Anda di halaman 1dari 13

Gangguan pada Sistem Pencernaan yang Menyebabkan Ulkus Peptikum

Yolanda Erizal (102014024)


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 06, Jakarta Barat 11510
Erizalyoalanda91@yahoo.com
Abstract
The digestive system is a system that is essential for the survival of a person
consisting of the gastrointestinal tract with special functions and works automatically.
Digestion is the process of simplification of food in the form of carbohydrates,
proteins and fats, both mechanically and chemically into nutrients such as glucose,
amino acids, fatty acids and glycerol to be easily absorbed by the body. The digestive
system works mechanically in smoothing food and chemical work in the break down
of molecules - molecules of food that can be absorbed by the body. The digestive
system can also be lost or damaged if the function is not maintained properly, it akam
cause much disturbance to the organs - other organs. On paper will discuss the
matter - issues related to the digestive system.
Keywords: Digestive System, Food, Absorption

Abstrak
Sistem pencernaan merupakan suatu sistem yang sangat penting bagi
keberlangsungan hidup seseorang yang terdiri dari saluran pencernaan dengan fungsi
khusus dan bekerja secara otomatis. Pencernaan merupakan proses penyederhanaan
bahan makanan berupa karbohidrat, protein dan lemak, baik secara mekanis maupun
kimia menjadi zat gizi seperti glukosa, asam amino, asam lemak dan gliserol agar
mudah diserap tubuh. Sistem pencernaan bekerja secara mekanik dalam
menghaluskan makanan dan bekerja secara kimia dalam memecah molekul - molekul
makanan sehingga dapat diserap oleh tubuh. Sistem pencernaan juga dapat kehilangan
fungsinya atau rusak apabila tidak dijaga dengan baik, hal ini akam menimbulkan
banyak gangguan bagi organ - organ lain. Pada makalah akan dibahas mengenai hal
hal yang berkaitan dengan sistem pencernaan.
Kata kunci: Sistem Pencernaan, Makanan, Penyerapan.

Pendahuluan
Tubuh manusia tersusun oleh organ-organ yang kompleks yang setiap bagian
organ tersebut sangatlah penting untuk kelangsungan hidup. Tetapi manusia juga
memerlukan makanan untuk dapat bertahan hidup dan melakukan aktivitas, dimana
makanan tersebut akan diolah oleh tubuh kita menjadi suatu sumber energi untuk
tubuh kita. Sebelum dapat digunakan oleh tubuh maka makanan tersebut harus
dicerna terlebih dahulu oleh sistem pencernaan yang ada dalam tubuh kita. Sistem
pencernaan manusia terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Dalam
sekali sirkulasi pencernaan dapat memakan waktu satu hari mulai dari kita makan
sampai dengan akhirnya kita keluarkan lagi dalam bentuk sisa-sisa hasil dari
pencernaan. Makanan yang dimakan masuk lewat mulut kemudian masuk kedalam
gaster melewati esofagus lalu dibawa melalui usus halus sampe ke usus besar dan
kemudian dikeluarkan lewat anus. Tubuh kita akan merasakan hal-hal yang tidak
nyaman jika terjadi gangguan pada sistem saluran pencernaan kita

Struktur Makroskopis

Gaster (Lambung)

Gaster adalah kelanjutan dari esophagus, berbrntuk seperti kantung. Gaster


dapat menampung makanan 1 liter sehingga mencapai 2 liter. Dinding gaster disusun
oleh otot-otot yang berfungsi menggerus makanan secara mekanik melalui kontraksi
otot-otot tersebut. Ada 3 jenis otot polos yang menyusun gaster,yaitu otot
memanjang,otot melingkar,dan otot menyerong. Gaster terletak di bagian atas
abdomen,terbentang dari permukaan bawah arcus costalis sinistra sampai region
epigastrica dan umbilicalis. Sebagian besar gaster terletak di bawah costae bagian
bawah. Secara kasar gaster berbentuk huruf J. 1

Gaster dibagi menjadi bagian-bagian berikut: Funuds gastrium berbentuk


kubah,menonjol ke atas dan terletak di sebelah kiri ostium cardiacum. Biasanya
fundus berisi penuh udara. Corpus gastrium terbentang dari ostium cardiacum sampai
incisura angularis,suatu lekukan yang selalu ada pada bagian bawah curvutura minor.
Anthrum pyloricum terbentang dari incisura angularis sampai pylorus. Pylorus
merupakan bagiab gaster yang terbentuk tubular. Dinding otot pylorus yang tebal
membentuk musculus spincter pyloricus. Rongga pylorus dinamakan canalis
pyloricus. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC; Vaa
Gaster di bungkus oleh peritoneum visceral,difiksasi oleh ligamentum
gastrophrenicum, ligamentum gastrolienal,omentum manus dan omentum minus.
Omentum minus mengikat curvutura minor dengan hepar dan diaphragm thorax,
sedangkan omentum majus mengikat curvutura major dengan colon transversum.
Permukaan anterior lambung berhubungan dengan diafragma,lobus kiri dari hepar
serta dinding anterior abdomen. Permukaan posterior berbatasan dengan
aorta,pancreas,limpa,ginjal kiri,kelenjar supra renal serta mesokolon transversum. 1
Vaskularisasi Gaster
Gaster dipendarahi oleh 5 arteri penting yaitu A. gastrica sinistra (berada pada
curvature minor),A. gastrica dextra (cabang dari a.hepatic, akan beranastomis dengan
a. gastrica sinistra), A. gastrica brevis (pada fundus),A. Gastroepiploica sinistra
(cabang dari a. lienalis, akan beranastomosis dengan a. gastroepiploica dextra) dan A.
gastroepiploica dextra.
A.Gastrica dextra memperdarahi bagian bawah gaster, A. Gastrica brevis
memperdarahi bagian fundus gaster, A. Gastromentalis dextra memperdarahi
kurvatura mayor bagian bawah dan A. Gastromentalis sinsistra memperdarahi
kurvatura mayor bagian atas.
Untuk pembuluh balik gaster mempunyai 4 pembuluh balik. Yaitu v.
coronaria ventriculi dan v. Pylorica yang akan bermuara ke v. Porta. v. gastrica
brevis masuk ke dalam ligamentum gastrolienale kemudian bermuara ke v. Lienalis.
v. gastroepiploica dextra akan bermuara ke v. mesenterica superior. 2
Inervasi gaster
Persarafan gaster di persarafi persarafan otonom. Serabut parasimpatis
dihantarkan melalui nervus vagus dextra dan sinistra. Truncus vagalis anterior berasal
dari N.Vagus sinistra. Truncus vagalis posterior berasal dari N.Vagus dextra. Serabut
simpatis berasal dari medulla spinalis antara segmen T8 dan L3 dihantarkan oleh
plexus coeliacus. 3

Duodenum

Duodenum merupakan saluran berbentuk huruf C dengan panjang sekitar 25


cm yang merupakan organ penghubung gaster dengan jejunum. Duodenum adalah
organ penting karena merupakan tempat muara dari ductus choledochus dan ductus
pancreaticus. Dudoneum melengkung di sekitar caput pancreatis. Satu inci (2,5 cm)
pertama duodenum menyerupai gaster, yang permukaan anterior dan posteriornya
diliputi oleh peritoneum dan mempunyai omentum minus yang melekat pada pinggir
atasnya dan omentum majus yang melekat pada pinggir bawahnya. Bursa omentalis
terletak di belakang segmen yang pendek ini. Sisa duodenum yang lain terletak
retroperitoneal, hanya sebagian saja yang diliputi oleh peritoneum4
Duodenum terletak pada regio epigstrica dan umbilicalis dan untuk tujuan
deskripsi dibagi menjadi empat bagian.4
Pars Superior Duodenum panjangnya 5 cm, mulai dari pylorus dan berjalan ke
atas dan belakang pada sisi kanan vertebra lumbalis l. Jadi bagian ini terletak pada
planum transpyloricum.4
Pars Descendens Duodenum, bagian kedua duodenum panjangnya 8 cm dan
berjalan vertikal ke bawah di depan hilum renale dextra, di sebelah kanan vertebrae
lumbales II dan III. Kira-kira pertengahan arah ke bawah, pada margo medialis,
ductus choledochus dan ductus pancreaticus menembus dinding duodenum.4
Pars Horizontalis Duodenum panjangnya 8 cm dan berjalan horizontal ke
kiri pada planum subcostale, berjalan di depan columna vertebralis dan mengikuti
pinggir bawah caput pancreatis.4
Pars Ascendens Duodenum panjangnya 5 cm dan berjalan ke atas dan ke kiri
ke flexura duodenojejunalis. Flexura ini difiksasi oleh lipatan peritoneum,
ligamentum Treitz, yang melekat pada crus dextrum diaphragma.4

Struktur Mikroskopis
Gaster

Gaster manusia dibagi dalam tiga bagian: kardia, fundus dan korpus, dan
pilorus. Fundus dan korpus adalah bagian lambung yang terluas.5
Mukosa gaster terdiri atas tiga lapisan: epitel, lamina propria, dan mukosa
muskularis. Permukaan lumen mukosa ditutupi epitel selapis silindris. Epitel ini juga
meluas ke dalam dan melapisi foveola gastrika yang merupakan invaginasi epitel
permukaan. Di daerah fundus gaster, foveola ini tidak dalam dan masuk ke dalam
mukosa sampai kedalaman seperempat tebalnya. Di bawah epitel permukaan terdapat
lapisan jaringan ikat longgar, yaitu lamina propria, yang mengisi celah-celah di antara
kelenjar gastrika.5
Kelenjar gaster berhimpitan di dalam lamina propria dan menempati seluruh
tebal mukosa. Kelenjar-kelenjar ini bermuara ke dalam dasar foveola gastrika. Epitel
permukaan mukosa gaster mengandung jenis sel yang sama, dari daerah kardia
sampai ke pilorus; namun terdapat perbedaan-regional pada jenis sel yang menyusun
kelenjar gastrika. Dengan pembesaran yang lebih lemah, dua jenis sel dapat dikenali
di kelenjar gaster pada fundus gaster. Sel parietal asidoflik terlihat pada bagian atas
kelenjar; sel zimogen (chief cell) yang lebih basofilik menempati bagian lebih ke
bawah.5
Lapisan tebal tepat di bawah mukosa muskularis adalah submukosa. Pada
lambung kosong, lapisan ini meluas sampai ke dalam ruge. Submukosa mengandung
jaringan ikat tidak teratur yang lebih padat dengan lebih banyak serat kolagen
dibandingkan dengan lamina propria. Selain unsur normal sel-sel jaringan ikat,
submukosa mengandung banyak pembuluh limf, kapiler, arteriol besar, dan venul.5
Pada gaster, muskularis eksterna terdiri atas tiga lapis otot polos, masing-
masing terorientasi dalam bidang berbeda: lapisan oblik di dalam, sirkular di tengah,
dan longitudinal, di luar. Di antara lapisan otot polos sirkular dan longitudinal,
terdapat pleksus saraf mienterikus (Auerbach) ganglia parasimpatis dan serat saraf.5
Lapisan paling luar dinding gaster adalah serosa. Lapisan ini adalah lapisan
tipis jaringan ikat yang menutupi muskularis eksternal. Di luarnya, lapisan ini ditutupi
selapis mesotel gepeng peritoneum viseral. Jaringan ikat yang ditutupi peritoneum
viseral dapat mengandung banyak sel lemak.5
Gambar . Gaster Bagian Fundus dan Korpus.5

Duodenum

Dinding duodenum terdiri atas empat lapisan: mukosa dengan epitel


pelapisnya, lamina propria, dan mukosa muskularis; jaringan ikat submukosa di
bawahnya dengan kelenjar duodenal (Brunner) mukosa; kedua lapisan otot polos
muskularis eksterna; dan serosa (peritoneum viseral). Lapisan-lapisan ini menyatu
dengan lapisan yang serupa pada gaster, usus halus, dan usus besar.5
Usus halus ditandai banyak tonjolan mirip jari yang disebut vili; epitel pelapis
berupa selapis sel silindris dengan mikrovili yang membentuk striated borders; sel-sel
goblet yang terpulas pucat; dan kelenjar intestinal tubular pendek (kripti Lieberkuhn)
di dalam lamina propria. Kelenjar duodenal di dalam submukosa menjadi ciri
duodenum bagian awal. Kelenjar ini tidak terdapat pada bagian lain usus halus
maupun usus besar.5
Vili merupakan modifikasi permukaan mukosa. Ruang antarvili terlihat di
antara vili. Epitel pelapis menutupi setiap vilus dan berlanjut ke dalam kelenjar
intestinal. Setiap vilus berpusatkan lamina propria, berkas serat otot polos yang
berasal dari muskularis mukosa dan sebuah pembuluh limf sentral disebut lakteal.5
Lamina propria mengandung kelenjar intestinal; kelenjar ini bermuara ke
dalam ruang antarvili. Pada irisan tertentu suatu duodenum, kelenjar submukosa
duodenal terlihat meluas sampai ke dalam lamina propria. Lamina propria juga
mengandung serat-serat jaringan ikat halus dengan sel retikulum, jaringan limfoid
difus.5
Di duodenum, hampir seluruh submukosanya diisi oleh kelenjar duodenal
tubular yang sangat bercabang. Kelenjar duodenal mencurahkan isinya ke bagian
dasar kelenjar intestinal.5
Pada potongan melintang sediaan duodenum biasa, muskularis eksterna terdiri
atas lapisan sirkular dalam dan lapisan longitudinal luar otot polos. Juga tampak
sarang sel-sel ganglion parasimpatis pleksus saraf mienterikus (Auerbach) di dalam
jaringan ikat di antara kedua lapisan otot muskularis eksterna. Pleksus saraf di antara
kedua lapisan otot ini ditemukan di seluruh usus halus dan besar. Sarang sel ganglion
serupa, namun dalam jumlah lebih kecil, ditemukan di submukosa di usus halus dan
besar.5
Serosa (peritoneum viseral) mengandung sel-sel jaringan ikat, pembuluh
darah, dan sel-sel lemak) serosa adalah lapisan terluar duodenum.5
Gambar. Duodenum.5
System Pencernaan

Fungsi utama system pencernaan (gastrointestinal atau GI (gastro berarti


lambung) adalah memindahkan nutrient,air dan elektrolit ke lingkungan internal
tubuh. Secara umum semua organ dan kelenjar berada dalam lingku saluran
pencernaan berfungsi untuk memecahkan molekul organic yang besar yang ada
makanan menjadi molekul yang kecil untuk kemudian diserap sehingga digunakan
untuk metabolism tubuh. Sumber energy dari makanan akan dimetabolisme menjadi
ATP untuk keperluan transport aktif,kontraksi,sintesis dan sekresi bahan-bahan
tertentu dari sel.
Dalam menjalankan fungsi sebagai system pencernaan terdapat beberapa
proses yang mendukung fungsi tersebut,yaitu:6
Motilitas : merupakan proses kontraksi otot yang mencampur dan
mendorong isi saluran pencernaan. Otot polos pada dinding saluran cerna
akan terus berkontraksi dengan kekuatan rendah, hal ini disebut dengan
tonus. Ada 2 jenis motilitas pencernaan, yaitu gerakan propulsif
(mendorong), seperti pada oesophagus dan gerakan segmentasi
(mencampur), seperti pada usus halus.
Sekresi : bentuk sekresi yang terjadi adalah sekresi getah pencernaan
melalui kelenjar eksokrin. Selain itu dapat terjadi sekresi air, elektrolit,
enzim, garam empedu dan mukus.
Pencernaan/Digesti : merupakan proses pengubahan makanan dari struktur
kompleks menjadi satuan yang lebih kecil dengan bantuan enzim
pencernaan untuk kemudian dibawa melalui pembuluh darah dan kapiler
limfe untuk digunakan tubuh.
Penyerapan/Absorbsi : merupakan proses pemindahan hasil pencernaan,
air, vitamin serta elektrolit dari lumen saluran pencernaan ke darah/limfe.

Mulut

Langit-langit (palatum), yang membentuk atap lengkung rongga mulut,


memisahkan mulut dari saluran hidung. Keberadaan struktur ini juga memungkinkan
bernapas dan mengunyah atau menghisap berlangsung secara bersamaan. Di belakang
tenggorokan menggantung pada palatum suatu tonjolan, uvula, yang berperan penting
dalam menutup saluran hidung sewaktu menelan.6
Lidah, yang membentuk dasar rongga mulut, terdiri dari otot rangka yang dikontrol
secara volunter. Gerakan lidah penting dalam menuntun makanan di dalam mulut se-
waktu mengunyah dan menelan serta berperan penting dalam berbicara. Selain itu,
kuncup kecap terletak di lidah. Faring adalah rongga di belakang tenggorokan. Bagian
ini berfungsi sebagai saluran bersama untuk sistem pencernaan dan sistem
pernapasan. Susunan ini mengharuskan adanya mekanisme untuk menuntun makanan
dan udara menuju saluran yang benar setelah melewati faring.6
Langkah pertama dalam proses pencernaan adalah mastikasi atau mengunyah,
motilitas mulut yang melibatkan pengirisan, perobekan, penggilingan, dan
pencampuran makanan oleh gigi. Fungsi mengunyah adalah untuk menggiling dan
memecahkan makanan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil sehingga
makanan mudah ditelan dan untuk meningkatkan luas permukaan makanan yang akan
terkena enzim, untuk mencampur makanan dengan liur, dan untuk merangsang
kuncup kecap. Yang terakhir tidak saja menghasilkan rasa nikmat kecap yang
subyektif tetapi juga, melalui mekanisme feedforward, secara refleks meningkatkan
sekresi liur, lambung, pankreas, dan empedu untuk persiapan bagi kedatangan
makanan.6
Liur (saliva), sekresi yang berkaitan dengan mulut, terutama dihasilkan oleh
tiga pasang kelenjar liur utama yang terletak di luar rongga mulut dan mengeluarkan
liur melalui duktus pendek ke dalam mulut. Liur mengandung 99,5% H2O dan 0,5%
elektrolit dan protein. Konsentrasi NaCl (garam) liur hanya sepertujuh dari
konsentrasinya di plasma, yang penting dalam mempersepsikan rasa asin. Demikian
juga, diskriminasi rasa man tingkatkan oleh tidak adanya glukosa di liur. Protein yang
terpenting adalah amilase, mukus, dan lisozim. Protein-protein ini berperan dalam
fungsi saliva sebagai berikut:6
Liur memulai pencernaan karbohidrat di mulut melalui kerja amilase liur, suatu enzim
yang menguraikan polisakarida menjadi maltosa, suatu disakarida yang terdiri dari
dua molekul glukosa. Liur mempermudah proses menelan dengan membasahi partikel
makanan sehingga partikel-partikel tersebut menyatu, serta menghasilkan pelumasan
oleh adanya mukus yang kental dan licin.
Liur memiliki sifat antibakteri melalui efek rangkap pertama, dengan lisozim,
suatu enzim yang melisiskan atau menghancurkan bakteri tertentu dengan merusak
dinding sel; dan kedua, dengan membilas bahan mungkin berfungsi sebagai sumber
makanan untuk bakteri. Liur berperan penting dalam higiene mulut dengan membantu
menjaga mulut dan gigi bersih. Aliran liur yang konstan membantu membilas residu
makanan, partikel asing, dan sel epitel tua yang terlepas dari mukosa mulut. Liur kaya
akan dapar bikarbonat, yang menetralkan asam dalam makanan serta asam yang
dihasilkan oleh bakteri di mulut sehingga karies dentis dapat dicegah.
Sekresi basal liur yang terus-menerus tanpa rangsangan yang jelas ditimbulkan
oleh stimulasi konstan tingkat rendah oleh ujung-ujung saraf simpatis yang berakhir
di kelenjar liur. Sekresi basal ini penting untuk menjaga mulut dan tenggorokan selalu
basah. Selain sekresi terus-menerus tingkat rendah ini, sekresi liur dapat ditingkatkan
oleh dua jenis refleks liur, refleks liur sederhana dan terkondisi. Sekresi liur adalah
satu-satunya sekresi pencernaan yang seluruhnya berada di bawah kontrol saraf.
Semua sekresi pencernaan lainnya diatur oleh refleks sistem saraf dan hormon.
Pencernaan di mulut melibatkan hidrolisis polisakarida menjadi disakarida oleh
amilase. Namun, sebagian besar pencernaan oleh enzim ini dilakukan di korpus
lambung setelah massa makanan dan liur tertelan. Asam menginaktifkan amilase,
tetapi di bagian tengah makanan, di mana asam lambung belum sampai, enzim liur ini
terus berfungsi selama beberapa jam.6
Tidak terjadi penyerapan makanan di mulut. Yang penting, sebagian obat
dapat diserap oleh mukosa oral, contoh utamanya adalah nitrogliserin, obat
vasodilator yang kadang digunakan oleh pasien jantung untuk menghilangkan se-
rangan angina yang berkaitan dengan iskemia miokardium.6

Faring dan Esofagus

Motilitas yang berkaitan dengan faring dan esofagus adalah menelan. Menelan
sebenarnya adalah keseluruhan proses memindahkan makanan dari mulut melalui
esofagus hingga ke lambung.6
Tekanan bolus di faring merangsang reseptor tekanan di faring yang kemudian
mengirim impuls aferen ke pusat menelan di medula. Pusat menelan kemudian secara
refleks mengaktifkan serangkaian otot yang terlibat dalam proses menelan. Menelan
dibagi menjadi tiga tahap yaitu:6
a. Fase Oral. Makanan yang dikunyah oleh mulut (bolus) didorong ke belakang
mengenai dinding posterior faring oleh gerakan volunter lidah.
b. Fase Faringeal. Uvula terelevasi sehingga menutup rongga hidung, laring
terelevasi kemudian kontraksi otot-otot laring menyebabkan pita suara
merapat erat satu sama lain, sehingga pintu masuk glotis tertutup dan
mencegah makanan masuk trakea. Kemudian bolus melewati epiglotis menuju
faring bagian bawah dan memasuki esofagus.
c. Fase Esofageal. Terjadi gelombang peristaltik pada esofagus mendorong bolus
menuju sfingter esofagus bagian distal, kemudian menuju lambung. Peristaltik
mengacu pada kontraksi berbentuk cincin otot polos sirkuler yang bergerak
secara progresif ke depan dengan gerakan mengosongkan, mendorong bolus di
depan kontraksi. Dengan demikian pendorongan makanan melalui esopagus
adalah proses aktif yang tidak mengandalkan gravitasi.9 Makanan dapat
didorong ke lambung bahkan dalam posisi kepala di bawah. Gelombang
peristaltik berlangsung sekitar 5 9 detik untuk mencapai ujung bawah
esopagus. Kemajuan gelombang tersebut dikontrol oleh pusat menelan melalui
persyarafan vagus.
Sekresi esofagus seluruhnya bersifat protektif dan berupa mukus, mukus
disekresikan di sepanjang saluran pencernaan. Dengan menghasilkan lubrikasi untuk
lewatnya makanan, mukus esofagus memperkecil kemungkinan rusaknya esofagus
oleh bagian-bagian makanan yang tajam, mukus juga melindungi dinding esofagus
dari asam dan enzim getah lambung apabila terjadi refluks lambung.6

Gaster

Terbagi menjadi beberapa bagian yaitu fundus adalah bagian lambung yang
terletak di atas lubang esofagus, korpus yaitu bagian tengah atau utama lambung,
lambung bagian bawah yaitu antrum, bagian akhir lambung adalah sfingter pilorus,
yang berfungsi sebagai sawar antara lambung dan bagian atas usus halus, duodenum.
Motilistas dilambung dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu:6
a. Empty Stomach Contractility. Kotraksi pada lambung menuju bagian distal
dari saluran pencernaan. Diperlukan waktu 90 menit untuk mencapai usus
besar. Berfungsi sebagai housekeeping , menyapu sisa-sisa makanan dan
bakteri keluar dari traktus GI ke usus besar
b. Pengisian Lambung. Volume lambung jika kosong sekitar 50 ml, tetapi organ
ini dapat mengembang hingga kapasitasnya mencapai sekitar 1 liter ketika
makan. Akomodasi perubahan volume ini dapat menyebabkan ketegangan
pada dinding lambung dan meningkatkan tekanan intralambung, tapi hal ini
tidak akan terjadi karena adanya faktor plastisitas otot polos lambung dan
relaksasi resesif lambung pada saat terisi.
c. Pencampuran Lambung. Volume telah menyentuh 1 L, tekanan dalam
lambung akan meingkat. Ketika Kontraksi peristaltik lambung yang kuat
merupakan penyebab makanan bercampur dengan sekresi lambung, seperti
asam dan enzim pencernaan, dan menghasilkan kimus. Setiap gelombang
peristaltik antrum mendorong kimus ke depan ke arah sfingter pilorus. Apabila
kimus terdorong oleh kontraksi peristaltik yang kuat akan melewati sfingter
pilorus dan terdorong ke duodenum tetapi hanya sebagian kecil saja. Sebelum
lebih banyak kimus dapat diperas keluar, gelombang peristaltik sudah
mencapai sfingter pilorus menyebabkan sfingter berkontraksi lebih kuat,
menutup dan menghambat aliran kimus ke dalam duodenum. Sebagian besar
kimus antrum yang terdorong ke depan tapi tidak masuk ke duodenum
berhenti secara tiba-tiba pada sfingter yang tertutup dan bertolak kembali ke
dalam antrum, hanya untuk didorong ke depan dan bertolak kembali pada saat
gelombang peristaltik yang baru datang. Gerakan maju mundur tersebut
disebut retropulsi, menyebabkan kimus bercampur secara merata di antrum.
Motilitas gastric dibawah kontrol saraf dan ini distimulasi oleh distensi
lambung.
d. Pengosongan Lambung. Kontraksi peristaltik antrum, selain menyebabkan
pencampuran lambung juga menghasilkan gaya pendorong untuk
mengosongkan lambung. Jumlah kimus yang masuk ke duodenum pada setiap
gelombang peristaltik sebelum sfingter pilorus tertutup tergantung pada
kekuatan peristaltik. Intensitas peristaltik antrum sangat bervariasi tergantung
dari pengaruh berbagai sinyal dari lambung dan duodenum.

Mukosa lambung mempunyai dua tipe kelenjar tubular yang penting, yaitu
kelenjar Oksintik (disebut juga kelenjar gastrik) dan kelenjar pilorik. Kelenjar
oksintik menyekresi asam hidroklorida, pepsinogen, faktor intrinsik, dan mukus.
Kelenjar pilorik terutama menyekresi mukus untuk melindungi mukosa pilorus dari
asam lambung. Kelenjar pilorik juga menyekresi hormon gastrin.
Sel-sel parietal secara aktif mengeluarhan HCl ke dalam lumen kantung
lambung, hal ini menyebabkan pH lumen turun sampai 2. Pepsinogen merupakan
enzim inaktif yang disintesa oleh aparatus golgi dan retikulum endoplasma kemudian
disimpan di sitoplasma dalam vesikel sekretorik yang dikenal dengan granula
zimogen. Pepsinogen mengalami penguraian oleh HCl menjadi enzim bentuk aktif
yaitu pepsin. Pepsin berfungsi untuk mengaktifkan kembali pepsinogen (proses
otokatalitik) dan sintesa protein dengan memecah ikatan asam amino menjadi
peptida.Sekresi mukus berfungsi sebagai sawar protektif dari cedera terhadap mukosa
lambung karena sifat lubrikalis dan alkalisnya dengan menetralisasi HCl yang
terdapat di dekat mukosa lambung. Hormon gastrin disekresikan oleh sel-sel gastrin
(sel-sel G) yang terletak di daerah kelenjar pilorus lambung, gastrin merangsang
peningkatan sekresi getah lambung yang bersifat asam, dan mendorong pertumbuhan
mukosa lambung dan usus halus, sehingga keduanya dapat mempertahankan
kemampuan sekresi mereka.6

Gambar . gerakan mencampur dan mengosongkan lambung.6


Usus Halus
Terbagi menjadi tiga segmen yaitu duodenum, jejenum dan ilieum. Pada usus
halus ini terjadi sebagian besar pencernaan dan penyerapan. Motilitas pada usus halus
adalah segmentasi, metode motilitas utama usus halus yaitu proses mencampur dan
mendorong secara perlahan kimus dengan cara kontraksi bentuk cincin otot polos
sirkuler di sepanjang usus halus, diantara segmen yang berkontraksi terdapat daerah
yang berisi kimus. Cincin-cincin kontraktil timbul setiap beberapa sentimeter,
membagi usus halus menjadi segmen-segmen seperti rantai sosis. Segmen-segmen
yang berkontraksi, setelah jeda singkat, melemas dan kontraksi kontraksi berbentuk
cincin kemudian muncul di daerah yang semula melemas. Perjalanan isi usus
biasanya memerlukan waktu 3-5 jam untuk melintasi seluruh panjang usus halus,
sehingga tersedia cukup waktu untuk berlangsungnya proses pencernaan dan
penyerapan.6
Sekresi usus halus, kelenjar brunner di duodenum mensekresikan mukus
alkalis kental yang membantu melindungi mukosa duodenum dari asam lambung.
Rangsang vagus meningkatkan sekresi kelenjar brunner tetapi mungkin tidak
menimbulkan efek pada kelenjar usus. Selain itu, juga terdapat sekresi HCO3- dalam
jumlah yang cukup banyak yang independen terhadap kelenjar brunner. Setiap hari
kelenjar eksokrin yang terletak di mukosa usus halus mengeluarkan 1,5 liter larutan
garam dan mukus cair (succus entericus).10
Pencernaan di dalam lumen usus halus dilaksanakan oleh enzim-enzim
pankreas dan sekresi empedu. Enzim pankreas meyebabkan lemak direduksi menjadi
satuan-satuan monogliserida dan asam lemak bebas yang dapat diserap, protein
diuraikan menjadi fragmen peptida kecil dan beberapa asam amino, dan karbohidrat
direduksi menjadi disakarida dan beberapa monosakarida. Dengan demikian proses
pencernaan lemak selesai dalam lumen usus halus tapi pencernaan protein dan
karbohidrat belum. Dari permukaan luminal sel-sel epitel usus halus terbentuk
tonjolan-tonjolan seperti rambut yang disebut Brush Border, yang mengandung tiga
kategori enzim, yaitu : Enterikinase, mengaktifkan enzim pankreas tripsinogen;
disakaridase (sukrose, maltase dan laktase), yang menyelesaikan pencernaan
karbohidrat dengan menghidrolisis disakarida yang tersisa menjadi monosakarida
penyusunnya; aminopeptidase, yang menghidrolisis peptida menjadi komponen asam
aminonya, sehingga pencernaan protein selesai.6

Usus Besar
Usus besar terdiri dari kolon, sekum, apendiks dan rektum. Rata-rata kolon
menerima sekitar 500 ml kimus dari usus halus setiap harinya, isi usus yang
disalurkan ke kolon terdiri dari residu makanan yang tidak dapat dicerna (misal
selulosa), komponen empedu yang tidak diserap dan sisa cairan, bahan ini akhirnya
yang disebut feses. Selulosa dan bahan makanan lain yang tidak dapat dicerna
membentuk sebagian besar feses dan membantu pengeluaran tinja secara teratur
karena berperan menentukan isi kolon. Gerakan usus besar umumnya lambat dan
tidak propulsif, sesuai dengan fungsinya sebagai tempat absorpsi dan penyimpanan.
Motilitas yang terjadi pada kolon adalah kontraksi haustra yaitu gerakan mengaduk isi
kolon dengan gerakan maju mundur secara perlahan yang menyebabkan isi kolon
terpajan ke mukosa absortif. 6
Peningkatan motilitas terjadi setiap 3-4 kali sehari setelah makan yaitu terjadi
kontraksi simultan segmen-segmen besar di kolon asendens dan transversum sehingga
feses terdorong sepertiga sampai seperempat dari panjang kolon, gerakan ini disebut
gerakan massa yang mendorong isi kolon ke bagian distal usus besar sebagai tempat
defekasi. Sewaktu gerakan massa di kolon mendororng isi kolon ke dalam rektum,
terjadi peregangan rektum dan merangsang reseptor regang di dinding rektum serta
memicu refleks defekasi.6
Sewaktu makanan masuk ke lambung terjadi gerakan massa di kolon yang
terutama disebabkan oleh reflek gastrokolon yang diperantarai oleh gastrin ke kolon.
Refleks ini sering ditemukan setelah sarapan timbul keinginan kuat untuk buang air
besar. Refleks gastroileum memindahkan isi usus halus yang tersisa ke dalam usus
besar dan reflek gastrokolon mendorong isi kolon ke dalam rektum yang memacu
proses defekasi. Feses di rektum menyebabkan peregangan yang kemudian dideteksi
oleh receptor di rektum terbentuklah suatu impuls yang menunju mysenteric plexus
peristaltic. Hal ini menimbulkan gelombang pada kolon desenden dan sigmoid.
Apabila sfingter anus eksternus (otot rangka) juga melemas, terjadi defekasi. Sekresi
kolon terdiri dari larutan mukus alkalis (HCO3-) yang fungsinya adalah melindungi
mukosa usus besar dari cedera kimiawi dan mekanis, juga menghasilkan pelumasan
untuk memudahkan feses lewat.6
Dalam keadaan normal kolon menyerap sebagian besar garam dan air.
Natrium zat yang paling aktif diabsorpsi dan, Klorida diabsorpsi secara pasif
mengikuti penurunan gradien listrik, dan air diabsorpsi secara osmosis.6

Enzim-enzim Gaster dan Duodenum


Lambung
Getah lambung merupakan cairan jernih bewarna kuning pucat yang
mengandung HCl 0,2-0,5% dengan pH 1. Getah lambung terdiri atas 97-99% air dan
sisanya musin (lendir) serta garam anorganik, enzim pencernaan (pepsin dan renin),
dan lipase.7
Pepsin
- Fungsi utama untuk hidrolisis molekul protein menjadi peptide
- Disekresikan dalam bentuk inaktif. Jika diperlukan maka akan berubah bentuk
dari pepsinogen menjadi pepsi.
Renin
- Fungsi utama mengubah kaseinogen menjadi kasein
- Hanya terdapat pada lambung bayi untuk mengolah susu
Lipase
- Fungsi utama hidrolisis tri-asilgliserol menjadi asam lemak dan gliserol
Pada lambung enzim peptinogen dihasilkan oleh sel chief dimana enzim
peptinogen ini enzim yang inaktif dan akan menjadi aktif berupa pepsin dengan
pemotongan ikatan peptidanya setelah itu pepsin bekerja pada molekul pepsinogen
lain dengan mekanisme otokatalisis.8
Duodenum
Pada duodenum yang bekerja adalah enzim tripsinogen yang dihasilakan oleh
pancreas namun disekresi kelumen duodenum dan kemudian diaktifkan menjadi tripsi
oleh enterokinase suatu enzim yang terbenam didalam membrane luminal sel-sel yang
melapisi mukosa duodenum, tripsin juga melakukan mekanisme otokatalisis8

Kesimpulan
Sistem pencernaan berguna untuk memberikan nutrisi bagi organ-organ di dalam

tubuh. Dengan adanya bantuan enzim dalam proses pencernaan menyebabkan

dipecahnya molekul-molekul yang ada di dalam makanan dapat dipecah dengan

cepat. Hal-hal yang mengganggu proses pencernaan dapat mengganggu banyaknya

nutrisi yang diterima oleh tubuh.

Daftar Pustaka
1. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2004.h.281-283
2. Sujono Hadi. 2002. Lambung. Dalam: Gastroenterologi. Edisi 7. Bandung: Alumni. h.146-
247.
3. Slonane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2003.h.177-8
4. . Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC; 2006.
5. Eroschenko VP. Atlas histologi di fiore dengan korelasi fungsional. Edisi ke-9.
Jakarta: EGC; 2003.h.148-.
6. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC;
2011.h.641-92
7. Champe PC, Harvey RA, Ferrier DR. Biokimia: ulasan bergambar. Edisi ke-3.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2011. h. 65-78.
8. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke system. Ed ke-8. Jakarta: EGG;2014.