Anda di halaman 1dari 7

DISINTEGRASI PAPUA MENUJU PERTARUNGAN

INTERNASIONAL
October 30, 2011 at 3:35pm

Masalah Papua kembali dicoba ditarik ke tingkat internasional. Dua peristiwa yang terpisah telah
memanaskan suasana di Papua. Pertama, bentrokan berdarah di kabupaten Puncak yang dipicu
oleh masalah dalam proses Pilkada. Bentrokan itu menewaskan sekitar 20 orang.

Kedua, serangan yang diduga dilakukan oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka). Penyerangan
pertama terjadi di wilayah Pinai. Sebanyak 16 orang yang diduga OPM melarang pembangunan
tower televisi Papua dilanjutkan. Tak ada korban dalam baku tembak antara polisi dan mereka.
Penyerangan kedua terjadi di wilayah Nafri (1/8).

Awalnya mereka menebang pohon. Ketika satu mobil angkutan berhenti, mereka lalu menyerang
dengan senjata tajam dan senjata api. Akibatnya, empat orang tewas, tiga luka berat dan dua luka
ringan. Tak jauh dari lokasi itu, ditemukan bendera bintang kejora.

Peristiwa kedua ini diduga ada kaitan dengan penyelenggaraan sebuah seminar di London yang
dilakukan oleh ILWP (International Lawyer for West Papua) yang menyerukan kemerdekaan
Papua Barat dari Indonesia. Peristiwa penyerangan itu diduga sebagai dukungan terhadap
seminar yang diselenggarakan oleh ILWP itu.

Ditengarai targetnya adalah untuk mengangkat masalah kemerdekaan Papua pada tingkat
internasional. Di Papua masalah disintegrasi pangkal masalahnya adalah adanya pihak asing
yang terus memanas-manasi, bahkan mendorong terjadinya kegiatan sparatis tersebut. Upaya
disintegrasi ini memang telah dilakukan secara sistematis, dengan cara menginternasionalisasi
isu Papua. Asing, terutama AS, sangat jelas telah merancang upaya pemisahan Papua ini dari
wilayah Indonesia. Hal ini antara lain dibuktikan dengan beberapa fakta berikut:

1. Kehadiran Sekretaris Kedubes Amerika dan utusan Australia, Inggris dan negara asing lainnya
dalam Kongres Papua pada tanggal 29 Mei hingga 4 Juni 2000 yang lalu. Dalam Kongres
tersebut, mereka menggugat penyatuan Papua dalam NKRI yang dilakukan pemerintah Belanda,
Indonesia dan PBB pada masa Soekarno. Menurut Kongres tersebut, bangsa Papua telah
berdaulat sebagai bangsa dan negara sejak 1 Desember 1961. Selanjutnya Kongres meminta
dukungan internasional untuk memerdekakan Papua (Kompas, 5/6/2000).

2. Kasus penembakan yang terjadi di Mile 62-63 Jalan TimikaTembagapura pada 31 Agustus
2002. Peristiwa tersebut merenggut 3 nyawa karyawan Freeport Indonesia, masing-masing 2
warga negara AS dan 1 WNI, serta melukai 11 orang, 1 di antaranya anak-anak. Kasus ini terus
diangkat oleh AS ke dunia internasional. Bahkan FBI dan CIA berdatangan ke Papua untuk
mengusut peristiwa tersebut. Sejak saat itu, persoalan Papua berhasil diangkat oleh AS menjadi
perhatian negara-negara di dunia maupun masyarakat internasional sebagai kasus pelanggaran
HAM.

3. Kongres AS membuat Rancangan Undang-Undang (RUU) 2001 yang memuat masalah Papua
di Amerika pada bulan Juli 2005, yang akhirnya disetujui oleh Kongres AS. RUU tersebut
menyebutkan adanya kewajiban Menteri Luar Negeri AS untuk melaporkan kepada Kongres
tentang efektivitas otonomi khusus dan keabsahan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.

4. Akhir 2005, Kongres AS mempermasalahkan proses bergabungnya Irian Barat (Papua)


dengan Indonesia. Padahal sejarah mencatat, bahwa pendukung utama integrasi tersebut adalah
Amerika sendiri, dimana persoalan Indonesia dianggap sebagai bagian dari masalah AS.

5. Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN), Syamsir Siregar (22/3/2006), menduga ada upaya
LSM yang didanai asing hingga terjadi kerusuhan di Abepura. Wakil dari LSM saat berbicara
bersama seorang anggota Komisi I DPR-RIdalam dialog di salah satu stasiun TV nasional
(22/3/2006)tidak secara tegas menolak hal itu. Ternyata, hingga saat ini pun, ada upaya
sistematis untuk mengadu-domba antarumat beragama di Papua, antara kelompok Muslim
dengan Muslim di satu sisi, dan Muslim dengan non-Muslim di sisi lain. Tulisan International
Crisis Group (ICG), yang dirilis Juni 2008 lalu jelas mengisyaratkan hal ini.

6. Pemberian visa sementara bagi pencari suaka pada 42 aktivis pro-kemerdekaan Papua oleh
Australia. Menteri Imigrasi Australia (23/3/2006) Amanda Vanston mengatakan, Ini didasarkan
pada bukti yang disampaikan oleh individu sendiri serta laporan dari pihak ketiga. Siapa yang
dimaksud pihak ketiga, itu tidak pernah dijelaskan. Namun, umumnya pihak ketiga itu adalah
NGO atau LSM yang didanai oleh asing. Pemberian suaka ini juga merupakan hal penting, sebab
terkait dengan upaya kemerdekaan Papua melalui proses internasionalisasi.
7. Anggota Kongres AS, Eny Faleomavaega, kembali melakukan kunjungan ke Indonesia pada
28/11/2007. Secara khusus Eny melakukan kunjungan ke sejumlah wilayah Papua seperti Biak
dan Manokwari. Alasan yang disampaikan oleh Eny adalah melihat langsung kondisi Papua
setelah enam tahun otonomi khusus (otsus). Jika kita menelaah rangkaian kunjungan dan
aktivitasnya selama ini, kedatangan Eny Faleomavaega ke Papua sebenarnya semakin
mengokohkan opininya, bahwa Papua memang layak untuk merdeka.

8. Pada 16 Juni 2008, ICG mengeluarkan laporan Indonesia: Communal Tensions in


Papua. Di sana ditulis, Konflik Muslim dengan Kristen di Papua dapat meningkat jika tidak
dikelola dengan baik. Kaum Kristen merasa diserang oleh kaum migrasi Muslim dari luar
Papua. Mereka merasa Pemerintah mendukung aktivitas Islam untuk mengekpansi minoritas
non-Muslim. Kaum Muslim pindahan itu memandang demokrasi dapat diarahkan menjadi tirani
mayoritas sehingga posisi mereka di sana terancam. Laporan ini lebih merupakan propaganda
dan upaya adu domba.

Sementara itu, surat tertanggal 29 Juli 2008 dari 40 anggota Kongres AS yang mereka kirim
kepada Presiden SBY, dalam alinea terakhirnya manyatakan, We urge you to take action to
ensure the immediate and unconditional release of Mr. Karma and Mr. Pakage. Any security
officials who mistreated Mr. Karma or who may have employed inappropriate force against
peaceful demonstrators should be prosecuted. Such steps would be an important indicator that
Indonesia, as a member of the UN Human Rights Council, takes its international obligations to
fully respect universally recognized human rights. (Kami mendesak Anda untuk membebaskan
segera dan tanpa syarat Mr. Karma dan Mr. Pakage. Siapapun aparat keamanan yang
memperlakukan Mr. Karma dengan buruk atau mungkin melakukan kekerasan terhadap para
pendemo yang melakukan aksi damai, maka aparat tersebut harus dihukum. Tindakan semacam
itu merupakan indikator penting, bahwa Indonesia sebagai anggota Dewan HAM PBB, telah
melakukan kewajiban internasionalnya untuk benar-benar menghormati HAM yang telah diakui
secara universal).

Surat tersebut ternyata dimuat dan dipuji-puji dalam situs resmi The East Timor and
Indonesia ActionNetwork (ETAN). ETAN adalah LSM internasional asal AS
yang berpengalaman menjadi salah satu arsitek lepasnya Timor Timur dari Indonesia.

Internasionalisasi masalah Papua pada dasarnya memiliki substansi yang sama dengan proses
yang terjadi di Timtim. Intinya mendorong PBB atau dunia internasional untuk meninjau
kembali penggabungan Papua dengan Indonesia. Karena itulah, bisa dipahami adanya
propaganda yang menyatakan Pepera 1969 sebagai sesuatu yang tidak sah. Jika hal itu diterima
oleh PBB dan dunia internasional, maka konsekuensinya rakyat Papua harus diberi hak untuk
menentukan nasib mereka sendiri dan itu artinya harus dilaksanakan referendum. Itulah yang
sesungguhnya menjadi tujuan akhir dari upaya internasionalisasi masalah Papua. Ujung-
ujungnya adalah supaya Papua lepas dari wilayah Indonesia.

Aroma Pertarungan Internasional

Dari apa yang terjadi di seluruh dunia, dimana terdapat kekayaan alam yang besar maka di situ
dipastikan terjadi pertarungan internasional untuk memperebutkan kekayaan itu. Karena itu,
dalam masalah Papua juga terjadi pertarungan kekuatan internasional.

Jika dilihat pada tingkat internasional, selama ini AS menggunakan kasus Papua sebagai alat
penekan. Misalnya, AS menggunakan kasus pelanggaran HAM di antaranya yang terjadi di
Papua untuk sebagai alasan menjatuhkan embargo terhadap TNI. Adapun negara yang secara
terbuka mendukung propaganda kemerdekaan Papua sebenarnya tidak banyak. Hanya beberapa
negara kecil di Pasifik. Tercatat hanya negara Solomon, Nauru dan Vanuatutiga negara
kecildi Pasifik yang terang-terangan mendukung kemerdekaan Papua. Bahkan berbagai
gerakan separatis OPM secara legal telah membuka perwakilan di Vanuatu, memanfaatkan
gerakan melanesian brotherhood.

Di sisi lain Australia memiliki sikap terbuka yang berubah-ubah mengikuti partai yang berkuasa.
Dukungan dari pihak-pihak di Australia diberikan oleh beberapa senator, akademisi dan
beberapa orang dari kalangan media. Dukungan pemerintah Australia terlihat menguat ketika
Partai hijau berkuasa. Namun, secara terus-menerus Australia menjadi salah satu basis
propaganda pro kemerdekaan Papua. Peran Australia ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh
Inggris mengingat secara tradisional para politisi dan kebijakan Australia banyak dipengaruh
oleh Inggris.

Di luar semua itu, Inggris sebenarnya tidak bisa dikatakan terlepas dari pertarungan dalam kasus
Papua. Memang sikap Inggris yang formal adalah mengakui kedaulatan dan keutuhan NKRI
termasuk di dalamnya Papua. Namun, sudah menjadi semacam rahasia umum bahwa meski
sikap formalnya demikian, negara-negara Barat juga kerap menjalankan aktifitas rahasia melalui
dinas intelijennya.
Dalam kasus mencuatnya video penyiksaan di Papua pada tahun lalu, misalnya, kampanye Free
West Papua yang merilis video penyiksaan TNI terhadap anggota Organisasi Papua Merdeka
(OPM), ternyata mendapat dukungan dari politisi Inggris, terutama yang ada di Parlemen. Badan
Intelijen Inggris, Secret Intelligence Service (SIS) atau M16, diduga berada di balik sikap
dukungan parlemen Inggris terhadap kemerdekaan Papua itu.

Begitu pula dukungan Inggris itu tampak dari ditampungnya tokoh kemerdekaan Papua, Benny
Wenda. Benny Wenda yang tinggal di Inggris mendirikan Parlemen Internasional untuk Papua
Barat (IPWP) pada Oktober 2008. Ia mendapat dukungan dari sejumlah politisi, terutama yang
berada di Inggris.

Dia pula yang terlibat aktif atau sebagai penggerak International Lawyer for West Papua (ILWP)
yang pada 2 Agustus lalu menyelenggarakan konferensi propaganda kemerdekaan Papua,
bertempat di East School of the Examination Schools, 75-81 High Street, Oxford dengan
mengusung tema tentang kemerdekaan Papua: West Papua ? The Road to Freedom.

Terkait hal itu, kita harus waspada. Dalam semua pertarungan internasional, yang paling
diuntungkan selalu saja adalah pemain besar, dalam hal ini Inggris dan AS. Sementara kawasan
yang diperebutkan dan penduduknya terus saja menjadi korbannya.

Bahaya Otonomi Daerah mengarah pada ancaman disintegrasi

1. Strategi demokratisasi. Dengan diterapkanya otonomi daerah di Indonesia sejak era


reformasi, tak lepas dari kepentingan asing, yakni sekulerisme global. Wacana otonomi daerah
(diusung Ryas Rasyid) muncul bersamaan dengan ide federalisme (diusung Amin Rais). Wacana
itu mencuat berkat profokasi pihak barat.

2. Kapitalisasi ekonomi. Di berbagai negeri, kepentingan-kepentingan mendorong terjadinya


pelimpahan wewenang ke daerah. Semua ini dilakukan untuk mendorong masuknya kepentingan
swasta yang nantinya diharapkan bisa memberikan devisa yang banyak bagi kas daerah dan
pusat.

3. Ancamana disintegrasi. Paham pelimpahan wewenang yang luas kepada daerah merupakan
politik belah bambu yang telah lama dipupuk sejak zaman penjajahan. Otonomi daearh telah
mengkotak-kotakkan wilayah menjadi daerah basah dan daerah kering. Pengkavlingan ini
semakin ketimpangan pembangunan antara daerah kaya dan daerah miskin. Adanya potensi
sumber daya alam di suatu wilayah juga rawan menimbulkan perebutan dalam menentukan batas
wilayah masing-masing. Konflik horizontal sangat mudah tersulut. Di era OTDA tuntutan
pemekaran wilayah juga semakin kencang dimana-mana. Pemekaran ini telah menjadikan NKRI
terkerat-kerat menjadi wilayah yang berkeping-keping. Satu propinsi pecah menjadi dua-tiga
propinsi, satu kabupaten pecah menjadi dua-tiga kabupaten dan seterusnya. Dari sinilah bahaya
disintegrasi bangsa sanagat mungkin terjadi,bahkan peluangnya semakin besar karena melalui
otonomi daerah campur tangan asing semakin mudah menelusup hingga ke desa-desa.

Solusi Total

Masalah Papua, seperti halnya masalah daerah-daerah lainnya bahkan masalah seluruh negeri
kaum Muslim, tidak pernah bisa dituntaskan di bawah sistem Kapitalisme yang diterapkan saat
ini. Masalah itu hanya akan bisa dituntaskan dengan penerapan syariah Islam secara total.

Dalam hal pengelolaan ekonomi dan kekayaan, Islam menetapkan bahwa kekayaan alam yang
berlimpah depositnya seperti tambang tembaga dan emas di Papua yang saat ini dikuasai
Freeport, ditetapkan sebagai hak milik umum seluruh rakyat tanpa kecuali. Kekayaan itu tidak
boleh dikuasakan atau diberikan kepada swasta apalagi swasta asing. Kekayaan itu harus
dikelola oleh negara yang mewakili rakyat dan hasilnya keseluruhannya dikembalikan kepada
rakyat, di antaranya dalam bentuk berbagai pelayanan kepada rakyat.

Kemudian hasil dari pengelolaan berbagai kekayaan alam itu ditambah sumber-sumber
pemasukan lainnya akan dihimpun dalam kas negara dan didistribusikan untuk membiayai
kepentingan pembangunan dan pelayanan kepada rakyat. Dalam hal pendistribusian itu, yang
dijadikan patokan adalah bahwa setiap daerah akan diberi dana sesuai kebutuhannya tanpa
memandang berapa besar pemasukan yang berasal dari daerah itu. Dalam hal menetapkan
besaran kebutuhan itu, maka yang menjadi patokan adalah kebutuhan riil mulai dari yang pokok
lalu ke yang pelengkap dan seterusnya. Masalah pemerataan dan kemajuan semua daerah juga
diperhatikan. Sebab, Islam mewajibkan negara untuk menjaga keseimbangan perekonomian agar
kekayaan tidak hanya beredar di kalangan orang kaya atau di kalangan tertentu atau di daerah
tertentu saja.

Islam pun mewajibkan negara berlaku adil kepada seluruh rakyat bahkan kepada semua manusia;
tidak boleh ada diskriminasi atas dasar apapun dalam hal pemberian pelayanan dan apa yang
menjadi hak-hak rakyat. Islam pun mengharamkan cara pandang, tolok ukur dan kriteria atas
dasar sektarianisme (suku, etnik, ras, dll).

Semua upaya di atas hanya bisa diwujudkan melalui penerapan Sistem Islam secara total dalam
institusi Khilafah Rasyidah.
Wallahualam bishawab.

Rindy [Korwil SENADA An-nisa Medan]