Anda di halaman 1dari 12

ETIKA BISNIS DAN PROFESI

ETIKA AKUNTAN DALAM PERPAJAKAN

OLEH KELOMPOK 6:

YELA MARLENI (1311021001)


AGUS ARIANTO (1311021004)
SRI WULANDARI (1311021007)
PERA HUSMAWATI (1311021008)

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


POLITEKNIK NEGERI PADANG
JURUSAN AKUNTANSI
2017
A. Tanggung Jawab Akuntan Pajak
Akuntan pajak mempunyai beberapa tanggung jawab kepada publik, melalui
pemerintah tanggung jawab akuntan pajak adalah bukan untuk suatu kepalsuan dalam
suatu kewajiban pajak. Suatu kewajiban pajak adalah suatu pernyataan atau deklarasi
atas sanksi dari kecurangan yang berkaitan dengan perpajakan, serta informasi dari
hasil penyajian laporan keuangan adalah benar, dan lengkap.
Akuntan pajak memiliki beberapa tanggung jawab, yaitu :
a. Akuntan pajak memiliki kewajiban untuk tidak berbohong atau menjadi pihak
yang berbohong pada pengembalian pajak. Akibatnya, ada tanggung jawab untuk
klien dan masyarakat untuk berterus terang dan tidak menjadi komplikasi dalam
upaya klien untuk menipu bahkan jika itu berarti memutus kontrak dengan klien.
Hal tersebut dijelaskan pada Pernyataan AICPA pada Standar Pajak Service No.1.
b. Internal Revenue Service (IRS) mengemukakan bahwa tanggung jawab utama
praktisi pajak adalah sistem pajak. Jadi akuntan pajak memiliki kewajiban tidak
hanya untuk klien mereka, tetapi juga untuk sistem. Komisi IRS menyatakan
bahwa suatu sistem pajak yang baik dan kuat tidak hanya terdiri dari entitas
administrasi pajak saja. Praktisi pajak mempunyai kewajiban atas kemampuan,
loyalitas dan kerahasiaan klien, hal ini disebut juga tanggung jawab praktisi atas
sistem pajak yang baik.
c. Tanggung jawab terakhir adalah pentingnya pervasive (peresapan). Dalam
hubungan antara praktisi dan klien yang normal, kedua tanggung jawab dikenali
dan dilaksanakan. Namun, situasi ini adalah sulit. Dalam beberapa situasi praktisi
diperlukan untuk memutuskan kewajiban yang berlaku dan dalam
pelaksanaannya dapat disimpulkan bahwa kewajiban atas sistem pajak yang
tertinggi. IRS bersandar pada praktisi pajak untuk membantu dalam mengatur
hukum pajak dengan jujur dan adil dalam pelayanan dan pengembangan
kepercayaan klien dalam integritas dan kepatuhan terhadap sistem pajak.
d. Menurut William L. Raby dalam Armstrong (1993: 85) sistem pajak yang
mendukung IRS akan menimbulkan perdebatan pajak. Oleh karena itu,praktisi
lebih baik melayani publik dengan mengadopsi suatu sikap. Argumennya adalah
aturan etika yang fundamental dalam praktik perpajakan pada tingkat etika
personal adalah praktisi pajak harus mengijinkan klien untuk membuat keputusan
final. Praktisi tidak berhak mengganti skala nilai kliennya. Disamping itu praktisi
harus bertanggung jawab tidak menyediakan informasi yang salah untuk

1
pemerintah. Seorang auditor pajak bertanggung jawab mengaudit pajak
penghasilan dari wajib pajak untuk menentukan apakah mereka telah memenuhi
undang-undang perpajakan yang berlaku.
B. AICPA Statements of Standards for Tax dan Etika Akuntan Pajak
Statements on Standards for Tax Services merupakan pertimbangan etika
umum yang mendasari standar yang dibuat oleh Tax Executive Committee of the
AICPA yang interpretasinya menggantikan SRTP (Statemet on Responsibilities in Tax
Practice) dan interpretasinya sejak 1 Oktober 2000. Yang menarik adalah pada
kalimat pembukaannya: Standar praktek adalah lingkup dari penyebutan diri sebagai
seorang profesional. Anggota harus memenuhi tanggungjawabnya sebagai profesional
dengan mendukung dan mempertahankan standar yang dengan itu kinerja
profesionalnya bisa diukur. Dalam kasus tersebut, indikasi terbaik dari standar etika
yang bisa dipenuhi oleh akuntan pajak bisa ditemukan dalam standar tersebut.
Ada 6 (enam) standar yang ditunjukkan dalam SSTS, yaitu:
a. Seorang akuntan pajak tidak boleh menyarankan sebuah posisi kecuali ada
kemungkinan realistik untuk kebaikan yang berkelanjutan.
b. Seorang akuntan pajak tidak boleh membuat atau menandatangani return jika
ini berada dalam posisi yang tidak boleh disarankan menurut point 1.
c. Seorang akuntan pajak dapat menyarankan sebuah posisi yang menurutnya
tidak ceroboh selama ini bisa di disclosure.
d. Seorang akuntan pajak berkewajiban untuk menasehati klien tentang potensi
hukuman di beberapa posisi, dan menyarankan disclosure.
e. Seorang akuntan pajak tidak boleh menyarankan sebuah posisi yang
mengeksploitasi proses seleksi audit IRS atau;
f. Dilarang bertindak sekadar dalam posisi membantah.
Menurut standar ini, dikatakan tidak etis bila mengkapitulasi permintaan klien
untuk mengurangi liabilitas pajak klien sebenarnya, karena ketika menandatangani
return, kita berarti menyatakan bahwa return adalah benar, tepat, dan lengkap. Bila
menandatanganinya berarti juga terlibat kebohongan.
Pajak ditentukan oleh self-assessment dan reporting. Dalam konteks tersebut,
sikap adil yang bisa dilakukan setiap orang adalah dengan mengawasi diri sendiri.
Masyarakat kita sering menggunakan sistem kehormatan dan ini bisa dijalankan
ketika sebagian besar orang diatur oleh sistem kehormatan tersebut. Ada sesuatu yang
berlawanan dengan kejujuran dan kesejahteraan publik saat ada upaya untuk

2
mengelak dari tujuan hukum spesifik yang memberikan batasan pada klien yang ingin
menghindari pembayaran segmen pajak yang adil. Sistem pajak dapat diselewengkan
oleh akuntan dan perusahaan akuntansi yang menggunakan skema penghindaran
pajak. Bagian implisit dari semua ini adalah sebuah rekognisi tanggungjawab akuntan
dan perusahaannya untuk mempertahankan kejelasan sistem pajakuntuk
menghasilkan keseimbangan antara keuntungan pajak yang diinginkan dan loophole
yang bisa melemahkan sistem.
Akuntan dan perusahaan akuntansi perlu mengetahui tanggungjawabnya pada
masyarakat besar. Akuntan dan perusahaannya perlu tegas, karena profesionalismenya
untuk mengikuti jalur etika. Bantuan yang sering digunakan adalah nilai moral
personal dan standar plus sebuah kultur dalam perusahaan yang melarang pelanggaran
nilai etika dalam mencapai tujuan organisasisebuah filosofi manajemen kuat yang
mempertegas tindakan etika dan komunikasi jelas dari perilaku etika. Dalam situasi
ini, bahkan ketika menyebabkan kerugian klien, akuntan tetap akan melakukan apa
yang benar. Ancaman kehilangan lisensi akibat tindakan tidak beretika adalah sebuah
faktor, tapi ini bukanlah faktor primer.
Setiap metode untuk mengurangi penghasilan kena pajak yang mengakibatkan
pengurangan pembayaran pajak mengumpulkan entitas, termasuk pemerintah negara
bagian dan federal disebut tax shelters. Metodologi ini dapat bervariasi tergantung
pada undang-undang pajak daerah dan internasional. Crenshaw dalam artikelnya
memberikan empat alasan mengapa tax shelter ini muncul.
1) Ada upaya manajemen korporat untuk mencari cara baru guna mengendalikan
biaya bisnis, dan karena tidak mampu menaikkan harganya, perusahaan mulai
mencari cara untuk memotong pajaknya yang dianggap sebagai biaya.
2) Bertambahnya kerumitan dalam aturan pajak dan dunia keuangan, realita
ekonomi akan terhambat-atau berkurangnya realita tersebut-dalam serangkaian
tarnsaksi.
3) Persepsi antar bank investasi dan lainnya bahwa memimpikan dan mengemas
produk pajak adalah sebuah lini bisnis yang sukses, seperti yang dikatakan
William J. Wilkins dari Wilmer, Cutler & Pickering, dan salah seorang anggota
dari divisi pajak dari American Bar Association.
4) Resiko rendah. Bukan hanya sulit bagi IRS untuk mendeteksi shelter, tapi
hukumannya cenderung ringan dan tidak selalu diberikan. Jika shelter
ditemukan dan dilarang, perusahaan akan menghutang pajak yang seharusnya

3
dibayar, ditambah bunga. Ini seperti deal finansial yang bagus, kata John E.
Chapoton, mantan Assistant Treasury Secretary dan anggota divisi pajak ABA,
yang meminta disklosur perusahaan untuk menghambat shelter.
Bagi akuntan, terkait dengan peranannya disarankan untuk menggunakan
standar yang ada secara serius dan mereview kebijakan profit dengan sarana yang
legal. Akan selalu ada tekanan pada akuntan untuk memperhatikan
profesionalismenya dan kewajibannya terhadap publik.
Berikut isi dari Statements on Standards for Tax Services (SSTS):
1) Pernyataan Standar No.1. Standar kemungkinan realistik:
Secara umum, anggota memiliki keyakinan bahwa posisi return pajak yang
disarankan memiliki sebuah kemungkinan realistik untuk berlanjut secara
administratif atau judisial, untuk mengkapitulasi kebutuhan perusahaannya.
2) Pernyataan No.2:
Pernyataan ini bukanlah yang problematik dan mengemukakan: Seorang
anggota membuat upaya wajar untuk memperoleh informasi dari pembayar
pajak untuk memberikan jawaban pada semua pertanyaan tentang return pajak
sebelum memberikan tanda tangan sebagai preparer.
3) Pernyataan No.3: Kewajiban untuk memeriksa atau memverifikasi data yang
mendukung:
Seorang preparer dapat menggunakan keyakinan klien yang bagus untuk
memberikan informasi akurat dalam membuat sebuah return pajak, tapi tidak
mengabaikan implikasi informasi yang dibuat dan harus membuat penelitian
wajar jika informasi menjadi tidak tepat, tidak lengkap atau tidak konsisten.
Di sini, kewajiban untuk sistem pajak menjadi jelas. Preparer akan
menandatangani pernyataan yang menguji bahwa informasi yang terkandung
menjadi benar, tepat, dan lengkap menurut pengetahuan preparer.
Konsekuensinya, jika preparer menyimpulkan bahwa karena
ketidakkonsistensinya, informasi menjadi tidak tepat atau lengkap, preparer
berkewajiban untuk tidak menandatangani return.
4) Pernyataan No.4. Gunakan estimasi:
Ini bukan standar non-problematik. Preparer menggunakan estimasi pembayar
pajak jika ini tidak berpengaruh praktikal dalam memperoleh data dan jika
preparer menentukan bahwa estimasinya sudah beralasan, yang didasarkan
pengetahuan preparer.

4
5) Pernyataan No.5. Berawal dari sebuah posisi sebelumnya:
Ini adalah sebuah standar teknis. Seperti yang ditunjukkan dalam SSTS No.1,
Tax Return Positions, anggota bisa merekomendasikan sebuah posisi return
pajak atau mempersiapkan atau menandatangani return pajak yang berawal
dari perlakuan sebuah item yang disimpulkan dalam urusan administratif atau
keputusan pengadilan terkait return sebelumnya dari pembayar pajak.
6) Pernyataan No.6. Pengetahuan keliru:
Apa yang perlu dilakukan ketika preparer menjadi sadar akan kekeliruan
dalam pengembalian pajak pembayar pajak sebelumnya? Anggota harus
memberitahu pembayar pajak dan merekomendasikan ukuran korektif yang
perlu diambil. Jika dalam mempersiapkan return tahun sekarang, preparer
menemukan bahwa pembayar pajak tidak mengambil tindakan tepat untuk
membenarkan errornya dari tahun sebelumnya, preparer perlu memutuskan
apakah perlu melanjutkan hubungan dengan pembayar pajak. Penarikan diri
ini bisa terjadi jika pembayar pajak tidak mau membenarkan error, dan jika
error ini memiliki efek terhadap return.
7) Pernyataan No.7. Pengetahuan tentang error: urusan administratif:
Jika dalam urusan administratif, preparer menemukan error, preparer harus
meminta persetujuan pembayar pajak untuk mendisklosur error tersebut
kepada otoritas pajak. Bila tidak ada persetujuan, anggota harus
mempertimbangkan penarikan diri dari representasi pembayar pajak dalam
urusan administratif.
8) Pernyataan No.8. Bentuk dan isi dari advis untuk pembayar pajak.
Pernyataan ini tidak menggambarkan bentuk atau isi advis karena kisaran
advis begitu ekstensif dan spesifik menurut kebutuhan setiap pembayar pajak.
Apa yang disarankan adalah bahwa advis ini mencerminkan kompetensi
profesional dan memenuhi kebutuhan pembayar pajak.

C. Kompleksitas Aturan Perpajakan vs Tuntutan Klien


Pajak secara klasik memiliki dua fungsi. Pertama, fungsi budgetair. Kedua,
fungsi regulerend. Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 23 ayat 2,
disebutkan bahwa segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-
undang. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki fungsi yang luas
antara lain sebagai sumber pendapatan negara yang utama, pengatur kegiatan

5
ekonomi, pemerataan pendapatan masyarakat, dan sebagai sarana stabilisasi ekonomi.
Kalau kita lihat APBN, pajak selalu dituntut untuk bertambah dan bertambah.
Pemerintah harus memasukkan uang sebanyak-banyaknya ke kas negara.
Dalam struktur anggaran negara, seperti halnya negara kita bisa mencapai 75%
diperoleh dari pajak. Kondisi inilah yang memicu pemerintah untuk membuat aturan-
aturan perpajakan. Aturan perpajakan merupakan masalah yang sebaiknya menjadi
prioritas bagi pemerintah supaya tidak terjadi tax avoidance.
Namun, berbagai tantangan etika yang sering terjadi antara lain: kompleksitas
dan perubahan sifat dari hukum pajak, keterbatasan waktu untuk praktek, pengetahuan
tentang hukum pajak yang kompleks, tekanan dari klien untuk mengurangi liabilitas
pajak, dan kurangnya pemahaman klien terkait tanggungjawab profesional dan
potensi hukuman dari akuntan baik bagi praktisi pajak dan pembayar pajak.
Fungsi Pajak terdiri dari dari dua fungsi yaitu:
1. Fungsi Budgetair
Fungsi Budgetair disebut fungsi utama atau fungsi fiscal yaitu suatu fungsi
dalam mana pajak dipergunakan sebagai alat untuk memasukan dana secara
optimal ke kas Negara berdasarkan undang-undang perpajakan yang berlaku.
2. Fungsi Regulerend
Fungsi Regulerend disebut juga fungsi tambahan karena hanya sebagai
pelengkap dari fungsi utama yaitu budgetair. Dalam hal ini, pajak berfungsi
sebagai alat yang digunakan pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu.
Contoh:pemerintah ingin memberantas/ mengurangi kebiasaan mabuk-
mabukan dikalangan generasi muda maka pemerintah mengenakan pajak atas
minuman keras dengan demikian harga menjadi mahal dan diharapkan
konsumsi minuman keras menjadi berkurang
Berikut ini beberapa kasus yang mencerminkan kompleksitas aturan
perpajakan vs tuntutan klien :
Pajak Ganda pada Dividen
Secara teori Indonesia menganut klasikal sistem. Artinya, ada pembedaan
subyek pajak. Yaitu subyek pajak badan dan subjek pajak perseorangan. Yang
bermasalah dalam pajak dividen adalah terjadi economic double taxation.
Pengertiannya, sebelum dividen dibagi kepada pengusaha, laba tersebut
merupakan laba perusahaan yang dikenakan pajak, atau disebut pajak

6
korporat. Namun, ketika dibagi lagi kepada pemegang saham di korporat,
pemegang saham itu harus dikenakan pajak lagi. Inilah yang disebut sebagai
pajak ganda. Sebagai perbandingan,Malaysia dan Singapura tidak lagi
menggunakan pajak atas dividen. Mereka menggunakan kredit sistem. Yakni,
pajak yang bisa dikreditkan kepada para pemegang saham di korporat.
Sehingga, korporat hanya dimaknai sebagai sarana. Subyek pajak tetap
melekat pada pribadi. Tak ada lagi pajak ganda yang membebani.
Sengketa Pajak
Kalau terjadi dispute, yakni hitungan wajib pajak (WP) dengan petugas pajak
berbeda. Pada UU KUP 2000 kewenangan aparat fiscus terlalu luas. Jika
terjadi sengketa SPT, maka apapun yang akan dipakai adalah hitungan aparat
pajak, dan hitungan itu harus dibayar lebih dahulu oleh WP sebesar 50 persen
dari hitungan petugas pajak sebelum bisa dibawa kepada pengadilan pajak.
Kalau hitungan WP yang dinyatakan pengadilan benar maka WP berhak
menerima restitusi. Namun, uang restitusi itu kenyataannya tidak segera
dibayarkan oleh fiscus.
Jika uang restitusi jumlahnya milyaran jelas saja mengganggu cash flow para
pengusaha. Inilah persoalan dalam dispute antara WP dengan aparat pajak.
Untungnya, dalam UU KUP 28/2007 perhitungan SPT ditentukan secara
bersama-sama. Jika ada perbedaan klaim angka, maka yang lebih dahulu
dipakai adalah klaim WP. Sebelum masuk ke pengadilan pajak, WP hanya
cukup membayar sebesar 50 persen dari klaim hitungan WP sendiri.
Tarif Pajak yang tinggi
Ketua Tax Centre UI, Tafsir Nurchamid dan pengusaha Anton J Supit
mengatakan bahwa tarif yang tinggi kalau diturunkan punya dampak pada
seretnya penerimaan negara. Padahal disaat yang sama pendapatan negara itu
sebagian besar ditujukan untuk membayar hutang dan obligasi rekap.
Meskipun semestinya menurut Anton J Supit penerimaan dari pajak itu
digunakan untuk membangun infrastruktur.
Banyak kalangan perpajakan seperti Permana Agung, Gunadi, dan Haula
Rusdiana mengatakan sebaiknya ada kebijakan untuk membuat tarif menjadi lebih
rendah. Selain lebih kompetitif bagi dunia usaha, pajak yang rendah dianggap justru
akan meningkatkan penerimaan negara karena semakin banyaknya potensi pajak yang

7
terjaring. Satu triliun dari seratus orang jauh lebih baik ketimbang satu triliun hanya
dari sepuluh pembayar pajak.
Tarif yang tinggi membuat yang bayar menjadi sedikit. Sehingga membuat
banyak orang yang lain lebih sering menghindar dan kucing-kucingan dengan petugas
pajak. Dalam pikiran mereka, sekali Anda punya NPWP sampai mati Anda akan
dikejar oleh aparat pajak. Prinsip ini membuat mereka kalau bisa selalu baku atur atau
main belakang dengan fiscus.

D. Kasus Dugaan Korupsi Pajak yang Menjerat Hadi Poernomo (PT. Bank
BCA)
Kasus penggelapan pajak yang menyeret PT. Bank BCA Tbk dalam daftar
hitam penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih saja belum
mencapai kata final sejak dibukanya penyelidikan pada tahun 2003 silam. Peran Hadi
Poernomo dalam kasus pajak BCA diduga menyalahgunakan wewenangnya sebagai
Dirjen Pajak dengan dengan membuat Surat Keputusan (SK) yang melanggar
prosedur terkait permohonan keberatan wajib pajak yang disampaikan oleh pihak
Bank BCA. Hadi Poernomo selaku dirjen pajak diduga memanipulasi telaah direktorat
PPH mengenai keberatan SKPN PPH BCA. BCA mengajukan surat keberatan wajib
pajak dengan nilai yang cukup fantastis yakni sebesar Rp 5,7 triliun terkait kredit
bermasalah-nya atau non performance loan (NLP) kepada direktorat PPH Ditjen
Pajak pada 17 Juli 2003.
Setelah ditelaah oleh Direktorat PPH, permohonan keberatan wajib pajak yang
diajukan BCA ditolak, namun oleh Hadi Poernomo selaku Dirjen Pajak
mengintruksikan Direktur PPH yang semula menolak menjadi menerima seluruh
permohonan keberatan wajib pajak yang dilayangkan pihak BCA sehari sebelum masa
jatuh tempo pemberian keputusan final. Oleh putusan Hadi Poernomo tersebut,
diyakini BCA telah merugikan negara dengan tidak membayar pajak sebesar Rp 375
miliar. Selain itu, keputusan Hadi Poernomo mengabulkan permohonan keberatan
pajak yang diajukan BCA juga semakin terasa janggal apabila mengingat hal serupa
juga dilayangkan Bank Danamon perihal keberatan pajak atas nilai transaksi sebesar
Rp 17 triliun tetapi ditolak oleh pengadilan pajak. Anehnya, hal ini serupa namun
hasilnya berbeda.
Dalam kasus ini KPK menetapkan Hadi Poernomo sebagai tersangka dengan
dikenakan ancaman hukuman maksimal 20 tahun dan denda paling banyak Rp 1

8
miliar berdasarkan pelanggaran terhadap pasal 2 ayat 1 dan atau pasal 3 UU no 31
tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Dimana pasal tersebut mengatur
mengenai setiap orang yang melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara maupun
setiap orang yang menyalahgunakan kewenangan.

Penyelesaiaan:
Mantan ketua badan pemeriksa keuangan (BPK) Hadi Poernomo melanggar
etika dalam perpajakkan terkait kasus dugaan korupsi dalam permohonan keberatan
wajib pajak yang diajukan Bank Central Asia (BCA). Hadi dijerat dalam kapasitasnya
sebagai direktur Jenderal Pajak periode 2002-2004. Dalam kasus ini, hadi diduga
menyalahgunakan wewenangnya yang di anggap sebagai perbuatan melawan hokum.
Hadi diduga memerintahkan direktur Pajak Penghasilan (PPh) untuk mengubah hasil
telaah dan kesimpulan DirektoratPPH terhadap permohonan keberatan wajib pajak
yang diajukan BCA, yaitu awalnya ditolak menjadi diterima.
Prinsip-prinsip etika yang dilanggar adalah:

1. Prinsip Integritas (Kejujuran)

Hadi Poernomo melanggar prinsip kejujuran karena Hadi telah memerintahkan


Direktur pajak Penghasilan (PPh) untuk mengubah hasil telaah dan
kesimpulan Direktorat PPh terhadap permohonan keberatan wajib pajak yang
diajukan BCA, yaitu dari awalnya ditolak menjadi diterima.

2. Prinsip Independensi

Prinsip independensi berarti, seorang praktisi tidak mudah untuk dipengaruhi


dalam menjalankan tugasnya dan tidak memihak kepentingan siapapun, yang
bertentangan dengan prinsip integritas. Dalam hal ini Hadi telah melanggar
prinsip tersebut karena dalam menjalankan tugasnya, ia telah terpengaruh serta
memihak kepentingan pihak lain (BCA).

3. Prinsip Tanggungjawab Professional

9
Setiap praktisi pajak harus berprilaku yang konsisten dengan reputasi profesi
yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat merusak citra profesinya. Dari
sisi tanggungjawab professional, mantan ketua Badan Pemeriksa Keuangan
tersebut menyalahgunakan wewenangnya yang dianggap sebagai perbuuata
nyang melawan hukum, sehingga akan mengurangi kepercayaan masyarakat
atas kinerja yang telah dilakukannya serta telah merusak reputasi profesi.

4. Prinsip Kepentingan Publik

BCA dan mantan ketua BPK melanggar prinsip ini atas kaitannya dengan
penghindaran pajak yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan publik.
Selain itu mantan ketua BPK juga telah menghianati kepercayaan publik.

5. Obyektivitas

Dalam pemutusan permohonan keberatan pajak tidak bersifat obyektif dengan


adanya benturan kepentingan dengan pihak BCA dalam pemenuhan kewajiban
profesinya.

10
DAFTAR PUSTAKA

http://komang4d1.blogspot.co.id/2011/06/etika-perpajakan.html diakses pada 5 Juni


2017, 22:59 WIB.
https://www.aicpa.org/InterestAreas/Tax/Resources/StandardsEthics/StatementsonSta
ndardsforTaxServices/DownloadableDocuments/SSTS,%20Effective%20January
%201,%202010.pdf diakses pada 5 Juni 2017, 22:59 WIB.
https://gilangadhit.blogspot.co.id/2016/12/tax-shelters-dan-kasus-kpmg.html diakses
pada 5 Juni 2015, 23:14 WIB.
http://fekool.blogspot.co.id/2016/06/etika-dalam-praktik-akuntansi-perpajakan.html,
diakses pada 05 Juni 2017 jam 15.20 WIB.
https://datakata.wordpress.com/2014/11/12/etika-dalam-perpajakan/, diakses pada 05
Juni 2017 jam 12.08 WIB.
http://nasional.kompas.com/read/2014/04/21/1929221/Ini.Detail.Kasus.Dugaan.Korup
si.Pajak.yang.Menjerat.Hadi.Poernomo, diakses pada 5 Juni 2017.

11