Anda di halaman 1dari 2

Ekonomi Islam dan Ekonomi Tradisional

Ikhwan Abidin Basri

Apa sesungguhnya yang membedakan antara ilmu ekonomi Islam dan ilmu ekonomi yang berlaku pada
umumnya yang sudah biasa kita kenal dengan ekonomi konvensional (conventional economics)?

Pertama dan yang pokok adalah ilmu ekonomi, dalam pandangan Islam, tidak dapat netral terhadap
nilai-nilai. Ilmu ekonomi Islam (Islamic Economics) jelas akan melakukan fungsi eksplanatori (penjelasan)
terhadap suatu fakta secara objektif. Ia juga akan melakukan fungsi prediktif seperti yang dilakukan oleh
ilmu ekonomi konvensional. Dalam menjalankan kedua fungsi ini, ia menjalankan fungsi utama sains
secara positif atau mencoba menjelaskan apa (what is). Namun kiprahnya tidak hanya terbatas pada
aspek positif berupa penjelasan dan prediksi saja. Pada tahapan tertentu ia harus juga melakukan fungsi
normatif, menjatuhkan penilaian (value judgement) dan menjelaskan apa yang seharusnya (what should
be) Ini berarti bahwa ilmu ekonomi Islam bukanlah value-netral. Ia memiliki seperangkat nilainya
tersendiri, kerangka kerja nilai-nilai di mana ia beroperasi. Karena itulah maka reformasi ekonomi Islam
tak dapat dilakukan secara isolasi atau parsial, ia hanya dapat dilakukan dalam konteks Islamisasi
masyarakat secara total.

Kedua, dalam kerangka ini, hubunganhubungan teknis akan dipelajari dan dikembangkan dengan
tetap mempertimbangkan maslahat dan tetap dalam konteks suatu kerangka nilai. Dengan demikian
ilmu ekonomi Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana perilaku manusia ekonomi itu (economic
man) dalam lapangan ekonomi, tetapi juga bagaimana suatu disiplin normatif dapat diimplementasikan
dan diinjeksikan ke dalam diri manusia ekonomi itu sehingga sasaran yang hendak diinginkan Islam
dalam bidang ekonomi dapat diwujudkan. Pola perilaku manusia ekonomi dalam paradigma ilmu
ekonomi konvensional akan berbeda dari pola perilaku manusia Muslim tidak saja dalam bidang
ekonomi, melainkan juga di seluruh bidang. Ini suatu realitas.

Ketiga, karena citranya yang demikian itulah maka dalam kerangka kerja ini terdapat peran kebijakan
dari sektor pemerintah terhadap perilaku manusia agar tetap berada pada arah realisasi dan
pemenuhan akan nilai-nilai tersebut. Hal ini menjadikan lingkup kajian ilmu ekonomi Islam lebih luas
dan komprehensif. Lebih komprehensif karena ia bukan hanya berbicara tentang motif tetapi juga
perilaku, lembaga dan kebijakan. Ia memperlajari perilaku manusia seperti apa adanya, namun ia juga
memiliki suatu visi tertentu di masa yang akan datang di mana perilaku manusia harus diarahkan
kepadanya. Pendekatan demikian merupakan ciri menonjol dari ilmu ekonomi Islam.

Bila kita mempelajari ajaran-ajaran Islam di bidang ini, kita dapat menyimpulkan beberapa poin yang
sangat penting sebagai petunjuk untuk membangun disiplin ini. Pertama, Islam memberikan petunjuk
kepada kita tentang adanya seperangkat tujuan dan nilai-nilai dalam kehidupan perekonomian.
Kedua, Islam memberikan kepada kita sikap psikogis dan satu sprektrum yang mengandung motif-
motif dan insentif. Islam juga memasok prinsip-prinsip hubungan perekonomian. Pokok-pokok petunjuk
di atas merupakan hasil inferensi yang kita petik dari ruh ajaran Islam.

Dengan demikian ekonomi, bagi umat Islam, merupakan salah satu bagian dari sistem ideologi dan etika
Islam. Sebagai suatu ajaran dari keseluruhan suatu bangunan, ia jelas memiliki ciri-ciri yang menonjol
akan tetapi ia tidak bisa berdiri sendiri. Ia hanya dapat berjalan optimal jika keseluruhan sistem berjalan
ke arah yang satu. Karena itu Islamisasi ekonomi hanya mungkin terjadi secara efektif dan komprehensif
jikalau hal itu dibarengi dengan Islamisasi di bidang-bidang kehidupan yang lain. Hanya dengan cara
seperi inilah maka rahmat Islam akan dapat dirasakan tidak saja baik kaum Muslimin sendiri melainkan
juga bagi seluruh manusia dan makhluk lain di jagat raya.