Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM KIMIA PRODUK ALAM

JALUR ASETAT-MALONAT

DISUSUN OLEH :

Golongan/Kelas : II / c
Kelompok :3
Nama Anggota : Isti Fatimah (FA/
Ivan Antony K (FA/10448)
Natalia Kristanti (FA/10454)
Pratiwi Saputri (FA/10457)
Tanggal Praktikum : 7 September 2017

LABORATORIUM KIMIA PRODUK ALAM


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER
JALUR ASETAT-MALONAT
DENGAN METODE KLT

A. Tujuan
Praktikan dapat mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder jalur asetat-malonat dengan
metode kromatografi lapis tipis.

B. Alat dan Bahan

Alat: Bahan:
Pipa kapiler Larutan sampel getah Aloe vera
Gelas kaca dan cawan Petri Larutan sampel Rhei radix
Tabung reaksi Larutan KOH etanolik 10%
Kertas saring dan corong Larutan pembanding antron dan istizin
Lampu UV 254 dan 366 Etanol
Kamera Fase gerak Etil asetat : metanol : air (100:13,5:10)
Plat Silika F 254 Fase gerak Toluen : etil asetat : metanol (5:1,5:3,5 v/v)
Pensil warna Metanol
Waterbath Asam klorida
Penggaris Etil asetat
Cawan porselen
Pipet tetes
Penjepit tabung reaksi

C. Cara Kerja
a. Aloin

Dilakukan penyiapan ekstrak dan larutan standar baku oleh laboran.



Dilakukan penyiapan plat KLT dengan memberi tanda batas awal dan akhir elusi menggunakan
pensil 2B.

Dilakukan penotolan: standar baku antron sebanyak 1 (satu) kali penotolan, ekstrak aloe vera
terhidrolisis dan aloe vera tidak terhidrolisis masing-masing sebanyak 3 (tiga) kali penotolan.

Dilakukan pengamatan plat KLT hasil penotolan menggunakan lampu UV 254nm dan 365nm.

Dilakukan elusi dalam chamber dengan perbandingan pelarut Etil Asetat (100) : Metanol (17) : Air
(13).

Dilakukan pengamatan plat KLT hasil elusi menggunakan lampu UV 254nm dan 365nm.

Dilakukan deteksi bercak dengan penyemprotan plat KLT hasil elusi menggunakan KOH etanolik
10%.

Dilakukan pengamatan plat KLT hasil penyemprotan menggunakan lampu UV 254nm dan 365nm.

Dilakukan penghitungan Rf dan interpretasi bercak.

b. Emodin

Dilakukan penyiapan ekstrak dan larutan standar baku oleh laboran.



Dilakukan penyiapan plat KLT dengan memberi tanda batas awal dan akhir elusi menggunakan
pensil 2B.

Dilakukan penotolan: standar baku antron sebanyak 1 (satu) kali penotolan, ekstrak rhei radix
terhidrolisis dan rhei radix tidak terhidrolisis masing-masing sebanyak 3 (tiga) kali penotolan.

Dilakukan pengamatan plat KLT hasil penotolan menggunakan lampu UV 254nm dan 365nm.

Dilakukan elusi dalam chamber dengan perbandingan pelarut Toluen (5) : Etil Asetat (1,5) : Metanol
(3,5).
D. Hasil Percobaan
KLT Rhei sebelum disemprot KLT Rhei dan Aloe sebelum disemprot di uv 254
KLT Rhei dan Aloe sebelum disemprot di uv 366 KLT Aloe sesudah semprot di uv 254

KLT Aloe sesudah disemprot dengan sinar UV 366 KLT Rhei setelah disemprot dengan
sinar uv 254

KLT Rhei tampak setelah disemprot KLT Aloin tampak setelah

dan sebelum disemprot


E. PEMBAHASAN
Tujuan dari percobaan ini adalah dapat mengidentifikasi senyawa yang terkandung pada
sampel getah Aloe vera dan sampel Rhei radix dengan cara kromatografi lapis tipis (KLT) dan
dapat memahami cara memisahkan metabolit sekunder dari jalur biosintesis asetat malonat serta
cara identifikasi metabolit sekunder dengan KLT. Kandungan senyawa yang akan diidentifikasi
ada praktikum ini adalah aloin dan emodin. Senyawa pembanding yang digunakan adalah antron.
Sedangkan bahan yang diperiksa adalah getah Aloe vera atau jadam arab yang mengandung aloin
dan Rhei radix yang mengandung emodin.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah prosedur analisis yang teknik pengerjaannya
cukup sederhana, cepat, dan murah sehingga memberikan ahli kimia jawaban yang cepat tentang
berapa banyak komponen dalam suatu campuran sampel yang dianalisis. KLT juga dapat
digunakan untuk mendukung identitas senyawa dalam campuran ketika Rf senyawa
dibandingkan dengan Rf senyawa yang dikenal. Sebuah plat KLT biasanya dibuat dari lembaran
kaca, logam, atau plastic dengan ukuran tertentu dan permukaan yang rata yang dilapisi dengan
fase diam berupa lapisan tipis adsorben padat (biasanya silica atau alumina).
Pada Kromatografi Lapis Tipis, sampel yang akan dianalisis dilarutkan pada pelarut yang
sesuai kemudian sampel dan pembanding ditotolkan dalam bentuk titik atau pita pada permukaan
fase diam. Setelah penotolan, sebaiknya plat diamati di bawah sinar UV untuk mengetahui
apakah sampel dan pembanding yang ditotolkan sudah dapat diampati. Plat KLT kemudian
dicelupkan pada fase gerak di dalam chamber tertutup. Perlu diperhatikan agar totolan sampel
tidak ikut tercelup dalam fase gerak karena hal ini akan menyebabkan sampel dan pembanding
dapat terlarut pada fase gerak dan tidak terjadi pemisahan. Fase gerak atau eluen perlahan-lahan
akan bergerak ke atas plat KLT mengikuti gaya kapiler hingga batas elusi yang telah ditentukan.
Prinsip pemisahan komponen pada teknik KLT didasarkan atas perbedaan kekuatan
interaksi masing-masing komponen dengan fase gerak dan fase diam. Suatu komponen yang
kepolarannya lebih sama dengan fase diam akan berinteraksi lebih kuat dengan fase diam
sehingga memiliki kecepatan migrasi yang lebih lambat. Akibatnya, jarak migrasi senyawa
tersebut lebih pendek. Jika kepolaran komponen lebih sama dengan fase gerak, komponen
tersebut akan lebih kuat interaksinya dengan fase gerak sehingga lebih mudah terbawa dan
menghasilkan kecepatan migrasi yang lebih cepat serta jarak migrasi yang lebih panjang. Ketika
fase gerak telah mencapai batas yang ditentukan, plat diangkat dari ruang elusidasi kemudian
diangin-anginkan sebentar di udara. Senyawa hasil identifikasi divisualisasikan dengan detector
yang sesuai (UV, sinar tampak, pereaksi kimia). Jika senyawa merupakan senyawa yang
berwarna, visualisasi cukup dilakukan dengan sinar tampak. Namun kebanyakan senyawa
organik yang diidentifikasi merupakan senyawa tidak berwarna, sehingga perlu dilakukan
visualisasi lebih lanjut dengan menggunakan lampu UV baik pada gelombang pendek maupun
gelombang panjang.
Pengamatan di bawah sinar UV gelombang pendek (254 nm) dan gelombang panjang
(366 nm) dimaksudkan agar dapat menampakan senyawa sebagai bercak yang berwarna gelap
(UV 254 nm) dan untuk menampakkan bercak yang berfluorosensi sehingga pada pengamatan
terlihat bercak berpendar (UV 366 nm). Keuntungan menggunakan sinar UV untuk
memvisualisasikan bercak adalah sinar UV tidak merusak senyawa yang dideteksi. Cara
pemvisualisasian dengan penyemprotan menggunakan asam sulfat dan pemanasan dilakukan
untuk mengoksidasi senyawa-senyawa organik yang tampak sebagai bercak hitam kecoklatan.
Adanya warna hitam kecoklatan menunjukkan adanya senyawa organik pada sampel.
Dalam teknik KLT, perbandingan jarak rambat bercak senyawa sampel terhadap jarak
rambat fase gerak diukur dari titik penotolan dinyatakan sebagai Rf. Identifikasi senyawa diamati
dengan menghitung dan membandingkan harga Rf antara senyawa pembanding dan senyawa
sampel. Jika harga Rf senyawa sampel sama dengan harga Rf senyawa pembanding, artinya
senyawa sampel dan pembanding memiliki kepolaran yang mirip, namun bukan berarti bahwa
sampel mengandung senyawa pembanding. Sampel dikatakan mengandung senyawa
pembanding apabila baik harga Rf maupun warna bercaknya sama. Harga Rf bukan merupakan
konstanta fisik karena akan berubah sesuai dengan kondisi percobaan.
Metabolit sekunder adalah senyawa yang disintesis oleh makhluk tumbuhan, mikrobia atau
hewan melewati proses biosintesis yang digunakan untukmenangkal infeksi dan penyakit.
Metabolit ini memiliki aktifitas farmakologi dan biologi. Di bidang farmasi, metabolit sekunder
digunakan dan dipelajari sebagai kandidat obat atau senyawa penuntun (lead compound) untuk
melakukan optimasi agar diperoleh senyawa yang lebih poten dengan toksistas minimal. Adapun
ciri ciri metabolit sekunder adalah :
Tidak terlibat langsung dalam metabolisme/kehidupan dasar : pertumbuhan,
perkembangan dan reproduksi.
Tidak esensial, ketiadaan jangka pendek tidak berakibat kematian. Ketiadaan jangka
panjang mengakibatkan kelemahan dalam pertahanan diri, survival, estetika, menarik
serangga.
Golongan metabolit sekunder distribusi hanya pada spesies pada filogenetik/familia
tertentu.
Seringkali berperan di dalam pertahanan terhadap musuh.
Senyawa organik dengan berat molekul 50 1500 Dalton. Sehingga disebut mikro
molekul.
Penggolongan utama : terpenoid, fenil propanoid, poliketida, dan alkaloid adalah
metabolit sekunder.
Pemanfaatan oleh manusia: untuk obat, parfum, aroma, bumbu, bahan rekreasi dan
relaksasi

(Saifudin, 2014)

Salah satu jalur metabolisme sekunder adalah jalur asetat malonat. Jalur asetat malonat
menghasilkan senyawa senyawa yang terbentuk dari unit unit asetat (C2). Senyawa C2
digolongkan menjadi 2 yakni golongan poliketida dan turunan asam lemak. Asam asetat adalah
building block dan kerangka dasar golongan ini. Sehingga jumlah karbon metabolit sekunder ini
berjumlah 2 dan kelipatannya (C2 x n). Senyawa ini sangat luas distribusinya. Mulai dari dari
makhluk jasad renik, tumbuhan dan vertebrata menghasilkan seyawa golongan ini. Berbagai
golongan antibiotik, asam lemak, bahkan aflatoksin penyebab hepatitis adalah senyawa
poliketida. C2 jika membentuk struktur siklik maka ia menjadi poliketida dan jika membentuk
rantai alifatik panjang maka membentuk kerangka asam lemak (Saifudin, 2014).
(Saifudin, 2014)
Aloe vera mempunyai daun yang tebal berwarna hijau yang diselimuti oleh kutikel.
Daunnya mempunyai panjang sekitar 30 50 cm dan lebar sekitar 10 cm. Tanaman Aloe vera
mempunyai 2 cairan utama : getah kuning yang pahit yang terletak di bawah epidermis daun
yang mengandung konsentrasi tinggi dari antrakuinon yang sudah digunakan sekian lama untuk
katartika dan pencahar; yang kedua adalah gel mucilago bening (IARC MONOGRAPHS, 2016).
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivison : Spermatophyta
Division : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Subclass : Liliidae
Order : Liliales
Family : Aloaceae
Genus : Aloe L.
Species : Aloe vera (L.) Burm. F. (USDA, NRCS,. 2017)
Aloin terkandung dalam banyak spesies Aloe. Aloin merupakan campuran dari dua
diastereomer, yaitu Aloin A (juga disebut dengan barbaloin) dan Aloin B (atau isobarbaloin).
Aloin termasuk glikosida antrakuinon, yang berarti kerangka antrakuinon dimodifikasi dengan
penambahan molekul gula. Aloin mirip dengan aloe emodin, hanya saja tidak mempunyai gula
namun memiliki properti biologis yang sama. (IARC MONOGRAPHS, 2016).

Aloin A (Wagner & Bladt, 2001)

Aloin B (Wagner & Bladt, 2001)


Rhizoma Rhei atau Rhei radix merupakan salah satu anggota dari familia polygonaceae.
Kandungan utama dari Rhei radix adalah turunan hydroxyanthracene (2 5%) termasuk emodin,
physcione, aloe-emodin, dan glikosida krisopanol. Kegunaan dari Rhei radix ini salah satunya
dalam pengobatan konstipasi. Berikut merupakan taksonomi dari Rhei radix :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Sterptophyta
Superdivision : Embryophyta
Division : Tracheophyta
Class : Magnoliopsida
Order : Caryophyllales
Family : Polygonaceae
Genus : Rheum L.
Species : Rheum officinale (Anonim, 2017)

Emodin

Sedangkan untuk senyawa pembanding digunakan Antron. Antron (9,10-dihydro-9-


oxanthracene) adalah salah satu hasil reduksi antrakuinon yang terdapat bebas di alam atau
sebagai glkosida. Antron berwarna kuning pucat, tidak menunjukan fluoresensi dan tidak larut
dalam alkali. (Robinson, 1995)

Antron

Pada praktikum kali ini fase diam yang digunakan adalah silika gel F254 yang
mempunyai arti yaitu plat silika gel tanpa pengikat yang dilapisi oleh flouresin (zat yang dapat
berpendar di bawah sinar UV 254 nm). Pada sinar UV 254 nm, lempeng akan berfluoresensi dan
sampel akan gelap. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan
oleh komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat
energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi.
Penampakan noda pada lampu UV 254 nm adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV
dengan indikator fluoresensi yang terdapat pada lempeng. Pada sinar UV 366 nm, noda akan
berflouresensi dan lempeng akan berwarna gelap. Penampakan noda pada lampu UV 366 nm
adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor yang terikat oleh
auksokrom yang ada pada noda tersebut. Sehingga noda yang tampak pada lampu UV 366 nm
terlihat terang karena silika gel yang digunakan tidak berfluororesensi pada sinar UV 366 nm.
Fase gerak yang digunakan dalam mengidentifikasi aloin dan emodin berbeda. Hal ini
dikarenakan sifat aloin yang lebih polar daripada emodin karena merupakan glikosida dan
memiliki gula. Oleh karena itu, fase gerak yang digunakan untuk mengidentifikasi aloin pun
lebih polar dibandingkan fase gerak yang digunakan untuk mengidentifikasi emodin. Fase gerak
untuk mengidentifikasi aloin adalah campuran etil asetat metanol air dengan perbandingan
100 : 17 : 13. Sedangkan fase gerak yang digunakan untuk identifikasi emodin adalah campuran
toluene etil asetat metanol dengan perbandingan 5 : 1,5 : 3,5 v/v.
Praktikan diberi dua buah plat KLT yang dilapisi silica gel F 254 sebagai fase diam.
Kedua plat telah diberi tanda 1 cm dari dasar plat sebagai titik awal penotolan. Sebelum
dilakukan penotolan larutan pembanding dan sampel, diberi tanda pada titik yang berjarak 5 cm
dari titik awal penotolan sebagai titik batas elusi.
Selanjutnya itu dilakukan penyiapan sampel yang akan diidentifikasi. Larutan sampel yang
dibuat adalah getah Aloe vera dan serbuk Rhei Radix yang diekstraksi dengan methanol dan
dipanaskan di waterbath selama 5 menit. Metanol digunakan sebagai pelarut karena metanol
merupakan pelarut polar sehingga glikosida antrakuinon akan tersari atau tertarik ke dalam
methanol karena glikosida antrakinon juga bersifat polar. Kemudian filtrat dibagi menjadi dua,
bagian pertama akan dilakukan proses hidrolisis asam sebelum ditotolkan pada plat KLT
sedangkan bagian lainnya akan dijadikan sebagai sampel non hidrolisis (langsung ditotolkan).
Hidrolisis sampel dengan asam ini dilakukan untuk memecah ikatan glikosidik sehingga aglikon
dan glikon terpisah. Selanjutnya itu dilakukan penyiapan sampel yang akan diidentifikasi.
Larutan sampel yang dibuat adalah getah Aloe vera dan serbuk Rhei Radix yang diekstraksi
dengan methanol dan dipanaskan di waterbath selama 5 menit. Metanol digunakan sebagai
pelarut karena metanol merupakan pelarut polar sehingga glikosida antrakuinon akan tersari atau
tertarik ke dalam methanol karena glikosida antrakinon juga bersifat polar. Kemudian filtrat
dibagi menjadi dua, bagian pertama akan dilakukan proses hidrolisis asam sebelum ditotolkan
pada plat KLT sedangkan bagian lainnya akan dijadikan sebagai sampel non hidrolisis (langsung
ditotolkan). Hidrolisis sampel dengan asam ini dilakukan untuk memecah ikatan glikosidik
sehingga aglikon dan glikon terpisah.
Proses hidrolisis sampel dilakukan dengan menguapkan pelarut kemudian sampel yang telah
diuapkan pelarutnya dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 3 ml HCL 1 N
kemudian ditutup dengan corong kaca dan kapas basah untuk dilakukan proses hidrolisis dengan
waterbath selama 20 menit. Selanjutnya dilakukan partisi hasil dengan 2 ml etil asetat sebanyak
2 kali. Bagian aglikon yang telah terpisah dari gula setelah dihidrolisis berada pada fase etil
asetat yang akan digunakan untuk proses kromatografi. Pada uji secara non hidrolisis, ekstrak
yang diperoleh langsung ditotolkan pada plat KLT.
Pertama-tama diambil dua buah lempeng KLT F254 untuk masing masing
mengidentifikasi aloin dan juga emodin. Setiap KLT mempunyai panjang 6,5 cm dan lebar 3 cm.
Panjang KLT tersebut dibagi menjadi 3 bagian. Bagian bawah sepanjang 1 cm, kemudian bagian
tengah (yang merupakan jarak pengembangan) sepanjang 5 cm, dan bagian atas sepanjang 0,5
cm. Untuk lebar akan ditotolkan 3 spot sehingga masing masing spot berjarak 1 cm. Spot
paling kiri merupakan pembanding, spot tengah merupakan sampel non hidrolisis (SA) dan spot
paling kanan merupakan sampel hidrolisis (SB). Ketika penyiapan lempeng KLT, bagian putih
atau atasnya tidak boleh tersentuh tangan karena akan mengganggu proses elusi nantinya.
Setelah semua sampel siap, masing-masing plat ditotolkan sampel. Satu plat untuk sampel
hidrolisis dan yang satu lagi untuk sampel non hidrolisis. Pada dua plat ini pembanding yang
digunakan sama yaitu antron . Sampel ditotolkan sebanyak 3 kali.. Tiap kali penotolan harus
ditunggu kering sebelum dilakukan penotolan selanjutnya. Penotolan yang dilakukan harus
menghasilkan titik yang sekecil mungkin agar bercak yang terjadi tidak melebar sehingga tidak
mengurangi derajat pemisahan. Setelah penotolan selesai dilakukan, plat KLT dimasukkan ke
dalam bejana yang telah dijenuhi oleh fase gerak. Bejana harus jenuh agar homogenitas tekanan
uap di dalam bejana sama sehingga kecepatan migrasi fase gerak pada saat elusi akan sama. Jika
kecepatan fase gerak sama, maka kecepatan senyawa ketika elusi pada masing masing plat
akan sama. Memasukkan plat KLT ke dalam fase gerak harus dilakukan dengan segera dan hati-
hati agar fase gerak tidak menguap dan agar bejana tetap jenuh oleh uap fase gerak. Setelah itu
dibiarkan agar fase gerak bergerak ke atas plat hingga batas yang ditentukan.
Setelah fase gerak mencapai batas elusi, plat KLT segera diambil dan dikeringkan di udara. Plat
KLT kemudian diamati dengan sinar tampak, sinar UV 254 nm dan UV 366 nm. Selanjutnya plat
KLT diberi uap ammonia lalu diamati lagi pada sinar tampak dan UV 366 nm. Kemudian
visualisasi dilanjutkan dengan penyemprotan KOH-Etanolik 10% dan kembali dilakukan
pengamatan dibawah sinar tampak serta UV 366 nm. Bercak yang tidak tervisualisasikan dapat
lebih jelas terlihat setelah diberi perlakuan dengan reagen penampak bercak. Dengan
penyemprotan, distribusi pereaksi penampak bercak akan terbentuk secara lebih homogen dan
tidak terlalu tebal. Berikut adalah analisis praktikan setelah dilakukan pengamatan terhadap
sampel:

1. Sampel Aloe vera


Dari percobaan yang dilakukan, untuk sampel Aloe vera yang mengandung Aloin deteksi
menggunakan UV 366 tidak terlihat bercak sama sekali baik untuk pembanding, sampel non
hidrolisis, ataupun sampel hidrolisis baik yang sudah disemprot ataupun yang belum disemprot.
Sedangkan ketika dideteksi menggunakan UV 254 saat sesudah disemprot maupun belum
disemprot terlihat bercak pada sampel yang terhidrolisis maupun yang tak terhidrolisis. Rf nya
yaitu sampel aloin yang terhidrolisis pada UV 254, didapatkan nilai Rf sebesar 0,59 dengan
warna bercak biru sedangkan untuk Rf tak terhidrolisis 0,57, hasil tersebut menunjukkan warna
yang sama dengan standar, sehingga sample punya gugus yang sama yang berikatan dengan
pereaksi kimia, namun memiliki RF yang berbeda dengan pembanding(Rf=0,96) sehingga
dikatakan bahwa sample berbeda dengan pembanding. Menurut literature aloin akan
berfluresensi kuning pada Rf 0,5, sehingga dibandingkan bahwa sampel dengan literatur punya
warna dan Rf yang berbeda, sehingga tidak sesuai teori (Wagner & Bladt, 2001).
2. Sampel Rhei radix
Dari percobaan yang dilakukan, untuk sampel Rhei radix memiliki warna spot elusi yang
seberapa sama dengan standar Emodin, sehingga dalam sampel Rhei radix memiliki gugus yang
sama dalam beriktan dengan pereaksi kimia, namun Rf pembanding( 0,92) dan sampel(0,67)
berbeda, makan belum dikatakan sampel mengandung emodin, tetapi jika sampel dibandingkan
dengan literatur yaitu untuk deteksi uv 366 berwarna kuning terang, uap ammonia akan
berwarna merah,dan KOH etanolik 10% visible pada Rf 0,7 5 (Wagner & Bladt, 2001)
, sedangkan sample mengahasilkan warna pada uap ammonia merah ,lalu penyemprotan KOH
menghasilkan warna sama pada Rf yang sama sehingga jika dibandingkan dengan literatur
sampel sesuai dengan literature.
Dari hasil identifikasi senyawa aloin dan emodin, senyawa pembanding hanya nampak pada
pengamatan emodin jika diamati pada UV 254 nm dan UV 366 nm. Hal ini tidak sesuai teori,
seharusnya bisa diamati juga pada pengamatan aloin dan pada sinar UV 365 nm. Hal ini dapat
terjadi karena jumlah senyawa yang ditotolkan kurang banyak sehingga tidak terelusi dengan
sempurna. Pada sampel Aloe vera didapatkan nilai Rf dari sampel hidrolisis sebesar 0,59 dengan
warna biru sedangkan sampel tidak terhidrolisis Rfnya 0,57 denganwarna biru. Untuk
pembanding berupa antron sebesar 0,96. Hal ini disebabkan karena antron yang sifatnya lebih
non polar dibandingkan dengan aloin sehingga lebih berikatan dengan fase gerak dan
menghasilkan nilai Rf yang lebih besar. Dikarenakan dari hasil percobaan tidak terdapat yang
dapat digunakan untuk membandingkan kandungan aloin maka digunakan literatur untuk
membandingkannya. Aloin akan berfluresensi kuning pada Rf 0,5 (Wagner & Bladt, 2001).
Dalam percobaan menunjukkan warna yang sama dengan standar, sehingga sample punya gugus
yang sama yang berikatan dengan pereaksi kimia, namun memiliki Rf yang berbeda dengan
pembanding sehingga dikatakan belummengandung senyawa aloin.
Sedangkan hasil identifikasi emodin dari simplisia Rhei radix menunjukkan bahwa sampel baik
yang hidrolisis maupun non hidrolisis memiliki nilai warna yang hampir sama dengan
pembanding yaitu biru namun memiliki warna Rf yang berbeda. Warna bercak pada pengamatan
sinar tampak adalah jingga kemerahan. Dalam percobaanadanya perbedaan Rf sampel(hidrolisis:
0,69 ; non hidrolisis : 0,67) dengan pembanding sebesar 0,92, hal tersebut menandakan bahwa
sampel belum bisa dikatakan mengandung emodin.

F. KESIMPULAN
1. Getah Aloe vera menunjukkan warna bercak yang sama dengan pembanding pada identifikasi
sampel hidrolisis dan tidak terhidrolisis, dan Rf berbeda antar sampel dengan pembanding Hal
ini menunjukkan bahwa Aloe vera mempunyai gugus yang sama dengan pembanding. Hasil ini
tidak sesuai teori.
2. Rhei Radix menunjukkan warna bercak yang sama dengan pembanding pada identifikasi
sampel hidrolisis dan non hidrolisis, dan Rf pemanding dengan sampel berbeda Hal ini
menunjukkan bahwa Rhei Radix memiliki gugus yang sama dengan pembanding. Hasil ini tidak
sesuai teori.
G. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2017, Rheum officinale Baill, diakses pada
https://itis.gov/servlet/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=506563# pada 18 September
2017 pukul 22.00 WIB.
IARC MONOGRAPHS, 2016, IARC Monographs on the Evaluation Of Carcinogenic Risks to
Human Volume 108, diakses pada monographs.iarc.fr/ENG/Monographs/vol108/mono108.pdf
pada 18 September 2017 pukul 21.00 WIB.
Robinson, T., 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, Edisi VI, Penerbit ITB, Bandung.
Saifudin, A., 2014, Senyawa Alam Metabolit Sekunder : Teori, Konsep, dan Teknik Pemurnian,
Deepublish Publisher, Yogyakarta.
USDA, NRCS., 2017, Classification for Kingdom Plantae Down to Species Aloe vera (L.) Burm.
f., diakses pada
https://plants.usda.gov/java/ClassificationServlet?source=display&classid=ALVE2 pada 18
September 2017 pukul 21.30 WIB.
Wagner, H., dan Bladt, s., 2001, Plant Drug Analysis: A Thin Layer Chromatography Atlas, Edisi
Kedua, Springer, New York.