Anda di halaman 1dari 23

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Beberapa ribu tahun silam, bunga mawar sudah dikenal umat manusia di

Eropa, Asia kecil, Persia (Iran), Cina,Jepang, dan Amerika. Seorang penyair

bangsa Yunani, Sappho, member nama Ratu dari segala jenis bunga. Mawar

merupakan lambing kesucian dan keimanan (Rismunandar, 1995).

Seperti hanya mencangkok, dari perbanyakan dengan cara stek ini juga

diperoleh tanaman baru yang mempunyai sifat seperti induknya. Sifat ini meliputi

ketahanan terhadap serangan penyakit, rasa buah, warna dan keindahan bunga,

dan sebagainya. Tetapi bila dibandingkan dengan cangkokan, setek mempunyai

kelebihan. Kalau cangkok memerlukan bantuan pohon induk untuk

menumbuhkan akar-akarnya sampai mampu berdiri sendiri, tapi setek tidak

demikian. Setek dengan kekuatannya sendiri akan menumbuhkan akar dan daun

sampai menjadi tanaman sempurna dan mampu menghasilkan bunga dan buah

(Wudianto, 1999).

Inisiasi merupakan salah satu dari aspek timbuh pada tanaman dengan

menghasilkan bagian-bagian atau organ baru. Kenaikan jumlah akar merupakan

salah satu dari ciri pertumbuhan atau inisiasi tersebut. Rambu akar dapat tubuh

dari akar utama (akar lateral) maupun berasal dari jaringan batang tumbuhan (akar

adventif), yang dapat dipacu dengan pemberian golongan hormone auksin dalam

jumlah tertentu. Daerah tergenerasi akar teletak pada absisat batang yang dipotong

mengikuti perpindahan polar auksin menuju proses akhir fisiologi, yang letaknya

lebih dekat pada ujung tanaman (Mukherji and Ghosh, 2000).


2

Auxin adalah hormone tumbuhan pertama yang diketahui. Pengaruh auxin

telah dipelajari pada abad ke-19 oleh ahli biologi, Charles Darwin. Dia melihat

bahwa ketika benih rumput-rumputan bertambah panjang, benih itu membelok

kea rah datangnya cahaya. Dengan mempergunakan penutup yang tak tmbus sinar,

Darwin berhasil menunjukkan bahwa tempat yang peka terhadap cahaya adalah

ujung apical dari benih dan bukan bagian bawah tempat pembengkokan terjadi

(Heddy, 1996).

Amiloplas yang mengandung dua atau lebih butir patih mengendap dalam

sel besar dari tudung akar sebagai respons terhadap gravitasi sehingga merupakan

dasar mekanisme penerimaan. Bukti yang dirangkum selama tahun 1970-an

mendukung amiloplas sebagai statolit (bahasa yunani lithos, artinya batu) dalam

statosit (sel yang mengandung statosit) berbagai jaringan. Terdapat beberapa bukti

yang berhubungan dengan hal itu. Pertama-tama, adanya hubungan yang erat

antara keberadaan amiloplas yang terendap dalam organ dan kemampuan organ

untuk tanggap secara gravitropis. Kedua, telah lama diketahui bahwa yang disebut

waktu penyajian (waktu terpendek yang diperlukan untuk mendapatkan respons

gravitropik) berhubungan erat dengan laju pengendapan amiloplas. Ketiga, jika

akar (atau koleoki) diberi giberelin dan kinekn pada suhu tinggi, semua pati dalam

amiloplas menghilang, demikian pula halnya dengan respons terhadap gravitasi.

Keempat, kepekaan gravitropik muncul kembali pada waktu yang bersamaan

dengan munculnya kembali butir pati di amiloplas setelah pati menghilang

(misalnya, sekitar 10 jam kemudian) atau ditudung akar baru setelah tudung itu

dipotong (Salisbury dan Ross, 1992).


3

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan percobaan ini adalah untuk mengamati pertumbuhan akar

dan tunas setek tanaman mawar (Rosa sp.) dengan atau tanpa daun pada

konsentrasi zat pengatur tumbuh yang berbeda.

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan penulisan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk

dapat mengikuti praktikal tes di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Program Studi

Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan

sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


4

TINJAUAN PUSTAKA

Botani tanaman

Menurut Suryowinoto (1997), sistematika dari bunga mawar adalah

sebagai berikut, Kingdom: Plantae, Divisi: Spermatophyta,

Subdivisi: Angiospermae, Kelas: Dicotyledoeae, Ordo: Rosales,

Famili: Rocaceae, Genus: Rosa, dan Spesies: Rosa sp.

Mawar termasuk tanaman tahunan (perennial) yang mempunyai struktur

batang berkayu keras, berduri, bercabang banyak, menghasilkan bunga, buah dan

biji secara terus menerus,serta masa produksinya berulang-ulang. Mawar memiliki

jenis yang cukup banyak antara lain Rosa Odorata, R. Villosa dan R. Canina (di

Turki). R. Damascena dan R. Alba (di Albania) (Hidayat dan Saati, 2006).

Tanaman mawar bisa berupa herba tegak, merayap, atau memanjat.

Mempunyai percabangan banyak, berduri temple. Daun majemuk, menyirip

ganjil, anak daun 5-7 jarang 3, bentuk helaian anak daun bulat telur atau lonjong,

ujung meruncing, tepi daun bergerigi (Suryowinoto, 1997).

Tanaman ini membentuk malai bunga yang sederhana hingga membentuk

karanagan bunga. Helaian mahkota bunganya ada yang selapis, ada pula yang

bersusun. Bunga mawar adalah bunga yang sempurna yang dapat membentuk biji

dan mudah menyilangkannya untuk membentuk hibrida baru. Warna bunganya

bervariasi dari putih mulus, kuning, orange, merah muda, ungu muda, ungu tua,

dan hijau. Pada hakikatnya, helaian mahkotanya berupa susunan kelopak bunga

yang berwarna hijau. Warna mahkota senantiasa mulus, tidak bercampur baur

dengan warna lain dalam bentuk goresan, bertitk-titik, dan sebagainya. Bunga

mawar ada yang berbau harum, ada pula yang netral (Rismunandar, 1995).
5

Syarat tumbuh

Iklim

Bunga mawar dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi.

Tetapi untuk mawar tertentu seperti mawar tertentu seperti mawar the hibrida

hanya menyukai dataran tinggi sebab bunganya akan tumbuh dengan sempurna,

baik bentuk, ukuran, warna, maupun baunya (Soekartawi, 1996).

Ketika matahari adalah memancarkan panas di dalam, suhu tanaman

biasanya akan menjadi tinggi dan juga suhu udaranya. Ketika matahari hilang,

suhu tanaman biasanya menjadi suhu udara ke bawah kecuali sinaran alternative

panas adalah persediaan sebelum kumpulan matahari. Dengan suhu tanaman yang

rendah dan juga udara, itu sangat mungkin lembab akan simpanan permukaan

tanaman, penyediaan sesuai dengan kondisi pertumbuhan pathogen

(Laurie, dkk, 1997).

Tumbuh-tumbuhan itu harus ditanam di tempat yang langsung disinari

matahari, di tanah yang di cangkul baik dan dipupuk cukup. Di tempat yang

banyak turun hujan atau di musim hujan pun tiada akan rusak hujan itu. Untuk di

tanam dalam petak berguna benar. Ada pula keganjilannya yaitu bunga-bunga

yang banyak itu tidak menghasilkan buah. Jalan untuk memperbanyaknya tidak

hanya dengan membagi-bagi tanaman yang telah lama dipelihara (Atjung,2006).

Tanah

Untuk mendapatkan mawar yang pertumbuhannya bagus dan sehat, media

tanam atau tanah menanam harus subur, gembur dan drainase harus diatur dengan

baik. Penyiraman harus dilakaukan secara teratur, tetapi tidak boleh berlebihan.

Pada saat tanaman sedang dalam fase pertumbuhan, perlu di pupuk dengan pupuk
6

yang mengandung unsur nitrogen tinggi. Sedangkan pada saat tanaman akan

mulai berbunga, untuk merangsang pembungaan, perlu dipupuk dengan pupuk

yang mengandung unsure fosfor tinggi. Pemupukan bisa dilakukan dengan pupuk

buatan, pupuk kandang atau kompos (Suryowinoto, 1997).

Lokasi tanaman hendaknya cerah. Ia tidak menyukai system multicrop

atau system campuran dengan tanaman lain. Namun, hanya jenis tanaman yang

bermanfaat bagi tanaman mawara yanag dapat ditanam di sela-selanya, seperti

tagetes yang dapat menghalau jenis-jenis nematode yang dapat merusak akarnya

(Rismunandar, 1995).

Ketika matahari adalah sumber panas dalam rumah kaca, suhu tanaman

biasanya akan lebih tinggi dari suhu udara. Ketika matahari menghilang, suhu

tanaman biasanya akan berada di bawah suhu udara kecuali alternative sumber

panas diberikan sebelum matahari terbenam dengan suhu tanaman lebih rendah

dari udara, adalah mungkin bahwa beberapa kelembaban akan deposit pada

permukaan tanaman, menyediakan kondisi yang cocok untuk pertumbuhan

patogen (Laurie, dkk, 1997).


7

Stek

Stek atau cutting merupakan salah satu teknik perbanyakan tanaman secara

vegetatif yang dapat dilakukan menggunakan organ akar, batang, maupun daun

tanaman. Tanaman yang distek, salah satu organ tanamannya dipotong dan bisa

langsung ditanam pada media penanaman (Rahman et al., 2012)

Tanaman yang lebih kuat, sehat dan berkembang penuh dapat diperoleh

dalam waktu yang lebih pendek dengan cara reproduksi vegetatif (dengan stek)

daripada dengan cara generatif (dengan biji) (Sebayang, 1998).

Stek batang/cabang sangat baik digunakan sebagai bahan tanaman dengan

cirri-ciri cabang berkayu berwarna hijau keabu-abuan, sedangkan panjang setek

belum diketahui yang optimal, menurut Prihandana et al, 2006 menyatakan bahwa

panjang setek berkisar antara 15-25cm (10-20 mata tunas) (Hayati, 2012).

Adanya tunas dan daun pada stek dapat mendorong pembentukan akar.

Tunas berperan sebagai sumber auksin, terutama tunas mulai tumbuh sedangkan

daun berperan dalam melakukan proses fotosintesis dan hasilnya dapat

mempercepat pertumbuhan akar (Krey, 2013).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan stek adalah kondisi

fisiologis tanaman induk (stock plant), umur tanaman induk, jenis bahan stek,

waktu pengambilan stek, zat pengatur tumbuh (ZPT), adanya tunas dan daun,

umur bahan stek dan kondisi lingkungan. Jika stek terlalu lunak dan muda, lebih

muda mengalami transpirasi dan tidak tahan kebusukan dan jika jaringan terlalu

tua diperlukan waktu yang lama untuk pengakaran (Yentina, 2011).

Saat pemotongan stek yang baik adalah pada saat kelembaban udara tinggi

dan tanaman tidak sedang mengalami pertumbuhan. Pemotongan stek sebaiknya


8

dilakukan dalam air. Tujuannya agar jaringan pembuluh pada stek yang baru

terpotong terisi air, dengan demikian akan memudahkan penyerapan zat makanan

(Sebayang, 1998).
9

Zat Pengatur Tumbuh

Julius Von Sachs memperoleh bukti pada tahun 1880an bahwa daun muda

yang kuncup yang aktif mampu memacu pertumbuhan awal akar, dan

dikatakannya bahwa suatu senyawa (hormone) yang mudah menyebar berperan di

dalamnya. Pada tahun 1935, went dan kenneti valhmann menunjukan bahwa IAA

memacu pertumbuhan awal akar pada setek batang, dan dari situlah berkembang

pertama kali penggunaan auksin dalam praktek. Auksin dan NAA biasanya lebih

efektif dari pada IAA, tampaknya karena NAA tidak dirusak oleh IAA oksidase

atau enzim lain. Sehingga bisa bertahan lebih lama. Bubuk yang dipasarkan untuk

mencelup ujung stek agar mudah berakar biasanya mengandung IBA atau NAA

yang dicampur dengan bubuk talk lembam, dan sering pula dengan satu atau lebih

vitamin B yang sebenarnya tak terlalu bermanfaat (Salisbury dan Ross, 1995).

Untuk mempercepat pertumbuhan akar pada setek, bisa dibantu dengan

ZPT. ZPT yang berbentuk Kristal misalnya AIA, ANA, dan AIB, sebelum

digunakan dilarutkan dulu dalam alcohol 95%, kemudian diencerkan dengan air

bersih sampai kadar tertentu. Untuk AIA dibuat larutan dengan konsentrasi 500-

1000 ppm, ANA 5000 ppm, dan AIB 5000-10000 ppm. Ppm singkatan dari parts

per million, yang berarti bagian per juta. Jadi AIA 500 ppm berarti 5 g AIA

dilarutkan dalam 10 liter air (Wudianto,1999).

Beberapa substansi berada di tanah, mempengaruhi penyerapan air dan

sifat kimia. Salah satunya karena humus yang menghambat penyerapan air dalam

tanah rawa, karena sifat kimia yang tidak diragukan meracuni membrane plasma

(Pradhan, 2001).
10

Meskipun tidak terlihat adanya peningkatan kadar asam giberelat di dalam

mesokarp yang berkaitan dengan periode pertumbuhan kedua, layak dicatat bahwa

kadar asam giberelat tetap konstan ( hal yang sama terjadi pada kadar IAA pada

anggur kultivar concord). Oleh karena itu, sejumlah senyawa pertumbuhan lain

diduga terlibat didalam berbagai fase pertumbuhan ini. Dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa pada buah apricot periode pertumbuhan keduanya dikontrol

oleh senyawa-senyawa selain dari yang sejauh ini telah diketahui

(Zulkarnain, 2009).

Pada tumbuhan berbunga, pengembangan fomule (berputik) bagian (putik)

bunga yang dipromosikan oleh auksin, giberelin, sitokinin, etilen dan kadang-

kadang, tergantung pada spesies tanaman. Pengembangan laki-laki (staminate)

bagian (benang sari) dari bunga dikendalikan oleh giberelin atau sitokinin.

Pengamatan ini telah menyebabkan penggunaan hormone oleh pemulia tanaman

dan holticulturist untuk mengatur ekspresi seksual di pabrik yang memiliki

staminate terpisah dan bunga berputik pada tanaman yang sama (kondisi

monoecious) atau pada tanaman yang berbeda (kondisi dicecious)

(Kaufman, dkk, 1983).

Bukti eksperimental dalam hal respon arah akar terhadap nutrisi sangat

terbatas Hal ini juga sulit menafsirkan data yang telah di peroleh dalam hal ini,

karena tidak ada cara untuk mengetahui apakah lekukan diamati akar karena

cedera bagian akar oleh mereka. Pekerjaan utama dalam hal ini telah dilakukan

oleh Newcombe dan Rhodes (1904), lilianfeldt (1905), dan porodko (1911-1914)

dan cucurbita pepo. Gelatin dalam blok yang terlarut nutrisi atau bahan kimia

untuk diselidiki ditekan lembut, tapi erat, kemudian akar pada dua sisi dan setelah
11

periode tertentu pengamatan dilakukan untuk menentukan apakah reaksi akar

untuk zat terlarut itu positif, negative, atau netral (Miller, 1981).

Para auxin, kelas pertama pengatur tumbuh untuk ditemukan, telah

menerima perhatian dari ahli fisiologi tanaman. Auksin adalah pertumbuhan

mempromosikan hormone tanaman. Perpanjanagan sel, contoh dari diferensiasi

anatomi sederhana, secara langsung dipengaruhi oleh konsentrasi auksin. Modus

tindakan muncul untuk melibatkan perubahan dalam plastisistas dinding sel.

Property fundamental dari auksin telah digunakan dalam pengujian aktivitas

mereka. Para bioassay dasar untuk aktivitas auksin terdiri dari mengukur

pemanjangan bagian gelap tumbuh kaleoptil oat. Serupa tes uji tingkat

kelengkungan longitudinal batang dibelah dua dalam menanggapi aplikasi auksin,

seperti dalam tes kacang split. Auksin alami yang paling umum adalah asam

indoleacetic (IAA) (Mukherji dan Ghosh, 2000).


12

Inisiasi Akar

Daerah pembentukan akar baru pada batang sebagianbesar spesies terletak

pada bagian basal fisiologis yang menjadi apeks batang (bagian distal). Bahkan

jika potongan tajuk diletakkan terbalik dalam lingkungan atmosfer yang lembap,

biasanya akar akan terbentuk di dekat puncak, jauh dari ujung batang yang asli

dan di tempat yang di perkirakan auksin terkumpul akibat pergerakan secara polar.

Pada banyak spesies, akar liar terbentuk di daerah dasar batang tumbuhan utuh,

kadang hanya berupa primordia. Tapi, primordia itu kadang muncul seperti

munculnya akar tunjang dari modus pada tangkai jagung (Atjung, 2006).

Penambahan auksin sering menyebabkan munculnya banyak akar liar di

daerah ruas batang bagian bawah, seperti ditemui pada tanaman tomat. Akar liar

tidak hanya diletakkan pada posisi mendatar, asalkan dijaga kelembapannya.

Kandungan auksin meningkat di daerah munculnya akar sebelum akar

berkembang. Di alam, batang yang lemah dapat menumbuhkan akar penopang-

tambahan untuk memperkuat system akar yang sudah ada

(Salisbury dan Ross, 1995).

Sebagai akibat pembatasan perkembangan akar ke samping dari tanaman

bertetangga, maka perakaran masing-masing tanaman terutama terbatas pada

suatu bagian menggantikan pembatasan tersebut, tanaman di dalam pertanaman

dapat berakar lebih kedalaman perakaran tersebut barangkali tidak dapat

terccapai. Jadi suatu populasi tanaman sedang diharapkan akan mempunyai

kedalaman perakaran terbesar (Goldsworthy dan Fisher, 1996).

Untuk setek si ambil dari semak (Pohon kecil), dipilih cabang yang belum

berkayu terlampau kertas. Panjang setek 5-10 cm. semak yang akan diambil
13

seteknya hidupnya subur, berbunga bagus serta lebat. Setek itu dipotong dengan

pisau yang tajam dekat daun sebab disitu berkumpul makanan cadangan yang

terbanyak. Di situlah mudah akan terjadi akar. Sebelum setek ditanam daun yang

di bawah sekali dan daun-daun diatasnya separo di buang supaya kurang air

menguap. Setek tumbuhan yang batangnya atas sekali mengandung banyak air

dikeringkan setengah jam lamanya sebelum ditanam untuk menjaga supaya tidak

mudah menjadi busuk (Atjung, 2006).

Keuntungan perbanyakan tanaman dengan menggunakan setek antara lain

adalah teknik pelaksanaannya sederhana, cepat, dan murah, tidak ada masalah

ketidakcocokan (incompatibilitas), sebagaimana yang timbul pada perbanyakan

secara penyambungan atau okulasi, banyak bibit yang dapat dihasilkan dari satu

tanaman induk, dan seluruh bibit yang dihasilkan memiliki sifat genetis yang

sama dengan tanaman induknya (Lakitan, 1994).

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Percobaan

Percobaan ini dilakukan di lahan dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan

Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,


14

Medan. Dengan ketinggian tempat 25 m dpl. Pada bulan September sampai

dengan November 2015.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan batang tanaman mawar (Rosa sp.) sebagai

bahan untuk pengamatan, plastik transparan untuk menyungkup batang tanaman,

polybag ukuran 10 x 15 cm sebagai wadah media tanam, top soil sebagai media

tanam dan pasir sebagai media tanam, IAA sebagai zat pengatur tumbuh, air untuk

menyiram tanaman, tali plastik untuk mengikat plastik transparan dalam

penyungkupan, pacak sebagai penahan tanaman agar tetap tegak, label sebagai

penanda tanaman.

Alat yang digunakan adalah tali plastik untuk mengikat plastik transparan

pada sungkupan tanaman, gembor untuk menyiram tanaman, cangkul untuk

mengaduk tanah sampai rata, gunting untuk memotong tanaman maupun tali

plastik, dan gelas beker sebagai tempat IAA, spanduk untuk alas tanah pada saat

diayak, ember untuk mengukur takaran tanah.

Prosedur Percobaan

- Dicampurkan media tanam top soil dan pasir dengan perbandingan 2 : 1 siram

dengan air

- Diisi media kedalam polibeg masing0masing pasangan sebanyak 6 buah.

- Dipilih cabang tanaman yang baik, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda

sepanjang 30 cm. disiapkan 3 potong dengan daun tanaman tetap melekat pada

cabang dan 3 potong yang daunnya dibuang sama, setiap pasangan.

- Direndam cabang bagian bawah, masing-masing 1 potongan dengan daun dan

tanpa daun tanaman selama 15 menit dengan :


15

a. Air destilata
b. Larutan 0,1 mg IAA/ L
c. Larutan 0,1 mg AA/ L

- Ditanam bahan setek kedalam polibeg dan beri label

- Disiram sedikit air, sungkup dengan plastic transparan dan tempatkan pada

tempat teduh. Setelah 1 minggu sungkup plastic di buka.

- Disiram tanaman setiap hari bila perlu.

- Di amati pertumbuhan tanaman setiap minggunya.

- Diamati pertumbuhan akar setelah 6 minggu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Komoditi : Mawar (Rosa sp.)

Tanggal Tanam : 04 Oktober 2015

Parameter : Jumlah tunas

ZPT
16

Direndam Air Direndam IAA Direndam IAA


Tanggal Destilata 1 mg/L 0,1 mg/L
Pengamatan Dgn Tnp Dgn Tnp Dgn Tnp
x X X
Daun Daun Daun Daun Daun Daun
11 Oktober 2015 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 Oktober 2015 0 0 0 0 0 0 0 0 0
25 Oktober 2015 1 0 0.5 0 1 0.5 0 0 0
02 November 2015 1 0 0.5 1 1 1 0 1 0.5
09 November 2015 2 0 1 1 2 1.5 1 1 1
16 November 2015 3 0 1.5 1 2 1.5 1 1 1
23 November 2015 5 0 2.5 3 3 3 2 2 2
30 November 2015 5 3 4 5 4 4.5 4 2 3

Komoditi : Mawar (Rosa sp.)

Tanggal Tanam : 04 Oktober 2015

Parameter : Jumlah akar

ZPT
Direndam Air Direndam IAA Direndam IAA
Tanggal Destilata 1 mg/L 0,1 mg/L
Pengamatan Dgn Tnp Dgn Tnp Dgn Tnp
X X X
Daun Daun Daun Daun Daun Daun
30 November 2015 10 18 14 18 18 18 10 8 9

Pembahasan

Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman air

destilata dengan daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 5 dan jumlah akar

sebanyak 10. Hal ini menujukkan bahwa perlakuan dengan daun pada stek akan

membantu proses fotosintesis dan perendaman air destilata tidak mempengaruhi

karena tidak mengandung hormon yang dapat merangsang pertumbuhan. Hal ini
17

sesuai dengan literatur Yentina (2011) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan stek adalah kondisi fisiologis tanaman induk (stock

plant), umur tanaman induk, jenis bahan stek, waktu pengambilan stek, zat

pengatur tumbuh (ZPT), adanya tunas dan daun, umur bahan stek dan kondisi

lingkungan.

Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman air

destilata tanpa daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 3 dan jumlah akar

sebanyak 18. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan tanpa daun akan mengurangi

proses penguapan sehingga energi akan dipusatkan untuk pertumbuhan tunas dan

akar dan perendaman air destilata tidak mempengaruhi karena tidak mengandung

hormon yang dapat merangsang pertumbuhan. Hal ini sesuai dengan literatur

Yentina (2011) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi

pertumbuhan stek adalah kondisi fisiologis tanaman induk (stock plant), umur

tanaman induk, jenis bahan stek, waktu pengambilan stek, zat pengatur tumbuh

(ZPT), adanya tunas dan daun, umur bahan stek dan kondisi lingkungan.

Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman IAA 1

mg/l dengan daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 5 dan jumlah akar

sebanyak 18. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan perendaman IAA 1 mg/l

merangsang pertumbuhan dan dengan adanya daun akan membantu proses

fotosintesis pada stek mawar. Hal ini sesuai dengan literatur Yentina (2011) yang

menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan stek adalah

kondisi fisiologis tanaman induk (stock plant), umur tanaman induk, jenis bahan

stek, waktu pengambilan stek, zat pengatur tumbuh (ZPT), adanya tunas dan

daun, umur bahan stek dan kondisi lingkungan.


18

Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman IAA 1

mg/l tanpa daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 4 dan jumlah akar

sebanyak 18. Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan perendaman IAA 1 mg/l

merangsang pertumbuhan tunas dan tanpa adanya daun akan mengurangi proses

penguapan pada penyetekan mawar. Hal ini sesuai dengan literatur Yentina (2011)

yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan stek

adalah kondisi fisiologis tanaman induk (stock plant), umur tanaman induk, jenis

bahan stek, waktu pengambilan stek, zat pengatur tumbuh (ZPT), adanya tunas

dan daun, umur bahan stek dan kondisi lingkungan.

Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman IAA 0,1

mg/l dengan daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 4 dan jumlah akar

sebanyak 10. Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan perendaman IAA

dengan konsentrasi lebih rendah yaitu 0,1 mg/l merangsang pertumbuhan tunas

namun pengaruhnya tidak sebesar pada perlakuan perendaman IAA 1 mg/l dan

dengan adanya daun akan membantu proses fotosintesis pada stek mawar. Hal ini

sesuai dengan literatur Atjung (2006) yang menyatakan bahwa zat pengatur

tumbuh (ZPT) dalam konsentrasi rendah secara kualitatif mampu mendorong dan

mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman IAA 0,1

mg/l tanpa daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 2 dan jumlah akar

sebanyak 8. Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan perendaman IAA dengan

konsentrasi lebih rendah yaitu 0,1 mg/l merangsang pertumbuhan tunas namun

pengaruhnya tidak sebesar pada perlakuan perendaman IAA 1 mg/l dan tanpa

adanya daun akan mengurangi penguapan pada stek mawar. Hal ini sesuai dengan
19

literatur Atjung (2006) yang menyatakan bahwa zat pengatur tumbuh (ZPT) dalam

konsentrasi rendah secara kualitatif mampu mendorong dan mengubah

pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

IAA (Indole Acetic Acid) adalah salah satu zat pengatur tumbuh yang

berfungsi merangsang pertumbuhan tanaman, perpanjangan sel, pertumbuhan

tunas. Hal ini sesuai dengan literatur Salisbury and Ross (1995) yang mneyatkan

bahwa pada tahun 1935, went dan kenneti valhmann menunjukan bahwa IAA

memacu pertumbuhan awal akar pada setek batang, dan dari situlah berkembang

pertama kali penggunaan auksin dalam praktek.

Fungsi penyungkupan pada peyetekan mawar adalah untuk mencegah

penguapan pada tanah (evaporasi) dan penguapan pada tanaman (transpirasi) dan

sehingga kelembapan pada lingkungan tanaman mawar tumbuh akan terjaga. Hal

ini sesuai dengan literatur Heddy (1996) yang menyatakan bahwa evaporasi pada

tanaman menjadi rendah sehinga dapat menjaga kelembapan akibat dari

penyungkupan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi peyetekan mawar adalah kondisi

fisiologis tanaman induk (stock plant), umur tanaman induk, jenis bahan stek,

waktu pengambilan stek, zat pengatur tumbuh (ZPT), adanya tunas dan daun,

umur bahan stek dan kondisi lingkungan. Hal ini sesuai dengan literatur Yentina

(2011) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan

stek adalah kondisi fisiologis tanaman induk (stock plant), umur tanaman induk,

jenis bahan stek, waktu pengambilan stek, zat pengatur tumbuh (ZPT), adanya

tunas dan daun, umur bahan stek dan kondisi lingkungan.


20

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman air destilata

dengan daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 5 dan jumlah akar

sebanyak 10.
21

2. Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman air destilata

tanpa daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 3 dan jumlah akar

sebanyak 18.

3. Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman IAA 1 mg/l

dengan daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 5 dan jumlah akar

sebanyak 18.

4. Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman IAA 1 mg/l

tanpa daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 4 dan jumlah akar

sebanyak 18.

5. Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman IAA 0,1

mg/l dengan daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 4 dan jumlah akar

sebanyak 10.

6. Dari hasil praktikum yang dilakukan pada perlakuan perendaman IAA 0,1

mg/l tanpa daun didapatkan hasil jumlah tunas sebanyak 2 dan jumlah akar

sebanyak 8.

7. IAA (Indole Acetic Acid) adalah salah satu zat pengatur tumbuh yang

berfungsi merangsang pertumbuhan tanaman, perpanjangan sel, pertumbuhan

tunas.

8. Fungsi penyungkupan pada peyetekan mawar adalah untuk mencegah

penguapan pada tanah (evaporasi) dan penguapan pada tanaman (transpirasi)

dan sehingga kelembapan pada lingkungan tanaman mawar tumbuh akan

terjaga.

9. Faktor-faktor yang mempengaruhi peyetekan mawar adalah IAA, morfologi

tanaman, cahaya, air, CO2, bahan tanaman, media tanam.


22

Saran

Sebaiknya para praktikan lebih rajin menyiram dan merawat stek tanaman

mawar agar stek tersebut tumbuh dengan subur.

DAFTAR PUSTAKA

Atjung. 2006. Tanaman Hias Memelihara, Menanam, dan Gunanya. Yasagun,


Jakarta.

Goldsworthy, P. R., dan N. M. Fisher. 1996. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik.


Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Heddy, S. 1996. Hormon Tumbuhan. Rajawali, Jakarta.

Hidayat, N., dan E. A. Saati. 2006. Membuat Pewarna Alami. Trubus Agrisarana,
Surabaya.
23

Kaufman, P. B., T. L. Mellichamp., J. G. Lacy., and J. D. Lacroix. 1983. Practical


Botany. Reston Publishing Company Inc, Virginia.

Lakitan, B. 1994. Hortikultura teori, Budidaya, dan Pasca Panen. Raja Grafindo
Persada, Jakarta.

Laurie, A., D. C. Kiplinger., and K. S. Nelson. 1997. Commercial Flower Forcing.


McGraw-Hill Book Company, New York.

Miller, E. C. 1981. Plant Physiology. McGraw-Hill Company Inc, New York.

Mukherji, S., and A. K. Ghosh. 2000. Plant Physiology. Tata McGraw-Hill


Pulishing Company Limited, New Delhi.

Pradhan, S. 2001. Plant Physiology. Har-Anand Pulications Pvt Ltd, New Delhi.

Rahardi, F. 1997. Bercocok Tanam Dalam Pot. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rismunandar. 1995. Budidaya Bunga Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Salisbury, F. B., dan C. W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid Tiga. ITB Press,
Bandung.

__________________________. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid Satu. ITB Press,


Bandung.

Soekartawi. 1996. Manajemen Agribisnis Bunga Potong. UI Press, Jakarta.

Suryowinoto, S. M. 1997. Flora Eksotika Tanaman Hias Berbunga. Kanisius,


Yogyakarta.

Wudianto, R. 1999. Membuat Stek, Cangkok, dan Okulasi. Penebar Swadaya


Anggota IKAPI, Jakarta.

Zulkarnain. 2009. Dasar-Dasar Hortikultura. Bumi Aksara, Jakarta.