Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anak merupakan hal yang penting artinya bagi keluarga, selain sebagai penerus keturunan
anak pada akhirnya sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu tidak satupun orang tua
yang menginginkan anaknya jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya mengalami kejang demam.
Insiden kenjang demam ini dialami oleh 2%-4% pada anak usia antara 6 bulan hingga 5
tahun (ME. Sumijati 2000:72-73) dengan durasi kejang selama beberapa menit. Namun begitu,
walaupun terjadi hanya beberapa menit, bagi orang tua rasanya sangat mencemaskan,
menakutkan dan terasa berlangsung sangat lama, jauh lebih lama disbanding yang sebenarnya.
Berdasarakan laporan dari daftar diagnosa dari lab. SMF Ilmu Kesahatan Anak RSUD Dr.
Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden kejang demam. Pada tahun 1999
ditemukan pasien kejang demam sebanyak 83 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0%).
Pada tahun 2000 ditemukan pasien kejang demam 132 orangdan tidak didapatkan angka
kematian (0%). Dari data diatas menunjukan adanya peningkatan insiden kejadian sebesar 37%.
Kejang demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan segera.
Diagnosa secara dini serta pengelolaanyang tepat sangat diperlukan untuk menghindari cacat
yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering. Untuk itu tenaga
perawat/paramedis dituntut untuk berperan aktif dalam mengatasi keadaan tersebut serta mampu
memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga dan penderita, yang meliputi aspek promotif,
preventif, kuratif dan rahabilitatif secara terpadu dan berkesinambungan serta memandang klien
sebagai satu kesatuan yang utuh secara bio-psiko-sosial-spritual.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana konsep teori dari demam kejang?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan demam kejang?

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami pengertian.
2. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami etiologi.
3. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami patofisologi.
4. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami woc.
5. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami manifestasi klinis.
6. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang.
7. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami klasifikasi.
8. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami komplikasi.
9. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami penatalaksanaan.
BAB II
TINJAUAN TEORI

1.1 Pengertian
Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi. Suhu badan ini
disebabkan oleh kelainan ekstrakranial (Lumbantobing, 1995).
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu mencapai
>38C). kejang demam dapat terjadi karena proses intracranial maupun ekstrakranial. Kejang
demam terjadi pada 2-4% populasi anak berumur 6 bulan sampai dengan 5 tahun (Amid dan
Hardhi, NANDA NIC-NOC, 2013).
Menurut Marvin A. Fishman (2007), kejang demam terjadi pada 2-4% anak usia di
bawah 6 tahun. Kriteria diagnostik mencakup: kejang pertama yang dialami oleh anak berkaitan
dengan suhu yang lebih tinggi dari pada 38C; anak berusia kurang dari 6 tahun; tidak ada tanda
infeksi atau peradangan susunan saraf pusat; anak tidak menderita gangguan metabolik sistemik
akut. Kejang demam bersifat dependen-usia, biasanya terjadi pada anak berusia antara 9 dan 20
bulan; kejang jarang dimulai sebelum usia 6 bulan.
Kejang demam merupakan gangguan transien pada anak yang terjadi bersamaan dengan
demam. Keadaan ini merupakan salah satu gangguan neurologik yang paling sering dijumpai
pada anak-anak dan menyerang sekitar 4% anak. Kebanyakan serangan kejang terjadi setelah
usia 6 bulan dan biasanya sebelum usia 3 tahun dengan peningkatan frekuensi serangan pada
anak-anak yang berusia kurang dari 18 bulan. Kejang demam jarang terjadi setelah usia 5 tahun.
(Dona L.Wong, 2008)
Kejang demam adalah serangan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh suhu
rektal di atas 38C. (Riyadi dan Sujono, 2009)
Kejang demam ditimbulkan oleh demam dan cenderung muncul pada saat awal-awal
demam. Penyebab yang paling sering adalah ispa. Kejang ini akan kejang umum dengan
pergerakkan klonik selama kurang dari 10 menit. Sistem syaraf pusat normal dan tidak ada
tanda-tanda defisit neurologis pada saat serangan telah menghilang. Sekitar 1/3 anak akan
mengalami kejang demam kembali jika terjadi demam, tetapi sangat jarang yang mengalami
kejang demam setelah usia 6 tahun.

1.2 Etiologi
Menurut Mansjoer, dkk (2000: 434) ada beberapa penyebab kejang pada anak yaitu ;
a. Demam itu sendiri
Demam yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia,
gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak selalu timbul pada suhu yang
tinggi.
b. Efek produk toksik daripada mikroorganisme
c. Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi.
d. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
e. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan, yang tidak diketahui atau
enselofati toksik sepintas.
f. Menurut staf pengajar ilmu kesehatan anak FKUI (1985: 50), faktor presipitasi kejang
demam: cenderung timbul 24 jam pertama pada waktu sakit demam atau dimana demam
mendadak tinggi karena infeksi pernafasan bagian atas. Demam lebih sering disebabkan
oleh virus daripada bacterial.

1.3 Patofisiologi
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel/organ otak diperlukan energi yang didapat
dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glucose, sifat
proses itu adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui
system kardiovaskuler.
Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi, dan
dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air. Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang terdiri dari
permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Dalam keadaan normal
membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA+ dan elektrolit lainnya, kecuali ion clorida.
Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah. Sedangkan
didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya, karena itu perbedaan jenis dan konsentrasi ion
didalam dan diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang disebut potensial membran dari
neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan
enzim NA, K, ATP yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion
diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau
aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena
penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh
dibanding dengan orang dewasa 15%. Dan karena itu pada anak tubuh dapat mengubah
keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+
melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik.
Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel
maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter sehingga
mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang yang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak
berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa.
Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA meningkat,
kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi hipoxia dan
menimbulkan terjadinya asidosis.
1.4 WOC

Infeksi bakteri virus


dan parasit Rangsang mekanik dan
biokimia. Gangguan
Reaksi inflamasi keseimbangan cairan dan
elektrolit
Proses demam
Perubahan konsentrasi ion Kelainan neurologis
Hipertermia diruangan ekstraseluler perinatal/prenatal

Resiko kejang berulang Ketidakseimbangan Perubahan difusi Na+ dan K+


potensial membram ATP
Resiko ASE Perubahan beda potensial
keterlambatan membram sel neuron
Pelepasan muatan listrik
perkembangan
semakin meluas keseluruh
Resiko cidera
sel maupun membrane sel
sekitarnya dengan
Resiko cidera bantuan neurotransmiter Kejang

Kesadaran menurun Kurang dari 15 menit (KDS) Lebih dari 15 menit (KDK)

Reflek menelan menurun Kontraksi otot meningkat Perubahan suplay darah


keotak
Resiko Aspirasi Metabolisme meningkat
Resiko kerusakan sel
neuron otak
Kebutuhan O2 meningkat Suhu tubuh makin
meningkat Resiko Ketidakefektifan
Resiko Asfiksia perfusi jaringan otak
Ketidakefektifan
termoregulasi
1.5 Manifestasi Klinis
Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung
singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, klonik, fokal, atau akinetik.
Umumnya kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi apapun
sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit
neurologis. Kejang dapat diikuti oleh hemiparesis sementara (Hemiparesis Todd) yang
berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral yang lama diikuti oleh
hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama sering terjadi pada kejang
demam yang pertama.
Durasi kejang bervariasi, dapat berlangsung beberapa menit sampai lebih dari 30 menit,
tergantung pada jenis kejang demam tersebut. Sedangkan frekuensinya dapat kurang dari 4 kali
dalam 1 tahun sampai lebih dari 2 kali sehari. Pada kejang demam kompleks, frekuensi dapat
sampai lebih dari 4 kali sehari dan kejangnya berlangsung lebih dari 30 menit.

Gejalanya berupa:
Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang tejradi secara tiba-tiba)
Pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi pada anak-anak
yang mengalami kejang demam)
Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung selama
10-20 detik)
Gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya
berlangsung selama 1-2 menit)
Lidah atau pipinya tergigit
Gigi atau rahangnya terkatup rapat
Inkontinensia (mengompol)
Gangguan pernafasan
Apneu (henti nafas)
Kulitnya kebiruan

Setelah mengalami kejang, biasanya:


Akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit atau tertidur selama 1 jam atau lebih
Terjadi amnesia (tidak ingat apa yang telah terjadi)-sakit kepala
Mengantuk
Linglung (sementara dan sifatnya ringan)

1.6 Pemeriksaan Penunjang


Beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien dengan kejang demam adalah
meliputi:
1. Elektro encephalograft (EEG)
Untuk pemeriksaan ini dirasa kurang mempunyai nilai prognostik. EEG abnormal tidak
dapat digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi atau kejang demam
yang berulang dikemudian hari. Saat ini pemeriksaan EEG tidak lagi dianjurkan untuk
pasien kejang demam yang sederhana. Pemeriksaan laboratorium rutin tidak dianjurkan
dan dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi.
2. Pemeriksaan cairan cerebrospinal
Hal ini dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya meningitis, terutama pada
pasien kejang demam yang pertama. Pada bayi yang masih kecil seringkali gejala
meningitis tidak jelas sehingga harus dilakukan lumbal pungsi pada bayi yang berumur
kurang dari 6 bulan dan dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan.
3. Darah
Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200 mq/dl)
BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro
toksik akibat dari pemberian obat.
Elektrolit : K, Na
Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang
Kalium ( N 3,80 5,00 meq/dl )
Natrium ( N 135 144 meq/dl )
4. Cairan Cerebo Spinal : Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda infeksi,
pendarahan penyebab kejang.
5. Skull Ray :Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi
6. Tansiluminasi : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB masih terbuka (di
bawah 2 tahun) di kamar gelap dengan lampu khusus untuk transiluminasi kepala.

1.7 Klasifikasi
Menurut Livingston (1954, 1963) kejang demam dapat diklasikfikasi sebagai berikut:
a. Kejang demam sederhana
Kejang demam sederhana yaitu kejang berlangsung kurang dari 15 menit dan umum.
Adapun pedoman untuk mendiagnosa kejang demam sederhana dapat diketahui melalui
kriteria Livingstone yaitu :
Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun
Kejang berlangsung hanya sebentar, tidak lebih dari 15 menit.
Kejang bersifat umum
Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbul demam.
Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak
menunjukan kelainan.
Frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali
b. Kejang kompleks
Kejang kompleks adalah tidak memenuhi salah satu lebih dari ketujuh criteria
Livingstone. Menurut Mansyur (2000) biasanya dari kejang kompleks diandai dengan
kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal atau multiple (lebih dari 1 kali dalam
24 jam). Di sini anak sebelumnya dapat mempunyai kelainan neurology atau riwayat
kejang dalam atau tanpa kejang dalam riwayat.

Lalu apa yang membedakan kejang demam ini dengan epilepsi? Walaupun gejalanya
sama yaitu kejang dan berulang, namun pada anak yang menderita epilepsi, episode kejang
tidak disertai dengan demam.
Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai dapat
diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu: kejang, klonik, kejang tonik dan kejang mioklonik.
a. Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan
masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat.
Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan
tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau
ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik
yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan
oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus
b. Kejang Klonik
Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal dan
multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1-3
detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak
diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat
trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.
c. Kejang Mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat
anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek
moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat.
Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.

1.8 Komplikasi
Kejang demam yang lama menyebabkan kebutuhan O2 meningkat, metabolisme otak naik,
terjadi kejang. Akhirnya spasme saluran nafas sesak, apnea, hipoksia dan asidosis metabolik.
Dengan metabolisme anaerob terjadi asidosis laktat. Hipoksia menyebabkan permeabilitas
vaskuler meningkat, terjadi oedema, kerusakan sel otak dan sistem syaraf terganggu seperti
hemiparesis, epilepsi dan gangguan mental organik.
Beresiko terjadi epilepsi jika berlangsung lama dan berulang
Gangguan tumbuh kembang pada anak.
Retardasi mental.
Kelainan saraf.
(Hasan & Alatas 1985).
Kejang demam sederhana mempunyai prognosis yang baik, hanya 1-10% berkembang
menjadi epilepsi. Pada kejang demam sederhana tidak didapatkan gangguan intelektual dan
belajar maupun kelainan fisik neurologik. (Nawawi, 1996)

1.9 Penaktalaksanaan
1. Pengobatan
a. Pengobatan fase akut
Obat yang paling cepat menghentikan kejang demam adalah diazepam yang diberikan
melalui interavena atau indra vectal.
Dosis awal : 0,3 0,5 mg/kg/dosis IV (perlahan-lahan).
Bila kejang belum berhenti dapat diulang dengan dosis yang sama setelah 20
menit.
b. Turunkan panas
Anti piretika : parasetamol/salisilat 10 mg/kg/dosis.
Kompres air PAM/Os
c. Mencari dan mengobati penyebab
Pemeriksaan cairan serebro spiral dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama, walaupun demikian
kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai
sebagai meningitis, misalnya bila aga gejala meningitis atau bila kejang demam
berlangsung lama.
d. Pengobatan profilaksis
Pengobatan ini ada dalam cara : profilaksis intermitten / saat demam dan profilaksis
terus menerus dengan antikanulsa setiap hari. Untuk profilaksis intermitten diberikan
diazepim secara oral dengan dosis 0,3 0,5 mg/hgBB/hari.
e. Penanganan sportif
Bebaskan jalan napas
Beri zat asam
Jaga keseimbangan cairan dan elektrolit
Pertahankan tekanan darah
2. Pencegahan
a. Pencegahan berkala (intermitten) untuk kejang demam sederhana. Beri diazepam dan
antipiretika pada penyakit-penyakit yang disertai demam.
b. Pencegahan kontinu untuk kejang demam komplikata
Dapat digunakan :
Fero barbital : 5-7 mg/kg/24 jam dibagi 3 dosis
Fenitorri : 2-8 mg/kg/24 jam dibagi 2-3 dosis
Klonazepam : (indikasi khusus)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa,
sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut. (Santosa. NI, 1989, 154)
Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data, analisa dan sintesa data
serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan dan
masalah kesehatan atau keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan lingkungan
pasien. Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga, teman, team kesehatan lain, catatan pasien
dan hasil pemeriksaan laboratorium. Metode pengumpulan data melalui observasi (yaitu dengan
cara inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), wawancara (yaitu berupa percakapan untuk
memperoleh data yang diperlukan), catatan (berupa catatan klinik, dokumen yang baru maupun
yang lama), literatur (mencakup semua materi, buku-buku, masalah dan surat kabar).
Pengumpulan data pada kasus kejang demam ini meliputi :
1. Data Subjektif
a. Biodata/Identitas
Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin.Biodata orang tua perlu
dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi nama, umur, agama,
suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.
b. Riwayat Penyakit (Darto Suharso, 2000)
Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan :
Apakah betul ada kejang?
Diharapkan ibu atau keluarga yang mengantar dianjurkan menirukan gerakan
kejang si anak
Apakah disertai demam?
Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang, maka
diketahui apakah infeksi infeksi memegang peranan dalam terjadinya
bangkitan kejang. Jarak antara timbulnya kejang dengan demam.
Lama serangan
Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu berlangsung
lama. Lama bangkitan kejang kita dapat mengetahui kemungkinan respon
terhadap prognosa dan pengobatan.
Pola serangan
Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai pola serangan
apakah bersifat umum, fokal, tonik, klonik?
Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang kesadaran seperti
epilepsi mioklonik?
Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak disertai gangguan
kesadaran seperti epilepsi akinetik?
Apakah serangan dengan kepala dan tubuh mengadakan flexi sementara
tangan naik sepanjang kepala, seperti pada spasme infantile?
Frekuensi serangan
Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya, umur berapa kejang terjadi
untuk pertama kali, dan berapa frekuensi kejang per tahun. Prognosa makin
kurang baik apabila kejang timbul pertama kali pada umur muda dan
bangkitan kejang sering timbul.
Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah aura atau rangsangan tertentu yang
dapat menimbulkan kejang, misalnya lapar, lelah, muntah, sakit kepala dan
lain-lain. Dimana kejang dimulai dan bagaimana menjalarnya. Sesudah kejang
perlu ditanyakan apakah penderita segera sadar, tertidur, kesadaran menurun,
ada paralise, menangis dan sebagainya?
c. Riwayat penyakit sekarang yang menyertai
Apakah muntah, diare, truma kepala, gagap bicara (khususnya pada penderita
epilepsi), gagal ginjal, kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA, Morbili dan lain-lain.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah penderita
pernah mengalami kejang sebelumnya, umur berapa saat kejang terjadi untuk
pertama kali? Apakah ada riwayat trauma kepala, radang selaput otak, KP, OMA
dan lain-lain.
e. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah mengalami infeksi
atau sakit panas sewaktu hamil. Riwayat trauma, perdarahan per vaginam sewaktu
hamil, penggunaan obat-obatan maupun jamu selama hamil. Riwayat persalinan
ditanyakan apakah sukar, spontan atau dengan tindakan ( forcep/vakum ),
perdarahan ante partum, asfiksi dan lain-lain. Keadaan selama neonatal apakah
bayi panas, diare, muntah, tidak mau menetek, dan kejang-kejang.
f. Riwayat Imunisasi
Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan serta umur
mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi. Pada umumnya setelah
mendapat imunisasi DPT efek sampingnya adalah panas yang dapat menimbulkan
kejang.
g. Riwayat Perkembangan
Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi :
Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial) : berhubungan dengan
kemampuan mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Gerakan motorik halus : berhubungan dengan kemampuan anak untuk
mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh
tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan koordinasi yang
cermat, misalnya menggambar, memegang suatu benda, dan lain-lain.
Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah
dan berbicara spontan.
h. Riwayat kesehatan keluarga.
Adakah anggota keluarga yang menderita kejang (+ 25 % penderita kejang
demam mempunyai faktor turunan). Adakah anggota keluarga yang menderita
penyakit syaraf atau lainnya? Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit
seperti ISPA, diare atau penyakit infeksi menular yang dapat mencetuskan
terjadinya kejang demam.
i. Riwayat sosial
Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan emosionalnya perlu dikaji siapakah
yang mengasuh anak? Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga dan teman
sebayanya?
j. Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan
Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit bagaimana? Pola kebiasaan dan
fungsi ini meliputi :
Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat
Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan tentang kesehatan,
pencegahan dan kepatuhan pada setiap perawatan dan tindakan medis?
Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang diderita, pelayanan kesehatan
yang diberikan, tindakan apabila ada anggota keluarga yang sakit, penggunaan
obat-obatan pertolongan pertama.
Pola nutrisi
Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi anak. Ditanyakan bagaimana
kualitas dan kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh anak? Makanan
apa saja yang disukai dan yang tidak? Bagaimana selera makan anak? Berapa
kali minum, jenis dan jumlahnya per hari?
Pola Eliminasi
BAK : ditanyakan frekuensinya, jumlahnya, secara makroskopis
ditanyakan bagaimana warna, bau, dan apakah terdapat darah? Serta
ditanyakan apakah disertai nyeri saat anak kencing.
BAB : ditanyakan kapan waktu BAB, teratur atau tidak? Bagaimana
konsistensinya lunak, keras, cair atau berlendir?
Pola aktivitas dan latihan
Apakah anak senang bermain sendiri atau dengan teman sebayanya?
Berkumpul dengan keluarga sehari berapa jam? Aktivitas apa yang disukai?
Pola tidur/istirahat
Berapa jam sehari tidur? Berangkat tidur jam berapa? Bangun tidur jam
berapa? Kebiasaan sebelum tidur, bagaimana dengan tidur siang?
2. Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan darah,
nadi, respirasi dan suhu. Pada kejang demam sederhana akan didapatkan suhu
tinggi sedangkan kesadaran setelah kejang akan kembali normal seperti sebelum
kejang tanpa kelainan neurologi.
b. Pemeriksaan Fisik
Kepala
Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah dispersi bentuk kepala?
Apakah tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial, yaitu ubun-ubun besar
cembung, bagaimana keadaan ubun-ubun besar menutup atau belum?.
Rambut
Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut. Pasien
dengan malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang jarang, kemerahan
seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan rasa sakit pada
pasien.
Muka/ Wajah.
Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang paresis tertinggal bila
anak menangis atau tertawa, sehingga wajah tertarik ke sisi sehat. Adakah
tanda rhisus sardonicus, opistotonus, trimus? Apakah ada gangguan nervus
cranial?
Mata
Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan
ketajaman penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva ?
Telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya infeksi
seperti pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga, keluar cairan dari
telinga, berkurangnya pendengaran.
Hidung
Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat jalan napas?
Apakah keluar sekret, bagaimana konsistensinya, jumlahnya?
Mulut
Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis? Bagaimana keadaan lidah?
Adakah stomatitis? Berapa jumlah gigi yang tumbuh? Apakah ada caries gigi?
Tenggorokan
Adakah tanda-tanda peradangan tonsil? Adakah tanda-tanda infeksi faring,
cairan eksudat?
Leher
Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid? Adakah
pembesaran vena jugulans?
Thorax
Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan,
frekwensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi Intercostale? Pada
auskultasi, adakah suara napas tambahan?
Jantung
Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya? Adakah bunyi
tambahan? Adakah bradicardi atau tachycardia?
Abdomen
Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen? Bagaimana
turgor kulit dan peristaltik usus? Adakah tanda meteorismus? Adakah
pembesaran lien dan hepar?
Kulit
Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah
terdapat oedema, hemangioma? Bagaimana keadaan turgor kulit?
Ekstremitas
Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi kejang?
Bagaimana suhunya pada daerah akral?
Genetalia
Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina, tanda-tanda
infeksi?

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak b.d gangguan aliran darah keotak akibat
kerusakan sel neuron otak, hipoksia dan edema serebral ditandai dengan TIK meningkat,
sakit kepala, kejang.
2. Resiko cidera b.d ketidakefektifan orientasi (kesadaran umum), kejang.
3. Resiko Aspirasi b.d penurunan tingkat kesadaran, penurunan refleks menelan.
4. Resiko keterlambatan perkembangan b.d gangguan pertumbuhan.

NO DIAGNOSA NOC NIC


1. Resiko Circulation status Peripheral Sensation Management
ketidakefektifan Tissue Prefusion : (Manajemen sensasi perifer)
perfusi jaringan cerebral Monitor adanya daerah tertentu
otak b.d gangguan Kriteria Hasil yang hanya peka terhadap
aliran darah keotak - Mendemonstarikan panas/dingin/tajam/tumpul
akibat kerusakan status sirkulasi yang Monitor adanya paretese
sel neuron otak, ditandai dengan : Instruksikan keluarga untuk
hipoksia dan edema - Tekanan systole dan mengobservasi kulit jiika ada isi
serebral ditandai diastole dalam rentang atau laserasi
dengan TIK yang diharapkan Gunakan sarung tangan untuk
meningkat, sakit - Tidak ada proteksi
kepala, kejang ortostatikhipertensi Batasi gerakan pada kepala, leher
- Tidak ada tanda tanda dan punggung
peningkatan tekanan Monitor kemampuan BAB
intrakranial (tidak lebih Kolaborasi pemberian analgetik
dari 15 mmHg) Monitor adanya tromboplebitis
- Mendemonstrasikan Diskusikan mengenai penyebab
kemampuan kognitif perubahan sensasi
yang yang ditandai
dengan :
- Berkomunikasi dengan
jelas dan sesuai dengan
kemampuan
- Menunjukan perhatian,
konsentarisi dan
orientasi
- Memproses informasi
- Membuat keputusan
dengan benar
- Menunjukan fungsi
sensori motori cranial
yang utuh : tingkat
kesadaran membaik,
tidak ada gerakan
gerakan involunter
2. Resiko cidera b.d Risk Kontrol Environment Management
ketidakefektifan Kriteria hasil (Manajemen Lingkungan)
orientasi (kesadaran - Klien terbebas dari Sediakan lingkungan yang aman
umum), kejang cedera untuk pasien
- Klien mampu Identifikasi kebutuhan keamanan
menjelaskan pasien, sesuai dengan kondisi
cara/metode untuk fisik dan fungsi kognitif pasien
mencegah injury/cedera dan riwayat penyakit terdahulu
- Klien mampu pasien
menjelaskan factor Menghindarkan lingkungan yang
resiko dari berbahaya (misalnya
lingkungan/prilaku memindahkan parabotan)
personal Memasang sade rail tempat tidur
- Mampu memodifikasi Menyediakan tempat tidur yang
gaya hidup untuk nyaman dan bersih
mencegah injury Menempatkan saklar lampu
- Menggunakan fasilitas ditempat yang mudah dijangkau
kesehatan yang ada pasien
- Mampu mengenali Membatasi pengunjung
perubahan status Menganjurkan keluarga untuk
kesehatan menemani pasien
Mengontrol lingkungan dari
kebisingan
Memindahkan barang-barang
yang dapat membahayakan
Berikan penjelasan pada pasien
dan keluarga atau pengunjung
adanya perubahan status
kesehatan dan penyebab penyakit
3. Resiko Aspirasi b.d Respitratory status: Aspiration precaution
penurunan tingkat ventilation Monitor tingkat kesadaran, reflek
kesadaran, Aspiration control batuk dan kemampuan menelan
penurunan refleks Swallowing status Monitor status paru pelihara
menelan Kriteria hasil jalan nafas
- Klien dapat bernafas Lakukan suction jika diperlukan
dengan mudah, tidak Cek nasogastrik sebelum makan
irama, frekuensi Hindari makan kalu residu masih
pernafasan normal banyak
- Pasien mampu menelan, Potong makanan kecil-kecil
mengunyah tanpa terjadi Haluskan obat sebelum
aspirasi, dan mampu pemberian
melakukan oral hygine
Posisi tegak 90 derajat atau
- Jalan nafas paten,
sejauh mungkin
mudah bernafas, tidak
Jauhkan manset trakea
merasa tercekikdan
meningkat
tidak ada suara nafas
Jauhkan pengaturan hisap yang
abnormal
tersedia
Periksa penemapatan tabung NG
atau gastrostomy sebelum
menyusul
Periksa tabung Ng atau
gastrostommy sisa seblum
makan
Hinder makan, jika residu tinggi
tempat pewarna dalam tabung
pengisi NG
Hindari cairan atau
menggunakan zat pengental
Penawaran makanan atau cairan
yang dapat dibentuk menjadi
bolus sebelum menelan
Potong makanan menjadi
potongan-potongan kecil
Istirahat atau menghancurkan pil
sebelum pemberian
Sarankan pidato/berbicara
patologi berkonsultasi, sesuai
4. Resiko Growth and Pendidikan orang tua : masa bayi
keterlambatan development delayed Ajarkan kepada orang tua
perkembangan b.d Family Coping tentang penanda perkembangan
gangguan Breastfeeding normal
pertumbuhan ineffective Demonstrasikan aktivitas yang
Nutritional Statur : menunjang perkembangan
nutrient intake Tekankan pentingnya perawatan
Kriteria hasil : prenatal sejak dini
- Recovery adanya Ajarkan ibu mengenai
kekerasan pentingnya berhenti
- Recovery : kekerasan mengonsumsi alcohol, merokok,
emosional dan obat-obatan selama
- Recovery neglect kehamilan
- Performance orang tua : Ajarkan cara-cara memberikan
pola asuh prenatal rangsangan yang berarti untuk
- Pengetahuan orang tua ibu dan bayi
terhadap perkembangan Ajarkan tentang perilaku yang
anak meningkat sesuai dengan usia anak
- Berat badan = index Ajarkan tentang mainan dan
masa tubuh benda-benda yang sesuai dengan
- Perkembangan anak 1 usia anak
bulan : penanda Berikan model peran intervensi
perkembangan fisik, perawatan perkembangan untuk
kognitif, dan psikososial bayi kurang bulan (prematur)
pada 1 bulan
Diskusikan hal-hal terkait
- Perkembangan anak 2 kerjasama antara orang tua dan
bulan : penanda
perkembangan fisik, anak
kognitif dan
psikososialusia 2 bulan
- Perkembangan anak 4
bulan : penanda
perkembangan fisik,
kognitif, dan psikososial
usia 4 bulan
- Penuaan fisik :
perubahan normal fisik
yang biasanya sering
terjadi seiring penuaan
usia
- Kematangan fisik
wanita dan pria:
perubahan fisik normal
pada wanita yang terjadi
dengan transisi dari mas
kanak-kanak ke dewasa
- Fungsi gastrointestilan
anak adekuat
- Makanan dan asupan
cairan bergizi
- Kondisi gizi adekuat
DAFTAR PUSTAKA

Capenito, L. J., 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinik. EGC : Jakarta

Doenges, Marilynn E., 2000. Rencana Asuhan Keprawatan Edisi III. ECG : Jakarta

Merenstein, Gerald. 2001.Buku Pegangan Pediatrik. Edisi 17. Widya Medika: Jakarta

Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit. Penerbit Buku Kedojteran EGC : Jakarta

Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinisproses-Prosespenyakit. Edisi 6. ECG :


Jakarta