Anda di halaman 1dari 19

Ilmu Perundang-Undangan

Kuliah I - Senin, 29 Agustus 2016


Pengantar Ilmu Peundang-undangan
Oleh Yahdi Salampessy & Sony Maulana

- Bobot Penilaian:
o Kehadiran 10 %
o Tugas/Latihan 20%
o UTS 30%
o UAS 40%
- Buku ilmu perundang-undangan oleh Hamid Atamimi
- Asas Ilper: Peraturan yang sudah di cabut, tidak akan kembali berlaku saat
peraturan penggantinya dicabut
- Matkul ini tidak mempelajari UU

Kuliah II - Senin, 5 September 2016


Pengantar Ilmu Perundang-undangan
Oleh

- Sejak lahir kita sudah terikat dengan peraturan perndnag-undangan,


contohnya dengan adanya akta lahir
- TAP MPR sudah tidak diberlakukan lagi karena bergesernya tempat MPR
sebaga lembaga teringgi di Indonesia
- Perundang-undangan
o Proses pembentukan
o Hasil dari proses
UU/Perpu
PP
Permen
Pusat LPPK
Peraturan Darah
Peraturan Kepala Daerah
Peraturan Desa
Dll
UU 10/2004 - 12/2011 mengatur tentang peraturan perundang-
undangan
- Peraturan pemerintah melaksanakan adanya undang-undang
- Tata cara pembentukan praturan perundang-undangan ada yang kodifikasi,
dan modifikasi
o Kodifikasi = cara pembentukannya, ketika perancang merasa harus
mengadopsi nilai yang ada dalam masyarakat dan dituangkan di
dalam suatu peraturan perundang-undangan
(+) hampir sebagian besar orang patuh pada peraturan
(-) pengaturan dengan cara kodifikasi hasilnya dianggap sering
ketinggalan zaman, karena pandangan orang tidak dapat
diseragamkan
o Modifikasi = merupakan pembentukan peraturan perundang
undangan dengan cara memberlakukan norma yang baru bagi
masyarakat, hal ini berkaitan dengan adanya perkembangan zaman

Kuliah III - Senin, 19 September 2016


Norma
Oleh Sony Maulana

- Ada dua tipe pembentukan hukum/ peraturan


a) Kodifikasi (berbeda dari pengertian PIH, yaitu
penggabungan/menyatukan peraturan yang sejenis ke dalam suatu
kitab KUHPER, KUHP, KUHD) (namun berbeda sekali dari makna
membentuk, karena sudah ada produk hukumnya), dalam contoh
yang kekinian adanya UU 1/1974 karena pemerintah sama sekali
tidak membuat peraturan yang baru mengenai perkawinan, namun
hanya mengadopsi norma yang ada dalam masyarakat. Negara
dalam pembentukan 1/1974 mengadopsi norma agama di bidang
perkawinan sebagai bahan hukum pembentukan 1/1974
\

\
Contoh selanjutnya adalah UU Agraria, kalimat yang tertera dalam UU
Agraria adalah sumber hukum dari peraturan ini adalah norma adat
di bidang agrarian.

**Kekurangan kodifikasi adalah ketika suatu norma akan diadopsi,


negara harus dipastikan bahwa norma tersebut sudah ajeg di
masyarakat, telah baku, sudah tidak ada lagi perdebatan apakah
suatu norma sudah baik/ buruk dalam masyarakat.

(-) Cara pembentukan kodifikasi biasanya dibutuhkan waktu yang


lama untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pertentangan mengenai
suatu norma

(-) Kodifikasi juga tidak digunakan pada negara yang cenderung


heterogen, karena dapat menyusahkan untuk mengetahui norma
mana yang dianggap baik dan yang tidak baik

(+) Kelebihannya dari kodifikasi adalah mudah dipatuhi oleh


masyarakat karena sesungguhnya aturan tersebut sudah diadopsi
sebelumnya melalui peraturan agama/adat/lainnya

Jika masyarakat sudah menjalankan apa yang dicita2kan, lalu


mengapa pemerintah harus membuat lagi peraturan yang
isinya sama? Untuk kepentingan pembangunan dan
administrasi penduduk (dari segi UU Perkawinan)

b) Modifikasi muncul karena adanya keengganan dari proses


kodifikasi, karena melihat kekurangan-kekurangan yang terdapat
dalam kodifikasi. Hukum sebagai norma bisa saja mengeshape norma
lama. hukum yang baru mencoba mengubah norma yang ada di
masyarakat

Tidak ada norma yang salah, adanya adalah norma yang


bermasalah. Bermasalah karena tidak menyesuaikan diri
dengan masyarakat.
Modifikasi adalah cara pembentukan hukum dengan niat
merubah masyarkat melalui nilai/norma yang baru, yang bisa
jadi berbeda atau bahkan bertentangan dengan norma yang
sudah ada
Nilai norma perilaku sehari-hari. Apabila norma tidak
sesuai dengan masyrakat, maka negara berhak mengubahnya
dengan peraturan.
(+) Membentukan waktu yang relative singkat karena peraturan dilakukan
dengan paksa, tidak harus menunggu suatu norma untuk ajeg di masyarakat.
Sumber hukum dari modifikasi biasanya berasal dari negara yang sudah
menerapkan peraturan tsb.
(-) Efektivitasnya begitu rendah tidak dipatuhi akibat dari kegagalan dalam
mematuhi peraturan tsb, karena sering kali berbeda/bertentangan/tidak
dikenal. Contoh: peraturan dalam memasang sabuk pengaman saat
berkendaraan

- Perundang-undangan maka bisa diartikan dalam dua aspek;


a) Legislative process = proses pembentukan norma hukum yang ada di
masyarakat
b) Peraturan perundang-undangan = hasil dari proses tersebut

Kuliah IV - Senin, 26 September 2016


Norma Hukum
Oleh Sony Maulana
- Norma sengaja dibeuntuk oleh masyarakat untuk mempertahankan hidup
manusia tersebut
- Orang perilaku kehidupan bermasyarakat
- Batas dari keberlakuan HAM adalah penegakkan hidup bersama
- Pada batasan tertentu yang sanat privat, norma tidak berlaku lagi (misalnya
pada saat di kamar kita bebas mealakukan apa saja)
- Norma agama, adat, dan moral
- Perkembangan norma = Setiap orang dalam masyarakat mendiskusikan baik
atau buruk dari segala situasi, dan setiap masyarakat sesungguhnya selalu
memperdebatkan perilaku baik dan buruk dari suatu perilaku
- Agama dalam konsep norma, diatikan dalam system religi, bukan Addin
samawai ini konsepnyaya agama dari system barat, yang menganggap
agama adalah bagian dari budaya
- Ketiga norma tersebut bergantung pada norma agama dan budaya, beda
denga norma hukum yang kedaulatannya beraku di seluruh wilayah negara
tertentu
- Hanya ada satu norma hukum dalam atu wilayah nasional Indonesia
hanya punya satu norma hukum

Persamaan
- Norma hukum dan norma lainnya adalah ketentuan yang mengatur perilaku
kehidupan masyarakat
- Norma-norma sama-sama tersusun ke yang paling tinggi, kecuali grundnorm
karena tida bersumber dari noema manapun lagi

Perbedaan
- Norma hukum dibentuk oleh pihak di luar masyarakat (pemerintah)
sedangkan norma lainnya dibentuk oleh masyarakat itu sendiri
- Dapat mengancamkan sanksi pendorong kepatuhan yang isa diterapkan
kepada pelanggar ketentuannya norma lainnya mempunyai sanksi yang
tidak dipaksakan
- Dapat memberikan kewenangan kepada lembaga pelaksana untuk
mendrorong kepatuean dan menerapkan sanksi

- Kelsen: ada dua system norma dari system keberlakuannya, yaitu system
norma static dan norma dinami
o Static (nomostatic) : isi dari norma ketentuan sebagai sumber dari
keberlakuan = kalau baik dan menguntungkan ya diikuti, kalau tidak
menguntungkan tidak diikuti; penilaiannya sangat subjek dan
individual;
o Dinamic (nomodynamic) : mendasarkan pada pembentukan atau
pengahpusan dari ketentuan-ketentuannya sebagai sumber
keberlakuan = contohnya adalah norma hukum; keberlakuannya tidak
didasarkan pada isinya, namun atas apakah lembaga yang
membtnunya berwenang atau tidak (dalam membuatnya)
- Pembeda utama antara norma hukum bukanlah jumlah, namun dari segi
pidak yang dituju; norma hukum umum dan norma hukum individual
- Untuk yang umum menggunakan kata yang kolosal
- Yang individual penitng untuk tau siapa pihak yang di

Kuliah V Senin, 3 October 2016


Materi ttg apa
Oleh Sony Maulana

1. Latar Belakang
Dalam pembukaan UUD 1945 tersirat suatu makna, bahwa Negara Republik
Indonesia yang berdiri pada tanggal 17 agustus 1945 adalah Negara yang berdasar
atas hukum (Rechtsstaat) dalam arti Negara pengurus (Verzorgingsstaat).
Pengembangan ilmu di bidang perundang-undangan dapat mendorong
fungsi pembentukan peraturan perundang-undangan yang sangat diperlukan
kehadirannya, oleh karena Negara yang berdasarkan hukum modern tujuan
utamanya dari pembentukan perundang-undangan bukan lagi menciptakan kodifikasi
bagi norma-norma dan nilai-nilai kehidupan yang sudah mengendap dalam
masyarakat, akan tetapi tujuan utama perundang-undangan itu adalah menciptakan
modofikasi atau perubahan dalam kehidupan masyarakat.

Perbedaan antara kodifikasi dan modifikasi telah nampak jelas. Peraturan


perundang-undangan secara kodifikasi yaitu penyusunan dan penetapan perundang-
undang secara sistematis mengenai bidang hukum yang agak luas dan dikumpulkan
dalam suatu kitab, bentuk hukum ini diperbaharui namun isinya diambilkan dari
hukum yang sudah ada, otomatis dengan perubahan dan perkembangan kebutuhan
masyarakat yang semakin cepat hanya akan menyebabkan hukum selalu berjalan di
belakang dan akan ketinggalan zaman. Sedangkan modifikasi adalah peraturan
perundang-undangan yang menetapkan peraturan-peraturan baru dan yang
mengubah hubungan-hubungan social.

Dalam penerapannya, baik dengan kodifikasi maupun modifikasi terdapat berbagai


keuntungan dan kerugian. Apa bila dipakai cara kodifikasi , seseorang akan dengan
mudah menemukan peraturan mengenai suatu bidang hukum, karena terkumpul
dalam suatu kitab undang-undang. Selain itu akan mudah diterima oleh masyarakat
karena di dalamnya terdapat nilai-nilai yang telah mengendap dalam masyarakat.
Kerugiannya adalah bahwa dalam pembentukannya memerlukan waktu yang lama
(dan sering ketinggalan zaman), selain itu kodifikasi akan sulit melakukan perubahan
prinsipil hukum itu.

Dalam modifikasi terdapat keuntungan, antara lain bahwa pembentukannya tidak


memakan waktu yang lama, dan hukum akan selalu berada di depan walaupun
kadang-kadang hukum yang dirumuskan kurang sesuai dengan kehendak
masyarakat.[1]

2. Pengertian Ilmu Perundang-undangan


Ilmu pengetauhan perundang-undangan secara umum terjemahan dari
gesetzgebungswissenschaft adalah suatu cabang ilmu baru, yang mula-mula
berkembang di Eropa Barat, terutama di Negara-negara yang berbahasa Jerman.
Istilah lain yang juga sering dipakai adalah Wetgevingswetenschap, atau science of
legislation.

Tokoh-tokoh utama yang mencetuskan bidang ilmu ini antara lain adalah peter noll
(1973) dengan istilah gesetzgebunglehre, jurgen rodig (1975), dengan istilah
gesetzgebunglehre, burkhardt krems (1979) dan Werner maihofer (1981) dengan
istilah gesetzgebungswissenchaft. Di belanda antara lain S.O. van poelje (1980)
dengan istilah wetgevingsleer atau wetgevingskunde, dan W.G van der velden
(1988) dengan istilah wetgevingstheorie, sedangkan di Indonesia diajukan oleh
Hamid S. Attamimi (1975) dengan istilah ilmu pengetauhan perundang-undangan.[2]

Menurut burkhadt krems, ilmu pengetauhan perundang-undangan adalah ilmu


pengetauhan tentang pembentukan peraturan Negara, yang merupakan ilmu yang
bersifat interdisipliner. Selain itu, ilmu peraturan perundang-undangan juga
berhubungan dengan ilmu politik dan sosiologi, secara garis besar dapat dibagi
menjadi dua bagian besar, yaitu
1. Teori perundang-undangan yaitu berorientasi pada mencari kejelasan dan
kejernihan makna atau pengertian-pengertian dan bersifat kognitif
2. Ilmu perundang-undangan yaitu berorientasi pada melakukan perbuatan dalam
hal pembentukan peraturan perundang-undangan dan bersifat normatif.
Burkhardt krems membagi lagi bagian kedua tersebut kedalam tiga sub bagian yaitu
1. Proses perundang-undangan (gesetzebungverfahren)
2. Metode perundang-undangan (gesetzebungsmethode)
3. Teknik perundang-undangan (gesetzebungstechnic)

ILMU PENGETAHUAN PERUNDANG-UNDANGAN[3]

3. Fungsi Peraturan Perundang-Undangan


Fungsi peraturan perundang-undangan, yang dapat dibagi menjadi dua kelompok
utama, yaitu:
1) Fungsi Internal, adalah fungsi pengaturan perundang-undangan sebagai sub
sistem hukum (hukum perundang-undangan) terhadap sistem kaidah hukum pada
umumnya secara internal, peraturan perundang-undangan menjalankan fungsi
penciptaan hukum, fungsi pembaharuan hukum, fungsi integrasi pluralisme hukum,
fungsi kepastian hukum.
Secara internal, peraturan perundang-undangan menjalankan beberapa fungsi:

a. Fungsi penciptaan hukum.


Penciptaan hukum (rechtschepping) yang melahirkan sistem kaidah hukum yang
berlaku umum dilakukan atau terjadi melalui beberapa cara yaitu melalui putusan
hakim (yurisprudensi). Kebiasaan yang tumbuh sebagai praktek dalam kehidupan
masyarakat atau negara, dan peraturan perundang-undangan sebagai keputusan
tertulis pejabat atau lingkungan jabatan yang berwenang yang berlaku secara umum.
Secara tidak langsung, hukum dapat pula terbentuk melalui ajaran-ajaran hukum
(doktrin) yang diterima dan digunakan dalam pembentukan hukum.

b. Fungsi pembaharuan hukum.


Peraturan perundang-undangan merupakan instrumen yang efektif dalam
pembaharuan hukum (law reform) dibandingkan dengan penggunaan hukum
kebiasaan atau hukum yurisprudensi. Telah dikemukakan, pembentukan peraturan
perundang-undangan dapat direncanakan, sehingga pembaharuan hukum dapat
pula direncakan. Peraturan perundang-undangan tidak hanya melakukan fungi
pembaharuan terhadap peraturan perundang-undangan (yang telah ada). Peraturan
perundang-undangan dapat pula dipergunakan Sebagai sarana memperbaharui
yurisprudensi. Hukum kebiasaan atau hukum adat. Fungsi pembaharuan terhadap
peraturan perundang-undangan antara lain dalam rangka mengganti peraturan
perundang-undangan dari masa pemerintahan Hindia Belanda. Tidak pula kalah
pentingnya memperbaharui peraturan perundang-undangan nasional (dibuat setelah
kemerdekaan) yang tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan baru. Di
bidang hukum kebiasaan atau hukum adat. Peraturan perundang-undangan
berfungsi mengganti hukum kebiasaan atau hukum adat yang tidak sesuai dengan
kenyataan-kenyataan baru. Pemanfaat peraturan perundang-undangan sebagai
instrumen pembaharuan hukum kebiasaan atau hukum adat sangat bermanfaat,
karena dalam hal-hal tertentu kedua hukum yang disebut belakangan tersebut
sangat rigid terhadap perubahan.

c. Fungsi integrasi pluralisme sistem hukum


Pada saat ini masih berlaku berbagai sistem hukum (empat macam sistem hukum),
yaitu: sistem hukum kontinental (Barat), sistem hukum adat, sistem hukum agama
(khususnya lslam) dan sistem hukum nasional.

Pluralisme sistem hukum yang berlaku hingga saat ini merupakan salah satu warisan
kolonial yang harus ditata kembali. Penataan kembali berbagai sistem hukum
tersebut tidaklah dimaksudkan meniadakan berbagai sistem hukum terutama
sistem hukum yang hidup sebagai satu kenyataan yang dianut dan dipertahankan
dalam pergaulan masyarakat. Pembangunan sistem hukum nasional adalah dalam
rangka mengintegrasikan berbagai sistem hukum tersebut sehingga tersusun dalam
satu tatanan yang harmonis satu sama lain. Mengenai pluralisme kaidah hukum
sepenuhnya bergantung pada kebutuhan hukum masyarakat. Kaidah hukum dapat
berbeda antara berbagai kelompok masyarakat, tergantung pada keadaan dan
kebutuhan masyarakat yang bersangkutan.

d. Fungsi kepastian hukum


Kepastian hukum (rechtszekerheid, legal certainty) merupaken asas penting dalam
tindakan hukum (rechtshandeling) dan penegakan hukum (hendhaving, uitvoering).
Telah menjadi pengetahuan umum, bahwa peraturan perundang-undangan depat
memberikan kepastian hukum yang lebih tinggi dan pada hukum kebiasan, hukum
adat, atau hukum yurisprudensi. Namun, perlu diketahui, kepastian hukum peraturan
perundang-undangan tidak semata-mata diletakkan pada bentuknya yang tertulis
(geschreven, written).

2) Fungsi Eksternal
Fungsi Eksternal, adalah keterkaitan peraturan perundang-undangan dengan tempat
berlakunya. Fungsi eksternal ini dapat disebut sebagai fungsi sosial hukum, yang
meliputi fungsi perubahan, fungsi stabilisasi, fungsi kemudahan. Dengan demikian,
fungsi ini dapat juga berlaku pada hukum-hukum kebiasaan, hukum adat, atau
hukum yurisprudensi. Bagi Indonesia, fungsi sosial ini akan lebih diperankan oleh
peraturan perundang-undangan, karena berbagai pertimbangan yang sudah
disebutkan di muka. Fungsi sosial ini dapat dibedakan:

a) Fungsi perubahan
Telah lama di kalangan pendidikan hukum diperkenalkan fungsi perubahan ini yaitu
hukum sebagai sarana pembaharuan (law as social engineering). Peraturan
perundang-undangan diciptakan atau dibentuk untuk mendorong perubahan
masyarakat di bidang ekonomi, sosial, maupun budaya. Masyarakat patrilineal atau
matrilineal dapat didorong menuju masyarakat parental melalui peraturan
perundang-undangan perkawinan.

b) Fungsi stabilisasi
Peraturan perundang-undangan dapat pula berfungsi sebagai stabilisasi. Peraturan
perundang-undangan di bidang pidana, di bidang ketertiban dan keamanan adalah
kaidah-kaidah yang terutama bertujuan menjami stabilitas masyarakat. Kaidah
stabilitas dapat pula mencakup kegiatan ekonomi, seperti pengaturan kerja,
pengaturan tata cara perniagaan dan lain-lain. Demikian pula di lapangan
pengawasan terhadap budaya luar, dapat pula berfungsi menstabilkan sistem soeial
budaya yang telah ada.

c) Fungsi kemudahan
Peraturan perundang-undangan dapat pula dipergunakan sebagai sarana mengatur
berbagai kemudahan (fasilitas). Peraturan perundang-undangan yang berisi
ketentuan insentif seperti keringanan pajak, penundaan pengenaan pajak,
penyederhanaan tata cara perizinan, struktur permodalan dalam penanaman modal
merupakan kaidah-kaidah kemudahan. Namun perlu diperhatikan, tidak selamanya,
peraturan kemudahan akan serta merta membuahkan tujuan pemberian kemudahan.
Dalam penanaman modal misalnya, selain kemudahan-kemudahan seperti
disebutkan di atas diperlukan juga persyaratan lain seperti stabilitas politik, sarana
dan prasarana ekonomi, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya.[4]

Uraian lain tentang fungsi peraturan perundang-undangan dikemukakan oleh ahli


peraturan perundang-undangan kenamaan seperti Robert Baldwin & Martin Cave[5],
yang mengemukakan bahwa peraturan perundang-undangan memiliki fungsi:

a. mencegah monopoli atau ketimpangan kepemilikan sumber daya;


b. mengurangi dampak negatif dari suatu aktivitas di komunitas atau
lingkungannya;
c. membuka informasi bagi publik dan mendorong kesetaraan antar kelompok
(mendorong perubahan institusi, atau affirmative action kepada kelompok marginal);
d. mencegah kelangkaan sumber daya publik dari eksploitasi jangka pendek;
e. menjamin pemerataan kesempatan dan sumber daya serta keadilan sosial,
perluasan akses dan redistribusi sumber daya; dan
f. memperlancar koordinasi dan perencanaan dalam sektor ekonomi.

Dua kutipan fungsi peraturan perundang-udangan sebagaimana dikemuka-kan di


atas, pada dasarnya menunjuk pada keberadaan fungsi sebuah hukum atau
peraturan perundang-undangan dalam sebuah negara yang berdasarkan hukum.
Sebagai negara hukum dan menganut paham konstsitusionalisme, Indonesia jelas
membutuhkan adanya berbagai pembatasan kewenangan negara dan jaminan serta
komitmen negara untuk memenuhi hak-hak warga negara, secara tertulis. Hal yang
sama juga terjadi di negara-negara lain. Di sinilah peraturan perundang-undangan
menjalankan fungsi utamanya, yakni sebagai instrumen sekaligus kerangka arah
pembangunan nasional.

Merujuk pada fungsi peraturan perundang-undangan sesuai dengan jenis-jenisnya,


UU No. 10 Tahun 2004 secara implisit menyebutkan fungsi-fungsi sebagai berikut:
a. Fungsi UUD 1945
1. Menentukan pembatasan terhadap kekuasaan sebagai satu fungsi
konstitusionalisme.
2. Memberikan legitimasi terhadap kekuasaan pemerintahan.
3. Sebagai instrumen untuk mengalihkan kewenangan dari pemegang
kekuasaan asal (baik rakyat dalam sistem demokrasi atau Raja dalam sistem
Monarki) kepada organ-organ kekuasaan negara.
4. Sebagai kepala negara simbolik.
5. Sebagai kitab suci simbolik dari suatu agama civil atau syariat negara
(civil religion).
b. Fungsi Undang-undang/ Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
1. Menyelenggarakan peraturan lebih lanjut ketentuan dalam UUD 1945 yang
tegas-tegas menyebutnya.
2. Pengaturan lebih lanjut secara umum aturan dasar lainnya dalam batang
tubuh UUD 1945.
3. Pengaturan lebih lanjut materi UUD 1945.
c. Fungsi Peraturan Pemerintah
1. Pengaturan lebih lanjut dalam ketentuan UU yang lebih tegas
menyebutnya.
2. Menyelenggarakan lebih lanjut ketentuan dalam UU yang mengatur
meskipun tidak tegas-tegas menyebutnya.
d. Fungsi Peraturan Presiden
1. Pengaturan lebih lanjut ketentuan UU dan untuk melaksanakan Peraturan
Pemerintah.
2. Menyelenggarakan pengaturan secara umum dalam rangka
menyelenggarakan kekuasaan pemerintah.
e. Fungsi Peraturan Daerah
1. Menyelenggarakan lebih lanjut ketentuan UU, Peraturan Pemerintah,
Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, yang secara tegas menyebutnya.
2. Menyelenggarakan lebih lanjut kententuan dalam rangka penyelenggaraan
otonomi daerah.
f. Fungsi Peraturan selain Peraturan Perundang-udangan
1. Menyelenggarakan lebih lanjut ketentuan Undang-undang, Peraturan
Pemerintah, dan peraturan peraturan perundang-undangan yang berada pada
hirarkhi di atasnya.
2. Menyelenggarakan lebih lanjut ketentuan dalam rangka penyelenggaraan
tugas-tugas dan fungsi-fungsi kelembagaan masing-masing, yang secara tegas
disebutkan atau diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang ada pada
hirarkhi lebih tinggi.
2. Asas-Asas Pembentuk Peraturan perundang-undangan
Asas adalah dasar atau sesuatu yang dijadikan tumpuan berpikir, berpendapat dan
bertindak[6]. Asas-asas pembentuk peraturan perundang-undangan berati dasar
atau sesuatu yang dijadikan tumpuan dalam menyusun peraturan perundang-
undangan. Padanan kata asas adalah prinisip yang berarti kebenaran yang menjadi
pokok dasar dalam berpikir, berpendapat dan bertindak.
Asas juga merupakan sandaran di dalam pembentukan Perundang-undangan diatur
di dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang pembentukan Peraturan
Perundang-undangan. Di dalam undang-undang tersebut asas di bagi menjadi dua,
yaitu asas Perunang-undangan dan asas materi muatan Perundang-undangan.[7]
Dalam menyusun peraturan Perundang-undangan banyak para ahli yang
mengemukakan pendapatnya. Meskipun berbeda redaksi, pada dasarnya beragam
pendapat itu mengarah pada substansi yang sama. Berikut ini akan dikemukakan
beberapa pendapat ahli, kemudian penulis akan mengklasifikasikannya ke dalam
dua bagian kelompok asas utama (1) asas materil atau prinsip-prinsip substantif; dan
(2) asas formal atau prinsip-prinsip teknik pembentukan peraturan perundang-
undangan.
Prof. Purnadi Purbacaraka dan Prof. Soerjono Soekanto[8], memperkenalkan enam
asas sebagai berikut:
a. Peraturan perundang-undangan tidak berlaku surut (non retroaktif);
b. Peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh penguasa yang lebih
tinggi, mempunyai kedudukan yang lebih tinggi pula;
c. Peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus menyampingkan
peraturan perundang-undangan yang bersifat umum (lex specialis derogat lex
generalis);
d. Peraturan perundang-undangan yang berlaku belakangan membatal-kan
peraturan perundang-undangan yang berlaku terdahulu (lex posteriori derogate lex
periori);
e. Peraturan perundang-undangan tidak dapat di ganggu gugat;
f. Peraturan perundang-undangan sebagai sarana untuk semaksimal
mungkin dapat mencapai kesejahteraan spiritual dan materil bagi masyarakat
maupun individu, melalui pembaharuan atau pelestarian (asas welvaarstaat).
Hampir sama dengan pendapat ahli sebelumnya Amiroedin Sjarief, mengajukan lima
asas, sebagai berikut:[9]
a. Asas tingkatan hirarkhi;
b. Peraturan perundang-undangan tidak dapat di ganggu gugat;
c. Peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus menyam-pingkan
UU yang bersifat umum (lex specialis derogate lex generalis);
d. Peraturan perundang-undangan tidak berlaku surut;
e. UU yang baru menyampingkan UU yang lama (lex posteriori derogat lex
periori).
Pendapat yang lebih terperinci di kemukakan oleh I.C van der Vliesdi mana asas-
asas pembentukan peraturan perundang-undangan dapat dibagi menjadi dua, yaitu
asas formal dan asas materil.
Asas formal mencakup:[10]
a. Asas tujuan yang jelas (beginsel van duetlijke doelstelling);
b. Asas organ / lembaga yang tepat (beginsel van het juiste organ);
c. Asas perlu pengaturan (het noodzakelijkheids beginsel);
d. Asas dapat dilaksanakan (het beginsel van uitvoorbaarheid);
e. Asas konsensus (het beginsel van consensus).
Sedangkan yang masuk asas materiil adalah sebagai berkut:
a. Asas terminologi dan sistimatika yang benar (het beginsel van duitdelijke
terminologie en duitdelijke systematiek),
b. Asas dapat dikenali (het beginsel van de kenbaarheid);
c. Asas perlakuan yang sama dalam hukum (het rechsgelijkheids beginsel);
d. Asas kepastian hukum (het rechtszekerheidsbeginsel);
e. Asas pelaksanaan hukum sesuai dengan keadaan individual (het beginsel
van de individuale rechtsbedeling).
Pendapat terakhir dikemukakan oleh A. Hamid S. Attamimi sebagaimana dikutip oleh
Maria Farida,[11] yang mengatakan bahwa pembentukan peraturan perundang
undangan Indonesia yang patut akan mengikuti pedoman dan bimbingan yang
diberikan oleh cita negara hukum yang tidak lain adalah Pancasila, yang oleh
Attamimi diistilahkan sebagai bintang pemandu, prinsip negara hukum dan
konstitusionalisme, di mana sebuah negara menganut paham konstitusi.
Lebih lanjut mengenai A. Hamid. S. Attamimi, mengatakan jika dihubungkan
pembagian atas asas formal dan materil, maka pembagiannya sebagai berikut :
a. Asasasas formal:
1. Asas tujuan yang jelas.
2. Asas perlunya pengaturan.
3. Asas organ / lembaga yang tepat.
4. Asas materi muatan yang tepat.
5. Asas dapat dilaksanakan.
2. Asas dapat dikenali.
b. Asasasas materiil:
1. Asas sesuai dengan cita hukum Indonesia dan norma fundamental
negara.
2. Asas sesuai dengan hukum dasar negara.
3. Asas sesuai dengan prinsip negara berdasarkan hukum.
4. Asas sesuai dengan prinsip pemerintahan berdasarkan konstitusi.
Dalam Islam, prinsip-prinsip perumusan peraturan perundang-undangan (qanun)
juga telah lama diperkenalkan oleh ahli Islam seperti Al Ghazali, Ibnu al Qayyim al
Jauziyah, dan tokoh-tokoh kontemporer lainnya. Beberapa prinsip itu antara lain:
a. Pluralisme (al taaddudiyyah); suatu prinsip keanekaragaman, di mana
setiap peraturan perundang-undangan yang disusun harus menghargai,
mengakomodasi keberagaman di suatu komunitas.
b. Nasionalitas (muwathanah); spirit nasionalisme yang melandasi bangunan
bangsa Indonesia harus menjadi batu pijak dan poros dalam perumusan kebijakan
(meskipun ia berbasis pada syariat Islam).
c. Penegakan hak asasi manusia (iqamat al huquq al Insaniyah); menurut
Imam Ghazali adalah bahwa perumusan kebijakan dioreintasikan pada komitmen
untuk melindungi hak-hak kemanusiaan. hak asasi manusia juga diacu sebagai
landasan perumusan materi kebijakan.
Terdapat enam hak yang dikenal dalam disiplin Syariat Islam:
a. Hak untuk hidup (hifdz al nafs aw al hayat)
b. Hak kebebasan beragama (hifdz a din)
c. Hak kebebasan berfikir (hifdz al aqli)
d. Hak properti (hifdz al maal)
e. Hak untuk mempertahankan nama baik (hifdz al irdh)
f. Hak untuk memiliki garis keturunan (hifdz al nasl)
d. Demokratis: secara prinsipil nilai-nilai Islam berkesesuaian (compatibel)
dengan nilai-nilai demokrasi. Beberapa di antaranya:
a. Egalitarianisme (al musawah)
b. Kemerdekaan (al hurriyyah)
c. Persaudaraan (al ukhuwwah)
d. Keadilan (al adalah)
e. Musyawarah (al syuro)
f. Kemaslahatan (al mashlahah)
Ibnu al Qayyim al Jauziyah menyebutkan bahwa syariat Islam itu dibangun untk
mewujudkan nilai-nilai universal seperti: al mashlahah (kemaslahatan), al adalah
(keadilan), al rahmat (kasih sayang), al hikmah (kebijaksanaan).
e. Kesetaraan dan keadilan gender: setiap kebijakan disusun tidak boleh
membedakan setiap jenis kelamin. Ia harus mengakomodasi dan mensetarakan
gender.
Berbagai pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas, pada dasarnya
menunjuk pada bagaimana sebuah peraturan perundang-undangan dibuat, baik dari
segi materi-materi yang harus dimuat dalam peraturan perundang-undangan, cara
atau teknik pembuatannya, akurasi organ pembentuk, dan lain-lain. Untuk
memudahkan pemahaman, di bawah ini akan diuraikan penjelasan asas-asas itu
yang dikelompokkan ke dalam 3 bagian asas yang harus dipenuhi. Uraian berikut ini
sebagian besar mengacu pada UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan perundang-undangan, dengan tambahan dan penjelasan yang dideduksi
dari uraian para ahli.

[1] Maria Farida Indrati Soeprapto, Ilmu Perundang-undangan, Yogyakarta: Kanisius,


2007, hal. 1-6.
[2] A. Hanid S. Attamimi, Ilmu Pengetahuan Perundang-undangan dan
pengemangan pengajarannya di fakultas hukum,
[3] Ibid, hal. 8-9
[4] Bagir Manan, Fungsi dan Materi Peraturan Perundang-Undangan, (Makalah tidak
dipublikasikan), Jakarta, 1994
[5]Robert Baldwin & Martin Cave, Understanding Regulation: Theory, Strategi and
Practice, UK, Oxford University Press: 1999, dalam Luky Djani, Efektivitas-Biaya
dalam Pembuatan Legislasi, Jakarta: Jurnal Hukum Jentera, Oktober 2005, h. 38
[6]Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai
Pustaka, 2002, Edisi III, h.70
[7] Supardan Modeong, Teknik Perundang-undangan di Indonesia, PT Perca
(Jakarta Timur, 2005), hal. 71
[8]Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, Peraturan perundang-undangan
dan Yurisprudensi, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1989, Cet. Ke-3, h. 7-11
[9]Amiroedin Sjarif, Peundang-undangan Dasar; Jenis dan Teknik Membuatnya,
Jakarta: Rineka Cipta, 1997, h. 78-84
[10]A. Hamid S Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam
Penyelenggaraan Pemerintahan Negara; Studi Analisis mengenai Keputusan
Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waktu PELITA I-PELITA IV,
Jakarta: Disertasi Doktor Universitas Indonesia, 1990, h. 330
[11]Maria Farida Indrati Soeprapto, Op. Cit. h. 197

***

Kuliah VIII Senin, 24 October 2016


Lembaga Negara di Indiensia
Oleh Sony Maulana

- Bab VI & VII Buku Ilper


- Lembaga negara apa di Indonesia yang membentuk UU? Apa dasar
hukumnya? Apa nama produknya?
- Montesqiue= pemisahan kekuasaan: satu fungsi dilaksanakan satu lembaga,
dan pemisahannya kedap, tidak boleh satufungsi dilaksanakan dua dua
lembaga, and vice versa melihat kondisi prancis
- Hanya ada dua lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk membuat
perundang-undangan

Kuliah IX Senin, 31 October 2016


Lembaga Negara di Indiensia
Oleh Sony Maulana

- Presiden dan DPR membentuk UU, melaksankaan fungsi legislasi


bersamaan. (Pasal 5 ayat 1, Pasal 20 UUDH 1945) or berdasakan putusan
MK yang terakhir dari JR ttg kelembagaan MPR, DPR, DPD, lalala maka
DPD memiliki kewenangan yang sama dengan MPR
- Ada beberapa LN lain yang ada di konstitusi yang mempunya tugsnya
masing-masing.
- TAP MPR tidak berlaku di amsyarakat, hanya berlaku bagi presiden untuk
menyebarkan nilai Pancasila karena posisi presiden sebagai mandataris
MPR. Pelaksanaan dari eprintah TAP MPR kemudian dibungkus dengan
peraturan perundang-undangan dan mengikat masyarakat. MPR tidak
memiliki kewenangan membuat peraturan untuk masyarakat
- BPK bagi DPR adalah supporting body dalam menjalankan fungsi DPR di
bidang budgeting

Setelah Perubahan
- LN yang lain tidak berwenang sebagai lembaga yang membuat perundang-
undangan

Lembaga Pemerintahan
- Apa saja lembaga pemerintah yang berhak dalam membentuk peraturan
undang-undang?
- Yang membantu pemerintahan di Indonesia; wakil presiden. Wakil presiden
bukan jabatan organisasi pemerintah yang diatur dalam konstitusi. DIbawah
preside nada menteri-menteri, yaitu pembantu presiden. Yang kurang tepat
adalah istilah bahwa para menteri memimpin departemen pemerintahan
- *Sebgai lembaga negara, presiden bersama DPR berwenang untuk
membentuk UU
- *Sebagai lembaga pemerintahan, presiden berwenang membentuk: 1) PP 5
Ayat 2 2) Perpu 22 UUD 1945 3) Perpres.
- LPND = lembaga pemerintah non-departemen. Menteri seharusnya setara
dengan LPND/LPNK dibawah system struktur presiden dalam presidensil
kita. Para pimpinan LPND memiliki kewenangan dalam membentuk
peraturan, nama peraturannya Kepala .. (zaman dulu, menteri yang tidak
mengepalai departemen tertentu menjadi kepala LPND)
Kuliah XI Senin, 14 November 2016
Peraturan Perundang-Undangan
Oleh Sony Maulana

- Peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga neggara yang


mendapatkan atribusi/delegasi
- Norma umum/abs/trs menerus, pembentuknya pemerintah, dan harus ada
kewenangan pembentukan uu (atribusi or delegasi)
- Apakah semua LN punya kewenangan pembuatan peraturan per-UU-an?
Tidak, hanya presiden, DPR, DPD secara bersama. Presiden sebagai LN
hanya ketika ia membentuk UU
- Bedanya lembaga pemerintahan dengan lembaga negara?

Jenis & Fungsi Peraturan Perundangan (BAB X)


- TAP MPR XX/1966 Lampiran IIA
1. UUD 1945
2. TAP MPR
3. UU/PERPU
4. PP
5. KEPPRES
Peraturan pelaksanaan lainnya:
o Permen
o Instruksi Menteri
o Dll
- TAP XX muncul ketika mulainya masa orde baru disaat presiden yang abru
tidak mau punya hubungan denngan orde sebelumnya. Salah satunya
penertiban jenis-jenis perundangan berdasarkan pemerintah
- Apakah instruksi menteri sebagai peraturan perundang-undangan? Instruksi
adalah sebagai suruhan atasan kepada bawahan. Jadi, kalau dari normanya
hanya seperti perintah atasan kepada bawahan bukan abstrak, umum, dll.
SO, bukan peraturan perundnag-undangan
- TAP MPR III/2000
1. UUD 1945
2. UU
3. TAP MPR
4. PERPU
5. PP
6. KEPPRES
7. PERDA
- *Pasal 4 ayat 2 peraturan atau keputusan MA, BPK, Menteri, BI, badan,
lembaga atau komisis setingkat yang dibentuk oleh pemerintahan
- UU NO. 10/2004
1. UUD 1945
2. UU/PERPU
3. PERPRES
4. PERDA
*Hilangnya TAP MPR bukannya berarti TAP MPR sebelumnya tidka
berlaku lagi, namun hanya MPR tidak bisa membuat TAP MPR

- UU NO 12/2011 PASAL 7
1. UUD 1945
2. TAP MPR
3. UU/PERPU
4. PP
5. PERPRES
6. PERDA PRoV
7. PERDAKAB
- Check out Pasal 8 UU 12/2011

Jenis Peraturan Perundang-undangan selain


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1)
mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung,
Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan,
Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan,
lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk
dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas
perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala
Desa atau yang setingkat.
- Kalau individual konkrit sekali selesai maka bukan peraturan perundang-
undangan, yang bisa dikategorikan peraturan perundang-undangan yang
umum asbtrak
- Jenis peraturan perundang-undangan (di tingkat pusat) peraturan yang
sifatnya khas
1. UU/PERPU
2. PP
3. PERPRES
4. PERMEN
5. PERATURAN KA-LPND
6. PERATURAN DIRJEN
7. PERATURAN BADAN HUKUM NEGARA
- UU dibentuk oleh kewenangan atribusi dr presiden, dpr, dan dpd
- PP dengan Peraturan Pemerintah pengganti UU bedanya: PP fungsinya
menjalankan UU, kalo yg pengganti UU fungsinya adalah mengatur dalam
keadaan darurat But both are made by President
- Perpu dibentuk dengan kewenangan atribusi (pasal 22 UUD 1945 presiden
bisa menginterpretasikan apapun dalam keadaan darurat: ini adalah
kewenangan atribusi)
- Perpu untuk jadi UU harus tetap lewat persetujuan DPR
- Yang dibentuk presiden di perUUan hanya peraturan presiden.
- Presiden punya 3 kewenangan dalam membuat peraturan yang secara
mandiri; dan satu yang bersama DPR
- Jenis peraturan perundang-undangan masuk di ujian akhri
- Dirjen secara teori punya kewenangan pembuatan peraturan perundang-
undangan
- Badan negara punya peraturan membentuk UU, dengan kewenangn atribusi
- Perbedaan peraturan daerah (kepala daerah+dprd) sedangkan peraturan
kepala daerah hanya dibuat oleh kepala daerah

Kuliah XII Senin, 21 November 2016


Materi Muatan Ilper
Oleh Yahdy Salampessy

- Apa saja yang bisa dikategorikan sebagai peraturan perundang-undangan?


- Karakteristik peraturan perundang-undangan?
- Apa itu peraturan perundang-undangan? Peraturan yang dikelauran oleh
badan yang diberi kewenangan oleh UUD 1945 1) pengaturan; abstrak
umum, terus menerus. 2) Dibentuk berdasarkan kekasaan legislative yang
diimplementasikan dalam epmebntukan kekuasaan udnang-undang. 3)
dibentuk berdasarkan kewenangan atribusi dan delegasi. 4) dibentuk oleh
lembaga pemerintah baik untuk menjalankan UU atau Perpu dibawah UU,
ataupun dibentuk berdasarkan fungsi penyelenggaraan pemerintah
- Atribusi = penyerahan pembentukan UU, dr UU kepada lembaga pemerintah
- Delegasi = pelimpahan kewenangan peraturan Perundang-undangan, dr
peraturan yang lebih tinggi ke peraturan yang lebih rendah
- Pasal 8 11/2012 = diakui juga peraturan-peraturan lain yang dbentuk oleh x,
y, z, a, b, c, m, n, o
- Dari karakteristik diatas, maka yang berwenang hanya lembaga legislative
dan eksekutif (presiden dan pembantu-pembantu presiden; menteri, lembaga
pemerintah lainnya nonstructural; komisi-komisi/structural; bertanggung
jawab kepada presiden)
- Peraturan yang dibentuk KY/BPK/ MA tidak bisa dipersoalkan materi
perundang-undangna karena bukan sebagai jenis peraturan perundang-
undangan [SALAH SATU KESALAHAN DI 11/2012]
- Mengatur dan mengurus?
- Peraturan badan hukum negara juga mempnyai kewenangan untuk membuat
peraturan. Masih diakui sebagai salah satu peraturan perundang-undangan;
contoh: PBI
--
- Hal apa saja yang bisa diatur dalam peraturan perundang-undangan? Dalam
konteks UU, ada beberapa pendapat;
- Semua hal bisa diatur dengan UU kecuali diatur lain oleh konstitusi.
- Banyaknya peratuan delegasi adalah salah satu sebab mengapa Indonesia
terpuruk; ketidakpastian hukum
- Dalam 12/2011 karena perdebatan mengenai materi UU besar maka diatur di
Pasal 10 nya.

Pasal 10

(1) Materi muatan yang harus diatur dengan Undang- Undang berisi:
a. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945; perintah langsung dari UUD b)
untuk menjalankan substansi dari suatu UUD, contoh Pasal 33 ayat 3 UUD
yang mangatakan SDA harus dikelola dengan baik, untuk negara, dll.
Dianggap penting untuk ada pengatruan lebih lanjut mengenai SDA yang di
branched out lagi tentang migas, SDA, agrarian, perikanan dan kelautan,
b. Perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan Undang-Undang;
bersfiat horizontal. Salah satu UU dibentuk karena ada perintah UU yang lain.
Ketentuan lebih lanjut mengenai z, diatur lebih lanjut mengenai suatu UU
tertentu
c. Pengesahan perjanjian internasional tertentu; ratifikasi bisa dalam dua
bentuk; UU dan Perpres. Suatu perjanjian inter diatur oleh perpres hanya
berkaitan dengan kekuasaan pemerintahan. Ratifikasi dengan UU berarti
menyangkut kepentingan masyarakat secara luas. C/ UNCLOS
d. Tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi; c/ ada suatu UU yang
bermasalah/tidak sejalan dengan amanah konstitusi dan akan di JR, UU
Nomor 9 tentang BHP. Muncul UU pendidikan yang mengatur status badan
hukum UI
e. Pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat. Tidak ada di
konstitusi karena konstitusi hanya megatur hal-hal yang sangat dasar. Salah
satu contohnya adalah saat berbicara aspek investasi, pasmod, PH, yang
tidak diatur dengan persaingan usaha. Namun karena itu bagian dari
keseharian masyarakat, maka pemerintah beranggapan penting bahwa ada
peraturan yang mengatur tentang persaingan usaha; jika hal ini tidak
terakomodir maka akan ketinggalan. C/ UU OJK, UU KPK yang tidak pernah
tertuang di konstitusi, namun ada suatu kebutuhan masyarakat [yang bisa
dilihat dari dua perspektif; 1) dibutuhkan masyarakat, 2) negara-negara lain
sudah melaksanakannya
(2) Tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf d dilakukan oleh DPR atau Presiden.

(Pasal 12 UU 12/2011)
- Materi muatan peraturan pemerintah pengganti UU
o Materi muatannya sama dengan UU
o UU bisa memiliki peraturan pemerintah, and so does PERPU karena
posisinya sama. Materi muatannya sama, karena dibentuk sceara
sengaja untuk mengganti UU
o Namun sifatnya beda dengan UU dalam hal keberlakuan; UU berlaku
secara permanen, while PERPUS just apply for some period of time
o Ada persidangannya whether PERPU akan diterima (yang nantinya
diundang-undangkan) atau ditolak (yang nantinya akan dihapus dan
tidak berlaku lagi)
o Yang menjadi persoalan dalam praktek adalah perpu diterima sebagai
UU
o Dibentuk tanpa penegasan dari UU, tapi dibentuk untuk mengatur hal-
hal YANG ADA di dalam UU. Konsekuensinya dia tidak boleh
mengatur lebih dari apa yang diatur oleh UU, apalagi bertentangan.
Tidak boleh mengatur juga sesuatu yang sama sekali tidak pernah
diatur di UU.
o Pasal 5 ayat 2 UUD 1945, maka PP untuk menjalankan UU
sebagaimana mestinya. Ditegaskan dalam pasal 12 12/2011. Makna
dari menjalankan UU sebagaimana mestinya
o PP bisa dibentuk tanpa ada penegasa dari UU asalkan dibuat untuk
menegaskan hal yang ada dalam UU, konsekuensinya bahwa 1)
peraturan pemerintah tidak boleh mengatur lebih dr UU, 2) dia juga
tidak boleh mengatur bertentangan dengan UU, atau 3) dia tidak oleh
mengatur peraturan yang sebelumnya tidak pernah diatur dalam UU
o Sifat dan karakteristik PP: maka layaknya anak, dia hanya punya satu
induk. Satu PP hanya menjalankan satu UU. PP itu lahir karena ada
UU nya.
o Kalau dalam sbeuah UU tidak mencantumkan ketentuan pidana, PP
juga tidak boleh mengatur ketentuan pidana. Kecuali yang diatur gini,
contoh, dalam UU Kehutanan mengatur mengenai kawasan hutan,
ada izinnya yang diatur dengan PP. di dalam UU tidak diatur siapapun
yang melanggar ketentuan UU ada ketentuan pidana, namun PP bisa
mengatur kalau .. (menit 43) NAMUN PRINSIP DASARNYA tetap
kalau induknya tidak mengatur tentag ketentuan pidana, PP juga tidak
boleh mengatur ketentuan pidana
o Kalau Perpu sudah dibatalkkan, apakah masih bisa dipidana dengan
Perpu yang sama? (Menit 35 di recorder) tp ternyata gak ke save
rekamannya yeuuu

(Pasal 13 UU 12/2011)
- Materi muatan peraturan presiden
o Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan
oleh Undang-Undang, materi untuk melaksanakan Peraturan
Pemerintah, atau materi untuk melaksanakan penyelenggaraan
kekuasaan pemerintahan.
o Pasal 4 ayat 1 UUD 1945
o Di dalam pasal 4 ada penyelenggaran fungsi pemerintahan. Salah
satunya adalah mengatur. Bentuk kongkritnya adalah norma hukum
pengaturan. Perpres dibuat untuk melaksanakanan kegiatan
epmerintahan yang lahir dari Pasal 4

(Pasal 14 UU 12/2011)
- Materi Muatan Perda
o Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah
Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan
otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus
daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang- undangan
yang lebih tinggi.
o Dibagi tingkat prov dan kab/kota
o Yang tingkat provinsi mengatur hubungan antara daerah otonom
o Smeentara tingkat kab/kota materi muatannya adalah tentang
keotonomian dari suatu daerah otonom
o Baik materi muatan perda prov/kab, pengaturan penjabaran lebih
lajut dari perpu yang lebih tinggi (baik dari UU, PP, atau perpres)

- Materi Muatan Perdes


o Penjabaran dari UU yang lebih tinggi; menjalankan segala urusan
pemerintahan yang berkaitan dengan desa