Anda di halaman 1dari 21

KOMPETENSI DASAR

3.1 Menerapkan analisis potensiometri

3.2 mengevaluasi data hasil analisis potensiometri

3.3 menerapkan analisis konduktometri

3.4 mengevaluasi data hasil analisis konduktometri

3.5 menerapkan analisis elektrogravimetri

3.6 mengevaluasi data hasil analisis elektrogravimetri

3.7 menerapkan analisis polarimetri

3.8 mengevaluasi data hasil analisis polarimetri

3.9 menerapkan analisis spektrofotometri

3.10 mengevaluasi data hasil analisis spektrofotometri

TUJUAN PEMBELAJARAN:
A. POTENSIOMETRI
Potensiometri adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari pengukuran perubahan
potensial elektroda untuk mengetahui konsentrasi dari suatu larutan. Pengukuran perubahan
potensial elektroda banyak digunakan untuk dalam ilmu kefarmasian terutama untuk
pengukuran pH dan titrasi potensiometrik.
Logam atau ion kadang-kadang mendapat tambahan atau kehilangan elektron. Demikian
pula suatu senyawa kimia dalam suatu sistem dapat menerima dan memberikan elektron atau
menerima dan memberikan proton sehingga mereka itu bermuatan. Karena kemampuan
mengikat elektron atau mengikat proton berbeda maka perbedaan potensial antara 2 sistem
akan terjadi.
Metode analisis potensiometri didasarkan pada pengukuran potensial sel elektrokimia,
komposisi sampel diperoleh melalui perbedaan potensial antara dua elektroda. Dengan
demikian, potensial sel dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:
Esel = Ecathode Eanode
= Eind Ereff

Dimana :
Esel : Potensial sel dari sel elektrokimia
Ecathode : Potensial elektroda katoda
Eanode : Potensial elektroda anoda
Eind : Potensial elektrode indikator
Ereff : Potensial elektrode pembanding

Peralatan yang dibutuhkan untuk analisis menggunakan metode potensiometri, antara


lain:
1. elektrode pembanding (refference electrode)
2. elektroda indikator ( indicator electrode )
3. alat pengukur potensial
4. jembatan garam
5. larutan yang dianalisis
Berikut ini merupakan ilustrasi gambar dari sel potensiometri:

Gambar 1.1 Sel potensiometri

Notasi sel potensiometri dapat dinyatakan sebagai berikut:


elektroda pembanding | jembatan garam || larutan yang dianalisis | elektroda indikator

1. Elektroda Pembanding (Refference Electrode)


Elektroda pembanding adalah elektroda yang potensial standarnya telah diketahui,
nilainya konstan, dan tidak peka terhadap komposisi larutan yang diselidiki. Syarat elektroda
pembanding antara lain:
Mematuhi persamaan Nersnt bersifat reversible
Potensial elektroda yang konstan oleh waktu
Segera kembali keharga potensial semula apabila dialiri arus yang kecil
Hanya memiliki efek hysterisis yang kecil jika diberi suatu siklus suhu
Merupakan elektroda yang bersifat nonpolarisasi secara ideal
Ada dua jenis elektroda pembanding yang umum digunakan, yaitu elektroda kalomel dan
elektroda perak.
a. Elektroda Kalomel (Saturated Calomel Electrode)
Elektroda Kalomel merupakan elektrode yang terdiri dari lapisan Hg yang ditutupi dengan
pasta Merkuri (Hg), Merkuri Klorida /Komel (Hg2Cl2) dan kalium klorida (KCl). Elektroda
kalomel terbuat dari tabung gelas atau plastik dengan panjang 5 - 15 cm dan garis tengah 0,5 -
1 cm. Pasta Hg/HgCI terdapat di dalam tabung yang lebih dalam, dihubungkan dengan larutan
KCI jenuh melalui lubang kecil. Kontak elektroda ini dengan larutan dari setengah sel lainnya
melalui penyekat yang terbuat dari porselen atau asbes berpori. Elektroda kalomel ditunjukan
oleh gambar di bawah ini:

Setengah sel elektrode kalomel dapat ditunjukan sebagai berikut:


KCl || Hg2Cl2 (satd), KCI (x M) | Hg
Dengan x menunjukkan konsentrasi KCl didalam larutan. Reaksi elektroda dapat
dituliskan sebagai:
Hg 2CI2 (s) + 2 e 2 Hg (l) + 2 CI
Potensial sel ini akan bergantung pada konsentrasi klorida x (pada kalomel yang tidak
jenuh), dan harga konsentrasi ini harus dituliskan untuk menjelaskan elektroda.
Elektroda kalomel jenuh (saturated calomel electrode, SCE) biasanya banyak digunakan
oleh para pakar kimia analitik karena banyak tersedia di pasaran dan konsentrasi klorida tidak
mempengaruhi harga potensial elektroda. Harga potensial SCE adalah 0,244 V pada 25 o C
dibandingkan terhadap elektroda hidrogen standart.
b. Elektroda perak / perak klorida (Ag/AgCl)
Elektroda perak / perak klorida merupakan elektroda yang terdiri dari suatu elektroda
perak yang dicelupkan kedalam larutan KCI yang dijenuhkan dengan AgCI. Setengah sel
elektroda perak dapat ditulis:
KCl || AgCI (satd), KCI (x M) | Ag
Reaksi setengah selnya : AgCI (s) + e- Ag (s) + CI-
Biasanya elektroda ini terbuat dari suatu larutan jenuh atau 3,5 M KCI yang harga
potensialnya dalah 0,199 V (jenuh) dan 0.205 V (3,5M) pada 250 C. Kelebihan elektroda ini
dapat digunakan pada suhu yang lebih tinggi sedangkan elektroda kalomel tidak.
2. Elektroda Indikator (indicator electrode)
Elektroda indikator adalah suatu elektroda yang potensial elektrodanya bervariasi terhadap
konsentrasi (aktivitas) analit yang diukur. Elektroda indikator harus memenuhi beberapa syarat
antara lain:
memenuhi tingkat kesensitivan yang terhadap konsentrasi analit
Tanggapannya terhadap keaktifan teroksidasi dan tereduksi harus sedekat mungkin dengan
yang diramalkan dengan persamaan Nernst sehingga adanya perbedaan yang kecil dari
konsentrasi analit, akan memberikan perbedaan tegangan.
Elektroda indikator secara umum dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu elektroda logam
dan elektroda membran.
a. Elektroda logam
Elektroda logam adalah elektroda yang dibuat dengan menggunakan lempengan logam
atau kawat yang dicelupkan ke dalam larutan elektrolit. Elektroda logam memiliki empat jenis,
yaitu: elektroda jenis pertama (first kind), elektroda jenis kedua (second kind), elektroda jenis
ketiga (third kind), dan elektroda redoks.
Elektroda jenis pertama
Pada elektroda ini, ion analit berpartisipasi langsung dengan logamnya dalam suatu reaksi
paruh yang dapat balik. Contoh, elektroda tembaga :
Cu2+ + 2e == Cu(s)
Sehingga,
E = E0Cu (0,059/2)log[1/Cu2+]
E = E0Cu (0,059/2)pCu
Dengan pCu adalah - log[Cu2+], jadi elektroda tembaga mengukur langsung pCu. Logam
lain yang mempunyai sifat logam balik (reversibel) meliputi perak, raksa, cadmium, seng dan
timbal.
Elektroda jenis kedua
Elektroda dimana ion-ion dalam larutan tidak bertukar elektron dengan elektroda logam
secara langsung, melainkan mengatur konsentrasi ion logam yang bertukar elektron dengan
permukaan logam. Contoh elektroda perak untuk halida, reaksinya dapat ditulis,
AgCl(s) + e == Ag(s) + Cl-
Sehingga,
E = E0 (0,059/1)log[Cl-]
E = E0 0,059 pCl
Contoh lain, elektroda raksa untuk mengukur konsentrasi anion EDTA (disingkat Y4-).
Pengukurannya didasarkan pada sifat elektroda raksa dalam larutan kompleks stabil
Hg(II)EDTA encer, reaksi pada elektroda adalah :
HgY2- + 2e == Hg(l) + Y4- E = 0,21 V
Untuk reaksi tersebut berlaku,
E = 0,21 (0,059/2) log {[Y4-]/[Hg Y2-]}
untuk menggunakan system elektroda ini perlu ditambahkan sedikit Hg Y2- ke dalam larutan.
Karena kompleks ini sangat stabil (untuk Hg Y2-, Kf = 6,3 x 1021). Maka konsentrasi Hg Y2-
dianggap tetap. Sehingga persamaannya menjadi,
E = K (0,059/2) log [Y4-]
E = K (0,059/2) pY
Dengan K = 0,21 (0,059/2) log {1/[Hg Y2-]}
Elektroda jenis ketiga
Elektroda logam ayng harga potensialnya bergantung pada konsentrasi ion logam lain.
Contoh, elektroda Hg dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi ion Ca2+, Zn2+, atau Cd2+
yang terdapat dalam larutan. Untuk elektroda Hg dengan kompleks EDTA seperti pada
elektroda kedua, potensial elektrodanya dapat ditulis kembali,
E = K (0,059/2) log [Y4-]
Bila ditambahkan sedikit kompleks Ca(II)-EDTA, maka kesetimbangan baru akan
terbentuk,
CaY2- == Ca2+ + Y4-
Kf = [Ca2+] [Y4-] / [CaY2-]
Dengan menggabungkan harga konstanta pembentukan kompleks CaY2- dengan
persamaan sebelumnya didapat,
E = K - (0,059/2) log { Kf [CaY2-] / [Ca2+]}
Elektroda redoks ( inert )
Logam mulia seperti platina, emas, dan paladium bertindak sebagai elektroda indikator
pada reaksi redoks. Fungsi logam semata-mata untuk membangkitkan kecenderungan system
tersebut dalam mengambil atau melepaskan electron; logam itu sendiri tidak ikut serta secara
nyata dalam reaksi redoks, potensialnya merupakan fungsi Nersnt dari rasio aktivasi
aFe2+/aFe3+. Tentu saja, inert merupakan ukuran relatif, dan platina tidak kebal dari serangan-
seranga oksidator kuat, terutama dalam larutan dimana kompleksasi bias menstabilkan Pt(II)
melalui pembentukan spesies.
Platina juga bisa menimbulkan masalah dengan reduktor-reduktor yang sangat kuat:
reduksi H+ (atau H2O) kadang-kadang berlangsung sedemikian lambat sehingga analit-analit
bias direduksi lebih dahulu dalam larutan air tanpa interfensi dari pelarutnya, tetapi karena H+
e = H2 dikatalis oleh platina, keuntungan kinetik ini mungkin hilang.
Contoh potensial elektroda platina di dalam larutan yang mengandung ion-ion Ce3+ dan
Ce4+ adalah,
E = E0 - 0,059 log [Ce3+]/[Ce4+]
Dengan demikian elektroda platina dapat bertindak sebagai elektroda indikator di dalam
titrasi cerimetri.
b. Elektroda Indikator Membran
Elektroda indikator ini biasanya peka/sensitif terhadap satu jenis ion saja. Tegangan yang
ditimbulkan bergantung pada banyaknya ion dalam larutan yang mengenai permukaannya. Hal
ini dapat dilihat dari jumlah atau konsentrasi ion dalam larutan. Sensor merupakan elektroda
yang digunakan untuk analisis secara kuantitatif yang menunjukkan selektifitas terhadap
aktivitas ion yang diukur dan ditandai dengan perubahan potensial secara reversibel (Evans,
1987). Sensor mendapat perhatian luas dari para peneliti karena alat ini mudah perakitannya
dan pemakaiannya sederhana (Bailey, 1976).
Sensor terdiri atas membran yang responsif secara selektif terhadap suatu spesies tertentu
dan mengadakan kontak pada bagian luarnya dengan larutan yang akan ditentukan, sedangkan
bagian dalam berisi larutan yang mempunyai aktivitas tertentu yang mengadakan kontak
dengan elektroda pembanding. Membran tersebut harus bersifat inert terhadap larutan uji,
selektif terhadap ion-ion tertentu, memiliki kepekaan yang baik, memenuhi nilai sensitivitas
teoritis dan dapat dicetak sesuai dengan ukuran yang diinginkan (Pungor and Klara, 1970).
Setiap membran akan memberikan mekanisme yang berbeda dalam membangkitkan
potensial sesuai dengan jenis dan sifat membran. Secara umum, membran sensor dapat
dikelompokkan menjadi membran berpori, membran permselektif dan membran spesifik ion.
Membran berpori adalah membran yang memisahkan dua larutan elektrolit dari kedua fasa
sehingga memungkinkan terjadinya difusi ion. Pemindahan ion tersebut didasarkan pada
perbedaan konsentrasi partikel yang berpindah dari larutan yang lebih pekat ke larutan yang
lebih encer. Agar dapat melewati membran maka ukuran ion harus lebih kecil atau sama dengan
pori-pori membran sedangkan ion dengan ukuran yang lebih besar tidak dapat melewati
membran. Potensial yang terjadi pada membran berpori disebabkan perbedaan difusi dari ion
pada lapisan permukaan membrane. Elektroda membran diklasifikasikan dalam dua bagian
utama yaitu :
Elektroda selektif ion
Elektroda selektif ion adalah elektroda yang responsif terhadap spesi ion. Elektroda ini
terbagi menjadi dua bagian yaitu elektroda membran kristal dan elektroda non kristal.
Elektroda selektif-ion (ESI) merupakan suatu alat yang digunakan untuk menentukan
secara kuantitatif dari ion-ion, molekul-molekul atau spesi-spesi tertentu, karena elektroda
tersebut merupakan elektrokimia yang akan berubah secara reversibel terhadap perubahan
keaktifan dari spesi-spesi yang diukur (Buchari, 1983). Pada dasarnya cara analisis dengan
menggunakan elektroda selektif ion adalah menentukan potensial dari larutan yang akan diukur
sehingga penentuan dengan cara ini termasuk di dalam metode potensiometri (Morf, 1981 ).ESI
(Elektroda selektif-ion) ini menggunakan membran sebagai sensor. Berbagai definisi
membrane telah dikemukakan. Membran adalah suatu lapisan yang memisahkan dua fasa dan
mengatur perpindahan massa dari kedua fasa yang dipisahkan (Laksminarayanaiah,1976).
Sejumlah persaratan telah ditetapkan sebagai petunjuk bagi pemilihan bahan polimer yang
dapat didop untuk digunakan sebagai membrane elektroda pada baterai, peralatan elektronik,
sensor, eiektroda tennodifikasi, generator tennoelektrik dan elektrokimia vakum tinggi.
Polimer yang baik digunakan sebagai ion induk (host ion) adalah:
Polimer yang mempunyai gugus yang mampu menyumbangkan elektron guna membentuk
ikatan koordinasi dengan kation garam dopan. lnteraksi ini terjadi bila polimer mempunyai
pasangan elektron bebas yang disediakan oleh atom nitrogen, oksigen, sulfur atau klor.
Polimer yang mempunyai rantai fleksibel sehingga atom dopan dapat dengan mudah
terikat pada polimer aktif.
Polimer yang memiliki densitas energi kohesi yang tinggi dan suhu transisi gelas(Tg) yang
rendah (Gray, 1991).
Membran spesifik ion adalah membran yang memiliki sifat yang sama dengan membran
permselektif namun yang ditransport adalah ion-ion tertentu, sehingga dapat mengadakan
pertukaran secara spesifik sedangkan ion lain tidak.
Pembuatan sensor ClO4- pernah diteliti menggunakan zat aktif 1,4,7,10,13-penta(n-oktil)-
1,4,7,10,13-pentaazasiklopentadekana menggunakan pemlastis NPOE, DBP, DOS dan DBS
berdasarkan membran PVC. Sensor ClO4- dengan pemlastis DBS mempunyai nilai sensitivitas
yang terbaik yaitu 57 mV/dekade, trayek pengukuran 10-4-10-1 M, waktu respon 5 detik dan
waktu hidup 25 hari.
Kobaloksim ([klorobis(dimetilglioksimeato)trifenilfosfin) kobalt (III) berdasarkan
membran PVC dapat digunakan untuk sensor ClO4-. Sensor ClO4- ini mempunyai sensitivitas
56,8 mV/dekade, trayek pengukuran 10-6-10-1 M, range pH 4-10 dan waktu respon 15 detik.
Sensor ClO4- ini dapat digunakan untuk menentukan ion perklorat di dalam air dan urin
manusia.
Sensor ClO4- disiapkan menggunakan zat aktif oktilamonium klorida, pemlastis NPOE dan
DBP berdasarkan matrik PVC. Sensor tersebut mempunyai sensitivitas 57,3 mV/dekade
dengan waktu respon 13-15 detik dan waktu hidup 10 bulan.
Elektroda selektif molekular
Elektroda selektif molekular adalah elektroda yang dipakai untuk menetapkan molekul
analit. Elektroda ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu : elektroda pendeteksi peka terhadap gas
dan elektroda bersubtrat enzim.
Membran permeselektif adalah membran yang memiliki matriks dengan gugus ionik tetap,
sehingga sifat dari muatan juga tetap. Keadaan ini memungkinkan transport ion yang
berlawanan dengan muatan membran pada rentang konsentrasi tertentu. Namun, membran ini
tidak dapat membedakan ion yang ditranspor secara individu, karena membran jenis ini dapat
mengadakan pertukaran dengan beberapa ion yang memiliki muatan yang berlawanan dengan
membran.

B. METODE ANALISIS POTENSIOMETRI


Metode analisis menggunakan potensiometri memiliki beberapa cara, antara lain:
potensiometri langsung, adisi standar, adisi sampel, dan titrasi potensiometri.
1. Potensiometri langsung
Metode analisis potensiometri langsung hanya memerlukan pengukuran potensial sebuah
indikator elektron ketika dicelupkan dalam larutan yang mengandung konsentrasi yang tidak
diketahui & diketahui dari sebuah analit. Elektroda indikator selalu dianggap sebagai katoda
dan elektroda referensi sebagai anoda. Pada pengukuran potensiometri langsung, potensial sel
dapat diekspresikan sebagai perkembangan potensial oleh elektroda indikator, elektroda
referensi, dan potensial jungsi.
2. Adisi Standar
Metode analisis adisi standar ini biasanya digunakan pada instrumentasi analisis seperti
dalam atomic absorption spectroscopy (AAS) and gas chromatography (GC) untuk mencari
nilai konsentrasi substansi (analit) dalam sampel yang tidak diketahui dengan perbandingan
untuk susunan sampel yang diketahui konsentrasinya.
3. Adisi Sampel
Metode analisis adisi sampel memiliki prinsip yang hampir sama dengan metoda adisi
standar, namun pada analisis adisi sampel, volume sampel yang digunakan hanya sejumlah
kecil volume sampel. Metode analisis sampel juga digunakan pada instrumentasi analisis
seperti dalam atomic absorption spectroscopy (AAS) and gas chromatography (GC).
Pengukuran dibuat pada kekuatan ion standar dan slop elektroda yang dihasilkan lebih sesuai
dibanding adisi standar. Metode analisis sampel digunakan pada saat jumlah sampel hanya
sedikit, atau untuk sampel dengan konsentrasi yang besar, atau juga yang memiliki matriks
kompleks.
Berikut ini ilustrasi gambar analisis adisi sampel dan adisi standar menggunakan instrumen
AAS :

Gambar 2.1 Instrumrn AAS


Kelebihan metode adisi standar dan adisi sampel dibandingkan metode potensiometri
langsung antara lain:
Kalibrasi dan pengukuran sampel dilakukan secara bersamaan sehingga perbedaan kekuatan
ion dan temperatur standar dan sampel tidak terlalu signifikan.
Selama proses, elektroda tetap tercelup dalam larutan sehingga hanya terdapat sedikit
perubahan pada junction potential larutan
Pengukuran slop sangat mendekati konsentrasi sampel menunjukkan metode ini dapat
menghasilkan hasil yang lebih akurat pada range non-linear dan dapat digunakan dengan
elektroda tua atau lama yang range-nya tidak linear selama kemiringan stabil.
Selain memiliki kelebihan, metode adisi standar dan adisi sampel juga memiliki
kekurangan, sebagai berikut:
Diperlukan pencampuran yang akurat dari volume standar maupun sampel yang akan
diukur.
Diperlukan perhitungan yang lebih rumit dibandingkan dengan potensiometri langsung.
Konsentrasi sampel juga harus diketahui sebelum memulai analisis untuk menentukan
konsentrasi standar dan volume yang sesuai untuk kedua larutan.
4. Titrasi Potensiometri
Pada metode titrasi potensiometri, dapat dilakukan proses titrasi terhadap larutan asam
oleh larutan bersifat basa atau sebaliknya. Jenis titrasi potensiometri yakni titrasi penetralan,
dan titrasi pengendapan. Pada saat titrasi dilakukan selalu diikuti dengan pengukuran dengan
potensiometri. Reaksi pada senyawa yang dianalisis meliputi penambahan atau pengurangan
beberapa ion yang sesuai dengan jenis elektrodenya. Potensial diukur setelah penambahan
sejumlah kecil volume titran secara kontinu dengan perangkat automatik.
Berikut ini ilustrasi gambar rangkaian alat untuk titrasi potensiometri:

Gambar 2.2 Titrasi Potensiometri


C. KONDUKTOMETRI
Konduktometri adalah salah satu metoda analisa kimia kuantitatif berdasarkan pada
pengukuran daya hantar listrik/ konduktivitas suatu larutan. Daya hantar listrik atau
konduktansi (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan konsentrasi ion di dalam larutan. Daya
hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion di dalam larutan. Ion yang mudah
bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar.
Berdasarkan hukum Ohm bahwa arus listrik I (ampere) yang mengalir dalam sebuah
konduktor berbanding lurus dengan gaya gerak listrik E (volt) dan berbanding terbalik dengan
hambatan R (ohm) dari konduktor (Basset, 1994:615).
Dirumuskan I = E/R

Hambatan (R), bergantung pada sifat fisik/kimia dari bahan konduktor, R = dimana l

adalah jarak katoda dan A adalah luas permukaan lempengan.


Bila arus listrik dialirkan dalam suatu larutan yang mempunyai dua elektroda, maka daya
hantar listrik (G) berbanding lurus dengan luas permukaan elektroda (A) dan berbanding
terbalik dengan jarak kedua elektroda (l), atau dapat dikatakan berbanding terbalik dengan
hambatan. (Basset, 1994:615).
1
G= G mempunyai satuan Siemens atau Ohm-1.

Konduktan jenis (k) didefinisikan sebagai berikut :

G= dengan : k = konduktivitas/konduktan jenis (S/m)
/ G = konduktansi (S)
l = panjang (m)

Konduktometri terdiri dari wadah/tempat larutan dan elektroda platina yang dilapisi
dengan pletina hitam. Perbandingan l/A merupakan parameter yang khas untuk setiap wadah
konduktometri, disebut kapasitas resistif dari wadah konduktomteri (tetapan sel),

dilambangkan . Persamaan tetapan Sel = , Sehingga G = .

Konduktivitas larutan kimia lazimnya berkisar antara 0,1-2000 mili siemens per cm
(ms/cm). kalau dua elektroda direndam dalam larutan yang mengandung ion-ion, maka akan
mengalir arus listrik antara kedua elektroda tersebut. Arus mengalir dari katoda yang
bermuatan negative ke anoda yang bermuatan positif. Sebagai pembawa arus adalah ion-ion
dalam larutan.
Besarnya arus yang mengalir ditentukan oleh parameter-parameter sebagai berikut :
Beda tegangan antara kedua elektroda.
Konsentrasi ion-ion.
Sifat ion seperti besarnya muatan, derajat disosiasi, besarnya ion, kompleksasi dengan
molekul lain dan sebagainya.
Suhu larutan.
Luas permukaan masing-masing elektroda.
Jarak antara katoda dan anoda.
Semakin besar arus makin besar pula konduktivitas K. Luas permukaan elektroda dan jarak
antara katoda dan anoda merupakan parameter yang tetap, karena parameter-parameter tersebut
bergantung pada rancangan elektroda. Oleh karena itu setiap elektroda mempunyai factor
tersendiri yang dimasukkan dalam perhitungan konduktivitas (cell constant K/cm).
Konduktometer harus dikalibrasi setiap akan digunakan untuk pengukuran dengan
menentukan tetapan sel dari larutan yang konduktivitas jenisnya diketahui. Konduktivitas jenis
pada berbagai suhu untuk larutan KCl 0,1 M ditunjukkan pada tabel berikut :
T (oC) K (mS/cm)
21 11,91
22 12,15
23 12,39
24 12,64
25 12,88
26 13,13
27 13,37
28 13,62
29 13,87
30 14,12

Konduktivitas jenis larutan berbeda-beda tergantung pada konsentrasi, yang dinyatakan


sebagai konduktivitas molar () yaitu kemampuan suatu larutan untuk menghantarkan arus
listrik. Sehingga definisinya sebagai 1 gram ekivalen zat terlarut yang diukur diantara 2 buah
elektroda platina dengan jarak elektroda 1 cm. Volume larutan yang mengandung 1 gram
ekivalen zat terlarut adalah 1 L (1000 cm3), maka persamaannya :
1000
= (S.cm-1.mol.-1)

Titrasi konduktometri merupakan salah satu dari sekian banyak macam-macam titrasi.
Didalam titrasi konduktometri ini tidak terlalu berbeda jauh dari titrasi-titrasi yang lainya, yang
membedakan biasanya hanya terdapat bagaimana cara untuk mengetahui titik ekivalen dari
larutan itu. Titrasi konduktometri ini lebih mudah jika dibandingkan dengan titrasi lainya,
walaupun ada kelemahan tetapi juga ada kelebihanya. Titik ekivalen dapat kita ketahui dari
daya hantar dari larutan yang kita ukur, jika daya hantar sudah konstan berarti titrasi sudah
mencapai ekivalen. Titrasi ini juga tidak perlu menggunakan indicator.
Titrasi konduktometri dapat dilakukan untuk menentukan kadar ion, dengan syarat ion
tersebut terlibat dalam reaksi kimia sehingga terjadi penggantian satu jenis ion dengan yang
lain yang berarti terjadi perubahan konduktivitas.
Nilai konduktivitas molar ion-ion :

Titrasi konduktometri sangat berguna untuk melakukan titrasi pengendapan. Keuntungan


titrasi konduktometri adalah grafik titrasi seluruhnya digunakan untuk menentukan titik akhir
sedangkan pada kurva titrasi potensiometri titik akhir ditentukan dari bentuk grafik dekat titik
akhir saja. Kepekaan cara konduktometri jauh lebih baik. Titrasi konduktometri masih memberi
titik akhir yang jelas untuk asam atau basa lemah dalam konsentrasi encer, sedangkan
dengan potensiometri titik akhir tidak jelas lagi.
Kelebihan titrasi konduktometer :
Titrasi tidak menggunakan indikator, karena pada titik keivalen sudah dapat ditentukan
dengan daya hantar dari larutan tersebut.
Dapat digunkan untuk titrasi yang berwarna.
Dapat digunakan untuk titrasi yang dapat menimbulkan pengendapatan.
Lebih praktis.
Lebih cepat atau waktu yang diperlukan lebih sedikit.
Untuk persen kesalahanya lebih kecil jika dibandingkan dengan titrasi volumetri.
Kekurangan titrasi konduktometer.
Hanya dapat diterapkan pada larutan elektrolit saja
Sangat dipengaruhi temperatur
Dapat ditunjukkan dengan tidak langsung
Peralatan cukup mahal
Jika tidak hati hati maka akan cepat rusak
Tidak bisa digunakan pada larutan yang sangat asam atau basa karena akan meleleh.

KEGIATAN PRAKTIKUM
1. Judul Percobaan : Titrasi Konduktometri
2. Tujuan Percobaan :
3. Alat dan Bahan :

Alat Bahan

1. Konduktometer 660 1. Larutan KCl 0,1 N


2. Elektroda Immersion Cell 2. Larutan NaOH 0,1 N
3. Dosimat 665 3. Larutan HCl
4. Gelas kimia 50 mL 4. Larutan CH3COOH 0,1 N
5. Botol semprot 5. Larutan NaCl 0,1 N
6. Pengaduk magnet 6. Air Keran
7. Aquades
8. Air gula
9. Minuman elektrolit
4. Langkah Percobaan:
Gambar Instrumen Titrasi Konduktometri

a. Kalibrasi elektroda dan konduktometer

Tekan tombol on/off Pasang Elektroda Pasang nilai tetapan sel


Immersion Cell sesuai dengan elektroda
pada socket

Atur koefisien temp. pada


TEMP = Pt 100 FREQ = 2 KHz nilai 2

Celupkan elektroda pada Tekan TEMP, baca


RANGE = Fixed larutan KCl 0,1 M dan pasang nilainya

Ubah CELL Putar COURSE Tekan COND, tentukan


CONSTANT pada OFF K sesuai temperatur

Tekan tombol Angkat Alat dan elektroda


STAND BY elektroda, bilas siap digunakan
b. Penentuan Nilai Konduktansi Larutan

Air Keran Celupkan Elektroda pada


masing-masing larutan

Aquades

Tekan tombol COND


CH3COOH

NaCl Baca nilai k yang


terbaca

Air Gula

Minuman Elektrolit Setiap akan mencelupkan


elektroda pada larutan yang
berbeda, jangan lupa untuk
membilasnya terlebih dahulu
c. Titrasi Konduktometri

Hubungkan
Hubungkan konduktometer Isi dosimat dengan
Isi dosimat dengan Masukkan 5 mL
konduktometer
dengan dengan
dosimat dan remote NaOH 0,1 N
NaOH 0,1 N HCl ke dalam gelas
dosimat dan remote
control
kimia
control

Tekan DIS C, Tekan MODE Tambahkan


ketik 60, ENTER pada remote aquadest ke dalam
gelas kimia

Tekan
VOLUME, ketik
5 , ENTER Celupkan elektroda

catat daya
Tekan COND hantarnya
Aduk dengan
magnetic stirrer

Tekan GO sampai catat daya hantar


titrasi selesai jenisnya

Tekan STAND
BY

Angkat elektroda,
bilas
5. Data Hasil Percobaan
Data nilai konduktansi larutan
NO Larutan K (mS/cm)
1 Air kran
2 Aquades
3 CH3COOH
4 NaCl
5 Air Gula
6 Minuman Elektrolit

Data Hasil Titrasi Konduktometri


Penentuan Konsentrasi HCl

No NaOH (mL) K (mS/cm)

Penentuan Konsentrasi CH3COOH

No NaOH (mL) K (mS/cm)


.
Perhitungan Konduktansi NaCl dengan rumus: k =
1000

Pembuatan kurva titrasi


Konduktivitas

Volume NaOH