Anda di halaman 1dari 13

I. Judul Praktikum : Tumbuhan Belimbing (Averrhoa carambola L.

) dan Sawo
(Manilkara zapota (L.) van Royen) sebagai Reseptor Elektromagnet.

II. Rumusan Masalah


1. Bagaimana konsep reseptor gelombang elektromagnet pada tumbuhan?
2. Apa saja organ dan sel aksesori dari berbagai tumbuhan yang mampu
berfungsi sebagai reseptor gelombang elektromagnetik?
3. Bagaimana berbagai bentuk respon tumbuhan terhadap gelombang
elektromagnetik?

III. Tujuan
1. Mendeskripsikan konsep reseptor gelombang elektromagnet pada tumbuhan.
2. Menentukan organ dan sel aksesori dari berbagai tumbuhan yang mampu
berfungsi sebagai reseptor gelombang elektromagnetik.
3. Mendeskripsikan berbagai bentuk respon tumbuhan terhadap gelombang
elektromagnetik.

IV. Dasar Teori


A. Tanaman Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen)
Tanaman sawo (Manilkara zapota) merupakan famili Sapotaceae yang
banyak dibudidayakan dipekarangan. Sawo (Manilkara zapota) adalah pohon
buah yang dapat berbuah sepanjang tahun. Klasifikasi tanaman sawo sebagai
berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Ebenales
Famili : Sapotaceae
Genus : Manilkara
Spesies : Manilkara zapota
Gambar 1. Tanaman Sawo
(Dokumentasi pribadi)
Sawo manila memiliki pohon yang besar dan rindang, dapat tumbuh
hingga setinggi 30-40 m. Bunga tunggal terletak di ketiak daun dekat ujung
ranting, bertangkai 1-2 cm, menggantung, diameter bunga 1,5 cm, sisi
luarnya berbulu kecoklatan, berbilangan 6. Kelopak biasanya tersusun dalam
dua lingkaran; mahkota bentuk genta, putih, berbagi sampai setengah panjang
tabung (Morton, 1987).
Daun tunggal, terletak berseling, sering mengumpul pada ujung
ranting. Helai daun bertepi rata, sedikit berbulu, hijau tua mengkilap, bentuk
bundar-telur jorong, 1,5-7 x 3,5-15 cm, pangkal dan ujungnya bentuk baji,
bertangkai 1-3,5 cm, tulang daun utama menonjol di sisi sebelah bawah.
Bercabang rendah, batang sawo manila berkulit kasar abu-abu kehitaman
sampai coklat tua. Seluruh bagiannya mengandung lateks, getah berwarna
putih susu yang kental (Morton, 1987).
Buah buni bertangkai pendek, bulat, bulat telur atau jorong, 3-6 x 3-8
cm, coklat kemerahan sampai kekuningan di luarnya bersisik-sisik kasar
coklat yang mudah mengelupas. Berkulit tipis, daging buah lembut, coklat
kemerahan sampai kekuningan. Berbiji 6-12 butir, lonjong pipih, hitam atau
kecoklatan mengkilap, panjang 2 cm, keping biji berwarna putih lilin.
B. Tanaman Belimbing (Averrhoa carambola L.)
Klasifikasi tanaman belimbing sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Geraniales
Famili : Oxalidaceae
Genus : Averrhoa
Spesies : Averrhoa carambola L.

Gambar 2. Tanaman Belimbing


(Dokumentasi pribadi)
Belimbing Manis (Averrhoa carambola) tumbuh dalam bentuk pohon,
berumur panjang (perenial) dengan tinggi 6 9 m. Batang berkayu (lignosus),
berbentuk silindris, tumbuh tegak, berwarna coklat tua, kulit kayu tipis,
permukaan kasar. Percabangan banyak, arah cabang miring ke atas dan
mendatar sehingga membentuk pohon yang rindang.
Daun majemuk, bertangkai panjang, warna hijau tua, bentuk bulat telur,
panjang 4 6 cm, lebar 3 4 cm, helaian daun tipis tegar, ujung meruncing
(acuminatus), pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan
menyirip (pinnate), tidak memiliki daun penumpu, permukaan atas dan bawah
halus. Bunga majemuk, kelopak berbentuk bintang (stellatus), mahkota
berwarna merah jingga, panjang mahkota 8 mm, daun mahkota berlekatan
(gamopetalus).
Buah berlekuk 5 menyerupai bintang, panjang 10 12 cm, buah muda
berwarna hijau setelah tua menjadi kuning, bentuk biji pipih berwarna
coklat tua, berbuah setelah berumur 2 5 tahun. Akar tunggang. Perbanyakan
secara generatif (biji).
C. Handphone
Handphone adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang
mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional
saluran tetap, namun dapat dibawa kemana-mana (portabel, mobile) dan tidak
perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel. Pada
umumnya, handphone juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan
pesan singkat (Short Message Service, SMS). Saat ini Indonesia mempunyai
dua jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System for Mobile
Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access).
Secara umum sistem yang digunakan handphone terbagi menjadi dua yaitu
GSM, yang menggunakan frekuensi 800 MHz, 900 MHz dan 1800 MHz, dan
CDMA yang menggunakan frekuensi 450 MHz, 800 MHz, dan 1900 MHz.
D. Gelombang Elektromagnetik
Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang dapat merambat
walaupun tidak ada medium dan terdiri dari medan listrik dan medan
magnetik, dimana arah getaran vektor medan listrik dan medan magnet saling
tegak lurus. Medan magnet dan medan listrik yang berosilasi akan merambat
melalui ruang dan membawa energi tertentu dari suatu tempat ke tempat lain.
Perambatan gelombang EM pada setiap muatan listrik mempunyai percepatan
dan memancarkan radiasi gelombang EM (Anies, 2009). Radiasi pada
dasarnya adalah suatu cara perambatan energi dari sumber energi ke
lingkungan tanpa membutuhkan medium. Tingkat paparan gelombang EM
dari berbagai frekuensi berubah secara efisien sejalan dengan perkembangan
teknologi yang menimbulkan kekhawatiran bahwa paparan dari gelombang
EM di SUTT ini dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan fisik manusia.
Banyak kalangan menyebutkan bahwa gelombang EM yang dipancarkan oleh
alat-alat listrik dapat menggganggu kesehatan penggguna dan orang-orang
yang berdiri di sekitarnya (Stokley, 1984 dalam Elektro Indonesia, 2000).
V. Metode Praktikum
A. Alat dan Bahan
Alat :
1. Mikroskop
2. Object glass
3. Cover glass
4. Silet
5. Handphone + Operator
6. Alat tulis

Bahan :
1. Daun dan Batang dari tanaman sawo dan tanaman belimbing
2. Air secukupnya

B. Prosedur Percobaan
1. Tentukan 2 pohon yang akan dijadikan sebagai pengamatan.
2. Amati signal yang muncul pada tiap-tiap pohon, ukur signal dengan
menggunakan handphone.
3. Catat hasilnya.
4. Ambil bagian pohon (bagian daun dan bagian batang) pada kedua pohon
5. Buat preparat masing-masing bagian pohon tersebut
6. Amati dibawah mikroskop
7. Pengamatan dilakukan pada bagian epidermis dan asesoris sel yang
terdapat pada bagian daun maupun batang
8. Bandingkan anatomi epidermis dan asesoris sel yang menyusun
masing-masing pohon.
Prosedur Percobaan diatas dapat diringkas dalam bentuk alur sebagai berikut:

Tentukan 2 pohon yang akan dijadikan


sebagai pengamatan

Amati signal yang muncul pada tiap-tiap


pohon, ukur signal dengan menggunakan
handphone

Catat hasilnya lalu ambil bagian pohon


(bagian daun dan bagian batang) pada kedua
pohon

Buat preparat masing-masing bagian pohon


tersebut kemudian amati dibawah mikroskop

Pengamatan dilakukan pada bagian epidermis


dan asesoris sel yang terdapat pada bagian
daun maupun batang, kemudian dibandingkan
anatomi epidermis dan asesoris sel yang
menyusun masing-masing pohon.
VI. Hasil Pengamatan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan mengenai tanaman sebagai
reseptor elektromagnetik, didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil pengamatan Morfologi Tanaman
No Nama Bagian Gambar Keterangan
Tanaman Tanaman
1 Belimbing Batang -Anatomi batang
(Averhoa belimbing
carambola) memiliki derivate
epidermis yaitu
trikom.
-Bagian-bagian
batangnya meliputi
epidermis, korteks,
floem, kambium,
xylem, dan empulur.

Sayatan Melintang
Perbesaran 10 x 10

Daun -Anatomi daun


belimbing memiliki
derivate epidermis
yaitu trikom.
Trikom
-Bagian-bagian
daunnya meliputi
epidermis, jaringan
mesofil, dan trikom.
Epidermis

Jaringan mesofil

Sayatan Melintang
Perbesaran 10 x 10
2. Sawo Batang -Anatomi batang
(Manilkara sawo tidak memiliki
kauki) derivate epidermis.
-Bagian-bagian
batang sawo, yaitu
epidermis, korteks,
cambium, floem,

Sayatan Melintang xilem, dan empulur.

Perbesaran 10 x 10

Daun -Pada daun sawo


memiliki lapisan
kutikula
-Bagian-bagian
irisan melintang
daun sawo yaitu
epidermis dan tulang
Tulang Daun daun

Epidermis

Sayatan Melintang
Perbesaran 10 x 10
Tabel 2. Hasil Pengukuran Sinyal yang Muncul pada Tiap Pohon

Kekuatan Sinyal pada Tanaman

Nama

Kelengkeng
Kayu Putih
No

Belimbing

Glodokan

Trembesi
Kenanga

Mangga

Mahoni

Jambu
Merah
Operator

Dadap
Pucuk

Tiang
Sawo
1 Telkomsel 4 - 4 - 4 4 - - - - - 4

2 Indosat - - 4 2 3 4 4 - 4 2 4 -

3 XL - 4 - - - - 4 - - - - -

4 3 - 4 - - - - 4 4 - - - -

5 Axis - - 4 - 4 - - - - - - -

6 Smartfren 4 - - - - - - - - - - 4

Keterangan :
1= kekuatan sinyal lemah
2= kekuatan sinyal sedang
3=kekuatan sinyal kuat
4= kekuatan sinyal sangat kuat

VII.Analisis
Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 1. menunjukkan bahwa tanaman
belimbing (Averrhoa carambola L.) memiliki derivat epidermis berupa trikoma
pada batang dan daunnya. Sedangkan sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen)
tidak memiliki derivat epidermis pada batangnya tetapi memiliki kutikula yang
juga merupakan salah satu jenis derivat epidermis pada daunnya. Derivat
epidermis lainnya yang pasti ada pada daun tanaman adalah stomata, namun
pada pengamatan yang telah dilakukan tidak dapat ditemukan stomata karena
preparat yang diamati kurang jelas (irisannya kurang tipis). Struktur anatomi
yang ditemukan (terlihat) pada irisan batang belimbing antara lain epidermis,
korteks, floem, kambium, xylem, trikom dan empulur. Sedangkan pada daun
meliputi epidermis, jaringan mesofil, dan trikom. Struktur anatomi yang
ditemukan (terlihat) pada irisan batang Sawo antara lain epidermis, korteks,
cambium, floem, xilem, dan empulur.. Sedangkan pada daun meliputi epidermis
dan tulang daun.
Hasil pengamatan pada tabel 2. dapat diketahui bahwa secara umum kekuatan
sinyal berbagai operator yang muncul ketika berada di bawah pohon
menunjukkan hasil sinyal sedang (2), kuat (3) hingga sangat kuat (4). Dari data
kelas yang diperoleh, kelompok kami melakukan pengamatan kekuatan sinyal
operator indosat dan telkomsel yang muncul ketika berada di bawah pohon
belimbing (Averrhoa carambola L.) dan sinyal operator indosat dan 3 di bawah
pohon Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen).
Pengukuran sinyal operator Indosat, telkomsel dan 3 saat berada di bawah
pohon belimbing dan sawo menunjukkan hasil yang sama yaitu semua
memperoleh nilai sinyal 4 atau kekuatan sinyalnya sangat baik (sangat kuat).

VIII. Pembahasan
Gelombang Elektromagnetik adalah gelombang yang dapat merambat walau
tidak ada medium. Energi elektromagnetik merambat dalam gelombang dengan
beberapa karakter yang bisa diukur, yaitu: panjang gelombang, frekuensi,
amplitudo dan kecepatan.
Gelombang elektromagnetik memiliki rentang spektrum dari sinar gamma
sampai gelombang radio. Banyak aplikasi teknologi yang berdasar konsep
gelombang elektromagnetik ini. Pulsa handphone antara lain dikirim dalam
bentuk gelombang elektromagnetik. Ketika berkomunikasi dengan HP
gelombang suara diubah menjadi gelombang elektromagnetik oleh sistem relay
sehingga pihak yang diajak berkomunikasi dapat mendengar suara. Aplikasi
gelombang elektromagnetik pada berbagai bidang memungkinkan manusia
berbuat banyak. Diantaranya bidang telekomunikasi antar wilayah global,
bahkan menembus ruang angkasa.
Tumbuhan mampu mengurangi pancaran radiasi gelombang
elektromagnetik. Tumbuhan mampu menyerap gelombang elektromagnetik oleh
molekul pigmennya melalui proses fotofisiologi. Tanaman dapat meredam
radiasi gelombang elektromagnetik yang bergantung pada jenis
tumbuh-tumbuhan, ukuran tumbuh- tumbuhan, daya serap tumbuh- tumbuhan
dan jarak dari sumber radiasi.
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaan
sinyal elektromagnetik yang muncul ketika di bawah pohon sawo dan belimbing.
Pada pohon sawo dan belimbing menunjukkan kekuatan sinyal sebesar 4 yang
berarti sinyal tersebut tergolong sangat kuat. Hal ini dikarenakan pohon sawo
dan belimbing yang digunakan relatif masih muda dengan kondisi batang masih
kecil dan daun tidak terlalu rimbun. Semua benda di bumi dipengaruhi oleh
medan magnet termasuk unsur-unsur pada tanaman seperti senyawa organik
dalam sitoplasma dan penyusun jaringan tumbuhan yaitu dengan adanya organ
dan sel aksesori pada pohon sawo dan belimbing. Organ tersebut adalah trikoma
pada bagian daun dan petiolus.
Trikoma adalah derivat epidermis yang merupakan jaringan terluar yang
telah mengalami perubahan struktur atau modifikasi struktur epidermis
(Widhianto, 2010). Modifikasi dapat berbentuk lapisan lilin maupun lapisan
tebal pada permukaan daun. Namun, tidak semua tanaman memiliki trikoma.
Fungsi dari trikoma yaitu sebagai perlindungan tanaman dari kekeringan dan
radiasi gelombang elektromagnetik (Widhianto, 2010).
Daya serap tumbuhan terhadap terhadap pancaran radiasi gelombang
tergantung pada jenis tumbuhan, ukuran tumbuhan dan jarak dari sumber radiasi.
Pada penelitian Hadi, dkk (2011) menunjukkan bahwa semakin banyak
tumbuhan maka semakin kecil radiasi yang diperoleh, namun besar kecilnya
tumbuhan dan jenis tumbuhan juga dapat mempengaruhi. Pada sebatang pohon
yang rimbun dapat menyerap radiasi lebih besar daripada 10 batang pohon yang
ukurannya tidak begitu rimbun, begitu pula dengan jenis tumbuhan misalnya
walaupun ukuran tumbuhannya kecil tetapi mempunyai daya serap radiasi yang
besar.
IX. Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil pengamatan diatas, dapat
disimpulkan bahwa:
1. Konsep reseptor gelombang elektromagnet pada tumbuhan Belimbing (Averrhoa
carambola L.) dan Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) adalah gelombang
sinyal (salah satu bentuk gelombang elektromagnetik) yang dipancarkan oleh
pemancar diterima oleh tumbuhan melalui bagian trikoma sehingga dapat
teredam.
2. Organ tubuh dan sel aksesori pada tumbuhan Belimbing (Averrhoa carambola L.)
dan Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) yang mampu berfungsi sebagai
reseptor gelombang elektromagnetik adalah trikom.
3. Bentuk respon tumbuhan Belimbing (Averrhoa carambola L.) dan Sawo
(Manilkara zapota (L.) van Royen) terhadap gelombang elektromagnetik adalah
dengan meredam gelombang elektromagnetik yang berada bebas di udara.

X. Daftar Pustaka
Anies. 2009. Cepat Tua Akibat Radiasi. Gramedia, Jakarta.
Balerdi, C.F., Crane, J.H., dan Maguire, I. 2008. Sapodilla Growing in the Florida
Home Landscape. <http://edis.ifas.ufl.edu.> Diakses pada tanggal 23
September 2017.
Elektro Indonesia. 2000. Electromagnetik Radiation, the New Book of Popular
Science, Grolier Incorporated.
http://www.elektroindonesia.com/elektro/ener32a.html. Diakses 23
September 2017.
Hadi, I.A, Rida Samdara dan Hesna Nurliana. 2011. Efisiensi Tumbuhan Dalam
Meredam Gelombang Elektromagnetik (Studi Kasus Di SUTT Kota Bengkulu).
Jurnal Online. Universitas Bengkulu.
Morton, J. (1987). Fruits of warm climates. Miami: FL, pp.
Nasir, M. 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
Priadi D, Cahyani Y. 2011. Keanekaragaman varietas belimbing manis (Averrhoa
carambola L.) di Kebun Plasma Nutfah Tumbuhan dan Hewan Cibinong. Berk
Penel Hayati 5A:73-77.
Widhianto, B.D. 2010. Studi Karakter Fisiologi Dan Anatomi Sambung Nyawa
(Gyanura procumbens (L) Merr.) Yang Dipapar Dengan Sinar UV-B. Skripsi.
Institut Pertanian Bogor.

Anda mungkin juga menyukai