Anda di halaman 1dari 19

TUGAS PATOLOGI

1. Faktor- Faktor yang mempengaruhi Proses peradangan dan mekanisme


penyembuhannya :
1.1 Proses peradangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi peradangan
Proses peradangan di definisikan sebagai reaksi lokal jaringan terhadap
infeksi atau cedera dengan melibatkan lebih banyak mediator dibanding respon
imun di dapat. Proses ini dikenal sebagai proses Inflamasi. Inflamasi merupakan
respon fisiologis terhadap berbagai rangsangan seperti infeksi dan cedera jaringan.
Secara khusus, peradangan adalah reaksi vaskuler yang hasilnya merupakan
pengiriman cairan, zat-zat terlarut pada sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-
jaringan interstisial pada daerah cidera atau nekrosis.
Oleh karena itu faktor-faktor yang mempengaruhi proses peradangan
dipengaruhi oleh seberapa parah inflamasi/peradangan itu terjadi. Secara umum,
Seluruh proses peradangan bergantung pada sirkulasi yang utuh kedaerah yang
terkena. Jadi, jika ada defisiensi suplai darah kedaerah yang terkena, maka proses
peradangannya sangat lambat, infeksi yang menetap dan penyembuhan yang jelek.
Pada inflamasi/peradangan akut faktor-faktor yang berpengaruh yaitu :
a. Peningkatan sel-sel inflamasi seperti peningkatan kadar neutrofil
b. Adanya kerusakan sel endotel
c. Adhesi antara sel endotel dan leukosit meningkat. Peningkatan molekul
adhesi ini meningkatkan migrasi leukosit ke tempat yang terjadinya
peradangan sehingga dapat menimbulkan kerusakan jaringan.
d. Ekstravasi leukosit
Ekstravasi ini terbagi menjadi 4 tahap yaitu menggulir, aktivasi oleh
rangsangan kemoatraktan, menempel/adhesi dan migrasi transendotel.
e. Pelepasan berbagai mediator pada inflamasi akut yang berasal dari jaringan
rusak, sel mast, leukosit dan komplemen.
Faktor yang mempengaruhi proses inflamasi/peradangan akut sistemik yaitu :
a. Pelepasan mediator performed (serotonin, histamin, heparin, enzim lisosom
dan protease)
b. Sintesis mediator inflamasi baru
c. Aktivasi kaskade reaksi larut

Abdussalam Moo 1
TUGAS PATOLOGI

Faktor yang mempengaruhi proses inflamasi/peradangan akut sistemik yaitu :


a. Adanya antigen yang menetap
b. Adanya infeksi bakteri akibat peradangan/luka yang dapat menyebabkan
pembentukan granuloma.
1.2 Mekanisme penyembuhan peradangan/inflamasi dan faktor yang
mempengaruhi penyembuhan peradangan
Tahap terpenting dalam proses pemulihan jaringan yang mengalami inflamasi
adalah pembentukan jaringan granulasi. Secara histologis jaringan granulasi
ditandai dengan proliferasi pembuluh darah baru (neovaskularisasi) dan
fibroblas.15 Rekrutmen dan stimulasi fibroblas dikendalikan oleh banyak faktor
pertumbuhan, meliputi platelet-derived growth factor (PDGF), basic fibroblast
growth factor (bFGF), dan transforming growth factor-beta (TGF-), sitokin
(interleukin 1) dan tumor necrosis factor (TNF) yang disekresikan oleh leukosit
dan fibroblas. Secara khusus makrofag merupakan unsur sel yang penting pada
pembentukan jaringan granulasi. Selain membersihkan debris ekstraseluler dan
fibrin pada tempat jejas, makrofag juga mengelaborasi suatu penjamu mediator
yang menginduksi proliferasi fibroblas dan produksi matriks ekstraseluler (ECM).
Sintesis kolagen oleh fibroblas dimulai sejak awal proses penyembuhan (hari ke-3
hingga ke-5) dan berlanjut selama beberapa minggu tergantung pada luas
penyembuhan. Pada daerah radang juga terdapat sel mast, dan dengan lingkungan
kemotaksis yang sesuai limfosit dapat muncul. Tiap-tiap sel ini dapat turut
berperan langsung ataupun tidak langsung terhadap proliferasi dan aktivasi
fibroblas.
Pembentukan pembuluh darah baru akan membantu mempercepat proses
regenerasi sel dan normalisasi jaringan. Pembentukan neovaskularisasi berfungsi
untuk menyuplai vitamin, mineral, glukosa, dan asam amino ke fibroblas untuk
memaksimalkan pembentukan kolagen serta membebaskan jaringan dari nekrosis,
benda asing, dan infeksi sehingga mempercepat penyembuhan radang.21
Beberapa faktor yang menginduksi neovaskularisasi adalah basic epithelial
growth factor (bFGF) dan vascular endothelial growth factor (VEGF).

Abdussalam Moo 2
TUGAS PATOLOGI

Banyak faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka atau daerah cidera


atau daerah peradangan lainnya, salah satunya adalah bergantung pada poliferasi
sel dan aktivitas sintetik, khususnya sensitif terhadap defisiensi suplai darah lokal
dan juga peka terhadap keadaan gizi penderita.
Penyembuhan juga dihambat oleh adanya benda asing atau jaringan
nekrotik dalam luka, oleh adanya infeksi luka dan immobilisasi yang tidak
sempurna. Komplikasi pada penyembuhan luka kadang-kadang terjadi saat proses
penyembuhan luka. Jaringan parut mempunyai sifat alami untuk memendek dan
menjadi lebih padat, dan kompak setelah beberapa lama. Akibatnya adalah
kontraktur yang dapat membuat dareah menjadi cacat dan pembatasan gerak pada
persendian.
Komplikasi penyembuhan yang kadang-kadang dijumpai adalah amputasi
atau neuroma traumatik, yang secara sederhana merupakan poliferasi regeneratif
dari serabut-serabut saraf kedalam daerah penyembuhan dimana mereka terjerat
pada jaringan parut yang padat.
Secara Umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan
peradangan/inflamasi :
a. Penginaktivan mediator inflamasi baik mediator performed (histamine,
seorotnin, heparin, enzim lisosom dan protease) maupun mediator asal
lipid (asam arakidonat)
b. Pencegahan proliferasi dan migrasi sel ke tempat peradangan
c. Luas kerusakan jaringan dan jenis jaringan yang cedera.
Jaringan dapat ditandai sebagai labil (berubah-ubah terus), stabil
(berproliferasi bila dirangsang) dan permanen (sel tidak dapat
memperbaiki diri sendiri). Bila sudah tidak ada pemusnahan sel dalam
jaringan, semua jaringan kembali ke keadaan normal melalui respon
inflamasi. Bila terjadi pemusnahan sel, jaringan permanen hanya dapat
sembuh dengan perbaikan melalui penyembuhan dengan pembentukan
parut. Jaringan yang labil dan stabil dapat sembuh melalui regenerasi bila
kerusakan tidak berat dan jaringan dibawahnya tidak rusak.

Abdussalam Moo 3
TUGAS PATOLOGI

d. Pengontrolan inflamasi/peradangan akut oleh sitokin anti-radang


(Interleukin 4, Interleukin 10), produk sistem endokrin seperti
kortikosteroid, kortikotropin, aMSH.
e. Pemberian obat anti inflamasi kortikosteroid dan anti inflamasi non steroid
Mekanisme obat anti radang yaitu penghambatan pembentukan asam
arakidonat sebagai salah satu media inflamasi yang berasal dari lipid.
Selain itu menghambat enzim cyxlooksigenase sehingga prostaglandin
tidak terbentuk

Trauma/radang/luka
pada sel

Gangguan pada
membran sel

Fosfolipid
Dihambat oleh
Kortikosteroid
Asam Arakidonat
Dihambat oleh
AINS
Enzim Enzim siklooksigenase
Lipoksigenase (COX)

Hidroperioksid COX 1 COX 2

Leukotrien
Prostaglandin

Keterangan : AINS : Anti inflamasi Non steroid


f. Pemberian antibodi

Abdussalam Moo 4
TUGAS PATOLOGI

2. Jenis- Jenis Leukosit dan Fungsinya


Sebenarnya leukosit merupakan kelompok sel dari beberapa jenis. Untuk
klasifikasinya didasarkan pada morfologi inti adanya struktur khusus dalam
sitoplasmanya. Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih dapat
dibedakan yaitu :

1. Granulosit, yaitu leukosit yang mempunyai granula spesifik, yang dalam


keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan
mempunyai bentuk inti yang bervariasi. Terdapat tiga jenis leukosit granuler
yaitu neutrofil, basofil,dan asidofil (atau eosinofil) yang dapat dibedakan
dengan afinitas granula terhadap zat warna netral, basa dan asam.
2. Agranulosit Yang tidak mempunyai granula spesifik, sitoplasmanya homogen
dengan inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit
agranuler yaitu limfosit (sel kecil, sitoplasma sedikit) dan monosit (sel agak
besar mengandung sitoplasma lebih banyak).
2.1 Neutrofil
Neutrofil kadang disebut Soldiers of The Body karena merupakan sel
pertama yang dikerahkan ke tempat bakteri masuk dan berkembang dalam tubuh.
Neutrofil merupakan sebagian besar dari leukosit dalam sirkulasi. Biasanya hanya
berada dalam sirkulasi kurang dari 7-10 jam sebelum bermigrasi ke jaringan, dan
hidup selama beberapa hari dalam jaringan. Neutrofil merupakan sel darah putih
yang memiliki inti sel yang terdiri dari lebih dari 2 inti dan memiliki 3-5 granul
halus. Komposisi neutrofil dalam leukosit sebesar 62 %. Mature neutrofil lebih
kecil dari monosit dan memiliki inti tersegementasi dengan beberapa bagian.
Setiap bagian dihubungkan oleh filament kromatin. Sitoplasma dari neutrofil
terlihat transparan dengan butiran-butirn halus yang agak merah muda. Granul
pada neutrofil ada dua yaitu :
- Azurofilik yang mengandung enzym lisozom dan peroksidase.
- Granul spesifik lebih kecil mengandung fosfatase alkali dan zat-zat bakterisidal
(protein Kationik) yang dinamakan fagositin.

Abdussalam Moo 5
TUGAS PATOLOGI

Sitoplasma neutrofil yang banyak diisi oleh granula-granula spesifik


mendekati batas resolusi optic berwarna salmon pink oleh campuran romanovsky.
Neutrofil jarang mengandung retikulum endoplasma granuler, sedikit
mitokondria, aparatus golgi rudimenter, dan sedikit granula glikogen. Neutrofil
merupakan garis depan pertahanan seluler terhadap invasi jasad renik, menfagosit
partikel kecil dengan aktif. Adanya asam amino D oksidase dalam granula
azurofilik penting dalam penceran dinding sel bakteri yang mengandung asam
amino D. Selama proses fagositosis dibentuk peroksidase. Mielo peroksidase yang
terdapat dalam neutrofil berikatan dengan peroksida dan halida bekerja pada
molekultirosin dinding sel bakteri dan menghancurkannya.
Telah ditunjukkan bahwa neutrofil berkaitan dengan patogenesis daripada
beberapa tipe kerusakan pada mukosa lambung termasuk kerusakan akibat
penggunaan obat anti-inflamasi non-steroidal (NSAID), etanol, syok hemoragik,
dan iskemia-reperfusi. Beberapa studi baru-baru ini menunjukkan bahwa NSAID
dapat menyebabkan perlekatan neutrofil pada permukaan endotel pembuluh darah
melalui peningkatan ekspressi molekul adhesi CD11/CD18. Perlekatan neutrofil
pada endotel dapat menyebabkan penurunan aliran darah kapiler dan aktivasi
neutrofil yang akhirnya akan menyebabkan pelepasan radikal bebas. Fenomena ini
dapat menyebabkan kerusakan pada endotel dan kerusakan pada mukosa
lambung. Oleh karena itu, penghambatan dan/atau aktivasi dari perlekatan
neutrofil bukan hanya merupakan mekanisme utama daripada prostaglandin
sebagai sitoprotektor, tetapi juga merupakan peranan fisiologik yang penting
daripada prostaglandin dalam mempertahankan integritas mukosa lambung.
Neutrofil adalah fagosit pertama yang tiba, diikuti oleh monosit darah,
yang berkembang menjadi makrofaga besar dan aktif. Sel-sel yang dirusak oleh
mikroba yang menyerang membebaskan sinyal kimiawi yang menarik neutrofil
dari darah untuk datang. Neutrofil itu akan memasuki jaringan yang terinfeksi,
lalu menelan dan merusak mikroba yang ada disana. (Migrasi menuju sumber zat
kimia yang mengundang ini disebut kemotaksis). Di dalam neutrofil terdapat
enzim lisozim dan laktoferin untuk menghancurkan bakteri atau benda asing
lainnya yang telah difagositosis. Setelah memfagositosis 5-20 bakteri, neutrofil

Abdussalam Moo 6
TUGAS PATOLOGI

mati dengan melepaskan zat-zat limfokin yang mengaktifasi makrofag. Biasanya,


neutrofil hanya berada dalam sirkulasi kurang dari 48 jam karena neutrofil
cenderung merusak diri sendiri ketika mereka merusak penyerang asing.
Neutrofil mempunyai reseptor untuk IgG (Fc-R) dan komplemen.
Neutrofil yang bermigrasi pertama dari sirkulasi ke jaringan terinfeksi dengan
cepat dilengkapi dengan berbagai reseptor seperti TLR (Toll Like Receptor) 2,
TLR 4 dan reseptor dengan pola lain. Neutrofil dapat mengenal pathogen secara
langsung. Ikatan dengan pathogen dan fagositosis dapat meningkat bila antibody
atau komplemen yang berfungai sebagai opsonin diikatnya. Tanpa bantuan
antibody spesifik, komplemen dalam serum dapat mengendapkan fragmen protein
di permukaan pathogen sehingga memudahkan untuk diikat oleh neutrofil dan
fagositosis. Neutrofil menghancurkan mikroba melalui jalur oksigen independen
(lisozim, laktoferin, ROI, enzim proteolitik, katepsin G, dan protein kationik) dan
oksigen dependen.
Mekanisme fagositosis neutrofil dapat digambarkan melalui skema berikut
:

Fagositositik pertama dimulai dengan pembentukan


fogosom reaktif oksigen dan hidrolitik enzim. Konsumsi
oksigen selama reaksi mengaktifkan enzim NADPH
oksidase dalam jumlah yang besar.

Hidrogen peroksida kemudian dikonversi mejadi


hypochlorous yaitu asam HOCL oleh enzim hemo
myeloperioksidase.

Myelo perioksidase berikatan dengan peroksida dan


halide bekerja pada molekul tirosin dinding sel bakteri
dan menghancurkannya.

Abdussalam Moo 7
TUGAS PATOLOGI

Proses penghancuran ini merangsang aktivitas heksosa


monosfat shunt, sehingga meningkatkan glicogenolisis
dan proses glikolisis baik secara aerob dan anaerob

Kemampuan neutrofil untuk melakukan glikolisis


anaerob dapat membunuh bakteri dan membersihkan
debris pada jaringan nekrotik.

Fungsi Neutrofil
1. Neutrofil merupakan garis depan pertahanan seluler terhadap invasi jasad
renik, memfagosit partikel kecil dengan aktif.
2. Mielo peroksidase yang terdapat dalam neutrofil berikatan dengan
peroksida dan halida bekerja pada molekul tirosin dinding sel bakteri dan
menghancurkannya.
3. Neutrofil dapat mengeluarkan produk-produk yang merangsang monosit
dan makrofag ini menyebabkan fagositosis dan sekresinya meningkatkan
pembentukan senyawa oksigen reaktif intraseluler yang terlibat dalam
penghancuran sel bakteri.
2.2 Eosinofil
Jumlah eosinofil hanya 1-4 % leukosit darah, mempunyai garis tengah
9um (sedikit lebih kecil dari neutrofil). Inti biasanya berlobus dua, Retikulum
endoplasma mitokonria dan apparatus Golgi kurang berkembang. Mempunyai
granula ovoid yang dengan eosin asidofkik, granula adalah lisosom yang
mengandung fosfatae asam, katepsin, ribonuklase, tapi tidak mengandung lisosim.
Kandungan profibrinolisin berperan mempertahankan darah dari pembekuan
khususnya bila keadaan cairnya diubah oleh proses patologi. Kortikosteroid akan
menurunkan eosinofil dalam darah dengan cepat. Sel transparan eosinofil

Abdussalam Moo 8
TUGAS PATOLOGI

menyerupai batu bata, merah dengan eosin menggunakan metode romanovsky.


Dalam individu normal berjumlah sekitar 1-6 % dari sel-sel darah putih dan
ukurannya sekitar 12-17 mikrometer. Ditemukan banyak di medulla dan
pertemuan antara korteks dan medula dari timus, juga dalam saluran pencernaan
bagian bawah, ovarium, rahim, limfa, kelenjar getah bening, tapi tidak dalam
paru-paru, kulit, kerongkongan atau beberapa organ internal lainnya dalam
kondisi normal. Eosinofil bertahan dalam sirkulasi selama 8-12 jam dan dapat
bertahan hidup dalam jaringan untuk tambahan 8-12 hari tanpa adanya stimulasi.
Eosinofil berkembang dan matang dalam sumsum tulang Eosinofil mempunyai
pergerakan amuboid, dan mampu melakukan fagositosis, lebih lambat tapi lebih
selektif dibanding neutrifil. Eosinofil memfagositosis komplek antigen dan anti
bodi, ini merupakan fungsi eosinofil untuk melakukan fagositosis selektif
terhadap komplek antigen dan antibody. Kortikosteroid akan menimbulkan
penurunan jumlah eosinofil darah dengan cepat.
Peningkatan eosinofil di sirkulasi darah dikaitkan dengan keadaan-keadaan
alergi dan infeksi parasit internal (contoh, cacing darah atau Schistosoma
mansoni). Walaupun kebanyakan parasit terlalu besar untuk dapat difagositosis
oleh eosinofil atau oleh sel fagositik lain, namun eosinofil dapat melekatkan diri
pada parasit melalui molekul permukaan khusus, dan melepaskan bahan-bahan
yang dapat membunuh banyak parasit. Selain itu, eosinofil juga memiliki
kecenderungan khusus untuk berkumpul dalam jaringan yang memiliki reaksi
alergi. Kecendrungan ini disebabkan oleh faktor kemotaktik yang dilepaskan oleh
sel mast dan basofil yang menyebabkan eosinofil bermigrasi kearah jaringan yang
meradang.
Mekanisme pengaktivan eosinofil juga dapat digambarkan melalui skema
berikut ;

Eosinofil yang telah matang dalam sum-sum tulang

Bergerak menuju ke

. Daerah yang terkena infeksi cacing dan berinteraksi


dengan kemokin CCL-11 (eotaksin-1) dan CCL-24
(eotaksin-2), CCL-5 dan leukotriene tertentu

Abdussalam Moo 9
TUGAS PATOLOGI

Pada daerah infeksi cacing ini, eosinofil diaktifkan oleh


sitokin tipe-2, dan dibebaskan dari bagian tertentu dari sel T
penolong (TH2); IL-5; GMSCF dan IL-3

Setelah aktivasi oleh rangsangan kekebalan, eosinofil


melepaskan protein degranulate kationik sitotoksis yang
mampu kerusakan jaringan dan disfungsi pada daerah
infeksi cacing dan juga bersifat antiviral.

Fungsi Eosinofil adalah sebagai berikut :


1. Melawan infeksi parasit dan dapat juga memakan kompleks antibody
2. Eosinofil memfagositosis kompleks antigen dan antibody. Ini merupakan
fungsi eonsinofil untuk melakukan fagositosis selektif pada kompleks
antigen dan antibody.
3. Eosinofil mengandung profibrinolisin, diduga berperan mempertahankan
darah dari pembekuan, khususnya bila keadaan cairnya diubaholeh proses-
proses Patologi.
4. Berperan dalam memerangi infeksi virus yang terlihat dari banyaknya
RNAses yang terkandung di dalam butiran dan removal vibrin selama
meradang.
5. Eosinofil bersama dengan sel mast merupakan mediator tanggapan penting
dan asma alergi pathogenesis dan berkaitan dengan bertambah parahnya
penyakit.
6. Berfungsi melawan cacing kolonisasi dan akan sedikit meningkat pada
kehadiran parasit tertentu.
7. Eosinofil juga terlibat dalam proses biologi yaitu perkembangan kelenjar
air susu yang juga berfungsi sebagai sistem imun bagi manusia.
2.3 Basofil

Abdussalam Moo 10
TUGAS PATOLOGI

Jenis sel ini terdapat paling sedikit diantara sel granulosit yaitu sekitar
0.5%, sehingga sangat sulit diketemukan pada sediaan apus. Ukurannya sekitar
10-12 m sama besar dengan netrofil. Kurang lebih separuh dari sel dipenuhi oleh
inti yang bersegmen-segmen ata kadang-kadang tidak teratur. Inti satu, besar
bentuk pilihan irreguler, umumnya bentuk huruf S, sitoplasma basofil terisi granul
yang lebih besar, dan seringkali granul menutupi inti, sehingga tidak mudah untuk
mempelajari intinya.
Granul spesifik bentuknya ireguler berwarna biru tua dan kasar tampak
memenuhi sitoplasma. Granula basofil mensekresi histamin yang berperan dalam
dalam proses alergi basofil merupakan sel utama pada tempat peradangan ini
dinamakan hypersesitivitas kulit basofil.
Granula spesifik (bergaris tengah 0,5 m) yang dipulas secara
metakromatik dengan pewarna dasar dari pewarna darah biasa. Pewarnaan ini
terjadi akibat adanya heparin. Jumlah granula spesifik pada basofil lebih sedikit
dan ukuran lebih tidak teratur daripada granula-granula dari granulosit yang lain.
Ukuran dan bentuk granula itu juga lebih tidak teratur. Granula spesifik basofil
mengandung heparin dan histamin dan sanggup menghasilkan leukotrin, yang
menyebabkan kontraksi lambat pada otot polos. Basofil dapat melengkapi fungsi
sel mast pada reaksi hipersensitif yang cepat dengan bermigrasi (dalam keadaan
khusus) ke dalam jaringan ikat.
Fungsi dari basofil adalah Basofil terutama bertanggung jawab untuk
memberi reaksi alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia
yang menyebabkan peradangan.

2.4 Limfosit
Limfosit adalah sel yang ada di dalam tubuh hewan yang mampu
mengenal dan menghancurkan bebagai determinan antigenik yang memiliki dua
sifat pada respons imun khusus, yaitu spesifitas dan memori. Limfosit memiliki
beberapa subset yang memiliki perbedaan fungsi dan jenis protein yang
diproduksi, namun morfologinya sulit dibedakan. Limfosit berperan dalam
respons imun spesifik karena setiap individu limfosit dewasa memiliki sisi ikatan

Abdussalam Moo 11
TUGAS PATOLOGI

khusus sebagai varian dari prototipe reseptor antigen. Reseptor antigen pada
limfosit B adalah bagian membran yang berikatan dengan antibodi yang
disekresikan setelah limfosit B yang mengalami diferensiasi menjadi sel
fungsional, yaitu sel plasma yang disebut juga sebagai membran imunoglobulin.
Reseptor antigen pada limfosit T bekerja mendeteksi bagian protein asing atau
patogen asing yang masuk sel inang.
Limfosit terletak secara tersebar dalam nodus limfe, namun dapat juaga
dijumpai dalam jaringan limfoid (limpa, tonsil, apendik, bercak payer pada usus
halus, sumsum tulang dan timus). Limfosit dalam tubuh berperan dalam sistem
imun,melalui pembentukan antibody ( imunitas hormonal) dan limfosit teraktivasi
(imunitas sel T) melalui jaringan limfoid.
Pada jaringan limpoid terdapat dua kelompok sel besar, satu kelompok
yaitu limfosit T yang bertanggung jawab dalam pembentukan limfosit teraktivasi
dan kelompok lain yaitu limfosit B bertangung jawab dalam pembentukan
antibodi yang memberikan imunitas hormonal. Walau sel limfosit tubuh berhasal
dari sel batang primitif dalam sumsum tulang yang membentuk limfosit diembrio,
sel tersebut tidak mampu membentuk limfosit T dan antibodi. Sebelum dapat
melakukan hal itu, mereka harus berdifrensiasi lebih lanjut atau diolah lebih dulu.
Kelejar timus melakukan pengolahan terhadap limfosit T
Limfosit T setelah pembentukanya di sumsum tulang, mula-mula bermigrasi ke
kelenjar timus. Di sini limfosit T membelah secara cepat dan dalam waktu yang
bersamaan membentuk keanekaragaman yang ekstrim untuk bereaksi melawan
berbagai antigen yang spesifik. Artinya tiap satu limfosit membentuk reaktivitas
yang spesifik untuk melawan antigen. Kemudian limfosit berikutnya membentuk
spesifitas melawan antigen yang lain. Hal ini terus berlangsung sampai terdapat
bermacam-macam limfosit timus dengan reaktivitas spesifik untuk melawan
jutaan antigen yang berbeda-beda. Berbagai tipe limfosit T yang diproses ini
sekarang meninggalakan timus dan menyebar keseluruh tubuh untuk memenuhi
jaringa limfoid disetiap tempat. Proses ini berlangsung beberapa waktu sebelum
bayi lahir dan selama beberapa bulan setelah bayi lahir.

Abdussalam Moo 12
TUGAS PATOLOGI

Hati dan sumsum tulang melakukan pengolahan terhadap limfosit B


Rincian pengolahan limfosit B sedikit diketahui dari pada yang diketahui
mengenai limfosit T. Pada manusia,limfosit B diketahui diolah lebih dahulu dihati
selama pertengahan kehidupan janin dan disumsum tulang selama masa akhir
janin dan setelah lahir. Nama limfosit B karena mula-mula pengolahannya
ditemukan pada bursa fabrikus dari burung,sehingga dinamakan limfosit B.
Setelah diolah terlebih dulu,limfosit B seperti juga limfosit T, bermigrasi
ke jaringan limfoid diseluruh tubuh dimana mereka menempati daerah yang
sedikit lebih kecil dari pada limfosit T.
Bila antigen spesifik datang berkontak dengan limfosit T dan B di dalam
jaringan limfoid, maka limfosit T menjadi teraktivasi membentuk sel T teraktivasi
dan limfosit B membentuk antibodi. Sel T teraktivasi dan antibodi ini kemudian
bereaksi dengan sangat spesifik terhadap antigen tertentu yang telah mulai
perkembangannya.
Pembentukan antibodi Sebelum terpajan dengan antigen yang
spesifik,kelompok limfosit B tetap dalam keadaan dormant ( tidur ) didalam
jaringan limfoid. Bila ada antigen asing yang masuk,makrofag dalam jaringan
limfoid akan memfagositosis antigen dan kemudian membawanya ke limfosit B
didekatnya. Disamping itu antigen dapat juga dibawanya ke limfosit T pada saat
yang bersamaan. Limfosit B yang spesifik terhadap antigen segera membesar
tampak seperti gambar limfoblas, limfoblas kemudian berdiferensiasi lebih lanjut
untuk membentuk plasmablas ( prekursor dari sel plasma ). Sel plasma yang
matur kemudian menghasilkan antibodi. Antibodi yang disekresi ini kemudian
masuk kedalam cairan linfe dan diangkut ke darah sirkulasi. Proses ini berlanjut
terus selama beberapa hari atau beberapa minggu sampai sel plasma kelelahan dan
mati.
Beberapa limfoblas yang terbentuk oleh pengaktifan kelompok limfosit
B,tidak berlanjut membentuk sel plasma, melainkan membentuk sel limfosit baru.
Sel limfosit baru ini ditambahkan ke limfosit asal. Limfosit B baru ini juga
bersirkulasi keseluruh tubuh untuk mendiami jaringan limfoid ( tetap dalam

Abdussalam Moo 13
TUGAS PATOLOGI

keadaan dormant ). Limfosit ini disebut sel memori. Pajanan berikutnya oleh
antigen yang sama akan menimbulkan respon antibodi yang jauh lebih cepat dan
jauh lebih kuat.
Antibodi merupakan gamma globulin yang disebut imunoglobulin ( Ig ).
Imunoglobulin merupakan sekitar 20% dari seluruh protein plasma. Yang
digolongkan menjadi IgM, IgG, IgA, IgD, dan IgE . Antibodi bersifat apesifik
untuk antigen tertentu. Antibody Reaksi antigen-antibodi membentuk ikatan
komplek,ikatan ini memungkinkan inaktivasi antigen melalui proses fiksasi,
netralisasi, aglutinasi, atau presipitasi.
1. Fiksasi komplemen, terjadi jika bagian molekul antibodi mengikat
komplemen. Ikatan komplemen diaktivasi melalui jalur klasik yang memicu
efek cascade untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat organisme atau
toksin penyusup.Efek yang paling penting meliputi:
A. Opsonisasi. Salah satu produk komplemen ( C3b ) dengan kuat
mengaktifkan fagositosis netrofil dan makrofag,menyebabkan sel ini
menelan bakteri yang telah dilekati komplek antigen-antibodi.
B. Lisis. Kombinasi dari faktor-faktor komplemen multipel mengakibatkan
rupturnya membran plasma bakteri atau penyusup lain dan menyebabkan
isi seluler keluar.
C. Inflamasi. Produk komplemen berkontribusi dalam inflamasi akut melalui
aktivasi sel mast,basofil, dan trombosit darah.
2. Netralisasi terjadi saat antibodi menutup sisi tosik antigen dan menjadikannya
tidak bebahaya.
3. Aglutinasi. ( penggumpalan ) terjadi bila antigen adalah materi partikulat,
seperti bakteri atau sel-sel darah merah.
4. Presipitasi, merubah antigen yang larut ( misal racun tetanus ) menjadi tak laru
dan membentuk presifitan ( endapan )
Pada waktu terpapar dengan antigen yang sesuai, makrofag dalam jaringan
limfoid akan memfagositosis antigen dan membawa ke kelompok sel limfosit T.
Sel limfosit T akan membelah ( berfroliferasi ) dan melepaskan banyak sel T
teraktivasi, kemudian dilepaskan kedalam cairan linfe dan selanjutnya sel sel T ini

Abdussalam Moo 14
TUGAS PATOLOGI

akan dilewatakan ke dalam sirkulasi dan disebarkan keseluruh tubuh melewati


dinding kapiler masuk kedalam ruang jaringan,sekali lagi kembali masuk kedalam
cairan linfe dan darah. Proses ini terus berlangsung bolak balik sepanjang bulan
atau bahkan bertahun-tahun. Sel memori limfosit T juga dibentuk sama seperti sel
memori limfosit B.
Molekul-molekul antigen berikat dengan molekul reseptor pada permukaan
sel T dengan cara yang sama seperti mereka berikatan dengan antibodi. Pada satu
sel T tunggal terdapat sebanyak 100.000 tempat-tempat reseptor.
Telah ditemukan beberapa tipe sel T. Sel ini digolongkan dalam tiga kelompok
utama:
1. Sel T Helper. Merupakan sel T yang paling banyak, sel ini membantu dan
mengatur fungsi sistem imun. Sel-sel ini melakukan hal tersebut dengan
membentuk sel rangkian mediator protein yang disebut limfokin yang bekerja
lain dari sistem imun pada sel sumsum tulang. Bila tidak terdapat sel limfokin
maka sistem imun akan menjadi lumpuh. Pada kenyataan sel T pembantu ini
dihancurkan oleh HIV yang menyebakan tubuh tidak terlindungi oleh infeksi,
oleh karena itu menimbulkan yang sekarang dikenal dengan AIDS. Limfokin
memiliki perangsan yang sangat kuat dalam menyebabkan proliferasi sel T
sitotosik, sel T supresor dan sel plasma dalam pembentukan antibodi.
Limfokin juga mempengaruhi makrofag untuk menimbulkan fagositosis.
2. Sel T sitotosik ( sel T pembiunuh ) mengenali dan menghancurkan sel yang
memperlihatkan antigen asing pada permukaannya, seperti sel kangker, sel
jaringan tranplatasi, dan virus serta beberapa jenis bakteri yang bereproduksi
dalam sel hospes. Sel T sitotosik meninggalkan jaringan limfoid dan
bermigrasi menuju lokasi sel targetnya,disini sel ini mengikat sel target dan
menghancurkannya.
3. Sel T supresor dibandingkan dengan sel-sel yang lain,perihal sel T supresor
ini masih sedikit yang diketahui,namun sel ini mempunyai kemampuan untuk
menekan fungsi sel T sitotosik dan sel T pembantu,menjaga agar tidak terjadi
reaksi imun yang berlebihan yang mungkin saja dapat merusak tubuh itu
sendiri.

Abdussalam Moo 15
TUGAS PATOLOGI

Anatomi Aktivasi Limfosit dapat di jelaskan pada gambar berikut ;

Abdussalam Moo 16
TUGAS PATOLOGI

2.5 Monosit
Monosit (bahasa Inggris: monocyte, mononuclear) adalah kelompok darah
putih yang menjadi bagian dari sistem kekebalan. Monosit dapat dikenali dari
warna inti selnya. Pada saat terjadi peradangan, monosit :
Bermigrasi menuju lokasi infeksi
Mengganti sel makrofaga dan DC yang rusak atau bermigrasi, dengan
membelah diri atau berubah menjadi salah satu sel tersebut.
Monosit diproduksi di dalam sumsum tulang dari sel punca haematopoetik
yang disebut monoblas. Setengah jumlah produksi tersimpan di dalam limpa pada
bagian pulpa.[1] Monosit tersirkulasi dalam peredaran darah dengan rasio plasma
3-5% selama satu hingga tiga hari, kemudian bermigrasi ke seluruh jaringan
tubuh. Sesampai di jaringan, monosit akan menjadi matang dan terdiferensiasi
menjadi beberapa jenis makrofaga, sel dendritik dan osteoklas.
Umumnya terdapat dua pengelompokan makrofaga berdasarkan aktivasi
monosit, yaitu makrofaga hasil aktivasi hormon M-CSF dan hormon GM-CSF.
Makrofaga M-CSF mempunyai sitoplasma yang lebih besar, kapasitas fagositosis
yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap infeksi virus stomatitis vesikular.
Kebalikannya, makrofaga GM-CSF lebih bersifat sitotoksik terhadap sel yang
tahan terhadap sitokina jenis TNF, mempunyai ekspresi MHC kelas II lebih
banyak, dan sekresi PGE yang lebih banyak dan teratur. Setelah itu, turunan jenis
makrofaga akan ditentukan lebih lanjut oleh stimulan lain seperti jenis hormon
dari kelas interferon dan kelas TNF.
Stimulasi hormon sitokina jenis GM-CSF dan IL-4 akan mengaktivasi
monosit dan makrofaga untuk menjadi sel dendritik.
Selama hematopoeisis dalam sum-sum tulang, sel progenitor
granulosit/monosit berdiferensiasi menjadi premonosit yang meninggalkan sum-
sum tulang dan masuk ke dalam sirkulasi untuk selanjutnya berdiferensiasi
menjadi monosit matang dan berperan dalam berbagai fungsi. Monosit adalah
fagosit yang didistribusikan secara luas sekali di organ limfoid dan organ lainnya.
Monosit berperan sebagai APC (Anti gen Precenting Cell), mengenal,
menyerang mikroba dan sel kanker dan juga memproduksi sitokim, mengerahkan

Abdussalam Moo 17
TUGAS PATOLOGI

pertahanan sebagai respons terhadap infeksi. Monosit memproduksi IL-1,IL-6


dan TNF- yang dapat menginduksi panas dan produksi protein fase akut di hati,
memodulasi produksi seng (Zn) dan tembaga, menginduksi produksi hormon
kortikotropik adrenal dalam otak dan mempengaruhi metabolism. Monosit juga
berperan dalam remodeling dan perbaikan jaringan. Fungsi dari monosit dapat di
lihat pada gambar berikut

Abdussalam Moo 18
TUGAS PATOLOGI

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Baratawidjaja, K. 2009. Immunologi Dasar, Edisi 8. Halaman 61-62, 96, 257-284


Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2007. Farmakologi Dan Terapi,


Edisi 5. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Website

Anonim, 2013. Peptic Ulcer Disease, Penghambatan Pembentukan Asam


Arakidonat oleh obat Anti Inflamasi. Online (Available as)
http://www.scribd.com/doc/74727860/Peptic-Ulcer-Disease. Halaman: 12.
Jakarta: Diakses pada tanggal 4 Juni 2013

Anonim, 2012. Proses peradangan. Online (Available as). http://agus-


sadrak.blogspot.com/2012/04/proses-peradangan.html. Jakarta: Diakses pada
tanggal 7 April 2012.

Anonim, 2013. Fungsi dan macam-macam sel darah putih. Online (Available
as). http://budisma.web.id/materi/sma/kelas-xi-biologi/fungsi-dan-macam-
macam-sel-darah-putih-leukosit/ Jakarta: Diakses pada tanggal 13 Mei 2013.

Anonim, 2012. Immunitas Tubuh dan fungsi dari limfosit. Online (Available
as). http://www.damandiri.or.id/file/muhamadsamsiipbbab2.pdf. Halaman: 1-2
Jakarta: Diakses pada tanggal 1 Maret 2012.

Abdussalam Moo 19