Anda di halaman 1dari 19

PERBEDAAN ZAT, IKATAN ANTAR MOLEKUL, DAN

DIAGRAM FASE H2O

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH KIMIA DASAR

Disusun Oleh :

Area Gandra Herlywanto 03021381320003


Andra Fareza 03021181320081
Cindy Claudia 03021181320017
Fira Anggraini Agasi 03021181320039
Qesha Anggraini Gemintang 03021181320021
Roid Alhakim Danis 03021181320003
Wiranto Prabandanu 03021181320025

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2013
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah atas limpahan taufiq dan hidayah-Nya yang telah
menolong Penulis menyelesaikan makalah kimia dasar ini.
Pada kesempatan kali ini pula, Penulis mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini, yaitu Ibu
Selpiana, ST.MT., selaku dosen pembimbing Mata Kuliah Kimia Dasar dan
segala pihak yang bersangkutan dalam pembuatan dalam makalah ini
Penulis juga menyadari terdapat banyaknya kesahan dalam penulisan
makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun. Maka dari itu, kritik dan saran yang diberikan nantinya bisa
membantu untuk mencapai keinginan penulis agar terwujud, dan terciptanya
tulisan yang bermanfaat serta berguna.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca dan dapat berguna bagi kita semua terutama bagi Penulis dalam
melanjutkan proses pembelajaran mengenai kimia dasar ini.

Indralaya, Desember 2013 Penulis


BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Setiap zat didunia, termasuk seluruh mineral dan bahan galian yang
ada, pada umumnya memiliki beberapa fase zat. Karena itulah , pengetahuan
tentang fase zat merupakan suaatu hal yang sangat penting bagi teknik
pertambangan.
Fase yang dimaksud adalah keadaan zat yang dipengaruhi oleh
temperatur. Pada temperatur tertentu sebuah zat dapat berwujud padat.
Kebertahanan wujud ini bisa berubah ketika temperatur dinaikan sampai titik
tertentu hingga zat tersebut meleleh dan berubah menjadi cair. Dan bila
tempeartur terus dinaikan, akan terjadi perubahan kembali. Perubahan yang
dimaksud ditunjukan dengan menguapnya zat tersebut menjadi gas.
Jika perubahan terjadi dalam lingkup temperatur yang tidak terlalu
jauh, ada kemungkinan akan terjadi sebuah siklus perubahan zat yang mudah
diamati seperti siklus hidrologi yang terjadi pada air. Perubahan bentuk dari
suatu zat, tidak akan cukup bila dijelaskan dengan konsep perubahan
temperatur saja. Perubahan zat juga berhubungan dengan ikatan antar
molekul yang ada pada suatu zat dengan memaknai kondisi suatu zat
menggunkan pemikiran yang logis Dapat diasumsikan bahwa zat padat
memiliki ikatan yang lebih kuat ketimbang zat zair dan gas. Dengan
mengusai konsep dasar tersebut, tentu akan mempermudah proses belajar
dalam jurusan pertambangan karena dapat menjelaskan bagaimana proses
ekstraksi ataupun pemisahan suatu metal dengan bijihnya. Ataupun dapat
menuntun menuju singkapan mineral yang baru.
I.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :


a. Bagaimana ikatan antar molekul zat cair dan zat padat ?
b. Bagaimana perbedaan zat cair dan zat padat ?
c. Bagaimana diagram fase perubahan H2O ?

I.3. Tujuan Penulisan

Dalam penulisan makalah ini, kami mempunyai beberapa tujuan yang ingin
kami capai. Beberapa tujuannya antara lain:
a. Mengetahui ikatan antar molekul zat cair dan zat padat.
b. Mengetahui perbedaan zat cair dan zat padat.
c. Mengetahui diagram fase perubahan H2O.

I.4. Manfaat Penulisan

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka manfaat penelitian ini sebagai


berikut:
a. Mengetahui ikatan antar molekul zat cair dan zat padat.
b. Mengetahui perbedaan zat cair dan zat padat.
c. Mengetahui diagram fase perubahan H2O.

I.5. Pembatasan Masalah

Pembatasan pembahasan dalam makalah ini mengenai perbedaan ikatan antar


molekul, perbedaan zat, dan diagram fase sifat koligatif larutan.
BAB II

PEMBAHASAN

II.1. Ikatan Antar Molekul

Atom-atom terikat menjadi molekul dengan ikatan intra molekul atau


ikatan primer. Molekul-molekul saling terikat dengan ikatan antar molekul
atau ikatan sekunder. Molekul air terbentuk dari 2 atom H dan 1 atom O.
Atom H dan atom O berikatan membentuk molekul H2O. Ikatan yang terjadi
termasuk kelompok ikatan primer atau ikatan intramolekul. Antara molekul
H2O yang satu dengan yang lain terdapat gaya yang memegangi, namun
tidak sekuat ikatan primer, yakni dikelompokkan sebagai ikatan sekunder
atau ikatan antarmolekul.
Jika sejumlah air dipanaskan dari temperatur kamar, maka molekul-
molekul air mengalami kenaikan energi kinetik sehingga jumlah molekul
yang mempunyai kemampuan untuk berpindah ke fasa uap meningkat.
Ikatan antarmolekul H2O mengalami gangguan, sementara ikatan di dalam
molekul H2O tidak terpengaruh. Bisa dikatakan bahwa ikatan antarmolekul
menentukan sifat fisika zat.
Jika ke dalam sebuah bejana berisi air dimasukkan logam natrium,
maka logam natrium akan bereaksi hebat dengan air:
H2O + Na2NaOH + H2
Pada persamaan tersebut tampak bahwa, 2 atom H yang semula berikatan
dengan sebuah atom O diganggu karena kehadiran atom Na. Dari
penjelasan ini bisa dikatakan ikatan primer menentukan sifat kimia suatu
zat. Ikatan antar molekul (khususnya pada senyawa kovalen) terdiri atas:
a. Ikatan antar dipol permanen
b. Ikatan hidrogen
c. Ikatan antar dipol sesaat (gaya dispersi London).
Ikatan antar dipol permanan terjadi antara molekul polar dengan
molekul polar. Misalnya ikatan antar molekul HCl.
Ikatan antar dipol permanen di mana atom H berikatan dengan F, atau
O, atau N disebut ikatan hydrogen. Perbedaan elektronegativitas antara H
dengan F atau O atau N relatif besar sehingga kekuatan ikatan ini relatif
besar.
Molekul non polar tidak mempunyai kutub permanen. Pada saat
tertentu, distribusi elektron pada molekul non polar tidak merata, sehingga
timbul kutub + dan -. Kutub ini - disebut kutub sesaat kemudian
menginduksi molekul sebelahnya sehingga terbentuk kutub sesaat juga.
Antara kutub sesaat + dan terjadi tarik menarik; inilah yang disebut gaya
Dispersi London. Ikatan ini paling lemah di antara ikatan kimia yang lain.
Karakteristik khas dari ikatan ini adalah semakin banyak elektron yang
dimiliki suatu molekul, maka ikatan semakin kuat. Contoh ikatan antar
molekul halogen, semakin besar ukuran molekul, maka ikatan semakin kuat
yang ditunjukkan oleh titik didih yang semakin tinggi.

A. Ikatan Antar Molekul Zat Cair, Padat, dan Gas


Air bisa berupa cair, padat, maupun gas, dan semuanya
mempunyai rumus kimia yang sama: H2O. Pada temperatur dan tekanan
ambient, air berupa cairan. Propana dan butana keduanya berupa gas
pada kondisi ambient, sementara besi, alumunium, dan semua logam
selain air raksa mempunyai wujud padat.
Atom-atom padat terkemas sangat rapat, saling terikat sangat
kuat sehingga sangat sulit bergerak, hanya bergetar di tempat masing-
masing. Fenomena yang nampak akibat dari kondisi ini adalah zat padat
mampu menampilkan bentuknya sendiri, di manapun ia berada. Zat
padat mempunyai bentuk dan volume yang tetap.
Dibandingkan dengan susunan zat padat, partikel-partikel
penyusun zat cair terkemas lebih longgar, partikel-partikel bisa saling
bergeser. Seratus mili liter air yang dituangkan ke dalam sebuah botol
akan memiliki bentuk sama dengan botol, tanpa terjadi pengurangan
volume. Partikel-partikel penyusun zat cair masih dipegangi oleh gaya
yang menyebabkan partikel-partikel tersebut tidak benar-benar leluasa
bergerak. Penjelasan tersebut menjadi pembuka tabir di balik fenomena
zat cair yang tidak mampu membentuk dirinya sendiri tetapi mampu
bertahan pada volume konstan. Air di dalam gelas, mempunyai bentuk
seperti gelas yang ditempatinya.
Jika Anda duduk di dekat seorang teman yang mengenakan
parfum, maka Anda akan mencium aroma parfum teman Anda tersebut.
Parfum terbuat dari zat cair yang mudah menguap atau berubah wujud
menjadi gas. Partikel-partikel gas bebas bergerak, seolah-olah tidak ada
yang peduli kemana ia akan pergi. Antar partikel gas berjarak sangat
renggang. Pada gas memang masih terdapat ikatan antar partikel,
namun sangat lemah. Saking lemahnya ikatan antar partikel gas, maka
sifat-sifat gas bukan ditentukan oleh tipe ikatannya, tetapi oleh tekanan,
volume, temperatur, dan jumlahnya. Fenomena mengapa gas bisa
dimampatkan (compressible), bisa menyebar, tidak mampu bertahan
dalam volume tertentu apalagi bentuk tertentu, terjawab dengan struktur
partikel-partikel gas yang renggang dan ikatan yang lemah
tersebut. Pada proses pemampatan, gas dipaksa untuk berdekatan satu
sama lain. Pada kondisi ekstrim, gas tertentu bisa berubah menjadi cair
bila dimampatkan hingga tekanan tertentu, contohnya LPG, Liquified
Petroleum Gas.

B. Perubahan Fase

Suatu zat bisa mengalami perubahan wujud dengan melepas atau


menyerap energi. Perubahan fase dan keacakan: semakin tinggi
keacakan, entropi (S) semakin tinggi. Perubahan terjadi spontan jika
perubahan energi bebas Gibbs (G) bernilai negatif.
C. Berbagai Fenomena Perilaku Zat

1.) Zat cair: incompressible vs gas : compressible


Molekul-molekul zat cair berjarak lebih renggang dibandingkan
dengan padatan, namun lebih rapat jika dibandingkan dengan gas.
Molekul-molekul zat cair bisa bergeser, sehingga mampu mengalir.
Karena relatif rapat, maka molekul-molekul cair tidak bisa
dimampatkan (incompressible), sementara molekul-molekul gas
berjarak renggang sehingga apabila ditekan, molekul-molekul gas
dipaksa untuk merapatkan diri atau bisa dimampatkan
(compressible).
Contoh terapan sifat incompressible cairan :
Sistem rem hidrolik menerapkan sifat cairan
yang incompressible dan prinsip hukum Pascal bahwa tekanan fluida
diteruskan ke segala arah dengan sama rata. Pada rem mobil, ketika
kaki menekan pedal rem dengan gaya F1, maka piston silinder kecil
menerima tekanan sebesar . Tekanan sebesar itu diteruskan ke piston
silinder besar yang memiliki luas A2 sehingga tekanan di piston
silinder besar sama dengan tekanan piston silinder kecil: P1=P2
atau = Kampas rem akan menerima gaya sebesar F2 yang mana: F2
= xF1. Karena A2>A1, maka F2>F1 atau terjadi perlipatan gaya
karena pembesaran luas penampang yang didesak cairan.
Bila cairan tabung minyak rem kemasukan udara (masuk angin),
maka gaya yang diberikan melalui pedal rem tidak mampu
menghentikan mobil karena hanya akan digunakan memampatkan
udara, bukan diteruskan untuk menekan kampas rem/cakram.
Contoh terapan sifat compressible gas
LPG adalah bahan bakar yang biasa dikonsumsi untuk memasak.
LPG tersusun atas kurang lebih 30% propana dan 70% butana.
Seandainya berada pada tekanan atmosfer ( 1 atm), 3 kg gas propana
dan butana akan menempati volume sekitar 1500 liter. Dengan
memanfaatkan sifatnya yang compressible, 3 kg LPG (Liquified
Petroleum Gas= gas petroleum yang dicairkan) dikemas dalam
tabung mungil yang portable. Propana dan butana memiliki
karakteristik pada temperatur kamar bisa dicairkan dengan
penekanan karena mempunyai temperatur kritis relatif tinggi, jauh di
atas temperaur kamar. Di atas temperatur kritis, gas tidak bisa
dicairkan lagi dengan tekanan sebesar apapun. Prinsip
kompressibilitas gas juga diterapkan pada tabung kemasan gas
bertekanan(compressed gas), misalnya CO2 sebagai pemadam
kebakaran dan O2 sebagai alat bantu pernafasan. Tidak semua gas
bisa dicairkan dengan penekanan. Untuk mengetahui karakter suatu
zat yang terkait hal ini, maka digunakan Diagram Fase.
Temperatur maksimal yang mana gas masih bisa dicairkan dengan
penekanan disebut temperature kritis. Di atas temperature kritis, gas
sudah tidak bisa dicairkan denganpenekanan. Sebagai contoh CO2
bisa tekan pada suhu 200C hingga menjadi cair, tetapi pada
320C tidak bisa mencair ditekan sampai berapapun karena sudah
melebihi temperature kritis. Contoh lain hidrogen mempunyai
temperature kritis 33 K. Pada suhu kamar, hidrogen tidak pernah
bisa dicairkan dengan penekanan. Satu-satunya cara untuk
mencairkan hidrogen adalah mendinginkannya. Hidrogen bisa
dicairkan dengan mendinginkannya pada tekanan atmosfer hingga di
bawah 20 K. Zat cair yang diperoleh dengan pendinginan pada
temperatur kurang dari -150 C disebut cairan cryogen (baca:
krayjen).

2.) Kecepatan difusi gas paling cepat; padat paling lambat


Konsekuensi lain dari partikel-partikel gas yang berjarak renggang
adalah gas mampu menyebar (diffuse) dengan cepat. Partikel-
partikel cairan berjarak lebih rapat sehingga difusi lebih lambat,
sementara pada gas difusi sulit terjadi, namun bisa dilakukan,
biasanya pada temperatur tinggi.
Contoh difusi pada gas, cair, dan padatan:
Jika Anda duduk berdekatan dengan seseorang yang mengenakan
parfum, maka Anda dengan segera akan mencium bau wanginya.
Jika Anda melewati restoran iga bakar, maka Anda bisa mencium
sedapnya aroma masakan yang khas. Jika Anda melewati bengkel
cat, maka Anda akan berusaha cepat-cepat berlalu karena tidak tahan
dengan bau menyengatnya. Peraturan tentang larangan merokok di
tempat umum merupakan upaya pemerintah untuk melindungi non
perokok dari bahaya asap rokok, karena sekalipun tidak merokok
apabila berdekatan dengan perokok akan dipaksa menghirup racun
yang terkandung di dalam asap rokok. Contoh-contoh ini merupakan
bukti bahwa partikel-partikel gas menyebar (mendifusi) dengan
cepat. Hal ini dimungkinkan karena partikel-partikel gas saling
berjauhan sehingga memiliki keleluasaan untuk bergerak.
Karena nila setitik, maka rusaklah susu sebelanga.
Peribahasa tersebut merupakan kiasan yang mengandung makna
kesalahan (walaupun dirasa kecil) bisa menghapus banyak kebaikan.
Kalau dilihat dari mana sebenarnya, peribahasa tersebut memberikan
gambaran tentang difusi pada cairan. Partikel-partikel dalam cairan
terpisah pada jarak yang relatif dekat, namun masih memungkinkan
gerakan. Karena jarak antar partikel cairan lebih dekat daripada antar
partikel gas, maka difusi pada cairan berlangsung lebih lambat
daripada difusi pada gas.
Partikel-partikel penyusun zat padat terkemas sangat rapat sehingga
sulit sekali bergerak, namun pada kondisi tertentu partikel-partikel
padat mempunyai energi yang cukup tinggi sehingga mampu
bergerak. Misalnya logam besi, atom-atomnya terkemas dalam
struktur kristal bcc (body centered cubic). Jika sepotong baja
dibungkus dengan serbuk arang kemudian dipanaskan hingga
temperatur sekitar 9000C (karbon dan besi masih berwujud padatan),
maka atom-atom karbon dalam arang mempunyai energi cukup
tinggi untuk bergerak masuk ke dalam struktur kristal besi. Atom-
atom karbon yang berukuran 0,071 nm menyusup diantara atom besi
yang berukuran 0,124 nm. Mekanisme larutan padat dimana atom
terlarut berada di antara atom-atom terlarut disebut larutan padat
intersisi. Proses difusi atom karbon ke permukaan baja diterapkan
dalam perlakuan panas yang disebut pengerasan permukaan (surface
hardening). Pada proses ini permukaan baja bersifat lebih keras dari
pada bagian dalam karena kadar karbon bagian permukaan lebih
besar daripada bagian tengah. Komponen mesin tertentu, misalnya
poros, harus bersifat keras di permukaan untuk menahan gesekan
tetapi cukup ulet di tengah untuk menahan beban kejut.

3.) Zat cair mempunyai tegangan muka


Di bagian dalam, molekul-molekul cairan tertarik ke semua arah
sama kuat. Di bagian permukaan, tarikan molekul ke dalam tidak
diimbangi dengan tarikan molekul ke arah permukaan, sehingga
terdapat resultan gaya tarik ke bawah. Gaya ini yang menyebabkan
cairan mempunyai tegangan muka. Karena tegangan muka
disebabkan oleh tarikan antar molekul, maka semakin kuat ikatan
antar molekul tegangan muka semakin besar.
Pengaruh gaya antar molekul juga bisa diamati dari viskositas zat.
Semakin kuat ikatan antar molekul cair, maka molekul-molekul
semakin terhambat ketika mengalir atau viskositasnya semakin
tinggi.

4.) Zat cair mempunyai tekanan uap


Pada suatu cairan, terdapat molekul-molekul yang mempunyai
energi kinetik yang cukup tinggi sedemikian hingga molekul-
molekul tersebut mampu melompat dari fase cair memasuki fase
uap. Semakin tinggi temperatur, semakin banyak molekul molekul
berenergi kinetic yang cukup tinggi.
Apabila cairan ditempatkan di wadah tertutup, maka molekul-
molekul uap mengumpul di atas cairan. Molekul-molekul tersebut
bergerak, menabrak dinding sehingga ada yang kehilangan energi
kinetiknya sedemikian kembali lagi ke fase cair atau terkondensasi.
Tekanan yang ditimbulkan oleh molekul-molekul uap terhadap
dinding disebut tekanan uap. Pada kesetimbangan, jumlah molekul
yang menguap sama dengan jumlah molekul yang mengembun.
Besarnya tekanan uap pada kondisi kesetimbangan tergantung pada
temperaturnya. Jika tekanan uap sama dengan tekanan atmosfer,
maka temperatur pada saat itu disebut titik didih normal (normal
boiling point). Contoh air mendidih pada 1000C, artinya pada suhu
tersebut tekanannya sama dengan 1 atm. Faktor yang mempengaruhi
tekanan uap:
a. Temperatur: untuk zat yang sama, temperature semakin tinggi
maka tekanan uap semakin besar.
b. Kekuatan ikatan antar molekul: makin lemah ikatan maka makin
mudah menguap suatu zat cair sehingga tekanan uapnya semakin
besar.

II.2. Perbedaan Zat


A. Pengertian Zat Padat, Cair, dan Gas

Zat padat adalah zat yang mempunyai bentuk dan volume tetap.
Dilihat dari susunan molekul dan ikatan antarmolekulnya, zat padat
mempunyai susunan molekul yang teratur dan gaya tarik-menarik
antarmolekulnya yang kuat. Contoh zat padat antara lain batu, meja, kapur
tulis, papan tulis, dan pensil.
Adapun zat cair adalah zat yang mempunyai volume tetap, tetapi
bentuknya selalu berubah-ubah mengikuti tempatnya. Dilihat dari susunan
molekul dan ikatan antarmolekulnya zat cair mempunyai susunan molekul
yang kurang teratur dan jarak antarmolekulnya yang agak renggang
sehingga gaya tarik menarik antarmolekulnya relatif lebih rendah
dibandingkan dengan zat padat. Contoh zat cair antara lain air sirop, air teh,
dan air mineral.
Gas adalah zat yang mempunyai bentuk dan volume yang tidak tetap.
Hal ini disebabkan karena susunan molekul-molekul gas sangat tidak teratur
sehingga gaya tarik-menarik antarmolekulnya sangat lemah. Contoh zat gas
adalah udara.
Zat padat, zat cair, dan gas tersusun dari beberapa molekul. Molekul
ini merupakan komponen pembangun suatu zat yang sangat aneh karena
molekul-molekul tersebut terus bergerak, kecuali pada suhu teoritis yang
disebut suhu nol mutlak. Suhu nol mutlak adalah suhu 0 K atau -273 C.
Tingkat panas suatu zat disebut suhu zat.

B. Susunan dan Gerak Partikel Suatu Zat

1. Partikel Zat Padat

Zat padat tersusun atas partikel-partikel yang teratur dan


mempunyai jarak antarpartikel yang sangat rapat. Gaya tarik- menarik
antarpartikel zat padat sangat kuat. Hal ini menyebabkan partikel tidak
dapat bergerak secara bebas untuk berpindah tempat. Keadaan ini
menyebabkan zat padat dapat mempertahankan bentuk dan volumenya
sehingga zat padat selalu mempunyai bentuk dan volume yang tetap.

2. Partikel Zat Cair


Berbeda dengan zat padat, zat cair mempunyai susunan partikel
yang kurang teratur dan kurang rapat dibandingkan susunan partikel
pada zat padat. Hal inilah yang menyebabkan partikel-partikel dapat
bergerak bebas untuk berpindah tempat. Akan tetapi, partikel-partikel
penyusun zat cair tidak dapat memisahkan diri dari kelompoknya.
Keadaan ini menyebabkan volume zat cair selalu tetap, walaupun
bentuknya selalu berubah mengikuti tempatnya.
3. Partikel Zat Gas
Pada zat gas, jarak antarpartikel sangat berjauhan sehingga gaya
tarik-menarik antarpartikel sangat lemah. Partikel- partikel ini
bergerak sangat bebas dan cepat dalam wadahnya. Hal ini
menyebabkan zat gas tidak dapat mempertahankan bentuk dan
volumenya sehingga bentuk dan volume zat gas selalu berubah
mengikuti ruang yang ditempatinya.

GAMBAR 2.1
(A) SUSUNAN PARTIKEL ZAT PADAT, (B) SUSUNAN
PARTIKEL ZAT CAIR, DAN (C) SUSUNAN PARTIKEL ZAT GAS

C. PERBEDAAN ZAT PADAT, CAIR, DAN GAS

NO ZAT PADAT ZAT CAIR ZAT GAS

1 Mempunyai bentuk Bentuk tidak tetap Tidak mempunyai


dan volume bergantung bentuk dan volume
tertentu. wadahnya, volume tertentu, bergantung
tertentu. tempatnya.

2 Jarak antarpartikel Jarak antarpartikel Jarak antarpartikel


sangat rapat agak renggang. sangat renggang.

3 Partikel-partikelnya Partikel-partikelnya Partikel-partikelnya


tidak dapat dapat bergerak dapat bergerak
bergerak bebas. bebas. sangat cepat.

4 Tidak dapat Sulit dimampatkan. Mudah


dimampatkan. dimampatkan.

5 Umumnya Mempunyai massa Mempunyai massa


mempunyai massa jenis sedang. jenis sangat kecil.
jenis besar.
II.3.DIAGRAM FASE PADA MATERI SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

A. Pengertian Sifat Koligatif Larutan

Sifat-sifat larutan, seperti halnya rasa, bau, dan warna bergantung


pada jenis zat terlarut. Larutan gula mempunyai rasa manis, beda halnya
dengan larutan cuka yang memiliki rasa asam. Tingkat kemanisan
maupun keasaman kedua larutan tersebut tergantung pada konsentrasi
atau kepekatannya. Larutan gula maupun cuka yang pekat tentu akan
memiliki tingkat kemanisan dan keasaman yang lebih tinggi jika
dibanding dengan larutan gula maupun cuka yang memiliki kepekatan
rendah.
Selain sifat yang pada jenis zat terlarut, ada beberapa sifat larutan
yang hanya tergantung pada konsentrasi partikel zat terlarut. Artinya
larutan yang berbeda akan mempunyai sifat sifat yang sama, dengan
syarat konsentrasi partikel zat terlarutnya harus sama. Contoh 0,5 mol
glukosa akan mempunyai sifat yang sama dengan 0,5 mol urea (jumlah
kedua partikel zat terlarut yaitu glukosa dan urea besarnya sama). Sifat
yang hanya tergantung pada jumlah partikel zat terlarut disebut sifat
koligatif larutan. Ada empat sifat koligatif larutan yaitu, penurunan
tekanan uap, penurunan titik beku, kenaikan titik didih, dan tekanan
osmosis. Salah satu aplikasi sifat koligatif larutan adalah pembuatan es
krim di mana harus di turunkan di bawah titik beku pelarut H2O yaitu
0oC dengan penambahan partikel zat terlarut seperti garam. Semakin
banyak garam yang ditambahkan ke dalam pelarut, maka titik beku
akan semakin rendah.

B. Diagram Fase atau Diagram P - T pada Pelarut H2O

Mengapa larutan (pelarut + zat terlarut) mendidih pada suhu yang


lebih tinggi dan membeku pada suhu yang lebih rendah dari pada
pelarutnya? Pertanyaan ini dapat dijelaskan secara teoritis dengan
membandingkan diagram fase pelarut dengan diagram fase larutannya.
Diagram fase atau biasa disebut juga diagram P - T adalah diagram
yang menyatakan hubungan antara suhu (T) dan tekanan P dengan
fase zat (padat, cair, dan gas). Diagram fase menyatakan batas-batas
suhu dan tekanan di mana suatu bentuk fase dapat stabil. Diagram fase
H2O dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Berikut penjelasan
diagram P - T dengan pelarut H2O:
1) Garis didih
Garis B - C pada gambar di atas disebut garis didih. Garis didih
merupakan transisi fase cair - gas. Setiap titik pada garis ini
menyatakan suhu dan tekanan di mana air akan mendidih. Seperti
yang kita ketahui bahwa titik didih tergantung pada tekanan gas di
permukaan. Pada tekanan 1 atm atau 760 mmHg, air mendidih
pada suhu 100oC. Jika terdapat tempat di bumi ini yang
mempunyai tekanan 4,58 mmHg, maka sudah dipastikan air akan
mendidih pada kisaran 0,0098oC.

2) Garis beku
Garis B - D pada gambar di atas disebut garis beku. Garis beku
merupakan transisi fase cair - padat. Setiap titik pada garis ini
menyatakan suhu dan tekanan di mana air dapat membeku (es
mencair). Pada tekanan 1 atm atau 760 mmHg, air membeku pada
suhu 0oC, dan jika terdapat tempat di bumi ini yang mempunyai
tekanan 4,58 mmHg, maka sudah dipastikan air akan membeku
pada kisaran 0,0098oC. titik beku dan titik didih pada tekanan 4,58
mmHg mempunyai nilai yang sama, artinya titik didih = titik beku
pelarut. Perhatikan bahwa tekanan permukaan berpengaruh besar
pada titik didih, tetapi sangat kecil pengaruhnya terhadap titik
beku. Garis B - D nyaris vertikal terhadap sumbu suhu.
3) Garis sublimasi
Garis A - B pada diagram fase di atas disebut garis sublimasi.
Garis sublimasi merupakan transisi fase pada gas. Setiap titik pada
pada garis sublimasi menyatakan suhu dan tekanan di mana zat
padat dan uapnya dapat menyublim.
4) Titik tripel
Perpotongan antara garis didih dengan garis beku dan garis
sublimasi disebut titik tripel. Titik tripel air adalah 0,0098oC pada
tekanan 4,58 mmHg. Pada titik tripelnya, ketiga bentuk fase, yaitu
padat, cair, dan gas berada dalam kesetimbangan.

C. Diagram Fase atau Diagram P - T pada Larutan


Larutan mempunyai tekanan uap lebih rendah dari pada pelarut
murninya (dalam hal ini air) yang dinyatakan sebagai. Oleh karena itu
garis didih dan garis beku larutan berada di bawah garis didih dan
garis beku pelarutnya. Penurunan tekanan uap tersebut berpengaruh
terhadap titik didih dan titik beku larutan. seperti yang tampak pada
diagram P - T larutan di atas, tekanan uap larutan belum 760 mmHg
pada suhu 100oC. oleh karena itu belum mendidih. Larutan akan
mendidih pada suhu di atas 100oC yaitu ketika tekanan uapnya
mencapai 760 mmHg. Dengan kata lain, larutan mempunyai titik didih
lebih tinggi dari pada pelarutnya. Sebaliknya, penurunan tekanan uap
menyebabkan titik beku larutan lebih rendah dibandingkan dengan
titik beku pelarutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Pratama, Adit. 2012. (Online). Sifat Zat Berdasarkan Wujudnya.


http://adith68.pun.bz/sifat-zat-berdasarkan-wujudnya.xhtml diakses tanggal 1
Desember 2013 pukul 19.33 WIB
Fajrin,Alfinura. 2013.(Online). Rahasia Struktur Zat dan Ikatan Kimia.
http://infookesehatan.blogspot.com/2013/11/struktur-zat-dan-ikatan-kimiarahasia.
html diakses tanggal 1 Desember 2013 pukul 19.36 WIB

Anonim. 2012. (Online). Diagram Fase Pada Materi Sifat Koligatif Larutan.
http://kawanbola.blogspot.com/2012/07/ jejaring-kimia_28.html diakses
tanggal 1 Desember pukul 19.45 WIB