Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA KLIEN DENGAN MALNUTRISI


DI RUANG ANAK (SEDAP MALAM)
RSUD ULIN BANJARMASIN

Tanggal 27 Mei s/d 15 Juni 2013

Oleh :
DEWI IRIANTI
NIM I1B108209

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2013
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN
PADA KLIEN DENGAN MALNUTRISI
DI RUANG SEDAP MALAM
RSUD ULIN BANJARMASIN

Tanggal 27 Mei s/d 15 Juni 2013

Oleh :
DEWI IRIANTI
NIM I1B108209

Banjarmasin, 27 April 2013


Mengetahui,
Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Devi Rahmayanti,S.Kep,Ns Wiwik Winarsih, S.Kep., Ners


MALNUTRISI

A. Definisi
Malnutrisi (kekurangan gizi) adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau
ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan
semua hal yang berhubungan dengan kehidupan. Malnutrisi adalah keadaan klinis
sebagai akibat kekurangan asupan makanan ataupun kebutuhan nutrisi yang meningkat
ditandai dengan adanya gejala klinis, antropometris, laboratoris dan data analisis diet
Kekurangan zat gizi adaptif bersifat ringan sampai dengan berat. Kurang gizi banyak
terjadi pada anak usia kurang dari 5 tahun.
Kekurangan Kalori Protein (KKP) merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi
yang paling serius. KKP atau disebut juga Protein Energi Malnutrition (PEM). Ada tiga
macam KKP yaitu:
1. Kwashiorkor; terjadi bila kekurangan gizi utama adalah kekurangan protein.
2. Marasmus; tejadi bila kekurangan gizi utama yaitu kekurangan kalori.
3. Marasmic-kwashiorkor; kombinasi marasmus dan kwashiorkor.

B. Patofisiologi & Web of Caution


Defisiensi nutrien yang berlangsung beberapa waktu akan menyebabkan terjadinya
deplesi cadangan nutrien pada jaringan tubuh, sehingga kadar dalam darah akan
menurun. Hal ini akan mengakibatkan tidak cukupnya nutrien tersebut di tingkat seluler
sehingga fungsi sel terganggu; misalnya sintesis protein, pembentukan dan penggunaan
energi, proteksi terhadap oksidasi atau tidak mampu menjalankan fungsi normal
lainnya. Bila berlangsung terus menerus, maka gangguan fungsi sel akan menimbulkan
masalah pada fungsi jaringan atau organ yang bermanifestasi secara fisik seperti
gangguan pertumbuhan, serta kemunculan tanda dan gejala klinis spesifik yang
berkaitan dengan nutrien tertentu misal edema, xeroftalmia, dermatosis, dan lain-lain
yang kadang-kadang ireversibel.
Masukan nutrien tidak adekuat

Defisiensi nutrien

Deplesi cadangan tubuh

Kadar dalam darah turun

Defisiensi tingkat seluler

Gangguan fungsi sel

Gejala / tanda klinis

Masalah kesehatan melanjut


Web of Caution malnutrisi

C. Etiologi
1. Diit kurang; disebabkan oleh 3 faktor, yaitu:
a. Faktor sosial: rendahnya kesadaran masyarakat; makan "sekadarnya" atau
asal kenyang padahal miskin gizi, termakan iklan.
b. Kemiskinan; rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan
paling mendasar, yaitu pangan sering tidak bisa terpenuhi.
c. Laju pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya
ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan.
2. Kelainan bawaan.
3. Bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan pendamping
ASI (MP-ASI).
4. Anak dengan penyakit kronis.
5. Anak dengan infeksi; dapat mempengaruhi jumlah asupan makanan dan
penggunaan nutrien oleh tubuh, misalnya: diare, TBC.
6. Buruknya pelayanan kesehatan.
7. Sanitasi lingkungan yang kurang

D. Manifestasi klinis
1. Manifestasi klinis malnutrisi secara umum adalah sebagai berikut: Kelelahan
dan kekurangan energi, pusing, sistem kekebalan tubuh yang rendah (yang
mengakibatkan tubuh kesulitan untuk melawan infeksi), kulit yang kering dan
bersisik, gusi bengkak dan berdarah, gigi yang membusuk, kulit untuk
berkonsentrasi dan mempunyai reaksi yang lambat, berat badan kurang,
pertumbuhan yang lambat, kelemahan pada otot, perut kembung, tulang yang
mudah patah, terdapat masalah pada fungsi organ tubuh, rentan terhadap infeksi;
diare, pengurusan otot /atrophy otot, gangguan yang lain seperti misalnya
peradangan kulit, infeksi, kelainan organ dan fungsinya (akibat atrophy/
pengecilan organ tersebut).
2. Manifestasi klinis anak dengan marasmus adalah: pengurusan otot (atrophy),
badan kurus kering tampak seperti orangtua, kulit kering, letargi, irritable, kulit
keriput (turgor kulit jelek), ubun-ubun cekung pada bayi, jaringan subkutan
hilang, malaise, kelaparan, apatis.
3. Manifestasi klinis anak dengan kwashiorkor adalah edema ( bengkak) terutama
pada punggung kaki yang tidak kembali setelah dilakukan pemijitan (pitting
edema)
4. Manifestasi klinis anak dengan marasmik kwasiorkor adalah bentuk klinis
campuran keduanya.

E. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada malnutrisi adalah sebagai berikut:
1. Hipotermi ( mudah kedinginan) karena jaringan lemaknya tipis.
2. Hipoglikemia (kadar gula dalam darah yang dibawah kadar normal).
3. Kekurangan elektrolit penting.
4. Kekurangan cairan tubuh.
F. Pemeriksaan khusus dan pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien yang mengalami
malnutrisi adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan Fisik / Antropometri, terdiri dari:
a. Mengukur TB dan BB
b. Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan
TB (dalam meter)
c. Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan
trisep) menggunakan jangka lengkung (kaliper).
2. Pemeriksaan laboratorium, terdiri dari: Albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit,
Hb, Ht, transferin. Anemia selalu ditemukan terutama jenis normositik
normokrom karena adanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis
sumsum tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan,
kerusakan hati dan gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin
serum yang menurun.
3. Pemeriksaan radiologis perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada
paru.

G. Masalah keperawatan
1. Pengkajian
a. Riwayat Keluhan Utama
Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan gangguan
pertumbuhan (berat badan semakin lama semakin turun), bengkak pada tungkai,
sering diare dan keluhan lain yang menunjukkan terjadinya gangguan kekurangan
gizi.
b. Riwayat Keperawatan Sekarang
Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal, hospitalisasi dan
pembedahan yang pernah dialami, alergi, pola kebiasaan, tumbuh-kembang,
imunisasi, status gizi (lebih, baik, kurang, buruk), psikososial, psikoseksual,
interaksi dan lain-lain. Data fokus yang perlu dikaji dalam hal ini adalah riwayat
pemenuhan kebutuhan nutrisi anak (riwayat kekurangan protein dan kalori dalam
waktu relatif lama).
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas,
pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga,
kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi
keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.
d. Pengkajian Fisik
Pengkajian secara umum dilakukan dengan metode head to toe yang meliputi:
keadaan umum dan status kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah,
dada, abdomen, ekstremitas dan genito-urinaria.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor biologis,
factor ekonomi.
b. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan b.d efek ketunadayaan fisik.
c. Kerusakan integritas kulit b.d perubahan turgor, factor perkembangan,
kondisi ketidakseimbangan nutrisi.
d. Resiko infeksi dengan factor resiko malnutrisi.
e. Kurang pengetahuan b.d keterbatasan kognitif, kurang pajanan, tidak
familiar dengan sumber informasi.
3. Rencana Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1 Ketidakseimbangan nutrisi kurang 1. Nutritional Status : food and Fluid Intake Nutrition Management
dari kebutuhan tubuh 2. Nutritional Status : nutrient Intake 1. Kaji adanya alergi makanan
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup Kriteria Hasil : menentukan jumlah kalori dan nutrisi
untuk keperluan metabolisme tubuh. 1. Adanya peningkatan berat badan sesuai yang dibutuhkan pasien.
dengan tujuan 3. Anjurkan keluarga pasien untuk
Batasan karakteristik : 2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi meningkatkan protein dan vitamin C
- Berat badan 20 % atau lebih di badan 4. Berikan substansi gula
bawah ideal 3. Tidak ada tanda tanda malnutrisi 5. Yakinkan diet yang dimakan
- Dilaporkan atau fakta adanya 4. Tidak terjadi penurunan berat badan mengandung tinggi serat untuk mencegah
kekurangan makanan yang berarti konstipasi
- Tonus otot menurun 6. Berikan makanan yang terpilih ( sudah
- Dilaporkan adanya intake dikonsultasikan dengan ahli gizi)
makanan yang kurang dari RDA 7. Ajarkan keluarga pasien bagaimana
(Recomended Daily Allowance) membuat catatan makanan harian.
- Membran mukosa dan 8. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan
konjungtiva pucat kalori
- Kelemahan otot yang digunakan 9. Berikan informasi tentang kebutuhan
untuk menelan/mengunyah nutrisi
- Kurangnya informasi, Nutrition Monitoring
misinformasi 1. BB pasien dalam batas normal
2. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
Faktor-faktor yang berhubungan : biasa dilakukan
Ketidakmampuan pemasukan atau 3. Monitor lingkungan selama makan
mencerna makanan atau 4. Jadwalkan pengobatan dan tindakan
mengabsorpsi zat-zat gizi tidak selama jam makan
berhubungan dengan faktor biologis, 5. Monitor kulit kering dan perubahan
ekonomi. pigmentasi
6. Monitor turgor kulit
7. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan
mudah patah
8. Monitor mual dan muntah
9. Monitor kadar albumin, total protein, Hb,
dan kadar Ht
10. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
11. Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
12. Monitor kalori dan intake nuntrisi
13. Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas oral.
14. Catat jika lidah berwarna magenta,
scarlet

2 Keterlambatan pertumbuhan dan 1. Growth Weight management


perkembangan 2. Weight: Body mass 1. Diskusikan dengan keluarga pasien
tentang hubungan antara intake, latihan,
Kriteria hasil:
Definisi: Penyimpangan/kelainan penambahan berat badan, dan
1. Berat badan sesuai dengan tinggi badan
dari aturan kelompok usia kehilangan berat badan
2. Penambahan rata-rata berat dan tinggi
2. Diskusikan dengan keluarga pasien
badan
Batasan Karakteristik: resiko kelebihan dan kekurangan berat
3. Indeks massa tubuh dalam batas normal
- Gangguan pertumbuhan fisik badan terhadap tubuh
- Afek datar 3. Monitor motivasi pasien dalam merubah
- Lesu/tidak bersemangat kebiasaan makan
4. Bantu klien untuk menggunakan metode
Faktor yang berhubungan: efek intake dan output makanan yang sesuai
ketunadayaan fisik 5. Informasikan kepada keluarga pasien
tentang perlunya support dari orang
terdekat untuk memotivasi klien dalam
meningkatkan berat badannya
Weight Gain Assistance
1. Monitor BB pasien dalam interval yang
sesuai
2. Monitor pemasukan kalori setiap hari
k/p
3. Beritahu bagaimana cara meningkatkan
intake kalori

3 Kerusakan integritas kulit Tissue Integrity : Skin and Mucous Pressure Management
Membranes 1. Anjurkan pasien untuk menggunakan
Definisi : Perubahan/gangguan Kriteria Hasil : pakaian yang longgar
epidermis dan/atau dermis 1. Integritas kulit yang baik bisa 2. Hindari kerutan padaa tempat tidur
dipertahankan (sensasi, elastisitas, 3. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih
Batasan karakteristik : temperatur, hidrasi, pigmentasi) dan kering
- Gangguan pada bagian tubuh 2. Tidak ada luka/lesi pada kulit 4. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
- Gangguan permukaan kulit 3. Perfusi jaringan baik setiap dua jam sekali
(epidermis) 4. Mampu melindungi kulit dan 5. Monitor kulit akan adanya kemerahan
mempertahankan kelembaban kulit dan 6. Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada
Faktor yang berhubungan : perawatan alami derah yang tertekan
Internal : 7. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
- Perubahan turgor 8. Monitor status nutrisi pasien
- Factor perkembangan
- Kondisi ketidakseimbangan
nutrisi

4 Resiko Infeksi Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi)


Knowledge : Infection control 1. Batasi pengunjung bila perlu
Definisi : Peningkatan resiko Risk control 2. Gunakan sabun untuk cuci tangan
masuknya organisme patogen Kriteria Hasil : 3. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
Faktor resiko : Malnutrisi 1. Klien bebas dari tanda dan gejala tindakan keperawtan
infeksi 4. Gunakan baju pelindung dan sarung
2. Menunjukkan kemampuan untuk tangan sebagai alat pelindung
mencegah timbulnya infeksi 5. Pertahankan lingkungan aseptik selama
3. Jumlah leukosit dalam batas normal pemasangan alat
4. Menunjukkan perilaku hidup sehat 6. Ganti letak IV perifer dan line central dan
dressing maksimal 3 hari setelah
pemasangan
7. Tingkatkan intake nutrisi
Infection Protection (proteksi terhadap
infeksi)
1. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
dan lokal
2. Monitor hitung granulosit, WBC
3. Monitor kerentanan terhadap infeksi
4. Partahankan teknik aspesis pada pasien
yang beresiko
5. Berikan perawatan kuliat pada area
epidema
6. Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, drainase
7. Dorong masukkan nutrisi yang cukup
8. Dorong masukan cairan
9. Dorong istirahat
10. Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
11. Ajarkan keluarga tanda dan gejala infeksi
12. Ajarkan cara menghindari infeksi

5 Kurang pengetahuan 1. Kowlwdge : disease process Teaching : disease Process


2. Kowledge : health Behavior 1. Berikan penilaian tentang tingkat
Definisi : Kriteria Hasil : pengetahuan keluarga pasien tentang
Tidak adanya atau kurangnya 1. Keluarga pasien menyatakan proses penyakit yang spesifik
informasi kognitif sehubungan pemahaman tentang kondisi dan 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
dengan topic spesifik. program pengobatan bagaimana hal ini berhubungan dengan
2. Pasien dan keluarga mampu anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
Batasan karakteristik : melaksanakan prosedur yang dijelaskan tepat dan mudah dipahami keluarga
memverbalisasikan adanya masalah, secara benar pasien
perilaku tidak tepat. 3. Keluarga pasien mampu menjelaskan 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa
kembali apa yang dijelaskan muncul pada penyakit, dengan cara yang
Faktor yang berhubungan : perawat/tim kesehatan lainnya. tepat
- Keterbatasan kognitif 4. Identifikasi kemungkinan penyebab,
- Kurang pajanan dengna cara yang tepat
- Tidak familiar dengan sumber 5. Sediakan informasi pada pasien tentang
informasi. kondisi, dengan cara yang tepat
6. Sediakan bagi keluarga informasi tentang
kemajuan pasien dengan cara yang tepat
7. Diskusikan perubahan gaya hidup yang
mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang dan
atau proses pengontrolan penyakit
H. Masalah kolaborasi
1. Kolaborasi dengan ahli gizi
Diit pada pasien dengan malnutrisi adalah:
1) Banyak cairan diatur untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit,
terutama bila ada diare.
2) Vitamin dan mineral tinggi. Bila perlu diberikan tambahan vitamin dan
mineral, seperti vitamin A,vitamin B kompleks,vitamin C dan zat besi.
3) Mudah dicerna dan tidak merangsang.
4) Bentuk makanan sesuai dengan keadaan pasien.
Ada 3 cara pemberian makanan yaitu:
1) Tahap penyesuaian
Tujuannya adalah menyesuaikan kemampuan pasien menerima makanan
hingga ia mampu menerima diit TKTP. Tahap penyesuaian ini dapat berlangsung
singkat,yaitu selama 1-2 minggu atau lebih lama,bergantung pada kemampuan
pasien untuk menerima dan mencerna makanan.
2) Tahap penyembuhan
Tahap ini diberikan bila nafsu makan dan toleransi terhadap makanan
bertambah baik, berangsur-angsur tiap1-2 hari, pemberian makanan ditingkatkan
hingga konsumsi mencapai 150-200 kkl/kg berat badan sehari dan 2-5 gram
protein/kg berat badan sehari.
3) Tahap lanjutan
Sebelum pasien dipulangkan, sebaiknya sudah dibiasakan memperoleh
makanan biasa yang bukan merupakan diit TKTP. Keluarga pasien diberikan
penyuluhan kesehatan dan gizi, tentang : mengatur makanan, memilih bahan
makanan, dan mengolahnya sesuai dengan kemampuan daya belinya

2. Kolaborasi dengan tim medis


Tujuan pengobatan pada pasien malnutrisi adalah pemberian diet TKTP serta
mencegah kekambuhan. Pasien tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi
penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita yang
mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis perlu mendapat perawatan di
rumah sakit. Penatalaksanaan penderita yang dirawat di RS dibagi dalam 2 tahap, yaitu:
1) Tahap awal, yaitu 24-48 jam pertama yang merupakan masa kritis, yaitu
tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi
atau asidosis dengan pemberian cairan intravena. Cairan yang diberikan ialah
larutan Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%. Cairan diberikan
sebanyak 200 ml/kg BB/hari.
Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama. Kemudian 140 ml
sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.
2) Tahap kedua yaitu penyesuaian. Sebagian besar penderita tidak memerlukan
koreksi cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung dimulai dengan
penyesuaian terhadap pemberian makanan.
Penatalaksanaan bervariasi tergantung pada beratnya kondisi anak. Keadaan shock
memerlukan tindakan secepat mungkin dengan restorasi volume darah dan mengkontrol
tekanan darah. Pada tahap awal, kalori diberikan dalam bentuk karbohidrat, gula
sederhana, dan lemak. Protein diberikan setelah semua sumber kalori lain telah dapat
menberikan tambahan energi. Vitamin dan mineral dapat juga diberikan

I. Daftar Pustaka
Wong DL, Eaton MH, Wilson D, Winkelstein ML, Schwartz P. Buku ajar
keperawatan pediatrik volume 1. Jakarta: EGC, 2008.
Blackwell, willey. Nursing Diagnosis Definition and Classification 2009-2011.
USA : NANDA International. 2009
Moorhead, Sue, et all. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA : Mosby
Elsevier. 2004.
Bulechek, Gloriria M, Howard K. Butcher, and Joanne McCloskey dochterman.
Nursing Interventions Classification (NIC). USA : Mosby Elsevier. 2004.