecat
Bentuk-bentuk mem- , meny-, me- , meng-, dan menge-
Mempunyai struktur fonologik atau penulisan yang berbeda. Arti setiap afiks itu sama, yaitu menyatukan tindakan aktif.
Walaupun penulisannya berbeda, perbedaannya dapat dijelaskan secara fonologik. Perubahan setiap morf itu tergantung kepada
fonem. Awal morfem yang di lekatinya.
c. prinsip ke-3
satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologiknya yang berbeda sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan
secara fonologik, masih di anggap satu morfem apabila mempunyai arti sama, dan mempunyai distribusi yang komplementer.
Perhatikan contoh berikut ini :
ber- : berjalan, berkarya, berhitung
ber- : belajar,berlunjur
ber- : bekrja, beternak, beserta
berdasrkan contoh tersebut, kita dapat menyampaikan bahwa afiks ber- akan menjadi ber-bertemu dengan morfem yang
di awali dengan fonem / j, k, m, b / . Afiks ber-berubah menjadi bel-bila bertemu morfem yang suku pertamanya diakhir dengan / -
er- / , kedudukan afiks ber-, be-, dan bel- ini tidak dapat dipertukarkan. Jika ber-bertemu dengan hitung, gabungannya i selalu
berhitung bukan belhitung, kedudukan afiks ber- yang tidak dapat bertukar tempat itulah yang disebut distribusi komplementer.
Karena afiks ber-, be-, dan bel- mempunyai arti yang sama dan berdistribusi komplementer, walaupun struktur fonologiknya
berbeda tetap merupakan satu morfem.
d. Prinsip ke-4
Apabila dalam deretan struktur,satuan-satuan berpararel dengan suatu kekosongan ini merupakan morfem Zero
Perhatikan deretan struktur berikut ini!
a. Adib membeli kue.
b. Adib menjahit baju.
c. Adib menulis surat.
d. Adib makan nasi.
e. Adib minum kopi.
Semua contoh kalimat di atas berstruktur SPO. Predikatnya semua termasuk kata kerja transitif. Pasa kalimat d dan e,
predikatnya tidak memiliki prefiks. Prefiks yang kosong pada bentuk makan dan minum adalah morfem Zero karena sebenarnya
bentuk katanya memakan dan meminum.
e. Prinsip ke-5
Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang sama,mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan
morfem yang berbeda.
Perhatikan contoh berikut!
1. a. Anis membeli buku.
b.buku itu sangat tebal.
2. a. Fathinah membeli buku.
b. Fathinah makan buku tebu.
f. Prinsip ke-6
setiap satuan yang tidak dapat di pisahkan merupakn morfem.
Perhatikan bentuk-bentuk berikut!
Makanan makan + -an
Bersandar ber- + sandar
Penduduk peng- + duduk
Bentuk makan, bersandar, dan penduduk dapat kita pisahkan atas unsur-unsur yang lebih kecil . Karenanya, bentuk
tersebut bukanlah morfem melainkan kata. Bentuk makan,sandar,duduk,, -an.ber-, peng-tidak dapat kita pisahkan lagi atas unsur-
unsurnya yang lebih kecil. Karenanya, bentuk tersebut tergolong ke dalam morfem, yaitu morfem bebas untuk makan, sandar, dan
duduk dan morfem terikat untuk -an, ber-, dan peng-.

2. Jelaskan konsep konstruksi morfologis? Beserta contoh!


Jawab:
Konstruksi morfologis ialah konstruksi formatif-formatif dalam kata (Kridalaksana, 1983:92), maksudnya bentukan atau
satuan kata yang mungkin merupakan morfem tunggal atau gabungan morfem yang satu dengan yang lain. Bentuk atau satuan yang
berupa morfem tunggal disebutkonstruksi sederhana, sedangkan bentuk atau satuan yang terdiri atas beberapa morfem
disebutkonstruksi rumit (Samsuri, 1982:195).
Selanjutnya, Samsuri (1982:195) mengklasifikasikan konstruksi sederhana menjadi dua macam yaitu akar (istilah Ramlan
bentuk atau satuan tunggal bebas yang sekaligus merupakan kata); satuan berwujud kecil yang secara morfologis berdiri sendiri,
namun secara fonologis bisa mendahului atau mengikuti morfem-morfem lain dengan eratnya yang lazim disebut klitik. Akan
sering pula disebut kata morfem. Sedangkan klitik sendiri dapat kita bedakan menjadi proklitikdan enklitik.
Konstruksi rumit merupakan hasil proses penggabungan dua morfem atau lebih. Konstruksi rumit bisa bisa berupa gabungan
antara pokok + afiks, seperti ber- + juang pada berjuang; antara akar (ada pula yang menyebutnya dasar atau morfem bebas) +
afiks, seperti makan + -an padamakanan; antara pokok kata + akar, seperti semangat + juang pada semangat juang; pokok kata +
pokok kata, seperti gelak + tawa pada gelak tawa; dan antara akar + akar, seperti meja +makan pada meja makan.
Contoh konstruksi morfologi:
1. Kaugunting
2. Guntingmu
3. Membelikannya
4. Untuknya
5. Berlatih
6. Merasa
7. Menyanyikan
8. Meyakinkan
9. Menanti
10. Berkarya
11. berkorban

3. Perbedaan-perbedaan antara infleksi dan derivasi


a. Infleksi
- cenderung merupakan formasi luar, muncul lebih jauh dari stem ketimbang afiks dan derivasi
- cenderung kurang bervariasi, namun dengan distribusi yang luas
- digunakan untuk mencocokkan kata-kata bagi pemakaian dalam sintaksis namun tidak pernah merubah kelas kata.
b. Derivasi
- cenderung merupakan formasi dalam, muncul lebih dekat ke stem ketimbang afiks derivasi
- cenderung lebih bervariasi, namun dengan distribusi yang terbatas
- digunakan untuk menetapkan kata-kata dalam suatu kelas dan umumnya mengubah kelas kata.
Perbedaan lain antara infleksi dan derivasi ialah bahwa infleksi biasanya disusun ke dalam suatu paradigma, sedangkan
derivasi tidak.
Perbedaannya akan terlihat pada kalimat-kalimat berikut:
1. a. Anak itu menggunting kain
b. Anak itu gunting rambut
Derivasi
2. a. Makanan itu sudah basi
b. Makan itu sudah basi

3. a. Kami mendengar suara itu


b. Kami dengar suara itu
Infleksi
4. a. Saya membaca buku itu
b. Saya baca buku itu

Berdasarkan empat contoh di atas, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa konstruksimenggunting dan makanan tidak sama
distribusinya dengan gunting dan makan. Itu sebabnya kalimat 1b dan 2b tidak ada dalam bahasa Indonesia. Di lain pihak,
konstruksi mendengar danmembaca sama dengan konstruksi dengar dan baca. Oleh karena itu, kita dapat mempergunakan kalimat
3a atau 3b dan 4a dan 4b. Konstruksi menggunting dan makanan merupakan contoh derivasi. Sendangkan konstruksi mendengar
dan membaca contoh infleksi.

4. Bagaimanakah membedakan endosentris dan eksosentris? Jelaskan dengan disertai contoh!

Frasa endosentris : koordinatif, atributif, dan apositif.


Frasa endrosentris koordinatif : frasa endosentris yang tediri atas konstituen-konstituen yang setara. Kesetaraannya dapat
dibuktikan dengan adanya kemungkinan konstituenitu dihubungkan dengan penghubung dan / atau.
Contoh : Laku-laki dan perempuan itu berjalan di jalan.
Frasa endosentris atribut : frasa endosentris yang terdiri atas konstituen-konstituen tidak setara. Konstituen-konstituen itu
tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan / atau.
Contoh : Gadis manis itu berjalan di jalan.
Frasa endosentris apositif : frasa yang mirip dengan frasa endosentris koordinatif dalam masing-masing konstituennya
dapat saling menggantikan.
Contoh :
Frasa eksosentris : proporsional, nondirektif.
Frasa eksosentris proporsional : koponen pertamanya berupa preposisi, seperti di, ke, dan dari, dan komponen keduanya
berupa kata atau kelompok kata yang biasanya berkategori nomina.
Contoh: Avin pergi ke pasar.
Frasa eksosentris nondirektif : frasa eksosentris yang konstituen perangkaiannya berupa artikula, sedangkan konstituen
sumbunya berupa kata atau kelompok kata yang berkategori nomina, verba, atau adjektiva.
Contoh : para hadirin dipersilahkan untuk memakan hidangan yang telah disediakan.

Anda mungkin juga menyukai