Anda di halaman 1dari 15

DUALISME GELOMBANG PARTIKEL : SIFAT GELOMBANG DARI

PARTIKEL
(Prinsip Ketidakpastian Heisenberg dan Mikroskop elektron)
MAKALAH
(Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Listrik Magnet)
Dosen Pengampu :
Endah Kurnia Yuningsih, M.Pfis

Oleh :
Kelompok 9

Devi Yulianti (1132070016)


Dina Rohmahani (1142070021)
Fitri Sulastri (1142070027)

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN JURUSAN PENDIDIKAN


MIPA PRODI PENDIDIKAN FISIKA
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas rahmat dan nikmat-Nya. Shalawat dan
salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW serta
pengikutnya sampai akhir zaman.
Alhamdulillah berkat Ridha-Nya, bantuan, bimbingan serta dorongan dari
berbagai pihak, kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Dualisme
gelombang Partikel : Sifat gelombang dari Partikel (Prinsip Ketidakpastian
Heisenberg dan Mikroskop Elektron) untuk memenuhi salah satu tugas dari mata
kuliah Fisika Modern. Oleh sebab itu, sebagai ungkapan rasa hormat yang tulus,
kami menyampaikan ucapan terimakasih sebesar-besarnya kepada pihak yang
telah membantu dalam penyelasaian makalah ini. Mengingat kemampuan dan
pengetahuan ysng terbatas, maka kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, adanya saran dan kritik yang positif dan bersifat
membangun akan kami terima dengan terbuka.
Akhir kata, besar harapan kami semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat khususnya bagi kami yang menyusun makalah ini dan umumnya bagi
siapa saja yang membacanya.

Bandung, Februari 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 1
C. Tujuan Masalah ...................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Prinsip Ketidakpastian Heisenberg ......................................................... 2
B. Mikroskop Elektron ................................................................................ 5
C. Contoh soal ............................................................................................. 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................. 10
B. Saran ....................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Pada prinsipnya fisika modern sama dengan fisika klasik. Pada fisika
modern materi yang dibahas yaitu pada skala atomik atau subatomik dan
partikel yang bergerak dalam kecepatan tinggi. Sedangkan fisika klasik
kebalikannya. Contoh teori fisika klasik yaitu menganggap bahwa cahaya
adalah gelombang. Kemudian awal munculnya fisika modern adalah adanya
pernyataan Maxwell yang menyatakan bahwa cahaya (sinar tampak) adalah
gelombang elektromagnetik. Setelah teori Maxwell ini barulah muncul teori
fisika modern melalui percobaan efek fotoelektrik oleh Albert Einsten pada
tahun 1905 dimana cahaya yang menyinari atom mengeksitasi elektron untuk
melejit keluar dari orbitnya dan pada tahun 1924 percobaan Louis de Broglie
menunjukkan elektron mempunyai sifat dualitas partikel-gelombang. Melalui
hasil percobaan Albert Einsten, Louis de Broglie beserta ilmuwan lainnya,
sekarang ini diterima bahwa seluruh objek memiliki sifat gelombang dan
partikel (meskipun fenomena ini hanya dapat terdeteksi dalam skala kecil,
seperti atom). Ada beberapa ilmuwan yang mengemukakan teorinya
mengenai fenomena dualisme gelombang-partikel ini, salah satunya yaitu
prinsip ketidakpastian Heisenberg. Penggunaan praktisnya dapat dilihat pada
peralatan modern seperti mikroskop elektron. Oleh karena itu untuk
memahami mengenai dualisme partikel-gelombang maka dalam makalah ini
akan dipaparkan mengenai prinsip ketidakpastian Heisenberg dan mikroskop
elektron.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana prinsip ketidakpastian Heisenberg?
2. Bagaimana cara kerja mikroskop elektron terkait dualisme gelombang
partikel?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui prinsip ketidakpastian Heisenberg
2. Untuk mengetahui cara kerja mikroskop elektron terkait dualisme
gelombang partikel

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Prinsip Ketidakpastian Heisenberg


Pada perkembangan teori atomik selanjutnya, oleh de Broglie, Schrodinger,
dan Heisenberg, baru disadari bahwa hukum klasik mengenai dinamika partikel
tidak dapat diterapkan pada partikel fundamental. Dalam dinamika klasik, posisi
dan momentum dari suatu partikel harus diketahui dengan pasti. Dalam dinamika
atomic, jika hanya satu saja dari posisi atau momentum dari suatu partikel
fundamental yang diketahui dengan pasti, maka kuantitas lainnya tidak dapat
ditentukan. Bahkan, suatu ketidakpastian harus hadir di dalam pemahaman kita
akan posisi dan momentum dari suatu partikel kecil, dan produk dari tingkat
ketidakpastian untuk setiap kuantitas terkait dengan nilai konstanta planck. Dalam
dunia makroskopik, ketidakpastian fundamental ini terlalu kecil untuk diukur,
akan tetapi ketika membahas pergerakan dari elektron yang berevolusi
mengelilingi suatu nucleus atomik, penerapan prinsip ketidakpastian Heisenberg
menjadi suatu keharusan. Konsekuensi prinsip ini adalah kita tidak dapat lagi
menganggap elektron bergerak dengan orbit tetap mengelilingi nucleus melainkan
harus memandang pergerakan elektron sebagai suatu fungsi gelombang fungsi ini
hanya menyebutkan secara spesifik probabilitas ditemukannya satu elektron
dengan energi tertentu di dalam ruang yang mengelilingi nucleus tersebut
(Bishop, 2000)

Salah satu aspek paling terkenal dari dunia kuantum adalah prinsip
ketidakpastian Heisenberg. Heisenberg menggunakan dualitas gelombang-partikel
untuk menunjukkan bahwa kita tidak pernah bisa mengukur dengan cermat posisi
dan momentum dari sebuah entitas seperti elektron secara bersamaan. Dengan
kata lain, kita tidak bisa mengetahui letak dan arah pergi elektron pada saat
bersamaan. Kacaunya lagi, elektron sendiri tidak bisa tahu letak dan arah perginya
(secara cermat).
(Gribbin, 2005)

2
1. Pengukuran dan Ketakpastian
Andaikan diinginkan untuk menentukan kedudukan sebuah benda seperti
elektron. Untuk dapat mengukur kedudukan benda, maka harus dilakukan suatu
percobaan tertentu. Sebagai contoh, kita dapat menempatkan sebuah celah dalam
lintasan yang dicurigai dari sebuah partikel yang bergerak sejajar sumbu-y
dengan energi tertentu, seperti ditunjukkan gambar berikut

Jika sebuah tanda dibuat partikel pada layar (elektronik) yang ditempatkan
di belakangnya, maka akan kita ketahui bahwa partikelnya melalui celah. Jadi,
dalam batas lebar celah, d, kita dapat menentukan kedudukanx partikel. Dengan
kata lain, kita dapat mengukur kedudukanx partikel, pada saat (dan sebelum)
memasuki celah, hingga suatu ketakpastian x yang diberikan oleh x d .
Semakin kecil lebar celahnya kita buat, maka semakin kecil ketakpastian
kedudukan-x benda, dan karena itu semakin tepat diketahui kedudukannya.
Karena perilaku gelombang materi, kita tahu bahwa partikel akan
didifraksikan begitu ia melewati celah. Tetapi, meskipun kita tidak akan sanggup
meramalkan dimana, pada layar, partikel akan menumbuknya; selama partikel
pada layar dimana saja kita akan yakin bahwa ia telah melewati celah.
Tetapi proses difraksi mempunyai pengaruh pada momentum partikel.
Sebelum partikel melewati celah, kedudukannya sama sekali tidak diketahui,
tetapi momentumnya diketahui, baik besarnya (karena ia memiliki energi
tertentu) maupun arahnya (tegak lurus celah). Ketika partikel melewati celah,
karenanya menentukan kedudukannya, komponen-x, px , momentumnya tidak

3
lagi nol, karena partikel akan bergerak ke sebarang titik pada pola difraksi.
Karena tidak diketahui di mana partikel akan menumbuk layar, maka terdapat
suatu ketakpastian yang bersangkutan px dalam komponen-x momentumnya
ketika pada celah.
(Savin, 1995, p. 93)
2. Hubungan Ketakpastian untuk Kedudukan dan Momentum
Contoh diatas mengilustrasikan asas ketakpastian Heisenberg, yang pertama
kali dikemukakan pada tahun 1927 oleh W. Heisenberg. Suatu analisis kuantum
menunjukkan bahwa untuk semua tipe eksperimen, ketakpastian x dan p
akan selalu berkaitan melalui
h
px x
4
Perlu diperhatikan bahwa hubungan ini berlaku baik secara teori maupun secara
eksperimen.
3. Hubungan Ketakpastian untuk Energi dan Waktu
Hubungan ketakpastian Heisenberg dapat pula dirumuskan dalam variabel-
variabel konjugat lainnya. Sebagai contoh, untuk dapat mengukur energi E
sebuah benda haruslah dilakukan suatu percobaan selama suatu selang waktu t
. Suatu analisis menunjukkan bahwa ketakpastian dalam energi, E , berkaitan
dengan selang waktu t selama energi diukur oleh
h
E t
4
Jadi, energi sebuah benda dapat diketahui dengan ketelitian sempurna ( E 0 )
hanya jika pengukurannya dilakukan selama suatu selang waktu tak berhingga (
t ).
Asas ketakpastian Heisenberg mempunyai suatu akibat penting bagi sistem
seperti atom-atom tereksitasi yang rata-rata hidup selama suatu selang waktu
berhingga, yang disebut waktu hidup rerata. Karena waktu hidup rerata
membatasi lamanya waktu, maka energi sistem haruslah diukur sebelum ia
meluruh, sistem-sistem ini akan memiliki suatu ketakpastian minimum alamiah
dalam energinya yang diberikan oleh E h / 4

4
4. Asas saling Melengkapi
Asas ketakpastian menunjukkan bahwa tidak mungkin mengukur variabel-
variabel sekawan (seperti px dan x , E dan t) dalam sebuah percobaan tunggal
hingga ketelitian yang tinggi. Hasilnya, aspek partikel dan gelombang keduanya
tidak dapat diukur dalam percobaan yang sama. Sebagai contoh, sebuah
percobaan yang dirancang untuk mengukur sifat partikel suatu benda. Maka
perlu dalam percobaan ini x dan t sama dengan nol, karena sebuah partikel,
menurut definisi, dapat ditentukan kedudukannya dengan ketelitian tak hingga
pada suatu saat. Momentum dan energi, dank arena itu aspek gelombang (
h / p, v E / h ), menurut asas ketakpastian, akan sama sekali tak diketahui.
Jadi, apabila aspek partikel materi diperagakan, aspek gelombangnya terpaksa
disembunyikan. Begitu pula, jika aspek gelombang diukur secara pasti, sehingga
dan v , dan karena itu p dan E , nol maka aspek partikelnya akan tak
teramati.
Ketakmampuan untuk mengukur aspek gelombang dan partikel materi pada
saat bersamaan mengilustrasikan asas saling melengkapi, yang dikemukakan
oleh Bohr pada tahun 1928. Aspek gelombang dan partikel saling melengkapi
satu dengan lainnya karena kedua gambaran ini diperlukan untuk memahami
secara lengkap sifat-sifat materi, namun kedua aspek ini tak dapat diamati secara
serempak.
(Savin, 1995, p. 94)

B. Mikroskop Elektron

Mikroskop elektron merupakan sebuah mikroskop yang mampu untuk


melakukan pembesaran objek sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro
statik dan elektro magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan

5
gambar. Serta memiliki kemampuan pembesaran objek yang jauh lebih bagus
dari pada mikroskop cahaya.
Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi
elektromagnetik yang lebih pendek dibanding mikroskop elektron.
Ada beberapa macam mikroskop elektron. Berikut adalah jenis mikroskop
elektron yang dapat di gunakan saat ini.
1. Mikroskop transmision elektron (TEM)
Mikroskop transmision elektron (TEM) merupakan sebuah mikroskop
elektron yang cara kerjanya mirip dengan cara kerja proyektor slide, dimana
elektron di tembuskan ke dalam objek pengamatan dan pengamat mengamati
hasil tembusan pada layar.
TEM mampu menghasilkan resolusi hingga 0,1 nm atau sama dengan
pembesaran satu juta kali. Berikut merupakan cara agar preparat dapat
teramati dengan baik oleh TEM.
1) Melakukan fiksasi yang bertujuan untuk mematikan sel yang akan
diamati tanpa mengubah struktur sel . fiksasi dapat dilakukan dengan
menggunakan senyawa glutaraldehida atau osmium tetroksida
2) Membuat sayatan dengan setipis mungkin agar mudah diamati di
bawah mikroskop. Preparat dilapisi dengan monomer resin melalui
proses pemanasan, kemudian dilanjutkan dengan memotong
menggunakan mikrotom. Umumnya mata pisau mikrotom terbuat dari
berlian karena berlian tersusun dari atom karbon yang padat. Sayatan
yang telah terbentuk di letakan di atas cincin berpetak untuk diamati
3) Pelapisan atau pewarnaan, bertujuan untuk memperbesar kontras
antara preparat yang akan diamati dengan lingkungan sekitarnya.
Pelapisan atau pewarnaan dapat menggunakan logam berat seperti
uranium dan timbal.
2. Mikroskop pemindai elektron (SEM)
Mikroskop pemindai elektron (SEM) di gunakan untuk studi detail
arsitektur permukaan sel atau jasad renik lainnya, dan objek diamati secara
tiga dimensi.

6
Cara terbentuknya gambar pada SEM berbeda dengan apa yang terjadi
pada mikroskop optik dan TEM. Pada SEM gambar di buat berdasarkan
deteksi elektron baru (elektron sekunder) atau elektron pantul yang muncul
dari permukaan sampel ketika permukaan sampel tersebut di pindai dengan
sinar elektron.
Elektron sekunder atau elektron pantul yang terdeteksi selanjutnya di
perkuat sinyalnya, kemudian di perbesar amplitudonya ditampilkan dalam
gradasi gelap- terang pada layar monitor CRT (Catode Ray Tube). Di layar
CRT inilah gambar srtuktur objek yang sudah diperbesar dapat terliat. Pada
proses operasinya SEM tidak memerlukan sampel yang di tipiskan sehingga
bisa digunakan untuk melihat objek dari sudut pandang 3 dimensi
Agar pengamat dapat mengamati preparat dengan baik, diperlukan sediaan
dengan tahap sebagai berikut:
1) Melakukan fiksasi yang bertujuan untuk mematikan sel yang akan
diamati tanpa mengubah struktur sel . fiksasi dapat dilakukan dengan
menggunakan senyawa glutaraldehida atau osmium tetroksida
2) Dehidrasi yang bertujuan untuk memperendah kadar air dalam sayatan
sehingga tidak mengganggu proses pengamatan
3) Pelapisan atau pewarnaan, bertujuan untuk memperbesar kontras
antara preparat yang akan diamati dengan lingkungan sekitarnya.
Pelapisan atau pewarnaan dapat menggunakan logam mulia seperti
emas dan platina.
3. Mikroskop pemindai transmisi elektron (STEM)
Mikroskop pemindai transmisi elektron (STEM) merupakan salah satu tipe
yang merupakan hasil pengembangan dari mikroskop transmisi elektron
(TEM). Pada sistem STEM ini, elektron menembus spesimen namun
sebagaimana halnya dengan cara kerja SEM, optik elektron terfokus langsung
pada sudut sempit dengan memindai objek menggunakan pola pemindaian
dimana objek tersebut dipindai dari satu sisi ke sisi lainnya (raser) yang
menghasilkan jalur- jalur titik (dots) yang membentuk gambar seperti CRT
pada televisi atau monitor.
4. Mikroskop pemindai lingkungan elektron (ESEM)

7
Mikroskop ini merupakan pengembangan dari SEM. Yang dikembangkan
guna mengatasi objek pengamatan yang tidak memenuhi syarat sebagai objek
TEM maupun SEM.
Objek yang tidak memenuhi syarat seperti ini biasanya adalah bahan alami
yang ingin diamati secara detail tanpa merusak atau menambah perlakuan
yang tidak perlu terhadap objek yang apabila menggunakan SEM
konvensional perlu ditambah beberapa trik yang memungkinkan hal tersebut
bisa terlaksana.
Adapun cara kerjanya pertama- tama dilakukan suatu upaya untuk
menghilangkan penumpukan elektron di permukaan objek, dengan membuat
suasana dalam ruang sample tidak vakum tetapi di isi dengan sedikit gas yang
akan menghantarkan muatan positif ke permukaan objek, sehingga
penumpukan elektron dapat dihindari.
5. Mikroskop refleksi elektronn(REM)
REM merupakan mikroskop elektron yang memiliki cara kerja serupa
dengan TEM , namun sistem ini menggunakan deteksi pemantulan elektron
pada permukaan objek. Teknik ini secara khusus di gunakan dengan
menggabungkan denga teknik refleksi difraksi elektron energi tinggi dan
teknik refleksi pelepasanspektrum energi tinggi.
6. Spin- Polarized Low- Energy Electron Microscopy (SPLEEM)
Spin- Polarized Low- Energy Electron Microscopy (SPLEEM) merupakan
variasi lain yang dikembangkan dari teknik yang sudah ada sebelumnya dan
digunakan untuk melihat struktur mikro dari medan magnet.
Dengan melakukan penambahan peralatan video maka pengamat dapat
melakukan pengamatan dengan mikroskop elektron secara terus menerus
pada objek yang hidup.
(Apit Faturohman. 2015. Optik. https://optikukitasemua.blogspot.com.
Diakses tanggal 26 Februari 2017

8
CONTOH SOAL

1. Berapakah ketakpastian kedudukan foton yang panjang gelombangnya 3000


o
, jika panjang gelombang ini diketahui hingga ketelitian seperjuta?
Penyelesaian :
Momentum foton diberikan oleh
o
hc 12, 4 x 103 eV . A eV
p 4,13
c o
(3 x 103 A)c c

Ketakpastian dalam momentum foton adalah (bekerja dengan besarnya saja) :


h eV
p p p x 106 4,13 x 106
2
c
Yang darinya diperoleh
o
h h 12 x 103 x eV . o
x 2,39 x 106 2,39 m
4p 4 cp 4 c(4,13 x 10 eV / det)
6

(Savin, 1995, p. 95)

2. Berapa ketakpastian minimum keadaan suatu atom jika sebuah elektron tetap
berada dalam keadaan ini selama 108 det?
Penyelesaian :
waktu yang tersedia untuk mengukur energi adalah 108 det. Oleh karena itu,
dari E t h/4 ,
o
h h 12, 4 x 103 x eV.
E
4t 4 ct 4 c(3 x 108 m/det)(108 det)(1010
o
/ m)
o
0,329 x 107 23,9 m
Ketakpastian minimum energi keadaan itu adalah h / (4 ), dengan
adalah waktu hidup rerata keadaan tereksitasi, yang disebut lebar alamiah
(natural width) keadaan. Untuk persoalan ini waktu hidup reratanya 108 det
dan lebar alamiahnya 0,329 x 107 eV
(Savin, 1995, p. 95)

9
HASIL DISKUSI
1. Jadi bagaimana sifat gelombang dari partikel dari prinsip ketidakpastian
Heisenberg tentang?
Jawab :
Sifat gelombang dari partikel dibuktikan oleh de Broglie. Berdasarkan
percobaan de brglie dikemukakan bahwa cahaya dapat berkelakuan seperti
partikel, maka partikel pun seperti halnya elektron dapat berkelakuan seperti
gelombang. Sebuah foton dengan frekuensi f memiliki energi sebesar hf dan
hf
memiliki momentum p , karena c f maka momentum foton dapat
c
h
dinyatakan p . Kemudian Heisenberg menyatakan bahwa keberadaan

elektron dalam lintasan tidak dapat ditentukan dengan.pasti
Sekarang kita sudah memandang cahaya dan materi dapat berperilaku
sebagai gelombang-partikel. Lalu kita ingin menentukan posisi partikel atau
dimana partikel itu berada. Untuk menentukannya, kita harus mengganggu
partikel tersebut dengan sesuatu sehingga menghasilkan informasi yang
diinginkan, seperti menyinarinya dengan cahaya. Sekarang kita coba untuk
menentukan partikel misalnya elektron dengan menginteraksikannya dengan
bantuan cahaya. Prinsip ini diterapkan pada mikroskop cahaya dimana foton
cahaya akan menumbuk elektron kemudian foton kembali ke mikroskop
dengan membawa informasi mengenai posisinya. Ketika foton menumbuk
elektron maka akan terjadi perubahan kecepatan baik pada elektron maupun
foton atau dengan kata lain terjadi perubahan momentum. Sehingga
walaupun posisi elektron dapat diketahui namun momentumnya tidak akan
bisa diketahui dengan pasti (sesuai prinsip Heisenberg). Jadi dapat
disimpulkan bahwa sifat gelombang dari partikel ini yaitu posisi elektron
(sebagai partikel) dan momentum (sebagai gelombang) dimana partikel
(elektron) disinari cahaya dengan dengan panjang gelombang tertentu.
2. Apa yang dimaksud spesimen?
Jawab :
Spesimen adalah preparat atau objek yang diamati

10
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Prinsip Ketidakpastian Heisenberg terbagi menjadi 4 bagian diantaranya
adalah sebagai berikut:
1. Pengukuran dan Ketakpastian
2. Hubungan Ketakpastian untuk Kedudukan dan Momentum
3. Hubungan Ketakpastian untuk Energi dan Waktu
4. Asas saling Melengkapi
Mikroskop elektron merupakan sebuah mikroskop yang mampu untuk
melakukan pembesaran objek sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro
statik dan elektro magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan
gambar. Serta memiliki kemampuan pembesaran objek yang jauh lebih bagus
dari pada mikroskop cahaya.
Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi
elektromagnetik yang lebih pendek dibanding mikroskop elektron.
Ada beberapa macam mikroskop elektron. Berikut adalah jenis mikroskop
elektron yang dapat di gunakan saat ini:
1. Mikroskop transmision elektron (TEM)
2. Mikroskop pemindai elektron (SEM)
3. Mikroskop pemindai transmisi elektron (STEM)
4. Mikroskop pemindai lingkungan elektron (ESEM)
5. Mikroskop refleksi elektronn(REM)
6. Spin- Polarized Low- Energy Electron Microscopy (SPLEEM)

B. KRITIK DAN SARAN


Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu kami sangat membutuhkan saran serta kritik dari pembaca yang
bersifat membangun agar penulisan makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.

11
DAFTAR PUSTAKA

Bishop, R. S. (2000). Metalurgi Fisik Modern & Rekayasa Material. Jakarta:


Erlangga.
Faturohman, Apit. 2015. Optik. http://optikukitasemua.blogspot.com. Diakses
tanggal 26 februari 2017. Jam 17. 35 WIB.
Gribbin, J. (2005). Fisika Modern. Jakarta: Erlangga.
Savin, R. G. (1995). FISIKA MODERN. Jakarta: Erlangga.

12

Anda mungkin juga menyukai