Anda di halaman 1dari 15

Appendicitis Akut

Christin Natalia
10.2012.274
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: aureliachristin.natalia@yahoo.com

Pendahuluan

Sistem pencernaan terdiri dari saluran panjang yaitu saluran cerna. Saluran ini
dimulai dari mulut sampai anus. Sistem pencernaan terdiri dari saluran pencernaan
ditambah organ-organ pencernaan tambahan (aksesori). Fungsi utama sistem
pencernaan adalah untuk memindahkan zat gizi atau nutrien, air dan elektrolit dari
makanan yang kita makan ke dalam lingkungan internal tubuh.
Pencernaan merupakan proses untuk mengubah bahan makanan menjadi zat
yang dapat diserap kedalam peredaran darah. Bahan-bahan yang tidak berguna dan
sebagian yang toksis dikeluarkan berupa feses. Sistem pencernaan tidak dapat
melaksanakan fungsinya jika dalam keadaan terganggu. Walaupun sistem pencernaan
mempunyai manfaat yang sangat besar dalam kehidupan kita, akan tetapi tidak jarang
juga kelainan pada sistem ini juga dapat mengakibatkan kematian. Salah satunya
adalah apendisitis, penyakit ini merupakan penyakit bedah mayor yang paling sering
terjadi dan tindakan bedah segera mutlak diperlukan pada apendisitis akut
untuk menghindari komplikasi yang umumnya berbahaya.

Apendisitis merupakan peradangan pada apendik periformis. Apendik


periformis merupakan saluran kecil dengan diameter kurang lebih sebesar pensil
dengan panjang 2-6 inci. Lokasi apendik pada daerah illiaka kanan, di bawah katup
iliocaecal, tepatnya pada dinding abdomen di bawah titik Mc Burney. Apendiks
disebut juga umbai cacing, apendisitis merupakan Peradangan dimulai oleh obstruksi
dari fekalit (suatu masa seperti batu yang terbentuk dari feces) atau infeksi bacterial
supuratif. Sebagian kecil apendiks dapat menjadi membengkak atau nekrosis
mengenai seluruh apendiks. Terkait dengan hal tersebut, makalah ini akan membahas
dan memberikan pengertian tentang sejumlah bahan maupun bagian yang perlu
diperhatikan lebih dalam dari kasus yang diberikan, yaitu appendisitis.
Anamnesis

Anamnesis merupakan tahap awal dalam pemeriksaan untuk mengetahui


riwayat penyakit dan menegakkan diagnosis. Anamnesis harus dilakukan dengan
teliti, teratur dan lengkap karena sebagian besar data yang diperlukan dari anamnesis
untuk menegakkan diagnosis. Sistematika yang lazim dalam anamnesis, yaitu
identitas, riwayat penyakit, dan riwayat perjalanan penyakit. Anamnesis dilakukan
secara auto-anamnesis (langsung pada pasien). Pasien adalah seorang wanita berusia
35 tahun dengan keluhan nyeri hebat pada perut kanan bawahnya sejak 6 jam yang
lalu dan sebelumnya mengeluh nyeri pada ulu hati disertai mual serta tak kunjung
membaik setelah minum obat maag. Penanganan dari pasien ini harus dimulai dengan
riwayat secara menyeluruh melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk
melakukan diagnosis. Sebaiknya memulai anamnesis dengan menanyakan beberapa
pertanyaan berikut:

1. Menanyakan identitas, usia, dan pekerjaan.


2. Sejak kapan mengalami hal seperti ini?
3. Apakah sebelumnya pernah mengalami hal yang sama?
4. Kapan gejala terasa paling berat?
5. Apakah ada faktor lain yang memperberat keadaan?
6. Adakah keluhan penyerta lain?
7. Menanyakan penyakit sebelumnya/riwayat trauma.
8. Menanyakan aktivitas dan makanan sehari-hari.
9. Apakah sudah mengkonsumsi obat ?
10. Apakah dalam keluarga ada yang mengalami hal yang sama?
11. Menanyakan mengenai riwayat sosial-ekonomi.

Dengan dilakukannya suatu anamnesis yang baik dan lengkap, seorang dokter
diharapkan dapat menerawang suatu penyakit yang dialami oleh pasien yang datang,
sehingga dapat diambil langkah selanjutnya dalam pemeriksaan klinis yang
berlangsung.

Pemeriksaan Fisik
Salah satu pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah memeriksa keadaan
umum dan tanda-tanda vital yang terdiri dari suhu, tekanan darah, nadi, dan frekuensi
pernapasan. Lalu dilakukan inspeksi, palpasi dan auskultasi. Inspeksi untuk melihat
lokasi nyeri, pembagian abdomen berdasarkan kuadran (LUQ, RUQ, RLQ, LLQ),
pembagian abdomen berdasarkan 9 regio (pada orang gemuk), melihat bentuk
abdomen dan kesimetrisannya, perubahan warna kulit, lesi kulit, pembuluh darah
kolateral, jenis bekas luka, benjolan, pulsasi, dan peristaltic yang terlihat pada dinding
abdomen. Sering ditemukan adanya abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan
jenis ini biasa ditemukan distensi perut. Palpasi dengan menggunakan 3 jari ( jari 2, 3,
dan 4 ) tangan kanan. Palpasi dalam abdomen ada 3, yaitu palpasi umum, palpasi
organ, dan palpasi khusus. Pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa
nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah
merupakan kunci diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan
dirasakan nyeri pada perut kanan bawah yang disebut sebagai tanda Rovsing (Rovsing
Sign). Dan apabila tekanan di perut kanan bawah dilepaskan secara tiba-tiba juga akan
terasa nyeri yang disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign). Pada pasien ini ditemukan
nyeri tekan dan nyeri lepas pada kuadran kanan bawah.1

Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator pemeriksaan ini juga dilakukan untuk
mengetahui letak apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan
otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul
kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks yang meradang menempel di m.
psoas mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji
obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi
terlentang. Bila apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang
merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri.
Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika. Auskultasi memberikan hasil
bahwa peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik
pada peritonitis generalisata akibat appendicitis perforata.1

Gambar 1. Psoas Sign2 Gambar 2. Obturator Sign2


Pemeriksaan colok dubur dilakukan pada apendisitis untuk menentukan letak
apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan
terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks yang meradang terletak didaerah pelvis.
Pemeriksaan ini merupakan kunci diagnosis pada apendisitis pelvika.

Pemeriksaan Penunjang

Tes laboratorium untuk appendisitis akuta bersifat nonspesifik, sehingga


hasilnya tak dapat digunakan untuk mengkonfirmasikan atau menyangkal diagnosis.
Pemeriksaan laboratorium terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein
reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit
antara10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP
ditemukan jumlah serum yang meningkat.2

Pemeriksaan urinalisa dapat digunakan sebagai konfirmasi dan menyingkirkan


kelainan urologi yang menyebabkan nyeri abdomen. Urinalisa sangat penting pada
anak dengan keluhan nyeri abdomen untuk menentukan atau menyingkirkan
kemungkinan infeksi saluran kencing. Appendiks yang mengalami inflamasi akut dan
menempel pada ureter atau vesika urinaria, pada pemeriksaan urinalisis ditemukan
jumlah sel leukosit 10-15 sel/lapangan pandang dan albuminuria minimal. 2

Pemeriksaan penunjang juga dapat dilakukan dengan radiologi yang terdiri


dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada pemeriksaan ultrasonografi
ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks. USG
juga berguna pada wanita sebab dapat menyingkirkan adanya kondisi yang
melibatkan organ ovarium, tuba falopi dan uterus yang gejalanya menyerupai
appendicitis. Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang
menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks yang mengalami
inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Pada foto tidak dapat menolong untuk
menegakkan diagnosa appendicitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang
kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut :
a. Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan
b. Kadang ada fekolit (sumbatan)
c. Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam
diafragma
Working Diagnosis
Appendicitis
Appendicitis adalah suatu radang yang timbul secara mendadak pada
appendiks dan merupakan salah satu kasus akut abdomen yang paling sering ditemui.
Appendiks disebut juga umbai cacing. Appendicitis sering disalah artikan dengan
istilah usus buntu, karena usus buntu sebenarnya adalah caecum. Appendicitis
dicetuskan oleh berbagai factor, diantaranya adalah hyperplasia jaringan limfe,
fecolith, tumor appendiks dan cacing ascaris. Appendiks atau umbai cacing adalah
suatu organ yang terdapat pada sekum yang terletak pada proximal colon.3

Appendix dalam bahasa latin disebut sebagai Appendix vermiformis,


ditemukan pada manusia, mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Appendiks pada
awalnya dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi tetapi saat
ini diketahui bahwa fungsi appendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara
aktif berperan dalam sekresi immunoglobin (IgA) walaupun dalam jumlah kecil.
Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum.
Karena pengosongannya yang tidak efektif, dan lumennya kecil, appendiks cenderung
menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi.3

Appendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjang 10 cm ( antara 3-15


cm), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di
bagian distal. Sedangkan pada bayi, appendiks berbentuk kerucut, lebar pada
pangkalnya dan menyempit ke arah ujungnya (hal ini mungkin menjadi sebab
rendahnya insidens apendisitis pada usia ini). Persarafan parasimpatis berasal dari
cabang nervus vagus yang mengikuti a. Mesenterika superior dan a. Apendikularis,
sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. Torakalis X (oleh karena itu nyeri
viseral pada apendisitis bermula di sekitar umbilikus). Perdarahan appendiks berasal
dari a. Apendikularis (arteri tanpa kolateral). Jika arteri ini tersumbat misalnya karena
trombosis pada infeksi, appendiks akan mengalami gangren.3

Appendicitis harus segera ditangani dengan tindakan pembedahan yaitu


appendiktomi. Pencegahan appendicitis adalah dengan mengatur pola makan kita.
Memperbanyak mengkonsumsi makanan yang mengandung serat yang tinggi akan
mengecilkan resiko terkena appendicitis.
Differential Diagnosis
Limfadenitis Mesenterika
Limfadenitis Mesenterika merupakan peradangan pada kelenjar getah bening
mesenteric di abdomen. Proses ini bisa akut maupun kronik, tergantung agen
penyebabnya. Penyakit ini sering menimbulkan gejala klinis yang susah dibedakan
dengan appendicitis. Ditandai dengan rasa nyeri perut terutama kanan, disertai mual
dan nyeri tekan perut yang samar. Pada anamnesa akan ditemukan mual dan muntah
yang mendahului rasa sakit (pada apendicitis akut mual dan muntah timbul setelah
rasa sakit).4

Adneksitis
Adneksitis adalah infeksi atau radang pada adnexsa rahim. Adneksa adalah
jaringan yang berada di sekitar rahim. Ini termasuk tuba fallopii dan ovarium alias
indung telur, tempat dimana sel telur diproduksi. Istilah lain yang sering digunakan
untuk menyebut Adneksitis adalah PID (Pelvic Inflammatory Disease) atau
Salpingitis. Dari pengertian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa adneksitis
hanya menyerang kaum wanita, karena merekalah yang memiliki rahim, sedangkan
pria tidak.5

Penyebab adneksitis antara lain adalah akibat infeksi kemudian dapat juga
disebabkan oleh tindakan medis seperti laparatomi, kuretase, dan lain lain, dapat
juga disebabkan perluasan radang dari alat yang letaknya tidak jauh, seperti
appendiks. Radang tersebut kebanyakan akibat infeksi, ini juga bisa datang dari
tempat ekstravaginal lewat jalan darah atau menjalar dari jaringan disekitarnya.
Gejala umum yang terlihat pada adneksitis adalah demam, sakit perut pada bagian
bawah baik kiri maupun kanan, nyeri saat berhubungan dan berkemih, serta keluar
cairan yang berbau dari vagina.5

Karena penyebabnya infeksi bakteri, maka penanganan yang dilakukan yaitu


dengan pemberian antibiotic dengan spectrum luas. Biasanya diberikan suntikan
antibiotic yang diikuti dengan obat oral selama 10 14 hari. Penyakit ini dapat
membawa dampak yang serius jika tidak segera ditangani, seperti kemandulan,
kehamilan diluar rahim, keluarnya nanah dari vagina, dan nyeri panggul kronis.5
Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
Kehamilan ektopik adalah suatu keadaan dimana hasil konsepsi berimplantasi,
tumbuh, dan berkembang diluar endometrium kavum uteri. Bila kehamilan itu
mengalami proses pengakhiran (abortus) maka disebut dengan Kehamilan Ektopik
Terganggu (KET). Yang terbanyak dijumpai adalah kehamilan pada tuba fallopii.
KET bisa disebabkan oleh Penyakit Menular Seks (PMS) dan adhesi peritubal yang
terjadi setelah infeksi seperti appendicitis atau endometriosis sehingga tuba dapat
tertekuk atau lumen menyempit. Gejala yang paling sering terlihat pada penderita
KET adalah nyeri perut, kemudian diikuti dengan amenore, syok hipovolemik, dan
lain lain.5

Nyeri perut pada KET bersifat unilateral ataupun bilateral di abdomen bawah
dan terkadang terasa sampai di abdomen bagian atas, serta terdapat juga nyeri tekan.
Untuk membedakan dengan appendicitis, pada KET ditemukan massa yang batasnya
tidak jelas, sedangkan pada appendicitis terlihat massa yagn lebih jelas. Nyeri pada
appendicitis sering lokasinya lebih tinggi, yaitu pada titik McBurney. Untuk
membantu diagnosis, dapat dilakukan tes kehamilan. Tes kehamilan positif berarti
KET.5

Penanganan KET dengan tindakan pembedahan, selain itu juga diperlukan


transfuse darah, serta antibiotic untuk mencegah infeksi. Prognosis pada KET baik
bila kita dapat mendiagnosis secara dini. Keterlambatan diagnosis akan menyebabkan
prognosis buruk karena bila pendarahan arterial yang terjadi di intraabdomen tidak
segera ditangani, akan menyebabkan kematian karena syok hipovolemik.5

Etiologi

Apendisitis disebabkan oleh obstruksi lumen appendiceal. Penyebab paling


umum dari obstruksi luminal termasuk hiperplasia limfoid sekunder untuk penyakit
radang usus (IBD) atau infeksi (lebih umum selama masa kanak-kanak dan dewasa
muda), fecal stasis dan fecaliths (lebih umum pada pasien usia lanjut), parasit
(terutama di negara-negara Timur) , atau, lebih jarang, benda asing dan neoplasma.6
Fecaliths terbentuk ketika garam kalsium dan puing-puing kotoran menjadi
berlapis di sekitar nidus feces yang terletak di dalam usus buntu. Hiperplasia limfoid
dikaitkan dengan berbagai gangguan inflamasi dan infeksi termasuk penyakit Crohn,
6
gastroenteritis, amebiasis, infeksi pernafasan, campak, dan mononukleosis.

Obstruksi lumen appendiceal jarang dikaitkan dengan bakteri (Yersinia


spesies, adenovirus, cytomegalovirus, actinomycosis, spesies mikobakteri, spesies
Histoplasma), parasit (misalnya, Schistosomes spesies, cacing kremi, Strongyloides),
bahan asing (misalnya, senapan pelet, alat kontrasepsi), TBC, dan tumor. 6

Epidemiologi

Apendisitis sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun. Pada
wanita dan laki-laki insidennya sama kecuali pada usia pubertas dan usia 25 tahun
wanita lebih banyak dari laki-laki dengan perbandingan 3 : 2. Apendisitis adalah
keadaan darurat bedah yang umum, dan merupakan salah satu penyebab paling umum
dari kesakitan abdominal. Di Amerika Serikat, 250.000 kasus apendisitis dilaporkan
setiap tahun, mewakili 1 juta pasien/hari yang masuk rumah sakit. Insiden apendisitis
akut telah menurun terus sejak akhir 1940-an, dan kejadian tahunan saat ini adalah 10
kasus per 100.000 penduduk. Apendisitis terjadi pada 7% dari penduduk AS, dengan
kejadian 1,1 kasus per 1000 orang per tahun. Ada kecenderungan predisposisi dalam
6
keluarga terhadap appendisitis.

Di negara-negara Asia dan Afrika, kejadian apendisitis akut mungkin lebih


rendah karena kebiasaan makan penduduk dari wilayah geografis. Insiden
appendicitis lebih rendah dalam budaya dengan asupan tinggi serat makanan. Serat
pangan diperkirakan menurunkan viskositas feses, mengurangi waktu transit usus, dan
mencegah pembentukan fecaliths, yang mempengaruhi individu untuk penghalang
dari lumen appendiceal.

Dalam beberapa tahun terakhir, penurunan frekuensi usus buntu di negara-


negara Barat telah dilaporkan, yang mungkin berhubungan dengan perubahan dalam
asupan serat makanan. Bahkan, insiden yang lebih tinggi dari apendisitis diyakini
terkait dengan asupan serat yang minim di negara-negara tersebut.

Patofisiologi

Penyebab utama appendisitis adalah obstruksi penyumbatan yang dapat


disebabkan oleh hiperplasia dari folikel limfoid merupakan penyebab terbanyak,
adanya fekalit dalam lumen appendiks. Adanya benda asing seperti cacing, stiktura
karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, sebab lain misalnya keganasan
(karsinoma karsinoid).

Patologi apendisitis berawal di jaringan mukosa dan kemudian menyebar ke


seluruh lapisan dinding apendiks. Jaringan mukosa pada apendiks menghasilkan
mukus (lendir) setiap harinya. Terjadinya obstruksi menyebabkan pengaliran mukus
dari lumen apendiks ke sekum menjadi terhambat. Makin lama mukus makin
bertambah banyak dan kemudian terbentuklah bendungan mukus di dalam lumen.
Namun, karena keterbatasan elastisitas dinding apendiks, sehingga hal tersebut
menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menyebabkan terhambatnya aliran limfe, sehingga mengakibatkan
timbulnya edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi
apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri di daerah epigastrium di sekitar
umbilikus. Mukosa dari appendiks mempunyai sifat khusus dimana ia masih dapat
menghasilkan sekresi pada tekanan yang tinggi sehingga distensi dari lumen akan
terus meningkat. Distensi ini akan merangsang ujung saraf viseral yang mensyarafi
appendiks sehingga muncul nyeri.

Nyeri awalnya dirasakan pada umbilikal dan kwadran bawah epigastrium


dengan nyerinya yang tumpul dan difuse. Nyeri ini dirasakan pada umbilikal karena
persarafan appendiks berasal dari Thorakal 10 yang lokasinya pada umbilikal. Maka
nyeri pada umbilikal merupakan suatu Reffered Pain. Distensi dari appendiks juga
akan meningkatkan peristalsis usus sehingga menimbulkan nyeri kolik. Distensi
appendiks dengan mukus ini dikenali dengan Mucocele Appendiks.1,2
Jika sekresi mukus terus berlanjut, tekanan intralumen akan terus meningkat.
Hal ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri
akan menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul pun semakin meluas dan
mengenai peritoneum setempat, sehingga menimbulkan nyeri di daerah perut kanan
bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.1

Bila kemudian aliran arteri terganggu, maka akan terjadi infark dinding
apendiks yang disusul dengan terjadinya gangren. Keadaan ini disebut dengan
apendisitis ganggrenosa. Jika dinding apendiks yang telah mengalami ganggren ini
pecah, itu berarti apendisitis berada dalam keadaan perforasi.1

Gambar 3. Bagan patogenesis apendisitis2

Sebenarnya tubuh juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi proses


peradangan ini. Caranya adalah dengan menutup apendiks dengan omentum, dan usus
halus, sehingga terbentuk massa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan
istilah infiltrat apendiks. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses
yang dapat mengalami perforasi. Namun, jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan
sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang dan selanjutnya akan
mengurai diri secara lambat.1,2

Pada anak-anak, dengan omentum yang lebih pendek, apendiks yang lebih
panjang, dan dinding apendiks yang lebih tipis, serta daya tahan tubuh yang masih
kurang, memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi
mudah terjadi karena adanya gangguan pembuluh darah.1
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh dengan sempurna, tetapi
akan membentuk jaringan parut. Jaringan ini menyebabkan terjadinya perlengketan
dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan tersebut dapat kembali menimbulkan
keluhan pada perut kanan bawah. Pada suatu saat organ ini dapat mengalami
peradangan kembali dan dinyatakan mengalami eksaserbasi.2

Gejala klinis

Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri
samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus.
Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang muntah, dan pada
umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih
ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan
jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Tanda rovsing (dapat
diketahui dengan mempalpasi kuadran kiri bawah, yang menyebabkan nyeri pada
kuadran kanan bawah) . Jika terjadi ruptur appendiks, maka nyeri akan menjadi lebih
menyebar, terjadi distensi abdomen akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk.

Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi


terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan
ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang
apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 -38,5 derajat
celcius.2

Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit
dilakukan diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya,
sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi. Berikut beberapa keadaan
dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas.2

1. Pada anak-anak

Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan.


Seringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam
kemudian akan terjadi muntah- muntah dan anak menjadi lemah dan letargik.
Karena ketidakjelasan gejala ini, sering apendisitis diketahui setelah perforasi.
Begitupun pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi
perforasi.

2. Pada orang tua berusia lanjut

Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari
separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi.

3. Pada wanita

Gejala apendisitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang


gejalanya serupa dengan apendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses
ovulasi, menstruasi), radang panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada
wanita hamil dengan usia kehamilan trimester, gejala apendisitis berupa nyeri
perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa timbul
pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan
apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di perut
kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.

Komplikasi

Komplikasi yang paling sering ditemukan pada appendicitis adalah perforasi.


Baik berupa perforasi bebas maupun perforasi pada appendiks yang telah mengalami
perdindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan appendiks, sekum,
dan lekuk usus halus. Perforasi dapat menyebabkan timbulnya abses lokal ataupun
suatu peritonitis generalisata. Tanda-tanda terjadinya suatu perforasi adalah :7

Nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri abdomen
menyeluruh
Suhu tubuh naik tinggi sekali.
Nadi semakin cepat.
Defance muskular yang menyeluruh
Bising usus berkurang
Perut distended

Akibat lebih jauh dari peritonitis generalisata adalah terbentuknya :7


1. Pelvic Abscess
2. Subphrenic absess
3. Intra peritoneal abses lokal.

Peritonitis merupakan infeksi yang berbahaya karena bakteri masuk kerongga


abdomen, dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.7

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara medikamentosa


dan non medikamentosa. Secara non-medikamentosa yaitu sebaiknya menjaga kondisi
badan dengan baik dan tidak banyak beraktivitas. Secara medika mentosa dilakukan
bila dari hasil diagnosis positif apendisitis akut, maka tindakan yang paling tepat
adalah segera dilakukan apendiktomi. Apendektomi dapat dilakukan dalam dua cara,
yaitu cara terbuka dan cara laparoskopi. Apabila apendisitis baru diketahui setelah
terbentuk massa periapendikuler, maka tindakan yang pertama kali harus dilakukan
adalah pemberian/terapi antibiotik kombinasi terhadap penderita. Antibiotik ini
merupakan antibiotik yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Antibiotik initial
diberikan termasuk generasi ke 3 Cephalosporins, Ampicillin, dan Metronidazol atau
Klindamisin untuk kuman anaerob terhadap bakteri gram negatif dan didistribusikan
dengan baik ke cairan tubuh dan jaringan. Setelah gejala membaik, yaitu sekitar 6-8
minggu, barulah apendektomi dapat dilakukan. Jika gejala berlanjut, yang ditandai
dengan terbentuknya abses, maka dianjurkan melakukan drainase dan sekitar 6-8
minggu kemudian dilakukan apendisektomi. Namun, apabila ternyata tidak ada
keluhan atau gejala apapun dan pemeriksaan klinis serta pemeriksaan laboratorium
tidak menunjukkan tanda radang atau abses setelah dilakukan terapi antibiotik, maka
dapat dipertimbangkan untuk membatalkan tindakan bedah.5

Laparoskopik appendiktomi mulai diperkenalkan pada tahun 1987, dan telah


sukses dilakukan pada 90-94% kasus appendicitis dan 90% kasus appendicitis
perforasi.Saat ini laparoskopik appendiktomi lebih disukai. Prosedurnya, port
placement terdiri dari pertama menempatkan port kamera di daerah umbilikus,
kemudian melihat langsung ke dalam melalui 2 buah port yang berukuran 5 mm. Ada
beberapa pilihan operasi, pertama apakah 1 port diletakkan di kuadran kanan bawah
dan yang lainnya di kuadran kiri bawah atau keduanya diletakkan di kuadran kiri
bawah. Sekum dan appendiks kemudian dipindahkan dari lateral ke medial.1
Laparoskopik appendiktomi mempunyai beberapa keuntungan antara lain
bekas operasinya lebih bagus dari segi kosmetik dan mengurangi infeksi pascabedah.
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa laparoskopik appendiktomi juga
mempersingkat masa rawatan di rumah sakit. Kerugian laparoskopik appendiktomi
antara lain mahal dari segi biaya dan juga pengerjaannya yang lebih lama, sekitar 20
menit lebih lama dari appendiktomi terbuka. Namun lama pengerjaanya dapat
dipersingkat dengan peningkatan pengalaman.1
Kontraindikasi laparoskopik appendiktomi adalah pada pasien dengan
perlengketan intra-abdomen yang signifikan.Pada appendicitis dengan abses atau
phlegmon, dianjurkan untuk drainase abses dan appendektomi dilakukan 6-10 minggu
kemudian.Pada appendicitis dengan perforasi perlu dilakukan laparotomi. Sebelum
pembedahan perlu dilakukan perbaikan keadaan umum dengan infus, pemberian
antibiotik untuk kuman gram negatif dan positif serta kuman anaerob, dan
pemasangan pipa nasogastrik.1

Pencegahan

Pencegahan pada apendisitis yaitu dengan menurunkan resiko obstruksi atau


peradangan pada lumen apendik. Pola eliminasi klien harus dikaji, sebab obstruksi
oleh fecalit dapat terjadi karena tidak adekuatnya diet serat/diet tinggi serat.
Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga meminimalkan resiko.
Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda apendiksitis meminimalkan resiko
terjadinya gangren, perforasi, dan peritonitis.

Prognosis
Prognosis untuk apendisitis baik setelah mengalami tindakan medika mentosa.
Apendisitis tak berkomplikasi membawa mortalitas kurang dari 0,1 persen, gambaran
yang mencerminkan perawatan prabedah, bedah dan pascabedah yang tersedia saat
ini. Angka kematian pada apendisitis berkomplikasi telah berkurang dramatis menjadi
2 sampai 5 persen, tetapi tetap tinggi dan tak dapat diterima (10 sampai 15 persen),
pada anak kecil dan orang tua. Pengurangan mortalitas lebih lanjut harus dicapai
dengan intervensi bedah lebih dini.
Kesimpulan
Wanita berusia 35 tahun apendisitis berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Appendicitis merupakan Peradangan dimulai oleh
obstruksi dari fekalit (suatu masa seperti batu yang terbentuk dari feces) atau infeksi
bacterial supuratif. Appendicitis dapat menyerang semua kalangan usia. Penanganan
yang cepat dapat meminimalisasikan terjadinya komplikasi sehingga penanganan
yang dapat dilakukan pada penderita appendicitis adalah dilakukan tindakan bedah
yaitu appendiktomi.

Daftar Pustaka

1. Sjamsuhidajat, R. Buku ajar ilmu bedah . Edisi ke-2. Jakarta: EGC;


2005.h.639-45.
2. Mansjoer A, Suprohaita, Wardani WI. Bedah digestif. Edisi ke-3. Jakarta:
Media Aesculapius; 2005.h. 307-13.
3. Anderson PD. Anantomi dan fisiologi tubuh manusia. Jakarta :
EGC;2012.h.37-9.
4. Schwartz, Shires, Spencer. Intisari prinsip prinsip bedah. Edisi ke-6. Jakarta
: EGC;2003.h.445-51,502-3.
5. Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF. Obstetric patologi :
ilmu kesehatan reproduksi. Edisi ke-2. Jakarta : EGC;2003.h.16-23.
6. Craig S. Appendicitis Clinical Presentation. Diunduh dari:
(http://www.http://emedicine.medscape.com, diakses 19 Mei 2013).
7. Grace PA, Borley NR. At a Glance ilmu bedah. Edisi ke-3. Jakarta: EMS;
2007. h.105-7.