Anda di halaman 1dari 15

PENGARUH HAMBATAN STRATUM KORNEUM TERHADAP

PENETRASI APMS MELALUI MEMBRAN KULIT TIKUS

SEBAGAI STUDI PRAFORMULASI SEDIAAN TOPIKAL

Dini RAHMATIKA

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan parameter penetrasi dari asam

p-metoksisinamat (APMS) melalui membran kulit tikus utuh dan kulit yang telah

dihilangkan stratum korneumnya. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat menjadi

dasar pertimbangan ilmiah dalam formulasi suatu sediaan topikal dengan bahan aktif

asam p-metoksisinamat. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan yaitu, penentuan

dosis efektifitas dan uji penetrasi dari APMS.

Penelitian diawali dengan uji aktifitas yang bertujuan untuk mengetahui dosis

efektifitas APMS yang setara dengan natrium diklofenak, uji ini dilakukan dengan

mengevaluasi efek anitiinflamasi yang dihasilkan menggunakan karagenan 1%.

Pengamatan tebal udem hind paws dilakukan selama 6 jam. Didapat hasil efek

antiinflamasi yang dihasilkan APMS 0,632 kali Natrium diklofenak, atau setara 1,994 x

10-6 mol/mL

Selanjutnya dilakukan uji penetrasi sediaan APMS. Kadar APMS yang

digunakan pada uji ini mengacu pada data penelitian penentuan kelarutan jenuh APMS

pada pH 7 yaitu 5,739 mg/mL. Dikarenakan untuk memperoleh kadar sesuai kelarutan

jenuh APMS memerlukan berbagai kondisi yang harus dipenuhi, maka pada penelitian

ini digunakan kadar dibawah kelarutan jenuh APMS, yaitu 3,6 mg/ml. Uji penetrasi
APMS dilakukan pada dua jenis membran kulit tikus wistar, membran kulit utuh dan

membran kulit yang telah dihilangkan stratum korneumnya.. Dari uji ini diketahui

terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua membran. Permeabilitas kulit yang

tanpa stratum korneum lebih besar dibandingkan permeabilitas membran kulit utuh.

Keywords : Asam p-metoksisinamat, antiinflamasi, penetrasi obat

ABSTRACT

The purpose of this experiment is to know parameter penetration of p-

methoxycinnamic acid used wistar rat skin. The outcome of this experiment would

subsequently be a scientific foundation for formulating a topical preparation of p-

methoxycinnamic acid which safe, effective and quality.

This research will be carried out in two stages those are determination of the

value of effectiveness and the penetration testing. This experiment started with test

activity which aims to determine effectiveness doses of p-methoxycinnamic that

equivalent to sodium diklofenak, it was evaluated using carrageenan 1%. The survey of

hind paws edema was done in 6 hour. The result of this study showed the effect of anti-

inflamatory of p-methoxycinnamic acid are 0,632 times from Sodium Diclofenac or

equal to 1,994 x 10-6 mol/mL

Doses have been obtained from test effectiveness used as levels in the test of

penetration. The p-methoxycinnamic acid penetration test used two kind of of wistar rat

skin membrane, the full thickness skin and the skin without Stratum corneum layer.

From this test there found to be significant alteration between the full thickness skin
and skin without Stratum corneum layer. The penetration rate of skin without Stratum

corneum higher than penetration rate of full thickness skin.

Keywords : p-methoxycinnamic acid, anti-inflamatory, drug penetration,

PENDAHULUAN

Inflamasi salah satunya dapat disebabkan peradangan pada salah satu jaringan tubuh

(inflamasi). Terapi penderita dengan peradangan mencakup dua sasaran utama: pertama,

meredakan nyeri, yang menjadi keluhan utama yang umumnya dikeluhkan pasien, yang

kedua perhambatan atau penghentian proses kerusakan jaringan (Katzung, 2007)


Salah satu pilihan untuk mengobati peradangan dapat juga menggunakan kencur

(Kaempferia galangal L.) yang memiliki kandungan etil p-metoksisinamat (EPMS)

(31,77%). Dalam tubuh, EPMS akan mengalami hidrolisis membentuk senyawa aktif

biologis, yaitu asam p-metoksisinamat (APMS) yang aktif sebagai antiinflamasi

(Sadono et al, 2000) yang bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase,

sehingga konversi asam arakhidonat menjadi prostaglandin terganggu. Prostaglandin

menyebabkan sensitivitas reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik maupun kimiawi.

Dengan demikian terjadi hambatan sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik

dan kimiawi (Ganiswara, 1995).


Terapi yang diberikan untuk mengurangi peradangan salah satunya adalah

menggunakan Obat Anti Inflamasi Nonsteroid (OAINS). Golongan obat ini sering

digunakan untuk meredakan nyeri untuk waktu yang cukup signifikan (Katzung, 2007).

Tapi, beberapa golongan OAINS yang digunakan secara oral dapat menyebabkan

pendarahan pada saluran cerna dan menyebabkan iritasi. Salah satu upaya untuk

menghindari efek samping ini adalah penggunaan secara transdermal.


Reseptor dari antiinflamsi terdapat pada daerah viable epidermis dan dermis pada

jaringan kulit. Sehingga, untuk dapat berikatan dengan reseptor APMS harus

berpenetrasi menembus lapisan epidermis. Namun pada lapisan teraebut terdapat lapisan

stratum korneum yang bertindak sebagai Rate limiting step dalam proses penetrasi

(Riviere, 1993). Untuk mengetahui pengaruh keberadaan Stratum corneum terhadap

daya penetrasi APMS dapat di lihat dari daya penetrasinya yang diperoleh melalui uji

penetrasi.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui daya penetrasi asam p-metoksisinamat

(APMS) melalui dua jenis kulit. Jaringan kulit yang digunakan yaitu hewan coba tikus

wistar jantan. Jaringan kulit yang digunakan pada penelitian dibagi menjadi 2 tipe, yaitu

jaringan kulit utuh dan kulit yang telah distripping (dihilangkan bagian stratum

korneumnya). Dari penelitian ini akan ditentukan parameter penetrasi dari APMS dari

membran kulit utuh dan membran tanpa stratum korneum

METODE PENELITIAN

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini, asam p-metoksisinamat (APMS)

dan Na-Diklofenak yang diperoleh dari Sigma Aldrich, Ketamin, normal salin,

karagenan diperoleh dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan membran kulit

tikus utuh dan yang telah di stripping, NaCl, KCl, NaHPO4. 12H2O dan KH2PO4 dan

KBr diproduksi oleh PT. Bratako. Pelarut yang digunakan adalah aquadest diperoleh

dari PT. Bratako. Alat-alat yang digunakan dalam peneletian ini adalah Rangkaian alat

untuk uji penetrasi Franz cells, Double beam Spectrophotometer UV-Vis cary 50 Conc.

Shimadzu, IR JASCO FT/IR-5300 Instrumen termometer, Neraca analitik, pH meter

SCHOOT glas mainz tipe CG 842, alat uji suhu lebur Differential Thermal Analysis

(DTA) SP 900 Thermal System Metler Toledo SP 85magnetic stirer, Mikroskop elektron,

Thermostatic Waterbath Mermert, spet injeksi, dispossible mikro kuvet


Metode peneletian yang pertama kali dilakukan adalah pemeriksaan kualitatif

bahan penelitian yaitu APMS diidentifikasi menggunakan DTA dengan mengamati suhu

lebur dengan alat DTA FP 900 Thermal System. Pengamatan dilakukan pada rentang

suhu antara 50oC- 250oC dengan kecepatan 10oC per menit (The United States

Pharmacopeia, 2002). Pemeriksaan spektra inframerah menggunakan teknik pelet KBr.

2 mg zat digerus dengan 300 mg serbuk KBr kering kemudian dikompresi dengan

penekan hidrolik yang dilengkapi alat penarik uap air agar diperoleh lempeng tipis yang

tembus cahaya. Spektra inframerah APMS yang diperoleh dibandingkan dengan spektra

inframerah dari pustaka (www.sigmaaldrich.com).

Selanjutnya, dilakukan uji penentuan dosis APMS sebagai antiinflamasi,

dengan cara membandingkan efektifitas sebagai antiinflamasi dari larutan Na-

Diklofenak 1% dengan larutan APMS yang memiliki kesetaraan molaritasnya. Pada

penelitian penentuan dosis efektifitas Na-Diklofenak 1 % dibandingkan dengan

APMS 0,56% dan dilakukan 5 kali replikasi. Hewan coba menggunakan tikus wistar

jantan yang terdiri atas 3 kelompok yaitu satu kelompok yang akan diuji dengan

larutan APMS, 1 kelompok yang akan diuji dengan larutan Na-Diklofenak dan 1

kelompok kontrol negaatif.

Tahap awal tikus dianestesi dengan pemberian ketamin 80mg/kg BB secara im

kemudian ditempatkan pada papan dengan posisi terlentang. Setelah dianastesi,

larutan dioleskan pada permukaan plantar dengan pengolesan sebanyak 50 kali

dengan spatel logam. 30 menit setelah pengolesan larutan, tikus diinduksi inflamasi

dengan injeksi 0,1 ml suspensi karagenan 1% dalam normal salin. Injeksi dapat

dilakukan pada subplantar (di bawah kulit telapak kaki tikus) sebelah kanan hind paw

dari tikus. Jarum 27G dengan syringe yang telah berisi karagenan disuntikan kedalam
ruang antara kulit dan otot secara hati-hati dan perlahan-lahan. Setelah injeksi

dilakukan tikus dimasukkan ke dalam kandang sesuai dengan kelompoknya. Evaluasi

tebal plantar dilakukan dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran tebal plantar

dilakukan pada menit ke- 0, 30, 60, 90, 120, 180, 240, 300, dan 360 setalah pemberian

suspensi 1% karagenin.

Selanjutnya dilakukan uji penetrasi dari larutan larutan APMS dengan kadar

yang setara dengan dosis efektif Na-Diklofenak yang telah didapatkan terhadap dua

jenis membran kulit tikus wistar jantan. Membran yang digunakan yaitu, membran

kulit tikus utuh dan membran kulit yang telah dihilangkan startum corneumnya, untuk

menghilangkan lapisan stratum corneum digunakan metode tape stripping sebanyak

40x.

Uji penetrasi menggunakan Franz cells. Media reseptor yang digunakan

adalah dapar fosfat salin pH 7,4 0,05. Penentuan daya penetrasi dilakukan dengan

mengamati kadar bahan aktif yang terpenetrasi dengan metode spektrofotometer pada

maks. Dari kadar yang diperoleh dihitung harga Fluks (Laju Penetrasi), selanjutnya

dapat dihitung permeabilitas membran. Dari data yang diperoleh dilakukan analisis

data secara statistik menggunakan Uji T

HASIL DAN PEMBAHASAN

Asam p-Metoksisinamat (APMS) yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh

dari Sigma-Aldrich dimana telah dilakukan identifikasi kemurniannya secara kualitatif

melalui spektrofotometer infra merah dan pemeriksaan suhu lebur dengan menggunakan

Differential Thermal Analysis (DTA). Hasil identifikasi dengan menggunakan

spektrofotometer infra merah menunjukkan hasil yang identik dengan spektra infra
merah APMS standar, sedangkan hasil identifikasi dengan dengan

menggunakanDifferential Thermal Analysis(DTA) menunjukkan suhu lebur 174,4C

yang sesuai dengan suhu lebur menurut literatur (173-175C) sehingga APMS dapat

digunakan untuk penelitian.


Penelitian ini terdiri dari dua tahapan, yaitu penentuan dosis efektifitas APMS yang

setara dengan Natrium Diklofenak dan uji penetrasi. Kedua uji menggunakan tikus putih

(Rattus norvegicus) galur Wistar jantan sebagai subyek penelitian. Dipilih tikus jantan

dengan tujuan mengurangi pengaruh hormonal dari subyek. Tikus yang digunakan

berumur 3-4 bulan dengan berat 150-200 gram. Hal ini dimaksud agar meminimalkan

terjadinya variasi biologis yang dapat mempengaruhi hasil dari efek antiinflamasi
Sebagai kontrol positif digunakan larutan Natrium Diklofenak 1% yang telah

terbukti memiliki efektifitas sebagai antiinflamasi. Untuk menentukan dosis APMS

dilakukan pada kadar molaritas yang sama dengan Natrium Diklofenak. Natrium

Diklofenak 1 % setara dengan 3,14 x 10-2 molar, maka APMS yang digunakan juga 3,14

x 10-2 molar yang setara dengan 5,59%. Kedua bahan aktif dilarutkan dalam air,

kemudian dioleskan pada telapak kaki tikus.


Hasil pengukuran tebal udem menunjukkan bahwa rerata tebal udem pada kelompok

Natrium Diklofenak lebih kecil daripada rerata tebal udem plantar tikus pada kelompok

APMS. Sedangkan rerata tebal udem plantar tikus pada kelompok APMS lebih kecil

daripada kontrol negatif. Profil hubungan antara tebal udem tiap waktu dari larutan

APMS, larutan Na-Diklofenak dan kontrol negatif dapat dilihat pada lampiran 1.
Berdasarkan data tebal udem yang didapat tiap waktu dibuat kurva antara waktu dan

tebal udem selanjutnya dapat ditentukan Area Under Curve (AUC) dari masing-masing

kurva tiap larutan, data AUC dapat dilihat pada lampiran 2 dan histogram rerata AUC

dariaktivitas dari tiap larutan uji dapat dilihat pada lampiran 3. Dari data rerata data

AUC antara tebal udem terhadap waktu dihitung % Daya Antiinflamasi (%DAI) yang
dapat dilihat pada lampiran 4, dan histogram perbandingan %DAI larutan APMS dan

larutan Natrium Diklofenak dapat dilihat pada lampiran 5.


Dari perhitungan %DAI didapat %DAI larutan APMS dan larutan Na-Diklofenak

berturut-turut adalah 28,78% dan 18,28%, maka daya hambat Natrium Diklofenak >

APMS. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa daya penghambatan udem APMS

sebesar 0,6352 kali dari Natrium Diklofenak atau setara dengan 1,994 x 10 -5 mol/mL.

Pada tahap selanjutnya dosis inilah yang dijadikan sebagai kadar untuk melakukan uji

selanjutnya

Reseptor antiinflamasi terdapat pada daerah viable epidermis dan dermis pada

jaringan kulit. Sehingga, untuk dapat berikatan dengan reseptor bahan aktif APMS harus

dapat menembus lapisan epidermis. Pada lapisan epidermis terdapat lapisan stratum

corneum yang bertindak sebagai Rate limiting step pada proses penetrasi. Lapisan

stratum corneum tersebut sebagian besar terdiri dari keratin (70%) (Walters, 2000) yang

merupakan protein serabut yang bersifat lebih larut lemak (Wirahadikusuma, 2008).

Matriks keratin tersebut yang menyebabkan lapisan stratum corneum lebih mudah

ditembus oleh bahan yang bersifat lipofilik seperti halnya Natrium Diklofenak.

Tahap selanjutnya pada penelitian ini adalah uji penetrasi. Pada uji penetrasi

kadar APMS yang digunakan disesuaikan dengan hasil penentuan dosis yang telah

dilakukan sebelumnya, yaitu 1,994 x 10-5 mol/mL. Digunakan dua macam membran

kulit tikus, yaitu kulit tikus utuh dan kulit yang telah dihilangkan stratum corneumnya.

Untuk memperoleh kulit tanpa stratum corneum, membran kulit utuh distripping

sebanyak 40x. Uji ini penetrasi dilakukan menggunakan alat Franzcell, digunakan

larutan dapar pH 7,4 0,05 suhu percobaan dikontrol untuk tetap konstan 37C 0,05.
Pengujian penetrasi dilakukan pada 8 tikus dengan 4 kali replikasi untuk tiap jenis

membran.

Hasil perhitungan jumlah kumulatif APMS yang berpenetrasi pada membran

kulit utuh dan membran kulit tanpa stratum corneum dapat dilihat selengkapnya pada

lampiran 6 . Profil hubungan antara jumlah kumulatif APMS yang berpenetrasi pada

membran kulit utuh dan membran kulit tanpa stratum corneum dapat dilihat pada

lampiran 7. Demikian pula dengan perhitungan persamaan regresi linier habungan

antara jumlah kumulatif APMS (g/cm2) vs waktu yang berpenetrasi dan hasil

perhitungan fluks penetrasi larutan APMS pada membran kulit utuh dan membran

tanpa stratum corneum selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 8.

Dari data serapan yang diperoleh dari uji penetrasi, dapat dihitung nilai fluks

dari masing-masing membran. Nilai fluks rata-rata yang diperoleh untuk membran kulit

utuh yaitu 0,299 g/cm2.menit sedangkan untuk membran kulit tanpa stratum corneum

adalah 1,263 g/cm2.menit. Dari nilai fluks tersebut diketahui APMS lebih mudah

berpenetrasi pada kulit yang telah dihilangkan stratum corneumnya.

Tiap lapisan kulit memiliki daya permeabilitas yang berbeda-beda, khususnya

pada lapisan epidermis dan dermis, salah satu lapisan yang paling berperan dalam

proses penetrasi adalah lapisan stratum corneum yang terletak di bagian terluar dari

epidermis. Seperti yang telah diketahui penetrasi bahan aktif dapat terjadi melalui

mekanisme transeluler, intraseluler, dan transappendegal (Ansel, 1993). Meskipun rute

intraselluler memiliki laju penetrasi kecil tetapi mekanisme ini lebih banyak terjadi

terutama pada obat-obat yang bersifat lipofilik, karena pada rute ini obat berpenetrasi
melalui lapisan stratum coreum yang memiliki luas permukaan besar sehingga terjadi

peningkatan konsentrasi bahan obat yang dapat terpenetrasi.

Pada membran kulit tanpa stratum corneum, lapisan yang bertindak sebagai

barier utama pada proses penetrasi telah diangkat. Pengangkatan lapisan inilah yang

menyebabkan peningkatan daya penetrasi dari APMS. Hal ini juga didukung oleh data

yang didapat pada studi yang telah dilakukan oleh Menon (2012) terbukti bahwa

dengan menyingkirkan lapisan stratum corneum memberikan daya permeabilitas yang

meningkat dibandingkan dengan permeabilitas pada membran kulit utuh.

Besarnya variasi antar tikus disebabkan faktor biologis, pada setiap replikasi

digunakan tikus berbeda yang sulit dikontrol secara seragam berat dan usianya sehingga

kemungkinan terdapat perbedaan tebal kulit,permeabilitas kulit, besarnya pori-pori pada

kulit dan jumlah folikel rambut. Oleh karena itu sangat diperlukan pengontrolan yang

lebih ketat mengenai keseragaman usia dan berat tikus sehingga dapat meminimalkan

adanya perbedaan tersebut.

Ucapan terima kasih

Rasa syukur dan terima kasih terdalam saya panjatkan kepada Allah SWT Sang

Pemberi Inspirasi. Serta satu-satunya alasan sejati penulisan skripsi ini sebagai salah

satu syarat untuk mencapai gelar sarjana pada Fakultas Farmasi Universitas Airlangga.

Penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik secara materiil

maupun moril. Oleh karena itu, saya ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang

telah membantu penyusunan skripsi ini, yaitu :


1. Prof. Widji Soeratri, Apt., DEA selaku pembimbing utama yang telah

menyisihkan waktu, membagi ilmu serta pengalamannya untuk membimbing

dan mendukung selama masa penelitian hingga penyusunan skripsi.

2. Dra. Noorma Rosita, Apt., M.Si selaku pembimbing serta yang telah

memberikan kesempatan menjadikan saya sebagai anak bimbing serta penuh

dengan kesabaran dan pengertian membimbing dan mendukung selama masa

penelitian hingga penyusunan skripsi.

3. Dr. Umi Athijah, Apt., MS selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

yang telah memberikan pengalaman menyusun skripsi sehingga saya dapat

menyelesaikan pendidikan program sarjana.

4. Dra. Esti Hendradi, Apt., M.Si., PhD selaku Ketua Departemen Farmasetika

Fakultas Farmasi Universitas Airlangga yang telah memberikan dukungan serta

fasilitas selama penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Aldrich, 2009. Material Safety Data Sheet. Penerbit: Sigma-Aldrich Co. www.sigma-

aldrich.com, diakses pada tanggal 28 Juli 2012

Ganiswara, S.G., 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-4, Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia, Jakarta: Gaya Baru.


Katzung B. G., 2007. Farmakologi Dasar dan Klinik. 10th ed. Jakarta: Salemba Medika,

hal 589-590

Menon, G.K (2012) The strutcture and function of the stratum corneum, International

journal of Pharmaceutics, 435, pp 3-8

Netzlaff, Frank., (2006) Permeability of the rconstructed human epidermis model epskin

in comparision to various human skin preparations. European Jurnal of

Pharmaceutics and Biopharmaceutics, Germany : Sciendirect, p. 127-134

Riviere, J. E., 1993, Biological Factors in Absorbtion and Permeation , In : Zatz, J. A

(Eds)., Skin Permeation Fundamentals and Application, Wheaton : Allured

Publishing Corp, p. 113-125.

Sadono dan Hasmono, D., 2000 Ketersediaan Hayati/ Profil Farmskokinetik Kristal

APMS (Isolat Bahan Aktif Serbuk Rimpang Kencur) padaHewan Coba Kelinci.

Laporan Penelitian, Lemlit UNAIR.

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1
Profil hubungan antara tebal udem tiap waktu (jam) vs tebal rerata tebal udem (mm) dari
larutan APMS, larutan Na-Diklofenak dan kontrol negatif
Injeksi Karagenan
Pengolesan sediaan

LAMPIRAN 2
Hasil AUC dari kurva tebal udem terhadap waktu

AUC AUC Rerata SD


Sediaan Replikasi (mm.jam) (mm.jam)
1 6,950
2 4,450
Natrium diklofenak 3 5,800 5.0851.6477
4 5.625
5 2,600
1 4.375
2 9.775
APMS 3 3,500 5,8352,6839
4 4.075
5 7,450
1 6,025
2 8,950
3 8,100
Kontrol Negatif 7,1401.4557
4 7,225
5 5,400
LAMPIRAN 3
Histogram rerata AUC aktivitas dari larutan APMS, larutan Natrium Diklofenak dan
Larutan Kontrol Negatif.
LAMPIRAN 4
Data AUC dan %Daya Antiinflamasi
Sediaan AUC (mm. jam) %DAI
Kontrol Negatif 7.140 -
Natrium Diklofenak 5.085 28.78
APMS 5.835 18.28

LAMPIRAN 5
Histogram perbandingan Persen Daya Antiinflamasi larutan APMS dengan larutan
Natrium Diklofenak.

LAMPIRAN 6
Kurva hubungan antara waktu vs jumlah kumulatif APMS yang berpenetrasi
dalam media larutan dapar fosfat salin ph 7,4 0,05 tiap cm2 pada suhu 37C pada
membran kulit utuh dan tanpa stratum corneum
LAMPIRAN 7
TabeL Nilai fluks uji penetrasi APMS pada membran kulit utuh dan kulit tanpa stratum
corneum

Fluks
Membran Replikasi Rerata SD %KV
0,232
Kulit utuh 0,236 0,299 0,075 25,23
0,373
0,355
1,339
Kulit tanpa 1,131 1,263 0,094 7,42
stratum corneum 1,319
1,264

LAMPIRAN 8
Nilai Permeabilitas APMS pada membran kulit utuh dan membran kulit tanpa
stratum corneum

Membran Permeabilitas SD (%KV)


(cm/menit)
Kulit utuh 8.42. 10-04 2.12 . 10-04 (25,23)
Kulit tanpa Stratum corneum 3.56 . 10-04 2,64 . 10-04 (7,42)