Anda di halaman 1dari 3

MAKALAH KIMIA MEDISINAL

ANALGESIK
Makalah ini dibuat sebagai tugas akhir pada mata kuliah Kimia Medisinal yang diampu oleh
Bp. Tatang Shabur Julianto, M. Si

DISUSUN OLEH:
IMAM SYARONI
NINA UTAMI
TEGUH IMAM HANDOKO

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


2013
ANALGESIK

Analgesik: senyawa yang pada dosis terapetik meringankan atau menekan rasa nyeri
tanpa memiliki kerja anastesi umum. analgesik berasal dari kata Yunani an- (tanpadan -
algia nyeri).
Patogenesis
Nyeri adalah suatu gejala yang berfungsi untuk melindungi dan memberikan tanda
bahaya tentang adanya gangguan-gangguan pada tubuh; seperti peradangan, infeksi-infeksi
kuman, dan kejang otot. Sehingga sesungguhnya rasa nyeri berguna sebgai alarm bahwa
ada yang salah pada tubuh. Misalnya, saat seseorang tidak sengaja menginjak pecahan kaca,
dan kakinya tertusuk, maka ia akan merasakan rasa nyeri pada kakinya dan segera ia
memindahkan kakinya. Tetapi adakalanya nyeri yang merupakan pertanda ini dirasakan
sangat menggangu apalagi bila berlangsung dalam waktu yang lama, misalnya pada penderita
kanker.
Penyebab timbulnya rasa nyeri:
Adanya rangsangan-rangsangan mekanis/kimiawi (kalor/listrik) yang dapat
menimbulkan kerusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang
disebut mediator-mediator nyeri.
Mediator nyeri antara lain: histamin, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, prostaglandin-
prostaglandin, ion-ion kalium. Zat-zat ini merangsang reseptor- reseptor nyeri pada ujung
saraf bebas di kulit, selaput lendir,dan jaringan, lalu dialirkan melalui saraf sensoris ke
susunan syaraf pusat (SSP) melalui sumsum tulang belakang ke talamus dan ke pusat nyeri di
otak besar ( rangsangan sebagai nyeri ).

Jenis-Jenis Analgesik
1. Analgetik Perifer yaitu mengenai rasa nyeri dan demam. Rasa nyeri merupakan suatu
gejala yang berfungsi melindungi tubuh. Demam juga adalah suatu gejala dan bukan
merupakan penyakit tersendiri. Kini para ahli berpendapat bahwa demam adalah suatu
reaksi tangkis yang berguna dari tubuh terhadap infeksi. Pada suhu di atas 37C
limfosit dan mikrofag menjadi lebih aktif. Bila suhu melampaui 40-41C, barulah
terjadi situasi krisis yang bisa menjadi fatal, karena tidak terkendalikan lagi oleh
tubuh. Analgesik perifer dibagi menjadi beberapa kelompok obat, yairu parasetamol,s
salisilat, penghambat prostaglandin,derivat-derivat antranilat, derivat-derivat
pirazolinon, dan lain sebagainya.
2. Analgetik antiradang (NSAIDs)/ non steroidal anti-inflammatory drugs di sebut juga
Arthritis, adalah nama gabungan untuk dari seratus penyakit yang semuanya
bercirikan rasa nyeri dan bengkak, serta kekakuan otot dengan terganggunya fungsi
alat-alat penggerak (sendi dan otot). Yang paling banyak di temukan
adalah artrose (arthiritis deformansi) (Yun.arthon =sendi, Lat. deformare =cacat
bentuk), di sebut juga osteoartrose atau osteoarthritis. Bercirikan degenerasi tulang
rawan yang menipis sepanjang progress penyakit, dengan pembentukan tulang baru,
hingga ruang di antara sendi menyempit. Beberapa obat yang dikelompokkan menjadi
golongan analgesik ini, yaitu salisilat, asetat, propinoat, oxicam, antranilat, dan lain
sebagainya.
3. Analgetik narkotik, kini di sebut juga Opioida (mirip opiat), adalah zat yang bekerja
terhadap reseptor opioid khas di SSP, hingga persepsi nyeri dan respons emosional
terhadap nyeri berubah (dikurangi). Atas dasar kerjanya, analgesik ini dibagi menjadi
tiga kelompok, yaitu agonis opiat (alkaloida candu), antagonis opiat, dan kombinasi
zat-zat yang mengikat pada reseptor opioid tetapi tidak mengaktivasi kerja dengan
sempurna.

MEKANISME KERJA OBAT ANALGETIK


A. Analgetik Perifer
Obat ini bekerja mempengaruhi proses sintesis prostaglandin, senyawa-senyawa ini
menghambat sistem siklooksigenase yang menyebabkan asam arakidonat dan asam-asanm
C20 tak jenuh lain menjadi endoperoksida siklik dimana endoperoksida siklik merupakan pra
zat dari prostaglandin, tromboksan A2 dan prostasiklin.

B. Analgetika Antiradang (NSAIDS)


Obat ini sebagian besar bekerja dengan memblokir siklooksigenase-1 dan
siklooksigenase-2. NSAIDs ideal hanya menghambat COX-2 (Peradangan) dan bukan COX-
1 (Perlindungan mukosa lambung) dan menghambat lipo-oksigenase (Pembentukan
Leukotrien).
C. Analgetika Narkotika
Endorfin bekerja dengan jalan menduduki reseptor-reseptor nyeri di SSP, sehingga
perasaan nyeri dapat diblokir. Bila analgetika narkotika digunakan terus menerus bisa terjadi
pembentukan reseptor-reseptor baru di stimulasi dan produksi endofrin di ujung saraf otak
dirintangi. Akibatnya terjadi kebiasaan dan ketagihan .