Anda di halaman 1dari 39

Teknologi Keperawatan

Kamis, 23 Oktober 2014


Laporan Pendahuluan Genokologi (Ibu Hamil Dengan Penyakit Jantung)

LAPORAN PENDAHULUAN
IBU HAMIL DENGAN KELAINAN JANTUNG

A. Pengertian Penyakit jantung


Setiap kehamilan mempengaruhi cardiovaskuler ibu. Hal ini berlangsung dan
berlanjut sampai beberapa mingu setelah bayi baru lahir. Jantung normal dapat
mengkompensasi peningkatan beban kerja sehingga kehamilan dan kelahiran bayi umumnya
ditoleransi dengan baik.
Penyakit jantung pada wanita hamil yaitu penyakit jantung yang diderita wanita hamil
yang mengalami kelainan/kerusakan kutub, kelainan congenital system konduktif, septal dan
katub jantung.
Penyakit kardiovaskuler dapat dijumpai pada wanita hamil atau tidak hamil. Jelaslah
bahwa wanita dengan penyakit kardiovaskuler dan menjadi hamil, akan terjadi pengaruh
timbal balik yang dapat mengurangi kesempatan hidup wanita tersebut.
Dalam kehamilan, terjadi peningkatan denyut jantung, nadi, pukulan jantung, dan
volume darah, dan juga bisa menyebabkan tekanan darah menjadi menurun sedikit, sehingga
resiko penyakit jantung dan payah jantung akan terjadi dalam kehamilan.

B. Klasifikasi Penyakit Jantung


Asosiasi jantung newyork mengklasifikasikan Penyakit jantung organic yang merupakan
standart yang diterima secara luas sebagai berikut.
1. Kelas I
Asimtomatik dengan aktivitas normal. Meliputi pasien penyakit jantung, tetapi tanpa
akibat pembatasan aktivitas fisik. Aktivitas fisik biasa tidak menyebabkan kelelahan tidak
semestinya, palpitasi, dispne atau nyeri angina
2. Kelas II
Simtomatik dengan aktifitas yang meningkat (dispnea, cepat lelah, edema bula aktifitas
bertambah normal). pasien penyakit jantung yang menyebabkan sedikit pembatasan aktivitas
fisik membentuk Kelas II. Meskipun nyaman saat istirahat, namun pasien-pasien ini
mengalami kelelahan, palpitasi, dispne, atau nyeri angina pada aktivitas fisik yang biasa.

3. Kelas III
Simtomatik dengan aktifitas yang biasa dilakukan. Pasien penyakit jantung dengan
pembatasan aktivitas fisik yang jelas dimasukkan dalam kelas III. Nyaman pada saat istirahat,
pasien ini mengalami kelelahan palpitasi, dispne, atau nyeri angina dengan aktivitas fisik
ringan (yang kurang dari biasa)
4. Kelas IV
Simtomatik dengan istirahat. pasien ini mengidap penyakit jantung yang menyebabkan
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas fisik apoa pun tanpa ketidaknyamanan
meningkat dengan aktivitas fisik apapun.

C. Etiologi Penyakit Jantung


Faktor-faktor yang akan meningkatkan stress pada jantung seperti anemia, infeksi,
situasi dirumah yang mencakup tanggung jawab keluarga, anak-anak yang lain atau anggota
keluarga secara luas. Sebagian besar disebabkan demam reumaatik. Bentuk kelainan katup
yang sering dijumpai adalah stenosis mitral, insufisiensi mitral, gabungan stenosis mitral
dengan insufisiensi mitral, stenosis aorta, insufisiensi aorta, gabungan insufisiensi aorta dan
stenosis aorta, penyakit katup pulmonal, dan trikuspidal.

D. Faktor Predisposisi
Meliputi perubahan kardiovaskular fisiologis selam kehamilan, aktivitas fisik, infeksi,
anemia, tirotoksikosis, obesitas, dan hipertensi.

E. Patofisologi Penyakit Jantung


Setiap kehamilan membutuhkan tuntutan ekstra pada system kardiovaskuler, terutama
pada jantung, volume darah dan curah jantung meningkat 40% dan kecepatannya meningkat.
Jantung yang normal mampu dengan baik mengkompensasi tambahan klerja, tetapi jantung
yang mengalami kerusakan atau penyakit mungkin tidak dapat berkembang menjadi
dekompensasi. Ibu hamil dengan penyakit jantung ini bila dipicu oleh beberapa factor akan
mengalami serangan jantung misalnya anemia, infeksi masalah keluarga. Factor-faktor
pemicu tersebut akan meningkatkan stress jantung sehingga volume sirkulasi akan meningkat
dan menimbulkan gejala dekompensasi jantung diantaranya meningkatnya rasa letih, sesak
nafas, mur-mur dan ralea, hemoptosis, edema, nadi takteratur,pengumpulan dalam dasar paru
yang hal ini akan membawa dampak pada janin yang dikandungnya.

F. Tanda dan Gejala / Manifestasi Klinis Penyakit Jantung


Kehamilan dengan pernyakit jantung akan menimbulkan perubahan hemodinamik:
1. Kebutuhan metabolism meningkat
2. Perubahan komposisi darah :
a. Volume darah 30-45%
b. Eritrosit meningkat 25-35%
c. Plasma darah lebih tinggi 35-50%
d. Hemodelusi / anemia
3. Perubahan komposisi darah akibat pengaruh :
a. Estrogen progesterone meningkat
b. Sirkulasi retroplasentar
c. Pembesaran uterus
d. Pertumbuhan mammae untuk laktasi
4. Kompensasi kerja jantung.
a. Nadi bertambah 10-15x/menit yaitu 70 menjadi 80-85x/menit
b. Stroke volume dari 63 menjadi 70 cc.
c. Cardiac output 3,5 ml

G. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Jantung


1. Hitung sel darah putih,leukosit menandai infeksi umum
2. HB/HT, menunjukan anemi actual fisiologis,polisitemia
3. GDA, member pengkajian sekunder terhadap hal yang berkompetensi membahayakan janin
karena menyangkut pernafasan ibu.
4. Laju sedimentasi, meningkat pada adanya infeksi jantung
5. Echocardiografi, mendiagnosis prolap katub mitral/sindrom marfan
6. Pencitraan jantung radionukeida,mengevaluasi kerusakan septal atrium/ventrikel uktus
arteriosus patern/ pirau intrakardial.
7. Amniosistesis menentukan maturitas janin
8. USG, mendeteksi usia gestasi janin.
H. Dioagnostik Tambahan
Foto Toraks dapat bermanfaat dalam penilaian pembesaran jantung,edema paru,dan
efusi pleura.
Elektrokardiogram membantu dalam penentuan frekuensi dan irama jantung
sertadalam memperkirakan pembesaran ruangan jantung yang spesifik. Ekokardiografi
membantu dalam evaluasi srukur dan fungsi jantng.
I. Penatalaksanaan Penyakit Jantung
Pasien gagal jantung harus dirawat dirumah sakit dan ditempatkan ditirah baring total
untuk menurunkan kebutuhan kerja jantung.
Oksigenisasi : oksigen diberikan melalui kateter hidung, masker atau tekanan positif
intermiten bila diperlukan.
Sadasi : morfin ( 10 sampai 15 mg) membantu menenangkan kecemasan dan agitasi.
Istirahat fisik dan mental merupakan aspek sangat penting bagi keberhasilan terapi.
Pengurangan Volum Darah. Diuresis : Furosemid (Lasix) (40 mg intrsvena) biasanya
menghasilkan dieresis cepat, mulai dalam 5 sampai 15 menit dan mencapai maksimum dalam
satu sampai dua jam. Dosis berikutnya dapat diberikan secara oral atau parenteral,bila perlu.
(karena penelitian reproduktif binatang memperlihatkan bahwa furosemid dapat
menyebabkan abnormalitas janin, maka obat ini dikontraindikasikan pada wanita yang
mungkin hamil kecuali pada keadaan yang mengancam nyawa.)
Digitalisasi : digitalis (digoksin atau deslanosid) sangat bermanfaat dalam pengobatan
gagal jantung yang disertai aritmia supraventikular dengan respon ventrikel yang cepat,
karena digitalis memperlambat denyut ventrikel. Sampai pasien belum memperoleh digitalis
selam 2 minggu sebelumnya, maka digitalisasi cepat intravena dapat diindikasikan.
Faktor yang mempengaruhi sensitivitas individu terhadap digitalis meliputi kadar
kalium,magnesium,dan kalsium; hipoksia atau nekrosis miokardium: fungsi tiroid; fungsi
ginjal; serta jenis dan keparahan penyakit jantung yang mendasari. Karena hipokalemia, ada
peningkatan kecenderungan kearah keracunan digitalis. Pemberian intravena suatu bolus
preparat digitalis kepasien yang baru mendapat digitalis dapat mencetuskan takikardi atau
fibrilasi ventrikel. Manifestasi klinik dan elektrokardiogram adalah kunci petunjuk untuk
dosis.
Tindakan Tambahan : masukan cairan dan natrium dibatsi. Tamabahan kalium mungkin
diperlukan. Setelah gagal jantung terobati,maka pasien harus tetap berada dalam observasi
ketat,lebih baik dirumah sakit,sampai melahirkan. Pnatalaksanaan lainnya seperti :

1. Perawatan obstetric kehamilan penyakit jantung


a. Kelas i : setiap 2 minggu persalinan
b. Kelas ii-iv : setiap minggu
2. Pengobtan diserahkan pada spesialis jantung
3. Perawatan pasien :
Kelas I
a. Istirahat yang cukup pada malam hari
b. Pengawasan ketat selama perinatal.
Kelas II
a. Menjalani periode istirahat harian
b. Supervise prenatal teratur
c. Masuk RS mendekati aterm dan diberi antibiotika terhadap endokarditis bacterial dan
oksigen
Kelas III
a. Menghabiskan satu hari setiap minggunya ditempat tidur selama kehamilan
b. Bila terjadi dekompensasi jantung masuk RS sampai persalinan.
c. Tidak dianjurkan untuk menyusui
d. Mungkin dianjurkan aborsi terapeutik
e. Operasi sterilisasi dianjurkan
Kelas IV
a. Aborsi terapeutik sangat dianjurkan
b. Bagi yang berusaha hamil, diperlukan istirahat total, perawatan di RS dan intensif.

J. Penatalaksanaan pendidikan pasien


Pasien Jantung yang Hamil dengan Masalah Di anataranya Selama kehamilan,semua
pasien jantung harus diobservasi teliti untuk mengurangi,mencegah, atau menghilangkan
setiap penambah beban jantung.
Infeksi meningkatkan curah jantung dan harus diobati dirumah sakit. Infeksi saluran
pernafasan dengan cadangan jantung terbatas harus mengkompensasi beban kehamilan
dengan istirahat lebih daripada biasanya dan dengan menghindari stress fisik dan emosional
yang tidak semestinya.
Aktivitas berlebihan : Gerak badan dapat juga menyebabkan gagal jantung. Pasien-
pasien dengan cadangan jantung terbatas harus mengkompensasi beban kehamilan dengan
istirahat lebih daripada biasanya dengan dan dengan meghindari stress fisik dan emosional
tidak semestinya.
Aritmia : Dengan adanya kerusakan struktur jantung, maka takikardia, fibrilasi, atau
fluter atrium dapat mencetuskan gagal jantung. Akibatnya, gangguan ini harus diterapi
segera.
Anemia : komplikasi kardiovaskular dapat timbul pada pasien-pasien anemia sel sabit
dan penyakit sel sabit-hemoglobin C. Dekompensasi dapat juga timbul bila anemia
memperberat jenis penyakit jantung lainnya.
Hipervolemia : dapat menyebabkan edema paru. Infus dan transfusi harus dihindari
kecuali esensial, dimana pada kasus ini kecepatan infus harus diobservasi dengan sangat hati-
hati. Masukan natrium harus dibatasi.
Obesitas : Dengan peningkatan masa tubuh, maka beban jantung menjadi lebih besar.
Masukan gizi harus dibatasi untuk mencukupi kebutuhan gizi ibu dan janin tanpa
menyebabkan penimbunan lemak yang berlebihan. Masukan natrium harus dibatasi sampai
kira-kira 2000 mg per hari.

K. Komplikasi Penyakit Jantung


Komplikasi penyakit jantung yang harus diantisipasi meliputi gagal kongestif, edema
paru,aritmia atrium, dan emboli paru. Komplikasi yang sangat jarang dari penyakit jantung
selama kehamilan meliputi rupture aorta dan endokarditis bakterialis. Episode hipertensi
dapat fatal pada pasien pintas jantung, jika aliran darah membalikdari sisi kanan jantung ke
sisi kiri jantung,sehingga memintasi paru. Dan komplikasi jenis lainnya seperti :
1. Abortus
2. Prematurius
3. BBLR
4. Kematian janin dlam rahim
5. Dekompensasi kordis setiap saat.
6. Pada mitral stenosis odem paru lebih cepat terjadi
7. Komplikasi potensial

L. Asuhan Keperawatan dengan penyakit Jantung


1. Pengkajian
a. Data Subjektif
Gejala Saat Ini
Dispne dan batuk mungkin merupakan gejala terdini gagal jantung kongestif. Gejala-
gejala lainnya eliputi ortopnea, hemoptisis, kelelahan, palpitasi, ansietas, akivitas fisik
erbatas, retensi cairan dan enambahan berat badan.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit jantung kongenital atau reumatik dapat diperkirakan.
c. Data Objektif
1) Pemeriksaan Umum : frekuensi jantung meningkat sampai 110 kali per menit atau lebih.
Penambahan berat badan berlebihan, edema,sianosis dan pembendungan vena jugularis
sering ditemukan.
2) Pemeriksaan Jantung : Bising jantung (diastolik,presistolik,atau kontinu), aritmia dan
pembesaran jantung menunjukkan penyakit jantung. Pada kasus-kasus gagal jantung, bunyi
jantung ketiga terdengar pada awal diastolic. Rangkaian tetap 2 bunyi jantung normal dan
bunyi abnormal ketiga, dalam hubungannya dengan suatu peningkatan denyut jantung, dapat
bertanggung jawab bagi irama khas dari irama gallop (gallop S 3). Sebagai akibat
peningkatan tekanan arteri pulmonalis,bunyi kedua pulmonalbunyi jantung yang
dihubungkan dengan penutupan katup pulmonalmeningkat intensitasnya.
3) Pemeriksaan Paru : Ronki basal bilateral adalah tanda edema alveolus dan cairan dalam
bronkiolus terminalis.
4) Pemeriksaan Abdomen : Hepar dapat membesar dan nyeri tekan. Asites mungkin ada.
d. Istirahat/aktifitas
Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal, dipsnoe nocturnal Karen pengarahan
tenaga.

e. Sirkulasi
Takikardi, palpitasi, riwayat penyakit jantung, demam rematik, dapat mengalami mur-
mur sistolik keras, trii;, disritmia berat dengan tekanan darah dan nadi meningkat tekanan
darah mungkin turun dengan penurunan tahanan vaskuler.
f. Eliminasi
Hakuaran urin meningkat
g. Makanan / cairan
Obesitas, dapat mengalami edema ekstremitas bawah.
h. Nyeri kenyamanan
Dapat mengeluh nyeri dada tanpa atau dengan aktivitas.
i. Keamanan
Infeksi streptokokus berulang
j. Pernafasan
Batuk tidak produktif, frekuensi pernapasan meningkat, dispnea,ortopnea, rales.
2. Diagnosa keperawatan
a. Resiko tinggi terhadap dekompensasi
b. Resiko tinggi kelebihan volume cairan
c. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan
d. Resiko tinggi infeksi
e. Resiko tinggi intoleransi aktifitas
3. Intervensi
Diagnosa
Resiko tinggi terhadap dekompensasi
Intervensi
a. Tentukasn klasifikasi fungsional klien
b. Pantau ttv.
c. Evaluasi informasi perlunay istirahat adekuat
d. Kaji jumlah dan konsentrasi haluaran urin dan bjnya
e. Beri informasi mengenai pengguanaan posisi miring kiri
f. Beri pengobatan sesuai program terapi
g. Atasi infeksi pernapasn k/p.
Diagnose
Resiko tinggi kelebihan volume cairan
Intervensi
a. Dapatkan BB dasar
b. Kaji faktor-faktor diet yang memperberat retensi cairan berlebih
c. Kaji ulang dari tanda gjk
d. Selidiki batuk yang tidak jelas
e. Batasi cairan dan natrium bila ada gjk
f. Beri deuretik sesuai program terapi
Diagnose
Reisko tinggi perubahan perfusi jaringan
Intervensi
a. Perahatikan faktor resiko
b. Kaji tekanan darah, nadi,perhatikan perubahan perilaku,stenosis,tanda-tanda dekompensasi
c. Beri informasi tentang penggunaan posisi tegak yang diubah selama tidur dan istirahat
d. Pantau pemerikasaan laboratorium sesuai indikasi
e. Beri antibiotic sesuai kebutuhan
f. Kaji aliran darah uterus / janin
Diagnosa
Resiko tinggi infeksi
Intervensi
a. Kaji faktor resiko dan riwayat ddemam reumatik
b. Tinjau ulang kebutuhan obat dan alas an perubahan penggunaan heparin atau warfarin
c. Bantu klien dalam penyuluhan pemberian obat
d. Beri antibiotic sesuai program terapi
e. Pantau pemeriksaan darah
Diagnose
Resiko tinggi intoleransi aktifitas
a. Kaji adanya pengembangan gejala
b. Bantu rutinitas harian
c. Indentifikasi kebutuhan terhadap bantuan rumah tangga
4. Implementasi
Pelaksanaan sesuai intervensi
5. Evaluasi
a. dekompensasi tidak terjadi
c. Kelebihan volume cairan tidak terjadi
d. Perubahan perfusi jaringan tidak terjadi
e. Infeksi tidak terjadi
f. Intoleransi aktifitas tidak terjadi

M. Penatalaksanaan Persalinan dan Kelahiran


Rawat inap sebelum kelahiran biasanya dianjurkan. Persalinan biasanya tidak
diinduksi secara premature, karena induksi premature dapat mengakibatkan persalinan yang
lama, sulit yang akan memberikan beban yang tidak perlu pada pasien. Akibatnya, mulai
timbulnya persalinan spontan ditunggu dan kelahiran norma per vaginam diantisipasi,kecuali
komplikasi obstetrik membutuhkan seksio sesarea.
Selama persalinan, penting penghilangan nyeri yang adekuat; nyeri menagkibatkan
takikardia dan meningkatkan curah jantung. Pasien dibiarkan pada sisinya,karena curah
jantung cenderung lebih stabil pada posisi lateral. Pemantauan seksama denyut nadi,tekanan
darah,frekuensi pernafasan ,suhu dan jumlah urin diperlukan. Sebagai tambahan,
elektrokardiogram,evaluasi tekanan vena sentralis dan gas darah arteri dapat diindikasikan.
Anastesia epidural kontinu memberikan keringanan nyeri yang maksimum selam
persalnan dan kelahiran. Sebagai tambahan,anastesia epidural cenderung menghilangkan
refleks mengejan pad kala II. Tetapi jika hipotensi sepintas mengancam nyawa, maka bentuk
anastesia ini bias dikontraindikasikan. Dianjurkan konsultasi dengan seorang ahli anastesi
yang menghantuhui keadaan pataofisologi paru dan kardiovaskular pasien. Pasien jantung
diberikan oksigen melalui kateter hidung, atau masker wajah sepanjang persalinan , dan bayi
dilahirkan sesegera mungkin setelah pembukaan serviks lengkap untuk mempersingkat waktu
mengejan selama kala II.
Setelah kelahiran, selam kala III, perdarahan harus diminimumkan. Terapi intravena
dibatasi, karena ekspansi intravaskular dapat memperberat beban jantung. Bila oksitosin
dibutuhkan untuk mengendalikan atonia uteri,maka oksitosin harus diberikan secara
intramuskuler. (Bolus intravena mendadak dari oksitosin yang tidak diencerkan dapat
mencetuskan hipotensi dan takikardia yang segera). Ergonovin maleat harus dihunakan secra
hati-hati karean kecenderungannya untuk menimulkan hipertensi. Jika perdarahan timbul dan
transfuse dianggap penting, maka lebih baik diberikan eritrosit padat (packed red cell)
daripada darah lengkap.
Profilaksis endokarsitis bakterialls pada pasien kelainan katup atau katup protesa
ditujukan pada pencegahan bakteriamia dan pembasmian mikroorganisme setelah invasi
intravasukuler. Karena entrokokus paling sering bertanggung jawab bagi endokarditis
mengikuti pembedahan atau instrumentasi traktus genitourinarius, maka profilaksis antibiotic
harus ditujukan melawan organism ini. Komite pencegahan Demam Reumatik dan
Endokarditis Bakterilais dari American Heart Association telah mengusulkan paduan berikut
untuk profilaksis antibiotik pada orang dewasa: Kristal penisilin G dalam aqua (2.000.000.
unit intramuskular atau intravena) ditambah gentamisin (1,5 mg/kg, tidak lebih dari 80 mg,
intramuscular atau intravena) atau streptomisin (1,0 g intramuskular). Dosis awal diberikan
30 menit sampai 1 jam sebelum tindakan. Jika dihunakan gentamisin, maka kedua obat harus
diulang 8 dan 16 jam kemudian. Jika digunakan streptomisin, maka kedua harus diulang 8
dan 16 jam kemudian. Jika digunakan streptomisin, maka kedua obat diulang 12 dan 24 jam
kemudian. Untuk orang dewasa yang alergi terhadap peisilin , maka vankomisin (1,0 g intran
diberikan diatas 30 menit sampai 1 jam) ditambah streptomisin (1,0 g intramuskular) dapat
menggantikannya. Dosis tunggal antibiotika ini yang dimulai 30 menit samapi 1 jam sebelum
tindakan mungkin mencukupi, meskipun dosis yang sama dapat diulang dalam 12
jam(Kaplan 1977).
Pendapat berbeda dalam kebutuhan untuk provilaksis selam kehamilan dan kelahiran
per vagina tanpa komplikasi, arena kemungkinan bakteriemia adalah minimum.

DAFTAR PUSTAKA
Irene M. Bobak, RN, Phd, FAAN. Deitra Leonard Lowdermilk, RNC, PhD. Margaret Duncan
Jensen, RN, MS. Shannon E. Perry, RN, PhD, FAAN. Buku Ajar Keperawatan Maternitas.
Penerbit Buku Kedokteran. EGC. 2005
Berren Tailer. Kedaruratan obsterti dan genokologi kapita slekta. EGC 1998

Diposting oleh amy gusniaty di 08.32


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya

amy gusniaty
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog
2014 (7)
o Oktober (7)
askep spondilitis
ASKEP CA PARU (RESPIRASI)
GASTROENTERITIS (GASTROINTESTINAL)
KATARAK (PERSEPSI SENSORI)
Komunitas (LANSIA DENGAN HIPERTENSI)
Laporan Pendahuluan Genokologi (Ibu Hamil Dengan P...
Teknologi Keperawatan

Tema PT Keren Sekali. Diberdayakan oleh Blogger.


Saibun Rahmat
Jumat, 27 Juni 2014
Asuhan keperawatan penyakit jantung pada ibu hamil

ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT JANTUNG

PADA KEHAMILAN

DISUSUN OLEH :

RAHMAT SAIBUN
11.1101.355

FAKULTAS KEPERAWATAN
PRODI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2014
ASUHAN KEPERAWATAN KEHAMILAN

DENGAN PENYAKIT JANTUNG

A. Konsep Dasar

1. Pengertian
Kehamilan dengan penyakit jantung selalu saling mempengaruhi karena kehamilan dapat
memberatkan penyakit jantung yang dideritanya. Penyakit jantung dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Jantung yang normal dapat
menyesuaikan diri terhadap segala perubahan sistem jantung dan pembuluh darah yang
disebabkan oleh kehamilan, yaitu dorongan diafragma oleh besarnya janin yang
dikandungnya sehingga dapat mengubah posisi jantung dan pembuluh darah sehingga terjadi
perubahan dari kerja jantung.

Yang dapat mempengaruhi antara lain:


Pengaruh peningkatan hormone tubuh Terjadi haemodelusi darah dengan puncaknya pada
kehamilan 28 32 minggu
Kebutuhan janin untuk pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim
Kembalinya darah setelah placenta lahir karena kontraksi rahim dan terhentinya terhentinya
peredaran darah placenta
Saat post partum sering terjadi infeksi.

2. Etiologi
Etiologi kelainan jantung dapat berupa kelainan primer maupun sekunder.
Kelainan Primer, kelainan primer dapat berupa kelainan kongenital, bentuk kelainan katub,
iskemik dan cardiomiopati.
Kelainan Sekunder, kelainan sekunder berupa penyakit lain, seperti hipertensi, anemia berat,
hipervolumia, perbesaran rahim, dll

3. Patofisiologi
Terjadi hiporvolemia dalam kehamilan, yang sudah dimulai sejak umur kehamilan 10
minggu dan mencapai puncak pada usia 32-36 minggu uterus yang semakin besar mendorong
diafragma ke atas, kiri dan depan sehingga pembuluh-pembuluh dasar besar dekat jantung
mengalami lekukan dan putaran, kemudian 12-24 jam pascapersalinan terjadi peningkatan
volume plasma akibat imbibisi cairan dari ekstravaskuler ke dalam pembuluh darah,
kemudian diikuti periode diuresis pascapersalinan yang menyebabkan hemokonsentrasi. Jadi
penyakit jantung akan menjadi lebih berat pada pasien yang hamil dan melahirkan, bahkan
dapat terjadi gagal jantung.
Keperluan janin yang sedang bertumbuh akan oksigen dan zat-zat makanan bertambah
dalam berlangsungnya kehamilan, yang harus dipenuhi melalui darah ibu. Untuk itu
banyaknya darah yang beredar bertambah, sehingga jantung harus bekerja lebih berat. Karena
itu dalam kehamilan selalu terjadi perubahan dalam system kardiovaskuler yang baisanya
masih dalam batas-batas fisiologik. Perubahan-perubahan itu terutama disebabkan karena :
1. Hidrenia (Hipervolemia), dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan
puncaknya pada UK 32-36 minggu
2. Uterus gravidus yang makin lama makin besar mendorong diafragma ke atas, ke
kiri, dan ke depan sehingga pembuluh-pembuluh darah besar dekat jantung mengalami
lekukan dan putaran.
Volume plasma bertambah juga sebesar 22 %. Besar dan saat terjadinya peningkatan
volume plasma berbeda dengan peningkatan volume sel darah merah ; hal ini mengakibatkan
terjadinya anemia delusional (pencairan darah).
12-24 jam pasca persalinan terjadi peningkatan volume plasma akibat imbibisi cairan dari
ekstra vascular ke dalam pembuluah darah, kemudian di ikuti periode deuresis pasca
persalinan yang mengakibatkan hemokonsentrasi (penurunan volume plasa). 2 minggu pasca
persalinan merupakan penyesuaian nilai volume plasma seperti sebelum hamil.
Jantung yang normal dapat menyesuaikan diri, tetapi jantung yang sakit tidak. Oleh
karena itu dalam kehamilan frekuensi denyut jantung meningkat dan nadi rata-rata 88x/menit
dalam kehamilan 34-36 minggu. Dalam kehamilan lanjut prekordium mengalami pergeseran
ke kiri dan sering terdengar bising sistolik di daerah apeks dan katup pulmonal. Penyakit
jantung akan menjadi lebih berat pada pasien yang hamil dan melahirkan, bahkan dapat
terjadi decompensasi cordis.

4. Tanda dan Gejala


Tanda :
Nadi : takikardia, a
Tekanan / palpasi vena jugularis: meninggi,
Impuls apical: impuls ganda (sesuai dengan S4) S4)
Auskultasi jantung
Auskultasi paru
Edema
Suara paru kedua (P2) (P2)
Efusi pleura si pleura
Pembesaran jantung
Gejala :
Cepat merasa lelah
Jantungnya berdebar debar
Sesak napas apabila disertai dengan sianosis
Edema tungkai atau terasa berat pada Kehamilan muda
Mengeluh tetap bertambah besarnya rahim yang tidak sesuai.

5. Pemeriksaan Penunjang
EKG, untuk mengetahui kelainan irama dan gangguan konduksi, adanya
kardiomegali, tanda penyakit pericardium , iskemia atau infark, bisa ditemukan tanda-tanda
aritmia.
Ekokardiografi, metode yang aman, cepat dan terpercaya untuk mengetahui fungsi dan
anatomi bilik, katup, dan pericardium.
Pemeriksaan radiologi untuk mengetahui dehidrasi dalam kehamilan namun jika memang
diperlukan dapat dilakukan dengan memberikan pelindung di abdomen dan pelvis.

B. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Data Demografi
Nama
Umur
Pekerjaan
Alamat

a. Aktifitas dan istirahat


Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal
Dispnea nokturnal karena pengerahan tenaga
b. Sirkulasi
Takikardia, palpitasi, disritmia
Riwayat penyakit jantung kongenital
Perubahan posisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan
uterus.
Dapat mengalami pembesaran jantung dan murmur diastolik
Peningkatan tekanan darah
Nadi mungkin menurun
Dapat mengalami memar spontan, perdarahan lama.
Riwayat hipertensi kronis
c. Eliminasi
Menurunnya keluaran urine
d. Makanan dan cairan
Obesitas
Mual dan muntah
Malnutrisi
Diabetes melitus
Dapat mengalami edema ekstrimitas bawah
e. Nyeri dan rasa nyaman
Dapat mengeluh nyeri dada dengan atau tanpa aktivitas
f. Pernafasan
Pernafasan mungkin kurang dari 14 x / menit \
Takipnea
Dispnea
g. Keamanan
Infeksi streptokokus berulang
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume sirkulasi,
disritmia, perubahan kontratiktilitas miokard, dan perubahan inotropik pada jantung.
b. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan perubahan volume sirkulasi.
c. Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) berhubungan dengan kurangnnya informasi dan
interpretasi yang salah.

3. Intervensi
a. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume sirkulasi,
disritmia, perubahan kontraktilitas, miokard dan perubahan inotropik pada jantung
Hasil yang diharapkan :
Menunjukkan tanda vital pada batas yang dapat diterima dan bebas gagal jantung
Melaporkan penurunan episode dispnea, angina
Ikut serta dalam aktifitas yang mengurangi beban kerja jantung
Tindakan
Auskultasi nadi apikal, kaji frekuensi, irama jantung
Rasional : biasanya terjadi takikardi, untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas
ventrikuler
Catat bunyi jantung
Rasional : s1 dan s2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa, irama s3 dan s4
dihasilkan sebagai aliran darah kedalm serambi yang distensi
b. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan perubahan volume sirkulasi
Hasil yang diharapkan :
Mendemonstrasikan perfusi adekuat secara individual
Tanda vital dalam batas normal
Keseimbangan pemasukan dan pengeluaran
Tindakan
Selidiki perubahan tiba-tiba, contoh cemas, bingung, pingsan
Rasional : perfusi selebral secara langsung sehubungan dengan curah jantung dan juga
dipengaruhi oleh asam basa, hipoksia atau emboli sistemik
Lihat pucat, sianosis, belang, kulit dingin, catat kekuatan nadi perifer
Rasional : vasokonstriksi sistemik diakibatkan olehpenurunan curah jantung dibuktikan oleh
penuruna perfusi kulit dan penurunan nadi.

c. Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) berhubungan dengan kurangnya informasi


Hasil yang diharapkan
Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkan episode berulang dan mencegah
komplikasi
Mengidentifikasi stres pribadi/faktor resiko dan beberapa teknik untuk menangani
Melakukan perubahan pola hidup/perilaku yang perlu

Tindakan
Diskusikan fungsi jantung normal
Rasional : pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada
program pengobatan
Kuatkan rasional pengobatan
Rasional : pasien percaya bahwa pengubahan program pascapulang dibolehkan bila merasa
baik dan bebas gejala atau merasa lebih sehat. Pemahaman program, obat dan pembatasan
dapat meningkatkan kerjasama untuk mengontrol gajala

4. Evaluasi
Kehamilan menginduksi perubahan fisiologis yang luas pada sistem kardiovaskular., yang
menyebabkan gangguan pada jantung dan sirkulasi yang patut dipertimbangkan. Hasil
adaptasi kardiorespirasi dapat ditoleransi dengan baik pada wanita yang sehat. Namun
perubahan-perubahan ini dapat menjadi ancaman pada wanita dengan penyakit jantung.
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian maternal. Karena setiap


kehamilan mempengaruhi system kardiovaskuler ibu. Jantung normal dapat
mengompensasikan peningkatan beban kerja sehingga kehamilan dan kelahiran bayi
ditoleransi dengan baik. Selain itu, jantung yang normal dapat menyesuaikan diri terhadap
segala perubahan system jantung dan pembuluh darah yang disebabkan oleh kehamilan ,
yaitu dorongan dafragma oleh besarnya janin yang dikandungnya sehingga dapat mengubah
posisi jantung dan pembuluh darah sehingga terjadi perubahan dari kerja jantung. Namun
apabila hal ini tidak ditoleransi dengan baik. Kegagalan jantung dapat terjadi. Penyakit
jantung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Etiologi
kelainan jantung dapat berupa kelainan primer dan sekunder. Mengetahui tanda dan gejala
yang memicu terjadinya penyakit jantung pada ibu hamil sangatlah penting dalam
menentukan asuhan dan diagnosa yang tepat dalam menanggulangi penyakit jantung. Selain
hal itu, pemerikasaan penunjang lewat ekokardiografi, juga penting untuk mengetahui
kelainan irama dan gangguan konduksi, adanya kardiomegali, tanda penyakit pericardium ,
iskemia atau infark, bisa ditemukan tanda-tanda aritmia. Pemeriksaan radiologi untuk
mengetahui dehidrasi dalam kehamilan namun jika memang diperlukan dapat dilakukan
dengan memberikan pelindung di abdomen dan pelvis. Intervensi keperawatan dapat
dilskukan dengan cara mandiri dan kolaborasi, hal ini penting dilakukan guna meningkatkan
kesehatan pasien. Penanganan yang tepat dapat mengurangi kecemasan dan mempermudah
penyembuhan pasien.
B. SARAN

Dalam menanggulangi penyakit jantung pada ibu hamil, ketrampilan interpersonal ,


intelektual, teknikal, sangat penting dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang
tepat. Selain itu
keamanan dan kenyamanan fisik serta psikologis dari pasien harus dilindungi dengan baik
guna mengurangi tingkat kecemasan dari pasien serta meminimalkan stressor dan
memaksimalkan fungsi jantung.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges E, Marilynn. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakrta: EGC.
Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1999. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi I. Jakarta:
EGC.
Ledewig. W. Patricia. 2005. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir.Jakarta:
EGC.
http://syawir-uimkeperawatan.blogspot.com/2012/01/askep-penyakit-jantung-pada-
bumil.html
http://salnisaharman.blogspot.com/2012/03/askep-kehamilan-dengan-penyakit-jantung.html
Diposting oleh Rahmat Saibun di 07.45
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Label: Mamat Masure..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog
2014 (7)
o Juli (1)
o Juni (6)
Profil desa Tabalema kecematan mandioli selatan ka...
LP Halusinasi
manajemen keperawatan
keperawatan kesehatan kerja
Asuhan keperawatan penyakit jantung pada ibu hamil...
Budaya atau kebiasaan di salah satu desa diternate...

Mengenai Saya

Rahmat Saibun
Lihat profil lengkapku
Tema PT Keren Sekali. Gambar tema oleh molotovcoketail. Diberdayakan oleh Blogger.
ASUHAN KEPERAWATAN
Selasa, 07 Juni 2016
Asuhan Keperawatan Ibu Hamil dengan Penyakit Jantung

TUGAS PORTOFOLIO
ASUHAN KEPERAWATAN IBU HAMIL DENGAN
2015
Asuhan Keperawatan Ibu Hamil dengan Jantung
A. Pengertian
Penyakit jantung adalah penyebab utama ketiga kematian pada wanita berusia 25
tahun sampai 44 tahun. Karena relatif sering terjadi pada wanita usia subur, penyakit jantung
mempersulit pada sekitar 1 persen kehamilan (Leveno, Kenneth J, 2009).
Kehamilan dengan penyakit jantung selalu saling mempengaruhi karena kehamilan
dapat memberatkan penyakit jantung yang dideritanya. Penyakit jantung dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Jantung yang normal
dapat menyesuaikan diri terhadap segala perubahan sistem jantung dan pembuluh darah yang
disebabkan oleh kehamilan, yaitu dorongan diafragma oleh besarnya janin yang
dikandungnya sehingga dapat mengubah posisi jantung dan pembuluh darah sehingga terjadi
perubahan dari kerja jantung.
Yang dapat mempengaruhi antara lain:
Pengaruh peningkatan hormone tubuh
Terjadi haemodelusi darah dengan puncaknya pada kehamilan 28 32 minggu
Kebutuhan janin untuk pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim
Kembalinya darah setelah placenta lahir karena kontraksi rahim dan terhentinya terhentinya
peredaran darah placenta
Saat post partum sering terjadi infeksi.
(Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998)
B. Klasifikasi
Klasifikasi asosiasi penyakit jantung New York pada ibu hamil:
Kelas 1 : pasien tidak terbatas dalam kegiatan fisik. Kegiatan fisik biasa tidak menyebabkan
kelelahan yang tidak semestinya, Palpitasi, sesak nafas atau nyeri angina.
Kelas 2 : pasien sedikit terbatas kegiatan fisikya. Kegiatan fisik biasa menyebabkan
kelelahan, palpitasi, sesak nafas, atau nyeri angina.
Kelas 3 : pasien jelas terbatas dalam kegiatan fisiknya. Kegiatan fisik yang kurang dari biasa
menyebabkan kelelahan, palpitasi, sesak nafas, atau nyeri angina.
Kelas 4 : pasien tidak mampu melakukan sembarangan kegiatan fisik tanpa merasa tidak
enak. Gejala-gejala insufisiensi jantung atau sindrom angina bisa ada sekalipun dalam
keadaan istirahat. Bila melakukan kegiatan fisik rasa tidak enak bertambah berat.
(Raybura, William F, 2001)

C. Etiologi
Etiologi kelainan jantung dapat berupa kelainan primer maupun sekunder.
Kelainan Primer, kelainan primer dapat berupa kelainan kongenital, bentuk kelainan katub,
iskemik dan cardiomiopati.
Kelainan Sekunder, kelainan sekunder berupa penyakit lain, seperti hipertensi, anemia berat,
hipervolumia, perbesaran rahim, dll.

D. Patofisiologi
Pada saat kehamilan curah jantung meningkat hingga 30 sampai 50 persen. Hampir
separuh dari peningkatan total tersebut terjadi pada 8 minggu, dan maksimal pada
pertengahan kehamilan. Peningkatan dini curah jantung terjadi akibat meningkatnya isi
sekuncup disertai berkurangnya resistensi vaskuler dan penurunan tekanan darah. Pada tahap
kehamilan selanjutnya juga terjadi peningkatan denyut nadi istirahat, dan isi sekuncup
semakin meningkat, mungkin berkaitan dengan meningkatnya pengisisan diastolic akibat
meningkatnya volume darah.
Karena pada awal kehamilan terjadi perubahan hemodinamik yang signifikan, wanita
dengan disfungsi jantung yang berat dapat mengalami perburukan gagal jantung sebelum
pertengahan kehamilan. Pada wanita yang lain, gagal jantung terjadi pada trimester ketiga
saat hypervolemia normal pada kehamilan mencapai puncaknya. Akan tetapi, pada sebagian
besar kasus gagal jantung terjadi peripartum saat timbul tambahan beban hemodinamik.
Kondisi ini merupakan saat kemampuan fisiologis jantung mengubah curah jantung secara
cepat sering kesulitan menghadapi penyakit jantung structural (Leveno, Kenneth J, 2009).

E. Manifestasi Klinik
Gejala-gejala seperti kelelahan, dan sesak nafas ringan dan tanda-tanda klinik seperti
desah sistolik, suara jantung ketiga, dan edema bisa jadi tanda-tanda penyakit jantung
merupakan hal fisiologik selama kehamilan. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk
menetapkan penyakit jantung jika ada sembarangan gejala dan tanda berikut, sesak nafas
yang cukup berat buat mengganggu kegiatan, ortopnea progresif, sesak nafas malam hari
yang paroksimal, nyeri dada seperti angina menyertai setiap kegiatan fisik atau stress,
emosional, desah sistolik yang lebih dari III, IV (diastolic, prediastolik atau terus-menerus),
pembesaran jantung yang nyata, aritmia berat, sianosis, dan pelebaran ujung-ujung jari
(clubbing) (Raybura, William F, 2001).
1. Cepat merasa lelah
2. Jantungnya berdebar-debar
3. Sesak nafas apalagi disertai sianosis (kebiruan)
4. Edema tungkai atau terasa berat pada kehamilan muda
5. Mengeluh tentang bertambah besarnya Rahim yang tidak sesuai
(Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998).
1. Dyspnea atau ortopnea progresif
2. Batuk malam hari
3. Hemoptysis
4. Sinkop
5. Nyeri dada
6. Sianosis
7. Jari gada
8. Distensi menetap vena jugularis
9. Murmur sistolik derajat 3/3 atau lebih
10. Murmur diastolic
11. Kardiomegali
12. Aritmia persisten
13. Bunyi jantung kedua terpisah menetap
(Leveno, Kenneth J, 2009)

F. Komplikasi
Penyakit jantung pada ibu hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam rahim dalam bentuk :
a. Dapat terjadi keguguran
b. Persalinan prematuritas atau berat lahir rendah
c. Kematian perinatal yang makin meningkat
d. Pertumbuhan dan perkembangan bayi mengalami hambatan intelegensia atau fisik
(Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998).

G. Penatalaksanaan
Pengobatan dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada
derajat fungsinya
Kelas I : tidak ada pengobatan tambahan yang dibutuhkan, penanganannya biasa secara
berobat jalan. Pasien harus beristirahat beberapa kali sehari untuk mengurangi kerja jantung.
Kelas II : biasanya tidak memerlukan terapi tambahan kurangi kerja fisik terutama antara
kehamilan 28 36 minggu
Kelas III : memerlukan digitalisasi/ obat lainnya sebaiknya dirawat di rumah sakit sejak
kehamilam 28 30 minggu
Kelas IV : harus dirawat di rumah sakit dan diberikan pengobatan bekerjasama dnegan
kardiologi
Penatalaksanaan harus melibatkan ahli kandungan, ahli jantung, ahli anestesi dan ahli
bedah jantung, hipertensi pulmonal dan sindrom marfan merupakan kontra indikasi untuk
hamil. Sebagian besar otot-otot kardiovaskuler dapat digunakan pada kehamilan dengan
mempertimbangkan potensi resiko terhadap ibu dan bayi. Indikasi untuk operasi sama dnegan
wanita yang tidak hamil. Jika ada indikasi untuk operasi cardiopulmonary bypasss support
harus dnegan aliran tinggi.
Kegagalan jantung harus ditangani secara agresif dengan istirahat baring, oksigen,
turniket (rotating tourniquets), digoksin (0,5 mg intravena selama 10 menit diikuti dengan
0,25 mg intravena tiap 2- 4 jam sampai 2mg jika diperlukan), dan morfin (10 -15 mg
intravena tiap 2 4 jam). Takikardi ibu yang jelas harus diobati dengan pemberian
propranolol (0,2 0,5 mg intravena tiap 3 menit sampai denyut jantung turun menjadi 110
kali per menit), digoksin, atau kardioversi (25 100 watt-detik).
Asosiasi jantung Amerika menganjurkan pemberian antibiotika pada pasien-pasien
hamil dengan penyakit katup jantung sebelum dilakukan bedah sesar atau kateterisasi uretra,
atau dalam persalinan melalui vagina yang berkomplikasi. Pemakaian beta agonis untuk
mengatasi partus premature adalah kontra indikasi pada penderita dengan penyakit jantung
yang jelas. Sulfas magnesikus dapat dipergunakan dengan hati-hati, karena dengan dosis
tinggi mungkin terjadi keracunan jantung.
(Raybura, William F, 2001)

H. Pengkajian Fokus
Pengkajian
Data Demografi: Nama, Umur, Pekerjaan, Alamat.
Aktifasi dan istirahat
Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal
Dispenia nocturnal karena pengerahan tenaga
Sirkulasi
Takikardia, palpitasi, disritmia
Riwayat penyakit jantung congenital
Perubahan poksisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan uterus.
Dapat mengalami pembesaran jantung dan murmur diastolic dan sistolik secara kontinu.
Peningkatan tekanan darah
Clubbing dan sianosis
Nadi mungkin menurun
Dapat mengalami memar spontan, perdarahan lama, dan trobositopenia.
Riwayat hipertensi kronis
Eliminasi
Menurunnya keluaran urine
Makanan dan cairan
Obesitas
Mual dan muntah
Malnutrisi
Diabetes mellitus
Dapat mengalami edema ekstrimitas bawah
Nyeri dan rasa nyaman
Dapat mengeluh nyeri dada dengan tanpa paktivitas
Pernafasan
Pernafasan mungkin kurang dari 14 x / menit
Krekle
Hemoptisis
Takipnea
Dispnea
Ortopnea

Pemeriksaan penunjang
EKG, untuk mengetahui kelainan irama dan gangguan konduksi, adanya
kardiomegali, tanda penyakit pericardium , iskemia atau infark, bisa ditemukan tanda-tanda
aritmia.
Pemeriksaan radiologi untuk mengetahui dehidrasi dalam kehamilan namun jika
memang diperlukan dapat dilakukan dengan memberikan pelindung di abdomen dan pelvis.
1. Elektrokardiografi
Terdapat beberapa perubahan akibat kehamilan yang perlu dipertimbangkan saat
menginterpretasikan hasil pemeriksaan elektrokardiografi. Sebagai contoh, karena pada
kehamilan lanjut diafragma terangkat, rata-rata terjadi deviasi 15 derajat sumbu kiri di
elektrokardiogram sedemikian rupa sehingga dapat ditemukan perubahan ST ringan di
sadapan inferior. Selain itu, kontraksi premature atrium dan ventrikel relative sering terjadi.
Kehamilan tidak mengubah temuan voltase.
2. Ekokardiografi
Metode yang aman, cepat dan terpercaya untuk mengetahui fungsi dan anatomi bilik,
katup, dan pericardium. Luasnya penerapan ekokardiografi, sebagian besar penyakit jantung
selama kehamilan dapat diagnosis secara noninvansif dan akurat. Sebagai perubahan normal
yang dipicu oleh kehamilan dan terlihat pada ekokardiografi adalah regurgitasi tricuspid dan
peningkatan signifikan ukuran atrium kiri dan luas potongan melintang outflow ventrikel kiri
.
Akan tetapi, sepanjang kehamilan dan masa nifas perlu diberikan perhatian khusus
terhadap pencegahan dan deteksi dini gagal jantung. Infeksi terbukti merupakan factor
penting yang memicu gagal jantung. Setiap pasien harus dianjurkan untuk menghindari
kontak dengan mereka yang mengidap infeksi saluran napas, termasuk demam salesma, dan
melaporkan setiap serta mengurangi risiko aritmia yang mengancam jiwa. Wanita yang
bersangkut harus diberi antibiotic profilaksis jika terdapat regurgitasi, kerusakan katup, atau
factor risiko lain.
(Leveno, Kenneth J, 2009)
I. Pathways Keperawatan
J. Diagnose Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas, perubahan frekuensi
jantung (00029).
2. Resiko penurunan perfusi jaringan jantung berhubungan dengan perubahan volume sirkulasi
(00200).
3. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif (00126).

K. Fokus Intervensi dan Rasional


a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume sirkulasi, disritmia,
perubahan kontraktilitas, miokard dan perubahan inotropik pada jantung
Hasil yang diharapkan :
Menunjukkan tanda vital pada batas yang dapat diterima dan bebas gagal jantung
Melaporkan penurunan episode dispnea, angina
Ikut serta dalam aktifitas yang mengurangi beban kerja jantung
Tindakan
Auskultasi nadi apikal, kaji frekuensi, irama jantung
Rasional : biasanya terjadi takikardi, untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas
ventrikuler
Catat bunyi jantung
Rasional : s1 dan s2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa, irama s3 dan s4
dihasilkan sebagai aliran darah kedalm serambi yang distensi.

b. Resiko penurunan perfusi jaringan jantung berhubungan dengan perubahan volume sirkulasi
Hasil yang diharapkan :
Mendemonstrasikan perfusi adekuat secara individual
Tanda vital dalam batas normal
Keseimbangan pemasukan dan pengeluaran
Tindakan
Selidiki perubahan tiba-tiba, contoh cemas, bingung, pingsan
Rasional : perfusi selebral secara langsung sehubungan dengan curah jantung dan juga
dipengaruhi oleh asam basa, hipoksia atau emboli sistemik
Lihat pucat, sianosis, belang, kulit dingin, catat kekuatan nadi perifer
Rasional : vasokonstriksi sistemik diakibatkan oleh penurunan curah jantung dibuktikan oleh
penuruna perfusi kulit dan penurunan nadi.

c. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif


Hasil yang diharapkan:
Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkan episode berulang dan mencegah
komplikasi
Mengidentifikasi stres pribadi/ faktor resiko dan beberapa teknik untuk menangani
Melakukan perubahan pola hidup/perilaku yang perlu
Tindakan:
Diskusikan fungsi jantung normal
Rasional : pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada
program pengobatan
Kuatkan rasional pengobatan
Rasional : pasien percaya bahwa pengubahan program pasca pulang dibolehkan bila merasa
baik dan bebas gejala atau merasa lebih sehat. Pemahaman program, obat dan pembatasan
dapat meningkatkan kerjasama untuk mengontrol gajala.
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana asuhan keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien.,edisi 3. Jakarta: EGC.
Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosa keperawatan NANDA: definisi dan klasifikasi 2012-2014.
Jakarta: EGC.
Leveno, Kenneth J. (2009). Obstetri williams edisi 21. Jakarta : EGC.
Manuaba, Ida Bagus Gde. (1998). Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana .
Jakarta : EGC.
Raybura, William F. (2001). Obstetri dan ginekologi. Jakarta : Widya Medika.

Diposting oleh Roni Jaya di 14.48


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya
Roni Jaya
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog
2016 (11)
o Juni (11)
Kisah Lucu Orang Samin, Terlalu Jujur
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM
PERKEMIHAN ST...
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn S DENGAN GANGGUAN
RASA ...
LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP KLIEN BENIGNA
PROSTAT HI...
ASKEP KLIN STROKE NON HEMORAGIK
ASUHAN KEPERAWATAN PERSALINAN DENGAN PENYULIT
: D...
Asuhan Keperawatan Ibu Hamil dengan Penyakit Jantu...
Askep keluarga penderita TBC
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN
DENG...
LAPORAN PENDAHULUAN HEMOROID
LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP KLIEN DENGAN AMI (
INFAR...

Tema Sederhana. Diberdayakan oleh Blogger.

Home

Askep

Askeb

Medical

Askep Gadar

Askep Komunitas

Askep Gerontik

Askep Maternitas

Askep Anak

Askep Jiwa

Manajemen Keperawatan

Keperawatan

Obat-Obatan

Biologi

Link Kesehatan

Link_nya Mahasiswa
askep ibu hamil dengan penyakit jantung
dan hipertensi
ASUHAN KEPERAWATAN

PADA IBU HAMIL DENGAN PENYAKIT

JANTUNG DAN HIPERTENSI

A. KONSEP DASAR
1. Penyakit jantung
Keperluan jani yang sedang tumbuh akan oksigen san zat-zat makanan bertambah dalam
berlangsungnya kehamilan, yang harus dipenuhi melalui darah ibu. Untuk itu banyaknya
darah yang beredar bertambah, sehingga jantung harus bekerja lebih keras. Oleh krena it di
dalam kehamilan selalu terjadi perubahan-perubahan pada system kardiovaskular yang
biasanya masih dalam batas-batas fisiologis.

Perubahan-perubahan tersebut disebabkan oleh :


a. Hipervolumia : dimulai sejak kehamilan 28 minggu dan mencapai puncak pada 28-32
minggu, lalu menetap.
b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh pembesaran rahim.

Pengaruh kehamilan terhadap penyakit jantung. Saat-saat yang berbahaya bagi penderita
adalah :
a. Pada kehamilan 32-36 minggu dimana volume darah mencapai puncaknya.
b. Pada kala II wanita mengerahkan tenaganya untuk mengedan dan memerlukan tenaga
jantung yang erat.
c. Pada post partum,dimana darah dari ruang internilus plasenta yang sudah lahir, sekarang
masuk dalam sirkulasi darah ibu.
d. Pada masa nifas, karena kemungkinan adanya infeksi.

Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan :


a. Dapat terjadi abortus
b. Prematuritas : lahir tidak cukup bulan.
c. Dismaturitis : lahir cukup bulan namun dengan berat badan rendah.
d. Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati.
e. Kematian jani dalam lahir ( KJDL )
Klasifiksi penyakit jantung dalam kehamilan :
- Kelas 1 :
a. Tanpa pembatasan gerak fisik.
b. Tanpa gejala pada kegiatan biasa
- Kelas II :
a. Sedikit dibatasi kegiatan fsiknya
b. Waktu istirahat tidak ada keluhan
c. Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insulfisiensi jantung.
d. Gejalanya adalah lelah, palpitalis, sesak nafas, dan nyeri dada ( angin pectoris ).
- Kelas III :
a. Kegiatan fisik sangat dibatasi
b. Waktu istirahat tidak ada keluhan
c. Sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung.
- Kelas IV :
a. Waktu istirahat dapat menimbulkan keluhan insufisiensi jantung, apalagi kerja fisik.
Kira-kira 80 % penderita adalah kelas I dan II dan kehamilan dapat meningkatkan kelas
tersebut menjadi III atau IV, Faktor-faktor yang dapat pula mempengaruhi adalah umur,
anemia, adanya aritmia jantung, dan hipertropi ventrikuler dan erhan sakit jantung.

2. Hipertensi
Hipertensi dalam kehamilan berarti bahwa wanita telah menderita hipertensi sebelum hamil,
disebut juga sebagai pre eklamasi tidak murni seperti mposed preeklamsia bia diserta pula
dengan proteinnuria dan edemia.
Penyebab utama hipertensi dalam kehamilan adalah :
a. hipertensi esensial
b. Penyakit ginjal
Menurut Sims ( 1970 ) penyakit hipertensi dan penyakit ginjal yang dengan hipertensi adalah
sebagai berikut :
1. Penyakit hipertensi
a. Hipertensi esensial : ringan, sedang, berat, ganas( progresif )
b. Hipertensi renovaskuler ( penyakit pembulu darah ginjal )
c. Kartisio aorta
d. Aldosteronisme primer
e. Feokromositoma
2. Penyakit ginjal dan saluran kencing
a. Glomerulonefritis ( mendadak, menahun, sindomaneftrotik )
b. Pielonefritis ( mendadak, menahun, )
c. Lupus eritmatusus, dengan glomerulitis, dengan glomerulonefritis
d. Skelodermo dengan kelainan ginjal
e. Pariarteritis nodosa dengan kelainan ginjal
f. Gagal ginjal mendadak
g. Penyakit polikistik
h. Nefropatia diabetic
a. Hipertensi esensial
Adalah penyakit hipertnsi yang mungkin disebabkan faktor heriditer dan dipengaruhi oleh
faktor emosi dan lingkungan. Wanita hamil dengan hipertensi tidak menunjukkan gejala-
gejala lain kecuali hipertensi. Terbanyak dijupai adalah hipertensi jinak dengan tensi sekitar
140/90 sapai 160/100 mmHg. Jarang berubah menjadi ganas secara mendadak sampai sistolik
200 atau lebih. Gejala-gejala seperti kelainan kantung, arteriskelorosis, perdarahan otak dan
penyakit ginjal baru timbul setelah dalam waktu lama dan penyakit terus berlanjut.
1) Kehamilan dengan hipertensi esensial akan berlangsung normal sampai aterme.
2) Pada kehamilan setelah 30 minggu 30 % adakan menunjukkan kenaikan tekanan darah
namun tanpa gejala.
3) Kira-kira 20 % akan menunjukkan kenaikan tekanan darh yang mencolok, bisa disertai
dengan proteinnuria dan edema ( preeklamsia tidak murni ) dengan keluhan : sakit kepala,
nyeri epigastrium, nyeri muntah, dan gangguan penglihatan ( visus ).
b. Penyakit ginjal hipertensi
Penyakit ginjal dengan gejala hipertensi dan dapat dijumpai pada wanita hamil adalah :
- Glomerulonefritis akut dan kronik
- Pielonefritis akut dan kronik
Pemeriksaan :
- Pemeriksaan urine lengkap dan faal ginjal
- Pemeriksaan retina
- Pemeriksaan umum tekanan darah dan nadi
- Kuantitatif albumin air kencing ( urin )
- Darah lengkap dan ureum berdarah
- Dll

B. Etiologi
1. Penyakit jantung
- Hipervolumia
- Pembesaran rahim
- Demam rematik
2. Hipertensi
- Hipertensi esensial
- Hipertensi ginjal

C. Tanda dan gejala


1. Penyakit jantung
- Aritmia
- Pembesaran jantung
- Mudah lelah
- Dispenea
- Nadi tidak teratur
- Edema pulmonal
- Sianosis
2. Hipertensi
- Edema
- Nyeri kepala
- Nyeri epigastrium
- Muntah
- Gangguan visus ( superimposed pre exlamsia )

D. Penatalaksanaan
1. Penyakit jantung
Pengobatan dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada gerajat
fungsionalnya :
- Kelas I : tidak ada pengobatan tambahan yang dibutuhkan.
- Kelas II : Biasanya tidak memerlukan terapi tambahan. Kurangi kerja fisik
terutama antara kehamilan28-36 minggu.
- Kelas III : Memerlukan digitalisasi atau obat lainnya. Sebaiknya dirawat di RS
sejak kehamilan 28 30 minggu.
- kelas IV : Harus dirawat di RS dan dinerikan pengobatan bekerjasama dengan
kardiolog.

2. Hipertensi
a. Hipertensi esensial
- Istirahat
- Pengawasan pertumbuhan janin
- Obat penenang ( solusio charcot, diazepam, romatozin, phenobarbital ).
- Obat hipotensif
- Pengakhiran kehamilan ( dilakukan apabila terjadi upper imposed pre axlamsia, hipertensi
ganas )
b. Penyakit ginjal
- Istirahat.
- Diit rendah garam
- Diberikan obat hiptensif ( apabila tekanan darah sangat tinggi )

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL


DENGAN HIPERTENSI DAN PENYAKIT JANTUNG

1. Pengkajian data Dasar


a. Aktifasi dan istirahat
- Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal
- Dispenia nocturnal karena pengerahan tenaga
b. Sirkulasi
- Takikardia, palpitasi, disritmia
- Riwayat penyakit jantung congenital dan demam reuna
- Perubahan poksisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan
uterus.
- Dapat mengalami pembesaran jantungdan murmur diastolic dan pristolik kontinu
- Peningkatan tekanan darah
- Clubbing dan sianosis
- Nadi mungkin menurun
- Dapat mengalami memar spontan, perdarahan lama, dan trobositopenia.
- Riwayat hipertensi kronis
c. Eliminasi
Menurunnya keluaran urine
d. Makanan dan cairan
- Obesitas
- Mual dan muntah
- Malnutrisi
- Diabetes melitus
- Dapat mengalami edemia ekstrimitas bawah
e. Nyeri dan rasa nyaman
Dapat mengeluh nyeri dada dengan tanpa paktivitas

f. Pernafasan
- Pernafasan mungkin kurang dari 14 x / menit
- Krekle
- Hemoptisis
- Takipnea
- Dispnea
- Ortopnea
g. Kemanan
Infeksi streptokokus berulang
h. Pemeriksaan disgnostic
- SDP ( sel darah putih )
- Hb dan HT ( hemoglobin dan memoktorit )
- GDA ( gas darah arteri )
- LED ( laju endap darah
- EKG ( Elektrodiograf )
- Echokardiograf
- Pencitraan jantung radionukleutida
- Amniosentris
- Seri ultrasonografi
- Tes presor supnie
- Kratinin serum
- Urine lengkaptes
- Strees kontraksi
- Tes cairan amniotikultrasonografi

2. Diagnosa Keperawatan
a. Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan penyakit jantung :
1. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume sirkulasi,
disritmia, perubahan kontratiktilitas miokard, dan perubahan inotropik pada jantung.
2. Kelebihan volum cairan berhubungan dengan peningkatan volum sirkulasi, perubahan faal
ginjal, intake cairan yang berlebihan.
3. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan perubahan volume sirkulasi.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan primer dan skunder,
penyakit/kondisi kronis, ruang pengetahuan tentang proses infeksi.
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output.
6. Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) berhubungan dengan kurangnnya informasi dan
interpretasi yang salah.

b. Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan hipertensi :


1. Kurangnnya volume cairan ( kegagalan regulasi ) berhubungan dengan kehilangan protein
plasma, penurunan tekanan osmotic koloid pasma, perpindahan cairan keluar intravaskuler.
2. Penurunan curak antung berhubungan dengan hipovolumia, penurunan aliran balik vena,
peningkatan tahanan aliran darah sistemik.
3. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolumia.
4. Resiko cedera berhubungan dengan edema / hipoksia jaringan, kejang, abnormallitas factor
pembekuan.
5. Nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat intake nutrisi.
6. Kurangnya pengetahuan ( kebutuhan belajar berhubungan dengan kurangnya informasi dan
pemahaman tentang proses penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. 1984. Obstetri Patologi.


Bandung : Elstar Offset.
Doenges E, Marilynn. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Kajarta : EGC
Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1989. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi I.
Jakarta : EGC
Prawiroharjo, Sarwono. 1976. Ilmu Kebidanan. Jakarta : yayasan Bina Pustaka
Chamberlain, Geofferey. 1994. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Jakarta : Widya Medika
Ledewig. W. Patricia. 2005. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir.
Jakarta :EGC
Manumba, Ida Bagus. 1993. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi
Jakarta : EGC
Oxorn, Harry. 1990. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . Yayasan
Esentia Medika
Heller, Luz 1991. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Jakarta : EGC
Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook
Label: askep maternitas
Newer Post Older Post Home

pencarian materi lain


askep gadar pada pasien syok
manfaat keanekaragaman hayati
Pengkajian keperawatan komunitas
Penggolongan Antidiabetik Oral/Hipoglikemik Oral
Proses Pemasaran dan Penjualan Obat-obatan

Feedjit

Link Kesehatan Copyright 2011-2012 | Powered by Blogger