Anda di halaman 1dari 13

Potensi Peningkatan Perolehan Minyak Lapangan Jatibarang

Dengan CO2 Flooding

Taufan Marhaendrajana; Institut Teknologi Bandung


Bambang Gunadi; PT. PERTAMINA. PERSERO, dan
Putu Suarsana; PT. PERTAMINA.PERSERO

SARI

CO2 flooding dikenal sebagai sebuah metode Enhanced Oil Recovery (EOR) yang efektif
dengan menurunkan jumlah minyak yang tertinggal di reservoir melalui beberapa mekanisme
seperti: oil swelling, viscosity reduction, crude vaporization dan miscible displacement. Beberapa
hal yang sering menjadi pertanyaan dalam melakukan CO2 flooding ini adalah tentang
ketersediaan gas CO2, tingkat keheterogenan reservoir, dan besarnya tekanan tercampur minimum
(TTM). Untuk lapangan Jatibarang, gas CO2 tidak merupakan masalah karena tersedia reservoir
gas dengan kandungan CO2 baik di lapangan Jatibarang sendiri maupun lapangan lain yang
berdekatan. Sementara dua hal lainnya merupakan parameter yang termasuk akan dikaji dalam
paper ini.

Perolehan minyak secara primer dari reservoir yang menjadi perhatian dari pekerjaan ini
(Blok III/Zona F) hanya sebesar 16.2%, sementara tekanan reservoir telah turun menjadi 500 psia.
Analisa dari data produksi menunjukkan bahwa mekanisme pendorong dari reservoir ini adalah
kombinasi antara solution gas drive dan weak water drive. Dengan mempertimbangkan kondisi
tersebut, usaha peningkatan perolehan minyak dengan waterflooding dan/atau EOR perlu
dievaluasi kelayakannya dan kemungkinan pengembangannya.

Lapangan Jatibarang merupakan salah satu dari beberapa kandidat yang dipilih melalui proses
screening. Compatibility test telah dilakukan menggunakan fluida dari Blok III/Zona F, dan
datanya tersedia baik untuk fluida kondisi awal dan fluida kondisi sekarang. Perubahan komposisi
dan sifat fluida terhadap waktu dibandingkan dan dianalisa menggunakan pemodelan Equation of
State (EOS). Model EOS dan interaksi antar komponen penyusun fluida yang tepat ditentukan
dengan melakukan regresi dan kalibrasi (tuning) parameter-parameter EOS. Model fluida dipilih
yang paling mendekati hasil uji PVT yang dilakukan di laboratorium.

Tekanan reservoir yang rendah merupakan tantangan tersendiri untuk melakukan CO2
flooding, karena tekanan reservoir berada jauh dibawah tekanan tercampur minimum (TTM).
Untuk mengevaluasi metode CO2 flooding yang tepat untuk lapangan ini, simulator reservoir
compositional digunakan dalam studi ini. Evaluasi CO2 flooding yang dilakukan
mempertimbangkan juga penggunaan CO2 murni dan beberapa kombinasi campuran CO2-
Propane. Simulasi juga dilakukan untuk kondisi pendesakan tercampur dan pendesakan tak
tercampur. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa secara teknis kombinasi antara waterflooding
dan injeksi CO2-Propane pada waktu yang bersamaan dapat meningkatkan perolehan minyak
menjadi 58.6%. Sedangkan injeksi CO2 tanpa waterflooding meningkatkan perolehan minyak
menjadi 41.8%.
PENDAHULUAN

Lapangan Jatibarang berada pada cekungan Jawa Barat bagian utara. Lapangan ini terletak di
sebelah barat daya kota Cirebon, Jawa Barat (Gambar 1). Block III/Zone F pada lapangan
Jatibarang terdiri dari 28 sumur. Pada saat studi ini dilakukan, 6 sumur berproduksi dan 22 sumur
tidak aktif. Kedalaman rata-rata reservoir adalah 1140 m SS (3740 ft SS). Peta top struktur dari
servoir ini ditunjukkan oleh Gambar 2.

Sebagian besar aplikasi dan pilot test injeksi CO2 dilakukan untuk pendorongan yang
miscible. Namun jika kondisi miscibility ini tidak dapat dicapai secara teknis, CO2 masih dapat
larut dalam minyak yang menyebabkan minyak mengembang dan viskositasnya turun.. Khatib et.
al (1981), setelah melakukan evaluasi kasus-kasus lapangan yang melakukan injeksi CO2 secara
immiscible, menyatakan bahwa penerapan injeksi CO2 sangat menarik untuk minyak berat
(heavy oil), tetapi mungkin juga diterapkan untuk beberapa reservoir dangkal yang mengandung
minyak ringan, dimana tekanan yang diperlukan untuk tercapainya kondisi miscibility tidak dapat
tercapai. Catatan keberhasilan dari injeksi CO2 dengan pendesakan tak tercampur dalam
meningkatkan perolehan minyak dilaporkan oleh Kantar et al. (1985), Spivak and Chima (1984),
Attanuci et al. (1993), Mangalsingh (1996), dan Singh et al. (2004).

Disamping memberikan tambahan energi ke dalam reservoir, empat (4) mekanisme berikut
dipercaya berpengaruh terhadap meningkatnya perolehan minyak oleh injeksi CO2, yaitu:
(i) menurunkan viskositas,
(ii) membuat minyak mengembang (oil expansion/swelling),
(iii) menurunkan tegangan permukaan, dan
(iv) memberikan tenaga dorong solution gas drive (blowdown recovery).
Tiga faktor yang pertama menyebabkan peningkatan mobilitas minyak yang memberikan
kontribusi atas peningkatan perolehan minyak. Sedangkan blowdown recovery terjadi apabila
CO2 yang terlarut dalam minyak terbebaskan pada saat tekanan reservoir berkurang di bawah
tekanan saturasi. Kejadian ini serupa dengan solution gas drive.

Hasil-hasil dari pekerjaan terdahulu tersebut memberikan motivasi untuk melakukan


menghitung potensi yang dimiliki oleh lapangan Jatibarang Blok III/Zona F apabila dilakukan
injeksi CO2. Tujuan dalam paper ini adalah untuk melakukan evaluasi kelayakan injeksi CO2
secara full scale di lapangan Jatibarang Blok III/Zona F ditinjau dari aspek reservoir dengan
menggunakan simulator reservoir compositional.

Injeksi CO2 dengan pendesakan tak tercampur dan pendesakan tercampur dilakukan dalam
paper ini. Khususnya untuk pendesakan tercampur, kenyataan berikut menjadi pertimbangan
dalam pelaksanaannya. Yang pertama, tekanan reservoir (500 psia) jauh lebih kecil dari tekanan
tercampur minimum (TTM) CO2 murni dengan fluida reservoir yang ditentukan di laboratorium
(2589.7 psia atau 2575 psig). Yang kedua, tekanan rekah formasi lebih kecil dari TTM. Oleh
karena itu, hampir dipastikan bahwa TTM tidak akan tercapai selama proses injeksi CO2 murni
ke reservoir. Untuk menyiasati hal tersebut campuran gas CO2-Propane digunakan sebagai fluida
injeksi untuk melihat pengaruh proses pendesakan tercampur terhadap perolehan minyak
lapangan Jatibarang Blok III/Zona F ini.

METODOLOGI

Di dalam paper ini simulator reservoir compositional digunakan untuk menentukan


pertambahan peroleh minyak dari injeksi CO2 baik dengan proses pendesakan tak tercampur
maupun proses pendesakan tercampur. Skema injeksi yang dilakukan meliputi injeksi secara
continuous, slug dan water alternating gas (WAG). Data fluida, core, log, well test, dan produksi
diintegrasikan untuk membuat model dan karakterisasi reservoir. Kemudian model reservoir ini
divalidasi dengan melakukan history matching produksi (minyak, air dan gas) dan tekanan
reservoir.
Pemodelan fluida dilakukan dengan melakukan fine tuning EOS dengan dua contoh fluida
yang diperoleh dari sumur JTB-140 (diambil pada tahun 1983) dan dari sumur JTB-137 (diambil
pada tahun 2003). Dua contoh fluida ini dianggap mewakili kondisi pada saat awal dan kondisi
sekarang. Begitu model EOS diperoleh dan dipilih, TTM dari berbagai kombinasi campuran CO2
dan komponen ringan hidrokarbon (methane, ethane and propane) dengan fluida reservoir
dihitung.
Prediksi produksi minyak akibat CO2 flooding dihitung dengan menggunakan beberapa
scenario seperti berikut; (i) CO2 continuous flooding, (ii) CO2 slug flooding, and (iii) CO2 WAG
flooding. Waterflooding juga dilakukan sebagai bahan perbandingan. Berbagai kombinasi
campuran CO2 digunakan dalam simulasi. Ini meliputi gas CO2 murni, gas CO2 dari reservoir
lain, dan campuran CO2-Propane.

HASIL STUDI

Karakterisasi Reservoir

Tidak adanya data core yang merepresentasikan reservoir yang menjadi target studi ini diatasi
dengan melakukan analisis yang terintegrasi terhadap data log, well test dan produksi. Analisis ini
memberikan kontribusi yang penting dalam proses deskripsi dan karakterisasi reservoir Blok
III/Zona F ini. Hubungan antara permeabilitas dan porositas sebagai salah satu hasil dari analisis
yang terintegrasi tersebut ditunjukkan oleh Gambar 3. Nilai rata-rata dari porositas, permeabilitas,
dan saturasi air secara berturut-turut adalah 16%, 65 mD, and 40%. Peta porositas, saturasi air
dan permeabilitas diperlihatkan oleh Gambar 4-6.

Profil komposisi fluida reservoir diberikan oleh Gambar 7. Pada gambar ini diperlihatkan
komposisi dari empat (4) contoh fluida yang diambil dari sumur JTB-057, JTB-140, JTB 161, dan
JTB-137. Contoh fluida tersebut diambil pada tanggal 15 April 1983, 16 April 1983, 1 Oktober
1986 dan 1 Ockober 2003. Terlihat bahwa komponen ringan berkurang pada contoh fluida yang
paling baru. Pengamatan ini konsisten dengan kenyataan bahwa semakin hari tekanan reservoir
berkurang dan begitu tekanan reservoir berada di bawah tekanan gelembung maka gas akan
terbebaskan dari larutan minyak. Gas ini (yang mengandung lebih banyak komponen ringan)
mengalir ke lubang sumur jauh lebih cepat dari minyak (yang mengandung lebih banyak
komponen berat). Oleh karena ini proporsi komponen ringan terhadap komponen berat dari fluida
reservoir makin lama makin kecil. Model EOS dipilih dan di-fine tuning menggunakan contoh
fluida dari JTB-140 and JTB-137. Proses ini dilakukan untuk mendapatkan model yang akurat
dan yang dapat memodelkan perubahan komposisi yang terjadi selama proses produksi.

Validasi Model Reservoir

Model reservoir divalidasi dengan melakukan history matching data produksi dan tekanan
reservoir. Hasil history matching ini diperlihatkan dalam Gambar 8 sampai 11. Produksi minyak
mulai turun pada pertengahan tahun 1982, dan ini disebabkan oleh berkurangnya energi dari
reservoir yang dibuktikan oleh turunnya tekanan reservoir. Produksi minyak mulai relative stabil
setelah tahun 1990 dan tekanan reservoir bertahan pada harga 500 psia. Hal ini mungkin
disebabkan oleh adanya aquifer terbatas.

Hasil dari model simulasi cocok dengan data produksi minyak/air dan data tekanan reservoir.
Sementara produksi gas dari model simulasi relative lebih rendah dari data produksi terutama
setelah tahun 1990. Salah satu sebab adalah adanya kesulitan dalah alokasi produksi gas dari
sumur-sumur yang produksi dari beberapa zona secara commingle.

Kinerja Produksi Karena CO2 Flooding

Prediksi menggunakan mekanisme yang sudah ada menghasilkan faktor perolehan minyak
sebesar 20.7%. Dari beberapa scenario water flooding, faktor perolehan minyak maksimum
adalah sebesar 36.2% (perolehan tambahan sebesar 15.5%).

Continuous flooding menggunakan CO2 murni dan CO2 source tidak terlalu memberikan
hasil yang baik dan hanya menghasilkan perolehan minyak berturut-turut sebesar 25.1% dan
26.3%. Hal ini disebabkan karena TTM tidak tercapai dan pendesakan CO2 secara continues
tidak memberikan sweep efficiency yang baik. Sementara itu penggunaan campuran CO2-
Propane pada continuous flooding ini memberikan perolehan minyak yang lebih baik, yaitu 37%.
Hal ini karena TTM CO2-Propane dengan fluida reservoir lebih rendah sehingga kondisi
reservoir pada saat injeksi mendekati kondisi tercampur. Hasil dari beberapa skenario untuk
continuous CO2 flooding diberikan pada Gambar 12.

Simulasi menggunakan skenario injeksi WAG dan slug memberilan perolehan minyak yang
bagus, yaitu sebesar 41%. Namun demikian, aplikasi injeksi slug di lapangan mungkin lebih
mudah daripada injeksi WAG. Slug sebesar 25% dianggap sebagai kondisi yang optimum dan
teramati dalam studi ini bahwa penambahan ukuran slug di atas 25% tidak menambah perolehan
minyak dari reservoir ini. Hasil dari bemacam scenario menggunakan Slug CO2 flooding and
CO2 WAG flooding ditunjukkan oleh Gambar 13 dan Gambar 14.

Kombinasi antara injeksi CO2 dari bagian atas dan injeksi air dari bagian bawah memberikan
perolehan minyak yang sangat baik terutama menggunakan fluida injeksi campuran CO2-Propane.
Perolehan minyak dengan cara ini mencapai 58.6%. Kinerja produksi dengan menggunakan
scenario injeksi ini diperlihatkan dalam Gambar 15.

KESIMPULAN

1. Studi ini menunjukkan bahwa CO2 flooding menghasilkan perolehan minyak yang besar
pada lapangan Jatibarang Blok III/Zona F ini. Mekanisme CO2 flooding yang paling baik
secara teknik reservoir adalah kombinasi antara injeksi air dan injeksi campuran CO2-
propane secara kontinyu yang menghasilkan perolehan minyak sebesar 58.6% (37.9%
incremental to existing atau 21.8% incremental to waterflood). Bagaimanapun, jika karana
alas an keekonomian propane tidak direkomendasikan sebagai fluida injeksi, maka injeksi
slug CO2 source adalah kandidate yang baik. Injeksi dengan cara ini menghasilkan perolehan
minyak 41.8% (21.1% incremental to existing or 5.6% incremental to waterflood).

2. Implementasi dari hasil studi ini masih memerlukan evaluasi fasilitas permukaan dan studi
keekonomian, selain studi lebih jauh mengenai pola injeksi yang optimum.
ACKNOWLEDGMENT

Ucapan terimakasih disampaikan paa PERTAMINA DOH JAWA BAGIAN BARAT dan
PERTAMINA JASTEK atas ijin yang diberikan dalam mempublikasikan data dari Blok III/Zona
F lapangan Jatibarang. Terimakasih juga disampaikan pada Institut Teknologi Bandung yang
telah memberikan fasilitas komputasi selama studi ini.

DAFTAR PUSTAKA

Khatib, A.K., Earlougher, R.C. and Kantar, K.:CO2 Injection As An Immiscible Application For
Enhanced Recovery in Heavy Oil Reservoir, Paper SPE 9928; Proceeding of The California
Regional Meeting, Bakersfield, California, Mar 25-26, 1981.

Kantar, K., Karaoguz, D., Issever, K. and Varana, L.:Design Concepts of Heavy-Oil Recovery
Process by an Immiscible CO2 Application, JPT (February 1985) p.275-283.

Spivak, A. and Chima, C.M.:Mechanisms of Immiscible CO2 Injection in Heavy Oil Reservoirs,
Wilmington Field, CA, Paper SPE 12667; Proceeding of The California Regional Meeting, Long
Beach, CA, April 11-13, 1984.

Spivak, A., Garrison, W.H. and Nguyen, J.P.:Review of an Immiscible CO2 Project, Tar Zone,
Fault Block V, Wilmington Field, California, SPERE (May 1990) p.155-162.

Attanucci, V., Aslesen, K.S. and Wright, C.A.:WAG Process Optimization in the Rangely CO2
Miscible Flood, Paper SPE 26622; Proceeding of The 68th Annual Technical Conference and
Exhibition of The Society of Petroleum Engineers, Houston, TX, 3-6 October 1993.

Mangalsingh, D.:A Laboratory Investigation of The Carbon Dioxide Immiscible Process, Paper
SPE 36134; Proceeding of The 4th Latin American and Caribbean Petroleum Engineering
Conference, Port of Spain, Trinidad & Tobago, 23-25 April 1996.

Singh, L., Lorna, J. and Singhal, A.K.:Lessons From Trinidads CO2 Immiscible Pilot Projects
1973-2003, Paper SPE 89364; Proceeding of The SPE/DOE Fourteenth Symposium in
Improved Oil Recovery, Tulsa, OK, 17-21 April 2004.
Gambar 1 Lokasi lapangan Jatibarang.

Gambar 2 Peta top struktur dari Block III/Zone F lapangan Jatibarang.


Gambar 3 Hubungan antara permeabilitas dan porositas.

Gambar 4 Peta porositas.


Gambar 5 Peta saturasi air.

Gambar 6 Peta permeabilitas.


Gambar 7 Komposisi fluida reservoir.

Gambar 8 History matching produksi minyak.


Gambar 9 History matching produksi air.

Gambar 10 History matching produksi gas.


Gambar 11 History matching tekanan reservoir.

Gambar 12 Ringkasan kinerja produksi karena CO2 continuous flooding.


Gambar 13 Ringkasan kinerja produksi karena CO2 slug flooding.

Gambar 14 Ringkasan kinerja produksi karena CO2 WAG flooding.


Gambar 15 Ringkasan kinerja produksi karena kombinasi CO2 injection dan water injection.