Anda di halaman 1dari 22

Diagnosis dan Penanganan dari Nyeri pada Bagian

Atas Bahu
Aditya Hutomo Satyawan / 102012374 / D7
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jln. Arjuna utara 6, Jakarta Barat - 11510
aditya.satyawan@civitas.ukrida.ac.id

Skenario :
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dibawa orang tuanya ke UGD RS dengan keluhan nyeri
pada daerah bahu kanannya sejak 3 jam yang lalu setelah terjatuh dari sepeda dengan posisi
tangan kanannya menahan badannya. Pada pemeriksaan fisik, tampak edema pada regio
clavicula dekstra, pada palpasi teraba krepitasi, nyeri tekan (+)

Pendahuluan
Ekstremitas atas merupakan ekstremitas yang paling sering digunakan manusia hampir
untuk semua aktifitas yang dilakukan. Disfungsi pada bagian tersebut dapat menghambat
seseorang dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari. Contoh saja seorang atlit pebulu tangkis
yang sangat bergantung pada ekstremitas atas. Bila ekstremitas atas dari atlit tersebut mengalami
suatu disfungsi atauun gangguan. Maka ia akan tidak bisa bermain secara maksimal. Apabila ia
atlit sejati, maka perjalanan karir, penghasilan hidup, dll akan terganggu. Dari sini bisa dilihat
betapa pentingnya ekstremitas atas bagi hidup manusia.
Disfungsi dari ekstremitas atas merupakan hal yang tidak akan pernah diharapkan oleh
siapapun dan dimanapun. Namun kecelakaan merupakan kejadian yang tidak dapat terhindarkan
dalam kehidupan manusia dan dapat menyebabkan akibat yang bermacam-macam. Salah satunya
adalah patah tulang (fraktur). Seperti yang diketahui sebelumnya, tulang merupakan bagian
terpenting dalam tubuh manusia. Sehingga ketika ada abnormalitas pada tulang, seperti pada
kasus ini terjadi karena fraktur, akan sangat mengganggu aktifitas dari orang tersebut. Maka dari
itu, fraktur harus ditangani secepat dan setepat mungkin.

1|Musculoskeletal-2
Jenis-jenis fraktur juga sangat banyak tergantung dari lokasi, arah fraktur, rasa nyeri,
adanya inflamasi atau tidak dan semacamnya. Dengan jenis fraktur yang berbeda, maka
penanganannya pun juga berbeda. Maka untuk membatasi pembahasan yang terlalu meluas
dalam makalah ini, ditentukan rumusan masalah yaitu, seorang anak laki-laki berumur 10 tahun
dibawa orang tuanya ke UGD dengan keluhan nyeri dan dengan riwayat trauma. Ditentukan juga
sebuah hipotesis yaitu, anak berusia 10 tahun menderita dislokasi pada bahu.
Pada kasus PBL kali ini, pasien mengeluh merasa nyeri pada daerah bahu kanannya. Maka
dari itu, pembahasan makalah ini akan dikonsentrasikan kepada fraktur disekitar regio clavicula
dextra. Fraktur di daerah tersebut dapat terjadi karena trauma akibat cedera.
Sebelum memasuki pembahasan lebih mendalam tentang patologis dan penanganan dari
fraktur pada regio clavicula dextra tersebut, akan dibahas mengenai anatomi dan fisiologi
normal yang bersangkutan pada bagian tersebut.
Anatomi pada regio clavicula
Secara anatomi sendi bahu merupakan sendi peluru (ball and socket joint) yang terdiri atas
bonggol sendi dan mangkuk sendi. Cavitas sendi bahu sangat dangkal, sehingga memungkinkan
seseorang dapat menggerakkan lengannya secara leluasa dan melaksanakan aktifitas sehari-hari.
Namun struktur yang demikian akan menimbulkan ketidakstabilan sendi bahu dan
ketidakstabilan ini sering menimbulkan gangguan pada bahu.

Gambar 1. Tulang-tulang bahu1

Sendi bahu merupakan sendi yang komplek pada tubuh manusia dibentuk oleh tulang-tulang
yang terdiri dari: scapula (shoulder blade), clavicula (collar bone), humerus (upper arm bone),
dan sternum. Gerakan-gerakan yang terjadi di gelang bahu dimungkinkan oleh sejumlah sendi
yang saling berhubungan erat, misalnya sendi kostovertebral atas, sendi akromioklavikular,

2|Musculoskeletal-2
permukaan pergeseran skapulotorakal dan sendi glenohumeral atau sendi bahu. Gangguan
gerakan dalam sendi bahu sering mempunyai konsekuensi untuk sendi-sendi yang lain di gelang
bahu dan sebaliknya. Sendi bahu dibentuk oleh kepala tulang humerus dan mangkok sendi,
disebut cavitas glenoidalis. Sendi ini menghasilkan gerakan fungsional sehari-hari seperti
menyisir, menggaruk kepala, mengambil dompet, dan sebagainya atas kerjasama yang harmonis
dan simultan dengan sendi-sendi lainnya.2
Sendi glenohumeral dibentuk oleh caput humeri yang bulat dan cavitas glenoidalisscapula
yang dangkal dan berbentuk buah pir. Permukaan sendi meliputi oleh rawan hyaline, dan cavitas
glenoidalis diperdalam oleh adanya labrum glenoidale.2
Dibentuk oleh caput humerrus dengan cavitas glenoidalisscapulae, yang diperluas dengan
adanya cartilago pada tepi cavitas glenoidalis, sehingga rongga sendi menjadi lebih dalam.
Kapsul sendi longgar sehingga memungkinkan gerakan dengan jarak gerak yang lebih luas.
Proteksi terhadap sendi tersebut diselenggarakan oleh acromion, procecus coracoideus, dan
ligamen-ligamen. Tegangan otot diperlukan untuk mempertahankan agar caput humerus selalu
dipelihara pada cavitas glenoidalisnya.2
Ligamen-ligamen yang memperkuat sendi glenohumeral antara lain ligamen glenoidalis,
ligamen humeral tranversum, ligamen coraco humeral dan ligamen coracoacromiale, serta
kapsul sendi melekat pada cavitas glenoidalis dan collum anatomicum humeri.
Sendi sternoclaviculare dibentuk oleh extremitas glenoidalis clavicularis, dengan incisura
clavicularis sterni. Menurut bentuknya termasuk articulation sellaris, tetapi fungsionalnya
glubiodea. Diantara kedua facies articularisnya ada suatu discus articularis sehingga lebih
dapat menyesuaikan kedua facies articularisnya dan sebagai cavum articulare. Capsula
articularis luas, sehingga kemungkinan gerakan luas.
Sendi acromioclaviculare dibentuk oleh extremitas acromialisclavicula dengan tepi
medial dari acromion scapulae. Facies articularisnya kecil dan rata dan dilapisi oleh fibro
cartilago. Diantara facies articularis ada discus artucularis. Secara morfologis termasuk
ariculatio ellipsoidea, karena facies articularisnya sempit, dengan ligamentum yang longgar.

3|Musculoskeletal-2
Gambar 2. Ligamen-Ligamen pada sendi acromioclavicular3

Ligamentum yang memperkuatnya:


1) Ligament acromio claviculare, yamg membentang antara acromion dataran ventral
sampai dataran caudal clavicula.
2) ligament coraco clavicuculare, terdiri dari 2 ligament yaitu:
a) Ligamentum conoideum, yang membentang antara dataran medial
procecuscoracoideus sampai dataran caudal claviculare.
b) Ligamentum trapezoideus, yang membentang dari dataran lateral
procecuscoraoideus sampai dataran bawah clavicuare.
Gerak osteokinematika sendi acromioclavicularis selalu berkaitan dengan gerak pada sendi
scapulothoracalis saat elevasi diatas kepala maka terjadi rotasi clavicula mengitari sumbu
panjangnya. Rotasi ini menyebabkan elevasi clavicula, elevasi tersebut pada sendi sterno
clavicularis kemudian 30% berikutnya pada rotasi clavicula.
Sendi scapulothoracic bukan sendi yang sebenarnya, hanya berupa pergerakan scapula
terhadap dinding thorax. Gerak osteokinematika sendi ini meliputi gerakan kearah medial lateral
yang dalam klinis disebut down ward-up, wardrotasi juga gerak kearah cranial-caudal yang
dikenal dengan gerak elevasi-depresi. Pada sendi ini, skapula bergerak menggelincir pada
dinding thoraks. Gerakannya ada dua tipe, yaitu translasi (gerak dari skapula ke atas, ke bawah,
ke depan dan ke belakang) dan gerak rotasi melalui sumbu tegak lurus. Biasanya gerak skapula
adalah gerak kombinasi daripada kedua gerak ini.

4|Musculoskeletal-2
Beberapa peneliti mengatakan bahwa antara sendi glenohumeral dan scapulothoracicus
terdapat perbandingan saat melakukan gerakan abduksi dan fleksi bahu. Mereka menemukan
bahwa dua pertiga dari gerakan tersebut dilakukan oleh sendi glenohumeral (sekitar 1200)
sedangkan sepertiganya oleh sendi scapulothoracius (sekitar 600). Jadi perbandingannya 2:1,
yang merupakan hasil yang konstan.
Selain banyaknya sendi yang mempengaruhi seberapa luas bahu bisa bergerak, juga ada
otot-otot yang bekerja. Otot-otot tersebut dibagi menjadi dua bagian besar yaitu otot yang
merupakan penggerak sendi bahu dan otot yang merupakan penggerak dari sendi pergelangan
bahu. Berikut merupakan otot-otot penggerak sendi bahu:

1. Deltoid

Pars clavicularis (anterior)


Gerakan : Prime mover fleksi 90 dan adduksi bahu dan sebagai pembantu
gerakan internal rotasi dan abduksi lebih dari 60 dari bahu.
Pars acromialis (middle)
Gerakan : Prime mover abduksi bahu sampai 90
Pars spinalis (posterior)
Gerakan : Prime mover ekstensi bahu

2. Suprasipnatus
Gerakan : Prime mover abduksi bahu hingga 90

3. Infraspinatus
Gerakan : Prime mover rotasi ke lateral dan ekstensi horisontal bahu
dan sebagai pembantu gerakan abduksi horisontal bahu.

4. Subskalpularis
Gerakan : Prime mover rotasi ke dalam dari humerus
5. Teres minor

Gerakan : Prime mover rotasi kelateral dan ekstensi horisontal bahu dan
sebagai pembantu gerakan abduksi horisontal bahu.

5|Musculoskeletal-2
6. Teres mayor
Gerakan : Prime mover ekstensi bahu

7. Lattisimus dorsi
Gerakan : Prime mover ekstensi dan rotasi kemedial dari bahu.

8. Coracobrachialis
Gerakan : Prime mover fleksi bahu 90

9. Pectoralis mayor
Pars klavikularis
Pars manubrialis
Pars Sternokostalis
Gerakan : Prime mover adduksi horisontal dan rotasi ke medial bahu.

Otot-otot yang merupakan penggerak dari pergelangan bahu:

1. Serratus anterior

Gerakan : Prime mover adduksi dan rotasi ke atas skapula dan sebagai
pembantu gerakan abduksi bahu 90

2. Rhomboideus mayor

Gerakan : Prime mover adduksi dan rotasi ke bawah skapula dan sebagai
pembantu gerakan elevansi skapula.

3. Rhomboideus minor

Gerakan : Prime mover adduksi dan rotasi ke bawah skapula dan sebagai
pembantu gerakan elevansi scapula

4. Levator Scapula

Gerakan : Prime mover elevansi skapula

5. Pectoralis minor

6|Musculoskeletal-2
Gerakan : Adduksi horisontal bahu

6. Subclavia

Gerakan : Depresi klavikula

7. Trapezius

Superior
Gerakan : Elevasi skapula
Middle
Gerakan : Adduksi skapula
Inferior
Gerakan : Depresi dan adduksi scapula

Biomekanika Sendi Bahu

A. Gerakan dan luas gerak sendi bahu

Gerakan-gerakan dari bahu dibagi dua, yang didasarkan pada kelompok otot
penggeraknya. Gerakan tersebut antara lain gerakan skapula dan gerakan dari humerus.
Gerakan-gerakan tersebut antara lain :

1) Gerakan Scapula

a. Elevasi dan Depresi

Elevasi yaitu gerakan skapula ke atas sejajar dengan vertebra, dapat


dilakukan dengan mengangkat bahu ke atas. Sedangkan depresi adalah
kembalinya bahu dari posisi elevasi. Gerakan vertikal disertai dengan tilting.
Total luas geraknya adalah 10 12 cm.

b. Abduksi (prorotasi) dan Adduksi (retraksi)

Protraksi adalah gerakan kelateral skapula menjauhi vertebra. Gerakan ini


dapat terjadi ketika bahu melakukan gerakan mendorong ke depan. Retraksi yaitu

7|Musculoskeletal-2
gerakan skapula ke medial, dapat dilakukan dengan menarik bahu ke belakang.
Total luas geraknya adalah kira-kira 15 cm.

c. Upward rotation dan downward rotation

Upward rotation yaitu gerakan rotasi dari scapula pada bidang frontal
sehingga fossa glenoidalis bergerak ke atas. Sedangkan downward rotation yaitu
gerakan kembali dari upward rotation. Total luas gerak 60, displacement sudut
bawah skapula 10 12cm dan sudut superolateral 5 6cm.

d. Upward tilt dan reduction of upward tilt.

Upward tilt yaitu gerakan skapula pada aksis frontal horisontalyang


menyebabkan permukaan posterior skapula bergerak ke atas. Gerakan ini terjadi
oleh karena rotasi dari klavikula, sehingga bagian superior skapula bergerak naik-
turun dan bagian inferiornya bergerak maju-mundur. Hal ini hanya terjadi jika
bahu hiperekstensi. Reduction of upward tilt yaitu gerakan kembali dari upward
tilt.

2) Gerakan Humerus

Posisi awal berdiri tegak dengan lengan di samping tubuh.

a. Fleksi dan Ekstensi

Gerak fleksi adalah gerakan lengan atas dalam bidang sagital ke depan dari
0 ke 180. Gerak yang berlawanan ke posisi awal (0) disebut gerak depresi
lengan. Gerak ekstensi adalah gerak dari lengan dalam bidang sagital ke belakang
dari 0 ke kira-kira 60.
Gerakan fleksi dibagi menjadi 3 fase :
Fase 1, fleksi 0 sampai 50 - 60. Otot yang terlibat yaitu deltoid anterior,
korakobrakhialis, pektoralis mayor serabut klavikular. Gerakan fleksi bahu ini

8|Musculoskeletal-2
dibatasi oleh tegangan dari ligamen korakohumeralis dan tahanan yang
dilakukan oleh teres minor, teres major dan infraspinatus.
Fase II, Fleksi 60 - 120. Pada fase ini diikuti gerakan shoulder girdle, yaitu
rotasi 60 dari skapula, sehingga glenoid cavity menghadap ke atas dan ke
depan, dan aksial pada sendi sternoklavikular dan akromioklavikular, setiap
sendi membantu 30. Gerakan ini melibatkan otot trapezius, serratus anterior.
Fleksi pada sendi skapulothorakis dibatasi oleh tahanan lattisimus dorsi dan
serabut kostosternal dari pektoralis mayor.
Fase III, fleksi 120 - 180. Jika hanya satu lengan yang fleksi dari kolumna
spinalis. Bila kedua lengan fleksi maksimum akan terjadi gerakan lordosis
dari lumbal melebihi normal.

b. Abduksi dan Adduksi

Gerak abduksi adalah gerak dari lengan menjauhi tubuh dalam bidang frontal
dari 0 ke 180 Gerak adduksi adalah gerak kebalikan dari abduksi yaitu gerak
lengan menuju garis tengah tubuh.

Gerakan abduksi dibagi menjadi 3 fase :

Fase I, abduksi 0 90 merupakangerakan start abduksi dari sendi bahu.


Otot-otot yang terlibat yaitu deltoid middle dan supraspinatus. Pada akhir
abduksi 90, shoulder mengunci sebagai hasil greater tuberosity menyentuh
superior margin dari glenoid.
Fase II, abduksi 90 150 , ketika abduksi 90, disertai fleksi sehingga dapat
aduksi sampai 120 shoulder mengunci dan abduksi hanya dapat maju dengan
disertai gerakan shoulder girdle. Gerakan ini adalah ayunan dari skapula
dengan rotasi tanpa mengunci, sehingga kavitas glenoidalis menghadap agak
keatas dengan luas gerakan 60 Aksial rotasi pada sendi sternoklavikularis
dan akromioklavikularis, setiap sendi membantu gerakan 30. otot- otot yang
terlibat ialah trapezius atas dan bawah dan seratus anterior. Pada gerakan 150
, yang dihasilkan oleh rotasi skapula diketahui dengan adanya tahanan

9|Musculoskeletal-2
peregangan dari otot-otot abduktor yaitu latissimus dorsi dan pektoralis
mayor.
Fase III, abduksi 150 180 dalam fase ini, abduksi mencapai posisi vertikal
dan disertai gerakan kolumna spinalis . Bila gerakan hanya satu tangan
disertai pemelesetan ke lateral dari kolumna splinalis yang dihasilkan oleh
otot spinal lawannya. Jika kedua lengan abduksi bersama-sama sampai 180
akan terjadi lumbar lordosis yang dipimpin oleh otot spinal.

c. Fleksi dan Ekstensi horizontal

Gerak fleksi horizontal adalah gerak dari lengan dalam bidang horizontal
mulai 0 135. Gerak ekstensi horisontal ialah gerak lengan kebelakang dalam
bidang horisontal dari 0 45.

d. Rotasi

Rotasi dengan lengan disamping tubuh, siku dalam fleksi, bila lengan bawah
digerakkan menjauhi garis tengah tubuh disebut eksorotasi, bila lengan bawah
digerakkan menuju garis tengah tubuh disebut endorotasi. Luas geraknya 90.
Rotasi dengan lengan dalam abduksi 90 dan telapak tangan menghadap kebawah,
bila lengan diputar kearah kranial disebut eksorotasi dan bila kearah kaudal
disebut endorotasi. Luas geraknya 90 .4

Anamnesis
Untuk mengawali anamnesis, tentu saja harus ditanyakan identitas lengkap sang pasien.
Tidak hanya sebagai melengkapi data, namun bisa digunakan untuk penyempurnaan diagnosis.
Pekerjaan bisa menjadi hal yang mempengaruhi tentang trauma yang terjadi. Umur juga bisa
menjadi bagian dari penyempurnaan diagnosis dengan melihat epidemiologi dari suatu penyakit.
Selain untuk diagnosis juga berguna untuk menentukan terapi yang akan diterapkan. Dalam
kasus ini anak masih berumur 10 tahun dan tidak dijelaskan soal pekerjaan, sehingga dianggap
pekerjaan tidak mempengaruhi riwayat trauma.5

10 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
Setelah identitas sudah ditanyakan dengan lengkap, berlanjut pada keluhan utama sang
pasien. Skenario ini menjelaskan bahwa keluhan utama sang pasien adalah merasa nyeri pada
bahu kanan atasnya sejak 3 jam yang lalu.5
Selanjutnya dapat mulai ditanyakan spesifik tentang keluhan utama tersebut. Bagian ini
dikenal dengan riwayat penyakit sekarang (RPS). Informasi yang jelas tentang riwayat fraktur
akan mempermudah diagnosis. Seperti misalnya posisi jatuh, keadaan alas tempat ia terjatuh,
jatuh dari ketinggian berapa, kondisi setelah ia terjatuh, keadaan dari bagian yang terkena
trauma. Dalam skenario kali ini, hanya dijelaskan bahwa pasien sedang bermain sepeda dan
terjatuh dengan posisi tangan kanannya menahan badannya.5
Riwayat penyakit dahulu (RPD) adalah yang selanjutnya harus diteliti dari seorang pasien.
Disini harus ditanyakan secara detail penyakit-penyakit yang sebelumnya atau sedang diderita
oleh pasien yang dapat menyebabkan faktor pemberat untuk keluhan utama. Seperti pada
misalnya dalam kasus fraktur, jika sebelumnya pasien pernah mengalami fraktur pada bagian
bahu, maka pasien mempunyai kemungkinan lebih tinggi karena setelah fraktur tulang dan
ligamen-ligamen tidak akan pulih secara sempurna. Selain itu, adakah diderita oleh pasien
penyakit-penyakit yang menyebabkan tulang lebih mudah mengalami fraktur seperti misalnya
rickets, osteomalacia, paget disease dll. Namun, dalam skenario ini tidak diberikan informasi
sama sekali tentang hal tersebut sehingga dianggap tidak ada RPD yang emberatkan keluhan
utama.5
Lalu yang terakhir yang penting untuk ditanya adalah setelah terjatuh apakah pasien sudah
dilakukan terapi atau belum. Biasanya orang yang tidak merasa itu sebagai fraktur akan lebih
memilih home care treatment seperti pijat. Ini akan mempengaruhi terapi yang akan diberikan
kepada pasien. Dalam skenario kali ini tidak dijelaskan tentang terapi yang dijalankan oleh
pasien setelah pasien mengalami kecelakaan tersebut.5

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik diawali pada penilaian tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital pada
pasien yang sudah merupakan SOP dari praktik kedokteran. Namun, dalam skenario ini tidak
dijelaskan atau dicantumkan secara jelas tentang status tanda-tanda vital pasien dan juga status
kesadaran pasien, sehingga akan dianggap bahwa pasien mempunyai tingkat kesadaran compos
mentis dan juga semua tanda-tanda vital normal.

11 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
Pemeriksaan selanjutnya haruslah terkonsentrasi pada keluhan pasien tersebut, dalam hal
ini pasien mengeluh nyeri pada bahu kanannya. Pertama dilakukan inspeksi pada bahu pasien.
Dengan membandingkan bahu kanan dan kiri, harus dilihat apakah bahu kanan sama dengan
kirinya atau terjadi deformitas seperti adanya bagian yang lebih menonjol, adanya rubor dan
dolor. Setelah melakukan inspeksi, yang selanjutnya dilakukan adalah palpasi. Dalam palpasi
dilakukan perabaan untuk mengetahui adanya tumor dan kalor, serta dilakukan untuk mencari
adakah krepitasi atau tidak.
Pemeriksaan yang penting dilakukan adalah pemeriksaan Range of Motion (ROM). Untuk
melakukannya, diperlukan sebuah alat yaitu Goniometer. Untuk mengukur LGS dibutuhkan 3
titik atau minimal 2 titik. Titik pertama terletak diatas sendi yang akan diukur, titik kedua
terletak pada sendi itu sendiri sedangkan titik ketiga berada dibawah sendi yang akan diukur.

Gambar 4. Goniometer7

Dalam pengukuran LGS ini terdapat 2 macam sistem penulisan yaitu5 :

1) ISOM ( International standart Orthopaedic measurement)

Ketentuan pencatatan :
Sendi : Bidang : Gerakan : Zero starting position - Gerakan

12 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
Contoh : Shoulder: Sagital : Ekstensi- 00-fleksi
Sagital : 50 - 0 180
LGS (ROM) = 230

2) AAOOS (American Academy of Orthopaedic Surgeon)

Ketentuan pencatatan :
Sendi : Zero Starting Position Gerakan
Contoh : Shoulder : fleksi 0 180
Dalam skenario ini, hanya dijelaskan ada edema yang terjadi di bahu kanan pasien
menandakan adanya inflamasi. Lalu hasil palpasi juga menemukan bahwa pasien merasa nyeri
dan adanya krepitasi. Pada kasus ini tidak dijelaskan secara pasti ROM yang bisa dilakukan oleh
pasien ataupun keterbatasan pasien dalam melakukan beberapa gerakan.5,6
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang merupakan pemeriksaan yang dinilai perlu untuk menunjang
diagnosis. Dalam hal ini, pemeriksaan penunjang dilakukan jika anamnesis dan pemeriksaan
fisik dinilai tidak cukup untuk menentukan diagnosis. Pemeriksaan penunjang ini biasanya
dilakukan di luar ruang praktek dan dilakukan oleh orang yang lebih berkompeten dalam hal
tersebut seperti misalnya laboran.

Gambar 5. Foto Rontgen sisi AP: Normal dan Abnormal.8

13 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
Pemeriksaan penunjang yang pertama harus dilakukan adalah foto rontgen. Foto rontgen
merupakan suatu foto dari bagian tubuh pasien yang didapatkan dengan menggunakan sinar X.
Tulang mempunyai kalsium yang tinggi dimana nomor atom dari kalsium besar. Besarnya nomor
atom ini memungkinkan sinar X diserap oleh kalsium. Sehingga foto yang dihasilkan merupakan
foto bayangan dari bentuk tulang pasien. Dengan menggunakan foto rontgen, bentuk tulang dari
pasien dapat sangat jelas terlihat sehingga pada biasanya diagnosis dapat dilakukan cukup
dengan menggunakan sinar X.8
Foto rontgen untuk cedera pada tulang dibutuhkan minmal 2 foto rontgen dari posisi yang
berbeda untuk mengevaluasi secara baik dan tetap sehingga dapat memunculkan diagnosis yang
tepat. Untuk mengevaluasi
Gambar 5.dibagian bahu,normal
Foto rontgen dibutuhkan foto dari
dan fraktur sisi lateral dan9,10
acromioclavicular anteroposterior
(AP). Sisi AP diperoleh dengan lengan pasien berada di samping tubuh, dan jika perlu foto kedua
bahu sebagai perbandingan. Ada beberapa ahli orthopedi yang merekomendasikan posisi zanca
view, dimana posisi dimiringkan 10-15 dari pemancar sinar X. Lalu dari sisi lateral, juga
dibutuhkan untuk mendukung diagnosis apakah ada disposisi dari clavicula distal.
Jika foto dari sisi AP dan lateral masih belum memungkinkan untuk menegakkan diagnosis
selanjutnya bisa digunakan stress view. Stress view merupakan suatu teknik foto rontgen dengan
memberikan beban kepada pasien 10 15 lbs lalu diambil foto dari sisi AP. Dengan ini bila
ligamen coracoclavicular mengalami ruptur, akan terlihat jelas di foto rontgen. Namun
penggunaan stress view jarang direkomendasikan untuk kasus-kasus darurat karena pasien akan
merasakan sakit yang cukup berat.8
Pemeriksaan penunjang selanjutnya yang bisa digunakan adalah Magnetic Resonance
Imaging (MRI). MRI digunakan lebih teliti untuk mendeteksi ligamen-ligamen yang ada di
sekitar bagian yang dilakukan MRI. Namun, biasanya pemeriksaan MRI itu jarang digunakan
untuk kasus fraktur biasa kecuali akan dilakukan operasi lebih sehingga harus diketahui secara
detil. Selain untuk menegakkan diagnosis, MRI juga digunakan untuk mendeteksi apakah adanya
kerusakan pada labrum atau untuk medeteksi adanya osteomyelitis jika pasien mengeluh sakit
dalam jangka waktu yang lama.8
Dalam skenario ini, tidak dijelaskan apakah pasien telah melakukan pemeriksaan
penunjang seperti foto rontgen atau MRI. Sehingga tidak dapat dianalisis lebih jauh.
Working Diagnosis (WD)

14 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
Setelah mengumpulkan informasi yang cukup dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang maka yang dilakukan selanjutnya adalah menentukan diagnosis dari
informasi-informasi yang telah dikumpulkan.
Awalnya, pasien mengeluh nyeri pada bahu kanannya setelah ia terjatuh dari sepeda dan
pasien menahan badannya dengan tangannya. Ia mengeluh sakit semenjak 3 jam yang lalu.
Disini bisa disimpulkan bahwa pasien tidak menderita nyeri yang sangat dan tidak merasakan
apapun yang aneh dengan tangannya sehingga pasien tidak merasa perlu untuk segera datang
berobat. Dari pemeriksaan fisik, diketahui adanya edema pada regio clavicula dextra, nyeri tekan
positif, dan adanya krepitasi di daerah tersebut. Ini semua mengarah pada fraktur yang terjadi di
daerah clavicula dextra. Namun karena tidak adanya hasil pemeriksaan penunjang dan informasi
yang lebih mendetil tentang riwayat trauma pasien, sedikit sulit untuk menentukan WD dalam
kasus kali ini. Tidak dijelaskan posisi tangan pasien saat datang seperti apa, maka dianggap
bahwa posisi tangan pasien normal. Dengan informasi-informasi yang terkumpul disini maka
WD yang ditentukan adalah cedera pada sendi acromioclavicular.
Sendi acromioclavicular terletak diatas bahu, dimana acromion dan clavicula bertemu
sehingga membentuk sendi. Cedera pada sendi acromioclavicular juga bisa menyebabkan fraktur
di bagian distal clavicula dan processus acromion. Selain itu, juga dapat menyebabkan fraktur
pada kartilago di dalam sendi tersebut dan nantinya bisa menyebabkan arthritis di sendi
acromioclavicular. Cedera pada sendi acromioclavicular menjadi penyakit pertama bila pasien
mengeluh ada nyeri di bagian atas bahu. Biasanya, pasien akan merasakan adanya kelunakan
pada bahu dan adanya bengkak di bahu. Pasien yang menderita fraktur pada bagian ini jarang
melaporkan adanya popping pada saat terjatuh Cedera pada sendi acromioclavicular tidak hanya
disebabkan oleh spontaneous fracture tetapi juga bisa disebabkan oleh fatigue fracture misalnya
yang paling sering adalah atlit angkat beban karena sering beraktivitas yang berat menggunakan
sendi tersebut. Oleh karena sering digunakan, maka sendi tersebut menjadi lebih lemah dan
mudah mengalami fraktur.
Cedera pada sendi acromioclavicular dibagi menjadi III tipe dimana tipe I merupakan tipe
yang paling ringan dimana terjadi karena gaya yang sangat ringan juga sehingga ligamennya
hanya terluka sedikit dan menimbulkan hanya rasa nyeri, bahkan tidak melakukan aktifitas yang
berat pada sendi tersebut dalam hitungan hari sudah membaik. Tipe II merupakan tipe yang lebih
parah. Disebabkan oleh gaya yang lebih berat dari gaya yang dialami oleh tipe I sehingga

15 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
ligamen pada acromioclavicular menjadi ruptur. Gaya ini juga menyebabkan luka pada ligamen
coracoclavicular tetapi tidak sampai ruptur. Cedera tipe II menyebabkan lateral clavicula
menjadi lebih menonjol dan bisa teraba saat dilakukan palpasi. Tipe yang terakhir adalah tipe III
dimana gaya yang memberikan trauma cukup besar sehingga terjadi ruptur pada ligammen
acromioclavicular dan ligamen coracoclavicular. Ruptur dari kedua ligamen ini menyebabkan
deformitas pada bahu dan clavicula sangat menonjol dimana bisa dilihat tanpa melakukan
palpasi.11
Differential Diagnosis (DD)
Setelah menentukan diagnosis apa yang paling dekat dengan informasi yang didapatkan
dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan selanjutnya
adalah menentukan penyakit-penyakit lain apa lagi yang dekat dengan kasus pasien di skenario
ini untuk memastikan bahwa diagnosis yang ditegakkan tidak salah. Sehingga meminimalisir
penerapaan terapi yang dapat merugikan pasien.
Dalam kasus kali ini, harus ditentukan DD yang dekat dengan informasi yang didapat dari
pasien. Dari informasi yang didapatkan, dapat ditentukan beberapa DD yaitu dislokasi pada
bahu, shoulder impingement syndrome, dan supraspinatus tendonitis.
Dislokasi pada bahu bisa terjadi karena cedera traumatik atau lepasnya ligamen. Cedera
pada sendi acromioclavicular biasanya disalahartikan oleh orang-orang non medis sebagai
dislokasi bahu. Sebenarnya kedua ini berbeda, dislokasi pada bahu terjadi bila caput humerus
lepas dari tempatnya yaitu glenoid. Jadi perbedaan antara acromioclavicular dan dislokasi pada
bahu adalah tempat terjadinya fraktur. Kebanyakan jenis dari dislokasi bahu terjadi karena
cedera traumatik, oleh karena itu biasanya pasien seharusnya merasakan popping saat teradi
kecelakaan. Pasien dengan dislokasi bahu biasanya datang dengan posisi tangan adduksi dan
endorotasi (bila pasien menderita dislokasi bahu posterior) atau posisi tangan sedikit abduksi dan
eksorotasi (bila pasien menderita dislokasi bahu anterior). Umumnya, pasien dengan dislokasi
pada bahu, caput humerus bisa terasa jika di palpasi dengan hati-hati dan teliti.12
Dalam skenario ini tidak dicantumkan bahwa caput humerus bisa diraba saat pemeriksaan
fisik, dan juga tidak dikatakan posisi tangan dari pasien saat datang jadi dianggap posisi pasien
dalam keadaan normal. Dari sini bisa dikatakan bahwa dislokasi bahu bukan yang diderita oleh
pasien. Namun bila dilakukan pemeriksaan penunjang dengan menggunakan foto rontgen, lebih
dapat bisa dipastikan penyakit apa yang diderita oleh pasien.

16 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
Shoulder impingement syndrome merupakan suatu keadaan dimana tendon dari otot-otot
yang disebut oleh rotator cuff mengalami suatu tabrakan yang terjadi tepat di regio
anteroinferior dari acromion, biasa terjadi bila bahu dalam posisi fleksi ke depan dan endorotasi.
Shoulder impingement syndrome lebih biasanya menyerang orang-orang yang sudah tua karena
mempunyai penyebaran darah di bagian tersebut sudah mulai berkurang sehingga dikategorikan
sebagai fraktur patologis. Namun, penyakit ini juga bisa menyerang atlit-atlit yang sering
melakukan gerakan fleksi dan endorotasi dari bahu berulang-ulang seperti misalnya atlit renang.
Maka dari itu penyakit ini mempunyai nama lain swimmers shoulder sehingga juga bisa
dikategorikan sebagai fraktur stress. Pasien biasanya merasakan nyeri yang cukup tajam secara
tiba-tiba saat melakukan suatu aktifitas, nyeri yang tajam akan cepat hilang, namun bila
melakukan aktifitas yang membutuhkan kerja otot-otot bahu seperti mengangkat tangan akan
terasa sakit. Pasien kebanyakan mengeluh merasa nyeri di bagian posterior walaupun tidak selalu
terjadi di posterior. Pada pemeriksaan fisik, biasa teraba deformitas pada punggung pasien, ada
bagian yang lunak dibagian yang dikeluhkan dan juga terkadang adanya bengkak. Pemeriksaan
penunjang seperti foto rontgen dan khususnya MRI bisa membantu dalam pengakan
diagnosis.13,14
Ciri-ciri dari shoulder impingement syndrome sangat mirip dengan cedera pada sendi
acromioclavicular. Tidak ada kejelasan pemeriksaan penunjang dan ROM yang dilakukan oleh
pasien juga menjadi suatu faktor penyulit untuk menentukan diagnosis yang tepat. Namun,
shoulder impingement syndrome biasanya menyerang orang-orang diatas 40 tahun dan untuk
orang-orang dibawah 40 tahun biasanya terjadi karena riwayat stress fatigue yang tidak
dicantumkan dalam skenario sehingga dianggap pasien tidak mempunyai riwayat sebagai atlit.
Supraspinatus tendonitis merupakan DD selanjutnya. Supraspinatus tendonitis
penyebabnya sama seperti shoulder impingement syndrome namun menyerang bagian yang
berbeda. Bila shoulder impingement syndrome bagian yang terkena trauma adalah otot, namun
bila supraspinatus tendonitis bagian yang terkena trauma adalah tendon dari salah satu atau lebih
otot-otot rotator cuff.
Etiologi
Mekanisme yang paling sering terjadi dalam kasus cedera pada sendi acromioclavicular
adalah trauma tepat pada acromion karena jatuh dengan posisi tangan adduksi sambil menahan
badannya. Selain jatuh dalam posisi seperti itu, Fall onto an Outstretched Hand (FOOSH) injury

17 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
juga bisa menjadi penyebab terjadinya cedera pada sendi acromioclavicular. Jatuh secara
FOOSH ini contohnya adalah jatuh ke posisi tangan yang sedang terulur atau sebuah gaya yang
menekan ke arah bawah terkena bagian atas dari bahu sehingga mengakibatkan cedera pada
sendi acromioclavicular.5,11
Epidemiologi
Tercatat di Amerika bahwa prosentase cedera pada sendi acromioclavicular merupakan
cedera yang paling sering dialami oleh pasien-pasien yang mengeluh nyeri pada bahu kanan
atasnya. Pasien-pasien ini kebanyakan dari kalangan atlit yang mempunyai fatigue fracture lebih
besar daripada kalangan-kalangan lainnya. Sekitar 85,4 % dari pasien yang menderita
acromioclavicular adalah pria. Mungkin ini dikarenakan pria mempunyai aktifitas yang lebih
berat dari wanita.11
Patofisiologi
Saat seseorang jatuh dengan lengan adduksi dan menahan badan, sebuah gaya yang
disebabkan oleh momentum ini menyebabkan bahu tertekan ke arah bawah. Clavicula tetap
berada di posisi anatomi yang tepat, disaat bahu tertekan ke bawah, ini menyebabkan ligamen-
ligamen yang berada di sendi-sendi yang ada di bahu menjadi terkilir dan untuk kasus yang lebih
parah bahkan bisa menyebabkan putusnya sendi.
Penatalaksanaan
Cedera pada sendi acromioclavicular tipe I dan II biasanya hanya melalui terapi non-
operatif. Sebelum memasuki pembahasan lebih mendalam tentang terapi yang akan dilakukan,
sebelumnya harus mencapai pengertian tentang tujuan utama dari terapi yaitu mengembalikan
aktifitas kembali ke tingkat sebelum cedera.
Cedera tipe I merupakan cedera paling ringan, biasanya pasien tidak membutuhkan sling.
Namun jika pasien merasakan nyeri dan tidak nyaman terhadap bahunya bisa diberikan sling.
Fase awal dari terapi merupakan pengembalian mobilitas pasien yang dibedakan menjadi
gerakan pasif dan aktif. Terapi ini dilakukan dengan melakukan adduksi sejauh-jauhnya,
endorotasi dari bahu dan juga elevasi setingi-tingginya secara pasif. Terapis harus menggerakkan
secara perlahan untuk mengetahui batasan-batasan pasien. Bila sudah membaik maka melakukan
aktifitas yang sama tetapi secara aktif. Fase kedua adalah fase pengembalian tenaga dimana
digunakan teknik closed-chain scapular exersises. Disini pasien diharapkan melakukan beberapa

18 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
aktifitas dengan tahan yang tetap menempel pada suatu alas. Seperti contohnya adalah protaction
dan retraction againts the wall.
Cedera tipe II untuk fase awal sama seperti cedera tipe I tetapi kali ini pasien harus
diberikan sling dan saat menjalani terapi, terapis harus benar-benar memperhatian titik nyeri
pasien karena bisa berlanjut menjadi inflamasi bahkan atrofi. Untuk fase selanjutnya juga
melakukan closed-chain scapular exercises dengan intensitas yang lebih ringan namun dengan
banyak tipe latihan seperti scapular clock, 3 level rowing, horizontal abduction with external
rotation, horizontal extension, dan khusus untuk atlit yang memerlukan sendi tersebut dalam
karirnya, dapat disuruh untuk mencoba untuk berpantonim gerakan tersebut.15
Operasi biasa tidak diperlukan, tetapi bila terjadi artritis, seperti yang biasanya terjadi pada
cedera tipe III, ini diperlukan operasi. Operasi juga dilakukan bila pasien datang dengan luka
terbuka, cedera di bagian neurovascular atau bila tulang yang terlalu menekan kulit sehingga
bisa merusak kulit dari dalam. Prosedur dari operasi ini adalah rekonstruksi dari ligamen
coracoclavicular dengan jaringan lokal ataupun secara allograft.14
Penatalaksanaan secara medika mentosa biasanya jarang dilakukan. Dalam beberapa kasus
jika cedera pada sendi acromioclavicular menyebabkan inflamasi maka baru dibutuhkan obat
untuk mencegah inflamasi tersebut semakin parah. Obat-obat anti-inlamasi seperti Nonsteroidal
Anti-Inflamatory Drugs (NSAIDs) menjadi pilihan. NSAIDs menjadi pilihan karena
mengandung anti-inflamasi dan sekaligus analgesik untuk pasien. Ibuprofen merupakan obat
pilihan utama untuk pasien yang membutuhkan NSAIDs karena mempunyai efek paling baik dan
menimbulkan efek samping yang kecil. Ibuprofen bekerja dengan menginhibisi reaksi inflamasi
dan mengurangi sakit dengan mengurangi produksi dari hormon prostaglandin. Diberikan
dengan dosis 400-800 mg dengan jangka waktu 6-8 jam sekali minum. Perlu diingat bahwa batas
ibuprofen adalah 3.2 gr/hari. NSAIDs lain yang digunakan misalnya naproxen, ketoprofen, dan
diklofenak. indometasin paling jarang digunakan karena punya efek samping yang banyak.15
Prognosis
Prognosis dari cedera pada sendi acromioclavicular sangat baik untuk pasien yang
menderita tipe I dan tipe II serta pasien yang masih berumur 18 tahun kebawah karena proses
penyembuhan akan sangat cepat dan jarang membutuhkan perhatian yang lebih. Berbeda dengan
pasien yang sudah diatas umur 40 tahun khususnya pasien geriatri. Proses penyembuhan akan

19 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
sangat lama dan bahkan bisa menimbulkan atrofi otot. Namun dengan terapi dan penanganan
yang baik maka cedera pada sendi acromioclavicular seharusnya tidak menjadi masalah.15
Pencegahan
Pencegahan untuk kasus fraktur, sprain, dan cedera lainnya ini berhubungan dengan
bagaimana seseorang bisa mengondisikan otot, tulang dan ligamennya supaya aktifitas yang
dijalankan tidak menimbulkan cedera. Pencegahan terbaik untuk atlit adalah selalu melakukan
pemanasan sebelum melakukan aktifitas. Pemanasan yang baik dan efektif bisa mengurangi
resiko terjadinya cedera, khususnya dalam olahraga yang membutuhkan kontak fisik yang berat.
Dalam skenario ini yang terjadi adalah kecelakaan seperti kita ketahui, kecelakaan tidak
bisa kita prediksi atau kita rencanakan sebelumnya. Maka pencegahan terbaik untuk skenario ini
adalah lebih berhati-hati dan lebih peka terhadap keadaan disekitar kita, sehingga resiko
terjadinya kecelakaan diharapkan dapat berkurang.

Kesimpulan
Dari hasil anamnesis diketahui bahwa pasien menderita bahu pada bahu kanan atasnya.
Pasien terjatuh dari sepeda dengan posisi tangannya menahan badannya. Tidak dicantumkan
tentang posisi tangan pasien saat datang dan juga tidak dijelaskan bahwa pasien mempunyai
riwayat penyakit apapun yang dapat menambah resiko terjadinya fraktur dan juga tidak
dijelaskan tentang riwayat pasien yang memungkinkan terjadinya stress fracture.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan bahwa adanya edema yang terjadi di bahu kanan
pasien menandakan adanya inflamasi. Lalu hasil palpasi juga menemukan bahwa pasien merasa
nyeri dan adanya krepitasi namun tidak dijelaskan pada skenario adanya bagian yang lebih
menonjol atau menunjukkan tanda-tanda deformitas. Pada kasus ini tidak dijelaskan secara pasti
ROM yang bisa dilakukan oleh pasien ataupun keterbatasan pasien dalam melakukan beberapa
gerakan.
Pemeriksaan penunjang bisa digunakan foto rontgen yang harus diambil dari dua sisi
berbeda yaitu dari posisi AP dan posisi lateral. Foto rontgen juga bisa menggunakan teknik
Stress view yang merupakan suatu teknik foto rontgen dengan memberikan beban kepada pasien
10 15 lbs lalu diambil foto dari sisi AP sehingga bila adanya ruptur ligamen bisa terlihat
dengan jelas. MRI juga bisa dilakukan tetapi sangat jarang dipakai. MRI digunakan hanya jika

20 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
dirasa sangat perlu untuk melihat inflamasi, ruptur ligamen, atau pasien akan menjalankan
operasi. Dalam kasus ini tidak diberikan hasil apapun untuk memenuhi pemeriiksaan penunjang.
Dari anamnesis, PF, dan PP dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis sebelumnya yaitu
anak berusia 10 tahun menderita dislokasi pada bahu, adalah suatu hipotesis yang salah karena
berdasarkan informasi yang dikumpulkan resiko pasien terkena cedera pada sendi
acromioclavicular lebih tinggi dibandingkan dengan dislokasi bahu.
Daftar Pustaka
1. Downloaded from: http://www.eorthopod.com/content/rotator-cuff-tear-arthropathy , 15
Mei 2014
2. Nord M and Victor FH. Basic biomechanic of the musculoskeletal system. London: Lea
and Febriger Philadelphia, 2005. h. 225-234.
3. Downloaded from: http://www.britannica.com/EBchecked/media/119225/Muscles-of-
the-shoulder, 15 Mei 2014
4. Chairuddin R. pengantar ilmu bedah ortopedi (edisi ke-3), Jakarta: PT.Yarsif Watampone
(Anggota IKAPI), 2007.
5. Hudson VJ. Evaluation, diagnosis, and treatment of shoulder injuries in athletes. Clin
Sports Med. Jan 2010;29(1):19-32
6. Macdonald PB, Lapointe P. Acromioclavicular and sternoclavicular joint injuries.
Orhtop Clin North Am. Oct 2008;39(4):535-45
7. Spiegel, Peter K. The first clinical x-ray made in America100 years. American Journal
of Roentgenology (Leesburg, VA: American Roentgen Ray Society) 164 (1): 241243.
8. Nemec U, Oberleitner G, Nemec SF, Gruber M, Weber M, Czerny C, et al. MRI versus
radiography of acromioclavicular joint dislocation. AJR AM J Roentgenol. Oct
2011;197(4):968-73.
9. Downloaded from : http://www.imaios.com/en/Media/Images/e-anatomy/Upper-limb-cr-
radiography/shoulder-radiogram-radiography-ap-view-anatomy-en , 15 Mei 2014
10. Downloaded from: http://thesportsphysio.wordpress.com/2013/08/20/shoulder-
instability-part-2-trauma/ , 15 Mei 2014
11. Rockwood CA, Green DP, eds. Injuries to the acromioclavicular joint. Fractures in
Adults. Philadelphia, Pa: JB Lippincott;1984:860-91

21 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2
12. Dodson CC, Cordasco FA. Anterior glenohumeral joint dislocations. Orthop Clin North
Am. Oct 2008;39(4):507-18
13. Alqunaee M, Galvin R, Fahley T. Diagnostic accuracy of clinical tests for subacromial
impingement syndrome: a systematic review and meta-analysis. Arch Phys Med Rehabil.
Feb 2012;93(2):229-36
14. Dorrestijn O, Stevens M, Winters JC, van der Meer K, Diercks RL. Conservative or
surgical treatment for subacromial impingement syndrome? A systematic review. J
Shoulder Elbow Surg. Jul-Aug 2009;18(4):652-60
15. Gladstone J, Wilk K, Andrews J. Nonoperative treatment of acromioclavicular joint
injuries. Oper Tech Sports Med 1997;5:7887.

22 | M u s c u l o s k e l e t a l - 2