Anda di halaman 1dari 4

KIAT MENUMBUHKAN NIAT IKHLAS

1. Mengetahui arti keikhlasan dan urgensinya dalam beramal


2. Selalu menghadirkan kebesaran allah taala
Cobalah bertanya dalam diri, apa sebenarnya tujuan hidup kita di dunia? Bukankah jelas
Allah menciptakan jin dan manusia semata-mata hanya untuk menyembah-Nya. Lantas
apa yang bisa kita harapkan dari manusia, semisal Ia bisa memuji terhadap apa yang kita
lakukan? Tidak ada, selain justru menumbuhkan perasaan ria dalam diri yang justru
mengurangi pahala dari Allah SWT.
Munculkanlah perasaan bahwa Allah adalah dzat Maha Besar yang ada di semesta.
Sehingga kita akan terhindar dari perasaan sombong dalam melakukan sesuatu, pasalnya
ada Dzat yang lebih besar dibanding semua yang kita miliki di dunia ini. Demikian
halnya saat menerima suatu musibah. Allah tidak akan memberikan musibah kecuali
sebagai bentuk kasih sayangnya kepada kita agar kita naik derajat.
3. Mengingat pahala keikhlasan
Ikhlas merupakan satu-satunya jalan menuju surga. Tanpa keikhlasan suatu amal tidak
akan diterima, dan tanpanya juga seorang hamba akan terjerumus ke dalam neraka.
Berusahalah untuk mengingat hal ini, ketika perasaaan tidak ikhlas itu kembali hadir.
Juga selalu mengevaluasi diri dan bersungguh sungguh. Baik sebelum, ketika, dan setelah
beramal. Sebelum memulai, berhentilah sejenak, tanyakan kepada jiwa kita, apa yang kita
inginkan dengan amalan ini? Jika yang diinginkan adalah ridha Allah, atau pahala dari
Allah taala, maka hendaklah seseorang meneruskan amalannya. Namun sebaliknya, jika
ternyata yang diinginkan hal lain selain Allah taala, maka hendaknya seseorang tidak
melanjutkan amalannya sampai meluruskan niatnya.
Ketika sedang beramalpun tetaplah melihat hati kita, jangan sampai berubah niatnya, jika
kemudian muncul niat lain selain Allah, maka segera palingkan kepada Allah taala.
Begitu juga setelah beramal. Jangan sampai muncul keinginan untuk diketahui oleh
manusia, hingga kemudian menceritakan amalannya sambil berharap pujian dari mereka.
4. Memperbanyak ketaatan
Taat merupakan apa yang sudah diperintahkan oleh Allah SWT. Dengan memperbanyak
melakukan ketaatan, hati kita terbiasa dekat dengan Allah. Sehingga saat melakukan
sesuatu yang teringat hanyalah Allah SWT.
5. Tidak takjub dengan diri sendiri
Takjub dengan diri sendiri, membuat kita menyekutukan Allah dengan diri sendiri.
Seakan akan dia telah berjasa kepada Allah dengan amalannya. Padahal, hakekatnya
justru sebaliknya. Seorang bisa beramal merupakan taufik dari Allah taala. Ujub kepada
diri sendiri sebagaimana halnya syirik dapat menghapus amalan, sebagaimana yang
disampaikan Imam Nawawi Rahimahullah.
6. Bergaul dengan orang-orang ikhlas
Ikhlas memang rahasia antara manusia dan Rabb-Nya. Namun demikian, manusia bisa
merasakan rekan atau saudaranya melakukan sesuatu dengan ikhlas atau tidak. Bergaul
lah dengan mereka yang anda rasa memiliki ilmu ikhlas ini. Dengan harapan bisa
berqudwah dan mengikuti mereka dalam keikhlasan.
7. Memperbanyak membaca/berinteraksi dengan Al Qur'an adalah penyembuh dari segala
penyakit dalam dada termasuk penyakit riya, ujub, dan sum'ah.
8. Berdoa, dengan tujuan agar selaludiberi keikhlasan dan dijauhi dari syirik. Doa yang
dicontohkan oleh Rasulullah saw: "Allahummah innii a'udzubika annusyrikabika syaian
a'lamuhu wa astaghfiruka lima laa a'lamuhu." (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari
syirik kepada-Mu dalam perbuatan yang kulakukan dan aku memohon ampun kepada-Mu
terhadap apa yang tidak diketahui).
9. Menyembunyikan amal kebaikan
Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan
menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal kebaikan
yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa
sunnah, dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih
diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan
hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda dalam sebuah hadits, Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada
hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil,
pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa
terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah
karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan
memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang
yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak
mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat
Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya. (HR Bukhari Muslim).
10. Memandang rendah amal kebaikan
Memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan dapat mendorong kita agar amal
perbuatan kita tersebut lebih ikhlas. Di antara bencana yang dialami seorang hamba
adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakukan, di mana hal ini
dapat menyeretnya ke dalam perbuatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan
rusaknya keikhlasan. Semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan,
maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut, bahkan pahala amal
kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia. Said bin Jubair berkata, Ada orang yang masuk
surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal
kebaikannya. Ditanyakan kepadanya Bagaimana hal itu bisa terjadi?. Beliau
menjawab, seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap
adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun
mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia
beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun
bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam
neraka.
11. Takut akan tidak diterimanya amal
Allah berfirman Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan,
dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan
kembali kepada Tuhan mereka. (QS. Al Muminun: 60)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka
yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal
perbuatan mereka tersebut ( Tafsir Ibnu Katsir ).
12. Tidak terpengaruh oleh perkataan manusia
Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada
umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya
tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia karenanya,
beliau menjawab, Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.
(HR. Muslim). Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang
pada umumnya tidak disukai manusia.
Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah pujian
tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah. Ia
pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun
berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut.
13. Menyadari bahwa manusia bukanlah pemilik surge dan neraka
Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan
sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di
antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di padang
mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk
dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal
perbuatan itu untuk mereka. Karena tidak satu pun dari mereka yang dapat menolong dia
untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka. Bahkan saudaraku,
seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai manusia terakhir berdiri di
belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorongmu masuk ke dalam
surga meskipun hanya satu langkah.

Referensi

Tanesia, Boris. 2008. Inginkah Anda Menjadi Orang yang Ikhlas?, (Online),
https://muslim.or.id/267-inginkah-anda-menjadi-orang-yang-ikhlas.html, diakses tanggal 7
September 2017.

Setiawati, wiwik. 2015. Enam Cara Menumbuhkan Perasaan Ikhlas, (Online),


http://www.infoyunik.com/2015/06/enam-cara-menumbuhkan-perasaan-ikhlas.html, diakses
tanggal 7 September 2017