Anda di halaman 1dari 100

PROYEK AKHIR

PELAKSANAAN PEKERJAAN PENGECORAN PELAT


LANTAI PADA PROYEK PEMBANGUNAN JALAN
TOL LAYANG BEKASI CAWANG KP. MELAYU
(BECAKAYU) 2 SEGMEN PADA PWB 111 PWB 113

Disusun untuk melengkapi salah satu syarat kelulusan program Diploma III
Politeknik Negeri Jakarta

Disusun oleh:

M.Rizky Zakaria
NIM. 3113120015
M. Azmi Baihaqi
NIM. 3113120016

Pembimbing:
Drs. Sarito. ST., M.Eng
NIP : 19590525 198603 1003

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK SIPIL


PROGRAM STUDI KONSTRUKSI SIPIL
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2016
PROYEK AKHIR

PELAKSANAAN PEKERJAAN PENGECORAN PELAT


LANTAI PADA PROYEK PEMBANGUNAN JALAN
TOL LAYANG BEKASI CAWANG KP. MELAYU
(BECAKAYU) 2 SEGMEN PADA PWB 111 PWB 113

Disusun untuk melengkapi salah satu syarat kelulusan program Diploma III
Politeknik Negeri Jakarta

Disusun oleh:

M.Rizky Zakaria
NIM. 3113120015
M. Azmi Baihaqi
NIM. 3113120016

Pembimbing:
Drs. Sarito. ST., M.Eng
NIP : 19590525 198603 1003

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK SIPIL


KONSENTRASI KONSTRUKSI SIPIL
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2016

ii
1 HALAMAN PERSETUJUAN

Laporan Proyek Akhir berjudul :

PELAKSANAAN PEKERJAAN PENGECORAN PELAT LANTAI PADA


PROYEK PEMBANGUNAN JALAN TOL LAYANG BEKASI CAWANG
Kp. MELAYU (BECAKAYU) 2 SEGMEN PADA PWB 111 PWB 113 yang
disusun oleh Muhamad Rizky Zakaria (NIM. 3113120015) dan Muhammad
Azmi Baihaqi (NIM. 3113120016) untuk dipertahankan dalam
Sidang Proyek Akhir Tahap II

Disetujui untuk dipertahankan:

Pembimbing

(Drs. Sarito, ST., M.Eng)


NIP: 19590525 198603 1003

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

DEPOK

2016

iii
2 HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Proyek Akhir berjudul :

PELAKSANAAN PEKERJAAN PENGECORAN PELAT LANTAI PADA


PROYEK PEMBANGUNAN JALAN TOL LAYANG BEKASI CAWANG
Kp. MELAYU (BECAKAYU) 2 SEGMEN PADA PWB 111 PWB 113 yang
disusun oleh Muhamad Rizky Zakaria (NIM. 3113120015) dan Muhammad
Azmi Baihaqi (NIM. 3113120016) telah dipertahankan dalam Sidang Proyek
Akhir Tahap II di depan Tim Penguji pada hari..........tanggal..............................

NamaTim Penguji Tanda Tangan

Nama lengkap dan gelar


Ketua
NIP .

Nama lengkap dan gelar


Anggota
NIP .

Nama lengkap dan gelar


Anggota
NIP .

Mengetahui
Ketua Jurusan Teknik Sipil
Politeknik Negeri Jakarta

Putera Agung Maha Agung, ST, MT,


Ph.D
NIP. 19660602 199003 1 002

iv
3 KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil
menyelesaikan Proyek Akhir ini dengan baik. Proyek akhir ini disusun dan diajukan
sebagai syarat bagi kami untuk dapat menyelesaikan program DIII Politeknik Negeri
Jakarta. Judul yang diambil PELAKSANAAN PEKERJAAN PENGECORAN
PELAT LANTAI PADA PROYEK PEMBANGUNAN JALAN TOL LAYANG
BEKASI - CAWANG - KP. MELAYU (BECAKAYU) 2 SEGMEN PADA PWB
111 PWB 113 ini merupakan sebuah pengaplikasian ilmu yang didapat pada
bangku perkuliahan ke dalam permasalahan di lapangan.

Kami ucapkan juga banyak terima kasih kepada Bapak Drs. Sarito, ST., M.eng
yang sudah bersedia membimbing dalam penyusunan Proyek Akhir ini dan tidak
lupa kepada keluarga dan teman yang sudah memberikan dukunganya. Kami
menyadari bahwa Proyek Akhir ini masih jauh dari sempurna,oleh karena itu kritik
dan saran dari Bapak/Ibu dosen yang bersifat membangun selalu diharapkan demi
kesempurnaan dalam penyusunan Proyek Akhir ini. Akhir kata, kami sampaikan
terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan
Proyek Akhir ini dari awal hingga akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa
merestui segala usaha kita. Amin.

Depok, 2016

Penulis

v
ABSTRAK

Pembangunan Jalan Tol Layang Bekasi Cawang Kp. Melayu (BECAKAYU) yang
terletak di Bekasi, Jawa Barat hingga Kp. Melayu, Jakarta ini untuk mengurai kemacetan di
sekitar kalimalang. Penyusunan proyek akhir mengenai Pelaksanaan Pengecoran Pelat
Lantai Jalan Tol Layang Bekasi Cawang Kp. Melayu (BECAKAYU) ini bertujuan
untuk menjelaskan proses pelaksanaan pekerjaan pembetonaan pelat lantai yang meliputi
pekerjaan pemasangan pelat bondek, mengontrol kekuatan pelat bondek untuk menahan
beban beton segar pada saat pengecoran, menghitung volume bahan yang diperlukan pada
pekerjaan pelat lantai, menghitung durasi perkerjaan berdasarkan jumlah tenaga kerja, dan
menghitung produktivitas dan siklus pemesanan pada proses pengecoran. Metode yang
digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan ini dimaksudkan agar pekerjaan dapat berjalan
dengan lancar di lahan yang macet dan tidak mengganggu pengguna jalan lain yang melintas
kerena lahan pekerjaan juga merupakan jalan akses utama yang menghubungkan Bekasi
Jakarta. Pengamatan dilakukan dengan cara menganalisis layout jalan layang dan kemudian
dapat diketahui besarnya volume pekerjaan yang dapat digunakan sebagai dasar perhitungan
durasi dan produktivitas dari setiap pekerjaan. Dalam pekerjaan pengecoran, dapat dihitung
cycle time pekerjaan yang berasal dari perhitungan produktivitas concrete pump dan
perhitungan durasi pekerjaan. Siklus pemesanan truk mixer harus sangat diperhatikan untuk
menghindari penghentian pengecoran dan beton tidak mencapai setting time.

Kata kunci: Jalan Layang, Pelat Lantai, Pengecoran.

vi
4 DAFTAR ISI

1 HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................... iii

2 HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iv

3 KATA PENGANTAR ......................................................................................... v

ABSTRAK .................................................................................................................. vi

4 DAFTAR ISI ......................................................................................................vii

5 ................................................................................................................................... ix

6 DAFTAR TABEL ................................................................................................. i

7 DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... x

8 DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... i

1 BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1

1.2 Masalah Penelitian ........................................................................................ 2

1.2.1 Identifikasi Masalah ............................................................................... 2

1.2.2 Perumusan Masalah ............................................................................... 2

1.3 Pembatasan Masalah ..................................................................................... 2

1.4 Tujuan Penulisan ........................................................................................... 3

1.5 Manfaat dan Signifikansi Penelitian .............................................................. 3

1.6 Sistematika Penulisan .................................................................................... 4

2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 5

2.1 Batching Plan ................................................................................................ 5

2.2 Beton ............................................................................................................. 6

2.2.1 Pengertian Beton .................................................................................... 6

2.2.2 Bahan-Bahan Pencampur Beton ............................................................ 6

2.2.3 Klasifikasi Beton .................................................................................. 11


2.2.4 Pengerjaan Beton Segar ....................... Error! Bookmark not defined.

2.2.5 Kontrol Mutu Beton ............................................................................. 13

2.2.6 Perawatan Beton (Curing) .................................................................... 15

2.2.7 Koefisien Produktivitas Tenaga Kerja . Error! Bookmark not defined.

2.3 Bondeck ....................................................................................................... 16

2.3.1 Pengertian Bondeck .............................................................................. 16

2.3.2 Keuntungan dan Kerugian Bondeck ..... Error! Bookmark not defined.

2.3.3 Spesifikasi Standard ............................................................................. 17

2.4 Baja Tulangan .............................................................................................. 17

2.4.1 Pengertian Baja Tulangan .................................................................... 17

2.4.2 Jenis Baja Tulangan ............................. Error! Bookmark not defined.

2.4.3 Ukuran Baja Tulangan ......................... Error! Bookmark not defined.

2.4.4 Standard Pemotongan dan Pembengkokan Tulangan Error! Bookmark


not defined.

2.4.5 Cara Pengujian Tulangan ..................................................................... 20

2.4.6 Koefisien Produktivitas Tenaga Kerja . Error! Bookmark not defined.

3 BAB III METODOLOGI .................................................................................. 34

3.1 Lokasi Pengamatan ...................................................................................... 34

3.2 Alat Pengamatan .......................................................................................... 34

3.3 Rancangan Pengamatan ............................................................................... 35

3.4 Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 35

3.5 Metode Analisis Data .................................................................................. 36

3.6 Tahapan Pengamatan ................................................................................... 37

4 BAB IV DATA TEKINS .................................................................................. 38

4.1 Gambaran Umum Proyek ............................................................................ 38

4.2 Pihak Pihak yang Terlibat ........................................................................ 38

4.3 Data Proyek ................................................................................................. 38

viii
4.3.1 Data Umum .......................................................................................... 38

4.3.2 Lokasi Proyek ...................................................................................... 39

4.3.3 Data Teknis Proyek .............................................................................. 39

4.4 Spesifikasi Struktur Pelat Lantai ................................................................. 40

4.5 Spesifikasi Alat dan Bahan.......................... Error! Bookmark not defined.

5 BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN ..................................................... 43

5.1 Pekerjaan Pemasangan Pelat Bondeck ........................................................ 43

5.1.1 Perhitungan Kebutuhan Bondeck ......................................................... 43

5.1.2 Kontrol Kekuatan Pelat Bondeck ......................................................... 49

5.1.3 Perhitungan Durasi Waktu Pekerjaan Pemasangan Bondeck............... 50

5.1.4 Pelaksanaan Pemasangan Bondeck ...................................................... 51

5.2 Pekerjaan Penulangan .................................................................................. 56

5.2.1 Perhitungan Volume Pekerjaan Penulangan Pelat Lantai .................... 56

5.2.2 Perhitungan Durasi Waktu Penulangan (Per Segmen)......................... 59

5.2.3 Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai .................................................. 62

5.3 Pekerjaan Pengecoran Pelat Lantai ............................................................. 74

5.3.1 Perhitungan Volume Pengecoran Pelat Lantai .... Error! Bookmark not
defined.

5.3.2 Perhitungan Durasi Waktu Pengecoran Pelat Lantai (Per Segmen) .... 77

5.3.3 Perhitungan Kebutuhan Vibrator ......... Error! Bookmark not defined.

5.3.4 Pelaksanaan Pekerjaan Pengecoran Pelat Lantai ................................. 82

6 BAB IV PENUTUP .......................................... Error! Bookmark not defined.

6.1 Kesimpulan .................................................. Error! Bookmark not defined.

6.2 Saran ............................................................ Error! Bookmark not defined.

7 DAFTAR PUSTAKA ........................................ Error! Bookmark not defined.

ix
5 DAFTAR TABEL

Tabel 2-1 Klasifikasi Beton ....................................................................................... 11


Tabel 2-2 Nilai Slump untuk Berbagai Pekerjaan Beton ........................................... 19
Tabel 2-3 Perbandingan Kekuatan Beton .................................................................. 23
Tabel 2-4 Tabel Koefisien Tenaga Kerja ................................................................... 25
Tabel 2-5 Ukuran Baja Tulangan Beton Polos .......................................................... 28
Tabel 2-6 Ukuran Baja Tulangan Beton Sirip............................................................ 29
Tabel 2-7 Kait Standard untuk Sengkang dan Kait Pengait ....................................... 30
Tabel 2-8 Kait Standard untuk Tulangan Utama ....................................................... 30
Tabel 2-9 Tabel Koefisien Tenaga Kerja ................................................................... 32
Tabel 5-1 Kebutuhan Pelat Bondeck ......................................................................... 57
Tabel 5-5 Perhitungan Kebutuhan Top Slab PWB 111 PWB 112 (t=30cm)......... 66
Tabel 5-6 Perhitungan Kebutuhan Top Slab PWB 112 PWB 113 (t=30cm)......... 67
Tabel 5-4 Volume Pengecoran Pelat Lantai PWB 111 PWB 113 .......................... 81
Tabel 5-5 Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton............................................................ 93
6 DAFTAR GAMBAR

Gambar 2-1 Pengujian Nilai Slump ........................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 2-2 Jenis-jenis Slump ................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 2-3 Alat Uji Kepadatan ................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 3-1 Lokasi Proyek Pembangunan Jalan Tol Layang BECAKAYU ............. 34
Gambar 3-2 Flowchart Tahapan Pengamatan ............ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-1 Lokasi Proyek Pembangunan Jalan Tol Layang BECAKAYU ............. 39
Gambar 4-2 Tampak Atas Pelat Lantai Jembatan PWB 111 PWB 112 ................. 40
Gambar 4-3 Potongan Melintang Pelat Lantai Jembatan PWB 111 PWB 112 ...... 40
Gambar 4-4 Tampak Atas Pelat Lantai Jembatan PWB 112 PWB 113 ................ 41
Gambar 4-5 Potongan Melintang Pelat Lantai Jembatan PWB 112 PWB 113 ...... 41
Gambar 4-6 Batching Plant ........................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-7 Truck Mixer ........................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-8 Concrete Pump ....................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-9 Service Crane ......................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-10 Concrete Vibrator ................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-11 Travo listrik.......................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-12 Travo listrik.......................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-13 Theodolite ............................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-14 Bar Cutter ............................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-15 Bar Bender .......................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-16 Gruving Tool ....................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-17 Tang ..................................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-18 Sendok Spesi ........................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-19 Cangkul ................................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-20 Roll Meter ............................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-21 Palu Besi .............................................. Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-22 Besi Tulangan ...................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-23 Paku Rivet ............................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-24 Kawat Benrat ....................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-25 Deck Drain ........................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-26 Paku Besi ............................................. Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-27 Sterofoam ............................................. Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-28 Pelat Bondeck ....................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-29 Potongan Melintang Pelat Bondeck ..... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4-30 Teknik Pemasangan Pelat Bondeck ..... Error! Bookmark not defined.
Gambar 5-1 Flow Chart Pekerjaan Pemasangan Pelat Bondeck ..... Error! Bookmark
not defined.
Gambar 5-2 Tampak Atas Pekerjaan Pemasangan Pelat Bondeck ............................ 48
Gambar 5-3 Potongan Melintang Girder.................................................................... 48
Gambar 5-4 Foto Penyimpanan Pelat Bondeck di Stock Yard .................................. 51
Gambar 5-5 Sketsa Mobilisasi Pelat Bondeck ........................................................... 52
Gambar 5-6 Arah Pemasangan Pelat Bondeck .......................................................... 53
Gambar 5-7 Foto Paku Rivet ..................................................................................... 53
Gambar 5-8 Foto Pemberian Adukan Diujung Pelat Bondeck untuk Menjegah
Kebocoran saat Pengecoran ....................................................................................... 54
Gambar 5-9 Foto Pengikatan Pelat Bondeck pada Tulangan ... Error! Bookmark not
defined.
Gambar 5-10 Flow Chart Pekerjaan Penulangan ....... Error! Bookmark not defined.
Gambar 5-11 Tampak Atas Penulangan Pelat Lantai jembatan................................. 56
Gambar 5-12 Lokasi Stock Yard................................................................................ 63
Gambar 5-13 Foto Tulangan di Stock Yard ............................................................... 63
Gambar 5-14 Gambar Pengelompokan Tulangan ...................................................... 64
Gambar 5-15 Foto Bar Bender ................................................................................... 65
Gambar 5-16 Mobilisasi Tulangan Dari Stock Yard ke Lokasi Pekerjaan................. 65
Gambar 5-17 Foto Penempatan Tulangan di Atas Abutment .................................... 66
Gambar 5-18 Sketsa Urutan Instalasi Pekerjaan Penulangan Pelat Lantai ................ 66
Gambar 5-19 Foto Pekerjaan Penulangan .................................................................. 67
Gambar 5-20 Foto Tulangan Stek Girder yang Dibengkokan ................................... 68
Gambar 5-21 Foto Tulangan Shape Cakar Ayam ...................................................... 68
Gambar 5-22 Pengelasan Tulangan untuk Pemasangan Deck Drain ......................... 69
Gambar 5-23 Sketsa Pemasangan Deck Drain ......................................................... 70
Gambar 5-24 Bahan Baku Beton K-350 .................................................................... 71
Gambar 5-25 Menakar dan Memasukan Agregat ...................................................... 72
Gambar 5-26 Menambahkan bahan kimia pada tank ................................................. 72
Gambar 5-27 Menambahkan material air .................................................................. 72
xi
Gambar 5-28 Menambahkan material semen ............................................................ 73
Gambar 5-29 Mengisi Truk Mixer dengan Readymix concrete ................................ 73
Gambar 5-30 Flow Chart Pekerjaan Pengecoran ....... Error! Bookmark not defined.
Gambar 5-31 Tampak Atas Pelat Lantai PWB 111 PWB 112................................ 76
Gambar 5-32 Tampak Atas Pelat Lantai PWB 112 PWB 113................................ 77
Gambar 5-33 Foto Pemberian Stereofoam Diantara Backwall Pierhead dan Pelat
Lantai.......................................................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 5-34 Instalasi T-Shape dan Pipa Galvanis.... Error! Bookmark not defined.
Gambar 5-35 Lokasi Penempatan Concrete Pump dan Truck Mixer .................Error!
Bookmark not defined.
Gambar 5-36 Foto Pengaturan Outriger Concreta Pump .......... Error! Bookmark not
defined.
Gambar 5-37 Foto Pembersihan Concrete Pump ....... Error! Bookmark not defined.
Gambar 5-38 Foto Pipa Nozel yang sedang disambung ........... Error! Bookmark not
defined.
Gambar 5-39 Penempatan Truk Mixer Tahap 1 ........................................................ 82
Gambar 5-40 Penempatan Truk Mixer Tahap 2 ........................................................ 82
Gambar 5-41 Penempatan Truk Mixer Tahap 3 ........................................................ 83
Gambar 5-42 Penempatan Truk Mixer Tahap 4 ........................................................ 83
Gambar 5-43 Foto Pengujian Slump .......................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 5-44 Foto Pengujian Kuat Tekan Beton ....... Error! Bookmark not defined.
Gambar 5-45 Foto Pengaturan Truk Mixer pada Concrete Pump... Error! Bookmark
not defined.
Gambar 5-46 Alur Pengecoran................................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 5-47 Foto Perataan Beton Segar ................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 5-48 Foto Pemadatan Beton Segar dengan Menggunakan Vibrator .....Error!
Bookmark not defined.
Gambar 5-49 Pola untuk memasukan batang vibratorError! Bookmark not defined.

xii
7 DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Potongan Memanjang Jalan Tol Layang Becakayu

Lampiran 2 Detail Penulangan Slab PWB 111 PWB 112

Lampiran 3 Tabel Penulangan Slab PWB 111 PWB 112

Lampiran 4 Surat-surat Pelengkap


1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan konstruksi saat ini mengalami kemajuan pesat, yang ditandai


dengan hadirnya berbagai jenis material dan peralatan yang modern, saat ini
banyak sekali proyek-proyek di Indonesia khususnya pada bidang konstruksi
bangunan sipil, diantaranya pembangunan jalan tol khusunya jalan layang.
Dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi, semakin besar proyek yang
dikerjakan maka semakin besar pula kendala yang akan dihadapi perusahaan jasa
konstruksi. Oleh karena itu perusahaan jasa konstruksi harus memiliki
pertimbangan yang matang dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan suatu
proyek.
Dalam hal ini, lingkup pengamatan pada proyek yaitu pelaksanaan
pembangunan jalan tol Bekasi Cawang Kp. Melayu (BECAKAYU) yang
terletak di bekasi hingga kampung melayu, yang dibangun dan dioperasikan oleh
PT. Waskita Karya (Persero) tbk yang didanai oleh PT. Kresna Kusuma Dyandra
Marga.
Oleh karena itu, dalam Proyek Akhir ini akan membahas mengenai
pelaksanaan pekerjaan pengecoran pelat lantai pada jalan tol layang Bekasi -
Cawang - Kp. Melayu. Data data yang dibutuhkan dalam membahas
pelaksanaan pekerjaan pengecoran pelat lantai ini meliputi dimensi pelat lantai,
spesifikasi alat, data penulangan, data pengecoran, durasi waktu pengecoran, dan
jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam proses pelaksanaan pengecoran pelat
lantai ini.
Data - data tersebut akan diolah dalam membahas pelaksanaan pekerjaan
pengecoran pelat lantai agar mendapat hasil pelaksanaan yang efisien dan aman
digunakan oleh pengguna jalan nantinya.
Dari penjelasan diatas, kami mengambil judul pada proyek akhir
PELAKSANAAN PEKERJAAN PENGECORAN PELAT LANTAI PADA
PROYEK PEMBANGUNAN JALAN TOL LAYANG BEKASI - CAWANG
- KP. MELAYU (BECAKAYU) 2 SEGMEN PADA PWB 111 PWB 113.

1
1.2 Masalah Penelitian

1.2.1 Identifikasi Masalah

Pelaksanaan pekerjaan pengecoran pelat lantai pada proyek


pembangunan jalan tol layang Bekasi - Cawang - Kp. Melayu
(BECAKAYU) harus mempertimbangkan metode yang digunakan agar
dapat berjalan seefisien mungkin dalam segi biaya, mutu, dan waktu
pelaksanaan. Kondisi lahan dibawah jalan layang yang merupakan akses
jalan utama yang menghubungkan Jakarta - Bekasi agar pelaksanaan tidak
menghambat akses dan membahayakan pengguna jalan yang melintas.

1.2.2 Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi permasalahan pada proyek ini adalah:

1. Bagaimana tahapan pelaksanaan pekerjaan pemasang pelat lantai pada


proyek pembangunan jalan tol Bekasi - Cawang - KP. Melayu
(BECAKAYU)?
2. Bagaimana mengontrol kekuatan pelat bondek untuk menahan beban
beton segar pada saat pengecoran pada proyek pembangunan jalan tol
Bekasi - Cawang - KP. Melayu (BECAKAYU)?
3. Bagaimana cara menghitung durasi pekerjaan berdasarkan jumlah pekerja
pada proyek

1.3 Pembatasan Masalah

Di dalam konteks ini, akan dibahas proses pelaksanaan pekerjaan


pemasangan pelat lantai yang dimulai dari tahapan awal sampai dengan
pekerjaan itu selesai Dalam pembahasan ini juga akan dibahas mengenai
metode kerja yang digunakan, volume pekerjaan bondek, volume pekerjaan
penulangan, volume pengecoran, produktifitas dan siklus pemesanan, kontrol
kekuatan pelat bondek, serta curing atau perawatan pelat lantai karena dapat
mempengaruhi biaya, mutu, dan waktu pelaksanaan pada jalan tol Bekasi -
Cawang - Kp. Melayu.

2
1.4 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan pada proyek akhir ini adalah:

1. Menjelaskan proses pelaksanaan pekerjaan pembetonaan pelat lantai.


2. Mengontrol kekuatan plat bondek untuk menahan beban beton segar
pada saat pengecoran.
3. Menghitung produktivitas dan siklus pemesanan truck mixer pada
proses pengecoran.

1.5 Manfaat dan Signifikansi Penelitian

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi tentang proses


pelaksanaan pekerjaan pekerjaan penulangan, pemasangan bondek dan
pekerjaan pengecoran.

3
1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang digunakan dalam penyusunan laporan Proyek


Akhir ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan antara lain berisi latar belakang, tujuan penulisan,
permasalahan, pembatasan masalah, sistematika penulisan sebagai
penulis mengambil judul Pelaksanaan Pekerjaan Pengecoran Pelat
Lantai Pada Proyek Jalan Tol Layang BECAKAYU
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pusataka antara lain berisi teori beton, bondek, dan baja
tulangan sebagai acuan untuk menyelesaikan permasalahan dalam
perencaan pembangunan jalan tol layang BECAKAYU.
BAB III METODOLOGI
Metodologi antara lain berisi metode yang digunakan untuk
melakukan pengamatan mengenai Pelaksanaan Pekerjaan
Pengecoran Pelat Lantai Pada Proyek Jalan Tol Layang
BECAKAYU
BAB IV DATA TEKNIS
Data teknis antara lain berisi data-data yang terdapat pada proyek
yang diamati yaitu mengenai gambaran umum proyek, pihak-pihak
yang terlibat, lokasi proyek dan spesifikasi alat dan bahan yang
digunakan.
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Analisis dan pembahasan antara lain berisi mengenai pelaksanaan
pekerjaan pengecoran pelat laintai dimulai dari pekerjaan pembesian,
pekerjaan bondek, dan pekerjaan pengecoran pada pelat lantai.
BAB VI PENUTUP
Bab ini antara lain berisi kesimpulan Proyek Akhir dan juga
kritik/saran.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

4
2 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pelat Lantai

2.1.1 Pengertian Pelat Lantai

Pelat lantai adalah lantai yang tidak terletak di atas tanah langsung,
merupakan lantai tingkat pembatas antara tingkat yang satu dengan tingkat yang lain.
Pelat lantai didukung oleh balok-balok yang bertumpu pada kolom-kolom bangunan.
Ketebalan pelat lantai ditentukan oleh :

1. Besar lendutan yang diinginkan.


2. Lebar bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung.
3. Bahan material konstruksi dan pelat lantai.

Pelat lantai harus direncanakan kaku, rata, lurus dan waterpass (mempunyai
ketinggian yang sama dan tidak miring), pelat lantai dapat diberi sedikit kemiringan
untuk kepentingan aliran air. Ketebalan pelat lantai ditentukan oleh beban yang harus
didukung, besar lendutan yang diijinkan, lebar bentangan atau jarak antara balok-
balok pendukung, bahan konstruksi dari pelat lantai. Pelat lantai merupakan suatu
struktur solid tiga dimensi dengan bidang permukaan yang lurus, datar dan tebalnya
jauh lebih kecil dibandingkan dengan dimensinya yang lain. Struktur pelat bisa saja
dimodelkan dengan elemen 3 dimensi yang mempunyai tebal h, panjang b, dan lebar
a. Adapun fungsi dari pelat lantai adalah untuk menerima beban yang akan
disalurkan ke struktur lainnya. Pada pelat lantai merupakan beton bertulang yang
diberi tulangan baja dengan posisi melintang dan memanjang yang diikat
menggunakan kawat bendrat, serta tidak menempel pada permukaan pelat baik
bagian bawah maupun atas. Adapun ukuran diameter, jarak antar tulangan, posisi
tulangan tambahan bergantung pada bentuk pelat, kemampuan yang diinginkan
untuk pelat menerima lendutan yang diijinkan.

5
2.1.2 Konstruksi Pelat Lantai Berdasarkan Materialnya

Konstruksi untuk pelat lantai dapat dibuat dari berbagai material, contohnya
kayu, beton, baja dan yumen (kayu semen). Dalam penelitian ini material yang
digunakan untuk pelat lantai adalah beton. Beton didefinisikan sebagai sebagai
campuran antara semen portland atau semen hidraulik yang lain, agregat kasar, dan
air, dengan atau tanpa bahan tambahan membentuk massa padat (SK SNI T-15-
1991-03). Semen yang diaduk dengan air akan membentuk pasta semen. Jika semen
ditambah dengan pasir akan menjadi mortar semen. Jika ditambah lagi dengan
kerikil atau batu pecah disebut beton. Beton memiliki kuat tekan yang tinggi namun
kuat tarik yang lemah.

2.2 Beton

2.2.1 Pengertian Beton

Beton umumnya tersusun dari tiga bahan penyusun utama yaitu semen,
agregat dan air.Jika diperlukan, bahan tambah (admixture) dapat ditambahkan untuk
mengubah sifat-sifat tertentu dari beton yang bersangkutan (Ir.Tri mulyono MT,
2003).Beton ini pula memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh semua material
yang lain, yakni getas. Getas adalah sifat yang apabila beton sangat baik untuk
memikul beban tekan tekan namun tidak baik untuk memikul beban tarik.

Keuntungan dan kerugian pemakaian beton :


Keuntungan:
1. Bahan dasar yang mudah di peroleh (ekonomis)
2. Mampu menerima kuat tekan yang tinggi
3. Dapat di buat sesuai dengan bentuk yang di kehendaki
4. Awet, tahan terhadap temperatur tinggi, mudah pemeliharaannya.

Kerugian:
1. Kemampuan menerima kuat tarik rendah
2. Perubahan suhu (muai susut) hinggga retak-retak ringan
3. Rayapan (creep) perubahan berangsur-angsur akibat pembebanan
4. Mutu tergantung pada: sifat bahan dasar dan cara pengerjaan
5. Tidak dapat di gunakan sebagai bangunan sementara.

6
2.2.2 Bahan-Bahan Pencampur Beton

Beton umumnya tersusun dari tiga bahan penyusun utama yaitu semen,
agregat, dan air. Jika diperlukan, bahan tambah (admixture) dapat ditambahkan
untuk mengubah sifat-sifat tertentu dari beton yang bersangkutan.

1. Semen
Semen merupakan hasil industry yag sangat kompleks, dengan campuran
serta susunan yang berbeda-beda. Semen merupakan bahan yang berguna
sebagai binder atau pengikat dalam komposisi campuran beton.

Fungsi utama semen adalah mengikat butir-butir agregat hingga


membentuk suatu massa padat dan mengisi rongga-rongga udara di
antara butir-butir agregat.Semen dapat dibedakan menjadi dua kelompok
yaitu:

a. Semen non-hidrolik
Semen non-hidrolik tidak dapat mengikat dan mengeras di dalam air,
akan tetapi dapat mengeras di udara. Contoh utama dari semen non-
hidrolik adalah kapur.
b. Semen hidrolik
Semen hidrolik mempunyai kemampuan untuk mengikat dan
mengeras di dalam air. Contoh semen hidrolik adalah kapur hidrolik,
semen pozzolan, semen terak, semen alam, semen Portland, semen
Portland-pozzolan, semen Portland terak tanur tinggi, semen
alumina dan semen expansif.

Sifat dan karakteristik semen Portland:


a. Sifat Fisika Semen Portland
1) Kehalusan butir
Kehalusan butir mempengaruhi proses hidrasi. Setting time
menjadi semakin lama jika butir semen lebih kasar. Semakin
halus butiran semen, proses hidrasinya semakin cepat, sehingga
kekuatan awal tinggi dan kekuatan akhir akan berkurang.
2) Kepadatan (density)
3) Konsistensi

7
Konsistensi semen Portland lebih banyak pengaruhnya pada saat
pencampuran awal, yaitu pada saat pengikatan sampai saat
beton mengeras.
4) Waktu Pengikatan
Waktu pengikatan awal berkisar antara 1 2 jam, sedangkan
waktu pengikatan akhir tidak boleh lebih dari 8 jam. Waktu ikat
ini sangat dipengaruhi oleh jumlah air yang dipakai oleh
lingkungan sekitarnya. Pengikatan semu diukur dengan alat
vicat atau gillmore.
5) Panas hidrasi
Dalam pelaksanaan, perkembangan panas ini dapat
mengakibatkan masalah yakni timbulnya retakan pada saat
pendinginan.
6) Perubahan volume
Kekalan pasta semen merupakan suatu ukuran yang menyatakan
kemampuan pengembangan bahan-bahan campurannya dan
kemampuan untuk mempertahankan volume setelah pengikatan
terjadi.
7) Kekuatan tekan
Kekuatan tekan semen diuji dengan cara membuat mortar yang
kemudian ditekan sampai hancur.

b. Sifat dan Karakteristik Kimia Semen Portland


1) Senyawa kimia
Prinsip dasar pemilihan semen yang akan digunakan sebagai
bahan campuran beton yang tahan terhadap serangan sulfat
adalah berapa banyak kandungan senyawa C3A nya.
2) Sifat kimia
Kesegaran semen, sisa yang tak larut, panas hidrasi semen,
kekuatan pasta semen dan faktor air semen (FAS).
3) Syarat mutu semen portland
Semen yang digunakan untuk membangun suatu struktur harus
mempunyai kualitas tertentu agar dapat berfungsi secara efektif.

8
Pemeriksaan secara berkala harus dilakukan sesuai dengan
standar mutu yang umum yaitu ASTM C-150 dan BS-12.

Tipe tipe semen Portland:


a. Tipe I, dalam penggunaannya tidak memerlukan persyaratan khusus.
b. Tipe II, dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap
sulfat dan panas hidrasi sedang.
c. Tipe III, dalam penggunaannya memerlukan kekuatan awal yang
tinggi setelah pengikatan terjadi.
d. Tipe IV, dalam penggunaannya memerlukan panas hidrasi yang
rendah.
e. Tipe V, dalam penggunaannya memerlukan ketahanan tinggi
terhadap sulfat.

2. Air
Air diperlukan dalam pembuatan beton untuk memicu proses kimiawi
semen, membasahi agregat, dan memberikan kemudahan dalam
pengerjaan beton. air yang dapat diminum umumnya dapat digunakan
sebagai campuran beton. air yang berlebihan akan mengakibatkan
banyaknya gelembung air setelah proses hidrasi selesai, sedangkan air
yang terlalu sedikit akan mengakibatkan proses hidrasi tidak tercapai
seluruhnya sehingga mempengaruhi kekuatan beton.

Hal hal yang harus diperhatikan pada air dalam campuran beton:
a. Air yang dapat digunakan adalah air yang dapat diminum, tidak
basa, dan tidak asam.
b. Semakin banyak kandungan air, maka makin mudah dikerjakan,
kekuatannya semakin rendah, dan mudah terjadi segregasi.
c. Jenis pemeriksaan terhadap air adalah pemeriksaan ph, bahan padat,
bahan tersuspensi, bahan organic, minyak, ion sulfat dan ion chlor.

3. Agregat
Agregat harus bersih, keras, padat, memiliki ujung yang kasar, dan tidak
mengandung lumpur, tanah liat, atau bahan organic lain. Kandungan
agregat dalam beton biasanya sangat tinggi, biasanya berkisar antara 60
9
70 % dari berat campuran beton. Fungsinya adalah sebagai pengisi
campuran beton. Agregat yang digunakan dalam campuran beton dapat
berupa agregat alam atau agregat buatan. Agregat yang digunakan dalam
campuran beton biasanya berukuran lebih kecil dari 40 mm. agregat yang
ukurannya lebih besar dari 40 mm digunakan untuk pekerjaan sipil
lainnya seperti pekerjaan jalan, tanggul penahan tanah, beronjong, dan
bendungan.

Hal hal yang harus diperhatikan dalam agregat:

a. Komponen terbanyak dalam campuran beton 75 %


b. Jika dibedakan dari kekuatannya, ada agregat batu pecah (crushed)
dan alamiah.
c. Agergat halus dan kasar dibedakan berdasarkan saringan no. 4 (4.8
mm)
d. Sifat-sifat agregat seperti gradasi, kekerasan, bentuk butiran, dan
berat jenis berpengaruh pada mutu beton.
e. Kekerasan agregat harus dapat menahan penggerusan baik saat
pembuatan atau pemadatan, tahan terhadap pemecahan, degredasi
(penurunan mutu) dan desintegrasi (peruraian).
f. Kadar air dalam pasir sangat berpengaruh terhadap volume pasir.
g. Untuk beton mutu tinggi, agregat yang digunakan maksimum 20
mm.
h. Untuk daerah panas, agregat harus dilakukan pendinginan dengan
penyiraman dan dilindungi dari panas matahari langsung.
i. Jika gradasi pada agregat baik, maka akan menghasilkan workability
yang baik, kekuatan, keawetan, dan kekuatan bentuk.

4. Bahan Tambah
Admixture adalah bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam campuran
beton pada saat pencampuran berlangsung. Bahan tambah digunakan
untuk memodifikasi sifat dan karakteristik beton misalnya untuk dapat
dengan mudah dikerjakan, penghematan, atau untuk tujuan lain seperti
penghematan energi.

10
2.2.3 Klasifikasi Beton

Beton dapat diklasifikasikan menjadi:

Tabel 2.1 Klasifikasi Beton


Jenis beton Berat Jenis Massa Jenis Agregat
(ton/m)

beton ringan sampai 2.0 batu tulis yang menggembung


atau membengkak

lempung yang membengkak


terak pecah, foam
batu apung
beton (biasa) 2.0 - 2.9 pasir, kerikil
terak dapur tinggi
serpih serpih batu
beton berat > 2.8 spar dari jenis berat biji besi,
besi skra

Kelas-kelas beton:
Untuk konstruksi beton bertulang, beton dibagi menjadi tiga kelas
seperti yang tercantum pada tabel 2.2 :
Tabel 2.2 Kelas dan mutu beton
menurut PBI 71 Pengawasan terhadap
Kelas Mutu bk bm Tujuan Mutu Kuat
Agregat Tekan
I BO - - Non- Ringan Tanpa
struktural
II B1 - - Struktural Sedang Tanpa
K 125 125 200 Struktural Ketat Kontinyu
K 175 175 250 Struktural Ketat Kontinyu

III K 225 225 300 Struktural Ketat Kontinyu


>K 225 >225 > Struktural Ketat Kontinyu
300
(Sumber: PBI 71)

11
Mutu beton lebih tinggi :
A. K125 < K175, digunakan sebagai lantai kerja atau penimbunan kembali
dengan beton.
B. K175 < K 250, umumnya digunakan sebagai struktur beton tanpa tulangan,
misal : beton siklop, trotoar, dan pasangan batu kosong yang di isi adukan
dan pasangan batu.
C. K250 < K400, umumnya digunakan untuk beton bertulang, misal: pelat lantai
jembatan, gelagar beton bertulang, diafragma, kerb beton pracetak, gorong-
gorong beton bertulang dan banbgunan bawah jembatan.
D. K400 < K800, umumnya digunakan untuk beton prategang, seperti tiang
pancang beton prategang, gelagar beton prategang, pelat beton prategang, dan
sejenisnya.

Selimut Beton
Berfungsi untuk mencegah terjadinya korosi dan mencegah lelehnya baja bila
terjadi kebakaran. Tebal selimut beton tergantung pada jenis konstruksinya seperti
yang tercantum pada tabel 2.3 :

Tabel 2.3Tebal Selimut Beton menurut SNI 03-2847-2002

Tebal Selimut
Beton Minimum
Jenis Konstruksi (mm)

1. Beton yang dicor langsung diata tanah dan 75


selalu berhubungan dengan tanah

2. Beton yang tidak berhubungan langsung


dengan cuaca atau tanah, yaitu :

a. Pelat, Dinding, Pelat Berusuk, Tulangan 40


D44 dan D56

b. Pelat Dinding, Pelat Berusuk, Tulangan D36 20


atau lebih kecil dari D36

c. Balok, Kolom 40
(Sumber : SNI 03-2847-2002)

12
2.2.5 Kontrol Mutu Beton

Untuk pengujian beton telah ditetapkan beberapa test beton diantaranya yaitu
a. Slump Test

Slump test dirumuskan untuk mengetahui tingkat kekentalan beton readymix


yang akan digunakan pada proses pengecoran, adapun cara pengujian Slump Test
menggunakan kerucut terpancung (Abrams) dengan diameter atas r = 10 cm
diameter bawah = 20 cm dan tinggi = 30 cm, kerucut diletakan diatas bidang alas
yang rata dan kedap air (pakai pelat baja) dan alat penusuk bentuk tongkat baja
berdiameter 16 mm dengan ujung bulat.
1. Tujuan pengujian :
a. Mencari nilai slump pada beton segar.
b. Membandingkan nilai slump hasil pengujian dengan nilai slump rencana.
c. Melihat perbandungan antara nilai slump dengan kuat tekan beton yang
tercapai.
d. Melakukan koreksi nilai slump. (berdasarkan SNI 03-1972-1990, Metode
Pengujian Slump Beton, Departemen Pekerjaan Umum, Yayasan LPMB
Bandung).

Proses pengujian slump atau slump test (Gambar 2.1)


a. Tuangkan material adukan beton kedalam kerucut Abrams (1/3 tinggi
kerucut).
b. Dirojok dengan tongkat besi sebanyak 25 kali.
c. Tuangkan material adukan beton kedalam kerucut Abrams (2/3 tinggi
kerucut).
d. Dirojok dengan tongkat besi sebanyak 25 kali.
e. Tuangkan material adukan beton kedalam kerucut Abrams (sampai penuh).
f. Dirojok dengan tongkat besi sebanyak 25 kali.
g. Bersihkan bagian atas dari kerucut.
h. Bersihkan bagian bawah dari kerucut.
i. Pegang sisi luar dan tarik.
j. Ukur tinggi jatuhnya material adukan beton. Tingginya nilai slump
tergantung pada jenis pekerjaan yang dilakukan seperti yang tercantum pada
tabel 2.4 :

13
Tabel 2.4 Besarnya nilai slump berdasarkan jenis pekerjaan

(sumber: sesuai dengan standar PBI 71)

Gambar 2.1 Slump Test

a. Test Kuat Tekan Beton Silinder


Kekuatan tekan beton adalah muatan tekan maksimum yang dapat dipikul per
satuan luas.Pada umumnya mutu beton dinilai dari kuat tekannya, karena beton
merupakan bahan yang getas sehingga kemampuan untuk memikul beban tekan
jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuannya untuk memikul beban
tarik ataupun geser. Pada PBI 71, kuat tekan beton dinyatakan dengan kuat
tekan karakteristik.Yakni, kuat tekan beton berdasarkan data dari sejumlah benda
uji yang menyebar dengan penyimpangan atau deviasi tertentu.
Kuat tekan dipengaruhi oleh :
1. Karakteristik bahan.
2. Susunan campuran.

14
3. Suhu pengerasan.
4. Metode pekerjaan
5. Perawatan.

2.2.6 Perawatan Beton (Curing)

Perawatan yang dilaksanakan dalam proses pembetonan tidak selalu untuk


menambah kekuatan beton, namun untuk memperbaiki mutu yang disyaratkan,
keaweta, kekedapan terhadap air, ketahanan pengausan, dan stabilitas dari dimensi
konstruksi yang bersangkutan. Berikut ini cara perawatan pekerjaan pembetonan
yang kerap dilaksanakan.

1. Mempertahankan acuan tetap melekat pada beton minimal 5 hari sambil


tetap membasahi acuan kayu.
2. Memperlambat penguapan dengan menggunakan alcohol aliphatic,
melindungi dari sinar matahari langsung dan tiupan angin, dan
menyemprot dengan kabut air.
3. Menutupi permukaan beton dengan bahan-bahan yang menahan air agar
beton selalu dalam keadaan basah, seperti karung goni, jerami, lapisan
pasir, dll.
4. Penyemprotan air yang dilaksanakan pada suhu yang tepat dan berkala
sehingga tidak terjadi keretakan pada permukaan beton akibat perubahan
suhu yang berlebihan.
5. Menggunakan membran yang kedap air diatas permukaan beton, seperti
lembaran plastic dengan ssambungan yang kedap air atau bertumpang
tindih dan ujungnya diusahakan selalu tertindih pada permukaan beton
yang bersangkutan. Hal ini akan menjaga permukaan beton terhadap
kerusakan dini yang disebabkan oleh curah hujan, membentuk keadaan
permukaan yang hamper jenuh serta mengimbangi penyusutan dini
akibat pengeringan serta karbonasi, dan dapat mendinginkan permukaan
beton coran dalam keadaan cuaca panas.
6. Memulas permukaan beton yang terbuka dengan suatu bahan yang
menghasilkan membran dekat pada saat terjadinya pengikatan awal
semen.

15
7. Merawat beton dengan uap atau secara hydrothermal atau mengusahakan
terjadinya proses hidrasi dalam keadaan adiabatic dalam cetakan tertutup
agar dicapai pengerasan yang tepat.
8. Mendinginkan beton coran secara massif sampai dibawah 32o C.

2.3 Bondeck

2.3.1 Pengertian Bondeck

Floordeck/bondeck adalah geladak baja galvanis yang memiliki daya tahan


tinggi dan berfungsi ganda pada konstruksi beton, yakni sebagai penyangga
permanen dan penulangan searah. Lembaran-lembaran panel ini dibentuk dari plat
baja yang telah digalvanis secara merata dan sempurna dengan ketebalan 0.75 1
mm dengan lapisan seng minimum 220 g/m2. Metode bondeck dapat menjadi
alternatif pilihan untuk mendapatkan hasil pekerjaan terbaik, sistemnya yaitu besi
tulangan bagian bawah dihilangkan dan tugasnya digantikan oleh plat bondeck,
dengan begini maka ada penghematan pekerjaan pembesian sekaligus bekisting
lantai. Dari segi waktu juga jauh lebih cepat pengerjaanya jika dibanding dengan
sistem konvensional, hal ini menyebabkan metode bondeck banyak digunakan dalam
pembangunan gedung-gedung pencakar langit di indonesia maupun dunia.

Penggunaan plat bondeck ini juga memiliki berbagai kekurangan dan


kelebihan.

Kekurangan penggunaan plat bondeck:

1. Perlu pengaturan yang bagus agar tidak banyak sisa material bondeck
yang terbuang.
2. Harga bondeck sangat terpengaruh dengan perkembangan baja, jadi perlu
dihitung segi efisiensinya jika dibandingkan dengan penggunaan
bekisting plywood.

Kelebihan penggunaan plat bondeck:

1. Penghematan bekisting lantai karena plat bondeck sekaligus berfungsi


sebagai formwork
2. Tidak menggunakan besi tulangan bagian bawah karena fungsinya sudah
digantikan oleh bondeck

16
3. Pengerjaan lebih cepat dan murah bila dibandingkan dengan sistem
konvensional
4. Bagian bawah plat lantai terjamin rapih, karena jika menggunakan sistem
konvensional dengan bekisting plywood maka ada resiko beton keropos,
retak, sehingga memerlukan pekerjaan perapihan.
5. Plat bondeck masih termasuk aman jika terkena kebakaran dan anti karat
sehingga bisa bertahan lama.

2.3.2 Spesifikasi Standard

Bahan dasar : Baja High - Tensile


Standard : JLS G3302-98, ASTM A 653
M-97, SNI 07-2053-1990
Tegangan leleh min : 5500 kg/cm2
Lapis Lindung : Hot Dip Galvanized
Tebal Lapis Lindung : Standard : SNI 07-2053-995, ASTM 528-
87, JIS G 3302 1994
Tebal Standard : 0.75 mm, 0.85 mm, dan 1.2 mm TCT
Standar Bahan : ASTM A 653-1996 G300 & G550 Hi-Ten
Lebar effektif : 600 mm
Tinggi : 54 mm
Panjang : sesuai kebutuhan, maksimum 12m

2.4 Baja Tulangan

2.4.1 Pengertian Baja Tulangan

Struktur pada beton kuat didalam menahan tekan tetapi lemah didalam
menahan tarik.Oleh karena itu.untuk menahan gaya tarik, diperlukan suatu baja
tulangan. Terdapat dua jenis besi tulangan yang dipergunakan sesuai kekuatan yang
dibutuhkan. Berikut adalah bentuk baja tulangan sebagai berikut :

1. Bentuk - bentuk baja tulangan


Bentuk - bentuk baja tulangan untuk beton adalah :

17
a. Baja Tulangan Polos, seperti pada gambar 2.2 :

Gambar 2.2 Baja Tulangan Polos

b. Baja Tulangan Ulir (Deform),seperti pada gambar 2.3 :

Gambar 2.3 Baja Tulangan Ulir (Deform)

Berdasarkan ketentuan SNI-T-15-1991-03 pasal 3.5, baja tulangan ulir lebih


diutamakan pemakaian untuk batang tulangan beton struktur.Baja tulangan ulirjuga
mempunyai ketentuan dimensi efektif pada beton bertulang seperti pada tabel
2.4.Salah satu tujuan dari ketentuan ini adalah agar struktur beton bertulng tersebut
memiliki keandalan terhadap efekgempa, karena terdapat lekatan yang lebih baik
antara beton dengan tulangannya. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh baja
tulangan ulir, antara lain :
1) Mutu dan cara uji harus sesuai dengan SNI-0316-86 atau ekivalen
dengan JIS G.3112.
2) Baja tulangan beton yang dianyam harus memenuhi standar
ASTM A 184 (Specification for Fabricated Deform Steel Bar Mat
for Concrete Reinforcement).

18
Tabel 2.4Dimensi Efektif Tulangan Ulir (Struktur Beton Bertulang Standar SNI)
Luas
Keliling
Diameter (mm) Berat (kg/m) Penampang
(cm)
(cm)
10 0,617 3,14 0,785
13 1,04 4,08 1,33
16 1,58 5,02 2,01
19 2,23 5,96 2,84
22 2,98 6,91 3,8
25 3,85 7,85 4,91
32 6,31 10,05 8,04
36 7,99 11,3 10,2
40 9,87 12,56 12,6
(Sumber: Buku Analisa Anggaran Biaya pelaksanaan oleh, Sudrajat)

Tabel 2.5Waktu yang diperlukan pekerja untuk membuat 100 kait dan bengkokan
Dengan tangan Dengan mesin
Ukuran besi beton Bengkokan Kait bengkokan Kait
(jam) (jam) (jam) (jam)
12 mm kebawah 24 3-6 0,8 - 1,5 1,2 - 2,5
16 mm - 22 mm 2,5 5 4-8 1-2 1,6 - 3
25 mm - 28,5 mm 36 1,2 - 2,5 1,2 - 2,5 2-4
31,75 mm - 38,1 mm 47 6 - 12 2,5 - 3 2,5 - 5
(Sumber: Buku Analisa Anggaran Biaya pelaksanaan oleh, Sudrajat)

Tabel 2.6 Waktu yang diperlukan pekerja untuk memasang 100


batang tulangan
Panjang batang tulangan
Ukuran besi beton
Dibawah 3 m 3 - 6 m 6-9m
12 mm kebawah 3,5 - 6 5-7 6-8
16 mm - 22 mm 4,5 - 7 6 - 8,5 7 - 9,5
25 mm - 28,5 mm 5,5 - 8 7 - 10 8,5 - 11,5
31,75 mm - 28,1 mm 6,5 - 9 8 - 12 10 - 14
(Sumber: Buku Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan oleh, Sudrajat)

Waktu yang diperlukan untuk memotong 100 batang besi seperti pada tabel 2.5 dan
tabel 2.6 diperlukan 3 5 jam tergantung diameter dan alat potong yang digunakan.
Kriteria Baja Tulangan:
1. Fisik
1) Baja tulangan beton harus bebas dari kotoran seperti minyak dan karat
yang dapat mengurangi kekuatan baja tulangan itu sendiri dan beton
bertulang
2) Penampang baja tulangan harus konsisten.

19
2. Kondisi Permukaan Baja Tulangan
Pada saat dicor, tulangan harus bebas lumpur, minyak atau segala jenis zat
pelapis bukan logam yang dapat mengurangi kapasitas lekatan.
3. Jarak Antar Tulangan
1) Jarak bersih untuk tulangan sejajar dalam lapis sama, tidak boleh kurang
dari db.
2) Bila tulangan sejajar tersebut diletakkan dalam dua lapis atau lebih maka
tulangan pada lapis pertama atau kedua harus diletakkan tepat diatas
tulangan dibawahnya dengan spasi bersih atar lapisan tidak boleh kurang
dari 25 mm.
2. Sifat - sifat penting baja tulangan
Sifat- sifat penting baja antara lain:
a. Modulus Young / Modulus Elastisitas, Es pada baja tulangan non pratekan
sebesar 200.000 Mpa.
b. Kekuatan leleh, fy. Mutu baja yang digunakan biasanya dinyatakan dengan
kuat lelehnya.
c. Kuat leleh / tegangan leleh baja pada umumnya adalah fy = 240 Mpa untuk
besi polos, fy = 300 Mpa untuk deformed sedang dan fy = 400 Mpa untuk
deformed tinggi
d. Kekuatan batas, fu.
e. Ukuran / diameter baja tulangan

2.1.1 Cara Pengujian Tulangan

1. Uji Sifat Tampak


Uji sifat tampak dilakukan secara visual tanpa bantuan alat untuk
memeriksa adanya cacat-cacat serpihan, lipatan, retakan, gelombang,
cerna yang dalam dan hanya diperkenankan berkarat ringan pada
permukaan.
2. Uji Ukuran, Berat, dan Bentuk
a. Baja tulangan beton polos
1) Baja tulangan beton polos diukur pada satu tempat untuk
menentukan diameter minimum dan maksimum.
2) Pengukuran dilakukan pada 3 tempat yang berbeda dalam 1
contoh uji dan dihitung nilai rata-ratanya.

20
3) Penentuan berat ditetapkan berdasarkan berat nyata (aktual)
yang diperhitungkan dengan panjang contoh uji.
b. Baja tulangan beton sirip (deform)
Baja tulangan beton sirip dikur jarak sirip, tinggi sirip, lebar ruauk,
diameter dalam dan sudut sirip.
a. jarak sirip
pengukuran jarak sirip dilakukan dengan cara mengukur 10
jarak sirip yang berderet kemudian dihitung nilai rata-ratanya.
b. tinggi sirip
pengukuran tinggi sirip dilakukan terhadap 3 kali buah sirip dan
dihitung nilai rata-ratanya.
c. lebar rusuk
pengukuran tergadap lebar rusuk dilakukan dengan mengukur
lebar semua rusuk atau celah kemudian hasil pengukuran lebar
masing-masing rusuk dijumlahkan
d. diameter dalam
diameter dalam diukur sekurang-kurangnya 3 kali pada tempat
yang berbeda dalam jumlah contoh uji.
e. sudut sirip melintang
pengukuran sudut sirip melintang dilakukan dengan membuat
gambar yang diperoleh dengan cara menggelindingkan
potongan uji di atas permukaan lempengan lilin atau tanah liat,
kemudian dilakukan pengukuran sudut sirip pada gambar
lempengan tersebut.
3. Uji Sifat Mekanis
a. Batang uji Tarik dan lengkung harus lurus dan kuliat canai tidak
boleh dikerjakan (dihilangkan).
b. Uji Tarik dan lengkung dilakukan masing-masing 1 kali percobaan
dari masing-masing potongan contoh uji.
(Sumber: SNI 07-2052-2002 (Baja Tulangan Beton))

21
2.3 Metode Kerja

Dalam pelaksanaan pengecoran pelat lantai di pembangunan jalan tol layang


Bekasi Cawang Kp. Melayu (BECAKAYU) mempunyai tahapan pekerjaan
antara lain:

2.3.1 Pekerjaan Pengukuran

Pengukuran merupakan suatu aktivitas atau tindakan menerapkan ukuran atau


dimensi pada gambar dilokasi.pengukuran juga merupakan suatu aktivitas atau
tindakan membandingkan suatu besaran yang belum diketahui nilai atau harganya
terhadap besaran lain yang sudah diketahui nilainya. Pekerjaan membandingkan
ialah pekerjaan mengukur, sedangkan pembandingnya disebut alat ukur.

Pengukuran dilaksanakan untuk mengetahui elevasi pengecoran slab


(kemiringan jalan), sehingga sesuai dengan rencana atau shop drawing. Pekerjaan
pengukuran seperti pada gambar 2.4 :

Gambar 2.4 Pekerjaan pengukuran menggunakan theodolit

2.3.2 Pekerjaan Bondeck

Bondeck adalah material plat bergelombang yang berfungsi untuk landasan


pengecoran
Dalam melaksanakan pekerjaan, konstruksi bondeck harus memenuhi syarat-
syarat berikut:

22
1. Kualitas
a. Ukuran harus sesuai dengan yang diinginkan.
b. Pisisi letak bondeck harus sesuai rencana.
c. Hasil akhir permukaan beton harus baik.
2. Keamanan
a. bondeck harus stabil pada posisinya.
b. Kokoh yang berarti bondeck harus kuat menahan beban yang bekerja.
3. Ekonomis
a. Mudah dikerjakan dengan tidak banyak membutuhkan tenaga kerja.
b. Mudah dipasang atau dirangkai untuk menghemat waktu.

2.3.3 Pekerjaan Penulangan

Pekerjaan penulangan/ pembesaian adalah proses pengadaan, pabrikasi, dan


pemasangan besi tulangan yang akan digunakan untuk beton tulangan. Proses
pabrikasi dalam hal ini bukanlah proses pembuatan besi, melainkan proses
membentuk besi tulangan sudah jadi sesuai dengan yang dibutuhkan. Pelaksanaan
pabrikasi biasanya terletak tidak jauh dari lokasi pekerjaan pembetonan.

Mengingat beton kuat menahan tekan dan lemah dalam menahan tarik, maka
dalam penggunaannya beton selalu diperkuat dengan tulangan.Pekerjaan penulangan
harus sesuai dengan gambar kerja yang telah disetujui. Pekerjaan penulangan harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Jenis dan jumlah tulangan.
b. Jarak tulangan sesuai gambar pelaksanaan.
c. Panjang penyeluruhan dan pengangkuran harus sesuai dengan persyaratan.
d. Ikatan antar tulangan harus kuat.
e. Jarak antar lapisan tulangan harus benar dan kuat (tidak lendut).

Dalam pekerjaan penulangan terdapat 3 (tiga) tahapan pelaksanaan, antara lain :


1. Pemotongan
Pemotongan adalah perubahan panjang atau pendeknya batang yang
disesuaikan dengan gambar kerja. Pemotongan baja tulangan biasanya
menggunakan alat bar cutter.

23
2. Pembengkokan
Pembengkokan adalah perubahan arah yang diperlukan batang. Pelaksanaan
pembengkokan baja tulangan dikerjakan dalam keadaan dingin kecuali apabila
ditentukan lain. Pada proses pembengkokan baja tulangan harus disesuaikan
dengan gambar kerja dan tidak boleh melebihi standar toleransi yang telah
disyaratkan.
3. Perakitan/pemasangan
Penyatuan atau penggabungan baja tulangan yang telah dipotong maupun
dibengkokan sesuai dengan gambar kerja atau shop drawing. Ada beberapa hal-
hal penting yang harus diperhatikan, antara lain:
a. Tulangan harus bebas dari kotoran maupun karat lepas serta bahan-bahan
lain yang mengurangi daya lekat.
b. Pada plat-plat dengan tulangan rangkap, tulangan harus ditunjang pada
tulangan bawah oleh batang-batang penunjang atau ditunjang langsung
pada cetakan bawah atau lantai kerja oleh blok beton yang tinggi.

2.3.4 Pekerjaan Pembetonan

Dalam pekerjaan pembetonan terdapat 3 (tiga) tahapan pelaksanaan, antara


lain :

1. Pekerjaan pengecoran
Pekerjaan pengecoran adalah pekerjaan penuangan beton segar kedalam
cetakan suatu elemen struktur yang telah dipasangi besi tulangan. Sebelum
pekerjaan pengecoran dilakukan, harus dilakukan inspeksi pekerjaan untuk
memastikan cetakan dan besi tulangan telah terpasang sesuai dengan
rencana.Dalam pengecoran ada yang campuran beton dibuat langsung dilokasi
dan ada yang campuran beton dibuat dipabrik.Untuk pengecoran yang campuran
betonnya dibuat di pabrik menggunakan truck mixer sebagai alat angkut ke
lokasi dan menggunakan concrete pump sebagai alat untuk menuangkan beton ke
cetakan.
2. Pemadatan
Merupakan suatu tahapan pembetonan yang bertujuan menghilangkan
rongga-rongga udara untuk mencapai kepadatan yang maksimal, pemadatan juga
menjamin suatu perletakan yang baik antara beton dengan permukaan baja

24
tulangan atau saranan lain yang ikut dicor. Pemadatan dilakukan menggunakan
alat vibrator, pemadatan harus benar agar tidak terjadi kerusakan pada beton.
3. Perawatan
Setelah pekerjaan pengecoran selesai, beton harus diberikan
perawatan.Hal ini dilakukan untuk mencegah pengeringan bidang-bidang beton
secara drastis, selama 1 minggu beton harus dibasahi dan ditutupi dengan
karung goni.

2.4.2 Alat Berat

Adapun alat berat yang digunakan antara lain :

1. Service Crane
Secara umum crane seperti pada gambar 2.5 dikategorikan sebagai mesin
yang dipergunakan untuk mengangkat beban dan mobilisasi material, memindahkan
secara horizontal dan menurunkannya ke tempat yang dituju dengan jangkauan
terbatas.Keuntungan mekanis yang diperoleh adalah karena crane dapat mengangkat
material yang jauh diatas kemampuan manusia atau hewan.

Gambar 2.5 Service Crane

2. Truck Mixer
Truck mixer selain mempunyai kemampuan untuk mengaduk beton juga
mempunyai kelebihan karena dapat mengangkut beton hasil pengadukan ke lokasi
yang diinginkan seperti pada gambar 2.6, sehingga digunakan perhitungan
kebutuhan Truck Mixer seperti pada persamaan (2.1) .Alat ini dapat digunakan
sebagai agitator truck yang mengangkut hasil adukan dari batching plant ke proyek.
Sebagai agitator, alat ini

25
memiliki kapasitas yang lebih besar (berkisar 3 kali lebih besar) dibandungkan jika
alat berfungsi sebagai mixer. Kapasitas mixer berkisar antara 4,6 m3 sampai lebih
dari 11,5 m3.

Cara kerjanya yaitu adukan beton dimasukkan kedalam drum adukan,


kemudian adukan beton diangkut menuju ke lokasi proyek, selama perjalanan drum
pengaduk (tabung molen) diputar searah jarum jam dengan kecepatan tertentu agar
beton tidak mengeras dan beton tetap homogen.

Setelah tiba di lokasi proyek, corong tuang di buka dan arah putar balik
(berlawanan arah jarum jam) sehingga adukan beton keluar dari drum dan di
tampung, selanjutnya diangkut ke tempat pengecoran.

Perhitungan kebutuhan truck mixer : ..(2.1)

Gambar 2.6 Truck Mixer


3. Concrete Pump
Concrete pump adalah alat yang berfungsi mempompakan campuran beton
yang berasal dari truck mixer ke tempat pengecoran yang akan dilaksanakan melalui
saluran pipa beton seperti gambar 2.7.
Concrete pump terdiri dari dua macam yaitu truck mounted concrete pump
dan portable mast and boom. Metode penghantaran yang dipakai adalah metode
hidrolis.Dengan waktu pengecoran seperti pada persamaan (2.2).Kemampuan alat ini
dapat mengahantar beton sampai dengan 120 m3/jam. Produktivitas alat dapat
dikurangi dengan memperkecil diameter pipa. Jarak hantar beton secara horizontal
dapat mencapai

26
sejauh maksimal 300m sedangkan secara vertikal sejauh maksimal 100m. Dan
kebutuhan Concrete Pump dapat di hitungan menggunakan persamaan (2.3)

Gambar 2.7 Concrete Pump



Waktu Pengecoran 1 CP = 1 (jam).(2.2)

1
Kebutuhan CP =

(buah)(2.3)

2.1.2 Untuk mencari jumlah armada concrete pump(n)dapat di cari dengan


menggunakan rumus sebagai berikut pada persamaan (2.4) :

= ..............................................................................(2.4)

Dimana:

n = Jumlah alat
Qtm = Produktifitas truck mixer
Qcp = Produktifitas concrete pump (data)
Untuk mencari durasi penuangan (T) dapat dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut pada persamaan (2.5) :

T = (2.5)

Dimana :
q = Kapasitas truck mixer (m3)
Untuk mencari durasi concrete pump (Tcp) dapat di hitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut pada persamaan (2.6) :

27

Tcp = .(2.6)

Dimana:
V= Volume Pekerjaan (m3)

2.4.3 Alat yang digunakan


1. Theodolite
Theodolite adalah suatu alat pengukur yang digunakan untuk mengambil
sudut, baik sudut vertikal maupun horizontal dari suatu tempat atau titik sehingga
dapat diketahui berapa besarnya jarak dari tempat tersebut ketempat yang
lainnya,maupun tinggi muka tanah dan untuk mengevaluasi ketegakan bangunan.

Gambar 2.8 Theodolite


2. Waterpass
Dalam suatu pembangunan baik dalam bidang konstruksi sipil
ataupun gedung diperlukan suatu pengukuran beda tinggi agar dapat diketahui
perbedaan tinggi yang ada dipermukaan tanah. Pengukuran beda tinggi dilakukan
menggunakan alat sifat datar (waterpass). Waterpass adalah suatu alat pengukur
yang digunakan untuk mengambil antara dua titik beda tinggi permukaan tanah. Alat
didirikan pada suatu titik yang diarahkan pada dua buah rambu yang berdiri vertical.

28
Gambar 2.9 Waterpass
3. Concrete Vibrator
Concrete vibratoradalah alat yang berfungsi untuk meratakan serta
menggetarkan adukan beton yang dituangkan kedalam bondeck sehingga akan
diperoleh campuran beton yang padat dan merata serta adukan beton dapat masuk
kecelah-celah besi agar tidak terjadi penggumpalan adukan beton pada suatu tempat,
biasanya pengecoran dilakukan beberapa lapisan yang dapat dihitung pada
persamaan (2.7), persamaan (2.8), dan persamaan (2.9). Hal ini bertujuan untuk
menghindari terjadinya keropos pada beton yang dapat mempengaruhi beton itu
sendiri.Concrete vibrator seperti pada gambar 2.10, kebutuhan vibrator dapat
dihitung pada persamaan (2.10) dan waktu pemadatannya dapat dihitung pada
persamaan (2.11).

Kepala Vibrator di getarkan pada satu area sekitar 10 detik. Posisi kepala
vibrator tidak boleh bersinggungan langsung dengan bondeck, dianjurkan jarak
kepala vibrator dari sisi bondeck sekitar 10 12 cm. Kepala vibrator harus bergetar
sepanjang daerah beton yang baru dituang dengan memindahkan kepala vibrator
sekitar 30 - 40cm dari titik sebelumnya yang sudah digetar. Pastikan seluruh area
harus di getar.

Jumlah lapisan pemadatan = ...(2.7)


Jumlah tusukan memanjang = .(2.8)


Jumlah tusukan melebar = ..(2.9)

Waktu pemadatan = Jumlah Total tusukan x waktu asumsi..(2.10)

29

Kebutuhan vibrator = .(2.11)

Gambar 2.10 Concrete Vibrator

4. Bar Bender
Bar bender merupakan alat pembengkok tulangan. Alat ini digunakan
untuk membengkokkan baja tulangan sehingga sesuai dengan bentuk yang
dikehendaki seperti pada gambar 2.11.

Gambar 2.11 Bar Bender

30
5. Bar Cutter
Bar cutter merupakan alat yang berfungsi untuk memotong besi
tulangan seperti pada gambar 2.12. Pemotongan tulangan dengan jumlah yang
banyak sangat efisien jika menggunakan bar cutter.

Gambar 2.12 Bar Cutter


6. Genset
Genset (generator set) adalah pembangkit tenaga listrik di mana listrik
yang dihasilkan sangat berguna untuk menjalankan alat yang membutuhkan daya
listrik misalnya mesin las serta penerangan (gambar 2.12). Genset ini penting
sebagai mobilisasi pelaksanaan proyek sehingga perlu dilakukan perawatan yang
baik serta harus cepat diatasi bila terjadi kerusakan.

Gambar 2.12 Genset

2.5 Tenaga Kerja

Tenaga kerja adalah seseorang atau lebih yang bekerja pada suatu kegiatan
pekerjaan untuk membantu atau mendukung pelaksanaan pekerjaan sampai dengan
selesai.Tenaga kerja merupakan salah satu sumber daya yang menjadi factor penentu
keberhasilan suatu pekerjaan. Perencanaan tenaga kerja harus dilakukan secar
menyeluruh dan terperinci meliputi: jumlah tenaga kerja, dan jadwal pemanfaatan
tenaga kerja seperti pemanfaatan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap

31
desain engineering, supervisor, dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi.
Tenaga kerja yang ada harus disesuaikan dengan schedule pekerjaan atau waktu
yang tersedia, dan juga perlu mempertimbangkan anggaran yang ada sehingga
produktifitas perhari dan jumlah tenaga kerja dapat ditentukan.

Tabel 2.7 Pembesian 10 kg Dengan Besi


Polos Atau Besi Ulir
Kebutuhan Satuan Indeks
Pekerja OH 0,07
Tukang OH 0,07
Tenaga
Kepala
Kerja OH 0,007
Tukang
Mandor OH 0,004
(Sumber : SNI-91-0008-2007)

Tabel 2.8 Memasang 1 m2 Bekisting Untuk Lantai

Kebutuhan Satuan Indeks


Pekerja OH 0,66
Tukang OH 0,33
Tenaga
Kepala
Kerja OH 0,033
Tukang
Mandor OH 0,033
(Sumber : SNI-91-0008-2007)
Tabel 2.9 Koefisien Tenaga Kerja Pada Pekerjaan Pengecoran Per 1 m2
Kebutuhan
No. Satuan Satuan Indeks
Tenaga Kerja
1 Pekerja OH 2,100
2 Tukang Batu OH 0,350
3 Kepala Tukang OH 0,035
4 Mandor OH 0,105
(Sumber : SNI 7394 : 2008)

32
Tabel 2.10 Produktivitas Tenaga Kerja

Tenaga Kerja Produktifitas Tenaga Kerja


No Item Pekerjaan Tukang Kenek
m/org/hr m/org/hr Kg/org/hr
(orang) (orang)
Pembesian
a. Pemotongan &
1 2 80
Pembengkokan
1
b. Pemasangan
1 2 125

Bekisting
2 a. Pemasangan 1 3 6
b. Pembuatan 1 2 6
3 Pengecoran Beton 1 1 12
(sumber : Buku Referensi Untuk Kontraktor. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
2003)

Tenaga kerja merupakan sumber daya yang dapat menentukan keberhasilan


suatu proyek. Tenaga kerja harus direncanakan secara menyeluruh dan terperinci

yang meliputi : jumlah tenaga kerja seperti pada persamaan (2.12), jadwal
pemanfaatan tenaga kerja.

Tenaga kerja harus disesuaikan dengan jadwal pekerjaan yang telah


direncanakan, dan juga perlu mempertimbangkan anggaran yang ada sehingga
produktivitas dan jumlah tenaga kerja dapat ditentukan.

Jumlah tenaga kerja = .(2.12)

33
4 BAB III

METODOLOGI

3.1 Lokasi Pengamatan

Pengamtan untuk proyek akhir ini dilakukan di Proyek Pembangunan Jalan Tol
Layang Bekasi Cawang Kp. Melayu (BECAKAYU) yang terletak di Jakarta
sampai Bekasi, Jawa Barat.

Gambar 4-1 Lokasi Proyek Pembangunan Jalan Tol Layang BECAKAYU

3.2 Alat Peneltian

Untuk mendukung penelitian maka dibutuhkan alat sebagai media pencari data
primer dan sekunder. Dalam penelitian ini dibutuhkan data kuantitatif yang didapat
dari pengukuran langsung di lapangan dan penggunaan media informasi perangkat
lunak (software), yang dibutuhkan sebagai bahan analisis data.

Adapun alat penelitian yang digunakan yaitu :

1. Kamera
Kamera digunakan sebagai alat dalam mendokumentasikan setiap kegiatan
yang dilaksanakan di lokasi penelitian.
2. Meteran
Alat ini digunakan dalam pengukuran elongasi yang terjadi pada saat
proses stressing girder.
34
3. Stopwatch
Stopwatch digunakan pada saat proses erection girder dengan tujuan untuk
mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk erection girder.
4. Alat Tulis
Alat tulis digunakan untuk mencatat data data hasil penelitian di lokasi
penelitian.

3.3 Rancangan Penelitian

Pengamatan ini dilakukan secara bertahap mulai dari pengumpulan data,


analisis data dan penyajian hasil penelitian. Pendekatan penelitian ini mengikuti
langkah-langkah kerja penelitian kuantitatif, karena dalam hal ini sifat data yang
dikumpulkan berupa data kuantitatif dengan menggunakan alat-alat ukur sehingga
menghasilkan data berupa angka. Sumber data dikelompokkan menjadi data primer
yang ditinjau langsung di lapangan dan data sekunder berupa kutipan dari sumber
lain. Dalam penulisan, data juga disajikan dalam bentuk foto, gambar, grafik, tabel
dan peta untuk memberikan keterangan yang lebih lengkap dan detail.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam


penulisan naskah proyek akhir ini, yaitu:
1. Pengamatan Langsung
Metode ini adalah dimana penulis melakukan pengamatan langsung ke
lapangan dan melakukan pengamatan saat pekerjaan pengecoran pelat lantai
sedang berjalan, baik dari pekerjaan penulangan, pemasangan bekisting, dan
pengecorannya.
2. Studi Literatur
Metode ini dipakai berdasarkan data-data pendalaman materi yang
mendukung pekerjaan bekisting, pembesian, dan pengecoran pelat lantai
yang di dapat dari buku, diktat, maupun dari data yang ada di internet.
3. Wawancara
Metode ini digunakan ketika dilapangan dan menanyakan langsung
bagaimana proses pengerjaanya kepada pelaksana di lapangan, atau dapat
berdiskusi dengan pihak proyek ataupun dosen pembimbing.

35
3.5 Metode Analisis Data

Dalam penulisan proyek akhir ini dilakukan berapa analisa yang akan
menjawab permasalahan hingga didapatkan hasil yang akan dijadikan sebagai
kesimpulan diakhir penelitian. Analisa yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu
analisa terhadap:

1. Gambaran metode kerja


Pada tahapan ini data yang diperoleh sebelumnya akan diolah sesuai
dengan keterkaitannya pada setiap kegiatan yang ada pada setiap pelaksanaan
pembangunan jalan tol layang BECAKAYU.
Gambaran metode kerja ini akan menjadi dasar untuk melakukan analisis-
analisis yang akan dilakukan pada tahapan selanjutnya. Metode kerja ini akan
memberikan inputan berupa sumber daya (alat dan pekerja) yang akan
digunakan untuk pekerjaan pembangunan jalan tol layang BECAKAYU.
Gambaran mengenai metode kerja yang akan dibahas pada bab V yaitu
mengenai pelaksanaan pengecoran pelat lantai:
a) Pekerjaan Pelat Bondek
b) Pekerjaan Pembesian
c) Pekerjaan Pengecoran
2. Analisis produktivitas alat
Produktivitas alat dihitung dengan menggunakan inputan dari metode
kerja. Inputan dari metode kerja ini memberikan inputan berupa alat berat
apa saja yang akan digunakan pada pekerjaan pengecoran pelat lantai.
Selain itu dapat menhitung efektivitas aplikasi metode dilapangan.
3. Analisis kebutuhan bahan
Analisis kebutuhan ini dilakukan dengan mengolah dari gambar dan
spesifikasi yang diperoleh dari instansi yang terkait. Pengolahan gambar ini
akan menunjukkan kuantitas kebutuhan material pada setiap kegiatan
pekerjaan pengecoran pelat lantai. Material yang akan dianalisis pada proses
ini antara lain kebutuhan baja tulangan dan pelat bondek, sebagai bahan
untuk pengecoran pelat lantai
4. Analisis kebutuhan pekerja

36
Setelah melakukan perhitungan kebutuhan bahan maka dapat dilanjutkan
dengan melakukan perhitungan tentang kebutuhan pekerja. Perhitungan
pekerja ini dilakukan dengan melihat kebutuhan bahan, dengan jumlah bahan
diketahui maka dapat diketahui pula berapa jumlah pekerja .

3.6 Tahapan Penelitian

Mulai

Persiapan

Pengumpulan Data

a. Tinjauan Lapangan
b. Studi Literatur
c. Wawancara

Verifikasi &
Validasi Data
Tidak

Iya
Pengolahan Data

Analisis &
Pembahasan

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.2. Diagram Alir Tahapan Penelitian

37
5 BAB IV

DATA TEKINS

4.1 Gambaran Umum Proyek

Jalan layang tol Bekasi Cawang Kampung Melayu (BECAKAYU) ini


melewati 12 Kelurahan dan terdiri dari 2 provinsi yaitu Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Untuk Seksi I ini dibagi menjadi 3 yaitu seksi 1A yang melintasi Kelurahan Rawa
Bunga, Kelurahan Cipinang Besar Utara, Kelurahan Cipinang Cempedak, Kelurahan
Cipinang Besar Selatan, dan Kelurahan Cipinang Melayu, untuk seksi 1B melintasi
Kelurahan Pondok Bambu dan Kelurahan Cipinang Melayu, dan seksi 1C melintasi
Kelurahan Duren Sawit, Kelurahan Pondok Kelapa, Kelurahan Bintara Jaya,
Kelurahan Jati Bening, dan Kelurahan Jaka Sampurna. Jalan tol ini merupakan jalan
layang tol yang berada di sisi kalimalang.

4.2 Pihak Pihak yang Terlibat

Pemilik Proyek : PT. Kresna Kusuma Dyandra Marga


Konsultan Perencana : PT. Buana Archion
Konsultan Pengawas : PT. Virama Karya
Kontraktor : PT. Waskita Karya (Persero) Tbk.

4.3 Data Proyek

4.3.1 Data Umum

Nama Kegiatan : Pembagunan Jalan Tol Bekasi Cawang Kp.


Melayu Seksi 1
Lokasi : Jakarta dan Bekasi
Panjang Pekerjaan : 10.500 meter
Waktu Pelaksanaan : 24 Desember 2014 sd. 30 Desember 2017
1102 ( seribu seratus dua ) hari kalender
Masa Pemeliharaan : 365 hari kalender (1 tahun)
Sumber Dana : PT. Kresna Kusuma Dyandra Marga

38
4.3.2 Lokasi Proyek

Lokasi Proyek Pembangunan Jalan Tol Bekasi Cawang Kp. Melayu Seksi
1 ini dimulai dari Casablanca melintasi Kp. Melayu, Jalan By Pass Ahmad Yani,
Pertigaan Halim, Universitas Borobudur, Jatiwaringin, Duren Sawit, Sumber Arta
dan berakhir di Jakasampurna.

Start seksi 1 Lokasi Batching Plant

Ending seksi 1

Gambar 5-1 Lokasi Proyek Pembangunan Jalan Tol Layang BECAKAYU

4.3.3 Data Teknis Proyek

Panjang Fly Over : 10.500 meter


Lebar Jalan : 2 x 14.0 meter ( 2Jalur / 4 Lajur )
Perkerasa Jalan : Flexible Pavement (ACWC)
Jenis Struktur
a. Pondasi Tiang Pancang : Square Pile 45 x 45 cm
b. Pilar / Kolom : Oktagonal (Pilar Existing) : 79
Pilar.
Square 2.50 x 2.50 m (Pilar
Lanjutan): 485 Pilar.
c. Gelagar Jembatan : PCI Girder Span 25, 29, 32 dan
38 Mtr
d. Metode Erection : Crane dan Launching Gantry
e. Crossing NS Link : Steel Girder Span 40 80 40
meter
f. Crossing JORR : Steel Girder Span 60 meter
g. On / Off Ramp : On Ramp Panjaitan
(7bh) On / Off Ramp NS Link

39
On / Off Ramp Cipinang
On / Off Ramp Jatiwaringin
On / Off Ramp Pondok Kelapa
1&2
On / Off Ramp Patriot

4.4 Spesifikasi Struktur Pelat Lantai

Gambar 5-2 Tampak Atas Pelat Lantai Jembatan PWB 111 PWB 112

Gambar 5-3 Potongan Melintang Pelat Lantai Jembatan PWB 111 PWB 112

a. Segmen PWB 111 PWB 112


Lebar (L) : 14 m
Panjang (P) : 32,8 m
Luas Alas : 14 x 32.8 = 459.2 m2

40
Gambar 5-4 Tampak Atas Pelat Lantai Jembatan PWB 112 PWB 113

Gambar 5-5 Potongan Melintang Pelat Lantai Jembatan PWB 112 PWB 113

b. Segmen PWB 112 PWB 113


Lebar (L) : 14m
Panjang (P) : 32.8 m
Luas Alas : 14 x 32.8 = 459.2 m2
c. Tebal Pelat Lantai : 0.30 m
d. Nilai Slump : 12 2 cm
e. Mutu Beton : K350
f. Tulangan yang digunakan : D13 dan D16

Peralatan yang dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan


pengecoran pelat lantai dapat dilihat pada tabel 4.1 dan tabel 4.2.

41
Tabel 4.1 Peralatan yang di gunakan
Daftar
` Peralatan Spesifikasi
1 Waterpass Merk Nicon AC-2S
2 Total station Merk DTM 652
Merk CMB 25
2 Bar bender
Kapasitas 300 kg/jam
Merk KMC 32
3 Bar Cutter
Kapasitas 250 kg/jam
(sumber: data kontraktor)

Tabel 4.2 Alat berat yang di gunakan

No. Daftar Peralatan Spesifikasi


Merk Nissan diesel
1 Truck mixer
Kapasitas 7 3
IHI,IPF
2 Concrete pump Merk 110/Mitsubishi
produktivitas 30 m3/jam
(sumber: data kontraktor)

42
6 BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1 Flow Chart Pelaksanaan Pekerjaan Pelat Lantai

Dalam pelaksanaan pekerjaan pelat lantai mempunyai urutan pekerjaan


sebagai berikut :

Mulai

Pekerjaan Persiapan

Pemasangan Bekisting

Pemasangan Tulangan

Perbaiki
Checklist
Penulangan Bondeck
Tidak

Ya
Pengecoran & Pemadatan
Beton

Perawatan

Selesai

1 Gambar 5.1 Flow Chart Pelaksanaan Pekerjaan Pelat Lantai

43
5.2 Pekerjaan Persiapan

Dalam pekerjaan pengecoran pelat lantai urutan pelaksanaan pekerjaan


persiapan dimulai dari pembersihan instalasi lapangan. Berikut adalah Flow Chart
pelaksanaan persiapan :

Mulai

Pekerjaan Persiapan

Pembersihan Lahan

Pengukuran

Mobilisasi

Pembuatan Instalasi
Lapangan

Selesai

7 Gambar 5.2 Flow Chart Pelaksanaan Pekerjaan persiapan pengecoran pelat lantai

44
5.3 Pembersihan Lahan

Pembersihan dilakukan untu memastikan lahan atau area kerja pelat lantai
bersih dari alat-alat dan bahan-bahan yang tidak diinginkan. Pembersihan ini juga
bertujuan untuk memudahkan penempatan alat berat dan bahan di lokasi kerja.

5.4 Pengukuran

Pada pekerjaan pengukuran ini bertujuan untuk menentukan luas lokasi


pekerjaan dan batas-batas wilayah, serta sebagai patokan, atau titik acuan pada
pelaksanaan pekerjaan pierhead dan slab.

Mulai

Persiapan Alat Ukur

Pengukuran

Catatan Hasil Pengukuran

Beri tanda pada titik yang


diukur

Selesai

2 Gambar 5.3 Flow Chart Pengukuran

45
1. Tahapan pelaksanaan pengukuran

Pekerjaan pengukuran dilakukan terhadap chamber girder. Dilakukan setiap


2,5m panjang bentang girder pada girder bagian dalam menuju sisi luar. Dari
pengukuran didapatkan elevasi aktual pelat lantai dan akan dibandingkan dengan
elevasi rencana pelat lantai. Berdasarkan kedua data tersebut didapatkan ketebalan
aktual pelat lantai, jika ketebalan pelat lantai kurang dari 30cm maka elevasi rencana
pelat lantai harus dinaikan hingga mendapatkan ketebalan pelat lantai 30cm.

2. Kebutuhan peralatan, bahan, tenaga kerja dan waktu pelaksanaan


a. Peralatan yang dibutuhkan
Untuk melaksanakan pekerjaan pengukuran sesuai dengan waktu
rencana dibutuhkan 1 set alat ukur seperti pada tabel 5.1 :
Tabel 5.1 kebutuhan peralatan pengukuran
No Alat Jumlah
(unit)
1. Waterpass 1
2. Total station 1
3. Tripode 1
4. Rambu ukur 2
5. Staflevel 1
6. Unting-unting 1
7. Roll meter 1
(sumber : berdasarkan observasi lapangan)

b. Bahan yang dibutuhkan


Bahan yang dibutuhkan pada pekerjaan pengukuran seperti pada tabel 5.2 :
Tabel 5.2 kebutuhan bahan pengukuran

No Bahan Jumlah
1. Benang nilon 2 gulung
2. Cat Pylox 1 kaleng
(sumber : berdasarkan observasi lapangan)

46
c. Tenaga kerja yang dibutuhkan
Pada pekerjaan pengukuran dibutuhkan 1 tim kerja seperti pada tabel 5.3 :
Tabel 5.3 kebutuhan tenaga kerja pengukuran

No. Tenaga kerja Jumlah Tugas


1. Surveyor 1 Melakukan pengukuran,
mencatat hasil pengukuran.
2. Asisten surveyor 2 Memegang rambu ukur,
memasang patok, dan
memberikan tanda terhadap
titik yang diukur
(sumber : berdasarkan observasi lapangan)

3. Analisis waktu pelaksanaan yang dibutuhkan


Produktifitas tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan pengukuran adalah
sebagi berikut :
1 hari = 7 jam efektif
Luas area kerja =pxl
=32,8 m x 14 m
=459,2 2
(dari hasil wawancara dengan surveyor di lapangan)
Pemindahan titik = 2 menit
Membidik = 2 menit
Pembacaan = 2 menit
Produktivitas 1 patok = 6 menit = 10 patok/jam

jumlah patok
Waktu pengukuran =
produktivitas

5 patok
= = 0,5 jam
10 patok/jam

Jadi waktu pengukuran untuk 6 span adalah 3 jam

47
5.5 Pekerjaan Bondeck

Pelat bondeck yang dipasang sepanjang celah antar girder pada pelat lantai
berfungsi utama untuk menahan beban pengecoran.

5.5.1 Perhitungan Kebutuhan Bondeck

Untuk pekerjaan pemasangan bondeck dibutuhkan total jumlah bahan yang


diperlukan yang akan dijabarkan pada tabel 5-1.

Gambar 0.4 Tampak Atas Pekerjaan Pemasangan Pelat Bondeck

Gambar 0.5 Potongan Melintang Girder

48
Tabel 0.4 Kebutuhan Pelat Bondeck

Jarak Dimensi Bondeck Volume


Jumlah
Panjang antar Area Jumlah Kebutuhan
Bentang Celah Antar
Girder Girder L P Smartdeck Smartdeck
Girder
(m) (m) (m) (m) (m2) (Lebar) (m2)
A B C D E F g = (e x f) h = ((b / e) x d) i = (g x h)

PWB111 -
PWB112 32,8 2,4 5 0,96 1,76 1,68 170,8 286,94

PWB112 -
PWB113 32,8 2,4 5 0,96 1,76 1,68 170,8 286,94

Contoh peritungan kebutuhan bondek per segmen (PWB 111 PWB113) :


Dimensi : P = 1,76 m
L = 0,96 m
Luas : Panjang x Lebar
: 0,96 m x 1,76 m
: 1,68 m2

Jumlah Bondek :

32.8
: 5
,96

: 170,8 = 171 buah/segmen


Volume Kebutuhan : Luas x Jumlah Bondek
: 1,68 m2 x 170,8
: 286,94 m2

5.5.2 Kontrol Kekuatan Pelat Bondeck

Analisis Kekuatan Bondeck


Tebal Pelat Lantai (d) : 0,3 m
L maks span : 1,76 m
B : 0,96 m
beton : 2400 kg/m3

Berdasarkan spesifikasi pelat bondeck pada sub bab 4.5, didapatkan:


Tebal Pelat Bondeck = 0,7 mm
Berat Dasar = 7,02 kg/m2
E = 210.000 N/mm2

49
I = 701.979,17 mm4/m

Pembebanan pelat bondeck dengan beton:


1. Berat sendiri beton (W1) =xd
= 2400 kg/m3 x 0,3 m
= 720 kg/m2
2. Berat menumpuk beton (W2) =xxd
= x 2400 kg/m3 x 0,3 m
= 360 kg/m2
3. Berat sendiri bondeck (W3) = 7,02 kg/m2
4. Berat Pekerja + alat (W4) = 180 kg/m2

Perhitungan Kontrol Kekuatan:


q = (Total Pembebanan x 1 m)
= 720 + 360 + 7,02 + 180
= 1267,02 kg/m
5 4
Deflection () =
384
5 1267,02 1,614
=
384 210000 70197917
42565,43
=
5,66 1015

= 7,53mm <
1610
= 7,53mm < 200

= 7,53 mm < 8,05 mm OK!!

5.5.3 Perhitungan Jumlah Tenaga Kerja

(Koefisien jumlah tenaga kerja berdasarkan SNI-91-0008-2007)


Pekerjaan bekisting untuk lantai : (tabel 2.12)
Pekerja = 0,66 OH x 286,94 = OH
Tukang = 0,33 OH x 286,94 = OH
Kepala tukang = 0,033 OH x 286,94 = OH
Mandor = 0,033 OH x 286,94 = OH

50
Waktu pelaksanaan pekerjaan pemasangan bekisting adalah 7 hari
sehingga jumlah tenaga kerja menjadi :
159,24 OH
Pekerja = = 22,75 23 orang
7 hari
79,62 OH
Tukang = = 11,37 12 orang
7 hari
7,96 OH
Kepala tukang = = 1,14 2 orang
7 hari
7,96 OH
Mandor = = 1,14 2 orang
7 hari

5.5.4 Pelaksanaan Pemasangan Bondeck

Tahap pemasangan bondeck terdiri dari beberapa tahapan yaitu:

1. Persiapan
a. Kontraktor melakukan pemesanan bondeck dengan spesifikasi pelat
bondeck yang digunakan adalah sebagai berikut:
1) Tebal : 0,75 mm
2) Lebar : 960 mm
3) Panjang : 1760 mm
b. Pendatangan pelat bondeck dari pabrik ke lokasi proyek.
c. Penyimpanan pelat bondeck di stock yard. Pelat bondeck disusun
dalam sebuah rak yang terhindar dari sinar matahari secara langsung.
(Lihat gambar 5-4)

Gambar 0-1 Foto Penyimpanan Pelat Bondeck di Stock Yard

51
2. Mobilisasi Pelat Bondeck
a. Saat pelat bondeck akan digunakan, pelat bondeck diangkut ke atas
service crane secara manual dan dibawa ke lokasi pekerjaan.
b. Setelah diangkat menggunakan service crane, pelat bondeck
diletakkan di atas abutment yang sudah selesai di cor. Hal ini
dilakukan untuk mempermudah mobilisasi dalam pemasangan pelat
bondeck tersebut. (Sketsa pada gambar 5-5)

Gambar 0-2 Sketsa Mobilisasi Pelat Bondeck

3. Instalasi Pelat Bondeck


a. Pemasangan atau penyusunan pelat bondek dimulai dari PWB111
meuju PWB113 seperti ditunjukkan pada gambar 5-6. Hal ini
dilakukan untuk mempermudah proses pemasangan..
b. Setelah girder di leveling, bondeck dipasangkan diantara girder
sesuai dengan ukuran yang direncanakan.

52
Gambar 0-3 Arah Pemasangan Pelat Bondeck

c. Jarak spasi antar girder yang tidak pas dengan lebar bondek
dilakukan pemotongan dengan menggunakan las gas agar bondek
bisa diposisikan dengan tepat.

Gambar 0-4 Foto Paku Rivet

d. Sambungan pada pelat bondeck dibor dengan 2 mm menggunakan


mesin bor tangan untuk memasang paku rivet.
e. Kemudian, paku rivet dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibor
dan ditarik dengan menggunakan stang rivet.
f. Setelah semua bondeck diposisikan, bagian sisi bondeck ditutup
dengan adukan semen (grouting) agar saat pengecoran tidak terjadi
kebocoran. (Lihat gambar 5-8)

53
Gambar 0-5 Foto Pemberian Adukan Diujung Pelat Bondeck untuk Menjegah Kebocoran saat Pengecoran

g. Setelah pemasangan pelat bondeck dilanjutkan dengan instalasi


tulangan.

54
4. Quality Control Pada Pekerjaan Bondek

Adapun pemeriksaan atau Quality Control yang dilakukan setelah


melakukan pekerjaan pemasangan bondek yaitu:

1. Pemeriksaaan kondisi fisik bondek.

2. Pemeriksaaan sambungan antar pelat bondek.

3. Pemeriksaan elevasi dan kelurusan pelat bondek.

55
5.6 Pekerjaan Penulangan

Tulangan berfungsi sebagai penahan gaya tarik dan tekan pada pelat lantai.
Pemasangan tulangan harus dilakukan sesuai dengan perhitungan perencanaan.
Pekerjaan penulangan dilakukan setelah pekerjaan pemasangan bondeck selesai.

5.6.1 Pekerjaan Penulangan Pada Pelat Lantai

1. Perhitungan Volume Pekerjaan Penulangan Pelat Lantai

Sebelum melakukan pekerjaan penulangan, dibutuhkan perhitungan total


jumlah bahan yang diperlukan. Berikut akan dijelaskan tabel perhitungan jumlah,
ukuran, dan berat bahan yang dibutuhkan. (Gambar penampang pada gambar 5-22)

Gambar 0-6 Tampak Atas Penulangan Pelat Lantai jembatan

56
Bar Bending PWB 111 PWB 112

57
Bar Bending PWB 112 PWB 113

58
Berdasarkan uraian tabel diatas volume tulangan yang dibutuhkan sebanyak
16547,61 kg.
2. Analisa Kebutuhan Alat
a. Bar Cutter

Gambar 5.11 Bar cutter


Bar Cutter, adalah alat yang dioperasikan oleh pekerja untuk
memotong baja tulangan di lokasi pembuatan tulangan. Baja tulangan diukur
sesuai dengan panjang yang telah ditentukan dan memberi tanda pada
tulangan yang akan dipotong. Dengan memperhatikan tanda pemotongan
yang telah ada, ini dilakukan untuk menghindari kesalahan pemotongan.
Setelah semua tulangan dipotong letakkan potongan baja tulangan tersebut
sesuai dengan kode agar tersusun dengan rapih.

Produktivitas alat

Data alat yang digunakan:

Bar cutter KMC 32 (Kapasitas = 250 kg/jam)

Produktivitas = kapasitas alat x waktu kerja 1 hari

= 250 kg/jam x 7 jam/hari

= 1750 kg/hari

Jumlah alat yang digunakan (persamaan 2.19) :

volume pekerjaan
Jumlah =
(waktu x produktivitas)

16547,61 kg
= = 2.4 = 2 alat
(4 hari x 1750 kg/hari)

59
b. bar bender

Gambar 5.14 bar bender

Bar Bender adalah alat yang digunakan untuk membengkokkan baja tulangan
dalam berbagai macam sudut sesuai dengan perencanaan. Pelaksanaan
pembengkokan dimulai dengan menyiapkan baja tulangan yang akan dibengkokan
sesuai dengan gambar rencana. Baja tulangan yang akan dibengkokkan diberi tanda
dahulu. Setelah pembengkokkan selesai baja tulangan diletakan ditempat
penyimpanan.

Produktivitas alat

Data alat yang digunakan :

Bar bender CMB 25 ( Kapasitas 300kg/jam)

Produktivitas = kapasitas alat x waktu kerja 1 hari

= 300 kg/jam x 7 jam/hari

= 2100 kg/hari

Jumlah alat yang digunakan (persamaan 2.19) :

60
volume pekerjaan
Jumlah =
(waktu x produktivitas)

16547,61 k
= = 1,9 = 2 alat
(4 hari x 2100 kg/hari)

Tabel 5.12 kebutuhan peralatan pemasangan tulangan

No. Peralatan Bahan


1. Kakatua 6 unit
2. Meteran 6 unit
(sumber : berdasarkan observasi lapangan)

3. Anaslisa Jumlah Tenaga Kerja (per segmen)

(Koefisien jumlah tenaga kerja berdasarkan SNI-91-0008-2007) Pembesian 10 kg


dengan besi polos atau besi ulir : (tabel 2.11)

0,004 16547,61
Mandor = = 6,62 OH
10
0,007 16547,61
Kepala Tukang = = 11,58 OH
10
0,070 16547,61
Tukang Besi = = 115,83 OH
10
0,070 16547,61
Pekerja = = 115,83 OH
10
Waktu pelaksanaan pemotongan pembengkokan dan perakitan adalah 4 hari
(berdasarkan time shecedule) sehingga jumlah tenaga kerja adalah :

6,62 OH
Mandor = = 1,65 Orang = 2 Orang
4 hari

11,58 OH
Kepala Tukang = = 2,89 Orang = 3 Orang
4 hari

115,83 OH
Tukang Besi = = 28,95 Orang = 29 Orang
4 hari

115,83 OH
Pekerja = = 28,95 Orang = 29 Orang
4 hari

61
Jadi untuk melakukan pekerjaan pembesian dibutuhkan 29 Pekerja, 29 tukang besi, 3
orang kepala tukang dan 2 orang mandor dengan durasi 4 hari.

4. Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai

1. Persiapan
a. Pemesanan tulangan.
Kontraktor melakukan pemesanan tulangan sesuai dengan kebutuhan
tulangan yang tertera pada tabel 5.5 dan 5.6.
b. Pendatangan tulangan dari pabrik.
Dalam hal ini, tulangan yang akan didatangkan berupa besi ulir D16
dan D13 dengan panjang 12 meter.
c. Pengecekan diameter tulagan.
Pengecekan dilakukan untuk mencegah terjadinya penipuan dalam
penyuplaian. Pengecekan diameter dilakukan dengan memotong
tulangan tiap satu meter dan ditimbang lalu dihitung dengan rumus:
= 12,8
(Sumber : PBI71)
dp : diameter pengenal
g : berat batang per m (dalam kg)
d. Pengecekan juga dapat dilakukan dengan cara menimbang tulangan
dan dicocokan ke dalam tabel tulangan.
e. Penyimpanan tulangan di stock yard penyimpanan sebelum mulai di
pabrikasi. Stock yard dekat dengan bengkel kerja untuk
memudahkan akses pabrikasi tulangan. (Lihat gambar 5-23 dan 5-
24)

62
Gambar 0-7 Lokasi Stock Yard

Gambar 0-8 Foto Tulangan di Stock Yard


f. Tulangan dikelompokan berdasarkan ukuran masing-masing untuk
mengurangi adanya kesalahan penggunaan diameter tulangan. Untuk
menghindari terjadinya korosi, tulangan diberi alas dan ditutup
denga terpal.
g. Tulangan dengan diameter yang sama dikelompokan dan diberi
warna yang berbeda untuk tiap diameter seperti pada gambar 5-25.

63
Gambar 0-9 Gambar Pengelompokan Tulangan

2. Pabrikasi Tulangan
a. Pemotongan dilakukan dengan menggunakan alat pemotong (bar
cutter). Tulangan yang akan digunakan disesuaikan ukurannya
dengan dimensi seperti yang terteta pada tabel bar bending (tabel 5.5
dan 5.6). Pemotongan dilakukan dengan seekonomis mungkin.
Panjang yang akan dipotong adalah panjang total yang tercantum
pada tabel penulangan dan memperhitungkan panjang akibat
pembengkokan.
b. Penandaan panjang potong tulangan menggunakan kapur tulis
setelah dilakukan pemotongan untuk mempermudah pekerjaan
pembengkokan.
c. Pembengkokan (bending). Pembengkokan dilakukan menggunakan
meja pembengkok untuk tulangan berdiameter kecil dan
menggunakan alat pembengkok (bar bender) untuk tulangan dengan
diameter besar atau di atas 12 mm.
d. Pemotongan dan pembengkokan dilakukan di dua tempat, yaitu di
bengkel kerja dan di lokasi pekerjaan. Pembengkokan tulangan
harus dilakukan sesuai dengan standar pembengkokan tulangan
seperti tertera pada sub bab 2.4.4.
e. Pabrikasi yang dilakukan di bengkel kerja adalah pabrikasi tulangan
cakar ayam atau tulangan penyangga D13, sedangkan pabrikasi
tulangan utama D16 dan tulangan bagi D13 dilakukan di lokasi
pekerjaan (di atas fly over). (Lihat gambar 5-15)
64
Gambar 0-10 Foto Bar Bender

3. Mobilisasi Tulangan
a. Setelah tulangan selesai dipabrikasi, tulangan diangkut dengan
service crane yang kemudiaan diletakan di atas abutment seperti
pada sketsa. (Sketsa pada gambar 5-16)

PW111 PW112

Gambar 0-11 Mobilisasi Tulangan Dari Stock Yard ke Lokasi Pekerjaan

65
Gambar 0-12 Foto Penempatan Tulangan di Atas Abutment

4. Instalasi Tulangan
a. Pengukuran jarak sumbu ke sumbu tulangan ditandai pada bekisting
dengan menggunakan kapur tulis.
b. Peletakkan beton decking di setiap girder dengan jarak memanjang
tiap 1 meter.
c. Instalasi tulangan dimulai dari pemasangan tulangan utama bagian
bawah, tulangan bagi, tulangan cakar ayam sebagai penyangga, dan
kemudian dilanjutkan dengan tulangan utama bagian atas. (Sketsa
pada gambar 5-18).

Gambar 0-13 Sketsa Urutan Instalasi Pekerjaan Penulangan Pelat Lantai

66
d. Instalasi tulangan utama D16 bagian bawah dengan jarak antar
tulangan 125 mm. Tulangan diletakan di atas kayu penyangga pada
ujung-ujung tulangan.
e. Setelah tulangan utama bagian bawah selesai disusun dan diikat
dengan bendrat pada tiap sambungannya, dilanjutkan dengan
penyusunan tulangan bagi yang menggunakan tulangan D13 dengan
jarak antar tulangan 200 mm. (Lihat gambar 5-19)

Gambar 0-14 Foto Pekerjaan Penulangan

f. Selanjutnya, tulangan bagi bagian bawah diikat dengan bendrat pada


tulangan utama bagian bawah.
g. Setelah penulangan bawah selesai, tulangan stek girder
dibengkokkan ke arah kiri dan kanan agar memperkuat ikatan saat
beton menjadi monolit dan dapat berfungsi sebagai penyangga
tulangan bagi bagian atas. Hal ini dapat dilihat pada gambar 5-20.

67
Gambar 0-15 Foto Tulangan Stek Girder yang Dibengkokan

h. Tulangan shape (cakar ayam/tulangan penyanggah) D16 setinggi


8cm dipasang tiap jarak 1 meter dan diikat pada tulangan bagia
bawah seperti pada gambar. (Lihat gambar 5-21)

Gambar 0-16 Foto Tulangan Shape Cakar Ayam

68
i. Tulangan bagian atas disusun dan diikat pada stek girder dan
tulangan cakar ayam. (Lihat gambar 5-33)
j. Karena lebar lantai 14 m dan panjang lantai 32.8 m, maka perlu
adanya sambungan tulangan karena panjang tulangan yang hanya
12m. Sambungan tulangan dibuat selang-seling antara sisi satu
dengan lainnya (sambungan tulangan tidak disepanjang sisi yang
sama). Begitu juga dengan kait tulangan ujung dibuat selang-seling
antara tulangan atas dan tulangan bawah (kait menghadap atas dan
kait menghadap bawah).
k. Setelah instalasi tulangan selesai, dilakukan pengecekan kembali
untuk jarak antar tulangan dan posisi tulangan.

5. Pemasangan Deck Drain


a. Setelah tulangan terinstalasi seluruhnya, tulangan dipotong sesuai
dengan dimensi deck drain. Pemotongan dilakukan dengan cara
dilas.
b. Tulangan yang telah dipotong, dilas pada bagian ujung. (Sketsa pada
gambar 5-22).

Gambar 0-17 Pengelasan Tulangan untuk Pemasangan Deck Drain

c. Pemasangan Block Out sejenis bekisting yang nantinya menjadi


tempat deck drain.

69
Gambar 0-23 block out

d. Deck drain dipasang sebanyak 6 buah per segmen, 3 buah di sebelah


kanan dan 3 buah di sebelah kiri. (Sketsa pada gambar 5-23).

Gambar 0-18 Sketsa Pemasangan Deck Drain

6. Quality Control Pada Pekerjaan Tulangan


Adapun pemeriksaaan atau Quality Control setelah melakukan
instalasi tulangan seperti:
1. Memeriksa kondisi fisik tulangan apakah berkarat atau tidak.
2. Memeriksa diameter tulangan sesuai design.
3. Memeriksa panjang tekukan diujung tulangan sesuai design.

70
4. Memeriksa jumlah tulangan terpasang sesuai design.
5. Memeriksa kawat bendrat apakah terikat dengan lengkap dan baik
atau tidak.

5.7. Proses Produksi Beton Pada Batching Plant


1. Bahan Baku
Untuk memenuhi syarat standart beton PT. WASKITA BETON
memanfaatkan bahan baku untuk membuat beton type K-350 diantaranya
sebagai berikut:
a) Agregat kasar (krikil/split)
b) Agregat halus (pasir)
c) Air

d) Semen

Gambar 5-24 Bahan Baku Beton K-350

2. Proses Produksi
Proses produksi ini melalui beberapa mesin dan alat yang sudah
diperhitungkan waktunya, mulai dari menakan bahan-bahan material agar
sesuai dengan volumenya hingga proses pengisian Readymix Concrete yang
sudah jadi ke truk mixer.

71
1) Tahap pertama, menakar dan memasukan bahan agregat ke tungku
berjalan.

Gambar 5-25 Menakar dan Memasukan Agregat

2) Menambah bahan kimia aditif berupa Retarder yang sudah diisi


material agregat

Gambar 5-26 Menambahkan bahan kimia pada tank


3) Menambah material air untuk menetapkan reaksi kimia ketika semen
telah dicampurkan.

Gambar
72 5-27 Menambahkan material air
4) Menambahkan material semen

Gambar 5-28 Menambahkan material semen

5) Mengisi Truk Mixer dengan Readymix concrete yang sudah jadi,


kemudian siap dikirim ke lokasi pengecoran.

Gambar 5-29 Mengisi Truk Mixer dengan Readymix concrete

73
5.8 Pekerjaan Pengecoran Pelat Lantai

Pekerjaan pengecoran dilakukan setelah pemasangan bondeck dan instalasi


tulangan selesai.

Tahapan Pelaksanaan Pengecoran

1. Siapkan peralatan pengecoran seperti concrete vibrator, kompresor, serta


peralatan pendukung lainnya. Pastikan peralatan tersebut dalam kondisi baik,
pastikan lokasi bersih dari sisa kotoran akibat penulangan dengan
menggunakan kompresor.
2. Siapkan lokasi untuk truck mixer yang membawa beton dari batching plant
yang kira-kira jaraknya sangat efisient untuk menuang beton ke dalam
catakan.
3. Dilakukan pengambilan sampel untuk uji slump dan uji kuat tekan. Dengan
peralatan slump cone, bullet nosed, penggaris atau meteran, plat baja, sekup
kecil. Nilai slump ditentukan 12 2 cm, dengan cara pengujian sebagai
berikut:
a. Letakan slump cone diatas plat baja
b. Isi beton 1/3 bagian dari slump cone
c. Tumbuk dengan bullet nosed sebanyak 25 kali secara menyeluruh
d. Lakukan hal tersebut sebanyak 3 kali atau 3 lapisan, lalu ratakan
e. Angkat slump cone
f. Lalu ukur seberapa jauh tinggi penurunan beton dari tinggi awal slump
cone dengan penggaris atau meteran (gambar 5.15)

74
Gambar 5.15 pengujian slump cone

Sedangkan untuk pengambilan uji kuat tekan (gambar 5.16) peralatan yang di
gunakan sama, hanya slump cone diganti dengan cylinder mould dengan cara
pengujian yang sama dengan uji slump. Benda uji diambil sebanyak 5 buah
yaitu untuk umur 7 hari, 14 hari dan 28 hari. Beri label dan biarkan beton
setting sekurang-kurangnya selama 24 jam. Buka cetakan dan bawa silinder
ke laboratorium untuk di lakukan uji kuat tekan

Gambar 5.16 pengambilan uji kuat tekan

Uji slump di lakukan setiap 2 kali Jika nilai slump memenuhi syarat yaitu 10
2 cm, maka beton di nyatakan ok oleh tim quality control barulah
pengecoran dapat di laksanakan

75
4. Arahkan Pipa Tremie ke cetakan beton untuk laintai (slab)
5. Penuangan beton dimulai dari sisi pojok kanan pada bagian tertinggi slab
kemudian berjalan terus sampai ke bagian tengah lantai hingga ke bagian
paling rendah, penuangan di lakukan langsung dengan ketebalan sesuai
rencana yaitu 30 cm.
6. Untuk memudahkan dalam pekerjaan pengecoran khususnya mengenai batas
ketebalan pengecoran untuk lantai (slab), maka di gunakan papan list sebagai
tanda batas pengecoran, dan di gunakan pipa yang di letakan memanjang
pada sisi kanan dan kiri bondeck untuk mendapatkan kemiringan permukaan
lantai yang sesuai dengan rencana,yang telah di lakukan pengukuran elevasi
dengan menggunakan water pass oleh pekerja.
7. Setelah truck mixer mengeluarkan beton segar ke area yang akan di kerjakan
kemudian di getarkan menggunakan 2 buah alat concrete vibrator dengan
cara dimasukan ke dalam tulangan. concrete vibrator berfungsi agar beton
segar padat sehingga rongga-rongga yang terdapat pada acuan terisi oleh
beton, jika beton sudah terisi penuh dan berada pada batas rencana maka di
ratakan dengan menggunakan jidar.

5.8.1 Analisa Kebutuhan Perlatan Dan Tenaga Kerja

Untuk pekerjaan pengecoran pelat lantai Jalan Tol Layang BECAKAYU,


pengecoran dilakukan per segmen dalam satu hari. Perhitungan volume pengecoran
pada segmen PWB 111 PWB 112 dapat dilihat pada tabel 5-7.

Gambar 0-31 Tampak Atas Pelat Lantai PWB 111 PWB 112

76
Gambar 0-32 Tampak Atas Pelat Lantai PWB 112 PWB 113

Tabel 0-4 Volume Pengecoran Pelat Lantai PWB 111 PWB 113

1. Analisa Perhitungan Concrete Pump

Produktivitas Concrete Pump (Qcp)

Kapasitas Concrete Pump = 30 m3

Waktu Setting Concrete Pump = 19 menit


Waktu Pergantian Truk Mixer = 2 menit
Waktu Setting TM ke CP = 4 menit +
Waktu total = 25 menit
Job Efisiensi (E) = 0,83

Produktivitas Concrete Pump (Q) = 60 x q Truck Mixer x 0,83

CT

= 60 x 7 x 0,83

25

= 13,94 m3/jam

77
Dari perhitungan produktivitas, didapat produktivitas concrete pump
sebesar 13,94 m3/jam. Hasil ini lebih kecil dari kapasitas yang tertera pada
alat sebesar 30 m3/jam karena adanya faktor pengali efisiensi kerja sebesar
0,83.

2. Analisa Perhitungan Truck Mixer

Kapasitas truck mixer = 7 m3

Volume Pekerjaan = 137,8 m3


Volume Pekerjaan
Jumlah truck mixer = Kapasitas (persamaaan 2.1)
137,8
= = 19,68= 20 unit truck mixer
7

Maka untuk kegiatan pengecoran plat lantai (slab) dibutuhkan 20 unit


(trip) truck mixer kapasitas 7 m3.
Produktivitas truck mixer (Qtm)
Waktu penuangan 1 unit truck mixer terhadap 1 unit concrete pump
kapasitas Truck Mixer
Waktu tuang = Produktivitas
7
= = 0,5jam 30 menit
13,94

Waktu Perjalan :
Jarak batching plant ke lokasi = 4km
Kecepatan isi = 30km/jam
s 4 km
= = = 0,13jam = 7,8 menit
v 30 km/jam

Waktu tuang = 30 menit

Waktu tunggu = 5 menit

Waktu isi = 3 menit

Waktu Perjalan = 7,8 menit

Total waktu truck mixer 45,8 menit per 7m3, Jika 1 jam maka
didaptkan 9,2 m3, jadi produktivitas truck mixer 9,2 m3/jam

78
Siklus Pengecoran untuk 1 kali trip:

Kebutuhan Truck Mixer = 4 unit

Waktu perjalanan = 7,8 menit

Total waktu tuang = 4 x 30 menit = 120 menit

Waktu persiapan = 15 menit

Waktu total 1 trip = 142,8 menit = 2,4 jam

Jumlah
Jumlah trip =
Jumlah 1 trip

20
= = 5 trip
4

Jumlah concrete pump (n)

Produktivitas (Qtm)
n = Produktivitas (Qcp) (persamaan 2.4)
9,2
n = 13,94= 0,66 1 unit concrete pump

Waktu pengecoran = waktu total 1 trip x jumlah trip

= 2,4 jam x 5 = 12 jam

Jadi, untuk melakukan pengecoran dengan volume 137,8 m3


membutuhkan waktu 12 jam dengan 1 concrete pump dan 4 unit truck mixer
kapasitas 7 m3 yang melakukan 5 kali trip.
3. Analisa Perhitungan Concrete Vibrator
Analisis waktu pemadatan
Spesifikasi alat :
Mikasa concrete vibrator tipe FX-45A
Vibrator head = 47 mm = 4,7 cm
Vibration = 200 Hz (12000 getaran/menit)
Jangkauan thriller vibrator = 397 mm = 39,7 cm
Jumlah tusukan vibrator :

Menghitung jumlah lapisan pemadatan berdasarkan(persamaan 2.14)

79

Jumlah lapisan pemadatan =

30
=
39,7
= 0,75 1 lapisan pemadatan

Menghitung Jumlah tusukan memanjang berdasarkan persamaan 2.15


Jumlah tusukan memanjang =

3280
=
39,7

= 82,61 83 titik tusukan

Menghitung jumlah tusukan melebar berdasarkan persamaan 2.16


Jumlah tusukan melebar =

1400
=
39,7
= 35,26 35 titik tusukan

Jumlah total tusukan = 83 x 35 = 2905 tusukan

Jumlah waktu pemadatan


Jika 1 tusukan memerlukan 10 detik dan perpindahan 1 tusukan
5 detik (mengeluarkan dan memasukan kembali setelah pindah
tempat) maka untuk 2905 tusukan :
Waktu pemadatan = 15 detik x 2905 tusukan =43575 detik =
726,25 menit = 12,10 jam
Didapatkan 12,10 jam untuk 1 concrete vibrator. Karena total
waktu pemadatan melebihi waktu pengecorannya, maka jumlah
concrete vibrator harus ditambah (persamaan 2.18) :
total waktu pemadatan
Jumlah vibrator (n) = total waktu pengecoran

12.10 jam
=
4,7 jam

80
= 2,57 = 3 unit concrete vibrator
4. Kebutuhan Alat dan Bahan

Kebutuhan alat dan bahan

Alat dan bahan yang di gunakan pada pekrjaan pengecoran di


antaranya adalah :

a. Beton K-350
b. 20 trip truck mixer
c. 1 unit concrete pump
d. 3 unit concrete vibrator
e. Peralatan tukang (alat perata/jidar, cangkul, sekop dll)
(Sumber : Berdasarkan analisa perhitungan)

5. Kebutuhan tenaga kerja


Jumlah Tenaga Kerja (analisa)
Tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan pengecoran ini
berdasarkan tabel 2.14 adalah:
(Koefisien jumlah tenaga kerja berdasarkan SNI-91-0008-2007)
Pengecoran per 1m3 dengan volume 1378 m3
Pekerja = 2,100 OH x(137,8 /1 m3) = 0,015 OH
Tukang = 0,350 OH x (137,8 /1 m3)= 0.0025 OH
Kepala Tukang = 0,035 OH x (137,8/1 m3) = 0,00073 OH
Mandor = 0,105 OH x (137,8/1 m3) = 0,00076 OH

Jumlah tenaga kerja per mandor menjadi :


10,4 OH
Mandor = 10,4 = 1 orang
OH
3,45 OH
Kepala tukang = 10,4 = 0,33 1 orang
OH
34,5 OH
Tukang = 10,4 OH = 3,31 4 orang
207,3 OH
Pekerja = = 19,93 20 orang
10,4 OH

81
5.8.2 Pelaksanaan Pekerjaan Pengecoran Pelat Lantai

a. Pengadaan beton segar dari batching plan ke lokasi proyek dengan


menggunakan truk mixer (TM) dengan kapasitas 1 truk mixer
sebesar 7 m3.
b. Mengatur siklus pendatangan truk mixer agar tidak terjadi setting
time sebelum dilaksanakannya pengecoran. Setting time yang
diperkirakan pada campuran beton ini adalah 3 jam.
c. Karena lahan yang tersedia sangat terbatas maka penempatan truk
mixer harus diatur agar memudahkan mobilisasi dan tidak
mengganggu akses jalan menuju perumahan. Berikut ini tahapan
penempatan truk mixer pada pekerjaan pengecoran.

Gambar 0-39 Penempatan Truk Mixer Tahap 1

Pada tahap ini, truk mixer didatangkan 4 unit sekaligus agar


pengecoran tidak terhenti terlalu lama dan concrete pump tidak
menganggur. Truk mixer pertama ditempatkan tepat dibelakang
concrete pump agar langsung dapat menuang.

Gambar 0-40 Penempatan Truk Mixer Tahap 2

82
Selanjutnya, truk mixer pertama yang sudah selesai menuang
maju seperti gambar diatas untuk memutar balik dan keluar melalui
pintu masuk. Truk mixer kedua kemudian mundur dan langsung
menuang ke concrete pump.

Gambar 0-41 Penempatan Truk Mixer Tahap 3

Ketika truk mixer kedua sedang menuang, truk mixer 3 maju


dan ditempatkan seperti gambar diatas agar truk mixer kelima bisa
masuk ke lokasi pekerjaan.

Gambar 0-42 Penempatan Truk Mixer Tahap 4

Setelah penuangan selesai, truk mixer kedua pun maju dan


memutar balik untuk kemudian keluar melalui pintu masuk.
Penuangan dilanjutkan dengan truk mixer ketiga dan begitu
seterusnya sampai pengecoran selesai dilaksanakan.

83
5.9 Perawatan Beton (Curing)

Perawatan yang baik dilakukan terhadap beton akan mempengaruhi beberapa


segi dari kualitasnya. Disamping lebih kuat dan lebih awet terhadap agresi kimia,
beton ini juga lebih tahan terhadap aus karena lalu lintas dan lebih kedap air.
Disini biasanya dipersyaratkan untuk merawat beton agar tetap basah dalam
beberapa hari tertentu sejak saat pengecoran. Dan beberapa cara perawatan yang ada,
salah satunya dengan cara menyirami atau menggenangi beton dengan air secara
terus menerus dengan kadar tertentu agar tetap basah. Cara ini tidak hanya
memberikan perawatan yang baik, tetapi juga menurunkan suhu beton sebagai akibat
penguapan yang terjadi.
Langkah-langkah perawatan beton dilapangan:
1. Semua beton hasil pengecoran harus dirawat dengan air atau disemprot
dengan Curring Agent Antisols.
2. Permukaan beton yang terbuka harus dilindungi terhadap sinar matahari
langsung minimal selama 3 hari setelah pengecoran. Perlindungan semacam
ini dilakukan dengan cara menutupi permukaan beton dengan deklit atau
karung goni yang dibasahi.
3. Semua karung yang basah harus dibebani secukupnya atau diikat dengan kuat
agar permukaan beton selalu tertutup dan untuk mencegah permukaan yang
bersangkutan terbuka terhadap aliran udara.

5.9.1 Analisa Kebutuhan bahan, alat dan tenaga kerja

1) karung goni basah.


Luasan beton = 459,2 m2
Ukuran karung = 1 x 2 m dibagi dua menjadi 2 x 2 m
Luasan karung = 2 x 2 m = 4 m2
Luasan Beton
Jumlah karung = Luasan Karung
459,2
= = 114,8 = 115 buah karung goni
4

2) Air
1 m2 dibutuhkan air sebanyak 0,9 liter

84

Banyaknya air yang dibutuhkan = 2

459,2
=
0,9
=510,2 = 510 liter

Kebutuhan Peralatan :

a. Mobil tangki air bersih = 1unit


b. Selang = 1 buah

Kebutuhan tenaga kerja


Dari hasil kebutuhan peralatan yang digunakan, maka tenaga kerja yang
dibutuhkan :

a. Mandor = 1 orang
b. Supir tangki air = 1 orang
c. Pekerja = 2 orang

Waktu pelaksanaan
Waktu pelaksanaan perawatan beton yaitu 3 hari.

Pekerjaan ini dimulai pada pengeringan beton 2 jam setelah


perataan beton. Periksa kembali kondisi beton, apabila cuaca tidak
memungkinkan maka beton dibiarkan proses pengeringannya kembali tetapi
tidak boleh melebihi waktu 24 jam. Bila cuaca baik maka pekerjaan
dilanjutkan dengan meletakkan karung basah sampai menutupi permukaan
Penyiraman dilakukan sebanyak 3 kali sehari (pagi, siang, dan malam).
Lakukan penyiraman selama 3 hari.

5.9.2 Pembersihan Area Kerja

Pekerjaan pembersihan lokasi bertujuan membersihkan lokasi agar


bebas dari serpihan sisa-sisa matriall akibat pekerjaan pengecoran pelat
lantai.Sehingga tidak menimbulkan bahaya kecelakaan kerja pada para
pekerja.

5.9.2 Penjadwalan (Time Schedule)

85
86