Anda di halaman 1dari 7

The 2010 Greater Jakarta Transition to Adulthood Study

Policy Brief No. 5


Pelayanan Kesehatan Reproduksi untuk Penduduk Dewasa Muda Lajang
Iwu Dwisetyani Utomo, Peter McDonald Anna Reimondos, Terence Hull, dan Ariane Utomo

Berlawanan dengan pendapat masyarakat umum dan kalangan pejabat pemerintah,


hubungan seks dan kehamilan sebelum nikah terjadi di seluruh daerah dan pada semua kelas sosial dan
latar belakang etnis. Dengan meningkatnya pendidikan dan modernisasi sejak lebih dari setengah abad,
rata-rata usia menikah telah meningkat tajam. Hal ini berdampak pada masa lajang yang lebih lama
yang dijalani baik oleh perempuan atau laki-laki pada usia subur mereka. Disayangkan bahwa masa
lajang yang lebih panjang ini tidak didukung oleh pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang
memadai, apalagi akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi. Padahal kedua hal ini sangat
penting dan dapat membantu mereka untuk terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan dan
penyakit menular seksual. Dengan demikian, bila pemerintah ingin memperbaiki status kesehatan
warga negaranya yang berusia dewasa, maka pemerintah mempunyai kesemapatan yang unik dalam
mengembangkan kebijakan pendidikan dan pelayanan kesehatan reproduksi bagi penduduk dewasa
lajang. Bila pelayanan kesehatan reproduksi bagi penduduk lajang disepakati, kebijakan ini perlu
disosialisasikan juga tercapainya kesepakatan dalam menghargai hak-hak reproduksi dan kesehatan
seseorang. Tanpa adanya perubahan besar yang mendasari kebijakan kesehatan reproduksi, beribu-
ribu wanita Indonesia akan terus mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, dipaksa untuk menikah
karena kehamilannya, atau beresiko untuk mengakhiri kehamilannya dengan cara yang tidak aman.

Di Indonesia, seorang gadis berusia 16 tahun yang mengenai kehamilannya. Dalam keputusasaannya,
sudah menikah dapat berhubungan seksual, dan dia mungkin akan pergi ke dukun tradisional untuk
mempunyai akses pada pelayanan kesehatan aborsi yang dapat membahayakan jiwanya. Pacar
reproduksi serta dipandang sebagai seorang dewasa yang menghamilinya, dengan mudah dapat terhindar
yang bertanggung jawab dan calon ibu yang baik. Sisi dari kecaman pandangan negatif dan pengucilan.
lain, seorang gadis berusia 17 tahun (pada usia yang Keluarga besar dan teman-teman gadis ini dan bahkan
disahkan secara hukum untuk dapat memilih) yang pemerintah akan meninggalkannya sendiri tanpa
masih lajang dan hamil dianggap sebagai seorang adanya dukungan (Utomo dan McDonald, 2009: 140).
pendosa dan tidak dihargai. Dia dapat dikeluarkan
Kutipan di atas mengingatkan kita bahwa banyak
dari sekolah, mendapatkan cap negatif dan terkucilkan
dari teman-teman dan keluarganya. Dampak wanita muda yang mengalami kehamilan di luar
pengucilan seorang gadis yang hamil di luar nikah juga nikah terisolasi secara sosial. Keadaan politik yang
berdampak pada keluarganya, khususnya kontraversial menghindari diskusi atau adanya
orangtuanya, yang dipandang sebagai orangtua yang kebijakan tentang pendidikan dan pelayanan
tidak dapat membesarkan putrinya dengan baik. Gadis kesehatan reproduksi bagi penduduk dewasa lajang,
tersebut akan berusaha untuk menyembunyikan walau dalam perkembangannya yang mengarah
kehamilannya dari orangtuanya dan menghindari pada kedua kebijakan tersebut tidak seluruhnya
pergi ke klinik kesehatan untuk berkonsultasi terhambat. Karena kuatnya norma-norma agama
dan sosial yang mementingkan pernikahan, Sebagai contoh, sebuah PUSKESMAS di Lombok
terbentuknya keluarga dan mempunyai anak Timur dengan dana yang tersedia hanya sebesar Rp
sebagai nilai-nilai universal, promosi pelayanan 50.000,00 (kurang dari AUD$7) mulai menyediakan
kesehatan reproduksi untuk para penduduk dewasa pelayanan untuk penduduk muda yang lajang.
lajang secara umum tidak didukung, berlawanan Karena dedikasi dan pengabdian dari kepala
dengan komitmen internasional pemerintah untuk PUSKESMAS tersebut yang berpendapat
mendukung hak-hak reproduksi dan seksual untuk tersediannya layanan tersebut adalah sangat
semua warga negaranya. Bahkan pendidikan penting, rencana tersebut dilaksanakan dengan
kesehatan reproduksi sekalipun dipandang sebagai mengecat ruangan yang secara khusus dimodifikasi
hal yang sensitif. untuk mengakomodir pelayanan tersebut.
Dalam perkembangan tentang pentingnya Contoh inovatif dan progresif lainnya adalah klinik
diberikannya pendidikan kesehatan reproduksi dan di Sekolah Menengah Atas di Ogan Komering Ilir
pengetahuan tentang praktik seks yang aman di (OKI), Sumatera Selatan yang menyediakan
sekolah, terdapat ketidak setujuan yang terus pelayanan kesehatan reproduksi untuk para pelajar.
berlanjut.. Buku-buku sekolah, khususnya Dalam kasus ini, keputusan kepala sekolah
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (PENJASKES), menggambarkan komitmen beliau untuk
Biologi dan Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu menyediakan pendidikan kesehatan reproduksi,
Pengetahuan Sosial dan pada derajat tertentu konseling, Pendidikan Informasi Konseling (PIK)
Agama Islam memasukkan informasi tentang bagi remaja, dan pelayanan untuk para pelajarnya.
masalah kesehatan reproduksi dan HIV dan AIDS Contohcontoh tersebut dapat terlaksana di
(Utomo et al., 2011). Namun, tidak semua orangtua Lombok Timur dan OKI karena kedua Kecamatan
atau pemuka agama menyetujui diberikannya tersebut berlokasi di salah satu dari sembilan
pendidikan tersebut di sekolah. Kecamatan yang didukung oleh proyek percontohan
kesehatan reproduksi remaja UNFPA.
Studi internasional dan juga penelitian di Indonesia
telah menunjukkan bahwa diberikannya pendidikan Namun demikian, sebagian besar PUSKESMAS
kesehatan reproduksi di sekolah akan menghasilkan sangat bergantung pada alokasi ketersediaan dana
kehidupan perilaku seksual yang lebih bertanggung yang diputuskan oleh kebijakan pemerintah daerah.
jawab dan perilaku seks yang aman (Diarsvitri et.al. Oleh karena itu, adopsi model pelayanan kesehatan
2011; Kirby,2002; Kirby et al.2007; Utomo,1997). reproduksi bagi penduduk dewasa lajang sangat
Sayangnya, banyak orang di Indonesia percaya bergantung pada inisiatif dan komitmen dari kepala
bahwa pendidikan kesehatan reproduksi akan PUSKESMAS dan pimpinan daerah. Jika mereka
meningkatkan kegiatan seksual pelajar, sebenarnya melihat bahwa pelayanan tersebut penting dan
pendapat ini sangat tidak benar. Penelitian mendesak, maka mereka akan cenderung
menunjukkan bahwa ketidak pedulian tentang menyediakan dana untuk tujuan tersebut.
diberikannya pendidikan kesehatan reproduksi Dukungan sangatlah diperlukan untuk 520
bukanlah suatu kebijakan yang baik yang dapat kecamatan lainnya di seluruh pelosok Indonesia,
mencegah seks sebelum menikah, tetapi seringkali sehingga para pengambil kebijakan dan kepala-
bahwa anak yang tidak mendapatkan pendidikan kepala PUNSKESMAS dapat juga menjadi pionir
tersebut justru dapat menjadi korban kehamilan yang akan merubah kebijakan lokal dan berusaha
yang tidak diinginkan dan penyakit menular seksual untuk menyediakan layanan kesehatan reproduksi
yang berbahaya. Informasi tentang pendidikan bagi penduduk dewasa lajang.
kesehatan reproduksi, di lain pihak , akan dapat
Dengan meningkatnya kasus penyebaran HIV dan
berfungsi sebagai perlindungan bagi anak tersebut.
AIDS pada penduduk muda di semua provinsi,
Berdasarkan peraturan (Undang-undang bahkan pada provinsi yang memegang teguh nilai-
Kependudukan dan Kesejahteraan Keluarga Nomor nilai keagamaan seperti Aceh, Sumatera Barat, dan
52 tahun 2009), pelayanan keluarga berencana dan Nusa Tenggara Barat, tersedianya pendidikan dan
kesehatan reproduksi dari pemerintah hanya pelayanan kesehatan reproduksi adalah suatu
disediakan untuk mereka yang secara legal sudah keharusan. Konsekuensi dari absennya kebijakan
menikah. Walau, Kementerian Kesehatan telah kesehatan reproduksi bagi penduduk dewasa lajang
merintis untuk menyediakan pelayanan serupa bagi adalah banyaknya mereka yang akan menjadi
penduduk dewasa lajang pada proyek percontohan penduduk beresiko tinggi terhadap penyakit
di sebagian kecil PUSKESMAS. menular seksual, termasuk HIV dan AIDS dan juga
kehamilan serta aborsi sebelum nikah. Peningkatan

2
usia menikah menyebabkan banyak penduduk menyediakan akses untuk metode pencegahan
muda lajang yang harus dapat mengatasi kebutuhan seperti kondom bagi laki-laki dan perempuan,
seksual mereka dalam waktu yang lebih panjang sarana untuk test HIV sukarela, konseling dan tindak
dibandingkan waktu lajang orangtua mereka lanjut. Sebagaimana Indonesia telah menyetujui
(Situmorang, 2011). Orangtua mereka menikah perjanjian-perjanjian di atas, dalam kenyataannya,
pada usia yang jauh lebih muda dan dapat mulai Indonesia harus bertanggung jawab untuk
berhubungan seksual dalam status menikah menerapkan prinsip-prinsip tersebut (Wardhani,
semenjak usia remaja untuk para ibu dan awal usia 2009). Tetapi sampai saat ini, pelayanan kesehatan
duapuluhan bagi para ayah. Tidaklah demikian reproduksi bagi penduduk dewasa lajang masih
keadaan saat ini dimana penduduk dewasa lajang absen dari pembahasan dan agenda kebijakan.
harus dapat mengatasi kebutuhan sesksualnya
dalam jangka waktu yang lebih panjang sebelum Seks dan Perilaku Seksual Sebelum Nikah
mereka menikah.
Bukti temuan dari survey The Greater Jakarta
Data dari survei The Greater Jakarta Transition to Transition to Adulthood Survey pada tahun 2010
Adulthood pada tahun 2010 untuk responden usia menunjukkan bahwa 11 persen dari para responden
20-34 tahun (N=3006) menunjukkan bahwa 14 yang tidak pernah menikah dan sekitar 10 persen
persen laki-laki dan 7 persen perempuan yang saat dari responden yang telah menikah telah
ini sedang berkencan, melakukan hubungan seksual melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
dengan pasangan mereka. Hasil survey ini Diantara mereka yang tidak pernah menikah, hanya
menunjukkan bahwa 15 persen dari laki-laki yang 5 persen dari para perempuan yang dilaporkan
berkencan dengan calon istri mereka lebih dari 12 telah melakukan hubungan seksual dibandingkan 16
bulan telah melakukan hubungan seksual persen laki-laki. Penulis berspekulasi bahwa
dibandingkan dengan 8 persen laki-laki yang kejadian seks sebelum nikah diantara para
berkencan atau bertunangan kurang dari 6 bulan responden tidak terungkap sepenuhnya.
lamanya. Jadi banyak penduduk muda lajang
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kejadian
berusia 20-34 tahun yang berhubungan seks
hubungan seksual pra nikah pertama kali secara
sebelum menikah. Oleh karena itu untuk
signifikan lebih tinggi terjadi pada pria. Pada
menghindari dampak buruk pada kesehatan dan
pembahasan mengenai usia responden berdasarkan
masa depan mereka akses terhadap pelayanan
kohort, analisa menunjukkan bahwa dibandingkan
kesehatan reproduksi sangat dibutuhkan.
dengan mereka yang berusia 25-29 tahun dan 20-24
Masalah-masalah terkait dengan akses pada tahun mempunyai tingkat melakukan hubungan
pelayanan kesehatan reproduksi bagi penduduk seksual pertama kali yang lebih tinggi yang
lajang tidak diprioritaskan oleh pemerintah mengindikasikan adanya kenaikan seiring
meskipun Indonesia telah menyetujui perjanjian berjalannya waktu. Berkaitan dengan pendidikan
kesehatan dan hak-hak reproduksi yang orangtua, hasil analisa menunjukkan bahwa para
dilaksanakan pada CEDAW (1979), ICPD Program of responden yang dibesarkan di keluarga yang
Actions (1994), Beijing Platform for Action (1995), orangtuanya berpendidikan lebih baik akan
Millenium Development Goals (MDG), dan bahkan cenderung untuk melakukan hubungan seksual
yang paling mendasar, Deklarasi Hak-hak Asasi pertama mereka sebelum menikah..
Manusia pada tahun 1948 tentang hak asasi,
Pada semua responden yang telah berhubungan
termasuk hak kesehatan reproduksi. Tujuan MDG
seksual ditanyakan apakah mereka menikah dengan
termasuk sasaran untuk mencapai akses universal
pasangan seksual mereka ketika mereka
bagi kesehatan reproduksi di tahun 2015, target
berhubungan seksual untuk pertama kalinya. Secara
baru ini membuat tugas yang tak terelakkan bagi
keseluruhan 16 persen belum menikah pada saat
pemerintah dan sistem kesehatan (WHO, 2011:1).
pertama kali melakukan hubungan seks, tetapi ada
Program aksi ICPD tahun 1994 menekankan
perbedaan yang signifikan menurut jenis kelamin,
pentingnya informasi dan pelayanan kesehatan
usia dan status hubungan. Sebagai contoh, sekitar
reproduksi bagi mereka yang berusia 14-24 tahun
sepertiga dari laki-laki tidak menikah dengan
termasuk akses pada informasi, pendidikan dan
pasangan seksual mereka pertama kalinya mereka
pelayanan yang diperlukan untuk meningkatkan
berhubungan seks dibandingkan dengan di bawah
ketrampilan hidup yang dibutuhkan untuk
10 persen pada wanita. Mereka dengan tingkat
mengurangi kerentanan mereka terhadap infeksi
pendidikan yang lebih tinggi secara signifikan lebih
HIV. Disarankan bahwa pelayanan ini dapat
mungkin untuk melakukan hubungan seks pra

3
nikah. Hal ini kemungkinan disebabkan karena yang dapat digunakan untuk perhitungan waktu
mereka akan menikah lebih lambat karena mereka konsepsi kehamilan. Tanggal konsepsi didefinisikan
sedang belajar. sebagai tanggal kelahiran dikurangi sembilan bulan.
Tabel 1 menunjukkan bahwa 10 persen dari
Kondom dan Kontrasepsi yang Digunakan di antara kelahiran adalah konsepsi pranikah dan 5 persen
Para Penduduk Dewasa Lajang adalah kelahiran pranikah. Persentase konsepsi dan
kelahiran pranikah lebih tinggi bagi mereka yang
Hasil survei menunjukkan bahwa responden lajang
telah mengandung di usia muda.
yang aktif secara seksual, 34 persen menggunakan
kontrasepsi dengan mayoritas menggunakan
kondom (32%) pada saat pertama kali melakukan
hubungan seksual. Bukti ini menunjukkan bahwa
sepertiga dari para responden lajang yang aktif
secara seksual menyadari praktik seks aman,
sementara dua pertiga lainnya tidak melindungi diri
mereka.
Pada saat melakukan hubungan seksual pertama,
semakin tinggi tingkat pendidikan responden dan
semakin tua usia responden, maka mereka
cenderung memiliki pengetahuan yang lebih tinggi
tentang praktik seks yang aman. Mereka dengan
pendidikan tinggi dua kali lebih mungkin untuk Dalam analisa lebih lanjut, kami membandingkan
memiliki pengetahuan tentang seks yang aman dan pola konsepsi pranikah dari data The Greater
kontrasepsi dibandingkan dengan mereka yang Jakarta Transition to Adulthood Survey pada tahun
berpendidikan SMA. 2010 dengan enam data dari Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) yang dilakukan selama
dua dekade 1987-2007 (Figur 2). Semua survei
menunjukkan hasil serupa mengenai proporsi
konsepsi pranikah.
Proporsi yang relatif tinggi pada mereka yang telah
hamil pada saat pernikahan dapat merupakan bukti
bahwa mereka melakukan pernikahan karena
kehamilan. Bukti internasional menunjukkan bahwa
pernikahan yang 'dipaksa', misalnya karena
kehamilan pranikah memiliki kemungkinan tingkat
perceraian yang lebih tinggi. Dengan demikian, para
lajang muda tidak hanya beresiko terhadap
penyakit menular seksual, kehamilan atau aborsi

Hal menarik yang perlu diungkapkan, ada beberapa


bukti analisa bahwa dibandingkan dengan individu
yang religius, mereka yang lebih religius memiliki
pengetahuan yang lebih baik tentang kontrasepsi
dan praktik seks aman, tetapi efek dari religiusitas
adalah signifikan hanya untuk perempuan.

Konsepsi Pranikah dan Kelahiran dalam


Perkawinan
Dari semua responden, 1.386 responden setidaknya
memiliki satu anak dan telah menikah setidaknya
satu kali. Dari jumlah tersebut, 1.382 memiliki
informasi yang cukup tentang tanggal perkawinan

4
jika pendidikan dan pelayanan kesehatan Perhatian yang sangat meningkat sekarang
reproduksi mereka tidak terpenuhi, tetapi mereka untuk dana pengobatan HIV adalah sangat luar
juga beresiko dipaksa menikah yang tidak biasa dibandingkan dengan sepuluh tahun yang
direncanakan dan bertentangan dengan keiginan lalu namun hal tersebut sudah terlalu lama
mereka. tertunda. Selain itu, komunitas keluarga
berencana masih belum mau mengakui bahwa
Diskusi Kebijakan dan Prioritas bila sejak dulu mereka telah memperluas
jangkauan mereka kepada penduduk muda dan
Indonesia telah meratifikasi perjanjian-perjanjian
pada mereka yang paling rentan terhadap
internasional untuk pelayanan dan hak-hak
infeksi HIV dan telah bersedia untuk
kesehatan reproduksi seksual. Para pimpinan politik
mempromosikan kondom dari awal, wajah
dan sosial telah berbicara untuk mendukung upaya
epidemi HIV saat ini mungkin akan sangat
untuk meningkatkan kesehatan reproduksi di
berbeda. Sudah saatnya mereka juga mulai
masyarakat dan untuk mencegah morbiditas dan
mempromosikan penggunaan kondom secara
mortalitas ibu. Baik Kementrian Kesehatan dan
luas, tidak hanya sebagai bentuk pencegahan
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
terhadap IMS/pencegahan HIV tetapi juga
Nasional memiliki wewenang dan berkomitmen
untuk kontrasepsi. . . dengan back-up
untuk promosi layanan kesehatan reproduksi yang
kontrasepsi darurat dan aborsi yang aman.
lebih baik dan mereka memiliki anggaran yang
(Berer, 2005: 8).
besar untuk mencapai tujuan-tujuan ini.
Meskipun demikian, data dari Survei The Greater Survei The Greater Jakarta Transition to
Jakarta Transition to Adulthood pada tahun 2010 Adulthood pada tahun 2010 menunjukkan bahwa,
menunjukkan bahwa banyak penduduk muda lajang di komunitas yang paling kosmopolitan di Indonesia
yang melakukan hubungan seksual pranikah tanpa sekalipun, penduduk muda lajang tetap tidak
menggunakan kondom untuk pencegahan penyakit mempunayai informasi yang cukup dan kurang
atau bentuk lain dari KB untuk menghindari mendapat layanan serta dengan pilihan yang sangat
kehamilan. Konsepsi dan kelahiran pranikah telah terbatas bila mereka dihadapkan pada masalah
umum terjadi pada saat ini dan dimasa lampau. kesehatan reproduksi dan seksual. Maka dapat
Analisis juga menunjukkan bahwa mereka yang diasumsikan bahwa situasi rekan-rekan sebaya
melakukan aktivitas seksual pada usia lebih dewasa mereka di daerah pedesaan dan terpencil dapat
dan mereka yang memiliki pendidikan tinggi lebih buruk.
mempersepsikan diri mereka sendiri sebagai
Lembaga-lembaga yang bertanggung jawab atas
seorang yang memiliki pengetahuan yang lebih baik
informasi dan layanan kesehatan reproduksi dan
mengenai kontrasepsi dan praktik seks yang aman.
seksual perlu untuk berkolaborasi secara lebih
Tetapi hampir setengah dari sampel, berpendidikan
efektif untuk merumuskan intervensi yang realistis
SMA, dan banyak responden yang telah mulai
dan efektif untuk memastikan bahwa penyakit
hubungan seksual pada usia muda. Kelompok
menular seksual dapat dicegah, kehamilan yang
penduduk muda inilah yang sangat membutuhkan
tidak diinginkan dieliminasi, dan mengurangi
pendidikan dan layanan kesehatan reproduksi yang
terjadinya tekanan psikologis pada penduduk
sulit didapat.
dewasa lajang yang mungkin mengalami masalah di
Agenda kebijakan perlu terfokus pada penyediaan atas. Dalam hal ini berarti bahwa kita harus berani
baik pendidikan dan layanan kesehatan seksual dan menghadapi pandangan konservatif dan
reproduksi untuk semua penduduk dewasa lajang memperjuangkan hak-hak dasar dari semua
untuk memastikan bahwa mereka akan mampu penduduk dewasa untuk memiliki akses pada
mengatasi secara efektif segala risiko yang terkait layanan kesehatan reproduksi dan seksual, terlepas
dari dampak yang dapat ditimbulkan dari hubungan dari status perkawinan mereka. Kecuali bila hal ini
seksual. Di Indonesia tanggung jawab ini terletak dilaksanakan segera, situasi timpang yang terlihat
terutama pada Kementrian Pendidikan dan saat ini akan terus ada dan para wanita khususnya
Kesehatan, dan Badan Kependudukan dan Keluarga akan terus dihadapkan dan menderita karena
Berencana. Marge Berer (2005), editor senior dari masalah kesehatan dan psikologis yang ditimbulkan
jurnal Reproductive Health Matters, telah walau sebenarnya masalah-masalah teresebut
meminta lembaga-lembaga tersebut untuk dapat secara total dicegah.
mengatasi perilaku seksual penduduk muda dengan
sikap yang lebih realistis:

5
Referensi

Berer, M., 2005. Implementing ICPD: What's Utomo, I.D., McDonald, P., and Hull. T., 2011.
Happening in Countries, Reproductive Health Meningkatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi
Matters Vol. 13, No. 25, May, pp. 6-10. dalam Kurikulum Nasional Indonesia (Improving
Reproductive Health Education in the Indonesian
Diarsvitri, W., I. D. Utomo, T. Neeman & A.
National Curriculum). Policy Brief No. 2. Gender and
Oktavian, 2011. Beyond sexual desire and curiosity:
Reproductive Health Study. Australian Demographic
sexuality among senior high school students in
and Social Research Institute, Australian National
Papua and West Papua Provinces (Indonesia) and
University. Canberra.
implications for HIV prevention. Culture, Health &
http://adsri.anu.edu.au/sites/default/files/
Sexuality, DOI:10.1080/13691058.2011.599862.
research/gender-in schools/Bhs_Ind_Improving_
Untuk mengakses artikel ini:
RH_Policy_Brief_No_2.pdf
http://dx.doi.org/10.1080/13691058.2011.599862
Kirby, D. 2002. Do abstinence-only program delay Wardhani, L.K., 2009. The intricacies of
the initiation of sex among young people and implementing international gender-related policies
reduce teen pregnancy? Washington, DC. National to promote sexual health and rights in Indonesia.
Campaign to Prevent Teen Pregnancy. Paper presented at the 19th WAS World Congress
for Sexual Health & Rights, Guttenberg, Sweden,
Kirby, D., B.A. Laris and L. A. Rolleri, 2007. Sex and
June 21-25.
HIV education programs: Their impact on sex
bahaviours of young people throughout the world, World Health Organization, 2011. Quality of care in
Journal of Adolescent Health vol. 40/p.206-217. the provision of sexual and reproductive health
services: Evidence from a WHO research initiative.
Situmorang, A., 2011, Delayed Marriage among
ISBN 978 92 4 150189 7
lower socio-economic groups in an Indonesian
industrial city Chapter 7, pp. 83-98, in G.W. Jones,
_____________
T.H. Hull and M. Mohamad (eds), Changing
Marriage Patterns in Southeast Asia: Economic and Judul naskah asli: Reproductive health services for
socio-cultural dimensions. London: Routledge. single young adults, diterjemahkan oleh Anindita
Dyah Sekarpuri dan Iwu Dwisetyani Utomo.
Utomo, I.D., 1997. Sexual attitudes and behaviour
of middle-class young people in Jakarta, PhD Thesis,
Demography Program, Research School of Social
Sciences, The Australian National University.
Utomo, I.D. and P.F. McDonald, 2009. Adolescent
Reproductive Health in Indonesia: Contested Values
and Policy Inaction. Studies in Family Planning, 40
(2): 133-146.
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1728
-4465.2009.00196.x/abstract

6
Tim Peneliti

Australian Demographic and Social Research Institute- tersebut. Dari setiap RT yang terpilih, dipilih 11
Australian National University (ADSRI-ANU): responden dengan menggunakan sampel acak
Dr. Iwu Dwisetyani Utomo (Kepala/Peneliti Utama I) sederhana (simple random sampling). Dengan
Prof. Peter McDonald (Peneliti Utama II) menerapkan metode sampling tersebut terpilih
Prof. Terence Hull (Peneliti Utama III) sebanyak 3.006 responden.
Anna Reimondos Dua daftar pertanyaan digunakan dalam penelitian ini.
Dr. Ariane Utomo Daftar pertanyaan pertama ditanyakan pada responden
Pusat Penelitian Kesehatan-Universitas Indonesia: dengan menggunakan teknik wawancara mendalam
Dr. Sabarinah Prasetyo yang dilakukan oleh pewawancara yang sudah dilatih.
Prof. Budi Utomo Daftar pertanyaan pertama meliputi pertanyaan-
Heru Suparno pertanyaan tentang keadaan demografik dari responden
Dadun dan juga tentang latar belakang orangtua responden dan
Yelda Fitria suami/istri bagi responden yang sudah menikah. Dalam
daftar pertanyaan yang pertama ini ditanyakan tentang:
Asian Research Institute-National University of sejarah pendidikan, pekerjaan dan migrasi; pendapatan
Singapore (ARI-NUS): dan keadaan ekonomi; kondisi pekerjaan; tempat
Prof. Gavin Jones tinggal; hubungan dengan lawan jenis dan pernikahan,
jumlah anak, KB dan aborsi; kesehatan fisik dan mental
Bila ada pertanyaan tentang policy brief ini dapat
serta kebahagiaan; tingkah laku merokok dan mimum
ditanyakan melalui e-mail pada:
minuman keras; keimanan, serta afiliasi pada organisasi
Peter.McDonald@anu.edu.au atau
keagamaan dan organisasi politik; norma-norma tentang
Iwu.Utomo@anu.edu.au
gender, nilai anak dan pandangan-pandangan terhadap
keadaan dunia.
Untuk menjaga kerahasiaan responden, daftar
Deskripsi Studi dan Survei Transisi Penduduk Usia
pertanyaan kedua yang berisi pertanyaan-pertanyaan
Muda 2010 di JATABEK
yang lebih sensitif, diisi sendiri oleh responden. Daftar
pertanyaan ini diberikan pada responden dalam amplop
Penelitian tentang transisi penduduk usia muda (20-34
dan dikembalikan pada interviewer setelah responden
tahun) ini dilakukan di JATABEK. Penelitian yang dibiayai
selesai menuliskan jawabannya. Untuk daftar
oleh Australian Research Council, WHO, ADSRI-ANU dan
pertanyaan yang kedua ini pertanyaan-pertanyaan yang
ARI-NUS, merupakan penelitian yang pertama kali
ditanyakan meliputi perilaku seksual, praktek-praktek
dilakukan di Indonesia. Penarikan sampel dilakukan
seks yang aman, pengetahuan tentang STDs/HIV/AIDS,
dalam dua tahap dengan metode gugus (cluster) dan
akses pada pelayanan kesehatan reproduksi, dan
dengan memakai metode probabilitas proporsional
pegunaan narkoba. Setelah survei selesai dilakukan, 100
(probability proportional to size-PPS). Pada tahap
responden dipilih secara random dan kemudian
pertama, ditarik 60 kelurahan dengan menggunakan
dilakukan wawancara yang mendalam terhadap
PPS. Pada tahapan kedua, dari setiap kelurahan yang
responden yang terpilih tersebut.
sudah dipilih, 5 Rukun Tetangga dipilih dengan
menggunakan sampel acak sistematis (systematic Berdasarkan hasil analisa peneltian ini akan dihasilkan
random sampling). Dari 300 RT yang terpilih kemudian sejumlah policy brief dan bila mendapatkan dana maka
dilakukan sensus dan pemetaan. Sensus rumah tangga survei ini akan diulang setiap 3 tahun sekali selama 10
tersebut dilakukan untuk mengumpulkan informasi tahun dengan mewawancarai responden yang sama
tentang umur, jenis kelamin, status pernikahan dan untuk mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi
hubungan dengan kepala rumah tangga. Sensus ini pada responden sehubungan dengan transisi
dilakukan untuk semua anggota keluarga. Dari hasil kehidupannya dalam bidang karakteristik demografi
sensus ini diperoleh daftar dari semua calon responden responden, pendidikan dan karirnya.
yang berusia antara 20-34 tahun yang tinggal di RT

Acknowledgement: Policy brief ini didanai oleh Australian Research Council, ADSRI-ANU, Ford Foundation,
WHO, National University of Singapore, dan BAPPENAS. Jakarta, 11 Januari 2012.

Australian Demographic and Social Research Institute


The Australian National University
Canberra ACT 0200, AUSTRALIA
http://adsri.anu.edu.au Enquiries: +61 2 6125 3629