Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS PERUBAHAN UU No.18 Tahun 2009 menjadi UU No.

41 Tahun 2014
UU No 18 Tahun 2009 UU No 41 Tahun 2014 Alasan Terjadi Perubahan
PASAL 1 PASAL 1 Pada ayat 2 terjadi perubahan karena di
(2). Kesehatan hewan adalah segala urusan (2). Kesehatan Hewan adalah segala urusan dalam UU no 18 tahun 2009 isinya kurang
yang berkaitan dengan perawatan hewan, yang berkaitan dengan pelindungan sumber mencakup semua yang berhubungan
pengobatan hewan, pelayanan kesehatan daya Hewan, kesehatan masyarakat, dan kesehatan hewan dan juga tidak ada jaminan
hewan, pengendalian dan penanggulangan lingkungan serta penjaminan keamanan terhadap produk hewan.
penyakit hewan, penolakan penyakit, edic Produk Hewan, Kesejahteraan Hewan, dan Implikasi : dalam industri peternakan
reproduksi, edic konservasi, obat hewan dan peningkatan akses pasar untuk mendukung masyarakat semakin percaya terhadap
peralatan kesehatan hewan, serta keamanan kedaulatan, kemandirian, dan ketahanan produk hewan semenjak di dalam UU no 41
pakan. pangan asal Hewan. tahun 2014 ada jaminan keamanan produk
hewan.

(5). Ternak adalah hewan peliharaan yang (5). Ternak adalah Hewan peliharaan yang Pada ayat 5 tidak ada perubahan tetapi
produknya diperuntukan sebagai penghasil produknya diperuntukan sebagai penghasil hanya ada ayat tambahan yang befungsi
pangan, bahan baku industri, jasa, dan/ataupangan, bahan baku industri, jasa, dan/atau untuk memperjelas mengenai hewan
hasil ikutannya yang terkait dengan hasil ikutannya yang terkait dengan pertanian. ruminansia betina produktif dan hewan
pertanian. (5a). Ternak Ruminansia Betina Produktif ruminansia indukan.
adalah Ternak ruminansia betina yang
organ reproduksinya masih
berfungsi secara normal dan dapat
beranak.
(5b). Ternak Ruminansia Indukan adalah
Ternak betina bukan bibit yang memiliki
organ reproduksi normal dan sehat
digunakan untuk pengembangbiakan.
(9). Benih jasad renik adalah mikroba yang Dihapus Pada ayat 9 di dalam UU no 41 tahun 2014
dapat digunakan untuk kepentingan industri dihapus di karenakan mengenai industri
pakan dan/atau industri biomedik veteriner pakan di bahas di dalam ayat khusus bahan
pakan.
(17). Kastrasi adalah tindakan mencegah Dihapus Ayat 7 di hapus pada UU no 41 tahun 2014
berfungsinya testis dengan jalan karena istilah kastrasi sudah jelas di
menghilangkan atau menghambat fungsinya. masyarakat.

(20). Ternak lokal adalah ternak hasil Dihapus Tidak sesuai dengan pengertia sebenarnya,
persilangan atau introduksi dari luar yang telah seharusnya ternak lokal adalah ternak yang
dikembangbiakkan di Indonesia sampai berasal dari lokal dan murni
generasi kelima atau lebih yang teradaptasi dikembangbiakan di Negara Indonesia.
pada lingkungan dan/atau manajemen
setempat.

(28). Otoritas veteriner adalah kelembagaan (28). Otoritas Veteriner adalah kelembagaan Pada ayat ini terjadi perubahan karena dalam
Pemerintah dan/atau kelembagaan yang Pemerintah atau Pemerintah Daerah yang UU no 18 tahun 2009 tidak ada pemerintah
dibentuk Pemerintah dalam pengambilan bertanggung jawab dan memiliki kompetensi daerah dan dalam UU no 41 tahun 2014
keputusan tertinggi ya ng bersifat teknis dalam penyelenggaraan Kesehatan Hewan. isinya sudah lebih mencakup semua ataupun
kesehatan hewan dengan melibatkan sudah merangkum dari UU sebelumnya.
keprofesionalan dokter hewan dan dengan
mengerahkan semua lini kemampuan profesi
mulai dari mengindentifikasikan masalah,
menentukan kebijakan, mengoordinasikan
pelaksana kebijakan, sampai dengan
mengendalikan teknis operasional di lapangan.

(33). Biomedik adalah penyelenggaraan medik Dihapus Ayat ini di hapus karena sudah terdapat di
veteriner di bidang biologi farmasi, dalam ayat yang lain sehingga tidak perlu
pengembangan sains kedokteran, atau industri lagi di masukan ke dalam UU No 41 tahun
biologi untuk kesehatan dan kesejahteraan 2014.
manusia.

(34). Penyakit hewan adalah gangguan (34).Penyakit Hewan adalah gangguan Pada ayat ini mungkin hanya sedikit
kesehatan pada hewan yang antara lain, kesehatan pada Hewan yang disebabkan oleh mengalami perubahan di dalam UU no 41
disebabkan oleh cacat genetik, proses cacat genetik, proses degeneratif, gangguan tahun 2014 tidak disebutkan lagi apa saja
degeneratif, gangguan metabolisme, trauma, metabolisme, trauma, keracunan, infestasi mikroorganisme yang bersifat pathogen.
keracunan, infestasi parasit, dan infeksi parasit, prion, dan infeksi mikroorganisme
mikroorganisme pathogen seperti virus, bakteri, patogen.
cendawan, dan ricketsia.

(36). Penyakit hewan strategis adalah penyakit (36). Penyakit Hewan Menular Strategis Pada ayat ini dimana pada UU no 41 tahun
hewan yang dapat menimbulkan kerugian adalah penyakit Hewan yang dapat 2014 lebih jelas mengenai penyakit hewan
ekonomi, keresahan masyarakat, dan/atau menimbulkan angka kematian dan/atau angka strategis di dalam ayat ini juga di jelaskan
kematian hewan yang tinggi. kesakitan yang tinggi pada Hewan, dampak penyakit menular dan di sebutkan secara
kerugian ekonomi, keresahan masyarakat, spesifik dampak yang akan terjadi.
dan/atau bersifat zoonotik Implikasi : dalam masyarakat lebih mengerti
dampak dari penyakit hewan strategis.

(37). Zoonosis adalah penyakit yang dapat (37). Zoonosis adalah penyakit yang dapat Pada ayat 37 UU no 41 tahun 2014 ada
menular dari hewan kepada manusia atau menular dari Hewan kepada manusia atau penambahan sub bagian ayat dimana
sebaliknya. sebaliknya. penambahan yang menjelaskan dari wabah.
Implikasi : masyarakat lebih mengerti
(37a).Wabah adalah kejadian penyakit luar tentang penjelasan dari wabah.
biasa yang dapat berupa timbulnya suatu
Penyakit Hewan Menular baru di suatu
wilayah atau kenaikan kasus Penyakit Hewan
Menular mendadak yang dikategorikan
sebagai bencana non alam.

(44). Teknologi kesehatan hewan adalah segala Dihapus Pada UU no 41 ayat ini di hapus karena
sesuatu yang berkaitan dengan pengembangan teknologi kesehatan hewan sudah
dan penerapan ilmu, teknik, rekayasa, dan tercangkup pada ayat yang lain sehingga
industri di bidang kesehatan hewan tidak di masukan kembali.

(49). Sistem kesehatan hewan nasional yang (49). Sistem Kesehatan Hewan Nasional yang Pada UU no 41 tahun 2014 isinya lebih
selanjutnya disebut Siskeswanas adalah tatanan selanjutnya disebut Siskeswanas adalah lengkap di bandingkan UU no 19 tahun
unsur kesehatan hewan yang secara teratur tatanan Kesehatan Hewan yang ditetapkan 2009 mengenai siskeswanas dan juga lebih
saling berkaitan sehingga membentuk totalitas oleh Pemerintah dan diselenggarakan oleh terperinci siapa saja yang terlibat dalam
yang berlaku secara nasional. Otoritas Veteriner dengan melibatkan seluruh siskeswanas.
penyelenggara Kesehatan Hewan, pemangku
kepentingan, dan masyarakat secara terpadu. Implikasi : masyarakat yang bergerak dalam
bidang peternakan lebih jelas mengenai
fungsi-fungsi mereka.

PASAL 15 PASAL 15 Dalam pasal 15 ini hanya terdapat


perubahan redaksional namun dapat
(2) Pemasukan benih dan/atau bibit wajib 2. Pemasukan Benih dan/atau Bibit dari luar merubah makna, dimana pada UU No 41
memenuhi persyaratan mutu dan kesehatan negeri sebagaimana dimaksud pada ayat tahun 2014 terdapat syarat-syarat pada ayat
hewan dan peraturan perundang-undangan di (1) harus: (2) tentang pemasukan benih dan atau bibit.
bidang karantina hewan serta memerhatikan
kebijakan pewilayahan bibit sebagaimana a. memenuhi persyaratan mutu UU No 18 tahun 2009 pada pasal 13 ayat
dimaksud dalam Pasal 14. memenuhi persyaratan teknis (3), terdapat kata yaitu yang
Kesehatan Hewan; menyelenggarakan urusan perdagangan
(3) Setiap orang yang melakukan pemasukan
benih dan/atau bibit sebagaimana dimaksud b. bebas dari Penyakit Hewan Menular setelah mendapat rekomendasi dari

pada ayat (1) wajib memperoleh izin dari yang dipersyaratkan oleh otoritas Menteri. , sedangkan pada UU No 41 tahun
2014 pada pasal 13 ayat (3) terdapat
menteri yang menyelenggarakan urusan
perdagangan setelah mendapat rekomendasi veteriner; pengurangan kata tersebut. Hal ini berarti
dari Menteri. bahwa pada UU No 41 tahun 2014,
c. memenuhi ketentuan peraturan menjelaskan bahwa setiap orang yang
perundangundangan melakukan pemasukan benih dan tau bibit
d. di bidang karantina Hewan; dan wajib memperoleh izin dari mentri, tanpa
harus menunggu rekomendasi terlebih
e. memerhatikan kebijakan pewilayahan dahulu dari mentri seperti yang dijelaskan
sumber pada UU sebelumnya.

f. Bibit sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 14.

3. Setiap Orang yang melakukan pemasukan


Benih dan/atau Bibit sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib memperoleh
izin dari Menteri.
PASAL 16 PASAL 16 Pada UU No 18 tahun 2009 hanya terdapat 2
ayat, sedangkan UU No 41 tahun 2014
(1) Pengeluaran benih, bibit, dan/atau bakalan (1). Pengeluaran Benih dan/ atau Bibit dari ditambahakan 1 ayat lagi sehingga menjadi
dari wilayah Negara Kesatuan Republik wilayah Negara Kesatuan Republik 3 ayat. Pada UU No 41 tahun 2014, terdapat
Indonesia ke luar negeri dapat dilakukan Indonesia ke luar negeri dapat dilakukan penambahan ayat yaitu ayat 2, dimana
apabila kebutuhan dalam negeri telah apabila kebutuhan dalam negeri telah pemambahan ayat ini dimaksudkan untuk
terpenuhi dan kelestarian ternak lokal terpenuhi dan kelestarian Ternak lokal memperjelas lagi dan meperinci lagi isi dari
terjamin. terjamin. ayat 1.
(2) Setiap orang yang melakukan kegiatan (2). Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib ayat (1) dilarang dilakukan terhadap Benih UU No 18 tahun 2009 pada pasal 16 ayat
memperoleh izin dari menteri yang dan/atau Bibit yang terbaik di dalam (2), terdapat kata yaitu yang
menyelenggarakan urusan perdagangan negeri. menyelenggarakan urusan perdagangan
setelah mendapat rekomendasi dari (3). Setiap Orang yang melakukan kegiatan setelah mendapat rekomendasi dari
Menteri. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib Menteri. , sedangkan pada UU No 41 tahun
memperoleh izin dari Menteri. 2014 pada pasal 16 ayat (3) terdapat
pengurangan kata tersebut. Hal ini berarti
bahwa pada UU No 41 tahun 2014,
menjelaskan bahwa setiap orang yang
melakukan pemasukan benih dan tau bibit
wajib memperoleh izin dari mentri, tanpa
harus menunggu rekomendasi terlebih
dahulu dari mentri seperti yang dijelaskan
pada UU sebelumnya.

PASAL 18 PASAL 18 Pada ayat 2 UU No 41 tahun 2014 dan UU


No 18 tahun 2009, terdapat perubahan
(1) Dalam rangka mencukupi ketersediaan (1). Dalam rangka mencukupi ketersediaan makna, dimana pada ayat 2 UU No 41 tahun
bibit, ternak ruminansia betina produktif bibit, Ternak Ruminansia Betina Produktif 2014 membahas tentang ternak ruminansia
diseleksi untuk pemuliaan, sedangkan diseleksi untuk Pemuliaan, sedangkan Ternak yang produktif, sedangkan pada ayat 2 UU
ternak ruminansia betina tidak produktif ruminansia betina yang tidak produktif No 18 tahun 2009 membahas tentang ternak
disingkirkan untuk dijadikan ternak disingkirkan untuk dijadikan Ternak potong. ruminansia betina yang tidak produktif.
potong.
(2) Ternak ruminansia betina produktif (2.) Penentuan Ternak ruminansia betina yang Pada ayat 3 UU No 41 tahun 2014 dan UU
dilarang disembelih karena merupakan tidak produktif sebagaimana dimaksud pada No 18 tahun 2009, terdapat perubahan
penghasil ternak yang baik, kecuali untuk ayat (1) dilakukan oleh Dokter Hewan makna, dimana pada ayat 3 UU No 41 tahun
keperluan penelitian, pemuliaan, atau Berwenang 2014 membahas tentang pemerintah juga
pengendalian dan penanggulangan (3). Pemerintah Daerah sesuai dengan yang ikut berperan serta adanya kata
penyakit hewan. kewenangannya menyediakan dana untuk keperluan penangkaran bibit ternak
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah menjaring Ternak Ruminansia Betina ruminasia, sedangkan pada ayat 3 UU No
kabupaten/ kota menyediakan dana untuk Produktif yang dikeluarkan oleh masyarakat 18 tahun 2009 membahas tentang
menjaring ternak ruminansia betina dan menampung Ternak tersebut pada unit pemerintah daerah saja yang ikut berperan
produktif yang dikeluarkan oleh pelaksana teknis di daerah untuk keperluan serta adanya perubahan kata dai keperluan
masyarakat dan menampung ternak pengembangbiakan dan penyediaan Bibit penangkaran menjadi keperluan
tersebut pada unit pelaksana teknis di Ternak ruminansia betina di daerah tersebut. pengembangbiakan
daerah untuk keperluan penangkaran dan
penyediaan bibit ternak ruminansia di (4). Setiap Orang dilarang menyembelih Pada UU No 41 tahun 2014 terdapat
daerah tersebut. Ternak ruminansia kecil betina produktif atau penambahan 2 ayat yaitu ayat ayat (4) dan
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Ternak ruminansia besar betina produktif. ayat (5).
penyeleksian dan penyingkiran (5). Larangan sebagaimana dimaksud pada
sebagaimana pada ayat (1) dan ayat (4) dikecualikan dalam hal:
penjaringan ternak ruminansia betina
produktif sebagaimana dimaksud pada a. Penelitian
ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.
b. Pemuliaan

c. pengendalian dan penanggulangan


Penyakit Hewan,

d. ketentuan agama;

e. ketentuan adat istiadat; dan/atau

f. pengakhiran per-rderitaan Hewan.

(6). Setiap Orang harus menjaga populasi


anakan ternak ruminansia kecil dan anakan
ternak ruminansia besar.

(7). Ketentuan lebih lanjut mengenai


penyeleksian dan penyingkiran sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), penjaringan Ternak
Ruminansia Betina Produktif sebagaimana
dimaksud pada ayat (3), dan populasi anakan
ternak ruminansia kecil dan anakan ternak
ruminansia besar sebagaimana dimaksud pada
ayat (6) diatur dengan Peraturan Menteri.

PASAL 31 (1). Peternak dapat melakukan kemitraan Terdapat penambahan 1 ayat pada UU No
usaha di bidang budi daya Ternak 41 Tahun 2014 yaitu pada ayat 3, dimana
(1) Peternak dapat melakukan kemitraan usaha berdasarkan perjanjian yang saling pada ayat ini lebih diperjelas lagi tentang
di bidang budi daya ternak berdasarkan memerlukan, memperkuat, menguntungkan, kemitraan usaha, yang mana membahas
perjanjian yang saling memerlukan, menghargai, bertanggung jawab, lebih rinci dari ayat 2
memperkuat, dan menguntungkan serta ketergantungan, dan berkeadilan.
berkeadilan.
(2) Kemitraan usaha sebagaimana dimaksud (2) Kemitraan usaha sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dilakukan: pada ayat (1) dapat dilakukan:
a. antarpeternak;
b.antara peternak dan perusahaan a. antar-Peternak;
peternakan; b. antara Peternak dan Perusahaan
c. antara peternak dan perusahaan di bidang Peternakan;
lain; dan
d. antara perusahaan peternakan dan c. antara Peternak dan perusahaan di
Pemerintah atau Pemerintah Daerah. bidang lain; dan
(3) Pemerintah dan Pemerintah Daerah
d. antara Perusahaan Peternakan dan
melakukan pembinaan kemitraan
Pemerintah atau Pemerintah Daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
sesuai dengan kewenangannya.
dengan memerhatikan ketentuan peraturan
perundangundangan di bidang kemitraan (3) Kemitraan usaha sebagaimana dimaksud
usaha.
pada ayat (2) dapat berupa:

a. penyediaan sarana produksi;

b. produksi;

c. pemasaran; dan/atau

d. permodalan atau pembiayaan.

(4). Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai


dengan kewenangannya melakukan
pembinaan kemitraan usaha sebagaimana
dimaksud pada ayat (21 dengan
memerhatikan ketentuan peraturan
perundangundangan di bidang kemitraan
usaha.

PASAL 32 (1). Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai Pada UU No 41 tahun 2014 ayat 1 terjadi
dengan kewenangannya berkewajiban perubahan makna dari UU No 18 tahun
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah mendorong agar sebanyak mungkin warga 2009, dimana pada UU No 18 tahun 2009
mengupayakan agar sebanyak mungkin warga masyarakat menyelenggarakan budidaya hanya menjelaskan tentang budidaya ternak,
masyarakat menyelenggarakan budi daya Ternak sesuai dengan pedoman budidaya sedangkan pada UU No 41 tahun 2014
ternak. Ternak yang baik. menjelaskan lebih lengkap pula tentang
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah budidaya ternak yang disesuaikan dengan
memfasilitasi dan membina pengembangan (2). Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai pedoman budidaya ternak yang baik.
budi dengan kewenangannya memfasilitasi dan
daya yang dilakukan oleh peternak dan pihak membina pengembangan budi daya yang
tertentu yang mempunyai kepentingan dilakukan oleh Peternak dan pihak tertentu
khusus.
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah yang mempunyai kepentingan khusus.
membina dan memberikan fasilitas untuk
pertumbuhan dan perkembangan koperasi dan (3). Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai
badan usaha di bidang peternakan. dengan kewenangannya membina dan
memberikan fasilitas untuk pertumbuhan dan
perkembangan koperasi dan badan usaha di
bidang Peternakan.

PASAL 36 Diantara pasal 36 dan 37 disisipkan 5 pasal Pada UU No 41 tahun 2014, lebih diperjelas
yaitu 36A, 36B, 36C, 36D, 36E. lagi mengenai pasal 36, sehingga
(1) Pemerintah berkewajiban untuk ditambahakan pasal 36 A, 36 B, 36 C, 36 D
menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan dan 36 E.
pemasaran hewan atau ternak dan produk
hewan di dalam negeri maupun ke luar
negeri.
(2) Pemasaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diutamakan untuk membina
peningkatan produksi dan konsumsi protein
hewani dalam mewujudkan ketersediaan
pangan bergizi seimbang bagi masyarakat
dengan tetap meningkatkan kesejahteraan
pelaku usaha peternakan.
(3) Pengeluaran hewan atau ternak dan produk
hewan ke luar negeri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan apabila
produksi dan pasokan di dalam negeri telah
mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat.
(4) Pemasukan hewan atau ternak dan produk
hewan dari luar negeri dilakukan apabila
produksi dan pasokan hewan atau ternak dan
produk hewan di dalam negeri belum
mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat.
(5) Pemerintah berkewajiban untuk
menciptakan iklim usaha yang sehat bagi
hewan atau
ternak dan produk hewan.

PASAL 37 (1). Pemerintah membina dan memfasilitasi Pada UU No 41 Tahun 2014, lebih
berkembangnya industri pengolahan produk diperjelas lagi pada ayat 2, dimana terdapat
(1) Pemerintah membina dan memfasilitasi Hewan dengan mengutamakan penggunaan penambahan makna mengenai kerjasama
berkembangnya industri pengolahan produk bahan baku dari dalam negeri. kemitraan.
hewan dengan mengutamakan penggunaan
bahan baku dari dalam negeri. (2). Pemerintah membina terselenggaranya
(2) Pemerintah membina terselenggaranya kemitraan yang sehat antara industri
kemitraan yang sehat antara industri pengolahan dan Peternak dan/atau koperasi
pengolahan dan peternak dan/atau koperasi yang menghasilkan Produk Hewan yang
yang menghasilkan produk hewan yang digunakan sebagai bahan baku industri.
digunakan sebagai bahan baku industri.
(3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat
dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai (2) dapat berupa kerja sama:
dengan a. Permodalan atau pembiayaan;
peraturan perundang-undangan di bidang
industri, kecuali untuk hal- hal yang diatur b. pengolahan;
dalam Undang-Undang ini.
c. pemasaran;

d. pendistribusian; dan/atau
e. rantai pasok.

(3). Ketentuan lebih lanjut mengenai


pembinaan dan fasilitasi berkembangnya
industri pengolahan Produk Hewan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan sesuai dengan peraturan
perundangundangan di bidang industri,
kecuali untuk hal-hal yang diatur dalam
Undang-Undang ini.

PASAL 41 Diantara pasal 41 dan 42 disisipkan 2 pasal Pada UU No 41 tahun 2014, lebih
yaitu pasal 41A dan 41B memperjelas lagi mengenai pasal 41,
Pencegahan penyakit hewan sebagaimana sehingga ditambahakan pasal 41 A dan 41
dimaksud dalam Pasal 39 dilakukan B.
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang karantina hewan.

PASAL 58 PASAL 58 Pada ayat 1, ditambahkan dengan bagi


yang dipersyaratkan yaitu produk hewan
(1) Dalam rangka menjamin produk hewan (1). Dalam rangka menjamin produk Hewan yang asuh sesuai dengan persyaratan.
yang aman, sehat, utuh, dan halal, Pemerintah yang aman, sehat, utuh, dan halal bagi yang
dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dipersyaratkan, Pemerintah dan Pemerintah Pada ayat 2, ditambahkan dan pada waktu
melaksanakan pengawasan, pemeriksaan, Daerah sesuai dengan kewenangannya peredaran setelah pengawetan karena
pengujian, standardisasi, sertifikasi, dan berkewajiban melaksanakan pengawasan, pemasaran produk juga perlu diperhatikan.
registrasi produk hewan. pemeriksaan, pengujian, standardisasi,
(2) Pengawasan dan pemeriksaan produk sertifikasi, dan registrasi produk Hewan. Pada ayat 4, syarat memproduksi atau
hewan berturut-turut dilakukan di tempat memasukan produk hewan ke wilayah
produksi, pada waktu pemotongan, (2). Pengawasan, pemeriksaan, dan pengujian NKRI dibuat poin-poin agar lebih mudah
produk Hewan berturut-turut dilakukan di
penampungan, dan pengumpulan, pada waktu tepat produksi, pada waktu pemotongan, dipahami.
dalam keadaan segar, sebelum pengawetan, dan penampungan, dan pengumpulan, pada waktu
pada waktu peredaran setelah pengawetan. dalam keadaan segar, sebelum pengawetan, Pada ayat 5, berisi larangan memproduksi
(3) Standardisasi, sertifikasi, dan registrasi dan pada waktu peredaran setelah atau memasukan produk hewan apabila
produk hewan dilakukan terhadap produk pengawetan. tidak memnuhi syarat pada ayat (4).
hewan yang diproduksi di dan/ atau Ayat 6 berisi larangan pemalsuan produk
dimasukkan ke dalam wilayah Negara (3). Standardisasi, sertifikasi, dan registrasi
Produk Hewan dilakukan terhadap Produk hewan karena nanti produk hewan tersebut
Kesatuan Republik Indonesia untuk diedarkan tidak asuh.
dan/atau dikeluarkan dari wilayah Negara Hewan yang diproduksi di dan/atau
Kesatuan Republik Indonesia. dimasukkan ke dalam wilayah Negara Ayat 7 berisi produk hewan yang
(4) Produk hewan yang diproduksi di dan/atau Kesatuan Republik Indonesia untuk diedarkan dikeluarkan dr wilayah NKRI harus asuh,
dimasukkan ke wilayah Negara Kesatuan dan/atau dikeluarkan dari wilayah Negara ditandai dengan sertifikat.
Republik Indonesia untuk diedarkan wajib Kesatuan Republik Indonesia.
Ayat 8 berisi pengolahan produk asal hewan
disertai sertifikat veteriner dan sertifikat halal. (4). Produk Hewan yang diproduksi di harus sesuai dengan peraturan undang-
(5) Produk hewan yang dikeluarkan dari dan/atau dimasukkan ke wilayah Negara undang bagian pangan.
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Kesatuan Republik Indonesia untuk diedarkan
wajib disertai sertifikat veteriner dan sertifikat wajib disertai:
halal jika dipersyaratkan oleh negara
pengimpor. a. sertifikat veteriner; dan
(6) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana
b. sertifikat halal bagi Produk Hewan
dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5)
yang dipersyaratkan.
diatur dengan Peraturan Menteri.
(7) Untuk pangan olahan asal hewan, selain (5). Setiap Orang dilarang mengedarkan
wajib memenuhi ketentuan sebagaimana Produk Hewan yang diproduksi di dan/atau
dimaksud pada ayat (5) wajib memenuhi dimasukkan ke wilayah Negara Kesatuan
ketentuan peraturan perundang-undangan di Republik Indonesia yang tidak disertai dengan
bidang pangan. sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat
(4).

(6). Setiap Orang yang memproduksi dan/atau


mengedarkan Produk Hewan dilarang
memalsukan Produk Hewan dan/atau
menggunakan bahan tambahan yang dilarang.

(7). Produk Hewan yang dikeluarkan dari


wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
wajib disertai sertifikat veteriner dan sertifikat
halal jika dipersyaratkan oleh negara
pengimpor.

(8). Untuk pangan olahan asal Hewan, selain


wajib memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) wajib memenuhi
ketentuan peraturanperundang-undangan di
bidang pangan.

PASAL 59 PASAL 59 Pasal 59 pada UU No.41 Tahun 2014


memperjelas lagi isi pasal 59 pada UU
(1) Setiap orang yang akan memasukkan (1). Setiap Orang yang akan memasukkan No.18 Tahun 2009.
produk hewan ke dalam wilayah Negara produk Hewan ke daiam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia wajib Kesatuan Republik Indonesia wajib
memperoleh izin pemasukan dari menteri yang memperoleh izin pemasukan dari menteri
terkait di bidang perdagangan setelah menyelenggarakan urusan pemerintahan di
memperoleh rekomendasi: bidang perdagangan setelah memperoleh
a. untuk produk hewan segar dari Menteri; atau rekomendasi dari:
b. untuk produk hewan olahan dari pimpinan
instansi yang bertanggung jawab di bidang a. Menteri untuk Produk Hewan segar; atau
pengawasan obat dan makanan dan/atau
Menteri. b. pimpinan lembaga bidang pengawasan obat
(2) Produk hewan segar yang dimasukkan ke dan makanan untuk produk pangan olahan
dalam wilayah Negara Kesatuan Republik asal hewan.
Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (2). Produk Hewan segar yang dimasukkan ke
huruf a harus berasal dari unit usaha dalam wilayah Negara Kesatuan Repubtik
produk hewan pada suatu negara atau zona Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat
dalam suatu negara yang telah memenuhi (l) huruf a harus berasal dari unit usaha
persyaratan dan tata cara pemasukan produk Produk Hewan pada suatu negara yang telah
hewan. memenuhi persyaratan dan tatacara
(3) Produk hewan olahan yang akan pemasukan Produk Hewan.
dimasukkan ke dalam wilayah Negara
Kesatuan (3). Dalam hal produk pangan olahan asal
Republik Indonesia sebagaimana dimaksud Hewan yang akan dimasukkan ke dalam
pada ayat (1) huruf b, yang masih wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
mempunyai risiko penyebaran zoonosis yang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
dapat mengancam kesehatan manusia, yang mempunyai risiko penyebaran Zoonosis
hewan, dan lingkungan budi daya, harus yang dapat mengancam kesehatan manusia,
mendapatkan rekomendasi dari Menteri Hewan, dan lingkungan budi daya, sebelum
sebelum dikeluarkannya rekomendasi dari diterbitkan rekomendasi oleh pimpinan
pimpinan instansi yang bertanggung jawab lembaga pemerintah yang melaksanakan
di bidang pengawasan obat dan makanan. tugas pemerintahan di bidang pengawasan
(4) Persyaratan dan tata cara pemasukan obat dan makanan harus mendapatkan
produk hewan dari luar negeri ke dalam persetujuan teknis dari Menteri.
wilayah
(4). Persyaratan dan tata cara pemasukan
Negara Kesatuan Republik Indonesia
produk Hewan dari luar negeri ke dalam
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat
(3) mengacu pada ketentuan atau kaidah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
internasiona l yang berbasis analisis risiko di sebagaimana dimaksud pada ayat (21 dan ayat
bidang kesehatan hewan dan kesehatan (3) mengacu pada ketentuan yang berbasis
masyarakat veteriner serta mengutamakan analisis risiko di bidang Kesehatan Hewan
kepentingan nasional. dan Kesehatan Masyarakat Veteriner serta
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai
persyaratan dan tata cara pemasukan produk mengutamakan kepentingan nasional.
hewan
kedalam wilayah Negara Kesatuan Repub lik
Indonesia sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan
Peraturan Menteri.

PASAL 65 PASAL 65 Pasal 65 pada UU No.41 Tahun 2014


mempersingkat isi pasal 65 pada UU No.18
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasah, Ketentuan lebih lanjut Veteriner sebagaimana Tahun 2009.
pemeriksaan, pengujian, standardisasi, dan dengan Pasal 64 diatur mengenai Kesehatan
sertifikasi produk hewan sebagaimana Masyarakat dimaksud dalam pasal 56 sampai
dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1), tata cara dengan Peraturan pemerintah.
pemasukan produk hewan olahan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) huruf b,
penetapan negara dan/atau zona, unit usaha
produk hewan, dan tata cara pemasukan
produk hewan segar sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 59 ayat (2), serta kesiagaan dan
cara penanggulangan bencana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 64 diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
PASAL 66 Di antara Pasal 66 dan pasal 67 disisipkan 1 Pasal 66A ini ditambahkan untuk lebih
(satu) pasal yakni Pasal 66A. memperjelas isi dari pasal 66, yaitu larangan
(1) Untuk kepentingan kesejahteraan hewan melakukan penganiayaan yang dapat
dilakukan tindakan yang berkaitan dengan (1). Setiap Orang dilarang menganiaya merugikan.
penangkapan dan penanganan; penempatan dan dan/atau menyalahgunakan Hewan yang
pengandangan; pemeliharaan dan mengakibatkan cacat dan/atau tidak produktif.
perawatan; pengangkutan; pemotongan dan
pembunuhan; serta perlakuan dan (2). Setiap Orang yang mengetahui adanya
pengayoman yang wajar terhadap hewan. perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) Ketentuan mengenai kesejahteraan hewan (1) wajib melaporkan kepada pihak yang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang.
dilakukan secara manusiawi yang meliputi:
a. penangkapan dan penanganan satwa dari
habitatnya harus sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangan-undangan di
bidang konservasi;
b. penempatan dan pengandangan dilakukan
dengan sebaik-baiknya sehingga
memungkinkan hewan dapat mengekspresikan
perilaku alaminya;
c. pemeliharaan, pengamanan, perawatan, dan
pengayoman hewan dilakukan
dengan sebaik-baiknya sehingga hewan bebas
dari rasa lapar dan haus, rasa sakit,
penganiayaan dan penyalahgunaan, serta rasa
takut dan tertekan;
d. pengangkutan hewan dilakukan dengan
sebaik-baiknya sehingga hewan bebas
dari rasa takut dan tertekan serta bebas dari
penganiayaan;
e. penggunaan dan pemanfaatan hewan
dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga
hewan bebas dari penganiayaan dan
penyalahgunaan;
f. pemotongan dan pembunuhan hewan
dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga
hewan bebas dari rasa sakit, rasa takut dan
tertekan, penganiyaan, dan
penyalahgunaan; dan
g. perlakuan terhadap hewan harus dihindari
dari tindakan penganiayaan dan
penyalahgunaan.
(3) Ketentuan yang berkaitan dengan
penyelenggaraan kesejahteraan hewan
diberlakukan
bagi semua jenis hewan bertulang belakang dan
sebagian dari hewan yang tidak
bertulang belakang yang dapat merasa sakit.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai
kesejahteraan hewan sebagaimana dimaksud
pada
ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan
Peraturan Menteri.

PASAL 68 PASAL 68 Terjadi perubahan pasal 68 karena pada UU


1. Penyelenggaraan kesehatan hewan di 1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai NO 18 TAHUN 2009 kurang mendetail
seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik dengan kewenangannya sehingga pada UU NO 41 TAHUN 2014
Indonesia memerlukan otoritas veteriner. menyelenggarakan Kesehatan Hewan di lebih dijabarkan tentang tingkatan otoritas
2. Dalam rangka pelaksanaan otoritas veteriner seluruh wilayah Negara Kesatuan veteriner, fungsi otoritas veteriner ,
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Republik 19embilan19. penyelenggaraan otoritas veteriner.
Pemerintah menetapkan Siskeswanas. 2. Dalam menyelenggarakan Kesehatan Implikasi : Kurang terasa karena dipasal 68
3. Dalam pelaksanaan Siskeswanas Hewan sebagaimana dimaksud pada ayat ini lebih membahas tentang kinerja Dokter
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), (l), pemerintah dan Pemerintah Daerah Hewan bukan peternak, namun hal ini
Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya tentunya akan berdampak pada peternakan,
sesuai kewenangannya menetapkan dokter berkewajiban meningkatkan penguatan karena revisi UU ini mengarah pada
hewan berwenang, meningkatkan peran dan tugas, fungsi, dan wewenang Otoritas kesehatan hewan ternak yang sudah pasti
fungsi kelembagaan penyelenggaraan Veteriner. akan berimbas pada produktivitas
kesehatan hewan, serta melaksanakan peternakan yang ada di Negara Indonesia.
koordinasi dengan memerhatikan ketentuan Dan diantara pasal 68 dan 69 disisipkan 5 Apabila perubahan pasal 68 ini berhasil
peraturan perundang-undangan di bidang (lima) pasal, yakni Pasal 68A, Pasal 68B, maka setiap veteriner akan bekerja sesuai
pemerintahan daerah. pasal 68C, pasal 68D, dan pasal 68E. dengan ranahnya masing-masing sehingga
4. Dalam ikut berperan serta mewujudkan hal ini akan mempermudah setiap
kesehatan hewan dunia melalui Siskeswanas penanganan penyakit hewan.
sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
Menteri dapat melimpahkan
kewenangannya kepada otoritas veteriner.
5. Otoritas veteriner bersama organisasi
profesi kedokteran hewan melaksanakan
Siskeswanas dengan memberdayakan
potensi tenaga kesehatan hewan dan
membina pelaksanaan praktik kedokteran
hewan di seluruh wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
6. Di samping melaksanakan pengendalian dan
penanggulangan penyakit hewan, kesehatan
masyarakat veteriner, dan/atau
kesejahteraan hewan, otoritas veteriner juga
melakukan pelayanan kesehatan hewan,
pengaturan tenaga kesehatan hewan,
pelaksanaan 20embi reproduksi, 20embi
konservasi, 20embilan veteriner, dan
pengembangan kedokteran hewan
perbandingan.
7. Ketentuan lebih lanjut mengenai
penyelenggaraan kesehatan hewan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai
dengan ayat (3) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Pasal 86 Pasal 86 - Terjadi beberapa perubahan pasal pada
Setiap orang yang menyembelih: Setiap orang yang menyembelih: UU No 18 Tahun 2009 dan UU No 41
a. Ternak ruminansia kecil betina produktif a. Ternak ruminansia kecil betina produktif Tahun 2014, dimana pada bab ini lebih
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 membahas pada sanksi administratif.
(2) dipidana dengan pidana kurungan paling ayat (4) dipidana dengan pidana kurungan Adapun pula beberapa pasal yang
singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 paling singkat (satu) bulan dan paling terdapat pada UU No 18 Tahun 2009,
(enam) bulan dan/atau denda paling sedikit lama 6 (enam) bulan dan denda paling dihilangkan pada UU No 41 Tahun 2014.
Rp1.000.000,00 (satu juta rup iah) dan sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah)
paling banyak Rp5.000.000,00 (lima juta dan paling banyak Rp5.000.000,00 (lima - Pada pasalnya ataupun pengurangan serta
rupiah); dan juta rupiah); atau penambahan pasal-pasal lagi ini dalam
b. Ternak ruminansia besar betina produktif b. Ternak ruminansia besar betina produktif bidang peternakan bertujuan untuk
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 membuat ketegasan hukum kepada
(2) dipidana dengan pidana kurungan paling ayat (a) dipidana dengan pidana penjara semua orang yang berkaitan halnya
singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 9 paling singkat 1 (satu) tahun dan paling dengan peternakan agar lebih kuat lagi
(21embilan) bulan dan/atau denda paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling terhadap sanksi administratif yang
sedikit Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta diberikan serta ketentuan pidana
dan paling banyak Rp25.000.000,00 (dua rupiah) dan paling banyak berdasarkan undang-undang yang telah
puluh lima juta rupiah). Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). diperbaharui ini guna untuk mewujudkan
keadilan, kebermanfaatan, kedaultan,
PASAL 91 PASAL 91 keprofesionalan dan lain-lain terhadap
Setiap orang yang membuat, menyediakan, Di antara Pasal 91 dan pasal 92 disisipkan 2 hukum yang telah diberlakukan
dan/atau mengedarkan obat hewan (dua) pasal, yakni Pasal 91A dan Pasal 9lB khususnya yang berkaitan dengan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) sehingga berbunyi sebagai berikut: peternakan melalui undang-undang
dipidana dengan pidana kurungan paling Pasal 91 A tentang peternakan dan kesehatan hewan.
singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 9 Setiap Orang yang memproduksi dan/atau
(sembilan) bulan dan/atau denda paling sedikit mengedarkan Produk Hewan dengan
Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) dan memalsukan produk Hewan dan/atau
paling banyak Rp1.800.000.000,00 (satu miliar menggunakan bahan tambahan yang dilarang
delapan ratus juta rupiah). sebagaimana dimaksud dalam pasal 58 ayat
(6), dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling
banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah).
Pasal 91 B
(1). Setiap Orang yafrg menganiaya dan/atau
menyalahgunakan Hewan sehingga
mengakibatkan cacat dan/atau tidak
produktif sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 66A ayat (1) dipidana dengan
pidana kurungan paling singkat 1 (satu)
bulan dan paling lama 6 (enam) bulan
dan denda paling sedikit Rp1.000.000,00
(satu juta rupiah) dan paling banyak
Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah).
(2). Setiap Orang yang mengetahui adanya
Perbuatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 66A ayat (l) dan tidak melaporkan
kepada pihak yang berwenang
sebagaimana dimaksud dalam pasal 66A
ayat (2) dipidana dengan pidana
kurungan paling singkat I (satu) bulan
dan paling lama 3 (tiga) bulan dan denda
paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta
rupiah) dan paling banyak
Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah).
PASAL 96 PASAL 96 Karena tidak adanya kejelasan mengenai
Ketentuan praktik kedokteran hewan dan Dihapus dan diantara pasal 96-97 disisipkan kinerja dari Dokter Hewan yang
ketentuan veteriner yang belum cukup diatur pasal 96A yang berbunyi : dicantumkan dalam undang-undang
dalam Undang-Undang ini akan diatur (1) Peraturan Pemerintah mengenai pulau sehingga hal ini menjadi rancu dan sulit
tersendiri dengan undang-undang. karantina sebagaimana dimaksud dalam pasal dimengerti. Pada pasal ini disebutkan bahwa
36D ayat (2) harus telah ditetapkan paling aka nada undang-undang yang mengaturnya
lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang- namun tidak dijelaskan kapan undang-
Undang ini diundangkan. undang tersebut akan dibuat sementara di
(2) Peraturan Pemerintah mengenai Otoritas Negara Indonesia saat ini dibutuhkan
Veteriner dan Siskeswanas sebagaimana pengawasan dan peraturan yang ketat
dimaksud dalam Pasal 68E harus telah mengenai hal ini sehingga pasal 96 ini
ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun terhitung dihapus dan dibuat ayat-ayat baru yang
sejak Undang-Undang ini diundangkan. mengatur kejelasan kinerja dari Kedokteran
Hewan mengenai Pulau Karantina dan
Otoritas Veteriner yang telah ditetapkan
paling lama 2 tahun setelah UU ini
diberlakukan, dengan adanya perubahan ini
implikasi bagi dunia peternakan sangat
terasa karena kinerja dari Tenaga Medis
seperti Kedokteran Hewan ini sudah ada
alur dan kejelasan sehingga dapat segera
membantu dunia peternakan dibidang
kesehatan hewan ternaknya.

Anda mungkin juga menyukai