Anda di halaman 1dari 6

2.2.

5 Epidemiologi
Fraktur radius distal merupakan salah satu fraktur yang sering terjadi,
merupakan 15% dari keseluruhan kasus cedera lengan atas yang diterima di Unit
Gawat Darurat (UGD), dengan kasus lebih dari 640.000 kasus di Amerika pada tahun
2001. Angka kejadian fraktur ini meningkat pada usia 5 sampai 24 tahun, dan juga
pada usia tua. Fraktur distal radius merupakan 25% dari fraktur yang terjadi pada
populasi anak-anak dan 18% dari fraktur yang terjadi pada kelompok usia lanjut.
Meskipun populasi anak-anak dan usia tua merupakan kelompok dengan risiko
tertinggi untuk fraktur ini, namun fraktur distal radius juga memiliki efek signifikan
terhadap kesehatan kelompok remaja-dewasa. Data dari dokumentasi selama 40 tahun
terakhir menunjukkan adanya tren peningkatan prevalensi dari kasus ini. Pada
populasi anak-anak, peningkatan ini dapat disebabkan oleh kegiatan yang
berhubungan dengan olahraga. Adanya peningkatan jumlah populasi orang tua dan
meningkatnya aktivitas di usia tua secara langsung berpengaruh terhadap peningkatan
1,2
jumlah kasus ini.

2.2.6 Etiologi
Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung,
misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan
ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan
yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.3
Fraktur tidak selalu disebabkan oleh trauma yang berat; kadang-kadang
trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila tulangnya sendiri terkena penyakit
tertentu. Jika trauma ringan yang terus menerus dapat menimbulkan fraktur.
Berdasarkan ini, maka dikenal berbagai jenis fraktur :
Fraktur disebabkan trauma yang berat
Fraktur spontan/patologik
Fraktur stress/fatigue
Trauma dapat bersifat:
Eksternal : tertabrak, jatuh dan sebagainya.
Internal : kontraksi otot yang kuat dan memdadak seperti pada serangan
epilepsi, tetanus, renjatan listrik, keracunan strinkin.
Trauma ringan tetapi terus menerus.

Fraktur patologik adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang sebelumnya
telah mengalami proses patologik, misalnya tumor tulang primer atau sekunder,
myeloma multiple, kista tulang, osteomyelitis, dan sebagainya. Trau ma ringan saja
sudah dapat menimbulkan fraktur. Fraktur stress disebabkan oleh trauma ringan tetpai
terus menerus, misalnya fraktur march pada metatarsal fraktur tibia pada penari balet,
fraktur fibula pelari jarak jauh, dan sebagainya.3

2.2.7 Patofisiologi
Patofisiologi dari fraktur tentulah sangat jelas, yaitu tekanan yang terlalu
tinggi pada tulang dibandingkan dengan yang mampu ditahan. Pada kebanyakan
aktivitas, sisi dorsal dari radius distal cenderung mengalami tension, sisi volar dari
radius distal mengalami kompresi, hal ini disebabkan oleh bentuk integritas dari
korteks pada sisi distal dari radius, dimana sisi dorsal lebih tipis dan lemah sedangkan
pada sisi volar lebih tebal dan kuat. Beban yang berlebihan dan mekanisme trauma
yang terjadi pada pergelangan tangan akan menentukan bentuk garis fraktur yang
akan terjadi.3
Pasien anak-anak memiliki tulang yang masih kuat, oleh karena itu diperlukan
trauma dengan energy yang besar untuk menyebabkan fraktur, contohnya adaam
kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, dll. Pasien usia tua memiliki tulang yang
lebih lemah dan dapat menderita fraktur distal radius denganhanya terjatuh dengan
tangan yang menopang. Seiring dengan bertambahnya angka harapan hidup dan
jumlah lansia, maka fratur ini semakin sering terjadi. 4
Mekanisme cedera yang paling umum terjadi adalah jatuh ke tangan terulur
dengan pergelangan tangan dalam dorsofleksi. Fraktur radius distal terjadi ketika
dorsofleksi pergelangan tangan bervariasi antara 40 dan 90 derajat, dengan derajat
yang lebih rendah dari gaya yang dibutuhkan pada sudut yang lebih sempit. Impaksi
pada tulang metaphysis distal radius terhadap tulang kerpal juga sering terjadi. Selain
itu, kekuatan dari mekanisme trauma juga sering mengakibatkan keterlibatan
permukaan articular. Mekanisme dengan energy tinggi (misalnya, trauma
kendaraan/kecelakaan lalu lintas) dapat mengakibatkan pergeseran atau fraktur yang
sangat kominutif (lebih dari tiga fragmen) dan mengakibatkan sendi wrist tidak stabil.
4

2.2.8 Gejala Klinis


Pasien dengan fraktur biasanya akan datang dengan keluhan nyeri mendadak,
tegang, bengkak dan memar, serta dapat terjadi deformitas pada kasus yang berat.4

2.2.9 Pemeriksaan Fisik .


Ketika memeriksa pasien yang menderita cedera pergelangan tangan, riwayat
dahulu dan pemeriksaan fisik merupakan alat diagnostik yang sangat penting.
Langkah awal dari pemeriksaan fisik adalah menilai adanya deformitas yang nyata
atau tidak. Kebanyakan fraktur akan terlihat bersama dengan keluhan bengkak dan
juga deformitas serta angulasi. Kulit dan jaringan lunak disekitar juga harus diperiksa
untuk melihat adanya defek yang dapat mengindikasikan terjadinya fraktur terbuka.
Pasien dengan fraktur terbuka harus diberikan terapi profilaksis tetanus (disesuaikan
dengan status imunisasi) dan antibiotic intravena secepatnya.5
Gambar : (A) tipikal deformitas pada tangan (B) tadiologis tampak posteroanterior
(C) tampak lateral.5

Tanda dan gambaran yang khas pada fraktur adalah :5


Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang di seluruh diameter tulang atau
menimbulkan keretakan pada tepi kortikal luar yang normal pada fraktur minor.
Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi fraktur.
Iregularis kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga pada korteks

Pemeriksaan vaskular adalah komponen berikutnya dari pemeriksaan. Tangan


dan pergelangan tangan memiliki perfusi dengan pembuluh darah yang kuat.
Capillary refill time pada ujung jari adalah teknik yang umum digunakan untuk
mengevaluasi aliran darah dari tangan namun memiliki sensitivitas rendah dalam
mengkonfirmasikan perfusi. Selain itu, umumnya tertunda karena pembengkakan dan
deformitas, tetapi pulsasi arteri radial dan ulnar haruslah teraba. Jika pulsasi tidak
teraba, deformitas dapat dipikirkan dan pemeriksaan pembuluh darah dapat diulang.
Atau, pertimbangkan untuk menggunakan ultrasound Doppler. Jika pulsasi masih
tidak ada dan / atau jika ada kekhawatiran untuk cedera vaskular, seperti perubahan
iskemik, hematoma yang cepat memperbesar, atau adanya perdarahan arteri,
pertimbangkan evaluasi emergensi dan konsul dengan seorang ahli bedah ortopedi
atau bedah vaskular.5
Gambar 2. Defek jaringan lunak sekitar perlu dipikirkan suatu fraktur terbuka.5

Pemeriksaan neurologis biasanya sulit dilakukan untuk menilai gangguan


pada keadaan fraktur yang akut karena terganggu oleh rasa sakit. Selain itu,
ketidakmampuan pasien untuk membedakan nyeri, mati rasa atau parestesia dapat
sangat bervariasi. 5

Dapus :
1. Nellans, K. W., Kowalski, E., & Chung, K. C. (2012). The epidemiology of
distal radius fractures. Hand clinics, 28(2), 113-125.
2. Ruch, D. S., Weiland, A. J., Wolfe, S. W., Geissler, W. B., Cohen, M. S., &
Jupiter, J. B. (2004). Current concepts in the treatment of distal radial
fractures. Instructional course lectures, 53, 389-401.
3. Tsai, P. C., & Paksima, N. (2009). The distal radioulnar joint. Bulletin of the
NYU hospital for joint diseases, 67(1), 90.
4. David, N. 2016. Distal radius Fracture ( dalam
http://emedicine.medscape.com/article/1245884-overview diakses tanggal 27
Juli 2017 pukul 10.05)
5. Padegimas, E. M., & Ilyas, A. M. (2015). Distal radius fractures: emergency
department evaluation and management. Orthopedic Clinics of North
America, 46(2), 259-270.