Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI LABORATORIUM DAN LAPANGAN


TEKNIK PENGAMBILAN FOTO SPESIMEN HEWAN DAN TUMBUHAN

KELOMPOK : III A
ANGGOTA : 1. PANJI CHRISTY (1710422007)
2. GRESIA PUTERI (1710422033)
3. ANNISA LORENZA (1710423005)
4. RESA ELITA (1710423029)

ASISTEN : 1. DYAH SURYANI IRSYAD


2. ROZALINA PURMASARI

LABORATORIUM PENDIDIKAN IV
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2017
BAB I. PENDAHULUAN

Dalam mempelajari biologi, kita tidak akan terlepas dari kegiatan pengamatan
makhluk hidup, baik itu tumbuhan, hewan, atau pun yang lainnya. Untuk
pengamatan dan penelitian hewan, khususnya vertebrata, ada beberapa metoda
khusus untuk penangkapan yang sangat diperlukan. Metoda ini sangat penting untuk
menyiasati hewan yang dapat bergerak aktif dan memiliki tingkah laku yang
berbeda-beda.
Praktikum ini sangat perlu dilakukan untuk mengetahui metoda-metoda yang
biasa digunakan dalam proses pengoleksian spesimen yang dibutuhkan dalam
penelitian. Corbert & Hill, 1992, menyatakan bahwa metoda-metoda lapangan sangat
diperlukan dalam pengoleksian hewan objek di alam kerena setiap hewan
mempunyai waktu beraktifitas yang berbeda-beda, habitat tempat tinggal yang
berbeda, dan makanan yang berbeda. Metoda-metoda lapangan dapat dilakukan
dengan cara metoda aktif dan metoda pasif. Metoda aktif merupakan cara
mengkoleksi hewan objek dengan interaksi langsung, baik dengan pengejaran
maupun penangkapan langsung dengan tangan. Metoda aktif misalnya penangkapan
ikan dengan jaring ataupun jala, night visual encounter, dan pengejaran hewan objek
secara langsung. Metoda pasif merupakan metoda lapangan yang digunakan untuk
mengkoleksi hewan objek secara tidak langsung. Dalam menggunakan metoda ini
umumnya dibutuhkan alat-alat bantu yang mengharuskan penggunanya memiliki
kemampuan atau keterampilan kusus dalam memakainya. Metoda pasif misalnya fish
trap, pifall trap, mist net, digiscoping, small-medium trap, harpa trap, auditory
cencus, dan camera trap.
Pengambilan sampel di lapangan diperlukan untuk memudahkan peneliti
dalam mengamati hewan khususnya vertebrata. Pengamatan spesimen secara
langsung dapat mempermudah pengenalan objek dan dapat membandingkan atau
membedakan objek tersebut dengan yang lain. Dengan mengamati spesimen secara
langsung, peneliti dapat mengetahui cirri-ciri dari objek tersebut, seperti aroma dan
tekstur. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono (2013), yang menyatakan bahwa
metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata
kunci yang perlu diperhatikan yaitu cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaan.
Oleh karena itu, praktikum tentang metoda-metoda lapangan perlu dilakukan
untuk mengetahui metode yang digunakan untuk pengambilan sampel di lapangan
dan mengetahui metode-metode yang digunakan untuk pengambilan sampel dari
beberapa kelas vertebrata.
BAB II. METODE

2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum tentang teknik pengambilan foto spesimen hewan dan tumbuhan ini
dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 13 September 2017 pukul 11.00 yang bertempat
di laboratorium teaching 4, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

2.2 Alat dan Bahan

2.2.1 Alat
Dalam praktikum teknik pengambilan foto spesimen hewan dan tumbuhan ini,
beberapa alat yang digunakan adalah kamera, penggaris, kain hitam, dan kertas
parameter.

2.2.2 Bahan
Bahan yang dibutuhkan dalam praktikum teknik pengambilan foto spesimen hewan
dan tumbuhan yaitu, Mabouya multifasciata, Polypedates leucomystax, Hilariana
nicobariensis, Ce

2.3 Prosedur Kerja

2.3.1 Kelas Pisces


Kain hitam dibentangkan oleh praktikan sebagai latar dalam pengambilan
foto Oceochromis niloticus. Setelah itu, Oceochromis niloticus diposisikan
oleh praktikan diatas kain hitam dan diatur arah orientasinya. Kemudian,
Praktikan meletakkan penggaris di sebelah Oceochromis niloticus sebagai
alat pembanding ukuran dalam foto. Selanjutnya, alat pembanding ukuran
yang semulanya penggaris, diganti oleh praktikan dengan menggunakan
kertas parameter. Lalu, foto spesimen Oceochromis niloticus diambil oleh
praktikan dengan menggunakan kamera.

2.3.2 Kelas Reptil


Kain hitam dibentangkan oleh praktikan sebagai latar dalam pengambilan
foto Mabouya multifasciata. Lalu, latar untuk pengambilan foto ditata
praktikan hingga menyerupai habitat asli Mabouya multifasciata. Setelah itu,
Mabouya multifasciata diposisikan oleh praktikan di habitat yang telah ditata
di atas kain hitam. Kemudian, praktikan meletakkan penggaris di sebelah
Mabouya multifasciata sebagai alat pembanding ukuran dalam foto.
Selanjutnya, alat pembanding ukuran yang semulanya penggaris, diganti oleh
praktikan dengan menggunakan kertas parameter. Lalu, foto spesimen
Mabouya multifasciata diambil oleh praktikan dengan menggunakan kamera.

2.3.3 Kelas Amfibi


Kain hitam dibentangkan oleh praktikan sebagai latar dalam pengambilan
foto Hilariana nicobariensis. Lalu, latar untuk pengambilan foto ditata
praktikan hingga menyerupai habitat asli Hilariana nicobariensis. Setelah itu,
Hilariana nicobariensis diposisikan oleh praktikan di habitat yang telah ditata
di atas kain hitam. Kemudian, praktikan meletakkan penggaris di sebelah
Hilariana nicobariensis sebagai alat pembanding ukuran dalam foto.
Selanjutnya, alat pembanding ukuran yang semulanya penggaris, diganti oleh
praktikan dengan menggunakan kertas parameter. Lalu, foto spesimen
Hilariana nicobariensis diambil oleh praktikan dengan menggunakan
kamera. Setelah selesai pengambilan foto spesimen Hilariana nicobariensis,
Hilariana nicobariensis dipindahkan oleh praktikan, dan diganti dengan
Polypedates leucomystax. Lalu, pengambilan foto Polypedates leucomystax
dilakukan seperti teknik pengambilan foto Hilariana nicobariensis.

2.3.4 Kelas Aves


Kain hitam dibentangkan oleh praktikan sebagai latar dalam pengambilan
foto spesimen Cyex fallax. Setelah itu, Cyex fallax diposisikan oleh praktikan
diatas kain hitam dan diatur arah orientasinya. Kemudian, Praktikan
meletakkan penggaris di sebelah Cyex fallax sebagai alat pembanding ukuran
dalam foto. Selanjutnya, alat pembanding ukuran yang semulanya penggaris,
diganti oleh praktikan dengan menggunakan kertas parameter. Lalu, foto
spesimen Cyex fallax diambil oleh praktikan dengan menggunakan kamera.
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa dalam mengambil foto
spesimen hewan dan tumbuhan, dibutuhkan teknik khusus dan harus memperhatikan
aturan umum fotografi spesimen hewan dan tumbuhan. Dengan teknik fotografi yang
telah diberikan,
3.2 Pembahasan

1. Kelas Mamalia

Gambar 1. Snap trap Gambar 2. Small mammal trap Gambar 3. Mammal trap (medium)
(sumber : Dokumen pribadi) (sumber : Dokumen pribadi) (sumber : Dokumen pribadi)

Metode pertama yang digunakan untuk mengumpulkan spesimen mamalia adalah


snap trap. Snap trap merupakan jenis perangkap untuk mamalia kecil seperti ordo
Rodentia. Pada perangkap juga diberi umpan yang disukai target untuk menarik
perhatian mamalia kecil. Pemasangan perangkap biasanya diletakkan di habitat dan
di tempat-tempat yang sering dilewati target. Hal ini sesuai dengan pendapat Corbert
& Hill, (1992) yang menyatakan bahwa mamalia pada umumnya mempunyai
pergerakan yang sangat bebas dan sangat sulit apabila ditangkap menggunakan
metoda aktif, sehingga dalam pengamatan ataupun pengkoleksian hewan kelas ini
perlu dilakukan dengan metoda pasif. Dalam pengkoleksian hewan ini dilapangan
biasa digunakan perangkap yang telah diberi umpan.Umpan yang umumnya dipakai
yaitu bungkil kelapa, selai roti, pisang, dan sebagainya.Pemasangan perangkap harus
dilakukan secara hati-hati dan memakai sarung tangan agar aroma tangan kita tidak
tertinggal pada perangkap yang dipasang. Perangkap biasanya dipasang pada lokasi
yang diperkirakan hewan target sering melewati lokasi tersebut, serta pemasangan
perangkap harus ditali sekuat mungkin pada pohon agar posisi perangkap tidak
berubah saat hewan yang tertangkap meronta dan memungkinkan hewan tersebut
tidak dapat melarikan diri.
Metoda lain yang digunakan dalam pengoleksian spesimen mamalia adalah
small mamal trap dan mamal trap(medium). Small mamal trap biasanya digunakan
untuk mengumpulkan spesimen mamalia yang berukuran tubuh kecil seperti ordo
Scadentia. Medium mamal trap digunakan untuk menjebak mamalia dengan ukuran
tubuh sedikit lebih besar seperti landak, musang dan sebagainya. Pada perangkap
juga dipasangkan umpan untuk menarik perhatian target. Perangkap biasanya
diletakkan pada lokasi yang sering dilewati oleh target. Payne et al., (2000)
menyatakan snap trap merupakan perangkap yang hanya bisa untuk menjebak 1 ekor
hewan saja. Biasanya hewan yang terjebak oleh perangkap ini adalah mencit dan
sejenisnya. Multiple small mammal trap merupakan perangkap mamalia yang
memiliki ukuran tubuh kecil, tetapi ruangan yang tersedia cukup luas sehingga
memungkinkan mendapat hewan objek cukup banyak. Medium trap merupakan
perangkap mamalia yang berukuran sedang sehingga hewan objek yang ditangkap
kemungkinan seperti landak, tapir, rusa, dan sebagainya. Sedangkan small trap
digunakan untuk menangkap hewan mamalia yang berukuran kecil.
Metode pasif lainnya untuk mengumpulkan data dari mamalia besar dapat
digunakan camera trap. Camera trap biasanya digunakan untuk mengambil foto dari
mamalia besar seperti harimau, kambing hutan dan sebagainya. Prinsip kerja camera
trap menggunakan sensor yang akan merespon gerak. Ketika hewan mengenai
sensor, secara otomatis camera akan mengambil foto. Camera trap juga diletakkan di
tempat-tempat yang sering dilewati target. Pemasangan camera trap juga dilengkapi
dengan atap yang berguna untuk melindungi dari gangguan hujan. Rabinowitz
(1993), menyatakan metoda lainnya untuk pengamatan atau menginventarisasi jenis-
jenis hewan pada suatu lokasi yaitu dengan menggunakan camera trap. Camera trap
dilengkapi dengan sensor gerak dan diatur rentang waktu pengambilan gambarnya.
Alat ini juga dapat ditinggal di hutan dalam waktu yang lama. Tetapi camera ini juga
harus diperiksa minimal 1 minggu sekali untuk mengganti batterai dan mengganti
memori penyimpanan foto yang telah diambil. Pada gambar di atas terdapat dua tipe
camera trap, yaitu model lama dan model baru. Dalam mekanisme kerjanya kedua
tipe kamera tersebut sama, tetapi dari bentuk dan cara pengaturannya camera trap
tipe baru lebih efisien dan simple. Camera trap model baru diatur dengan
menggunakan remote, sedangkan pada model lama terdapat tombol menu dan layar
monitor kecil untuk pengaturannya.Sedangkan untuk menjaga keamanan alat ini
perlu diberi terpat agar terhindar dari hujan, gangguan hewan, dan gangguan
manusia.

2. Kelas Aves dan Chiroptera

Gambar 4. Mist net Gambar 5. Kantong


Sumber : (Dokumen pribadi) Sumber : (Dokumen pribadi)

Mist net digunakan untuk menjerat hewan dari kelas Aves dan Chiroptera. Mist net
biasanya dipasang dengan menggunakan dua tiang yang berjarak 4 meter dari tanah.
Lokasi pemasangan biasanya di tepi hutan atau di tepi sungai yang dipasang pada
pagi dan sore hari. Pengecekan dilakukan setiap satu jam untuk memaksimalkan
kerja. Setelah target terjerat di jaring dibutuhkan cara khusus untuk memasukkannya
ke dalam kantong. Caranya dengan membalikkan kantong dan bagian dalam
mencangkup hewan/ spesimen tersebut setelah itu kantong segera dikunci atai diikat
agar hewan atau spesimen tidak lari.
Hasil pengamatan alat pada praktikum sesuai dengan pendapat Milne (1962)
yang menyatakan mist net terdiri dari jala yang terbagi menjadi beberapa ruang yang
berfungsi untuk menahan burung yang terperangkap di jala kabut ini sehingga tidak
mudah meloloskan diri dan tertampung pada kantong tersebut. Umumnya jala yang
terdapat pada mist net memiliki 4 ruang atau kantong. Mist net dipasang dengan
menggunakan 2 buah tiang bambu secara bersambungan. Mist net direntangkan pada
jalur yang diperkirakan sebagai tempat yang sering dilewati oleh burung. Mist net
juga dapat dipasang di area sungai dengan ketentuan direntangkan di atas permukaan
air dengan arah memotong jalur sungai atau di tepi sungai dengan arah menghadap
ke badan sungai. Pada lokasi pepohonan yang diperkirakan sebagai tempat burung
mencari makan, maka mist net dipasang sejajar dengan kanopi pohon. Mist net
dipasang sedemikian rupa sehingga mengelilingi pohon tersebut. Selain itu, mist net
juga dapat dipasang pada mulut gua dengan pemasangan sejajar atau lebih tinggi dari
mulut gua. Pemasangan mist net biasanya dilakukan pada pukul 06.00 sampai 18.00
dengan pengecekan yang dilakukan setiap 1 jam sekali. Burung yang terperangkap
dilepaskan dengan melepaskan bagian kaki terlebih dahulu kemudian bagian sayap,
kepala, dan ekor. Burung yang telah didapatkan dapat dilakukan pengukuran atau
pengambilan data parameter dan morfologinya. Dalam pengamatan juga sangat
diperlukan buku panduan lapangan untuk mempermudah mengenali spesies atau
mengidentifikasinya.

3. Kelas Pisces

Gambar 7. Fish net (Dokumen pribadi)

Metoda untuk melakukan pengumpulan spesimen dari kelas Pisces menggunakan


fish trap. Fish trap memiliki prinsip kerja, ikan mudah masuk dan susah untuk
keluar. Perangkap diberi pemberat berupa batu supaya tidak hanyut saat diletakkan
dan dipasang berlawnan dengan arus air. Hal ini sesuai dengan pendapat Saanin,
(1960) metoda lain yang digunakan untuk mengkoleksi ikan di lapangan yaitu
dengan fish trap (jebakan ikan). Fish trap merupakan metoda pasif untuk menjebak
ikan, fish trap berbentuk persegi yang terbuat dari rajutan tali khusus. Di dalam fish
trap terdapat tempat khusus sebagai tempat untuk meletakkan umpan guna
memancing ikan agar masuk ke dalam rongga pada samping fish trap, sehingga ikan
terperangkap di dalam fish trap dan tidak dapat keluar karena sistem corong tempat
masuk ikan hanya memungkinkan ikan untuk masuk dan tidak dapat keluar.
Penerapan fish trap ini dapat menangkap ikan yang mempunyai bentuk tubuh
langsing, sedangkan pengecekan dapat dilakukan minimal 1 jam sekali. Alat
tradisional yang memiliki prinsip kerja seperti fish trap yaitu bubu dan lukah.
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dari praktikum yang telah didapatkan dapat di simpulkan bahwa:


1. Metoda-metoda lapangan ada 2 yaitu metoda aktif dan metoda pasif.
Metoda aktif adalah metoda pengoleksian spesimen melalui interaksi
langsung sedangkan metoda pasif adalah metoda pengoleksian spesimen
secara tidak langsung.
2. Metode yang digunakan dalam pengumpulan spesimen mamalia adalah
snap trap, small mamal trap, mamal trap(medium). Dari kelas Aves dan
Chiroptera menggunakan mist net, dan untuk kelas pisces digunakan fish
trap.

4.2 Saran

Adapun saran untuk praktikum selanjutnya ialah saat melakukkan praktikum,


praktikan diharapkan untuk memperhatikan penjelasan asisten laboratorium
dengan maksimal, agar praktikum dapat berlangsung dengan lancar tanpa
kendala yang berarti.
DAFTAR PUSTAKA

Cobert, G. B. and J E. Hill. 1992. The Mammals of Indomalaya Region: A.


Systematic Review. Oxford University Press. Oxford
Milne and M. Milne. 1962. Animal life. New Jersey
Payne, J. C. 2000. Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan Sabah, Serawak, dan
Brunei Darussalam. Kerjasama The Sabah Society-Wildlife Conservation
Society. Malaysia
Robinowitz, A. 1993. Wildlife Field Research and Conservation Training Manual.
NYZS Wildlife Conservation Society.
Saanin, H. 1960. Taksonomi dan Kuntji Identifikasi Ikan. Binatjipta. Jakarta
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D. Bandung: Alfabeta.