Anda di halaman 1dari 66

KESELAMATAN DAN

KESEHATAN KERJA (K3)


KONSTRUKSI

Disampaikan Oleh:
Ir.Kusumo Dradjad S, MSi

A2K4-Indonesia kusumo 1
TUJUAN PEMBELAJARAN
TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM :
SETELAH SELESAI MENGIKUTI PELATIHAN INI DIHARAPKAN PESERTA
MEMILIKI KEMAMPUAN
UNTUK MELAKUKANKETENTUAN K3L DI TEMPAT KERJA, DALAM
RANGKA MENUNJANG
PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN GEDUNG.

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS :


SETELAH SELESAI MEMPELAJARIMATERI PELATIHAN INI PESERTA
AKAN MAMPU :
1) MENYIAPKAN PERLENGKAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN
KERJA (K3) YANG DIPERLUKAN UNTUK PELAKSANAAN PEKERJAAN
GEDUNG.
2) MENERAPKAN KETENTUAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN
KERJA (K3) DI TEMPAT KERJA.
3) MEMBUAT LAPORAN PENERAPAN KETENTUAN KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA (K3).
A2K4-Indonesia kusumo 2
LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

KEGIATAN KONSTRUKSI MERUPAKAN UNSUR


PENTING DALAM PEMBANGUNAN
KEGIATAN KONSTRUKSI MENIMBULKAN
BERBAGAI DAMPAK YANG TIDAK DIINGINKAN
ANTARA LAIN YANG MENYANGKUT ASPEK
KESELAMATAN KERJA DAN LINGKUNGAN.
KEGIATAN KONSTRUKSI HARUS DIKELOLA
DENGAN MEMPERHATIKAN STANDAR DAN
KETENTUAN K3 YANG BERLAKU

A2K4-Indonesia kusumo 3
SEKTOR KONSTRUKSI
32 % kecelakaan terjadi di
Sektor konstruksi di
bawah tahun 2000

A2K4-Indonesia kusumo 4
A2K4-Indonesia kusumo 5
Data kecelakaan Sektoral
- konstruksi : 31,9%
- Insdustri : 31,6 %
- Tranport : 9,3%
- Pertambangan : 2,6%
- Kehutanan : 3,8%
- Lain-lain : 20 %

Ref. ILO

A2K4-Indonesia kusumo 6
Data penyebab kecelakaan
Sektor konstruksi

- Jatuh : 26%
- Terbentur : 12 %
- Tertimpa : 9%
- Mesin dan alat : 8%
- Alat tangan : 7%
- Transport : 7%
- Lain-lain : 6%

Ref. ILO
A2K4-Indonesia kusumo 7
Karakteristik Kegiatan Proyek
Konstruksi
Melibatkan banyak tenaga kerja kasar
berpendidikan relatif rendah, Masa kerja
terbatas, dengan Intensitas kerja yang tinggi
Tempat Kerja (terbuka, tertutup, lembab,
kering, panas, berdebu, kotor)
Pekerjaan dilaksanakan secara komprehensif
(Bersifat multi disiplin dan multi crafts)
Menggunakan peralatan kerja beragam, jenis,
teknologi, kapasitaskusumo
A2K4-Indonesia
dan kondisinya 8
PENEGRTIAN
K3 ADALAH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN
YANG MEMBERIKAN PERLINDUNGAN KEPADA SETIAP ORANG YANG
BERADA DI TEMPAT KERJA, YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PEMINDAHAN BAHAN BAKU, PENGGUNAAN PERALATAN KERJA
KONSTRUKSI, PROSES PRODUKSI DAN LINGKUNGAN SEKITAR
TEMPAT KERJA

TEMPAT KERJA ADALAH SETIAP RUANGAN ATAU LAPANGAN,


TERTUTUP ATAU TERBUKA,
BERGERAK ATAU TETAP, DIMANA TENAGA KERJA BEKERJA, ATAU
YANG SERING DIMASUKI TENAGA KERJA UNTUK KEPERLUAN SUATU
USAHA DAN DIMANA TERDAPAT SUMBER ATAU SUMBER SUMBER
BAHAYA BAIK DIDARAT, DI DALAM TANAH, DI PERMUKAAN AIR, DI
DALAM AIR MAUPUN DI UDARA YANG BERADA DI DALAM WILAYAH
KEKUASAAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA

A2K4-Indonesia kusumo 9
Unsur Terkait dalam Proyek
Konstruksi
Pemilik Proyek Instansi Teknis

Masyarakat
Kontraktor
Proyek
Konstruksi
Sub Kontraktor Pemasok dll

Pekerja Proyek Pekerja Subkon

A2K4-Indonesia kusumo 10
Peraturan Perundangan
K3 Bidang Konstruksi Bangunan

UU No 18/1999 ttg JASA KONSTRUKSI


UU No. 28/2002, Tentang Bangunan Gedung
PP NO. 29 TAHUN 2000, Tentang Penyelenggaraan Jasa Pasal 17 ayat 1 dan
Pasal 30
PP 30 Tahun 2000 tentang Pembinaan Penyelenggaraan jasa Konstruksi,
Pasal 6 ayat (4).3
KEPPRES NO. 80 TAHUN 2003 :PASAL 29 AYAT (1).
SURAT EDARAN MENTERI KIMPRASWIL NO. UM 03.05-Mn/426 TGL 24
AGUSTUS 2004 PERIHAL PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA PADA
PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI
SURAT EDARAN MENTERI PU NOMOR 02/SE/M/2007 TENTANG
PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI UNTUK INSTANSI
PEMERINTAH YANG MEMPERSYARATKAN PENYEDIA JASA
KUALIFIKASI BESAR WAJIB MEMILIKI SERTIFIKAT SMK3
PP 50 2012 PENERAPAN SMK3

A2K4-Indonesia kusumo 11
ALAT PELINDUNG DIRI

APD

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 12


ALAT PELINDUNG DIRI

ADALAH SEPERANGKAT ALAT YANG


DIGUNAKAN OLEH TENAGA KERJA
UNTUK MELINDUNGI SELURUH /
SEBAGIAN TUBUHNYA TERHADAP
KEMUNGKINAN ADANYA POTENSI
BAHAYA/KECELAKAAN KERJA.

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP


13
A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP
14
HARAPAN SEORANG ANAK

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP


15
ALAT PELINDUNG DIRI
MERUPAKAN THE LEAST DESIRABLE
METHOD (PALING SEDIKIT DIGUNAKAN)
MELINDUNGI TENAGA KERJA.
MERUPAKAN CARA TERAKHIR UNTUK
MELINDUNGI TK
BISA MERUPAKAN SATU - SATUNYA
PILIHAN (MISALNYA PADA TEMPAT KERJA
KONSTRUKSI DIMANA DIBUTUHKAN TOPI
PENGAMAN, SAFETY SHOES, DLL.)
A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP
16
CONTOH PENGGUNAAN APD, BODY HARNEST

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 17


UNSAFE ACTION
(TINDAKAN TIDAK AMAN)
Adalah suatu pelanggaran terhadap
prosedur keselamatan yang memberikan
peluang terhadap terjadinya kecelakaan

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 18


KENAPA PERBUATAN TIDAK AMAN
DILAKUKAN ?
KURANG PENGETAHUAN
KURANG TERAMPIL/ PENGALAMAN
TIDAK ADA KEMAUAN
FAKTOR KELELAHAN
JENIS PEKERJAAN YG TIDAK SESUAI
GANGGUAN MENTAL
KESALAHAN DALAM SIFAT DAN TINGKAH
LAKU MANUSIA

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 19


PERBUATAN BERBAHAYA (UNSAFE ACTION)
MENJALANKAN MESIN/ MENGAMBIL POSISI PADA
PERALATAN TANPA TEMPAT YANG BERBAHAYA
WEWENANG MEMBETULKAN MESIN
MENJALANKAN MESIN/ DALAM KEADAAN JALAN
PERALATAN DGN LALAI MEMBERIKAN
KECEPATAN YG TIDAK PERINGATAN ATAU LUPA
SEMESTINYA MENGAMANKAN TEMPAT
MEMBUAT ALAT KERJA
PENGAMAN TIDAK BERSENDA GURAU TIDAK
BERFUNGSI PADA TEMPATNYA
LALAI MENGGUNAKAN
MEMAKSAKAN DIRI UNTUK
APD BEKERJA WALAUPUN SAKIT
MENGANGKAT
MERANCANG /MEMASANG
BARANG DENGAN PERALATAN TANPA
CARA YG SALAH PENGAMAN
A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 20
UNSAFE CONDITION KONDISI TIDAK AMAN

Adalah suatu kondisi fisik atau keadaan yang


berbahaya yang mungkin dapat langsung
mengakibatkan terjadinya kecelakaan

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP


21
KONDISI BERBAHAYA
(UNSAFE CONDITION) KEBERSIHAN
PELINDUNG ATAU LINGKUNGAN KERJA
PEMBATAS/PENGAMAN YANG JELEK
YANG TIDAK MEMADAI
POLUSI UDARA DI
PERALATAN/ PERKAKAS
DAN BAHAN YANG RUANGAN KERJA (GAS,
RUSAK TETAP UAP, ASAP, DEBU, DSB.)
DIGUNAKAN KEBISINGAN YANG
PENEMPATAN BARANG BERLEBIHAN
YANG SALAH PEMAPARAN RADIASI
SISTEM PERINGATAN
VENTILASI YANG TIDAK
YANG TIDAK MEMADAI
MEMADAI
PENGABAIAN TERHADAP
PERKIRAAN BAHAYA PENERANGAN YANG
KEBAKARAN/PELEDAKAN TIDAK MEMADAI
A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP
22
PEKERJAAN KONSTRUKSI

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 23


KECELAKAAN TOWER CRANE

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP


24
Resiko & Bahaya
hanya faktor keberuntungan yang
membedakan apakah akan terjadi
kecelakaan.

Ketika kondisi berbahaya dan


Perilaku beresiko tidak aman
hadir pada saat bersamaan maka kita
semakin dekat dengan Kehilangan
Kendali

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 25


Syarat-syarat APD

Enak dipakai.
Tidak mengganggu kerja.
Memberikan perlindungan efektif sesuai
dengan jenis bahaya di tempat kerja.

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 26


Kelemahan APD

Kemampuan perlindungan yang kurang sempurna


Tidak tepat
Salah cara penggunaan
Kualitas APD
Sering APD tidak dipakai karena kurang nyaman.
Mengganggu penampilan
dll

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 27


Dasar Hukum
Undang-undang No. 1 tahun 1970.
Pasal 3 ayat (1) butir f: Memberikan Alat-alat
Perlindungan Diri pada para pekerja.

Pasal 9 ayat (1) butir c: Pengurus diwajibkan


menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja
baru tentang APD bagi TK yang bersangkutan .

Pasal 12 butir b: Dengan peraturan perundangan diatur


kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk memakai
APD yang diwajibkan.

Pasal 14 butir c: Pengurus diwajibkan menyediakan


secara cuma-cuma APD yang diwajibkan pada pekerja
dan orang lain yang memasuki tempat kerja.

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 28


DASAR HUKUM
PERMENAKERTRANS :PER. 01/MEN/1981
PASAL 4 AYAT (3) MENYEBUTKAN KEWAJIBAN
PENGURUS MENYEDIAKAN SECARA CUMA-
CUMA APD YANG DIWAJIBKAN
PENGGUNAANNYA OLEH TENAGA KERJA YANG
BERADA DIBAWAH PIMPINANNYA UNTUK
MENCEGAH PAK.

PERMENAKERTRANS : PER. 03/MEN/1982


PASAL 2 MENYEBUTKAN MEMBERIKAN
NASEHAT MENGENAI PERENCANAAN DAN
PEMBUATAN TEMPAT KERJA, PEMILIHAN ALAT
PELINDUNG DIRI YANG DIPERLUKAN DAN GIZI
SERTA PENYELENGGARAAN MAKANAN
DITEMPAT KERJA
A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 29
Program APD
Kebijakan dan komitmen
Identifikasi & evaluasi potensi bahaya
Diklat APD
Pemilihan yang tepat & kesesuaian
Penggunaan
Pemeliharaan (cleaning, sanitizing, maintenance,
storage)
Surveillance Kesehatan TK
Sangsi dan penghargaan
Evaluasi
A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 30
Jenis-jenis APD dan Penggunaannya

1. A.P. Kepala (Head Protection): Helmet, Hair


protection, Hats/Cap.
2. A.P. Muka dan Mata : face Shield, Kaca mata
3. A.P. Telinga : Ear plug, Ear muff
4. A.P. Pernafasan : masker, respirator
5. A.P. Tangan : sarung tangan (Gloves)
6. A.P. Kaki (Foot Protection): Safety shoes
7. Pakaian Pelindung
8. Sabuk Pengaman (Safety Belt)

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 31


ALAT PELINDUNG DIRI
Pelindung kepala : helm
Pelindung mata : safety glasses
Pelindung tangan : sarung tangan
Pelindung kaki : sepatu kerja
Pelindung pernapasan : masker
Pelindung telinga : ear plug/ear muff
Penahan jatuh : safety belt

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 32


Pelindung Kepala
MELINDUNGI KEPALA DARI :
DARI BENDA BENDA YANG
JATUH
TERKENA PIPA, BATANG
SENGATAN LISTRIK
STANDARD ANSI Z 89.1-1986

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 33


Pelindung Kaki

MELINDUNGI KAKI DARI :


KEJATUHAN BATANG BERAT
BENDA BENDA TAJAM
PERMUKAAN YANG BASAH,
LICIN
SENGATAN LISTRIK
STANDARD ANSI Z 41.1-1991

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 34


Pelindung Tangan
CONTOH SARUNG TANGAN :
KULIT : KANVAS TAHAN PANAS
KATUN : MELINDUNGI DARI
ABRASI, TAHAN KOTOR, ANTI
SELIP
KARET : TAHAN ALIRAN
LISTRIK
KARET : TAHAN KIMIA

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 35


Pelindung Pernapasan

PENGGUNAAN :
DAERAH KERJA DENGAN TINGKAT
KONTAMINASI MENSYARATKAN
PELINDUNG PERNAPASAN
PERSYARATAN ANSI Z 88.2

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 36


ALASAN UMUM MENGAPA TIDAK MENGGUNAKAN MASKER

Kesehatan Pribadi
Merokok Susah berbicara

Sulit Bernafas

Masker Merepotkan
Makan & Minum
Panas

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 37


Pelindung Pendengaran
TERGANTUNG TINGKAT KEBISINGAN
DAN WAKTU PEMAKAIAN
STANDARD : KEBISINGAN 85 DB
UNTUK WAKTU 8 JAM
EAR PLUG : MENUTUPI LUBANG
TELINGA WAKTU DIPAKAI DILUAR
SUMBER KEBISINGAN
EAR MUFF : MENUTUPI DAUN
TELINGA UNTUK DIPAKAI DISUMBER
KEBISINGAN

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 38


Pelindung Mata

CONTOH PELINDUNG MATA :


KACAMATA PENGAMAN (SAFETY GLASSESS)
GOGGLES : MELINDUNGI TERHADAP IMPAK
MASKER LAS: MELINDUNGI SINAR RADIASI
YANG KUAT DARI PENGELASAN,
PERCIKAN LAS
STANDARD ANSI Z 87.1-1989
A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 39
Pelindung Bahaya Jatuh
CONTOH PELINDUNG BAHAYA
JATUH :
SAFETY BELT
SAFETY HARNESS
SAFETY NET (JARING
PENGAMAN)
CATCH PLATFORM
JAKET PELAMPUNG
ROMPI PELAMPUNG

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 40


RAMBU PETUNJUK KESELAMATAN
RAMBU DIPASANG SBG SARANA
KOMUNIKASI YG SINGKAT, MUDAH
DIPAHAMI DAN BERSIFAT SBG
PERINGATAN DAN INFORMASI BAGI
SIAPAPUN YG MELIHAT RAMBU-
RAMBU TSB.
RAMBU-RAMBU MEMPUNYAI
PERBEDAAN BENTUK, WARNA DAN
SIFAT DARURAT.

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 41


CONTOH RAMBU-RAMBU

1. LARANGAN 2. PERINGATAN

3. KEWAJIBAN 4. LAIN-LAIN

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 42


BERDASARKAN SIFAT DARURAT
LARANGAN : WARNA MERAH, BENTUK LINGKARAN DENGAN GARIS
TENGAH
APAPUN AKTIVITAS SEPERTI YG DIDESKRIPSIKAN DALAM RAMBU TSB
HARUS DIHENTIKAN, DIMATIKAN KARENA SANGAT BERBAHAYA BAGI
KESELAMATAN BERSAMA.
PERINGATAN : WARNA DASAR KUNING, BENTUK SEGITIGA
RAMBU INI BERARTI SEBUAH PERINGATAN AKAN ADANYA POTENSI
BAHAYA. MENGINTRUKSIKAN UNTUK LEBIH BERHATI-HATI.
KEWAJIBAN : WARNA DASAR BIRU, BENTUK LINGKARAN
INSTRUKSI UNTUK MELAKUKAN ATAU MENGENAKAN SESUATU YG
HARUS DALAM HAL KESELAMATAN.
AREA AMAN : WARNA DASAR HIJAU, BENTUK KOTAK ATAU BUJUR
SANGKAR
PETUNJUK MELARIKAN DIRI ATAU PETUNJUK KESELAMATAN SEPERTI
PINTU KELUAR ATAU OBAT-OBATAN
LOKASI PEMADAM : WARNA DASAR MERAH
PETUNJUK LOKASI ALAT PEMADAM KEBAKARAN

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 43


FIRE SAFETY

KUSUMO DS

JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
STANDARD DAN PERATURAN
1. NFPA 10 , STANDARD FOR PORTABLE FIRE EXTINGUISHERS
2. NFPA 13 , STANDARD FOR INSTALLATION OF SPRINKLER SYSTEMS.
3. NFPA 20 , STANDARD FOR THE INSTALLATION OF STATIONARY PUMP
FOR THE PROTECTION.
4. SNI 03 3987 1995 , PANDUAN PEMASANGAN PEMADAM API RINGAN
UNTUK PENCEGAHAN BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN
GEDUNG.
5. SNI 03 3986 2000 , TATA CARA PERENCANAAN DAN PEMASANGAN
INSTALASI ALARM KEBAKARAN OTOMATIS UNTUK PENCEGAHAN
BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG.
6. SNI 03 3989 2000 , TATA CARA PERENCANAAN DAN PEMASANGAN
SISTIM SPRINKLER OTOMATIS UNTUK PENCEGAHAN BAHAYA
KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG.
STANDAR DAN PERATURAN

7. PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NO. PER.04/MEN/ 1980.


TENTANG SYARAT SYARAT PEMASANGAN DAN PEMELIHARAAN
ALAT PEMADAM API RINGAN.
8. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NO.Kep.186/MEN/1999
TENTANG UNIT PENANGGULANGAN KEBAKARAN DITEMPAT
KERJA
9. INSTRUKSI MENTERI TENAGA KERJA RI No.Ins.11/M/BW/1997
TENTANG PENGAWASAN KHUSUS K3 PENANGGULANGAN
KEBAKARAN.
10. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PEKERJAAN UMUM NO.10 / KPTS /
2000. TENTANG KETENTUAN TEKNIS PENGAMANAN TERHADAP
BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG DAN
LINGKUNGAN.
11. PERATURAN DAERAH DKI JAKARTA NO 3 TAHUN 1992 TENTANG
PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN.
DEFINITION
API ADALAH SUATU REAKSI KIMIA CEPAT (OKSIDASI) YANG TERBENTUK DARI 3 (TIGA)
UNSUR YAITU: PANAS, UDARA DAN BAHAN BAKAR YANG MENIMBULKAN PANAS DAN
CAHAYA.

FUEL

CHAIN
OXYGEN
REACTION
HEAT
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA
KEBAKARAN

Peristiwa terjadinya kebakaran selama ini


disebabkan oleh beberapa faktor, antara
lain :

1. Manusia
2. Penyalaan sendiri
3. Gerakan alam
ALAT PEMADAM API RINGAN

Portable Fire Extinguisher


Tipe konstruksi

STORED

CO2
PRESSURE
( N2 )
CARTRIDGE
PEMASANGAN APAR

1. PEMASANGAN APAR PADA BAGIAN PALING ATAS 120


CM DARI PERMUKAAN LANTAI.
2. APAR TIDAK BOLEH DIPASANG DALAM RUANGAN
DGN SUHU MELEBIHI DIATAS 49C ATAU DIBAWAH 4C.
3. HARUS DIBERI TANDA PEMASANGAN APAR.
4. TINGGI PEMASANGAN TANDA APAR 125 CM DARI
PERMUKAAN LANTAI.
5. SETIAP APAR HARUS DIPASANG MENGGANTUNG
PADA DINDING DENGAN PENGUATAN SENGKANG
ATAU DITEMPATKAN DALAM PETI/BOX KACA.
6. PETI/BOX BILA DIBERI KACA TEBAL KACA MAKSIMUM
2 MM.
Klasifikasi KEBAKARAN
Ref : Permenaker -04/80

A Combustible
Material

Flammable
Liquid/gas B C Electrical
Equipment

D Metals

C
ABC

A B
Multi Purpose
JENIS MEDIA PEMADAM

1. JENIS CAIR : Air, Busa kimia, Busa mekanis , AF3.


2. JENIS PADAT : Dry chemical ( Dry powder ).
3. JENIS GAS : CO2, N2 ( Inergen )

Dry powder dipakai untuk kebakaran klas D.


Prinsip
PEMADAMAN Udara
Dilution

Smothering

Starving Cooling

Bahan bakar
API Heat
SMOOTHERING (MENYELIMUTI).

MENGAMBIL/MENGURANGI/MEMISAHKAN UDARA
DENGAN BAHAN BAKAR SEHINGGA TIDAK ADA
KONTAK PADA KEDUA ZAT TERSEBUT.

CARA INI DILAKUKAN MISALNYA DENGAN


MENUTUP PERMUKAAN BAHAN BAKAR DENGAN
SELIMUT API (FIRE BLANKET) ATAU DENGAN
BUSA (FOAM).
PENDINGINAN / COOLING

MENGURANGI / MENURUNKAN
TEMPERATUR BAHAN BAKAR HINGGA
DI BAWAH TITIK NYALANYA /
FLASH POINT.

CARA INI MISALNYA


MENGGUNAKAN SEMPROTAN AIR
DAN BUSA.
STARVATION (MENGHILANGKAN)

MENGAMBIL / MENGURANGI BAHAN BA-KAR


SAMPAI DI BAWAH BATAS DAPAT TERBAKAR
BAWAH (LOW FLAMABLE LIMIT /LFL).

CARA INI DILAKUKAN MISALNYA DENGAN


MENUTUP SALURAN/ KERANGAN BAHAN BAKAR
PADA DAERAH YANG TERBAKAR.

MENJAUHKAN BENDA-BENDA YANG BELUM


TERBAKAR.
BREAKING CHAIN REACTION FOR
EXTINGUISHMENT

MEMUTUS RANTAI REAKSI KIMIA PEMBAKARAN


SEHINGGA TIDAK ADA LAGI RADIKAL BEBAS
BAHAN BAKAR YANG BEREAKSI.

CARA INI MISALNYA DENGAN MENEBAS API


(MEKANIS) ATAU MENAMBAHKAN BAHAN KIMIA
KE REAKSI PEMBAKARAN (HALON/DRY
CHEMICAL).
DILLUTION (PENGENCERAN)

MENGURANGI KADAR OKSIGEN DI


UDARA SAMPAI BATAS MINIMUM
SEHINGGA PEMBAKARAN TIDAK
DAPAT BERLANGSUNG.

CARA INI MISALNYA MENGGUNAKAN


GAS INERT (SEPERTI NITROGEN)
UNTUK MELAKUKAN PURGING SAMPAI
GAS FREE.
JENIS HUNIAN
HUNIAN ADALAH DASAR YANG TERPENTING DALAM MENDESAIN SISTIM
SPRINKLER OTOMATIS,YANG MEMADAI UNTUK MELINDUNGI GEDUNG DAN
ISINYA TERDAPAT BAHAYA KEBAKARAN.

BERDASARKAN JUMLAH BARANG YANG DAPAT TERBAKAR DAN ATAU SIFAT


MUDAH TERBAKARNYA BARANG TERSEBUT MAKA JENIS HUNIAN
DIKLASIFIKASIKAN ATAS :

1. HUNIAN BAHAYA KEBAKARAN RINGAN (LIGHT HAZARD OCCUPANCY)

2. HUNIAN BAHAYA KEBAKARAN SEDANG (ORDINARY HAZARD


OCCUPANCY)
- BAHAYA KEBAKARAN SEDANG KELOMPOK 1 (ORDINARY HAZARD
GROUP
- BAHAYA KEBAKARAN SEDANG KELOMPOK 2 (ORDINARY HAZARD
GROUP
.
3. HUNIAN BAHAYA KEBAKARAN TINGGI (EXTRA HAZARD OCCUPANCY)
- BAHAYA KEBAKARAN BESAR KELOMPOK 1 (EXTRA HAZARD GROUP 1 ).
- BAHAYA KEBAKARAN BESAR KELOMPOK 2 (EXTRA HAZARD GROUP 2 ).
HIDRAN
SISTEM PIPA TEGAK / HIDRAN KEBAKARAN GEDUNG ADALAH :
-SUATU RANGKAIAN PEMIPAAN YANG MENYAMBUNG SLANG KEBAKARAN
( FIRE HOUSE ) DAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH YANG DIGUNAKAN
UNTUK MENANGGULANGI KEBAKARAN.

* BERDASARKAN LOKASI PENEMPATAN JENIS HIDRAN KEBAKARAN DIBAGI :


- HIDRAN GEDUNG.
- HIDRAN HALAMAN.

SISTEM DAN KOMPONENNYA


KOMPONEN SISTEM PIPA TEGAK DAN HIDRAN GEDUNG MELIPUTI :
1. PEMIPAAN. 6. SAMBUNGAN SLANG.
2. ALAT PENYAMBUNG / FITTING. 7. SAMBUNGAN PEMADAM
3. GANTUNGAN. KEBAKARAN.
4. KATUP KONTROL. 8. SUMBER PASOKAN AIR.
5. KOTAK HIDRAN. 9. POMPA KEBAKARAN.
*PEMIPAAN :
RANGKAIAN JARINGAN PEMIPAAN PADA SISTEM HIDRAN TERDIRI ATAS :
1. PIPA ISAP ( SUCTION ).
2. PIPA HEADER.
3. PIPA TEGAK.
4. PIPA CABANG.
*ALAT PENYAMBUNG/ FITTING :
ALAT PENYAMBUNG YANG DIPAKAI HARUS MEMENUHI KETENTUAN YANG
BERLAKU.
PENYAMBUNGAN PIPA TERDIRI DARI :
- SAMBUNGAN LAS.
- SAMBUNGAN ULIR.
*GANTUNGAN :
GANTUNGAN HARUS MENGIKUTI KETENTUAN :
-GANTUNGAN TIDAK BOLEH DIGUNAKAN UNTUK MENAHAN SISTIM LAIN.
-GANTUNGAN PIPA HARUS DAPAT MENAHAN BEBAN 5 KALI BERAT PIPA.
-JARAK ANTARA GANTUNGAN TIDAK BOLEH MELEBIHI KETENTUAN.
- KOMPONEN GANTUNGAN HARUS DARI BAHAN YANG TERBUAT DARI BESI.
SISTIM SPRINKLER
SISTIM SPRINKLER OTOMATIS ADALAH SUATU SISTIM TERPADU DARI PEMIPAAN,
DIMANA DIHUBUNGKAN SPRINKLER ATAU NOZELYANG SECARA OTOMATIS
AKAN BERKERJA MENGGUNAKAN PENGINDERAAN PANAS DAN PRODUK
PEMBAKARAN LAINNYA YANG DIHASILKAN OLEH SUATU API KEBAKARAN.

KOMPONEN SISTIM
KOMPONEN SISTIM SPRINKLER PADA GEDUNG MELIPUTI:
1. JENIS SISTIM SPRINKLER
2. JENIS HUNIAN
3. KEPALA SPRINKLER
4. PEMIPAAN DAN FITTING
5. HANGER
6. KATUP (VALVE)
7. PERSYARATAN PEMASANGAN KEPALA SPRINKLER
8. KOMBINASI DENGAN HIDRAN
9. SUMBER PASOKAN AIR
10. POMPA KEBAKARAN
11. ASPEK PEMERIKSAAN DAN PEMELIHARAAN
TERIMAKASIH

STOP KECELAKAAN KERJA

A2K4 Indonesia Ir.Kusumo DS, MSi,CSP 66