Anda di halaman 1dari 21

I.

JUDUL : Titrasi Pengendapan


II. HARI/TANGGAL PERCOBAAN : Selasa, 15 November 2016
III. SELESAI PERCOBAAN : Selasa, 15 November 2016
IV. TUJUAN :1. Membuat dan menentukan
(standarisasi) larutan AgNO3.
2. Menentukan kadar NaCl dalam
garam meja
V. DASAR TEORI :
Pengertian Titrasi Pengendapan
Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan
endapan dari garam yang tidak mudah larut antara titrant dan analit. Hal dasar
yang diperlukan dari titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan
pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak
adanya pengotor yang menggangu titrasi, dan titik akhir titrasi yang mudah
diamati.
Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak
mudah larut antara titran dengan analit. Titrasi argentometri merupakan
teknik khusus yang digunakan untuk menetapkan perak dan senyawa halida.
Penetapan kadar zat analit didasari oleh pembentukan endapan. Sebagai
contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+
dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang
tidak mudah larut AgCl.
Istilah argentometri diturunkan dari bahasa latin argentum, yang
berarti perak. Jadi argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan
kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar
pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi argentometri, zat
pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar
garam perak nitrat AgNO3. Dengan mengukur volume larutan standar yang
digunakan sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat diendapkan, kadar garam
dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan. (Underwood, 1992)

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 1


Berdasarkan pada indikator yang digunakan, argentometri dapat
dibedakan atas :
1. Metode Mohr (pembentukan endapan berwarna)
Kegunaan metode Mohr yaitu untuk penetapan kadar Klorida atau
Bromida. Prinsip penetapannya larutan klorida atau bromida dalam
suasana netral atau agak alkalis dititrasi dengan larutan standarnya tersebut
yaitu AgNO3 dan penambahan K2CrO4 sebagai indikator. Titrasi dengan
cara ini harus dilakukan dalam suasana netral atau dengan sedikit alkalis,
pH 6,5 9,0. Apabila ion klorida atau bromida telah habis diendapkan
oleh ion perak, maka ion kromat akan bereaksi dengan ion perak
membentuk endapan perak kromat yang berwarna coklat merah sebagai
titik akhir titrasi. Dalam suasana asam, perak kromat larut karena
terbentuk dikromat dan dalam suasana basa akan terbentuk endapan perak
hidroksida. Reaksi yang terjadi adalah :

Asam : 2CrO42- + 2H+ CrO72- + H2O


Basa : 2 Ag+ + 2OH- 2AgOH
2AgOH Ag2O + H2O

Sesama larutan dapat diukur dengan natrium bikarbonat atau


kalsium karbonat. Larutan alkalis diasamkan dulu dengan asam asetat atau
asam borat sebelum dinetralkan dengan kalsium karbonat. Meskipun
menurut hasil kali kelarutan iodida dan tiosianat mungkin untuk ditetapkan
kadarnya dengan cara ini. Namun oleh karena perak lodida maupun
tiosanat sangat kuat menyerang kromat, maka hasilnya tidak memuaskan.
Perak juga tidak dapat ditetapkan dengan titrasi menggunakan NaCl
sebagai titran karena endapan perak kromat yang mula-mula terbentuk
sukar bereaksi pada titik akhir. Larutan klorida atau bromida dalam
suasana netral atau agak katalis dititrasi dengan larutan titer perak nitrat
menggunakan indikator kromat. Apabila ion klorida atau bromida telah
habis diendapkan oleh ion perak, maka ion kromat akan bereaksi

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 2


membentuk endapan perak kromat yang berwarna coklat/merah bata
sebagai titik akhir titrasi. Persamaan reaksi yang terjadi adalah:
Pada analisa Cl- mula-mula terjadi reaksi
Ag+ + Cl- AgCl
sedangkan pada titik akhir, titran juga bereaksi menurut reaksi:
2Ag+ + CrO4- Ag2CrO4

Konsentrasi CrO4- yang ditambahkan sebagai sebagai indikator


tidak boleh sembarang, tetapi harus dihitung berdasar Ksp AgCl dan Ksp
Ag2CrO4 .Kelebihan indikator yang berwarna kuning akan menganggu
warna, ini dapat diatasi dengan melarutkan blanko indikator suatu titrasi
tanpa zat uji dengan penambaan kalsium karbonat sebagai pengganti
endapan AgCl.

2. Model Valhard (Penentu zat warna yang mudah larut).


Metode ini digunakan dalam penentuan ion Cl+, Br -, dan I- dengan
penambahan larutan standar AgNO3. Indikator yang dipakai adalah Fe3+
dengan titran NH4CNS, untuk menentralkan kadar garam perak dengan
titrasi kembali setelah ditambah larutan standar berlebih. Kelebihan
AgNO3 dititrasi dengan larutan standar NH4CNS, sedangkan indikator
yang digunakan adalah ion Fe3+ dimana kelebihan larutan NH4CNS akan
diikat oleh ion Fe3+ membentuk warna merah darah dari FeCNS.
Reaksinya:
Ag + NHCNS AgCNS (endapan putih) + NH
Jika Ag sudah habis, maka NHCNS + Fe Fe(CNS) + NH

3. Motode Fajans (Indikator Absorbsi)


Titrasi argenometri dengan cara fajans adalah sama seperti pada
cara Mohr, hanya terdapat perbedaan pada jenis indikator yang digunakan.
Indikator yang digunakan dalam cara ini adalah indikator absorbsi seperti
cosine atau fluonescein menurut macam anion yang diendapkan oleh Ag+.
Titrannya adalah AgNO3 hingga suspensi violet menjadi merah. pH

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 3


tergantung pada macam anion dan indikator yang dipakai. Indikator
absorbsi adalah zat yang dapat diserap oleh permukaan endapan dan
menyebabkan timbulnya warna. Pengendapan ini dapat diatur agar terjadi
pada titik ekuivalen antara lain dengan memilih macam indikator yang
dipakai dan pH. Sebelum titik ekuivalen tercapai, ion Cl- berada dalam
lapisan primer dan setelah tercapai ekuivalen maka kelebihan sedikit
AgNO3 menyebabkan ion Cl- akan digantikan oleh Ag+ sehingga ion Cl-
akan berada pada lapisan sekunder. (Khopkhar, SM.1990)

Pembentukan Endapan Berwarna


Seperti sistem asam, basa dapat digunakan sebagai suatu indikator
untuk titrasi asam-basa. Pembentukan suatu endapan lain dapat digunakan
untuk menyatakan lengkapnya suatu titrasi pengendapan. Dalam hal ini
terjadi pula pada titrasi Mohr, dari klorida dengan ion perak dalam mana
digunakan ion kromat sebagai indikator. Pemunculan yang permanen dan dini
dari endapan perak kromat yang kemerahan itu diambil sebagai titik akhir
(TE).
Titrasi Mohr terbatas untuk larutan dengan perak dengan pH antara
6,0 10,0. Dalam larutan asam konsentrasi ion kromat akan sangat dikurangi
karena HCrO4 - hanya terionisasi sedikit sekali. Lagi pula dengan hidrogen
kromat berada dalam kesetimbangan dengan dikromat terjadi reaksi :
2H+ + 2CrO4- 2HCrO4 Cr2O7 2- + 2H2O
Mengecilnya konsentrasi ion kromat akan menyebabkan perlunya
menambah ion perak dengan sangat berlebih untuk mengendapkan ion
kromat dan karenanya menimbulkan galat yang besar. Pada umumnya garam
dikromat cukup dapat larut. Proses argentometri termasuk dalam titrasi yang
menghasilkan endapan dan pembentukan ion kompleks. Proses argentometri
menggunakan AgNO3 sebagai larutan standar. Proses ini biasanya digunakan
untuk menentukan garam-garam dari halogen dan sianida. Karena kedua jenis
garam ini dapat membentuk endapan atau senyawa kompleks dengan ion Ag+
sesuai dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
NaCl + Ag+ AgCl + Na+

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 4


KCN + Ag+ AgCl + K+
KCN + AgCN K [Ag(CN)2]
Karena AgNO3 mempunyai kemurnian yang tinggi maka garam tersebut
dapat digunakan sebagai larutan standar primer. Dalam titrasi argentometri
terhadap ion CN- tercapai untuk garam kompleks K[Ag(CN)2]6 karena proper
tersebut dikemukakan pertama kali oleh Lieberg, cara ini tidak dapat
dilakukan dalam suasana amoniatial karena garam kompleks dalam larutan
akan larut menjadi ion komplek diamilum(Harizul, Rivai. 1995)

Indikator K2CrO4 5%
Indikator Kalium Kromat biasa digunakan dalam metode
Argentometri. Indikator K2CrO4 digunakan pada titrasi antara ion halida dan
ion perak, di mana kelebihan ion Ag+ akan bereaksi dengan CrO42-
membentuk perak kromat yang berwarna merah bata (cara Mohr). Pada titik
ekivalen:
Ekivalen Ag+ = Ekivalen Cl-

Pembuatan indikator Kalium Kromat secara semestinya atau yang


biasa digunakan dalam titrasi secara Argentometri yaitu biasa dengan kadar 5
% berat per volume atau konsentrasi 5 % b/ v. Caranya sebagai berikut :
- Timbang secara seksama 5,00 gram Kalium Kromat pro Analisis ( K2CrO4
p.a) lalu larutkan secara maksimal dengan aquades, hingga menjadi 100 ml
larutan.

Aplikasi Titrasi Pengendapan


Garam dapur merupakan salah satu kebutuhan pokok setiap orang.
Kualitas garam dapur ditentukan oleh tingkat kemurniannya/kadar NaCl-nya.
Berdasarkan kadar NaCl-nya maka garam dapur perdagangan dapat
dikelompokkan menjadi: garam dapur kelas satu (kadar NaCl minimum 97%)
dan garam dapur kelas dua(kadar NaCl minimum 94%). Selain itu adalah
garam dapur bermutu rendah. Adanya pengotor dalam garam dapur akan

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 5


menyebabkan terjadinya perubahan rasa atau aroma garam dapur, misalnya
jika garam dapur banyak mengandung magnesium akan terasa pahit.
Untuk menentukan kadar NaCl dalam garam dapur dapat dilakukan
dengan metode analisis argentometri. Dalam metode ini digunakan larutan
standard perak nitrat (AgNO3). Reaksi yang terjadi merupakan reaksi
pengendapan ion Cl- yang bereaksi dengan ion Ag+ dan membentuk endapan
AgCl yang berwarna putih, reaksinya seperti berikut:
Cl- + Ag+ AgCl(S)
endapan putih
Untuk menentukan titik akhir titrasi digunakan indicator kromat. Bila
ion Cl- telah habis bereaksi dengan ion Ag+, maka penambahan ion Ag+
selanjutnya akan bereaksi dengan ion CrO42- yang akan membentuk endapan
Ag2CrO4 yang berwarna merah bata. Reaksinya seperti berikut:
Ag+ + CrO42- Ag2CrO4(S)
endapan merah bata
Jadi dalam proses titrasi mula mula akan terbentuk endapan putih,
kemudian ketika terjadi endapan merah bata menunjukkan terjadinya titik
akhir titrasi.

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 6


VI. Alat & Bahan :
Alat :
1. Erlenmeyer 250 mL 3 buah
2. Gelas kimia 50 mL 1 buah
3. Gelas ukur atau gelas piala 1 L 1 buah
4. Labu ukur 250 mL 1 buah
5. Buret 1 buah
6. Neraca analitik 1 buah
7. Pipet seukuran 1 buah
8. Pipet tetes 5 buah
9. Statif dan klem 1 buah
10. Corong 1 buah
11. Spatula 1 buah

Bahan :
1. Garam dapur 1,45 gram
2. Aquades Secukupnya
3. AgNO3 6,5 gram
4. NaCl 0,0592 gram
5. Indikator K2CrO4 5% 6 mL

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 7


VII. Skema/Alur Percobaan
A. Penentuan (standarisasi) larutan AgNO3 0,1 N
1. Penentuan (standarisasi) larutan AgNO3 0,1 N dengan NaCl p.a
sebagai baku

Serbuk NaCl

- Ditimbang 0,0629 gram dalam kaca arloji


- Dipindahkan dalam labu ukur 250 mL
- Dilarutkan dengan air suling
- Diencerkan sampai tanda batas
- Dikocok perlahan hingga tercampur
sempurna

Larutan Baku NaCl Larutan AgNO3

- Diambil 10 mL
menggunakan pipet
seukuran - Diambil beberapa mL ke
- Dimasukkan ke dalam dalam buret untuk
Erlenmeyer 250 mL membilas
- Ditambahkan 10 mL - Dimasukkan ke dalam
aquades buret sampai tepat skala
- Ditambahkan 20 tetes nol
indikator K2CrO4

Larutan berwarna Larutan tidak


kuning berwarna

- Dilakukan titrasi
- Dihentikan titrasi ketika telah terjadi
endapan merah bata
- Dicatat volume AgNO3 awal dan akhir
titrasi
- Diulang 3 kali dengan volume larutan
NaCl yang sama
- Dihitung konsentrasi rata-rata larutan
AgNO3

Konsentrasi rata-rata
AgNO3

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 8


2. Penentuan kadar NaCl dalam garam dapur

Garam Dapur

- Ditimbang 1,45 gram


- Dilarutkan dalam labu ukur 250 mL
- Dipipet 10 mL
- Dimasukkan ke dalam erlenmeyer
- Ditambahkan aquades 10 mL
- Ditambahkan 20 tetes indikator K2CrO4 5%
Larutan berwarna kuning

- Dititrasi dengan AgNO3 sampai


terjadi endapan merah bata
Endapan merah bata

- Dicatat angka pada buret


pada awal dan akhir titrasi
- Ditentukan volume AgNO3
yang digunakan
- Diulangi sebanyak 3 kali
dengan volume larutan
garam dapur yang sama

Kandungan NaCl dalam


garam dapur

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 9


VIII. HASIL PENGAMATAN

No. Hasil pengamatan


Prosedur Percobaan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
Perc. Sebelum Sesudah

1. Penentuan (standarisasi) larutan AgNO3 0,1 N dengan AgNO3 = NaCl + NaCl (s) + Dari percobaan
NaCl p.a sebagai baku tidak aquades = H2O (l) yang telah
berwarna tidak NaCl (aq) dilakukan, maka
NaCl = berwarna NaCl (aq) + diperoleh N
serbuk putih Larutan NaCl AgNO3 (aq)
AgNO3 sebesar
K2CrO4 = + K2CrO4 Ag+ (aq) + Cl-
kuning = kuning (aq) + NaNO3
Aquades = Setelah di (aq)
tidak titrasi dengan NaCl (aq) + N1 = 0,0104 N
berwarna AgNO3 = AgNO3 (aq)
terbentuk AgCl (s) + N2 = 0,0105 N
endapan NaNO3 (aq)
merah bata AgCl (s) + N3 = 0,0104 N
Volume K2CrO4 (aq)
AgNO3 : Ag2CrO4 (s)
(endapan
V1 = 10,3 mL merah bata) + Rata-rata
KCl (aq) normalitas
V2 = 10,2 mL NaOH = 0,0104
N
V3 = 10,3 mL

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 10


2. Penentuan kadar NaCl dalam garam dapur Garam Garam dapur NaCl (s) + H2O Kadar NaCL
dapur = + aquades = (l) NaCl dalam garam
serbuk putih larutan tidak (aq) dapur cap
K2CrO4 = berwarna AgNO3 (aq) + kapal sebesar
kuning Larutan NaCl (aq)
46,15 %
AgNO3 = garam + AgCl (s) +
tidak K2CrO4 = NaNO3 (aq)
berwarna berwarna AgCl (s) +
Aquades = kuning K2CrO4 (aq)
tidak Setelah Ag2CrO4 (s)
berwarna dititrasi (endapan
dengan merah bata) +
AgNO3 = KCl (aq)
terbentuk
endapan
merah bata

Volume
larutan AgNO3

V = 110,1 mL

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 11


IX. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN TITRASI PENGENDAPAN
Pada percobaan pengendapan kali ini dilakukan penentuan kadar NaCl
didalam sampel garam dapur. Adapun titrasi argentometri yang dilakukan
yakni menggunakan metode mohr dengan demikian indikator yang akan
digunakan adalah larutan K2CrO4. Pada percobaan ini, pertama dilakukan
penentuan larutan AgNO3 dengan NaCl, kemudian dilanjutkan dengan
aplikasi dalam sampel garam dapur.
1. Penentuan (standarisasi) larutan AgNO3 0,1 N dengan NaCl p.a
sebagai baku
Percobaan pertama dilakukan bertujuan untuk menentukan
konsentrasi larutan AgNO3 dengan Natrium klorida sebagai larutan baku.
Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan
endapan dan garam yang tidak mudah larut antara titran dan analit. Dalam
proses standarisasi AgNO3 membutuhkan NaCl sebagai larutan baku yang
sudah diketahui konsentrasinya. Langkah pertama yang dilakukan adalah
menimbang NaCl yang berbentuk serbuk berwarna putih sebesar 0,0629
gram. Kemudian serbuk NaCl yang telah ditimbang dipindahkan ke dalam
labu ukur 250 mL dan dilarutkan dengan aquades dan dikocok agar NaCl
terlarut sempurna. Setelah itu diencerkan dengan aquades sampai batas
meiscus dan kocok kembali. Dalam penambahan aquades tidak boleh
melebihi tanda batas karena jika telah melebihi tanda batas maka dianggap
telah gagal dalam pembuatan larutan baku. Dimana aquades dalam
percobaan ini digunakan sebagai pelarut karena sifatnya yang polar. Dari
pembuatan larutan baku didapatkan konsentrasi larutan baku NaCl adalah
0,0108 N. Persamaan reaksi yang terjadi adalah :
NaCl (s) + H2O (l) NaCl (aq)

Kemudian, sebanyak 10 ml larutan dipipet dan dimasukkan ke


dalam Erlenmeyer 250 ml. Larutan tersebut ditambahkan 10 ml aquades
agar perubahan warna yang terjadi dapat terlihat lebih jelas (memperjelas
pengamatan pada saat titrasi). Namun, penambahan tersebut tidak
mengubah jumlah mol NaCl yang terdapat dalam larutan tersebut.
Kemudian larutan tersebut ditambahkan 20 tetes indikator K2CrO4 5%.

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 12


Penambahan tersebut menyebabkan larutan berwarna kuning bening.
Persamaan reaksinya adalah:
2NaCl (aq) + K2CrO4(aq) Na2CrO4 (aq) + 2KCl (aq)
Fungsi dari penambahan indikator K2CrO4 adalah untuk memberikan
warna terhadap larutan NaCl sehingga memudahkan untuk mengamati titik
ekivalen dan titik akhir titrasi, selain itu pambahan indikator K2CrO4
berfungsi untuk mengendapkan AgCl menjadi Ag2CrO4 saat penambahan
AgNO3 berlebih saat titrasi.Penggunaan indikator K2CrO4 5% dikarenakan
metode yang digunakan dalam titrasi pengendapan ini yaitu metode Mohr .
Selain itu dipilih indikator K2CrO4 karena suasana sistem cenderung
netral. Kalium kromat hanya bisa digunakan dalam suasana netral. Jika
kalium kromat pada reaksi dengan suasana asam, maka ion kromat
menjadi ion bikromat . Sedangkan dalam suasana basa,ion Ag+ akan
bereaksi dengan OH dari basa dan membentuk endapan AgCOH dan
selanjutnya teroksidasi menjadi H2O. Konsentrasi CrO4- yang ditambahkan
sebagai indikator tidak boleh sembarang, tetapi harus dihitung berdasarkan
Ksp AgCl dan Ksp Ag2CrO4 .kelebihan indikator yang berwarna kuning
akan menganggu warna, ini dapat diatasi dengan melarutkan blanko
indikator suatu titrasi tanpa zat uji dengan penambaan kalsium karbonat
sebagai pengganti endapan AgCl.
Sementara itu, Buret yang akan digunakan untuk titrasi dibilas terlebih
dahulu dengan AgNO3 agar tidak terkontaminasi dengan larutan lainnya
dalam proses melakukan titrasi. setelah di bilas, diisi dengan larutan
AgNO3 sampai titik nol pada buret. Kemudian titrasi NaCl dengan AgNO3
dilakukan. Standarisasi larutan AgNO3 dengan NaCl merupakan titrasi
yang tergolong dalam presipitimetri jenis argentometri. Titrasi
menggunakan perak nitrat sebagai titran akan terbentuk garam yang sukar
larut. Ketika awal titrasi dengan adanya penambahan sedikit demi sedikit
AgNO3 pada larutan NaCl akan terbentuk endapan AgCl yang berwarna
putih. Hal ini dikarenakan garam Ag+ sukar larut dengan ion halidanya.
Persamaaan reaksi yang terjadi adalah :

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 13


AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(aq)
Endapan putih
Ketika titrasi, perlu dilakukan secara cepat dan pengocokan yang
kuat agar Ag+ tidak teroksidasi menjadi AgO yang menyebabkan titik
akhir titrasi menjadi sulit dicapai. Selain itu jika tidak digoyang secara
baik dikhawatirkan terjadi kelebihan titran yang menyebabkan indikator
mengendap sebelum titik ekivalen tercapai dan dioklusi oleh endapan
AgCl yang terbentuk kemudian, akibatnya titik akhir manjadi tidak tajam..
Titrasi ini dilakukan sampai terjadi perubahan menjadi endapan
berwarna merah bata. Perubahan warna ini menandakan titik akhir titrasi.
Adanya perubahan warna ini disebabkan karena saat titrasi ketika NaCl
sudah habis bereaksi dengan AgNO3 sementara jumlah AgNO3 masih ada,
maka AgNO3 akan bereaksi dengan indikator K2CrO4. Sehingga terbentuk
endapan Ag2CrO4 berwarna merah bata. Persamaan reaksi yang terjadi
sebagai berikut:
AgCl (s) + K2CrO4 (aq) Ag2CrO4 (s) + KCl (aq)
(Endapan merah bata)
Titrasi ini dilakukam pengulangan sebanyak tiga kali dengan tujuan
agar hasil yang diperoleh lebih akurat. Pada ketiga titrasi diperoleh volume
AgNO3 berturut-turut : 10,3 mL ; 10,2 mL ; dan 10,3 L. Titik ekuivalen
pada proses titrasi menyatakan terjadinya kesetimbangan antara mol NaCl
dan mol AgNO3, dengan menggunakan persamaan berikut:

N1 . V1 = N2 . V2

Dari perhitungan tersebut, diperoleh Normalitas AgNO3 dari ketiga titrasi


berturut-turut : 0,0104 N : 0,0105 N ; 0,0104 N. Sehingga diperoleh
normalitas rata-rata AgNO3 adalah 0,0104 N. . Dan hasil yang didapatkan
hampir sesuai dengan normalitas yang sebenarnya yakni 0,01 N

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 14


2. Penentuan kadar NaCl dalam garam dapur
Percobaan kedua dilakukan bertujuan untuk Menentukan kadar
NaCl dalam garam dapur Cap kapal. Kadar NaCl murni yang
terkandung dalam 1,4516 gram sampel tadi dapat ditentukan dengan
menentukan ion Cl- nya menggunakan titrasi argentometri dan
AgNO3 sebagai larutan standar. Langkah awal yang dilakukan adalah
membuat larutan garam dapur, dengan cara menimbang garam dapur
berbentuk serbuk berwarna putih sebesar 1,4516 gram. Kemudian
dilarutkan dalam labu ukur 100 mL sampai tanda batas meniscus dan di
kocok dengan tujuan agar larutan tersebut homogen. Kemudian diambil 10
mL dengan pipet seukuran dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL.
Penggunaan pipet seukuran ini bertujuan agar hasil volume yang
dihasilkan lebih teliti (memperkecil tingkat kesalahan dalam pengukuran).
Kemudian ditambah dengan 10 mL aquades, penambahan ini bertujuan
agar perubahan terjadinya warna saat titrasi nampak jelas. Kemudian
ditambahkan 20 tetes indikator K2CrO4 5 % sehingga larutan yang
awalnya tidak berwarna menjadi berwarna kuning bening. Hal ini
dikarenakan indikator K2CrO4 5% memang berwarna kuning. Kemudian
dititrasi dengan AgNO3.
Dan pada saat dilakukan titrasi, ion Cl- dari NaCl yang terkandung
dalam larutan bereaksi dengan ion Ag+ sehingga terbentuk endapan AgCl
yang bewarna putih. Saat terjadi titik ekuivalen yaitu saat ion Cl- tepat
bereaksi dengan ion Ag+ yang berarti ion Cl- habis dalam sistem. Dengan
penambahan AgNO3 yang sedikit berlebih menyebabkan ion Ag+ bereaksi
dengan ion CrO42-dalam indikator K2CrO4 membentuk endapan
Ag2CrO4 dengan warna merah bata. Adanya endapan merah bata ini
menandakan titik akhir titrasi sehingga titrasi harus dihentikan. Reaksi-
reaksi yang terjadi yaitu:
Saat sebelum TE sampai saat TE :
AgNO3(aq) + NaCl (aq) AgCl(s) + NaNO 3( aq )
(endapan putih)
Saat titik akhir /setelah TE :

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 15


2AgCl (aq) + K2CrO4 (aq) Ag2CrO4 (s) + 2KCl (aq)
(Endapan merah bata)
Pada titrasi ini hanya dilakukan satu kali hal ini dikarenakan terjadi
kesalahan dalam menimbang garam dapur sebagai sampel, sehingga
volume AgNO3 yang dibutuhkan sangat banyak. Volume AgNO3 yang
digunakan yakni 110,1 mL. Maka untuk menghemat larutan AgNO3
diputuskan hanya dilakukan titrasi satu kali. Adapun dampak dari tidak
adanya pengulangan ini yakni tingginya ketidakpastian dalam data kadar
NaCl yang telah didapat karena tidak ada data lain untuk dijadikan
pembanding. Pada saat titik ekuivalen proses titrasi dihentikan, kemudian
dicatat volume titran yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut.
Dengan menggunakan data volume titrasi, volume dan konsentrasi titran
maka dapat menghitung kadar NaCl dalam garam dapur Cap Kapal.
Dapat menggunakan persamaan sebagai berikut :
3 3
% NaCl = x 100%

Dari persamaan diatas, maka diperoleh kadar NaCl dalam garam dapur
Cap Kapal sebesar 46,15%.

X. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan, analisis data dan pembahasan dapat
disimpulkan bahwa :
a) Standarisai larutan AgNO3 dilakukan dengan metode mohr, dengan larutan
standar primer yang digunakan adalah NaCl 0,1 N dan larutan
K2CrO4 sebagai indikator. Dengan perubahan warna enjadi erah bata
setelah terjadinya titrasi. Normalitas rata-rata AgNO3 yang didapatkan
adalah 0,0104 N.
b) Penentuan kadar NaCl dalam air garam Cap Kapal dengan metode mohr
menggunakan larutan standar AgNO3 dan indikator K2CrO4. Titik akhir
titrasi ditunjukkan dengan adanya endapan merah bata. Kadar Cl dalam air
garam cap Kapal adalah sebesar 46,15%.

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 16


XI. JAWABAN PERTANYAAN
Titasi Pengendapan
1. Buatlah kurva titrasi antara volume AgNO3 dan pCl untuk titrasi antara 50
mL 0,1 M larutan NaCl dengan larutan AgNO3 0,1 M.
Diketahui:
V NaCl = 50 mL
M NaCl = 0,1 M
M AgNO3 = 0,1 M
Ditanya: kurva titrasi
Jawab:
Tabel perbandingan Volume AgNO3 dan pCl
Volume Volume
pCl pCl
AgNO3 AgNO3
5 1.09 48 2.69
10 1.18 49 2.99
15 1.27 49.5 3.29
20 1.37 49.9 3.99
25 1.48 50 6
30 1.6 51 9
35 1.75 53 9.46
40 1.95 57 9.82
45 2.28

Kurva volume AgNO3 dan pCl


12
10
8
pCl

6
4 pCl
2
0
0 20 40 60
volume AgNO3

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 17


2. Berapa konsentrasi garam NaCl dalam suatu larutan, apabila 25 mL larutan
tersebut jika direaksikan dengan 25 mL 0,2 M larutan AgNO3, dan kelebihan
larutan AgNO3 tepat bereaksi habis dengan larutan KSCN 28 mL 0,1 M.
Diketahui:
V NaCl = 25 mL
V AgNO3 = 25 mL
M AgNO3 = 0,2 M
V KSCN = 28 mL
M KSCN = 0,1 M
Ditanya: Konsentrasi NaCl
Jawab:
Reaksi:
Ag+(aq) + Cl-(aq) AgCl (s) (Ag+ berlebih)
Ag+(aq) + SCN-(aq) AgSCN(s) (sisa Ag+ dititrasi dengan KSCN)

mek Ag+ = mek Cl- + mek SCN-


V. M. n = mek Cl- + (V. M. n)
25mL . 0,2M . 1 = mek Cl- + (28mL . 0,1M . 1)
5 mmol = 2,8 mmol + mek Cl-
mek Cl- = 2,2 mmol

Konsentrasi NaCl:
mek NaCl = V.M.n
2,2 mmol = 25 mL . M . 1
2,2 mmol = 25 ml . M
M NaCl = 0,088 M

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 18


Aplikasi
1. Bagaimana cara memilih indikator pada titrasi argentometri?
Indikator yang dipilih mempunyai syarat-syarat sebagai berikut, antara lain
perubahan warna yang terjadi pada indikator harus terjadi terbatas dalam
range pada p-function dari reagen/analit, dan
perubahan warna harus terjadi dalam bagian dari kurva titrasi untuk analit.
Berdasarkan pada indikator yang digunakan, argentometri dapat dibedakan
menjadi 3 indikator:
a) metode Mohr menggunakan ion kromat, CrO42-, untuk mengendapkan
Ag2CrO4,
b) metode Volhard menggunakan ion Fe3+ untuk membentuk sebuah
kompleks yang berwarna dengan ion tiosianat, SCN-, dan
c) metode Fajans menggunakan indikator-indikator adsorpsi.
Perlu diperhatikan juga pada analisis secara argentometri pemilihan
indikator tidak didasarkan oleh perubahan derajat keasaman (pH), tetapi
didasarkan atas terbentuknya endapan. Supaya terjadi endapan syaratnya
adalah hasil kali ion-ionnya melampaui harga KSP-nya. Oleh karena itu
dalam analisis argentometri, pemilihan konsentrasi indikator sangat
penting. Konsentrasi indikator yang terlalu pekat menyebabkan titik akhir
titrasi mendahului titik ekivalen, karena endapan perak kromat terjadi
sebelum semua halogen (sampel) habis. Demikian sebaliknya bila
konsentrasi indikator terlalu encer.

2. Terangkan bagaimana suatu indikator adsorpsi bekerja. Apa fungsi


dekstrin?
Mengapa pH harus dikendalikan?
Adsorpsi senyawa organik berwarna pada permukaan endapan dapat
menginduksi pergeseran elektronik intramolekuler yang mengubah warna.
Gejala tersebut digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi pengendapan
garam-garam perak.
Suatu endapan cenderung mengadsorpsi lebih mudah ion-ion yang
membentuk senyawa tidak larut dengan satu dari ion-ion dalam kisi

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 19


endapan. Jadi, Ag+ ataupun Cl- akan lebih mudah diadsorpsi oleh endapan
AgCl daripada oleh ion Na+ ataupun NO3-. Anion yang ada dalam larutan
akan tertarik membentuk lapisan sekunder. Fluoresein adalah asam
organik lemah, membentuk anion fluoreseinat yang tidak dapat diadsorpsi
oleh endapan koloidal AgCl selama Cl- berlebih. Akan tetapi saat Ag+
berlebih akan terjadi adsorpsi anion fluoreseinat ke lapisan Ag+ yang
melapisi endapan, diikuti dengan perubahan warna menjadi pink.
Pada Titik Ekivalen jangan dibiarkan AgCl menggumpal menjadi
partikel besar, karena akan menurunkan dengan tajam daya adsorpsi
permukaan endapan terhadap indikator. Jika itu terjadi, diatasi dengan
penambahan dextrin, sebagai koloid pelindung agar endapan terdispersi
lebih banyak. Dengan adanya dextrin maka perubahan warna menjadi
reversibel, dan setelah lewat TE dapat dilakukan titrasi balik dengan
larutan baku Cl-.
pH larutan harus terkontrol agar dapat mempertahankan konsentrasi
ion dari indikator asam lemah ataupun basa. Misalnya, fluoresein (Ka =
10-7) dalam larutan yang lebih asam dari pH 7 melepas fluoreseinat sangat
kecil sehingga perubahan warna tidak dapat diamati. Fluoresein hanya
dapat digunakan pada pH 7-10, sedangkan difluoresein (Ka=10-4)
digunakan pada pH 4-10.

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 20


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Laporan Resmi Praktikum Argentrometri Kimia Analisis.
http://dokumen.tips/documents/laporan-
praktikumargentometri.html. Diakses pada hari Rabu 09 November 2016.
Anonim. 2011. Pembuatan Indikator Kalium Kromat. Online. Web Publikasi :
http://labkima.blogspot.co.id/2011/10/pembuatan-indikator-kalium-
kromat-5.html. Diakses pada hari Kamis 10 November 2016. Diakses pada
hari Rabu 09 November 2016.
Day R.A, Jr dan A. L Underwood, Jr. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi
Keenam. Penerjemah Iis Sopyan, Jakarta: Erlangga.
Hadyana, P.A.(1989). Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Penerbit Eralangga
(Terjemahan dari Day,Jr,R.A. (1986). Quantitative Analysis. (ed.5).
London: Prentice Hall.
Harjadi,W.(1990).Ilmu Kimia Analitik Dasar.(cetakan kedua).Jakarta: PT.
Gramedia
Khopkar, SM. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas
Indonesia Press.
Poedjiastuti, Sri, dkk. 2016. Panduan Praktikum Kimia Analitik I: DDKA.
Surabaya: Kimia FMIPA UNESA
Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro.
Jakarta: PT. Kalman Pusaka
.

Laporan Praktiku Titrasi Pengendapan | 21