Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA DASAR

PERCOBAAN IV

PENGARUH RUTE PEMBERIAN TERHADAP BIOAVAILABILITAS SUATU OBAT


DENGAN MENGGUNAKAN DATA DARAH

LABORATORIUM FARMASI KLINIK

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2017
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan
Jurusan Farmasi
Jl. Dr. Soeparno Kampus Karangwangkal Purwokerto Banyumas Jawa Tengah 53133

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA DASAR

Kelompok :4 Golongan : B1

Nama Mahasiswa : 1. Azka Karimah (I1C015020)

2. Salsabila Retnowijayanti (I1C015038)

3. Aulia Bagaskara Agama (I1C015054)

4. Massoumeh Ebtekar (I1C015072)

5. Alfu Wa Ichda (I1C015092)

6. Daina Yulianda (I1C015108)

Tanggal Praktikum : Sabtu, 20 Mei 2017

Judul Praktikum : Pengaruh Rute Pemberian Terhadap Bioavailabilitas Suatu Obat


dengan Menggunakan Data Darah

Nama Asisten : Sasmita Laila

Nama Dosen Pembimbing Praktikum : Ika Mustiyaningsih, M.Sc., Apt.


A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Rute pemberian obat dapat mempengaruhi bioavailabilitas obat dalam tubuh.
Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan mekanisme pelepasan obat pada tempat
pemberian dan perbedaan fisiologik jalur yang ditempuh obat dari masing-masing rute
pemberian menuju ke sirkulasi sistemik. Masing-masing rute akan memiliki pola
farmakokinetika yang berbeda, seperti absorbi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi
yang akan mempengaruhi onset, durasi, hingga respon dan efek (farmakodinamik)
dari suatu obat.
Darah dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh rute pemberian dengan
bioavailabilitas suatu obat. Kelebihan menggunakan data darah yaitu lebih cepat dan
lebih akurat karena dapat mengetahui kadar dalam darah pada saat pengambilan,
sedangkan jika menggunakan urin hanya dapat digunakan untuk obat yang memiliki
t1/2 yang panjang dan yang memiliki profil eliminasi tidak sempurna. Oleh karena itu,
pada praktikum kali ini dilakukan percobaan untuk membandingkan bioavailabilitas
suatu obat dari rute pemberian yang berbeda menggunakan data darah.

2. Dasar Teori
Bioavailabilitas suatu obat adalah laju dan jumlah relatif obat yang mencapai
sirkulasi umum tubuh (system peredaran darah). Laju relatif obat yang mencapai
sistem peredaran darah (laju absorbsi) dapat ditentukandari konstanta laju absorbsi,
sedangkan jumlah relatif obat yang terabsorbsi dapat ditentukan dari availabilitas
absolut atau availabilitas relatif. Manfaat dari biavailabilitas diantaranya adalah dapat
diketahui waktu yang dibutuhkan suatu obat agar dapat memberikan efek terapi dan
seberapa banyak obat tersebutdapat terserap oleh tubuh (Sulastri, 2006).
Pemberian obat per oral merupakan pemberian obat paling umum dilakukan
karena relatif mudah dan praktis serta murah. Kerugiannya ialah banyak faktor dapat
mempengaruhi bioavailabilitasnya (faktor obat, faktor penderita, interaksi dalam
absorpsi di saluran cerna. Intinya absorpsi dari obat mempunyai sifat-sifat tersendiri.
Beberapa diantaranya dapat diabsorpsi dengan baik pada suatu cara penggunaan,
sedangkan yang lainnya tidak (Ansel, 2008).
Obat yang diberikan secara per oral memiliki nilai bioavailabilitas yang rendah.
Karena pada pemberian per oral, obat terlebih dahulu mengalami proses absorbsi,
sedangkan jumlah obat yang dieliminasi sedikit. Hal ini berpengaruh pada nilai AUC
yang rendah. Oleh karena itu, nilai bioavailabilitas obat yang diberikan secara per oral
adalah yang paling rendah jika dibandingkan dengan nilai bioavailabilitas obat yang
diberikan melalui jalur lain (Anttila, 2003).
Menurut (Shargel, 2005), parameter yang harus diperhatikan ketika
menggunakan data darah adalah sebagai berikut:
2.1 T maks
Waktu kadar plasma mencapai puncak dapat disamakan dengan waktu yang
diperlukan obat untuk mencapat kadar maksimum. Pada T maks absorbsi adalah
terbesar dan laju absorbsi sama dengan laju eliminasi obat.
2.2 Cp maks
Kadar plasma puncak menunjukan kadar obat maksimum dalam darah
setelah pemberian obat secara oral. Cp maks memberi suatu petunjuk bahwa
obat cukup diabsoorbsi secara sistemik untuk memberikan respon terapetik.
2.3 AUC
AUC adalah kadar obat dalam plasma terhadap waktu, yaitu suatu ukuran
dari jumlah bioavailabilitas suatu obat.
Untuk mendapatkan data yang benar dari parameter tersebut, maka data darah
yang dipakai harus memenuhi persyaratan yang ditentukan yaitu:
Pengambilan darah harus kontinyu selama paling sedikit tiga atau lebih baik
lima kali dari waktu paruh biologiknya.
Waktu pengambilan sampel harus menggambarkan tiga titik fase absorbsi, fase
puncak dan fase distribusi (untuk kompartemen dua), serta fase eliminasi.

3. Tujuan Percobaan
3.1 Tujuan Umum
Membandingkan bioavailabilitas suatu obat dari rute pemakaian yang berbeda.
3.2 Tujuan Khusus
3.2.1 Melakukan uji bioavailabilitas suatu obat dari sediaan suspensi (peroral)
dan larutan injeksi (intramuscular dan intravena) dengan menggunakan
data darah.
3.2.2 Menghitung dan menginterpretasikan bioavailabilitas suatu obat.
B. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
1. Alat yang digunakan adalah:
1.1 Spektrofotometer
1.2 Alat pemusing
1.3 Disposable syringe 1 cc
1.4 Timbangan untuk binatang percobaan
1.5 Cage (kotak tikus)
1.6 Vortex mixture
1.7 Alat pencukur
1.8 Alat gelas
1.9 Feeding rube
2. Bahan dan pereaksi yang digunakan adalah:
2.1 Sulfadiazin
2.2 Asam Trikhloro Asetat 1,5%
2.3 Natrium Nitrit 0,1%
2.4 Ammonium Sulfamat 0,5%
2.5 N (naftil) etilen diamin dihidroklorida 0,1%
3. Subjek coba yang digunakan adalah:
3.1 Tikus

C. CARA KERJA
1. Pemakaian produk obat
a. Pemakaian peroral
TIKUS
- Ditimbang beratnya
- Dihitung dosis dan volume suspensi yang akan diberikan peroral.
Dosis 50mg/KgBB (1ml suspensi = 40mg sulfadiazin)
- Diberikan obat secara peroral

HASIL
b. Pemakaian intramuscular
TIKUS
- Ditimbang beratnya
- Dihitung dosis dan volume larutan yang akan diberikan
intramuscular. Dosis 50mg/KgBB (1ml larutan = 250mg sulfadiazin)
- Diberikan pada paha atas dari kaki, digunakan tempat injeksi yang
berbeda
HASIL

c. Pemakaian intravena
TIKUS

- Ditimbang beratnya
- Dihitung dosis dan volume larutan yang akan diberikan intravena.
Dosis 20mg/KgBB (1ml larutan = 80mg sulfadiazin)
- Diberikan ke dalam vena tikus
HASIL

2. Pengambilan sampel darah dengan disposable syringe


Disposable
syringe

- Diambil yang steril dan dibilas dengan larutan heparin


-
TIKUS
- Dibersihkan bulu-bulu pada daerah ekor sekitar vena
- diolesi xycol pada daerah sekitar vena
- diambil darah dengan disposable syringe kurang lebih 1ml, dikocok
untuk mencegah koagulasi
- dilakukan pengambilan sampel darah pada waktu berikut:
iv : 0, 5, 10, 20, 30, 45, 60 ,90 menit setelah pemberian obat
im: 0, 5, 10, 20, 30, 45, 60 ,90 menit setelah pemberian obat
po: 0, 5, 10, 20, 30, 45, 60 ,90 menit setelah pemberian obat
- diambil satu sampel darah sebelum pemberian obat sebagai blanko
HASIL
3. Perlakuan hewan coba
TIKUS
-
- Dipuasakan malam hari sebelum percobaan
- Ditimbang berat tikus dan dihitung dosis secara tepat
- Diberikan obat sulfadiazin sesuai rute pemakaian yang ditentukan
- diambil sampel darah sesuai dengan waktu yang ditentukan

HASIL

4. Metode penetapan kadar sulfadiazin dalam darah dengan metode Azotasi dari Bratton
Marshal
DARAH
- Diambil 0,5 ml ditambah air suling 7,5 ml, dicampur homogenkan
dan didiamkan selama 15 menit
- Ditambahkan TCA ( 2ml ; 15% )
- Dipusingkan dan diambil supernatannya

SUPERNATAN
T
- Diambil sebanyak 5ml
- Ditambahkan larutan NaNo2 ( 0,5 ml ; 0,1 % )
- Didiamkan selama 3 menit
- Ditambahkan larutan amonium sulfamat ( 0,5 ml ; 0,5% )
- didiamkan selama 2 menit
- Ditambahkan larutan N (1-naftil) etilendiamin ( 2,5 ml ; 0,1% )
- Didiamkan selama 10 menit di tempat gelap
- Diamati serapannya pada maksimum
-
Hasil

5. Tahapan Percobaan
a) Pembuatan larutan baku kerja sulfadiazin
Sulfadiazin
- Dibuat larutan baku induk 1000 mcg/ml dari 100 mg sulfadiazin
- Dilarutkan dalam NaOH 0,1N dan H2SO4 4N (1:5)
- Ditambahkan air suling hingga 100 ml
Larutan Stok Sulfadiazin
1000 ppm
-
- Diencerkan dengan aquades hingga didapat kadar 5, 10, 25, 50, 75
ppm

Larutan Baku kerja


Sulfadiazin

b) Penentuan Panjang Gelombang Maksimum


Larutan Baku

- Ditentukan panjang gelombang maksimum pada spektrofotometri


- Diamati nilai serapan pada panjang gelombang 520-560nm
- Dibuat kurva serapan terhadap panjang gelombang
- Ditentukan maksimum

Hasil

c) Pembuatan Kurva Baku


Larutan Baku Kerja

- Diamati absorbansi pada maksimum yang didapatkan


- Dibuat tabel hasil pengamatan
- Dibuat kurva kadar larutan baku kerja
- Dihitung koefisien korelasinya
- Dibuat persamaan garis
Hasil

d) Penetapan kembali kadar sulfadiazine yang ditambahkan di dalam darah (recovery)


DARAH

- Diambil 0,25 ml ditambah air suling 0,25 ml


- Ditambahkan TCA ( 2ml ; 5% )
- Divortex selama 5 menit dan diambil supernatannya

SUPERNATAN
- Diambil sebanyak 1,5ml, kemudian ditambahkan aquadest 2 ml
- Ditambahkan reagen NaNo2 ( 0,1 ml ; 0,1 % )
- Didiamkan selama 3 menit
- Ditambahkan larutan asam sulfamat ( 0,5 ml ; 0,5% )
- didiamkan selama 5 menit
- Ditambahkan larutan N (1-naftil) etilendiamin ( 0,2 ml ; 0,1% )
- Didiamkan selama 5 menit di tempat gelap
- Diamati serapannya pada maksimum
- dibuat tabel hasil pengamatan dan dibuat kurva kadar larutan baku
kerja terhadap serapan
- dimasukkan nilai serapan baku recovery padapersamaan kurva baku
sehingga diperoleh kada sulfadiazin yang diperoleh kembali
- dihitungpersen recovery dengan membagi perolehan kembali
sulfadiazin dalam darah dengan kadar ebenarnya kemudian dikalikan
100%
Hasil

e) Penetapan kadar sulfadiazin dalam darah

DARAH

- Ditetapkan kadar sulfadiazin dengan reaksi azotasi dari Bratton


Marshal
- Diamati serapannya pada panjang gelombang maksimum
- Dimasukkan data serapan ke persamaan garis recovery
- Didapatkan data kadar sulfadiazin dalam darah setiap waktu
pengambilan

Hasil

D. HASIL PERCOBAAN
1) Penimbangan tikus

Berat Cage + Tikus


Berat Cage
Berat Tikus
2) Penimbangan Sulfadiazin

Berat wadah + Sulfadiazin


Berat wadah + sisa
Berat Sulfadiazin

3) Tabel Kurva Baku

C obat C real darah Absorbansi A = 0,193


5 2,5 0,171 A
10 5 0,251 A B = 0,002
25 12,5 0,227 A
50 25 0,292 A r = 0,82
75 37,5 0,275 A
y = 0,193 + 0,002 x

4) Data Percobaan

kel t Absorbansi Kadar (X) Persamaan garis AUC %


kurva eliminasi kesalahan
sistemik
0 0,465 A
5 0,436 A 118,54 a = 6,27 11,925 67,240%
I 10 1,244 A 512,68 b = -0,014 27,55 70,263%
20 1,068 A 426,83 r= 98,85 42,854%
45 0,709 A 281,71 Y = 6,27 0,014 x 14,75 28,729%
75 0,591 A 194,15 162 32,741%
AUC
tot=405,075
0 0,207 A
5 0,242 A 23,902 a = 5,39 7,935 67,240%
II 10 0,448 A 124,390 b = -0,0089 19,992 70,263%
20 0,594 A 195,609 r = -0,928 50,495 42,854%
45 0,462 A 131,219 y = 5,39 0,0089x 126,912 28,729%
75 0,436 A 118,536 144,178 32,741%
AUC
tot=350,114
0 0,242 A
5 0,492 A 149,5 a = 5,699 12,52 67,240%
III 10 0,641 A 224 b = -0,012 26,04 70,263%
20 0,670 A 238,5 r = -0,999 54,4 42,854%
45 0,544 A 175,5 y = 5,699-0,012x 133 28,729%
75 0,443 A 125 150 32,741%
AUC
tot=375,96

Perhitungan
Pembuatan larutan baku 1000 ppm

Pengenceran larutan baku kerja

1000 ppm

100ppm 300ppm

150ppm

10ppm 50ppm 75ppm

5ppm 25ppm

300ppm 50ppm
V1.M1 = V2.M2 V1.M1 = V2M2
VI 1000 = 10.300 V1.100 = 10.50
V1 = 3ml ad 10 V1= 5ml ad 10

100ppm 25ppm
V1.M1 = V2.M2 V1.MI = V2.M2
VI.1000 = 10.100 V1.50 = 10.25
V1 = 1 ml ad 10 V1 = 5ml ad 10

150ppm 10ppm
V1.M1 = V2M2 V1.M1 = V2.M2
V1.300 = 10.150 V1.100 = 10.10
V1 = 5ml ad 10 V1 = 1ml ad 10

75ppm 5ppm
V1.M1 = V2.M2 V1.M1 = V2.M2
V1.150 = 10.75 V1.10 = 10.5
V1 = 5ml ad 10 V1 = 5ml ad 10

% Kesalahan Sistemik

E. PEMBAHASAN
F. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA