Anda di halaman 1dari 144

1986

DEPARTEMEN KESEHATAN RCPUBLIK INOON

HAK CIPTA DEPARTEMEN ILESEHATAN REPUBLIK. INDONESIA

HAK PENERBIT DIREKTORAT JENDERAL PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN

t

iii

KATA PENGANTAR

Pembangunan kesehatan yang merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional dilaksanakan dengan tujuan tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut obat merupakan salah satu unsur yang penting. Oleh karena itu dalam rangka pelaksanaan pembangunan di bidang kesehatan tersebut perlu tersedia obat dala~njenis dan jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat, aman, berkhasiat dan dengan mutu yang memenuhi

persyaratan yang ditetapkan, tersebar merata serta terjangkau oleh masyarakat luas. - Pembangunan hi bidang obat dilaksanakan dengan tujuan:

1. Penyediaan obat dalam jenis dan jumlah yang cukup sesuai de- ngan kebutuhan nyata masyarakat, aman, berkhasiat dan de- ngan mutu yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan, ter- sebar merata serta terjangkau oleh masyarakat.

2. Melindungi masyarakat dari k'esalahgunaan atau penyalahgunaan

obat, yang dapat merugikan atau membahayakan kesehatan, ke- selamatan atau keamanan rakyat. 3. Memanfaatkan potensi nasional di bidang obat untuk mtnun- jang pembangunan di bidang ekonomi dan menuju tercapainya kemandirian-di bidang obat. Obat Tradisiofial yang merupakan warisan budaya nenek mo- yang dan obat dari bahan alam pada umumnya saat ini tetap di- gunakan oleh masyarakat secara luas. Oleh karena itu dalam upaya pembangunan di bidang obat harus pula mencakup pembangunan di bidang obat tradisional dan obat dari bahan alam pada umum- nya.

Kenyataan menunjukkan bahwa penggunaan obat tradisional dan obat dari bahan alam pada umumnya akhir-akhir ini meng- alami peningkatan. Peningkatan penggunaan obat tradisional dan obat dari bahan alam oleh masyarakat meningkatkan pula penggu- naan simplisia, seperti ternyata dari data penggunaan simplisia oleh perusahaan obat tradisional berikut ini:

Tahun 1972

 

53.773,3 1 kg

Tahun 1973

.

54.772,06 kg

Tahun

1974

67.432,41 kg

Tahun 1975

 

58.144,30 kg

Tahun 1976

97.327,32 kg

Tahun

1977

101.059,75 kg

Taliun 1978

171.648,13 kg

akan simplisia tersebitt bilka~i

hanya disebabkan ole11 peningkatan proditksi dau penggunaan obat tradisional atau obat dari bahan alam di dalam ncgcri. tetapi di- sebabkan pula oleh meningkatnya permintaan akan simplisia ole11 pasaran internasional. Sebagai gambaran mengenai ha1 tersebut dapatlali dike~nukakan data tentang jenis-jenis simplisia Indonesia yang memasitki pasaran internasional, di antaranya adalah :

Namun

peningkatan

keperluan

1. Republik Federasi Jerinan

Di

a.

Lidali buaya (Aloe);

b.

Adas nianis (Anisi Fructus);

c.

Kulit & akar kapas (Gossypii Cortex atau Radix);

d.

Biji pinang (Arecae Semen):

e.

Kulit kina (Cinchonae Cortex);

f.

Daiui

kayu piltih (Eucalypti Folium) ;

g

Daun kumis kucing (Ortosiphonis Folium);

h.

Rimpang jahe (Zingiberis Rhizoma);

i.

Akar pule pandak (Rauvolfiae serpentinae Radix);

j.

Daun poko (Menthae Folium);

k.

Kunyit (Curcumae domesticae Rhizoma);

1.

-~emulawak(Curcumae xanthorrh2zae Rhizorna);

m.Kulit manisjangan (Cinnamomi Cortex);

n.

Meniran (Phyllanthi niruri Herba);

o.

Kapulaga (Cardamomi Fructus);

p.

Sambiloto (Andrographidis Herba);

2. Jepang

Di

a.

Kulit manisjangan (Cinnamomi Cortex);

g.

Cengkeh (Caryophylli Flos);

c.

Kapulaga (Cardamomi Fructus);

d.

Adas manis (Anisi Fructus);

e.

Adas (Foeniculi Fructus);

f.

Ketumbar (Coriandri Fructus);

g.

Lempuyang wangi (Zingiberis aromaticae Rhizoma);

h. Temulawak (Curcumae xanthorrhizae Rhizoma);

i. Kunyit (Curcumae dornesticae Rhizoma);

j. Kulit kina (Cinchonae Cortex):

k. Akar pule pandak (Rauvolfiae serpentinae Radix);

Memperhatikan data tersebut jelaslah bahwa perlu dilakukan ilpaya peningkatan produksi serta mutu simplisia. Sebagainlana diketahi~ibahwa simplisia nabati yang merupakan simplisia yang paling banyak digitnakan di Indonesia masih bersumber dari :

1. Ti1mb~iIi-ti~mbi11~a11liar 2. Tun~bi~Ii-ti~mbuhanturnpangsari 3. Ti11nbuI~-ti1mbi11~a11pcrkebunan. Ditambah lagi dengan masih belum adanya cara-cara pelnbuatan/ penyediaan simplisia yang seragam atau baku, milt11simplisia yang dihasilkan sangat beranekaragam, hingga sulit memenuhi persyarat- an standar yang berlaku. Oleh karena itu dalam rangka peningkatan produksi dan mutu sinlplisia selain diperlukan buku panduan tentang penibudidayaan tumbuh-tumbuhan obat perlit pula disusun buku panduan tentang cara-cara petilbuata~isimplisia. Buku panduan pembuatan simplisia ini terdiri atas lebih dari sa- tu jilid, dan jilid I ini terdiri atas dua bagian, yaitu bagian per- tama memuat cara-cara pembuatan si~nplisianabati pada ilmilm- nya, sedang bagia~iyang kedua ~~ILISLISmemuat cara-cara pembuat- an atau penyediaan silnplisia minyak atsiri. Pemisahan qienjadi dua bagian ini perlu dilakukan karena pembuatan simplisia minyak atsiri memerlukan cara yang agak sedikit lebih rumit dibandingkan dengan pembuatan sitnplisia yang lain, hingga memerlukan uraian khusus. Dengan adanya buku panduan tentang cara-cara pe~nbuatan simplisia ini diharapkan bahwa simplisia di Indonesia dapat diting- katkan mutunya, hingga dapat memenuhi persyaratan yang dite- tapkan. Dengan deniikian di samping akan dihasilkan obat tra- disional atau obat dari bahan alam yang memenuhi standar mutu yang ditentukan, simplisia tersebut akan dapat bersaing dengan simplisia-siniplisia serupa dari negara lain, hingga dapat meningkat- kan ekspor simplisia yang bersangkutan dari tanah air kita ini. Dan dengan peningkatan ekspor simplisia ini akan dapat menunjang pembangunan yang saat ini sedang kita lakukan, khususnya pem- bangunan di bidang ekonomi.

Jakarta.

1

Juli

1985.

Ketila Panitia.

Susunan Panitia Penyusunan Buku Cara Pembuatan Simplisia

Ketua

:

Dr. Midian Sirait

Wakil Ketua

:

Drs. Djoko Hargono

Sekretaris

:

Drs. Farouq

Seksi Si~ilplisia

Ketua

:

Prof. Dr. Sutarjadi

Anggota

:

1. Prof. Dr. F. G Winarno

 

2.

Dr. Sudiro Sutarno

3. Drs. Djoko Hargono

4.

Drs. R.B. Sutrisno

5.

Drs. Udin Syamsudin T.

6. Hartono.

Seksi Minyak Atsiri

Ketua

:

Dr. Charles J.P. Siregar, M.Sc.

Anggota

:

1. Dr. Sidik

2. Dr. Musdarsono

3. Drs. Farouq

4. Drs. Wahyo Djatmiko

5. Drs. Zainal Arifin

vii

SIMPLISIA

Pendahuluan

Penlbuatan simplisia secara umuln

1.Bahanbaku

2. Dasar penlbuatan

3. Tahapan pembuatan

a. Pengumpulan bahan baku

b. Sortasi basah

c. Pencucian

d. Perajangan

e. Pengeringan f. Sortasi kering ir . Pengepakan dan penyimpanan 11. Pemeriksaan mutu

Pembuatan si~nplisiasecara khusus

1. Perlakuan khusus

2. Pembuatan tiap jenis simplisia

Adas

Bangle

Bidaraupas

Biji Makassar

Brotowali

Cabe jawwa:

DaunAvokad Daun Jambu biji Daun Kemuning

;

- Daunsendok Jahe Jaringau Jinten putih Kapulaga Kayuputih Merica bolong Kayurapat Kayu angin Kedawung Kejibeling Kemukus Kencur Ketumbar

,

viii

6

I1.

Lacl;~ L~tngku.~s Lempuy ang gajah Lempuyang pahit Lempuyang wangi Meniran Pacar cina Patikan kcbo Pcgagan Poko Pulasari Pulc Saga Sariawan Secang Sctnb~tng

Tapak linian

Tetllttlli tarn

Temitkunci

Tctiiul:~wak

Tcmpuyung

Timi

MINYAKATSIRI

Pendahuluan Sifat umum Cara pembuatan Penyulingan

Penyulingan dengan air Penyulingan dengan air dan uap Penyulingan dengan uap Ekstraksi dengat1 pelarut mudah menguap Pembuatan dengan lemak padat Pembuatan dengan lemak tanpa pemanasan Pembuatan dengan lemak panas Ekspresi Pemurnian Penyulingan kembali Penyulingan bertingkat Penurunan suhu Penghabluran bertingkat Menghilangkan komponen dengan reaksi kimia

:

.

7

Pengujian mutu Uji organoleptik Uji sifat fisik dan kimia Penleriksaan pendahuluan Bobotjenis Indeks bias Rotasi optik Kelari~tandalam etanol Penentutrl\ Ik,mak Penyimpanan dan pengawetan minyak atsiri Standar persyaratan mutu I . Minyak akarwangi 3. Minyak kayuputih 3. Minyak nilani

a

4 . Millyak cendana

5. Minyak sereh 6.Minyakdaun cengkeh 7. Minyak pala

ix '

 

121

121

122

122

122

124

125

126

126

.

.

127

128

129

129

130

130

131

131

7

PENDAHULUAN

1. SIMPLISIA

I

!

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat

I I

yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinya- takan lain simplisia merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia dapat berupa simplisia nabati, simplisia llewani dan simplisia pelik- an atau mineral. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanarnan utuh, ba- gian tanaman atau eksudat tananian. Yang dimaksud dengan eksudat tanaman ialah isi sel yang secara spontan keluar dari ta- naman atau yang dengan c,ara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau at-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya. Simplisia hewani ialah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia mumi. Simplisia pelikan atau mineral ialah simplisia yang berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telali diolah dingan cara sederhana dan belum berupa zat kimia mumi. Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan mau-

pun

kegunaannya, maka simplisia harus memenuhi persyaratan

minimal. Dan untuk dapat memenuhi persyaratan

sebut, ada beberapa faktor yang berpengaruh, antara lain adalah:

minimal ter-

1. Bahan baku simplisia

2. Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan baku simplisia. 3. Cara pengepakan dan penyirnpanan simplisia. , Agar simplisia memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan, maka ketiga faktor tersebut harus memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan.

PEMBUATAN SIMPLISIA SECARA UMUM I. Bahan baku

Tanatnan obat yang merijadi si~mbersimplisia nabati. me-

ri~pakan salah satu faktor yang dapat niempengari~lii nii~tn simplisia. Scbagai sumber simplisia, tanaman obat dapat berupa turn-

bulian

liar atau berupa tana~iiau biididaya. Tu~nbuhan liar

adalah

tumbuhan

yang

tumbi~li dengan sendirinya

di hi~tan

atau di tempat lain, atail tanaman yang sengaja ditanam dc- ngan tujuan lain, misalnya sebagai tanaman hias. tanaman pagar. tetapi bukan dengan tujuan ilntuk memproduksi simplisia.

Tanaman budidaya adalah tanaman yang sengaja ditanam 1111- tuk ti~jilan produksi simplisia. Tanaman bildidaya daprtt di- perkebiuikan secara luas, dapat diusahakan oleh peta~iisecara kecil-kecilan berupa tanaman tumpang sari atail Taman Obat Keluarga. Taman Obat Keluarga adalah pemanfaatan pek:~- rangan yang sengaja diyilnakan untitk menanam tanaman obat. Talnan Obat Keluarga selain berti~ji~an~~ntukdijadikan tem- pat memperoleh ballan baku simplisia. dapat berfungsi pula sebagai taman hias, taman gizi, tanlan buah-buahan, pagar pe karangan dan sebagainya. Tumbulian liar umumnya kurang baik untuk dijadikan sum- ber siniplisia jika dibandingkan dengan tanaman budidaya, ka- , rena simplisia yang diliasilkan mutunya tidak tetap. Hal ini ten~tarnadisebabkan :

1. Umur tirmbuhan atau bagian tumbulian yang dipanen tidak tepat dan berbeda-beda. Umur tumbuhan atau bagian tuni- bullan yang dipanen berpengarull pada kadar senyawa aktif. Ini berarti bahwa mutu si~nplisiayang dihasilkan sering tidak sama, karena umur pada saat panen tidak sama. 3. Jenis (Species) tu~nbuhanyang dipanen sering kilrang diper- hatikan. sehingga simplisia yang diperoleh tidak sama. Con- toll pada Rasi~kangin (Usnea sp.) bila diperhatikan dapat di- pisahkan menjadi 3 jenis Usnea. Sering juga terjadi kekeliruan dalarn menetapkan suatu jenis tumbuhan, karena dua jenis tumbulian dalam satu lnarga (ge- nus) sering mempunyai bentitk morfologi yang sama. Untuk itir pengumpul liarus seorang yang ahli atau berpengalaman dalaln ~nengenaljenis-jenis tumbuhan. Perbedaan jenis tum- buhan akan memberikan perbedaa~ipada kandungan senyawa ' aktif, yang berarti niuti~simplisia yang diliasilkan akan ber- beda pula.

3. Lingkungan tempat tunibuh yang berbeda. s ring mengaki- batkan perbedaan kadar kandungan senyawa akt~t. Pertum- buhan tuii~birliandipcngarulii tinggi tempat. keadaan tanall dan cuaca. Peri~sahaanobat tradisional yang menggunakan simplisia berasal dari tumbuhan liar. sclain 11ii1ti1yang berbeda, sering pula menye- babkan harga yang bervariasi. Usaha membirdidayakan tanama~l obut lintilk memenuhi keperluan simplisia, diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Keseragaman ilmur pada saat pa- nen. lingkungan tempat tirmbirli dan jenis yang benar dapat di- tentukan dan diatirr sesi~aidengan tirjuan i~ntukmemperoleh milt11 simplisia yang seragam. Selain itu, tanaman budidaya da- pat ciiusalrakan untitk meningkatkan rni~ti~sinlplisia dengall ja- Ian:

1. Bibit dipilih i~ntiikmendaputkan tanaman irtiggi~l.sehingga simplisia yang ciihasilkan memiliki kandirngan senynwa aktif yang tinggi. 3. Pengolahan tanah. penieliliaraan perniipirk;~ndan perlindung- an tanaman dilakukan dcngan saksania dan bila mi~ngkin menggunakan teknologi tepat guna.

7

2. Dasar pe~iibuata~i

Sii~zplisiutlihllut detzgui1 c'uru11cilg~riizgut1

Pe~libiratansimplisia tiengan cara ini pengeringannya dilaku- kan dengun cepat. tetapi pada suhu yang tidak tcrlalu tinggi. Pc- ngeringan yang ciilakukan dengan waktu lania akan mengakibat- kan siriiplisia yang diperoleh diti~mbuhikapang. Pengeringan yang dilakukan pada suhu terlali~tinggi akan mengakibatkan perubahan kimia pada kandi~ngansenyawa aktifrlya. Untuk niencegah ha1 tcrsebut. untitk bahan si~nplisiayang me~nerlukan perajangan per111 diatur perajangannya, sehingga diperoleh tebal irisan yang pada pengeringan tidak ~nengalariiikerusakan.

Sii?zplisiudibliat dellgun proses ferilzciltu.si

Proses fernientasi dilakukan dengan saksama. agar proses ter- sebut tidak berkelanjutan ke arah yang tidak diinginkan.

Sii?zplisiatlibirut deilgatl proses kll~rslis

Pembuatan

simplisia

dengan

cara penyulingan, peiigentalan

eksudat nabati. pengeringan sari air dan proses khusus lainnya dilakukan dengan berpegang pada prinsip bahwa sitnplisia yang dihasilkan liarus memiliki mutu sesuai dengan persyaratan.

Simplisia pada proses pem bzratan nzenzerlztkari air

Pati, talk dan sebagainya pada proses pembuatannya memer- lukan air. Air.yang digunakan harus bebas dari pencemaran ra-

cun serangga, kuman patogen, logani berat dan lain-lain.

3. Tahapan pembuatan Pada utnumnya petnbuatan simplisia melalui tahapan seperti berikut: Pengu~npulanballan baku, sortasi basah, pencucian, pe- rajangan, pengeringan, sortasi kering, pengepakan, penyimpanan dan pemeriksaan mutu. a. Pengumpulan bahan baku Kadar senyawa aktif dalarn suatu simplisia berbeda-beda antara lain tergantung pada :

1. Bagian tanaman yang digunakan 2. Umur tanaman atau bagian tanaman pada saat panen 3. Waktu panen 4. Lingkungan tempat tumbuh. Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pernbentuk- an senyawa aktif di dalam bagian tanaman yang akan dipa- nen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tanaman ter- sebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar. Senyawa aktif terbentuk secara maksimal di dalam bagian ta- naman atau tanaman pada umur tertentu. Sebagai contoh pa- da tanaman Atropa belladonna, alkaloid hiosiamina mula- mula terbentuk dalam akar. Dalam tahun pertama, pemben- tukan hiosiamina berpindah pada batang yang masih hijau. Pada tahun kedua batang mulai berlignin dan kadar hiosia- mina mulai menurun sedang pada daun kadar hiosiamina ma-

kin meningkat. Kadar alkaloid hios'amina tertinggi dicapai dalam pucuk tanaman pada saat tanaiIan berbunga dan kadar

alkaloid menurun pada saat tanaman berbualz dan niakin turun ketika buah makin tua. Contoh lain, tanaman Mentha piperita muda mengandung mentol banyak dalanl daunnya. Kadar rninyak atsiri dan mentol tertinggi pada daun tanaman ini dicapai pada saat tanaman tepat akan berbunga. Pada Cinnamornunz camphors, kamfer akan terkumpul dalam kayu tanaman yang telah tua. Penentuan bagian tanaman yang di-

kumpulkan dan waktu pengumpulan secara tepat memerlu- kan penelitian. Di samping waktu panen yang dikaitkan de- ngan umur, perlu diperhatikan pula saat panen dalam sehari. Contoh, simplisia yang mengandung minyak atsiri lebih baik dipanen pada pagi hari. Dengan demikian untuk menentu-

,

kan waktu panen dalam sehari perlu dipertimbangkan stabili- tas kimiawi dan fisik senyawa aktif dalam simplisia terhadap panas sinar matahari.

Secara garis besar, pedoman panen schagai Iwfikut :

1. Tanaman yang pada saat panen diambil bjjinya yang telah tua seperti kedawun-g (Parkia rosbbrgii), pengambilan biji ditandai dengan telah mengeringnya buah. Sering pula pe- metikan dilakukan sebelum kering benar, yaitu sebelum buah pecah secara alami dan biji terlempar jauh, misal ja- rak (Ricinus cornrnunis). ' ?./Tanaman yang pada saat panen diambil buahnya, waktu pengambilan sering dihubungkan dengan tingkat kemasak- an, yang ditandai dengan terjadinya perubahan pada buah seperti perubahan tingkat kekerasan misal labu merah (Cu- curbita n~oscllata).Perubahan warna, misalnya asam (Ta- rnarindus indica), kadar air buah, misalnya belimbing wuluh (Averrhoa belimbi), jeruk nipis (Citrui aurantifolia) per- ubahan bentuk buah, misalnya mentimun (Cucurnis sati- vus), pare (Mornordica charantia). 3. Tanaman yang pada saat panen diambil daun pucuknya pe- ngambilan dilakukan pada saat tanaman mengalami per- ubahan pertumbuhan dari vegetatif ke generatif. Pada saat itu penumpukan senyawa aktif dalam kondisi tinggi, se- hingga mempunyai mutu yang terbaik. Contoh tanaman yang diambil daun pucuk ialah kumis kucing (Orthosiphon starnineus). 4. Tanaman yang pada saat panen diambil daun yang telah tua, daun yang diambil dipilih yang telah membuka sem- puma dan terletak di bagian cabang atau batang yang me- nerima sinar matahari sempurna. Pada daun tersebut terja- di kegiatan asimilasi yang sempurna. Contoh panenan ini misal sembung (Blumea balsamifera). 5. Tanaman yang pada saat panen diambil kulit batang, peng- ambilan dilakukan pada saat tanaman telah cukup umur. Agar pada saat pengambilan tidak mengganggu pertumbuh- an, sebaiknya dilakukan pada musim yang menguntungkan pertumbuhan antara lain menjelang musim kemarau. 6. Tanaman yang pada saat panen diambil umbi lapis, peng- ambilan dilakukan pada saat umbi mencapai besar maksi- mum dan pertumbuhan pada bagian di atas tanah berhenti misalnya bawang merah (Allium cepa).

7. Tanaman yang pada saat panen diambil rimpangnya, peng- ambilan dilakukan pada musim kering dengan tanda-tanda mengeringnya bagian atas tanaman. Dalani keadaan ini rim- pang dalam keadaan beSar maksimuln. Panen dapat dilakukan dengan tangan, menggunakan alat

atau menggunakan mesin.

Dalan~ha1 ini ketrampilan pemetik

diperlukan, agar diperoleh simplisia yang benar, tidak tercam- pur dengan bagian lain dan tidak merusak tanaman induk. Alat atau mesin yang digunakan untuk memetik perlu dipilih yang sesuai. Alat yang terbuat dari logam sebaiknya tidak di-

gunakan bila diperkirakan akan merusak senyawa aktif sini- plisia seperti fenol, glikosida dan sebagainya. Cara pengambilan bagian tanaman untuk penibuatan sim- plisia dapat dilihat pada tabel I hal. 6.

Tabel L Bagian tanamm, can pengumpulan, kadat ah simpli

No

1.

2.

3.

Bagian tanaman

Kulit bhtang

Batang

Kayu

Cara pengumpulan

Dari batang utama dan cabang, di- kelupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu; untuk kulit batang mengandung minyak atsiri atau go- longan snyawa fenol digunakan alat pengelupas bukan logam.

Dari cabang, dipotong-potong dengan panjang tertentu dan diameter cabang tertentu.

Dari batang atau cabang, dipotong kecil atau diserut (diagu) stelah di- kelupas kulitnya.

4. Tua atau muda (daerah pucuk), dipe. -tik dengan tangap satu persatu.

5. Kuncup atau bunga mekar atau mah- kota bunga, atau daun bunga, dipetik dengan tangan.

Pucuk berbunga; dipetik dengan ta- ngan (mengandung daun muda dan bunga).

Dari bawah permukaan tanah, dipo- tong-potong dengan ukunn tertentu.

Dicabut, dibersihkan dari akar; di- potong melintang dengan ketebalan tertentu.

Masak,hampir masak; dipetik dengan tangan.

10. Buah dipetik; dikupas kulit buahnya dengan mengupas menggunakan ta- ngan, pisau, atau mmggilas, biji di- kumpulkan dan dicuci

11. Seperti biji, kulit buah dikumpulkan dan dicuci

Daun

Bunga

6. Pucuk

7. Akar

@ Rimpang

9. Buah

Biji

Kulitbuah

Kadar

air

simplisia

<lo%

<

10%

< 10%

<

5%

a

< 54:.

< 8%

< 10%

< 8%

< 8%

< 10%

< 8%

-

b. Sortasi Basah Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotor- an atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. Mi- ' salnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, ba- tang, daun, akar yang telah rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah mengandung bermacam-macam mikro- ba dalam jurnlah yang tinggi, oleh karena itu pembersihan simplisia dari tanah yang terikut dapat mengurangi jumlah mikroba awal.

c. Pencucian Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pe- ngotoran lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencuci- an dilakukan dengan air bersih, misalnya air dari mata air, air sumur atau air PAM. Bahan simplisia yang mengandung zat yang mudah larut di dalam air yang mengalir, pencucian agar dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Menurut Frazier (1978), pencucian sayur-sayuran satu kali dapat menghilangkan 25% dari jumlah mikroba awal; jika dilakukan pencucian sebanyak tiga kali, jumlah mikroba yang tertinggal hanya 42% dari jumlah mikroba awal. Pencucian tidak dapat membersihkan simplisia dari semua mikroba karena air pen- cucian yang digunakan biasanya mengandung juga sejumlah mikroba. Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah rnikroba awal simplisia. Misalnya jika air yang diguna- kan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang ter- dapat pada permukaan bahan tersebut dapat menipercepat pertumbuhan mikroba. Bakteri yang umuln terdapat dalam air adalah Pseudomonas, Proteus, ,2licroc occ,rts, Bacillrts, Streptococcus, Enterobacter dan Esclzericl~ia.Pada siinplisia akar, batang atau buah dapat pula dilakukan pengupasan ku. lit luamya untuk mengurangi jumlah mikroba awal karena se- bagian besar jumlah mikroba biasanya terdapat pada permu- kaan bahan simplisia. Bahan yang telah dikupas tersebut mungkin tidak memerlukan pencucian jika cara pengupasan- nya dilakukan dengan tepat dan bersih.

9

d. Perajangan Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses pe- rajangan. Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mem-

permudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajang tetapi dijetnur dalam keadaan utuh selama 1 hari. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajang kl~usus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki. Sebagai contoh suatu alat yang disebut RASINGKO (perajang singkong) yang dapat digunakan untuk merajang singkong atau bahan lainnya sampai ketebalan 3 mm atau lebih. Alat ini juga dapat digunakan untuk mera- jang bahan simplisia yang berasal dari akar, utnbi, rimpang dan lain-lain.

RASINGKO

Perajang singkong (Rasingko) merupakan alat perajang ubi. Alat , ini berkapasitas olah 150 - 200 kg per jam. Rasingko digerakkan dengan pedal dan rantai sepeda yang menggunakan tenaga manusia (kaki).

Gambar 2.

ALPA KL '80

Alat pengupas kulit (Alpa KL) '80 merupakan alat pengupas kulit biji seperti kedelai, saga, kecipir dan lainnya. Alat ini mempunyai kapasitas olah 150 - 700 kg per jam. Alpa KL '80 digerakkan de- ngan motbr bensin atau listrik yang berdaya 5 PK, 3000 RPM.

Semakin tipis bahan yang akan dikeringkan, semakin cepat

pengi~apan air,

sehingga

mempercepat

waktu pengeringan.

Akan tetapi irisan yang terlalu tipis juga dapat menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah me- nguap. sehingga memyengaruhi komposisi. \.au dan rasa yang diinginkan. Oleh karena itu bah~~nsimplisia \~,pcrtitemula- wak, temu giring, jahe, kencur dan bahan scjcnis lainnya di- hindari perajangan yang terlalu tipis i~ntuknlencegah ber- kurangnya kadar minyak atsiri. Selama perajangan seharusnya jumlah mikroba tidak bertambah. Penjemuran sebeluln perajangan diperlukan untuk mengu- , rangi pewarnaan akibat reaksi antara bahan dan logam pisau. Pengeringan dilakukan dengan sinar matahari selama satu hari.

e. Pengeringan Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak,sehingga dapat disimpan dalam wak- tu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan meng- hentikan reaksi enzimatik- akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia. Air yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar tertentu dapat merupakan media pertumbuhan kapang dan jasad renik lainnya. Enzim tertentu dalam sel, masih dapat bekerja, me- nguraikan senyawa aktif sesaat setelah sel mati dan selama bahan simplisia tersebut masih mengandung kadar air terten- Atu. Pada tumbuhan yang masih hidup pertumbuhan kapang dan reaksi enzimatik yang merusak itu tidak terjadi karena adanya keseimbangan antara proses-proses metabolisme. yakni proses sintesis, transformasi dan penggunaan isi sel. Keseirn- bangan ini hilang segera setelah sel tumbuhan mati. Sebelum tahun 1950, sebelum bahan dikeringkan, terhadap bahan simplisia tersebut lebih dahulu dilakukan proses stabilisasi yaitu proses untuk menghentikan reaksi enzimatik. Cara yang lazim dilakukan pada saat itu, merendam bahan simplisia de- ngan etanol 70 % atau dengan mengaliri uap panas. Dari hasil penelitian selanjutnya diketahui bahwa reaksi enzimatik tidak berlangsung bila kadar air dalam simplisia kurang dari 10%. Dengan demikian proses pengeringan sudah dapat menghenti- kan proses enzimatik dalam sel bila kadar airnya dapat men- capai kurang dari 10%. Untuk pembuatan simplisia tertentu proses enzimatik ini justru dikehendaki setelah pemetikan (pengumpulan). Dalam ha1 ini, sebelum proses pengeringan bagian tanaman dibiarkan dalam suhu dan kelembaban tertentu agar reaksi enzimatik dapat berlangsung. Cara lain dapat pula dilakukan dengan pe- ngeringan perlahan-lahan agar reaksi enzimatik masih berlang- sung selama proses pengeringan. Proses enzimatik disini ma- sih diperlukan karena senyawa aktif yang dikehendaki masih dalam ikatan kompleks dan baru dipecah dari ikatan kom- pleksnya serta dibebaskan oleh enzim tertentu dalam suatu reaksi enzimatik setelah tanaman itu mati. Contoh simplisia ini ialah vanili, buah kola dan sebagainya. Pada jenis bahan simplisia tertentu, setelah panen langsung dikeringkan. Proses ini dilakukan pada bahan simplisia yang mengandung senya- wa aktif yang mudah menguap. Penundaan proses pengering- an untuk bahan simplisia ini akan menurunkan kadar senya-

wa aktif tersebut dan berarti menurunkan mutu sitnplisia. Meskipun banyak ballan simplisia yang masih dapat ditunda pengeringannya, akan tetapi prinsipnya pengeringan sebaik- nya dilakukan segera setelah pengumpulan kecuali kalau di- kehendaki lain seperti diperlukannya tahap fermentasi seperti di atas. Pengeringan simplisia dilakukan dengan menggunakan sinar ma tahari atau menggunakan suatu alat pengering. Hal-ha1 yang perlu diperhatikan selama proses pengeringan adalah su- hu pengeringan, kelembaban udara, aliran udara, waktu pe- \ ngeringan dan luas permukaan bahan. Pada pengeringan ba- han simplisia tidak dianjurkan rnenggunakan alat dari plastik. Selama proses pengeringan bahan simplisia, faktor-faktor tersebut harus diperhatikan sehingga diperoleh simplisia ke- ring yang tidak mudah mengalami kerusakan selama penyim- panan. Cara pengeringan yang salah dapat mengakibatkan ter- jadinya "Face hardening", yakni bagian luar bahan sudah ke- ring sedangkan bagian dalamnya masih basah. Hal ini dapat disebabkan oleh irisan bahan simplisia yang terlalu tebal, su- hu pengeringan yang terlalu tinggi, atau oleh suatu keadaan lain yang menyebabkan penguapan air permukaan bahan jauh lebih cepat daripada difusi air dari dalam ke permukaan ter- sebut, sehingga permukaan bahan menjadi keras dan meng- hambat pengeringan selanjutnya. "Face hardening" dapat mengakibatkan kerusakan atau kebusukan di bagian dalarn bahan yang dikeringkan. Suhu pengeringan tergantung kepada bahan simplisia dan cara pengeringannya. Bahan simplisia dapat dikeringkan pada suhu 30" sampai 90°C, tetapi suhu yang terbaik adalah tidak melebihi 60°C. Bahan simplisia yang mengandung senyawa aktif yang tidak tahan panas atau mudah menguap harus di- keringkan pada suhu serendah mungkin, misalnya 30" sampai 45"C, atau dengan cara pengeringan vakum yaitu dengan me- ngurangi tekanan udara di dalam ruang atau lemari pengering- an, sehingga tekanan kira-kira 5 mm Hg. Kelembaban juga tergantung pada bahan simplisia, cara pengeringan, dan tahap tahap selama pengeringan. Kelembaban akan menurun selama I berlangsungnya proses pengeringan. Berbagai cara pengeringan telah dikenal dan digunakan orang. Pada dasarnya dikenal dua cara pengeringan yaitu pe- 7

I ngeringan secara alamiah dan buatan.

I I

Gambar 3

ALAT PENGERING TENDA SURYA

Alat pengering tenda surya adalah alat i~nt~tkmengeri~lgkanballan simplisia dengan energi surya berbentuk tenda atau kemah. Kapii- sitas alat tergantung dari jenis bahan yang dikeringkan. Kap:isitas alat 35 kg untuk irisan simplisia, dengan waktu pengeringan ckk- tip 8 - 10jam. Suhu pengeringan rata-rata 50°C.

Ganibar 4

ALAT PENJEMUR

Alat penjemur dirancang untuk mengeringkan simplisia dengan energi surya sebagai alternatip untuk menggantikan penjemuran cara tradisional di atas alas plastik, alas bambu, lantai semen atail tanah. Tujuannya agar lebih cepat kering, tidak terganggu hujan dan terhindar dari kontaminasi kotoran. Suhu rata-rata yang di- capai oleh alat ini adalah 48,S°C, dengan suhu maksimum 56,3"C ., dan suhu minimum 32,S°C. Suhu udara luar rata-rata adalah 333°C. Pengeringan dengan alat ini lebih cepat 60 persen dari pen- jemuran tradisional.

1. Pengeringan alamiah

Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalani b~igi- an tanaman yang dikeringkan, dapat dilakukan dua cara pe- ngeringan :

a. Dengan panas sinar matahari langsung. Cara ini dilakitkan untuk mengeringkan bafian tanaman yang relatif keras se- perti kayu, kulit kayu, biji dan sebagainya, dan rnengan- dung senyawa aktif yang relatif stabil. Pengeringan dengan sinar matahari yang banyak dipraktekkan di Indonesia me- rupakan suatu cara yang mudah dan murah, yang dilaku- kan dengan cara membiarkan balian yang telah dipotong- potong di itdara tcrbuka di atns tampah-tampah. tanpa

sepertl si~hi~,kelemba ban clan alir-

an ildara. Dengan cara ini kecepatan pengcringan sangat tergantung kepada keadaan iklim, sehingga cara ini hanya baik dilakukan di daerah yang irdaranya panas atait kelem- babannya rendah, serta tidak tur~mki~jan.Hi~janatau cua- ca yang mendung dapat memperpanjang waktit pengering- an sehingga memberi kesempatan pada kapang atail mikro- ba lainnya untltk tutnbuh sebeli~msimplisia tcrsebitt kc- ring. F'IDC (Food Tecl~nologyDevelopnient Center - IPB) telall merancang dan membuat suatu alat pengering dengan rnenggi~naka~isinar mataliari, sinar matahari tersebut di- tampung pada per~iiukaanyang gelap dengan sudi~tkemi- ringan tertetitu. Panas ini kemildian dialirkan kc atas rak- rak pengering yang diberi atap tembus cahaya di atasnya sehingga rnencegah bahan menijadi basah jika tiba-tiba tii- run hitja~i.Alat ini telah digunakan untuk niengeringkan singkong yang telah dirajang dengan demikian dapat pitla digunakan untuk mengeringkan simplisia.

b. Dengan diangin-angin dan tidak dipanaskan dengan sinar

~ilataharilangsung. Cara ini terutama digunakan itntilk me- ngeringkan bagian tanaman yang lunak seperti bunga, daun, dan sebagainya dan mengandilng senyawa aktif mu- dah menguap. Pada kedita cara tersebut, tempat pengeringan mempitnyai dasar berlubang-lubang seperti anyaman bambu, kain kasa. dan sebagainya. Umumnya dasar tenipat pengeringan tersebut bukan dari logam karenn logam akan bercaksi cl:~nnlcrusak w-q nyawa aktif tertentu. Lctak pengering juga diatur sehtngga niemungkinkan terjadinya aliran udara dari atas ke bawah atau

kondisi yang terkontrol

sebaliknya. Ini berarti bahwa bahan simplisia yang dikeringkan harus dillamparkan setipis mungkin di atas ternpat pengering- an clan di bawah tempat pengering diberi jarak tertentu de- ngali lantai atau dengan pengering di bawahnya sehingga me- rnt~ncki1lk~111tcrjadinya sirkulasi udara.

2. Pengeringan buatan Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengering- an dengan sinar matahari dapat diatasi jika melakukan penge- ringan buatan, yaitu dengan n~enggunakansuatu alat atau me- sin pengering yang suhu kelembaban, tekanan dan aliran udara nya dapat diatur. Prinsip penpesingan buatan adalah sebagai besikut: udara dipanaskan oleh si~atilsumber panas seperti lampu, kompor, mesin disel atau listrik, ~~darapanas dialir- kan dengan kipas ke dalam ruangan atau leniari yang berisi bahan yang akan dikeringkan yang telah disebarkan di atas rak-rak pengering. Dengan prinsip ini dapat diciptakan suatu alat pengering yang sederhana, praktis dan murah. dengan ha- sil yang cukup baik. Cara yang lain misalnya dengan menem- patkan bahan-bahan yang akan dikeringkan di atas pita atau ban berjalan dan nlelewatkannya melalui suatu lorong atau ruangan yang berisi udara yang telah dipanaskan dan diatur alirannya. FTDC telah Inerancang dan membuat suatu alat pengering yang disebut RINSALI '80 (pengering suhu ter- kendali) yang dapat digunakan untuk mengeringkan simplisia dengan suhu maksimu~n65°C. Dengan menggunakan pengeringan buatan dapat diperoleh simplisia dengan mutu yang lebih baik karena pengeringan akan lebih merata dan waktu pengeringan akan lebih cepat, tanpa dipengaruhi oleh keadaan cuaca. Sebagai contoh misal- nya jika kita membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari untuk penjemuran dengan sinar matahari sehingga diperoleh simpli- sia kering dengan kadar air 10 sampai 12%, dengan menggu- nakan suatu alat pengering dapat diperoleh simplisia dengan kadar air yang sama dalam waktu 6 sampai 8 jam. Daya tahan suatu simplisia selama pepyimpanan sangat ter- gantung pada jenis si~nplisia,kadar airnya dan cara penyim- panannya. Beberapa simplisia yang dapat tahan lama dalam penyimpanan jika kadar airnya diturunkan 4 sampai 870, se- dangkan simplisia lainnya rnungkin masih dapat tahan selama penyimpanan dengan kadar air 10 sampai 12%.

f. Sortasi kering

Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masill ada dan tertinggal pada sirnplisia kering. Proses ini dilakukan se- belunl sirnplisia dibungkus untitk kernudian disinlpan. Scperti halnya pada sortasi awal, sortasi disini dapat dilakukan de- ngan atau secara niekanik. Pada simplisia bentuk rimpang. se- ring jurnlah akar yang rnelekat pada rimpang terlampau besar dan harus dibuang. Demikian pula adanya partikel-partikel pasir, besi dan benda-benda tanah lain yang tertinggal harus dibuang sebelum silnplisia dibungkus.

g. Pengepakan dan Penyilnpanan

Sirnplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya ka-

rena berbagai faktor luar dan dalam, antara lain :

1. Cahaya : Sinar dari panjang gelombang tertentu dapat me- nimbulkan perubahan kimia pada simplisia, mi- salnya isomerisasi, polimerisasi, rasemisasi dan sebagainya.

2. Oksigen udara : Senyawa tertentu dalam simplisia dapat

mengalami perubahan kimiawi ole11 pengaruh oksigen udara terjadi oksidasi dan perubahan ini dapat berpengaruh pada bentuk simplisia, misal- nya, yang selnula cair dapat berubah menjadi kental atau padat, berbutir-butir dan sebagainya. 3. Reaksi kimia intern : perubahan kimiawi dalam simplisia

yang dapat disebabkan oleh reaksi ki~niaintern, misalnya oleh enzim, polimerisasi, oto-oksidasi dan sebagainya.

4. Dehidrasi : Apabila kelembaban luar lebih rendah dari sim- plisia, maka simplisia secara perlahan-lahan akan kehilangan sebagian airnya sehingga rnakin lama makin mengecil (kisut).

5. Penyerapan air : Simplisia yang higroskopik, misalnya agar- agar, bila disimpan dalam wadah yang terbuka akan menyerap lengas udara sehingga menjadi kempal, basah atau mencair (lumer).

: Pengotoran pada silnplisia dapat disebabkan

olch berbagai sumber, misalnya debu atau p,rsir. ekskresi hewan, bahan-bahan asing (misalnya tni- nyak yang tertunlpah). dan fragmen wadah (ka- rung goni). 7. Serangga: Serangga dapat menitnbulkan kerusakan dan pe- ngotoran pada simplisia, baik ole11 bentuk ulat- nya maupim ole11 bentuk dewasanya. Pengotor- an tidak hanya berupa kotoran serangga, tetapi jugs sisa-sisa metamorfosa seperti cangkang te- ll~~-.bekas kepompong, anyaman benang bung- kus kepompong. bekas kulit scl'angga dan seba- gainya. 8. Kapang : Bila kadar air dalam simplisia terlalu tinggi, ma- ka simplisia dapat berkapang. Kerusakan yang timbul tidak hanya terbatas pada jaringan simpli- sia, tctapi juga akan merusak susunan kimia zat

6. Pengotoran

yang

dthandung

dan malahan

dari kapangnya

dapat

mcngeluarkan

toksin

yang dapat

nleng-

ganggu kcseliat an.

Pengering suhu terkend~li(Rinsali)'80 merupakan alat pengering simplisia basah. Rinsali '80 digerakkan dengan tenaga listrik (2201 380 Volt) dan dilengkapi dengan kipas penyedot udara yang dige- rakkan ole11 motor listrik 1 PK, 1500 RPM.

,

Selama penyi~npananada kemungkinan terjadi kerusakan pada simplisia. Kerusakan tersebu t dapat mengakibat kan ke- munduran tnutu, sehingga simplisia bersangkutan tidak lagi memenuhi syarat yang diperlukan atau yang ditentukan. Oleh karena it11pada penyimpanan siniplisia perlu diperha- tikan beberapa ha1 yang dapat rnengakibatkan kerusakan sim- plisia, yaitu cara pengepakan, pembungkusan dan pewadahan, persyaratan gudang simplisia, cara sortasi dan pemeriksaan mutu, serta cara pengawetannya. Penyebab kerusakan pada simplisia yang utanla adalah air dan kelembaban. Untuk dapat disimpan dalam waktu lama simplisia harus dikeringkan dulu sampai kering, sehingga kandungan airnya tidak lagi dapat menyebabkan kerusakan yang merugikan. Seperti diuraikan di muka, dalam sirnplisia segar terdapat , enzim yang dapat menyebabkan terjadinya reaksi kimia yang dapat mengubah atau menguraikan senyawa aktif yang dikan- dung dengan pengaruh air yang terdapat di lingkungannya. Pa- da simplisia yang cukup kering atau kadar airnya rendah, enzim tidak dapat bekerja lagi. Oleh karena itu kadar air sini- plisia yang disimpan perlu diperhatikan dan dijaga. Di Sam- ping itu kadar air simplisia yang tinggi pada simplisia dapat memungkinkan tumbuhnya kapang atau mikroorganisrne lain pada simplisia. Pertumbuhan kapang dan mikroorganisme ini dapat menyebabkan perubahan kimia pada senyawa aktif dan mengakibatkan kemunduran mutu simplisia. Beberapa ka- pang tertentu dapat menghasilkan zat beracun yang disebut mikotoksin yang nlerugikan atau membahayakan kesehatan manusia maupun hewan. Simplisia yang berupa kulit kayu, akar, kayu serta yang mengandung damar, pada umumnya bersifat kurang menye- rap uap air udara dan lebih tahan dalam penyimpanan. Beberapa simplisia daun atau herba kering dapat menyerap uap air udara di sekitarnya hingga 10 % sampai 15 % dari bobot bahannya dan bahkan ada yang sampai 30 % dari bobot bahan. Senyawa glikosida tumbuhan mudah sekali terurai dengan kadar air 8 % atau lebih. Secara umum dapat diambil sebagai pedoman bahwa kadar air dalam simplisia sehanisnya tidak lebih dari 5 7% bobot ba- han simplisia. Banyak simplisia bila disimpan mudah berubah warnanya, menjadi lebih tua atau lebih niuda. Perubahan warna tersebut

menyebabkan simplisia bersangkutan menjadi kurang Inena- rik. Di samping itu pada simplisia tersebut kemungkinan telah terjadi perubahan kimia pada senyawa aktifnya. Perubahan wama simplisia seringkali disebabkan oleh pengaruh cahaya matahari, terutama cahaya niatahari langsung. Cahaya mata- hari dapat menaikkali suhu, sellingga rnempercepat terjadinya reaksi-reaksi kimia yang dapat mengubah susunan kimia se- nyawa aktif simplisia. Sebagian dari zat alam mudah teroksidasi oleh oksigen udara berubah mcnjadi zat-zat teroksidasi. Rcaksi oksidasi ini dapat berjalan lebih mudali apabila simplisia mengandung enzim oksidase. Cara menyimpan simplisia dalam wadall yang kurang sesuai menlungkinkan si~nplisiarusak karena dimakan kutu atau ngengat yang termasuk hewan golongan serangga atau insek- ta. Berbagai jenis serangga dapat menimbulkan kerusakan pa- da harnpir semua jenis sin~plisiayang berasal dari tumbuhan atau hewan, biasanya jenis serangga tertentu merusak jenis simplisia tertentu pula. Kerusakan pada penyimpanan si~nplisiayang perlu men- dapatkan perhatian juga ialali kerusakan yang diti~nbulkan oleh hewan pengerat seperti tikus. Tikus tidak saja merusak bungkus atau wadahnya melainkan kerapkali memakan juga simplisia. Cara pengemasan simplisia tergantung pada jenis simplisia dan tujuan penggunaan pengemasan. Bahan dan bentuk pe- ngemasannya harus sesuai, dapat melindungi dari kernungkin-

an kerusakan simplisia, dan dengan memperhatikan segi

manfaatan ruang untuk keperluan pengangkutan mait pun

peny impanannya.

pe-

tidak beracun dan tidak bercaksi

(inert) dengan isinya sehingga tidak menyebakan terjadinq ,I reaksi serta penyimpangan warna, bau, rasa dan sebagat-

nya pada simplisia. Selain dari itu wadah harus melindungi simplisia dari cemaran mikroba, kotoran dan serangga ser- ta mempertahankan senyawa aktif yang mudah menguap atau mencegah pengaruh sinar, masuknya uap air dan gas- gas lainnya yang dapat menurunkan mutu simplisia. Un-

tuk simplisia yang tidak tahan terhadap

_ml\alnya

yang mengandung banyak vitamin, pigmen dan mtnyak, -, diperlukan wadah yang melindungi simplisia terhadap ca- haya, misalnya aluminium foil, plastik atau botol yang ber-

warna gelap, kaleng dan sebagainya.

Wadah

harus

bersifat

sinar.

Ga~nbar6.

KALENG PEDARINGAN

Kaleng pedaringan merupakan alat penyimpan simplisia berben- tuk biji, lembaran tipis atau irisan. Alat ini mempunyai kapasitas simpan bahan 1 - 1,5 kuintal.

Bungkus yang paling lazim digunakan untuk sirnplisia ialah

digunakan karung atau kantong plas-

tik, peti atau drum dari kayu atau karton dan drum atau ka- leng dari besi berlapis. Beberapa jenis simplisia terutama yang

karung goni. Sering juga

berbentuk cairan dikemas dalam botol atau guci porselin. Simplisia yang berasal dari akar, rim pang, umbi, kulit akar. kulit batang, kayu, daun, herba, buah, biji dan bunga sebaik- nya dikemas dalam karung plastik. Simplisia dari daun atau herba umumnya dimanipatkan lebill dulu dalam bentilk yang padat dan mampat, dibungkus dalam karung plastik dan di- jahit. Untuk keperluan perdagangan dan ekspor siinplisia da- lam bungkus plastik tersebut berbobot antara 50 sampai 125 kg tiap balnya. Simplisia yang mudah menyerap uap airudara perlu dibung- kus rapat untuk mencegah terjadinya penycidpJn hclciiil~,il~- an tersebut. Sesudah dikeringkan salnpai cukup kering di-

bungkus dengan karung atau kantong plastik, dalam peti, dn~matau kaleng besi berlapis. Pada penyimpanannya simpli- sia tersebut dimasukkan dalam wadah yang tertutup rapat dan seringkali perlu diberi kapur tohor sebagai bahan penge- ring. Gom dan damar dikernas dalam wadah drum, peti yang ter- buat dari karton, kayu atau besi berlapis sedangkan simplisia yang aroma atau baunya perlu dipertahankan, liarus dikemas dalarn peti kayu berlapis timah atau kertas timah. Beberapa simplisia tertentu dikemas dalani wadah yang khusus, sebagai contoli beberapa jenis jadam yang berasal dari Afrika Selatan dulu dikemas dalani kantong kulit kera, akar sarsaparila dari Amerika Selatan dibungkus dalanl kulit sapi, ~iiinyak mawar dari Bulgaria dalam guci dari timbal, dan se- bagainya. Kaleng atau aluminium dapat digunakan sebagai wadah un- tuk siniplisia kering, terutarna jika diperlukan penutupan se- cara vakum. Akan tetapi kaleng dan aluminium bersifat koro- sif dan mudall bcreaksi dengan ballan yang disimpan di dalam- nya, sehingga kaleng atau aluminium biasanya harus diberi lapisan khusus misalnya lapisan oleoresin, vinil, malam atau balian lain. Sifat wadah gelas yang nlenguntungkan adalah ti- dak bereaksi (inert). tetapi penggunaan wadah gelas terbatas, karena gelas mudah pecah dan berat, sehingga menyulitkan dalam pengangkutan. Kertas atau karton tidak dapat diguna- kan sebagai pembungkus si~iiplisia secara sempurna oleh karena itu biasanya balian pen~bungkuskertas perlu dilapis lagi dengan lilin. damar, lak, atau plastik untuk mencegah ke- luar masuknya gas atau uap air. Plastik biasanya digunakan untuk membungkus simplisia kering, tetapi penggunaan plas- tik juga mempunyai kelemahan, karena plastik tidak tahan panas dan mudah terjadi pengembunan uap air di dalamnya jika suhu diturunkan. Akhir-akhir ini aluminium foil banyak digunakali untuk membungkus bahan-bahan kering karena sifat-sifatnya yang menguntungkan, diantaranya mudah di- lipat-lipat, ringan serta dapat mencegah keluar masuknya uap air dan zat-zat yang mudah menguap lainnya. Pengepakan dapat dilakukan dengan beratljumlah tertent~~ dan disusun secara berlapis-lapis untuk memudahkan penen- tuan dosis dan penjualannya. Sebagai contoh misalnya -, serbuk simplisia dapat dibungkus dengan kertas untuk . setiap berat tertentu. Wadah tersebut dapat dimasukkan

ke dalaln pembungkus kertas yang beretiket, kemudian dibungkus lagi di dalam kantong plastik. Setiap sepuluh bungkus dipak di dalam kantong plastik yang lebih besar

dan setiap lima kantong plastik yang masing-masing berisi sepuluh bungkus dipak lagi di dalam kantong plastik yang le- bih besar. Untuk memudahkan penyimpanan atau pengang- kutan biasanya dilakukan pengepakan terakhir di dalam ko- tak kayu, kotak karton, karung atau keranjang bambu. Penyimpanan simplisia kering biasanya dilakukan pada su- hi1 kamar(lSOsampai 30°C), tetapi dapat pula dilakukan di-

15"C), atau tempat dingin (0" sam-

pai 5°C). tergantung dari sifat-sifat dan ketahanan sim- plisia tersebut. Kelembaban udara di ruang penyimpanan simplisia kering sebaiknya diusahakan serendah mungkin un- tuk lnencegah terjadinya penyerapan uap air. Di Indonesia daun tembakau dikemas dalam keranjang bambu yang bagian dalamnya diberi lapis pelepah daun pisang yang telah dike- ringkan. Sinlplisia harus disimpan dalam ruangan penyimpanan khu- sus atau dalam gudang simplisia, terpisah dari tempat penyirn- panan bahan lainnya ataupun penyimpanan alat-alat. Gudang simplisia harus mempunyai bentuk dan ukuran yang sesuai dengan fungsinya, dibuat dengan konstruksi permanen yang cukup kuat dan dipelihara dengan baik. Baik di bagian dalam- maupun lingkungan di sekitarnya perlu dijaga kebersihan dan sanitasinya, serta dibebaskan dari kemungkinan pengo- toran atau pencemaran lingkungan. Gudang harus mempunyai ventilasi udara yang cukup baik dan bebas dari kebocoran dan kemungkinan kemasukan air hujan. Walaupun memerlukan penerangan yang cukup pada siang hari harus dicegah masuknya ~natahariyang langsung menyinari simplisia yang disimpan. Perlu dilakukan pencegahan kemungkinan kerusakan sim- plisia yang ditimbulkan oleh hewan, baik serangga maupun ti- kus yang sering memakan simplisia yang disimpan. Untuk mencegah tertariknya serangga pemakan simplisia ataupun la- lat dan nyamuk, gudang harus bersih dan bebas dari sampah buangan yang mungkin menjadi sarang serangga tersebut.

Untuk mencegah kemungkinan masuknya tikus ke dalam gudang simplisia, sedapat mungkin semua lubang ventilasi, -, lubang-lubang saluran air, dan lubang-lubang lainnya diberi tutup yang sesuai seperti kasa kawat atau lainnya.

tempat sejuk (5" sampai

Cara penyimpanan simplisia dalam gudang harus diatur se-

demikian

dan pengeluaran bahan simplisia yang disimpan. Untuk sim- plisia yang sejenis harus diberlakukan prinsip "pertama ma- suk pertama keluar", untuk itu perlu dilakukan administrasi pergudangan yang teratur dan rapi. Semua simplisia dalam bungkus atau wadahnya masing-masing harus diberi label yang mudah dibaca, pada label dicantumkan nama jenis dan asal bahan, tanggal penerimaan dan pemasukan dalam gu- dang, tanda pengesahan pemeriksaan atau uji mutu, dan data lain yang diperlukan. Sedapat mungkin simplisia yang disim- pan di gudang jangan terlampau lama dengan memperhitung- kan jumlah persediaan dan penggunakan masing-masing sim- plisia.

Dalam jangka waktu tertentu-dilakukan pemeriksaan gu- dang secara umum, dilakukan pengecekan dan pengujian mu- tu terhadap semua simplisia yang dipandang perlu. Simplisia yang setelah diperiksa ternyata tidak lagi memenuhi syarat yang ditentukan misalnya ditumbuhi kapang, dimakan se- rangga, berubah warna atau baunya dan lain sebagAinya harus dikeluarkan dari gudang dan dibuang. Simplisia yang beracun atau mengandung racun harus di- simpan dalam tempat atau lemari terkunci dan diberi tanda racun secara khusus.

rupa,

sehingga

tidak

menyulitkan

pemasukan

h. Pemeriksaan Mutu

Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu pene- rimaan atau pembeliannya dari pengumpul atau pedagang simplisia. Simplisia yang diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia seperti yang di- sebutkan dalam Buku Farmakope Indonesia, Ekstra Farma- kope Indonesia ataupun Materia Medika Indonesia Edisi ter- akhir. Apabila untuk simplisia yang bersangkutan terdapat . paparannya dalam salah satu atau ketiga buku tersebut, maka simplisia tadi harus memenuhi persyaratan yang disebutkan pada paparannya. Suatu simplisia dapat dinyatakan bermutu Farmakope In-

donesia, Ekstra Farmakope Indonesia, atau

Indonesia, apabila simplisia bersangkutan

ratan yang disebutkan dalam buku-buku yang bersangkutan.

Materia Medika

'

memenuhi persya-

Agar selalu diperoleh simplisia dengan mutu yang mantap, seyogyanya disediakan contoh untuk tiap-tiap simplisia de- ngan mutu yang pasti dan memenuhi persyaratan yang da@ digunakan sebagai simplisia ,pembanding. Pada tiap-tiap pene- rimaan atau pembelian simplisia tertentu perlu dilakukan pe- ngujian mutu yang dicocokkan dengan simplisia pembanding yang bersangkutan. Contoh simplisia pembanding tersebut di- simpan Secara khusus untuk menjaga mutunya, dan tiap jang- ka waktu tertentu diperiksa kembali mutunya dan apabila ke- dapatan kemunduran mutu perlu diganti dengan simplisia pembanding yang barn. Pengambilan contoh untuk keperluan pemeriksaan mutu simplisia dilakukan dengan cara uji petik sehingga contoh ter- sebut dapat mewakili keseluruhan simplisia yang diperiksa mutunya. Secara umum simplisia yang tidak memenuhi syarat seperti kekeringannya kurang, ditumbuhi kapang, mengandung len- dir, sudah berubah warna atau baunya, berserangga atau ter- makan serangga, harus ditolak penerimaannya.

Gambar 7

SINAMPI KL'80

Pembersih dan penampi kulit (Sinampi KL) '80 merupakan alat pemisah antara kulit dengan biji dari biji yang telah diolah. Alat 7 ini berkapasitas olah 150 - 200 kg per jam. Sinampi KL '80 dige- rakkan dengan motor bensin atau listrik beirdaya 0.5 PK, 1500 RPM.

Pada pemeriksaan mutu simplisia pemeriksaan dilakukan dengan cara organoleptik, makroskopik, cara mikroskopik dan atau cara kimia. Beberapa jenis simplisia tertentu ada yang perlu diperiksa dengan uji mutu secara biologi. Pemeriksaan organoleptik dan makroskopik dilakukan de- ngan menggunakan indera manusia pemeriksa kemurnian dan mutu simplisia dengan mengamati bentuk dan ciri-ciri luar serta warna dan bau simplisia. Ada kalanya diperlukan alat optik berupa alat kaca pembesar atau alat ukur sebagai alat bantu. Bagi pemeriksa yang berpengalaman, dalam waktu singkat seringkali dapat dilakukan pengujian mutu simplisia dengan cara organoleptik dan makroskopik dengan hasil yang mantap dan memuaskan, dan ada kalanya bahkan sampai me- netapkan derajat atau kelas mutu simplisia yang diperiksa. Sebaiknya pemeriksaan mutu organoleptik dilanjutkan de- ngan pemeriksaan mikroskopik dengan menggunakan mikros- kop dengan mengamati ciri-ciri anatomi histologi terutama untuk menegaskan keaslian simplisia, dan pemeriksaan untuk menetapkan mutu berdasarkan senyawa aktifnya. Sebelum disortir, sebaiknya simplisia diayak dan atau di- tampi dulu untuk membuang debulpasir yang terikut pada- nya. Besar kecilnya lubang ayakan disesuaikan dengan ukuran simplisia, misalnya ayakan untuk jinten hitam dan ayakan un- tuk kulit kina harus berbeda. Untuk memisah-misahkan ba- han organik asing, sortasi dilakukan dengan tangan. Untuk memilih simplisia sesuai dengan besar kecilnya ukuran, atau menurut besar kecilnya bongkah, sortasi dilakukan dengan mesin. Cara mencegah kerusakan simplisia pada penyimpanan, ter- utama adalah memperhatikan dan menjaga kekeringannya. Untuk itu pembungkusan dan pewadahan simplisia harus di- sesuaikan dengan sifat-sifat fisika dan kimia simplisia masing- masing. Simplisia yang dapat menyerap uap air udara dibungkus atau dimasukkan dalam wadah rapat, jika perlu dalam wadah yang diberi kapur tohor untuk bahan pengering. Simpiisia yang pada waktu penerimaan belum cukup bersih dicuci dengan air bersih, dikeringkan sampai cukup kering, dibungkus atau dimasukkan dalam wadah yang sesuai, baru disimpan dalam gudang simplisia. Apabila dipandang perlu simplisia yang akan disimpan da- lam gudang untuk waktu yang lama disemprot lebih dulu de-

7

ngan bahan pencegah serangga yang mudah menguap dan ti- dak meninggalkan sisa tinggal. Ada jenis-jenis simplisia yang sudah diawetkan sejak proses pembuatan, misalnya dicelupkan ke dalam air mendidih, di- rendam air kapur, dimasak dengan gula dan sebagainya. Ada jenis-jenis simplisia yang di~im.~andengan wadah berisi zat penyerapan air dan zat menyerap oksigen.

PEMBUATAN SIMPLISIA SECARA KHUSUS

1. Perlakuan khusus

a. Jamur, lumut kerak dan spora paku-pakuan. Bahan simplisia cukup dijemur di bawah sinar matahari, sebab materialnya kecil dan tipis. Diwadahi dalam kantong plastik atau kaleng, bila perlu diberi bahan penyerap air dan penyerap oksigen.

b. Akar Akar dicuci bersih, diiris tipis-tipis atau dipotong pendek- pendek sesuai dengan ukuran akar, kemudian dijemur. Pe- ngeringan dilakukan dengan sinar matahari atau pengering buatan.

c. Buah Buah yang kecil atau yang sudah agak kering sewaktu dipa- nen misalnya lada dan adas, langsung dikeringkan. Buah yang agak besar dan masih basah misalnya cabe merah, sebaiknya dibelah jadi dua atau beberapa bagian kemudian dijemur. Be- berapa buah ada yang perlu diperam sebelum dijemur.

d. Bunga Bunga dikeringkan dengan sinar matahari, diangin-angin- kan, atau dikeringkan dengan pengering buatan.

e. Biji Bila biji hanya tercemar oleh bahan organik asing, langsung dijemur. Selama proses pengeringan biji yang pecah langsung dibuang ha1 ini untuk menghindari pencemaran oleh kapang penghasil aflatoksin. Pengerjaan selanjutnya seperti pada ka- Yu.

f. Daun

Pengerjaan seperti bunga.

g. Kayu Diiris tipis-tipis atau dalam bongkah-bongkah. Pengeringan dengan sinar matahari. Pengeringan dengan pengering buatan harus memperhatikan segi ekonominya.

h.

Herba ' Pengerjaan seperti kayu.

i.

Kulit Pengerjaan eerti kyu:

j.

Rimpang Rimpang dicuci bersih; rimpang dengan ukuran kecil di- biarkan utuh sedang rimpang besar diiris-iris tipis memanjang atau melintang, tergantung pada permintaan pasaran. Pada beberapa rimpang tertentu perlu direndam air kapur atau di- celupkan air mendidih. Pengeringan dengan sinar matahari atau pengering buatan.

k.

Umbi Umbi dicuci bersih, diiris tipis-tipis, jika perlu irisan tipis yang bergaris tengah besar dipotong menjadi dua atau bebera- pa bagian. Selanjutnya pengerjaan seperti pada kayu.

1. Umbi lapis Bila umbi lapis dalam keadaan utuh, misalnya bawang merah, maka setelah dicuci lalu dijemur. m.Balsam, Malam, Getah dan Gom Biasanya tidak memerlukan proses pengeringan. Tetapi bila diperlukan berbagai jenis gom dapat dijemur agar lebih ke- ring.

n. Hasil pengolahan Misalnya agar-agar, jadam, kolofonium dan sebagainya. Di- simpan seperti apa adanya, wadah disesuaikan dengan bentuk

dan konsistensi simplisia. Hasil pengolahan yang berupa ba- han padat cukup disimpan dengan disertai penyerap air. 0. Hewan

1. Tubuh hewan atau bagiannya. Dikeringkan dengan penjemuran atau pengering buatan.

2. Minyak lemak.

Pengolahan tergantung kepada bahan bakunya. Penyim- panan dalam wadah terisi penuh dan tertutup baik. 3. Lemak dan lilin hewan. Pengolahan tergantung kepada bahan bakunya. Penyim- - panan dalam wadah yang tertutup baik. 4. Hasil olah cair. Contoh madu. Penyimpanan dalam wadah terisi penuh dan tertutup baik.

p. Minyak mineral Biasanya pengolahan dilakukan oleh industri minyak bumi, penyimpanan dalam wadah yang tertutup baik.

,

q. Minyak atsiri Cara pengolahan diuraikan tersendiri. Penyimpanan dalam wadah terisi penuh, tertutup baik dan terlindung dari cahaya, pada suhu kamar. r. Minyak nabati padat Misalnya lemak coklat dan lemak pala. Penyimpanan da- lam wadah tertutup baik.

I 2. Pembuatan tiap jenis simplisia

Bagian yang digunakan : Buah tanaman Foeniculum vulgare Mill a yang hampir masak. Cara pembuatan :

Pengumpulan bahan :

Panenan dilakukan pada waktu buah hampir masak, dilakukan dengan memotong batang tumbuhan. Dicuci dengan air bersih hingga bersih dan ditiriskan untuk membebaskan dari sisa-sisa air cucian. Pembuatan simplisia :

Batang tumbuhan yang telah bersih dan bebas dari sisa- ' air cucian selanjutnya dikeringkan di sinar matahadrin= (biasanya 4 sampai 5 hari). Batang dipukul-pukul hingga bush; ' buahnya terlepas, dikumpulkan dan ditampi hingga terpisah dari bahan-bahan lain yang tidak diperlukan. Cara pengujian :

Sederhana :

Buah adas berbau aromatik dengan rasa seperti kamfer. Kremo- karp berbentuk memanjang, ujung pipih, gundul, stilopodium pendek bercabang dua, buah yang utuh umumnya bertangkai, warna coklat, kehijauan, coklat kekuningan atau coklat. Panjang sampai 10 mm, lebar sampai 4 mm. Merikarp mempunyai 5 ru- suk primer, menonjol, warna kekuningan, permukaan bidang le-

kat merikarp tidak beralur. Perikarp pada irisan melintang tam- pak 2 saluran minyak pada bidang lekat merikarp dan 4 saluran mingak pada lekukan yang terdapat di antara rusuk primer, pa-

da tiap rusuk

Embiio kecil, terletak pada ujung atas endosperm. Endosperm berisi banyak minyak.

terdapat satu berkas pembuluh.

J

Kimia

a. 2 Ing serbuk buah ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi warna coklat hijau.

b. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam sulfat 10 N, terjadi warna hijau coklat.

c. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warna hijau coklat.

d. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam klorida encer, ter- jadi warna hijau kuning.

e. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% berat/ volume, terjadi warna kuning coklat.

f. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes larutan KOH 5% berat/ volume, terjadi warna kuning coklat.

g. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes amonia (25%), terjadi warna kuning hijau.

h. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes larutan Kalium iodida 6%

berat/volume, terjadi wama hijau coklat. i, 2 mg serbuk buah dita~nbah5 tetes larutan besi (111) klorida 5% berat/volume, terjadi warna hijau.

Bagian yang digunakan Roxb.

Cara pembuatan :

BANGLE

: Rimpang tanaman Zingiber purpureum

Pengumpulan bahan :

Rimpang-rimpang dikumpulkan setelah tanaman berumur satu tahun. Rimpang-rimpang tersebut kemudian dicuci dengan air bersih sampai bersih. Selanjutnya ditiriskan hingga sisa air cuci- an dapat dibebaskan.

Pembuatan simp lisia :

Rimpang-rimpang yang telah bersih dan telah dibebaskan dari sisa-sisa air cucian tersebut diiris-iris melintang dengan ketebalan antara 3 mm sampai 6 mm. Kemudian dikeringkan pada sinar ' matahari di atas alas tikar.

Cara pengujian :

Sederhana :

Kepingan pipih, ringan, bentuk hampir bundar sampai jorong atau berbentuk tidak beraturan. Tebal 2 mm sampai 5 mm, per- ? mukaan luar tidak rata, berkerut, kadang-kadang dengan parut daun, berwarna coklat muda kekuningan sampai coklat kelabu;

bidang irisan berwama lebih muda dari pada permukaan luar, agak melengkung tidak beraturan. Bagian korteks sempit, tebal lebih kurang 2 mm. Berkas patahan rata, berdebu, wama kuning muda sampai kuning muda kecoklatan. Bau khas aroniatik; rasa agak pahit dan agak pedas.

Airnia :

a. 2 mg serbuk rimpang ditambahkan 5 tetes asam sulfat (95%), terjadi warna coklat merah.

b. 2 111g serbuk rirnpang dita~nbah5 tetes asarn sulfat 10 N, ter- jadi warna coklat merah.

c. 2 mg serbuk rimpang ditambali 5 tetes asarn klorida pekat, terjadi warna coklat tua.

d. 2 mg serbuk rinlpang ditanlbah 5 tetes larutan NaOH 5%)b/v, terjadi warna jingga.

e. 2 mg serbuk rinlpang ditambah 5 tetes amonia (25%) terjadi wama jingga.

f. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan tinlbal (11) ase-

tat 5% b/v terjadi warna kuning jingga.

g. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan

jadi warna kuning.

KI 6% b/v, ter-

h. 2 nig serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan besi (111) klori-

da 5% b/v, terjadi wama coklat kuning.

BIDARAUPAS

Bagian yang digunakan : Umbi akar tanaman Merremia marnmosa Hall yang telah tua. Cara pembuatan :

Pengr mpularz ballan :

Umbi dikumpulkan pada saat seluruh bagian tumbuhan kering atau rnulai melayu. Pangkal batang dipotong, sehingga umbi da- pat dipisahkan dari batangnya. Selanjutnya umbi-umbi tersebut dicuci dengan air bersih hingga bersih. Ditiriskan agar sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan.

Pembuatan sirnplisia :

Umbi-umbi yang telah bersih dan bebas dari sisa-sisa air cucian tersebut kemudian diiris-iris melintang dengan ketebalan antara 6 mm sampai 10 mm. Selanjutnya dikeringkan di sinar matahari ' langsung sampai kering. Setelah kering disimpan.

Cara pengujian :

Sederhana :

Simplisia ini merupakan kepingan, keras, berat, sukar dipatah- kan, bentuk hampir bulat sampai lonjong atau berbentuk tidak beraturan, lebar 2 cm sampai 9 cm, panjang 4 cm sampai 17 cm, tebal 5 mm sampai 8 mm. Permukaan luar tidak rata, berkeri- put, warna coklat muda, coklat tua kelabu sampai kelabu kehi- taman, permukaan bidang irisan tidak rata, kering dengan leku- kan dan tonjolan membulat atau memanjang, warna putih kela- bu sampai kelabu kecoklatan. Pada bidang irisan terdapat getah yang mengering berupa garis atau bercak berwarna coklat sam- pai coklat kehitaman. Bekas patahan tidak rata, berdebu, warna putih kecoklatan. Bila umbi yang segar dan utuh diiris melin- tang, tatnpak lingkaran kambium sebagai garis gelap dekat tepi luar. Di sebelah dalam terdapat jaringan xiIem sekunder. Bau le- mah, rasa tajam dan pahit. Kitnia :

a.

2 mg serbuk umbi ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi warna coklat.

b.

2 mg serbuk umbi ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v; terjadi warna coklat muda.

c.

2 mg serbuk umbi ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v; ter- jadi warna coklat muda.

d.

2 mg serbuk umbi ditambah 5 tetes ammonia (25%), terjadi warna kuning kehijauan.

e.

2 mg serbuk umbi ditambah 5 tetes larutan besi (111) klorida 5% b/v, terjadi warna hijau.

f.

2 mg serbuk umbi ditambah larutan Kalium yodida 6% b/v, terjadi warna coklat kehitaman.

BIJI MAKASAR

Bagian yang digunakan : Buah tanaman Brucea javanica (L.) Merr yang telah masak, dan berwarna hitam.

Cara pembuatan :

Pengumpulan bahan :

Buah yang telah masak, yakni yang telah berwarna hitam di- kumpulkan. Kemudian dicuci dengan air bersih hingga bersih. Ditiriskan agar dapat dipisahkan sisa air cucian yang masih ter- '

tinggal.

Pembuatan simplisia :

Buah-buah yang telah bersih dan bebas dari sisa-sisa air cucian tersebut kemudian dikeringkan di sinar matahari langsung Sam- bil diolak-alik hingga kering. Cara pengujian :

Sederhana :

Buah makasar bau agak asam, rasa sangat pahit, bentuk bulat atau bulat telur, ujung buah agak tumpul, pada pangkal buah ada lingkaran kecil. Permukaan buah tidak rata dengan keriput- keriput tidak beraturan hingga seperti jala kasar. Dua rusuk yang membujur berhadapan seperti membelah buah menjadi dua. Warna buah coklat muda, coklat kemerahan sampai kehi- taman. Panjang buah 4 mm sampai 7 mm, garis tengah buah 3 mm sampai 6 mm.

Kimia :

a. 2 mg serbuk biji (buah) ditambahkan 5 tetes asam sulfat, ter- jadi warna kuning kemerahan.

b. 2 mg serbuk biji (buah) ditambah 5 tetes asam sulfat 10 N, terjadi warna kuning lemah.

c. 2 mg serbuk biji (buah) ditambahkan 5 tetes asam klorida pekat, terjadi warna kuning kecoklatan.

d. 2 mg serbuk biji (buah) ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v, terjadi warna kecoklatan.

e. 2 mg serbuk biji (buah) ditambahkan 5 tetes ammonia (25%) terjadi warna coklat tua.

BROTOWALI

Bagian yang digunakan : Batang tanaman Tinospora crispa (L.) Miers ex Hook. F. & Thems yang cukup tua. Cara pembuatan :

Pengumpulan bahan :

Batang dipotong. Bagian yang masih muda dipotong dan dipi- sahkan. Bagian yang lainnya dipotong-potong dengan panjang antara 3 cm sampai 4 cm. Dicuci dengan air bersih hingga bersih. Ditiriskan agar sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan. Pembuatan simplisia :

Potongan-potongan batang yang telah bersih bebas dari sisa-sisa,

I air cucian kemudian dikeringkan di sinar matahari langsung de-

ngan alas yang berlubang-lubang, sarnbil secara berkala diolak- alik agar pengeringannya rnerata. Setelah kering disimpan.

Cara pengujian :

Sederlzana :

Potongan batang, wama hijau kecoklatan, permukaan tidak ra- ta. banyak tonjolan, beralur membujur, lapisan luar mudah ter- kupas. Tidak berbau dan rasa sangat pahit.

a. 2 mg serbuk batang ditarnbah 5 tetes asam sulfat; terjadi war- na coklat hitam. b. 2 mg serbuk batang ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v; terjadi warna coklat. c. 2 111g serbuk batang ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v; terjadi warna coklat. d. 2 mg serbuk batang ditambah 5 tetes ammonia (25%);terjadi warna coklat.

CABE JAWA

Bagian yang dig~nakan: buah tanaman Piper retrofractunz Vahl. Cara pelnbuatan :

Pengztrnptilan bahan :

Buah yang telah tua tetapi belum masak dikumpulkan. Kemu- dian dicuci dengan air bersih dan selanjutnya ditiriskan agar da- pat dibebaskan dari sisa-sisa air cucian.

Pernbziatan simplisia :

Buah yang telah bersih dan bebas dari air cucian di keringkan di sinar matahari hingga kering.

Cara pengujian :

Sederhana :

Buah majemuk berupa bulir, wama kelabu sampai coklat kelabu atau berwarna hitam kelabu sampai hitam. Bentuk bulat pan- jang sampai silindris, bagian ujung agak mengecjl; panjang 2 cm sampai 7 em, garis tengah 4 mm sampai 8 mm; bergagang pan- jang atau tanpa gagang. Tidak rata, bertonjolan teratur. Pada irisan melintang bulir tampak buah-buah batu, masing-masing dengan daun pelindung yang tersusun dalam spiral nada poros

buah

benvarna coklat tua sampai hitam, kadang-kadang benvarna le-

bulir; kadang-kadang bagian tengah bulir berongga. Kulit

'

bih muda. Kulit biji w&na coklat; hampir seluruh inti biji ter- diri dari perisperm berwama putih. Buah batu berbentitk bulat telur berukuran kurang lebih 2 mm. Daun pelindung berbentuk perisai. Bau aromatik, khas. Rasa pedas.

Ki~niu,

a. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam sulfat (95%),terjadi warna kuning.

b. 2 mg serbuk buah ditambali 5 tetes asam sulfat 10 N terjadi wama kuning.

c. 2 ~ngserbuk buah ditambah 5 tetes larutan kalium hidroksida 5% b/v terbentuk massa seperti bubur.

Bagian yang digunakan

yang cukup tua.

Cara pembuatan :

DAUNAVOKAD

:

Daun tananian

Persea atnericana

Mil 1

,

Pengztrnp~ilanbalzan :

Panenan dilak~tkansetelah tumbuhan berumur sekurang-kurang- nya 7 tahun. Cabang-cabang tumbulian dipangkas. Kemudian daun-daun yang diperlukan dipetik dan dikumpulkan. Daun- daun tersebut kemudian dicuci dengan air bersih sampai bersih. Ditiriskan agar sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan.

Petnbltatan sirrzplisia :

Daun-daun yang sudah bersih dan bebas dari sisa-sisa air cucian dikeringkan di sinar matahari langsung dengan alas tikar atau alas lain yang berlubang-lubang. Secara berkala selalu diolak-alik agar pengeringan dapat merata. Setelah kering disimpan.

Cara pengujian :

Sederllana :

Daun tunggal, bentuk jorong sampai bulat telur memanjang. Panjang helaian daun 10 cm sampai 20 cm, lebar 3 cm sampai 10 cm. Pangkal daun dan ujung daun meruncing, tepi daun rata, kadang-kadang agak menggulung ke atas; permukaan daun licin, wama hijau sampai hijau kecoklatan atau coklat keunguan. Tu- lang daun menyirip, panjang tangkai daun 1,5 cm sa~npai5 cm. Bau aromatik lemah, rasa paliit dan kelat.

Kimia :

a. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi warna coklat hitam.

b. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warna hijau muda.

c. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v, terjadi warna coklat.

d. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v; ter- jadi warna coklat.

e. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes amonia (25%); terjadi warna coklat.

f. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan besi (111) klorida 5% b/v; terjadi warna hijau tua.

DAUN JAMBU BIJI

Bagian yang digunakan: Pucuk daun tanaman Psidium guajava L. Cara pembuatan :

Pengurnpulan bahan :

Pucuk daun dikumpulkan sepanjang tahun. Dicuci dengan air bersih sampai bersih. Kemudian ditiriskan untuk membebaskan dari sisa-sisa air cucian. Pembuatan simplisia :

Pucuk daun yang telah bersih dan bebas sisa-sisa air cucian ter- sebut kemudian dikeringkan di sinar matahari dengan alas tikar atau alas lain yang berlubang-lubang sampai kering. Setelah ke- ring disimpan. Cara pengujian :

Sederhana :

Daun jambu biji berbau khas aromatik dan rasanya kelat, me- rupakan daun tunggal, bertangkai pendek, panjang tangkai pen- dek, panjang tangkai daun antara 0,5 cm sampai 1 cm. Helaian daun berbentuk bulat telur agak menjorong atau bulat meman- jang, panjang 5 cm sampai 13 cm, lebar 3 cm sampai 6 cm. Ping- gir daun rata agak menggulung ke atas. Per~pukaanatas daun agak licin, warna hijau kelabu; kelenjar minyak tampak sebagai bintik-bintik yang tembus cahaya. Ibu tulang daun dan tulang cabang daun menonjol pada permukaan bawah menyirip dan berwama putih kehijauan.

Kimia :

a. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi warna , coklat tua.

b. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam sulfat 10 N, terjadi wama kuning kehijauan.

c.

2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warna kuning kehijauan.

d. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v, ter- jadi warna coklat kemerahan.

e. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes ammonia (25%), terjadi warna kuning kehijauan.

f. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan besi (111) klorida 5% b/v, terjadi warna merah.

DAUN KEMUNING

Bagian yang digunakan : Daun tanaman Murraya paniculata (L.) Jack yang telah cukup tua. Cara pembuatan :

Pengumpulan bahan :

Daun-daun yang telah cukup tua dan tidak berlubang-lubang ka- rena hama dapat dikumpulkan sepanjang tahun. Daun-daun ter- sebut kemudian dicuci dengan air bersih sampai bersih, dan ke-

mudian ditiriskan hingga dapat dibebaskan dari sisa-sisa air cu-

cian.

Pembuatan simplisia :

Daun-daun yang telah dibebaskan dari sisa-sisa air cucian ter- sebut kemudian dikeringkan di tempat teduh dengan cara di- angin-anginkan. Setelah kering disimpan. Cara pengujian :

Sederhana :

Daun kemuning bau khas aromatik bila diremas, rasa agak pe- das, agak pahit dan agak kelat. Merupakan daun yang berwarna hijau atau hijau kecoklatan, helai daun berbentuk jorong sampai bulat atau bulat telur terbalik, panjang 2 cm sampai 11 cm dan lebar antara 1,s cm sampai 5 cm. Ujung daun meruficing, pang- ka1,daun meruncing agak membulat, pinggir daun rata atau agak beringgit. Permukaan daun licin dan mengkilat.

Kimia :

a. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi wama kuning kehijauan.

b. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam sulfat 10 N, terjadi wama kuning kehijauan.

7

d.

2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v ter- jadi warna kuning kehijauan.

e. 2 rng serbuk daun ditambah 5 tetes ammonia (25%), terjadi wama kuning kehijauan.

DAUN SENDOK

Bagian yang digunakan : Daun tanarnan Plantago rnayor L. Cara pembuatan :

Pengutnpt~lanbalzavz :

Pada saat tumbuhan tersebut menjelang berbunga, daun-daun yang cukup tua dikumpulkan. Pengumpulan dilakukan sampai bunga tumbuhan tersebut keluar. Selanjutnya daun-daun ter- sebut dicuci dengan air bersih sampai bersih. Ditiriskan agar sisa- sisa air cucian dapat dibebaskan. Pernbztatan sirnplisia :

Daun-daun yang telah bersih dan bebas dari sisa air cucian ter- sebut dikeringkan dengan cepat di panas matahari (pada suhu 40" sampai 50" C). Jika tidak dikeringkan dengan cepat daun- daun akan nienjadi coklat. Cara pengujian :

Seder/zauza :

Daun tunggal, bertangkai, warna liijau kelabu sampai hijau ke- coklatan; lielaian daun berbentuk bundar sampai lanset melebar, panjang 5 ctn sampai 10 cm, lebar 4 cm sarnpai 9 ern; ujung daun dan pangkal daun agak mernbundar; pinggir daun rata atau bergerigi tidak teratur; permukaan atas daun licin; tulang daun 5 sampai 7, rnenjari menuju ujung daun, menonjol pada per- rnukaan bawah; panjang tangkai daun sampai 25 em. Bau lemah, rasa agak kelat.

Kirlzia :

a. 2 mg serbitk daun ditambah 5 tetes asam sulfat (95%), ter- jadi warna coklat.

b. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asarn sulfat 10 N, terjadi warna kuning kehijauan atau hijau lumut.

c. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v; terjadi warna kuning kecoklatan yang lama kelamaan berubah menjadi warna coklat.

d. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes ammonia (25%), terjadi wama kuning coklat kehijauan.

e. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam asetat encer, terjadi warna coklat muda.

-,

Bagian yang digunakan Rosc.

Cara pembuatan :

Pengumpulan bahan :

JAHE

: Rimpang tanaman Zingiber offieinale

Rimpang dikumpulkan pada saat batang tumbuhan tersebut mu- lai melayu atau mengering, yakni pada akhir musim penghujan. Rimpang-rimpang dikumpulkan lalu dicuci dengan air bersih, hingga dapat dibersihkan dari tanah-tanah yang mungkin mele- kattmelengket. Kemudian ditiriskan sampai dapat dibebaskan dari sisa-sisa cucian. Pembuatan simplisia :

Rimpang-rimpang yang sudah bersih dimatikan dengan cara mencelupkan kedalam air mendidih. Selanjutnya rimpang-rim- pang tersebut mengalami perlakuan sebagai berikut :

a. Rimpang dikerok lapisan terluarnya (lapisan gabus), kemudi- an dicuci dengan air bersih dan ditiriskan, hingga bebas dari sisa air cucian.

b. Rimpang tersebut tidak dikerok lapisan terluarnya. Kemudi-

an rimpang tersebut diputihkan dengan membedaki dengan kalsium karbonat atau kalsium hidroksida. Selanjutnya rimpang-rimpang tersebut dikeringkan di atas tikar dengan sinar matahari. Selama pengeringan harus sering diolak- alik dan harus dilindungi pada saat udara menjadi lembab. Pe- ngeringan tersebut berlangsung selama lima sampai enam hari. Untuk mendapatkan hasil yang lebih putih, rimpang-rimpang yang telah dikeringkan itu dilembabkan kembali, lalu dikering- kan lagi di sinar matahari untuk selama dua hari. Cara pengujian :

Sederhana :

Rimpang agak pipih, bagian ujung bercabang, cabang pendek dan pipih, bentuk bulat telur terbalik. Pada setiap ujung cabang terdapat parut melekuk kedalam. Dalam bentuk potongan, pan- jang 5 cm, sampai 15 cm, umumnya 3 cm sampai 4 cm, tebal 1 cm sampai 1,5 cm. Bagian luar berwarna coklat kekuningan, beralur memanjang, kadang-kadang ada serat yang bebas. Bekas patahan pendek dan 'berserat menonjol. Bau aromatik, rasa pe- das.

Kimia :

a. 2 mg serbuk rimpang ditambahkan 5 tetes asam sulfat (95% b/v); terjadi wama coklat hitam.

*,

b. 2 mg serbuk rimpang ditambal~kan5 tetes asam sulfat 10 N terjadi warna kuning.

c. 2 mg serbuk rilnpang ditambali 5 tetes asani klorida encer ter- jadi warna kunilig.

d. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan ~iatriumhi- droksida 5% terjadi warna coklat tua.

e. 2 mg serbuk rinipang ditambali 5 tetes ammonia 35% terjadi warna coklat.

f. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan kalii~miodida 6% b/v terjadi warna kuning.

JARINGAU

Bagian yang digunakan : Rimpang tanaman Aconrs culur~z~~.\L . Cara yenlbuatan :

Perlglrrnprtlarz bulzarl :

Pengun~pulanrimpang dilakukan pada saat tumbuhan berumur

1 tahun. Cara pengambilan rim pang dapat dilakukan dengan ca-

ra ~nencabuttumbuhan tersebut atau dengan alat yang disebut garpu. Rinipang yang telah dibongkar kemudian dikumpulkan. Bagian itjung rinipang dipotong sepanjang 2,5 crn itntuk bibit.

Rimpang-rimpang yang telah dipotong ujungnya kemudian di- cuci dengan air bersih liingga dapat dibebaskan dari lunipur yang melekat. Akar serabut dihilangkan. Selanjittnya ditiriskan hingga sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan.

Pembtlutun simplisia :

Rimpang-rimpang yang telah bersih dan bebas dari sisa-sisa air cucian tersebut dikeringkan di sinar mataliari langsung dengan alas tikar atau alas lain yang berlu bang-lubang hingga kering. Untuk ~nengetahitibatas pengeringan adalah apabila bobot rim- pang kering telah mencapai 20% berat rilnpang yang masili ba- sah. Rilnpang yang telah kering lalu disimpan. Cara pengujian :

Sederltana :

Rimpang jaringau merupakan potongan-potongan yang berben- tuk silindrik agak bengkok, liat, tidak banyak bercabang. Bau khas aromatik, rasa pahit dan agak pedas. Pada bagian atas ter- dapat parut daun berbentuk segitiga yang terentang melintang, pada bagian bawah terdapat parut-parut akar berbentitk bundar, lnenonjol dan letaknya tidak beraturan dalam garis yang ber- kelok-kelok; permukaan rimpang berkerut nlenianjang dan ber-

warm coklat kekuningan hingga coklat. Bekas patahan serupa bitnga karang, berpori atau agak berbutir, tidak atau agak berse- rat. warna agak putih atait agak coklat. Pada irisan melititang. endodcrmis tampak jelas sebagai garis berwarna gelap. Tebal si- lintler pilsat 2 sa~npai4 kali tebal kortcks.

Kitlliu

-

a. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi warna hitam.

b. 3 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asatii sulfat 10 N, ter- jacli warna coklat.

c. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam klorida pekat, terjadi warna hitam.

d. 2 nlg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam klorida encer, terjadi warna coklat muda.

e.

2 mg serbitk rimpang ditambah

5 tetes larutan KOH 5% b/v,

terjadi warna coklat tua.

f.

2 111gserbuk rimpang ditambah 5 tetes lari~tanNaOH 5% b/v, terjadi warna coklat tua.

g.

2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes ammonia (25%), ter-

jadi warna coklat. 11. 2 nlg serbuk rimpang ditambah 5 tetes lan~tanKI 6% b/v, ter- jadi warna coklat muda.

i. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan besi (111) klo- rida 5% b/v, terjadi warna kilning coklat dengan bintik hitam.

I

I

Bagian yang digunakan

yang telah rnasak. Cara pe~nbuatan:

JINTEN PUTIH

: Buah tanaman Cumirzum cyminutn L,

Perzgzlrl?pillarz ballan :

Buah mulai dikum-pulkan apabila tumbulian telah mulai menge- ring dan buah sudah tidak berwarna hijau tua lagi, dengan cara mencabut tumbuhan. Setelah itu tumbuhan dicuci dengan air

bersih sampai bersih. Ditiriskan agar sisa-sisa air cucian dapat

dibebaskan.

Pe!rtbzratan sirllplisia :

T~~rnbuhanyang telah bersih. dan bebas dari sisa-sisa air cucian ' kemudian dikeringkan di sinar matahari dengan alas tikar dan diirik. dipukul-pukul dengan kayu agar buahnya terlepas. Buah

dikumpulkan dan dikeringkan lagi disinar matahari. Setelah ke- ring ditampi agar dibersihkan dari bagian-bagian lainnya. Setelah bersih diwadahi dan disimpan. Cara pengujian :

Sederhana :

Buah jinten putih berbau khas aromatik, rasa khas merupakan suatu kremokarp yang berbentuk silindrik, warna kuning muda, panjang umumnya 6 mm, garis tengah 1 mm sampai 2 mm, ba- gian ujung mengecil, bagian pangkal bergagang dengan panjang 2 mm sampai 3 mm. Stilopodium pendek berujung runcing. Me- rikarp terpisah satu dengan lainnya bagian punggung cembung, bidang persekutuan agak datar. Rusuk primer berjumlah lima buah, agak menonjol keluar, warna agak pucat, rusuk sekunder berwarn agak gelap. Permukaan buah berambut kasar.

Kirnia :

a. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi warna coklat kehitaman.

b. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam sulfat 10 N, terjadi warna kuning kecoklatan.

c. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warna coklat kehijauan.

d. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam klorida encer, ter- jadi warna kuning kecoklatan.

e. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v, terjadi warna coklat tua. f. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v, ter- jadi warna coklat tua.

g. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes ammonia (25%), terjadi warna coklat tua.

h. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes larutan besi (111) klorida 5% b/v, terjadi warna hitam.

KAPULAGA

Bagian yang digunakan : Buah tanaman Amornum compaclum Soland ex Maton. Cara pembuatan :

Pengumpulan bahan :

Panenan buah dimulai pada tahun kedua atau ketiga, tergantung kepada kondisi pertumbuhan rumpun dan ketinggian tempat.

Umumnya hasil yang agak berarti baru diperoleh pada tahun ke- tiga. Buah sudah dapat dipanen bila sisa perhiasan bunga yang terdapat pada bagian ujung karangan bunga sudah luruh. Dalam

ha1 ini dapat dikatakan seluruh buah dalam karangan tersebut

sudah tua. Kemudian ibu gagang karangan buah dipotong de- ngan pisau tepat dibawah buah paling bawah. Musim panen ja- tuh pada bulan menjelang dan selama musim kemarau, yakni di Jawa Tengah jatuh pada bulan Mei hingga September. Bulan lainnya merupakan bulan panen kecil. Buah-buah tersebut ke- mudian dipisahkan dari gagang-gagangnya.

Pembuatan simplisia:

Buah yang sudah dipisahkan dari gagang-gagangnya tersebut se- lanjutnya dijemur di panas matahari atau dengan uap belerang bakar (SO, ). Cara pengujian :

Sederhana :

Buah kotak sejati, bentuk jorong atau bulat panjang, kadang-ka- dang hampir bulat, mengembung atau agak keriput, panjang 1

cm sampai 1,8 cm, lebar sarnpai lebih kurang 1,5 cm; pada per-

mukaan terdapat 3 alur membujur yang membagi buah menjadi 3 bagian; permukaan luar licin atau bergaris-garis membujur, warna kecoklatan atau kuning muda kecoklatan; buah beruang 3, dipisahkan satu terhadap yang lain oleh suatu sekat (septum),

dalam ruang terdapat dua deret biji yang terletak dalam massa , lengket dan menempel pada plasenta sumbu. Biji berwarna coklat kemerahan muda atau coklat kemerahan tua; panjang 3 mm sampai 5 mm, lebar 2 mm sampai 3,5 mm; bentuk tidak beraturan, bersudu t-sudu t, permukaan biji berkerut-kerut. Biji

diselubungi oleh selaput biji yang tipis, warna coklat muda atau tidak berwarna. Pada irisan melintang terlihat kulit biji benvar- na coklat kehitaman, perisperm berwarna putih, endosperm ke- kuningan, lembaga benvama lebih pucat. Bau khas aromatik,

rasa agak pedas.

Kimia :

a. 2 mg serbuk
I

buah ditambah 5 tetes asam sulfat (95%) terjadi

warna coklat hitam.

b. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam klorida pekat, terja-

di warna coklat.

c. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v ter- , i jadi warna kuning. d. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes larutan ferri klorida 5% b/v, terjadi warna hijau.

DAUN KAYU PUTIH

Bagian yang digu~~akan: Daun tanaman ,llclulc~~culelrccitlcrldru L. yang cukup tua.

Cara pembuatan :

Pcnglrr~t~lrku~lOullall :

Panen dilakukan setelah tumbuhan berumur antara 3 taliun sampai 4 tahun atau kurang, tergant~uigkepada keadaan ling- kungan yang berpengaruh terliadap kesuburan pertumbuhan. Panenan dilakukan dengan cara memangkas cabang-cabangnya. Daun-daun yang diperlukan dipetik dan dikumpulkan. Cara pa- nenan dengan pemangkasan dengan tujuan agar pemetikan daun dapat dilakukan dengan mudah. Di samping itu denpan pemang- kasan dapat memperbanyak tumbuhnya cabang-cabang baru. Daun-daun yang telali dikumpulkan dicuci dengan air bersili

saliipai bersili, dali ditiriskan hingga sisa-sisa air cucian dapat di-

bebaskan.

Perlzbliaturl sir?y~lisiu:

Daun-daun yang telah bersih dikeringkan dengan alas tikar atail alas lain yang berlobang-lobang. Daun-daun tersebut dikering ka~idi tempat yalig teduli dengan cara diangin-anginkan. dan secara berkala daun-daun tersebut diolak-alik sehingga dapat membant~~pengeringannya. Setelali kering disimpan. Cara pengujian :

Sederl~ailu:

Daun tunggal, bertangkai pendek, panjang tangkai 5 Iiim sampai 7 mm. Helaian daun berbentitk jorong atau lanset, pangkal dan ujiing daun uniumnya nieruncing, tepi daun rata. Panjang he- laia~idaun 3,5 cm sampai I0 em, lebar 0,5 cm sampai 1,7 em. Tulang-tulang daun liampir sejajar dali tidak menonjol pada per- mukaan daun. Permukaan daun berambut. warna hijau kelabu sampai hijau kecoklatan. B~LIarornatik, klias. Rasa pahit.

Killliu .

a. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asani sulfat, terjadi warna coklat hijau. b. 2 mg serbuk daun ditambali 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warna hijau.

c. 2 111g serbuk daun ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v, terjadi warna coklat hijau.

c. 2 mg serbitk daun ditarnbah 5 tetes ammonia (25%),terjadi warna coklat hijau. f. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan besi (111) klorida 5'2 b/v, terjadi warm bin1 hijau.

MERICA BOLONG.

Bagian yang digunakan : Buah tanaman Melalclica le~rcade?idraL, yang telah tua, berikilt dasar bunganya. Cara peinbuatan :

Penglnn/~lllunbalzatl :

Panen dilakukan setelah tumbuhan beru~nurantara 3 tahun sampai 4 tahun. Untuk tujuan panen buah tiap tahun tumbuhan tersebut tidak usah dipangkas, agar tumbuhan senlpat berbunga dan berbuah. Buah-buah yang telah tua dipotong bersama tang- kainya. Selanjutnya buah-buah yang telah dilepaskan dari tang- kai tersebut dicuci dengan air bersih sampai bersih. Ditiriskan agar sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan.

Per?lbilatur~sinz/~lisia:

Buah-buah yang telah bersih dan bebas dari sisa-sisa air cucian tersebut dikeringkan di sinar matahari dengan alas tikar atau alas lain yang berlobang-lobang. Setelah kering disimpan. Cara pengujian :

Sederl~atiu:

Simplisia terdiri dari buah dan dasar bunga. Simplisia berbentuk ~~~angkilk,panjang 2 mm sampai 4 mm, garis tengah 1,5 mm sampai 3,5 mm, warna coklat kehitaman. Permukaan luar rata dan berambut. Dasar bunga berbentuk mangkuk, tebal lebih ku- rang 0,s mm, warna coklat pada bagian luar dan coklat keku- ningan pada bagian dalani, permukaan luar maupun dalam rata. Buah terdapat di dalanl dasar bunga, beruang 3, kulit buah sa- ngat tipis, warna kuning kecoklatan, bagian ujung berwarna cok- lat. Biji sangat banyak, kecil, tersusun teratur di dalam ruang buah, bentuk tidak beraturan, panjang 0,5 mm sampai 1,s mm, lebar kurang dari 0,5 mm; di sarnping biji yang berwarna ku- , ning, terdapat benda berwarna coklat, yang bentuk dan ukuran- nya mirip dengan biji. Bail khas, simplisia yang kering tidak berasa. Simplisia yang basah agak pedas.

Ki~~iiu:

a. 2 mg serbuk buah ditarnbah 5 tetes asam sulfat; terjadi warna coklat kehijauan.

b. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warna hijau.

c. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes NaOH 5% b/v; terjadi warna kuning.

d. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v; ter- jadi warna kuning kecoklatan.

e. 2 mg serbuk buah ditambah 5 teks larutan besi (111) klorida 5% b/v; terjadi warna hijau.

KAYURAPAT

Bagian yang digunakan

: Kulit batang dan kulit cabang tanaman

Parameria laevigata (Juss) Moldenke. Cara pembuatan :

Pengumpulan bahan :

Batang dan cabang yang cukup tua dipotong. Dibiarkan sema- lam untuk memudahkan pengupasan kulit. Kemudian dipotong- potong dengan panjang kurang lebih 10 cm sampai 40 cm dise- suaikan dengan besar kecilnya batang atau cabang. Selanjutnya dicuci dengan air bersih hingga bersih permukaan luarnya. Diti- riskan sampai dapat dibebaskan dari sisa-sisa air cucian. Pembuatan simplisia :

Potongan batang dan cabang yang telah bersih dan bebas dari sisa-sisa air cucian tersebu t kemu dian digoret membujur dengan pisau tajam pada dua tempat yang saling berhadapan. Dan de- ngan menggunakan baji yang tidak tajam kulit batang atau ca- bang tersebut dilepaskan dari kayunya. Selanjutnya kulit-kulit yang telah dapat dilepaskan dari kayu dikeringkan di sinar mata- hari langsung dengan alas tikar atau alas lain yang berlubang-lu- bang sampai kering. Kemudian setelah kering disimpan.

Cara pengujian :

Sederhana :

Kulit kayurapat berbau lemah, rasa agak kelat dan agak pahit. Merupakan potongan kulit berbentuk gelendong atau pipa, menggulung datar atau melengkung, ringan, tidak padat, pan- jang antara 5 cm sampai dengan 20 cm, tebal antara 2 mm sam- pai 7 mm. Permukaan luar kasar tidak beraturan, berwarna cok- lat sampai coklat kelabu, liang-liang gabus melintang benvarna , coklat, lapisan gabus sering mengelupas. Permukaan dalam ber- warna coklat dengan garis-garis membujur. Pada kulit sering ma-

sih melekat bagian kayu berwarna putih kekuningan atau putih kecoklatan. Bekas patahan tidak rata dan tiap patahan masih di- hubungkan satu dengan lainnya ole11 benang-benang getah.

Kimia:

a. 2 mg serbuk kulit ditambah 2 tetes asam sulfat, terjadi warna kuning kehijauan.

b. 2 mg serbuk kulit ditambah 2 tetes larutan KOH 5% b/v, ter-

jadi warna coklat kemerahan.

c. 2 mg serbuk kulit ditambah 2 tetes ammonia (25%) terjadi

I warna kuning kecoklatan.

I d. 2 mg serbuk kulit ditambah 2 tetes larutan besi (111) klorida

I 5% b/v, terjadi warna kuning kehijauan.

I

I

KAYUANGIN

Bagian yang digunakan : Seluruh bagian talus

Usnea misaminensis (Vain) Not. Cara pembuatan :

Pengumpulan bahan :

tumbuhan tanaman

Talus-talus yang terdapat di pohon-pohon dalam hutan dikum- pulkan. Dicuci dengan air bersih hingga bersih. Ditiriskan agar sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan. Pembuatan simplisia :

Talus-talus yang telah bersih dan bebas dari sisa-sisa air cucian tersebut kemudian dikeringkan di sinar matahari langsung dengan alas tikar atau alas lain yang berlubang-lubang. Secara berkala selalu diolah-alik agar pengeringan dapat merata. Setelah kering disimpan. Cara pengujian :

I

Sederhana :

Berupa benang-benang, liat, bercabang-cabang, garis tengah 0,2

mm sampai 1 mm, warna hijau kelabu sampai hijau kekuningan. Bagian luar mudah dilepaskan dari bagian dalam. Apotesia ber- bentuk perisai, bagian atas berwarna hijau kelabu, bagian bawah berwarna putih kehijauan. Tebal kurang dari 0,5 mm, garis te- ngah 2 mm sampai 7 mm. Bau lemah dan tidak berasa.

Kimia :

a. 2 mg serbuk talus ditambah 5 tetes asam sulfat; terjadi warna

q'

b.

9 mg serbuk talus ditambah 5 tetes larutan NaOf1 5% b/v: tcr- jadi warna coklat.

c.

3 mg serbuk talus ditambali 5 tetes larutan KOH 5% b/v; ter- jadi warna coklat.

cl.

3 mg serbuk talus ditambali 5 tetes ammonia (25%); terjadi warna coklat.

KEDAWUNG

Bagian yang digunakan : Biji tanaman Purkiu ro.ubirrghii G. Don. Cara pembuatan ? Pet~g~/t~~pt/luribullut~:

Biji-biji yang telali masak dipanen dari tanaman yang telali ber- iltiiiIr kira-kira 6 tahun. Pcr?lhiraturi sirllplisiu :

Biji-biji dikeringkan cli sinar niataliari deligan alas tikar. Cara peng~jian:

Setlerliuriu . Biji berbentuk bulat telur atail liampir segitiga sampai billat nie- manjang, pipili. pada bidang yang pipili terdapat garis yang me- lingk:ur pada jarak 2 mm sampai 3 m111 dari tepi biji; panjang biji 10 mni sampai 23 mm, lebar 8 mm sampai 15 mm, tebal lebih kurang 8 mm, permukaan luar licin, berwarna hijau coklat kehi- taman atau coklat tua keliitaman sampai liitam. Kulit biji keras dan padat; inti biji berwarna hijau 111ildasampai Iiijau kecoklat- an; lenibaga sangat kecil. terdapat ditengali pada perteniuan pangkal keping biji. Bila biji direndam dalam air. permukaan luar biji menjadi berlendir. Bail klias, rasa klias, agak pahit.

Kirr~iu

a. 3 mg serbuk biji ditambali 5 tetes asam sitlfat (95%), terjadi warna merali; aduk, warna menjadi merali coklat.

b. 3 mg serbitk biji ditambali 5 tetes asam sulfat 10 N: terjadi massa yang lengket berwarna coklat.

c. 3 mg serbuk biji dita~nbah5 tetes asam klorida pekat terjadi warna kilning kehijailan; aduk, warna menjadi coklat kilning.

d. 3 nig serbuk biji clitambali 5 tetes larutan NaOH 5% b/v. ter- jacli warna coklat kekuningan.

e. 3 mg serbuk biji ditambah 5 tetes ammonia (25%), terjadi warna kekiuningan.

f. 3 ~iigserbuk biji ditambali 5 tetes larutan asam cuka encer, terjadi warna coklat kilning kehijauan.

KEJIBELING

Bagiati yang digunakan : Pucuk dai111tananian Sericoculj.~crisplls (L.) Bren1c.k. Cara penibuatan :

Peng~:lrl?z/~rlurl1~uhu1~:

Balian dikumpi~lka~idengan cara mcmangkas tu~iibi~lianbagian pi~citkkpanjang 20 em sampai 30 em. Cabang IJLICLI~dengall dai~n-claunnyakemi~diandicuci dengan air bersili sampai bersili. Sela~ijut~iyaditiriskan u~itukmembebaskan dari sisa-sisa air cu-

cian.

Pcr~~biratu~lsirlzplisia:

Pucitk dengan dai~n-daunnyayang telali bcrsili dan bebas dari sisa-sisa air cucian dapat langsung dikeringkan di sinar mataliari sampai kering. Setelali kering disimpan. Dapat pula daun-daun dipetik dulu, bar11 kemudian dikeringkan di si~iarniataliari sam- pai kering. Setelali kering disimpan. Cara petigi~jiali:

Se~lerl~ullu:

Daun kejibeliny berbau lemali, rasa agak sepat dan agak paliit, merupakan daun tttnggal, berliadapan, bertangkai pendek. tie- laian daun berbentuk jorong sampai bulat memanjang. Ujung dai~ndali pangkal daun meruncing; pinggir daun bergcrigi. Pan- jang lielaian daun 9 em sampai 18 em. lcbar lielaian daun 3 em salilpai 8 c~n.Permukaan atas daun sangat kasar, berwarna liijau tila sampai hitam kelabu. Permitkaan bawali dau~ikasar dan ber- warna lebih pucat daripada permukaan atas daun.

A~lrliu.

a. 3 ~iigserbuk dai~nditambahkan 5 tetes asam sulfat. terjadi warna coklat Iiijau.

b. 3, mg serbuk daun ditambali 5 tetes asam sulfat 10 N, terjadi warna coklat liitam.

c. 3, ~iigserbuk daun ditambali 5 tetes asalii klorida pekat, ter- jadi warna coklat hitam.

d. 3, 11ig serbuk daun ditambah 5 tetes asam klorida encer. terja- di warm coklat.

e. 9, mg serbuk daun ditambali 5 tetes larutan NaOH 5% b/v. terjadi warna liijai~tua.

f. 3 mg serbitk daun ditambali 5 tetes larutan KOFI 5'2 b/v, ter- jadi warna hijau tua.

,

g. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes ammonia (25%), terjadi warna hijau.

h. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam asetat encer, terjadi warna hijau.

i. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan timbal (11) asetat 5% b/v, terjadi warna hijau.

KEMUKUS

Bagian yang digunakan : Buah tanaman Piper cubeba L.f. Cara pembuatan :

Pengumpulan bahan :

Buah-buahan yang sudah tua tetapi masih berwarna hijau dipe- tik. Kemudian dicuci dengan air bersih sampai bersih. Ditiriskan sampai sisa-sisa air cucian dibebaskan. Pembuatan simplisia :

Buah-buah yang sudah bersih dan bebas dari sisa-sisa air cucian tersebut kemudian dikeringkan dipanas matahari. Alas penge- ringan adalah tikar atau alas lain yang berlubang-lubang. Cara pengujian :

Sederhana :

Buah berbentuk hampir bulat, umumnya bergaris tengah lebih kurang 5 mm; pada bagian pangkal terdapat tonjolan panjang menyerupai tangkai, panjang tonjolan 5 mm sampai 10 mm, te- bal kurang dari 1 mm; kadang-kadang bagian pangkal di daerah tonjolan agak cekung. Permukaan luar umumnya berkerat keras serupa anyaman jala, kadang-kadang rata; warna coklat muda. Kulit biji berwarna coklat tua, berkeriput. Inti biji terutama terdiri dari perisperm, di bagian atas terdapat endosperm yang kecil dengan embrio di dalamnya. Bau khas, aromatik, rasa agak pedas dan pahit.

Kimia :

a. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam sulfat (95%), terjadi warna merah.

5 tetes asam sulfat 10 N, terjadi

b. 2 mg serbuk buah ditambah

warna coklat hitam.

c. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warna coklat.

'

3

e. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes ammonia (25%), terjadi warna coklat.

f. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam asetat encer, terjadi warna coklat hitam.

KENCUR

Bagian yang digunakan : Rimpang tanaman Kaempferia galanga L. Cara Pembuatan :

,

Pengumpulan bahan :

Rimpang-rimpang dikumpulkan apabila batang dan daunnya mulai melayu atau mengering. Rimpang-rimpang tersebut ke- mudian dicuci dengan air bersih sampai bersih. Selanjutnya di- tiriskan hingga sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan. Pembuatan simplisia :

Rimpang-rimpang tersebut diiris-iris melintang dengan ketebalan antara 2 mm sampai 5 mm. Selanjutnya dikeringkan di panas matahari, dengan alas tikar atau alas lain yang berlubang-lubang.

Cara pengujian :

Sederhana :

Kepingan-kepingan, pipih, bentuk hampir bulat sampai jorong atau tidak beraturan, tebal keping 1 mm sampai 4 mm, panjang 1 cm sampai 5 cm, lebar 0,5 cm sampai 3 cm. Bagian tepi ber- ombak dan berkeriput, warna coklat sampai coklat kemerahan, bagian tengah berwarna putih sampai putih kecoklatan. Korteks sempit, lebar lebih kurang 2 mm, warna putih, berkas pembuluh tersebar tampak sebagai bintik-bintik berwarna kelabu atau ke- unguan. Silinder pusat lebar, banyak tersebar berkas pembuluh seperti korteks. ,Berkaspatahan rata, berdebu, berwarna putih.

Kiinia :

a. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam sulfat (95%), ter-

I jadi warna coklat tua.

1 b. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam sulfat encer ter- jadi warna coklat.

I I c. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v terjadi warna kuning coklat.

I d. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v

terjadi warna kuning jingga.

-,

e. 2 mg serbuk rimpang ditambah 4 tetes ammonia (25%) ter- jadi warna kecoklatan.

KETUMBAR

Bagiali yalig digunakan : Buali tanaman C'oriurltlnrrrl suri~~lrnlL. Cara Pe~iibuatali :

P~~r~g~~rrz~~rlur~Oullurl :

Ta~iamandapat dipanen apabila warna bualinya berubah dari lii- jail menjadi coklat kilning. ialuh pada umur 3 sampai 3.5 hitIan dari waktu tanam. Panen dilakukan dengan cara memotong tanaman atau mcncabutnya. Dici~cidengan air bersih sanipai

bersih.

PPI~I/>~IU~U~I.\ir~lpli,siu:

Tana~iianyang telali clipotong keni~~dian~liikatdan menjemur- nya scla~iia1 mi~~gguatait lebih. Biji dilepaskan clari bi~alinya dan dijcmur lagi dengan alas tikar sampai kering. Selanjutnya biji elitampi dan disimpan clalum karung atau kaleng.

Cara pengujian :

S~tl~rllur~u:

Buali berbentuk bulat, garis tengah 2 mni sampai 5 mm,warna i kuning: kccoklatan atau coklat keunguan; pada i~jungbuah ter- dapat 5 sisa tlsi~nkelopak kecil dan satit stilopodium pendek. Pada permukaan merikarp terdapat 4 rusuk sekunder yang membi~ji~r.~iienonjolclan lun~s:cliantara rusuk sekuncler terda- pat 5 ruatk primer menibujur. berkelok-kelok dan kurang me- nonjol: gagang huali pendek atau tidak acla. Pada potongan me- lintang mclalui pertengallan merikarp terlihat perikarp sangat tipis. tebal kilrang dari 0.5 mni: endosperni dari masing-niasing nierikurp berbentuk ginjal, warm putili kelabu. Pada potongan menibi~jurnierikarp. terliliat embrio berwarna lebih muda dari padn endosperni dan terclapat di bagian ujung dari endosperni. Karpofor berwarna piitill, memanjang dari pangkal sampai ujung bi~ah.B~~alibila diremas berbau aroniatik, klias. rasa khas, larna- lama agak pcclas.

Kir?liu .

1

i

I

a. 2 ~iigserbuk buah ditambah 5 tetes asam sulfat (95%),terjadi warna coklat tua.

b. nlg serbuk buah ditarnbah 5 tetes asam klorida pekat, terja- di warna coklat.

c. mg serbuk buah ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v ter- jadi warna kuning.

2

2

5

Bagiali

(BI.) Miq. Cara Pembuatan :

yang

digunakan

KUMISKUCING

: Daun

tananian

Ol.t/1o.~i1)11o1!uri.stut~~.~

Pcllgl~lll~~lllull11u/1u11 :

Pemetikan pcrtama dilakitkan apabila tumbulian mi~laiberkitn- cup bunga. Jik:~tumbi~linyabaik, setelah 4 111inggi1sampai 6 minggu dnri wakti~tanam daunnya mulai dapat clipetik. Selama menunggu pemetikan dai~n,kuncup bi~ngaclibi~ang,agar pem-

Pemeti knn tlila ku kan de-

ngan menletik puci~kclaun sebanyak 2 sampai 3 pasang claun dan lial ini dilakukan setiap 2 sampai 3 minggi~.Dai~nyang tclah dipetik kemi~diandici~cidengan air bersih sampai bcrsih. Ke- mi~tlian clitiriskan agar sisa-sisa air ciician dapat clibebaskun.

Pcrllblrututl si~l~plisiu:

Daun yang telah bebas dari sisa-sisa air cucian tersebut dikering- kan baik dengan menggunakan alat khusus atau langsung pada sinar matahari. Sebelum pengeringan dilakukan, seyogyanya daun diangin-anginkan dahulu beberapa lama. Setelah daiun mil- lai lay11baru dikeringkan dengan cara tersebut di atas.

bent11kan daun dapat ditingkatkan.

Cara pengujian :

Sctlerllur~a:

Daun tunggal, bertangkai, letak berselin~\~erhadapan,warna hi- jau, rapuli, bentilk bundar tcli~r,lonjong, belah kctupat meman- jang atau bentuk lidah tombak, i~junglancip atail tumpul. pan- jang 2. em sampai 12. em. lebar 1 em sampai 8 em. Tangkai daun pcrsegi, warna agak LIII,~I,panjang kurang lebih 1 em. [Ielaian daun tepinys bergcrigi kasar tidak beraturan, kaclang-kadang beringgit tajam clan mengguli~ngke bawah, i~j~~ngmailpun pang- kal daun meruncing, permukaan licin, pads tepi clan tulang tcr- dapat rambut pendek, terutanla pada permukaan bawah. Ti~lang daun menyirip halus, tulang cabang sedikit, warna hijau .rtas ungu. Bau aro~natik,rasa agak asin, agak paliit atail kelat.

Kiruia :

a. 7 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam sulfat (95%). terjadi warna biru tua.

b. 7 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warm liijau tua.

d.

2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes ammonia 2570, terjadi warna coklat kekuningan.

e. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan ferri klorida 5% b/v terjadi warna biru.

Bagian yang digunakan

Val. Cara Pembuatan :

: Rimpang tanaman Curcuma dornestica

Pengurnpulan bahan :

Rimpang-rimpang dikumpulkan pada saat batang tumbuhan ter- sebut mulai menjadi layu atau mengering. Rimpang terdiri dari rimpang induk dan anak rimpang. Rimpang induk berbentuk bulat telur atau seperti buah pir (disebut empu). Anak rimpang letaknya lateral dan berbentuk seperti tabung (silinder). Akar- akar yang ada dihilangkan. Dicuci dengan air bersih sampai ber- sih dan ditiriskan sampai sisa-sisa air dapat dibebaskan.

Pembuatan simplisia :

Rimpang induk dan anak rimpang yang sudah bersih dimatikan dengan cara diuapi dengan uap air atau mencelupkannya ke- dalam air mendidih. Rimpang-rimpang tersebut kemudian di- rajang menjadi lapisan-lapisan dengan ketebalan antara 3 mm sampai 4 mm. Selanjutnya dikeringkan di panas matahari de- ngan alas tikar. Cara pengujian :

Sederhana :

Simplisia ini berupa kepingan-kepingan tipis, berbentuk bulat atau jorong, garis tengah 5 cm, atau jorong, garis tengah 5 cm, atau panjang 2 cm sampai 6 cm, lebar 1 cm sampai 2,50 cm. Ba- gian tepi berkeriput, berwarna coklat muda, bagian tengah ber- warna coklat kemerahan. Bau aromatik yang khas, rasa agak pahit, agak pedas, lama-kelamaan menimbulkan rasa tebal.

Kirnia :

a. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam sulfat terjadi warna merah darah.

b. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam klorida pekat menjadi warna coklat.

c. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes natrium hidroksida 5% b/v terjadi warna merah jingga.

-*

,

d.

2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes ammonia 25% terjadi

warna merah jingga.

e. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan Ferri klorida 5% b/v terjadi warna coklat. f. 2 mg serbuk rimpang ditambah'5 tetes larutan Plumbi asetat 5% b/v terjadi warna merah jambu.

LADA

Bagian yang digunakan : Buah tanaman Piper nigrurn L. Cara Pembuatan :

Pengzlmpulan bahan :

Dikenal 2 macam simplisia dari buah merica, yaitu :

a. Lada hitam

b. Lada putih

Bahan baku lada hitam adalah buah-bush lada yang belum ma- sak. Dalam ha1 ini apabila dalam suatu tandan buah pada bagian bawahnya mulai terdapat buah yang mulai memerah, seluruh tandan buah lada tersebut dipetik dan masing-masing buah lada tersebut dilepaskan dari tandannya. Selanjutnya dicuci dengan air bersih sampai bersih dan ditiriskan hingga sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan. Bahan baku lada putih adalah buah yang telah masak. Dalam ha1 ini apabila buah-buah sudah menjadi merah semua maka tan- dannya dipetik. Kemudian buah-buah lada tersebut dilepaskan dari tandannya.

Lada hitam

Buah lada yang belum masak, sudah bersih dan telah dibebaskan dari sisa-sisa air cucian kemudian dikeringkan di sinar matahari atau dengan panas buatan (api). Yang paling disukai adalah yang dikeringkan dengan panas api. Lada jenis ini ditandai dengan bau asap yang masih melekat pada buah-buah tersebut.

Lada putih

Buah-buah lnasak yang telah dilepaskan dari tandannya disim- pan selama beberapa hari atau direndam dalam air. Kulit buah dipisahkan dengan cara menggosok-gosok buah-buah tersebut dan n~encucinya.Setelah bersih lalu dikeringkan di panas mata- , hari atau dengan panas api (panas buatan).

Cara pengujian :

Sederhana :

Buah berbentuk hampir bulat, warna coklat kelabu sampai hi- tam kecoklatan (lada hitam), atau putih kekuning coklatan (lada putih), garis tengah 2,5 mm sampai 6 mm. Permukaan berkeriput kasar, dalam, serupa jala;. pada ujung buah terdapat sisa dari kepala putik yang tidak bertangkai (untuk lada hi- tam) atau permukaan halus rata (untuk lada putih). Pada irisan membujur tampak perikarp yang tipis, sempit dan ber- warna gelap, menyelubungi biji yang putih dari biji tunggal; perikarp melekat erat pada biji. Hampir seluruh inti biji terdiri dari perisperm; bagian tengah perisperm berongga, bagian ujung perisperm menyelubungi endosperm yang kecil; embrio sangat kecil, terbenam dalam endosperm.

Kimia :

a. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam sulfat (95%) terjadi wama coklat tua.

b. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam sulfat 10 N terjadi warna kuning.

c. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warna coklat tua.

d. 2 mg serbuk buah ditambah 5 tetes asam klorida encer terjadi warna kuning.

Bagian yang digunakan

Stuntz. Cara Pembuatan :

LANGKUAS

: Rimpang tanaman Languas galanga (L.)

Pengumpulan bahan :

Rimpang dikumpulkan pada saat tanaman berumur 2,s bulan sampai 4 bulan agar diperoleh rimpang yang muda dan belum banyak serat. Panen dilakukan dengan cara mencabut tanaman.' Rimpang dipisahkan dari batang, kemudian dicuci dengan air bersih sampai bersih dan ditiriskan agar dapat dibebaskan dari sisa-sisa air cucian. Pembuatan simp lisia :

Rimpang-rimpang yang telah bersih dan bebas dari sisa-sisa air cucian kemudian dipotong-potong melintang sepanjang 5 cm

sampai 6 cm. Kemudian dibelah memanjang dengan ketebalan antara 1% cm sampai 3 cm. Selanjutnya dikeringkan di atas

I tikar di panas matahari dengan alas tik'ar atau alas lain yang ber-

,

1

lubang-lubang. Cara pengujian :

Sederhana :

Potongan panjang 4 cm sampai 6 cm, tebal 1 c1n sampai 2 cm kadang-kadang bercabang, ujung bengkok, warna permukaan coklat kemerahan, parut daun jelas. Bekas patahan berserat pendek, berbutir-butir kasar dan berwarna coklat.

I Kimia .

a. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam sulfat (95%) ter- jadi warna coklat ungu.

, b. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam klorida pekat,

I terjadi warna coklat.

serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v

c. 2 mg

I

terjadi warna coklat merah.

d. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes ammonia (25%) terja-

di warna coklat merah. e, 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes Ferri klorida 5% b/v, terjadi warna hijau.

LEMPUYANG GAJAH

Bagian yang digunakan : Rimpang tanaman Zingiber zerumdet Sm. Cara Pembuatan :

Pengumpulan bakan :

Dilakukan seperti pada lempuyang wangi. Pembuatan simplisia :

Diiris-iris melintang seperti pada lempuyang wangi, tetapi dengan ketebalan antara 5 mm sampai 6 mm. bikeringkan seperti pada

lempuyang wangi.
I

I Cara pengujian :

Sederkana :

Kepingan pipih, ringan, bentuk tidak beraturan, tebal sampai 5 mm. Permukaan luar tidak rata, berwarna coklat kekuningan Sampai kuning pucat. Bekas patahan tidak rata dan berserat. Bau aromatik, rasa pedas mirip mentol dan agak pahit.

'

5% b/v;

terjadi warna colat tua. f. 2 mg serbuk rimpang ditarnbah 5 tetes larutan KOH 5% b/v; terjadi warna coklat tua. g. 2 171g serbuk rimpang ditambah 5 tetes ammonia (25%); ter- jadi warna coklat tua.

e. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan NaOH

h. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan besi (111) klo- rida 5% b/v; terjadi warna coklat bintik-bintik hitv.

I

I

LEMPUYANG WANGI

Bagian yang digunakan : Rimpang tanaman Zingiber aromaticum Val. Cara Pembuatan :

Perlg~rmpulanbahan :

Rimpang dikumpulkan apabila batang mulai mengering. Rim- pang-rimpang tersebut d-pisahkan antara rimpang induk dengan anak rimpangnya. Akar-akar yang ada dihilangkan. Kemudian dicuci dengan air bersih sampai bersih dan ditiriskan untuk membebaskan sisa-sisa air cucian.

Pembuatan simplisia :

Rimpang-rimpang yang telah bersih dan bebas dari sisa-sisa air cucian kemudian diiris-iris melintang dengan ketebalan antara 2 mm sampai 4 mm. Irisan-irisan rimpang tersebut kemudian dikeringkan di sinar matahari langsung dengan alas tikar atau alas lain yang berlubang-lubang. Setelah kering disimpan. Cara pengujian :

Sederhana :

Kepingan, panjang tidak tertentu, tebal 1 mm sampai 2 mm, kadang-kadang bercabang, warna permukaan coklat muda Sam- pai coklat tua, ujung kadang-kadang membengkok: Parut daun jelas kelihatan. Bekas patahan berserat pendek, warna kuning dengan bintik-bintik putih. Bau aromatik dan rasa pahit.

Kitnia :

a. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi warna coklat mu-da.

b. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam sulfat 10 N; ter- jadi warna kuning muda.

,

d.

2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes asam klorida encer,

terjadi warna kuning muda.

e. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v:

terjadi warna kuning jingga. f. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v;

terjadi warna kuning jingga.

g. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes ammonia (25%); ter- jadi warna kuning jingga.

h. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan kalium yodida 6% b/v; terjadi warna kuning muda.

i. 2 mg serbuk rimpang ditambah 5 tetes larutan besi (111) klo- rida 5% b/v; terjadi warna coklat kehijauan.

I

B

4

b

I

MENIRAN

Bagian yang digunakan : Seluruh bagian tanaman Phyllanthus ni- ruri L.

Cara Pembuatan :

Pengumpulan bahan :

Dikufnpulkan pada musim kemarau (antara bulan Mei sampai bulan Oktober). Dicuci dengan air bersih sampai bersih. Selan- jutnya ditiriskan hingga sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan. Pembuatan simplisia :

Dijemur di sinar matahari hingga setengah kering. Kemudian di- pres selama satu malam dan selanjutnya dikeringkan di tempat teduh, dengan alas tikar atau alas lain yang berlubang-lubang. Cara pengujian :

Sederhana :

Batang ramping, bulat, garis tengah sampai 3 mm, garis tengah cabang sampai 1 mm. Daun kecil, bentuk bundar telur sampai bundar memanjang, pada varietas javanicus panjang llelaian daun 5 mm sampai 10 mm, lebar 2,5 mm sampai 5 mm; pada varietas betta genuinus panjang helaian daun 7 mm 'sampai 20 mm, lebar 3 mm sampai 5 mm. Bunga dan buah terdapat pada ketiak daun. Buah berwarna hijau kekuningan sampai kuning

kecoklatan.

Kimia :

a. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes asam sulfat (95%) blv; terjadi warna hijau.

'

b. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v; terjadi warna coklat.

c. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes ammonia (25%) terjadi warna coklat.

d. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes larutan Ferri klorida 5% b/v; terjadi warna hijau violet.

PACAR CINA

Bagian yang digunakan: Anak daun tanaman Aglaja odorata Lour, yang cukup tua. Cara Pembuatan :

Pengumpulan bahan :

Sebagian cabang-cabang tumbuhan dipangkas. Kemudian anak- anak daun yang sudah cukup tua dikumpulkan, dicuci dengan air bersih sampai bersih. Ditiriskan hingga sisa-sisa air cucian da- pat dibebaskan. Pembuatan simplisia :

Anak-anak daun yang telah bersih dan bebas dari sisa-sisa air cu- cian itu ke~diandikeringkan di .sinar matahari langsung de- ngan alas tikar'.atau alas lain yang berlubang-lubang hingga ke- ring. Setelah kering disimpan. Cara pengujian :

Sederhana :

Helaian daun berbentuk sudip, bulat telur terbalik, bulat telur lonjong. Ujung daun agak runcing, sedang pangkalnya sangat runcing. Tepi daun rata, panjang helaian daun 1 cm sampai 7,5 cm, lebar 7 mm sampai 3,5 cm, warna hijau kecoklatan sampai coklat. Permukaan' atas daun licin dan agak mengkilat, permukaan bawah kusam. Permukaan atas benvarna lebih tua dari pada permukaan bawah daun. Tulang daun menyirip, tu- lang daun pada permukaan bawah lebih menonjol dari pada per- mukaan atas. Tangkai anak daun .pendek. Bau aromatik lemah, rasa agak aromatik dan kelat.

Kirnia :

a. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi coklat kehitaman.

b. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes asam klorida pekat; ter- jadi warna hjjau.

c.

2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v; terjadi warna kuning kehijauan.

d. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v; ter- jadi warna coklat.

e. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes ammonia (25%); terjadi

warna coklat. f. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan kalium yodida 6% b/v; terjadi warna hijau kekuningan.

g. 2 mg serbuk daun ditambah 5 tetes larutan besi (111) klorida 5% b/v; terjadi warna hijau.

PATIKAN KEBO

Bagian yang digunakan : Seluruh bagian tanaman Ez~phorbiahirta

L.

Cara pembuatan :

Pengumpulan bahan :

Seluruh bagian tanaman dikurnpulkan mulai bulan Mei sampai dengan bulan Oktober. Dicuci dengan air bersih hingga bersih. Dan selanjutnya ditiriskan untuk membebaskan sisa-sisa air

cucian.

Pembuatan sirnplisia :

Seluruh bagian tanaman yang telah bersih dan bebas dari sisa- sisa air cucian kemudian dikeringkan di sinar matahari dengan alas tikar atau alas lain yang berlubang-lubang hingga kering. Selanjutnya disimpan. Cara pengujian :

Sederhana :

Herba patikan kebo merupakan bahan yang berbau lemah dan rasa agak pahit, herba patikan kebo dapat dikenal dari .akar, batang, daun, bunga dan sebagainya. Akar utama adalah akar tunggang, bagian yang tertebal bergaris tengah lebih kurang 5 rnm akar cabang serupa serabut. Batang kecil, panjang dan bu- lat, berambut kasar dan kaku. Daun berhadapan, umumnya ra- puh dan mudah patah, warna hijau tua sampai hijau kelabu,' bentuk jorong meruncing sampai tumpul atau berbentuk bulat panjang dengan pangkal yane tidak sama. Permukaan atas dan bawah berambut. Panjang helai. daun 0,5 cm sampai 5 cm, , lebar 0,5 cm sampai 2,5 cm, tepi daun bergerigi. Bunga kecil bergerombol dalam karangan bunga berbentuk bola yang ber-

lebih kurang 1 cm. Buah berongga tiga. panjang

1 mln sampai 2 mm, garis tengah lebih kurang 1 mm. Biji ber- jumlall tiga berisi enipat, berwarna coklat kemerahan.

Kimiu :

garis tengah

a. 2 rng serbuk herba ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi war- na coklat hijau.

b. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warna coklat merah.

c. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes larutan NaOIl 5% berat/ volume, terjadi warna coklat merah.

d. 2 mg serbuk herba ditambah'5 tetes larutan KOH 5% berat/ volume, terjadi warna coklat merah.

e. 2 mg serbuk kierba ditambah 5 tetes ammonia (25%,), terjadi warna hijau coklat. f. 2 mg serbuk herba dita~iibah5 tetes larutan besi (111) klorida 5% berat/volume, terjadi warna biru hitam.

PEGAGAN

Bagian yang digunakan : Seluruh bagian tnmbuhan C'etltc~lluu~iuticU. (L.) Urban yang ada di atas tanah. Cara pembuatan :

Perzgumpulan ballan :

Seluruh bagian tanaman yang terdapat di atas permukaan tanah dikumpulkan sepanjang tahun. Dicuci dengan air bersih hingga

menjadi bersih. Ditiriskan agar dapat dibebaskan dari sisa-sisa air

cucian.

Pembuatan sirnplisia :

Seluruh bagian tumbuhan yang telah bersih dan bebas dari sisa- sisa air cucian kemudian dikeringkan di atas tikar pada sinar

matah'ari.

Cara pengujian :

Sederhana :

Daun tunggal, berkeriput, rapuh, tersusun dalam roset yang ter- diri dari 2 - 10 daun, pangkal tangkai daun melebar menye- rupai seludang, helaian daun berbentuk gi~~jai,lebar, panjang

sampai

9 cm, lebar sampai 7 cm, atau berbentuk bundar dengan

garis tengah 7 cm, berwarna hijau kelabu, umumnya dengan 7 '

tulang daun yang menjari, pangkal helaian daun berlekuk,

ujung daun membundar, pinggir daun beringgit sampai beringgit bergigi, pinggir pangkal daun bergigi, permukaan daun umum- nya licin, tulang daun pada permukaan bawah agak berambut. Stolon dan tangkai daun berwarna hijau kelabu, berambut ha- lus. Nodium batang yang menjakir'umumnya berakari panjang ruas batang sampai 11 cm. Rimpang pendek, umumnya tegak, warna coklat kelabu. Perbungaan berbentuk' gayung tunggal, panjang gagang sampai 5 cm; perbungaan terdiri dari 3 bunga, daun pelindung 2 sampai 3 helai; daun mahkota berwarna ke- merahan, panjang 1 mm sampai 1,5 mm. Buah mempunyai 3 sampai 5 kremokarp berbelituk pipih, berlekuk 2, berusuk, ting- gi kremokarp 3 mm, lebar sampai 4 mm, saling berhadapan pada bidang yang lebar, berwarna kuning kecoklatan; tiap kre- mokarp terdiri dari 2 merikarp.

Kimia :

a. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes asam sulfat (95%) terjadi warna coklat.

ditambah 5 tetes asam sulfat 10 N terjadi

warna coklat hijau. c. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes larutan Ferri klorida 5% b/v; terjadi warna hijau kekuningan.

b. 2 mg serbuk herba

d. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes larutan kalium hidroksi-' da 5% b/v; terjadi warna kuning coklat.

POKO

Bagian yang digunakan : Daun-daun tanaman Mentha arvensis L. yang cukup tua sampai dengan pucuknya. Cara pembuatan :

Pengumpulan bahari :

Panen dilakukan 3 kali setahun. Daun-daun dan pucuk yang te- lah dipetik dikumpulkan dan selanjutnya dicuci dengan air ber-

sih sampai bersih. Ditiriskan agar sisa-sisa air cucian dapat dibe-

baskan.

Pernbuatan simplisia :

Daun-daun serta pucuk yang telah bersih dan bebas dari sisasisa air cucian tersebut dikeringkan ditempat teduh dengan alas tikar

atau alas lain yang berlubang-lubang. Setelah kering disimpan.

Cara pengujian :

Sederhana :

Helaian daun berbentuk bulat telur, ujung daun runcing, tepi daun bergerigi, pangkal daun meruncing, panjang 3,s cm sampai 7 cm, lebar 1,1 cm sampai 3,7 cm. Warna hijau sampai hijau ke- coklatan. Batang berbentuk segi empat, warna hijau keunguan, bemas-mas, dari tiap buku keluar tangkai daun.

Kimia :

a. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi war- na coklat hijau.

b. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes asam klorida, terjadi war- na hijau tua.

c. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v; terjadi warna coklat merah.

d. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes larutan KOH 5% b/v; ter- jadi warna coklat merah.

e. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes ammonia 25%; terjadi warna coklat hijau.

f. 2 mg serbuk herba ditambah 5 tetes larutan besi (111) klorida 5% b/v; terjadi warna biru hitam.

PULASARI

Bagian yang digunakan : Kulit batang dan cabang tanaman Alyxia reinwardtii B1. Cara pernbuatan :

Pengumpulan bahan :

Batang dan cabang yang cukup tua dipotong-potong sepanjang kira-kira 10 cm. Dicuci dengan air bersih hingga bersih. Ditiris- kan agar sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan. Dikerat membu- jur di dua tempat yang saling berhadapan. Kulit-kulit dilepaskan dari bagian kayunya. Pembuatan simplisia :

Dikeringkan di panas matahari sampai kering'. Sebagai alas digu- nakan tikar atau alas lain yang berlubang-lubang. Cara pengujian :

Sederhana :

Potongan-potongan dengan panjang sampai 10 cm, lebar sampai 2,5 cm, tebal sampai 4 mm; berlekuk membujur atau agak da-

'

tar, rapuh: permukaan luar halus, rata, warm putill jernih, ka- dang-kadang terdapat sisa-sisa lapisan. lnar yang tipis dan ' ber- warna coklat tila kellitaman; permukaan dalaln tidak rata, kasar clengan garis-garis membi~jur;bekas patah tidak rata, berserat, agak berdebu. Bail agak han~m,rasa agak pahit.

Kirllitr

a. 2 mg scrbuk kulit ditambah 5 tetes asam sulfat (95%) terjadi warna coklat kemerahan.

b. 9 mg serbuk kulit ditambah 5 tetes asam sulfat 10 N terjadi warna kuning kecoklatan.

c. 2 mg serbuk kulit ditamball 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warna coklat kuning.

d. 2 mg serbuk kulit ditambah 5 tetes asam klorida encer terjadi warna coklat kemerahan.

e. 2 mg serbuk kulit ditambah 5 tetes asam asetat encer terjadi warna coklat kemerahan.

f. 2 nlg serbuk kulit ditanibah 5 tetes larutan Natriuln hidroksi-

da 5% b/v terjadi warna coklat jingga.

g. 2 rng serbuk kulit ditalnbah 5 tetes larutan Kaliu~nhidroksida

5% b/v terjadi warna kuning; diaduk, warna menjadi coklat kekuningan. 11. 2 mg serbuk kulit ditambah 5 tetes ammonia 25% terjadi war- na coklat.

i. 2 mg serbuk kulit ditambali 5 tetes larutan Ferri klorida 5% b/v terjadi warna coklat kehijauan.

j. 2 n~gserbuk kulit ditambah 5 tetes larutan plumbi asetat 5%) b/v terjadi warna coklat kekuningan.

k. 2 mg serbuk kulit ditarnbah 5 tetes larutan Kalium iodida 6% b/v terjadi warna coklat.

PULE

Bagian yang digunakan : Kulit batang dan kulit cabang dari tanam- an Alsto~ziasclzolaris (L.) R.Br.

Cara petnbuatan :

Pengzlr~zptilarzbalzarz :

Batang dan cabang yang c~tkuptua dipotong. Dibiarkan sema-

lam untuk meniudahkan-pengupasan

kulit. Batang clan cabang

- 40 em. Selanjutnya dicuci dengan air bersih hingga bersih pcr- mukaan luarnya. Ditiriskan llingga dnpat dibebaskan dari sisa- sisa air cucian.

Per~lbliutul~sil?zplisiu :

Potongan batang dan cabang yang telah bersih dan bebas duri .sisa-sisa air c~lciantersebut kemudian digoret membujur tiengan pisau tajam pada dua tempat yang saling berhadapan. Dan de- ngan menggunakan baji yang tidak tajanl kulit batang dan ca- bang tersebut dilepaskan dari kayunya. Selanjutnya kulit-kulit yang telah dapat dilepaskan dari kayu dikeringkan di sinar ~nata- Ilari langsung dengan alas tikar atau alas lain yang berlubang- lubang sampai kering. Setelah kering kulit-kulit batang dan ca- bang tersebut disimpan.

Cara pengujian :

Sedevlzu~zu:

Merupakan potongan-potongan kulit menggulung atau kadang- kadang berbentuk pipa, tebalnya sampai lebill kurang 3 mm. Panjang berkisar antara 15 sampai 35 em. Perrnukaan luar sa- ngat kasar, tidak rata, mudah mengelupas, banyak reta k-reta k membujur dan melintang. Warna permukaan hijau kelabu, coklat ~nudaatau coklat kehitaman; lentisel berbentuk lonjong, warna putih kelabu, terletak melintang. Permukaan dala~nber- garis halus, juga terdapat retak-retak melintang; warna permuka- an kuning kecoklatan sampai coklat kelabu tua. Mudah dipatah- kan, be kas patahan kasar dan agak berserat.

Kil~iu:

a. 2 mg serbuk kulit ditambah 5 tetes asam sulfat, terjadi warna coklat ilngu.

b. 2 mg serbuk kulit ditamball 5 tetes asam sulfat 10 N, terjadi warna kuning.

c. 2 rng serbuk kulit ditambah 5 tetes asam klorida pekat, ter- jadi warna coklat.

d. 2 mg serbuk kulit ditambah 5 tetes larutan NaOH 55%berat/

volume; terjadi warna coklat kekuningan.

e. 2 Ing serbuk kulit ditambah 5 tetes animonia 25%; terjadi warna kuning. f. 2 mg serbuk kulit ditambah 5 tetes larutan besi (111) klorida; terjadi warna hijau muda.

-,

S A'G A

Bagian yang digunakan : Daun tanaman Abrus precatonus L. Cara pembuatan ; Pengumpulan bahan :

Daun-daun dipanen setelah tanaman berumur 6 sampai 8 bulan. Dalam ha1 ini daun-daun yang dipanen adalah yang telah cukup tua. Kemudian dicuci dengan air bersih sampai bersih. Selanjut- nya ditiriskan agar sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan. Pembuatan simplisia :

Daun-daun yang sudah bersih dan bebas sisa-sisa air cucian ter- sebut dikeringkan di sinar matahari dengan alas tikar. Cara pengujian :

Sederhana :

Anak daun berwarna hijau sampai hijau pucat atau hijau keku- ning-kuningan, tangkai daun pendek, helaian daun berbentuk jo- rong melebar atau bundar telur agak rompang; ujung daun tum- pul agak membundar, pangkal daun membundar, panjang anak daun 5 mm sampai 25 mm, lebar anak daun 3 mm sampai 9 mm, permukaan atas licin, tulang daun agak menonjol pada per- mukaan bawah. Bau lemah, rasa agak manis, khas.

Kimia :

a. Kocok 10 mg serbuk daun dengan 3 ml air selama 5 menit,

, bila perlu dipanaskan, saring, pada filtrat ditambahkan 5 tetes

asam sulfat encer, akan terbentuk endapan putih kuning yang lamt lagi apabila ditambah larutan ammonia encer ber- lebihan.

b. Kocok 10 mg serbuk daun dengan 3 ml air selama 5 menit, bila perlu dipanaskan. Dinginkan dan saring, pada filtrat di- tambah 5 tetes asam sulfat (95%), terjadi warna kuning.

c. Kocok 10 mg serbuk daun dengan 3 ml air selama 5 menit, bila perlu dipanaskan. Dinginkan dan saring, pada filtrat di- tambah 5 tetes larutan kalsium klorida 10,9% b/v, terbentuk endapan berwarna kuning coklat.

SARIAWAN

Bagian yang digunakan : Kulit batang tanaman Symplocos odora- tissima B1. Choisy.

Cara pembuatan :

Pengurnpulan bahan :

Cabang-cabang dipotong, tetapi pemotongan diusahakan hanya sebagian saja, sehingga masih memungkinkan tumbuhnya ;a:

bang-cabang baru. Bagian cabang yang masih muda dipotorig dan dipisahkan. Bagian cabang yang telah tua tergantung kepada besar kecilnya cabang dipotong-potong dengan panjang antara 80 mm sampai 3 cm. Selanjutnya potongan-potongan cabang tersebut dicuci dengan air bersih sampai bersih. Ditiriskan hing- ga semua sisa-sisa air cucian dapat dibebaskan. Diperarn sema- lam untuk mempermudah terlepasnya kulit dari kayunya. Pernbuatan simplisia :

Potongan-potongan cabang yang telah bersih, bebas dari sisasisa air cucian dan telah diperam semalam lalu ditoreh membujur dalam-dalam di dua tempat yang berhadapan dengan menggu- nakan pisau yang tajam. Dengan menggunakan baji, diusahakan melepaskan kulit dari 'kayunya melalui torehan membujur ter- sebut. Kulit-kulit yang telah dapat dilepaskan selanjutnya di- keringkan di sinar matahari langsung dan diolak-alik agar penge- ringannya dapat merata. Setelah kering disimpan. Cara pengujian :

Sederhana :

Potongan kulit, panjang 2,5 cm sampai lebih kurang 75 cm, lebar 1 cm sampai 5 cm, tebal 1 mm sampai 8 mm, pipih ber- lekuk atau agak menggulung. Permukaan luar kasar, bergaris- garis melintang, warna kuning coklat sampai kuning kecoklatan, kulit yang bergabus berwarna kelabu kehijauan sampai kelabu tua; permukaan dalam lebih rata, bergaris halus membujur, war- na kuning pucat. Bekas patahan tidak rata, sangat berserat, ter- utama bagian dalam. Bau agak wangi dan tidak berasa.

Kirnia :

a. 2 mg serbuk kulit ditambah 5 tetes asam sulfat; terjadi warna coklat hitam.

b. 2 mg serbuk kulit ditambah 5 tetes asam klorida pekat; ter- jadi warna hijau muda.

c. 2 mg serbuk kulit ditambah 5 tetes larutan NaOH 5% b/v; ter- jadi warna kuning coklat.

e. 7 rng serbuk kulit ditambah 5 tetes ammonia (25%); terjadi warna kuning. f. 7 mg serbuk kulit ditambah 5 tetes lan~tanbesi (111) klorida 5V b/v: terjadi warm kilning.

SECANG

Bagian yang' digunakan : Kayu tanaman Caesalpinia sappan L, yang telah berumur 1 sampai 2 tahun.

Cara pembuatan :

Pe~lglrrr~p~rlurlDul~atz:

Batang tumbuhan yang telah berumur 1 sampai 2 tahun dite- bang. Kemudian dipotong-potong dengan panjang antara 50 cm sampai 60 cm. Potongan-potongan tersebut dicuci dengan air bersih sarnpai bersih dan ditiriskan agar sisa-sisa air cucian dapat dipisahkan.

Petrzbliutat1 sitnplisia :

Potongan-potongan batang atau cabang yang telah bersih dan bebas dari sisa-sisu air cucian dikupas kulitnya. Bat?ng atau ca- bang yang telah terkupas dipotong-potong hingga terjadi po- tongan-potongan kecil-kecil (tatal = Jawa). Potongan-potongan kecil kayu ini kemudian dikeringkan disinar matahari langsung sarnpai kering. Dapat juga batang atau cabang yang telah diku- pas kulit (ge1am)nya tadi diketam (diserut) membujur. Hasil se- rutan kemudian dikeringkan di sinar matahari langsung hingga kering. Cara pengujian :

Seder/lai~u:

Kayu secang tidak berbau, rasa agak kelat. Merupakan potong- an-potongan kecil atau kepingan-kepingan dengan ukuran ber- variasi, atau berbentuk ketaman (serutan), keras, padat berwar- na merah, merah jingga atau kuning. Kalau di~nasukkankedalam air akan men~berikanwarna kuning sampai jingga.

hr~lrlu:

100 mg serbuk kayu dikocok dengan 5 tnl metanol selama ku- rang lebih 5 menit. Kalau perlu dipanaskan di atas penangas air, lalu disaring. Diperoleh cairan berwarna kuning kejinggaan a. 3 tetes cairan ini ditambah 1 tetes asam sulfat encer, akan ter- jadi warna ungu.

-

b. 3 tetes cairan ditambah 1 tetes asam klorida pekat, terjadi warna ungu.

c. 3 tetes cairan ditambah 1 tetes larutan KOH 5% b/v, terjadi

warna ungu.

d. ditambah 1 tetes larutan NaOH 5% b/v; terjadi

3 tetes cairan warna ungu.

e. 3 tetes cairan ditambah 1 tetes larutan timbal (11) asetat 5%

b/v; terjadi warna ungu. f. 3 tetes cairan ditambah 1 tetes larutan besi (111) klorida 5%

I

I

b/v; terjadi warna ungu.

Bagian

(L.1 DC.

Cara pembuatan :