Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

Konsepsi Kepemimpinan Islam Dalam


kehidupan sosial

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Intermediate Training


HMI Cabang Jeneponto

DISUSUN OLEH:

MUHAMMAD FARID

HMI
CABANG MAKASSAR TIMUR
Komisariat Teknik Universitas Hasanuddin

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirahim.

Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang


masih memberikan nafas kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan
pembuatanmakalah dengan judul Konsep Kepemimpinan Islam Dalam
Mengatasi Krisis Kepemimpinan Di Indonesia dengan tepat waktu. Tidak lupa
shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang
merupakan inspirator terbesar dalam segala keteladanannya.

Akhir kalimat penulis sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap


makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya. Tak ada gading yang tak retak, begitulah
adanya makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif
sangat penulis harapkan dari para pembaca

Makassar, 25 Agustus 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul 1

Kata Pengantar 2

Daftar Isi . 3

Bab I Pendahuluan .. 4

Latar Belakang 5

1.1 Rumusan Masalah . 5


1.2 Tujuan penulisan ... 5
1.3 Manfaat Penulisn ... 6

Bab II Pembahasan .. 7

2.1 Definisi Pemimpin . 7

2.2 Manusia Sebagai Entitas Pemimpin .. 8

2.3 Kepemimpinan Islam . 9

2.4 Prinsip Kepemimpinan Islam .... 13

2.5 Imam Ali r.a Sebagai Contoh kepemimpinan Islam .. 15

2.6 Pemimpin Islam Namun Tidak Islami ... 17

2.7 Kepemimpinan Islam di Indonesia 18

Bab III Penutup 20

3.1 Kesimpulan 20

3.2 Saran .. 20

Daftar Isi .. 21

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Salah satu hal yang tidak bisa dihindari oleh manusia yang hidup di muka bumi ini
adalah kepemimpinan. Sebagainama sabda Nabi Muhammad Saw dalam salah satu haditsnya
yang sangat populer, yaitu : Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan setiap dari kamu akan
dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya Pelajaran yang dapat diambil dari
hadits tersebut adalah bahwa setiap diri manusia secara tidak tidak disadari telah menjadi
seorang pemimpin, ialah pemimpin bagi dirinya sendiri. Krisis kepemimpinan di Indonesia
sekarang merata, nyaris menyentuh hampir semua lembaga negara, bahkan juga lembaga-
lembaga masyarakat yang relatif otonom terhadap negara. Jadi tidak hanya menyangkut
lembaga kepresidenan. Indikasinya, kita kesulitan menemukan sosok pemimpin yang
berkarakter ideal yaitu efektif, dapat dipercaya, dan bisa menjadi sosok yang patut diteladani.

Seperti ada pemimpin lembaga pemantau korupsi yang justru korup, ada pemimpin lembaga
penyedia pangan yang justru menilep makanan rakyat, ada pemimpin agama yang justeru
menginjak-injak nilai-nilai luhur agama, ada pejabat kepolisian yang justru ditangkap
lantaran korup dan sebagainya.

Ini artinya, nyaris semua pemimpin di semua lini hanya mengedepankan cara berpikir
rasional subyektif atau rasional instrumental. Karena rata-rata mereka terbukti hanya
mengedepankan kepentingan pribadinya atau sekadar menjadi alat dari hasrat subyektifnya
sendiri, keluarga, atau kelompoknya.

Padahal, sosok pemimpin mestinya harus mengedepankan kepentingan mereka yang


dipimpin; berwatak altruistik, dengan menempatkan kepentingan diri, keluarga, atau
kelompoknya di bawah kepentingan publik yang lebih luas. Pemimpin idealnya bukan berdiri
di atas rakyat atau sejajar dengan rakyat, tetapi pantasnya mengabdikan diri di bawah
kepentingan rakyat.

Kita jadi terenyuh jika menyimak pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengimbau warga
agar tetap tenang menghadapi rupiah yang terdepresiasi cukup dalam terhadap dolar AS,
ternyata belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat.

Bukankah ini pertanda krisis kepemimpinan di negeri ini? Mengapa presiden bisa berkata
demikian? Ini merupakan ungkapan presiden yang tampaknya sudah mengetahui kondisi
kepemimpinan di sejumlah kementerian maupun lembaga negara (K/L) yang kurang kondusif
saat ini. Lihat saja sejumlah pimpinan K/L bersikap hedonistis, pragmatis, materialistis, dan
egoistis terhadap kesusahan masyarakat. Apakah gaya yang seperti ini yang diterapkan oleh
pemimpin kita terdahulu ?.Adanya fakta beberapa sungai di Jakarta yang sudah 5 tahun
ternyata tidak dikeruk sehingga terjadi pendangkalan, merupakan potret birokrasi baik di
pusat maupun daerah dalam kondisi sakit yang akut.

Akibatnya, posisi pemimpin atau jabatan publik pun kerap diincar sekadar sebagai batu
loncatan untuk kaya dan berkuasa. Walhasil, lembaga publik yang potensial dijadikan lahan
korupsi justru dianggap sebagai lahan basah yang diperebutkan banyak orang. Sosok
pemimpin amanah dan sederhana seperti Jenderal Sudirman, Bung Karno, Bung Hatta,
Syahrir, Natsir, atau Hoegeng, menjadi makhluk yang amat langka di negeri kita sekarang ini.
Kekayaan dan kemewahan serta keserakahan seolah menjadi seragam wajib bagi para
pemimpin masa kini. Sementara pada saat yang sama, rakyat seolah sah-sah saja dibiarkan
menjadi makhluk yang sengsara dan melarat akibat penderitaan, apalagi setelah diterjang
bencana banjir.

Ironisnya, sistem ekonomi neoliberal yang diakui atau tidak oleh kita, sekarang justru kian
memperparah iklim yang tidak kondusif bagi munculnya kader pemimpin yang ideal tersebut.
Kini saatnya semua pihak yang peduli harus berani melawan arus dengan menyerukan
gerakan hidup sederhana, jujur, dan mandiri.

1.2 Rumusan Masalah

Seorang pemimpin tidak dapat terlepas dari persoalan social, baik itu dengan dirinya,
keluarga maupun masyarakat. Kehidupan social tersebut selanjutnya perlu untuk kita tinjau
berdasarkan acuan yang ideal menurut pandangan agama, sehingga tidak tersesat. Karena itu
disusunlah rumusan masalah Bagaimana kehidupan social yang ideal dari seorang pemimpin
sesuai dengan ajaran islam dalam mempengaruhi masyarakat ?
.
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Memberikan pengetahuan dan perbandingan mengenai konsep
kehidupan social dari sosok pemimpinan Islam dengan realita sekarang.

1.3.2 Tujuan Khusus


Makalah ini dibuat sebagai salah satu syarat penulis untuk mengikuti
intermediate training HmI cabang Jeneponto
1.4 Manfaat Penulisan
1. Memberi Pengetahuan baru kepada pembaca mengenai konsep Kehidupan
social pemimpinan Islam.
2. Memberi cakrawala baru mengenai krisis kepemimpinan di Indonesia dan
solusinya.

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 GAYA HIDUP PEMIMPN ISLAM

Sebelum lebih jauh membahas tentang bagaimana kepemimpina dalam


konteks islam, mari kita terlebih dahulu melihat pendapat para ahli mengenai
definisi pemimpin itu sendiri. Ahmad Rusli dalam kertas kerjanya Pemimpin
dalam Kepemimpinan Pendidikan (1999). Menyatakan pemimpin adalah individu
manusia yang diamanahkan memimpin subordinat (pengikutnya) ke arah
mencapai matlamat yang ditetapkan.

Sedangkan menurut Kenry Pratt Fairchild dal am Dictionary of Sociologi


and Related Sciences. Pemimpin dapat dibedakan dalam dua arti. Pertama yaitu
pemimpin dalam arti luas, seorang yang memimpin dengan cara mengambil
inisiatif tingkah laku masyarakat secara mengarahkan, mengorganisir atau
mengawasi usaha-usaha orang lain baik atas dasar prestasi, kekuasaan atau
kedudukan. Kedua ialah pemimpin dalam arti sempit, seseorang yang memimpin
dengan alat-alat yang menyakinkan, sehingga para pengikut menerimanya secara
suka rela.

Tidak jauh berbeda dengan definisi di atas, pemimpin dalam konteks


Pancasila harus memiliki sikap untuk dapat mendorong, menuntun dan
membimbing asuhannya kepada tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga dalam
Pancasila muncul asas kepemimpinan yaitu:

Ing Ngarsa Sung Tuladha, yaitu pemimpin harus dapat menjadi panutan
bagi seluruh bawahannya. Sehingga perbuatan ataupun sikap yang
dikeluarkan oleh seorang pemimpin akan menjadi pola yang akan diikuti
oleh para pengikutnya.
Ing Madya Mangun Karsa, yaitu pemimpin harus memiliki kemampuan
untuk membangkitkan semangat para pengikutnya. Sehingga para
pengikutnya dapat mengeluarkan segala potensi terbaiknya demi
tercapainya tujuan yang diinginkan.

7
Tut Wuri Handayani, yaitu pemimpin dapat mendorong para asuhan atau
pengikutnya untuk melangkah jauh kedepan dan bertanggung jawab atas
segala tindakan atapun perbuatan yang telah dilakukannya.

Ada sangat banyak definisi kepemimpinan, tapi secara mendasar


pemimpin adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain. Definisi ini
sangatlah luas, di dalamnya termasuk bermacam-macam perilau yang diperlukan
untuk mempengaruhi orang lain. Sebagian pandangan memandang pemimpin
adalah sumber pengaruh. Pemimpin pada dasarnya mempengaruhi dan pengikut
atau asuhannya sebagai pihak yang dipengaruhi.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa definisi pemimpian


ialah seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain
ataupun kelompok, kemampuan untuk membentuk tingkah laku atau perbuatan
bawahannya, serta memiliki kemampuan khusus dalam hal yang menjadi tujuan
kelompok ataupun organisasi. Sehingga tujuan dari kelompok atau organisasi
tersebut dapat terealisasi.

2.2 MANUSIA SEBAGAI ENTITAS PEMIMPIN

Setelah mengetahui definisi dari pemimpin, selanjutnya kita harus paham


akan entitas dari pemimpin itu sendiri. Dalm kamus besar bahasa Indonesia entitas
diartikan sebagai satuan yang berwujud. Entitas adalah sesuatu yang memiliki
keberadaan yang unik dan berbeda, walaupun tidak harus dalam bentuk fisik. Dari
sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa entitas dari pemimpin ialah manusia.
Sehingga seorang pemimpin tidak bias dilepaskan dari nsifas aslinya sebagai
manusia itu sendiri.

Manusia menurut Aristoteles adalah hewan yang memiliki akal. Pada


hakikatntnya manusia memiliki banyak kesamaan dengan dengan makhluk
binatanng. Namun, pada saat yang bersamaan manusia juga memiliki serangkaian
cirri yang membedakan dirinya dengan binatang lainnya. Ciri innilah yang
nantinya akan menempatkan manusia lebih unggul dibandingkan dengan binatang.

Dalam buku Falsafah Agama dan Kemanusiaan karya Murtadha


Muthahhari dijelaskan bahwa manusia memiliki beberapa ciri utama yang menjadi
dasar untuk membedakan dirinya dengan makhluk lainnya. Ciri tersebut

8
nantinya akan menentukan sifat manusiawi manusia itu sendiri.Ciri inilah yang
nantinya menjadi sumber dari apa yang disebut peradaban manusia.

Seperti halnya binatang yang memiliki keinginan dan tujuan, manusia juga
memiliki hal tersebut. Dengan bekal pengetahuan serta pengertiannya maka
manusia bersusah payah untuk mewujudkan keinginannya itu. Manusia berbeda
dengan makhluk lainnya. Apa bedanya? Perbedaannya ialah manusia lebih tau,
lebih paham serta lebih tinggi tingkat keinginannya untuk mencapai sebuah
tujuan. Hal inilah yang menjadi cirri khusus dari manusia yang membedakannya
dengan makhluk lainnya serta menjadikan manusia lebih unggul daripada
binatang lainnya.

Singkatnya manusia dan binatang sama-sama memiliki akal serta hafa


nafsu. Bedanya ialah manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan
potensinya tersebut baik kearah yang baik sehingga melebihi hewan ataupun
kearah yang buruk sehingga lebih rendah daripada hewan.

Jadi kita tidak dapat menafikan ciri manusia ini dari seorang pemimpin
karena pada dasarnya pemimpin adalah manusia yang memiliki akal dan hawa
nafsu. Potensi akal inilah yang apabila dikembangkan oleh seorang pemimpin
akan memunculkan sebuah peradaban yang besar dan maju. Namun tidak jarang
seorang pemimpin lebih mengedepankan hawa nafsunya dibanding akal sehingga
memunculkan peradaban yang rusak ataupun menghancurkan peraqdaban yang
telah lama berdiri.

Oleh karena itu pemimpin sebagai seseorang yang akan diikuti oleh para
asuhan atau bawahannya harus memiliki sikap dan perbuatan yang baik. Selalu
mengedepankan akal sehat dan tidak tunduk pada hawa nafsunya. Karena itu
pemimpin sebagai pemegang kekuasaan yang memiliki akses lebih untuk
memajukan sebuah peradaban harus berhati-hati dalam bersikap serta selalu
mengambil sebuah tindakan dengan melihat akibat dari tindakannya tersebut.

2.3 KEPEMIMPINAN ISLAM

Islam sering disalahpahami, khususnya dengan diidentikkan dengan


Muslim. Padahal Islam dan Muslim adalah dua istilah yang berbeda. Islam adalah
agama. Muslim adalah pemeluknya. Islam sering diidentikkan dengan perilaku
kaum Muslim atau umat Islam. Padahal, sebagaimana perilaku penganut agama

9
lainnya, perilaku seorang Muslim belum tentu mencerminkan ajaran atau syariat
Islam.

Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi


Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup
seluruh manusia hingga akhir zaman. Islam ("berserah diri kepada Tuhan") adalah
agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah SWT.

Pengertian islam secara harfiyah adalah keselamatan. Dari pengertian tersebut dapat
diambil kesimpulan bahwa islam merupakan agama yang akan menyelamatkan kita baik itu di
dunia maupun di akhirat. Islam juga agama yang mengajarkan umatnya atau pemeluknya (kaum
Muslim/umat Islam) untuk menebarkan keselamatan dan kedamaian, antara lain tercermin dalam
bacaan shalat --sebagai ibadah utama-- yakni ucapan doa keselamatan "Assalamu'alaikum

warohmatullah" ( ) --semoga keselamatan dan kasih sayang


Allah dilimpahkan kepadamu-- sebagai penutup shalat.

Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa islam bukan hanya agama
yang mengatur kehidupan dalam beragama di dunia. Islam juga mengatur
kehidupan sehari-hari. Begitupula dengan masalah kepemimpinan. Masalah ini
juga telah diajarkan baik itu secara tekstual melalui Al-Quran maupun secara
kontekstual melalui Nabi Muhammad saw.

Pemimpin islam seperti apakah yang pantas memimpin untuk saat ini?
Atau bagaimanakah pemimpin yang dimaksud dalam islam. Pemimpin islam di
zaman millennia ini telah tertuang dalam firman Allah swt dalam surat An Nuur
(24) ayat 55 yang artinya:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara


kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-
sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana
Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-
Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,
sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap
menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan
Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka
itulah orang-orang yang fasik.
10
Perbedaan atara pengkhianat adalah bahwa pemimpin kepahlawanan
memiliki keterampilan yang hebat dalam berkomunikasi dan berhubungan dengan
satu sama lain. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat At Tahriim (66) ayat 6
yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari


api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.

Ayat diatas memberi tuntunan kepada kaum beriman bahwa : Hai orang-
orang yang beriman, peliharalah diri kamu, antara lain dengan meneladani Nabi
dan pelihara juga keluarga kamu yakni istri, anak-anak, dan seluruh yang berada
di bawah tanggung jawab kamu dengan mendidik dan membimbing mereka agar
kamu semua terhindar dari apineraka

Selain secara tekstual melalui Al-Quran kepemimpinan dalam islam juga


secara kontekstual terlihat dari diri Nabi Muhammad saw. Oleh karenanya
kepemimpinan seseorang haruslah berdasarkan sifat-sifat Nabi Muhammad saw.
Adapun Nabi Muhammad saw, yang merupakan manusia pilihan yang dikaruniai
sifat-sifat khusus. Sifat-sifat yang dikaruniakan Allah swt. kepada Rasul-Nya
sebagai berikut :

Siddiq
Siddiq berarti jujur. Nabi dan rasul utusan Allah swt. merupakan manusia
yang jujur. Mereka menyampaikan apa yang diwahyukan oleh Allah swt.
kepada umatnya. Tidak ada syariat yang disembunyikan atau tidak
disampaikan kepada umatnya.
Amanah
Amanah berarti dapat dipercaya. Nabi dan rasul memiliki sifat amanah.
Oleh karena nabi dan rasul memiliki sifat jujur, mereka dapat dipercaya.
Kejujuran yang dimiliki oleh nabi dan rasul menyebabkan mereka
dipercaya. Mereka menjaga dan melaksanakan amanah yang diterima
kapan dan di mana pun berada. Seperti yang tertuang dalam surat Al-Hajj
ayat 41 yang artinya:
11
(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka
di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari
perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala
urusan.
Tablig
Rasul Allah swt. dikaruniai sifat tablig yang berarti menyampaikan. Apa
yang diterima dari Allah swt. disampaikan kepada umatnya. Rasul tidak
mengurangi sedikit pun perintah yang diterima dari Allah swt.
Fatanah
Rasul Allah swt. memiliki sifat fatanah yang berarti cerdas. Dalam
menjalankan dakwah rasul sering menemui halangan dan rintangan.
Halangan dan rintangan harus dihadapi dan dicarikan jalan keluarnya.
Diperlukan kecerdasan dan kejernihan pikiran agar dapat keluar dari
tantangan yang dihadapi. Oleh karena itu, Allah swt. mengaruniai nabi dan
rasul-Nya sifat fatanah.

Itulah sifat Rasulullah saw yang harus dimiliki oleh para pemimpin. Para
pemimpin haruslah jujur, dapat dipercaya, menyampaikan segala sesuatu dan juga
cerdas.
Rasulullah pernah bersabda bahwa pemimpin suatu kelompok adalah
pelayan dari kelompok tersebut. Sehingga sebagai pemimpin hendaklah dapat
melayani serta memajukan orang lain dengan ikhlas. Beberapa ciri penting yang
digambarkan dalam kepemimpinan islam selain sifat-sifat Rasulullah yang telah
dipaparkan diatas ialah;
1. Setia
Pemimpin dan yang dipimpin haruslah terikat Kesetiaan kepada Allah swt.
2. Terikat pada tujuan
Seoarang pemimpin yang telah diberi amanah tidak hanya melihat
kepentingan kelompok tetapi juga tujuan islam yang lebih luas.
3. Tidak Sombong
Pemimpin harus memiliki kesadaran bahwa dirinya hanyalah makhluk
kecil dan yang Maha besar hanyalah Allah swt.
4. Disiplin, Konsisten dan konsekuen

12
Disiplin, konsisten dan konsekuen merupakan perwujudan dari seorang
pemimpin yang professional yang memegang teguh janji, ucapan dan
perbuatan yang dilakukan karena memiliki kesadaran bahwa Allah maha
mengetahui.

Seperti yang dijelaskan diawal bahwa kepemimpinan pada dasaranya


mengacu pada suatu proses untuk menggerakkan sekelompok orang menuju suatu
tujuan yang telah ditetapkan atau disepakati bersama dengan mendorong atau
memotivasi mereka untuk bertindak dengan cara yang tidak memaks'a. Dengan
meneladani sifat Rasulullah saw dan bepegang teguh pada Al-Quraan maka
pemimpin dapat mengatur serta menjadi teladan bagi para pengikutnya.

2.4 PRINSIP KEPEMIMPINAN ISLAM

Prinsip kepemimpinan menurut islam yaitu adil, musyawarah dan


kebebasan berpikir.

1. Adil
Pemimpin sudah sepatutnya berlaku adil terhadap siapapun. Tidak tebang
pilih dalam mengambil sebuah keputusan. Sebagaimana diperintahkan
dalam Al-Quran bahwa seorang muslim harus berlaku adil bahkan ketika
berhadapan dengan penentang mereka. Seperti yang telah difirmankan
Allah swt dalam surat An-Nisa ayat 58 yang artinya:
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan
dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang
sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.

Ataupun dalam surat Al Maidah ayat 8 yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang


yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi
dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap
sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan
bertakwalah

13
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.

2. Musyawarah
Mengutamakan musyawarah adalah salah satu prinsip dalam
kepemimpinan islam. Al Quran jelas mengatakan pemimpin wajib
bermusyawarah dengan orang yang berpengetahuan baik dan
berpandangan lurus. Seperti pada surat Asy syuura ayat 38yang artinya:
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan
Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka
menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada
mereka.

Melalui musyawarah dapat melibatkan seluruh elemen dalam pengambilan


keputusan. Selain itu musyawarah juga dapat menjadi tempat untuk
mengawasi para pemimpin sehingga pemimpin tidak melakukan kekliruan
atau perbuatan yang tidak sepantasnya.

3. Kebebasan berpikir
Allah swt berfirman dalam surat al-baqarah ayat 260 yang artinya:
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku,
perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan
orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?"
Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar
hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau
demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya
olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu
bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah
mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan
ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memberikan kebebasan


berpikir bagi para anggotanya ataupun para pengikutnya. Sehingga para
pengikutnya itu dapat memberikan massukan, saran, serta kritik yang
mebangun utntuk pemimpinnya tersebut.

14
2.5 IMAM ALI R.A SEBAGAI CONTOH KEPEMIMPINAN ISLAM

Pemimpin kaum muslimin atau biasa yang disebut khalifah adalah orang
yang memimpin seluruh kaum muslim diberbagai tempat. Salah satu khalifah
terbaik setelah wafatnya Nabi Muhammad saw adalah Ali bin Abi Thalib.
Walaupun diakhir kepemimpinannya beliau harus wafat dengan cara dibunuh oleh
musush politiknya.

Ali bin Abi Thalib adalah sepupu sekaligus menantu dari nabi Muhammad
SAW, beliau merupakan Khalifah ke-4 setelah Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Ali
menikah dengan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW yang sangat disayangi
nabi SAW.

Kekhalifaan Imam Ali adalah salah satu yang terberat dibanding khalifah-
khalifah sebelumnya. Bagaimana tidak pasca dibaiat sebagai khalifah, berbagai
macam masalah muncul sampai akhirnya dizaman kekhalifaannya juga terjadi
perang saudara. Mulai dari perang jamal hingga perang siffin.

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, ada banyak
sekali terjadi fitnah. Seharusnya fitnah tersebut menjadi pelajaran bagi umat Islam
untuk mengambil hikmah demi menjaga persatuan umat. Ditengah-tengah
egoisme kepentingan pribadi maupun kelompok. Berbeda dengan tiga khalifah
sebelumnya yang mendapatkan suara bulat dari dewan syura. Di baiatnya Ali bin
Abi Thalib sebagai khalifah tanpa adanya suara utuh, bahkan di dalam kota
Madinah sendiri sekalipun.

Namun dibalik itu semua banyak keteladanan Imam Ali sebagai pemimpin
yang mencerminkan kepemimpinan Islam. Imam Ali tidak pernah memberikan
perlakuan istimewa ke-pada seorang karena keturunan, kedudukan atau
kekayaannya. Ia selalu memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang,
kaya atau miskin, orang yang berpangkat ataupun rakyat jelata. Itulah antara lain
yang menjadi sebab mengapa setelah ia menjadi Khalifah, dijauhi oleh kepala-
kepala qabilah dan tokoh-tokoh masya-rakat yang berambisi dan hendak
mendahulukan kepentingan pri-badi atau golongan.

Tentang mengapa Imam Ali r.a. sampai ditinggal oleh para pengikut dan
pendukungnya, Al-Madainiy dalam riwayat yang di-tulisnya, antara lain
mengemukakan, bahwa Al-Asytar pernah berkata kepada Innam Ali r.a.: Anda

15
bertindak adil, baik ter-hadap mereka yang mempunyai kedudukan terhormat
maupun mereka yang tidak mempunyai kedudukan. Di hadapan anda orang-orang
yang terhormat itu tidak memperoleh perlakuan istimewa atau lebih dari
perlakuan yang anda berikan kepada orang biasa. Akhirnya ada kelompok
pengikut yang ribut dan he-boh kalau keadilan dan kebenaran diterapkan atas diri
mereka. Mereka sakit hati kalau pemerataan keadilan diterapkan atas diri mereka.
Mereka lalu membanding-bandingkan betapa enaknya per-lakuan Muawiyah
terhadap orang-orang kaya dan terkemuka Mereka lebih senang membeli
kebatilan dengan kebenaran dan tergiur oleh kesenangan duniawi.

Setelah mendengar baik-baik ucapan Al Asytar, dengan tenang rmam Ali


r.a. berkata: Apa yang kau katakan mengenai perilaku dan keadilanku, bukankah
Allah Azza wa Jalla telah berfirman dalam surat Fushishlat ayat 46 yang artinya:

Barang siapa berbuat baik, maka pahala bagi dirinya sendiri, dan barang
siapa yang berbuat buruk, maka dosanya pun akan menimpa dirinya
sendiri. Dan Tuhanmu tidak berlaku dzalim terhadap para hamba-Nya

Kemudian Imam Ali r.a. berkata pula: Sebenarnya Allah mengetahui,


bahwa mereka itu menjauhi kami bukan karena kami berlaku dzalim. Mereka
menjauhi kami bukan karena hendak mencari perlindungan keadilan. Yang mereka
kejar hanyalah dunia, yang akhirnya akan lenyap juga dari mereka. Pada hari
kiyamat mereka itu akan ditanya: apakah mereka hanya menginginkan dunia?
Apakah yang telah mereka perbuat untuk Allah?

Tentang pengobralan harta milik ummat untuk mendapatkan pengikut


seperti yang dilakukan Muawiyah di Syam, Imam Ali r.a. berkata: Kami tidak
dapat memberikan pembagian harta ghanimah kepada seseorang melampaui
ketentuan yang sudah menjadi haknya

Tentang banyak atau sedikitnya pengikut, Imam Ali r.a. mengemukakan


contoh kehidupan Rasul Allah s.a.w.: Allah mengutus Muhammad s.a.w. seorang
diri. Kemudian Allah membuat pengikut beliau menjadi banyak, padahal mulanya
sangat sedikit. Ummatnya yang pada mulanya hina kemudian diangkat menjadi
ummat yang mulia. Jadi jika Allah hendak melimpahkan hal seperti itu kepadaku,
semua kesulitan pasti akan dipermudah oleh-Nya, sedang segala yang berat akan
diringankannya.

16
Di Kufah, Imam Ali r.a. melarang keras orang memaki-maki Muawiyah.
Kepada sahabat-sahabatnya ia berkata: Ucapkanlah: Ya Allah, hindarkanlah kami
dari pertumpahan darah dengan mereka, dan perbaikilah hubungan persaudaraan
kami dengan mereka! Padahal di Syam, Muawiyah mendorong-dorong penduduk
supaya mencerca dan mencaci-maki Imam Ali r.a.

Di Kufah Imam Ali r.a. memakai baju seharga tiga dirham, menelan
makanan serba kasar dan kering. Kekayaan kaum musli-min dibagi di antara
mereka semua berdasarkan keadilan tanpa pilih kasih. Ia hidup taqwa dan zuhud
tidak mengenal kesenangan hidup sama sekali. Padahal di Syam Muawiyah
tinggal di istana megah dan menikmati hidup serba mewah. Kekayaan datang dari
mana-mana dalam jumlah yang sukar dihitung. Tetapi kekayaan itu dihambur-kan
untuk tujuan mencapai kepentingan ambisinya.

Namun begitulah Imam Ali ra dengan segala kezuhudannya yang


menampilkan karakteristik kepemimpinan islam yang jujur, adil dan amanah serta
berani mengambil resiko apapun itu untuk kesejahteraan rakyatnya yang didasari
oleh keimanannya kepada Allah swt.

2.6 PEMIMPIN ISLAM NAMUN TIDAK ISLAMI

Dibalik kepemimpinan islam yang cerah terdapat pula jaman dimana


konsep kepemimpinan islam tidak digunakan walaupun pemimpinnya ialah
seorang muslim. Para pemimpin ini walau muslim namun tidak menjalankan
perintah Allah swt dan juga ajaran Nabi Muhammad saw.

Setelah jatuhnya Imam Ali ram aka dimulailah dinasti islam yang baru
dimana pemimpinnya yang muslim namun jauh dari konsep kepemipinanan
muslim.

Dimulai dengan lahirnya Khilafah dinasti Umayah yang terbentuk bukan


dari sebuah musyawarah dan legalitasnya jauh dari persahabatan Nabi
Muhammad saw dan tidak pula karena ketinggian ilmunya. Maka dengan
demikian legalitas khilafah dinasti Umayah ditentukan memlaui keberanian dan
kekuasaan untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya dengan cara yang kotor.

Setelah itu kepemimpinan kaum muslim diturunkan secara turun temurun


bukan lagi dengan cara musyawarah yang demokratis. Kaum oposisi yakni ahlul

17
bait dari garis keturunan Hasan dan Husein mereka bunuh. Hal inilah yang
menjadi awal konflik antara Sunni dan Syiah.

Begitupun dinasti Abbasiyah yang muncul berikutnya. Legalitas mereka


ditentukan oleh dua hal yaitu klaim bahwa mereka adalah keluarga dekat nabi
Muhammad saw ditambah dengan keberaniannya menghabisi lawan politiknya.
Sisa-sisa lawan politiknya ini lalu melarikan dirike Afrika Utara lalu ke Eropa dan
membangun dinasti umayah baru yang tetap bersifat Monarki di Spanyol.

Dari sini kita dapat melihat bahwa kepemimpinan islam bukan hanya
ditentukan oleh pemimpin yang muslim. Namun konsep kepemimpinan islam
memerlukan penerapan islam yang benar-benar mengakar. Pemimpin
muslimtersebut harus benar-benar meneladani sifat Rasulullah saw dan tentunya
menjauhi larangan serta mendekati perintah Allah swt.

2.7 KEPEMIMPINAN ISLAM DI INDONESIA

Krisis kepemimpinan di Indonesia sekarang merata, nyaris menyentuh


hampir semua lembaga negara, bahkan juga lembaga-lembaga masyarakat yang
relatif otonom terhadap negara. Jadi tidak hanya menyangkut lembaga
kepresidenan. Indikasinya, kita kesulitan menemukan sosok pemimpin yang
berkarakter ideal yaitu efektif, dapat dipercaya, dan bisa menjadi sosok yang patut
diteladani.

Seperti ada pemimpin lembaga pemantau korupsi yang justru korup, ada
pemimpin lembaga penyedia pangan yang justru menilep makanan rakyat, ada
pemimpin agama yang justeru menginjak-injak nilai-nilai luhur agama, ada
pejabat kepolisian yang justru ditangkap lantaran korup dan sebagainya.

Ini artinya, nyaris semua pemimpin di semua lini hanya mengedepankan


cara berpikir rasional subyektif atau rasional instrumental. Karena rata-rata
mereka terbukti hanya mengedepankan kepentingan pribadinya atau sekadar
menjadi alat dari hasrat subyektifnya sendiri, keluarga, atau kelompoknya.

Padahal, sosok pemimpin mestinya harus mengedepankan kepentingan


mereka yang dipimpin; berwatak altruistik, dengan menempatkan kepentingan
diri, keluarga, atau kelompoknya di bawah kepentingan publik yang lebih luas.

18
Pemimpin idealnya bukan berdiri di atas rakyat atau sejajar dengan rakyat, tetapi
pantasnya mengabdikan diri di bawah kepentingan rakyat.

Oleh karena itu konsep kepemimpinan islam muncul sebagai solusi atas
krisis pemimpin dinegeri ini. Pemimpin di Indonesia hampir seluruhnya muslim.
Namun tetap saja krisis kepemimpinan terjadi dimana-mana. Dari lembaga tingkat
tinggi hingga lembaga di daerah-daerah. Hal ini disebabkan karena para pemimpin
tersebut belum mengamalkan dengan baik ajaran Rasulullah saw dan perintah
Allah swt.

Konsep kepemimpinan yang berdasarkan sifat Rasulullah saw yaitu siddiq,


amanah, fatanah dan tablig serta prinsip kepemimpinan yang telah dijabarkan
dalam Al-quran yaitu Musyawarah, adil dan kebebasan berpikir.

Hal-hal tersebut bukanlah hal baru di pemerintahan Indonesia jargon-


jargon tersebut telah sering didengar namun minim pengamalan. Hal inilah yang
seharusnya menjadi perhatian penting bagi masyarakat untuk memilih seorang
pemimpin. Konsep Kepemimpinan Islam ini akan menjadi sekedar konsep tanpa
pengamalan yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa ini.

Semestinya para pemimpin bangsa ini memulai dari keimanan dan


keinsafan bahwa Allah swt adalah Tuhan yang Maha Esa dan berada diatas
manusia. Sehingga apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin akan terus
terpantau oleh Allah swt. Sebagai makhluk tertinggi yang diangkat menjadi
khalifah di muka bumi ini. Hanya tunduk kepada Tuhan.

Olehnya itu para pemimpin yang merupakan makhluk Tuhan mestinya


dapat memimpin bangsa ini dengan sebaik-baiknya karena tugas utama khilafah di
muka bumi ini ialah melaksanakan program mengembangkan kehidupan yang
layak yang berkenaan kepada Tuhan atau yang diridhainya.

19
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Krisis kepemimpinan di Indonesia dapat diatasi dengan menggunakan


konsep kepemimpinan Islam. Namun konsep kepemimpinan islam ini harus
benar-benar diterapkan tidak hanya sekedar jargon namun harus di
implementasikan.

3.2 Saran

Dalam penulisan ini masih mengalami banyak kekurangan dari segi


literature bacaan. Semestinya bacaan atau literature mengenai kepemimpinan
islam haruslah disebarluaskan sehingga anak-anak dari usia dini mengetahui
konsep kepemimpinan dalam islam.

20
DAFTAR PUSTAKA

Dillon, H.S. 2012. An Indonesian Renaissance. Jakarta: Kompas.

Haq, Hamka. 2011. Pancasila 1 Juni & Syariat Islam. Jakarta: Rakyat
Merdeka Group.

Ibnu Katsir, Al-Hafizh. 2014. Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul


yang Agung. Darul Haq

Muh. Khalid, Khalid. 2006. Mengenal Pola Kepemimpinan Umat


Dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah. Jawa Barat: Diponegoro.

Madjid, Nurcholis. 2013. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan.


Bandunng: Mizan.

Muthahhari, Murtadha. 2013. Falsafah Agama dan Kemanusiaan.


Yogyakarta: Rausyan Fikr

Rivai, Veithzal. 2004. Kiat Memimpin Abad ke-21.Jakarta: Murai Kencana

21