Anda di halaman 1dari 27

Pengertian Gangguan Bicara dan Bahasa

Gangguan bicara dan bahasa merupakan suatu keterlambatan dalam berbahasa


ataupun bicara dimana jika dilakukan penanganan dini akan sangat menolong anak
dalam masalah bahasa. (Jeniffer Fusco, 2002)
Gangguan bahasa merupakan keterlambatan dalam sektor bahasa yang dialami
oleh seorang anak (Soetjiningsih, 1995).
Bahasa dapat dirumuskan sebagai pengetahuan tentang sistem lambang yang
dipergunakan dalam komunikasi yang dilakukan secara lisan; sedangkan ucapan
atau berbicara adalah memperlihatkan pengetahuan tersebut dalam suatu tingkah
laku yang dapat didengar. Bahasa dapat dipandang sebagai dasar di atas mana
kemudian dibangun kemampuan berbicara tersebut, keduanya akan berkembang
dalam progresi yang beraturan. Kemampuan berbahasa diperlihatkan dengan cara
bagaimana anak merespon petunjuk lisan yang diberikan; gerakan yang
diperlihatkan anak untuk mengkomunikasikan kebutuhan, keinginan serta
penetahuan tenatng lingkungan serta melalui permainan kreatif dan imajinatif.
(Behrman, 1988)

F. Etiologi Gangguan berbicara dan Bahasa


Penyebab kelainan berbahasa bermacam-macam yang melibatkan berbagai faktor
yang dapat saling mempengaruhi, antara lain kemampuan lingkungan, pendengaran,
kognitif, fungsi saraf, emosi, psikologis dan lain sebagainya. Menurut Blager B.F (1981)
membagi penyebab gangguan bicara dan bahasa adalah sebagai berikut :

Penyebab Efek pada perkembangan


bicara
1.Lingkungan
a. Sosial ekonomi kurang a. Terlambat
b. Tekanan keluarga b. Gagap
c. Keluarga bisu c. Terlambat pemerolehan bahasa
d. Dirumah menggunakan bahasa d. Terlambat pemerolehan struktur
bilingual bahasa
2.Emosi
a. Ibu yang tertekan a. Terlambat pemerolehan bahasa
b. Gangguan serius pada orang b. Terlambat atau gangguan
tua perkembangan bahasa
c. Terlambat atau gangguan
c. Gangguan serius pada anak perkembangan bahasa

3.Masalah Pendengaran a. Terlambat/gangguan bicara yang


a. Kongenital permanen
b. Terlambat/gangguan bicara yang
b. Didapat permanen
4.Perkembangan terlambat a. Terlambat bicara
a. Perkembangan lambat b. Terlambat bicara
b. Perkembangan lambat, tetapi
masih dalam batas rata-rata c. Pasti terlambat bicara
c. Retardasi mental

5.Cacat bawaan a. Terlambat dan terganggu


a. Palatoshciziz kemampuan bicaranya
b. Sindrom Down b. Kemampuan bicaranya lebih
rendah
6.Kerusakan otak
a. Kelainan neuromuskular a. Mempengaruhi kemmapuan
mengisap, menelan, mengunyah
dan akhirnya timbul gangguan
bicara dan artikulasi seperti disartia
b. Kelainan sensorimotor b. Mempengaruhi kemampuan
mengisap dan menelan, akhirnya
menimbulkan gangguan artikulasi
c. Palsi serebral seperti dispraksia
c. Berpengaruh pada pernafasan,
makan dan timbul juga masalah
artikulasi yang dapat
mengakibatkan disartia dan
d. Kelainan Persepsi
dispraksia
d. Kesulitan membedakan suara,
mengenal bahasa, simbolisasi,
mengenal konsep, akhirnya
menimbulkan kesulitan belajar
disekolah.

Sedangkan Aram D.M (1987), mengatakan bahwa gangguan bicara pada anak
dapat disebabkan oleh kelainan dibawah ini :
1. Lingkungan sosial anak
Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi dan
perkembangan bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung akan menyebabkan
gangguan bicara dan bahasa pada anak.
2. Sistem masukan/input
Adalah sistem pendengaran, penglihatan dan integritas taktil-kinestetik dari anak.
Pendengaran merupakan alat yang penting dalam perkembangan bicara. Anak deng
otitis media kronik dengan penurunan daya pendengaran akan mengalami
keterlambatan kemampuan menerima ataupun mengungkapkan bahasa. Gangguan
bicara juga terdapat pada tuli oleh karena kelainan genetik dan metabolik (tuli
primer), tuli neurosensorial, (infeksi intra uterin ; sifilis, rubella, tolsoplasmosis,
sitomegalovirus), tuli konduktif seperti akibat malformasi telinga luar, tuli sentral
(sama sekali tidak mendengar), tuli perseptif/afasia sensorik (terjadi kegagalan ,
integrasi arti bicara yang didengar menjadi suatu pengertian yang menyeluruh), dan
tuli psikis seperti pada schizoprenia, autisme infantil, keadaan cemas dan reaksi
psikologis lainnya. Pola bahsa juga akan berpengaruh pada anak dengan gangguan
penglihatan yang berat, demikian juga dengan anak dengan defisit taktil kinestetik
akan tejadi gangguan artikulasi.
3. Sistem pusat bicara dan bahasa
Kelainan susunan saraf pusat akan mempengaruhi pemahaman, inteprestasi,
formulasi dan perencanaan bahasa, juga pada aktifitas dan kemampuan intelektual
dari anak. Gangguan komunikasi biasanya merupakan bagian dari retasrdasi mental,
misalnya pada Sindrom Down.
4. Sistem Produksi
Sistem produksi suara seperti laring, hidung, struktur mulut dan mekanisme
neuromuskular yang berpengaruh terhadap pengaturan nafas untuk berbicara, bunyi
laring, pembentukan bunyi untuk artikulasi bicara melalui aliran udara lewat laring,
faring dan rongga mulut.
Menurut Jeniffer Fusco (2002) etiologi dari gangguan bahasa karena kehilangan
pendengaran, infeksi kronik telinga, stroke atau trauma otak, syndroms, retardasi
mental, riwayat injuri otak selama prenatal, intranatal dan postnatal,
ketidakmampuan untuk memahami dan berbahasa, gangguan proses auditory,
keterlambatan perkembangan pada bayi prematur, kelemahan atau gangguan
motorik, gangguan proses sensory, dan gangguan otot. Dalam penelitiannya, Jeniffer
Fusco menemukan bahwa keterlambatan lebih banyak dialami pada laki-laki
dibandingkan dengan perempuan. Fusco berpendapat bahwa secara umum laki-laki
mempunyai kemampuan nonverbal yang lebih bagus dibandingkan dengan
kemampuan verbal.

G. Klasifikasi dan Tanda Gejala Gangguan Bicara dan Bahasa


Menurut Rutter (dikutip dari Toback C), berdasarkan atas berat ringannya
kelainan bahasa dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Ringan Keterlambatan akuisi dari bunyi Dislalia
kata-kata, bahasa normal.
Sedang Keterlambatan lebih berat dari Disfasia ekspresif
akuisi bunyi kata-kata dan
perkembangan bahasa
terlambat
Berat Keterlambatan lebih berat dari Disfasia reseptif dan
akuisisi dan bahasa, gangguan tuli perseptif
pemahaman bahasa
Sangat berat Gangguan pada seluruh Tuli perseptif dan tuli
kemampuan bahasa sentral

Sedangkan Rapinda Allen (dikutip dari Klein, 1991) berdasar patofisologi membagi
kelainan bahasa pada anak menjadi 6 sub tipe :
r ekspresif
disfraksia verbal
anak mengerti sefala sesuatu yang dikatakan kepadanya, mereka lebih sering
menunjuk daripada bicara
gangguan defisit produksi fonologi
anak bicara dengan kata-kata dan frase yang susah dimengerti bahkan pada orang-
orang yang sering kontak dengannya sehingga menimbulkan rasa marah dan frustasi
bagi si anak.
it represif dan ekspresif
gangguan campuran ekspresif represif
anak berbicara sulit dipahami dengan kalimat yang pendek dan banyak dari
mereka yang autistik.
disfrasia verbal auditori agnosia
anak mengerti sedikit pada apa yang dikatakan kepadanya walaupun kadang-
kadang mereka mengikuti suatu pembicaraan dengan cara lain dan miskin dalam
artikulasi kata-kata.
t bahasa yang lebih berat
gangguan leksikal sintaksis
anak kesulitan dalam menemukan kata-kata yang tepat khususnya saat bercakap-
cakap. Mereka tidak gagap dan tidak menghindar untuk berbicara.
gangguan semantik pragmantik
Anak dapat berbicara lancar tetapi mereka bicara tanpa henti mengenai satu topik.

Aram D.M (1987) dan Towne (1983) gejala-gejala anak dengan gangguan
bahasa adalah sebagai berikut :
1. Pada usia 6 bulan anak tidak mampu memalingkan mata serta kepalanya terhadap
suara yang datang dari belakang atau samping.
2. Pada usia 10 bulan anak tidak memberi reaksi terhadap panggilan namanya
sendiri.
3. Pada usia 15 bulan tidak mengerti dan memberi reaksi terhadap kata-kata jangan,
da-da, dan sebagainya.
4. Pada usia 18 bulan tidak dapa menyebut sepuluh kata tunggal
5. Pada usia 2 bulan tidak memberi reaksi terhadap perintah (misalnya duduk,
kemari, berdiri)
6. Pada usia 24 bulan tidak bisa menyebut bagian-bagian tubuh
7. Pada usia 24 bulan hanya mempunyai perbendaharaan kata-kata yang sangat
sedikit/tidak mempunyai kata-kata huruf z pada frase
8. Pada usia 24 bulan belum mampu mengetengahkan ungkapan yang terdiri ari 2
buah kata.
9. Pada usia 30 bulan ucapannya tidak dapat dimengerti oleh anggota keluarganya
10. Pada usia 36 bulan belum dapat menggunakan kalimat-kalimat sederhana
11. Pada usia 36 bulan tidak bisa bertanya dengan menggunakan kalimat tanya yang
sederhana.
12. Pada usia 3,5 tahun selalu gagal untk menyebutkan kata akhir (ca untuk cat, ba
untuk ban dan lain-lain)

H. Penatalaksanaan Klien dengan Gangguan Bicara dan bahasa


Deteksi dan penanganan dini pada problem bicara dan bahasa pada anak, akan
membantu anak-anak dan orang tua untuk menghindari atau memperkecil
kemungkinan kelainan pada masa sekolah antara lain yang dengan menggunakan
pemeriksaan DDST.
Parameter penilaian perkembangan dengan DDST
Aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemeriksaan DDSTadalah :
a. Alat yang Digunakan
Alat peraga : benang wol merah, kismis/manik-manik, kubus warna merah-
kuning-hijau- biru, permainan anak, botol kecil, bola tenis, bel kecil, kertas, dan
pensil.
Lembar formulir DDST
Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan
cara menilainya.
b. Prosedur DDST terdiri dari dua tahap, yaitu:
Tahap pertama : secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia 3 6
bulan, 9 12 bulan, 18 24 bulan, 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun.
Tahap kedua : dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan
perkembangan pada tahap pertama kemudian dilarutkan dengan evaluasi diagnostik
yang lengkap.
c. Penilaian
Penilaian apakah lulus (Passed: P), gagal (Fail: F), ataukah anak tidak mendapat
kesempatan melakukan tugas (No Opportunity: N.O). Kemudian ditarik garis
berdasarkan umur kronologis, yang memotong garis horisontal tugas perkembangan
pada formulir DDST. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P
dan berapa yang F, selanjutnya berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasi dalam
normal, abnormal, meragukan (Questionable) dan tidak dapat dites (Untestable).
Abnormal
- Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih
- Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan plus 1 sektor
atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada
yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
Meragukan
- Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih.
- Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang
sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
Tidak dapat dites
Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau
meragukan.
Normal
Semua yang tidak tercantum dalam kriteria tersebut di atas.
Setelah terdeteksi terdapat masalah dalam perkembangan bahasa maka dapat
dicarai penyebabnya. Dengan perbaikan masalah medis seperti tuli konduksi dapat
menghasilkan perkembangan bahasa yang normal pada anak yang tidak retardasi
mental. Sedangkan perkembangan bahasa dan kognitif pada anak dengan gangguan
pendengaran sensoris bervariasi. Dikatakan bahwa anak dengan gangguan fonologi
biasaya prognosisnya lebih baik. Sedangkan gangguan bicara pada anak yang
itelegensinya normal perkembangan bahasanya lebih baik daripada anak yang
retardasi mental. Tetapi pada anak dengan gangguan yang multipel terutama dengan
gangguan pemahaman, gangguan bicara ekspresif atau kemampuan naratif yang
tidak berkembang pada usia 4 tahu, mempunyai gangguan bahasa yang menetap
pada usia 5,5 tahun.
Berikut ini penatalaksanaan kelainan bicara dan bahasa menurut Blager (1981) :
Masalah Penatalaksanaan Rujukan
Lingkungan
a. Sosek rendah Meningkatkan stimulasi Kelompok BKB (Bina
Keluarga dan Balita) atau
kelompok bermain.
b. Tekanan Mengurangi tekanan Konseling keluarga
Keluarga
c. Keluarga bisu Meningkatkan stimulasi Kelompok BKB
d. Bahasa Bilingual Menyederhanakan masukan Ahli, terapi wicara
bahasa

Emosi
a. Ibu yang Meningkatkan stimulasi Konseling,
tertekan kelompok BKB/bermain
b. Gangguan serius Meningkatkan status emosi Psikoterapi
pada keluarga anak
c. Gangguan serius
Meningkatkan status emosi Psikoterapi
anak
Masalah
Pendengaran Monitor dan obati kalau Audiologist/ahli THT
a. Kongenital memungkinkan
b. Didapat Monitor dan obati kalu Audiologist/ahli THT
memungkinkan
Perkembangan
lambat
a. Dibawah rata- Meningkatkan stimulasi Ahli terapi wicara
rata
b. Perkembangan Meningkatkan stimulasi Ahli terapi wicara
terlambat
c. Retardasi mental Maksimalkan potensi Program khusus

Cacat bawaan
a.Palatum sumbing Monitor dan dioperasi Ahli terapi setelah operasi
b. Sindrom Down
Monitor dan stimulasi Rujuk ke ahli terapi
wicara, SLB C, monitor
pendengarannya
Kerusakan otak
a.Kerusakan Atasi masalah makan dan Rujuk ke ahli terapi kerja,
neuromuskular meningkatkan kemampuan ahli gizi, ahli patologi wicara
bicara anak Rujuk ke ahli terapi kerja,
b. Sensorimotor Mengatasi masalah makan ahli gizi, ahli terapi wicara
dan meningkatkan
kemampuan bicara anak
Mengoptimalkan Rujuk ke ahli rehabilitasi,
c.Palsi Serebralis kemampuan fisik kogntitif dan ahli terapi wicara
bicara anak
d. Masalah persepsi Mengatasi masalah Rujuk ke ahli patologi
keterlambatan bicara wicara , kelompok BKB
A. PENGERTIAN GANGGUAN BAHASA DAN BICARA
Ada perbedaan antara bicara dan bahasa. Bicara adalah pengucapan, yang menunjukkan
keterampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata. Bahasa berarti menyatakan
dan menerima informasi dalam suatu cara tertentu. Bahasa merupakan salah satu cara
berkomunikasi.
Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk mengerti apa yang dilihat dan apa yang didengar.
Bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual
(menulis, memberi tanda) atau auditorik. Seorang anak yang mengalami gangguan
berbahasa mungkin saja dapat mengucapkan suatu kata dengan jelas tetapi ia tidak dapat
menyusun dua kata dengan baik.
Sebaliknya, ucapan seorang anak mungkin sedikit sulit untuk dimengerti, tetapi ia dapat
menyusun katakata yang benar untuk menyatakan keinginannya. Masalah bicara dan bahasa
sebenarnya berbeda tetapi kedua masalah ini sering kali tumpang tindih.
Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi, masalah suara, masalah
kelancaran berbicara (gagap), afasia (kesulitan dalam menggunakan katakata, biasanya
akibat cedera otak) serta keterlambatan dalam bicara atau bahasa. Keterlambatan bicara dan
bahasa dapat disebabkan oleh berbagai faktor termasuk faktor lingkungan atau hilangnya
pendengaran.
Gangguan bicara dan bahasa juga berhubungan erat dengan area lain yang mendukung
seperti fungsi otot mulut dan fungsi pendengaran. Keterlambatan dan gangguan bisa mulai
dari bentuk yang sederhana seperti bunyi suara yang tidak normal (sengau, serak) sampai
dengan ketidakmampuan untuk mengerti atau menggunakan bahasa, atau ketidakmampuan
mekanisme oralmotor dalam fungsinya untuk bicara dan makan.
Gangguan perkembangan artikulasi meliputi kegagalan mengucapkan satu huruf sampai
beberapa huruf. Sering terjadi penghilangan atau penggantian bunyi huruf itu sehingga
menimbulkan kesan bahwa bicaranya seperti anak kecil. Selain itu juga dapat berupa
gangguan dalam pitch, volume atau kualitas suara.
Afasia yaitu kehilangan kemampuan untuk membentuk kata-kata atau kehilangan
kemampuan untuk menangkap arti kata-kata sehingga pembicaraan tidak dapat
berlangsung dengan baik. Anakanak dengan afasia didapat memiliki riwayat perkembangan
bahasa awal yang normal, dan memiliki onset setelah trauma kepala atau gangguan
neurologis lain (sebagai contohnya kejang).
Gagap adalah gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara.
Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata, atau suatu bloking yang spasmodik, bisa
terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti lidah, bibir, dan laring. Terdapat
kecenderungan adanya riwayat gagap dalam keluarga. Selain itu, gagap juga dapat
disebabkan oleh tekanan dari orang tua agar anak bicara dengan jelas, gangguan
lateralisasi, rasa tidak aman, dan kepribadian anak.
Stimulasi yaitu kegiatan merangsang kemampuan dasar anak agar anak tumbuh dan
berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan
terus menerus pada setiap kesempatan yang dapat dilakukan oleh ibu, ayah, pengasuh,
maupun orangorang terdekat dalam kehidupan seharihari. Kurangnya stimulasi dapat
menyebabkan gangguan yang menetap.

Gangguan bicara menurut para ahli adalah sebagai berikut :


1. Menurut Van Riper
Berbicara dikatakan terganggu bila berbicara itu sendiri membawa perhatian yang tidak
menyenangkan pada si pembicara, komunikasi itu sendiri terganggu, atau menyebabkan si
pembicara menjadi kesulitan untuk menempatkan diri (terlihat aneh, tidak terdengar jelas,
dan tidak menyenangkan).
2. Menurut Berry and Eisenson
Gangguan pada berbicara: (1) Tidak mudah didengar, (2) Tidak langsung terdengar dengan
jelas, (3) Secara vocal terdengar tidak enak, (4) Terdapat kesalahan pada bunyi-bunyi
tertentu, (5) bicara itu sendiri sulit diucapkannya, kekurangan nada dan ritme yang normal,
(6) Terdapat kekurangan dari sisi linguistik, (7) Tidak sesuai dengan umur, jenis kelamin,
dan perkembangan fisik pembicara, dan (8) Terlihat tidak menyenangkan bila ia berbicara.

B. PROSES FISIOLOGIS BICARA


Menurut beberapa ahli komunikasi, bicara adalah kemampuan anak untuk berkomunikasi
dengan bahasa oral (mulut) yang membutuhkan kombinasi yang serasi dari sistem
neuromuskular untuk mengeluarkan fonasi dan artikulasi suara. Proses bicara melibatkan
beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur
bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak dan struktur
artikulasi, resonansi dari mulut serta rongga hidung.
Terdapat 2 hal proses terjadinya bicara, yaitu proses sensoris dan motoris. Aspek sensoris
meliputi pendengaran, penglihatan, dan rasa raba berfungsi untuk memahami apa yang
didengar, dilihat dan dirasa. Aspek motorik yaitu mengatur laring, alat-alat untuk artikulasi,
tindakan artikulasi dan laring yang bertanggung jawab untuk pengeluaran suara.
Di dalam otak terdapat 3 pusat yang mengatur mekanisme berbahasa, dua pusat bersifat
reseptif yang mengurus penangkapan bahasa lisan dan tulisan serta satu pusat lainnya
bersifat ekspresif yang mengurus pelaksanaan bahsa lisan dan tulisan. Ketiganya berada di
hemisfer dominan dari otak atau sistem susunan saraf pusat.
Kedua pusat bahasa reseptif tersebut adalah area 41 dan 42 disebut area wernick,
merupakan pusat persepsi auditoro-leksik yaitu mengurus pengenalan dan pengertian
segala sesuatu yang berkaitan dengan bahasa lisan (verbal). Area 39 broadman adalah pusat
persepsi visuo-leksik yang mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang
bersangkutan dengan bahasa tulis. Sedangkan area Broca adalah pusat bahsa ekspresif.
Ketiga pusat tersebut berhubungan satu sama lain melalui serabut asosiasi.
Saat mendengar pembicaraan maka getaran udara yang ditimbulkan akan masuk melalui
lubang telinga luar kemudian menimbulkan getaran pada membrane timpani. Dari sini
rangsangan diteruskan oleh ketiga tulang kecil dalam telinga tengah ke telinga bagian
dalam. Di telinga bagian dalam terdapat reseptor sensoris untuk pendengaran yang disebut
Coclea. Saat gelombang suara mencapai coclea maka impuls ini diteruskan oleh saraf VII ke
area pendengaran primer di otak diteruskan ke area wernick. Kemudian jawaban
diformulasikan dan disalurkan dalam bentuk artikulasi, diteruskan ke area motorik di otak
yang mengontrol gerakan bicara. Selanjutnya proses bicara dihasilkan oleh getaran vibrasi
dari pita suara yang dibantu oleh aliran udara dari paru-paru, sedangkan bunyi dibentuk
oleh gerakan bibir, lidah dan palatum (langit-langit). Jadi untuk proses bicara diperlukan
koordinasi sistem saraf motoris dan sensoris dimana organ pendengaran sangat penting.

C. ETIOLOGI GANGGUAN BAHASA & BICARA


Penyebab kelainan berbicara dan bahasa bisa bermacam-macam yang melibatkan berbagai
faktor yang dapat saling mempengaruhi, antara lain kondisi lingkungan, pendengaran,
kognitif, fungsi saraf, emosi psikologis, dan lain sebagainya.

Gangguan bicara dan bahasa pada anak dapat disebabkan oleh kelainan berikut :
1. Lingkungan sosial dan emosional anak.
Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi dan perkembangan
bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung akan menyebabkan gangguan bicara dan
bahasa pada anak, termasuk lingkungan keluarga. Misalnya, gagap dapat disebabkan oleh
kekhawatiran dan perhatian orang tua yang berlebihan pada saat anak mulai belajar bicara,
tekanan emosi pada usia yang sangat muda sekali, dan dapat juga sebagai suatu respon
terhadap konflik dan rasa takut. Sebaliknya, gagap juga dapat menimbulkan problem
emosional pada anak.
2. Sistem masukan / input.
Gangguan pada sistem pendengaran, penglihatan, dan defisit taktilkinestetik dapat
menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak. Dalam perkembangan bicara,
pendengaran merupakan alat yang sangat penting. Anak seharusnya sudah dapat mengenali
bunyibunyian sebelum belajar bicara. Anak dengan otitis media kronis dengan penurunan
daya pendengaran akan mengalami keterlambatan kemampuan menerima atau
mengungkapkan bahasa. Gangguan bahasa juga terdapat pada tuli karena kelainan genetik
dan metabolik (tuli primer), tuli neurosensorial (infeksi intrauterin : TORCH), tuli konduksi
seperti akibat malformasi telinga luar, tuli sentral (sama sekali tidak dapat mendengar), tuli
persepsi/afasia sensorik (terjadi kegagalan integrasi arti bicara yang didengar menjadi suatu
pengertian yang menyeluruh), dan tuli psikis seperti pada skizofrenia, autism infantil,
keadaan cemas dan reaksi psikologis lainnya.
Anak dengan gangguan penglihatan yang berat, akan terganggu pola bahasanya. Pada anak
dengan defisit taktilkinestetik akan terjadi gangguan artikulasi, misalnya pada anak dengan.
anomali alat bicara perifer, seperti pada labioskizis, palatoskizis dan kelainan bentuk
rahang, bisa didapati gangguan bicara berupa disartria.
3. Sistem pusat bicara dan bahasa.
Kelainan pada susunan saraf pusat akan mempengaruhi pemahaman, interpretasi,
formulasi, dan perencanaan bahasa, juga aktivitas dan kemampuan intelektual dari anak.
Dalam hal ini, terdapat defisit kemampuan otak untuk memproses informasi yang komplek
secara cepat. Kerusakan area Wernicke pada hemisfer dominan girus temporalis superior
seseorang akan menyebabkan hilangnya seluruh fungsi intelektual yang berhubungan
dengan bahasa atau symbol verbal, yang disebut dengan afasia Wernicke. Penderita mampu
mengerti kata-kata yang dituliskan atau didengar, namun tak mampu menginterpretasikan
pikiran yang diekspresikan.
Apabila lesi pada area Wernicke ini meluas dan menyebar ke belakang (regio girus angular),
ke inferior (area bawah lobus temporalis), dan ke superior (tepi superior fisura sylvian),
maka penderita tampak seperti benar-benar terbelakang total untuk mengerti bahasa dan
berkomunikasi, disebut dengan afasia global. Bila lesi tidak begitu parah, maka penderita
masih mampu memformulasikan pikirannya namun tidak mampu menyusun katakata yang
sesuai secara berurutan dan bersama-sama untuk mengekspresikan pikirannya.
Kerusakan pada area bicara broca yang terletak di regio prefrontal dan fasial premotorik
korteks menyebabkan penderita mampu menentukan apa yang ingin dikatakannya dan
mampu bervokalisasi namun tak mampu mengatur sistem vokalnya untuk menghasilkan
katakata selain suara ribut. Kelainan ini disebut afasia motorik, kirakira 95% kelainannya di
hemisfer kiri. Regio fasial dan laringeal korteks motorik berfungsi mengaktifkan gerakan
otot-otot mulut, lidah, laring, pita suara, dan sebagainya, yang bertanggung jawab untuk
intonasi, waktu, dan perubahan intensitas yang cepat dari urutan suara. Kerusakan pada
region-regio ini menyebabkan ketidakmampuan untuk berbicara dengan jelas.
Gangguan komunikasi biasanya merupakan bagian dari retardasi mental, misalnya pada
sindrom Down. Pada anak dengan retardasi mental, terdapat disfungsi otak akibat adanya
ketidaknormalan yang luas dari struktur otak, neurotransmitter atau mielinisasi, sehingga
perkembangan mentalnya terhenti atau tidak lengkap, sehingga berpengaruh pada semua
kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
4. Sistem produksi
Sistem produksi suara meliputi laring, faring, hidung, struktur mulut dan mekanisme
neuromuskular yang berpengaruh terhadap pengaturan nafas untuk berbicara, bunyi laring,
pembentukan bunyi untuk artikulasi bicara melalui aliran udara lewat laring, faring dan
rongga mulut.

Penyebab Gangguan Bicara dan Bahasa menurut Blager BF


1. Lingkungan
a. Sosial ekonomi kurang
b. Tekanan keluarga
c. Keluarga bisu
d. Dirumah menggunakan bahasa bilingual
Efek pada perkembangan bicara :
a. Terlambat
b. Gagap
c. Terlambat pemerolehan bahasa
d. Terlambat pemerolehan struktur bahasa

2. Emosi
a. Ibu yang tertekan
b. Gangguan serius pada orang tua
c. Gangguan serius pada anak
Efek pada perkembangan bicara :
a. Terlambat pemerolehan bahasa
b. Terlambat atau gangguan perkembangan bahasa
c. Terlambat atau gangguan perkembangan bahasa

3. Masalah pendengaran
a. Kongenital
b. Didapat
Efek pada perkembangan bicara :
a. Terlambat atau gangguan bicara permanen
b. Terlambat atau gangguan bicara permanent

4. Perkembangan terlambat
a. Perkembangan lambat
b. Perkembangan lambat, tetapi masih dalam batas ratarata
c. Retardasi mental
Efek pada perkembangan bicara :
a. Terlambat bicara
b. Terlambat bicara
c. Pasti terlambat bicara

5. Cacat bawaan
a. Palatoschizis
b. Sindrom Down
Efek pada perkembangan bicara :
a. Terlambat dan terganggu kemampuan bicara
b. Kemampuan bicaranya lebih rendah

6. Kerusakan otak
a. Kelainan neuromuscular
b. Kelainan sensorimotor
c. Palsi serebral
d. Kelainan persepsi
Efek pada perkembangan bicara :
a. Mempengaruhi kemampuan menghisap, menelan, mengunyah dan akhirnya timbul
gangguan bicara dan artikulasi seperti disartria.
b. Mempengaruhi kemampuan menghisap, menelan, akhirnya menimbulkan gangguan
artikulasi, seperti dispraksia.
c. Berpengaruh pada pernapasan, makan dan timbul juga masalh artikulasi yang dapat
mengakibatkan disartria dan dispraksia.
d. Kesulitan membedakan suara, mengerti bahasa, simbolisaasi, mengenal konsep, akhirnya
menimbulkan kesulitan belajar di sekolah.

D. MACAM-MACAM GANGGUAN BICARA


Gangguan bicara pada anak dapat dibagi menjadi :
1. Gangguan bicara kongenital
a. Retardasi mental
Pada umumnya seorang anak dengan gangguan bicara yang nyata terlambat, juga menderita
gangguan intelegensi. Tetapi harus disingkirkan kemungkinan lain seperti gangguan
pendengaran dan sebagainya.
b. Ketulian ( akibat rubela, kernicterus,sindrom turner, osteogenesis imperfecta )
Rehabilitasi harus sedini mungkin dengan alat pendengar dan sekolah luar biasa agar anak
dapat mengenal bunyi-bunyian sebelum belajar bicara.
c. Cerebral palsy
Gangguan bicara pada anak ini mungkin disebabkan olehretardasi mental dan disartria
akibat spastisitas, atetosis, ataksia, korea dan sebagainya. Pertolongan dengan speech
therapy sering dapat menolong bila gangguan intelegensi tidak terlampau berat.
d. Anomali alat bicara perifer ( palatum, bibir, gigi, lidah )
Gangguan bicara berupa disartria terutama pada labioskizis, palatoskizis dan kelainan
bentuk rahang yang hebat. Pada palatoskizis pertolongan dengan speech therapy sebaiknya
dilakukan sedini mungkin sebelum dilakukan pembedahan plastik, agar anak tidak
membiasakan diri berbicara melalui hidung atau menutup lubang palatum dengan menekan
pangkal lidah ke atas, yang akan sukar dikoreksi kemudian, terurtama jika sudah
berlangsung lama. Koreksi bicara sesudah pembedahan harus dilakukan secepatnya.
e. Gangguan perkembangan bicara ( developmental speech disorders ), misalnya
developmental dyslexia, gagap, developmental dysarthria, developmental word deafness,
developmental motor aphasia.
Sebagian besar dasar penyebab dari anak anak dengan kesukaran belajar, kesukaran
membaca da gangguan bicara tidak diketahui, tetapi diduga terdapat sejak lahir. Gangguan
membaca (word blindness), disleksia), gagap, word deafness lebih sering ditemukan pada
keluarga dengan left handedness dan ambidekstri.
a. Developmental dyslexia (Congenital word blindness)
Ganggua terutama dalam membaca dan bukan disebabkan oleh retardasi mental atau
perhatian kurang atau gangguan penglihatan atau neurotik. Kelainan ini sering disertai
gangguan mengeja atau menulis
Reading age biasanya tertinggal 2 tahun daripada mental age. Anak anak ini umumnya
- Tidak dapat mengubah kata kata tertulis menjadi bunyi sehingga pengucapannya menjadi
salah
- Tidak dapat mengubah kata kata yang diucapkan menjadi huruf tertulis
- Mempunyai keinginan membaca dari kanan ke kiri
- Perbandingan antara laki laki dengan wanita adalah 4 : 1. Dari anamnesis sering
ditemukan left handdeness dan ambidekstri dalam keluarga. Pertolongan sukar dengan
speech therapy anak dapat dlatih membaca untuk misalnya mengetahui nama jalan dan
sebagainya
b. Gagap (stuttering)
Kelainan ini merupakan gangguan artikulasi kata-kata. Sering disertai kontraksi otot-otot
muka, tics dan bunyi tambahan sebagai usaha anak untuk memperbaiki bicaranya atau
akibat tekanan emosi.
c. Developmental dysarthria
Gangguan berupa pengucapan yang salah dari konsonan seperti r, sh, t, s, l, c , d dan
sebagainya. Biasanya intelegensi pendengaran dan intelegensi mereka normal. Maka akhirna
mempunyai bahas sendiri yang menyerupai bahasa anak yang yang aru mulai bicara
(disebut idioglosia). Anak dengan kelainan ini dapat di ajar lip reading dengan bak.
Diagnosis banding dari kelainan ini ialah ketulian , austk, retardasi mental.
d. Developmental word deafness
Pada umur anak seharusnya sudah mulai berbicara, anak dengan kelainan ini tidak memberi
reaksi bila diajak bicara dan juga ia tidak mengikuti bunyi-bunyian. Biasanya pendengaran
dan intelegensi mereka normal. Mereka akhirnya mempunyai bahasa sendiri yang
menyerupai bahasa anak yang baru mulai bicara (disebut idiologsia). Anak dengan kelainan
ini dapat diajar lip reading dengan baik. Diagnosa banding dari kelainan ini ialah ketulian,
autistik, retardasi mental.
e. Developmental mmotor aphasia
Biasanya anak dengan kelainan ini dibawa ke dokter karena tidak ada suara sama sekali.
Mereka lebih sering disertai retardasi mental dan hanya kadang-kadang saja ditemukan
dengan intelegensi yang normal.

2. Gangguan bicara didapat


a. Afasia akibat penyakit yang disertai kejang, pascaensefalitis, pascatrauma, neoplasma,
ganggua vaskuler otak, penyakit degeneratif.
Daerah speech pada manusia normal yang menggunakan lengan kanan ialah hemisfer kiri
(hemisfer yang dominan). Akibat kerusakan berat pada daerah bicara tersebut, misalnya
oleh trauma kepala, ensefalitis, tumor, penyakit degeneratif dan sebagainya, dapat timbul
afasia. Pada anak yang masih sangat muda, hemisferektomi tidak menyebabkan afasia. Hal
ini merupakan bukti bahwa pusat bicara dapat berpindah dan berkembang di hemisfer
kanan. Pada anak yang sudah besar dan sudah icara, keadaan tersebut tidak mungkin lagi.
Gangguan bicara ini kadang- kadang terdapat pada anak yang menderita epilepsi.
Pertolongan dengan speech therapy memberikan hasil yang memuaskan.
b. Disartria pada bells palsy (kelumpuhan N.VII perifer), polio mielitis, tumor batang otak,
miastenia gravis, penyakit degeneratif.
Dapat terjadi akibat kelemahan otot- otot oleh penyakit yang mengenai syaraf perifer
seperti Bells palsy, poliomielitis,meastenia grafis dan beberapa penyakit degeneratif seperti
Friedrichs ataxia. Pertolongan terutama ditunjukan kepada penyakit primernya.
c. Psikogenik
Pada gangguan psikologis yang berat baik di rumah maupun yang didapat dari pengalaman
anak yang lalu dapat memperlambat bicara dengan baby talk. Kadang- kadang disatria yang
menyebabkan seseorang anak berbicara berbisik akan tetapi dengan artikulasi yang bik,
mungkin merupakan reaksi konfersi (husteri) dan memerlukan pertolongan psikiater.
d. Sosiokultural
Kadang- kadang gangguan bicara terdapat pada anak yang berasal dari lingkungan yang
kurang di rumah dan disektarnya, yaitu karena stimulasi untuk berbicara tidak cukup
walaupun inteligensi normal. Contohnya ialah anak-anak yang lama tingga di rumah sakit
atau rumah yatim piatu.

E. PATOFISIOLOGI GANGGUAN BAHASA DAN BICARA


Penyebab gangguan bicara dan bahasa sangat banyak dan luas, semua gangguan mulai dari
proses pendengaran, penerus impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Adapun
beberapa penyebab gangguan atau keterlambatan bicara adalah gangguan pendengaran,
kelainan organ bicara, retardasi mental, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutism
selektif, keterlambatan fungsional, afasia reseptif dan deprivasi lingkungan. Deprivasi
lingkungan terdiri dari lingkungan sepi, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran salah,
sikap orangtua. Gangguan bicara pada anak dapat disebabkan karena kelainan organik yang
mengganggu beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik lainnya.
Beberapa penelitian menunjukkan penyebab ganguan bicara adalah adanya gangguan
hemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk ke otak kiri. Beberapa anak juga
ditemukan penyimpangan belahan otak kanan, korpus kalosum dan lintasan pendengaran
yang saling berhubungan. Hal lain dapat juga di sebabkan karena diluar organ tubuh seperti
lingkungan yang kurang mendapatkan stimulasi yang cukup atau pemakaian 2 bahasa. Bila
penyebabnya karena lingkungan biasanya keterlambatan yang terjadi tidak terlalu berat.
Terdapat 3 penyebab keterlambatan bicara terbanyak diantaranya adalah retardasi mental,
gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi ini sering juga
disebut keterlambatan bicara fungsional.

KETERLAMBATAN BICARA FUNGSIONAL


Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering dialami oleh
sebagian anak. Keterlambatan bicara fungsional sering juga diistilahkan keterlambatan
maturasi atau keterlambatan perkembangan bahasa. Keterlambatan bicara golongan ini
disebabkan karena keterlambatan maturitas (kematangan) dari proses saraf pusat yang
dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara pada anak. Gangguan ini sering dialami
oleh laki-laki dan sering tedapat riwayat keterlambatan bicara pada keluarga. Biasanya hal
ini merupakan keterlambatan bicara yang ringan dan prognosisnya baik. Pada umumnya
kemampuan bicara akan tampak membaik setelah memasuki usia 2 tahun. Terdapat
penelitian yang melaporkan penderita keterlambatan ini kemampuan bicara saat masuk usia
sekolah normal seperti anak lainnya.
Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik dan kemampuan pemecahan
masalah visuo-motor anak dalam keadaan normal. Anak hanya mengalami gangguan
perkembangan ringan dalam fungsi ekspresif: Ciri khas lain adalah anak tidak menunjukkan
kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan dan gangguan
psikologis lainnya.
Keterlambatan bicara fungsional pada anak sering dialami penderita yang mengalami
gangguan alergi terutama dermatitis atopi dan saluran cerna. Gangguan saluran cerna
adalah gejala berulang seperti meteorismus, flatus, muntah, konstipasi, diare atau berak
darah. Lidah tampak timbal geographic tounge, drooling (sialore) atau halitosis. Seringkali
disertai gangguan tidur malam, dengan ditandai sering gelisah, bolak, balik, mengigau,
tertawa, menangis dalam tidur, malam terbangun, brushing dan sebagainya.

F. EPIDEMOLOGI
Gangguan bicara dan bahasa dialami oleh 8% anak usia pra sekolah. Hampir sebanyak 20%
dari anak berumur 2 tahun mempunyai gangguan keterlambatan bicara. Keterlambatan
bicara paling sering terjadi pada usia 3-16 tahun. Pada umur 5 tahun, 19% dari anak-anak
diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa (6,4% kelemahan berbicara, 4,6%
kelemahan bicara dan bahasa, dan 6% kelemahan bahasa). Gagap terjadi pada 4-5% pada
usia 3-5 tahun dan 1% pada usia remaja.
Lakilaki diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa hampir dua kali lebih banyak
daripada wanita. Sekitar 3-6% anak usia sekolah memiliki gangguan bicara dan bahasa
tanpa gejala neurologi, sedangkan pada usia pra sekolah prevalensinya lebih tinggi yaitu
sekitar 15%. Menurut penelitian anak dengan riwayat sosial ekonomi yang lemah memiliki
insiden gangguan bicara dan bahasa yang lebih tinggi dari pada anak dengan riwayat sosial
ekonomi menengah keatas.

Cara membedakan berbagai keterlambatan bicara


Dalam membedakan keterlambatan bicara merupakan fungsional atau nonfungsional harus
memahami manifestasi klinis beberapa penyebab keterlambatan bicara. Untuk memastikan
status keterlambatan fungsional harus dengan cermat menyingkirkan gejala keterlambatan
nonfungsional. Gejala umum keterlambatan bicara nonfungsional adalah adanya gangguan
bahasa reseptif, gangguan kemampuan pemecahan masalah visuo-motor dan
keterlambatan perkembangan.
Dicurigai keterlambatan bicara nonfungsional bila disertai kelainan neurologis bawaan atau
didapat seperti wajah dismorfik, perawakan pendek, mikrosefali, makrosefali, tumor otak,
kelumpuhan umum, infeksi otak, gangguan anatomis telinga, gangguan mata, cerebral palsi
dan gangguan neurologis lainnya.
Ciri lain keterlambatan bicara nonfungsional biasanya termasuk keterlambatan yang berat.
Keterlambatan dikatakan berat bila bayi tidak mau tersenyum sosial sampai 10 minggu atau
tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban pada usia 3 bulan.Tanda lainnya tidak ada
perhatian terhadap sekitar sampai usia 8 bulan, tidak bicara sampai usia 15 bulan atau tidak
mengucapkan 3-4 kata sampai usia 20 bulan.

G. EVALUASI AWAL UNTUK BAHASA DAN BICARA


Evaluasi yang efektif meliputi minimal patokan yang ada dibawah ini. Bagian ini juga akan
mengikutsertakan gangguan-gangguan bahasa & bicara yang mungkin dialami di setiap sisi;
dan garis besar dari terapinya:
1. Oral peripherai Mechanism Examiniation
Pemeriksaan mekanisme mulut dan sekitarnya (Oral Peripheral/ oral facial) sangatlah
penting karena termasuk bagian dari berbicara secara lengkap. Tujuannya agar dapat
mengetahui bahwa faktor yang menyebabkan kelainan atau gangguan dalam berbicara tidak
disebabkan oleh struktur dari alat berbicara tersebut. Patokan yang dipakai untuk
pemeriksaan ini adalah bentuk (structure), Kekuatan (strenght), Pergerakan (movement).
Beberapa observasi sering terlihat pada pemeriksaan ini dan kemungkinan pentingnya hal
tersebut dalam mendeteksi gangguan pada bicara antara lain:
pada BENTUK:
Warna yang tidak normal pada lidah, palatal atau pharynx. Antara lain warna ke abu-
abuan biasanya dihubungkan dengan paralisis otot. Kebiruan mungkin disebabkan dari
pendarahan dari dalam. Warna keputihan pada batas palatal kertas dan palatal lunak dapat
menandakan adanya submucosal cleft. Warna terlewat gelap atau bening dapat pula
menandakan adanya palatal fistula atau celah. Daerah yang hitam dapat menandakan
adanya oral canser.
Ketinggian atau kelebaran yang tidak normal pada palatal arch (lengkung palatal). Bentuk
dari lengkung platal biasanya tidak sama dari satu orang ke orang yang lain. Tetapi
lengkung palatal yang terlalu tinggi atau terlalu lebar akan menyebabkan kesulitan untuk
pengucapan artikulasi yang membutuhkan kontrak antara palatal dan lingual. Lengkung
palatal yang terlalu rendah atau lebar dengan keadaan lidah yang terlalu besar akan
menyebabkan pengucapan, konsonan yang tidak jelas (distortion).
Kesimetrisan pada wajah atau palatal. Biasanya berhubungan dengan adanya gangguan
neurologi atau kelemahan pada otot.
Deviasi dari lidah dan/ atau uvula ke kanan atau kekiri. Indikasi dari gangguan neurologi
biasanya kearah sisi yang lebih lemah.
Pembesaran dari tonsil. Kadang kala tidak ada efek apa-apa pada anak-anak. Tetapi pada
kasus-kasus tertentu, mengganggu kesehatan, resonansi, pendengaran bila menutup
eustachian tube. Kadang menyebabkan lidah lebih banyak terjulur kedepan dan
mempengaruhi artikulasi.
Gigi yang hilang/ ompong Tergantung pada gigi yang hilang, artikulasi dapat terganggu.
Biasanya pada anak-anak tidak secara serius mempengaruhi artikulasi.
pada KEKUATAN:
Kelemahan pada tekanan Indra-oral. Kelemahan ini menandakan lemahnya tekanan udara
pada pipi dan velopharyngeal. Biasanya ada udara yang keluar dari hidung atau mulut.
Lingual frenum yang pendek. Dapat mengakibatkan gangguan pada artikulasi. Bila si anak
tidak dapat mengadakan kontak antara lidah dengan alveolar ridge atau gigi untuk dapat
mengucapkan suara-suara seperti t,d,n,l,c,j.
Kelemahan atau tidak adanya gag reflex. Biasanya menandakan adanya kelemahan pada
otot. Kemungkinan adanya gangguan neurologi, tidak selalu mengakibatkan gangguan
berbicara.
Kelemahan pada bibir, lidah dan atau rahang. Biasanya pada mereka yang mempunyai
gangguan neurologi. Kemungkinan adanya aphasia atau dysarthria.
pada PERGERAKAN:
Secara informal, terapis dapat mengobservasi terhadap penggunaan organ bicara tersebut
yang digunakan untuk hal lainnya seperti makan dan minum (pergerakan untuk mengisap,
mengunyah, menelan dan lainnya).
Secara formal dengan pengambilan Diadochokinetik Rate (evaluasi kemampuan untuk
secara cepat melakukan gerakan bicara yang berganti-ganti): Misalnya: mengulang
/papapapa/ ; /tatatata/ ; /kakakaka/ dan /patakapatakapataka/ dalam hitungan 1 (satu)
menit.

Bantuan dan Terapi yang dapat diberikan:


1. Untuk hal-hal yang bersifat struktural/fisik, disebut juga organik, Terapis Wicara akan
merujuk kepada dokter yang bersangkutan.
2. Untuk hal-hal yang sifatnya fungsional, maka Terapis Wicara akan mengikut sertakan
latihan-latihan oral Peripheral Mechanism Exercises; maupun Oral-Motor activities sesuai
dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.

2. Artikulasi atau pengucapan


Artikulasi atau pembentukan vokal, dimana udara yang berasal dari pernafasan melalui pita
suara dan kaviti-kaviti yang ada dibentuk menjadi suara yang dipakai untuk berbicara
dibantu oleh organ-organ bicara seperti bibir, lidah gigi dan sebagainya.
a. Artikulasi Vowel (Huruf Hidup). Karakteristik dari Vowel adalah diucapkan dengan saluran
suara yang terbuka (open vocal tract). Secara umum dapat dijelaskan dari posisi lidah, bibir
dan pharynx.
b. Artikulasi Konsonan (Huruf Mati). Karakteristik dari konsonan adalah diucapkan dengan
saluran suara yang lebih konstriksi. Ada konsonan yang diucapkan dengan saluran suara
yang ditutup secara sesaat, yang lainnya diucapkan dengan penutupan saluran suara pada
titik-titik tertentu.
Bantuan dan Terapi yang dapat diberikan:
1. Latihan dengan tahap:
Isolasi (isolation): Latihan pengucapan konsonan itu sendiri tanpa huruf hidupnya
(Konsonan tunggal);
Suku Kata (CV Combination): Latihan pengucapan konsonan dengan kombinasi Konsonan
Vocal: KV;
VCV; VK (Posisi: Awal-Pertengahan-Akhir). Aktifitas yang dapat diberikan antara lain
dengan menirukan atau Menggunakan kartu suku kata;
Kata: Latihan pengucapan konsonan untuk tingkat kata (Posisi: Awal-Pertengahan-Akhir).
Aktifitas yang dapat diberikan antara lain dengan menamakan benda atau gambar sesuai
dengan konsonan yang mengalami kesulitan. Misalnya: /r/ awal: rumah, rambut, robot, roti,
dan lainnya;
Kalimat: Latihan menggunakan konsonan yang mengalami kesulitan dalam kalimat atau
bacaan (bila anak sudah dapat membaca). Misalnya: konsonan /r/: ruri memberi ira sebutir
beras.
Tentunya untuk latihan pemakaian secara fungsional atau sehari-hari dalam berbicara
(carry over).

2. Untuk Articulatory Apraxia


Latihan yang dapat diberikan antara lain: Proprioceptive Neuromuscular Facilitation,
Articulatory Diagrams, Reauditorization dan lain-lain.

3. Bahasa & Bicara (Reseptif & Eksprosif):


Bahasa dibagi menjadi dua bagian yang disebut reseptif/ pemahaman dan ekspretif atau
pengungkapan secara verbal. Bahasa reseptif (pemahaman) misalnya dengan menanyakan
mana hidung? atau konsep dasar lainnya sesuai dengan usia anak.
Kemampuan ekspretif (berkata) misalnya dengan menanyakan ini apa? dan anak menjawab
pertanyaan sesuai dengan usia.
Pemahaman terhadap patokan-patokan perkembangan maupun tingkatan dari Bahasa &
Bicara akan sangat membantu Terapis Wicara dalam menganalisa kemampuan anak dari
berbagai macam sisinya. Berikut ini adalah beberapa macam patokan-patokan dasar yang
dapat dipakai untuk hal tersebut.
Tahapan bahasa (Level of Language)
Tahapan bahasa terbagi menjadi: Phonology (bahasa bunyi): Semantics (kata), Morphology
(perubahan pada kata), Syntax (kalimat), Discourse (Pemakaian Bahasa dalam konteks yang
lebih luas), Metalinguistics (Bagaimana cara bekerjanya suatu Bahasa) dan Pragmatics
(Bahasa dalam konteks sosial).
Selain memakai patokan-patokan diatas, bagi anak-anak yang sudah mulai berbicara, dapat
dilakukan pengambilan sample dari percakapan yang sudah dapat dilakukan oleh anak
(Clinical Language Oral Sampling). Prosedur ini kurang lebih dilakukan dengan merekan
percakapan anak dan menuliskan hasilnya pada kertas sebelum menganalisa bentuk kalimat
dan tatabahasa yang dipergunakan oleh anak.
Panjang kalimat rata-rata (Mean Length of Utterance MLU) juga dapat ditentukan dari
sample berbicara anak karena dapat memberikan informasi penting tentang perkembangan
bahasanya, dan menjadi salah satu indikasi bila ada keterlambatan ataupun gangguan
dalam berbicara.
Bantuan dan Terapi yang dapat diberikan:
Aktifitas-aktifitas yang menyangkut tahapan bahasa dibawah:
1. Phonology (bahasa bunyi);
2. Semantics (kata), termasuk pengembangan kosa kata;
3. Morphology (perubahan pada kata),
4. Syatax (kalimat), termasuk tatabahasa;
5. Discourse (Pemakaian bahasa dalam konteks yang lebih luas),
6. Metalinguistics (Bagaimana cara bekerjanya suatu Bahasa) dan;
7. Pragmatics (Bahasa dalam konteks sosial).
4. Suara:
Kelainan pada suara diklasifikasikan menurut etiologi atau simptom. Etiologi adalah
penyebab dari timbulnya keadaan tersebut, yang dibagi menjadi organik atau fungsional.
Kelainan organik adalah kelainan yang diketahui penyebabnya secara fisik, (misalnya,
paralisis dari pita suara). Kelainan fungsional, kemungkinan terjadi karena adanya
perubahan pda fisik, tetapi tidak diketahui etiologinya secara fisik.
Bila kelainan pada suara disebabkan atau yang disebut dengan kelainan organik, Terapis
Wicara akan merujuk kepada dokter yang wewenang.
Karakteristik dari suara sendiri dapat dibagi menjadi nada (pitch) biasanya. dari rendah ke
tinggi; kualitas (Quality), misalnya serak; kekerasan (loudness), suara yang terlalu keras atau
terlalu pelan; resonansi (resonance). Misalnya sengau.
Bantuan dan Terapi yang dapat diberikan:
Terapi Suara (VoiceTherapy): Permasalahan pada Nada, volume, kualitas yang dapat dibantu
dengan Facilitation Technique.
5. Pendengaran
Walaupun secara profesional adalah wewenang dari ahli THT atau audiologist,
guru/pendidik melihatnya dari sisi dimana gangguan pendengaran berdampak pada
perkembangan berkomunikasi dan perkembangan akademis. Dapatkan Evaluasi formal
untuk Pendengaran dari dokter terkait.
Bila anak berada dalam masa perkembangan maka sebaiknya sebelum terapi dimulai maka
secara formal telah dievaluasi untuk mengetahui bahwa tidak ada masalah dari sisi
pendengaran. Hal ini dikarenakan adanya beberapa suara/ konsonan yang pengucapannya
berada pada decibel dan frekuensi yang terdengar rendah.
Bantun dan Terapi yang dapat diberikan:
a. Alat bantu ataupun lainnya yang bersifat medis akan di rujuk pada dokter yang terkait;
b. Terapi; penggunaan sensori lainnya untuk membantu komunikasi;
Dengan demikian Evaluasi Awal akan lebih memperjelas apa saja yang mungkin menjadi
penghambat kemampuan anak untuk dapat berbicara lebih cepat dan bantuan/ rujukan apa
lagi yang diperlukan untuk melengkapi informasi dasar mengenai anak untuk nantinya
membantu perencanaan dalam penatalaksana program/ rencana terapi/ pengajaran.

H. DIAGNOSA GANGGUAN BAHASA DAN BICARA


Seperti pada gangguan perkembangan lainnya, kesulitan utama dalam diagnosis adalah
membedakannya dari variasi perkembangan yang normal. Anak normal mempunyai variasi
besar pada usia saat mereka belajar berbicara dan terampil berbahasa. Keterlambatan
berbahasa sering diikuti kesulitan dalam membaca dan mengeja, kelainan dalam hubungan
interpersonal, serta gangguan emosional dan perilaku. Untuk menegakkan diagnosis, harus
dilakukan pengujian terhadap intelektual nonverbal anak. Pengamatan pola bahasa verbal
dan isyarat anak dalam berbagai situasi dan selama interaksi dengan anakanak lain
membantu memastikan keparahan, bidang spesifik anak yang terganggu, dan membantu
dalam deteksi dini komplikasi perilaku dan emosional.
1. Anamnesis
Anamnesis pada gangguan bahasa dan bicara mencakup perkembangan bahasa anak.
Beberapa pertanyaan yang dapat ditanyakan antara lain :
a.Pada usia berapa bayi mulai mengetahui adanya suara, misalnya berkedip, terkejut, atau
menggerakkan bagian tubuh.
b.Pada usia berapa bayi mulai tersenyum (senyum komunikatif), misalnya saat berbicara
padanya.
c.Kapan bayi mulai mengeluarkan suara aaaggh
d.Orientasi terhadap suara, misalnya bila ada suara apakah bayi memaling atau mencari ke
arah suara.
e.Kapan bayi memberi isyarat daag dan bermain cikkebum
f.Mengikuti perintah satu langkah, seperti beri ayah sepatu atau ambil koran
g.Berapa banyak bagian tubuh yang dapat ditunjukkan oleh anak, seperti mata, hidung,
kuping, dan sebagainya

Selain itu harus diperhatikan juga tanda bahaya adanya gangguan bahasa dan bicara yaitu
bila pada usia:
a.4 - 6 Bulan
-Tidak menirukan suara yang dikeluarkan orang tuanya;
-Pada usia 6 bulan belum tertawa atau berceloteh
b.8 - 10 Bulan
-Usia 8 bulan tidak mengeluarkan suara yang menarik perhatian.
-Usia 10 bulan, belum bereaksi ketika dipanggil namanya.
c.9 - 10 bulan
Tidak memperlihatkan emosi seperti tertawa atau menangis.
d. 12 - 15 Bulan
-12 bulan, belum menunjukkan mimik.
-12 bulan, belum mampu mengeluarkan suara, seperti mama, dada.
-12 bulan, tidak menunjukkan usaha berkomunikasi bila membutuhkan sesuatu.
-15 bulan, belum mampu memahami arti tidak boleh atau daag.
-15 bulan, tidak memperlihatkan 6 mimik yang berbeda.
-15 bulan, belum dapat mengucapkan 13 kata.
d.18 - 24 Bulan
belum dapat mengucapkan 610 kata.
e.18 - 20 bulan
tidak menunjukkan ke sesuatu yang menarik perhatian.
f.21 bulan
Belum dapat mengikuti perintah sederhana.
g.24 bulan
-Belum mampu merangkai 2 kata menjadi kalimat.
-Tidak memahami fungsi alat rumah tangga seperti sikat gigi dan telepon.
-Belum dapat meniru tingkah laku atau kata-kata orang lain.
-Tidak mampu menunjukkan anggota tubuhnya bila ditanya.
h.30 - 36 Bulan
-30 bulan, tidak dapat dipahami oleh anggota keluarga.
-36 bulan, tidak menggunakan kalimat sederhana dan pertanyaan dan tidak dapat dipahami
oleh orang lain selain anggota keluarga.
i.3 - 4 tahun
-3 tahun, tidak mengucapkan kalimat, tidak mengerti perintah verbal dan tidak memiliki
minat bermain dengan sesamanya.
-3,5 tahun, tidak dapat menyelesaikan kata seperti ayah diucapkan aya.
-4 tahun, masih gagap dan tidak dimengerti secara lengkap.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik digunakan untuk mengungkapkan penyebab lain dari gangguan bahasa
dan bicara. Perlu diperhatikan ada tidaknya mikrosefali, anomali telinga luar, otitis media
yang berulang, sindrom William (fasies Elfin, perawakan pendek, kelainan jantung, langkah
yang tidak mantap), celah palatum, dan lainlain.
Gangguan oromotor dapat diperiksa dengan menyuruh anak menirukan gerakan
mengunyah, menjulurkan lidah, dan mengulang suku kata pa, ta, pata, pataka.

3. Pemeriksaan Penunjang
a. BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry)
Merupakan cara pengukuran evoked potensial (aktivitas listrik yang dihasilkan saraf VIII,
pusat-pusat neural dan traktus di dalam batang otak) sebagai respon terhadap stimulus
auditorik.
b. Pemeriksaan audiometri
Pemeriksaan audiometri diindikasikan untuk anak-anak yang sangat kecil dan untuk anak-
anak yang ketajaman pendengarannya tampak terganggu.
Ada 4 kategori pengukuran dengan audiometric.
- Audiometri tingkah laku, merupakan pemeriksaan pada anak yang dilakukan dengan
melihat respon dari anak jika diberi stimulus bunyi. Respon yang diberikan dapat berupa
menoleh ke arah sumber bunyi atau mencari sumber bunyi. Pemeriksaan dilakukan di
ruangan yang tenang atau kedap suara dan menggunakan mainan yang berfrekuensi tinggi.
- Audiometri bermain, merupakan pemeriksaan pada anak yang dilakukan sambil bermain,
misalnya anak diajarkan untuk meletakkan suatu objek pada tempat tertentu bila dia
mendengar bunyi. Dapat dimulai pada usia 3-4 tahun bila anak cukup kooperatif.
- Audiometri bicara. Pada tes ini dipakai kata-kata yang sudah disusun dalam silabus dalam
daftar yang disebut : phonetically balance word LBT (PB List). Anak diminta untuk
mengulangi kata-kata yang didengar melalui kaset tape recorder. Pada tes ini dilihat apakah
anak dapat membedakan bunyi s, r, n, c, h, ch. Guna pemeriksaan ini adalah untuk menilai
kemampuan anak dalam pembicaraan sehari-hari dan untuk menilai pemberian alat
bantudengar (hearing aid).
- Audiometri objektif, biasanya memerlukan teknologi khusus.
c. CT scan kepala untuk mengetahui struktur jaringan otak, sehingga didapatkan gambaran
area otak yang abnormal.
d. Denver Developmental Screening Test
Dalam melakukan tes ini, terdapat beberapa perkembangan dalam penggunaan tes, akan
tetapi akan dijelaskan kembali perkembangan penggunaan test. Pada penilaian DDST ini
menilai perkembangan anak dalam 4 faktor diantaranya penilaian terhadap personal social,
motorik halus, bahasa, dan motorik kasar, dengan persyaratan tes sebagai berikut :
- Lembar formulir DDST II
- Alat Bantu atau peraga seperti benang wool merah, manik-manik, kubus warna merah-
kuning-hijau-biru, permainan anak bola kecil, bola tennis kertas dan pensil.

Selain tes audiometri, bisa juga digunakan tes intelegensi. Paling dikenal yaitu skala
Wechsler, yang menyajikan 3 skor intelegen, yaitu IQ verbal, IQ performance, dan IQ
gabungan :
a. Skala intelegensi Wechsler untuk anak-III: Penyelesaian susunan gambar.
Tes ini terdiri dari satu set gambar-gambar objek yang umum,seperti gambar
pemandangan. Salah satu bagian yang penting dihilangkan dan anak diminta untuk
mengidentifikasi. Respon dinilai sebagai benar atau salah.
b. Skala intelegensi Wechsler untuk anak-III: mendesain balok
Anak diberikan pola bangunan dua dimensi dan kemudian diminta untuk membuat
replikanya menggunakan kubus dua warna. Respon dinilai sebagai benar atau salah.

I. PENATALAKSANAAN GANGGUAN BICARA DAN BAHASA PADA ANAK.


Diagnosis yang tepat terhadap gangguan bicara dan bahasa pada anak, sangat berpengaruh
terhadap perbaikan dan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa. Terapi sebaiknya
dimulai saat diagnosis ditegakkan, namun hal ini menjadi sebuah dilema, diagnosis sering
terlambat karena adanya variasi perkembangan normal atau orang tua baru mengeluhkan
gangguan ini kepada dokter saat mencurigai adanya kelainan pada anaknya, sehingga para
dokter lebih sering dihadapkan pada aspek kuratif dan rehabilitatif dibandingkan preventif.
Tata laksana dini terhadap gangguan ini akan membantu anakanak
dan orang tua untuk menghindari atau memperkecil kelainan di masa sekolah. Sehubungan
dengan hal tersebut, para dokter dituntut agar lebih tanggap terhadap proses
perkembangan bicara dan bahasa pada anak.
Gangguan bicara dan bahasa pada anak cenderung membaik seiring pertambahan usia, dan
pada dasarnya perkembangan bahasa dilatarbelakangi perawatan primer orang tua dan
keluarga terhadap anak. Usaha preventif pada masa neonatus, bayi dan balita dapat
dilakukan dengan memberi pujian dan respon terhadap segala usaha anak untuk
mengeluarkan suara, serta memberi tanda terhadap semua benda dan kata yang
menggambarkan kehidupan seharihari. Pola intonasi suara dapat diperbaiki sejalan dengan
respon anak yang semakin mendekati pola orang dewasa. Secara umum, anak akan
berusaha untuk lebih baik saat orang dewasa merespon apa yang diucapkannya tanpa
menekan anak untuk mengucapkan suara atau kata tertentu. Sebagai motivasi ketika
seorang anak berbicara satu kata secara jelas, pendengar sebaiknya merespon tanpa
paksaan dengan memperluas hingga dua kata.
Beberapa cara yang dapat diterapkan untuk memberi semangat dalam proses
perkembangan bahasa anak :
1.Ekspresi kalimat seru
2.Mengombinasikan ekspresi verbal dengan mengarahkan atau melakukan gerak isyarat
untuk mendapatkan benda
3.Mengoceh selama bermain
4.Menirukan kata terakhir yang diucapkan anak
5.Menirukan suara lingkungan
6.Berusaha untuk bernyanyi

Tindakan kuratif penatalaksanaan gangguan bicara dan bahasa pada anak disesuaikan
dengan penyebab kelainan tersebut. Penatalaksanaan dapat melibatkan multi disiplin ilmu
dan terapi ini dilakukan oleh suatu tim khusus yang terdiri dari fisioterapis, dokter, guru,
dan orang tua pasien. Beberapa jenis gangguan bicara dapat diterapi dengan terapi wicara,
tetapi hal ini membutuhkan perhatian medis seorang dokter. Anak-anak usia sekolah yang
memiliki gangguan bicara dapat diberikan pendidikan program khusus. Beberapa sekolah
tertentu menyediakan terapi wicara kepada para murid selama jam sekolah, meskipun
menambah hari belajar.
Konsultasi dengan psikoterapis anak diperlukan jika gangguan bicara dan bahasa diikuti
oleh gangguan tingkah laku, sedangkan gangguannya bicaranya akan dievaluasi oleh ahli
terapi wicara.
Anak tidak hanya membutuhkan stimulasi untuk aktifitas fisiknya, tetapi juga
untukmmeningkatkan kemampuan bahasa.bila anak mengalami deprivasi yang berat
terhadap kesempatan untuk mendapatkan pengalaman tersebut, maka akibatnya
perkembangannya mengalami hambatan. Beberapa cara menstimulasi anak diantaranya.
1. Berbicara
Setiap hari bicara dengan bayi sesering mungkin. Gunakan setiap kesempatan seperti waktu
memandikan bayi, mengenakan pakaiannya, memberi makan dan lainlain. Anak tidak
pernah terlalu muda untuk diajak bicara.
2. Mengenali berbagai suara
Ajak anak mendengarkan berbagai suara seperti musik, radio, televisi. Juga buatlah suara
dari kerincingan, mainan, kemudian perhatikan bagaiman reaksi anak terhadap suara yang
berlainan.
3. Menunjuk dan menyebutkan nama gambargambar
Ajak anak melihat gambargambar, kemudian gambar ditunjuk dan namanya disebutkan,
usahakan anak mengulangi katakata, lakukan setiap hari. Bila anak sudah bisa menyebutan
nama gambar, kemudian dilatih untuk bercerita tentang gambar tersebut
4. Mengerjakan perintah sederhana
Mulai memberikan perintah kepada anak misal letakkan gelas di meja. Kalau perlu
tunjukkan kepada anak cara mengerjakan perintah tadi, gunakan kata-kata yang sederhana.
Terapi anak gagap diawali dengan mengurangi stres emosional disertai bimbingan dan
konseling terhadap orang tua demi kemajuan anaknya. Hampir separuh anak gagap dapat
mengatasinya, walaupun demikian rujukan ke ahli terapi wicara merupakan bantuan yang
sangat penting bagi anak, dan terapi lebih efektif jika dimulai pada masa pra sekolah.
Indikasi rujuk yaitu jika anak terlihat tidak nyaman atau cemas saat bicara atau kecurigaan
adanya hubungan gangguan ini dengan kelainan neurologis ataupun psikis pada anak.
Dalam perjalanan tata laksana gangguan bicara dan bahasa, orang tua diharapkan untuk
selalu memberikan motivasi terhadap anak atas perkembangan kemampuan berbicara dan
berbahasa anaknya walaupun baru memperlihatkan sedikit perbaikan.

J. PROGNOSIS
Prognosis gangguan bicara pada anak tergantung pada penyebabnya. Sebagian besar anak
memberikan respon baik terhadap tata laksana yang diberikan.Untuk gangguan yang
berhubungan kelainan organik seperti pada tuli konduksi, perbaikan masalah medisnya
dapat menghasilkan perkembangan bahasa normal pada anak. Anak dengan retardasi
mental memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan anak yang inteligensinya baik.
Demikian juga dengan anak yang memiliki gangguan perkembangan multipel,
membutuhkan penanganan ekstra agar tidak meninggalkan kelainan sisa. Lingkungan yang
berisiko tinggi dan usia terdeteksinya gejala turut memperburuk prognosis.

ASUHAN KEPERAWATAN
GANGGUAN BAHASA DAN BICARA PADA ANAK
A.PENGKAJIAN
Fokus pengkajian pada anak 2 3 tahun yang mengalami gangguan bicara :
Data Subyektif :
1. Pada anak yang mengalami gangguan bahasa :
a.Umur berapa anak saudara mulai mengucapkan satu kata ?
b.Umur berapa anak saudara mulai bisa menggunakan kata dalam suatu kalimat ?
c.Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam mempelajari kata baru ?
d.Apakah anak anda sering menghilangkan kata-kata dalam kalimat yang diucapkan dalam
Kalimat yang diucapkan ?
e.Siapa yang mengasuh di rumah ?
f.Bahasa apa yang digunakan bila berkomunikasi di rumah ?
g.Apakah pernah diajak mengucapkan kata-kata.
h.Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam menyusun kata-kata ?

2.Pada anak yang mengalami gangguan bicara :


a.Apakah anak anda sering gugup dalam mengulang suatu kata ?
b. Apakah anak anda sering merasa cemas atau bingung jika ingin mengungkapkan suatu
ide ?
c.Apakah anda pernah perhatikan anak anda memejamkan mata, menggoyangkan kepala,
atau mengulang suatu frase jika diberikan kata-kata baru yang sulit diucapkan?
d.Apa yang anda lakukan jika hal di atas ditemukan ?
e.Apakah anak anda pernah/sering menghilangkan bunyi dari suatu kata ?
f.Apakah anak anda sering menggunakan kata-kata yang salah tetapi mempunyai bunyi
yang hampir sama dngan suatu kata ?
g.Apakah anda kesulitan dalam mengerti kata-kata anak anda ?
h.Apakah orang lain merasa kesulitan dalam mengerti kata-kata anak anda ?
i.Perhatikan riwayat penyakit yang berhubungan dengan gangguan fungsi SSP seperti infeksi
antenatal (Rubbela syndrome), perinatal (trauma persalinan), post natal (infeksi otak, trauma
kepala, tumor intra kranial, konduksi elektrik otak).

Data Obyektif :
1.Kemampuan menggunakan kata-kata.
2.Masalah khusus dalam berbahasa seperti (menirukan, gagap, hambatan bahasa, malas
bicara).
3.Kemampuan dalam mengaplikasikan bahasa.
4.Umur anak.
5.Kemampuan membuat kalimat.
6.Kemampuan mempertahankan kontak mata.
7.Kehilangan pendengaran (Kerusakan indra pendengaran).
8.Gangguan bentuk dan fungsi artikulasi.
9.Gangguan fungsi neurologis.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul pada anak yang mengalami gangguan bicara meliputi :
1. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kurangnya stimulasi bahasa.
2. Gangguan komunikasi berhubungan dengan kerusakan fungsi alat-alat artikulasi.
3. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan pendengaran.
4. Gangguan komunikasi berhubungan dengan hambatan bahasa.
5. Kecemasan orang tua berhubungan dengan ketidakmampuan anak berkomunikasi.
6. Gangguan komunikasi berhubungan dengan kecemasan.
7. Gangguan komunikasi berhubungan dengan kurangnya kemampuan memori dan
kerusakan sistem saraf pusat.