Anda di halaman 1dari 21

A.

Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki wilayah lautan yang lebih luas
dibanding dengan luas daratannya, yakni sekitar 5.8 juta km2 . Hal ini mengakibatkan
Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang, yakni 81.000 km. Garis pantai yang
sangat panjang ini memiliki berbagai manfaat keuntungan bagi negara Indonesia,
manfaatnya dapat berupa potensi biotik dan abiotik. Potensi biotik ini dapat berupa
keanekaragaman sumber daya hayati di sekitar pantai, seperti keberadaan hutan
mangrove, keanekaragaman ikan dan terumbu karang, dan keanekaragaman lainnya.
Sedangkan untuk potensi abiotik dapat berupa ketersediaannya minyak dan mineral gas
bumi di bawah laut.
Salah satu potensi yang sangat penting keberadaannya di muka bumi adalah
keberadaan hutan mangrove. Mangrove merupakan sebuah tanaman pohon yang hidup di
sekitaran garis pantai di wilayah pesisir. Menurut UU No. 27 Tahun 2007 wilayah pesisir
merupakan daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh
perubahan di darat dan di laut. Hutan mangrove di Indonesia merupakan hutan mangrove
terluas di Indonesia yakni sekitar 27% luas mangrove dunia berada di Indonesia dengan
tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (Hamid, 2013).
Keberadaan hutan mangrove sangatlah penting untuk kelestarian lingkungan, baik
lingkungan pesisir maupun lingkungan darat. Keberadaan mangrove dapat menghambat
terjadinya abrasi pantai dan mengurangi kecepatan arus yang akan menghempas daratan.
Secara biologis keberadaan hutan mangrove dapat digunakan sebagai tempat pembenihan
ikan dan udang, tempat pemijahan beberapa biota laut, tempat bersarangnya beberapa
jenis burung, dan secara garis besar hutan mangrove juga merupakan habitat alami untuk
beberapa jenis biota. Secara aspek lingkungan, mangrove juga dapat menyerap berbagai
macam zat kimia berbahaya dan akan menjadi substrat pada akar mangrove.
Meskipun demikian, keberadaan hutan mangrove tidak selamanya lestari. Karena
berdasarkan Hamid, 2013 dalam artikel ilmiahnya menyebutkan bahwa sekitar 48% luas
hutan mangrove di Indonesia telah mengalami kerusakan sedang dan 23% mengalami
kerusakan parah. Kerusakan hutan mangrove dialami hampir di seluruh daerah di
Indonesia, termasuk di Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur. Sebesar 40% dari total luas
mangrove di Kota Surabaya telah mengalami kerusakan yakni.
Bertitik tolak pada uraian mengenai permasalahan di wilayah studi dan manfaat
dari keberadaan hutan mangrove itu sendiri, maka sangat diperlukan arahan pengendalian

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 1


konversi hutan mangrove sebagai salah satu upaya menjaga ekosistem mangrove secara
optimal yang memiliki nilai manfaat dan potensi yang sangat besar bagi keberlangsungan
kehidupan di sekitar pesisir pantai.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah disebutkan sebelumnya, maka rumusan masalah
yang dapat diangkat dalam makalah ini adalah ;
1. Bagaimanakah kondisi kerusakan hutan mangrove yang terjadi di Kota Surabaya?
2. Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan
mangrove di Kota Surabaya?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk menyusun arahan pengendalian terhadap
laju konversi hutan mangrove di Kota Surabaya yang semakin meningkat. Tujuan ini
terdiri dari beberapa tujuan dasar, diantaranya:
1. Mengetahui kondisi dan pendistribusian hutan mangrove di Kota Surabaya
2. Mengetahui mengetahui kondisi kerusakan hutan mangrove yang berada di Kota
Surabaya
3. Mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada hutan
mangrove di Kota Surabaya
4. Menyusun dan memberikan rekomendasi dan arahan terhadap permasalahan
wilayah studi guna menekan angka pengkonversian hutan mangrove.

D. Identifikasi Kondisi
1. Identifikasi Geografis Wilayah
Kota Surabaya secara geografis terletak pada 70 9 70 21 LS dan 1120 36
1120 57 BT dengan Topografi relatif datar antara 0 20 Meter diatas permukaan air
laut (Bappeko Kota Surabaya). Sedangkan wilayah Pesisir Kota Surabaya berada pada
titik koordinat 70 14 - 70 21 LS dan 1120 37 - 1120 57 BT . Wilayah pesisir
Surabaya meliputi 11 Kecamatan dengan luas kota 52.087 Ha, luas daratan 33.048 Ha
sedangkan selebihnya yaitu 19.039 Ha merupakan wilayah laut (Dinkominfo, Profil
Surabaya Tahun 2011). Kota Surabaya memiliki panjang garis pantai 37,5 km

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 2


terbentang dari sisi timur dari titik perbatasan Kabupaten Sidoarjo (di sisi selatan)
hingga kearah utara dari titik perbatasan Kota Surabaya.
Secara administrasi pemerintahan, Kota Surabaya dikepalai oleh seoraang
walikota yang juga membawahi koordinasi atas wilayah administrasi Kecamatan yang
dikepalai oleh Camat. Jumlah Kecamatan yang ada di wilayah Kota Surabaya terdiri
dari 31 kecamatan, dan 163 Kelurahan.
Sebagaimana daerah-daerah lain, Kota Surabaya juga berdekatan dengan
kabupaten/kota yang tergabung dalam Gerbangkertasusila, yaitu Gresik, Bangkalan,
Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan. Adapun batas-batas wilayah Kota
Surabaya sebagai berikut :
Sebelah Utara : Selat Madura
Sebelah Timur : Selat Madura
Sebelah Selatan : Kab. Sidoarjo
Sebelah Barat : Kab. Gresik
Secara klimatologi, surabaya sama dengan daerah lainnya di Indonesia, yakni
memiliki iklim tropis dengan dua musim, yakni iklim kemarau dan iklim penghujan.
Curah hujan rata-rata adalah 172mm dengan temperatur berkisar maksimum 300 C dan
minimum 250 C.

2. Identifikasi Kondisi dan Distribusi Persebaran Hutan Mangrove


Persebaran hutan mangrove di surabaya terbagi dalam dua zonasi wilayah, yakni di
Pantai Timur Surabaya (PAMURBAYA) dan Pantai Utara (PANTURA). Pamurbaya
merupakan salah satu kawasan ruang terbuka hijau yang memiliki kendali besar
terhadap keadaan geografis Kota Surabaya. Hal ini dikarenakan Hutan Mangrove
yang ada di Pantai Timur ini menjadi benteng untuk melindungi Surabaya dari
ancaman abrasi, instrusi air laut, dan penurunan muka tanah.
Kawasan Pamurbaya terletak pada koordinat 70 15 19,60 LS - 70 17 13,25
LS dan 1120 48 35,69BT - 1120 48 40,72BT dengan luasan mencapai 2.503,9
Ha. Pamurbaya terletak di bagian timur kota Surabaya dan berbatasan langsung
dengan Selat Madura. Lokasi Pamurbaya terbentang pada 4 Kecamatan, yaitu;
a. Kecamatan Gunung Anyar (Kelurahan Gunung Anyar Tambak)
b. Kecamatan Rungkut (Kelurahan Medokan Ayu, dan Wonorejo)
c. Kecamatan Sukolilo (Kelurahan Keputih, Semampir)

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 3


d. Kecamatan Mulyorejo ( Kelurahan Dukuh Sutorejo, Kalisari dan Kejawen
Putih
Hutan mangrove yang tersebar di beberapa kecamatan ini tidak hanya terdiri
dari satu jenis saja, melainkan terdiri dari beberapa macam jenis, yakni;
1. Kecamatan Gunung Anyar : Avicennia marina, Avicennia alba, Excoecaria
agallocha, Avicennia lanata, Xylocarpus granatum.
2. Kecamatan Rungkut : Avicennia marina, Avicennia alba, Excoecaria
agallocha, Aegiceras floridum, Rhizophora mucronata , Avicennia
Officinalis.
3. Kecamatan Sukolilo : Avicennia marina, Avicennia alba, Avicennia
officinalis (Zona Luar) Sonneratia caseolaris, Sonneratia alba, Rhizopora
apiculata (Sepanjang sungai)
4. Kecamatan Mulyorejo : Avicennia marina, Excoecaria agallocha

Daerah Pantai Utara Surabaya mempunyai panjang garis pantai 9 km


dengan luas kawasan 1.000 ha. Kelurahan yang termasuk pesisir utara adalah :
1. Kecamatan Benowo : Kelurahan Romokalisari, Tambak Osowilangun
2. Kecamatan Asemrowo : Kelurahan Tambak Langon, Greges, Kalianak
3. Kecamatan Krembangan : Kelurahan Morokrembangan, Perak Barat
4. Kecamatan Semampir : Kelurahan Ujung
5. Kecamatan Bulak : Kelurahan Kedung Cowek, Sukolilo, Kenjeran
Daerah Pantura umumnya memiliki keadaan ombak dan angin lebih kecil
daripada di pesisir timur. Selain itu, Pantura merupakan daerah yang didominasi oleh
industri terutama industri bongkar muat dan peti kemas dari sepanjang jalan
Kecamatan Pabean Cantikan hingga Benowo. Kawasan Pantura memiliki Teluk
Lamong yang mempengaruhi ekosistem di kawasan tersebut. Kedalaman Perairan
Teluk Lamong berkisar 0,2 - 2 meter, kedalaman alur pelayaran mencapai 12 meter.
Keadaan Lingkungan Teluk Lamong adalah sebagai berikut:
Kali Lamong adalah anak sungai Bengawan Solo.
Sungai yang bermuara di Teluk Lamong adalah Sungai Lamong, Sungai
Kalianak, Sungai Greges, Sungai Manukan, Sungai Branjangan, dan
Sungai Sememi.

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 4


Pada Ekosistem mangrove di Kawasan Pantura ada beberapa komponen
spesies pendukung yang ditemukan di daerah Pantura tetapi tidak ditemukan di
daerah Pamurbaya. Komponen spesies penyusun ekosistem mangrove di kawasan ini
diantaranya adalah jenis mangrove sejati, seperti:
1. Romokalisari : Sonneratia alba, Rhizophora apiculata, Rhizophora
stylosa, Aiegeceras, Avicennia marina, Xylocarpus granatum, Avicennia
alba.
2. Tambak Langon : Rhizophora stylosa, Bruguiera gymnorhiza,
Rhizopora apiculata, Sonneratia alba, Avicennia alba, Avicennia
marina
3. Greges : Avicennia marina, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata,
Bruguiera gymnorhiza, Sonneratia alba, Avicennia alba

3. Identifikasi Permasalahan Konversi Lahan Hutan Mangrove


Seperti yang telah dijelaskan pada bagian identifikasi persebaran mangrove,
bahwa mangrove di Kota Surabaya terbagi dalam dua zonasi yakni zona Pamurbaya
dan zona Pantura. Berikut ini akan ditampilkan data-data mengenai luas lahan di
kedua zona tersebut.
Luas Lahan Luas Lahan Luas Total
Kecamatan Kelurahan
Baik (Ha) Rusak (Ha)* (Ha)
Gunung Gunung Anyar
52,398 11,079 63,477
Anyar Tambak
Dukuh Suterojo 1,486 0 1,486
Mulyorejo Kalisari 65,816 2,513 68,329
Kejawan Putih 28,257 0,204 28,461
Medokan Ayu 69,028 1,375 70,403
Rungkut
Wonorejo 37,374 14,006 51,380
Sukolilo Keputih 117,843 32,525 150,378
Semampir 1,094 0,327 1,421
TOTAL 373,296 62,029 435,335
* hasil penjumlahan antara rusak sedang dan rusak parah
Tabel 1. Data kondisi Hutan Mangrove di Kawasan Pantai Timur Surabaya
Sumber: Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Surabaya 2011, diolah
Luas Lahan Luas Lahan Luas Total
Kecamatan Kelurahan
Baik (Ha) Rusak (Ha) (Ha)
Greges 4,556 1,039 5,595
Asemworo
Kalianak 5,794 6,608 12,402

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 5


Tambak
3,557 2,776 6,333
Langon
Romokalisari 11,564 3,335 14,899
Benowo Tambak Oso
10,063 16,604 26,607
Wilangun
Morokremba
6,918 3,776 10,694
Krembangan ngan
Perak Barat 1 0 1
Semampir Ujung 18,252 2,623 20,875
Kedung
0 8,023 8,023
Cowek
Bulak
Kenjeran 5,292 0 5,292
Sukolilo 6,994 0 6,994
TOTAL 73,99 44,784 118,714
* hasil penjumlahan antara rusak sedang dan rusak parah
Tabel 2. Data kondisi Hutan Mangrove di Kawasan Pantai Utara Surabaya
Sumber: Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Surabaya 2011, diolah
Berdasarkan tabel di atas, dapat kita lihat luas hutan mangrove yang ada di
pesisir Pantai Timur Surabaya jumlahnya jauh lebih banyak dibanding dengan
jumlah mangrove yang ada di kawasan utara. Namun, bila melihat angka kerusakan
lahannya, maka kerusakan lahan mangrove di bagian pantai utara surabaya jauh lebih
parah bila dibandingkan jumlah total lahan mangrovenya. Dengan jumlah lahan
mangrove total sebesar 118.7 Ha jumlah lahan yang masih dalam kondisi baik adalah
73 Ha dengan total kerusakan adalah sebesar 44,78 Ha hampir mencapai angka 40%
dari total keseluruhan. Sedangkan di daerah pesisir timur, prosentase kerusakannya
hanya sebesar 14%.
Ada dua pola pengalihan lahan yang terjadi di kedua wilayah pesisir ini, untuk
di kawasan pesisir timur surabaya, kerusakan lahan mangrove lebih disebabkan
karena adanya reklamasi laut dan pantai yang secara otomatis juga mengorbankan
keberadaan hutan mangrove yang juga menjadi salah satu penyusun ekosistem laut
dan pantai. Sedangkan pada kawasan pesisir utara surabaya terjadi pengalihan fungsi
lahan yang tadinya sebagai kawasan lindung menjadi kawasan pelabuhan terbangun,
juga melalui jalan reklamasi.
Di pantai timur surabaya ini, banyak warga yang memanfaatkan bahan bawaan
dari sungai brantas yang kemudian mengendap di muara sungai. Berton-ton material
hasil erosi sungai brantas mengendap di tempat ini, sehingga warga melakukan
oloran terhadap sedimentasi tersebut untuk tambak dan pemukiman. Selain itu,

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 6


masalah yang lebih berat lagi yang dialami oleh Kota Surabaya terhadap pantai timur
surabaya ini adalah adanya kegiatan reklamasi pantai dan laut. Reklamasi ini
dilakukan oleh pengembang besar yang pada megaproyeknya akan membangun
pemukiman perumahan mewah atau real estate dan juga pembangunan apartement
dengan lokasi langsung menghadap laut dan pantai.
Sesuai dengan namanya, Mega proyek yang dilakukan oleh developer ini tidak
melakukan reklamasi laut dalam jumlah yang sedikit, melainkan seluas 400 Ha.
Dapat dibayangkan seberapa luas proyek yang tengah dilakukan oleh developer ini.
Dengan adanya reklamasi pantai dan laut yang cukup besar, maka mau tidak mau
harus ada yang dikorbankan, tidak lain dan tidak bukan adalah ekosistem kawasan
pesisir yang termasuk di dalamnya adalah lahan hutan mangrove. Kondisi pantura
surabaya yang didominasi oleh berbagai macam industri dengan tempat bongkar
muat peti kemas yang besar-besar, memerlukan pergudangan yang sangat luas. Guna
memenuhi kebutuhan akan gudang yang sangat luas ini, maka tidak sedikit
perusahaan atau pabrik yang melakukan reklamasi pada lahan mangrove.
Perusahaan-perusahaan ini mengeruk lahan mangrove dan menimbunnya dengan
pasir setinggi 2-3 meter.
Selain permasalahan mengenai reklamasi menjadi lahan perindustrian,
permasalahan lain yang juga timbul adalah permasalahan megaproyek Kali Lamong.
Proyek Kali Lamong ini mewujudkan sebuah pelabuhan bertaraf internasional yang
menelan biaya 6,5T. Proyek pelabuhan lepas pantai ini dilaksanakan oleh PT.
Pelabuhan Indonesia III yang diharapkan dapat merangsang pertumbuhan
perindustrian dan perekonomian di wilayah administrasi Surabaya Utara dan
menjadikan proses ekspor impor dari Surabaya ke Asia Timur dapat berjalan lebih
lancar.
Pelaksanaan proyek pembangunan pelabuhan yang menelan biaya yang tidak
sedikit ini sangat dapat dipastikan dapat mengorbankan keberadaan Hutan Mangrove
yang berada di daerah Benowo, Asemrowo dan Tandes yang menjadi perbatasan
Surabaya-Gresik. Pemusnahan terhadap ekosistem mangrove di kawasan surabaya
utara ini akan membawa dampak negatif ke depannya, selain merusak mangrove,
proyek ini juga akan merusak ekosistem lainnya yang sangat bergantung pada
keberadaan mangrove, seperti ekosistem ikan dan udang yang menjadikan mangrove
sebagai tempat reproduksi, ekosistem burung yang singgah di pohon-pohon

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 7


mangrove, baik itu burung asli indonesia maupun burung-burung dari luar negeri
yang melakukan migrasi.
Sedangkan permasalahan umum yang terjadi di kedua wilayah zonasi
mangrove diantaranya adalah masih banyaknya masyarakat sekitar yang masih
menggantungkan kehidupannya pada kayu mangrove terkait kebutuhan akan
memasak dan lain sebagainya. sehingga masyarakat akan mengambil dan menebang
pohon mangrove untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Permasalahan
lainnya adalah adanya masyarakat yang secara illegal menjadikan kawasan
mangrove menjadi kawasan tambak ikan dan udang. Masyarakat membabat habis
lahan mangrove kemudian mengeruknya menjadi tambak.
Sehingga, apabila disimpulkan semua permasalahan mengenai lahan mangrove
lebih dititik beratkan pada keinginan individu ataupun kelompok untuk mereklamasi
lahan mangrove menjadi bentuk lahan lain, seperti pemukiman, perindustrian dan
tambak. Yang mana alih fungsi lahan ini sangatlah tidak dibenarkan karena lahan
mangrove merupakan kawasan lindung yang tidak boleh dirusak bahkan dialih
fungsikan.

4. Identifikasi Faktor Penyebab Konversi Lahan Mangrove


Berdasarkan pada pemaparan permasalahan masalah mangrove di atas, ada
beberapa faktor-faktor yang diidentifikasikan menjadi penyebab konversi lahan
mangrove itu sendiri, diantaranya adalah:

No. Variabel Sub Variabel Penjelasan


1. Pemerintahan Peraturan Kota Surabaya sejak tahun 2010 atau
mengenai tepatnya sejak dibawah pemerintahan
fungsi kawsan Walikota periode 2010-2015 sudah
pesisir. tidak memiliki rencana tata ruang
wilayah (RTRW) yang dapat
dijadikan sebagai pedoman dalam
melakukan pembangunan. Sehingga
terjadi kesimpangsiuran terhadap
pemberian wewenang pengelolaan
sumber daya termasuk lahan hutan
mangrove.
Tidak adanya peraturan yang jelas
mengenai status atau fungsi suatu
kawasan serta ancaman hukuman

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 8


terhadap perorangan ataupun
kelompok yang melakukan alih
fungsi lahan.
2. Ekonomi Tingkat Rendahnya tingkat pendapatan dan
Perekonomian tingkat perekonomian masyarakat
masyarakat khususnya masyarakat pesisir
sehingga melakukan penebangan
mangrove untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, baik untuk
diambil kayunya ataupun untuk
dijadikan tambak.
Tabel 3. Data faktor penyebab kerusakan dan konversi Hutan Mangrove
Sumber: analisis kelompok SDL, 2013

E. Kajian Pustaka
1. Teori Tata Guna Lahan
Dalam pembagian fungsi kawasan dan wilayah pada dasarnya harus mengikuti
kaedah tata guna lahan yang sesuai. Berbagai teori mengenai tata guna lahan
dijadikan landasan dalam penataannya. Adapun teori tata guna lahan menurut C.
hapsin adalah sebagai berikut.
1.1. Teori Konsentrik (concentriczone concept)
Teori Konsentrik yang dikemukakan EW.Burkss. Dalam teori konsentrik ini,
Burgess mengemukakan bahwa bentuk guna lahan kota membentuk suatu zona
konsentris,yang dibagi dalam beberapa zona, yaitu :
Lingkaran dalam terletak pusat kota (central business distric atau CBD)
yang terdiri bangunan-bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar dan
pusat perbelanjaan.
Lingkaran kedua terdapat jalur peralihari yang terdiri dari: rumah-rumah
sewaan, kawasan industri, dan perumahan buruh
Lingkaran ketiga terdapat jalur wisma buruh, yaitu kawasan perumahan
untuk tenaga kerja pabrik
Lingkaran keempat terdapat kawasan perumahan yang luas untuk tenaga
kerja kelas menengah
Lingkaran kelima merupakan zona penglaju yang merupakan tempat kelas
menengah dan kaum berpenghasilan tinggi.

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 9


1.2. Teori sektor (sector concept)
Dalam teori ini Hoyt mengemukakan beberapa masukan tambahan dari bentuk
guna lahan kota yang berupa suatu penjelasan dengan penggunaan lahan
permukiman yang lebih memfokusan pada pusat kota dan sepanjang jalan
transportasi. Hoyt membagi wilayah kota dalam beberapa zona, yaitu:
Lingkaran pusat, terdapat pusat kota atau CBD
Sektor kedua terdapat kawasan perdagangan dan industri
Sektor ketiga terdapat kawasan tempat tinggal kelas rendah
Sektor keempat terdapat kawasan tempat tinggal kelas menengah
Sektor kelima terdapat kawasan ternpat tinggal kelas atas.

1.3. Teori banyak pusat (multiple-nuclei concept)


Menurut McKenzie teori banyak pusat ini didasarkan pada pengamatan
lingkungan sekitar yang sering terdapat suatu kesamaan pusat dalam bentuk pola
guna lahan kota daripada satu titik pusat yang dikemukakan pada teori
sebelumnya Dalarn teori ini pula McKenzie menerangkan bahwa kota meliputi
pusat kota, kawasan kegiatan ekonomi, kawasan hunian dan pusat lainnya. Teori
banyak pusat ini selanjutnya dikembangkan oleh Chancy Harris dan Edward
Ullman yang kemudian membagi kawasan kota menjadi beberapa penggunaan
lahan(pendekatan ekologi), yaitu:
Pusat kota atau CBD
Kawasan perdagangan dan industri
Kawasan ternpat tinggal kelas rendah
Kawasan ternpat tinggal kelas menengah
Kawasan tempat tinggal kelas atas
Pusat industri berat
Pusat niaga/perbelanjaan lain di pinggiran
Kawasan tempat tinggal sub-urban
Kawasan industri suburban

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 10


2. Konversi Guna Lahan
Dalam pembagian suatu kawasan sering ditemukan penggunaan kawasan yang tidak
sesuai dengan tata guna lahan. Dalam beberapa wilayah, ditemukan konvensi
(pengalihan) fungsi kawasan. Contonya kawasan pemukiman menjadi kawasan
industri, kawasan budidaya menjadi kawasan industri dan sebagainya. Dalam
penanganannya diperlukan suatu indikator dalam menetukan kesesuain fungsi
kawasan. Untuk mempermudah dalam menentukan kualitas lahan sebagai indikator
kesesuaian lahan, adapun faktor-faktor biotik yang mempengaruhi adalah sebagai
berikut.

Tabel 4. Kualitas Lahan sebagai Indikator Kesesuain Lahan


Fungsi Kualitas Lahan Spesifik
Kualitas lahan yang Ketersedian air, unsur hara, dan oksigen.
berhubungan dengan Kemudahan pengolahan (workability) .
pertumbuhan dan produk Salinasi dan/atau alkalinasi,dan toksinitas atau
tanaman keasaman ekstrim.
Bahaya banjir.
Regim temperature.
Energi radiasi dan lama penyinaran.
Kelembaban udara.
Periode kering untuk pengeringan.
Kualitas Lahan Peningkatan spesies dan produksi kayu-kayuan.
berhubungan dengan Jenis dan kuantitas spesies kayu-kayuan.
produksi kehutanan dan Faktor setempat yang mempengaruhi regenerasi.
produksi ekstraksi Kemungkinan ancaman/ bahaya kebakaran.
Ketersedian spesies pohon bernilai.
Ketersedian/ hasil buah-buahan.
Ketersedian/ kelimpahan hewan buruan
Aksesibilitas lahan.
Kualitas lahan berkaitan Kemungkinan mekanisasi (trafficability).
dengan upaya pengolahan Faktor lahan yang mempengaruhi konstruksi dan
kawasan produksi pemeliharaan jalan( accesibillity).
tanaman, hewan dan Ukuran unit lahan untuk optimalisasi pengelolahan
eksternal dalam produksi (forest block).
Kemudahan pengangkutan untuk input, produksi,
pemasaran dan suplei hasil

Kualitas lahan berkaitan Kesuburan tanah dan kualitas air, dan kondisi estiari
dengan upaya pengolahan Kemungkinan mekanisasi (trafficability).
budidaya pesisir Ukuran unit lahan untuk optimalisasi pengelolahan

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 11


produksi (luas hamparan kawasan).

Dalam lingkup wilayah studi yakni di Kota Surabaya, yang menjadi masalah
konversi lahan adalah konversi lahan mangrove menjadi lahan perindustrian,
permukiman dan bentuk lahan budi daya lainnya.

3. Karakteristik Wilayah Pesisir


Wilayah pesisir adalah wilayah yang merupakan tanda atau batasan wilayah daratan
dan wilayah perairan yang mana proses kegiatan atau aktivitas bumi dan
penggunaan lahan masih mempengaruhi proses dan fungsi kelautan (Kay dan Alder
,1999). Menurut kesepakatan terakhir internasional adalah merupakan wilayah
peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena
pengaruh percikan air laut atau pasang surut, dan ke arah laut. Dari kedua pengertian
ini dapat ditarik kesimpulan bahwa wilayah pesisir adalah wilayah tempat
percampuran antara daratan dan lautan, hal ini berpengaruh terhadap kondisi fisik
dimana pada umumnya daerah yang berada di sekitar laut memiliki kontur yang
relatif datar.
Dalam penentuan batas wilayah pesisir sulit untuk mengenali batas
wilayahnya, sehingga digunakan batas khayal yang letaknya ditentukan oleh kondisi
dan situasi setempat. Di daerah pesisir yang landai dengan sungai besar, garis batas
ini dapat berada jauh dari garis pantai. Sebaliknya di tempat yang berpantai curam
dan langsung berbatasan dengan laut dalam, wilayah pesisirnya akan sempit.
Menurut UU No. 27 Tahun 2007 Tentang batasan wilayah pesisir, kearah daratan
mencakup wilayah administrasi daratan dan kearah perairan laut sejauh 12 (dua
belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau kearah perairan
kepulauan. Karakteristik dari wilayah pesisir menurut Jan C. Post dan Carl G.
Lundin (1996) antara lain:
Suatu wilayah yang dinamis.
Mencakup ekosistem dan keanekaragaman.
Adanya terumbu karang, hutan bakau, pantai dan bukit pasir yang berfungsi
untuk menahan atau menangkal badai, banjir, dan erosi,
Wilayah pesisir dapat digunakan untuk mengatasi akibat-akibat dari
pencemaran, khususnya yang berasal dari darat. Misalnya tanah basah dapat
menyerap kelebihan bahan-bahan makanan, endapan, dan limbah buangan.

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 12


Dimanfaatkan sebagai sumber daya laut hayati dan nonhayati, dan sebagai
media untuk transportasi laut serta rekreasi.
Sedangkan karakteristik wilayah pesisir menurut Departemen Pemukiman dan
Prasarana Wilayah (2001) antara lain:
Terdiri dari habitat dan ekosistem yang menyediakan barang dan jasa
(goods and services) bagi komunitas pesisir dan pemanfaat lainnya
(beneficiaries),
Adanya kompetisi antara berbagai kepentingan,
Sebagai backbone dari kegiatan ekonomi nasional,
Wilayah strategis, didasarkan atas fakta:
Garis pantai Indonesia 81.000 km pada 17.508 pulau (terbanyak di
dunia).
Penyebaran penduduk terbesar.
Potensi sumber daya kelautan yang kaya.
Sumber daya masa depan akibat ketersediaan wilayah darat yang semakin terbatas.

4. Ekosistem Mangrove
4.1. Pengertian Mangrove ( Hutan Bakau )
Mangrove atau sering disebut hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di atas
rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh
pasang-surut air laut (Vitanurmala,2012) . Menurut Undang-undang no 5 tahun
1990 tentang konvensi sumber daya alam Hayati dan Ekosistemnya merupakan
suatu kekuatan dalam pelaksaan konservasi kawasan hutan mangrove. Adapun
aspek dalam undang-undang tersebut adalah sebagai berikut.
Perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan dengan menjamin
terpeliharanya proses ekologi bagi kelangsungan hidup biota dan
keberlangsungan ekosistemnya.
Pengawetan sumber plasmah nutfah, yaitu menjamin
terpeliharnayasumber genetik dan ekosistemnya,yang sesuai bagi
kepentingan kehidupan umat manusia.
Pemanfaatan secara lestari atau berkelanjutan, baik berupa produksi dan
jasa

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 13


5. Fungsi dan Kegunaan Mangrove
Hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat yang sangat penting bagi
ekosistem hutan, air dan alam sekitarnya. Fungsi atau manfaat hutan bakau
dapat ditinjau dari sisi fisik, biologi, maupun ekonomi.
Manfaat dan fungsi hutan mangrove secara fisik antara lain:
Penahan abrasi pantai.
Penahan intrusi (peresapan) air laut ke daratan.
Penahan badai dan angin yang bermuatan garam.
Menurunkan kandungan karbondioksida (CO2) di udara
(pencemaran udara).
Penambat bahan-bahan pencemar (racun) diperairan pantai.
Manfaat dan fungsi hutan bakau secara biologi antara lain:
Tempat hidup biota laut, baik untuk berlindung, mencari makan,
pemijahan maupun pengasuhan.
Sumber makanan bagi spesies-spesies yang ada di sekitarnya.
Tempat hidup berbagai satwa lain
Manfaat dan fungsi hutan bakau secara ekonomi antara lain:
Tempat rekreasi dan pariwisata.
Sumber bahan kayu untuk bangunan dan kayu bakar.
Penghasil bahan pangan seperti ikan, udang, kepiting, dan lainnya.
Bahan penghasil obat-obatan seperti daun Bruguiera sexangula yang
dapat digunakan sebagai obat penghambat tumor.
Sumber mata pencarian masyarakat sekitar seperti dengan menjadi
nelayan penangkap ikan dan petani tambak.

F. Analisis Penyelesaian Masalah


Menurut buku laporan pesisir Kota Surabaya tahun 2012-2013 yang dikeluarkan oleh
Badan Lingkungan Hidup, salah satu upaya yang dapat dilakukan agar dapat
menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan melakukan pembangunan kawasan
strategis kota wilayah pesisir. Kawasan strategis kota adalah wilayah yang penataan
ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara makro
terhadap kepentingan, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan
lingkungan. Dengan adanya pembangunan kawasan strategis khususnya di wilayah

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 14


pesisir dapat menjadikan perekonomian Kota Surabaya menjadi lebih maju dengan tetap
mempertimbangkan kondisi lingkungan yang terdiri dari hutan mangrove yang memiliki
peran penting terhadap keberlangsungan lingkungan. Kawasan strategis wilayah pesisir
ini terdiri dari beberapa macam zonasi, diantaranya:

a. Zona strategis untuk kepentingan ekonomi


Zona strategis untuk kepentingan ekonomi , meliputi Kawasan Pergudangan dan
Industri Margomulyo di Kecamatan Asemrowo dan Kecamatan Benowo dengan
luas area mencapai 167,79 Ha. Kawasan Kaki Jembatan Wilayah Suramadu
dan sekitaran Pantai Kenjeran di Kecamatan Bulak dengan luas area mencapai
165 Ha. fungsi ruang kawasan strategis ini dapat menampung kegiatan
pelayanan umum, perdagangan dan jasa berskala kota hingga regional.

b. Zona strategis untuk perlindungan lingkungan hidup


Perancangan zona strategis untuk kawasan perlindungan lingkungan hidup ini
dimaksudkan agar ekosistem dan lingkungan di suatu wilayah akan tetap terjaga
kelestariannya. Wilayah pesisir yang ditetapkan sebagai Zona strategis untuk
kepentingan perlindungan lingkungan hidup adalah:
Kawasan Pantai Timur Surabaya.
Kawasan ini merupakan kawasan pantai berhutan bakau dengan luas
tutupan vegetasi mencapai 698,62 Ha dan luas kawasan mangrove sekitar
435,335 Ha. Kawasan strategis pamurbaya ini memiliki peran yang
sangat penting dalam ekosistem yaitu:
a. Penyedia unsur hara dalam air untuk biota diperairan (menjadi
lokasi alur migrasi ikan) maupun kolam budidaya perikanan ikan air
payau maupun tambak.
b. Meminimalisir terjadinya hempasan ombak air laut yang dapat
menyebabkan abrasi pantai dan juga dapat menyebabkan kenaikan
air laut ke daratan atau penurunan muka air tanah.
c. Menjadi area bersarang dan mencari makan bagi kelompok burung.

Kawasan sekitar kali lamong

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 15


Kawasan kali Lamong merupakan kawasan yang memiliki kerentanan
terhadap terjadinya bencana banjir yang diakibatkan oleh pendangkalan
Kali Lamong oleh sedimentasi bawaan yang mengendap di Kali ini.
Sedimentasi yang semakin banyak ini juga berpotensi menutup bentang
muara. Rehabilitasi dan konservasi vegetasi di muara sungai yang banyak
terdapat tumbuhan mangrove menjadi fokus utama dalam zona strategis di
kawasan ini.
Salah satu rancangan program terkait pengembangan zona kawasan strategis baik
ekonomi maupun kelestarian lingkungan, ada sebuah proyek yang dirancang oleh
Pemerintah Kota Surabaya guna menanggulangi permasalahan di wilayah pesisir. Program
ini adalah Kota Tepi Pantai (waterfront city). Waterfront city ini sepenuhnya dikelola oleh
pemerintah dengan bekerjasama dengan berbagai macam stakeholder terkait. Dengan
adanya waterfront city ini, diharapkan dapat merangsang pertumbuhan perekonomian di
Kota Surabaya secara umum dan di Kawasan pesisir khususnya. Dalam pembangunan
waterfront city ini, penekanan pada aspek peningkatan perkenomian daerah bukan menjadi
satu-satunya tujuan, melainkan tercapainya kelestarian lingkungan hidup dan ekosistem di
sekitar pesisir juga menjadi syarat mutlak. Proses reklamasi laut yang dilakukan pun juga
harus sesuai dengan standart-standart yang berlaku.
Diharapkan, rehabilitasi dan juga konservasi mangrove tidak akan mengalami
kerusakan akibat adanya waterfront city ini. Oleh karena itu, arahan-arahan, peraturan dan
standart operating procedure (SOP) yang jelas, program atau proyek waterfront city ini
akan membuat proyek ini berjalan optimal dengan tetap mempertahankan aspek
lingkungan. Rancangan dari waterfront city di Kota Surabaya dapat dilihat pada beberapa
gambar di bawah ini.

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 16


Gambar.
Rencana Zona Strategis Kawasan Ekonomi

Gambar.
Rancangan Pengembangan Kawasan Waterfront City
Dapat kita lihat pada beberapa gambar rancangan di atas, bahwa proyek Waterfront City
yang akan dilakukan atau dikembangkan tetap mempertahankan aspek-aspek kelestarian
lingkungan, sekalipun itu di zona kawasan strategis untuk sektor ekonomi. Selain dengan
merancang kawasan zona strategis, beberapa cara penyelesaian yang lainnya adalah
sebagai berikut.

No Strategi Arahan Program Arahan Kegiatan


1. Meningkatkan Pengawasan bahan a. Pembangunan IPAL
kualitas buangan limbah cair (Instansi Pengelolaan
ekosistem industri, permukiman, Air Limbah)
wilayah pelabuhan, dll. b. Pembangunan
pesisir instalasi pengolahan
limbah cair.

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 17


c. Pengolahan Sampah
berbasis masyarakat
Pengawasan a. Pengerukan dan
sedimentasi di wilayah pengangkutan
aliran sungai yang sedimentasi di
memasuki wilayah sekitaran wilayah
pesisir Kota Surabaya pesisir
2. Meningkatkan Pengembangan, a. Pemetaan wilayah
Area hutan Perbaikan ekosistem mangrove
mangrove dan pemulihan kondisi meliputi: kondisi
ekosistem mangrove sebaran dan luasan,
di potensi pertumbuhan
Surabaya. dan permasalahan
pengembangan
spesies.
b. pemulihan ekosistem
lewat pembibitan
mangrove dan
pemulihan habitat.
c. Penanaman
mangrove secara
berkelanjutan baik
yang dilakukan oleh
pemerintah, swasta,
LSM, maupun
masyarakat di sekitar
pesisir.
d. Pengembangan
ekowisata magrove
untuk pendidikan dan
wisata.
3. Sosialisasi Program a. Pengikut sertaan
perencanaan pemberdayaan masyarakat dalam
pengelolaan masyarakat proses penanaman,
wilayah pesisir pemeliharaan dan
Surabaya rehabilitasi mangrove
di kawasan pesisir
b. Pemberdayaan
perekonomian
masyarakat agar
dapat memanfaatkan
ekosistem pesisir
baik ikan, udang dan

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 18


sebagainya dengan
arif dan bijaksana
c. Pelatihan dan
pengembangan
sistem budidaya
perikanan laut dan
pesisir kepada
masyarakat pesisir.
4. Meningkatkan Program a. Peningkatan kondisi
peran serta pengembangan wilayah perekonomian
pemerintah pesisir masyarakat pesisir
b. Peningkatan sarana
dan prasarana
infrastruktur di
sekitar pesisir
c. Pembangunan
kawasan pesisir
dengan tetap
memperhatikan aspek
kelestarian
lingkungan pesisir
Pembentukan dan a. Penyusunan RTRW
penyusunan peraturan Kota Surabaya
mengenai kawasan secepatnya
pesisir b. Penyusunan
peraturan mengenai
sistem pengelolaan
kawasan pesisir

G. Kesimpulan
Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki garis pantai yang sangat panjang,
yakni 81.000 km. Wilayah di sekitar garis pantai ini disebut sebagai wilayah pesisir.
Disekitar wilayah pesisir ini memiliki berbagai manfaat keuntungan bagi negara
Indonesia,seperti keberadaan hutan mangrove.
Persebaran hutan mangrove di Surabaya terbagi dalam dua zonasi wilayah, yakni di
Pantai Timur Surabaya (PAMURBAYA) dan Pantai Utara (PANTURA). Pamurbaya
merupakan salah satu kawasan ruang terbuka hijau yang memiliki kendali besar terhadap
keadaan geografis Kota Surabaya. Hal ini dikarenakan Hutan Mangrove yang ada di
Pantai Timur ini menjadi benteng untuk melindungi Surabaya dari ancaman abrasi,
instrusi air laut, dan penurunan muka tanah. .Namun banyak terjadi kerusakan lahan

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 19


mangrove di Kota Surabaya. Kerusakan lahan mangrove di bagian pantai utara surabaya
hampir mencapai angka 40% dari total keseluruhan. Sedangkan di daerah pesisir timur,
prosentase kerusakannya hanya sebesar 14%.
Ada dua pola pengalihan lahan yang terjadi di kedua wilayah pesisir ini, untuk di
kawasan pesisir timur surabaya, kerusakan lahan mangrove lebih disebabkan karena
adanya reklamasi laut dan pantai yang secara otomatis juga mengorbankan keberadaan
hutan mangrove yang juga menjadi salah satu penyusun ekosistem laut dan pantai.
Sedangkan pada kawasan pesisir utara surabaya terjadi pengalihan fungsi lahan yang
tadinya sebagai kawasan lindung menjadi kawasan pelabuhan terbangun, juga melalui
jalan reklamasi.
Dengan adanya peralihan lahan dari lahan hutan bakau menjadi industri ini
mengakibatkan gelombang air laut yang kemudian tidak tertahan oleh tanaman bakau dan
langsung menghepas daratan. Tidak adanya peraturan RTRW yang di dalamnya juga
menjelaskan mengenai fungsi kawasan pesisir. Sehingga sebagai akibatnya, pengelolaan
terhadap kawasan pesisir tidak dapat dilaksanakan dengan berdasar pada peraturan yang
berlaku.
Untuk dapat menyelesaikan permasalahan ini, maka jalan keluar utama adalah
dengan melibatkan semua stakeholder yang terkait, agar dapat bersama-sama melakukan
rehabilitasi dan juga konservasi terhadap hutan mangrove. Di samping itu, pembentukan
zona kawasan strategis lingkungan hidup juga dapat menjadi salah satu bentuk jalan
keluar yang dapat dilakukan.

H. Rekomendasi
Terkait dengan permasalahan mangrove yang terjadi di Kota Surabaya, maka ada
beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan oleh pemerintah, diantaranya;
Pemerintah harus segera membuat peraturan baik peraturan perundang-
undangan maupun peraturan RTRW mengenai pengembangan kawasan
pesisir terutama proses pengelolaan kawasan mangrove.
Pemerintah harus berperan aktif dan mengajak masyarakat sekitar pesisir
menjaga kelestarian hutan bakau untuk menjaga ekosistem yang hidup di
sekitar hutan bakau.
Menjadikan masyarakat pesisir sebagai subjek dan komponen utama dalam
hal konservasi, pengelolaan dan pelestarian hutan mangrove. Artinya, segala

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 20


macam program dan kegiatan yang diadakan oleh pemerintah harus dapat
melibatkan masyarakat pesisir.
Pemerintah harus bertindak tegas terhadap peralihan suatu lahan yang
berdampak negatif kepada alam dan makhluk hidup.
Pemerintah harus dapat mengambil alih kembali lahan-lahan mangrove yang
sudah mengalami pengrusakan baik oleh masyarakat ataupun oleh pihak
swasta, agar lahan mangrove yang sudah rusak tadi dapat dijadikan lahan
konservasi mangrove, dilakukan penanaman kembali dan rehabilitasi.
Perbaikan, rehabilitasi dan konservasi terhadap hutan mangrove harus
dilakukan secara holistik da terpadu agar tujuan yang ingin dicapai dapat
diwujudkan.

Konversi dan Kerusakan Hutan Mangrove Halaman 21